Templat tesis dan disertasi

advertisement
PROTOTIPE DAN KINERJA SISTEM PENGGERAK
KENDARAAN AIR BERBASIS GETARAN STRUKTUR
ASEP ANDI
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Prototipe dan Kinerja
Sistem Penggerak Kendaraan Air Berbasis Getaran Struktur adalah benar karya
saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Oktober 2015
Asep Andi
NIM F151140116
RINGKASAN
ASEP ANDI. Prototipe dan Kinerja Sistem Penggerak Kendaraan Air Berbasis
Getaran Struktur. Dibimbing oleh RADITE PRAEKO AGUS SETIAWAN dan
WAWAN HERMAWAN.
Beberapa karakteristik fisika-mekanika hewan yang ada dimuka bumi telah
menginspirasi dalam pengembangan sistem penggerak baik di air, darat, maupun
udara. Salah satu konsep bio-mimetik yang menjadi pusat perhatian adalah sistem
pergerakan ikan di dalam air yang dapat digunakan untuk sistem penggerak
kendaraan air. Tujuan umum dari penelitian ini adalah merancang sistem
penggerak kendaraan air menggunakan getaran (resonansi) dari struktur berbentuk
plat tipis dan menguji kinerja dari sistem tersebut pada sebuah model kendaraan
air. Alat dan bahan yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu pembuatan
sistem kelistrikan, pembuatan mekanisme sistem penggerak, pembuatan model
kendaraan air, dan perlengkapan uji kinerja. Rancangan terdiri dari dua jenis yakni
rancangan fungsional dan rancangan struktural. Fungsi dan struktur utama dari
sistem yang dibuat adalah sistem kelistrikan akan menghasilkan daya listrik DC
variabel yang stabil, mekanisme crank and rocker akan mengubah gerak rotasi
menjadi gerak bolak balik, rancangan kendaraan air yang dapat bergerak lurus ke
depan, dan instrumen untuk menampilkan putaran motor listrik dan daya listrik
yang digunakan. Pengukuran dan pengujian meliputi validasi mekanisme crank
and rocker, kalibrasi alat ukur, perhitungan luasan basah dan bobot kendaraan air,
perhitungan kecepatan maju, gaya dorong, dan putaran serta daya listrik terpakai.
Rancangan acak kelompok (RAK) dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM
SPSS 20.0. Kendaraan air memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi berturutturut 100 cm, 50 cm, dan 30 cm dengan dua jenis luasan basah yakni 0.32 m2
(bobot 12.5 kg) dan 0.57 m2 (bobot 17.5 kg).
Mekanisme crank and rocker dapat digunakan pada sistem penggerak.
Ukuran batang hubung R1, R2, R3, dan R4 dengan posisi sumbu yang tepat
berturut-turut adalah 80 mm, 20 mm, 90 mm, dan 50 mm dan sudah memenuhi
kriteria Grashof. Berdasarkan hasil simulasi, frekuensi pribadi mode ke-2 untuk
masing-masing plat berada pada putaran motor listrik 202 rpm, sedangkan
berdasarkan uji langsung nilai frekuensi pribadi yang dihasilkan plat 1, plat 2, plat
3, dan plat 4 pada kondisi luasan basah 0.32 m2 berturut-turut 313, 243, 233, dan
250 rpm. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh kedalaman plat yang tidak sama
dengan simulasi sehingga tekanan air juga berbeda. Berdasarkan uji kinerja,
kecepatan maju kendaraan air berkisar antara 0.07 – 0.38 m/s, gaya dorong yang
dihasilkan masing-masing plat berkisar antara 0.01 – 0.19 N/kg bobot kendaraan
air, konsumsi daya listrik yang digunakan berkisar antara 1.75 – 75.13 watt, daya
mekanis yang dihasilkan berkisar antara 0.02 – 0.90 watt, dan efisiensi daya
mekanis berkisar antara 0.35 – 5.21 %. Nilai efisiensi tertinggi dihasilkan pada
sistem penggerak plat 1 (panjang 500 mm, lebar 30 mm, dan tebal 1 mm) untuk
kedua kondisi luasan basah kendaraan air dan secara umum memiliki nilai rataan
tiap parameter yang berbeda nyata dengan plat 4 (panjang 500 mm, lebar 60 mm,
dan tebal 1 mm).
Kata kunci: getaran struktur, gaya dorong, kendaraan air, efisiensi daya
SUMMARY
ASEP ANDI. Prototype and Performance of Water Propulsion System Based on
Structural Vibration. Supervised by RADITE PRAEKO AGUS SETIAWAN and
WAWAN HERMAWAN.
Some physical and mechanical characteristics of animal have inspired the
design of ground, water, and sky propulsion system. One of the most attentive
biomimetic concepts is a movement system of fish in the water which can be used
for water propulsion system. The general objectives of this research were to
design a water vessel propulsion system using vibration (resonance) of a thin
cantilever beam and to examine the performance of the system on a water vessel
model. Some instruments and materials used were composed of several sections,
namely the manufacture of electrical system, propulsion mechanism, water vessel
model, and performance test equipment. Research design was divided into two
kind i.e. functional design and structural design. The main structure and its
function were electrical system which can generate variable stabilized DC power,
crank and rocker mechanism which can change rotational motion into a back and
forth motion (oscillation), water vessel model which can move straightforward,
and measuring instrument which can visualize the rotation of electric motor and
electrical power being used. Measurement and testing included a validation of
crank and rocker mechanism, calibration of measuring instruments, calculation of
wetted area and weight of water vessel, calculation of forward speed, thrust, and
rotation of electric motor as well as the electric power. Group randomized
experiment was further analyzed using the IBM SPSS 20.0 software. Water vessel
model had dimensions of length, width, and height of 100 cm, 50 cm, and 30 cm
respectively and also with two kinds of wetted area i.e. 0.32 m2 (12.5 kg weight)
and 0.57 m2 (17.5 kg weight).
Crank and rocker mechanism could be used on the propulsion system. The
dimensions of R1, R2, R3, and R4 with an appropriate parallel axis position in a
row were 80 mm, 20 mm, 90 mm, and 50 mm respectively and it met the criteria
of Grashof. Based on simulation result, the second mode of natural frequency for
each thin cantilever beam was about 202 rpm, while the direct test result was
different for each thin cantilever beam. These are 313, 243, 233, and 250 rpm
respectively. It might be caused by the depth of the thin cantilever beam when
immersed in the water so the pressure was different as well. Based on
performance test result, the forward speed of the water vessel ranged from 0.07 –
0.38 m/s, the thrust generated ranged from 0.01 – 0.19 N/kg weight of water
vessel, electric power consumption used ranges between 1.75 – 75.13 watt,
mechanical power was in range of 0.02 – 0.90 watt, and the mechanical power
efficiency was about 0.35 – 5.21 %. The highest value of power efficiency
generated on the first thin cantilever beam (500 mm length, 30 mm width, and
1 mm thickness) for two wetted area conditions and each parameter had been a
marked difference with fourth thin cantilever beam (500 mm length, 60 mm width,
and 1 mm thickness).
Keywords: structural vibration, thrust, water vessel, power efficiency
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
PROTOTIPE DAN KINERJA SISTEM PENGGERAK
KENDARAAN AIR BERBASIS GETARAN STRUKTUR
ASEP ANDI
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Teknik Mesin Pertanian dan Pangan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr Ir I Dewa Made Subrata, MAgr
Judul Tesis
Nama
NIM
: Prototipe dan Kinerja Sistem Penggerak Kendaraan Air
Berbasis Getaran Struktur
: Asep Andi
: F151140116
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Dr Ir Radite PA Setiawan, MAgr
Ketua
Dr Ir Wawan Hermawan, MS
Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Teknik Mesin Pertanian dan
Pangan
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Y Aris Purwanto, MSc
Dr Ir Dahrul Syah, MScAgr
Tanggal Ujian: 12 Oktober 2015
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2015 ini ialah
rancang bangun, dengan judul Prototipe dan Kinerja Sistem Penggerak Kendaraan
Air Berbasis Getaran Struktur.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Radite Praeko Agus
Setiawan, MAgr dan Bapak Dr Ir Wawan Hermawan, MS selaku komisi
pembimbing, serta Bapak Bandi yang telah banyak memberi saran. Terima kasih
juga penulis sampaikan kepada Bapak Dr Ir I Dewa Made Subrata, MAgr sebagai
penguji dari luar komisi pembimbing dan DIRJEN DIKTI yang telah memberikan
beasiswa Fresh Graduate kepada penulis selama masa studi. Di samping itu,
penghargaan penulis sampaikan kepada teman-teman Laboratorium Mekatronika
dan Laboratorium Manufaktur yang telah membantu dalam perancangan dan
pengambilan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu,
serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Oktober 2015
Asep Andi
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
xii
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR LAMPIRAN
xii
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
1
1
2
2
2
2
2 TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip Pergerakan Ikan
Getaran dan Frekuensi Pribadi
Prinsip Dasar Sistem Penggerak Kendaraan Air
Mekanisme Empat Batang Hubung
3
3
5
6
9
3 METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Alat dan Bahan
Pendekatan Rancangan
Prosedur Pengukuran dan Pengujian
Prosedur Analisis Data
10
10
10
12
17
19
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Mekanisme Crank and Rocker
Karakteristik Plat dan Model Kendaraan Air
Kalibrasi Alat Ukur Putaran dan Daya Listrik
Kecepatan Maju Kendaraan Air
Gaya Dorong Kendaraan Air
Konsumsi Daya Listrik
Daya Mekanis Kendaraan Air
Stabilitas Kendaraan Air
Hubungan Antar Parameter
22
22
24
26
27
29
31
32
34
35
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
39
39
40
DAFTAR PUSTAKA
40
LAMPIRAN
43
RIWAYAT HIDUP
52
DAFTAR TABEL
1 Nilai koreksi k untuk menghitung sudut ψ yang dihasilkan
2 Frekuensi pribadi mode ke-2 dan maximum double-displacement masingmasing plat
3 Rataan nilai efisiensi hull, mekanisme, dan sistem penggerak untuk setiap
plat
4 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan plat antar parameter pada
luasan basah 0.32 m2
5 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan plat antar parameter pada
luasan basah 0.57 m2
6 Perhitungan konsumsi daya secara teoritis dengan acuan kapal tanker 600
TEU
14
25
36
37
38
39
DAFTAR GAMBAR
1 Gaya-gaya yang bekerja (a) dan pola gerakan yang mempengaruhi
stabilitas hidrodinamis (b) pada pergerakan ikan (Lane 1998)
2 Pergerakan ikan jenis body and/or caudal fin (a) dan jenis median and/or
paired fin (b) dengan gerak undulatory (bergelombang) dan oscillatory
(bolak-balik) pada berbagai jenis ikan (Lane 1998)
3 Karakteristik setiap mode frekuensi pada struktur dan persamaannya
(Kelly 2012)
4 Grafik magnification factor (MF) terhadap rasio frekuensi (ωo/ωn) untuk
berbagai nilai faktor peredaman (c/cc) (Hibbeler 2010)
5 Kendaraan air dengan bantuan air statis yang memiliki lebih dari satu
lambung (multi hull)
6 Garis beban Plimsoll mark yang dikembangkan sesuai dengan
kesepakatan international maritime organisation (MAN Diesel & Turbo
2011)
7 Ukuran lambung kendaraan air (MAN Diesel & Turbo 2011)
8 Gaya dorong kendaraan air dan resistansinya pada kecepatan tertentu
(MAN Diesel & Turbo 2011)
9 Mekanisme Crank and Rocker (Martin 1982)
10 Power supply 30 V/25 A variabel
11 Motor listrik DC Shinano Kenshi tipe DCG-5216-038
12 Kayu bahan pembuatan model kendaraan air
13 Digital dual display VA DC 100 V/ 10 A
14 Mikrokontroler arduino uno dan LCD 16 x 2 (a) dan sensor opto-coupler
(b)
15 Rangkaian power supply variable 30 V/25 A
16 Batang hubung, garis bantu, dan sudut-sudut pada mekanisme crank and
rocker
17 Rancangan mekanisme crank and rocker untuk sistem penggerak
18 Rancangan rumah sistem penggerak
19 Rancangan plat struktur yang terbuat dari stainless steel
20 Rancangan model fisik kendaraan air dengan jenis multi hull
3
4
5
6
7
7
8
9
9
10
11
11
12
12
13
14
15
15
16
16
21 Rancangan rangka penyangga motor dan sistem penggerak
22 Pengukuran kecepatan maju kendaraan air
23 Pengukuran gaya tarik kendaraan air
24 Bagan alir penelitian
25 Hasil simulasi mekanisme crank and rocker pada Microsoft Excel
26 Grafik sudut input terhadap sudut output yang dipilih pada rancangan
mekanisme crank and rocker
27 Model fisik mekanisme crank and rocker
28 Jenis plat stainless steel dengan ukuran yang berbeda
29 Simulasi frekuensi pribadi dan double-displacement pada plat 1 (a), plat
2 (b), plat 3 (c), dan plat 4 (d)
30 Model fisik kendaraan air tipe multi hull
31 Proses kalibrasi sensor opto-coupler penghitung putaran motor listrik
32 Hasil kalibrasi putaran pada LCD dan menggunakan Tachometer
33 Kecepatan maju kendaraan air untuk masing-masing putaran pada luasan
basah 0.32 m2
34 Kecepatan maju kendaraan air untuk masing-masing putaran pada luasan
basah 0.57 m2
35 Gaya dorong kendaraan air untuk masing-masing putaran pada luasan
basah 0.32 m2
36 Gaya dorong kendaraan air untuk masing-masing putaran pada luasan
basah 0.57 m2
37 Konsumsi daya listrik kendaraan air untuk masing-masing putaran pada
luasan basah 0.32 m2
38 Konsumsi daya listrik kendaraan air untuk masing-masing putaran pada
luasan basah 0.57 m2
39 Daya mekanis kendaraan air untuk masing-masing putaran pada luasan
basah 0.32 m2
40 Daya mekanis kendaraan air untuk masing-masing putaran pada luasan
basah 0.57 m2
41 Simulasi karakteristik titik stabilitas kendaraan air (Sahlan et al. 2012)
42 Kondisi kendaraan air yang stabil pada perairan yang tenang
43 Efisiensi daya untuk masing-masing plat dengan luasan basah 0.32 m2
44 Efisiensi daya untuk masing-masing plat dengan luasan basah 0.57 m2
45 Daya propulsi yang dibutuhkan oleh kapal tanker 600 TEU pada
kecepatan yang berbeda (MAN Diesel & Turbo 2011)
17
18
18
21
22
23
23
24
25
26
26
27
28
29
30
31
31
32
33
33
34
35
36
37
38
DAFTAR LAMPIRAN
1 Rancangan dimensi kendaraan air dan dua jenis luasan basahnya
2 Rancangan sistem penggerak
3 Kode program alat pengukur putaran (RPM) motor listrik menggunakan
arduino uno
4 Simulasi mekanisme crank and rocker menggunakan menu Visual Basic
pada Microsoft Excel
5 Hasil analisis uji normalitas dan beda nyata menggunakan software SPSS
20.0
44
45
46
48
49
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Beberapa karakteristik fisika-mekanika hewan yang ada dimuka bumi telah
menginspirasi dalam pengembangan sistem penggerak baik di air, darat, maupun
udara. Konsep meniru dari makhluk hidup (biomimetic) tersebut sudah dilakukan
oleh para peneliti dalam pengaplikasian jenis pesawat terbang, kapal laut, mobil,
dan robot yang memiliki keperluan spesifik. Salah satu sistem yang menjadi pusat
perhatian adalah sistem pergerakan ikan di dalam air. Ikan bergerak dengan
melawan kerapatan air yang lebih besar dibandingkan udara dengan bentuk
tubuhnya yang hidrodinamis sehingga memungkinkan ikan bergerak dengan cepat
di dalam air. Ikan bergerak dengan menggetarkan bagian tubuhnya terutama
bagian ekor dengan dibantu oleh pergerakan sirip-sirip yang menghasilkan gaya
dorong ke depan. Sistem alamiah tersebut dapat ditiru dan digantikan oleh sistem
buatan dengan beberapa keterbatasan.
Jika suatu material pada sistem yang memiliki massa dan elastisitas bergetar
baik dari sistem itu sendiri (getaran bebas) maupun dari gaya luar (getaran paksa)
maka material tersebut akan mencapai amplitudo paling tinggi pada frekuensi
pribadinya (natural frequency). Getaran bebas akan bergetar pada satu atau lebih
mode frekuensi pribadi yang dihasilkan sedangkan getaran paksa dengan eksitasi
osilasi akan menghasilkan frekuensi gaya eksitasinya. Ketika gaya eksitasi
tersebut bersamaan dengan frekuensi pribadi dari material maka resonansi akan
terjadi (Mustafa 2011).
Secara teoritis, kendaraan air memiliki kesamaan konsep mekanik dengan
ikan dalam pengembangan sistem penggerak dimana gaya dorong yang dihasilkan
harus lebih besar dari resistansi yang terjadi pada saat menerobos air. Meski
demikian, kendaraan air saat ini terutama di Indonesia masih menggunakan sistem
penggerak berupa propeller tipe kipas yang secara fisik berbeda dengan sistem
penggerak pada ikan. Dalam hal ini, masih terbuka kemungkinan pengembangan
sistem penggerak lain yang memiliki keunggulan lebih dibandingkan dengan
sistem penggerak yang ada saat ini.
Andi et al. (2015) melakukan simulasi pada plat tipis yang terbuat dari
stainless steel untuk memprediksikan gaya dorong yang dihasilkan pada sebuah
model kendaraan air. Sebuah plat tipis dengan ukuran panjang, lebar, dan tebal
berturut-turut 500 mm, 30 mm, dan 1 mm memiliki frekuensi pribadi sebesar 4.96
rad/s pada mode pertama dan mampu menghasilkan gaya dorong sebesar 0.99 N
serta menggerakkan model kendaraan air yang memiliki luasan basah 0.72 m2.
Dalam penelitian ini akan dirancang sebuah sistem penggerak menggunakan
getaran (resonansi) dari sebuah plat tipis yang bergetar di dalam air. Plat tipis
yang beresonansi di dalam air akan meminimalkan turbulensi yang terjadi di
dalam air dibandingkan saat menggunakan propeller tipe kipas. Dalam sistem ini,
sebuah motor listrik dihubungkan menggunakan suatu mekanisme sehingga
membentuk gerak bolak-balik (osilasi) dan plat akan bergetar. Penggunaan motor
listrik sangat mungkin dilakukan sesuai dengan arah maju teknologi yang
menyatakan bahwa energi listrik akan menjadi energi paling bersih dan melimpah
ketersediaannya di alam dengan berbagai bentuk konversi energi yang ada.
2
Perumusan Masalah
Salah satu bagian utama dari kendaraan air adalah sistem penggerak atau
propulsi. Sistem penggerak tersebut berfungsi untuk memberikan aksi pada
kendaraan air berupa tenaga mekanik untuk menggerakkan kendaraan air ke
depan dan sistem maneuvering yang lain. Ketika suatu material logam tipis
digetarkan secara paksa maka osilasi akan terjadi dan menghasilkan frekuensi
gaya eksitasinya. Jika frekuensi gaya eksitasi tersebut bersamaan dengan
frekuensi pribadinya maka resonansi akan terjadi. Material yang beresonansi akan
menggunakan energi yang minimum dengan amplitudo (defleksi) yang
maksimum. Ketika suatu material bergetar (beresonansi) di dalam air sebagai
penggerak kendaraan air maka gaya eksitasinya akan disalurkan ke sekelilingnya
dan menghasilkan gaya dorong ke depan bagi kendaraan air serta energi yang
digunakan diduga akan menjadi minimum.
Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah merancang sistem penggerak
kendaraan air menggunakan getaran (resonansi) dari struktur berbentuk plat tipis
dan menguji kinerja dari sistem tersebut pada sebuah model kendaraan air.
Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah menentukan mekanisme dan
dimensi penghasil getaran pada plat struktur, menentukan putaran motor listrik
yang optimum dalam menghasilkan frekuensi pribadi dari struktur yang bergetar
di dalam air, menghitung kecepatan maju, gaya dorong, konsumsi daya listrik,
daya mekanis, dan efisiensi pada kendaraan air.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan khazanah ilmu
pengetahuan dalam pengembangan ilmu dan teknologi perairan di Indonesia yang
memiliki daerah perairan yang sangat luas. Selain itu, hasil penelitian ini dapat
dijadikan sebagai acuan dasar bagi pada developer untuk menciptakan kendaraan
air dengan sistem penggerak baru yang unik dan ramah lingkungan serta
diharapkan mampu menghemat energi.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian pendahuluan telah dilakukan dalam melakukan simulasi dan
analisis numerik dalam menentukan dimensi dan jenis plat struktur yang
digunakan, penentuan dimensi model kendaraan air, perhitungan gaya dorong
kendaraan air, perhitungan resistansi badan kendaraan air, perhitungan kecepatan
kendaraan air, dan perhitungan energi kinetik vibrasi dan translasi dari kendaraan
air. Pada penelitian ini, sistem penggerak dan kendaraan air dibuat dengan
mengacu pada hasil simulasi dengan beberapa penyesuaian. Kemudian kinerja
dari sistem tersebut akan diuji pada sebuah kendaraan air dengan beberapa kondisi
batasan seperti pengujian dilakukan pada air yang tenang (dead-water), sistem
manuveuring masih terbatas pada arah maju ke depan, dan resistansi yang terjadi
masih difokuskan pada air di sekeliling badan kendaraan air.
3
2 TINJAUAN PUSTAKA
Prinsip Pergerakan Ikan
Ikan bergerak di dalam air dengan melawan densitas air yang mencapai 800
kali lipat densitas udara. Pergerakan ikan di dalam air merupakan transfer
momentum dari badan ikan ke air di sekelilingnya. Mekanisme yang paling utama
dari transfer momentum tersebut adalah gaya tarik (drag), gaya angkat (lift), dan
percepatan gaya reaksi. Menurut David M Lane et al. (1998), gaya tarik yang
terjadi pada saat ikan berenang dipengaruhi oleh beberapa komponen, yaitu
gesekan antara bagian kulit dengan air di sekelilingnya, tekanan yang terbentuk
saat menerobos air, dan energi yang hilang dari ekor dan sirip dalam
menghasilkan gaya angkat dan daya dorong. Gaya tarik dan gaya angkat
dipengaruhi oleh viskositas dan aliran yang asimetris. Gaya angkat kemudian
digunakan pada objek dengan arah gerak yang tegak lurus dari arah gerak aliran.
Kemudian percepatan gaya reaksi merupakan gaya inersia yang dihasilkan oleh
resistansi badan ikan terhadap air di sekelilingnya atau tambahan ketika kecepatan
secara relatif berubah. Stabilitas hidrodinamis dan arah pergerakan ikan bisa juga
ditentukan oleh gerakan atas bawah (pitch), gerakan menggulung (roll), dan
gerakan menyimpang (yaw). Gaya-gaya yang bekerja dan pola gerakan yang
mempengaruhi stabilitas pada pergerakan ikan dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 Gaya-gaya yang bekerja (a) dan pola gerakan
yang mempengaruhi stabilitas hidrodinamis (b)
pada pergerakan ikan (Lane 1998)
Ikan menggunakan ekor sebagai alat pergerakan utama. Untuk beberapa
jenis ikan, pergerakan ekor tersebut ada yang membentuk gelombang dan ada pula
yang membentuk gerakan bolak-balik. Selain ekor, sirip ikan juga memiliki
peranan dalam pergerakan ikan. Webb (1998) mendefinisikan pergerakan ikan
menjadi dua jenis, yaitu body and/or caudal fin (BCF) dan median and/or paired
4
fin (MPF). Ikan jenis BCF bergerak dengan menggetarkan badan dan ekornya,
sedangkan ikan jenis MPF bergerak dengan menggetarkan sirip-sirip bagian atas,
bawah, dan samping untuk menghasilkan gaya dorong ke depan. Kedua tipe jenis
gerak ikan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Pergerakan ikan jenis body and/or caudal fin (a) dan jenis median
and/or paired fin (b) dengan gerak undulatory (bergelombang) dan
oscillatory (bolak-balik) pada berbagai jenis ikan (Lane 1998)
Liu et al. (1999) menyatakan bahwa beberapa jenis hewan air bergerak di
dalam air dengan menghasilkan bilangan Reynold di sekelilingnya sebesar 102
untuk larva kecebong dan 108 untuk cetacean yang paling cepat. Selain bilangan
Reynold, kecepatan gerak ikan di dalam air dapat ditentukan dengan nilai
bilangan Strouhal (St) dari gerak ikan tersebut. Bilangan Strouhal merupakan
fungsi dari frekuensi getaran, amplitudo maksimum, dan kecepatan gerak ikan.
Semakin besar nilai bilangan Strouhal-nya maka semakin lambat gerak ikan
tersebut. Bilangan Strouhal untuk larva kecebong sampai cetacean berkisar antara
0.1 < St < 0.8. Christophe Eloy (2012) melakukan optimasi bilangan Strouhal
dengan pengklasifikasian beberapa jenis hewan air berdasarkan dimensi dan
bilangan Strouhal-nya. Berdasarkan data yang diambil dari berbagai sumber
tersebut, bilangan Strouhal yang optimum berada pada 0.25 < St < 0.35 dengan
bilangan Lighthill kurang dari 0.1.
Selain pergerakan ekor ke kiri dan ke kanan dari titik kesetimbangan, hewan
air lainnya bergerak dengan arah vertikal ke atas dan ke bawah seperti ikan paus.
Antonio M Calderon (2011) melakukan penelitian tentang propeller
menggunakan bahan rigid yang bergerak vertikal. Dalam penelitiannya,
mekanisme slider (sinusoidal multiplier) digunakan untuk mengubah putaran
motor menjadi gerak naik turun dengan menggunakan dua crank, yaitu pitch
(rapatan dan renggangan) dan heave (tarikan dan dorongan). Gaya yang dihasilkan
dari sistem tersebut sebesar 20 lb berbeda dengan hasil simulasi yakni sebesar
32.4 lb pada kecepatan 1.3 m/s. Semakin tinggi frekuensi osilasi tersebut maka
semakin tinggi pula gaya dorong yang dihasilkan.
5
Getaran dan Frekuensi Pribadi
Getaran merupakan gerak bolak-balik dari sebuah sistem struktur atau
mekanik disekitar titik kesetimbangannya. Getaran diklasifikasikan menjadi
getaran bebas atau getaran paksa, getaran teredam atau getaran tak teredam,
getaran linear atau getaran non-linear, getaran kontinyu atau diskrit, dan getaran
deterministik atau acak. Getaran bebas merupakan gerak bolak-balik disekitar titik
kesetimbangan yang terjadi tanpa adanya gaya eksitasi dari luar, sedangkan
getaran paksa terjadi dengan adanya gaya eksitasi dari luar. Jika gaya luar terjadi
secara periodik maka getaran disebut harmonik. Sebaliknya, jika gaya luar terjadi
tidak secara periodik maka dikatakan transien. Jika gaya masukan terjadi secara
stokastik maka getaran tersebut dinamakan random atau acak. Getaran dikatakan
teredam jika ada unsur atau sumber penghilangan getaran, sedangkan tak teredam
jika sebaliknya. Getaran linear dan non-linear dikaitkan dengan asumsi bahwa
persamaan diferensial yang dibuat mengacu pada aturan kedua jenis tersebut.
Frekuensi pribadi merupakan frekuensi dimana sistem akan bergerak bolakbalik dengan tanpa diakibatkan oleh gaya luar yang signifikan. Pada frekuensi
pribadi pula energi kinetik dan potensial yang terjadi menjadi maksimum. Sebagai
contoh pada gerak pendulum, gaya gravitasi menjadi pertimbangan yang melekat
pada sistem tanpa ada gaya lain yang bekerja pada sistem (Widnall 2009).
Kelly (2012) menyatakan persamaan getaran dalam menentukan frekuensi
pribadi mode pertama (ω1), kedua (ω2), dan ketiga (ω3) dari sebuah struktur
dengan persamaan seperti pada Gambar 3.
1  (1.875) 2
EI
mL3
 2  (4.694) 2
EI
mL3
 3  (7.855) 2
EI
mL3
Gambar 3 Karakteristik setiap mode frekuensi pada struktur
dan persamaannya (Kelly 2012)
dimana, E merupakan modulus elastisitas (N/m2), I merupakan momen inersia
(m4), m merupakan massa (kg), dan L merupakan panjang dari plat struktur (m).
Breads (1996) menyatakan bahwa frekuensi pribadi (natural frequency)
dapat ditingkatkan atau diturunkan dengan mengubah dua faktor yang sangat
berpengaruh, yaitu massa (m) dan kekakuan (k) dari struktur yang bergetar.
Sebagai contoh, struktur dengan massa m dan kekakuan k memiliki rasio
frekuensi sebesar satu. Ketika massa struktur diturunkan menjadi satu per empat
massa semula dan kekakuan ditingkatkan menjadi empat kali semula maka rasio
6
frekuensi akan bergeser menjadi dua. Hal tersebut jelas bahwa respon dinamis
pada frekuensi yang berbeda akan sangat berbeda dalam penentuan frekuensi
pribadi sebuah struktur yang bergetar.
Hibbeler (2010) menghubungkan nilai magnification factor (MF) atau setara
dengan amplitudo dengan rasio frekuensi yang hasilnya menunjukkan bahwa nilai
MF akan meningkat ketika faktor peredaman menurun. Resonansi terjadi hanya
saat faktor peredaman nol dan rasio frekuensi setara dengan satu (Gambar 4).
Gambar 4 Grafik magnification factor (MF) terhadap rasio
frekuensi (ωo/ωn) untuk berbagai nilai faktor
peredaman (c/cc) (Hibbeler 2010)
Frekuensi pribadi memiliki kelebihan dan kekurangan dalam aplikasinya.
Misalnya pada kondisi runtuhnya bangunan atau jembatan yang terjadi pada
frekuensi pribadi dari struktur pembentuknya sehingga dengan energi masukan
yang kecil akan menghasilkan amplitudo yang tinggi sehingga merusak struktur
tersebut. Meskipun demikian, tidak mustahil jika kekurangan tersebut digunakan
menjadi kelebihan dengan pemanfaatan sifat resonansi pada struktur yang bergetar
pada frekuensi pribadinya dalam meminimalkan energi yang digunakan ketika
mendekati nilai frekuensi pribadinya.
Prinsip Dasar Sistem Penggerak Kendaraan Air
Jenis dan Bentuk Lambung (Hull) Kendaraan Air
Kendaraan air yang sudah dikembangkan saat ini memiliki jenis yang
disesuaikan dengan peruntukannya. Jenis-jenis kendaraan air tersebut diantaranya
adalah pengangkut minyak (tanker), muatan curah (bulk carrier), kapal peti
kemas (container ship), kapal barang (general cargo ship), perahu layar (reefer),
kapal penumpang (passanger ship), dan kapal ikan (fishing craft). Harvald (1983)
mengklasifikasikan kendaraan air berdasarkan prinsip kerjanya ketika di
permukaan atau di bawah permukaan air. Secara garis besar jenis kendaraan air
tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu dengan bantuan udara statis (aerostatic
support), dengan bantuan air dinamis (hydrodynamic support - Bernoulli), dan
dengan bantuan air statis (hydrostatic support - Archimedes). Kendaraan air
dengan bantuan udara statis bisa menggunakan prinsip gelembung atau bantalan
7
angin. Kendaraan air dengan bantuan air dinamis bisa menggunakan prinsip
hydrofoil permukaan atau tenggelam. Kendaraan air dengan bantuan air statis bisa
menggunakan prinsip gaya angkat konvensional (satu lambung) atau lebih dari
satu lambung (Gambar 5).
Gambar 5 Kendaraan air dengan bantuan air statis yang
memiliki lebih dari satu lambung (multi hull)
Meskipun demikian, bentuk dan ukuran dari kendaraan air tersebut dapat
berbeda-beda sehingga perhitungan yang digunakan akan menjadi berbeda.
Parameter-parameter yang mempengaruhi perhitungan tersebut diantaranya luasan
basah, bobot kosong atau muatan, resistansi, dan lain-lain. Seperti yang dijelaskan
oleh MAN Diesel & Turbo (2011) bahwa ada batasan-batasan garis beban yang
diperbolehkan atau yang sering dikenal dengan Plimsoll mark seiring dengan
kesepakatan yang dibuat oleh IMO (International Maritime Organisation) seperti
yang ditunjukkan oleh Gambar 6.
Gambar 6 Garis beban Plimsoll mark yang dikembangkan
sesuai dengan kesepakatan international
maritime organisation (MAN Diesel & Turbo
2011)
Resistansi Kendaraan Air
Penentuan perhitungan luasan basah untuk menentukan resistansi kendaraan
air tidak terlepas dari garis-garis batas pada bagian lambung kendaraan air seperti
ditunjukkan pada Gambar 7.
8
Gambar 7 Ukuran lambung kendaraan air (MAN Diesel &
Turbo 2011)
Panjang keseluruhan kendaraan air LOA tidak dimasukkan kedalam
perhitungan resistansi kendaraan air. Faktor yang dimasukkan sebagai garis muka
air adalah LWL dan bisa juga menggunakan LPP, dimana LPP setara dengan 0.97
kali dari LWL.
MAN Diesel & Turbo (2011) menjelaskan bahwa resistansi kendaraan air
dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, yaitu resistansi karena gesekan air,
resistansi karena residual, dan resistansi karena angin. Pada kecepatan rendah,
resistansi karena gesekan air memberikan pengaruh sebesar 70 – 90 % dan pada
kecepatan tinggi kurang dari 40 %. Resistansi karena residual misalnya
gelombang memberikan pengaruh 8 – 25 % pada kecepatan rendah dan 40 – 60 %
pada kecepatan tinggi. Kemudian resistansi karena udara hanya memberikan
pengaruh sekitar 2 % dari total resistansi pada kendaraan air. Secara keseluruhan
resistansi kendaraan air merupakan gabungan dari ketiga jenis resistansi tersebut.
Meski demikian, tidak sedikit resistansi karena gesekan air menjadi satu-satunya
faktor yang dimasukkan kedalam perhitungan, sedangkan yang lainnya
diasumsikan tidak berpengaruh nyata.
Gaya Dorong Kendaraan Air
Secara umum kendaraan air yang bergerak pada permukaan air dengan
kecepatan tertentu akan mengalami gaya hambat (resistance) yang berlawanan
dengan arah gerak kendaraan air tersebut (Gambar 8). Besarnya gaya hambat
tersebut harus bisa diatasi dengan gaya dorong (thrust) yang dihasilkan dari kerja
alat gerak kendaraan air atau propulsor (Adji 2005).
Gaya dorong (T) yang diperlukan untuk mendorong sebuah kendaraan air
pada kecepatan (v) tertentu akan lebih besar daripada tahanan total (R T) yang
dialami oleh kendaraan air bila ditarik dengan kecepatan yang sama (v), sehingga
terjadi penambahan (augment) hambatan (Hadi et al. 2008).
9
Gambar 8 Gaya dorong kendaraan air dan resistansinya pada
kecepatan tertentu (MAN Diesel & Turbo 2011)
Pada kenyataannya, gaya dorong sebesar T akan mendapatkan gaya hambat
sebesar RT yang harus diatasi. Sehingga gaya dorong yang dibutuhkan harus
mengetahui gaya deduksinya. Nilai tersebut berbeda-beda dan dipengaruhi oleh
faktor dimensi dari kendaraan air yang dikehendaki.
Mekanisme Empat Batang Hubung
Menurut Sutikno et al. (2011), mekanisme adalah bagian dari permesinan
yang tersusun dari batang hubung (link) yang bisa bergerak satu terhadap yang
lain membentuk rancang bangun sebagai bagian dari permesinan. Mekanisme
dirancang untuk mentransformasi gerak, kecepatan, dan gaya untuk keperluan
tertentu. Mekanisme empat batang hubung tersusun dari empat batang hubung
sedemikian rupa sehingga menghasilkan derajat ketidaktentuan kinematik (degree
of freedom of motion) tertentu yang dalam hal ini harus bernilai satu.
Mekanisme empat batang hubung memiliki peraturan yang biasa dikenal
dengan Hukum Grashof yang menyatakan bahwa untuk mekanisme empat batang
hubung, jumlah dari batang hubung terpendek dan terpanjang tidak boleh melebihi
jumlah dari panjang dua batang hubung yang lainnya. Jika kondisi tersebut dapat
dipenuhi maka setidaknya satu batang hubung akan berputar 360 derajat. Salah
satu mekanisme empat batang hubung yang memenuhi kriteria tersebut adalah
mekanisme Crank and Rocker. Mekanisme tersebut memiliki batang hubung
masukan yang berputar 360 derajat dan batang hubung keluaran yang berputar
mengayun bolak-balik (Robert L. Williams 2015).
Martin (1982) menyatakan beberapa aturan agar mekanisme Crank and
Rocker seperti pada Gambar 9 dapat bekerja dengan baik, yaitu sebagai berikut:
Gambar 9 Mekanisme Crank and Rocker (Martin 1982)
𝑂2 𝐵 + 𝐵𝐶 + 𝑂4 𝐶 > 𝑂2 𝑂4 ; 𝑂2 𝐵 + 𝑂2 𝑂4 + 𝑂4 𝐶 > 𝐵𝐶;
𝑂2 𝐵 + 𝐵𝐶 − 𝑂4 𝐶 < 𝑂2 𝑂4 ; 𝐵𝐶 − 𝑂2 𝐵 + 𝑂4 𝐶 > 𝑂2 𝑂4.
10
dimana O2B merupakan batang hubung pertama, BC merupakan batang hubung
kedua, O4C merupakan batang hubung ketiga, dan O2O4 merupakan jarak antara
kedua titik kontak.
Berdasarkan hasil penelitian Sutikno et al. (2011) dapat diketahui bahwa
untuk variabel kontrol masukan (input) pada batang hubung pertama (O2B) , laju
peningkatan sudut keluaran (output) batang hubung ketiga (O4C) semakin cepat
bertambah besar dibandingkan dengan variasi variabel kontrol di batang hubung
kedua (BC) dan jarak antara dua titik kontak (O2O4). Variasi penambahan batang
hubung pertama selalu menghasilkan sebuah domain kerja sudut masukan dan
sudut keluaran pada mekanisme Crank and Rocker.
3 METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan dari Februari – Juli 2015. Proses
pabrikasi model dilakukan di Bengkel Laboratorium Lapangan Siswadhi Soeparjo
dan Laboratorium Mekatronika, Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB.
Proses uji fungsional dan uji kinerja dilakukan di danau Pusat Penelitian
Lingkungan Hidup (PPLH) IPB.
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa
bagian, yaitu pembuatan sistem kelistrikan, pembuatan mekanisme sistem
penggerak, pembuatan model kendaraan air, dan perlengkapan uji kinerja.
Pembuatan Sistem Kelistrikan
Sumber listrik yang digunakan adalah jenis accumulator kering DC (12 V5Ah/10 hr) tipe GTZ-55/YTX4L-BS sebanyak dua buah yang dirangkai secara
seri. Sumber listrik tersebut akan dialirkan melalui power supply 30 V/ 25 A
variabel (Gambar 10) untuk menghidupkan motor listrik DC, sistem pengukur
daya listrik, mikrokontroler arduino, LCD, dan sensor optocoupler. Kabel yang
digunakan terdiri dari dua jenis, yaitu kabel jenis rambut dan kabel jenis kawat.
Untuk mencegah korsleting listrik, sebuah sikring atau fuse dirangkai dengan
dioda sebelum arus listrik masuk ke beban.
Gambar 10 Power supply 30 V/25 A variabel
11
Pembuatan Mekanisme Sistem Penggerak
Motor listrik yang digunakan adalah motor listrik DC Shinano Kenshi
(DCG-5216-038) 24 V dengan rpm keluaran maksimum 670 rpm (Gambar 11).
Putaran motor listrik tersebut akan diubah menjadi gerak bolak-balik dengan
mekanisme crank and rocker. Crank atau batang hubung yang digunakan adalah
besi strip dengan lebar 2 cm dan tebal 2 mm. Titik hubung menggunakan baut dan
mur tanpa alur pada titik hubungnya. Poros yang digunakan adalah besi silinder
pejal berdiameter 1 cm dengan bearing jenis bola ukuran diameter luar 3.5 cm dan
dalam 1 cm. Plat tipis yang akan digetarkan terbuat dari bahan stainless steel
dengan ketebalan 1 mm yang dirangkai menggunakan baut dan mur ukuran 5 mm.
Gambar 11 Motor listrik DC Shinano Kenshi tipe DCG5216-038
Rumah sistem penggerak terbuat dari plat stainless steel yang dikencangkan
menggunakan skrup dan ditopang oleh rangka yang terbuat dari besi siku 25 x 25
x 1 mm. Proses pemotongan, pelubangan, penyambungan, dan proses permesinan
yang lain menggunakan gergaji besi, gerinda tangan, bor duduk, las listrik, ragum,
dan alat perbengkelan lainnya.
Pembuatan Model Kendaraan Air
Model kendaraan air terbuat dari kayu jenis albasia atau sengon (Albizia
chinensis) yang memiliki densitas 0.24 – 0.49 g/cm3 (Martawijaya et al 1977)
dengan ketebalan ± 1 cm dan kayu lapis dengan ketebalan ± 0.5 cm (Gambar 12).
Proses pembuatan badan kendaraan air menggunakan mesin penghalus kayu,
gergaji kayu, bor kayu, lem kayu, dan paku besi. Kemudian proses akhir
menggunakan penghalus kayu (sirlak), dempul kayu (campuran semen putih dan
lem kayu), cat water proof, dan cat kayu.
Gambar 12 Kayu bahan pembuatan model kendaraan air
12
Perlengkapan Uji Fungsional dan Uji Kinerja
Perlengkapan alat ukur yang digunakan untuk proses perancangan dan
kalibrasi meliputi multimeter digital tipe UX-369 dan tachometer tipe DT-2234C+.
Pengukuran daya listrik yang terpakai saat pengujian menggunakan Digital Dual
Display VA DC 100 V/ 10 A (Gambar 13).
Gambar 13 Digital dual display VA DC 100 V/ 10 A
Kemudian pengukuran putaran motor listrik menggunakan sensor optocoupler yang dihubungkan pada mikrokontroler arduino uno dan ditampilkan
pada LCD 16 x 2 (Gambar 14). Nilai yang ditampilkan oleh alat ukur tersebut
direkam menggunakan kamera digital Kodak tipe Easyshare C1505.
(a)
(b)
Gambar 14 Mikrokontroler arduino uno dan LCD 16 x 2 (a)
dan sensor opto-coupler (b)
Pengukuran kecepatan maju kendaraan air menggunakan patok kayu, tali
rapia, meteran atau tapping, dan stopwatch. Kemudian pengukuran gaya tarik
menggunakan timbangan digital dan benang.
Pendekatan Rancangan
Rancangan Fungsional
Fungsi utama sistem penggerak yang dirancang adalah untuk menghasilkan
resonansi pada plat struktur yang bergetar di dalam air dan menghasilkan gaya
dorong sehingga dapat menggerakkan kendaraan air ke depan. Fungsi-fungsi
utama sistem penggerak tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Menghasilkan daya listrik DC variabel yang stabil
Muatan listrik DC dari accumulator 24 V akan masuk ke dalam power
supply sehingga keluaran tersebut dapat diatur (variabel) dengan menggunakan
potensiometer dan menjadi lebih stabil saat menerima beban. Muatan yang
keluar dari power supply tersebut berkisar antara 0 – 18 V (saat tanpa beban).
13
b. Mengatur putaran motor listrik
Putaran motor listrik dapat diubah-ubah sesuai dengan daya masukan
yang diatur menggunakan potensiometer pada power supply. Daya listrik yang
masuk berbanding lurus dengan putaran motor yang dihasilkan. Fungsi
mengubah putaran tersebut adalah untuk mencari frekuensi pribadi (natural
frequency) dari plat struktur yang digetarkan.
c. Mengubah gerak rotasi menjadi gerak mengayun bolak-balik
Gerakan rotasi dari motor listrik akan diubah menjadi gerak bolak-balik
dengan menggunakan mekanisme crank and rocker untuk menggetarkan plat
struktur melalui poros yang terhubung langsung ke plat struktur tersebut. Gerak
bolak-balik yang dihasilkan harus simetris antara gerakan ke kiri dan ke kanan
dengan sumbu kesetimbangan sejajar dengan sumbu axis kendaraan air.
Dengan demikian gerakan kendaraan air akan menjadi stabil dan bergerak ke
arah depan.
d. Menggerakkan kendaraan air lurus ke depan dan berbelok
Saat kendaraan air bergerak lurus ke depan, terkadang banyak gangguan
yang mengakibatkan kendaraan air berbelok tanpa dikehendaki. Untuk
mengatasi hal tersebut, perlu adanya penyearah pada bagian belakang yang
memastikan kendaraan air bergerak lurus ke depan. Penyearah tersebut juga
berfungsi saat kendaraan akan berbelok ke kanan atau ke kiri.
e. Menampilkan putaran motor listrik dan daya listrik yang digunakan
Putaran motor dan daya listrik yang terpakai harus dapat ditampilkan
pada LCD sehingga pengontrolan dan penentuan frekuensi pribadi dapat
dilakukan dengan mudah.
Rancangan Struktural
Secara keseluruhan, rancangan yang dibuat harus memenuhi kriteria
perancangan dengan memperhitungkan terlebih dahulu struktur pembentuknya
sebelum proses pabrikasi. Rancangan struktural terdiri dari rangkaian sistem
kelistrikan, mekanisme crank and rocker, dan model fisik kendaraan air.
Rangkaian power supply yang digunakan adalah jenis variabel yang mampu
mengubah daya masukkan sebesar 0 – 24 V listrik DC dengan potensiometer.
Rangkaian tersebut dapat dilihat pada Gambar 15.
Gambar 15 Rangkaian power supply variable 30 V/25 A
Mekanisme crank and rocker disimulasikan terlebih dahulu pada Microsoft
Excel sebelum dilakukan pabrikasi. Pada simulasi tersebut, batang hubung
pertama dan kedua diubah-ubah untuk menghasilkan sudut keluaran yang sesuai
14
dengan fungsi yang diharapkan. Proses simulasi menggunakan menu Developer
dan Visual Basic pada Microsoft Excel. Tahapan-tahapan dalam melakukan
simulasi tersebut diawali dengan menurunkan persamaan-persamaan dari
ketidakteraturan derajat bebas gerakan. Derajat sudut input yang dihasilkan
berubah-ubah dengan step 10o secara otomatis sampai 1800o (10π). Step tersebut
bisa diubah-ubah dan akan mempengaruhi cepat lambatnya mekanisme tersebut
bergerak. Seperti yang dijelaskan dalam Sutikno et al. (2011) dan Soegihardjo
(2002) bahwa dalam membuat simulasi mekanisme tersebut dimulai dengan
menurunkan persamaan-persamaan ketidakteraturan derajat bebas dari pergerakan
batang hubungnya.
Berdasarkan hasil pembelajaran dengan Dr Ir Radite Praeko Agus Setiawan,
MAgr dalam Mata Kuliah Kinematika dan Dinamika Mesin (Setiawan 1998),
langkah pembuatan simulasi mekanisme pada Microsoft Excel dapat mengikuti
langkah-langkah berikut :
a. Batang hubung dan garis-garis bantu serta sudut-sudut yang akan berubah jika
variabel input berubah dibuat dengan memperhatikan aturan hukum Grashof
(Gambar 16).
y
θ4
θ2
x
Gambar 16 Batang hubung, garis bantu, dan sudut-sudut
pada mekanisme crank and rocker
dimana, O2O4 = R1, O2A = R2, AB = R3, dan BO4 = R4
b. Persamaan-persamaan yang akan dimasukkan kedalam fungsi Microsoft Excel
tersebut ditentukan terlebih dahulu sebagai berikut.
2
1. O4 A  R22  R12  2R1 R2 cos  2
 R2 sin  2 
  k
2.   tg 1 
 R2 cos  2  R1 
dengan nilai koreksi k mengikuti aturan seperti pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1 Nilai koreksi k untuk menghitung sudut ψ yang dihasilkan
Kwadran
I
II
III
IV
x
+
+
y
+
+
-
Koreksi (k)
0
π
π
2π
 O A2  R42  R32
3.   cos 1  4
 ABS [2O AR ]
4
4

4.  4    




Acos[tanda(y)] + acos[tanda (x*y)]
0+0
0+π
π+0
π+π
15
 R 2  R42  (O4 A) 2
5.  4   3  cos 1  3
 ABS [2 R3 R4 ]
6.  3   4  ( 4   3 )




c. Menu dan botton dibuat dengan menggunakan Visual Basic pada Microsoft
Excel dan program simulasi dimasukkan kedalam menu dan button tersebut
dengan program sebagai berikut.
Sub Button2_Click()
n = Range("AB2").Value
For i = n To 1800 Step n
Range("AB3").Select
ActiveCell.FormulaR1C1 = i
Next i
Range("AB4").Select
End Sub
d. Nilai R1, R2, R3, dan R4 dapat diubah-ubah untuk melihat respon grafik
percepatan hasil simulasinya sampai mencapai grafik yang sesuai dengan yang
diharapkan.
e. Setelah ukuran yang sesuai didapatkan, mekanisme crank and rocker tersebut
dibuat dengan memperhatikan hasil simulasi tersebut. Rancangan mekanisme
yang dibuat seperti pada Gambar 17.
Crank ketiga (R4)
Pengencang
Crank kedua (R3)
Poros motor listrik
Crank pertama (R2)
Poros ke plat struktur
Gambar 17 Rancangan mekanisme crank and rocker untuk
sistem penggerak
Motor listrik dan mekanisme tersebut akan ditempatkan pada sebuah rumah
sistem penggerak yang terbuat dari plat stainless steel dengan ukuran panjang,
lebar, dan tinggi berturut-turut 23 cm, 15 cm, dan 10 cm (Gambar 18).
Gambar 18 Rancangan rumah sistem penggerak
16
Plat struktur yang dirancang terdiri dari 4 jenis dengan panjang konstan 50
cm dan lebar yang berbeda-beda, yaitu 3 cm (plat 1), 4 cm (plat 2), 5 cm (plat 3),
dan 6 cm (plat 4). Ketebalan plat yang digunakan adalah 1 mm dengan
penambahan dua lapis plat dengan ketebalan sama pada setengah dari panjang
total untuk menjaga kekakuan plat yang bergetar (Gambar 19). Dua lapis plat
tambahan tersebut dikencangkan dengan menggunakan pengencang baut dan mur
serta ring pegas. Pemasangan plat pada sistem penggerak dapat dilihat pada
Lampiran 2.
Gambar 19 Rancangan plat struktur yang terbuat dari
stainless steel
Model fisik kendaraan air yang dibuat merupakan kendaraan air jenis multi
hull (Gambar 20). Pemilihan jenis tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan
untuk memudahkan pengaplikasian sistem penggerak yang dirancang. Kendaraan
air tersebut memiliki panjang 100 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 30 cm.
Gambar 20 Rancangan model fisik kendaraan air dengan
jenis multi hull
Pembuatan model dengan bentuk simetris tersebut dilakukan agar
mempermudah dalam perhitungan luasan basah yang sebenarnya sehingga
perhitungan resistansi sebagai interaksi kendaraan air dengan sekitarnya dapat
mendekati kondisi yang sebenarnya. Untuk menahan getaran yang diakibatkan
oleh motor listrik, sebuah penyangga dibuat yang akan menjaga rumah sistem
penggerak tetap stabil (Gambar 21). Kemudian sebuah plat penyearah dibuat
sebanyak dua buah pada bagian belakang. Plat penyearah tersebut bisa digunakan
untuk membelokkan kendaraan air yang dirancang. Belok kanan dapat dilakukan
dengan membelokkan kedua plat ke arah kanan, begitu pula untuk belok kiri
dengan membelokkan kedua plat ke arah kiri secara bersamaan.
17
Gambar 21 Rancangan rangka penyangga motor dan sistem
penggerak
Prosedur Pengukuran dan Pengujian
Uji fungsional dilakukan pada prototipe sistem penggerak kendaraan air
untuk mengetahui dan memastikan bahwa setiap bagian dapat berfungsi dengan
baik. Uji fungsional tersebut meliputi uji sistem kelistrikan, uji mekanisme, uji
kalibrasi alat ukur, dan uji pergerakan kendaraan air. Setelah semua bagian dapat
bekerja dengan baik, uji kinerja dilakukan untuk mengetahui kinerja atau
performansi sistem tersebut secara kuantitatif. Pengukuran dan pengujian tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Validasi mekanisme crank and rocker
Mekanisme yang disimulasikan pada Microsoft Excel akan divalidasi
keabsahannya dengan pengukuran secara langsung sehingga mekanisme benarbenar dapat bekerja dengan baik. Validasi ini lebih ditekankan pada pergerakan
bolak-balik plat struktur ke kiri dan ke kanan yang seimbang sehingga
diharapkan dapat menyeimbangkan gerak kendaraan air saat diaplikasikan di
atas permukaan air.
b. Kalibrasi alat ukur putaran dan daya listrik
Sensor penghitung putaran atau rotary encoder akan dikalibrasi terlebih
dahulu sebelum digunakan untuk pengukuran dan pengujian. Setelah
didapatkan faktor koreksi dari hasil regresi data yang dihasilkan, faktor
tersebut dimasukkan ke dalam program dan diunduh ke dalam mikrokontroler.
Selain penghitung putaran, alat pengukur daya listrik (voltase dan ampere) juga
dikalibrasi menggunakan alat ukur yang sudah terstandar. Pengukuran putaran
motor menggunakan tachometer dan pengukuran daya listrik menggunakan
multimeter. Nilai putaran motor listrik dan daya listrik yang digunakan ini
harus dapat ditampilkan oleh LCD agar mempermudah proses analisis.
c. Perhitungan luasan basah dan bobot kendaraan air
Perhitungan luasan basah dilakukan dengan menggunakan perhitungan
geometri secara manual pada kendaraan air yang dirancang. Luasan basah
dihitung dengan dua jenis luasan basah yakni saat tanpa beban dan dengan
penambahan beban. Bentuk kendaraan air yang simetris akan mempermudah
perhitungan luasan basah tersebut secara langsung karena hanya menggunakan
persamaan luas persegi panjang dan trapesium. Kemudian untuk mengetahui
bobot kendaraan air dilakukan penimbangan saat tanpa beban dan dengan
penambahan beban. Penimbangan dilakukan dengan menggunakan alat
timbang beban digital.
18
d. Kecepatan maju kendaraan air
Kecepatan maju kendaraan air dapat dihitung dengan menghitung waktu
yang dibutuhkan kendaraan air untuk menempuh jarak 5 meter (Gambar 22).
Power supply variabel yang digunakan dapat mengatur keluaran daya listrik
yang digunakan sehingga dapat mengontrol kecepatan motor listrik sesuai
dengan yang dikehendaki. Pengaturan kecepatan motor listrik ini sangat
penting karena akan membantu proses penentuan frekuensi pribadi plat.
v (m/s)
Air
5 meter
Gambar 22 Pengukuran kecepatan maju kendaraan air
Kecepatan maju merupakan perbandingan antara jarak tempuh dengan
waktu untuk menempuh jarak tersebut. Untuk menyeimbangkan gerak
kendaraan air digunakan tali penyearah pada bagian depan kendaraan air.
Pengambilan data dilakukan dengan 3 kali ulangan untuk masing-masing
parameter pengujian (ketenggelaman kendaraan air, RPM motor, dan ukuran
plat struktur). Pencatatan waktu menggunakan stopwatch.
e. Gaya dorong kendaraan air
Bagian ujung kendaraan air dihubungkan pada sebuah tali yang terikat
pada sebuah alat ukur gaya tarik sehingga dapat diketahui besar gaya yang
dihasilkan sistem penggerak tersebut (Gambar 23). Selain itu, penentuan
resistansi badan kendaraan air juga dapat ditentukan dengan menarik
kendaraan air dengan tali dan alat ukur beban dari bagian depan tanpa sistem
penggerak. Sehingga gaya dorong total merupakan gaya yang dibutuhkan
untuk mendorong beban statik kendaraan air dan untuk mengatasi resistansinya.
v (m/s)
Resistansi
Gambar 23 Pengukuran gaya tarik kendaraan air
f. Pengukuran RPM motor dan konsumsi daya listrik
Pengukuran RPM motor listrik menggunakan sensor opto-coupler yang
terintegrasi dengan mikrokontroler dan ditampilkan pada LCD. RPM motor
dapat diatur dengan menggunakan potensiometer pada power supply.
Kemudian pengukuran daya listrik (voltase dan ampere) yang terpakai
menggunakan digital dual display VA 100 V/ 10 A yang langsung ditampilkan
pada LCD. Kedua hasil pengukuran tersebut direkam menggunakan kamera
digital untuk selanjutnya dianalisis.
19
Prosedur Analisis Data
Kriteria Desain
Kriterian desain dari penelitian ini mengikuti hasil penelitian sebelumnya
oleh Andi et al. (2015) dengan beberapa penyesuaian. Kriteria-kriteria tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Ukuran mekanisme disesuaikan dengan hasil simulasi crank and rocker pada
Microsoft Excel serta batasan ruang yang tersedia pada model kendaraan air.
b. Dimensi plat struktur mengikuti ukuran terbaik hasil simulasi pada penelitian
sebelumnya yakni panjang 500 mm dan tebal 1 mm. Penambahan plat pada kiri
dan kanan dengan panjang setengah dari panjang plat total dimaksudkan untuk
menjaga kekakuan dari plat yang bergetar.
c. Jarak antar hull mengikuti hasil simulasi double-displacement dari plat yang
bergetar yakni minimal 20 cm.
d. Dimensi plat struktur tidak melebihi setengah dari panjang model kendaraan air
yang dirancang. Kendaraan air yang dirancang memiliki panjang 100 cm.
e. Kecepatan maju yang ditargetkan berdasarkan hasil simulasi numerik adalah
0.79 m/s dengan gaya dorong 0.99 N pada luasan basah 0.72 m2 dan model
kendaraan air tipe fishing craft.
f. Model kendaraan air dibuat menjadi tipe multi hull dimaksudkan agar
memperbesar gaya angkat ke atas dan mempermudah mengaplikasian sistem
penggerak yang dirancang.
g. Kendaraan air dibuat simetris dimaksudkan untuk mempermudah dalam
menghitung luasan basah yang sebenarnya dengan prinsip geometri sederhana.
h. Putaran motor listrik harus bisa diubah-ubah untuk mencari frekuensi pribadi
plat yang bergetar dengan menggunakan rangkaian power supply dan
potensiometer.
Analisis Daya
Daya yang ada pada sistem penggerak kendaraan air memiliki hubungan
yang erat dengan efisiensi. Terdapat beberapa definisi efisiensi dalam sistem
penggerak kendaraan air, yaitu efisiensi motor listrik, efisiensi hull, efisiensi
sistem penggerak, dan efisiensi mekanisme. Untuk motor listrik yang baru, nilai
efisiensi masih cukup tinggi dan akan semakin berkurang seiring waktu
pemakaian.
Menurut Adji (2005), efisiensi hull merupakan perbandingan antara daya
efektif dengan daya dorong. Daya efektif berkaitan dengan gaya resistansi badan
kendaraan air, sedangkan daya dorong berkaitan dengan gaya dorong yang
dihasilkan oleh sistem penggerak. Jika diasumsikan bahwa kecepatan aliran fluida
sama dengan kecepatan maju kendaraan air maka efisiensi hull tersebut
merupakan perbandingan antara gaya resistansi dengan gaya dorongnya. Efisiensi
sistem penggerak merupakan rasio antara daya dorong dengan daya yang
disalurkan dan dipengaruhi oleh bagian dimana pengukuran tersebut dilakukan.
Dalam hal ini, efisiensi sistem penggerak merupakan perbandingan antara
perkalian gaya dorong dan kecepatan maju dengan daya listrik yang disalurkan
oleh sistem penggerak ke lingkungan. Efisiensi mekanisme berkaitan dengan
kinerja mekanisme dalam menyalurkan daya. Efisiensi ini merupakan
20
perbandingan antara selisih daya saat menggunakan dan tanpa mekanisme dengan
daya yang dibutuhkan saat menggunakan mekanisme.
Sebagai perbandingan penggunaan daya, dilakukan perhitungan
pembanding antara daya yang digunakan oleh kendaraan air skala besar yang
sudah terstandar dengan perhitungan daya pada kendaraan air yang dirancang
dengan skala yang sebanding mengikuti perhitungan MAN Diesel & Turbo (2011).
Analisis Statistika
Analisis dilakukan dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK).
Rancangan percobaan jenis ini terdiri dari dua syarat, yaitu ada satu peubah bebas
yang disebut perlakuan dan ada satu peubah sampingan atau pengganggu yang
disebut kelompok. Rancangan tersebut dapat diekspresikan dengan model
matematika sebagai berikut:
Yij    K i  Pj   ij
dimana, Yij merupakan pengamatan kelompok ke-i dan perlakuan ke-j, μ
merupakan rataan umum, Ki merupakan pengaruh kelompok ke-i, Pj merupakan
pengaruh perlakuan ke-j dan εij merupakan galat kelompok ke-i dan perlakuan ke-j.
Dalam penelitian ini, kelompok merupakan RPM motor listrik dan
perlakuan merupakan jenis plat yang digunakan. Setiap RPM dilakukan ulangan
sebanyak 3 kali untuk setiap plat pada dua jenis luasan basah yang berbeda.
Parameter yang menjadi pengamatan adalah kecepatan maju, gaya dorong,
konsumsi daya listrik, dan daya mekanis. Selanjutnya analisis rasio daya
dilakukan secara terpisah sebagai acuan penentuan efisiensi.
Software yang digunakan untuk analisis tersebut adalah IBM SPSS Statistics
20.0 pada Microsoft Windows 7. Analisis deskriptif uji normalitas dilakukan
dengan menggunakan menu Analyze dan Explore pada software tersebut. Jika
sampel kurang dari 50 maka uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk dan jika
sampel lebih besar dari 50 maka uji normalitas menggunakan KolmogorovSmornov. Nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 berarti data berdistribusi normal.
Selanjutnya analisis ragam (analisis varian) dilakukan untuk menguji pengaruh
dari ukuran plat yang digunakan terhadap masing-masing parameter yang diamati.
Uji lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rataan antar
parameter dengan menggunakan Uji Lanjut Duncan.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa alur penelitian
menggunakan aturan dasar penelitian rancang bangun bidang teknik atau
engineering design seperti yang dijelaskan pada Gambar 24. Konseptualisasi
model dilakukan untuk mempermudah pemahaman desain yang ingin dirancang.
Kemudian proses simulasi dilakukan untuk menghemat waktu dan biaya sebelum
proses pabrikasi. Jika rancangan sudah terverifikasi, selanjutnya dilakukan
pabrikasi model. Jika hasil simulasi belum memenuhi maka dilakukan revisi
model konseptual dan kembali dilakukan analisis dan simulasi rancangan. Setelah
proses pabrikasi, proses pengujian fungsional dilakukan untuk memastikan fungsi
masing-masing bagian dapat bekerja dengan baik. Proses pengujian kinerja
dilakukan untuk melihat performansi sistem yang dicancang secara kuantitatif.
Jika hasilnya menunjukkan respon positif maka dilakukan penulisan laporan dan
21
jika belum memenuhi maka dilakukan perbaikan rancangan dan dilakukan
pengujian ulang.
Gambar 24 Bagan alir penelitian
22
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Mekanisme Crank and Rocker
Mekanisme crank and rocker mampu menghasilkan gerakan osilasi (bolakbalik) pada batang hubung output dan gerakan berputar penuh pada batang
hubung input. Ukuran setiap batang hubung sangat berpengaruh terhadap doubledisplacement atau perpindahan ganda yang dihasilkan pada batang hubung output.
Sedangkan double-displacement pada output sangat menentukan doubledisplacement pada ujung plat. Sehingga proses optimasi dilakukan untuk
menentukan ukuran terbaik dari masing-masing batang hubung yang digunakan
dengan beberapa keterbatasan ruang (Gambar 25). Pada simulasi tersebut, ukuran
O2O4 terbatas pada 80 mm dan O4C pada 50 mm. Keterbatasan tersebut
berdasarkan ukuran ruang yang tersedia untuk bagian sistem penggerak pada
kendaraan air yang dibuat. Selanjutnya ukuran O2B dan BC dibuat berubah-ubah
sampai dihasilkan ukuran terbaik.
60
C
40
20
O2
-50
-30
0
-10
B
10
O4
30
50
70
90
110
130
150
-20
-40
Satuan : mm
-60
Gambar 25 Hasil simulasi mekanisme crank and rocker
pada Microsoft Excel
Hasil simulasi terbaik salah satunya dapat dilihat berdasarkan grafik sudut
input terhadap sudut output (Gambar 26). Pada hasil simulasi tersebut, panjang
O2B dan BC berturut-turut adalah 20 mm dan 90 mm. Batang hubung pertama
dibuat dalam bentuk flywheel sehingga mampu meneruskan gaya putar dari poros
motor listrik dengan baik. Setiap satu putaran penuh batang hubung pertama
(O2B) dapat menghasilkan satu getaran pada batang hubung ketiga (O4C). Nilai
double-displacement yang dihasilkan pada batang hubung ketiga sangat
dipengaruhi oleh ukuran batang hubung pertama sehingga ukuran batang hubung
pertama diusahakan minimum agar menghasilkan double-displacement pada
batang hubung ketiga yang minimum pula. Hal tersebut menjadi penting karena
nilai displacement pada batang hubung ketiga sangat berbengaruh terhadap
double-displacement pada ujung plat.
Berdasarkan hasil penelitian Andi et al (2015), nilai double-displacement
maksimum pada ukuran panjang 500 mm, lebar 30 mm, dan tebal 1 mm adalah 20
cm. Nilai tersebut menjadi pertimbangan pembuatan jarak antar-hull yakni tidak
boleh kurang dari 20 cm. Hal lain yang menjadi batasan dalam simulasi adalah
23
Sudut θ4 output (deg)
arah titik kesetimbangan dari osilasi tersebut harus sejajar dengan garis
memanjang kendaraan air. Jika hal tersebut tidak terpenuhi maka gerak osilasi plat
akan menjadi tidak seimbang dan kendaraan air tidak mampu bergerak lurus.
140
120
100
80
60
40
20
0
0
60
120
180
240
300
360
Sudut θ2 input (deg)
Gambar 26 Grafik sudut input terhadap sudut output yang
dipilih pada rancangan mekanisme crank and
rocker
Torgal et al. (2003) melakukan simulasi mekanisme empat batang hubung
menggunakan teorema Freudenstein (metode aljabar) untuk menghasilkan
mekanisme crank and rocker yang paling sesuai. Berdasarkan hasil simulasi
tersebut, mekanisme crank and rocker yang paling sesuai dihasilkan dengan
mengikuti gerakan fungsi polinomial ordo 2, polinomial ordo 3, dan eksponensial.
Setelah proses simulasi, pembuatan model fisik dilakukan berdasarkan hasil
simulasi tersebut (Gambar 27). Mekanisme crank and rocker yang dihasilkan
akan meneruskan pergerakan osilasinya melalui sebuah poros yang menyatu
dengan titik kontak O4 secara vertikal dan terhubung ke poros penjepit plat yang
digetarkan.
Gambar 27 Model fisik mekanisme crank and rocker
Abdulkadar et al. (2013) melakukan simulasi pada mekanisme empat batang
hubung menggunakan software CATIA untuk mengetahui jalur pergerakan batang
hubung dengan ukuran batang hubung yang berbeda. Berdasarkan hasil tersebut,
dapat dibuktikan bahwa ukuran batang hubung pertama yang lebih kecil dari
batang hubung ketiga atau sebaliknya dapat menghasilkan sudut output yang
sebanding dengan sudut input-nya. Sedangkan jika ukuran batang hubung pertama
24
dan ketiga sama maka gerakan kedua batang hubung tersebut menjadi penuh
kedua-duanya (parallel motion). Hal tersebut dapat mengkonfirmasikan teori
Grashof yang menyatakan bahwa mekanisme empat batang hubung akan
menghasilkan setidaknya satu bagian batang hubung yang berputar penuh jika
jumlah ukuran batang hubung paling panjang dan paling pendek lebih kecil atau
sama dengan jumlah ukuran batang hubung lainnya. Pada mekanisme yang dibuat,
kriteia Grashof tersebut sudah terpenuhi sehingga mekanisme dapat bergerak
sesuai dengan yang diharapkan.
Karakteristik Plat dan Model Kendaraan Air
Plat yang digunakan terbuat dari bahan stainless steel dengan ketebalan
1 mm. Bahan stainless steel memiliki nilai densitas sebesar 8000 kg/m3, yield
strength sebesar 2.344 x 108 N/m2, dan modulus elastisitas sebesar 1.93 x 1011
N/m2. Berdasarkan penelitian Andi et al. (2015), plat dengan ketebalan 1 mm,
panjang 500 mm, dan lebar 30 mm memiliki frekuensi pribadi mode pertama 4.96
rad/s. Pada frekuensi tersebut, dihasilkan nilai gaya dorong paling tinggi
dibandingkan panjang lainnya yakni sebesar 0.99 N pada kecepatan 0.79 m/s dan
luasan basah 0.72 m2. Penelitian ini menggunakan ukuran panjang plat yang sama
dengan penambahan penebalan setengah dari panjang total pada kedua
sampingnya untuk menjaga kekakuan (stiffness) dari plat yang digetarkan. Faktor
kekakuan inilah yang mempengaruhi nilai frekuensi pribadi plat yang bergetar.
Selain itu, lebar plat dibuat berubah-ubah untuk mengetahui pengaruhnya pada
kinerja yang dihasilkan oleh sistem penggerak tersebut (Gambar 28).
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
Gambar 28 Jenis plat stainless steel dengan ukuran yang
berbeda
Secara teoritis, penambahan lebar yang tidak signifikan tidak akan
mengubah frekuensi pribadi secara signifikan pula pada ukuran yang jauh lebih
kecil dibandingkan panjangnya. Simulasi dilakukan pada mode pertama dan
kedua. Hasil simulasi frekuensi pribadi mode kedua tersebut ditunjukkan oleh
Gambar 29. Simulasi tersebut menggunakan fixture jenis fixed hinge dan beban
luar berupa tekanan air pada kedalaman 10 cm sebesar 981 N/m2 dan gravitasi
bumi sebesar 9.81 m/s2. Pemilihan mode kedua dilakukan karena melihat hasil
mode pertama yang harus menggunakan putaran motor yang sangat rendah
sedangkan menghasilkan putaran motor rendah yang stabil dengan beban dari air
sekeliling susah didapatkan. Kondisi tersebut akan menjadikan sistem penggerak
menghasilkan gaya dorong yang rendah dan gerak kendaraan air tidak stabil. Hasil
simulasi double-displacement merupakan nilai URES dalam satuan mm yang
kemudian dikalikan dengan deformation scale pada masing-masing hasil simulasi.
Hasil simulasi frekuensi pribadi dan double-displacement tidak menunjukkan
25
perbedaan yang signifikan karena faktor pembeda hanya satu yakni lebar yang
tidak signifikan pula.
Gambar 29 Simulasi frekuensi pribadi dan double-displacement pada
plat 1 (a), plat 2 (b), plat 3 (c), dan plat 4 (d)
Pada hasil simulasi frekuensi pribadi tersebut, putaran motor listrik yang
dibutuhkan untuk menghasilkan nilai frekuensi pribadi dan double-displacement
paling tinggi pada mode kedua tersebut seperti ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2 Frekuensi pribadi mode ke-2 dan maximum double-displacement masingmasing plat
Jenis Plat
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
Frekuensi pribadi mode 2
(Hz)
21.134
21.105
21.270
21.124
Putaran
(RPM)
202
202
203
202
Max. double-displacement
(cm)
10.03
9.97
9.99
10.19
Pembuatan model kendaraan air disesuaikan dengan target rancangan dari
sistem penggerak yang dibuat yakni panjang plat struktur adalah setengah dari
panjang model kendaraan air yang dibuat. Kendaraan air terbuat dari kayu albasia
dan kayu lapis. Tipe hull kendaraan air yang dirancang adalah tipe multi hull
dengan pertimbangan dan penyesuaian pada sistem penggerak yang dirancang
(Gambar 30). Perhitungan volume hull sangat menentukan gaya angkat (lift) dari
kendaraan air tersebut saat berada di atas permukaan air. Dengan menggunakan
prinsip Archimedes, kendaraan air tersebut memiliki luas permukaan basah yang
masih berada di bawah panjang garis air (length on waterline Lwl) maksimum dari
kendaraan air yang dipersyaratkan. Luasan basah saat tanpa beban adalah sebesar
0.32 m2 dan saat ditambah beban 5 kg adalah sebesar 0.57 m2. Dua jenis luasan
basah inilah yang akan mempengaruhi resistansi dari kendaraan air saat bergerak
di atas permukaan air. Perhitungan luasan basah tersebut dilakukan secara manual
menggunakan prinsip geometri sehingga bentuk kendaraan air yang dibuat
memiliki alasan tertentu yakni untuk mempermudah perhitungan luasan basah
26
yang sebenarnya. Pada pengembangannya, bentuk kendaraan air dipersyaratkan
memperhatikan prinsip hidrodinamika dari bentuk yang streamline agar
mempermudah kendaraan air menerobos air. Hal ini menjadi penting karena akan
mempengaruhi efisiensi total dari kinerja sistem penggerak pada kendaraan air.
Gambar 30 Model fisik kendaraan air tipe multi hull
Kendaraan air dipastikan tidak terjadi kebocoran dengan melapisi seluruh
bagian basah kendaraan air dengan cat waterproof. Kemudian poros yang
meneruskan putaran dari mekanisme menuju plat diusahakan tidak tembus air
dengan menggunakan ukuran poros yang pas dengan bearing tipe bola yang
menghubungkan poros bagian atas dan poros bagian bawah.
Kalibrasi Alat Ukur Putaran dan Daya Listrik
Perhitungan putaran motor listrik dilakukan dengan menggunakan sensor
opto-coupler dari seperangkat encoder yang terpasang pada bagian sistem
penggerak. Namun sebelum dapat digunakan, sensor tersebut terlebih dahulu
dikalibrasi dengan menggunakan alat ukur penghitung putaran standar yakni
tachometer (Gambar 31). Nilai pembacaan sensor langsung ditampilkan pada
LCD dengan menggunakan mikrokontroler jenis Arduino Uno. Mikrokontroler
jenis ini tergolong mudah digunakan dan memiliki pin input dan output yang
cukup untuk menampilkan hasil pembacaan sensor melalui pin interupt. Kode
program yang digunakan dapat dilihat pada Lampiran 2.
Gambar 31 Proses kalibrasi sensor opto-coupler
penghitung putaran motor listrik
Kalibrasi dimulai dari 63 rpm sampai 449 rpm pada tachometer. Kemudian
data diolah dan didapatkan hasil regresinya seperti pada Gambar 32. Nilai koreksi
27
tersebut kemudian dimasukkan ke dalam program untuk memperbaiki program
sebelumnya.
Putaran pada Tachometer (rpm)
500
y = 1.081x - 19.118
R² = 0.993
400
300
200
100
0
0
100
200
300
400
500
Putaran pada LCD (rpm)
Gambar 32 Hasil kalibrasi putaran pada LCD dan
menggunakan Tachometer
Pengukuran daya listrik menggunakan Digital Dual Display VA DC yang
dapat mengukur daya listrik sampai 1000 VA. Alat ukur ini merupakan rangkaian
rakitan satu paket yang memiliki kemampuan memperbaharui pembacaan nilai
voltase dan arus listrik setiap 500 ms dengan akurasi sebesar ± 1 % (2 digit
desimal). Untuk membuktikan akurasi hasil pembacaan alat ukur tersebut
dilakukan pengukuran manual menggunakan Digital Multimeter. Hasilnya
menunjukkan kesamaan nilai yang baik antara pembacaan alat ukur standar
dengan rangkaian tersebut.
Kecepatan Maju Kendaraan Air
Resistansi pada badan kendaraan air merupakan fungsi kuadratik dari
kecepatan majunya. Semakin cepat kendaraan air bergerak maka semakin tinggi
pula gaya gesek yang terjadi pada badan kendaraan air tersebut. Meski demikian,
kecepatan kendaraan air dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan target sehingga
akan bervariasi. Kendaraan air berbahan bakar minyak dan batu bara menjadi
topik bahasan dalam menentukan batas kecepatan yang mungkin agar dapat
menghasilkan batas optimum antara target tujuan dan gas polusi yang ditimbulkan.
John Maggs (2011) dalam kajiannya menyatakan bahwa mereduksi kecepatan
kendaraan air merupakan cara efektif untuk mengurangi emisi dari kendaraan air
secara cepat dalam menyikapi perubahan iklim. Meski demikian, terdapat
beberapa pilihan dalam menentukan kecepatan kendaraan air tergantung tempat
dan kondisi lingkungan yang menjadi target. Beberapa hal yang menjadi
pertimbangan dalam pemilihan tersebut adalah waktu tempuh dengan volume
kendaraan air yang sama untuk periode waktu tertentu, penyesuaian desain,
keamanan, hambatan teknis, monitoring, biaya inventaris, dan rantai logistik.
28
Kecepatan Maju (m/s)
Kecepatan kendaraan air dipengaruhi oleh beberapa unsur seperti dimensi
utama, benaman, koefisien bentuk, dan daya mesin. Sebagai perbandingan,
kendaraan air jenis kontainer dengan bobot 600 TEU yang setara dengan 10200
ton (TrustFm 2009) bekerja dalam kecepatan servis 15 knots atau setara dengan
7.72 m/s membutuhkan daya propulsi sebesar 2500 kW. Kecepatan maju
kendaraan air yang dirancang pada masing-masing putaran motor listrik yang
digunakan dapat dilihat pada Gambar 33 dan Gambar 34.
0.50
0.45
0.40
0.35
0.30
0.25
0.20
0.15
0.10
0.05
0.00
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
0
60
120 180 240 300
Putaran Motor (rpm)
360
Gambar 33 Kecepatan maju kendaraan air untuk
masing-masing putaran pada luasan
basah 0.32 m2
Karakteristik dari kecepatan yang dihasilkan pada kendaraan air tersebut
adalah polinomial orde 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat putaran
motor listrik dimana kecepatan maju yang paling tinggi akan dicapai. Kecepatan
maksimum yang dihasilkan oleh kendaraan air dengan luasan basah sebesar 0.32
m2 adalah 0.38 m/s pada 313 rpm untuk plat 1, 0.35 m/s pada 243 rpm untuk plat
2, 0.31 m/s pada 233 rpm untuk plat 3, dan 0.30 m/s pada 250 rpm untuk plat 4.
Sedangkan pada luasan basah yang berbeda yakni 0.57 m2, kecepatan maju
maksimum kendaraan air adalah 0.16 m/s pada 500 rpm untuk plat 1, 0.23 m/s
pada 220 rpm, 0.20 m/s pada 267 rpm untuk plat 3, dan 0.40 m/s pada 233 rpm
untuk plat 4. Meskipun terjadi putaran yang mencapai 500 rpm pada plat 1, namun
grafik pada Gambar 34 dibuat setara dengan grafik lainnya yakni sampai 360 rpm
untuk mendapatkan kesetaraan visual saat membandingkan pada luasan basah
berbeda. Pada kondisi luasan basah 0.57 m2, kecepatan maksimum yang
dihasilkan menjadi menurun karena terdapat penambahan bobot kendaraan air
sehingga terjadi penambahan luasan basah dan resistansi badan kendaraan air
pada saat yang bersamaan. Dalam aplikasinya, nilai inilah yang akan menjadi
pertimbangan pengaturan putaran motor yang direkomendasikan untuk
menghasilkan kecepatan maju yang diharapkan dengan bobot tertentu.
Berdasarkan nilai yang dihasilkan dapat diprediksikan bahwa pada nilai
putaran tersebut frekuensi pribadi dari masing-masing plat dihasilkan. Jika
dibandingkan dengan nilai hasil simulasi, frekuensi pribadi masing-masing plat
berkisar pada 202 RPM untuk mode ke-2 pada kondisi kedalaman plat 10 cm dari
29
Kecepatan Maju (m/s)
permukaan air. Ketidakteraturan nilai frekuensi pribadi yang dihasilkan pada
masing-masing plat disebabkan oleh ketenggelaman plat yang tidak sama. Kondisi
tersebut menjadikan plat yang bergetar di dalam air akan menerima tekanan yang
berbeda-beda.
0.50
Plat 1
0.45
Plat 2
0.40
Plat 3
0.35
Plat 4
0.30
0.25
0.20
0.15
0.10
0.05
0.00
0
60 120 180 240 300 360
Putaran Motor (rpm)
Gambar 34 Kecepatan maju kendaraan air untuk
masing-masing putaran pada luasan
basah 0.57 m2
Dari kedua luasan basah tersebut, dapat direkomendasikan bahwa plat
dengan lebar plat 30 cm (plat 1) baik untuk luasan basah lebih kecil dibandingkan
dengan lebar plat 60 cm (plat 4) yang baik saat luasan basah yang lebih besar
karena bobot kendaraan air bertambah. Kecepatan maju sebesar ini sudah cukup
dan bisa digunakan untuk kendaraan air yang tidak memerlukan kecepatan tinggi
seperti misalnya kendaraan air untuk wahana rekreasi air, penangkapan ikan,
pengangkutan bahan pertanian, dan lainnya.
Gaya Dorong Kendaraan Air
Gaya dorong yang dihasilkan oleh sistem penggerak kendaraan air berfungsi
untuk mengatasi gaya hambat yang disebabkan oleh lingkungan kendaraan air
tersebut beroperasi. Terlepas dari jenis sistem penggerak yang digunakan, fungsi
tersebut berlaku secara umum. Selain itu, gaya dorong tersebut juga harus mampu
memindahkan beban statis yang dimiliki oleh badan kendaraan air itu sendiri.
Untuk memberikan pemahaman bahwa gaya dorong yang dihasilkan bergantung
pada bobot statis badan kendaraan air maka ditentukan satuan gaya dorong per
satuan bobot kendaraan air (N/kg kendaraan air). Gaya dorong per satuan bobot
kendaraan air yang dihasilkan masing-masing plat pada putaran motor listrik yang
berbeda dapat dilihat pada Gambar 35 untuk luasan basah 0.32 m2.
Gaya dorong dalam perhitungan ini merupakan gaya dorong kendaraan air
oleh sistem penggerak itu sendiri untuk memindahkan kendaraan air ke depan
serta untuk mengatasi resistansi badan kendaraan air yang ada di sekitar badan
kendaraan air. Bobot kendaraan air pada luasan basah 0.32 m2 adalah 12.5 kg.
Gaya dorong yang dihasilkan plat 1 dan plat 2 cenderung terus meningkat
sedangkan plat 3 dan plat 4 meningkat yang kemudian menurun kembali. Gaya
dorong tersebut memiliki hubungan dengan kecepatan maju yang dihasilkan.
30
Gaya Dorong per Bobot
Kendaraan Air (N/kg)
Kecepatan maju dari masing-masing plat sebanding dengan gaya dorong yang
dihasilkan pada masing-masing plat. Kecepatan maju paling tinggi pada plat 1
sebesar 0.38 m/s menghasilkan gaya dorong sebesar 1.75 N untuk bobot
kendaraan air tersebut. Perubahan gaya dorong terhadap perubahan luasan basah
lebih kecil pada plat struktur 4. Hal ini terjadi karena plat 4 yang lebih lebar
mendapatkan tekanan air yang kecil saat ketenggelaman kendaraan air tersebut.
Jika melihat grafik kecepatan, plat 1 meningkat kemudian menurun kembali.
Namun, pada grafik gaya dorong dapat dilihat bahwa plat 1 terus meningkat.
Meskipun terdapat hubungan antara kecepatan maju dengan gaya dorong yang
dihasilkan namun banyak faktor yang mempengaruhi seperti koefisien tahanan
total kendaraan air dan koefisien bentuk. Diduga kondisi lingkungan perairan dan
angin yang tidak menentu sehingga mempengaruhi tahanan total kendaraan air.
0.20
Plat 1
0.18
Plat 2
0.16
Plat 3
0.14
Plat 4
0.12
0.10
0.08
0.06
0.04
0.02
0.00
0
60 120 180 240 300 360
Putaran Motor (rpm)
Gambar 35 Gaya dorong kendaraan air untuk
masing-masing putaran pada luasan
basah 0.32 m2
Zheng Chen (2010) melakukan simulasi pada penggerak biomimetik robot
ikan menggunakan komposit ionic polymer-metal sebagai ekor penggeraknya.
Parameter permukaan basah yang digunakan adalah 218 x 10-4 m2, massa jenis air
1000 kg/m3, dan koefisien gaya hambat 0.12 menghasilkan gaya dorong sebesar
0.2 N pada kecepatan 0.4 m/s. Selanjutnya Andi et al. (2015) melakukan simulasi
pada plat tipis dengan ukuran panjang, lebar, dan tebal berturut-turut 500 mm, 30
mm, dan 1 mm dengan bahan stainless steel sebagai alat penggerak pada
kendaraan air dengan luasan basah 0.72 m2 menghasilkan gaya dorong 0.99 N
pada kecepatan 0.79 m/s.
Pada luasan basah yang berbeda, gaya dorong yang dihasilkan juga
memiliki hubungan yang sebanding dengan nilai kecepatan maju yang dihasilkan
(Gambar 36). Bobot kendaraan air pada luasan basah 0.57 m2 adalah 17.5 kg.
Pada kondisi kecepatan paling tinggi 0.40 m/s untuk plat 4, gaya dorong yang
dihasilkan adalah sebesar 1.18 N untuk menggerakan kendaraan air pada bobot
tersebut. Dapat dilihat bahwa gaya dorong yang dihasilkan pada kedua kondisi
bobot kendaraan air yang berbeda adalah berbeda pula dimana penambahan bobot
akan menambah kebutuhan gaya dorong yang diperlukan untuk menghasilkan
kecepatan maju yang sama.
Gaya Dorong per Bobot
Kendaraan Air (N/kg)
31
0.20
0.18
0.16
0.14
0.12
0.10
0.08
0.06
0.04
0.02
0.00
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
0
60 120 180 240 300
Putaran Motor (RPM)
360
Gambar 36 Gaya dorong kendaraan air untuk
masing-masing putaran pada luasan
basah 0.57 m2
Konsumsi Daya Listrik
Konsumsi Daya Listrik (watt)
Penggunaan energi merupakan salah satu faktor penentu pemilihan jenis
penggerak yang paling baik digunakan. Meskipun sumber energi yang digunakan
berbeda-beda, namun terdapat kesamaan dimana faktor konversi energi akan
menghasilkan satuan yang sama. Penggunaan listrik sebagai sumber energi untuk
menggerakkan kendaraan air sudah lama digunakan. Kendaraan air berukuran
besar biasanya secara luas menggunakan jenis motor AC atau DC. Kendaraan air
kecil seperti kendaraan air penangkap ikan pun sangat mungkin diaplikasikan
energi listrik sebagai sumber penggeraknya. Gambar 37 menunjukkan besarnya
konsumsi daya listrik untuk setiap plat pada masing-masing putaran motor listrik.
70
Plat 1
60
Plat 2
Plat 3
50
Plat 4
40
30
20
10
0
0
60
120 180 240 300
Putaran Motor (rpm)
360
Gambar 37 Konsumsi daya listrik kendaraan air
untuk masing-masing putaran pada
luasan basah 0.32 m2
32
Konsumsi Daya Listrik (watt)
Besarnya daya listrik untuk setiap putaran motor yang sama relatif stabil,
namun memiliki nilai arus listrik yang berbeda-beda. Sehingga nilai daya yang
digunakan juga berbeda-beda. Penggunaan lebar plat yang lebih besar akan
menambah tekanan yang lebih besar sehingga kebutuhan daya meningkat. Dalam
hal ini lebar plat paling kecil yakni plat 1 menggunakan daya listik paling
minimum dibandingkan plat yang lain.
Hal yang serupa juga terjadi pada saat kendaraan air ditambah beban
(Gambar 38). Konsumsi daya listik paling tinggi berada pada plat 4 yang memiliki
lebar paling besar dibandingkan plat lain dan daya listrik paling rendah terdapat
pada plat 1 yang memiliki lebar plat paling kecil.
70
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
60
50
40
30
20
10
0
0
60
120 180 240 300
Putaran Motor (rpm)
360
Gambar 38 Konsumsi daya listrik kendaraan air
untuk masing-masing putaran pada
luasan basah 0.57 m2
Di Indonesia, penelitian yang berkaitan dengan penggunaan motor listrik
DC sebagai motor penggerak sudah dilakukan oleh Endro Irawan (2007) dan
Sudiyono et al. (2008) yang menggunakan sistem hibrid antara penggunaan batrei
dan teknologi sel surya untuk pengisian ulang. Penelitian lain juga dilakukan oleh
Aulia Windyandari et al. (2011) dan Tangguh Bimantoro (2014) yang
mengkombinasikan motor bakar diesel dengan listrik sebagai sumber energi
penggerak propeler. Secara umum, hasil penelitian terdahulu menyatakan bahwa
penggunaan motor listrik lebih menguntungkan secara ekonomis.
Daya Mekanis Kendaraan Air
Daya mekanis merupakan laju dari kerja yang dilakukan oleh sebuah sistem.
Dengan kata lain daya mekanis dalam hal ini merupakan usaha yang dilakukan
oleh kendaraan air untuk bergerak dalam satuan waktu tertentu. Daya mekanis
dihasilkan dengan mengalikan gaya dorong dengan kecepatan majunya. Untuk
masing-masing kinerja plat, daya mekanis yang dihasilkan dapat dilihat pada
Gambar 39 untuk luasan basah 0.32 m2 dan Gambar 40 untuk luasan basah
0.57 m2.
Daya mekanis merupakan fungsi dari gaya dorong dan kecepatan maju
kendaraan air sehingga karakteristiknya tidak jauh berbeda dengan kedua
33
Daya Mekanis (watt)
parameter tersebut. Plat 1 memiliki daya mekanis yang paling tinggi sebagai
akibat dari gaya dorong paling tinggi dan kecepatan maju yang relatif lebih tinggi
pula. Begitu juga hal sebaliknya terjadi pada plat 4 yang memiliki gaya dorong
dan kecepatan maju yang relatif lebih rendah.
1.0
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0.0
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
0
60
120 180 240 300
Putaran Motor (rpm)
360
Gambar 39 Daya mekanis kendaraan air untuk
masing-masing putaran pada luasan
basah 0.32 m2
Daya Mekanis (watt)
Daya mekanis memiliki peranan penting dalam penentuan efisiensi
kendaraan air meskipun bukanlah satu-satunya faktor penentu efisiensi yang
terjadi pada sistem penggerak kendaraan air. Semakin banyak sistem penyaluran
daya yang dilakukan, semakin banyak pula kemungkinan daya hilang dalam
bentuk lain sehingga efisiensi akan menurun. Tugas seorang perancang
selanjutnya adalah mencari mekanisme-mekanisme paling efisien dalam
menyalurkan daya agar dapat meminimalkan kehilangan.
1.0
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0.0
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
0
60
120 180 240 300
Putaran Motor (rpm)
360
Gambar 40 Daya mekanis kendaraan air untuk
masing-masing putaran pada luasan
basah 0.57 m2
34
Daya listrik yang digunakan untuk menggerakan sistem penggerak yang
dirancang akan dieksersikan dalam bentuk gaya dorong pada kecepatan tertentu
ke lingkungan di sekitar kendaraan air sehingga bisa bergerak ke depan. Meski
daya tersebut memiliki satuan yang sama dan dapat dibandingkan sebagai
pertimbangan efisiensi pergerakan kendaraan air, namun perhitungan tersebut
bukanlah satu-satunya konversi kesetaraan satuan yang menjadi patokan
perhitungan sebenarnya.
Pada kondisi bobot kendaraan air yang lebih tinggi, luasan basah kendaraan
air menjadi bertambah. Hal tersebut tentu akan meningkatkan resistansi kendaraan
air yang harus dihadapi oleh sistem propulsi. Resistansi kendaraan air merupakan
fungsi kuadratik dari kecepatan majunya sehingga perubahan kecepatan yang
kecil akan mengakibatkan perubahan resistansi yang tinggi. Hal ini sangat
mempengaruhi daya mekanis yang dihasilkan dimana resistansi memiliki
hubungan yang linier dengan gaya dorong kendaraan air.
Stabilitas Kendaraan Air
Peninjauan stabilitas kendaraan air perlu memperhatikan karakteristik dari
tiga buah titik yang memiliki peran penting seperti pada Gambar 41.
Gambar 41 Simulasi karakteristik titik stabilitas
kendaraan air (Sahlan et al. 2012)
Menurut Sahlan et al. (2012), tiga titik yang berperan penting tersebut
adalah titik G (gravitasi) yang merupakan titik berat dari kendaraan air, titik B
yang merupakan titik tekan ke atas dari volume air yang dipindahkan oleh bagian
kendaraan air yang ada dalam air, dan titik M (metasentra) yang merupakan titik
perpotongan (semu) vektor gaya tekan pada keadaan tetap dengan vektor gaya
tekan ke atas pada sudut oleng yang kecil. Saat keseimbangan kendaraan air
terganggu atau oleng, titik G tidak mengalami perubahan sedangkan titik B akan
mengalami pergeseran karena jumlah air yang dipindahkan berubah. Pada kondisi
sebenarnya, lingkungan air yang memiliki gelombang cukup tinggi akan
menyebabkan kendaraan air menerima gerakan osilasi. Terdapat enam gerakan
yang diakibatkan oleh osilasi tersebut yakni gerakan transalasi (surge, sway, dan
yaw) dan rotasi (roll, pitch, dan yaw) terhadap sumbu x, y, dan z.
Kendaraan air yang dirancang memiliki stabilitas yang cukup tinggi
(Gambar 42). Faktor yang mempengaruhi kestabilan tersebut adalah tipe
kendaraan air dengan multi hull, penambahan dua buah plat penyearah pada
bagian belakang masing-masing hull, dan juga kondisi perairan yang tenang.
35
Gambar 42 Kondisi kendaraan air yang stabil pada
perairan yang tenang
Kendaraan air tipe multi hull memiliki luasan permukaan basah yang lebih
besar sehingga gaya angkat yang dimiliki menjadi besar. Namun, semakin besar
luasan basah kendaraan air maka semakin besar resistansinya dan gaya dorong
yang diperlukan menjadi besar pula. Untuk mengatasi hal tersebut bisa dilakukan
perancangan hull yang lebih hidrodinamis.
Hubungan Antar Parameter
Parameter-parameter yang menjadi pengamatan pada uji kinerja sistem
penggerak pada kendaraan air memiliki hubungan satu sama lain. Menurut Liu et
al. (1999), efisiensi pergerakan hewan air dapat diekspresikan dengan
membandingkan nilai perkalian koefisien gaya dorong dengan kecepatan maju
atau yang disebut daya mekanis terhadap koefisien daya yang dikeluarkan untuk
bergerak. Kemudian kaitannya dengan kendaraan air, Surjo W Adji (2005)
menyatakan bahwa sistem penggerak memiliki beberapa definisi daya yang
ditransmisikan mulai dari daya motor penggerak sampai daya pada alat gerak ke
fluida disekitarnya. Rasio dari daya-daya tersebut sering dinyatakan dengan istilah
efisiensi meskipun sesungguhnya bukanlah suatu nilai konversi daya secara
langsung. Berdasarkan pernyataan tersebut, efisiensi sistem penggerak dalam hal
ini merupakan perbandingan antara daya mekanis dengan daya listrik yang
digunakan untuk mengeksersikan gaya ke lingkungan sekitarnya. Daya mekanis
didapatkan dari perkalian antara gaya dorong dengan kecepatan maju kendaraan
air. Sehingga hubungan antar parameter dapat dilihat dari efisiensi yang
dihasilkan seperti pada Gambar 43. Plat 1 memiliki efisiensi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan yang lain. Nilai efisiensi yang relatif tinggi tersebut
mengindikasikan bahwa nilai daya mekanis yang merupakan perkalian antara
gaya dorong dengan kecepatan maju kendaraan air membutuhkan daya listrik
yang relatif lebih kecil untuk menghasilkan gaya dorong dan kecepatan yang sama
sehingga dapat dikatakan lebih efisien. Nilai efisiensi sistem penggerak ini
tergolong kecil jika dibandingkan pada umumnya karena merupakan satu bagian
dari efisiensi total yang sesungguhnya dan saling mempengaruhi. Seperti
ditunjukkan pada Tabel 3, nilai efisiensi hull masih sangat kecil meskipun dapat
lebih dari 100% dan biasanya diambil sekitar 105%. Selain itu, efisiensi
penyaluran daya pada mekanisme juga masih relatif kecil. Hal inilah yang
menyebabkan nilai efisiensi sistem penggerak menjadi kecil.
Efisiensi Sistem Penggerak (%)
36
6.0
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
5.0
4.0
3.0
2.0
1.0
0.0
0
60
120 180 240 300
Putaran Motor (RPM)
360
Gambar 43 Efisiensi daya untuk masing-masing
plat dengan luasan basah 0.32 m2
Nilai efisiensi paling tinggi berada pada plat 1 dan kondisi luasan basah 0.32
m2 sebesar 5.21%. Nilai efisiensi paling tinggi ini belum tentu berada tepat pada
frekuensi pribadi plat yang didapatkan sebelumnya, namun secara teoritis
pergeserannya tidak akan jauh dari nilai frekuensi pribadinya dan masih berada
pada sekitar frekuensi pribadi karena kondisi peredaman yang berbeda pada setiap
waktu seperti yang dijelaskan Hibbeler (2010). Kemudian selanjutnya perlu
dilakukan kajian ulang dalam perancangan bentuk hull dan mekanisme yang lebih
efisien. Selain itu juga perlu dilakukan kajian ulang tentang pengaruh jarak antar
hull yang dimungkinkan terdapat air yang terjebak sehingga gerak kendaraan air
menjadi lambat.
Tabel 3 Rataan nilai efisiensi hull, mekanisme, dan sistem penggerak untuk setiap
plat
Jenis Plat
Hull
Kondisi luasan basah 0.32 m2
Plat 1
19
Plat 2
19
Plat 3
15
Plat 4
23
Kondisi luasan basah 0.57 m2
Plat 1
10
Plat 2
20
Plat 3
31
Plat 4
24
Rataan Efisiensi (%)
Mekanisme
Sistem Penggerak
41
63
72
62
4
2
3
1
41
63
72
62
3
2
1
1
Analisis lain untuk setiap parameter yakni dengan menggunakan uji
normalitas data dan dilanjutkan dengan uji ragam pada setiap rataan antar
parameter seperti pada Tabel 4.
37
Tabel 4 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan plat antar parameter pada
luasan basah 0.32 m2
Jenis Plat
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
Keterangan:
Rataan Nilai Parameter Pengamatan
Kecepatan
Gaya Dorong Daya Listrik Daya Mekanis
(m/s)
(N)
(watt)
(watt)
0.299a
1.475b
19.533a
0.497b
0.269a
1.271ab
31.898a
0.375ab
0.240a
1.193ab
28.768a
0.310ab
0.235a
0.820a
32.795a
0.205a
Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama
menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf α = 5% uji Lanjut
Duncan.
Efisiensi Sistem Penggerak (%)
Berdasarkan uji normalitas menggunakan parameter Shapiro-Wilk, nilai
signifikansi (sig) yang dihasilkan adalah lebih besar dari 0.05. hal ini
menunjukkan bahwa data terdistribusi secara normal. Setelah syarat pertama
dipenuhi, selanjutnya analisis ragam dapat dilakukan. Berdasarkan uji ragam,
rataan kecepatan dan daya listrik yang dihasilkan tidak menunjukkan perbedaan
yang nyata untuk masing-masing plat. Namun, berbeda halnya untuk rataan gaya
dorong dan daya mekanis. Nilai rataan gaya dorong dan daya mekanis
menghasilkan beda nyata antara plat 1 dan plat 4. Hal tersebut menjadi salah satu
pertimbangan bahwa plat 1 memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan plat
lain.
Pada kondisi luasan basah yang berbeda, plat 1 tetap menunjukkan nilai
efisiensi yang paling tinggi dibandingkan yang lain (Gambar 44). Namun pada
kondisi tersebut, plat 4 menunjukkan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan
pada kondisi luasan basah kendaraan air sebelumnya.
6.0
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
5.0
4.0
3.0
2.0
1.0
0.0
0
60
120 180 240 300
Putaran Motor (rpm)
360
Gambar 44 Efisiensi daya untuk masing-masing
plat dengan luasan basah 0.57 m2
Hasil uji ragam yang ditunjukkan oleh Tabel 5 memiliki arti yang berbeda
dengan kondisi luasan basah sebelumnya dimana setiap parameter memiliki beda
yang nyata terutama untuk plat 1 dan plat 4. Pada nilai rataan kecepatan, plat 4
memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan yang lain dan sangat berbeda
38
nyata dengan plat 1. Kemudian untuk gaya dorong, daya listrik, dan daya mekanis,
plat 4 memiliki perbedaan yang nyata dibandingkan plat yang lainnya.
Tabel 5 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh perlakuan plat antar parameter pada
luasan basah 0.57 m2
Jenis Plat
Plat 1
Plat 2
Plat 3
Plat 4
Keterangan:
Rataan Nilai Parameter Pengamatan
Kecepatan
Gaya Dorong Daya Listrik Daya Mekanis
(m/s)
(N)
(watt)
(watt)
0.108a
0.562a
7.388a
0.070a
0.160ab
0.843a
19.800a
0.157a
0.176bc
0.560a
23.147ab
0.098a
0.228c
1.236b
38.980b
0.304b
Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama
menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada taraf α = 5% uji Lanjut
Duncan.
Berdasarkan pemaparan tersebut, plat 1 memiliki keunggulan dibandingkan
dengan plat lainnya terutama dalam hal efisiensi. Nilai efisiensi inilah yang
biasanya menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pemilihan sistem
propulsi terbaik.
Sebagai perbandingan, perhitungan daya dilakukan pada sebuah kapal
tanker dengan bobot 600 TEU atau setara dengan 10200 ton (TrustFm 2009) dan
bekerja pada kecepatan servis 15 knots atau setara dengan 7.72 m/s (dengan
konversi 1 knot sama dengan 0.5144 m/s). Daya yang dibutuhkan propulsi pada
kecepatan servis tersebut adalah 2500 kW (Gambar 45).
Gambar 45 Daya propulsi yang dibutuhkan oleh kapal
tanker 600 TEU pada kecepatan yang
berbeda (MAN Diesel & Turbo 2011)
Kendaraan air yang dirancang pada penelitian ini memiliki bobot 12.5 kg
saat tanpa beban dan 17.5 kg dengan penambahan beban. Kemudian dilakukan
perbandingan linear antara kapal tanker dengan kendaraan air yang dirancang.
39
Kebutuhan daya pada masing-masing kecepatan maksimum pada kondisi 2 luasan
basah yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Perhitungan konsumsi daya secara teoritis dengan acuan kapal tanker 600
TEU
Kondisi luasan basah 0.32 m2
Kecepatan
Daya (watt)
Plat
maksimum
(m/s)
(knots)
Tanker 600 TEU
Model kendaraan air 12.5 kg
1
0.38
0.74
18763442
22.99
2
0.35
0.68
18948516
23.22
3
0.31
0.60
19202790
23.53
4
0.30
0.57
19266179
23.61
Plat
1
2
3
4
Kecepatan
maksimum
(m/s)
(knots)
0.16
0.30
0.23
0.45
0.20
0.39
0.29
0.57
Tanker 600 TEU
20078883
19650070
19811045
19270422
Daya (watt)
Model kendaraan air 17.5 kg
34.45
33.71
33.99
33.06
Berdasarkan hasil perhitungan daya yang dibutuhkan pada model kendaraan
air, daya yang dibutuhkan secara teoritis dengan membandingkan pada kapal
tanker 600 TEU lebih rendah dibandingkan daya listrik yang dikonsumsi
sebenarnya pada kecepatan kendaraan air yang sama. Pada kondisi luasan basah
0.32 m2 daya yang dibutuhkan berkisar antara 22.99 – 23.61 watt, sedangkan
kenyataan pada hasil percobaan berkisar antara 28.53 – 40.67 watt. Pada kondisi
luasan basah yang berbeda, yaitu 0.57 m2 banyaknya daya secara teoritis adalah
33.06 – 34.45 watt, sedangkan kenyataan hasil pengujian adalah 38.03 – 123.99
watt. Dengan melihat perbedaan hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa sistem
penggerak dan kendaraan air yang dirancang masih belum dapat mengefisiensikan
daya jika dibandingkan dengan kendaraan air yang sudah ada sebelumnya
terutama dibandingkan dengan kapal tanker 600 TEU meskipun perbandingan ini
bukanlah satu-satunya cara yang bisa diterima seutuhnya karena banyak hal yang
saling mempengaruhi.
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Mekanisme crank and rocker dapat digunakan untuk menghasilkan gerakan
bolak-balik mengayun yang menghasilkan getaran pada plat tipis yang digetarkan.
Ukuran batang hubung R1, R2, R3, dan R4 pada mekanisme dengan posisi sumbu
vertikal sejajar dengan sumbu vertikal kendaraan air berturut-turut adalah 80 mm,
20 mm, 90 mm, dan 50 mm dan sudah memenuhi kriteria Grashof. Sistem
penggerak yang dirancang mampu menggerakkan kendaraan air yang memiliki
dimensi panjang, lebar, dan tinggi berturut-turut 100 cm, 50 cm, dan 30 cm
40
dengan dua jenis luasan basah yakni 0.32 m2 dan 0.57 m2 (penambahan bobot).
Berdasarkan hasil simulasi, frekuensi pribadi mode ke-2 untuk masing-masing
plat berada pada putaran motor listrik 202 rpm, sedangkan berdasarkan uji
langsung nilai frekuensi pribadi yang dihasilkan plat 1, plat 2, plat 3, dan plat 4
pada kondisi luasan basah 0.32 m2 berturut-turut 313 rpm, 243 rpm, 233 rpm, dan
250 rpm. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh kedalaman plat yang tidak sama
dengan simulasi sehingga tekanan air juga berbeda. Berdasarkan uji kinerja,
kecepatan maju kendaraan air berkisar antara 0.07 – 0.38 m/s, gaya dorong yang
dihasilkan masing-masing plat berkisar antara 0.01 – 0.19 N/kg, konsumsi daya
listrik yang digunakan berkisar antara 1.75 – 75.13 watt, daya mekanis yang
dihasilkan berkisar antara 0.02 – 0.90 watt, dan efisiensi daya mekanis berkisar
antara 0.35 – 5.21 %. Nilai efisiensi tertinggi dihasilkan pada sistem penggerak
plat 1 untuk kedua kondisi luasan basah kendaraan air dan secara umum plat 1
memiliki nilai rataan tiap parameter yang sangat berbeda nyata dengan plat 4.
Saran
1. Perlu dilakukan simulasi computational fluid dynamic untuk plat yang bergetar
di dalam air untuk mengetahui karakteristik aliran air yang diakibatkan dari
plat yang bergetar tersebut.
2. Pengujian di perairan terbuka merupakan langkah yang lebih nyata
dibandingkan pengujian di laboratorium, namun untuk menghasilkan data yang
lebih mendekati kenyataan di lapangan, perlu diuji lebih lanjut pada perairan
yang memiliki gelombang atau ombak yang cukup tinggi.
3. Torsi motor yang dihasilkan masih cukup rendah sehingga tidak mampu
menghasilkan putaran motor dengan RPM rendah yang stabil. Akibatnya,
frekuensi pribadi mode pertama masih susah didapatkan. Padahal penghematan
energi sangat ditentukan oleh mode frekuensi yang digunakan.
4. Perlu adanya kajian lanjut tentang pengaruh jarak antar hull karena
dimungkinkan terdapat air yang terjebak sehingga gerak kendaraan air menjadi
lambat.
5. Tingkat kepresisian dan kehandalan dalam perancangan alat dan mesin sangat
diperlukan karena beban kerja yang terus menerus akan membuat kerusakan
mikro yang berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadar M and Deshmukh B. 2013. Simulation of four bar mechanism for
path generation. International Journal of Emerging Technology and Advanced
Engineering 3(9): 637-640.
Adji WS. 2005. Engine propeller matching [lecture material]. Surabaya (ID):
Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Andi A and Setiawan RPA. 2015. Design of marine propulsion system based on
structrual vibration [Proceeding]. The 1st Young Scientist International
Conference of Water Resources Development and Environmental Protection,
Malang 5-7 June 2015.
41
Bimantoro T. 2014. Analisa penerapan sistem hybrid pada kapal KPC-28 dengan
kombinasi diesel engine dan motor listrik yang disuplai dengan batterai. Jurnal
Teknik Sistem Perkapalan 1(1): 1-6.
Breads CF. 1996. Structural Vibration: Analysis and Damping. Halsted Press,
New York – Toronto.
Calderon AM. 2011. An experimental driving mechanism for a rigid oscillating
foil propeller [Thesis]. Newfoundland (CA): Faculty of Engineering and
Applied Science, Memorial University of Newfoundland.
Chen Z. 2010. Modeling of biomimetic robotic fish propelled by an ionic
polymer-metal composite caudal fin. IEEE/ASME Transactions on
Mechatronics 15(3): 448-459.
Eloy C. 2012. Optimal strouhal number for swimming animals. Journal of Fluids
and Structures 30 (2012): 205-218.
Hadi ES. dan Budiarto U. 2012. Kajian teknis propeller- engine matching pada
kapal ikan tradisional dengan menggunakan motor listrik hybrid dari solar sell
dan genset sebagai mesin penggerak utama kapal di Kabupaten Pasuruan Jawa
Timur. Jurnal KAPAL 5(1): 24-31.
Harvald SA. 1983. Resistance and Propulsion of Ships. John Wiley & Son, United
State of America.
Hibbeler RC. 2010. Engineering Mechanics – Dynamics. Pearson Prentice Hall,
New Jersey USA. Ed. 20th.
Kelly SG. 2012. Mechanical Vibration: Theory and Applications. Cengage
Learning, Stamford USA.
Lane DM, Davies JBC, and Sfakiotakis M. 1998. Review of fish swimming
modes for aquatic locomotion. IEEE Journal of Oceanic Engineering
Liu H and Kawachi K. 1999. A numerical study of undulatory swimming. Journal
of Computational Physics 155 (1999): 223-247.
Maggs J. 2011. Speed limits for ships [Proceeding]. European Climate Change
Programme, Brussels 22-23 February 2011.
MAN Diesel & Turbo. 2011. Basic principles of ship propulsion [internet]. [diacu
2015 Juli 17]. Tersedia dari: http://mandieselturbo.com.
Martawijaya A dan Kartasujana I. 1977. Ciri umum, sifat, dan kegunaan jenisjenis kayu Indonesia. Publikasi khusus LPHH, Bogor.
Martin GH. 1982. Kinematika dan Dinamika Teknik. Setiyobakti, penerjemah.
Jakarta: Penerbit Erlangga. Terjemahan dari: Kinematics and Dynamics of
Machines 2nd Ed.
Mustafa. 2011. Penentuan frekuensi pribadi pada getaran balok komposit dengan
penguat fiberglass. Jurnal Mekanikal. 2(2): 163-168.
Sahlan, Samudro, Wibowo HN, Arifin, dan Ahmad SM. 2012. Kajian disain kapal
cepat berbahan aluminium sebagai sarana transportasi sungai dan laut yang
aman, nyaman, dan ramah lingkungan [Prosiding]. Seminar Insentif Riset
Sistem Inovasi Nasional, Bandung 30 November 2012.
Setiawan RPA. 1998. Mekanisme empat batang hubung [lecture material]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Soegihardjo O. 2002. Analisis perpindahan (displacement) dan kecepatan sudut
(angular velocity) mekanisme empat batang secara analitik dengan bantuan
komputer. Jurnal Teknik Mesin 4(2): 114-122.
42
Sudiyono dan Antoko B. 2008. Perancangan dan pembuatan kapal wisata dengan
motor generator listrik tenaga surya sebagai energi alternatif penggerak
propeler. Jurnal Teknik Mesin 10(1): 52-62.
Sutikno E dan Ariseno A. 2011. Effect of input angle, dimension ratio-mechanism
link to the output, transmission angle and motion characteristic. Jurnal
Rekayasa Mesin 2 (2): 110-122.
Torgal SB, Tripathi K, and Nagar NK. 2003. Simulation of software for four bar
function generator mechanism [Proceeding]. The 2nd National Conference on
Machines and Mechanisms, Delhi 18-19 December 2003.
TrustFm. 2009. Conversion center [internet]. [diacu 2015 Agustus 18]. Tersedia
dari: http://conversioncenter.net.
Webb PW. 1984. Form and function in fish swimming. Scientific American
251(1984): 72-82.
Widnall S. 2009. Lecture L19 – vibration, normal modes, natural frequencies,
instability [internet]. [diacu 2015 Juli 16]. Tersedia dari: http://ocw.mit.edu.
Williams RL. 2015. Mechanism Kinematics & Dynamics and Vibrational
Modeling. Dr. Bob Productions, Ohio USA.
Windyandari A dan Wahyudi Dedy. 2011. Methodology of the hybrid propulsion
system (DMP & DEP) for trimaran type fast patrol boat. Jurnal KAPAL 8(3):
161-172.
43
LAMPIRAN
44
Lampiran 1 Rancangan dimensi kendaraan air dan dua jenis luasan basahnya
PEMASANGAN PLAT STRUKTUR
Luasan basah 0.32 m2
Luasan basah 0.57 m2
Skala : 1:1
Digambar : Asep
Peringatan
Satuan : cm
Tgl: 20-02-2015
Departemen TMB
Diperiksa: Dr Ir
Radite PAS, MAgr
Gambar orthogonal kendaraan air
A-4
45
Lampiran 2 Rancangan sistem penggerak
Keterangan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Sensor opto-coupler
Piringan encoder
Motor listrik DC 24 V
Baud pengencang poros
Crank kedua
Crank pertama
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Crank ketiga
Bearing bagian atas
Poros penjepit plat
Baud pengencang plat
Bearing bagian bawah
Plat struktur
46
Lampiran 3 Kode program alat pengukur putaran (RPM) motor listrik
menggunakan arduino uno
47
48
Lampiran 4 Simulasi mekanisme crank and rocker menggunakan menu Visual
Basic pada Microsoft Excel
49
Lampiran 5 Hasil analisis uji normalitas dan beda nyata menggunakan software
SPSS 20.0
Uji Normalitas pada Kondisi Luasan Basahn 0.32 m2
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Parameter
Perlakuan
Statistic
df
Sig.
Plat 1
.236
6
.200*
Plat 2
.234
6
.200*
Kecepatan
Plat 3
.221
6
.200*
Plat 4
.206
6
.200*
Plat 1
.123
6
.200*
Plat 2
.183
6
.200*
Gaya_dorong
Plat 3
.234
6
.200*
Plat 4
.294
6
.114
Plat 1
.125
6
.200*
Plat 2
.174
6
.200*
Daya_listrik
Plat 3
.216
6
.200*
Plat 4
.266
6
.200*
Plat 1
.144
6
.200*
Plat 2
.226
6
.200*
Daya_Mekanis
Plat 3
.226
6
.200*
Plat 4
.203
6
.200*
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Shapiro-Wilk
Statistic
df
.855
6
.870
6
.909
6
.873
6
.982
6
.935
6
.889
6
.831
6
.980
6
.945
6
.876
6
.845
6
.961
6
.901
6
.937
6
.903
6
Sig.
.173
.227
.427
.238
.959
.617
.312
.110
.953
.701
.253
.144
.824
.379
.636
.390
Uji Ragam pada Kondisi Luasan Basah 0.32 m2
Source
Dependent
Variable
Kecepatan
Gaya_dorong
Corrected Model
Daya_listrik
Daya_Mekanis
Kecepatan
Gaya_dorong
Intercept
Daya_listrik
Daya_Mekanis
Kecepatan
Gaya_dorong
Perlakuan
Daya_listrik
Daya_Mekanis
Kecepatan
Gaya_dorong
Error
Daya_listrik
Daya_Mekanis
Kecepatan
Gaya_dorong
Total
Daya_listrik
Daya_Mekanis
Tests of Between-Subjects Effects
Type III Sum
df
Mean
of Squares
Square
.016a
3
.005
1.030b
3
.343
661.298c
3
220.433
.191d
3
.064
1.631
1
1.631
23.441
1
23.441
19151.805
1 19151.805
1.960
1
1.960
.016
3
.005
1.030
3
.343
661.298
3
220.433
.191
3
.064
.132
20
.007
3.394
20
.170
2800.550
20
140.027
.613
20
.031
1.778
24
27.865
24
22613.653
24
2.765
24
F
.793
2.023
1.574
2.080
247.758
138.133
136.772
63.911
.793
2.023
1.574
2.080
Sig.
.512
.143
.227
.135
.000
.000
.000
.000
.512
.143
.227
.135
50
Uji Lanjut Duncan pada Kondisi Luasan Basah 0.32 m2
Jenis uji
lanjut
Duncan a,b,c
Perlakuan
Plat 4
Plat 3
Plat 2
Plat 1
Sig.
N
6
6
6
6
Kecepatan
Subset
1
.2350
.2398
.2692
.2987
.227
Gaya dorong
Subset
1
2
.820
1.193
1.193
1.271
.123
Daya listrik
Subset
1
32.7950
31.8983
28.7683
19.5333
.089
1.271
1.475
.434
Daya mekanis
Subset
1
2
.205
.310
.310
.375
.180
.375
.497
.188
Uji Normalitas pada Kondisi Luasan Basahn 0.57 m2
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
Parameter
Perlakuan
Statistic
df
Sig.
Plat 1
.127
6
.200*
Plat 2
.190
6
.200*
Kecepatan
Plat 3
.287
6
.133
Plat 4
.225
6
.200*
Plat 1
.179
6
.200*
Plat 2
.213
6
.200*
Gaya_dorong
Plat 3
.201
6
.200*
Plat 4
.184
6
.200*
Plat 1
.142
6
.200*
Plat 2
.128
6
.200*
Daya_listrik
Plat 3
.184
6
.200*
Plat 4
.149
6
.200*
Plat 1
.131
6
.200*
Plat 2
.209
6
.200*
Daya_mekanis
Plat 3
.251
6
.200*
Plat 4
.254
6
.200*
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Shapiro-Wilk
Statistic
df
.981
6
.914
6
.833
6
.906
6
.940
6
.864
6
.907
6
.932
6
.972
6
.978
6
.932
6
.968
6
.975
6
.945
6
.877
6
.895
6
Sig.
.957
.465
.113
.414
.656
.203
.418
.598
.905
.943
.595
.877
.922
.697
.255
.343
51
Uji Ragam pada Kondisi Luasan Basah 0.57 m2
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Type III Sum of
Mean
Source
df
Variable
Squares
Square
Kecepatan
.044a
3
.015
Gaya_dorong
1.123b
3
.374
Corrected Model
Daya_listrik
3045.262c
3 1015.087
Daya_mekanis
.126d
3
.042
Kecepatan
.677
1
.677
Gaya_dorong
10.398
1
10.398
Intercept
Daya_listrik
11965.754
1 11965.754
Daya_mekanis
.377
1
.377
Kecepatan
.044
3
.015
Gaya_dorong
1.123
3
.374
Perlakuan
Daya_listrik
3045.262
3 1015.087
Daya_mekanis
.126
3
.042
Kecepatan
.049
20
.002
Gaya_dorong
1.242
20
.062
Error
Daya_listrik
3934.579
20
196.729
Daya_mekanis
.105
20
.005
Kecepatan
.770
24
Gaya_dorong
12.763
24
Total
Daya_listrik
18945.595
24
Daya_mekanis
.608
24
F
Sig.
6.075
6.026
5.160
7.999
279.191
167.386
60.824
71.831
6.075
6.026
5.160
7.999
.004
.004
.008
.001
.000
.000
.000
.000
.004
.004
.008
.001
Uji Lanjut Duncan pada Kondisi Luasan Basah 0.57 m2
Jenis uji
lanjut
Perlakuan
Kecepatan
Subset
2
N
1
Plat 4
Plat 3
6
6
Duncan a,b,c Plat 2
Plat 1
Sig.
6
6
.16017
.10767
.080
Gaya dorong
Subset
1
2
1.236
.560
3
.22800
.16017
.17600
.17600
.843
.584
.082
.562
.100
1,000
Uji Lanjut Duncan pada Kondisi Luasan Basah 0.57 m2 (Lanjutan)
Jenis uji
lanjut
Perlakuan
Daya listrik
Subset
N
1
Duncan
a,b,c
Plat 4
Plat 3
6
6
Plat 2
Plat 1
Sig.
6
6
23.14667
19.80000
7.38833
.079
Daya mekanis
Subset
2
38.98000
1
2
.070
23.14667
.098
.065
.157
.070
.131
1.000
52
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Asep Andi yang dilahirkan di
Tasikmalaya pada tanggal 13 Nopember 1991 dari pasangan
Bapak Darjo dan Ibu Yoyoh. Penulis merupakan anak
pertama dari tiga bersaudara. Penulis mendapatkan
pendidikan lanjutan tingkat pertama di Madrasah
Tsanawiyah Negeri Cikatomas, kemudian melanjutkan
pendidikan di Madrasah Aliyah AL-AMIN Terpadu Kota
Tasikmalaya dengan beasiswa internal yayasan. Penulis
melanjutkan pendidikan sarjana di Institut Pertanian Bogor
(IPB), Departemen Teknik Mesin dan Biosistem melalui
jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan sekaligus mendapat beasiswa
penuh Bidik Misi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DITJEN DIKTI)
Republik Indonesia selama 4 tahun. Pada departemen yang sama, penulis
mendapat pendidikan magister pada prodi Teknik Mesin Pertanian dan Pangan
dengan bantuan beasiswa Fresh Graduate DIKTI selama 2 tahun.
Selama masa studi, penulis aktif di berbagai lembaga kemahasiswaan seperti
Dewan Perwakilan Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (DPM TPB), Forum
for Scientific Studies (FORCES) IPB, dan Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian
(HIMATETA) IPB. Penulis juga aktif dalam berbagai kepanitiaan. Selain itu,
Penulis aktif dalam mengikuti berbagai pelatihan seperti WORDWARE
Scholarship to be a Microsoft Office Specialist, IPB Youth Journalist, dan lainlain. Penulis aktif menjadi pembicara dalam berbagai kegiatan seminar dan
motivasi yang berkaitan dengan PKM dan penulisan ilmiah.
Kegiatan Nasional dan Internasional diikuti oleh penulis selama masa studi.
Kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) diikutinya selam 3 tahun
berturut-turut. Penghargaan setara Emas diraih pada Pekan Ilmiah Mahasiswa
Nasional XXV (PIMNAS) tahun 2012. Prestasi membanggakan lainnya adalah
sebagai delegasi IPB pada MTQ Mahasiswa Nasional 2011, Delegasi IPB pada
Aceh Development International Conference 2012 Malaysia, delegasi IPB pada
TRI-U International Joint Seminar and Symposium 2012, Delegasi Jawa Barat
pada OSN PERTAMINA Science Project tahun 2012, juara 3 Tanoto Student
Research Awards 2012, masuk dalam karya prospektif 105 INOVASI
INDONESIA BIC RISTEK 2013, Penerima penganugerahan pada Dies Natalis
IPB ke-50 kategori Karya Ilmiah Terbanyak tahun 2013. Delegasi IPB pada
International Conference on Multidisciplinary Research 2013 Philippines (2nd
Prize for The Best Oral Presentation), Delegasi IPB pada PIMNAS XXVI
Lombok, Delegasi IPB pada 4th Good Practice Program of Niigata University
2013 Japan, dan Delegasi IPB pada The 1st Young Scientist International
Conference of Water Resources Development and Environtmental Protection
2015.
Download