Abstrak: Vol. 15, No. 1, April 2016

advertisement
Abstrak: Vol. 15, No. 1, April 2016
__________________________________________________________________________
ALASDAIR MACINTYRE AND MARTHA NUSSBAUM ON VIRTUE ETHICS
(JOAS ADIPRASETYA)
Abstract:
Alasdair MacIntyre and Martha C. Nussbaum are two prominent contemporary moral philosophers who attempt to
rehabilitate Aristotle’s conception of virtues. Although both agree that virtue ethics can be considered as a strong
alternative to our search for commonalities in a pluralistic society such as Indonesia, each chooses a very different path.
While MacIntyre interprets Aristotle from his traditionalist and communi-tarian perspective, Nussbaum construes the
philosopher in a non-relative and essentialist point of view using the perspective of capability. Consequently, MacIntyre
construes a more particularistic view of virtue ethics, whereas Nussbaum presents a more universalistic view of virtue
ethics. Applying virtue ethics to the Indonesian context, this article argues that each approach will be insufficient to
address the highly pluralistic societies such as Indonesia. Therefore, we need to construct a virtue ethics proper to the
Indonesian context that takes both approaches into consideration .
Keywords: Virtue, virtue ethics, community, capability, incommen-surability.
Abstrak:
Alasdair MacIntyre dan Martha C. Nussbaum merupakan dua orang filsuf moral terkemuka pada masa kini, yang
berusaha merehabili-tasi konsep Aristoteles mengenai keutamaan. Sekalipun keduanya sepakat bahwa etika keutamaan
dapat dipertimbangkan sebuah sebuah alternatif yang memadai bagi usaha kita dalam mencari kesamaan di tengah
sebuah masyarakat majemuk seperti Indonesia, masing-masing memilih jalan yang sangat berbeda. Sementara
MacIntyre menafsirkan Aristoteles dari perspektif tradisionalis dan komunitarian, Nussbaum memahami sang filsuf dari
sebuah sudut pandang esensialis dan non-relatif dengan memakai pendekatan kapabilitas. Akibatnya, MacIntyre
mengkonstruksi sebuah pandangan yang lebih partikular atas etika keutamaan, sementara Nussbaum lebih
menghadirkan sebuah pan-dangan yang lebih universal atas etika keutamaan. Mengaplikasikan etika keutamaan pada
konteks Indonesia, artikel ini berpendapat bahwa masing-masing pendekatan tidak akan memadai untuk menjadi masyarakat yang sangat pluralistis seperti Indonesia. Untuk itu, kita perlu mengkonstruksi sebuah etika keutamaan yang
kontekstual di Indonesia yang mempertimbangkan dan memanfaatkan kedua pendekatan tersebut.
Kata-kata Kunci: Keutamaan, etika keutamaan, komunitas, kapabilitas, inkomensurabilitas
[email protected] e-mail penulis.
__________________________________________________________________________
BERTEOLOGI BAGI AGAMA DI ZAMAN POST-SEKULAR
(ADRIANUS SUNARKO)
Abstrak:
Prediksi tentang hilangnya agama seiring dengan proses modernisasi ternyata tidak benar. Agama-agama tetap
hadir dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat. Kenyataan ini memberikan tantangan
tersendiri bagi teologi, setidak-tidaknya karena tiga hal. Pertama, kehadiran agama seringkali disertai dengan
kecenderungan kuat untuk melihat relevansi agama hanya pada lingkup kehidupan privat seseorang dan
mengabaikan implikasi sosial politis hidup beriman. Kedua, kehadiran agama terkait pula dengan sejumlah tindak
kekerasan yang mengancam ketenteraman hidup bersama. Ketiga, agama-agama —khususnya di Indonesia—
dituntut menyesuaikan diri berhadapan dengan kenyataan plural dan corak demokratis masyarakat. Teologi
ditantang untuk menyumbangkan refleksi yang berguna bagi terbentuknya agama yang tidak lupa akan implikasi
sosial-politiknya, yang bebas dari kekerasan dan mampu menempatkan diri dengan tepat di tengah masyarakat
demokratis dan plural.
Kata-kata Kunci: Post-sekular, privatisasi agama, kekerasan, multi-kultural, posisi epistemis, demokrasi, teologi
politik.
Abstract:
The prediction that religion would vanish during and because of the modernization is not really true. Religions are
still present and play a significant role in social life. This fact gives a special and interesting challenge to theology, at
least for three reasons. First, the presence of religion is often accompanied by the strong tendency among its
adherents to find the relevance of religion only to the one’s private life, denying the social and political implication of
religion. Second, the presence of religion is connected with the acts of violence, which threaten the peace of the
social life. Third, the religions —especially in Indonesia— have to adapt themselves to the pluralistic reality and the
democratic system of the society. Theology is challenged to offer meaningful reflection on the formation of religion,
which does not forfeit its social and political implications, free from violence and mindful of how to place itself
properly in the democratic and pluralistic society.
Keywords: Post-secular, privatization of religion, violence, multi-cultural, epistemic position, democracy, political
theology.
[email protected]. e-mail penulis
__________________________________________________________________________
DOKTRIN TRINITAS DALAM DISKURSUS TEOLOGI EKONOMIK
(YAHYA WIJAYA)
Abstrak:
Artikel ini menguraikan penggunaan konsep teologis “Trinitas sosial” oleh empat teolog yang secara khusus
menyoroti isu-isu ekonomi. Secara umum para teolog itu menyatakan bahwa teologi ekonomik yang berdasarkan
“Trinitas sosial” menolak model ekonomi individualistik yang memertaruhkan komunitas. Mereka memberi
gambaran yang berbeda-beda tentang model ekonomi yang layak ditolak itu. Meeks dan Boff melihat praktik
ekonomi pasar yang berlaku saat ini maupun praktik ekonomi sosialis yang pernah dijalankan di negara-negara
komunis sebagai wujud-wujud dari model ekonomi semacam itu. Novak menolak praktik sosialisme dan
memandang kapitalisme yang bersifat demokratik sebagai model ekonomi yang trinitaris. Higginson menilai model
ekonomi yang individualistik itu tersirat dalam “etos Protestan”nya Max Weber dan seringkali tercermin dalam cara
pengelolaan perusahaan. Saya melanjutkan teologi ekonomik yang berdasarkan Trinitas Sosial itu dengan
menjadikan secara spesifik keluarga sebagai wujud konkret komunitas. Saya berpendapat bahwa “Trinitas
keluarga” dapat menjadi dasar bagi pengembangan teologi ekonomik yang responsif terhadap konteks ekonomi
Indonesia dan Asia pada umumnya, di mana keluarga menjadi bukan hanya model hubungan sosial tetapi juga
acuan etis.
Kata-kata kunci: Trinitas sosial, teologi ekonomik, ekonomi ke-keluargaan.
Abstract:
This article explores the use of the theological concept of “social Trinity” by four theologians focusing on economic
issues. In general, those theologians suggest that the concept of “social Trinity” implies an economic theology
resisting the individualistic economy model, which puts the community at stake. They disagree on which economc
system exactly they consider worth rejecting. For Meeks and Boff, that economic model includes both the existing
market economy and socialism as had been practised in the communist countries. Novak rejects the economic
system of socialist countries whilst insisting that “democratic capitalism” is consistently trinitarian. Higginson argues
that the individualistic economy is implied in Weber’s “Protestant ethic” and often reflected in the management of
corporations. Subscribing to the economic theology based on “social Trinity,” and, at the same time, responding
specifically to the characteristics of the Indonesian context, I suggest the family as a concrete form of community. I
argue that “familial Trinity” would serve as a foundation for developing an economic theology in response to the
situation of Indonesian economy and Asian economy in general, where the family is not only a model of social
relations, but also an ethical reference.
Keywords: Social Trinity, economic theology, familial economy.
[email protected] e-mail penulis.
__________________________________________________________________________
STATUS TUHAN DALAM FILSAFAT TEORETIS IMMANUEL KANT
(MARTINUS ARIYA SETA)
Abstrak:
Di dalam filsafat teoretis Kant, status Tuhan bukan lagi transen-den tetapi transendental. Perubahan status Tuhan
menjadi transendental memiliki dampak ganda. Di satu sisi, Kant memberikan pendasaran rasionalitas konsep
Tuhan. Akan tetapi di sisi lain, Kant menghindari penegasan terhadap eksistensi Tuhan. Menurut Kant, konsep
Tuhan adalah sebuah ide regulatif. Ide regulatif tidak memiliki referensi di luar pikiran manusia. Kant hanya
menegaskan urgensi logis konsep Tuhan bagi kesatuan pengetahuan. Akan tetapi, urgensi logis tidak cukup memadai sebagai argumen pembuktian eksistensi Tuhan. Kant memisah-kan antara keternalaran dan ada. Pemisahan
ini terlihat jelas di dalam kritik Kant terhadap pembuktian ontologis. Menurut penulis, profil filsafat transendental
menjadi transparan di dalam kritik Kant terhadap pembuktian ontologis. Pengadopsian secara parsial paham dasar
rasio-nalisme dan empirisme melatarbelakangi filsafat transendental dan me-micu pemisahan antara keternalaran
dan ada yang tampak jelas di dalam kritik Kant terhadap pembuktian ontologis.
Kata-kata kunci: Konsep, transendental, keternalaran, ada, ide regulatif, pembuktian ontologis
Abstract:
In Kant’s theoretical philosophy, the status of God is not transcendent anymore, but transcendental. The
transcendental status of God has a double impact. On the one hand, the concept of God is conceivable. But on the
other hand, Kant avoids the affirmation of the existence of God. The conceivability of God is not an argument for
God’s existence because the concept of God is a regulative idea. A regulative idea has no reference outside the
mind. Kant only affirms the logical necessity of the concept of God. However, the logical necessity is not an
adequate argument for the existence of God. Kant separates between conceivability and being. The separation is
obvious in his critique toward the ontological argument. In my opinion, the profile of the transcendental philosophy
is transparent in Kant’s critique toward the ontological argument. The partial adoption of empirical and rational
principles works behind the transcendental philosophy and leads to the separation between conceivability and
being, which is visible in the Kant’s critique toward the ontological argument.
Keywords: Concept, transcendental, conceivability, being, regulative idea, ontological argument.
[email protected] e-mail penulis.
Download