Coping Strategy Industri Kecil Konveksi di Masa Krisis Keuangan

advertisement
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
Pendahuluan
Sekilas Memahami Embeddedness
Embeddedness merupakan hasil kajian dari ranah studi
sosiologi dan ekonomi, untuk menyandingkan ekonomi dengan ilmu
sosial dalam mengkaji berbagai tindakan ekonomi dalam kacamata
sosial (Mudiarta, 2011). Bidang usaha ekonomi selama ini selalu
dibahas dari kiblat ekonomi yang rasional saja, sehingga menghasilkan
solusi-solusi yang rasional pula. Padahal usaha yang bertumbuh dalam
sebuah konteks sosial, tidak bisa langsung didikte dengan ilmu
ekonomi rasional, tanpa mengkaji aspek sosial yang menjadi latar
setting usaha. Pendekatan ekonomi yang demikian menurut Zahri
Nasution cenderung parsial dan ahistoris sehingga menyebabkan
ekonomi belum bisa mencapai tujuannya untuk mensejaterahkan
masyarakat. Maka lahirlah sosiologi ekonomi yang merupakan
pengintegrasian antara teori ekonomi dan masyarakat. Tindakan
ekonomi merupakan tindakan sosial, yang dihasilkan dari relasi-relasi
sosial (Nasution, 2008).
Dalam pengertian kontemporer, suatu tindakan ekonomi pada
prinsipnya selalu melekat (embeddedness) dalam struktur sosial,
namun tidak berarti meniadakan atau melemahkan individu itu
sendiri (Mudiarta, 2009). Tindakan ekonomi lahir dalam ranah stuktur
sosial. Tindakan ekonomi itu sendiri melekat dalam relasi sosial.
Granovetter tidak mengutak-atik soal struktur sosial itu sendiri, tetapi
lebih menekankan pada jaringan sosial yang terbentuk dalam relasi
sosial tersebut.
Embeddedness diindentifikasi sebagai sifat, kedalaman dan
tingkat hubungan individu ke dalam lingkungan (Anderson and Jack,
9
2002: 468). Jadi relasi social yang terbentuk dari hubungan individu
memiliki karakteristik yang menyatu dengan lingkungan sosial.
Ditambahkan pula baru-baru ini embeddedness dikatakan sebagai
elemen pembentuk proses bisnis yang umum. (Uzzi, 1997 dalam
Anderson and Jack, 2002: 468). Karena peluang berasal dari lingkungan
dan lingkungan memiliki link dan struktur yang menjiwai bisnis itu
sendiri.
Pengambilan keputusan untuk merespon peluang dan memulai
usaha baru tidak dilakukan dalam kondisi samar-samar, melainkan
yang terlibat dalam jaringan hubungan sosial. Kondisi samar-samar bisa
menghasilkan keputusan yang tanpa pertimbangan. Individu didorong
oleh jaringan sosialnya untuk mengambil keputusan serta menjadikan
jaringan sosial sebagai item-item pertimbangan. Dengan demikian,
individu tidak memutuskan untuk memulai bisnis di ruang hampa;
sebagai gantinya mereka berkonsultasi dan dipengaruhi oleh orang lain
yang signifikan dalam lingkungan sosial mereka. (Aldrich dan Cliff,
2003).
Lingkungan sosial tidak bisa lepaskan dari konteks sosial,
sejalan dengan perspektif embeddedness social menyatakan bahwa
pengusaha tidak terisolasi atau yang disebutkan atomized pengambil
keputusan (Granovetter, 1985). Artinya pengusaha bukanlah atom
yang lepas dari konteks sosial. Pengusaha terhubung dalam jaringan
sosial yang menyediakan informasi, pengetahuan dan pengaruh
(Aldrich dan Cliff, 2003). Keterhubungan pengusaha dalam jaringan
social dikarenakan keterbatasannya sebagai individu pada ketersediaan
sumber daya yang hendak disumbangkan bagi pengembangan ikatan
atau tindakan sosial tertentu. Usaha merupakan suatu bentuk ikatan
sosial ekonomi. Karena keterbatasan individu itulah, maka ikatan
membutuhkan sumber daya lain yang dapat diperoleh melalui jaringan
yang lemah agar ikatan bisa menjadi lebih kuat.(Hayton et.al, 2011:16).
Penulis setuju dengan pemikiran Granovetter yang meletakkan
individu embedded dalam sistem sosial berupa relasi sosial yang mikro.
Artinya secara sadar individu dipengaruhi oleh relasi sosial tersebut
10
untuk menghasilkan tindakan ekonomi. Tindakan ekonomi berupa
pembentukan usaha baru misalnya, diproduksi karena interaksi
individu dengan relasi sosial di sekitarannya. Di dalam relasi sosial itu
sendiri terdapat jaringan sosial yang semakin menguatkan individu
dalam menghasilkan tindakan ekonomi.
Relasi sosial yang berisi jaringan sosial (Granovetter, 2005)
selanjutnya menjadi ranah atau field bagi individu untuk berkreasi,
merupakan pandangan penulis yang sedikit bergeser dari Granovetter.
Kreasi individu itu bahkan termasuk andilnya membentuk jaringan
sosial itu sendiri dan selanjutnya memanfaatkan jaringan sosial itu
untuk memproduksi tindakan ekonomi. Pada titik ini, Granovetter
tidak berbicara tentang pembentukan jaringan sosial tempat individu
embedded , seakan-akan jaringan itu sudah ada dengan sendirinya. Jadi
menurut penulis, tindakan individu embedded dengan struktur sosial
disekitarnya sebagai ranah bertindak memproduksi jaringan sosial
untuk semakin menguatkan tindakan individu dan struktur sosial yang
ada serta relasi di antara keduanya.
Pada tesis ini, penulis hendak menganalisis aktivitas ekonomi
yang menyatu dengan sistem jaringan sosial dalam keluarga dan
masyarakat, karena itu penulis menjadikan Embeddedness ala
Granovetter sebagai alat analisis. Granoveter bergantung pada jaringan
untuk merangkum aktor-aktor ekonomi dalam relasi-relasi sosial.
Konsepnya lebih mengarah kepada pelekatan ekonomi pada relasirelasi sosial. Analisis terhadap relasi-relasi sosial tersebut
memunculkan tindakan sosial, termasuk di dalamnya tindakan
ekonomi. Granoveter menggunakan kata embeddedness untuk
menegaskan teori jaringan sebagai metode terbaik untuk menganalisis
masalah di sekitar sosial ekonomi.Menurut Granoveter, konsep
tindakan sosial melekat (embeddedness) dalam jaringan sosial.
Penyelidikan atas pola keterlibatan individu ke dalam relasi sosial,
memberikan penjelasan yang lebih mendesak tentang perilaku dalam
konteks ekonomi.
11
Usaha yang Embedded Dengan Lingkungan Sosialnya
Usaha tidak berdiri di dalam ruang hampa, melainkan ia
dikelilingi oleh konteks sosial yang mempengaruhi pengusaha dalam
mengambil keputusan dan memunculkan tindakan ekonomi. Jika
ditilik lebih jauh, sebuah usaha ada di dalam keluarga selanjutnya
usaha dan keluarga ada di dalam masyarakat, jadi sebuah usaha
embedded dengan famili, kemudian embedded pula dengan lingkungan
sosialnya. Pengambilan keputusan seorang pengusaha tentunya sangat
terkait dengan konteks tempatnya melekat, baik keluarga maupun
masyarakat.
Pengambilan keputusan yang terjadi dalam sebuah usaha
bukanlah sesuatu yang tersamar, melainkan mereka semuanya terlibat
dalam jaringan hubungan sosial. Dalam pengambilan keputusan
tersebut mereka harus berkonsultasi dengan individu lain di
sekitarnya, untuk memulai usaha baru atau untuk melakukan
mobilisasi sumber daya yang signifikan bagi usaha yang baru tersebut
(Aldrich dan Zimmer, 1986: 6).
Tindakan ekonomi lahir dari perkawinan individu dengan
konteks tempatnya embedded, karena itu individu bukanlah seseorang
yang independen. Hal ini sejalan dengan kritik Granovetter terhadap
paradigma ekonomi neoklasik yang memandang usaha sebagai hal
yang rasional, independen dan deterministik. Asumsi ekonomi neo
klasik bahwa secara rasional individu berperilaku menurut
kepentingan diri sendiri dan sangat minim pengaruh hubungan sosial
terhadapnya. Argumen Granoveter secara tegas menyatakan bahwa
perilaku dan institusi yang dianalisis begitu dibatasi oleh hubungan
sosial yang sedang berlangsung bahwa untuk menafsirkan mereka
sebagai independen adalah kesalahpahaman yang menyedihkan.
(Granovetter, 1985: 481)
Pandangan Granovetter tentang Embeddednes ini kemudian
menjadi dasar kritikan para ahli lain, misalnya Howard Aldrich
terhadap pendekatan tradisional dan mengusulkan pendekatan
alternatif. Pendekatan tradisional berbasis pada teori kepribadian yang
12
melihat adanya ciri-ciri khas pada kepribadian seseorang yang
membuatnya mampu menjadi seorang pengusaha yang suskes.
Pengusaha tersebut rasional, independen dan deterministik. Padahal
Howard Aldrich mengatakan individu memiliki keterbatasan kognitif.
Selain itu sudah ada penelitian psikologi sosial yang membuktikan
bahawa individu sangat tergantung pada lingkungannya. Seorang
pengusaha tidaklah independen seperti dikatakan oleh pendekatan
tradisional tetapi embedded dengan lingkungan sosialnya. Model
alternatif kewirausahaan diusulkan yang mengidentifikasi kewirausahaan sebagai: (1) tertanam dalam jaringan melanjutkan hubungan
sosial, (2) difasilitasi atau dibatasi oleh hubungan antara calon
pengusaha, sumber daya dan kesempatan, dan (3) dipengaruhi oleh
interaksi kesempatan, kebutuhan, dan tujuan semua tindakan sosial
(yaitu perspektif masyarakat terhadap pembentukan organisasi dan
ketekunan).(Aldrich dan Zimmer, 1986).
Pendirian usaha baru yang terkait dengan perolehan peluang,
keputusan start-up serta mobilisasi sumber daya (Cliff dan Aldrich,
2003) membutuhkan korelasi positif antara usaha dengan konteks
sosialnya. Peluang dapat ditemukan karena dorongan kebutuhan
keluarga. Bahkan ketika keluarga bertransisi sekalipun seperti yang
terjadi di Amerika Utara dalam penelitian Jeniffer Cliff dan aldrich
(2003), justru memunculkan banyak peluang usaha baru. Pengambilan
keputusan start-up bersinggungan dengan konteks sosialnya yakni
keluarga. Mobilisasi sumber daya untuk memulai usaha baru, biasanya
dimulai dari konteks sosial usaha yakni keluarga.
Dalam rewiew beberapa literatur di atas, konsep embeddedness
dan usaha kebanyakan melihat korelasi konteks sosial dengan usaha
pada tahap pembentukan usaha baru saja. Menurut penulis, korelasi ini
berlaku pula hingga perjalanan usaha di tengah situasi sosial ekonomi
yang kondusif maupun tidak. Pertanyaan tentang bagaimana konteks
sosial dalam hal ini jaringan sosial memainkan perannya dalam roda
perputaran usaha, belum banyak dikaji. Apalagi ketika usaha berada di
13
tengah krisis, usaha terus berupaya untuk tetap berjalan, sumbangsih
konteks sosial bagi usaha tentunya sangat menarik untuk dikaji pula.
Family Embeddednees
Pengertian keluarga terkait dengan relasi kekerabatan
berdasarkan perkawinan, biologi atau adopsi dan mengharuskan bahwa
keluarga itu dibangun diatas kewajiban dan tugas minimal (Rothausen,
1999 dalam Toumbeva, 2012 : 10). Jadi keluarga tidak dibatasi pada
keluarga inti saja. Tetapi relasi kekerabatan secara vertical dan
horizontal yang terbentuk karena adanya perkawinan dan adopsi.
Relasi kekerabatan vertikal berarti keluarga inti dan keluarga ayah ibu
di atasnya. Secara horizontal relasi kekerabatan saudara sepantaran.
Family embeddedness menurut Tatiana Toumbeva adalah
sejauh mana individu tertanam dalam keluarga mereka. Individu itu
tertanam di dalam jaringan dan struktur sosial. Jadi family
embeddedness tidak sama dengan motivasi atau komitmen terhadap
keluarga. Tetapi family embeddedness lebih luas dari hal
tersebut.bahwa nantinya ada komitmen dalam keluarga, itu adalah hal
yang semakin menguatkan link atau jaringan dalam keluarga.
(Toumbeva, 2012: 11)
Seperti api hidup oleh oksigen, kewirausahaan hidup karena
adanya oksigen yang berupa: Sumber daya keuangan, sumber daya
manusia, pendidikan, kondisi ekonomi dan keluarga. Meskipun
keluarga meresapi kebanyakan usaha bisnis di sekitarnya, memberi
kontribusi berupa SDM dan keuangan bagi sebagian besar usaha dan
menyediakan sumber utama dan asal pendidikan dan nilai-nilai yang
sangat penting untuk pengusaha, penelitian kewirausahaan umumnya
mengesampingkan keluarga sebagai oksigen bagi api kewirausahaan.
Pada setiap usaha, hubungan keluarga merupakan bahan bakar utama.
Karena di dalam keluarga ada berbagai sumber daya termasuk jaringan
sosial. Kewirausahaan tidak dapat tumbuh tanpa mobilisasi kekuatan
keluarga. Keluarga yang membuat seorang pengusaha ada lewat fungsi
14
berkembang biak. Keluarga pula yang terlebih dahulu memberikan
mereka pendidikan, nilai-nilai dan pengalaman. Kemudian keluarga
memberikan kontribusi sumber daya manusia dan keuangan kepada
pemilik usaha. Sebaliknya keluarga yang memiliki dan mengelola
bisnis dapat berkembang lebih baik1.
Keluarga dan bisnis sering diperlakukan sebagai lembaga
terpisah secara alami, Howard Aldrich dan Jeniffer Cliff berpendapat
bahwa mereka saling terkait. Penelitian mereka terhadap
perkembangan keluarga di Amerika utara, membuktikkan bahwa
terjadi perubahan jangka panjang dalam komposisi keluarga dalam
peran dan hubungan anggota keluarga. Keluarga di Amerika Utara
mengalami pertumbuhan lebih kecil dan kehilangan banyak hubungan
peran mereka sebelumnya. Transisi seperti dalam lembaga keluarga
memiliki implikasi bagi munculnya peluang bisnis baru, pengakuan
peluang, keputusan bisnis start-up, dan proses mobilisasi sumberdaya.
Aldrich dan Jennifer melihat adanya perspektif embeddedness keluarga
pada penciptaan usaha baru. (Aldrich dan Jeniffer Cliff, 2003: 573).
Tulisan Howard Aldrich dan Jennifer Cliff hendak menegaskan
bahwa bisnis dan keluarga merupakan bagian yang kait-mengait satu
dengan yang lainnya. Selama ini penelitian-penelitian kewirausahaan
selama ini menganggap ada keterpisahan yang tegas antara bisnis dan
keluarga. Bisnis dan keluarga menjadi 2 subsistem berbeda yang
dibahas dalam kajian ilmu yang berbeda pula. Namun dalam penelitian
Howard dan Jeniffer terhadap transisi keluarga di Amerika utara,
mereka menemukan adanya peluang usaha yang muncul karena
transisi dalam keluarga. Selain itu muncul pula pengakuan terhadap
peluang tersebut, pengambilan keputusan memulai bisnis baru dan
proses mobilisasi sumber daya2.
Dalam
perspektif
family
embeddedness,
keluarga
mempengaruhi proses penciptaan peluang usaha baru dan selanjutnya
1
Editorial Journal of Business Venturing 18 (2003) 559–566.
2
Journal of Business Mengawali 18 (2003) 573 - 596
15
usaha baru yang telah terbentuk itu mempengaruhi perkembangan
keluarga tersebut. Keluarga pengusaha itu memiliki karakteristik
tertentu yang terkait dengan transisi, sumber daya, norma-norma,
sikap dan nilai-nilai. Karakteristik tersebut dapat mempengaruhi proses
penciptaan peluang usaha yakni pengakuan peluang yang meluncurkan
keputusan, mobilisasi sumber daya, implementasi dari strategi pendiri,
proses dan struktur. Hasil selanjutnya dari pembentukan usaha baru
adalah adanya keberlangsungan hidup, tampilan yang objektif dan
kesuksesan yang subjektif. Semua itu mempengaruhi sumber daya
keluarga pengusaha yang berpotensi memicu transisi keluarga,dan
bahkan akhirnya mengubah norma anggota keluarga, sikap dan nilainilai.
Tiga dimensi family embeddedness menurut Tatiana H.
Toumbeva adalah:pertama fit to family, kedua Link to Family dan
ketiga Sacrifice to family. Fit to family mengandung arti : (1).
Kenyamanan dengan keluarga, lingkungan atau budaya,( 2). Tingkat
perbandingan atau kesamaan antar karakteristik individu dalam hal
nilai, norma, tujuan, keyakinan, motif dan kepentingan serta rencana
untuk masa depan. (3). Tumpang-tindih antara tuntutan keluarga,
harapan dan ketrampilan kemampuan individu. (4).Sejauh mana
pemenuhan kebutuhan psikologi dan biologis oleh keluarga. Link
adalah blok bangunan dari sebuah web social, psikologi dan materi
yang meliputi lingkungan keluarga dari individu. Semakin banyak,
lebih kuat dan lebih tinggi kualitas hubungan interpersonal, lebih erat
individu tertanam di dalam keluarga.
Bisnis keluarga lebih spontan dan kreatif dalam menemukan
peluang bisnis baru dan mengelaborasikan sedemikian rupa menjadi
sebuah usaha baru. Hayton et.al melakukan study komparatif terhadap
usaha keluarga dan bukan usaha keluata, ternyata bisnis keluarga lebih
mampu menemukan peluang usaha baru, karena jaringan yang ada di
dalamnya menghubungkannya dengan sumber informasi, sumber daya
lainnya serta sumber pengaruh.Jaringan yang unik di dalam keluarga
adalah sistem kekerabatan atau Kinship dapat memberi informasi yang
16
terpercaya dan membuka jaringan semakin luas. (Hayton et.al, 2011:
16)3.
Menurut penulis, diskursus tentang family embeddedness
masih ada di sekitar start up sebuah usaha atau bisnis baru, belum
melangkah lebih jauh pada tahap menjalankan usaha. Para peneliti
melihat bagaimana peran keluarga untuk memperoleh peluang usaha,
memulai usaha baru dan melakukan mobilisasi sumber daya. Menurut
penulis kajian tentang Family embeddedness perlu dilihat juga pada
tahap-tahap selanjutnya dari start-up usaha. Salah satunya adalah
melihat konsep family embeddedness ketika usaha berjalan di tengah
krisis.
Di dalam Family embeddedness, usaha akan berrelasi dengan
yang namanya jaringan kekerabatan. Kekerabatan adalah jaringan
hubungan silsilah dan ikatan sosial dimodelkan pada hubungan silsilah
orang tua. Kekerabatan juga termasuk pernikahan dan afinitas yakni
hubungan yang berasal dari pernikahan (Scheffler, 2001).Hubungan
kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosial, peran, kategori dan
silsilah (Forte, 1969). Hubungan keluarga dapat dihadirkan secara
nyata (ibu, saudara, kakek) atau secara abstrak menurut tingkatan
kekerabatan4.
Dalam kekerabatan terkandung moral altruisme. Moral ini
bertentangan dengan logika amoral pasar. Norma-norma yang
membakar dalam jaringan kekerabatan di dalam keluarga berputar
pada satu kutub pertukaran yakni timbal balik, jangka panjang dan
umum. Sedangkan norma pasar berputar di kutub lain lagi yakni:
jangka pendek, timbal balik yang seimbang dan searah. Moral
altruisme tersebut mengakar pada domain keluarga dan diasumsikan
mengikat di berbagai bidang. Hal ini merupakan prinsip altruime
preskriptif yang disebut oleh Fortes sebagai asas kekeluargaan
3
Int. J. Entrepreneurship and Innovation Management Vol. 13, No. 1, 2011
4
http://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_kekerabatan
17
persahabatan.(Fortes, 1969 : 231-232) Salah satu nilai dalamnya adalah
berbagi tanpa perhitungan. (Bloch, 1973 : 76). Berbagi tanpa perhitungan ini tidak dapat menjadi slogan pasar.
Kekerabatan memiliki manfaat terhadap keluarga itu sendiri
dan juga bermanfaat terhadap usaha. Manfaat kekerabatan terhadap
keluarga ada di sekitar emosi, kesehatan mental, dan kohesi
kelompok (Schweitzer , 2000 : 16) Sebuah perusahaan keluarga yang
sukses dapat memfasilitasi penyatuan kembali keluarga nuklir dan
umur panjang dari sendi terbagi keluarga.
Manfaat kekerabatan terhadap bisnis yaitu mendapatkan akses
ke berbagai sumber daya. Secara universal kekerabatan menjadi
sumber modal bagi start-up suatu perusahaan. Kerabat tidak hanya
memberikan modal, tetapi juga hidup mereka selama start-up. Mereka
juga menggabungkan sumber daya mereka seperti yang dilakukan
suami-istri, teman-untuk menghasilkan modal yang cukup. Kerabat
menyediakan difus, sumber jangka panjang dukungan sosial yang olis
yang kapasitas pengusaha untuk mengambil risiko jangka pendek.
Jaringan luas affines dan kerabat juga menyediakan sumber utama
pendampingan, akses ke saluran bisnis dan pasar dan informasi5.
Konsep Habitus, Ranah,Modal Dan Strategi Sosial Ala Piere
Boerdieu
Konsep Habitus
Konsep Habitus merupakan konsep kunci dalam sintesa teori
Bourdieu. Habitus adalah produk sruktur sosial dan habitus itu sendiri
adalah struktur generatif dari praktik-paktik sosial yang mereproduksi
5 Kajian Literatur dari Alex Steward dalam artikel Help One Another, Use One
Another: Toward an Anthropology of Family Business.
18
struktur-struktur sosial. Habitus hendak menjelaskan bagaimana
individu dibentuk oleh struktur sosial. Sementara di sisi lain individu
berpeluang membentuk habitus akibat relasi sosial. Jadi, Habitus
sifatnya subyektif dan obyektif sekaligus. Habitus juga adalah mikro
(yang bekerja pada tingkat individu dan antar individu) dan sekaligus
makro (produk dari dan yang memproduksi struktur sosial).
Konsep Habitus merupakan karya Bourdieu sebagai alternatif
bagi solusi yang ditawarkan subjektivisme dan reaksi terhadap filsafat
tindakan ganjil ala strukturalisme yang mereduksi agen atau ekspresi
bawah sadar struktur. Karya ini dipandang sebagai jalan tengah
mengatasi oposisi antara dua konsepsi pengetahuan ilmiah ini dan
mengubahnya menjadi sebuah hubungan dialektis antara struktural
dan agensi.
Untuk menjelaskan bagaimana hubungan antara agensi dan
struktur yang tidak linear itu. Bourdieu mengajukan konsep khasnya
tentang Habitus dan ranah* (*akan dibahas di bagian lain).Bourdieu
sendiri mendefenisikan Habitus sebagai :
“Sistem disposisi yang bertahan lama dan bisa
dialihpindahkan, struktur yang distrukturkan diasumsikan
berfungsi sebagai penstruktur terhadap struktur-struktur
yaitu sebagai prinsip-prinsip yang melahirkan dan mengorganisasikan praktik-praktik dan representasi-representasi
yang bisa diadaptasikan secara objektif ....”
Menurut defenisi Bourdieu di atas disposisi-disposisi yang
direpresentasikan oleh habitus bersifat:
a. Bertahan lama dalam arti bertahan di sepanjang rentang waktu
tertentu dari kehidupan seorang agen.
b. Bisa dialih-pidahkan dalam arti sanggup melahirkan praktikpraktik di berbagai arena aktivitas yang beragam.
c. Merupakan struktur yang distrukturkan dalam arti
mengikutsertakan kondisi-kondisi sosial objektif pembentukannya; inilah yang menyebabkan terjadinya kemiripan
Habitus pada diri agen-agen yang berasal dari kelas sosial yang
19
sama dan menjadi justifikasi bagi pembicaraan tentang Habitus
sebuah kelas.
d. Merupakan struktur-struktur yang mengstrukturkan artinya
mampu melahirkan praktik-praktik yang sesuai dengan situasi
khusus dan tertentu.
Sekumpulan disposisi yang tercipta dan terformulasi melalui
kombinasi struktur dan sejarah personal menjadi acuan habitus.
Habitus ini tercipta karena posisi bersama dalam satu ranah memotret
pengalaman objektif yang sama dan dikawinkan dengan sejarah
personal yang subjektif. Hal ini menyebabkan individu dalam tempat
dan habitus yang sama membentuk basis pergaulan, persahabatan,
pembelajaran bersama. Jadi habitus bukan bawaan sejak lahir,
melainkan bentukan dari interaksi individu dalam ruang sosial mereka.
Proses pendidikan dan pengasuhan bersama dalam proses
panjang sejak masa kanak-kanak menghasilkan Habitus yang kemudian
menjadi semacam penginderaan kedua atau hakekat alamiah kedua.
Proses ini membentuk habitus dalam pengetahuan dan ketrampilan
yang dimiliki. Pengetahuan ini dibatinkan oleh individu sehingga
menjadi sebuah ketidaksadaran kultural.
Habitus juga mencakup pengetahuan dan pemahaman
seseorang tentang dunia yang mmberi kontribusi tersendiri pada
realitas dunia itu. Oleh sebab itu, pengetahuan seseorang memiliki
kekuasaan konstitutif -atau kemampuan menciptakan bentuk realitas
dunia- yang genuin dan bukan semata-mata refleksi dunia real. Karena
cara perkembangannya ini, habitus tidak pernah tak berubah, baik
melalui waktu untuk seorang individu, maupun dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Sebagaimana posisi yang terdapat di dalam
berbagai ranah berubah-ubah, demikian juga berbagai disposisi yang
membentuk habitus.
Konsep perubahan habitus mengalami posisi dilematis pula
namun dapat dikompromikan sehingga perubahan terjadi dengan arus
yang lambat. Perubahan habitus terjadi karena situasi perbahan yang
relatif cepat, kondisi objektif lingkungan material dan sosial tidak akan
20
sama bagi generasi baru. Karena itu praktik yang lahir adalah yang
sejalan dengan perubahan kondisi itu, karena Bourdieu mengatakan
habitus berubah-ubah pada tiap urutan atau perulangan peristiwa ke
suatu arah yang mengupayakan kompromi dengan kondisi material.
Namun kompromi tersebut mengalami bias, karena persepsi tentang
kondisi objektif itu sendiri dilahirkan dan disaring lewat habitus.
Sehingga menurut penulis, perubahan habitus mungkin saja terjadi
meski dalam ritme yang lambat.
Ranah
Agen-agen tidak bertindak dalam ruang hampa, melainkan di
dalam situasi sosial konkret yang diatur oleh seperangkat relasi sosial
yang obyektif. Agar bisa memahami tindakan agen tanpa jatuh dalam
determinisme analisis obyektif inilah, sehingga Bourdieu
mengembangkan konsep ranah.
Ranah dilihat sebagai ranah kekuatan yang di dalamnya
beragam potensi ataupun modal eksis. Ranah secara parsial otonom dan
di dalamnya berlangsung perjuangan posisi-posisi untuk memperebutkan sumber daya (modal) dn juga demi memperoleh akses
tertentu yang dekat dengan hierarki kekuasaan. Kepemilikan terhadap
modal sosial berbeda pada masing-masing aktor, baik besar atau kecil,
banyak atau sedikit, namun semua itu tidak meluputkan aktor dari
pertarungan kekuatan di dalam ranah.
Tidak saja sebagai ranah kekuatan, ranah juga merupakan
domain perjuangan memperebutkan posisi-posisi yang tersedia atau
menciptakan posisi-posisi baru. Kemudian terlibat di dalam kompetensi memperebutkan kontrol kepentingan atau sumber daya yang
khas dalam arena bersangkutan. Di dalam arena ekonomi misalnya
agen-agen saling bersaing demi modal ekonomi melalui berbagai
strategi investasi dengan menggunakan akumulasi modal ekonomi.
Sistem ranah dapat dianalogikan sebagai sebuah sistem planet
yang memiliki gaya gravitasi, mengandung energa, dan memiliki
21
semacam atmosfer yang bisa melindungi diri dari daya rusak yang
datang dari luar planet. Dengan kata lain, setiap ranah memiliki
struktur dan kekuatan sendiri, serta ditempatkan dalam suatu ruang
sosial yang mencakup banyak ranah yang memiliki keterkaitan satu
dengan yang lain dan terdapat titik-titik kontak yang saling
beehubungan (Fasri : 2007).
Memahami konsep ranah berarti mengaitkannya dengan
modal. Istilah modal digunakan Bourdieu untuk memetakan
hubungan-hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Istilah modal
memuat beberapa ciri penting, yaitu : (1) modal terakumulasi melalui
investasi ; (2) Modal bisa diberikan kepada yang lain melalui warisan
(3) modal dapat memberi keuntungan sesuai dengan kesempatan yang
dimiliki oleh pemiliknya untuk mengoperasikan penempatannya. 6
Konsep “modal” meskipun merupakan khasanah ilmu ekonomi,
namun dipakai Bourdieu karena beberapa cirinya yang mampu
menjelaskan hubungan-hubungan kekuasaan, seperti yang telah
disebutkan di atas. Berdasarkan hal itu, Bourdieu memberikan
konstruksi teoritiknya terhadap modal sebagai berikut:
“…capital is a social relation, i.e., an energy which only
exists and only produces its effects in the field in which it is
produced and reproduced, each of the properties attached to
class is given its value and efficacy by the specific laws af
each field”7
Ide Bourdieu tentang modal, lepas dari pemahaman dalam
tradisi marxian dan juga dari konsep ekonomi. Konsep ini mencakup
kemampuan melakukan kontrol terhadap masa depan diri sendiri dan
orang lain. Pembedaan kelas masyarakat bukanlah kelas terstruktur
seperti sebuah hirarki, melainkan pembedaan karena kepemilikan
6 Dikutip oleh Haryatmoko dari Patrice Bonnewitz, Premieres Lecons sur la Sociologie
de Pierre Bourdieu (1998). Lihat essay Haryatmoko, Menyingkap Kepalsuan Budaya
Pengasa, (Jurnal Basis, No. 11-12, Tahun 2003), 11
Dikutip oleh Fauzi Fashri dari Pierre Bourdieu, Distinction, (London: Routledge,
1984), Lihat Fauzi Fashri, Penyingkapan Kuasa Simbol. Ibid, 97
7
22
modal. Hasil dari pembagian dan akumulasi modal, yang menentukan
posisi dan status mereka dalam ranah.
Menurut Haryatmoko (2003), para pelaku menempati posisiposisi masing-masing yang ditentukan oleh dua dimensi: pertama,
menurut besarnya modal yang dimiliki; dan kedua, sesuai dengan
bobot komposisi keseluruhan modal mereka: “untuk memahami bahwa
sistem kepemilikan yang sama (yang menentukan posisi di dalam arena
perjuangan kelas) memiliki unsur yang dapat menjelaskan, apapun
bidang yang dikaji, konsusmsi makanan, praktik prokreasi, opini
politik atau praktik keagamaan, dan bahwa bobot yang terkait dengan
faktor-faktor yang membentuknya berbeda di satu arena dengan yang
lain, dalam arena perjuangan yang satu mungkin modal budaya,
ditempat lain mungkin modal ekonomi, arena lainnya lagi modal sosial,
dan seterusnya.”
Jenis-jenis modal yang tersebar dalam ranah digolongkan oleh
Bourdieu menjadi 4 jenis, yaitu : pertama, modal ekonomi mencakup
alat-alat produksi (mesin, tanah, buruh), materi (pendapatan dan
benda-benda), dan dengan uang yang dengn mudah digunakan untuk
segala tujuan serta diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Kedua, modal budaya adalah keseluruhan kualifikasi
intelektual yang bisa diproduksi melalui pendidikan formal maupun
warisan keluarga. Termasuk modal budaya antara lain kemampuan
menampilkan diri di depan publik, pemilikan benda-benda budaya
bernilai tinggi, pengetahuan dan keahlian tertentu dari hasil
pendidikan, juga sertifikat (gelar kesarjanaan). Ketiga, modal sosial
menunjuk pada jaringan sosial yang dimiliki pelaku (individu atau
kelompok) dalam hubungan dengan pihak lain yang memiliki kuasa.
Dan keempat, Modal simbolik yang berbentuk akumulasi dari prestise,
status, otoritas dan legitimisi.
23
Strategi Sosial
Pertarungan dalam ranah tentunya menghadirkan kompetisi
untuk memenangkan nya dengan menggunakan strategi tertentu.
Strategi digunakan dengan tujuan untuk mempertahankan dan
mengubah distribusi modal-modal dalam kaitannya dengan hirarki
kekuasaan. Jika mereka berada dalam posisi dominan maka stateginya
diarahkan kepada upaya melestarikan dan mempertahankan status quo.
Sementara yang terdominasi berusaha mengubah distribusi modal,
aturan main dan posisi-posisinya sehingga terjadi kenaikan jenjang
sosial.
Strategi berperan sebagai manuver para pelaku untuk
meningkatkan posisi mereka dalam suatu arena pertarungan.
Perjuangan mendapatkan pengakuan, otoritas, modal dan akses atas
posisi-posisi kekuasaan terikat dengan strategi yang digunakan aktor.
Bourdieu menggolongkan strategi ke dalam 5 jenis, yaitu :
1. Strategi investasi biologis, yaitu strategi kesuburan dan
pencegahan. Strategi kesuburan menggunakan pembatasan
jumlah keturunan untuk menjamin transmisi modal dengan
cara membatasi jumlah anak. Sementara strategi pencegahan
bertujuan
untuk
mempertahankan
keturunan
dan
pemeliharaan kesehatan agar terhindar dari penyakit.
2. Strategi suksesif yang ditujukan untuk menjamin pengalihan
(transmission) harta warisan antar-generasi dengan menekan
pemborosan seminimal mungkin. Misalnya penerusan usaha
dari orang tua ke anak-anaknya.
3. Strategi edukatif yang dimaksudkan untuk sebagi upaya
menghasilkan pelaku sosial yang layak dan mampu menerima
warisan kelompok sosial serta mampu memperbaiki jenjang
hierarki. Misalnya memasukan anak ke sekolah-sekolah
tertentu.
4. Strategi investasi ekonomi yang merupakan upaya
mempertahankan atau meningkatkan berbagai jenis modal
yaitu akumulasi modal ekonomi dan modal sosial. Investasi
24
modal sosial bertujuan melanggengkan dan membangun
hubungan-hubungan sosial yang berjangka pendek maupun
berjangka panjang. Agar langgeng kelangsungannya,
hubungan-hubungan sosial diubah dalam bentuk kewajibankewajiban yang bertahan ama, seperti melalui pertukaran uang,
perkawinan, pekerjaan dan waktu.
5. Strategi investasi simbolik merupakan upaya melestarikan dan
meningkatkan pengakuan sosial, legitimasi, atau kehormatan
melalui reproduksi skema-skema persepsi dan apresiasi yang
paling cocok dengan properti mereka dan menghasilkan
tindakan-tindakan yang peka untuk diapresiasi sesuai dengan
kategori masing-masing.
Elaborasi Konsep Embeddedness Dengan Konsep Piere
Bourdieu Terhadap Usaha Oleh Penulis
Embeddedness-nya sebuah usaha dengan konteks sosialnya
mengakibatkan usaha sangat dipengaruhi oleh Habitus dan ranah yang
ada di dalam konteks sosial sebagai sebuah ruang sosial. Konteks sosial
yang merupakan ruang sosial, telah terisi dengan ranah-ranah lain,
yang terhubung satu dengan yang lainnya. Ketika usaha melekat dalam
konteks sosial masuk pula dalam ruang sosial yang sama, maka akan
terhubung dengan ranah yang sudah ada sebelumnya. Keterhubungan
ini bagaikan sebuah irisan dalam bidang matematika, yang
menghasilkan sebuah ranah baru pada wilayah irisan tersebut. Jika
digambarkan ruang sosial bagaikan sebuah diagram Fenn yang di
dalamnya terdapat banyak ranah yang saling terhubung sehingga
terbentuk irisan baru atau ranah baru, demikian:
25
ranah 1
dstnya
ranah 2
ranah 6
ranah 3
ranah 5
ranah 4
Gambar 2.1
Model keterhubungan antar ranah
ranah ranah ranah ranah
4
3
2
1
Gambar 2.2
Gambar proses pembentukan ranah baru
(irisan ranah 1 dan 2 membentuk ranah baru pada irisannya, dstnya)
Posisi kait mengait antara usaha dan konteks sosial, membuat
satu dengan yang lain ter-embedded sehingga terbentuk ranah usaha
baru. Ketika kedua elemen ini ter-embedded dalam sebuah relasi maka
akan membentuk sebuah ranah baru sebagai ajang pembentukan
modal. Ranah usaha baru sebagai perkawinannya dengan konteks sosial
memberikan akses bagi individu dan konteks sosial untuk
memproduksi pula habitus sebagai struktur bersama.
Embeddedness ranah-ranah dalam ruang sosial memungkinkan
terproduksinya modal berupa modal sosial, modal ekonomi, modal
budaya yang terakumulasi dan diperebutkan oleh aktor. Aktor dengan
modal sosialnya melakukan upaya pertukaran modal sehingga aktor
bisa memiliki modal ekonomi dan modal budaya agar dapat
mempertahankan ranah usahanya.
26
Individu bisa memilih ranah mana saja untuk berjaring,
tergantung kebutuhan perjuangan individu di dalam ranah tersebut.
Jadi, relasi antar individu tidak diatasi dengan seorang saja atau sebuah
ranah saja. Individu bebas memilih dan memperjuangkan pilihan
tersebut.
Kegigihan perjuangan aktor memperebutkan modal sosial
menghasilkan akumulasi modal sosial. Akumulasi modal sosial
merupakan capaian maksimal dalam ruang sosial, karena dengan
kekayaan modal sosial aktor dapat meraih modal ekonomi, modal
budaya bahkan modal simbolik.
Habitus yang diproduksi oleh relasi antar aktor di ruang sosial,
turut mempertahankan kebelanjutan ranah usaha yang telah
terbentuk. Habitus itu diwariskan dari generasi ke generasi sehingga
tetap berkelanjutan. Habitus itu terinternalisasi dengan sangat baik
dalam wilayah family embeddedness, karena secara gamblang Bourdieu
mengatakan sosialisasi habitus terjadi karena proses pengasuhan.
Proses embeddedness terwujud dalam family embeddednees
yang mengkumulasi sejumlah modal sosial, sehingga berjuang dalam
arena/ranah untuk meraih modal yang lainnya. Modal sosial yang
berjasa dalam ajang ini adalah jaringan sosial itu sendiri yang sukses
menjadi perekat antar ranah, sehingga aktor mendapatkan akses untuk
mengakumulasi modal ekonomi dan modal budaya. Jaringan sosial
akan dibahas pada bagian selanjutnya.
Jaringan sosial sebagai perekat antar elemen yang ber-
embedded
Jaringan sosial merupakan elemen subtansi yang berada di
dalam embeddedness itu sendiri. Jaringan sosial adalah suatu
rangkaian hubungan yang teratur atau hubungan sosial yang sama di
antara individu-individu atau kelompok-kelompok (Granovetter,
27
1985). Jaringan sosial membawa pengusaha kepada sumber informasi,
sumber modal, dan peluang usaha.
Dalam perspektif embeddedness ala Granovetter, jaringan
sosial dilihat sebagai suatu keterhubungan yang dihasilkan dari
interaksi aktor dalam suatu relasi sosial. Aktor yang embedded dengan
relasi sosial, saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.
Interaksi inilah yang menghasilkan jaringan sosial dalam suatu relasi
sosial. Sehingga untuk menganalisis embeddedness individu dalam
relasi sosialnya, perlu menganalisa jaringan sosial yang terbentuk
karena aktor yang berrelasi.
Relasi sosial individu-individu memproduksi Jaringan sosial
yang merupakan keterhubungan individu dengan individu lain atau
komunitas tertentu, dalam simpul ikatan tertentu pula dengan harapan
saling memberi keuntungan (Lawang, 2004). Simpul ikatan ini
merupakan titik sama dari individu yang menjadi titik temu individuindividu yang berjaring dalam suatu relasi sosial.
Jaringan sosial dibentuk karena adanya rasa saling
membutuhkan di antara pihak-pihak yang berjaring. Kebutuhan untuk
mengetahui sesuatu, kebutuhan untuk mengakses sesuatu, kebutuhan
untuk mendapatkan sesuatu, dan kebutuhan lainnya, mendorong orang
untuk membangun jaringan dengan pihak lain. Jaringan ini ada agar
tindakan sosial maupun ekonomi dapat dilakukan dengan maksimal
atas dukungan jaringan. Dalam bahasa Lawang dikatakan agar kegiatan
dapat berjalan dengan efektif dan efisien (Lawang, 2004).
Kajian tentang jaringan oleh Granovetter menghasilkan 4 point
menarik untuk dijadikan cermin terhadap realitas. 4 hal yang menjadi
hasil kajian Granovetter terhadap jaringan sosial adalah: pertama,
Norma dan kepadatan jaringan. Kedua, lemah atau kuatnya ikatan.
Ikatan yang lemah cenderung memberikan keuntungan ekonomi bagi
pelakunya. Contohnya jika individu berkenalan dengan seorang teman
baru, maka sang individu akan mendapatkan banyak informasi baru
dari sang teman, yang tidak diperolehnya dari teman dekatnya yang
sudah lama berrelasi, karena dengan teman dekat mereka sudah
28
memiliki informasi yang sama. Ikatan yang kuat juga memberikan
manfaat dengan totalitas diri serta kesamaan visi. Ketiga, Peran lubang
struktural yang memungkinkan terbangunnya relasi individu dengan
pihak luar. Keempat, Jaringan sosial mengakibatkan interpretasi
terhadap tindakan sosial sebagai tindakan ekonomi. (Granovetter:
2005)
Menurut Granovetter, kekuatan ikatan adalah kombinasi
jumlah waktu, intensitas emosi, Keintiman yang mutual dan layanan
reprositas yang mencirikan ikatan tersebut. Kekuatan ikatan yang
demikian dimiliki oleh keluarga (Granovetter, 1973). Di dalam
keluarga dapat ditemukan curahan waktu dalam tingkat yang tinggi
intensitas emosional, keintiman dan layanan timbal balik (Hayton et,al
: 2011). Sedangkan ikatan yang lemah dimisalkan seperti ikatan dalam
relasi dengan teman baru.
Merespons pendapat Granovetter tentang ikatan yang kuat dan
lemah, Baker (1984) dan Burt (1983) memiliki pandangan yang
berbeda. Baker di tahun 1984 meneliti perilaku perdagangan pada
sebuah option market dan menemukan bahwa volatilitas harga
berkurang pada kelompok yang lebih kecil, sedangkan akan bertambah
jika kelompoknya membesar di lantai perdagangan. Oleh karena itu
ikatan jaringan yang lebih kuat dalam kelompok yang lebih kecil
memungkinkan informasi tentang harga berjalan lebih efektif dan juga
memfasilitasi pemenuhan kewajiban para pedagang satu terhadap yang
lain. Sedangkan Burt di tahun 1983 sepakat dengan Granovetter, ia
mengeksplorasi situasi yang berbeda dan menemukan bukti bahwa
sebuah jaringan social yang longgar dengan ikatan yang lemah
diasosiasikan dengan keuntungan perusahaan yang lebih besar. Burt
mengatakan bahwa Jaringan yang kaya dalam structural holes itulah
yang dibutuhkan untuk merangsang informasi dan sumber-sumber
untuk mengalir melalui jaringan seperti halnya arus listrik melalui
kabel.(Blikololong, 2012: 26)
Terhadap pendapat Granovetter tentang ikatan sosial ini,
menurut penulis individu tidak perlu memilih antara ikatan yang
29
lemah atau yang kuat. Meski Granovetter berpendapat bahwa ikatan
lemah bisa menguntungkan secara ekonomi, namun menurut penulis
segala hal memiliki manfaat. Ikatan kuat yang dibentuk karena ikatan
emosional yang kental bahkan ikatan darah, memiliki manfaat
terhadap realitas tertentu. Jadi secara teoritis ada gap pada teori ini,
yakni untuk memberi tempat pada masing-masing ikatan agar
keduanya memiliki manfaat ekonomi dalam kasus tertentu.
2 jenis ikatan yang lain adalah ikatan tidak terlekat (arms
length tie) untuk pasar yang anonym dan ikatan yang terlekat
(embedded tie) untuk relasi pertukaran yag terbentuk di luar pasar.
Uzzi dalam penelitiannya terhadap 23 perusahaan garmen menemukan
adanya kedua ikatan tersebut. Dalam ikatan yang terlekat itu ada tiga
mekanisme untuk menciptakan nilai ekonomi, yaitu trust, transfer
informasi dan pemecahan masalah bersama. Dengan adanya trust pada
pelaku pertukaran, mendorong para mitra bisnis untuk saling berbagi
informasi di antara mereka, mendorong kemungkinan bahwa informasi
tersebut relevan dan dapat dipercaya. Transer informasi memungkinkan koordinasi yang dekat, saling penyesuaian dan pemecahan
masalah bersama. Pada relasi pertukaran yang multipleks, sinergi dari
elemen-elemen tersebut sungguh luar biasa sehingga transaksi
diarahkan pada terciptanya harapan bersama. Harapan bersama ini
disebarkan kepada pihak ketiga sehingga mengembangkan ikatan dan
mendinamiskan pola ekonomi.
Jaringan sosial yang terbentuk menjadi sebuah struktur sosial
yang memposisikan masing-masing individu di tempatnya masing
otomatis dengan peran yang berbeda pula. Individu menyatu dengan
struktur dalam jaringan sosial, sehingga menghasilkan struktur sosial
baru yang komorehensif. Jadi Individu yang embedded, mengenali
struktur, berinteraksi di dalamnya dan selanjutnya menghidupkan
kembali struktur yang lama. (Anderson Et.al, 2002: 483)8
8
Jur nal of Business Venturing 17 (2002) 467 – 487
30
Terhadap struktur sosial menurut penulis individu punya
kemampuan untuk membentuk struktur baru di atas bangunan
struktur lama, sehingga menjadi sebuah struktur yang semakin luas.
Struktur yang baru tidak meniadakan struktur yang lama menurut
penulis, karena itu dibangun di atas ataupun di samping struktur yang
lama. Struktur yang lama akan tetap ada di tengah masyarakat,
sehingga terjadi akumulasi modal.
Akumulasi modal sangat mungkin terjadi menurut kajian
Bourdieu, sehingga timbul dominasi dan terdominasi dalam sebuah
ranah usaha. Dominasi dilakukan oleh aktor yang mampu
mengakumulasi modal. Sedangkan aktor yang tidak bisa mengakses
modal Jaringan ada di posisis terdominasi. Ketidakseimbangan sosial
yang demikian bisa terjadi karena ketidakmerataan modal karena posisi
sosial ekonomi individu yang berbeda, disebutkan oleh Lin sebagai
Inequality capital (Lin : 2000).
Penelitian Sebelumnya Tentang Industri Kecil Menghadapi
Krisis Keuangan Global
Ketika krisis ekonomi global terjadi pada kuartal terakhir tahun
2008, industri-industri yang berorientasi pada ekspor merupakan salah
satu di antara industri-industri yang terkena pukulan paling keras, baik
melalui penurunan permintaan maupun melalui penurunan harga
komoditas. Di industri-industri lainnya, dampak krisis semakin terlihat
nyata di semester pertama tahun 2009, namun pada kuartal empat
tahun 2009, sejumlah sektor menunjukkan tanda-tanda pemulihan
yang jelas. Permintaan dalam negeri yang terkait dengan pemilihan
umum anggota legislatif, sedikit mengurangi krisis yang terjadi.
Penelitian Bapennas bekerja sama dengan Smeru dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif dan juga kualitatif menjadi
31
referensi penting tentang dampak Krisis Global di Indonesia. 9Dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif secara umum mereka
menemukan bahwa adanya beberapa akibat merugikan yang mungkin
disebabkan oleh Krisis ekonomi Global antara bulan Mei dan July 2009,
diikuti dengan sejumlah bukti adanya pemulihan antara bulan
September dan November dan tanpa dampak krisis yang berarti pada
bulan November 2009 dan februari 2010. Hasil Penelitian kualitatif
menunjukkan bahwa tingkat keparahan dari dampak-dampak krisis
tersebut berbeda antar sektor. Terdapat sektor-sektor yang terkena
dampak yang parah dari krisis, seperti industri elektronik dan otomotif,
sementara sektor-sektor lainnya, seperti industri tekstil dan garmen,
dan sektor-sektor perikanan merasakan dampak yang lebih ringan.
Masyarakat miskin dan rentan merupakan salah satu kelompok
yang terkena dampak krisis global yang paling besar. Penelitian
kualitatif menunjukkan bahwa masyarakat miskin dan rentan dapat
terkena dampak langsung maupun tidak langsung. Dalam sejumlah
sektor ataukalangan masyarakat, kelompok-kelompok lainnya seperti
para pengusaha juga mungkin terpengaruh oleh krisis, namun mereka
biasanya memiliki aset dan/atau sumber daya produktif lainnya yang
memberikan mereka daya tahan yang lebih baik untuk mengatasi
dampak-dampak krisis. Hasil-hasil kuantitatif menunjukkan bahwa
dampak-dampak pada orang miskin lebih besar daripada untuk orang
yang tidak miskin, walaupun hal tersebut antara lain disebabkan oleh
9 Pada tahun 2009 Bapennas membentuk tim untuk melakukan monitoring terhadap
dampak krisis terhadap rumah tangga dan menemukan langkah respons terhadap krisis
tersebut. Bapennas dala hal ini bekerja sama dengan BPS dan Bank Dunia menyusun
suatu Sistem Monitoring Krisis Global (SMKG) yang mereka gunakan untuk memantau
dampak krisis global secara kuantitatif melalui survey cepat (quick survey). Penelitian
ini kemudian digandeng dengan penelitian kualitatif dari lembaga penelitian Smeru
denganmelalui pemantauan berita, pemantauan kondisi social-ekonomi masyarakat
studi kasus. SMKG diterapkan untuk memantau dan memperoleh data dari lebih dari
14.000 rumah tangga di 471 kabupaten/kota dalam selang waktu tiga bulan.
Pemantauan kuantitatif bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasikan
perubahan-perubahan “negatif” pada rumah tangga. Tujuan pemantauan kualitatif
adalah untuk memberikan suatu penilaian secara cepat untuk memantau dan
mengevaluasi dampak-dampak krisis terhadap keadaan sosial dan ekonomi masyarakat.
32
faktor-faktor yang tidak berkaitan dengan krisis seperti kenaikan harga
pangan pada triwulan ketiga tahun 2009.
Industri menjadi sektor yang cukup merasakan dampak dari
krisis keuangan global tahun 2008-2010 ini.Beberapa penelitian yang
menunjukan adanya dampak KKG Penelitian Smeru terhadap industry
tekstil dan garmen di desa Sokolon, Kabupaten Bandung, Jawa Barat
ditemukan adanya tekanan krisis global terhadap usaha. Para
pengusaha di desa itu, bertindak sebagai penyedia jasa dan berproduksi
berdasarkan pesanan pemegang merek di AS (70 persen), Eropa (27
persen), dan Afrika (sekitar 3 persen). Dampak langsung dari krisis
pertama kali dirasakan pada awal tahun 2009 dengan merosotnya
pesanan rata-rata sebesar 30 persen. Sepanjang tahun 2009, tidak ada
perusahaan yang tutup karena semua perusahaan terus berproduksi dan
melanjutkan pesanan dari tahun 2008. Namun, perusahaan-perusahaan
tersebut mengalami kesulitan dalam memperoleh pesanan untuk tahun
2010. Dampak krisis terhadap bisnis-bisnis ini mengakibatkan
menumpuknya tunggakan tagihan sewa tempat, listrik, dan telepon
bagi manajemen. Pada beberapa unit usaha krisis mengalami
penurunan menjelang akhir tahun 2009, yang ditandai dengan
penerimaan pekerja baru di unit usaha tersebut. Meskipun untuk
karyawan kontrak belum ada peluang untuk menjadi pekerja tetap di
perusahaan tersebut. Di sisi lain ada perusahan yang tutup saat
dilakukan kunjungan ketiga di bulan April 2010. Sejumlah pabrik telah
tutup,sementara lainnya mulai merekrut pekerja, walaupun dengan
pengurangan jaminan bagi parapekerja tersebut. Kontrak-kontrak
mungkin diberikan untuk jangka waktu yang lebih pendek,dan
walaupun upah minimum dibayarkan, tunjangan-tunjangan lainnya
dikurangi.
Strategi industri untuk menghadapi krisis dengan mengurangi
karyawan tetap dan diganti dengan karyawan lepas/kontrak yang
temporer sifatnya.Hal ini terjadi pada usaha perkebunan kelapa sawit
dan juga di perusahaan konveksi Damatex. Mereka yang kemungkinan
sudah mengalami krisis sejak krisis moneter 1998 dan mengalami pula
33
krisis Global di tahun 2008-2010, mengakibatkan terjadi akumulasi
persoalan. Sehingga krisis global yang sebenarnya hanya sedikit
mengganggu pasar ekspor, ternyata memberi pengaruh yang cukup
signifikan bagi perusahaan.Untuk melakukan efisiensi, 150 karyawan
dirumahkan oleh pihak Damatek. Damatex juga tidak memberi
kontrak kerja dalam waktu lama kepada kayawan. Kontrak yang sudah
ada juga seringkali tidak dilakukan perpanjangan.Perkebunan kelapa
sawit di Sumatera selatan hanya menggunakan tenaga kerja lepas, agar
lebih efisien.
Ekonomi rumah tangga yang mengalami gangguan akibat
krisis, mengatasi pembiayaan rumah tangganya dengan menggunakan
sistem jaringan kekerabatan dan pertemanan. Jaringan kekerabatan dan
pertemanan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan
karena lembaga keuangan resmi seperti Bank ataupun tukang kredit
belum bisa memberikan pinjaman di masa krisis.(Bapennas : 2010).
Penelitian tentang dampak krisis global masih lebih banyak ada
di sekitar usaha besar. Karena ada keyakinan bahwa krisis global tidak
berdampak pada usaha kecil. Padahal relasi antar usaha kecil dan besar
yang terbangun, mengakibatkan hantaman terhadap usaha besar
berefek pula terhadap usaha kecil.
Kajian terhadap usaha kecil masih cenderung melemahkan
pelaku usaha kecil sebagai sumber daya yang lemah yang
menyebabkan kemunduran usaha kecil. Hal ini dapat dilihat pada
penelitian kajian Kuncoro yang masih cendrung ambigu, di satu sisi
melihat kepemilikan usaha kecil yang merangkap sebagai pengelola
adalah sebuah kelemahan, tetapi di sisi lain melihat kebertahanan
usaha kecil di masa krisis moneter karena pemilik usaha menyatu
dengan pengelola (Kuncoro, 2000).
Kajian tentang usaha kecil juga masih cenderung melihat
tingkat pendidikan formal sebagai indikator SDM berkualitas yang
berkorelasi positif terhadap kinerja UKM. (Ardiana et.all : 2010)10
10
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol.12, No. 1, Maret 2010: 42-55
34
Kualitas dan kinerja seseorang ditentukan oleh berbagai faktor modal
yang dimilikinya. Bahkan pengalaman seseorang yang kaya tentang
sesuatu hal, lebih membuatnya berkualitas pada bidangnya dan tidak
didapatkan oleh mereka yang duduk di pendidikan formal. Sektor
UKM justru menyerap banyak tenaga kerja dari masyarakat yang tidak
bisa melanjutkan tingkat pendidikan formal yang lebih tinggi. Jadi
kajian ardiana et.all di tahun 2010 ini justru semakin menstigma
sebagian besar pelaku UKM yang tingkat pendidikan formalnya
rendah, sebagai penyebab dari kemandekan UKM.
Salah satu kajian tentang UKM Indonesia di masa Krisis
keuangan global ditulis Nur Afiah, yang melihat pelaku UKM harus
kreatif dan inovatif dalam menghadapi KKG. Menurut penulis kalau
pelaku UKM tidak kreatif dan inovatif mana mungkin UKM itu bisa
terbentuk. Karena hanya dengan daya kreatif dan inovatif lah sebuah
usaha dibentuk. Tulisan ini tidak dibangun atas penelitian lapangan
yang konkrit terhadap UKM, penulis hanya mengelaborasikan
pemikirannya sendiri. Sebaiknya pemikiran-pemikiran yang baik
didasarkan pada fakta sosial ekonomi.
Adapula kajian yang hendak melihat kemandekan usaha kecil
dari aspek struktural, tetapi masih tetap terjebak dalam paradigma
mengganggap yang kecil itu lemah dan yang besar itu lebih hebat.
Kajian Sri Wahyuningsih sebenarnya sudah melangkah melihat aspek
lain dari penyebab kemandekan terhadap IKM pakaian jadi, yakni
masalah struktural. Namun pada kesimpulan penelitian kembali
terjebak menstigma usaha kecil dengan segala kelemahannya sebagai
penyebab dari kemandekan mereka.(Wahyuningsih et.all, 2010)
35
Model Analisis
Gambar 2.3
Gambar Model Analisis Embeddedness Industri Kecil Konveksi
36
Download