Komplikasi bakteriuria pada kehamilan

advertisement
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
c u -tr a c k
N
y
bu
to
k
lic
Bakteriuria pada kehamilan
w
Komplikasi bakteriuria pada kehamilan
Paul Boekitwetan
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
ABSTRACT
Urinary tract infections is common as complication of pregnancy. When present, the types of
urinary tract infection are symptomatic bacteriuria, cystitis and pyelonephritis. The physiological
changes during pregnancy enhanced bacterial growth in the urinary tract. And bacteriuria increased
the risk of abortion, low birth weight and preterm birth. Routine simple laboratory method should be
done to detect bacteriuria during pregnancy. Gram staining and white cells count from centrifuged
specimen of urine are very helpful to diagnose the urinary tract infection. Urinary screening test for
baacteriuria during antenatal care is the most effective method to prevent complications of
bacteriuria in pregnancy.(J Kedokter Trisakti 2000;19(3):89-95)
Key words: pregnancy, bacteriuria, complication, risk.
ABSTRAK
Infeksi saluran kemih pada kehamilan sering menimbulkan komplikasi: seperti bakteriuria
asimtomatik, sistitis, dan pielonefritis. Perubahan fisologis pada kehamilan memudahkan
berkembang biaknya bakteri pada saluran kemih. Bakteriuria dapat menyebabkan risiko pada
kehamilan, seperti abortus, bayi lahir berat badan rendah, dan prematuritas. Bakteriuria dapat
berlanjut menyebabkan sistitis dan pielonefritis yang dapat menyebabkan risiko kesakitan, kematian
ibu dan janin. Untuk mencegah dan mendeteksi bakteriuria pada kehamilan, perlu dilakukan
pemeriksaan urine rutin dan pemeriksaan bakteriologik sederhana. Pemeriksaan urine dengan
pewarnaan Gram sangat menunjang untuk mendeteksi kuman Gram negatif pada bakteriuria, namun
memerlukan keahlian khusus, sedangkan pemeriksaan urine untuk menghitung jumlah lekosit dapat
menunjang deteksi adanya bakteriuria yang infektif. Mendeteksi bakteriuria pada pemeriksaan
kehamilan berkala adalah cara yang paling baik untuk mencegah komplikasi bakteriuria pada
kehamilan.
Kata kunci : kehamilan, bakteriuria,komplikasi, risiko
PENDAHULUAN
Infeksi saluran kemih merupakan suatu
keadaan yang tidak dapat diabaikan karena
insidennya masih cukup tinggi, yaitu sekitar
5,2% (1), sedangkan dari penderita yang
berobat ke
dokter umum
0,5 - l %
menunjukkan gejala infeksi saluran kemih. (2)
Insiden pada wanita dewasa (5%) lebih banyak
dari pada pria
maupun
anak - anak,
sedangkan pada usia lanjut lebih meningkat
dan mencapai 20-50%. (2) Frekuensi yang
tinggi pada wanita disebabkan oleh karena
beberapa faktor, salah satu di antaranya
adalah karena saluran uretra
wanita lebih
pendek sehingga mudah terkontaminasi oleh
kuman-kuman sekitar perianal. (3-5) Penelitian
yang dilakukan
terhadap
wanita hamil
J Kedokter Trisakti, September-Desember 2000-Vol.19, No.3 89
.d o
o
.c
m
C
m
o
.d o
w
w
w
w
w
C
lic
k
to
bu
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
c u -tr a c k
N
y
bu
to
k
lic
menunjukan bahwa sekitar 7 % memberikan
hitung bakteri dalam urine > 100,000 cfu
(colony forming unit) / ml. Sedangkan pada
wanita yang tidak hamil frekuensinya berkisar
antara 2,8%-22%. Infeksi nyata terjadi pada
kehamilan antara 26 hingga 36 minggu.dengan
puncak insiden pada kehamilan 30-32 minggu.
(6)
Bakteriuria pada kehamilan dapat berupa:
bakteriuria asimtomatik (1%-1,5%), sistitis
(3%- 1,3%) dan pielonefritis (1% -2 %).
Bakteriruia
asimtomatik
(ASB)
dapat
mengakibatkan bayi lahir dengan berat badan
rendah, kelahiran
prematur, abortus dan
kematian ibu dan janin. (4,6)
Sedangkan
(7)
penelitian oleh Desmiwarti,
di RSUP Dr M
Jamil Padang didapatkan abortus 42% pada
wanita hamil dengan bakteriuria asimtomatik.
Insiden pielonefritis akut pada wanita hamil
sekitar 33 % dan setelah diberikan pengobatan
yang tepat dapat ditekan menjadi 2,8%. Pada
24% wanita hamil dengan infeksi saluran
kemih, bayinya lahir prematur sedangkan
setelah diberikan pengobatan yang tepat,
kelahiran prematur ini dapat ditekan menjadi
10%. (8) Oleh karena itu penting bagi pertugas
kesehatan untuk memahami mekanisme,
diagnosis dan pengobatan infeksi saluran kemih
pada
kunjungan pemeriksaan
kehamilan
berkala.
Pada kehamilan, terjadi perubahan fisiologik dan struktur traktus urinarius, berupa
pelebaran kalises, pelvis ginjal dan ureter di
sebelah atas tulang pelvis. Kapasitas ureter
yang di luar kehamilan sekitar 2 - 4 ml akan
meningkat sampai 50 ml atau lebih selama
kehamilan, kapasitas kandung kemih juga
meningkat sampai 2 kali lipat pada kehamilan
aterm. Pelebaran tersebut terjadi akibat
berkurangnya tonus otot polos traktus urinarius
akibat kerja progesteron dan kompresi ureter
akibat pembesaran uterus, sehingga mekanisme pengosongan vesika urinaria tidak
sempurna dan terjadi stasis urine. Hal ini
menyebabkan mudahnya bakteri berkembang
biak dengan cepat pada vesika urinaria.
Perubahan traktus urinarius pada wanita hamil
di mulai kehamilan 7 minggu dan keadaan
menjadi normal setelah 8 minggu kelahiran (7)
Uretra pada wanita relatif pendek, panjangnya
antara 3-4 cm dan letaknya di ujung depan atas
vagina di mana terdapat kolonisasi bakteri dari
tractus gastrointestinal. (4) Bakteri tersebut
(uropatogens) umumnya dapat diisolasi pada
bakteriuria
asimtomatik,
sistitis
dan
pielonefritis. Escherichia coli merupakan
bakteri patogen utama pada 65% sampai 80%
kasus, bakteri lainnya Klebsiella pneumoniae,
Proteus mirabilis, Enterobacter species,
Staphylocooccus
saprophyticus
dan
Streptoccus
grup
B.
(Tabel
1).(4)
FISIOLOGI
Tabel 1: Kuman uropatogen yang umumnya diisolasi pada wanita hamil dengan pielonefritis (4)
Escherichia coli
86%
Proteus mirabilis
4%
Klebsiella species
4%
Enterobacter species
3%
Staphylococcus saprophyticus
2%
Streptococcus grup B
1%
Bakteri tersebut normal terdapat pada vagina
dan bagian distal uretra, serta kolonisasi pada
saluran urethra secara ascenden. Dengan
adanya mekanisme miksi dan protein permukaan epitel uretra dapat mencegah kolonisasi
tersebut, namun mekanisme tersebut tidak
90
J Kedokter Trisakti, September-Desember 2000-Vol.19, No.3
selalu berhasil. Selain itu kehamilan dapat
menyebabkan glukosuria dan aminoasiduria
yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. .
.d o
m
w
Boekitwetan
o
.c
C
m
o
.d o
w
w
w
w
w
C
lic
k
to
bu
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
c u -tr a c k
N
y
bu
to
k
lic
Bakteriuria pada kehamilan
w
VIRULENSI BAKTERIAL
DIAGNOSIS
Bakteri yang virulen memegang peranan
penting dalam infeksi saluran kemih. Bakteri
yang virulen dapat diketahui perkembangannya
dari bakteriuria asimtomatis menjadi pielonefritis. Beberapa bakteri uropatogens dapat
melekat pada permukaan epithel saluran kemih.
Seperti Escherichia coli karena adanya pili dan
frimbriae dan ada hubungan dengan infeksi
saluran kemih bagian atas. Ada faktor lain
yaitu aerobactin yang dapat menyebabkan
kumulasi zat besi yang dibutuhkan dalam
perkembangan biakan bakteri. Selain itu faktor
kerentanan tubuh juga memberikan infeksi
tanpa adanya faktor virulensi bakteri. Faktor
virulensi dan daya tahan tubuh merupakan dua
faktor penting dalam mekanisme terjadinya
infeksi serta pencegahan
bakteriuria
asimtomatik, sistitis dan pielo-nefritis.
Untuk mendeteksi bakteriuria diperlukan
pemeriksaan bakteriologik yang secara
konvensional
dilakukan
dengan metode
biakan dan ditemukannya jumlah kuman >
l00,000 colony forming unit /ml urine. Metode
biakan ini tidak selalu dapat dilakukan
laboratorium sederhana, karena tidak semua
laboratorium mempunyai kemampuan untuk
pembiakan itu, yang biayanya cukup tinggi dan
membutuhkan waktu yang lama. Yang dapat
dilakukan adalah pemeriksaan mikroskopik
pewarnaan secara Gram, dengan ditemukannya
kuman batang Gram - negatif. Namun cara ini
membutuhkan keahlian khusus. Selain itu dapat
dilakukan dengan hitung jumlah lekosit dalam
urin untuk membantu diagnosis bakteriuria
yang infektif. Bahan pemeriksaan adalah
urine arus-tengah pagi hari, urine diambil
sebelum subyek minum sesuatu untuk
menghindarkan efek pengenceran.(4,9,10) Kepada
subyek
dijelaskan
mengenai
cara-cara
menampung dan mengirim sampel urine yang
dibutuhkan yaitu: sebelum berkemih genitalia
eksterna
dibersihkan dahulu dengan air
sabun kemudian dibilas dengan air. Air kemih
awal dibiarkan terbuang dan yang di tengahtengah ditampung sebanyak 20 ml di dalam
tempat steril yang telah disediakan. Subyek
juga diminta untuk menjaga agar tempat
tampung urine tidak menyentuh paha, genitalia
atau pakaian, dan tidak memegang bagian
dalam dari tempat tampung. Sampel urine
setelah diperoleh, dimasukkan ke dalam
kantong plastik berisi potongan-potongan es
dan segera dibawa ke laboratorium untuk
diperiksa.
BAKTERIURIA ASIMTOMATIK (ASB)
Bakteriuria asimtomatik adalah kolonisasi
bakterial yang persisten pada tractus urinarius
tanpa gejala simtomatik/ klinis. Prevalensi ASB
adalah 5% sampai 10% pada wanita hamil.
Patogenesis
bakteriuria
asimtomatik
berlangsung seperti infeksi saluran kemih pada
umumnya. Pada sosial ekonomi rendah, sickle
cell anemia, kateterisasi dan diabetes mellitus
prevalensi bakteriuria asimtomatik meningkat.
(4,6). Mikroorganisme patogen yang menjadi
penyebabnya terutama adalah Escherichia coli
( 75,2%- 86%), yang
lainnya
seperti
Staphilococcus,, Streptoccocus, Klebsiella,
Enterobacter, Proteus (2-6,8) .
Risiko bakteriuria asimtomatik pada
kehamilan bila tidak diobati adalah 20%
sampai 30% menjadi pielonefritis akuta, yang
dapat
menybabkan
sepsis,
insufisiensi
pernafasan,
anemia,
transient
renal
dysfunction, abortus, kelahiran prematur dan
bayi lahir berat badan rendah. Risiko abortus
spontan pada ASB pada ibu hamil 3,38 kali
lebih sering dari pada ibu hamil yang tidak
menderita ASB.(7)
Pemeriksaan bakteriologis (i) Pemeriksaan
mikroskopis langsung dilakukan terhadap
sediaan hapus yang dibuat dari sampel urine
yang tidak disentrifugasi, dipulas dengan
pewarnaan Gram dan dihitung jumlah kuman
yang tampak per lapangan pandangan besar
(LPB) serta dicatat ada atau tidaknya lekosit.
Pewarnaan Gram adalah metode pemeriksaan
penyaring yang cepat dan sering dilakukan
dengan hasil sensitivitas 90% dan sepesifisitas
J Kedokter Trisakti, September-Desember 2000-Vol.19, No.3
91
.d o
o
.c
m
C
m
o
.d o
w
w
w
w
w
C
lic
k
to
bu
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
c u -tr a c k
N
y
bu
to
k
lic
88%.(4)
Bilamana
pada
pemeriksaan
mikroskopik urine dari subyek wanita
didapatkan banyak sel epitel skuamosa dengan
flora normal vagina maka sampel urine tersebut
menggambarkan adanya kontaminasi.
(ii) Biakan kuman cara konvensional untuk
hitung koloni dilakukan secara kuantitatif
Untuk biakan ini, 0,00l ml urin yang tidak di
sentrifugasi
diambil
dengan
memakai
sengkelit baku (1 / 1000) atau dengan cara
pengenceran urin terlebih dahulu dengan
buffered water dan kemudian ditanamkan pada
lempeng agar darah domba dan MacConkey.
Urine pada lempeng agar tersebut disebar
merata dengan spatel gelas dan lempeng agar
itu kemudian diinkubasikan pada suhu 37 0 C
selama 18-20 jam. Koloni-koloni yang tumbuh
dihitung dan dicatat. Identifikasi koloni-koloni
kuman dilakukan menurut metode baku yang
berlaku. (9-10 )
Interpretasi hitung koloni bakteri (9-10): jika
pada lempeng agar darah didapatkan jumlah
koloni bakteri < 10, kemungkinan besar ini
karena suatu kontaminasi dan identifikasi
bakteri tidak dilakukan. Dalam hal ini sediaan
pulasan Gram urin harus memberikan hasil
kuman Gram negatif. Jika terdapat bakteri pada
sediaan Gram maka lempeng agar diinkubasi
kembali untuk semalam karena mungkin bakteri
tumbuh lambat. Jumlah koloni pada lempeng
agar di antara 10-100 juga tidak dianggap
suatu bakteriuri, melainkan mungkin karena
pengambilan dan penanganan sampel yang
tidak betul. Hitung koloni kuman yang
menghasilkan jumlah kuman pada lempeng
agar > 100 dianggap bermakna sebagai
bakteriuria dan organisme yang tumbuh akan
diidentifikasi.
Biakan kuman dapat juga dilakukan
dengan cara Filter Paper Dilution system dari
Novel(11). Caranya dengan menggunakan 3 lapis
filter yang dibawahnya adalah agar untuk
pembiakan kuman. Cara ini dapat untuk
mendeteksi kuman Gram positif dan Gram
negatif dengan hasil yang memuaskan. Untuk
kuman Gram negatif hasilnya dibandingkan
dengan
kultur
konvensional,
ternyata
92
J Kedokter Trisakti, September-Desember 2000-Vol.19, No.3
sensitivitasnya 98,2 % dan spesifisitasnya
87,4%. Sedangkan untuk kuman Gram positif,
sensitivitasnya 91,2% dan spesifisitasnya
99,2%.
Pemeriksaan lekosit dalam urine
Sepuluh ml sampel urin yang telah
dikocok merata dan disentrifugasi dengan
kecepatan 1500 - 2000 rpm selama 5 menit.
Cairan yang terdapat di atas tabung pemusing
dibuang, ditinggalkan endapannya. Satu tetes
dari endapan diletakkan di atas kaca objek,
kemudian ditutup dengan kaca penutup.
Pertama kali dilihat di bawah mikroskop
dengan lapangan pandang kecil (LPK),
kemudian dengan lapangan pandang besar
(LPB). Penilaian dilakukan dengan melihat
beberapa kali dalam beberapa Lapangan
Pandang Besar (LPB). Laporan didasarkan
pada sedikitnya 3 LPB yang dianggap dapat
mewakili sediaan. Piuria terjadi bila dijumpai
lebih dari 5 lekosit / LPB. (12-l3)
Tehnik pemeriksaan lain
Teknik pemeriksaan baru dengan teknik
penyaring cepat yaitu Uricult dipslide paddle
(Orion Diagnostica, Helsinki, Finland), CultDip Plus (Merck, Gemany), Uristat test (
Shields Diagnostics Ltd, Scotland) dan
Bioluminescence assay. Walaupun dengan
cepat dapat mendiagnosis bakteriuria, namum
masih ada kekurangan dan tidak memenuhi tes
penyaring yang baik. Tes lain yaitu Uriscreen
( Diatech Diagnostics Ltd, Kiryat Weizmann,
Ness Ziona, Israel ), dengan enzymatic rapid
screening test ini dalam beberapa menit
hasilnya dapat dibaca. Hasilnya dibandingkan
dengan biakan positif. Ternyata Uriscreen
mempunyai sensitivitas 100% dan spesifisitas
81%, Cara ini baik untuk screening sampel
dalam jumlah yang besar.(4)
PENGOBATAN
Pengobatan bakteriuria asimtomatik pada
kehamilan perlu diberikan, sebab menurut
penelitian Elder dkk (4) , dengan memberikan
.d o
m
w
Boekitwetan
o
.c
C
m
o
.d o
w
w
w
w
w
C
lic
k
to
bu
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
c u -tr a c k
N
y
bu
to
k
lic
Bakteriuria pada kehamilan
w
pengobatan ASB pada kehamilan dapat
menurunkan insiden bakteriuria dari 86%
menjadi 11%. Komplikasi pielonefritis akuta
dapat berkurang hingga 80% setelah diberikan
pengobatan pada ASB. Juga dapat menurunkan
angka lahir berat badan rendah,.
Obat - obat yang dapat digunakan pada
pengobatan ASB adalah sebagai berikut :
Penelitian yang membandingkan pengobatan
dengan sulfonamida, cephalosporin, dan
nitrofurantoin dengan spectrum luas antibiotika
penisilin menunjukkan bahwa obat-obatan
tersebut sama-sama efektif dalam eradikasi
bakteriuria. Pengobatan dengan ampisilin perlu
hati-hati karena penyebab utama bakteriuria
adalah E. coli yang resistensinya mencapai
30% di Amerika.(4)
Tabel 2: Antibiotika yang dipakai untuk ASB dan sistitis pada kehamilan (4)
Pengobatan 3-7 hari:
nitrofurantoin
100 mg / 4 x sehari
sulfisoxazole
500 mg / 4 x sehari
cephalexin
250-500 mg / 4 x sehari
Pengobatan tunggal:
nitrofurantoin
amoxillin
cephalexin
sulfisoxazole
Pencegahan:
macrodantin
200mg / kali/hari
3 garam/kali/hari
2 gram/kali/hari
2 gram / kali / hari
100 mg
Pengobatan dengan dosis tunggal dapat
mendukung pengobatan ASB dan menghemat
biaya pengobatan. Dalam pemilihan obat perlu
diperhatikan efek samping dari obat-obat
tersebut. Misalnya penisilin dan sefalosporin
dapat
menyebabkan reaksi anafilaktik,
sulfonamida
dapat
menyebabkan
fetal
hyperbilirubinemia,
nitrofurantoin
dapat
menyebabkan defisiensi glucose-6-phosphate
dehydrogenase, trimethoprim adalah kontraindikasi relatif untuk kehamilan trimester
pertama dan dapat bersifat teratogenik.
KOMPLIKASI
Sistitis Komplikasi bakteriuria pada
kehamilan berupa sistitis, yang berkisar antara
0,35% - 1,3%. (4) Laporan mengenai sistitis
pada kehamilan sangat kurang. Lokalisasi
infeksi bakterial pada sistitis adalah tractus
urinarius bagian bawah. Belum jelas kapan
sistitis dapat berlanjut dengan meningkatnya
lahir prematur, lahir berat badan rendah atau
pielonefritis. Diagnosis pada penderita sistitis
dapat ditegakkan
dengan adanya keluhan
disuria, hematuria, sering miksi atau merasa
tidak enak pada daerah suprapubic. Sistitis
sering berulang timbul pada kehamilan namun
tanpa adanya gejala infeksi. Pemeriksan urine
sering positif dengan piuria dan bakteriuria.
Yang terbaik adalah biakan urine, sebab 10%
sanmpai 15% piuria pada kehamilan terjadi
tanpa gejala infeksi. .
Pengobatan
sistitis
sama
dengan
pengobatan ASB. (Lihat Tabel 2) Umumnya
pengobatan selama 5 sampai 7 hari.
Pengobatan dengan jangka pendek lebih
diminati, misalnya 1, 3 atau 4 hari, karena lebih
murah, dan efek samping juga dapat berkurang
dari pada pemberian antibiotika jangka
panjang. Biakan urine perlu dilakukan berulang
secara teratur pada kehamilan sebab diperkirakan 18% dari penderita dengan sistitis
akuta didapatkan biakan urine positif pada
akhir kehamilan.
Pielonefritis akut
Pada kehamilan terdapat sebanyak 1 % -2
% pielonefritis akut. Insiden pada populasi
bervariasi dan tergantung pada prevalensi ASB
dalam komunitas dan penderita secara rutin
diberi pengobatan pada ASB. Wanita dengan
J Kedokter Trisakti, September-Desember 2000-Vol.19, No.3
93
.d o
o
.c
m
C
m
o
.d o
w
w
w
w
w
C
lic
k
to
bu
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
c u -tr a c k
N
y
bu
to
k
lic
riwayat pielonefritis, malformasi saluran kemih
atau batu ginjal meningkatkan risiko terjadinya
pielonefritis. Penelitian prospective pada 656
wanita dengan pielonefritis, di antaranya 73%
terjadi pada antepartum, 8% pada intrapartum
dan 19% terjadi pada postpartum. .Pada
antepartum 9% terjadi pada trimester pertama,
46 % terdapat pada trimester kedua dan 45%
terdapat pada trimester ketiga. Menurut Harris
(4)
dengan pemeriksaan penyaring rutin dan
pengobatan pada ASB dapat menekan
pielonefrits dari 4% mejadi 0,8%..
Gejala dan tanda klinis pada pielonefritis
akuta, temasuk demam, menggigil, sakit, mual
dan muntah, sepsis, insufisiensi pernafasan dan
gejala yang konsisten dengan sistitis. Diagnosis
perlu dikonfirmasikan dengan biakan urine.
Biakan urine setelah
pengobatan dengan
antibiotika,
hasilnya
menjadi
negatif.
Ditemukannya 1, 2 bakteri per lapangan
pandang besar pada urine dari kateterisasi, 20
bakteri dari penampungan urine atau 100,000
cfu / ml dari biakan urine adalah bermakna.
Komplikasi pielonefritis pada kehamilan
terutama
disebabkan
endotoksin
yang
menyebabkan kerusakan jaringan. Seringkali
secara bersamaan terjadi kerusakan pada
beberapa organ. Sejumlah 10 % - 15 %
pielonefritis pada kehamilan dengan bakterieTabel 3.
Antimikroba yang digunakan untuk pengobatan pielonefritis pada kehamilan (4)
ampisilin
cefazolin
ceftriaxone
mezlocillin
piperacillin
2 g IV tiap 6jam + gentamycin 3-4mg/Kg/hari IV dibagi 3 x sehari
1 g IV tiap 8 jam
1- 2 g IV atau IM tiap 24 jam
1- 3g IV tiap 6 jam
4 g IV tiap 8 jam
Kombinasi ampisilin dengan aminoglikosida
sudah digunakan sebagai pengobatan yang
umum diberikan pada kehamilan dengan
pielonephrits. Penggunaan gentamisin pada
kehamilan sering dipertanyakan karena
toksisitasnya. Seperti nefrotoksik dan ototoksik,
namun tidak ditemukan nefropathy pada wanita
hamil dan janinnya. Khususnya pada neonatal
dan infants setelah pengobatan dengan
94
mia, manifestasi ke septic shock. (4) Kehamilan
dengan sepsis dan demam tinggi menyebabkan
cardiac output turun.
Insufisiensi pernafasan terdapat 2%-8%
pada pielonefritis pada kehamilan, hal ini
disebabkan oleh karena. toksin dari bakteri
dapat mengubah permeabilitas membran
alveoli-kapiler dan menyebabkan edema pada
paru-paru. Gejala klinis berupa sesak nafas,
nafas cepat, kekurangan oksigen, edema paru
atau respiratory distress syndrome., denyut
nadi meningkat 110 x / menit atau lebih, suhu
badan meningkat lebih dari 39 C, nafas cepat
lebih 28 x per menit.
Disfungsi ginjal terdapat pada 25%
kehamilan. Disfungsi ini dapat dilihat dari
creatinine clearence kurang dari 80 ml/menit,
setelah beberapa hari dapat normal kembali.
Anemia, ditemukan pada 25%-66%
kehamilan dengan pielonefritis. Anemia
hemolitik timbul karena lipopolisakharida
kuman yang dapat merusak membran sel darah
merah.
Pielonefritis antepartum pada kehamilan
perlu diberi antibiotika yang mempunyai
khasiat terhadap bakteri yang menyebabkan
infeksi saluran kemih. Pemberian antibiotika
yang dapat diterima untuk pengobatan
pielonefritis seperti terlihat pada Tabel 3.(4)
J Kedokter Trisakti, September-Desember 2000-Vol.19, No.3
gentamisin. dapat mengakibatkan gangguan
ginjal. (4) Pengobatan dengan mezlocillin dan
piperacillin, dapat menurunkan demam dalam
waktu 96 jam. Pengobatan dengan cefazolin
dan ceftriaxon menurunkan febris, dalam 1 dan
1 - 3 hari. Resistensi terhadap generasi pertama
cephalosporin mencapai 12%. Penderita yang
gagal dengan cefazolin dapat diobati dengan
penambahan aminoglikosida.
.d o
m
w
Boekitwetan
o
.c
C
m
o
.d o
w
w
w
w
w
C
lic
k
to
bu
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
c u -tr a c k
.c
F -X C h a n ge
F -X C h a n ge
c u -tr a c k
N
y
bu
to
k
lic
Bakteriuria pada kehamilan
w
Kehamilan dengan pielonefritis perlu
dirawat di rumah sakit untuk observasi dan
deteksi komplikasi pielonefritis, termasuk
insufisiensi ginjal, insufisiensi pernafasan dan
sepsis, gejalanya seperti demam tinggi,
dehidrasi dan muntah-muntah. Pemeriksaan
laboratorium yang penting adalah hitung
jumlah sel darah, serum elektrolit, kreatinin dan
biakan urine. Angel (4) membandingkan
pengobatan cephalexin oral dengan cephalothin
IV pada penderita nonbakteriemia, ternyata
antibiotika oral aman dan efektif diberikan pada
kehamilan. Respon klinis dengan pengobatan
antibiotika adalah cepat. Bila setelah 72 jam
gagal atau tidak ada respon klinis perlu
dilakukan renal sonografi untuk memeriksa
adanya obstruksi karena
nephrolithiasis.
Pengobatan intravena diteruskan sampai
setelah 1 - 2 hari tidak demam. Umumnya
pengobatan dengan antibiotika diberikan
selama 2 minggu. Biakan urine dan antibiotika
profilaksis perlu diberikan pada wanita hamil
dengan riwayat pielonefritis untuk menurunkan
risiko infeksi rekuren.
Kesimpulan
Infeksi saluran kemih pada kehamilan
perlu diperhatikan.. Komplikasi infeksi saluran
kemih adalah bakteriuria asimtomatik , sistitis
dan pielonefritis. Bakteriuria asimtomatik dapat
memberikan komplikasi abortus, bayi lahir
prematur dan bayi lahir dengan berat badan
rendah, sedangkan pielonefritis dapat menyebabkan kesakitan dan kematian ibu dan
janin.. Deteksi dini bakteriuria pada kehamilan
sangat bermanfaat untuk pencegahan dan
penang-gulangan komplikasi bakteriuria pada
kehamilan.
Daftar Pustaka.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Hadisaputro S, Parsudi I, Pranarka K,
Winarto.
Bakteriuria
di
masyarakat(
hubungannya dengan sosial ekonomi dan
kesehatan pribadi / higiene lingkungan).
Medika 1982; 9: 66l-64.
Becker G.J. Urinary tract infection and
reflux nephropathy in
adults.
Med.
Intern Indon 1986;2: l337 - 43.
Lipsky BA. Urinary tract infection in men.
Ann Int Med 1989; ll0 : 138-48.
Millar LK., Cox S.M. Urinary tract infections
complicating pregnancy. Infect Dis Clin North
Am 1997;11:13-26.
Platt R. Quantitative definition of bacteriuria.
Am J Med 1983; 110: 44-5l.
Simanjuntak P, Hutapea H, Sembiring BR,
Hanafiah TM, Thaher N, Burhan A, Lubis
HR,Yushar.
Masalah
bakteriuria
asimptomatik
pada kehamilan. Cermin
Dunia Kedokteran. 1982; 28: 66-9.
Desmiwarti.
Kekerapan
bakteriuria
asimtomatis pada pasien abortus spontan di
RSUP Dr M Djamil Padang. Skripsi.. Bagian
/ SMF Obstetri &Ginekologi F.K.U.Andalas
8.
9.
10.
11.
12.
13.
RSUP Dr M Djamil Padang.1998.
Santoso S, Dzen MS. Bakteriuria asimtomatik
pada wanita hamil. Maj Kedokt Indon 1985;
35:515-18.
Isenberg H.D, Washington II JA, Balows A.
Sonnenwirth AC: Collection, handling and
processing specimens In Lannette, E.H.
Ballows A, Hausler JR WJ, Shadomy HJ.
editors. Manual of clinical microbiology. 4th
ed. Washington D.C. : American Society for
Microbiology;1985. P. 73-97.
Barry A L., Smith P.B, Turck M , Gavan
TL.. Laboratory diagnosis of urinary tract
infections.
Cumitech. Wshington D.C. :
Americans society for Microbiology,;1982.p.
1-8.
Kunin MC., Buesching W J. Novel Screening
Method for urine cultures using a filter
paper dilution system. J. Clin Microbiol.
2000; 38:1187- 90.
Subrata G. Penunutun laboratorium klinik.
Jakarta : Dian Rakyat ; 1995.halm.110-20.
Wells B. Clinical pathology. 3th ed.
Philadelphia; WB Saunders 1965.p.484
J Kedokter Trisakti, September-Desember 2000-Vol.19, No.3
95
.d o
o
.c
m
C
m
o
.d o
w
w
w
w
w
C
lic
k
to
bu
y
N
O
W
!
PD
O
W
!
PD
c u -tr a c k
.c
Download