18 BAB II WAKAF BERJANGKA WAKTU DALAM HUKUM ISLAM

advertisement
BAB II
WAKAF BERJANGKA WAKTU
DALAM HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG No. 41 TAHUN 2004
A. Definisi Wakaf dalam Hukum Islam dan Undang-Undang
Kata “Wakaf” atau “Waqf” berasal dari bahasa Arab “Waqafa”.1
Kata ini bersinonim dengan kata “Habasa” dengan makna aslinya berhenti,
diam di tempat, atau menahan. Kata al-Waqfu adalah bentuk masdar (gerund)
dari ungkapan waqfu syai’, yang berarti menahan sesuatu. Sebagai kata
benda, kata wakaf semakna dengan kata al-habs.2
DR. Mundzir Qahaf memberikan definisi wakaf dengan “menahan
harta baik secara abadi maupun sementara, dari segala bentuk tindakan
pribadi, seperti menjual dan memberikan wakaf atau yang lainnya, untuk
tujuan pemanfaatannya atau hasilnya secara berulang-ulang bagi kepentingan
umum atau khusus, sesuai dengan tujuan yang disyaratkan oleh wakif dan
dalam batasan hukum syariat.”3
Dengan definisi ini wakaf bisa diaplikasikan pada barang atau
manfaat atau hak bernilai materi, karena semua itu adalah termasuk harta,
bisa bersifat abadi maupun sementara, dimana kesementaraan ini lahir karena
tabiat barangnya atau karena syarat yang dibuat oleh wakif.
1
Departemen Agama, Fiqh Wakaf, ....., h. 1
Abdul Ghafur Anshori, Hukum dan Praktek Perwakafan di Indonesia, ....., h. 7
3
Mundzir Qahaf, Manajemen Wakaf Produktif, ....., h. 157
2
18
19
Para ahli fiqh berbeda pendapat dalam mendefinisikan wakaf
menurut istilah, sehingga mereka berbeda pula dalam memandang hakikat
wakaf itu sendiri. Berbagai pandangan tentang wakaf menurut istilah sebagai
berikut:4
a.
Abu Hanifah
Madzhab
Hanafi
mendefinisikan
wakaf
dengan:
“tidak
melakukan suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus tetap sebagai
hak milik, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada suatu pihak
kebajikan (sosial), baik sekarang maupun akan datang.”
Jadi, menurut madzhab ini kepemilikan benda wakaf menurut
hukum tetap menjadi milik si wakif, jadi hanya manfaat dari benda
tersebut yang menjadi wakaf. Oleh karena itu suatu saat kapanpun wakif
boleh menarik kembali benda tersebut dan ia boleh menjualnya. Jika si
wakif wafat maka harta tersebut menjadi harta warisan untuk ahli
warisnya.
b.
Madzhab Maliki
Madzhab Maliki berpendapat bahwa wakaf itu tidak melepaskan
harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, namun wakaf tersebut
mencegah
wakif
melakukan
tindakan
yang
dapat
melepaskan
kepemilikannya atas harta tersebut kepada yang lain dan wakif
berkewajiban menyedekahkan manfaatnya serta tidak boleh menarik
kembali wakafnya. Perbuatan si wakif menjadikan manfaat hartanya
4
Departemen Agama, Fiqh Wakaf, ...., h.2-3
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
20
untuk digunakan oleh mustahiq (penerima wakaf) walaupun yang
dimilikinya itu berbentuk upah, atau menjadikan hasilnya untuk dapat
digunakan seperti mewakafkan uang.
Wakaf dilakukan dengan mengucapkan lafadz wakaf untuk
masa tertentu sesuai dengan keinginan pemilik. Dengan kata lain, pemilik
harta menahan benda itu dari penggunaan benda secara pemilikan, tetapi
membolehkan pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebaikan, yaitu
pembarian manfaat benda secara wajar sedang benda itu tetap menjadi
milik si wakif. Perwakafan itu berlaku untuk suatu masa tertentu, dan
karenanya tidak boleh disyaratkan sebagai wakaf kekal (selamanya).
c.
Madzhab Syafi’i dan Ahmad bin Hambal
Madzhab
Syafi’i
mendefinisikan
wakaf
dengan:
“tidak
melakukan suatu tindakan atas suatu benda, yang berstatus sebagai milik
Allah SWT, dengan menyedekahkan manfaatnya kepada suatu kebajikan
(sosial).” Karena menurut Imam Syafi’i dan Imam Hambali bahwa wakaf
adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan si wakif,
setelah sempurna prosedur perwakafan. Wakif tidak boleh melakukan
apa saja terhadap harta wakaf tersebut, jika wakif wafat maka harta yang
diwakafkan tersebut tidak dapat diwarisi oleh ahli waris wakif.
Kalau diperhatikan definisi yang diungkapkan para Imam
madzhab ini mempunyai persyaratan yang berbeda-beda, misalnya saja
Imam Hanifah, beliau mensyaratkan bahwa harta wakaf itu tetap menjadi
milik si wakif dan si wakif berhak melakukan apa saja terhadap benda
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
21
tersebut, yang disalurkan untuk perwakafan adalah manfaat dari benda
tersebut. Pendapat ini selaras dengan pendapat Imam Maliki, beliau juga
berpendapat bahwa harta wakaf itu tetap menjadi milik si wakif, namun
si wakif tidak berhak melakukan perbuatan sperti halnya hak kepemilikan
sampai jangka waktu yang ditentukan si wakif dalam mewakafkan benda
wakaf tersebut.
Berbeda dengan pendahulunya, Imam Syafi’i dan Ahmad bin
Hambal mensyaratkan bahwa benda wakaf yang sudah di wakafkan akan
lepas hak kepemilikannya dari si wakif, jadi wakaf itu menurut mereka
haruslah mu’abbad (abadi).
Negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam
sendiri telah mengatur perwakafan ini dalam beberapa peraturan
perundang-undangan. Yang pertama adalah dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik dijelaskan
bahwa wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang
memisahkan sebagian harta kekayaan yang berupa tanah miilik dan
melembagakan selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau
keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam.5
Definisi wakaf yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah No.
28 Tahun 1977 tersebut memperlihatkan tiga hal: pertama, wakif atau
pihak yang mewakafkan secara perorangan atau badan hukum seperti
perusahaan atau organisasi kemasyarakatan. Kedua, pemisahan tanah
5
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, bab I,
pasal I (b), yang terlampir dalam bukunya Abdul Ghafur Anshori, Hukum dan Praktik Perwakafan
di Indonesia, ....., h. 110
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
22
milik belum menunjukkan pemindahan kepemilikan tanah yang
diwakafkan. Meskipun demikian, dengan melihat durasi yang ditetapkan,
yaitu dilembagakan untuk selama-lamanya, ketentuan ini sudah
menunjukkan
bahwa
benda
yang
diwakafkan
sudah
berpindah
kepemilikannya, dari milik perorangan menjadi milik umum.6
Dalam buku III Kompilasi Hukum Islam (KHI) dijelaskan
bahwa wakaf adalah perbuatan hukum seseorang, kelompok orang, atau
badan hukum dengan memisahkan sebagian harta benda miliknya dan
melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau
keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.7
Definisi wakaf yang terdapat dalam KHI memperlihatkan
adanya perluasan pihak yang mewakafkan atau wakif. Dalam Peraturan
Pemerintah No. 28 Tahun 1977, pihak wakif yang dinyatakan secara
eksplisit hanyalah dua, yaitu perorangan dan badan hukum. Sedangkan
dalam KHI , pihak wakif bisa tiga, yaitu perorangan, sekelompok orang,
dan badan hukum.8
Dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf
dijelaskan bahwa wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk
memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk
dimanfaatkan selamanya atau jangka waktu tertentu sesuai dengan
6
Jaih Mubarok, Wakaf Produktif, ....., h. 12
Kompilasi Hukum Islam (KHI), bab 1, pasal 215, ayat (1), yang terlampir dalam
bukunya Abdul Ghafur Anshori, Hukum dan Praktik Perwkafan di Indonesia, ...., h. 129
8
Jaih Mubarok, Wakaf Produktif, ....., h. 13
7
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
23
ketentuannya guna keperluan ibadah atau kesejahteraan umum menurut
syariah.9
Definisi wakaf tersebut memperlihatkan dua hal: Pertama, pihak
yang mewakafkan langsung disebut wakif tanpa memperinci pihak yang
mewakafkan sebagaimana dirinci dalam Peraturan Pemerintah No. 28
Tahun 1977 dan KHI. Kedua, durasi wakaf.10
Dalam peraturan perundang-undangan sebelumnya ditetapkan
bahwa wakaf bersifat mu’abbad (abadi, selamanya, atau langgeng).
Benda yang diwakafkan tidak dapat ditarik kembali karena bukan lagi
menjadi milik wakif (tapi menjadi milik umum). Sedangkan dalam
Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 terdapat ketentuan secara eksplisit
yang menyatakan bahwa benda wakaf dapat dimanfaatkan selamanya
atau untuk jangka waktu tertentu.11
B. Dasar Hukum Wakaf
Al-Qur’an
sebagai
sumber
hukum
Islam
yang
utama
memberikan petunjuk secara umum tentang amalan wakaf termasuk
salah satu yang digolongkan dalam perbuatan baik. Ayat-ayat al-Qur’an
yang berkaitan dengan wakaf tersebut antara lain:
a) Al-Qur’an Surat al-Hajj ayat 77
9
Departemen Agama RI, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, pasal 1,
ayat 1, ....., h. 3
10
Jaih Mubarok, Wakaf Produktif, ....., h. 13
11
Achmad Djunaedi dan Thobieb al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif, ....., h. 26
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
24







 
 
“Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu,
sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu
mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj: 77)
Al-Qurthubi mengartikan “berbuat baiklah kamu” dengan
pengertian berbuat baik itu adalah perbuatan sunnah bukan
perbuatan wajib, sebab perbuatan wajib adalah kewajiban yang
sudah semestinya dilakukan hamba kepada Tuhannya. Salah satu
perbuatan sunnah itu adalah wakaf yang selalu menawarkan pahala
di sisi Allah. Bunyi akhir dari ayat di atas adalah “mudah-mudahan
kamu sekalian beruntung” adalah gambaran dampak positif dari
berbuat amal kebaikan termasuk wakaf.12
b) Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 92












   
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna),
sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan
apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah
mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 92)
c) Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 261
  
  
12
Abdul Gahfur Anshori, Hukum dan Praktik Wakaf di Indonesia,....., h. 19
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
25










   
   
  
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir
benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus
biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha
mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
d) Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 267




   
  






  






  
  
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah)
sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa
yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu
memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya,
Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan
memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha
Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)
e)
Sunnah Rasulullah SAW
Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa wakaf disebut sebagai
shodaqah jariyah. Dalam prespektif ini secara umum, sedekah
dibedakan menjadi dua yaitu, sedekah wajib dan sedekah sunnah.
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
26
Kemudian sedekah sunnah dibedakan menjadi dua pula yaitu, sedekah
yang pahalanya tidak senantiasa mengalir dan sedekah yang pahalanya
senantiasa mengalir meskipun orang yang bersangkutan telah
meninggal dunia. Sedekah yang terakhir disebut dianggap sebagai
wakaf.13
Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah
yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw, bersabda:
:‫ إذا مات ابن أدم إنقطع عمله إال من ثالث‬: ‫عن أبي هريرة ان رسول هللا ملسو هيلع هللا ىلص‬
‫ رواه مسلم‬.‫ أو علم ينتفع به او ولد صالح يدعو له‬,‫صدقة جارية‬
“Dari Abu hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:
“apabila anak adam (manusia) meninggal dunia maja putuslah amalnya,
kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak
sholeh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim)
Adapun penafsiran shodaqah jariyah dalam hadits tersebut adalah:
‫ذكره في باب الوقف ألنه فسر العلماء الصدقة الجارية بالوقف‬
“Hadits tersebut dikemukakan di dalam bab wakaf karena para ulama
menafsirkan shadaqah jariyah dengan wakaf”14
Selain shodaqah jariyah, wakaf dikenal dan disebut juga
dengan al-habs. Secara bahasa al-habs berarti al-sijn (penjara), diam,
cegahan, rintangan, halangan, tahanan dan pengamanan. Gabungan kata
13
Abdul Ghafur Anshori, Hukum dan Praktek Perwakafan di Indonesia, ....., h. 24
Departemen Agama RI, Panduan Pemberdayaan Tanah Wakaf Produktif Strategis di
Indonesia, (Jakarta: Proyek Peningkatan Pemberdayaan Wakaf Direktorat Jenderal Bimas Islam
dan Penyelenggaraan Haji Departemen Agama RI, 2004), h. 18
14
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
27
ahbasa (al-habs) dengan al-mal (harta) berarti wakaf adalah (ahbasa almal).15
Penggunaan kata al-habs dengan arti wakaf terdapat dalam
sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar yang
menjelaskan bahwa Umar Ibn al-Khattab datang kepada Nabi saw
meminta petunjuk pemanfaatan tanah miliknya di Khaibar.
‫ قال عمر للنبى صلى هللا علىه وسلم اِن المائة سهم التي لى بخيبر‬:‫عن ابن عمر قال‬
‫ أحبس أصلها‬: ‫ فقال النبي‬,‫أصب ماال قط أعجب الي منها قد أردت أن أتصدق بها‬
} ‫وسبل ثمرتها { رواه البخاري و مسلم‬
Dari Ibnu Umar, ia berkata : “Umar mengatakan kepada Nabi SAW, saya
mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah
mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin
menyedekahkannya. Nabi mengatakan kepada Umar : Tahanlah
pokoknya, dan jadikan buahnya sedekah untuk sabilillah”. (HR. Bukhari
dan Muslim).16
C. Macam-macam Wakaf dalam Hukum Islam dan Undang-Undang
Wakaf pada umumnya jika ditinjau dari segi peruntukan benda
yang ditujukan kepada siapa wakaf itu, maka wakaf dapat dibagi menjadi
dua, yaitu: wakaf ahli (keluarga), dan wakaf khairi (umum).
a) Wakaf Ahli (keluarga)
Wakaf ahli atau wakaf keluarga ialah wakaf yang ditujukan
kepada orang-orang tertentu seseorang atau lebih, baik keluarga wakif
atau bukan. Wakaf seperti ini juga disebut wakaf Dzurri.
490
15
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1997), h.
16
Depag RI, Fiqih Wakaf, ....., h. 13
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
28
Apabila ada seseorang mewakafkan sebidang tanah kepada
anaknya, lalu kepada cucunya, wakafnya sah dan yang berhak
mengambil manfaatnya adalah mereka yang ditunjuk dalam pernyataan
wakaf.
Wakaf untuk keluarga ini secara hukum Islam dibenarkan
berdasarkan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim
dari Anas bin Malik tentang adanya wakaf keluarga Abu Thalhah
kepada kaum kerabatnya. Diujung hadits tersebut dinyatakan:
‫ فقسمها أبو طلحه في‬,‫ وإني أرى ان تجعلها في األقربين‬,‫قد سمعت ما قلت فيها‬
‫أقاربه وبني عمه‬
“Aku telah mendengar ucapanmu tentang hal tersebut. Saya
berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada keluarga terdekat.
Maka Abu Thalhah membagikannya untuk keluarga dan anak
pamannya”
b) Wakaf Khairi (umum)
Wakaf khairi ialah wakaf yang sejak semula ditujukan untuk
kepentingan umum, tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu.
Definisi ini berdasakan hadits Umar bin Khattab tentang wakaf. Hadits
tersebut menerangkan bahwa wakaf Umar tersebut untuk kepentingan
umum, meskipun disebutkan juga tujuan untuk anak kerabatnya.17
Dalam tinjauan penggunaannya, wakaf jenis ini jauh lebih
banyak manfaatnya dibandingkan dengan jenis wakaf ahli, karena tidak
terbatasnya pihak-pihak yang ingin mengambil manfaat. Dan jenis
wakaf inilah yang sesungguhnya paling sesuai dengan tujuan
17
Abdul Gahfur Anshori, Hukum dan Praktik Perwkafan di Indonesia, ....., h. 31-32
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
29
perwakafan itu sendiri secara umum. Dalam jenis wakaf ini juga, si
wakif dapat mengambil manfaat dari harta yang diwakafkannya itu.
Secara substansinya, wakaf inilah yang merupakan salah satu
segi dari cara membelanjakan (memanfaatkan) harta di jalan Allah
SWT. Dan tentunya kalau dilihat dari manfaat kegunaannya merupakan
salah satu sarana pembangunan, baik di bidang keagamaan, khususnya
peribadatan, perekonomian, kebudayaan, kesehatan, keamanan dan
sebagainya. Dengan demikian, benda wakaf tersebut benar-benar terasa
manfaatnya untuk kepentingan kemanusiaan (umum), tidak hanya untuk
keluarga atau kerabat yang terbatas.
Sedangkan dalam Undang-Undang, wakaf berdasarkan jangka
waktu keberlangsungannya dibagi menjadi dua, yaitu: wakaf mu’abbad
(selamanya) dan wakaf mu’aqqat (dengan jangka waktu tertentu).
Dalam Kompilasi Hukum Islam Buku III dijelaskan
Pasal 215, ayat 1:
“Wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau
badan hukum memisahkn sebagian dari benda miliknya dan
melembagakan untuk selama-lamanya (mu’abbad) guna kepentingan
ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran Islam”.18
Sedangkan dalam Undang-Undang No. 41 Tahun 2004
dijelaskan bahwa wakaf itu boleh dengan mu’abbad atau mu’aqqat. Hal
ini sesuai dengan bunyi pasal 1 ayat 1 UU No. 41, yaitu:
“Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau
menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan
18
Kompilasi Hukum Islam (KHI), bab 1, pasal 215, ayat (1), yang terlampir dalam
bukunya Abdul Ghafur Anshori, Hukum dan Praktik Perwkafan di Indonesia, ....., h. 129
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
30
selamanya (mu’abbad) atau jangka waktu tertentu (mu’aqqat) sesuai
dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan
umum menurut syariah.”19
D. Syarat dan Unsur Wakaf dalam Hukum Islam dan Undang-Undang
1. Syarat dan Unsur Wakaf dalam Hukum Islam
Secara etimologi, rukun biasa diterjemahkan dengan sisi yang
terkuat. Karenanya, kata rukn al-sya’i kemudian diartikan sebagai sisi
dari sesuatu yang menjadi tempat bertumpu.20
Adapun dalam terminologi fikih, rukun adalah sesuatu yang
dianggap menentukan suatu disiplin tertentu, dimana ia merupakan
bagian integral dari disiplin itu sendiri. Atau dengan kata lain rukun
adalah penyempurna sesuatu, dimana ia merupakan bagian dari
sesuatu itu.21
Oleh karena itulah, sempurna atau tidaknya wakaf sangat
dipengaruhi oleh unsur-unsur yang ada dalam perbuatan wakaf
tersebut. Adapun rukun atau unsur wakaf menurut sebagian besar
ulama (mazhab Maliki, Syafi’i, Hanbali dan Zaidiyah) adalah:22
1. Ada orang yang berwakaf (wakif)
2. Ada harta yang diwakafkan (mauquf)
3. Ada tujuan peruntukan wakaf (mauquf ‘alaih)
4. Ada akad/ pernyataan wakif (shighat)
19
Departemen Agama RI, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, pasal
1, ayat 1, (Direktorat Jenderal Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2005), h. 3
20
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, ....., h. 493
21
Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, ....., h. 494
22
Abdul Ghafur Anshori, Hukum dan Praktik Perwkafan di Indonesia, ....., h. 26
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
31
Kemudian dari tiap-tiap unsur/ rukun diatas harus terpenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
a. Syarat Wakif
Wakif harus mempunyai kecakapan melakukan tabarru’
yaitu melepaskan hak milik tanpa imbangan materiil. Artinya mereka
telah dewasa (baligh), berakal sehat, tidak dibawah pengampuan dan
tidak terpaksa dalam melakukan perbuatan (wakaf).
b. Syarat Mauquf
Mauquf dipandang sah apabila merupakan harta yang
bernilai, tahan lama, dapat diambil manfaatnya dan harta hak milik
wakif mutlak. Adapun harta benda wakaf terdiri dari dua jenis, yaitu
harta tetap dan harta bergerak.
c. Syarat Mauquf ‘alaih
Mauquf ‘alaih tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai
ibadah, hal ini sesuai dengan sifat amalan wakaf sebagai salah satu
bagian dari ibadah, sekurang-kurangnya merupakan hal-hal yang
dibolehkan atau “mubah” menurut hukum Islam.
d. Syarat Shighat
Shighat atau pernyataan wakaf dari si wakif dapat berupa
lisan, tulisan, atau isyarat yang dapat dipahami maksudnya. Isyarat
hanya digunakan bagi wakif yang tidak dapat melakukan wakaf
dengan menggunakan cara lisan maupun tulisan, disamping itu isyarat
juga harus jelas hingga benar-benar dapat dipahami.
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
32
2.
Syarat dan Unsur Wakaf dalam Undang-Undang
Wakaf menurut ketentuan Undang-Undang dalam pasal 2
disebutkan bahwa Wakaf sah apabila dilaksanakan menurut syariah.
Sedangkan pasal 6 menyatakan bahwa Wakaf dilaksanakan dengan
memenuhi unsur wakaf sebagai berikut: Wakif, Nazhir, Harta benda
wakaf, Ikrar Wakaf, Peruntukan harta benda wakaf, dan Jangka waktu
wakaf.
Sedangkan syarat yang harus dipenuhi dalam unsur wakaf
berdasarkan Undang-Undang yaitu:23
a. Wakif
Syarat
wakif,
wakif
disyaratkan
cakap
bertindak
dalam
membelanjakan hartanya, dengan kriteria merdeka, berakal sehat,
dewasa, tidak terhalang melakukan perbuatan hukum dan pemilik
sah harta wakaf. Dalam Undang-Undang No 41 tahun 2004 pasal
7 disebutkan, wakif meliputi:
 Perseorangan
 Organisasi
 Badan Hukum
b. Nazhir
Nazhir berdasarkan ketentuan perundang-undang terdiri dari
perseorangan, organisasi atau badan hukum. Sebagaimana
23
Abd. Shomad, Hukum Islam Penormaan Prinsip Syariah dalam Hukum Indonesia,
(Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2010), h. 373
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
33
tercantum dalam pasal 11 Undang-Undang wakaf bahwa nazhir
bertugas:
 Melakukan pengadministrasian harta benda wakaf
 Mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai
dengan tujuan, fungsi dan peruntukannya
 Mengawasi dan melindungi harta benda wakaf
 Melaporkan
pelaksanaan
tugas
kepada
Badan
Wakaf
Indonesia
Syarat dan ketentuan lain tentang ke-nazhiran terdapat
dalam pasal 10 hingga pasal 14 Undang-Undang wakaf.
c. Harta Benda Wakaf
Harta
benda
yang
dapat
diwakafkan
menurut
ketentuan
perundang-undangan adalah harta yang dimiliki dan dikuasai oleh
wakif secara sah. Harta benda wakaf terdiri dari benda tidak
bergerak dan benda bergerak, adapun benda bergerak yang dapat
diwakafkan meliputi uang, logam mulia, kendaraan dan harta
benda lain yang tidak bisa habis karena dikonsumsi.
d. Ikrar Wakaf
Ikrar wakaf adalah pernyataan wakaf dari si wakif. Berdasarkan
pasal 17 sampai dengan pasal 21 Undang-Undang wakaf
ditentukan bahwa ikrar wakaf dilaksanakan oleh wakif kepada
nazhir di hadapan PPAIW dengan disaksikan oleh dua orang
saksi.
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
34
e. Peruntukan Harta Benda Wakaf
Peruntukan harta benda wakaf dalam rangka mencapai tujuan dan
fungsi wakaf sesuai dengan ketentuan hukum, ditetapkan atas
kehendak si wakif pada waktu melakukan ikrar wakaf. Hal ini
diatur dalam pasal 22 dan 23.
f. Jangka Waktu Wakaf
Jangka wakaf berdasarkan ketentuan Undang-Undang merupakan
bagian dari unsur wakaf yang harus ditentukan pada waktu ikrar.
Sesuai dengan pengertian wakaf menurut Undang-Undang dalam
pasal 1 bahwa wakaf boleh dilaksanakan untuk selamanya atau
untuk jangka waktu tertentu.
E. Wakaf Berjangka Waktu
Dalam fikih gagasan tentang wakaf berjangka waktu dikenal
dengan istilah wakaf mu’aqqat, yaitu pembatasan wakaf berdasarkan durasi
waktu tertentu. Para ulama madzhab kecuali Imam Malik berpendapat bahwa,
wakaf tidak bisa terwujud kecuali apabila orang yang mewakafkan
bermaksud mewakafkan harta bendanya untuk selamanya dan terus-menerus.
Pendapat yang menyatakan bahwa wakaf harus bersifat permanen merupakan
pendapat yang didukung oleh mayoritas ulama.24
Imam Malik berpendapat bahwa akad wakaf bersifat mulazamat
(kepemilikan harta wakaf berpindah dari milik wakif menjadi milik Allah –
umum), akan tetapi beliau berpendapat bahwa wakaf tidak mesti dilakukan
24
Abdul Ghafur Anshori, Hukum dan Praktik Perwakafan di Indonesia, ....., h. 29
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
35
secara mu’abbad (selamanya). Wakaf boleh dilakukan dengan tenggang
waktu tertentu dengan syarat tidak boleh ditarik kembali sebelum durasi
waktu yang telah disepakati selesai. Ketentuan lain mengenai wakaf
mu’aqqat menurut Imam Malik adalah bahwa batasan jangka waktu wakaf
ditetapkan berdasarkan atas kehendak si wakif baik terhadap benda tetap (aluqar) maupun benda bergerak (al-manqul).25
Di Indonesia syarat permanen wakaf sempat dicantumkan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah
Milik dan Kompilasi Hukum Islam. Keduanya menyebutkan secara tegas
bahwa wakaf harus berlaku untuk selama-lamanya.26 Namun ketentuan
tersebut berubah menjadi, wakaf boleh dilakukan untuk jangka waktu tertentu
disamping juga boleh berlaku untuk selamanya setelah lahirnya UndangUndang Nomor 41 Tahun 2004 tentang wakaf.
Dasar pertimbangan lahirnya Undang-Undang Nomor 41 Tahun
2004 tentang Wakaf adalah bahwa lembaga wakaf sebagai pranata
keagamaan yang memiliki potensi dan manfaat ekonomi, sehingga perlu
dikelola secara efektif dan efisien untuk kepentingan ibadah demi
kesejahteraan umum. Disamping itu wakaf juga perbuatan hukum yang telah
lama hidup dan dilaksanakan dalam masyarakat, yang pengaturanya belum
lengkap serta masih tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan.
25
Titik Aisyah, Pendapat Madzhab Maliki Tentang Wakaf Berjangka Waktu Serta
Relevansinya Dengan Upaya Pengembangan Wakaf di Indonesia, td, ....., h. 47
26
Juhaya S. Praja, Perwakafan di Indonesia: Sejarah Pemikiran Hukum dan
Perkembanganya, (Bandung, Yayasan Piara, 1993), h. 18
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
36
Sehingga dalam upaya mewujudkan konsep wakaf produktif lahirlah UndangUndang wakaf ini.27
Didalam Undang-Undang wakaf yang baru, terdapat dua aturan
yang mencakup tentang wakaf berjangka waktu. Pertama, pengertian wakaf
yang terdapat dalam pasal 1, yang menyebutkan bahwa wakaf adalah
perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian
harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya (mu’abbad) atau jangka
waktu tertentu (mu’aqqat) sesuai dengan kepentingannya guna keperluan
ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. Kedua, rukun/ unsur
wakaf tercantum dalam pasal 6, yaitu ada enam unsur wakaf meliputi: Wakif,
Nazhir, Harta benda wakaf, Peruntukan wakaf, Ikrar dan Jangka waktu
wakaf.
Dari dua ketentuan pasal yang tercantum diatas, apabila ditinjau
dari segi normatif, bahwa bolehnya wakaf berjangka waktu adalah sesuai
dengan kehendak si wakif. Akan tetapi, dalam Peraturan Pemerintah tentang
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf terdapat
ketentuan bahwa benda wakaf tidak bergerak yang berupa tanah beserta
bangunan, tanaman atau benda-benda lain yang terkait dengannya hanya
dapat dilakukan (diwakafkan) secara mu’abbad (Peraturan Pemerintah Nomor
42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang
Wakaf, pasal 18, ayat 1). 28 Oleh sebab itu, pembatasan ini menjadi penghambat
27
Devi Kurnia Sari, Tinjauan Perwakafan Tanah Menurut Undang-Undang Nomor 41
Tahun 2004 Tentang Wakaf di Kabupaten Semarang, td, ....., h. 59
28
Jaih Mubarok, Wakaf Produktif, ....., h. 225
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
37
wakaf tanah secara temporal yang secara konseptual dibolehkan oleh ulama
Malikiyah.
Selama ini perwakafan yang berlaku di Indonesia masih
mengedepankan sifat keabadian wakaf sesuai dengan mayoritas pendapat ahli
hukum Islam, meskipun wakaf dengan jangka waktu juga dikenal kalangan
madzhab Maliki. Aplikasi doktrin Malikiyah ini penting mengingat kondisi
faktual masyarakat yang masih berpedoman pada madzhab Syafi’iyah dan
peraturan perundang-undangan yang terdahulu.
http://elc.stain-pekalongan.ac.id/
Download