Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF)

advertisement
Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF)
7
Volume 6 Nomor 1 2016 ISSN : 2089-6158
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe The Power Of Two dalam Pembelajaran Fisika
Rini Budiharti 1, Nur Ulfah Citra Devi 2
1,2
Program Studi Pendidikan Fisika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Sebelas Maret
Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta, Telp/Fax (0271) 648939
E-mail : [email protected]
Abstrak
Tujuan penulisan makalah ini yaitu (1) Menjelaskan model Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two. (2)
Menjelaskan sintaks pembelajaran model Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two melalui metode eksperimen dan
diskusi dalam pembelajaran Fisika. (3) Menjelaskan efektivitas penerapan model Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of
Two dalam pembelajaran Fisika.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang didukung oleh teori pembelajaran konstruktivistik.
Terdapat banyak tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pemilihan
tipe dalam pembelajaran kooperatif disesuaikan dengan karakter materi, karakter dan kemampuan siswa maupun sarana
pendukung pembelajaran yang tersedia. Model Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two dapat menjadi salah satu
alternatif pilihan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran Fisika.
Berdasarkan dari pembahasan dapat diambil kesimpulan: (1) Model Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two yaitu
salah satu tipe dalam model Pembelajaran Kooperatif yang mempunyai prinsip bahwa berpikir berdua jauh lebih baik
daripada beripikir sendiri. Dalam pelaksanaannya siswa dibagi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri atas 2 orang. Model
Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two sangat bermanfaat, karena dapat memaksimalkan belajar kolaboratif
(bersama) dan meminimalkan kesenjangan antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. (2) Sintaks penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two melalui metode eksperimen dan diskusi dalam Pembelajaran Fisika
terdapat 5 langkah: Tahapan memberikan pertanyaan. Guru membagi LKS (berisi pertanyaan yang spesifik dan merangsang
pikiran siswa), kemudian guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok praktikum, lalu guru membimbing siswa
melakukan praktikum; Tahapan meminta siswa menjawab pertanyaan secara individual. Guru meminta dan membimbing
siswa untuk mengerjakan LKS berdasarkan praktikum secara individu; Tahapan meminta berpasangan, guru membagi siswa
menjadi berpasangan sebagai kelompok diskusi; Tahapan meminta siswa membuat jawaban baru. Guru mengarahkan siswa
untuk membuat jawaban baru berdasarkan hasil diskusi berpasangan (membuat kesimpulan); dan tahapan meminta siswa
membandingkan setiap pasangan dalam kelas. Guru meminta perwakilan pasangan untuk mempresentasikan hasil diskusinya
dan meminta siswa dari pasangan lain untuk memberikan tanggapan. (3) Berdasarkan hasil penelitian para ahli, penerapan
model Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two efektif untuk pembelajaran Fisika dapat meningkatkan hasil belajar
dan kemampuan analisis siswa.
Kata kunci : model pembelajaran kooperatif, tipe The Power Of Two, pembelajaran Fisika
1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan kunci utama kemajuan
suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan, sumber
daya manusia dapat berkembang menuju ke arah
yang lebih baik. Bisa dikatakan bahwa sumber daya
manusia yang berkualitas akan mengembangkan
potensi yang dimilikinya untuk kemajuan bangsa
dan negara.
Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa pendidikan di Indonesia tergolong masih
rendah. Hasil terbaru, yaitu TIMSS 2011, Indonesia
berada di peringkat ke-40 dari 42 negara peserta
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif...
dengan skor rata-rata 406, sedangkan skor rata-rata
internasional 500.
Pendidikan di Indonesia yang rendah perlu
adanya upaya untuk mengatasinya karena kualitas
pendidikan sangat menentukan eksistensi dan masa
depan suatu bangsa. Dalam rangka meningkatkan
kualitas pendidikan, salah satunya adalah
peningkatan kualitas proses pembelajaran. Dalam
UUSPN No. 20 tahun 2003 menyatakan
“Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar” Depdiknas. (2004).. Interaksi
yang terjadi adalah interaksi antara subjek dengan
Rini Budiharti
Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF)
8
Volume 6 Nomor 1 2016 ISSN : 2089-6158
objek pembelajaran. Pendidik dan peserta didik
merupakan subjek pembelajaran. Sedangkan sumber
belajar dalam lingkungan merupakan objek yang
akan dipelajari. Dengan demikian, pembelajaran
merupakan suatu proses interaksi yang terjadi antara
guru dan siswa guna mencapai tujuan tertentu.
Kegiatan pembelajaran tidak bisa dilepaskan dari
unsur interaksi, sebab interaksi adalah bagian
penting dari pembelajaran. Interaksi disini bisa
berarti interaksi guru dengan siswa, siswa dengan
siswa atau siswa dengan lingkungan sekitar.
Bukanlah disebut pembelajaran jika di dalamnya
tidak ada unsur interkasi. Interaksi tersebut menuntut
adanya perubahan sikap, yaitu perubahan sikap atau
tingkah laku siswa menuju ke arah yang lebih baik.
Interaksi yang baik antar guru dengan siswa maupun
siswa dengan siswa dapat terwujud apabila didukung
dengan suasana dan kondisi pembelajaran yang
bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan
dialogis.
Hal tersebut seperti diungkapkan dalam
Lampiran Permendikbud No. 65 tentang Standar
Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, bahwa
proses pembelajaran pada satuan pendidikan
diselenggarakan
secara
interaktif,
inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai
dengan
bakat,
minat,
danperkembangan fisik serta psikologis peserta didik
(Kemendikbud, 2013 : 1).
Dalam pembelajaran Fisika suasana dan kondisi
tersebut sangat diperlukan, karena banyak yang
menganggap bahwa Fisika itu pelajaran yang sulit
dan membosankan. Untuk menciptakan kondisi dan
suasana tersebut pada saat pembelajaran Fisika,
maka guru harus bisa memberikan inovasi dalam
proses pembelajaran. Salah satu inovasi dalam
pembelajaran Fisika adalah penerapan model
pembelajaran yang inovatif. Terdapat banyak model
pembelajaran yang dapat diterapkan. Salah satu
model pembelajaran yang dapat membuat suasana
dan kondisi Fisika menjadi menyenangkan dan
dapat membuat siswa menikmati Fisika salah
satunya adalah model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah
satu pembelajaran yang didukung oleh teori
pembelajaran konstrutivistik, dimana dalam proses
pembelajaran siswa aktif dalam menemukan dan
mengkonstruksi sendiri pengetahuan atau konsep
dengan cara saling berdiskusi dengan temantemannya. Siswa bekerja dalam kelompok untuk
saling membantu dalam memecahkan masalah.
Pendekatan konstruktivisme adalah pendekatan
pembelajaran yang menekankan pada keaktifan
siswa
untuk
mengkonstruksi
(membentuk,
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif...
menyusun) pengetahuan yang diperoleh sebelumnya
dan pengetahuan yang baru dipelajarinya. Dalam
pendekatan pembelajaran ini, siswa diarahkan untuk
menggunakan konsep-konsep atau pengetahuan
yang telah diperolehnya dan konsep-konsep atau
pengetahuan yang baru dipelajarinya untuk
kemudian
menyusun
menjadi
pengetahuan
tersendiri. Adapun peran guru dalam pendekatan
pembelajaran ini adalah sebagai mediator dan
fasilitator bagi siswa untuk mendapatkan tujuan
pembelajaran.
Suparno,
P.
(2001:11)
mengemukakan bahwa
“pengetahuan adalah
konstruksi
(bentukan)
dari
pengetahuan
sebelumnya”. Menurut filsafat konstruktivisme,
pengetahuan bukanlah sesuatu yang lepas dari
pengamat tetapi merupakan ciptaan manusia yang
dikonstruksikan
(dibentuk)
dari
berbagai
pengalaman yang dialami manusia. Proses
pembentukan pengetahuan berjalan terus menerus
dan setiap kali dimungkinkan terjadi penyusunan
kembali karena adanya suatu penemuan atau
pemahaman baru (Suparno, 2001:6). Menurut
Batterncout, Shymansky, Watt dan Pope yang
dikutip oleh Suparno, P. (2001:62) mengungkapkan
bahwa: “Bagi konstruktivisme kegiatan belajar
adalah kegiatan aktif, di mana pelajar membangun
sendiri pengetahuannya. Pelajar mencari arti sendiri
apa yang mereka pelajari. Ini merupakan proses
menyesuaikan konsep dan ide-ide baru dengan
kerangka berfikir yang telah ada dalam pikiran
mereka”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
menurut kaum konstruktivis belajar merupakan
proses
mengasimilasi
dan
menghubungkan
pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan
pengertian yang sudah dipunyai siswa, sehingga
pengertian yang dimiliki semakin berkembang.
Secara teknis model pembelajaran harus
diaplikasikan melalui metode pembelajaran.
Terdapat banyak metode pembelajaran yang
diterapkan yaitu metode eksperimen, diskusi,
demonstrasi, permainan dan lain-lain. Dalam
pembelajaran kooperatif implementasinya melalui
metode pembelajaran juga diwarnai oleh type
pembelajarannya. Terdapat banyak tipe dari model
pembelajaran kooperatif dengan kelebihan dan
kekurangannya masing-masing. Pemilihan tipe
dalam pembelajaran kooperatif disesuaikan dengan
karakter materi, karakter dan kemampuan siswa
maupun sarana pendukung pembelajaran yang
tersedia.
2. Pembahasan
Mata pelajaran Fisika sebagai salah satu ilmu
dalam bidang sains merupakan salah satu mata
pelajaran yang biasanya dipelajari melalui
Rini Budiharti
Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF)
9
Volume 6 Nomor 1 2016 ISSN : 2089-6158
pendekatan secara matematis sehingga seringkali
‘ditakuti’ dan cenderung ‘tidak disukai’ anak-anak
karena pada umumnya anak-anak yang memiliki
kecerdasan Logical Mathematical sajalah yang
‘menikmati Fisika’. Belajar Fisika bukan hanya
sekedar tahu Matematika, tetapi anak didik
diharapkan mampu memahami konsep yang
terkandung di dalamya, menuliskannya ke dalam
parameter-parameter atau simbol-simbol fisis,
memahami permasalahan serta menyelesaikannya
secara matematis. Menurut Depdiknas (2004: 14),
belajar Fisika yang dikembangkan meliputi
kemampuan berpikir analitis, induktif, dan deduktif
dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan
dengan peristiwa alam sekitar, baik secara kualitatif
maupun
kuantitatif
dengan
menggunakan
matematika,
serta
dapat
mengembangkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap percaya diri.
Tidak jarang hal inilah yang menyebabkan
ketidaksenangan anak didik terhadap mata pelajaran
Fisika menjadi semakin besar.
Salah satu upaya peningkatan kualitas proses
pembelajaran Fisika adalah pemilihan model dan
metode pembelajaran yang tepat membantu
terwujudnya pencapaian hasil belajar yang optimal.
Trianto (2007: 6) menyatakan, untuk mewujudkan
pendidikan yang bermutu, guru sebagai agen
pembelajaran harus lebih kreatif dan inovatif.
Menurut
Trianto
(2007:
3),
“Model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
melukiskan
prosedur
sistematik
dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk
mencapai
tujuan
pembelajaran”.
Model
pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu
perencanaan yang digunakan untuk merancang
langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan
mempertimbangkan materi pelajaran, jam belajar,
dan fasilitas penunjang yang tersedia, sehingga
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat
tercapai.
Anita,
L. (2002: 7) berpendapat bahwa
“pembelajaran kooperatif adalah sistem pengajaran
yang memberi kesempatan kepada siswa untuk
bekerjasama dengan siswa lain dalam mengerjakan
tugas-tugas yang terstruktur”. Dengan demikian,
melalui model pembelajaran kooperatif, siswa akan
bekerja bersama dalam kelompoknya, kemudian
berdiskusi
tentang
suatu
informasi,
dan
mengungkapkannya kepada kelompok lain. Dengan
begitu siswa mampu terlibat aktif dalam proses
pembelajaran, bekerja sama dengan temannya,
saling
bertukar
pikiran,
menanggapi,
mengemukakan pendapat, dan berbagi informasi
tanpa harus merasa sungkan dan takut dan
diharapkan akan lebih mudah memahami materi
apabila dijelaskan oleh teman sebayanya.
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif...
Salah satu tipe Pembelajaran Kooperatif yaitu
Tipe The Power Of Two. (Tipe kekuatan berdua),
adalah belajar dalam kelompok kecil dengan
menumbuhkan kerja sama secara maksimal melalui
kegiatan pembelajaran oleh teman sendiri dengan
anggota dua orang di dalamnya untuk mencapai
kompetensi dasar. Tipe The Power Of Two
dirancang untuk memaksimalkan belajar kolaboratif
(bersama) dan meminimalkan kesenjangan antara
siswa yang satu dengan siswa yang lain. Belajar
kolaboratif menjadi populer di lingkungan
pendidikan sekarang. Dengan menempatkan peserta
didik dalam kelompok dan memberinya tugas
dimana mereka saling tergantung satu dengan yang
lain untuk menyelesaikan pekerjaan adalah cara
yang mengagumkan. Mereka condong lebih tertarik
dalam belajar karena mereka melakukannya dengan
teman-teman sekelas mereka.
The Power Of Two artinya menggabungkan
kekuatan dua orang. Menggabungkan kekuatan dua
orang dalam hal ini adalah membentuk kelompok
kecil, masing-masing kelompok terdiri dari dua.
Kegiatan ini dilakukan agar muncul sinergi itu, yaitu
dua orang atau lebih baik dari pada satu orang.
Seperti yang ditegaskan oleh Zaini, H., Munthe, B.,
Aryani, S.A. (2008:52) menyatakan bahwa
“aktivitas pembelajaran The Power Of Two
digunakan
untuk
mendorong
pembelajaran
kooperatif dan memperkuat arti penting serta
manfaat sinergi dua orang. Strategi ini mempunyai
prinsip bahwa berpikir berdua jauh lebih baik
daripada berpikir sendiri”. Hal yang sama juga
dinyatakan oleh Hamruni (2012:160) bahwa model
Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two
bertujuan untuk menunjukkan bahwa belajar secara
berpasangan akan lebih baik hasilnya dibanding
belajar secara
sendiri-sendiri.
Jadi,
dapat
disimpulkan bahwa model Pembelajaran Kooperatif
tipe The Power Of Two merupakan kegiatan yang
dilaksanakan
untuk
meningkatkan
belajar
kolaboratif dan mendorong kepentingan dan
keuntungan sinergi, itu karenya 2 kepala tentu lebih
baik daripada 1 kepala.
Model Pembelajaran Kooperatif tipe The Power
Of Two mempunyai prinsip bahwa berpikir berdua
jauh lebih baik daripada berpikir sendiri (Zaini, H.,
Munthe, B., Aryani, S.A., 2008 : 52). Tujuan
penerapan model ini adalah membiasakan belajar
aktif secara individu dan kelompok (belajar bersama
hasilnya lebih berkesan) (Ismail, 2008 : 77). Dalam
pembelajaran ini pendidik memberi kesempatan
kepada
peserta
didik
untuk
mengadakan
perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat,
membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai
alternatif pemecahan atas permasalahan yang
diberikan pendidik. Dilanjutkan dengan pemberian
Rini Budiharti
Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF)
10
Volume 6 Nomor 1 2016 ISSN : 2089-6158
kesimpulan, klarifikasi dan tindak lanjut yang
dilakukan oleh guru sebagai konstruk atas
permasalahan yang telah diberikan.
Model Pembelajaran Kooperatif tipe The Power
Of Two merupakan pembelajaran berkelompok yang
minimal terdiri dari 2 orang. Guru memberikan
suatu pertanyaan yang terkait dengan materi,
kemudian
para
siswa
berdiskusi
untuk
menyelesaikan
masalah
tersebut.
Model
Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two
bertujuan untuk menunjukkan bahwa belajar secara
berpasangan akan lebih baik hasilnya dibanding
belajar secara sendiri-sendiri. Dengan begitu, siswa
dapat bekerja sama dengan teman sekelompok,
saling bertukar pikiran, mengemukakan pendapat,
berbagi informasi, dan menanggapi pendapat teman.
Dalam pelaksanaan model Pembelajaran
Kooperatif tipe The Power Of Two ada beberapa
tujuan yang harus dicapai diantaranya adalah:
a)Membiasakan belajar aktif secara individu dan
kelompok (belajar bersama hasilnya lebih berkesan),
b)Untuk meningkatkan belajar kolaboratif, c)Agar
peserta didik memiliki keterampilan memecahkan
masalah
terkait
dengan
materi
pokok,
d)Meminimalkan kesenjangan antara siswa yang
satu dengan siswa yang lain.
Adapun
prosedur
pembelajaran
dalam
implementasi strategi belajar The Power Of Two
ditentukan pada kegiatan siswa, bukan pada kegiatan
guru. Hal ini merupakan penerapan konsep dasar
dan model Pembelajaran tipe The Power Of Two itu
sendiri yaitu mengoptimalkan aktivitas siswa.
Langkah awal adalah memilih bahan pelajaran,
bahan pengajaran tersebut akan mengisi proses
pembelajaran.
Dalam implementasi model Pembelajaran
Kooperatif tipe The Power Of Two terdapat prosedur
untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal
melalui langkah-langkah model Pembelajaran
Kooperatif tipe The Power Of Two. Adapun
langkah-langkah model Pembelajaran Kooperatif
tipe The Power Of Two menurut Zaini, H., Munthe,
B., Aryani, S.A. (2008: 52) adalah sebagai berikut:
1)Ajukan satu atau lebih pertanyaan yang menuntut
perenungan dan pemikiran, 2)Peserta didik diminta
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
secara individual, 3)Setelah semua peserta didik
menjawab dengan lengkap
semua pertanyaan,
mintalah mereka berpasangan dan saling bertukar
jawaban satu sama lain dan membahasnya,
4)Mintalah pasangan-pasangan tersebut membuat
jawaban baru untuk setiap pertanyaan, sekaligus
memperbaiki jawaban individual mereka, 5)Ketika
semua pasangan telah menulis jawaban-jawaban
baru dibandingkan jawaban setiap pasangan di
dalam kelas. Catatan : a)Mintalah keseluruhan kelas
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif...
untuk memilih jawaban terbaik untuk setiap
pertanyaan, b)Untuk mempersingkat waktu, berikan
pertanyaan spesifik kepada pasangan-pasangan
tertentu daripada memberikan pertanyaan yang sama
untuk semua orang.
Sedangkan menurut Hamruni (2012:160)
prosedur atau langkah-langkah dari model
Pembelajaran Koopertaif tipe The Power Of Two
yaitu: 1)Berilah peserta didik satu atau lebih
pertanyaan yang membutuhkan refleksi dan pikiran,
2)Mintalah peserta didik untuk menjawab
pertanyaan sendiri-sendiri,
3)Setelah
semua
melengkapi jawabannya, bentuklah ke dalam
pasangan-pasangan dan mintalah mereka untuk
berbagi (sharing) jawabannya dengan yang lain,
4)Mintalah pasangan tersebut membuat jawaban
baru untuk masing-masing pertanyaan dengan
memperbaiki respons masing-masing pertayaan
dengan memperbaiki respons masing-masing
individu, 5)Ketika semua pasangan selesai menulis
jawaban baru, bandingkan jawaban dari masingmasing pasangan ke pasangan yang lain, 6)Lakukan
diskusi kelas dan klarifikasi terhadap temuantemuan (hasil diskusi) masing-masing pasangan.
Dari
beberapa
langkah-langkah
model
pembelajaran di atas, dapat disimpulkan langkahlangkah model pembelajaran sebagai berikut:
1)Guru mengajukan beberapa pertanyaan yang
menuntut perenungan dan pemikiran, 2)Siswa
diminta menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
secara individu, 3)Guru membentuk kelompok
berpasangan dan meminta siswa diskusi berpasangan
serta saling bertukar jawaban satu sama lainnya
untuk membuat jawaban baru untuk setiap
pertanyaan, sekaligus memperbaiki jawaban
individual mereka, 4)Setelah semua pasangan selesai
membuat jawaban baru, salah satu pasangan
memaparkan hasil diskusinya, 5)Siswa bersama guru
membandingkan antara jawaban dari masing-masing
pasangan ke pasangan yang lain, membahas hasil
diskusi dan meluruskan apabila terjadi kesalahan.
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power
Of Two selain memiliki keunggulan daripada
pembelajaran lain juga meiliki kelemahan.
Keunggulan dan kelemahan penggunaan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two
menurut Rahayu, B. A. (2011) yaitu:Keunggulan
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of
Two yaitu tidak membutuhkan waktu yang lama
untuk membentuk kelompok, anggota kelompok
yang sedikit menjadikan kerjasama dan komunikasi
lebih terjalin dengan baik, interaksi antara anggota
lebih mudah, meningkatkan partisipasi siswa
terhadap materi karena jumlah anggota kelompok
dua orang tentu lebih baik daripada satu,
meningkatkan kemampuan belajar (pencapaian
Rini Budiharti
Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF)
11
Volume 6 Nomor 1 2016 ISSN : 2089-6158
akademik).
Sedangkan
kelemahan
Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two
yaitu ide yang muncul dalam satu kelompok lebih
sedikit, membutuhkan waktu yang banyak dalam
membahas diskusi dari tiap kelompok, jika ada
perselisihan dalam satu kelompok tidak ada
penengah.
Sedangkan menurut Nuraeni, Y.(2013) kelebihan
pembelajaran The Power Of Two adalah :dapat
meningkatkan belajar kolaboratif, mendorong
munculnya keuntungan dan sinergi itu, sebab dua
orang tentu lebih baik daripada satu, meningkatkan
kemampuan belajar (pencapaian akademik).
Kelemahan-kelemahan pembelajaran The Power Of
Two: pembagian kelompok yang tidak heterogen,
dimungkinkan kelompok yang anggotanya lemah
semua, siswa yang aktif akan lebih mendominasi
diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi.
Adapun kelebihan dan kekurangan dari model
Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two
adalah sebagai berikut:
1)Kelebihan model Pembelajaran Kooperatif tipe
The Power Of Two: Siswa tidak menggantungkan
guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan
kemampuan beerfikir sendiri, menumbuhkan
informasi dari berbagai sumebr dan belajardari siswa
lain, mengembangkan kemampuan mengungkapkan
ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan
dengan membandingkan ide-ide atau gagasan orang
lain, membantu anak agar dapat bekerja sama
dengan orang lain, dan menyadari segala
keterbatasannya
serta
menerima
segala
kekurangannya, membantu siswa unttuk lebih
bertanggungjawab dalam melaksanakan tugasnya,
meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan
untuk berfikir. meningkatkan prestasi akademik
sekaligus kemampuan sosial.
2)Kelemahan model Pembelajaran Kooperatif
tipe The Power Of Two: Saat
diskusi
kelas
terkadang
didominasi
seseorang,
hal
ini
mengakibatkan siswa lain menjadi pasif, guru harus
mempersiapkan pembelajaran secara matang di
samping memerlukan waktu banyak. apabila jumlah
siswa dalam kelas ganjil, maka ada siswa yang tidak
mendapat pasangan, sehingga terdapat kelompok
yang berangggotakan 3 siswa.
Berdasarkan
kekurangan
dari
Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two,
guru harus mampu mengatur waktu setiap tahapan
kegiatan pembelajaran dengan penerapan tipe The
Power Of Two. Tipe pembelajaran The Power Of
Two adalah pengembangan dari model Pembelajaran
Kooperatif, jadi setiap siswa harus memiliki
kelompok, jika jumlah siswa ganjil, maka harus ada
satu kelompok yang berjumlah tiga anak.
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif...
Secara teknis implementasi model pembelajaran
diterapkan melalui metode pembelajaran. Dengan
mempertimbangkan karakter materi maka Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two
dapat diterapkan melalui metode eksperimen dan
diskusi. Roestiyah N.K.(2001:1), mengemukakan “
yang dimaksud metode eksperimen adalah salah satu
cara mengajar dimana siswa melakukan suatu
percobaan tentang suatu hal, mengamati prosesnya
serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian
hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan
dievaluasi oleh guru”. Penggunaan teknik ini
mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan
menemukan sendiri barbagai jawaban atas
persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan
mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat
terlatih dalam cara berpikir yang ilmiah(scientific
thinking). Dengan eksperimen siswa menemukan
bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang
dipelajarinya.
Suryabrata, S. (2008 : 179) menyatakan bahwa
metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan
pelajaran di mana guru memberikan kesempatan
kepada para siswa (kelompok-kelompok) siswa
untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau
penyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu
masalah.
Menurut Sudjana, N. (2009: 76) menyatakan
bahwa teknik pembentukan kelompok kecil
bertujuan untuk membina keakraban dan
keterbukaan
dalam
memilih
teman-teman
berkelompok. Teknik ini dilakukan untuk
membentuk kelompok-kelompok kecil yang jumlah
anggotanya terbatas antara 4-5 orang secara
heterogen. Pendapat lain menyatakan bahwa diskusi
kelompok ialah pembicaraan melalui tatap muka
yang direncanakan diantara dua peserta didik atau
lebih tentang pokok atau topik bahasan tertentu, dan
dipimpin oleh seorang pemimpin diskusi.
Pembicaraan itu mengungkap pikiran, gagasan atau
pendapat tentang topik yang dibahas.
Setiap model pembelajaran dikenal adanya
sintaks atau pola urutan yang menggambarkan
keseluruhan alur langkah yang pada umumnya
diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran.
Depdiknas (2004: 2) mengemukakan bahwa, sintaks
pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan
apa yang perlu dilakukan guru atau siswa, urutan
kegiatan tersebut, dan tugas-tugas khusus yang perlu
dilakukan guru atau siswa, urutan kegiatan-kegiatan
tersebut, dan tugas-tugas khusus yang perlu
dilakukan oleh siswa. Pada sintaks penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two
dalam Pembelajaran Fisika Materi Fluida Dinamis
terdapat tahapan pendahuluan, kegiatan inti, dan
Rini Budiharti
Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF)
12
Volume 6 Nomor 1 2016 ISSN : 2089-6158
penutup. Tahapan pendahuluan, guru memberikan
apresiasi dan motivasi pembelajaran misalnya
melalui tayangan video menunjukkan fenomena
berkaitan dengan konsep Fisika yang akan
dibelajarkan. Tahapan kegiatan inti terdapat 5
langkah: (1) Tahapan memberikan pertanyaan. Guru
membagi LKS (berisi pertanyaan yang spesifik dan
merangsang pikiran siswa), kemudian guru membagi
siswa menjadi beberapa kelompok praktikum, guru
membimbing
siswa
melakukan
praktikum.
(2)Tahapan meminta siswa menjawab pertanyaan
secara individual. Guru meminta dan membimbing
siswa untuk mengerjakan LKS berdasarkan
praktikum secara individu; (3)Tahapan meminta
berpasangan, guru membagi siswa menjadi
berpasangan sebagai kelompok diskusi; (4)Tahapan
meminta siswa membuat jawaban baru. Guru
mengarahkan siswa untuk membuat jawaban baru
berdasarkan hasil diskusi berpasangan (membuat
kesimpulan);
(5)Tahapan
meminta
siswa
membandingkan setiap pasangan dalam kelas. Guru
meminta
perwakilan
pasangan
untuk
mempresentasikan hasil diskusinya dan meminta
siswa dari pasangan lain untuk memberikan
tanggapan.
(6)Tahapan
penutup,
guru
menyimpulkan tentang materi yang dibelajarkan dan
memberikan evaluasi
kepada siswa.
Beberapa hasil
penelitian menunjukkan
keefektifan model Pembelajaran Kooperatif tipe The
Power Of Two. Penelitian eksperimen yang
dilakukan oleh Charisma Dita Ayuningtyas, Ngurah
Ayu, dan Affandi Faisal (2013) yang berjudul
“Pengaruh Model Pembelajaran Aktif dengan
Metode The Power Of Two dan Make A Match
terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 1
Sale” diperoleh bahwa hasil belajar siswa dengan
menggunakan metode The Power Of Two lebih baik
daripada menggunakan metode Make A Match, dan
metode The Power Of Two lebih berpengaruh
terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas X
SMA Negeri 1 Sale Kabupaten Rembang dalam
pokok bahasan suhu dan kalor.
Penelitian lain dilakukan oleh Agus Kusbandi,
Nur Ngazizah, dan Nurhidayati (2014) dengan judul
“Penggunaan Model Pembelajaran The Power Of
Two Untuk Meningkatkan Kemampuan Analisis
Siswa Kelas VII SMA Negeri 1 Pertanahan Tahun
Pelajaran
2013/2014”
menyatakan
bahwa
penggunaan model pembelajaran The Power Of Two
dapat meningkatkan kemampuan analisis siswa. Hal
ini ditandai dengan meningkatnya rata-rata
kemampuan analisis siswa yang sebelumnya 67,03%
pada pra siklus, setelah menggunakan model
pembelajaran The Power of Two kemampuan
analisis siswa rata-rata 75,00% pada siklus I dan
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif...
86,88% pada siklus II, terdapat peningkatan sebesar
7,97% pada siklus I dan 11,88% pada siklus II.
Selain kemampuan analisis siswa, hasil belajar siswa
juga meningkat, hal ini terlihat pada nilai rata-rata
dan ketuntasan hasil belajar siswa yang meningkat
pada tiap siklus.
Penelitian yang dilakukan Maulina Rizki
Pangestika dan Hermin Budiningarti (2014) yang
berjudul “Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe
TPS ( Think-Pair-Share ) Dengan Teknik Power Of
Two terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Kalor
di Kelas X SMA Negeri 1 Bangkalan” juga
menunjukkan
bahwa
Model
Pembelajaran
Kooperatif tipe TPS (Think-Pair-Share) dengan
teknik Power Of Two
berpengaruh positif
meningkatkan hasil belajar fisika siswa pada materi
kalor, dan lebih dari 70% siswa memberikan respon
baik
3. Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan dari pembahasan dapat diambil
kesimpulan yaitu sebagai berikut: (1) model
Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two
yaitu salah satu tipe dalam model Pembelajaran
Koopeeratif yang mempunyai prinsip bahwa berpikir
berdua jauh lebih baik daripada berpikir sendiri.
Dalam pelaksanaannya siswa dibagi beberapa
kelompok, tiap kelompok terdiri atas 2 orang. Model
Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two
sangat bermanfaat, karena dapat memaksimalkan
belajar kolaboratif (bersama) dan meminimalkan
kesenjangan antara siswa yang satu dengan siswa
yang lain, (2) Sintaks penerapan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe The Power Of Two
dalam Pembelajaran Fisika terdapat 5 langkah: (1)
Tahapan memberikan pertanyaan. Guru membagi
LKS (berisi pertanyaan yang spesifik dan
merangsang pikiran siswa), kemudian guru membagi
siswa menjadi beberapa kelompok praktikum, lalu
guru membimbing siswa melakukan praktikum
tentang materi; (2) Tahapan meminta siswa
menjawab pertanyaan secara individual. Guru
meminta dan membimbing siswa untuk mengerjakan
LKS berdasarkan praktikum secara individu;
(3)tahapan meminta berpasangan, guru membagi
siswa menjadi berpasangan sebagai kelompok
diskusi; (4) Tahapan meminta siswa membuat
jawaban baru. Guru mengarahkan siswa untuk
membuat jawaban baru berdasarkan hasil diskusi
berpasangan (membuat kesimpulan); (5) Tahapan
meminta siswa membandingkan setiap pasangan
dalam kelas. Guru meminta perwakilan pasangan
untuk mempresentasikan hasil diskusinya dan
meminta siswa dari pasangan lain untuk
memberikan tanggapan. (3)berdasarkan hasil
Rini Budiharti
Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF)
13
Volume 6 Nomor 1 2016 ISSN : 2089-6158
penelitian para ahli, penerapan model Pembelajaran
Kooperatif tipe The Power Of Two efektif untuk
pembelajaran Fisika sehingga dapat meningkatkan
hasil belajar dan kemampuan analisis siswa.
Saran
Penggunaan model pembelajaran koperatif tipe
the power of two memberikan hasil belajar siswa
yang tinggi sehingga perlu diterapkan terhadap
pengajaran fisika di sekolah-sekolah, baik itu SMP
atau sederajat, dan SMA atau sederajat. Model
Pembelajaran Kooperatif tipe The Power Of Two
dapat diterapkan menggunakan materi-materi fisika
lainnya., disesuaikan dengan alokasi waktu, fasilitas
pendukung, dan karakterisik siswa.
Daftar Pustaka
Ahmad, Z., Mahmood, N. (2010). Effect of
Cooperative Learning vs Traditional Instruction
on Prospective Teacher’s Learning Experience
and Achievement. Journal of Faculty of
Educational Science, years: 2010, Vol: 43,
No.1, 151-164. Diperoleh 28 Maret 2016, dari
http://dergiler.ankara.edu.tr/dergiler/40/1342/15
555.pdf
Anita, L. (2002). Mempraktekkan Cooperative
Learning di Ruang-ruang Kelas. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Ayuningtyas, C.D., Ayu, N., & Faisal, K.. (2013).
Pengaruh Model Pembelajaran Aktif dengan
Metode The Power Of Two dan Make A Match
terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA
Negeri 1 Sale. Proceeding Seminar Nasional
2ndLontar Physics Forum 2013, hlm 1-4, IKIP
PGRI Semarang.
Depdiknas. (2004). Undang-undang Replublik
Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional. Jakarta: Pusat Data dan
Infomasi Pendidikan, Balitbang
Hamruni.
(2012).
Strategi
Pembelajaran.
Yogyakarta: Insan Madani.
Huda, M. (2013). Cooperative Learning; Metode,
Teknik, Struktur, dan Model Penerapan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Ismail. (2008). Strategi Pembelajaran Agama Islam
Berbasis PAIKEM; Pembelajaran Aktif,
Inovatif,
Kreatif,
dan
Menyenangkan.
Semarang: Media Group.
Kemendikbud. (2013). Lampiran Permendikbud No.
65 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar
dan Menengah. Jakarta : Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Kusnandi, A., Ngazizah, N., & Nurhidayati. (2014).
Penggunaan Model Pembelajaran The Power of
Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif...
Two Untuk Meningkatkan Kemampuan
Analisis Siswa Kelas VII SMP Negeri 1
Petanahan Tahun Pelajaran 2013/2014. Jurnal
Radiasi, Vol.5, No.1, September 2014.
Nuraeni, Y.(2013). Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Jigsaw dan The Power Of Two
untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman
Matematika Siswa MTs. Skripsi Tidak
Dipublikasikan. STIKIP Siliwangi, Bandung.
Pangestika,M.R. & Budiningarti, H. (2014).
Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
(Think-Pair-Share) dengan Teknik The Power
Of Two terhadap Hasil Belajar Siswa pada
Materi Kalor di kelas X SMA Negeri 1
Bangakalan. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisika,
Vol. 03, No. 03, Tahun 2014, 27-31.
Roestiyah. N. K. (2001). Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: Rineka Cipta.
Sudjana, N. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sugiyanto. (2009). Model-Model Pembelajaran
Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru
Rayon 13 FKIP UNS Surakarta.
Suparno, P. (2001). Filsafat Konstruktivisme Dalam
Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Suprijono. (2009). Cooperative Learning Teori dan
Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Suryabrata, S. (2008). Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Trianto. (2007). Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Zaini, H., Munthe, B., Aryani, S.A. (2008). Strategi
Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Insan Madani.
Rini Budiharti
Download