iran pasca khomeini

advertisement
BELAJAR DARI IRAN:
DIALEKTIKA AGAMA DAN POLITIK PASCA KHOMEINI
Oleh:
Saefur Rochmat1
Abstrak:
Ehthesami dan Abrahamian menamakan Iran Pasca Khomeini sebagai the Second
Republic dengan alasan yang berbeda. Sedangkan Halliday menamainya dengan postakhundism. Tulisan ini ingin menampilkan dialektika agama dan politik yang
berlangsung secara rasional, agar bisa dijadikan cermin bagi umat Islam di Indonesia.
Tulisan ini menggunakan pendekatan sejarah multidimensional agar didapat
pandangan yang lebih utuh. Pendekatan ini diharapkan dapat menampung baik
pandangan Ehthesami yang lebih menekankan pada aspek ekonomi, dan pandangan
Abrahamian yang lebih menekankan pada aspek budaya, maupun pandangan Halliday
yang melihat keterlibatan ulama dalam politik. Modifikasi sistem pemerintahan Islam
Iran pasca Khomeini tidak dapat dilepaskan dari dasar-dasar perubahan yang telah
diletakkan oleh Khomeini.
Kata kunci: agama, politik, Iran, dialektika, Khomeini.
A. Pendahuluan
Sebutan Iran pasca Khomeini dulu hanya untuk mempermudah
penganalisaan permasalah tersebut. Berbeda dengan Ehteshami (1995) yang
berkeyakinan bahwa Iran telah memasuki era baru setelah kematian Khomeini pada
tahun 1989, karena Iran berjalan moderat dan menempuh pendekatan pragmatis
dengan lebih menekankan pada pembangunan bidang ekonomi dibandingkan dengan
bidang politik. Konsekuensinya, Iran pasca Khomeini telah gagal mempertahankan
posisi Khomeini yang konsisten untuk menjadikan Iran sebagai blok alternatif di luar
dua blok yang telah ada, baik blok kapitalis maupun blok komunis. Dia melihat Iran
sedang menuju ke dalam negara kapitalis.
Menurut penulis ada yang ganjil dengan spesifikasi bahwa Iran pasca
Khomeini sebagai the second republic. Kenyataannya Ehteshami nampak kelabakan
1
dengan sikap Iran yang tetap pada pendirian Khomeini yang menuntut hukuman mati
terhadap Salman Rushdi. Memang penggolongan revolusi Islam Iran yang menitikberatkan lebih pada aspek ekonomi kurang memuaskan. Sebaliknya Abrahamian
(1993) berkeyakinan bahwa revolusi Islam Iran sebagai gerakan populis lebih
menekankan kepada pendekatan budaya daripada pendekatan ekonomi. Karena itu,
Republik Islam Iran dapat mengatasi secara mengagumkan tekanan kekuatan luar,
seperti perang yang dilancarkan Irak terhadap Iran. Memang benar Ali Khamaeni,
Pemimpin Spiritual pengganti Khomeini, telah menjalankan kebijakan yang bersifat
pragmatis dalam sektor ekonomi, dengan konsekuensi dalam bidang politik Iran tidak
lagi memaksakan diri menjadi blok alternatif dalam percaturan politik interna-sional.
Memang sektor politik dan ekonomi saling terjalin erat untuk menghasilkan suatu
kekuatan dunia.
Sementara itu Halliday (1997) menyebut regim pasca Khomeini sebagai
post-akhundism, karena Iran tidak lagi dikuasai oleh politisi ulama (ulama tingkat
rendah). Adalah tidak tepat mengatakan Khomeini sebagai akhund karena dia
memenuhi persyaratan untuk melakukan ijtihad. Sebaliknya, Iran pasca Khomeini
menjadi lebih bersifat politis, karena bila dilihat dari kepemimpinan religious, Ali
Khamaeni belum mampu menjabat sebagai Pemimpin Spiritual. Faktor lain yang
tidak mendukung argumentasi Halliday (1997) tersebut adalah ulama masih
mengendalikan kekuasaan politik dari tingkat elit sampai pegawai rendahan di
pedesaan.
1
Saefur Rochmat, MIR adalah dosen jurusan sejarah FISE UNY. Pernah belajar sejarah di UNY, UI
dan La Trobe University, Australia; dan menyelesaikan master bidang Hubungan Internasional di
Ritsumeikan University, Jepang.
2
Memang Halliday (1997) tidak meramalkan kejatuhan regim ulama,
melainkan meramalkan bahwa regim ulama akan menempuh jalan yang lebih moderat
secara politik karena dipengaruhi oleh tiga hal: pertama, situasi politik dan sosial di
dalam negeri, terma-suk masyarakat Iran di pengasingan; kedua, tekanan dunia
internasional; dan ketiga, sejarah dan tradisi Iran (Halliday, 1997: 44).
B. Kajian Literatur dan Pembahasan
1. Dasar-Dasar Perubahan Iran Pasca Khomeini
Khomeini merupakan seorang pemimpin kharismatik, disamping sebagai
pemimpin revolusi Islam Iran pada tahun 1979, dia diakui sebagai Marja'i Taqlid
mutlaq (pemimpin agama tertinggi dalam Islam Syiah). Berdasarkan Undang Undang
Dasar Republik Islam Iran tahun 1979 dalam pasal 107 Khomeini ditetapkan sebagai
pemimpin spiri-tual (Faqih) yang mempunyai kekuasaan otoritatif atas masalah
politik dan agama. Tidak ada seorangpun yang berani mengusik kedudukan tersebut.
Beberapa fraksi yang saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan, kecuali
kelompok Marxisme/ Komunisme, hanya ingin mendapatkan kepercayaan darinya
dan akan mempere-butkan kekuasaan sepeninggalnya.
Secara pragmatis Khomeini membentuk Dewan Ahli (Majelis-e Khobregan)
untuk memilih penggantinya yang akan menyelamatkan Velayat-e Faqih
(pemerintahan ulama), karena tidak ada pemimpin kharismatis yang dapat
meyakinkan semua kelompok untuk menggantikan posisinya sebagai Pemimpin
Spiritual (Imam) yang berkuasa atas urusan politik dan agama sekaligus. Pada tanggal
22 November 1985, Dewan Ahli ini berhasil memilih ayatollah ozma (ayatollah
besar) termuda, Husain Ali Montazeri, sebagai pengganti Khomeini. Hal itu terjadi
3
karena ayatollah ozma yang lebih senior tidak mau menduduki pos Pemimpin
Spiritual yang dirasakan lebih bersifat politis, disamping pertimbangan usianya sudah
lanjut. Akan tetapi, posisi Montazeri ditantang faksi lain yang mempertanyakan
kapasitas kepe-mimpinannya baik dalam bidang religious ataupun politik. Mereka
mengklaim Montazeri tidak memenuhi persyaratan teologi untuk memangku jabatan
Faqih (Imam), yaitu masih keturunan Nabi Muhammad SAW dan statusnya belum
menjadi rujukan utama dalam bidang hukum Islam (Mackey, 1996: 353).
Perpecahan terus berlanjut antara Montazeri di satu pihak dengan ayatolah
Ali Khamaeni dan Hojatuleslam Rafsanjani di lain pihak. Yang pertama mewakili
kelompok radikal dalam politik luar negeri dan tidak membenarkan hubungan rahasia
dengan Israel dan Amerika dalam pembelian senjata perang melawan Irak. Sementara
yang kedua mewakili kelompok moderat yang mau bekerjasama dengan pihak Israel
dan Amerika untuk melindungi negaranya dari invasi Presiden Saddam Husain dari
Irak. Persaingan di antara berbagai kelompok tersebut masih dalam kontrol Khomeini,
bahkan dia menyediakan wadah yang menampung segala persoalan untuk
diselesaikan, yaitu Badan Penentu Kebijakan. Dengan dibentuknya badan ini,
Khomeini tidak harus terlibat langsung dalam setiap persaingan yang terjadi.
Khomeini akan terjun bila memang diperlukan. Dia dapat melakukan itu karena dia
pemimpin kharismatik yang sekaligus dapat memerankan diri sebagai pemimpin
politik dan pemimpin agama.
Penulis mengklasifikasi perpecahan pada setiap aspek, yaitu ekonomi, sosiokultural, politik dalam negeri, maupun politik luar negeri. Sebagian rakyat tidak setuju
dalam kebijakan ekonomi, tetapi mereka mempunyai pendirian yang sama dalam
bidang politik luar negeri. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses dialektis dalam
4
menentukan kebijakan yang Islamis, dimana ditentukan oleh kepentingan politik suatu
kelompok.
Kasus Iran-gate, sebagai contoh, lebih bersifat politis daripada perbedaan
interpretasi dalam menafsirkan ajaran Islam. Mehdi Hashemi, saudara laki-laki dari
menantu laki-laki Montazeri, memanfaatkan kasus tersebut untuk menyingkirkan
lawan politiknya dari kelompok moderat yang bersedia bekerjasama dengan pihak
Barat untuk mendapatkan bantuan senjata. Kasus tersebut dimulai di Teheran pada
tahun 1986 dengan diadakannya pertemuan antara missi Amerika dibawah pimpinan
Oliver L. North dan Robert McFarlane dengan Kepala Komisi Luar Negeri parlemen,
yaitu Muhammad Ali Hadi. Missi Amerika berjanji akan memberikan bantuan
peralatan militer sebagai ganti dari pelepasan sandera. Khomeini tidak suka dengan
cara Montazeri memecahkan permasalah tersebut karena hal itu berpotensi besar
terjadi-nya kekacauan di dalam negeri Iran.
Kelompok moderat berhasil menghukum mati Mehdi Hashemi karena
terlibat penculikan duta besar Syiria di Libanon. Dia juga dituduh membantu
SAVAK. Sementara itu Montazeri dan puterinya diasingkan ke Mashad (Sihbudi,
1989: 199-200). Kemudian Khomeini lewat anaknya ayatollah Ahmad mengeluarkan
memoran-dum setebal 110 halaman yang berisi tuduhan bahwa Montazeri telah
bekerjasama dengan musuh untuk menghancurkan negara. Memang Khomeini
merehabilitasi Montazeri, tetapi popularitasnya telah menurun jauh setelah dia
mengkritik kegagalan pemerintahan pada perayaan ke-10 hari jadi Republik Islam
Iran. Akhirnya Montazeri mengundurkan diri dari posisinya sebagai calon pengganti
Khomeini pada tanggal 27 Maret 1989 (Tempo, 10 Juni 1989).
5
Setelah kasus Iran-gate, Khomeini mencari alternatif lain untuk
menyelamatkan Velayat-e Faqih dengan membentuk Dewan Perubahan Konstitusi
pada tanggal 24 April 1989 yang anggotanya terdiri dari 25 orang yang dipilih oleh
Khomeini untuk melakukan ratifikasi Konstitusi 1979. Dewan mempunyai tugas
menyiapkan draft amandemen perubahan Konstitusi untuk membentuk sistem
pemerintahan yang kuat dan merubah kriteria orang yang dapat menduduki Faqih
karena adanya perubahan konstelasi politik. Karena penggantinya bukan Marja'i
Taqlid mutlaq maka pembentukan sistem pemerintahan pusat yang kuat merupakan
sine qua non.
Dalam referendum, rakyat menyetujui perubahan Konstitusi yang isinya
antara lain mengubah kriteria Faqih yang tercantum pada Konstitusi 1979. Konstitusi
1979 menetapkan syarat Faqih adalah seorang yang menyandang gelar ayatollah
ozma dan diamandemen menjadi tidak harus seorang ayatollah ozma dengan syarat
mempunyai kemampuan agama yang tinggi (berdasarkan kriteria tertentu) dan
mengetahui permasalahan zamannya (Gieling, 1997: 777). Dengan demikian, jabatan
Faqih yang murni bersifat religious menjadi bersifat politis. Karenanya otoritas Faqih
menjadi tidak sebesar Khomeini karena persyaratannya dilonggarkan. Memang Faqih
adalah pemimpin agama, tetapi mempunyai pengaruh politik yang besar bagi Islam
Syiah.
Perubahan Konstitusi untuk menghindari ambigu mengenai peran dan
tanggung jawab (fungsi dan kedudukan) setiap lembaga negera, disamping
keinginannya untuk membentuk sistem pemerintahan pusat yang kuat. Pada masa
pemerintahan Khomeini, masalah Konstitusi bukanlah menjadi masalah yang
mendesak karena dia berkompeten untuk menduduki kepemimpinan religious dan
6
politik sekaligus, disamping dia dapat memerankan diri secara meyakinkan sebagai
mediator di antara berbagai kekuatan politik dan kelompok beragama.
Khomeini berusaha mengarahkan siapa penggantinya untuk menghindari
perpecahan, melalui surat wasiat yang menyatakan Ali Khamenei sebagai
penggantinya, walaupun Dewan Ahli berhak memutuskan siapa yang akan menduduki
jabatan Faqih (Imam) tanpa harus mempertimbangkan isi surat wasiat tersebut. Hal
itu dilakukan Khomeini karena pengantinya tidak mempunyai kapabilitas sebagai
pemimpin religious maupun sebagai pemimpin politik sekaligus.
2. Modifikasi Sistem Pemerintahan Iran Pasca Khomeini
Khomeini meninggal pada tanggal 9 Juni 1989 sebelum amandemen
Konstitusi disahkan oleh parlemen. Namun, dia telah meletakkan dasar-dasar bagi
sistem pemerintahan pusat yang kuat. Calon pengganti yang ditulis dalam surat wasiat
diterima dan diresmikan oleh Dewan Ahli. Sementara untuk menggantikan fungsi
mediatornya, Khomeini membentuk suatu badan yang bertugas memecahkan
perbedaan dalam masalah legislasi antara Dewan Perwalian (Syura-e Negahban)
dengan Dewan Penasehat (Majlis-e Islami) pada bulan Februari 1988. Badan tersebut
dinamai dengan Badan Penentuan Kebijaksanaan, yang anggotanya teridiri dari 13
orang.
Dengan demikian, Ali Khamaeni menindaklanjuti kebijakan yang
direncanakan oleh Khomeini, yang menjadi prasyarat bagi perbaikan ekonomi seperti
gencatan senjata dengan Irak, investasi dan pinjaman luar negeri, dan ratifikasi
Konstitusi. Khomeini menerima gencatan senjata dengan Irak karena didorong sikap
empati terhadap rakyatnya atau dia ingin menenangkan kemarahan para pengikutnya
7
dari kelompok radikal. Khomeini sendiri merasakan keputusan gencatan senjata
sebagai "keputusan yang lebih jelek daripada minum racun" (Reed, 1989: 2).
Kemudian pada bulan Januari 1989 Khomeini juga menyetujui keinginan pemerintah
Iran mendatangkan pinjaman luar negeri, dengan mengatakan bahwa Iran perlu
mengundang negara-negara tetangga untuk berpartisipasi dalam pembangunan
negaranya.
a. Kekuasaan Pemimpin Spiritual (Faqih)
Amandemen Konstitusi menempatkan posisi Faqih sebagai pemegang
kekuasaan yang paling menentukan di Iran, disamping menginstitusionalkan
mekanisme kekuasaan dan pembagian kekuasaan. Faqih (Pemimpin Spiritual)
mendapat gelar Imam.
Amandemen Konstitusi berusaha mengkonsolidasikan kekuasaan religiopolitik pasca Khomeini, terutama yang berhubungan dengan seleksi dan tanggung
jawab administrasi Faqih. Pasal 109 amandemen Konstitusi telah mengganti Dewan
Kepemimpinan dengan seorang Faqih dengan tujuan untuk menciptakan stabilitas
pemerintahan.
Amandemen ini tidak mengurangi kekuasaan ulama, tetapi terjadi
pendistribusian kekuasaan ulama untuk menjamin prinsip checks and balances, suatu
yang diama-natkan dalam Islam agar selalu bersikap moderat. Pembagian kekuasaan
secara mencolok terjadi antara Faqih (Imam/Pemimpin Spiritual) dan presiden yang
dapat menjamin prinsip checks and balances dalam menjalankan pemerintahan.
Menurut amandemen yang baru, Faqih tidak dapat menghentikan Presiden dalam
masa jaba-tannya, kecuali telah mendapatkan persetujuan dari parlemen dan Lembaga
8
Peradilan. Posisi Presiden semakin kuat karena lembaga perdana menteri juga telah
dihapuskan. Amandemen ini juga menggantikan jumlah anggota Dewan Peradilan
Agung dari lima orang menjadi seorang (Reed, 1989: 37-40).
Faqih tidak hanya mengawasi jalannya pemerintahan, tetapi juga secara aktif
mengawasi semua institusi yang berhubungan dengannya. Ehteshami (1995: 49)
meringkas tugas dan tanggung jawab Faqih sebagai berikut:
(1) Supreme commander of the armed forces, (2) Determining the general
policies of the IRI (in consultation with the Expediency Council), (3) Supervising the
general implication of agreed policies, (4) Ordering referenda, (5) Power to declare
war and peace and general troop mobilization, (6) Appointing and dismissing: (a)
Members of the Council of Guardians, (b) Head of the judiciary, (c) Director of
radio and television networks, (d) Chief of staff of the armed forces, (e) Commanderin-Chief of the IRGC, (f) Commander-in-Chief of the military and security forces,
(7) Resolve differences and regulate relations among the three branches of the
government, (8) Resolve, through the Expediency Council, problems which cannot be
resolved by ordinary means, (9) Signing the decree naming the President after
popular elections, (10) Impeaching the President for reasons of national interest
pursuant to a verdict by the Supreme Court confirming his violation of his legal duties
or a vote of no confidence by the Majlis.
Faqih menjalankan kekuasaan melalui empat jalur utama, yaitu: pertama,
melalui kantornya sendiri; kedua, melalui perwakilannya di setiap propinsi; ketiga,
melalui perwakilannya di setiap organisasi/lembaga nasional; dan keempat, sebagai
Panglima Militer Tertinggi. Melalui kantornya Faqih dapat mengikuti perkembangan
politik yang terjadi; melalui perwakilannya di propinsi dia mendapatkan laporan
tentang perkembangan politik di daerah. Bahkan ia memelihara pengaruh melalui
perwakilan pada setiap organisasi/lembaga nasional (Ehteshami, 1995: 50).
Memang benar kekuasaan Imam Ali Khamaeni tidak sebesar Khomeini,
tetapi kedudukan lembaga Faqih tetap kuat, bahkan lebih kuat karena Imam Ali
Khamenei ditetapkan secara legal menjadi pemimpin politik dan agama sekaligus.
Keputusan semacam ini tentu tidak diperlukan oleh Khomeini. Tindakan legal ini
ditempuh karena Ali Khamaeni belum diakui sebagai Marja'i Ttaqlid mutlaq.
9
Penetapan sebagai Imam secara legal didasarkan pada pemikiran bahwa pemerintahan
Islam sebagai bagian dari amanat Nabi memegang kekuasaan agama dan politik
sekaligus. Dengan demikian, Khomeini berusaha membentuk supremasi kekuasaan
politik atas kekuasaan agama dengan alasan menyelamatkan agama lebih penting
daripada menerapkan hukum. Karenanya Khomeini berusaha mensubordinasikan
kepemimpinan religious kepada Faqih.
Sebenarnya surat wasiat Khomeini yang memilih Ali Khamaeni sebagai
penggantinya telah mengesampingkan perspektif teologis dari Velayat-e Faqih yang
mengharuskan pemegang jabatan Faqih adalah seorang yang memenuhi syarat
sebagai Marja'i Taqlid yang menjadi rujukan bagi semua orang Syiah. Khomeini
merevisi teori Velayat-e Faqih karena beberapa ulama senior tidak ingin terlibat
dalam urusan politik praktis atau mereka tidak memiliki keahlian yang memadai
dalam bidang politik. Hal tersebut menghasilkan dua cabang kepemimpinan. Pertama,
Faqih yang berfungsi sebagai Pemimpin Spiritual dan kedua, Marja'i Taqlid yang
menjalankan kepemimpinan religious. Akan tetapi Khomeini mendesakkan bahwa
Faqih menjadi sumber panutan bagi umat Syiah dan semua orang Iran, karena Faqih
menduduki posisi wali al-amri dan Marja'i Taqlid sebagai kelanjutan pemerintahan
Nabi Muhammad SAW (Gieling, 1997: 3-4).
Praktisnya Faqih juga tidak dapat mengesampingkan Marja'i Taqlid yang
menduduki Dewan Penentuan Kebijakan, dimana Faqih harus mendiskusikan
masalah penting dengannya (Ehteshami, 1995: 52).
10
2. Kekuasaan Presiden
Pembagian kekuasan terjadi antara Faqih dan Presiden. Menurut Konstitusi
ini, seperti dikutip Ehteshami (1995: 37-38) presiden dihormati dalam kalimat
berikut:
Next to the Leader, the President of the Republic is the highest official
authority of the country who is responsible for the enforcement of the Constitution
and presides over the executive power with the exception of those matters which
directly relate to the Leader
Presiden Rafsanjani adalah presiden eksekutif pertama yang diberi kekuasaan
begitu besar. Dia berusaha mengkonsolidasikan kedudukannya dan berusaha
mengurangi pengaruh dari kelompok radikal dengan cara tidak mengangkat
saingannya ke dalam kabinetnya dan posisi penting lainnya atau mengangkatnya ke
dalam posisi jabatan yang bersifat seremonial dan posisi penasehat yang tidak
berhubungan langsung dengan pembuatan keputusan penting lainnya.
Dia secara perlahan melepaskan monopoli negara dalam bidang ekonomi,
dan sebaliknya memberikan kesempatan kepada sektor swasta dan investor luar negeri
dalam pembangunan ekonomi. Sebenarnya Khomeini telah mengizinkan pinjaman
luar negeri ataupun investasi pihak asing, namun semasa Khomeini investor asing
belum mau masuk. Atas dasar itu Ehteshami (1995: 100) berkeyakinan bahwa jika
pernah eksis model sistem revolusi Islam maka itu terjadi pada masa Imam Khomeini,
dan tahun 1989 menjadi pudar karena pertimbangan ekonomi menghalangi pandangan
politik.
Politik luar negeri yang fleksibel dapat diperankan oleh Rafsanjani. Seperti
diakui sendiri oleh Rafsanjani, perubahan haluan ini diisyaratkan oleh Khomeini. Hal
ini terjadi ketika ekonomi Iran sangat memprihatinkan. Pada waktu itu Khomeini
11
menyarankan untuk mencari bantuan tetangganya di sebelah Utara (eks-Uni Soviet).
Hal ini merupakan langkah yang realistik, ketika Iran mengalami ketegangan dengan
dunia Barat karena kasus Salman Rushdi (Suara Merdeka, 24 Juni 1989: vii).
Langkah ini ditempuh untuk mengurangi ketergantungan perdagangan dengan dunia
Barat maupun Jepang (Tempo, 6 Juni 1989).
Memang perubahan politik dengan Amerika masih menunggu waktu yang
tepat. Hal ini karena jawaban Khomeini yang mengatakan: Politik luar negeri Iran tak
akan berubah. Karena itu, Rafsanjani menyatakan dengan tegas bahwa Iran siap
bersahabat dengan semua negara kecuali Amerika, Israel dan Afrika Selatan (Tempo,
2 September 1989).
Perubahan konstalasi politik yang drastis terjadi ketika terjadi krisis Teluk
yang melibatkan Irak dan pasukan multinasional pimpinan Amerika. Krisis ini diawali
dengan penyerbuan Irak ke Kuwait pada tanggal 2 Agustus 1990 dan menganeksasinya sebagai propinsi Irak. Krisis ini telah mengubah peta politik di kawasan ini
secara drastis. Persekutuan Mesir-Irak dan Irak-GCC (Dewan Kerjasama Teluk)
menjadi hancur. Begitu pula dengan organisasi regional seperti ACC (Dewan
Kerjasama Arab : Mesir, Irak, Yaman dan Yordania); Persekutuan Negara-Negara
Arab Maghribi: Libya, Aljazair, Maroko dan Tunisia) serta Liga Arab sendiri hancur
(Sihbudi, 1992: 89-90).
C. Simpulan dan Saran
1. Simpulan
Sebelum meninggal, Khomeini telah melakukan ratifikasi/amandemen
terhadap Konstitusi 1979 untuk menghindari ambigu fungsi dan wewenang setiap
12
lembaga negera, disamping keinginannya untuk membentuk sistem pemerintahan
pusat yang kuat. Dengan demikian, dia telah meletakkan fondasi yang kuat bagi
jalannya pemerintahan. Memang dibawah pemerintahannya konstitusi belum menjadi
masalah yang mendesak, karena memang dia kompeten mememegang kepemimpinan
religious dan politik sekaligus.
Modifikasi yang dilakukan oleh pengganti Khomeini, Imam Ali Khamaeni,
merupakan tindak lanjut dari kebijakan Khomeini, seperti gencatan senjata dengan
Irak, investasi dan pinjaman luar negeri, dan ratifikasi konstitusi. Dengan kata lain,
Iran pasca Khomeini merupakan kelanjutan dari kebijakan Khomeini sebelumnya.
Dengan demikian sebutan the second republic oleh Ehteshami dan post-akhundism
oleh Halliday (1994) harus dilihat dari perspektif sejarah multidimensional agar
memperoleh pandangan yang utuh.
2. Saran
Indonesia bisa belajar dari Iran dalam mensikapi dialektika agama dan
politik. Bukan berarti kita harus meniru jalan yang telah ditempuh Iran, karena situasi
dan kondisi, serta konteksnya yang berbeda. Dari Iran kita tahu bahwa pemikiran
agama bukan sesuatu yang sakral, sehingga dimungkinkan untuk melakukan
reformasi sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi.
Indonesia tidak perlu menjadi negara Islam seperti Iran, karena berbeda
dengan Iran, penduduk Indonesia sangat plural, sehingga penerapan syariah Islam
yang legal formal tidak tepat, bahkan bisa menimbulkan kekerasan yang tentu
bertentangan dengan misi agama yang humanis. Di Indonesia, pendekatan syariah
Islam yang substansial lebih tepat karena memungkinkan kita melakukan kerjasama
13
dengan penganut agama lain dalam rangka menegakkan hukum nasional yang yang
handal.
Pustaka Acuan
Abrahamian, Ervand. 1993. Khomeinism. California: University of California Press.
Ehteshami, Anoushiravan. 1995. After Khomeini: The Iranian Second Republic.
London: Routledge.
Gieling, Saskia. 1997. The Marja'iya in Iran and the Nomination of Khamaeni in
December 1994. Middle Eastern Studies Vol. 33 No. 4.
Halliday, Fred. 1997. Post-Akhundism in Iran. Index on Censorship Vol. 26 No. 4.
Mackey, Sandra. 1996. The Iranians: Persia, Islam, and the Soul of a Nation. New
York: A Plume Book.
Reed, Fred. 1989. A Nation in Turmoil: Iranians Try to Redefine their Revolution.
http://lw1fd.hotmail.msn.com/cgi-G893901459.8&len=13523.
Sihbudi, M. Riza. 1989. Dinamika Revolusi Islam Iran. Bandung: Pustaka Hidayah.
________________. 1992. Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington.
Bandung: Mizan.
Suara Merdeka, 24 Juni 1989.
Tempo, 6 Juni 1989.
_____, 10 Juni 1989.
_____, 2 September 1989.
14
Download