Tata Laksana Komprehensif Pada Gangguan Panik

advertisement
LAPORAN KASUS
Tata Laksana Komprehensif Pada Gangguan Panik:
Tinjauan Kasus
Andri
Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Jakarta, Indonesia
PENDAHULUAN
Gangguan cemas panik adalah salah satu
gangguan jiwa yang paling sering ditemukan
pada populasi umum. Lebih dari 30 juta orang
di Amerika Serikat menderita kondisi ini. Data
epidemiologi menunjukkan prevalensinya
pada wanita lebih besar dua sampai tiga kali
daripada pria.
itu berlangsung biasanya tidak lebih dari 15
menit. Pasien menjadi takut keluar rumah
dan berada di keramaian, terutama jika tidak
ditemani. Dia takut bila nanti terjadi sesuatu
di jalan dan tidak ada yang membantu. Pasien
mengatakan sekarang dia merasa “was-was”
bila memikirkan kejadian tersebut akan datang kembali.
Gangguan cemas panik diawali serangan panik yang terjadi beberapa kali dalam satu hari.
Kondisi lebih lanjut gangguan ini dapat mengarah ke agorafobia, suatu kondisi kecemasan
berada di tempat terbuka karena ketakutan
akan ditinggalkan, tidak berdaya atau merasa
tidak ada yang menolong bila serangan panik
datang.1
Sebelum dua minggu ini pasien merasa sehat.
Riwayat sakit yang sama lima tahun yang lalu,
berobat tidak teratur hanya jika kejadian. Dua
tahun belakangan keadaan membaik. Tidak
ditemukan riwayat penggunaan zat psikoaktif.
Tidak ditemukan riwayat penyakit medis bermakna yang mendahului atau ada hubungannya dengan gangguan mental saat ini.
Kondisi gangguan cemas panik sering disalahartikan sebagai suatu kondisi sakit fisik karena
gejala-gejalanya adalah gejala fisik terutama
yang melibatkan sistem saraf autonom, baik
simpatis dan parasimpatis. Tidak heran biasanya pasien dengan gangguan ini akan terlebih
dahulu datang ke dokter non-spesialis psikiatri. Pada makalah ini, akan dibahas secara menyeluruh suatu contoh kasus gangguan panik
beserta tata laksananya dalam bentuk laporan
kasus lengkap.1
Pada status mental ditemukan mood eutimik,
tidak terdapat gangguan persepsi, isi pikir
tidak terdapat waham, ada anticipatory anxiety, proses pikir koheren, tidak ditemukan kelainan status internus dan neurologis.
ILUSTRASI KASUS
Pasien Tn. A, usia 37 tahun, suku Batak, agama
Islam, pendidikan terakhir tamat SMA, pekerjaan saat itu pedagang kelontong, tinggal di
Jatinegara, sudah menikah dan mempunyai
dua orang anak; datang dengan keluhan jantung berdebar-debar sejak 2 minggu. Dua
minggu yang lalu saat berada di pasar tibatiba jantung pasien berdebar-debar disertai
sesak napas, keluar keringat dingin, perut
kembung, gemetaran, dan perasaan takut
mati. Hal itu membuat pasien ingin segera
pulang ke rumah. Selama dua minggu sudah
lebih dari tiga kali pasien mengalami kejadian
seperti ini. Keluhan yang datang tiba-tiba
358
CDK-193_vol39_no5_th2012 ok.indd 358
FORMULASI DIAGNOSIS
Pada pasien ini ditemukan pola perilaku atau
psikologis yang klinis bermakna dan khas
berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan penderitaan (distress) dan hendaya
(disabilitas) berbagai fungsi psikososial dan
pekerjaan. Pasien ini mengalami suatu gangguan mental.
Pada pemeriksaan status internus dan neurologis, tidak ditemukan kelainan/gangguan
medis umum yang secara fisiologis menimbulkan disfungsi otak serta mengakibatkan
gangguan mental yang diderita saat ini; gangguan mental organik dapat disingkirkan.
Pada anamnesis tidak ditemukan riwayat
penggunaan dan gangguan zat psikoaktif beserta gejala ketergantungan atau putus obat.
Dengan demikian, gangguan mental akibat
zat psikoaktif dapat disingkirkan .
Pada pasien tidak ditemukan gangguan
persepsi, gangguan proses pikir, dan gangguan menilai realita sehingga gangguan
skizofrenia dan gangguan waham menetap
dapat disingkirkan.
Pada pasien, tidak ditemukan gangguan suasana perasaan dan afektif yang mengarah ke
depresi dan/atau elasi sehingga gangguan bipolar, gangguan depresi, dan gangguan afektif berkepanjangan dapat disingkirkan.
Pada pasien ini, ditemukan:
a. Keluhan jantung berdebar disertai napas terasa pendek, keringat dingin,
gemetaran, perasaan tidak enak pada
perut, dan perasaan takut mati.
b. Gejala tersebut datang tiba-tiba dan dalam dua minggu terakhir sudah 3 kali terjadi.
c. Gejala tersebut menimbulkan kekhawatiran pasien akan datang kembali
d. Gejala tersebut menimbulkan hendaya
fungsi, pasien tidak dapat berbelanja ke
pasar sendiri. Pasien juga menjadi takut
berada di keramaian karena khawatir gejalanya akan datang lagi dan tidak ada
yang membantu.
Dari keterangan di atas, kemungkinan diagnosis (DSM IV) aksis I yang paling mendekati
adalah suatu gangguan panik dengan agorafobia.
Untuk aksis II, pada pasien ini ditemukan suatu
perilaku yang selalu mencari kesempurnaan.
Pasien sejak sekolah mempunyai keinginan
kuat untuk selalu menjadi yang terbaik. Saat
dewasa pun, pasien berkeinginan maju dalam
usahanya. Pasien mengeluhkan adanya saingan dalam usaha dagangnya sehingga pernah
tercetus keinginan pasien untuk pulang ke
kampung saja untuk bertani dan beternak
ikan karena tidak ada saingan. Dalam kehidupannya, pasien sulit sekali menerima kritik
CDK-193/ vol. 39 no. 5, th. 2012
6/5/2012 11:02:13 AM
LAPORAN KASUS
atas dirinya. Pasien juga selalu mengartikan
apa yang diucapkan teman-temannya sebagai kritikan yang membuat pasien merasa
kesal dan kadang terluka perasaannya. Pada
pasien, ditemukan suatu ciri kepribadian
narsikistik.
Untuk aksis III, saat ini tidak ditemukan diagnosis yang bermakna. Sakit maag (dispepsia)
yang biasanya bersamaan terjadinya dengan
serangan panik mungkin merupakan bagian
dari gejala serangan paniknya, walaupun kemungkinan adanya dispepsia yang berdiri
sendiri masih ada.
Dukungan keluarga untuk kesembuhan
pasien cukup besar. Istri pasien memahami
keadaan pasien saat ini. Masalah pekerjaan
pasien cukup menimbulkan beban pikiran
pasien. Pasien mengatakan dirinya masih dalam keadaan sulit di bidang ekonomi. Walaupun kenyataannya pasien dapat memenuhi
kebutuhan sehari-hari dengan baik, pasien
masih terus merasa kekurangan. Hal ini bisa
menjadi faktor pencetus kecemasan pasien.
Untuk itu, dapat dimasukkan ke dalam diagnosis aksis IV, yaitu masalah ekonomi.
Selama sakit, pasien dapat terus menjalani
fungsinya sebagai kepala rumah tangga.
Walaupun dengan perasaan cemas, pasien
masih bisa jalan ke pasar untuk berbelanja.
Pasien memang terkadang harus ditemani
bila pergi ke tempat ramai dan tidak ada yang
dikenal pasien, tetapi terkadang masih dapat
pergi sendiri. Untuk itulah, untuk Aksis V global assesment function (GAF) saat ini 70-80
dan GAF setahun terakhir 80-90.2
FORMULASI PSIKODINAMIK
Sejak kecil pasien hidup berkecukupan.
Orang tua cukup memberikan kasih sayang
kepada pasien walaupun jumlah anggota keluarga sangat besar. Meskipun begitu, pasien
tidak pernah merasakan kekurangan cinta
dari orang tuanya. Walaupun terkadang ibu
pasien sibuk, pasien juga diasuh oleh kakak
perempuannya (substitute mother) sehingga
tidak pernah kekurangan kasih sayang dan
perkembangannya dapat dilewati dengan
baik. Namun pada usia 16 tahun, pasien mengalami hambatan dalam kehidupannya (fase
late adolescent), yaitu ketika pasien harus tinggal bersama dengan sepupu dan istrinya. Di
rumah sepupunya ini, pasien tidak bebas bergaul dengan teman sebayanya padahal pada
CDK-193/ vol. 39 no. 5, th. 2012
CDK-193_vol39_no5_th2012 ok.indd 359
fase ini teman-teman menjadi lebih bermakna
dalam kehidupan seseorang. Keinginan pasien
untuk belajar giat supaya dapat menembus
UMPTN juga terhambat oleh istri sepupunya.
Hal ini merupakan ancaman terhadap neurotic pride yang sedang dibangun pasien yang
saat ini ingin dicapai dengan cara menjadi
mahasiswa universitas negeri (idealized image). Pasien akhirnya dapat bebas dari kondisi
ini dengan indekos. Saat indekos, pasien kemudian berhasil melanjutkan kembali tugas
fase perkembangannya, yaitu mencari identitas diri. Pasien sejak awal memutuskan untuk
melanjutkan sekolah jauh dari rumah karena
ingin sekolah di SMU favorit. Hal ini karena impian pasien untuk dapat kuliah di universitas
negeri (idealized image). Menjadi mahasiswa
universitas negeri merupakan idealized image
yang dapat membantu pasien membangun
neurotic pride.3-5
Pada kenyataannya, pasien tidak diterima di
universitas negeri. Kejadian ini tidak sesuai
dengan idealized image dan juga merupakan
ancaman terhadap neurotic pride yang ingin
dibentuk. Akhirnya, pasien mengalihkan ke
bentuk idealized image lain, yaitu pedagang
sukses. Hal ini disebabkan karena pasien melihat banyak orang di kampungnya yang sukses
merantau ke Jakarta.4,5
Namun, setelah mengalami masa-masa yang
panjang idealized image yang sudah bergabung
dengan self menjadi idealized self belum tercapai juga. Dalam benak pasien, dengan merantau ke Jakarta seharusnya pasien juga sukses,
apalagi kakak perempuannya yang lain sudah
terlebih dahulu sukses. Kenyataannya, walau
sudah sepuluh tahun berdagang, pasien belum mencapai sukses yang dia impikan. Pasien
masih tetap mengontrak rumah dan warungnya tidak berkembang (the real self).2
Posisi pasien sebagai anak laki-laki dalam adat
Batak membantu pasien mengembangkan
neurotic pride-nya. Pasien diperhatikan oleh
keluarga dan sejak kecil dipenuhi kasih sayang
yang menjaga neurotic pride-nya. Saat dewasa, pada kenyataannya pasien tidak sesukses
saudara perempuannya, meskipun dalam
adat dia tetap mendapatkan tempat istimewa. Pasien terlihat menikmati segala bantuan
dari adik perempuannya, tetapi menyalahkan
kakak perempuan yang selalu mengkritik dia.
Hal ini dilakukan untuk tetap menyokong
idealized self-nya sebagai pedagang sukses
dan mampu secara ekonomi. Di lain pihak,
kata-kata kakak yang sering mengkritik pasien
untuk bekerja lebih giat sering kali melukai
neurotic pride-nya.6-8
Awalnya, pasien menggunakan mekanisme
pertahanan represi untuk mengatasi perasaan
cemas akibat idealized self yang berlawanan
dengan real self. Namun setelah berlangsung
lama, mekanisme ini tidak berhasil sehingga
kecemasan makin menumpuk dan akhirnya “pecah” dalam bentuk serangan panik
berulang.6,8
RENCANA TERAPI
Psikofarmaka
• Fluoksetin 1 x 10 mg
• Alprazolam 2 x 0,25 mg
Psikoterapi
Pendekatan psikoterapi sesuai dengan
pendekatan dinamik (Karen Horney) berupa
reorganizing dan redirecting menuju real self.
Caranya dengan menggunakan pendekatan
terapi perilaku dan kognitif.
Psikoterapi dengan teknik terapi kognitif dan
perilaku terbagi atas berbagai langkah:
• Membangun dan membina rapport dan
empati.
• Mempersiapkan pasien dalam terapi:
menilai motivasi pasien, menjelaskan tujuan terapi dan cara pendekatan terapi,
membuat kontrak terapi.
º
º
º
º
º
º
º
º
º
º
Identifikasi masalah.
Tentukan target terapi sesuai masalahnya.
Penilaian dan tentukan konsekuensi
emosi dan perilaku (consequences of
emotion and behaviour = C).
Penilaian dan tentukan suatu keadaan
sebagai pencetus bagi pasien (activating
event = A).
Penilaian dan tentukan adanya persepsi,
asumsi, dan kepercayaan (beliefs = B).
Cari hubungan antara B yang irasional
dan C.
Berikan pertanyaan dan argumentasi untuk mengoyahkan B yang irasional.
Siapkan pasien untuk selalu memakai B
yang rasional.
Meminta pasien menerapkan B yang
baru dalam kehidupan sehari-hari.
Berikan pekerjaan rumah (tugas dan latihan) melakukan hal di atas.
359
6/5/2012 11:02:15 AM
LAPORAN KASUS
º
Periksa hasil dan apa yang dirasakan serta
apa yang menjadi penghalang pada pertemuan berikutnya.
Pendekatan direncanakan 8-10 kali dengan
jarak 1 minggu; evaluasi kemajuan pasien diakhir proses terapi dan tentukan kembali rencana langkah selanjutnya.2
PROSES TERAPI
Pertemuan Pertama:
Terapis mengumpulkan gejala-gejala pasien.
Terapis juga mengkonfirmasi beberapa data
pada status lama; pasien dikatakan mengalami fobia ereksi. Setelah dikonfirmasi, kejadian
jantung berdebar-debarnya dulu itu sama
dengan saat ini. Lebih jauh pasien mengatakan bila ia sedang dalam kondisi berdebardebar, dia menjadi takut berhubungan badan
dengan istri karena takut berdebar-debar dan
dapat membuatnya meninggal. Perasaan takut berhubungan badan ini karena mendengar saran teman bahwa orang berpenyakit
jantung tidak boleh berhubungan badan karena bisa kambuh dan meninggal saat berhubungan badan. Gejala paling menonjol saat
ini adalah jantung berdebar-debar yang datang tiba-tiba, perut terasa kembung, keluar
keringat dingin, rasa tidak enak badan, seperti
melayang, napas terasa sesak. Pasien juga merasa takut akan akibat serangan paniknya dan
khawatir serangan itu akan datang kembali.
Perencanaan terapi psikofarmaka adalah alprazolam 2 x 0,5 mg dan fluoksetin 1 x 10 mg.
Alprazolam diberikan untuk menghilangkan
segera gangguan paniknya sedangkan fluoksetin digunakan sebagai terapi kecemasan jangka
panjang mengingat alprazolam sebagaimana
golongan benzodiazepin lain tidak dapat digunakan jangka lama dan harus mulai dilakukan
taper off setelah tercapai dosis optimal.9
Psikoterapi pasien menggunakan terapi perilaku dan kognitif. Pada saat wawancara,
pasien dijelaskan tentang gangguan panik
yang dialami dan bahwa hal tersebut tidak
akan menyebabkan pasien meninggal seperti
yang selama ini ditakutkan. Pasien juga diminta
melakukan relaksasi yang diajarkan dengan
cara duduk. Pada saat ini, juga direncanakan
terapi untuk mengatasi kesulitan berhubungan badan dengan istri akibat ketakutan
datangnya serangan panik. Pasien diminta
melakukan hubungan badan dengan istri secara bertahap. Awalnya dapat menggunakan
360
CDK-193_vol39_no5_th2012 ok.indd 360
imaginary situation (desensitisasi) dan jika sudah dirasa siap dapat dengan direct exposure
(flooding). Sebelumnya tentu terapi psikofarmaka sudah harus dimulai.
Target terapi saat ini:
1. Gejala cemas pasien dapat berkurang,
ditandai dengan berkurangnya perasaan
takut/cemas serangan akan datang lagi.
2. Serangan panik dapat dikurangi menjadi
kurang dari 3 kali dalam seminggu ini.
3. Pasien dapat melakukan hubungan badan dengan istri.
Cara:
1. Alprazolam 2 x 0,25 mg dan Fluoksetin 1
x 10 mg.
2. Cara relaksasi.
3. CBT dengan cara konstruksi kognitif
tentang apa yang dimaksud dengan
serangan panik dan gejala yang timbul.
Intinya, hal tersebut tidak akan membuat
pasien mati. Pada wawancara, terapis bisa
langsung membantah false belief pasien.
Psikoterapi akan diberikan minimal 8 kali
dengan jarak antara maksimal 1 minggu.
4. Memberikan tugas kepada pasien untuk menuliskan keadaan apa saja yang
dapat mencetuskan cemasnya, derajat
kecemasannya (skor 1-100), apa yang
dipikirkan pasien saat itu, dan bagaimana
pasien keluar dari keadaan itu.
FOLLOW UP
Pertemuan Kedua
S : Pasien merasa lebih enak. Perasaan cemasnya sudah tidak terlalu sering dan kalau muncul tidak seberat seperti sebelum berobat.
Pasien mencoba melakukan relaksasi setiap
hari, terutama jika keluhan datang. Pasien
dapat melakukan hubungan badan dengan
istri walaupun awalnya agak sedikit cemas.
Jantung saat berhubungan badan memang
berdetak lebih cepat, tetapi pasien bisa mengatasinya dengan berpikir bahwa ini tidak
akan membuat ia mati. Pasien mengeluh obat
membuat dia mengantuk. Fluoksetin tidak dibeli oleh pasien minggu lalu karena uangnya
tidak cukup.
Hari/Waktu
Situasi
O : Penampilan seorang pria sesuai usia, tenang, bicara lancar dan spontan, mood eutimik dan afek cukup luas, isi pikir tentang kecemasan masih ada walaupun sudah berkurang,
anticipatory anxiety masih ada, perasaan diri
kurang berhasil dibandingkan dengan kakak
perempuannya, proses pikir koheren, status
mental lain masih dalam batas normal.
A : Gangguan panik dengan agorafobia.
P : Psikofarmaka: Alprazolam 2 x 0,25 mg, Fluoksetin 1 x10 mg.
Psikoterapi CBT:
• Pasien membawa pekerjaan rumah yang
diberikan pada pertemuan sebelumnya
• Pasien pada pertemuan ini juga mengungkapkan masalah ekonomi dan
ketidakmampuan dirinya untuk berhasil
seperti kakak-kakak perempuan.
Pertemuan Ketiga
S : Pasien baru kontrol kembali setelah 2 minggu; keluhannya sudah banyak berkurang. Saat
makan fluoksetin pasien merasakan perutnya
tidak enak, kepala pusing dan lemas. Akhirnya
pasien menghentikan sendiri obat itu. Alprazolam masih digunakan, pasien juga masih
tetap melakukan relaksasi setiap hari. Pasien
menambah kegiatannya dengan berjalan kaki
tiap hari. Selama dua minggu ini, terdapat 2
kali kejadian jantung berdebar yang dipicu
oleh pertengkaran dengan istri dan ketika
pasien pergi ke pasar.
O : Penampilan seorang pria cukup rapi, tenang, bicara lancar dan spontan, mood eutim,
afek cukup luas, tidak ada gangguan persepsi, isi pikir tentang kecemasan sudah jauh
berkurang, anticipatory anxiety berkurang,
kecemasan saat ini tentang efek obat, proses
pikir koheren.
A : Gangguan Panik dengan Agorafobia (remisi sebagian).
P : Alprazolam 1 x 0,25 mg, Fluoksetin 1 x 10
mg.
Perasaan
( 0-100)
Pikiran Yang muncul
Apa yang dilakukan
22/4/08, sekitar
pkl.10.00
Pergi ke pasar
membeli kelapa
70
Takut ada apa-apa di jalan.
Kalau jatuh nanti bagaimana
Pasien duduk sebentar, menarik
napas beberapa kali sambil berpikir
lebih santai → keluhan mereda,
pasien bisa pulang
24/4/08, sekitar
pkl. 11.00
Menjemput anak
di sekolah
70
Tiba-tiba muncul kecemasan
Menenangkan diri, berpikir positif
→ bisa tenang dan sampai rumah
CDK-193/ vol. 39 no. 5, th. 2012
6/5/2012 11:02:17 AM
LAPORAN KASUS
Catatan Harian Pasien untuk Psikoterapi CBT
Hari/Waktu
Situasi
Perasaan
( 0-100)
Pikiran Yang muncul
Apa yang dilakukan
03/5/08,
sekitar pkl. 09.00
Pergi ke pasar
membeli kelapa
60
Takut jatuh karena serangan itu
Pasien berusaha untuk
tenang, menarik nafas
beberapa kali → tenang dan
pulang ke rumah
09/5/08,
sekitar pkl. 19.00
Bertengkar
dengan istri
karena masalah
adik ipar
60
Serangan debar jantung muncul
karena takut keluarga di kampung
menganggap dia tidak peduli. Tapi
berbeda berdebarnya daripada
yang biasa
Berinisiatif menelpon adik
ipar → menyelesaikan
masalah → tenang kembali
10/5/08,
sekitar pkl. 10.00
Mau pergi ke
pasar berbelanja
30
Ada sedikit rasa cemas kalau nanti
jantung berdebarnya datang lagi
Membaca doa, relaksasi
mengambil napas beberapa
kali → tenang → pergi ke
pasar tidak ada gangguan.
DISKUSI
Diagnosis pasien ini ditegakkan karena adanya gejala serangan panik berulang sehingga
dapat dikategorikan sebagai gangguan panik.
Gangguan cemas menyeluruh dipikirkan karena pasien sering khawatir akan banyak hal;
kekhawatiran pasien karena ia tidak ingin
jantungnya berdebar-debar lagi sehingga hal
ini merupakan bagian dari gejala gangguan
paniknya, yaitu adanya kecemasan antisipasi
(anticipatory anxiety).1
Ciri kepribadian narsisistik pada pasien merupakan ciri gangguan kepribadian narsisistik
tipe hypervigilant. Gabbard membagi kepribadian narsisistik menjadi 2 tipe yaitu The Oblivious Narcissist dan The Hypervigilant Narcissist.
Ciri Hypervigilant Narcissist adalah sensitif terhadap reaksi orang lain terhadap dirinya, sangat memperhatikan pendapat dan kritik orang
lain dan mudah sakit hati bila merasa dipermalukan atau direndahkan. Ciri kepribadian ini
terlihat dari ketidakmampuan pasien bila dikritik saudara perempuannya. Ia hampir selalu
menganggap bahwa kritikan tersebut tidak
seharusnya ditujukan kepada dirinya.2,3,6,7
Antidepresan merupakan standar terapi gangguan panik saat ini. Antidepresan yang digunakan bisa dari golongan SSRI atau TCA. Keduanya
memberikan efek terapetik setara walau SSRI
lebih unggul dalam profil keamanan dan tolerabilitas pasien. Yang perlu diperhatikan adalah
efek samping yang mungkin akibat pemakaian
zat tersebut karena pasien gangguan panik
terkadang sangat sensitif terhadap efek samping obat walaupun minimal. Hal ini disebabkan
karena pasien gangguan panik secara umum
lebih banyak memandang keluhan fisiknya sebagai sesuatu yang membahayakan, sehingga
efek samping obat yang kebanyakan merupakan sensasi fisik dapat dipandang sebagai
sesuatu yang mengancam. Dosis SSRI dapat
dimulai dengan dosis ringan, namun pada beberapa pasien hal ini bisa menambah serangan
panik dan agitasi. Seperti pada pasien ini, pemberian fluoksetin bahkan pada dosis kecil (10
mg) membuatnya tidak nyaman. Hal ini dapat
berlangsung selama minggu pertama sampai
kedua pengobatan. Untuk itulah terkadang
pemberian SSRI ditambah dengan benzodiazepin potensi tinggi seperti alprazolam.9
Alprazolam sebagai salah satu golongan obat
benzodiazepin onset cepat telah digunakan
dalam klinis untuk mengatasi panik. Penggunaan untuk pengobatan gangguan panik telah
mendapat pengakuan Food and Drug Administration (FDA). Dosis permulaan biasanya 0,25
mg sampai 0,5 mg tiga kali sehari. Pada kasus
ini dimulai dengan dosis dua kali sehari untuk
mengurangi efek ketergantungan yang mung-
kin timbul. Pengguna benzodiazepin perlu
memperhatikan efek sedasi yang mungkin
dirasakan beberapa pasien; dalam jangka panjang, juga perlu diperhatikan potensi ketergantungan dan penyalahgunaan. Pada pasien ini,
penggunaan benzodiazepin diharapkan dapat
diturunkan perlahan dalam waktu maksimal 4
minggu; dalam kepustakaan, penurunan dosis ini dapat berlangsung 4-12 minggu secara
perlahan. Hal ini juga sambil menunggu efek
terapetik antidepresan SSRI yang biasanya mulai timbul setelah 2 minggu.
Psikoterapi untuk pasien ini adalah terapi
perilaku dan kognitif (CBT). Terapi pertama
kali adalah dengan relaksasi dan terapi pernafasan. Terapi kognitif bertujuan juga untuk
membangun kembali (restructuring) kognisi
yang baru. Hal pertama yang dapat dilakukan
adalah mengidentifikasi gejala panik yang
timbul dan perasaan serta pikiran yang salah
berhubungan dengan gejala tersebut serta
edukasi tentang gangguan panik itu sendiri. Biasanya pasien gangguan panik selalu
mengidentikkan sensasi tubuh yang ringan
sebagai awal gangguan paniknya; menyebabkan pasien mengalami cemas antisipasi. Edukasi bahwa serangan panik dibatasi waktu
dan tidak mengancam jiwa juga sangat perlu.
Sehubungan dengan psikodinamik yang
mendasari keadaannya saat ini, selama proses
psikoterapi juga dapat dilakukan reorganizing
dan redirecting menuju real self.6-8
SIMPULAN
Gangguan cemas panik adalah salah satu
gangguan jiwa yang memiliki gejala gangguan fisik. Gangguan ini sering terjadi di populasi umum dengan kondisi agorafobia yang
biasanya didapatkani pada lebih dari 80% kasus. Penatalaksanaan psikofarmaka yang tepat
dan psikoterapi sesuai dengan kepribadian
pasien akan menjamin perbaikan dan kesembuhan.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Sadock BJ, Sadock VA. Anxiety Disorder. In : Comprehensive Textbook of Psychiatry. 7th ed. 2000. hal.1465-95.
2.
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-TR, 4th ed, American Psychiatric Ass, 2000.
3.
Steger C. Cognitive Behavior Therapy Program. Department of Clinical Psychology Austin Hospital, Australia.1994.
4.
Gabbard GO. Psychodynamic Psychiatry in Clinical Practice, 3rd ed, American Psychiatric Publ, 2000.
5.
Spiegel DA, Heinrich N, Hoffmann SG. Panic Disorder with Agoraphobia. Bond FW, Dryden W.eds. Handbook of Brief Cognitive Behaviour Therapy. John Wiley and Son Ltd. 2002 hal. 5663.
6.
Paramita H. Psikodinamik “Karen Horney”. Referat. Departemen Psikiatri FKUI-RSCM, 2005.
7.
Ham P, Waters DB, Oliver N. Treatment of Panic Disorder. J. Am. Fam. Physician. 2005;71(4).
8.
Busch FN, Milod BL, Singer M. Theory and Technique in Psychodynamic Treatment of Panic Disorder. J Psychotherapy Pract Res, 8:3,Summer 1999.
9.
Shatzberg AF, Nemeroff CB. Textbook of Psychopharmacology.3rd ed. The American Psychiatric Publ. Washington DC. 2004.
CDK-193/ vol. 39 no. 5, th. 2012
CDK-193_vol39_no5_th2012 ok.indd 361
361
6/5/2012 11:02:18 AM
Download