proposal penelitian

advertisement
67
BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini berawal dari keberadaan
pertambangan timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang sudah
berlangsaung ratusan tahun, sehingga selama ini timah memberi andil yang besar
terhadap perekonomian wilayah Bangka Belitung. Dengan akan berakhirnya era
timah karena cadangan yang semakin menipis, maka dipastikan akan terjadi
transformasi perekonomian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari
perekonomian berbasis timah ke sektor yang lain. Sektor apa yang bisa
menggantikan posisi timah perlu dicari dan penggunaan analisis sistem dinamik
diharapkan dapat menjawab pertanyaan tersebut.
3.1
Kerangka Pemikiran
Menyusun kerangka pemikiran adalah menjawab secara rasional masalah
yang telah dirumuskan dan identifikasi dengan mengalirkan jalan pikiran peneliti
berdasarkan patokan pikir (asumsi/aksioma) sampai pada pemikiran menurut
kerangka logis (logical construct). Kerangka logis itu adalah kerangka logika
sebagaimana digunakan dalam berfikir deduktif, yang menggunakan silogisme
(syllogisme), yaitu suatu argumen (penalaran) deduktif yang valid (absah).
Adapun kerangka pemikiran yang disusun dalam penelitian ini dapat diuraikan
sebagai berikut:
3.1.1
Model Sruktur Perekonomian
Dalam I-O Interregional dapat dilihat struktur perekonomian suatu wilayah
atau Provinsi yaitu : Struktur permintaan dan penawaran, dan sekaligus melihat
peranan produksi domestik dan impor untuk memenuhi permintaan barang dan
jasa. Permintaan terhadap barang dan jasa pada suatu wilayah pada periode waktu
tertentu adalah merupakan seluruh permintaan yang digunakan oleh sektor
produksi (permintaan antara), permintaan untuk memenuhi konsumsi akhir
domestik (permintaan akhir), dan permintaan untuk ekspor. Sedangkan kalau
dilihat dari sisi penawaran adalah merupakan seluruh penawaran barang dan jasa
pada suatu wilayah pada waktu tertentu yang berasal dari produksi lokal (barang
dan jasa yang diproduksi di daerah tersebut), impor domestik barang dan jasa
68
yang di impor dari daerah lain dalam satu negara serta barang dan jasa yang
diimpor dari luar negeri.
Struktur output dapat mengambarkan peranan output sektoral dalam
perekonomian. Analisis struktur output ini dimaksudkan untuk memberikan
gambaran sektor-sektor mana saja yang mampu memberikan sumbangan yang
besar dalam perekonomian.
Struktur nilai tambah, berguna untuk melihat peranan masing-masing
sektor dalam menciptakan nilai tambah. Nilai tambah bruto adalah jasa terhadap
faktor produksi yang tercipta karena adanya kegiatan poduksi. Dalam Tabel I-O
Interregional ini, nilai tambah dirinci lagi menurut: (1) upah dan gaji, (2) surplus
usaha (sewa, bunga dan keuntungan), (3) penyusutan dan pajak tidak langsung.
Besarnya nilai tambah di tiap-tiap sektor ditentukan secara bersama-sama oleh
besarnya output (besarnya nilai produksi) yang dihasilkan dalam proses produksi.
Oleh karena itu, suatu sektor yang memiliki nilai output besar belum tentu
memiliki nilai tambah yang juga besar, karena masih tergantung pula dari berapa
besar biaya produksi yang dikeluarkan.
Struktur permintaan akhir yang dirinci berdasarkan komponennya,
yaitu:konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap,
perubahan stok dan ekspor. Barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu daerah,
selain digunakan dalam proses produksi (sebagai permintaan antara) juga
dipergunakan untuk memenuhi permintaan akhir oleh konsumen akhir.
Permintaan akhir meliputi : (1) konsumsi rumah tangga dan lembaga nirlaba, (2)
konsumsi pemerintah (pusat dan daerah), (3) investasi yang dilakukan oleh
pemerintah pusat, daerah, dan swasta, (4) perubahan stok, dan (5) ekspor ke luar
daerah atau luar negeri. Apabila seluruh komponen permintaan akhir ini
dijumlahkan dan dikurangi dengan jumlah barang dan jasa yang di impor, maka
akan sama dengan jumlah penggunaan akhir barang dan jasa yang berasal dari
faktor produksi lokal atau domestik.
Perdagangan (ekspor dan impor) yang dilakukan oleh masing-masing
Provinsi ke Provinsi lain atau luar negeri. Perdagangan antar wilayah dapat dilihat
pada struktur penawaran dan permintaan sektor produksi. Struktur permintaan
terhadap barang dan jasa memberikan gambaran berapa banyak barang dan jasa
69
yang berasal dari wilayah sendiri dipergunakan sendiri, barang dan jasa yang
diekspor ke wilayah lain di Indonesia, dan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan
faktor produksi
dan konsumsi akhir. Sedangkan dari
sisi
penawaran
memperlihatkan berapa besar output barang dan jasa yang diimpor dari wilayah
lain di Indonesia dan dari luar negeri.
Struktur tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi
yang balas jasa terhadapnya merupakan salah satu dari komponen input primer.
Sehingga sesuai dengan asumsi dasar model I-O, maka tenaga kerja memiliki
hubungan linear dengan output. Hal ini berarti bahwa naik turunnya output di
suatu sektor akan berpengaruh terhadap naik turunnya jumlah tenaga kerja di
sektor tersebut. Berdasarkan data perbandingan antara jumlah tenaga kerja
terhadap output diketahui nilai koefisien tenaga kerja (labor coefficient) yaitu
suatu bilangan yang menunjukkan besarnya jumlah tenaga kerja yang diperlukan
untuk menghasilkan satu unit keluaran (output).
Analisis tabel dasar I-O Interregional pada dasarnya adalah tabel yang
menyajikan informasi statistik yang mengambarkan besarnya nilai transaksi
barang dan jasa antar sektor ekonomi di Provinsi-Provinsi di Indonesia. Beberapa
indikator atau variabel dapat di analisis dalam tabel-tabel dasar dalam
menganalisis struktur perekonomian adalah seperti dibawah ini:
1. Struktur permintaan dan penawaran, dan sekaligus melihat peranan produksi
domestik dan impor untuk memenuhi permintaan barang dan jasa.
2. Struktur output dapat mengambarkan peranan output sektoral dalam
perekonomian.
3. Struktur nilai tambah, berguna untuk melihat peranan masing-masing sektor
dalam menciptakan nilai tambah.
4. Struktur
permintaan
akhir
yang
dirinci
berdasarkan
komponennya,
yaitu:konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal
tetap, perubahan stok dan ekspor.
5. Perdagangan
(ekspor dan impor)
yang dilakukan oleh masing-masing
Provinsi ke Provinsi lain atau luar negeri.
6. Struktur Tenaga Kerja
70
3.1.2
Model Sektor Unggulan.
Penentuan sektor unggulan ekonomi seharusnya sudah menjadi prioritas
utama setiap daerah untuk memacu perkembangan jumlah dan nilai
ekspor
sebagai barometer bagi pembangunan ekonomi masing-masing daerah. Syafrizal
(1997) menyatakan agar
prioritas pembangunan menjadi lebih kongkrit dan
tajam, maka sebaiknya masing-masing daerah dapat menentukan komoditi
keunggulan daerah yang dapat dikembangkan. Pandangan tersebut, sejalan dengan
strategi kebijakan pemerintah dengan konsep pengembangan
perwilayahan
komoditi.
Membahas produk atau komoditi unggulan yang perlu dikembangkan di
daerah, berarti memberi perhatian terhadap ketersediaan dan bagaimana
pemanfaatan sumber daya sebagai input bagi pengembangan produk terutama
pengembangan komoditi unggulan daerah. Ketersediaan dan pemanfaatan input
tersebut diharapkan pula dapat memperbesar jumlah produk yang terjual (ekspor).
Analisis Input-Output menggambarkan kaitan antar sektor sehingga
memperluas wawasan terhadap perekonomian wilayah. Dapat dilihat bahwa
perekonomian wilayah bukan lagi sebagai kumpulan sektor-sektor, melainkan
merupakan satu sistem yang saling berhubungan. Perubahan pada salah satu
sektor akan lansung mempengaruhi keseluruhan sektor walaupun perubahan itu
akan terjadi secara bertahap. Dapat digunakan untuk mengetahui daya menarik
(backward lingkage) dan daya mendorong (forward lingkage) dari setiap sektor
sehingga mudah menetapkan sektor mana yang dijadikan sebagai sektor strategis
dalam perencanaan pembangunan perekonomian wilayah. Dapat mengetahui
dampak pertumbuhan ekonomi dan kenaikan tingkat kemakmuran, seandainya
permintaan akhir dari beberapa sektor diketahui akan meningkat. Hal ini dapat
dianalisis melalui kenaikan input antara dan kenaikan input primer yang
merupakan nilai tambah (kemakmuran). Sebagai salah satu alat analisis yang
penting dalam perencanaan pembangunan ekonomi wilayah karena bisa melihat
permasalahan secara komprehensif. Dapat digunakan sebagai bahan untuk
menghitung kebutuhan tenaga kerja dan modal dalam perencanaan pembangunan
ekonomi wilayah, seandainya input-nya dinyatakan dalam bentuk tenaga kerja
atau modal. Mensinergikan sektor-sektor adalah membuat sektor-sektor terkait
71
dan saling mendukung. Dengan demikian, pertumbuhan sektor yang satu
mendorong
pertumbuhan
sektor
yang
lain,
begitu
juga
sebaliknya.
Menggabungkan kebijakan jalur cepat (turnpike) dan mensinergikannya dengan
sektor lain yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat.
Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat
secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai
tambah (added value) yang terjadi. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan
oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di wilayah tersebut juga oleh seberapa
besar terjadi transfer payment, yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar
wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah.
Boediono (1999) :
"Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka
panjang," jadi, persentase pertambahan
output itu haruslah lebih tinggi dari
persentase pertambahan jumlah penduduk dan ada kecenderungan dalam jangka
panjang bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut.
Keterkaitan sektor unggulan
dengan sektor lainnya akan mendorong
pertumbuhan sektor lainnya, keberadaan sektor-sektor yang saling terkait dan
saling mendukung akan menciptakan efek pengganda (multiplier effect). Apabila
ada satu sektor di suatu wilayah mengalami kenaikan permintaan yang berasal
dari luar wilayah, maka produksi sektor tersebut akan meningkat. Karena ada
keterkaitan dengan sektor-sektor lain, maka produksi sektor-sektor lainnya juga
meningkat dan terjadi beberapa kali putaran pertumbuhan, sehingga total kenaikan
produksi bisa beberapa kali lipat dibandingkan dengan kenaikan permintaan awal
yang berasal dari luar wilayah tersebut. Unsur efek pengganda sangat berperan
dalam membuat kota itu memacu pertumbuhan daerah dibelakangnya. Karena
terjadi peningkatan produksi berbagai sektor di daerah yang lebih maju, akan
memacu dan meningkatkan permintaan bahan baku dari daerah-daerah yang ada
di belakangnya.
Sektor unggulan bersifat mendorong pertumbuhan daerah di belakangnya.
Hal ini berarti antara wilayah yang lebih maju dengan wilayah belakangnya
terdapat hubungan yang harmonis. Daerah yang lebih maju membutuhkan bahan
baku dari wilayah belakangnya dan selanjutnya menyediakan berbagai macam
kebutuhan wilayah belakangnya untuk dapat mengembangkan diri. Apabila
72
wilayah yang lebih maju memiliki
hubungan yang harmonis dengan daerah
belakangny, maka wilayah tersebut akan berfungsi mendorong daerah
belakangnya untuk bertumbuh.
Studi ini berdasarkan pada sektor unggulan , pertumbuhan dan cenderung
berpijak konsep sektor basis dengan alasan : (1) studi ini berada dalam lingkup
ekonomi regional yang berada pada posisi ekonomi terbuka, (2) studi ini mengkaji
peranan sektor unggulan ekonomi dan distribusi pendapatan interregional, (3)
pertumbuhan produksi per kapita suatu region tidak hanya ditentukan oleh lokasi
penduduk dan aktivitas di daerah yang bersangkutan, tetapi juga oleh daerah lain,
dan (4) ekspor sebagai sektor basis yang bersifat eksogenus mampu meningkatkan
perekonomian regional melebihi pertumbuhan alamiah regional.
Model pertumbuhan intraregional merupakan keterkaitan sektor ekonomi
(produksi) dengan sektor ekonomi lain dalam regional sendiri, sedangkan
iterregional merupakan keterkaitan sektor ekonomi (produksi) terhadap sektorsektor ekonomi di luar reginal (keterkaitan dengan regional lain).
Pertumbuhan ekonomi regional
dapat diukur dari peningkatan output
regional, baik sektoral maupun agregat. Sementara itu, pertumbuhan output suatu
regional tidak hanya ditentukan oleh sejumlah faktor yang ada di dalam region
tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh perkembangan regional lain, terutama region
tetangga. Di sisi lain, aktivitas produksi memerlukan input primer dan berbagai
input antara, baik yang berasal dari wilayah sendiri maupun dari wilayah lain.
Kompensasi atas penggunaan input primer merupakan pendapatan bagi rumah
tangga, perusahaan, dan pemerintah sebagai pemilik input primer tersebut. Dalam
kaitan ini muncul persoalan yang berkaitan dengan distribusi pendapatan antara
berbagai pemilik input primer, baik intra region maupun interregional.
Penggunaan input antara mencerminkan adanya keterkaitan antara berbagai
aktivitas produksi baik intra region maupun interregional.
Salah satu keunggulan analisis dengan model I-O
adalah dapat
menganalisis seberapa jauh tingkat hubungan atau keterkaitan antar sektor
produksi. Besarnya tingkat keterkaitan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu daya
dorong ke hilir (forward linkage) atau disebut juga derajat kepekaan, dan daya
mengait ke hulu (backward linkage) atau biasa disebut daya penyebaran. Dari
73
daya penyebaran dan derajat kepekaan ini diturunkan pula indeks daya
penyebaran dan indeks derajat kepekaan. Kedua analisis di atas dapat digunakan
sebagai pedoman untuk menganalisis dan menentukan sektor-sektor unggulan
yang akan dikembangkan dalam pembangunan ekonomi suatu wilayah.
Dengan mengunakan tabel I-O Interregional Indonesia dapat ditentukan
beberapa kriteria sektor unggulan yaitu :
1. Sumbangan sektor produksi tersebut pada total output di masing-masing
daerah
(share output),
2. Sumbangan sektor tersebut terhadap nilai tambah bruto (pendapatan regional
di masing- masing daerah (share PDRB),
3. Pertumbuhan sektor ekonomi Sektoral,
4. Daya penyebaran (DP) dan
keterkaitan sektor ke hulu dan
derajat kepekaan (DK), yang merupakan
ke hilir (forward dan backward linkage)
terhadap sektor produksi lainnya,
5. Nilai multiplier output, nilai tambah bruto, tenaga kerja,
6. Perdagangan barang dan jasa, persentase nilai ekspor dari output, kontribusi
ekspor sektor terhadap total ekspor, spesialisasi ekspor atau spesialisasi
perdagangan, pembentukan investasi, persentase investasi sektor terhadap
total investasi, dan prospek sektor tersebut di masa yang akan datang, dengan
melihat potensi masing-masing daerah dan rata-rata pertumbuhan sektor
tersebut dengan mempertimbangkan kondisi daerah masing-masing.
3.1.3
Model Pertumbuhan Ekonomi.
Dalam model pertumbuhan, terutama mengenai pengaruh dari investasi
swasta terhadap pertumbuhan akan didasarkan pada alur pikir model teori
pertumbuhan baru (new growth theory) yaitu bahwa pertumbuhan ekonomi dalam
jangka panjang hanya dapat tercipta apabila ada kemajuan teknologi yang
endogen dan pengembangan sumber daya manusia (Todaro, 2003).
Terdapat dua model dalam teori pertumbuhan baru untuk menjelaskan teori
pertumbuhan endogen yaitu model R & D dan model Modal Manusia (Romer,
2001). Dalam model modal manusia telah menekankan pentingnya kemajuan
teknologi dan akumulasi modal manusia. Kemajuan teknologi tentunya harus
disertai dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Sedangkan modal
74
manusia yang dimaksud disini yaitu; kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan
per pekerja.
Salah satu asumsi dari model modal manusia adalah bahwa output
diproduksi dengan menggunakan tiga input yaitu modal (K), modal manusia (H),
dan A adalah tenaga kerja efektif. Model ini juga menjelaskan bahwa semakin
tinggi tingkat pendidikan yang memiliki pekerja, semakin tinggi pula modal
manusia yang dimilikinya. Dilihat dari kenyataan aspek ekonomi mikro bahwa
setiap tambahan tahun pendidikan meningkatkan upah individu dengan persentase
yang sama. Jika upah mencerminkan jasa tenaga kerja yang individu berikan
maka output meningkat melalui penciptaan modal manusia.
Teori pertumbuhan endogen (new growth theory) menekankan bahwa
sumber-sumber pertumbuhan output tidak hanya didorong investasi fisik seperti
banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu, tetapi yang jauh lebih penting adalah
investasi sumber daya manusia seperti pengeluaran pemerintah dalam bidang
pendidikan dan pentingnya pengeluaran pemerintah dalam R & D [(Todaro
(2003), Romer (2006)].
Implikasi dari new growth theory dalam jangka panjang adalah investasi
sangat penting dan merupakan determinan utama untuk mendorong percepatan
pertumbuhan ekonomi suatu negara dan pertumbuhan itu sendiri didorong oleh
adanya faktor eksternal yang bersifat positif dari investasi dan produksi.
Berdasarkan new growth theory, pertumbuhan ekonomi merupakan fungsi dari
modal manusia (HC), tenaga kerja (L) dan kapital (K), dimana K, terdiri dari dari
investasi swasta (IS) dan investasi pemerintah (IP).
Modal manusia (human capital, HC) dalam new growth theory memiliki
peranan penting dalam proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Model
modal manusia menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan yang
dimiliki pekerja, semakin tinggi pula modal manusia yang dimilikinya (Romer,
2006). Dapat dikatakan bahwa modal manusia merupakan salah satu faktor yang
dapat mendorong meningkatnya produktivitas kerja dan output yang dihasilkan,
sehingga dapat mendorong pertumbuhan GDP riil. Sebaliknya, ketika kualitas
tenaga kerja rendah maka tenaga kerja yang bersangkutan menjadi tidak produktif
dan tidak optimal dalam menghasilkan output. Fakta empiris mengenai pengaruh
75
human capital terhadap pertumbuhan ekonomi, misalnya dapat dilihat dari hasil
empiris Gylfason dan Zoega (2000), Lachler dan Aschauer (1998), serta
Schularick dan Steger (2007).
Meningkatnya investasi akan mendorong tumbuhnya lahan kerja baru dan
bermuara pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jhingan (2002)
berpendapat bahwa investasi merupakan suatu alat untuk mempercepat
pertumbuhan tingkat produksi di negara sedang berkembang. Dengan demikian
jelaslah bahwa penting dan strategisnya peranan investasi untuk menciptakan
kesempatan kerja dalam pertumbuhan ekonomi.
Harrod dan Domar memberikan peranan kunci kepada investasi didalam
proses pertumbuhan ekonomi, khususnya mengenai watak ganda yang dimiliki
investasi. Pertama ia menciptakan pendapatan, kedua ia memperbesar kapasitas
produksi perekonomian dengan cara meningkatkan stok modal.
Setiap peningkatan investasi swasta akan meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk menghasilkan output. Investsi swasta diarahkan kepada usaha
untuk memperluas skala produksi dan usaha pemanfaatan secara penuh sumbersumber yang ada dalam suatu wilayah/negara, sehingga investasi dapat menaikkan
output nasional dan pertumbuhan ekonomi. Investasi swasta sebagai komponen
perekonomian yang tidak stabil karena sifatnya yang fluktuatif. Karenanya,
investasi swasta ditempatkan sebagai determinan terpenting untuk menentukan
tingkat pertumbuhan ekonomi. Hasil penelitian empiris mengenai pengaruh
investasi swasta terhadap pertumbuhan ekonomi, misalnya dapat dilihat dari Khan
dan Reinhart (1990), Sturm, Kuper, dan Haan (1996), Lachler dan Aschauer
(1998), Krishna (1997), serta M’Amanja dan Morrisey (2006).
Dampak investasi pemerintah terhadap output dapat ditelusuri dari pendapat
Barro dan Sala-i-Martin (1992), yang mengatakan pula bahwa pengeluaran
produktif pemerintah akan berkorelasi secara positif terhadap pertumbuhan
ekonomi. Pengeluaran pemerintah produktif yang dimaksud adalah pengeluaran
pemerintah dalam bentuk investasi meliputi investasi fisik, investasi sumberdaya
manusia dan investasi R & D. Jenis pengeluaran pemerintah seperti inilah yang
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Pengeluaran pemerintah
mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan melalui dua mekanisme :
76
Pertama, melalui peningkatan kuantitas faktor produksi dan kemudian
menyebabkan peningkatan dalam pertumbuhan output. Contoh pengeluaran dalam
kategori ini disebut investasi publik dalam infrastruktur dan investasi dalam
perusahaan publik. Kedua, yaitu secara tidak langsung melalui peningkatan
tambahan produktivitas faktor-faktor produksi yang disediakan oleh sektor swasta.
Contoh pengeluaran dalam kategori ini adalah investasi dalam pendidikan,
kesehatan dan sektor-sektor yang mempengaruhi akumulasi modal manusia.
Kaitannya dugaan adanya kausalitas antara investasi pemerintah dan
investasi swasta dengan pertumbuhan ekonomi, dapat dikemukakan bahwa
pengeluaran pemerintah atau investasi pemerintah dalam bidang bidang
pendidikan, kesehatan masyarakat, perhubungan, angkutan, dan bidang lainnya
yang menyangkut hajat orang banyak seperti penerangan, air bersih, tenaga listrik,
pengairan, dan sistem drainase tentu akan mendorong investasi swasta, sehingga
pada akhirnya dapat mendorong pertumbuhan output (pertumbuhan ekonomi).
Jadi pengaruh investasi pemerintah terhadap investasi swasta adalah pengaruh
tidak langsung.
Selanjutnya, variabel tenaga kerja (L), diduga memiliki pengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi. Semakin sedikit penduduk yang menganggur (full
employment) maka pertumbuhan GDP riil akan meningkat sejalan dengan
meningkatnya output yang dihasilkan oleh tenaga kerja. Teori ekonomi klasik
secara umum mengatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi adalah penduduk dan produktivitas kerja. Demikian juga
dalam teori pertumbuhan ekonomi Neo Klasik Solow-Swan, dikemukakan bahwa
yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi selain tabungan dan kemajuan
teknologi adalah kuantitas dan kualitas tenaga kerja. Sedangkan dalam teori
pertumbuhan
baru
(new
growth)
dijelaskan
tentang
pentingnya
peran
pengembangan sumber daya manusia (human capital) dan efektifitas tenaga kerja
dalam mempengaruhi pertumbuhan. Tenaga kerja yang berkualitas dan efektif
merupakan faktor yang dapat mendorong meningkatnya produktivitas kerja dan
output yang dihasilkan, sehingga dapat mendorong pertumbuhan GDP riil.
Sebaliknya, ketika kualitas tenaga kerja rendah dan tidak dapat dimanfaatkan –
menganggur – maka tenaga kerja yang bersangkutan menjadi tidak produktif dan
77
tidak optimal dalam menghasilkan output. Ketika tingkat pengangguran makin
meningkat, maka jumlah output yang dihasilkan akan menurun, sehingga dapat
berpengaruh terhadap pertumbuhan GDP riil.
Selanjutnya Jika pendapatan nasional atau produk nasional Bruto (GNP/
Gross National Product) dinotasikan dengan Y, maka komponen utama
perbelanjaan agregat atau permintaan agregat terdiri dari empat komponen dasar
yaitu : total permintaan barang dan jasa oleh konsumen swasta (C)
total
permintaan barang investasi oleh perusahaan-perusahaan swasta (I) permintaan
barang dan jasa untuk konsumsi maupun untuk investasi pemerintah (G) surplus
neraca perdagangan atau selisih ekspor atas impor (EX – IM). (Blanchard, 2000).
Dari hal tersebut berarti bahwa ekspor dan impor dapat mempengaruhi pertubuhan
ekonomi suatu daerah, semakin besar nilai surplus neraca perdagangan suatu
Negara atau suatu daerah, maka
perekonomian semakin besar pula
pertumbuhannya dan sebaliknya.
Menurut teori basis Ekspor oleh Charles M.Tiebout (dalam Blanchard,
2000), ekspor daerah merupakan penentu dalam Pertumbuhan pembangunan
ekonomi.Teori basis ekspor menyebutkan ekspor tidak hanya mencakup
barang/jasa yang dijual ke luar daerah tetapi termasuk juga di dalamnya barang
atau jasa yang dibeli orang dari luar daerah walaupun transaksi itu sendiri terjadi
di daerah tersebut yang mendatangkan uang dari luar daerah.
Harry W. Richardson (dalam Blanchard, 2000) dalam bukunya Elements of
Regional Economics memberi uraian bahwa pertumbuhan pendapatan suatu
daerah sangat tergantung dari ekspor (EX) dan impor (IM) suatu daerahnya
Menurut Richardson, besarnya basis ekspor adalah fungsi terbalik dari
besarnya suatu daerah. Artinya, makin
besar impor suatu daerah, ekspornya
semakin kecil apabila dibandingkan dengan total pendapatan, demikian pula
impornya. Hal ini membuat daerah yang besar cenderung memiliki K yang tinggi
karena rasio pendapatan ekspor adalah rendah, tetapi m juga rendah dan ini
cenderung menaikkan K. Sebaliknya, daerah yang kecil maka rasio pendapatan
ekspornya adalah tinggi, tetapi m juga tinggi dan ini cenderung menurunkan K.
jadi, K bisa berubah apabila luas daerah analisis diubah. Dengan demikian, K sulit
78
dijadikan pegangan tunggal dalam peramalan apabila luas daerah berubah dari
satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya.
Menurut Nopirin (1995) teori basis ekspor (base export theory) (EX) yang
menganggap ekspor satu-satunya kegiatan untuk mendorong tumbuhnya jenis
pekerjaan baru. Jadi pertumbuhan ekonomi regional sangat tergantung kepada
aktivitas ekspor.
Sedangkan dalam model pertumbuhan interregional, yang
merupakan perluasan dari teori basis ekspor, menganggap bahwa pertumbuhan
ekonomi regional terjadi tidak semata-mata disebabkan oleh aktivitas ekspor
tetapi juga disebabkan oleh variabel lainnya seperti : (1) investasi dan pengeluaran
pemerintah, (2) pertumbuhan daerah lain yang berada dalam satu sistem, dan (3)
pertumbuhan dalam hasrat konsumsi
marginal, koefisien perdagangan
interregional, dan tingkat pajak marginal.
Dalam model pertumbuhan interregional / analisis I-O interregional,
menunjukkan bahwa ada tiga hal utama yang berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonomi daerah, yaitu : (1) investasi pengeluaran pemerintah, (2) tenaga kerja dan
(3) perdagangan antara daerah (ekspor-impor daerah).
Syafrizal (1997). Sektor unggulan ekonomi adalah prioritas utama setiap
daerah untuk memacu perkembangan jumlah dan nilai ekspor sebagai barometer
bagi pembangunan
ekonomi masing-masing daerah. Membahas produk atau
komoditi unggulan
berarti memberi perhatian terhadap ketersediaan dan
bagaimana pemanfaatan sumber daya sebagai input bagi pengembangan produk
terutama
pengembangan
pemanfaatan input tersebut
komoditi
unggulan
daerah.
Ketersediaan
dan
dapat memperbesar jumlah produk yang terjual
(ekspor).
Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat
secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai
tambah (added value) yang terjadi. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan
oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di wilayah tersebut juga oleh seberapa
besar terjadi transfer payment, yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar
wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah.
Boediono (1985) :
"Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka
panjang," jadi, persentase pertambahan
output itu haruslah lebih tinggi dari
79
persentase pertambahan jumlah penduduk dan ada kecenderungan dalam jangka
panjang bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut.
Keterkaitan sektor unggulan dengan sektor lainnya (Nazara 1997) akan
mendorong pertumbuhan sektor lainnya, keberadaan sektor-sektor yang saling
terkait dan saling mendukung akan menciptakan efek pengganda (multiplier
effect). Apabila ada satu sektor di suatu wilayah mengalami kenaikan permintaan
yang berasal dari luar wilayah, maka produksi sektor tersebut akan meningkat.
Karena ada keterkaitan dengan sektor-sektor lain, maka produksi sektor-sektor
lainnya juga meningkat dan terjadi beberapa kali putaran pertumbuhan, sehingga
total kenaikan produksi bisa beberapa kali lipat dibandingkan dengan kenaikan
permintaan awal yang berasal dari luar wilayah tersebut. Unsur efek pengganda
sangat berperan dalam membuat wilayah
itu memacu pertumbuhan daerah
dibelakangnya. Karena terjadi peningkatan produksi berbagai sektor di daerah
yang lebih maju, akan memacu dan meningkatkan permintaan bahan baku dari
daerah-daerah yang ada di belakangnya.
Sektor unggulan bersifat mendorong pertumbuhan daerah di belakangnya.
Hal ini berarti antara wilayah yang lebih maju dengan wilayah belakangnya
terdapat hubungan yang harmonis. Daerah yang lebih maju membutuhkan bahan
baku dari wilayah belakangnya dan selanjutnya menyediakan berbagai macam
kebutuhan wilayah belakangnya untuk dapat mengembangkan diri. Apabila
wilayah yang lebih maju memiliki
hubungan yang harmonis dengan daerah
belakangny, maka wilayah tersebut akan berfungsi mendorong daerah
belakangnya untuk bertumbuh.
Studi Azis (1996) berdasarkan pada sektor unggulan dan pertumbuhan
yang berpijak pada konsep sektor basis : (1) studi berada dalam lingkup ekonomi
regional yang berada pada posisi ekonomi terbuka. (2) studi mengkaji peranan
sektor unggulan ekonomi
dan distribusi
pendapatan
interregional, (3)
pertumbuhan produksi per kapita suatu region tidak hanya ditentukan oleh lokasi
penduduk dan aktivitas di daerah yang bersangkutan, tetapi juga oleh daerah lain,
dan (4) ekspor sebagai sektor basis yang bersifat eksogenus mampu meningkatkan
perekonomian
regional melebihi
pertumbuhan alamiah regional. Model
pertumbuhan intraregional merupakan keterkaitan sektor ekonomi (produksi)
80
dengan sektor ekonomi lain dalam regional sendiri, sedangkan iterregional
merupakan keterkaitan sektor ekonomi (produksi) terhadap sektor-sektor ekonomi
di luar reginal (keterkaitan dengan regional lain).
Pertumbuhan ekonomi regional
dapat diukur dari peningkatan output
regional, baik sektoral maupun agregat. Sementara itu, pertumbuhan output suatu
regional tidak hanya ditentukan oleh sejumlah faktor yang ada di dalam region
tersebut, tetapi juga dipengaruhi oleh perkembangan regional lain, terutama region
tetangga. Di sisi lain, aktivitas produksi memerlukan input primer dan berbagai
input antara, baik yang berasal dari wilayah sendiri maupun dari wilayah lain.
Dengan
demikian
dapat
di
simpulkan
bahwa
sektor
unggulan
dapat
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu daerah, semakin bertumbuh sektor
unggulan pada suatu daerah semakin meningkat pula pertumbuhan
ekonomi
daerah tersebut.
Mengunakan tabel I-O Interregional (IRIO) dapat ditentukan sektor
unggulan ekonomi suatu daerah yaitu :
Keterkaitan sektor ekonomi sektoral
kebelakang (backward linkage) BWL keterkaitan sektor ekonomi sektoral ke
depan (forward linkages) FWL yang merupakan keterkaitan sektor ke hulu dan
ke hilir
terhadap sektor produksi lainnya,
dampak sektor ekonomi sektoral
terhadap output (DO) dan dampak sektor terhadap Nilai Tambah Bruto (DNTB)
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka model pertumbuhan ekonomi
(Growth) diformulasikan sebagai fungsi dari :
Growth
0
1
Kt
TK it
2
it
……………………………...………. (2.66)
dimana : K adalah Kapital dan TK adalah tenaga kerja.
Dengan mengasumsikan bahwa kapital (K) dapat dibentuk oleh investasi sektor
swasta (INVS) dan investasi sektor pemerintah (INVG), sehingga persamaan
(2.66)
menjadi: Growth
0
1
INVS it
2
INVG it
TK it
3
it
………………. (2.67)
Pertumbuhan pendapatan suatu daerah sangat tergantung dari ekspor (EX)
dan impor (IM) suatu daerahnya. Selanjutnya dengan mengasumsikan bahwa
ekspor dan impor dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, maka persamaan
(2.67) menjadi:
81
Growth
0
1
INVS it
2
INVG it
TK it
3
4
EX it
5
IM it
it
…… (2.68)
Sektor unggulan merupakan sektor ekonomi sektoral yang dapat menarik sektor
yang berada dibelakangnya (BWL) dan mendorong sektor ekonomi sektoral yang
berada didepannya (FWL) untuk dapat berkembang dan bertumbuh, serta sektor
ungulan sektoral dapat pula berdampak terhadap pertumbuhan output (DO) dan
berdampak terhadap permbuhan nilai tambah bruto (DNTB). Dengan demikian
sektor unggulan dapat mempengaruhi pertumbuhan perekonomian suatu daerah.
Sehingga persamaan (2.68) menjadi:
Growth
6
0
BWLit
3.1.4
1
7
INVS it
FWLit
2
8
INVG it
DOit
3
9
EX it
DNTB it
4
it
IM it
5
LnTK it
..................................... (2.69)
Model Dampak Sektor Unggulan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Dampak sektor unggulan pada pertumbuhan ekonomi daerah merupakan
dampak pertumbuhan sektor unggulan terhadap pertumbuhan output, nilai tambah
bruto, dan pertumbuhan tenaga kerja. Besarnya Shock pada masing-masing sektor
adalah sebesar nilai pertumbuhan sektor unggulan tersebut. Dampak pertumbuhan
sektor unggulan ini akan dirasakan dampaknya didalam provinsi yang
bersangkutan (intraregional) dan diprovinsi lainnya di Indonesia (interregional).
Dampak pertumbuhan output, dalam model I-O, output memiliki
hubungan timbal balik dengan permintaan akhir dan output tersebut. Artinya
jumlah output yang dapat diproduksi tergantung dari jumlah permintaan akhirnya.
Namun demikian dalam keadaan tertentu, output justru yang menentukan jumlah
permintaan
akhirnya.
Konsep
multiplier
adalah
sangat
penting
dalam
perencanaan, karena angka tersebut memberikan gambaran atau ukuran dampak
peningkatan output suatu sektor terhadap total output di suatu wilayah.
Dampak nilai tambah bruto adalah input primer yang merupakan bagian
dari input secara keseluruhan. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam
penyusunan table I-O, maka hubungan antara nilai tambah bruto dengan output
bersifat linier. Artinya, kenaikan atau penurunan output akan diikuti secara
proporsional oleh kenaikan dan penurunan input primer (nilai tambah bruto).
Dampak kebutuhan tenaga kerja, output dapat memberikan estimasi
kebutuhan atau daya serap tenaga kerja sektoral di region-region (Provinsi–
82
Provinsi) yang terkait dalam studi ini, apabila terjadi kenaikan pada output
sektoral yang dipengaruhi, oleh komponen-komponen permintaan akhir
Adapun langkah-langkah dalam penghitungan analisis dampak adalah
sebagai berikut:
a. Menghitung Koefisien Input
Untuk menghitung matriks pengganda, tahap awal yang perlu dilakukan
adalah menghitung koefisien input yang didefinisikan sebagai:
aij =
xij
Xj
Dimana
aij = koefisien input sektor ke i oleh sektor ke j
Xj = output sektor ke j (dalam nilai rupiah)
xij = penggunaan input sektor ke i oleh sektor ke j (dalam nilai rupiah)
Dalam suatu tabel I-O transaksi domestik atas dasar harga produsen, matriks
koefisien input yang merupakan kumpulan berbagai koefisien input disebut
sebagai matriks Ad.
b. Menghitung (I - Ad)
Setelah memperoleh matriks Ad, tahap selanjutnya adalah mengurangkan matriks
I (matriks identitas) dengan matriks matriks Ad
c. Menghitung Matriks Pengganda
Matriks pengganda didefinisikan sebagai matriks kebalikan (inverse matrix)
dari (I - Ad).
B = (I - Ad )-1
dimana:
B
A
= matriks pengganda
d
= matriks koefisien input domestik (yang diperoleh dari tabel I-O transaksi
domestik atas dasar harga produsen)
83
d. Menghitung analisis dampak
1). Dampak Output
Output dalam IO dihitung dengan rumus:
X = (I-Ad)-1 Fd
Dimana:
X
= output
(I-Ad)-1
= matrik pengganda
d
F
= permintaan akhir
2). Dampak Nilai Tambah Bruto
Nilai Tambah Bruto (NTB) adalah input primer yang merupakan bagian dari
input secara keseluruhan. Sesuai dengan asumsi dasar yang digunakan dalam
penyusunan tabel I-O, maka hubungan antara NTB dengan output bersifat
linier. Artinya kenaikan atau penurunan output akan diikuti secara
proporsional oleh kenaikan dan penurunan NTB. Hubungan tersebut dapat
dijabarkan dalam persamaan berikut:
V = Vˆ X
Dimana:
V
= matriks NTB
Vˆ
= matriks diagonal koefisien NTB
X
= (I - Ad)-1 Fd atau (I - A)-1 F
3). Dampak Kebutuhan Tenaga Kerja
Sesuai dengan asumsi dasar model I-O, maka tenaga kerja memiliki hubungan
linear dengan output. Hal ini berarti bahwa naik turunnya output di suatu
sektor akan berpengaruh terhadap naik turunnya jumlah tenaga kerja di sektor
tersebut.
L = Lˆ ( I - Ad )-1 F d
Dimana:
L
= Kebutuhan tenaga kerja yang dipengaruhi oleh permintaan akhir
L̂
= Matriks diagonal koefisien tenaga kerja
d -1 d
(I-A ) F = Output yang dipengaruhi permintaan akhir
84
3.2
Pemodelan Sistem Dinamis Transformasi Struktur Perekonomian
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Pembangunan berkelanjutan dalam konteks usaha pertambangan adalah
transformasi sumberdaya tidak terbarukan menjadi sumberdaya pembangunan
terbarukan, peningkatan nilai tambah pertambangan harus berbasis sumberdaya
setempat atau nasional, berbasis masyarakat dan berkelanjutan (Amin et al, 2003).
Inti dari azaz pembangunan berkelanjutan dalam pemanfaatan sumberdaya
mineral adalah mengupayakan agar sumberdaya mineral dapat memberikan
kemanfaatan secara optimal bagi manusia pada masa kini tanpa mengorbankan
kepentingan generasi mendatang.
Dengan argumentasi bahwa cadangan sumberdaya mineral suatu saat pasti
akan habis, maka perlu dicarikan sektor alternatif yang dijadikan sebagai basis
perekonomian di masa depan. Menurut Margo (2005), struktur ekonomi akan
berubah signifikan jika dilakukan perubahan mendasar tentang keterkaitan antar
sektor dalam sistem perekonomian. Dengan kata lain melalui pendekatan hulu
hilir (pohon industri) perubahan struktur perekonomian akan berjalan jauh lebih
cepat menuju struktur ekonomi yang seimbang bila dibandingkan dengan kondisi
awal (tanpa dilakukan transformasi). Menciptakan keterkaitan ekonomi antara
sektor hulu dan hilir menjadi prasyarat agar basis industri menjadi kuat dan efisien
sehingga industri yang berkembang dapat mendorong tumbuh kembangnya
kegiatan ekonomi lokal sehingga pada akhirnya daerah akan dapat tumbuh dan
berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
Dalam perspektif pembangunan wilayah Provinsi Kepulauan Bangka
Belitung transformasi struktur ekonomi berbasis pertambangan ke pengembangan
sumberdaya non tambang yang terbarukan berdasarkan potensi sumberdaya alam
setempat dapat mengganti peran pertambangan yang mengarah kepada
keberlanjutan pembangunan Provinsi tersebut secara bertahap, terencana dalam
jangka pendek, menengah dan panjang. Kegagalan transformasi struktur ekonomi
akan mengakibatkan pembangunan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak
berkelanjutan saat tambang habis.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa kondisi perekonomian
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama 200 tahun dipengaruhi oleh sektor
85
pertambangan timah. Oleh karena aktivitas sektor pertambangan termasuk dalam
kelompok sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui, maka perlu dicarikan
alternatif pengembangan sektor ekonomi lainnya, sehingga pembangunan Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung dapat berkelanjutan.
Sebagai salah satu pendekatan dalam dalam permodelan kebijakan,
metodology system dynamics telah dan sedang berkembang sejak diperkenalkan
pertama kali oleh Jay.W.Forrester pada dekade 50- an. Metodologi ini muncul
sewaktu kelompok Jay Forrester melakukan riset di MIT dengan mencoba
mengembangkan manajemen industri guna mendesain dan mengendalikan sistem
industri (yang merupakan sebuah sistem sosial yang kompleks). Mereka mencoba
mengembangkan metode manajemen untuk perencanaan industri jangka panjang.
Kemudian mereka mengembangkan suatu sistem yang terdiri atas enam jaringan
"flow" yang saling berinteraksi, yaitu: material, order, uang, personil, kapital dan
informasi. Sistem ini kemudian diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1961
dengan judul "Industrial Dynamics".
Proyek penelitian besar kedua setelah "Industrial Dynamics" yang dilakukan
Jay Forrester adalah upaya menjelaskan perkembangan kota yang dipublikasikan
dalam buku Urban Dynamics (1969), Darmono (2005). Buku ini mencoba
menjelaskan siklus suatu kota melalui model yang dikembangkannya, serta
menganalisis
beberapa
penyebab
pertumbuhan
dan
penurunan
dalam
perkembangan kota serta menguji efek dari suatu program perbaikan kota,
termasuk membangun perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah,
pelatihan kerja serta pembangunan perusahaan-perusahaan baru terhadap
pertumbuhan kota.
Bersamaan dengan perkembangan fundasi teoritis, berkembang pula
sejumlah software yang ikut mendukung sehingga penggunaan metodologi System
Dynamics sebagai salah satu pemodelan menjadi lebih efisien. Saat ini
berkembang software- software yang bukan cuma memudahkan pemakai untuk
membangun model, tetapi juga untuk melakukan simulasi dan berbagai uji
sensitivitas model, antara lain ithink/Stella, PowerSim dan Vensim.
86
3.2.1 Prinsip Dasar System Dynamics
a. Analisis Sistem
Dasar metodologi System Dynamics adalah amalisis sistem. Suatu sistem,
diartikan sebagai seperangkat elemen yang saling berinteraksi satu sama lain.
Komponen suatu sistem saling berkaitan dengan pola hubungan yang berbeda,
sedangkan antara sistem dengan lingkungannya (system environment), pola
hubungannya sangat terbatas. Suatu sistem dapat terdiri atas beberapa sub-sistem,
dimana definisi sistem juga berlaku di dalamnya. Interaksi yang terjadi di
dalamnya sepanjang waktu akan mempengaruhi keadaan komponen-komponen
sistem. Struktur sistem (structure system) ditentukan oleh hubungan antara
elemen-elemennya. Batas sistem (system boundary), akan memisahkan sistem dari
lingkungannya
System Dynamics mencoba untuk menjelaskan perilaku dari berbagai
tindakan dalam sebagian sistem. Sistem semacam ini disebut sebagai sistem
tertutup (inherent/closed system). Hal ini bukan berarti mengabaikan hubungan
antara sistem dan lingkungannya, melainkan bahwa setiap variable eksternal yang
tidak memiliki efek terhadap sistem juga tidak akan dipengaruhi oleh sistem itu
kembali.
Dinamika perilaku suatu sistem sangat ditentukan oleh struktur lingkar unpan
balik (feedback loops). Pada sistem tertutup terlihat adanya ciri-ciri sifat dinamis
dari suatu sistem, oleh karena itu dalam metode System Dynamics arah perhatian
lebih ditujukan pada sistem tertutup atau sistem umpan balik. Sistem umpan balik
ini merupakan blok pembentuk model yang diungkapkan melalui lingkaranlingkaran tertutup. Lingkar umpan balik tersebut menyatakan hubungan sebab
akibat variabel-variabel yang melingkar, bukan menyatakan hubungan karena
adanya koreksi- koreksi statistik
Dalam hubungannya dengan pembentukan struktur model mengikuti metode
ilmiah terdahulu, model yang dibangun melalui analisis struktural (berdasarkan
pendekatan system thinking) dimungkinkan untuk mempunyai titik kontak yang
banyak. Dalam paradigma system thinking, struktur fisik maupun struktur
pengambilan keputusan di atas diyakini dibangun oleh unsur-2 yang saling
bergantung dan membentuk suatu lingkar tertutup (closed-loop atau feedback-
87
loop). Hubungan unsur-unsur yang saling bergantung itu merupakan hubungan
sebab-akibat umpan balik dan bukan hubungan sebab-akibat searah (Senge,1990).
Lingkar umpan- balik ini merupakan blok pembangun (building block) model
yang utama, dan konsep ini telah melekat dalam sebagian besar dasar-2 ilmu
sosial dan teori sistem (Richardson,1991, dalam Darmono, 2005).
Terdapat dua macam hubungan kausal, yaitu hubungan kausal "positif" dan
hubungan kausal "negatif". Umpan balik negatif merupakan suatu proses untuk
mencapai tujuan (goal seeking). Feedback ini cenderung menjadi penyeimbang
terhadap setiap gangguan dan selalu membawa sistem dalam keadaan yang stabil.
Alat pengatur suhu ruangan dengan menggunakan thermostat, merupakan salah
satu contoh umpan balik negatif. Jika temperatur berbeda dengan temperatur
optimal, pemanas akan bekerja hingga perbedaan antara temperatur aktual dan
yang dikehendaki menjadi nol. Umpan balik positif terjadi jika perubahan dalam
komponen sistem akan menyebabkan terjadinya perubahan di dalam komponen
lainnya yang akan memperkuat proses awalnya. Umpan balik positif merupakan
proses yang sifatnya tumbuh. Contohnya adalah antara upah dan harga,
merupakan suatu hubungan umpan balik positif. Upah yang tinggi akan
menyebabkan kenaikan inflasi, dan inflasi akan menyebabkan kenaikan harga
yang pada gilirannya, kenaikan harga akan menyebabkan naiknya upah. Berbeda
dengan kebanyakan sistem fisik, sistem sosial merupakan sistem yang sangat
kompleks
b. Prinsip Pendekatan Pemodelan System Dynamics
Asumsi utama dalam paradigma System Dynamics adalah bahwa tendensitendensi yang bersifat persistent pada setiap sistem yang kompleks bersumber dari
struktur kausal yang membentuk system itu. Keberadaan struktur itu merupakan
konsekwensi dari adanya interaksi antara kendala-2 fisik dan tujuan-2 sosial ,
penghargaan (pujian) dan tekanan yang menyebabkan manusia bertingkah laku
dan membangkitkan secara kumulatif tendensi-2 dinamik yang dominan dari
sistem total secara keseluruhan. System Dynamics sendiri memiliki empat fondasi
teoritis: teori informasi-feedback, teori keputusan, ekperimen simulasi komputer
dan proses penyelesaian model mental. Sebagai Metode yang computer-oriented,
System Dynamics ingin memberikan pemahaman yang lebih baik dan meramalkan
88
berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada berbagai jenis sistem sosial. Suatu
sistem dipelajari guna mengetahui dinamika non- linier dari perubahan perilaku di
dalam sistem. Sebagian besar unsur model merupakan elemen realita dan
interrelasi di dalamnya. Pembuatan model System Dynamics mengasumsikan
bahwa perilaku sistem terutama ditentukan oleh mekanisme feedback. Oleh
karena itu, setelah mendefinisikan batas sistem (yang dibedakan antara variabel
eksternal dan internal), deskripsi feedback loops merupakan langkah selanjutnya
dalam proses pemodelan System Dynamics. Ada lima elemen yang digunakan
untuk menggambarkan model System Dynamics; dua elemen yang merupakan
bangunan feedback lops: variabel level dan variabel flow. Yang lainnya merupakan
variabel pelengkap berupa parameter, variabel-2 eksogeneous dan variable antara
(intermediate variables).
c. Langkah-langkah Permodelan Menggunakan System Dynamics
Ada beberapa tahap dalam pemodelan suatu model dengan menggunakan
System Dynamics, (Roberts et al.,1983:8-10; Saeed,1991:2-7; Saeed,1995:235245, dalam Darmono, 2005). Langkah yang dilakukan dalam pendekatan model
System Dynamics adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi dan definisi masalah
2. Konseptulisasi sistem
3. Perumusan model
4. Analisis perilaku model
5. Pengujian dan Pengembangan model
6. Analisis kebijakan

Definisi Masalah
Pada fase pertama proses pembuatan model ini, terdapat beberapa aktivitas
diantaranya mengetahui dan mendefinisikan permasalahan yang akan dikaji,
sehingga akan diperoleh inti masalah yang akan menjadi rujukan ketika menguji
kebijakan dalam menyelesaikan masalah. Untuk mendapatkan inti permasalahan
tersebut, ada beberapa hal yang perlu diungkapkan, yaitu:
1. Pola Referensi (Reference Mode)
2. Hipotesis Dinamik
3. Batas Model
89
4. Jangkauan Waktu
Setelah permasalahan diidentifikasi, variabel - variabel yang signifikan
dalam model telah ditentukan, dan pola referensi telah didefinisikan, selanjutnya
tugas pemodel adalah mengembangkan hubungan diantara variabel- variabel
model yang saling berhubungan.

Konseptualisasi Sistem
Tahap kedua dalam pembuatan model adalah menyusun unsur-unsur yang
dianggap berpengaruh di dalam sistem. Pada tahap ini, tercakup langkah-langkah
untuk mengenali sistem (system identification), antara lain: penentuan batas
sistem (system boundary), struktur umpan-balik (feedback structure), struktur
informasi (information structure), rancangan untuk menguji validitas model
(experiment design for validity), dan rancangan untuk melakukan eksplorasi
kebijakan (experiment design for policy exploration). Sistem bisa digambarkan
dalam beberapa cara dan yang paling lazim adalah diagram causal loop (lingkar
sebab akibat), memplot variabel tertentu terhadap waktu dan menggambarkan
diagram alir komputer.

Perumusan Model
Perumusan model merupakan proses untuk mengubah konsep sistem atau
struktur model yang telah disusun ke dalam bentuk persamaan atau bahasan
komputer. Perumusan model merupakan transformasi dari suatu pandangan
konseptual informal ke pandangan konseptual formal, atau representasi model
secara
kuantitatif.
Tujuan
dari
usaha
perumusan
model
adalah
agar
memungkinkan model tersebut disimulasikan untuk menentukan perilaku dinamis
yang diakibatkan oleh asumsi dari model. Struktur dasar dalam permodelan
system dynamics, yaitu:
Persamaan Level
Persamaan Rate
Persamaan Auxiliary
Persamaan Sisipan
Persamaan Nilai Awal
Persamaan Eksogen
90
Aliran Material
Aliran Informasi

Analisis Perilaku Model
Analisis perilaku model merupakan usaha untuk memahami perilaku sistem
yang diakibatkan oleh asumsi dalam model, sehingga dapat menjadi dasar untuk
menyempurnakan model. Usaha pemahaman model ini dibantu dengan simulasi
komputer, yang akan memberikan gambaran bagaimana perilaku variabel dalam
model terhadap waktu.

Pengujian dan Pengembangan Model

Pengujian Model
Setelah model eksplisit suatu persoalan telah dapat diformulasikan, pada
langkah ini suatu kumpulan pengujian dilakukan terhadap model untuk
menegakkan keyakinan terhadap kesahihan model
dan sekaligus pula
mendapatkan pemahaman terhadap tendensi-2 internal sistem. Hal ini diperlukan
dalam upaya untuk membandingkannya dengan pola referensi dan secara terus
menerus memodifikasi dan memperbaiki struktur model. Sensitivitas model
terhadap perubahan nilai paramater-2 perlu dilakukan pula dalam langkah ini.
Suatu model secara struktur dapat dikatakan valid, jika model tidak hanya
dapat
membuat
reproduksi
perilaku
system,
akan
tetapi
juga
dapat
mengungkapkan bagaimana sistem bekerja menghasilkan perilaku tersebut. Oleh
karena itu model dapat dikatakan baik jika model dapat menambah pemahaman
terhadap perilaku sistem yang dimaksud, mudah dikomunikasikan dan dapat
menolong perbaikan pada sistem tersebut. Dan kadang-2 suatu model dapat juga
dikatakan baik jika masih terbuka untuk perbaikan-2.

Pengembangan Model
Dalam proses pemodelan melalui tahap-2 konseptualisasi, perumusan,
simulasi, dan evaluasi, dalam setiap tahap yang ber-turut-2 tersebut mungkin saja
terjadi perumusan kembali dan perbaikan model, dengan cara menghilangkan atau
menambah struktur. Tujuan yang utama dari tahap ini adalah untuk memperoleh
suatu model yang sesuai dengan sistem yang sebenarnya, sesuai dengan tujuan-2
yang ingin dicapai, dan dapat dimengerti dengan baik. Terdapat beberapa
pertimbangan dalam pengembangan dan perumusan kembali model ini, termasuk
91
pengurangan dan pengkayaan hipotesis dinamis, penambahan struktur feedback,
mengubah konstanta menjadi variabel, menambah kriteria pengujian, dan yang
paling penting, kapan untuk berhenti.

Analisis Kebijakan dan Penggunaan Model
Pada fase keenam proses pemodelan, model yang dapat digunakan untuk
menguji berbagai alternatif kebijakan yang mungkin bisa diterapkan dalam sistem
yang tengah dikaji. Lebih jauh lagi, analis mungkin bisa menyelidiki
kemungkinan dampak dari berbagai kebijakan yang dipilih. Alternatif kebijakan
dalam sistem yang sebenarnya berkaitan dengan salah satu atau kombinasi dari
dua jenis manipulasi model, yaitu: Perubahan Paramater (termasuk perubahan
kecil dalam fungsi tabel) Perubahan Struktur (perubahan dalam bentuk atau
jumlah persamaan), dan Rekomendasi Kebijakan dan Persoalan Validitas.
Tujuan akhir dari proses pemodelan adalah menerapkan pandangan yang
ada pada model terhadap problem di dunia nyata. Harapan dari proses pemodelan
itu adalah, orang bisa melakukan aktivitasnya dengan baik di masa yang akan
datang. Dalam memberikan rekomendasi ada dua persoalan yang perlu
dipertimbangkan, yaitu bagaimana validitas rekomendasi yang diberikan dan
seberapa
jauh
diimplementasikan.
rekomendasi
kebijakan
tersebut
bisa
diterapkan/
Download