BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian tanaman

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemakaian tanaman obat dikalangan masyarakat saat ini sudah menimbulkan masalah
dalam bidang kesehatan karena pemakaian tanaman tersebut tanpa mempertimbangkan dosis
dan lama pemakaian sehingga menyebabkan efek samping. Tanaman obat mengandung
banyak senyawa kimia yang mempunyai keaktifan biologis yang sangat luas. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa beberapa tanaman obat mempunyai efek samping, seperti efek
teratogenik dan embriotoksik pada organisme yang mengkonsumsinya (Paganelliet al.,2010;
Ekwere et al.,2011).
Beberapa jenis tanaman obat yang sudah diteliti dan diduga mengandung senyawa
kimia bersifat teratogen dan embriotoksik yaitu, sambiloto (Setyawati, 2009), pandan (Muna
et al., 2010) kunyit putih (Yulianty dan Nawir, 2008), manggis (Akpantah et al., 2005) kulit
kayu durian (Rusmiati, 2009), Piuchea arguta (Vaghasiya et al., 2011), Mentha piperita L
(Golalipour et al., 2011) kafein (Santoso, 2006), handeuleum (Suhargo, 2005), Melia
azedarach (Mandal dan dhaliwal, 2007), dan gambir (Almahdy, 2010).
Salah satu tanaman yang juga banyak digunakan sebagai obat, tetapi belum banyak
diteliti secara ilmiah tentang efektifitas pemakaiannya dan tingkat keamanannya adalah daun
seribu ( Achilea millefolium L). Daun seribu merupakan jenis tanaman liar yang tumbuh di
sembarangan tempat dan sering dianggap gulma atau tanaman pengganggu yang layak
dicabut atau di buat sebagai makanan ternak. Tanaman daun seribu (Achillea milefolium L)
sering digunakan sebagai obat dalam mitologi Yunani kuno. Achillea pahlawan bangsa
yunani menggunakan daun seribu untuk merawat luka prajuritnya yang terkena panah. Daun
seribu sudah popular didunia pengobatan herbal Eropa. Tanaman yang dikenal dengan
sebutan Yaraow itu juga daunnya dapat dibuat teh. Pendaki gunung yang mengalami
perdarahan kerap menyeduhkannya menjadi teh untuk menekan perdarahan. Penduduk asli
Amerika menggunakannya dengan cara meremas lalu menggulung-gulungnya kemudian
mengolesinya pada luka luar dengan cara meremas.(Yassa et al, 2007 ; Candan et al, 2010 ;
Barreta et al, 2012).
Masyarakat luas di India menggunakan daun seribu ini sebagai pengobatan demam,
asma, bronkhitis, batuk, peradangan kulit, penyembuhan luka, dismonerea, pengaturan haid,
antiinflamasi. Secara tradisional masyarakat India menggunakan daun seribu sebagai aborsi,
kontrasepsi dan untuk merangsang kontraksi rahim, sehingga bisa menimbulkan abortus pada
wanita hamil yang meminum obat ini. (Yassa et al, 2007 ; Candan et al, 2010 ; Barreta et al,
2012).. Pemberian daun seribu kepada tikus betina yang hamil, maka akan terjadi penurunan
berat janin, peningkatan kontraksi uterus dan malformasi janin, akibatnya akan dapat
menimbulkan abortus (Lakhsmi et al, 2011)
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup
di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram. Pada tingkat permulaan abortus dan ancaman terjadinya abortus,
ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik
dalam kandungan ( Prawiroharjo, 2014).
Angka kejadian abortus sukar ditentukan karena abortus provokatus banyak yang
tidak dilaporkan, kecuali bila sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak jelas umur
kehamilannya, hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga biasanya ibu tidak
melapor atau berobat. Sementara itu, dari kejadian yang diketahui, 15 – 20% merupakan
abortus spontan atau kehamilan ektopik. Sekitar 5% dari pasangan yang mencoba hamil akan
mengalami 2 keguguran yang berurutan, dan sekitar 1% dari pasangan mengalami atau lebih
keguguran yang berurutan.Rata – rata terjadi 114 kasus abortus perjam. Sebagian besar studi
menyatakan kejadian abortus spontan antara 15 – 20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji
lebih jauh kejadian abortus sebenarnya bisa mendekati 50 %. Hal ini dikarenakan tingginya
angka chemical pregnancy loss yang tidak bisa diketahui pada 2 – 4 minggu setelah konsepsi.
Sebagian besar kegagalan kehamilan ini dikarenakan disfungsi gamet orang tua.
(Prawirohardjo, 2014).
Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering di perdebatkan.
Umumnya lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak diantaranya adalah sebagai berikut :
1)Faktor Genetik, 2) Kelainan Kongenital uterus, 3) Autoimun, 4) Defek fase luteal, 5)
Infeksi, 6) Hematologik, 7) Lingkungan. (Prawirohardjo, 2014). Diperkirakan 1 – 10 %
malformasi janin akibat dari paparan obat, bahan kimia, atau radiasi dan umumnya berakhir
dengan abortus. Hal ini disebabkan bahan kimia tersebut mengganggu sistem sirkulasi pada
plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin yang berakhir dengan abortus, dimana
terjadi kegagalan implantasi embrio. (Yang et al, 2006).
Proses Implantasi berlangsung melalui serangkaian tahapan yang unik, melibatkan
interaksi antara embrio dalam bentuk blastokista dengan endometrium uterus (Yang et al,
2006) serta berlansung pada waktu dan tempat yang tepat (Chedrese, 2009). Hasil akhir dari
proses implantasi adalah invasi blastokista pada jaringan maternal untuk memperoleh nutrien
esensial bagi kehidupan dan perkembangannya (Van Mourik et al, 2009). Keberhasilan
implantasi juga dihasilkan oleh komunikasi sel-sel antara blastosis dan uterus (Ding et al.,
2002). Seluruh tahapan proses implantasi merupakan proses yang melibatkan interaksi
embrio dengan dinding endometrium uterus yang melibatkan molekul sinyal endokrin,
parakrin, dan otokrin. Komunikasi dua arah antara blastokista dan endometrium merupakan
kunci keberhasilan implantasi (Van Mourik et al., 2009). Interaksi antara embrio dan
endometrium uterus induk yang terjadi selama proses implantasi ini merupakan hasil regulasi
hormon, terutama hormon estrogen dan progesteron (Chedrese, 2009 ; Van Mojurik et al.,
2009)
Penelitian pendahuluan yang dilakukan didapatkan bahwa ekstrak daun seribu
terbukti mengandung senyawa steroid sehingga akan terjadi perubahan hormonal pada ibu
maupun janin. Hormon ini masuk dalam sel dan mengikat faktor transkripsi dalam inti sel (
Liggin, 2000). Akibat ransangan dari bahan kimia daun seribu kedalam tubuh akan memicu
sinyal Tumor Necrosis Factor Alfa (TNF ) yang akan di tangkap oleh TNF
reseptor di
amnion.
IkatanTNF
dan TNF
reseptor akan mengaktifkan protein-protein didalam
sitoplasma seperti TRADD dan melalui jalur kinase caskade akan mengaktifkan NF-kB.
Dalam keadaan normal NF-kB berada didalam sitosel berikatan dengan IKB kinase (IKK)
sehingga menyebabkan NF-kB inaktif dengan membentuk NF-kB kompleks. Akibat adanya
rangsangan maka NF-kB akan berpisah dengan IKK, selanjutnya NF-kB masuk kedalam
nukleus dan berikatan dengan bagian dari DNA sehingga terbentuk kompleks DNA/NF-kB1.
Kompleks ini akan merektrut protein lain seperti koaktivator dan RNA polimerase untuk
mengubah DNA menjadi RNA yang akhirnya akan dihasilkan protein fungsional yang
mempengaruhi fungsi sel. Protein ini dapat berupa sitokin dan Cyclooxygenase – 2 (
Scheindreit C, 2006).
Allportet al.,(2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa persalinan pada
manusia berkaitan dengan aktivitas NF-kB di dalam amnion, yang berfungsi meningkatkan
ekspresi Cyclooxygenase – 2 dan berkontribusi terhadap “fungtional progesterone
withdrawal”. Bahri (2014) dalam penelitiannya mendapatkan bahwa ekpresi TNF , NF-kB
dan COX2 lebih tinggi pada persalinan prematur dibandingkan pada persalinan normal.
Diduga pemicu abortus juga terjadi akibat peningkatan NF-kB, karena banyak
penyakit-penyakit lain yang berat seperti kanker, asma, HIV AIDS, rematoid arthitirs.
meningkatkan NF-kB sebagai gen transkripsi. Penelitian Samaka(2006) mendapatkan bahwa
tingginya kadar Cyclooxygenase-2 (COX2) akan meningkatkan Cyclooxygenase – 2 secara
signifikan.
Cyclooksigenase (COX) atau prostaglandin endoperoxide synthase pathway adalah
enzim yang memproduksi prostaglandin endoperoxidase, yang kemudian disintesa menjadi
prostaglandin oleh enzim sintesa spesifik. Amnion merupakan lokasi utama dalam
mensintesa prostaglandin. (Palliser, 2005).
Prostaglandin digunakan untuk menginduksi persalinan. Prostaglandin bekerja dengan
memediasi dilatasi serviks, menstimulasi kontraksi uterus dengan meningkatkan estrogen,
dan secara tidak langsung meningkatkan kontraktilitas miometrium dengan membangun
regulasi reseptor oksitosin dan mensikronisasi kontraksi (Jacques, 2010). Prostaglandin yang
meningkat inilah yang akan mengaktifkan enzym kolagenase akan menyebabkan terjadi
dilatasi kanalis servikalis (Jacques, 2010).
Tingginya Cyclooxygenase – 2 juga akan menyebabkan penarikan fungsional
progesteron melalui interaksi dengan reseptor progesteron (Condon, 2006). Akibatnya kadar
progesteron menjadi rendah. Kadar progesteron yang rendah menyebabkan terganggunya
stabilitas membran lisosom dan juga meningkatkan pelepasan enzim fosfolipase-A2 yang
berperan sebagai katalisator dalam sintesis prostaglandin melalui perubahan fosfolipid
menjadi asam arakhidonat. (Loudon, 2003).
Ikataan sinyal TNF-
denganTNF-reseptor akan meningkatkan apoptosis melalui
peningkatan protein TRADD sehingga terjadi pengaktifan protein FADD, dan selanjutnya
akan mengaktifkan kapase–8, yang dapat menyebabkan terjadinya apoptosis.Bila terjadi terus
menerus akan menyebabkan kerusakan sel selaput amnion yang strukturnya terdiri dari satu
lapis sel, serta mengurangi kerapatan antara masing masing sel sehingga terjadi degradasi
matriks ekstraseluller yang memudahkan terjadinya robek selaput ketuban (Sagol et al,
2002).
Matriks metalloproteinase-8 (MMP-8) adalah salah satu dari MMP yang merupakan
enzim kolagonase yaitu enzim yang dapat memecah kolagen pada peristiwa remodeling
jaringan dengan kofactor zinc. MMP-8 berfungsi mendegredasi kolagen I, II, dan III, yang
dapat mengurangi fungsi utama serat kolagen (Geneser, 2000), sehingga memudahkan
robeknya selaput ketuban.
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruh
pemberian
ekstrak
daun
seribu
(Achillea
millefolium)
terhadap
kadar
Cyclooxygenase – 2, Progesteron dan MMP-8 pada tikus betina sebagai pencetus terjadinya
abortus.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat di rumuskan beberapa masalah
penelitian sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun seribu terhadap kadar Cyclooxygenase
– 2 pada tikus betina yang mengalami abortus?
2. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun seribu terhadap kadar Progesteron pada
tikus betina yang mengalami abortus?
3. Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak daun seribu terhadap kadar MMP-8 pada
tikus betina yang mengalami abortus ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Membuktikan
pengaruh
pemberian
ekstrak
daun
seribu
terhadap
kadar
Cyclooxygenase – 2, Progesteron dan Kadar MMP-8 pada tikus betina (Rattus
Norvegicus) yang mengalami abortus.
1.3.2
Tujuan Khusus
1. Untuk membuktikan pengaruh ekstrak daun seribu terhadap kadar Cyclooxygenase –
2 pada tikus betina (Rattusn norvegicus) yang mengalami abortus.
2. Untuk membuktikan pengaruh ekstrak daun seribu terhadap kadar progesteron pada
tikus betina (Rattus norvegicus) yang mengalami abortus.
3.
Untuk membuktikan pengaruh ekstrak daun seribu terhadap kadar MMP-8 pada
tikus betina (Rattus norvegicus) yang mengalami abortus.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan kontribusi kepada :
1.4.1 Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena dapat
digunakan sebagai landasan teoritis mengenai mengapa daun seribu tidak diperboleh
di pakai pada wanita hamil.
1.4.2 Kepentingan Masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya perempuan hamil, harus
berhati-hati dalam penggunaan daun seribu karena dapat menimbulkan abortus.
Download