Jurnal NIZAR - E-Journal STIESIA Surabaya

advertisement
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
1
PENGARUH VOLUME PENJUALAN SAHAM DAN TINGKAT
SUKU BUNGA SBI TERHADAP HARGA SAHAM
Nizar Imanuel Pegi Magang
[email protected]
Prijati
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (Stiesia) Surabaya
ABSTRACT
The purpose of this research is to analyze the influence of the stock sales volume, the level of interest
rate to the stock price. The research samples in this research are 3 cigarette companies which are listed
in Indonesia Stock Exchange, by using the purposive sampling method (between 2010 – 2012), hence
the number of data observation data is (N) = 9 respondents. The simultaneous test results of Fcount =
15.333 with the significance of 0.001 < 0.05, Ho is rejected. It means that simultaneously the stock
sales volume and the level of interest rate have significant influence to the stock price. The
determination coefficient result of Adjusted RSquare is 0.235 meaning that the stock sales volume and
the level of interest rate are have less influence in the stock price by 23.5% while 76.5% is explained
by other variables. The t test or partially test result shows that the stock sales volume variable has the
value of tcount by 3.094 with the significance of 0.041 (smaller than 0.05) meaning that the stock sales
volume have positive and significant influence to the stock price.
Keywords: Stock Sales Volume, SBI Level of Interest Rates, and Stock Price.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh antara volume perjualan saham,
tingkat suku bunga terhadap harga saham. Sampel penelitian ini sebanyak 3 perusahaan
rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan metode purposive sampling (periode
2010–2012), sehingga jumlah data observasi (N) = 9 responden. Hasil penelitian secara
simultan didapatkan Fhitung = 15.333 dengan signifikansi 0.001 < 0.05, maka Ho berhasil
ditolak. Artinya volume penjualan saham dan tingkat suku bunga secara simultan memiliki
pengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil koefesien determinasi Adjusted RSquare
sebesar 0.235 yang berarti bahwa volume penjualan saham, dan tingkat suku bunga lemah
dalam mempengaruhi harga saham sebesar 23.5% sedangkan 76,5% dijelaskan oleh variabel
yang lain. Hasil dari uji t atau parsial untuk variabel volume penjualan saham mempunyai
nilai thitung sebesar 3,094 dengan signifikansi sebesar 0,041 (lebih kecil dari 0,05) yang berarti
bahwa volume penjualan saham berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham.
Kata Kunci : Volume Penjualan Saham, Tingkat Suku Bunga SBI, dan Harga Saham
PENDAHULUAN
Investasi ke dalam aktiva keuangan dapat berupa investasi langsung dan investasi
tidak langsung. Investasi langsung dilakukan dengan membeli langsung aktiva keuangan
dari suatu perusahaan baik melalui perantara maupun dengan cara yang lain. Sebaliknya
investasi tidak langsung dilakukan dengan membeli saham dari perusahaan investasi yang
mempunyai portofolio aktiva-aktiva keuangan dari perusahaan-perusahaan lain (Jogiyanto,
2006 : 37).
Sumber dari return terdiri dari dua komponen, yaitu yield dan capital gain (loss). Yield
merupakan komponen return yang memcerminkan aliran kas atas pendapatan yang
diperoleh secara periodik dari suatu investasi. Yield untuk investasi dalam saham
ditunjukkan oleh dividen yang diterima. Sedangkan capital gain (loss) merupakan kenaikan
atau penurunan harga suatu surat berharga, yang bisa memberikan keuntungan atau
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
2
kerugian bagi investor. Capital gain (loss) dapat pula diartikan sebagai pertambahan atau
penurunan keuntungan akibat adanya perubahan harga suatu surat berharga.
Apabila surat berharga mengalami kenaikan harga, maka investor akan mendapatkan
tambahan keuntungan dari nilai selisih harga yang terjadi, dan sebaliknya apabila suatu
surat berharga mengalami penurunan harga, maka investor akan mengalami penurunan
keuntungan dari selisih harga tersebut (Tandelilin, 2006 : 48). Tidak semua investor
menyukai dividen dan akan memegang saham selamanya. Investor seperti ini biasanya
mementingkan capital gain daripada dividen (Jogiyanto, 2006 : 101). Sepanjang investor lebih
menyukai capital gain daripada deviden, maka tidak tepat jika kita hanya memusatkan
perhatian pada dividen. Untuk itu diperlukan suatu model penilaian yang lebih mudah
untuk diaplikasikan, tetapi mempunyai akurasi yang dapat dipercaya oleh para investor
maupun para analis. Dan sepertinya PER dapat memenuhi hal tersebut.
Prospek pemasaran hasil produksi juga dapat mempengaruhi perubahan harga saham
di bursa efek. Dengan meningkatnya penjualan, maka pertumbuhan laba perusahaan pun
meningkat dan kesempatan untuk menghasilkan keuntungan lebih besar, sehingga investor
akan tertarik untuk menanam saham. Apabila penjualan meningkat diharapkan harga
saham akan mengalami peningkatan yang dapat menyebabkan terjadinya capital gain
sehingga return saham akan meningkat, dan demikian pula sebaliknya.
Perubahan tingkat suku bunga SBI juga memberikan pengaruh terhadap perubahan
harga saham. Suku bunga SBI yang tinggi akan mengakibatkan bunga kredit meningkat dan
bunga deposito juga tinggi, sehingga hal ini akan membuat investor kurang tertarik untuk
menanamkan modalnya pada saham, tetapi mereka akan lebih tetarik untuk menyimpan
modalnya di deposito yang bebas risiko, karena memberikan keuntungan yang cukup tinggi
dengan risiko yang lebih rendah dibanding dengan saham.
Dengan beralihnya penyimpanan dana ke deposito, maka untuk perusahaanperusahaan yang bergerak di bidang finansial misalnya bank, hal ini justru akan
memberikan keuntungan tersendiri, yaitu semakin banyak dana yang terhimpun berarti
bank-bank tersebut akan semakin banyak menyalurkan kredit sehingga akan bisa
meningkatkan keuntungannya. Karena meningkatnya performa perusahaan yang bergerak di
bidang keuangan, maka investor akan tertarik untuk menanamkan investasinya pada saham
perusahaan yang bergerak di bidang finansial ini. Permintaan saham yang meningkat ini
akan menyebabkan naiknya harga saham, dengan demikian akan terjadi capital gain yang
meningkatkan return saham.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial dari volume penjualan saham,
dan tingkat suku bunga SBI terhadap harga saham perusahaan rokok yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia ?
2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama-sama dari variabel volume
penjualan saham dan tingkat suku bunga SBI terhadap harga saham rokok yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia ?
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh secara parsial dari volume penjualan
saham, dan tingkat suku bunga SBI terhadap harga saham perusahaan rokok yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh secara bersama-sama dari variabel
volume penjualan saham dan tingkat suku bunga SBI terhadap harga saham rokok yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
3
Ruang lingkup perlu dilakukan untuk memfokuskan penelitian pada pokok
permasalahan, mencegah terlalu luasnya pembahasan dan mencegah terjadinya salah
interpretasi atas kesimpulan yang dihasilkan. Adapun pembatasan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Penelitian ini hanya untuk perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur (Rokok)
yang terdapat di Bursa Efek Indonesia (BEI), karena BEI dianggap cukup mewakili
kondisi pasar modal di Indonesia, dengan periode Januari 2008 sampai dengan
Desember 2012 secara kontinyu.
2. Perusahaan-perusahaan yang tidak mempunyai laba negatif atau tidak mengalami
kerugian selama periode pengamatan, karena sesuai pendapat Gujarati (2003) bahwa
estimasi PER tidak akan berarti apabila perusahaan mempunyai tingkat keuntungan
yang negatif.
3. Jenis sekuritas yang digunakan sebagai populasi adalah saham biasa karena umumnya
saham biasa merupakan saham yang terbesar.
4. Faktor-faktor lain seperti inflasi dan pajak diabaikan.
TINJAUAN TEORITIS DAN HIPOTESIS
Tinjauan Teoritis
Investasi pada dasarnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan
tujuan untuk memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang akan datang. Pada umumnya
investasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu investasi pada asset riil (real assets dan
investasi pada asset finansiil (financial assets). Investasi pada asset riil dapat berupa tanah,
emas, mesin atau bangunan, sedangkan investasi asset finansiil dapat berupa deposito,
saham, dan obligasi. Pada perekonomian primitif hampir semua investsi merupakan
investasi asset riil, sedangkan di perekonomian modern lebih banyak dilakukan pada asset
finansial. Herlianto dan Pujiastuti, (2009 : 10).
Menurut Halim, (2005:21). Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan
sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan di masa
mendatang. Agar harapan tersebut tercapai, maka sebelum memasuki dunia investasi
diperlukan pengetahuan di dunia investasi. Pengetahuan ini penting sebagai pegangan
ketika memasuki dunia investasi yang penuh resiko dan ketidakpastian.
Tujuan Investasi
1. Tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return)
2. Tingkat resiko (rate of risk)
3. Ketersediaan jumlah dana yang akan diinvestasikan.
4. Investor menginginkan pengembalian yang maksimal dengan risiko tertentu.
Investasi di Bursa Saham
Investasi di bursa saham sebagaimana dikemukakan mempunyai kekhususan
walaupun dalam prinsipnya sama dengan investasi di bidang lain. Investasi di bursa saham
selain diperlukan dana juga diperlukan pengetahuan yang cukup, pengalaman serta naluri
bisnis untuk menganalisa saham atau surat berharga mana yang akan dibeli dan saham
mana yang sudah waktunya dijual kembali.
Bagi calon investor yang tidak mempunyai keterampilan untuk itu, dapat meminta
bantuan kepada lembaga perantara, karena di samping melakukan jual/beli saham juga
memberikan nasihat kepada masyarakat sebagai calon investor bagaimana melakukan
investasi yang baik dan akan menunjukkan saham-saham yang dapat dipilih untuk dibeli
(Halim, 2005:34 )
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
4
Saham
Saham dapat didefinisikan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan
dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang
menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan
surat berharga tersebut. Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang
ditanamkan di perusahaan tersebut (Darmadji dan Fakhruddin, 2001: 15).
Pertumbuhan Penjualan Saham
Pertumbuhan penjualan mencerminkan manisfestasi keberhasilan investasi periode
masa lalu dan dapat dijadikan sebagai prediksi pertumbuhan masa yang akan datang.
Pertumbuhan penjualan juga merupakan indikator permintaan dan daya saing perusahaan
dalam industri. Laju pertumbuhan suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan
mempertahankan keuntungan dalam mendanai kesempatan-kesempatan pada masa yang
akan datang. Pertumbuhan penjualan tinggi, maka akan mencerminkan pendapatan
meningkat sehingga pembayaran dividen cenderung meningkat (Deitiana, 2011).
Higgins (2003) mengatakan bahwa “Growth comes from two sources: increasing volume
and rising price. Because of all variable cost, most curren assets, and current liabilities have a
tendency with sales, so it is a good idea to see the growth based on the sales of the company”.
Berdasarkan pernyataan di atas dapat dilihat bahwa tingkat pertumbuhan suatu perusahaan
dapat dilihat dari pertambahan volume dan peningkatan harga khususnya dalam hal
penjualan karena penjualan merupakan suatu aktivitas yang umumnya dilakukan oleh
perusahaan untuk mendapatkan tujuan yang ingin dicapai yaitu tingkat laba yang
diharapkan. Perhitungan tingkat penjualan pada akhir periode dengan penjualan yang
dijadikan periode dasar.
Volume penjualan menunjukkan seberapa produktif suatu perusahaan dan juga
keberhasilan dalam pemasaran. Volume penjualan yang meningkat ini juga adalah sebuah
pertumbuhan penjualan yang dialami perusahaan tersebut. Semakin besar volume
penjualan, maka semakin besar pula kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan atau
mengalami pertumbuhan laba perusahaan yang akan meningkatkan return yang akan
diterima dan tentu saja hal ini akan membuat investor semakin percaya akan kemampuan
emiten dalam menghasilkan laba atau keuntungan. Dengan meningkatnya kepercayaan
investor, maka permintaan akan saham akan meningkat dan harga saham pun juga ikut
naik. Dengan naiknya harga saham, maka akan terjadi capital gain yang meningkatkan return
saham. Demikian pula sebaliknya, jika volume penjualan menurun, maka akan
mengakibatkan menurunnya return yang diterima.
Volume penjualan adalah banyaknya lembar saham suatu emiten yang
diperjualbelikan di pasar modal setiap hari bursa dengan tingkat harga yang disepakati oleh
pihak penjual dan pembeli saham melalui perantara (broker) penjualan saham saham di
pasar modal yang dikenal dengan lot yang terdiri dari 500 lembar saham dalam setiap 1 lot.
Volume penjualan saham saham merupakan hal yang penting bagi seorang investor, karena
bagi investor volume penjualan saham saham menggambarkan kondisi efek yang
diperjualbelikan di pasar modal. Bagi investor, sebelum melakukan investasi atau
penanaman modal hal terpenting adalah tingkat likuiditas dari efek. (Wiyani dan Wijayanto,
2005)
Tingkat Suku Bunga SBI
Dengan naiknya Suku Bunga SBI, maka dengan sendirinya tingkat suku bunga
deposito juga akan ikut naik. Faktor tingkat suku bunga deposito akan mempengaruhi
investor dalam menanamkan dananya pada saham. Perubahan suku bunga bisa
mempengaruhi variabilitas return suatu investasi. Perubahan suku bunga akan
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
5
mempengaruhi harga saham secara terbalik, jika suku bunga meningkat, maka harga saham
akan turun, demikian pula sebaliknya, jika suku bunga turun, harga saham naik. Secara
teoritis, investor cenderung lebih menyukai menabung pada saat tingkat bunga deposito
tinggi, sebab investasi di bidang ini relatif tidak mengandung risiko. Sebaliknya investor
akan lebih menyukai kecenderungan menginvestasikan uang dalam bentuk saham ketika
tingkat bunga deposito rendah. Akan tetapi untuk perusahaan yang bergerak di bidang
keuangan sepeti halnya bank, asuransi dan perusahaan penjaminan, pengaruh perubahan
suku bunga terhadap return saham adalah positif, artinya jika suku bunga naik maka return
saham juga akan meningkat dan demikian pula sebaliknya. Apabila tingkat suku bunga
deposito mengalami kenaikan maka investor akan lebih tertarik untuk menanamkan
sahamnya pada deposito dari pada saham. Dengan semakin banyaknya dana yang
terhimpun oleh bank, berarti mereka akan bisa menyalurkan dana lebih banyak ke
masyarakat untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Karena terjadi peningkatan
performa dari perusahaan yang bergerak di bidang finansial ini, maka tentu saja investor
akan tertarik menanamkan sahamnya. Permintaan saham yang meningkat ini akan
menyebabkan naiknya harga saham sehingga terjadi capital gain yang akan meningkatkan
return saham perusahaan tersebut. Sebaliknya, apabila suku bunga SBI turun, maka investor
akan lebih tertarik untuk menanamkan dananya pada saham perusahaan diluar perusahaan
yang bergerak di bidang keuangan , karena dengan suku bunga yang rendah akan sulit bagi
perusahaan yang bergerak di bidang finansial untuk menghimpun dana. Permintaan saham
yang berkurang ini akan menurunkan harga saham dan berarti terjadi capital loss yang
menyebabkan menurunnya return saham. Dengan demikian suku bunga SBI ini mempunyai
pengaruh yang positif terhadap harga saham dan return saham.
Tingkat suku bunga SBI menyatakan tingkat pembayaran atas pinjaman atau
investasi lain, di atas perjanjian pembayaran kembali, yang dinyatakan dalam persentase
yang ditetapkan Bank Indonesia dengan mengeluarkan Sertifikat Bank Indonesia. Salah satu
penyederhanaan yang dibuat dalam mempelajari makro ekonomi adalah dengan menyebut
“satu” suku bunga, yang pada kenyataanya tentu, banyak terdapat tingkat-tingkat suku
bunga. Tingkat suku bunga ini berbeda tergantung dari tingkat kepercayaan kredit dari
peminjam, jangka waktu dari pinjaman, dan berbagai aspek perjanjian lainnya antara
peminjam dan pemberi pinjaman. Obligasi Amerika Serikat jangka pendek adalah salah satu
asset yang paling sering diperdagangkan di seluruh dunia.
Harga Saham
Harga saham merupakan hasil dari interaksi performance perusahaan dan situasi pasar
yang terjadi. Harga saham dapat dibedakan menjadi harga saham perdana dan harga saham
di pasar sekunder. Perbedaan dari kedua harga saham tersebut adalah harga saham perdana
memiliki harga saham yang tetap dan telah ditetapkan sebelumnya dan ditawarkan pertama
kali kepada masyarakat. Harga saham pada pasar sekunder tidak memiliki harga statis
melainkan dapat berfluktuasi mengikuti situasi pasar yang berlaku. Perusahaan penerbit
yang mampu menghasilkan keuntungan tinggi, dapat menyisihkan bagian keuntungan
sebagai dividen dalam jumlah yang tinggi pula. Pembagian dividen yang tinggi akan
menarik minat investor untuk membeli saham tersebut. Hal ini mengakibatkan permintaan
atas saham yang bersangkutan akan meningkat, yang pada akhirnya akan mendorong
naiknya nilai saham.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham
Penentuan harga saham di pasar sekunder pada dasarnya ditentukan oleh permintaan
dan penawaran terhadap saham di pasar modal, sehingga harga saham naik turun setiap
saat tergantung kekuatan mana yang lebih kuat antara permintaan dengan penawaran.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
6
Harga saham mengalami perubahan sesuai dengan pengaruh-pengaruh yang sedang
terjadi di pasar saham. Pasar saham dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan
faktor-faktor eksternal perusahaan.
Pengaruh Suku Bunga SBI terhadap Harga Saham
Tingkat suku bunga menyatakan tingkat pembayaran atas pinjaman atau investasi
lain, di atas perjanjian pembayaran kembali, yang dinyatakan dalam persentase yang
ditetapkan bank. Bagi bank, bunga merupakan komponen pendapatan yang paling tinggi.
Dari total pendapatan yang diterima bank, sebagian besar diperoleh dari bunga pinjaman.
Suku bunga yang tinggi akan dapat menimbulkan tingginya volume tabungan masyarakat.
Makin tinggi tingkat suku bunga yang ditawarkan bank mendorong masyarakat untuk lebih
banyak menabung, artinya masyarakat cenderung akan mengurangi konsumsinya guna
menambah saldo tabungan yang dimiliki. Selain itu, suku bunga yang tinggi akan
berdampak melonjaknya biaya modal perusahaan, sehingga perusahaan akan mengalami
persaingan dalam investasi, artinya para investor cenderung memilih berinvestasi ke pasar
uang atas tabungan dibandingkan pasar modal. Sebaliknya suku bunga yang rendah, baik
suku bunga pinjaman maupun suku bunga simpanan akan berdampak menurunnya
keinginan masyarakat untuk menabung, sedangkan bagi perusahaan kondisi ini sangat
menguntungkan karena perusahaan dapat mengambil kredit untuk menambah modal atau
investasi dengan tingkat bunga yang rendah.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kuantitatif, sedangkan pendekatan
yang digunakan dalam menyusun penelitian ini adalah observasi nonprilaku. Cooper dan
Emory (2001 : 157) menyatakan bahwa obervasi masuk ke dalam kelompok penelitian ilmiah
apabila dirancang
secara khusus untuk menjawab sebuah pertanyaan penelitian,
direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis, dengan menggunakan kendali-kendali
yang tepat, serta menyajikan perkiraan yang andal dan valid tentang apa yang terjadi.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisa catatan (record analysis).
Cooper dan Emory (2001 : 157) menyatakan bahwa analisa catatan dapat merupakan catatan
sejarah atau catatan tersebut maupun catatan perusahaan publik maupun swasta. Catatancatatan tersebut mungkin ditulis, dicetak, direkam dalam pita suara, difoto, ataupun
direkam dalam pita video. Data statistik historis seringkali digunakan sebagai satu-satunya
sumber data dalam sebuah studi. Analisis catatan-catatan keuangan tahun berjalan dan data
ekonomi juga menyajikan sebuah sumber data utama untuk berbagai studi.
Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penyusunan skripsi ini tidak
menggunakan studi kasus dan mengambil
Surabaya yang berupa data sekunder yaitu
Gudang Garam Tbk. dan PT. Bentoel Tbk.,
dari tahun 2010 sampai 2012.
menggunakan sampel karena jenis penelitian
data langsung dari Bursa Efek Indonesia (BEI)
laporan keuangan PT HM Sampoerna Tbk, PT.
yang terdiri dari neraca dan laporan laba-rugi
Teknik Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berasal dari dokumentasi yang diperoleh dari laporan
keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba-rugi PT HM Sampoerna Tbk, PT.
Gudang Garam Tbk. dan PT. Bentoel Tbk., dalam kurun waktu tahun 2010 – 2012 serta data
lain berupa sejarah, profil dan ruang lingkup usaha PT HM Sampoerna Tbk, PT. Gudang
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
7
Garam Tbk. dan PT. Bentoel Tbk., dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM). Melalui Pojok
Bursa Efek Indonesia STIESIA Surabaya.
Dalam rangka mendapat data dan informasi untuk penyusunan penelitian, penulis
menggunakan prosedur yang digunakan pengumpulan data dengan menggunakan
dokumentasi, yaitu suatu metode pengumpulan data yang dilakukan penelitian dengan
melihat laporan keuangan PT HM Sampoerna Tbk, PT. Gudang Garam Tbk. dan PT. Bentoel
Tbk., yang telah dipublikasikan dan terdapat di Bursa Efek Indonesia jenis data yang
digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh dari neraca dan laporan labarugi selama tahun 2010 – 2012.
Definisi Operasional Variabel Dan Pengukurannya
1. Harga Saham (HS)
Menurut Anoraga (2006: 145). Harga saham merupakan jumlah nominal uang
yang harus dibayar oleh investor yang akan membeli saham suatu perusahaan. Harga
saham yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga saham rata-rata dari closing
tiap bulan dalam satu tahun 2010 - 2012.
2. Volume Penjualan Saham (VPS)
Menurut Kesuma (2009:41). Volume penjualan menunjukkan seberapa produktif
suatu perusahaan dan juga keberhasilan dalam pemasaran. Volume penjualan yang
meningkat ini juga adalah sebuah pertumbuhan yang dialami perusahaan tersebut.
Semakin besar volume penjualan, maka semakin besar pula kemungkinan untuk
mendapatkan keuntungan dan tentu saja hal ini akan membuat investor semakin
percaya kepada perusahaan tersebut.
3. Suku Bunga SBI (TSB)
Menurut Dornbusc dan Fischer. (2004: 219). Suku bunga SBI adalah tingkat bunga
yang ditentukan oleh pemerintah untuk menyesuaikan dengan kondisi perekonomian
yang sedang terjadi. Perubahan suku bunga SBI akan mempengaruhi suku bunga
deposito yang dapat mempengaruhi investor untuk menanamkan investasinya pada
saham atau pada deposito. Suku bunga SBI kwartalan didapatkan dengan
menggunakan rata-rata SBI kwartalan dalam satu kwartal.
Suku bunga SBI yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tingkat suku bunga
yang ditetapkan oleh Bank Indonesia periode triwulanan tahun 2010 - 2012.
Teknik Analisa Data
1. Analisis Regresi Berganda
Analisa regresi sederhana ini akan dilakukan dengan menggunakan program SPSS
21.
Algifari (2001 : 38) menyatakan bahwa besarnya koefisien korelasi (r) antara dua
macam variabel adalah nol sampai dengan +/- 1. Apabila dua buah variabel
mempunyai nilai r = 0, berarti antara dua buah variabel tersebut tidak ada hubungan.
Sedangkan apabila dua buah variabel mempunyai nilai r = +/ 1, maka dua buah
variabel tersebut mempunyai hubungan yang sempurna.
Semakin tinggi nilai koefisien korelasi antara dua buah variabel (semakin
mendekati 1), maka tingkat keeratan hubungan antara dua variabel tersebut semakin
tinggi. Dan sebaliknya, semakin rendah koefisien korelasi antara dua buah variabel
(semakin mendekati 0), maka tingkat keeratan hubungan antara dua buah variabel
tersebut semakin lemah.
Rosalina (2005:73) menyatakan bahwa di dalam statistik tidak ada pedoman yang
pasti tentang interval keeratan hubungan antar variabel. Namun pada umumnya angka
korelasi sebesar 0,6 ke atas dianggap cukup memadai untuk menggambarkan eratnya
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
8
2.
hubungan antar variabel. Sedangkan angka korelasi sebesar 0,6 ke bawah dianggap
variabel-variabel tidak berkorelasi dengan baik (hubungannya tidak erat).
Uji Goodness of Fit
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari
Goodness of fitnya. Secara statistik, setidaknya ini dapat diukur dari nilai statistik F, nilai
koefisien determinasi nilai statistik t (Ghozali, 2008 ; 78).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Visi dan Misi Bursa Efek Indonesia
Visi Bursa Efek Indonesia adalah menjadikan Bursa Efek Indonesia suatu tempat yang
kredibel untuk perdagangan instrumen pasar modal baik untuk masyarakat Indonesia
maupun masyarakat internasional.
Misi Bursa Efek Indonesia adalah Menciptakan keunggulan kompetitif untuk menarik
investor dan perusahaan yang terdaftar, melalui pemberdayaan anggota bursa dan
partisipan, penciptaan nilai tambah efisiensi, biaya dan pelaksanaan tata kelola yang baik.
Analisis Pembahasan
Penelitian dilakukan dari periode triwulanan tahun 2010 – 2012 pada perusahaan rokok
yang go publik di Bursa Efek Indonesia yang melaporkan laporan keuangannya di Bursa
Efek Indonesia dengan metode purposive sampling. Sampel penelitian sebanyak 3 perusahaan
rokok di BEI. Yang terdiri dari perusahaan PT HM Sampoerna Tbk, PT. Gudang Garam Tbk.
dan PT. Bentoel Tbk.
Statistik Deskriptif
Dalam penelitian ini akan menganalisis kualitatif berupa penjabaran data statistik
deskriptif dari variabel penelitian. Berikut ini data penelitian yang akan diteliti:
Tabel 1
Rekapitulasi
Tahun
2010
2011
2012
V.
Saham
0,113
0,218
0,261
Suku
Bunga
6.5
6
5.75
Harga
Saham
28150
39000
59900
2 PT. Gudang Garam Tbk
2010
2011
2012
0,143
0,111
0,171
6.5
6
5.75
40000
62050
56300
3 PT. Bentoel Tbk
2010
2011
2012
0,227
0,131
-0,022
6.5
6
5.75
800
790
580
No
Perusahaan
1 PT HM. Sampoerna Tbk.
Sumber : Data BEI Pojok Kampus STIESIA (diolah)
Penjelasan data disertai dengan nilai minimum, nilai maksimum, mean, varians dan
standar deviasi. Berikut ini statistik deskriptif data penelitian yang terdiri dari variabel sebagai
berikut :
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
9
Variabel
N
Vol. Penj. Saham
Tingkat Suku Bunga
Harga Saham
9
9
9
Tabel 2
Deskriptif Variabel
Minimum Maksimum
0.02
5.75
580.00
.26
6.50
62050.00
Mean
.1553
6.0883
31952.22
Std.
Deviation
.07313
.33072
25822.53
Berdasarkan tabel 2 di atas didapatkan nilai rata-rata pada Suku Bunga SBI sebesar
6,08%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata suku bunga SBI yang ditetapkan perusahaan
sektor rokok di BEI periode triwulanan tahun 2010 – 2012 sebesar 6,08%; nilai terendah
sebesar 5,75% dan nilai tertinggi sebesar 6,50%.
Nilai rata-rata pada Volume Penjualan Saham sebesar 0.1553 lembar saham. Hal ini
menunjukkan bahwa rata-rata banyaknya lembar saham perusahaan sektor rokok yang
diperjualbelikan di pasar modal setiap hari bursa dengan tingkat harga yang disepakati oleh
pihak penjual dan pembeli saham pada periode triwulanan tahun 2010 – 2012 sebesar 0.1553
lembar saham; nilai terendah sebesar 0.02 lembar saham dan nilai tertinggi sebesar 0.26
lembar saham.
Sedangkan nilai rata-rata pada Closing Price (Harga Saham Penutupan) sebesar
31952.22. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata harga yang terbentuk untuk suatu sertifikat
tanda bukti kepemilikan atas suatu perusahaan pada perusahaan sektor rokok di BEI
periode triwulanan tahun 2010 – 2012 sebesar 31952.22; nilai terendah sebesar 580 dan nilai
tertinggi sebesar 62050.
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk melihat apakah asumsi-asumsi yang diperlukan
dalam analisis regresi linier terpenuhi. Uji asumsi klasik dalam penelitian ini menguji
normalitas data secara statistik, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas serta uji
autokorelasi.
1. Uji Normalitas
Salah satu cara untuk melihat normalitas adalah dengan melihat grafik normal
probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Jika
data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka asumsi
kenormalan terpenuhi.
Gambar 1
Grafik Normal P-P Plot
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
10
Gambar grafik normal plot menunjukkan bahwa data menyebar di sekitar
garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, sehingga dapat dikatakan bahwa
variabel dalam penelitian ini memenuhi uji normalitas. Ghozali (2008:112)
menyatakan bahwa uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan jika tidak
dilakukan secara hati-hati, secara visual terlihat normal namun secara statistik tidak,
atau sebaliknya secara visual tidak normal padahal secara statistik normal. Oleh
sebab itu diajurkan disamping menggunakan uji grafik dilengkapi dengan uji
statistik, salah satunya dengan menggunakan uji statistik non-parametrik KolmogorovSmirnov. Jika hasil K-S mempunyai nilai P-value ≥ 0,05 maka dapat dikatakan data
normal.
Tabel 3
One Sample Kolmogorof-Smirnov
Unstandardized
Residual
N
9
Normal Parametersa,b Mean
.0000000
Std. Deviation
2.38931052
.189
Most Extreme
Absolute
Difference
Positif
.189
Negatif
-.109
Kolmogorov-Smirnov Z
.567
Asymp. Sig (2-tailed)
.905
a. Test distribution is Normal
b. Calculated from data
Berdasarkan tabel 3 terlihat bahwa nilai Kolmogorof-Smirnov Z sebesar 0,567
dengan tingkat signifikan 0,905, berarti hal itu menunjukkan bahwa variabel
penelitian terdistribusi normal karena tingkat signifikansinya ≥ 0,005.
2. Uji Multikolinearitas
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel
bebas. Jika terjadi korelasi, maka terdapat multikolinearitas. Untuk mendeteksi ada
atau tidaknya multikolinearitas adalah dengan menganalisis matriks korelasi
variabel-variabel bebas. Jika antara variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi
(umumnya di atas 0,90), maka hal ini merupakan indiksi adanya multikolinearitas.
Selain itu untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai
tolerance dan nilai VIF. Jika nilai tolerance mendekati angka 1 dan VIF disekitar
angka 1 maka dinyatakan bebas multikolinearitas.
Hasil uji multikolinearitas pada tabel 4 menunjukkan bahwa nilai tolerace
mendekati angka 1 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) disekitar angka 1. Jadi
dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas antar variabel bebas dalam
model regresi ini. Identifikasi secara statistik ada atau tidaknya gejala
multikolinearitas dapat dilakukan dengan menghitung Variance Inflation Factor (VIF)
Tabel 4
Uji Multikolinearitas
Variabel
Tolerance
Vol. Penj. Saham
0,997
Tingkat Suku Bunga
0,997
a. Dependent Variable: Harga Saham
VIF
1,003
1,003
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
11
3. Uji Autokorelasi
Untuk menguji variabel-variabel yang diteliti, apakah terjadi autokorelasi atau
tidak, dapat digunakan uji Durbin Watson.
Dalam hasil analisis penelitian didapat bahwa angka statistik Durbin Watson
adalah 1,876 dengan N = 9 dan k = 2, taraf signifikansi yang digunakan (α) adalah 5%
diperoleh dL = 0,629 dan dU=1,699 serta 4-dU =2,301 dan 4-dL = 2,742 yang dilihat
pada tabel 5.
Tabel 5
Batas-batas Daerah Test Durbin Watson
Distribusi
Interprestasi
DW < 1,876
Autokorelasi positif
0,629 ≤ DW < 1,699
Daerah keragu-raguan/ Incilclusif
1,699 ≤ DW < 2,301
Tidak ada autokorelasi
2,301 ≤ DW < 2,742
Daerah keragu-raguan/ Incilclusif
DW ≥ 2,742
Autokorelasi negatif
Dari tabel batas-batas distribusi nilai test Durbin – Watson dan kurva pengujian
auto korelasi Durbin – Watson diatas menunjukkan bahwa nilai test Durbin–Watson
berada pada daerah antara du dan 2. Hal ini mengindikasikan bahwa model regresi
tidak ada autokorelasi.
4. Uji Heteroskedastisitas
Menurut Ghozali (2008:69) deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat
dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatter SRESID dan
ZPRED, sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y
prediksi-Y sesungguhnya) yang telah di stundentized.
Gambar 2
Grafik Scatter Plot
Dari gambar 2 di atas terlihat titik-titik menyebar secara acak tidak
membentuk sebuah pola tertentu yang jelas, serta tersebar di atas maupun di bawah
angka 0 pada sumbu Y maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gangguan
heteroskedastisitas pada model regresi. Hal ini menunjukkan bahwa hasil estimasi
regresi linier berganda layak digunakan untuk interprestasi dan analisa lebih lanjut.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
12
Analisis Regresi Linier Berganda
Hasil perhitungan dengan komputer dengan aplikasi program SPSS 21 (Statistical
Program Sosial Science) adalah sebagai berikut :
Variabel Bebas
Constant
Vol. Penj. Saham
Tingkat Suku Bunga
Fhitung
Signifikan
R
Rsquare
Adjusted RSquare
Varaibel terikat
Tabel 6
Analisis Regresi Linier Berganda
Koefisien Regresi
8.060
.688
-.830
15.333
.001
.449
.250
.235
Harga Saham
thitung
0,704
3,094
-2,179
Sig.
,561
,041
,028
Persamaan regresi linier berganda dalam penelitian ini menggunakan koefisien beta
tidak standar (unstandardized coefficient). Hal ini disebabkan karena masing-masing variabel
memiliki satuan dan berfungsi untuk menjelaskan besarnya koefisien regresi masing-masing
variabel bebas dalam menerangkan variabel terikatnya, dengan rumusnya :
HS = 8,060 + 0.688VPS – 0.830TSB
Dari persamaan regresi tersebut di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Konstanta Regresi
Besarnya nilai konstanta adalah 8.060. Hal ini menunjukkan bahwa jika variabel bebas
yang terdiri volume penjualan saham dan tingkat suku bunga = 0, maka besarnya
variabel terikat yaitu harga saham sebesar 8.060.
2. Koefisien Regresi Volume Penjualan Saham (b1)
Besarnya koefisien b1 adalah 0,688 yang berarti menunjukkan arah hubungan positif
(searah) antara volume penjualan saham dengan harga saham, memilik tanda positif
menunjukkan pengaruh volume penjualan saham searah terhadap harga saham yaitu
jika variabel. volume penjualan saham naik sebesar satu satuan maka harga saham akan
naik sebesar b1 yaitu 0,688 dengan asumsi variabel yang lainnya konstan.
3. Koefisien Regresi Tingkat Suku Bunga (b2)
Besarnya koefisien b2 adalah -0,830 yang berarti menunjukkan arah hubungan negatif
(berlawanan arah) antara tingkat suku bunga dengan harga saham. Tanda negatif
menunjukkan tidak ada pengaruh tingkat suku bunga terhadap harga saham yaitu jika
variabel tingkat suku bunga naik sebesar satu satuan maka harga saham akan turun
sebesar yaitu -0,830 dengan asumsi variabel yang lainnya konstan.
Uji Goodness of Fit
Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari
Goodness of fit-nya. Secara statistik, setidaknya ini dapat diukur dari nilai statistik F, nilai
koefisien determinasi nilai statistik t (Ghozali, 2008 ; 78). Dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengujian Secara Simultan (Uji F)
Uji F digunakan untuk mengetahui tingkat signifikansi pengaruh variabel-variabel
independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen. Berdasarkan
tabel 6 didapatkan angka Fhitung 15,333 dengan Sig. 0,001 < 0,05, maka Ho berhasil
ditolak. Artinya volume penjualan saham dan tingkat suku bunga secara simultan
memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
13
2.
3.
Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefesien Determinasi Adjusted RSquare pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien
determinasi adalah antara nol dan satu, berdasarkan penelitian ini menggunakan
Adjusted RSquare. Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa nilai Adjusted RSquare sebesar 0.235
yang berarti bahwa volume penjualan saham, dan tingkat suku bunga lemah dalam
mempengaruhi harga saham sebesar 23.5% sedangkan 76,5% dijelaskan oleh variabel
yang lain.
Pengujian Secara Parsial (Uji t)
Uji t digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel volume penjualan
saham, dan tingkat suku bunga terhadap variabel harga saham.
Berdasarkan tabel 6 didapat bahwa volume penjualan saham berpengaruh
signifikan terhadap harga saham mempunyai nilai thitung sebesar 3,094 dengan
signifikansi sebesar 0,041 (lebih kecil dari 0,05) yang berarti bahwa volume penjualan
saham berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham, sehingga hipotesis
yang menyatakan volume penjualan saham berpengaruh positif terhadap harga saham
terbukti.
Berdasarkan tabel 6 didapat bahwa tingkat suku bunga berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap nilai perusahaan mempunyai nilai thitung sebesar -2,179 dengan
signifikansi sebesar 0,028 (lebih kecil dari 0,05) yang berarti bahwa tingkat suku bunga
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham, sehingga hipotesis yang
menyatakan tingkat suku bunga berpengaruh negatif terhadap harga saham tidak
terbukti.
Pembahasan
Pengaruh volume penjualan saham dan tingkat suku bunga secara simultan terhadap
harga saham
Berdasarkan hasil pengujian pengaruh volume penjualan saham dan tingkat suku
bunga secara simultan terhadap harga saham, mempunyai nilai Fhitung sebesar 15,333 dengan
signifikansi sebesar 0,001 (lebih kecil dari 0,05) artinya volume penjualan saham dan tingkat
suku bunga secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal
ini menunjukkan bahwa pengaruh volume penjualan saham dan tingkat suku bunga
dipercaya dapat meningkatkan Harga saham.
Menurut Swastha dan Handoko (2001), berpendapat bahwa pertumbuhan atas
penjualan merupakan indikator penting dari penerimaan pasar dari produk dan jasa
perusahaan tersebut, dimana pendapatan yang dihasilkan dari penjualan akan dapat
digunakan untuk mengukur tingkat pertumbuhan penjualan. Serta diperkuat oleh pendapat
Higgins (2003) yang mengatakan bahwa dari bahwa tingkat pertumbuhan suatu perusahaan
dapat dilihat dari pertambahan volume dan peningkatan harga khususnya dalam hal
penjualan karena penjualan merupakan suatu aktivitas yang umumnya dilakukan oleh
perusahaan untuk mendapatkan tujuan yang ingin dicapai yaitu tingkat laba yang
diharapkan.
Menurut Dornbusch dan Fischer, (2004: 37) suku bunga yang tinggi akan berdampak
melonjaknya biaya modal perusahaan, sehingga perusahaan akan mengalami persaingan
dalam investasi, artinya para investor cenderung memilih berinvestasi ke pasar uang atas
tabungan dibandingkan pasar modal. Sebaliknya suku bunga yang rendah, baik suku bunga
pinjaman maupun suku bunga simpanan akan berdampak menurunnya keinginan
masyarakat untuk menabung, sedangkan bagi perusahaan kondisi ini sangat
menguntungkan karena perusahaan dapat mengambil kredit untuk menambah modal atau
investasi dengan tingkat bunga yang rendah.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
14
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wiyani dan
Wijayanti (2005) dimana hasil penelitiannya diperoleh bahwa ada pengaruh yang signifikan
antara volume perdagangan saham terhadap harga saham.
Pengaruh Volume Penjualan saham dan Tingkat Suku Bunga secara parsial terhadap
Harga Saham
a. Volume penjnualan saham mempunyai pengaruh terhadap harga saham
Berdasarkan perhitungan didapat bahwa volume penjualan saham berpengaruh
terhadap harga saham mempunyai nilai thitung sebesar 3,094 dengan signifikansi sebesar
0,041 (lebih kecil dari 0,05), hal ini menunjukkan bahwa volume penjualan saham
berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham. Sehingga dapat dikatakan
bahwa ada pengaruh yang signifikan antara Volume penjualan Saham terhadap Harga
Saham secara parsial. Adanya pengaruh yang positif ini mengindikasikan bahwa
semakin besar volume penjualan saham perusahaan akan semakin besar pula harga
saham perusahaan. Dan semakin rendah volume penjualan saham perusahaan akan
semakin rendah pula harga saham perusahaan. Hasil ini menunjukkan bahwa volume
penjualan yang tinggi mengindikasikan banyaknya investasi yang masuk ke perusahaan
perbankan, sehingga akan menyebabkan harga saham perusahaan menjadi meningkat.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wiyani dan Wijayanto
(2005) dimana hasil penelitiannya diperoleh bahwa ada pengaruh yang signifikan antara
Volume Penjualan Saham terhadap Harga Saham dapat ditarik kesimpulan bahwa
hipotesis terbukti.
b.
Tingkat Suku Bunga mempunyai pengaruh terhadap harga saham
Berdasarkan perhitungan didapat bahwa tingkat suku bunga berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap harga saham mempunyai nilai thitung sebesar -2,179 dengan
signifikansi sebesar 0,028 (lebih kecil dari 0,05), sehingga dapat dikatakan bahwa tidak
ada pengaruh yang signifikan dan negatif antara tingkat suku bunga terhadap harga
saham secara parsial. Adanya pengaruh yang signifikan dan negatif ini
mengindikasikan bahwa semakin besar tingkat suku bunga pada periode triwulanan
tahun 2010– 2012 berdampak pada menurunnya harga saham. Dengan tingkat suku
bunga yang kecil menyebabkan peningkatan tingkat kepercayaan investor dalam
menanamkan sahamnya di perusahaan rokok.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh penelitian
Febritasari (2004) dan Utami (2003) yang menyatakan bahwa tingkat suku bunga
berpengaruh positif dan signifikan. Berdasarkan uraian tersebut, dapat ditarik
kesimpulan bahwa hipotesis terbukti.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan terhadap hipotesis yang telah
dirumuskan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil pengujian pertama diperoleh ada pengaruh yang signifikan dan positif antara
Volume Perdagangan Saham terhadap Harga Saham secara parsial. Hasil ini
menunjukkan bahwa volume penjualan yang tinggi mengindikasikan banyaknya
investasi yang masuk ke perusahaan, sehingga akan menyebabkan harga saham
perusahaan menjadi meningkat.
2. Hasil pengujian kedua diperoleh bahwa ada pengaruh yang signifikan dan negatif
antara suku bunga SBI terhadap harga saham secara parsial. Dengan suku bunga SBI
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
15
yang kecil menyebabkan peningkatan tingkat kepercayaan investor dalam menanamkan
sahamnya di perusahaan tersebut.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka implikasi kebijakan yang dapat diajukan
pada penelitian ini adalah :
1. Investor dapat menjadikan volume penjualan saham sebagai informasi dalam
penanaman investasinya karena terbukti bahwa volume penjualan saham berpengaruh
terhadap peningkatan harga saham. Dan faktor suku bunga juga perlu diperhatikan
investor karena berdampak pada menurunnya harga saham perusahaan rokok.
2. Penelitian ini mempunyai keterbatasan besarnya pengaruh volume transaksi
perdagangan, tingkat suku bunga terhadap harga saham hanya sebesar 23,5%.
Dari keterbatasan penelitian, maka agenda penelitian mendatang yaitu pada penelitian
selanjutnya sebaiknya mempertimbangkan variabel lain untuk menganalisis volume
transaksi penjualan terhadap harga saham agar relatif besar.
DAFTAR PUSTAKA
Algifari, 2001. Statistik Induktif Untuk Ekonomi dan Bisnis, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
Anoraga, P. 2006. Pengantar Pasar Modal, Rineka Cipta, Jakarta.
Cooper, D.R dan C. W. Emory. 2001. Metode Penelitian Bisnis. Edisi kelima, Jili Dua, Erlangga.
Jakarta,
Darmadji dan M.Fakhruddin. 2001. Perangkat dan Model Analisis Investasi di Pasar Modal.
Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.
Deitiana, T. 2011. Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan Penjualan dan Dividen Terhadap Harga
Saham, Universitas Trisakti
Dornbusch, R. dan S. Fischer. 2004. Makroekonomi, Edisi Keempat, Penerbit Erlangga, Jakarta,
Febritasari, I. 2004. “ Analisis Pengaruh Return On Equity dan Tingkat Suku Bunga Deposito
terhadap Harga Saham Perusahaan di Bursa Efek Jakarta”. Skripsi S-1 UNS, Surakarta.
Ghozali, I. 2008. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Semarang : Badan
Penerbit UNDIP, 2001.
Gujarati, D. N. 2003. Basic Econometrics. Edisi 8. Erlangga
Halim, A. 2005. Analisis Laporan Keuangan. Edisi 3, Yogyakarta.
Herlianto, D dan E. Pujiastuti. 2009. Dasar-dasarManajemen Keuangan. Edisi Ketiga.
Yogyakarta : UPP-AMP YKPN
Higgins,M. James, 2003, Human Relations Concepts and Skill, Random House, New York
Jogiyanto, H.M. 2006. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Edisi kedua. Yogyakarta : BPFE.
Kesuma, A. 2009. Manajemen dan Kewirausahaan. Jurnal Vol.11 No 1, Kalimantan: Universitas
Darwan Ali Sampit.
Rosalina. 2005. Analisis Statistik Menggunakan Aplikasi Excel, Alfabeta. Bandung.
Swastha, B.D. dan T.H. Handoko, 2001, Manajemen Pemasaran “ Analisa Perilaku Konsumen “,
Edisi pertama cetakan ketiga, BPFE-Yogyakarta.
Tandelilin, E. 2006. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi pertama. Yogyakarta :
BPFE
Utami, L. W. 2003. “Analisis Pengaruh Earning Per Share, Return On Assets, Tingkat Bunga
Deposito terhadap Harga Saham pada Perusahaan yang Trecantum dalam Indeks LQ-45 di
BEJ Tahun 1999-2001”. S-2 Program Pasca Sarjana UNS, Surakarta.
Wiyani, W. dan A. Wijayanto. 2005. Pengaruh Nilai Tukar Rupiah, Tingkat Suku Bunga
Deposito dan Volume Perdagangan Saham terhadap Harga Saham, Jurnal Keuangan
dan Perbankan, Tahun IX, No. 3 September.
Download