BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Manajemen Supervisi Manajerial di

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.
Manajemen Supervisi Manajerial di Sekolah
Dasar
Dalam
panduan
sekolah/Madrasah
pelaksanaan
(Direktorat
tugas
Tenaga
pengawas
Kependidikan,
2009:20) dinyatakan bahwa supervisi manajerial adalah
supervisi yang berkenaan dengan aspek pengelolaan
sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan
efisiensi, kualitas, dan efektivitas sekolah yang mencakup
perencanaan,
koordinasi,
pelaksanaan,
pengembangan kompetensi, dan hasil
penilaian,
sumberdaya
manusia (SDM) kependidikan dan sumberdaya lainnya.
Dalam melaksanakan supervisi manajerial, pengawas
sekolah/madrasah berperan sebagai (1) penghubung dan
negosiator
dalam
proses
perencanaan,
koordinasi,
pengembangan manajemen sekolah, (2) pengawas dalam
mengklasifikasi kelemahan dan menganalisa potensi
sekolah, (3) pusat informasi pengembangan kualitas
sekolah, dan (4) mengkaji terhadap pemaknaan hasil
pengawas.
13
1
Di atas telah disebutkan bahwa inti kegiatan
supervisi manajerial adalah pengawasan dan pembinaan
terhadap pengelolaan dan administrasi sekolah. Dengan
demikian fokus supervisi ini ditujukan pada pelaksanaan
bidang garapan manajemen sekolah, yang antara lain
meliputi:(a)
manajemen
pembelajaran
prasarana
sekolah,(b)
sekolah,(d)
kurikulum
sekolah
kesiswaan,(c)
tenaga
sarana
pendidik,(e)
dan
dan
keuangan
sekolah,(f) hubungan sekolah dengan masyarakat, dan(g)
pelayanan khusus.
Dalam melaksanakan supervisi terhadap hal-hal di
atas,
pengawas
diharuskan
melakukan
pengawasan
terhadap pelaksanaan standar nasional pendidikan yang
meliputi
delapan
komponen,
yaitu:(a)
standar
isi
sekolah,(b) standar kompetensi lulusan sekolah,(c) standar
proses pembelajaran,(d) standar pendidik dan tenaga
kependidikan,(e) standar sarana dan prasarana sekolah,(f)
standar pengelolaan sekolah,(g) standar pembiayaan,
dan(h) standar penilaian.
Tujuan supervisi terhadap kedelapan aspek tersebut
adalah agar sekolah terakreditasi dengan maksimal dan
dapat memenuhi standar nasional pendidikan.
Hal penting lainnya dalam supervisi manajerial oleh
pengawas terhadap sekolah, adalah berkaitan pengelolaan
atau pengaturan sekolah. Sebagaimana diketahui dalam
satu dekade terakhir telah dikembangkan rancangan
manajemen berbasis sekolah (MBS), sebagai bentuk
pandangan baru pengelolaan dari pusat ke instansi
dibawahnya yang memberikan otonomi kepada pihak
sekolah dan meningkatkan peran serta masyarakat
(Sudarwan Danim, 2006: 4) Pengawas dituntut dapat
menjelaskan sekaligus mengintroduksi model inovasi
manajemen ini sesuai dengan konteks sosial budaya serta
kondisi internal masing-masing sekolah.
2.1.1. Pengertian Supervisi Manajerial
Supervisi adalah suatu kegiatan dalam bentuk
bimbingan atau pembinaan yang dilakukan oleh pengawas
dalam rangka membantu kepala sekolah, guru dan tenaga
kependidikan lainnya guna untuk meningkatkan mutu dan
efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran
disuatu sekolah. Supervisi yang dimaksudkan dipusatkan
pada dua aspek yakni manajerial dan akademik.
Supervisi manajerial mengfokuskan pada observasi
secara langsung pada segi pengelolaan dan administrasi
sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting)
terlaksananya pembelajaran di suatu instansi pendidikan .
Sedangkan
supervisi akademik mengfokuskan pada
observasi supervisor terhadap kegiatan akademik, berupa
pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas.
Dalam pedoman pelaksanaan tugas pengawas
sekolah/madrasah
(Direktorat
Tenaga
Kependidikan,
2009:20) dinyatakan bahwa supervisi manajerial adalah
supervisi yang berkenaan dengan aspek pengelolaan
sekolah yang dilaksanakan secara obyektif, langsung dan
terus menerus ( berkesinambungan) tanpa membedakan
mana yang bersifat kelompok atau perorangan bertujuan
untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah yang
mencakup
perencanaan,
penilaian,
pengembangan
koordinasi,
kompetensi
pelaksanaan,
sumberdaya
manusia (SDM) kependidikan dan sumberdaya lainnya.
Dalam pelaksanaan supervisi manajerial, pengawas
sekolah/madrasah berperan sebagai : (1) mentor sekaligus
pembina yang diharapkan dapat merealisasikan progam
yang telah disusun dalam proses perencanaan, koordinasi,
pengembangan manajemen sekolah, (2) pengawas dalam
menentukan kelemahan dan menganalisa potensi sekolah,
(3) pusat informasi pengembangan mutu sekolah, dan (4)
penilai yang tangguh terhadap
hasil binaan dari
pengawas.
2.1.2. Prinsip-Prinsip Supervisi Manajerial
Beberapa prinsip yang harusdiperhatikan dalam
supervisi manajerial, sebagai berikut :
1. Pengawas harus menjauhkan diri dari sifat menguasai,
dimana ia bertindak sebagai atasan dan kepala
sekolah/guru sebagai bawahan.
2. pengawas
harus
mampu
menciptakan
hubungan
kemanusiaan yang nyaman dengan kepala sekolah, .
Hubungan kemanusiaan yang diciptakan harus bersifat
terbuka, kesetiakawanan dan informal.
3. Pengawas dalam melakukan penilaian pada sekolah
harus dilaksanakan dengan cara
berkesinambungan.
Penilaian bukan tugas yang sifatnya sambilan yang
hanya dilakukan sewaktu-waktu,tapi harus benar- benar
disempatkan.
4. Pengawas dalam melakukan penilaian harus adil,
pengawas
tidak
boleh
menguasai
pelaksanaan
supervisi. Titik tekan supervisi yang adil adalah aktif
dan berkesinambungan.
5. Program penilaian harus sesuai.Didalam setiapinstansi
organisasi
pendidikan
terdapat
bermacam-macam
sistem perilaku dengan tujuan sama, yaitu untuk
kemajuan pendidikan.
6. Penilaian harus komprehensif, program penilaian harus
mencakup seluruh aspek karena pada dasarnya suatu
aspek akan selalu berkaitan antara aspek yang satu
dengan yang lainnya.
7. Penilaian harus membangun. Penilaian bukan untuk
mencari kesalahan-kesalahan guru,tetapi harus selalu
mendukung atau memberi semangat pada guru.
8. Penilaian
harus
obyektif.
Dalam
menyusun
melaksanakan dan mengkaji, keberhasilan program
penilaian
harus
obyektif.
Obyektivitas
dalam
penyusunan program berarti bahwa program supervisi
itu harus disusun berdasarkan persoalan dan kebutuhan
nyata yang dihadapi sekolah.(Depdiknas 2009 : 16)
Peningkatan mutu pendidikan khususnya jenjang
pendidikan disekolah dasar memerlukan adanya guru,
kepala sekolah dan pengawas sekolah yang profesional.
Kepala sekolah diharapkan menjadi penggerak dan
kekuatanyang selalu memberi semangat dan dukungan
untuk membimbing memberi panutan serta menggerakkan
para pendidik dan tenaga pendidikan yang lainya yang ada
disekolahnya. Salah satu tugas kepala sekolah adalah
mengelola dan menjembatani kegiatan sekolah agar mutu
layananya meningkat.Salah satu tugas kepala sekolah
adalah menjadwal dan melaksanakan pengawasan secara
berkesinambungan. Untuk mencapai tujuan sekolah yang
maksimal maka kepala sekolah seharusnyamengutamakan
kepentingan pendidikan yang
ilmiah mutlak perlu
mengetahui secara benar serta mampu melaksanakan
koreksi diri terhadap sekolah.
Denganpersiapan dan
dalam
persiapan
pendampingan
akreditasi
maka
partisipatif
kepala
sekolah
akanmampu meningkatkan kompetensi manajerialnya
secara menyeluruh, bermakna, dan maksimal.
Dalam
pelaksanaan
akreditasi
sekolah
perlu
dilakukan persiapan yang mencakup 8 standar nasional
pendidikan
disekolah.
untuk
ditindaklanjuti
dalam
kegiatan
2.1.3. Metode Supervisi Manajerial
2.1.3.1. Monitoring dan evaluasi
Metode
utama
yang
harusdilakukan
oleh
pengawas satuan pendidikan dalam supervisi
manajerial tentu saja adalah monitoring dan
tindak lanjut.
1. Monitoring
Monitoring adalah suatu kegiatan yang ditujukan
untuk
mengetahui
perkembangan
pelaksanaan
penyelenggaran sekolah.Apakah sudah sesuai dengan
rencana, program, dan/atau standar yang telah ditetapkan,
serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi
dalam pelaksanaan program (Rochiat, 2008:115).
2. Tindak Lanjut
Kegiatan tindak lanjut ditujukanuntuk mengetahui
sejauhmana kesuksesan pelaksanaan penyelenggaraan
sekolah atau sejauhmana keberhasilan yang telah dicapai
dalam kurun waktu tertentu. Tujuan tindak lanjut
utamanya
adalah
untuk
a)
mengetahui
tingkat
keterlaksanaan program, b) mengetahui keberhasilan
program,
c)
mendapatkan
bahan/masukan
dalam
perencanaan tahun berikutnya dan d) memberikan
penilaian terhadap sekolah.
2.1.3.2. Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group
Discussion)
Sesuai dengan pandangan baru manajemen sekolah
yang dimaksudkan yaitu pemberdayaan dan peran serta,
maka penilaian keberhasilan atau kegagalan sebuah
sekolah dalam melaksanakan program atau mencapai
standar
bukan
hanya
menjadi
tanggungjawab
pengawas.Hasil monitoring yang dilakukan pengawas
hendaknya disampaikan secara terbuka kepada pihak
sekolah, terutama kepada sekolah, komite sekolah, dan
guru.Secara bersama-sama pihak sekolah dapat melakukan
koreksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri
faktor-faktor penghambat serta pendukung yang selama ini
mereka rasakan.Forum untuk ini dapat berbentuk Focus
Group Discussion (FGD), yang melibatkan unsur-unsur
stakeholder sekolah.Diskusi kelompok terfokus ini dapat
dilakukan dalam beberapa kali putaran sesuai dengan
kebutuhan sekolah. Tujuan dari FGD adalah untuk
menyatukan pandangan stakeholder mengenai kelebihan
dan kelemahan sekolah, serta menentukan langkah
strategis maupun operasional yang akandiambil untuk
memajukan sekolah,maka dari itu kepala sekolah akan
berusaha untuk melengkapi kekurangannya.
2.1.3.3. Metode Delphi
Metode Delphi dapat digunakan oleh pengawas
dalam membantu pihak sekolah merumuskan visi, misi
dan
tujuannya.Sesuai
dengan
konsep
MBS.Dalam
merumuskan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS)
sebuah sekolah harus memiliki rumusan visi, misi dan
tujuan yang jelas dan realitis yang digali dari kondisi
sekolah, peserta didik, potensi daerah, serta pandangan
seluruh stakeholder.
2.2.
Pendampingan Partisipatif
2.2.1. Pengertian Pendampingan
Kegiatan yang dilakukan oleh pengawas secara terus
menerus (berkelanjutan) dan sistematis dalam menfasilitasi
individu/kelompok/komunitas
anak-anak
untuk
mengembangkan diri mereka, memberikan ketrampilan
dalam
mengatasi
permasalahan
dan
membantu
menyiapkan kemampuan-kemampuan dan ketrampilanketrampilan yang dibutuhkan untuk masa depan mereka
dan juga individu/kelompok/komunitas orang dewasa
untuk membantu mereka menciptakan lingkungan yang
mendukung dan menguatkan bagi anak. Yayasan Pulih
(2011).
Upaya
terus
menerus
dan
sistematis
dalam
mendampingi (memfasilitasi) individu, kelompok maupun
komunitas
dalam
mengatasi
permasalahan
dan
menyesuaikan diri dengan kesulitan hidup yang dialami
sehingga mereka dapat mengatasi permasalahan tersebut
dan mencapai perubahan hidup ke arah yang lebih
baik.Yayasan Pulih (2011).
Pendampingan merupakan proses interaksi timbal
balik
(tidak
komunitas
satu
yang
arah)
antara
mendampingi
individu/kelompok/
dan
individu/
kelompok/komunitas yang didampingi yang bertujuan
memotivasi
dan
mengorganisir
individu/kelompok/
komunitas dalam mengembangkan sumber daya dan
potensi orang yang didampingi dan tidak menimbulkan
ketergantungan
terhadap
orang
yang
mendampingi
(mendorong kemandirian). Yayasan Pulih (2011)
Pendampingan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk
maupun situasi dengan pendekatan yang beragam baik
formal maupun non formal, individu, kelompok maupun
komunitas.
2.2.2. Langkah-Langkah Pendampingan
a. Penentuan tujuan
Sekolah menentukan tujuan melalui rapat sekolah
yang dihadiri oleh seluruh warga sekolah terdiri atas 1)
Kepala sekolah, 2) Dewan guru, 3) Komite sekolah, 4)
Tokoh
masyarakat
dan
pengawas
sekolah.
Untuk
menentukan tujuan dari kegiatan persiapan akreditasi
sekolah.
b. Perencanaan dan persiapan akreditasi.
Dalam perencanaan persiapan akreditasi dilakukan
langkah-langkah1) membentuk Tim Pengembang Sekolah
(TPS), 2) merancang jadwal persiapan kegiatan dengan
dilengkapi
tupoksi
masing-masing
bagian,
3)
mengkelompokkan dan menentukan prioritas kegiatan.
c. Pelaksanaan akreditasi
Langkah-langkah yang dilakukan dalam persiapan
pelaksanaan akreditasi sekolah 1) penjelasan tentang
akreditasi sekolah, 2) mengkaji instrumen akreditasi
sekolah, 3) mengisi instrumen akreditasi sekolah sesuai
panduan akreditasi sekolah.
d. Umpan balik pendampingan persiapan akreditasi.
Kegiatan pendampingan dilakukan oleh pengawas
dan melibatkan komite sekolah dilakukan sesuai jadwal
kegiatan yang sudah diprogram dengan langkah-langkah
sebagai berikut : 1) penentuan tujuan akreditasi, 2)
perencanaan kegiatan akreditasi, 3) Program dilaksanakan
dengan tahapan a. Pra pendampingan akreditasi, sosialisasi
akreditasi, observasi, fasilitasi dan pertemuan akreditasi. b.
pendampingan partisipatif meliputi mengisi instrumen
akreditasi,
menghitung
pengskoran
nilai
akreditasi,
melengkapi data dan dokumen yang diperlukan dalam
akreditasi, pembagian tugas untuk 8 standar yang di
akreditasikan. 4) umpan balik kegiatannya berupa evaluasi
dan
refleksi
berdasarkan
hasil
bukti
pengisian
fisik
yang
instrumen
ada.
5)
akreditasi
Rencana
TindakLanjut (RTL) kegiatan ini untuk menindaklanjuti
hasil kegiatan yang telah dilakukan untuk persiapan
pelaksanaan akreditasi sekolah.
Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) yang efektif
dapat dipandang sebagai suatu proses yang dapat
digunakan oleh pengawas dan kepala sekolah untuk
membayangkan,
menvisualisasikan
masa
depan
sekolahnya, kemudian mengembangkan struktur, staf,
prosedur, operasional, serta pengendaliannya sehingga
secara gemilang sekolah mampu mewujudkan visi dan
misinya. (Permendiknas RI No. 11 Tahun 2009
Pendampingan persiapan akreditasi sekolah ini
dilakukan oleh pengawas sekolah sesuai dengan program
yang sudah disampaikan kepada warga sekolah.Untuk
pelaksanaan pendampingan terlebih dahulu disepakati
jadwal dan kegiatannya.
Materi
pendampingan
disampaikan
melalui
pertemuan, diskusi, sharing dan tindaklanjut.
Kegiatannya berupa pengisian instrumen akreditasi,
cara menghitung atau pengskoran perolehan klasifikasi
nilai dan buku instrumen pengumpulan data dan informasi
pendukung akreditasi sekolah.
2.3.
Akreditasi Sekolah
Upaya peningkatan mutu pendidikan nasional secara
bertahap ke arah yang diharapkan sesuai Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional,
perlu
dilakukan
strategi
dan
sekaligus
membangun sistem pengendalian mutu pendidikan melalui
empat program yang terintegrasi, yaitu standarisasi,
evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi.Standarisasi pendidikan
haruslah dimaknai sebagai upaya penyamaan arah
pendidikan secara nasional yang memiliki keleluasaan dan
sekaligus
keluwesan
dalam
implementasinya.Standar
pendidikan
harus
dijadikan
acuan
oleh
pengelola
pendidikan, yang menjadi pendorong tumbuhnya inisiatif
dan kreativitas dalam mencapai standar yang ditetapkan.
Akreditasi sekolah mempunyai pengertian sebagai
proses penilaian secara komprehensif terhadap kelayakan
dan kinerja lembaga atau suatu program pendidikan
sebagai bentuk akuntabilitas publik, alat regulasi diri (self
regulation) sehingga suatu sekolah mengenal kekuatan dan
kelemahan serta terus menerus meningkatkan kekuatan
dan
memperbaiki
kelemahannya.
Pengertian
ini
memberikan makna bahwa akreditasi merupakan suatu
pengakuan terhadap standar kelayakan suatu sekolah
berdasarkan aturan yang baku.
Dari pendapat-pendapatdiatas dapat disimpulkan
bahwa akreditasi merupakan alat regulasi diri (selfregulation) agar sekolah mengenal kelebihan
dan
kelemahan serta melakukan upaya yang terus menerus
untuk
meningkatkan
kelebihan
dan
memperbaiki
kelemahannya. Dengan demikiandapat dikatakan bahwa
proses akreditasi adalah penilaian terhadap kualitas suatu
sekolah secara kelanjutan. Akreditasi dalam makna
adalahhasil menyatakan bahwa suatu sekolah telah
memenuhi standar kelayakan pendidikan yang telah
ditentukan.
Hal tersebut dipertegas oleh Uandang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 BAB XVI Pasal 60 tentang
akreditasi yang berbunyi:
1. Akreditasi
dilakukan
untuk
menentukan
kelayakan program dan satuan pendidikan pada
jalur pendidikan formal dan nonformal pada
setiap jenjang dan jenis pendidikan.
2. Akreditasi
terhadap
program
dan
satuan
pendidikan dilakukan oleh Pemerintah dan/atau
lembaga mandiri yang berwenang sebagai bentuk
akuntabilitas publik.
3. Akreditasi dilakukan atas dasar kriteria yang
bersifat terbuka.
4. Ketentuan
mengenai
akreditasi
sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat
(3)diatur
lebih
lanjut
dengan
Peraturan
Pemerintah.
Akreditasi sekolah juga didasarkan padaKeputusan
Menteri Pendidikan Nomor 087/U/2002tanggal 4 Juni
2002 tentang Akreditasi Sekolah danKeputusan Menteri
Pendidikan Nasional Nomor039/0/2003 tentang Badan
Akreditasi Sekolah Nasional(BASN). BASN merupakan
satu-satunya badanakreditasi yang ditunjuk dan diberi
kewenangan
oleh
pemerintah
untuk
mengakreditasi
sekolah.
Untuk sekolah sebagai institusi, hasil akreditasi
memiliki makna yang penting sebagai: (1) acuan dalam
upaya
peningkatan
kualitas
sekolah
dan
rencana
pengembangan sekolah, (2) masukan untuk pemberdayaan
dan pengembangan kinerja warga sekolah dalam rangka
menerapkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan
program sekolah, (3) pendorong motivasi untuk sekolah
agar terus meningkatkan kualitas sekolahnya secara
bertahap, terencana, dan kompetitif ditingkat Kabupaten/
Kota,
Propinsi,
Nasional,
bahkan
Regional
dan
Internasional, (4) Bahan informasi bagi sekolah dan
masyarakat
untuk
meningkatkan
dukungan
dari
pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta dalam hal
profesionalisme, moral, tatanan dan pendanaan.
Mengingat
yang
diakreditasi
adalah
sekolah
yangmerupakan sistem dari berbagai komponen dan saling
terkait dalam pencapaian komponen sekolah, maka sesuai
Keputusan
Menteri
Pendidikan
Nasional
Nomor
087/V/2002 tanggal 14 Juni 2004 tentang Akreditasi
Sekolah, komponen sekolah yang menjadi bahan penilaian
adalah yang dikembangkan dari kualitas sekolah yaitu
kurikulum dan proses belajar mengajar, manajemen
sekolah, organisasi / kelembagaan sekolah, sarana dan
prasarana, ketenagaan, pembiayaan, peserta didik, peran
serta masyarakat dan lingkungan/kultur sekolah. Setiap
komponen terdiri atas berbagai aspek dan indikator.
Kurikulum dan proses belajar mengajarterdiri 40 Indikator
Utama
(IU)
dan
15
indikator
tambahan
(IT).Administrasi/manajemen sekolah terdiri dari 15 IU
dan 15 IT, organisasi/kelembagaan sekolah 5 IU dan 5 IT,
sarana dan prasarana 10 IU dan 5 IT, peserta didik 10 IU
dan 5 IT, peran serta masyarakat 10 TU dan 5 IT,
pembiayaan 5 IU dan 5 IT, lingkungan/kultur sekolah 10
IU dan 5 IT. Jika dijumlahkan, maka terdiri atas 115 IU
dan 70 IT.
Semua indikator tersebut merupakan butir dan
instrumen evaluasi diri yang harus dijawab sekolah untuk
menunjukkan bahwa sekolah mengajukan permohonan
pada BAS propinsi untuk SMA, dan BAS Kabupaten/Kota
untuk Sekolah Dasar. Untuk sekolah yang belum siap,
berdasarkan
self
evaluation
mereka
memperbaiki
kelemahan dan meningkatkan kekuatan yang dimiliki.
2.4.
Tujuan Akreditasi Sekolah/Madrasah
Akreditasi sekolah/madrasah bertujuan untuk :
a. Memberikan
informasi
tentang
kelayakan
sekolah/madrasah atau program yang dilaksanakannya
berdasarkan Standar Nasional Pendidikan.
b. Memberikan pengakuan peringkat kelayakan
c. Memberikan masukkan tentang penjaminan kualitas
pendidikan kepada program dan jenjang pendidikan
yang diakreditasi dari pihak terkait.
Manfaat hasil akreditasi sekolah/madrasah sebagai
berikut :
a. Membantu sekolah/madrasah dalam menentukan dan
mempermudah kepindahan peserta didik dari suatu
sekolah ke sekolah lain, pertukaran guru, dan
kerjasama yang saling menguntungkan.
b. Membantu
mengidentifikasi
sekolah/madasah
dan
program dalam rangka pemberian bantuan pemerintah,
investasi dana swasta dan donatur atau bentuk bantuan
lainnya.
c. Pedoman
dalam
sekolah/madrasah
sekolah/madrasah.
upaya
dan
peningkatan
rencana
kualitas
pengembangan
d. Umpan
balik
salam
usaha
pemberdayaan
dan
pengembangan kinerja warga sekolah/madrasah dalam
rangka menerapkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi,
dan program sekolah/madrasah.
e. Motivator agar sekolah/madrasah terus meningkat
kualitas pendidikan secara bertahap, terencana, dan
kompetitif
baik ditingkat kabupaten/Kota, provinsi,
nasional bahkan ragional dan internasional.
f. Bahan
informasi
bagi
sekolah/madrasah
sebagai
masyarakat belajar untuk meningkatkan dukungan dari
pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta dalam
hal profesionalisme, moral, tenaga, dan dana.
2.5.
Strategi yang dilaksanakan dalam Akreditasi
Beberapa upaya atau strategi yang perlu dilakukan
madrasah dalam persiapan akreditasi adalah sebagai
berikut : (a) pematangan rencana pengembangan sekolah
dan komponen akreditasi, (b) pembentukan tim penjamin
kualitas sekolah, (c) penyampaian sistem informasi
manajemen, (d) pra-evaluasi diri untuk mengetahui
kesiapan sekolah, (e) pengembangan dan pemantapan
komponen sekolah, (f) evaluasi diri dan penyiapan aplikasi
akreditasi. Strategi sekolah dalam pelaksanaan akreditasi
antara lain dapat ditempuh dengan : (a) penyiapan warga
sekolah, (b) penyiapan dokumen dan komponen akreditasi,
(c) pendampingan dan penjelasan selama kunjungan, dan
(d) penyampaian hasil temuan. Hasil akreditasi sekolah
dinyatakandalam peringkat akreditasi sekolah/madrasah.
Peringkat tersebut terdiri atas tiga klasifikasi berdasarkan
skor keseluruhan komponen yang diperoleh, yaitu : A
(Amat Baik); B (Baik); C (Cukup). Bagi sekolah yang
hasil akreditasinya kurang dari C (cukup), dinyatakan
tidak terakreditasi.
2.6.
Pelaksanaan Evaluasi Akreditasi Berdasarkan
Standar NasionalPendidikan
Dengan menggunakan Standar Nasional Pendidikan
sebagai pedoman, setiap sekolah/madrasah diharapkan
dapat mengembangkan pendidikannya secara maksimal
sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya.
Standar Nasional Pendidikan harus dijadikan pedoman
guna mengelompokkan secara utuh profil mutu sekolah.
Oleh karena itu, komponen instrumen akreditasi yang
disusun didasarkan pada delapan Standar Nasional
Pendidikan.
Delapan
sekolah/madrasah.
komponen
akreditasi
2.6.1. Standar Isi
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat
kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang
kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi
mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus
terpenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.
Dalam
kerangka
dasar
dijelaskan
prinsip-
prinsippengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Dengan
penjelasan tersebut, maka kurikulum yang dikembangkan
dijamin berkualitas dan pelaksanaanya dijamin berkualitas.
Struktur kurikulum merupakan pola dan susunan mata
pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam
kegiatan pembelajaran. Kedalaman muatan kurikulum
pada setiap mata pelajaran pada setiap satuan pendidikan
dituangkan dalam kompetensi yang harus dikuasai peserta
didik sesuai dengan beban belajar yang tercantum dalam
struktur kurikulum. Kompetensi yang dimaksud terdiri
atas Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang
dikembangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.
Muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri merupakan
bagian integral dan struktur kurikulum pada jenjang
pendidikan dasar.
DalamOxfor
Advance
Learner’sDictionari
dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something
into effec” (penerapan sesuatu yangmemberikan efek atau
dampak). Berdasarkan definisi Implementasi tersebut,
secara umum Implementasi kurikulum khususnya muatan
standar isi dapat kita tarik sebuah pengertian yakni suatu
proses penerapan suatu ide, konsep, dan kebijakan dalam
suatu aktivitas pembelajaran ataupun aktivitas-aktivitas
yang dianggap baru sehingga dapat membantu sekelompok
orang atau anak didik untuk berinteraksi antara fasilitator
sebagai pengembang kurikulum ataupun muatan standar
isi dalam menguasi kompetensi ataupun perubahan
perubahan baru bagi setiap orang yang harapkan berubah,
sebagai
bagian
dari
sebuah
interaksi
dengan
lingkungannya (Hadianas, 2010).
2.6.2. Standar Proses
Standar proses adalah Standar Nasional Pendidikan
yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada
satu
satuan
pendidikan
untuk
mencapai
standar
kompetensi lulusan (Kebijakan dan Pedoman Akreditasi
Sekolah / Madrasah).
Proses
pembelajaran
diselenggarakan
pada
secara
satuan
pendidikan
interaktif,
inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik. Selain itu, dalam proses
pembelajaran pendidik memberikan keteladanan.
Menurut
Arsana
(2012)
mengemukakan
dalampenelitiannya bahwa Standar Proses Pendidikan
(SPP)
merupakan
jantungnya
dalam
sistem
pendidikan.Bagaimanapun bagus dan idealnya standar
kompetensilulusan serta lengkapnya standar isi, namun
tanpadiimplementasikan
ke
dalam
proses
pendidikan,semuanya akan kurang berarti.
2.6.3. Standar Kompetensi Kelulusan
Pendidikan berdasarkan standar adalahpendidikan
yang menetapkan standar nasional sebagaikualitas minimal
hasil belajar yang berlaku untuk setiapkurikulum.Standar
kualitas nasional dinyatakansebagai standar Kompetensi
Lulusan.StandarKompetensi
kualitas
minimallulusan
Lulusan
suatu
tersebut
jenjang
adalah
atau satuan
pendidikan.StandarKompetensi Lulusan mencakup sikap,
pengetahuan,dan keterampilan (PP Nomor 19 Tahun
2005).
2.6.4. Standar Pendidik dan Kependidikan
Standar
(PTK)nasional
Pendidik
dan
ditentukan
Tenaga
untuk
Kependidikan
menjaga
kualitas
pendidikanatau output hasil pendidikan. Kualitas Sumber
DayaManusia (SDM) yang tinggi dan unggul serta
denganketrampilan yang up to date hanya dapat dihasilkan
danpara pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang
baikakan
sangat
ditentukan
bagaimana
tenaga
pendidikanyang baik juga.
Menurut Hazairin yang dikutip oleh Rindha Fitria
Pawitra Sari
(2014), Upaya untukmeningkatkan mutu
tenaga pendidik dan kependidikanakan terlaksana dengan
baik
apabilamengimplementasikan
beberapa
langkah
strategis, yaitu : (1) evaluas diri (self assessment),
perumusan visi, misi, dan tujuan, (2) perencanaan, (3)
pelaksanaan, (4) evaluasi, dan (5) pelaporan.
Menurut Mulyana (2010:104) Kompetensi sebagai
agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah serta pendidikan anak usia diri meliputi:
1. Kompetensi pedagogik
2. Kompetensi kepribadian;
3. Kompetensi profesional
4. Kompetensi sosial
Keempat
kriteria
tersebut
biasanya
didapat
dandikembangkan ketika menjadi calon guru dengan
menempuh pendidikan di perguruan tinggi khususnya
jurusan
kependidikan.Perlu
keseriusan
dari
guru
adanya
untuk
kesadaran
dan
mengembangkan
dan
meningkatkan kompetensinya. Karena kian hari tantangan
dan perubahan zaman membuat proses pendidikan juga
harus berubah.
2.6.5. Standar Sarana dan Prasarana
Sarana
satupenunjang
mengacupada
Prasarana
pendidikan
keberhasilan
Standar
sarana
sebagai
pendidikan,
dan
prasarana
salah
yang
yang
dikembangkanoleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan
Menteri, seringkali menjadi kendala dalam proses
penyelenggaraan pendidikan disekolah, (Djamarah, 2000).
Kendala-kendala yang dihadapi antara lainadalah adanya
penyediaan sarana yang belum memadaiatau lengkap.
Permasalahan sarana dan prasarana sangatpenting
untuk ditangani lebih serius, karena sangatberpengaruh
dalam
kelancaran
proses
belajar
mengajar,karena
disamping menjadi lebih nyaman, juga sekaligusmenjadi
media
pembelajaran
dengan
peralatan
yangharus
disesuaikan termasuk penyediaan fasilitas yangmutlak
harus dipenuhi, yang tentunya kesemuanya itu harus sesuai
dengan
kebutuhan
dan
perkembangan
ilmu
dan
pengetahuan. Seringkali dalam pemenuhan sarana dan
prasana ditentukan oleh pihak sekolah bersama komite
sekolah berdasar pada keinginan dankebutuhan sekolah
masing-masing semata, (Margono:2005).
Bagi beberapa sekolah yang telah memenuhisarana
dan prasarananya akan meningkatkannya agar lebih baik
lagi, halini adalah wajar sebagai upaya untukmeningkatkan
kualitas proses belajar mengajar yangpada tujuannnya
untuk
meningkatkan
kualitaspendidikan
itu
sendiri.
Adapun permasalahan yangsering timbul adalah tidak
terkendalinya rencana yangdiprogramkan oleh pihak
sekolah dengan harapanuntuk memenuhi keinginan secara
maksimal yang seringkali kurang efektif karena tidak
langsung dapatdigunakan untuk memenuhi kebutuhan
siswa disekolah yang bersangkutan, hal ini bisa terjadi
karenatidak
adanya
standarisasi
yang
diharuskan
untukdipenuhinya (Azhari, Akyas, 2004).
Bagaimanapun
juga
peningkatan
kualitas
sekolahmemang bukan hal yang mudah, terutama jika
alokasianggaran
pendidikan
disuatu
daerah
belummemungkinkan untuk mencapai angka ideal.Oleh
karena itulah, berbagai alternatif kebijakan yang bersifat
afektif
efisien
namun
peningkatansarana/prasarana
jugamengikutsertakan
(contohProgram
pemerintahandaerah
secara
kearifan
Bedah
pengawasanterpadu
mengena
stake
partisipatif
lokal
Sekolah);
holder
berkaitan
seperti
daerah
peningkatan
pendidikan
dengan
yang
dan
kebijakan-
kebijakanpendidikan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan olehSadiman,
Arief S., (2007) menunjukkkan bahwa adapengaruh positif
yang signifikan antara kelengkapansarana prasarana
terhadap kinerja guru dan kepuasansiswa, sedangkan
besarnya kontribusi kelengkapansarana prasarana sebesar
6,76%, sehingga terdapatpengaruh positif yang signifikan
secara simultan antarakelengkapan sarana prasarana,
kinerja guru, danmetode pembelajaran terhadap kepuasan
siswa.
2.6.6. Standar Pengelolaan
Standar
pengelolaan
NasionalPendidikan
adalah
Standar
berkaitan
dengan
pengawasan
kegiatan
yang
dan
perencanaan,pelaksanaan,
pendidikanpada
tingkat
satuan
pendidikan,
kabupaten/kota,provinsi, atau nasional agar tercapai
efisiensi
danefektivitas
penyelenggaraan
pendidikan.
(Kebijakan dan
Pedoman Akreditasi Sekolah / Madrasah)
Dari seminar yang dilakukan oleh Syarwani (2010)
tentang
Akreditasi
Sekolah
Muara
Mutu
Pendidikanmenyatakan bahwa jika pengelolaan sekolah
dilakukandengan
baik
melalui
penggunaan
dan
pemanfaatansarana dan prasarana belajar yang didukung
olehkemampuan
guru,maka
pimpinan,
harapan
kemampuan
terhadap
hasil
oleh
para
belajar
yang
maksimalkan terwurjud.
2.6.7. Standar Pembiayaan
Standar pembiayaan adalah standar yangmengatur
komponen dan besarnya biaya operasi satuanpendidikan
yang berlaku selama satu tahun.Pembiayaan pendidikan
terdiri atas biaya investasi,biaya operasi, dan biaya
personal.
Dalam Jurnal Penelitian Pendidikan olehKurniady,
2011 disebutkan bahwa Pembiayaanpendidikan berfungsi
untuk memfasilitasi ataumendukung penyediaan sarana
dan prasarana sekolahyang lebih baik, sehingga hasilnya
mempunyai standaryang sesuai dengan kebutuhan belajar
peserta didik.
2.6.8. Standar Penilaian Pendidikan
Standar Penilaian Pendidikan adalah standarnasional
pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme,prosedur,
dan instrument penilaian hasil belajar pesertadidik.Standar
ini mengacu pada Permendiknas No. 20tahun 2007.
Penilaian pendidikan pada jejangpendidikan dasar dan
menengah terdiri atas: (1) penilaian hasil belajar oleh
pendidik,
pendidikan,
(2)
penilaian
dan
(3)
hasil
penilaian
belajar
hasil
oleh
belajar
satuan
oleh
pemerintah.
Diperkuat
oleh
penelitian-penelitian
Poerwanti
(2008:1) standar penilaian pendidikan adalah standar
nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme,
prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta
didik. Pada Peraturan Pemerintah tersebutamanatkan
tigajenis penilaian yaitu; (1) penilaian olehpendidik
dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau
proses, kemajuan, dan perbaikan hasilpembelajaran, (2)
penilaian
oleh
satuan
pendidikanbertujuan
menilai
pencapaian standar kompetensilulusan untuk semua mata
pelajaran sesuai programnyasebagai bentuk transparansi,
profesional, dan akuntabel lembaga, (3) penilaian oleh
pemerintah bertujuan menilai pencapaian kompetensi
lulusan secara nasionalpada mata pelajaran tertentu.
Penilaian
olehpemerintah,
dalam
pelaksanaannya
diserahkan kepadaBSNP.Hasil Ujian Nasional digunakan
sebagai salah satu pertimbangan untuk pemetaan mutu
program,dasar
seleksi
masuk
jenjang
pendidikan
berikutnya,penentuan kelulusan peserta didik, pembinaan,
danpemberian bantuan kepada pihak sekolah dalam
upayapeningkatan mutu pendidikan.
Untuk
menjalankan
strategi
pendampingan
partisipatif dalam persiapan pelaksanaan akreditasi sekolah
di SD Negeri Tlogorejo 1 Kecamatan Guntur Kabupaten
Demak dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut
1) melakukan persiapan dengan mengumpulkan semua
dokumen data dan sumber rujukan untuk kegiatan
persiapan akreditasi sekolah. 2) melakukan sosialisasi
tentang persiapan dan pelaksanaan akreditasi sekolah
kepada semua warga sekolah. 3) mempersiapkan pengisian
instrumen akreditasi yang meliputi 8 standar sebagaimana
yang
di
sampaikan
membentuk
pada
kepanitiaan
kegiatan
sekolah
sosialisasi.
untuk
4)
persiapan
pelaksanaan akreditasi. 5) melakukan pendampingan
secara terencana dan terprogram. 6) melakukan analisis
hasil pengisian instrumen pada langkah awal kegiatan dan
tindaklanjut.
Program-program sekolah yang telah direncanakan
tidak selalu dapat dilaksanakan dengan baik, maka setiap
bulan diadakan evaluasi kegiatan. Yang menjadi hambatan
pada kegiatan ini antara lain adalah keterlibatan komite
masih kurang, terjadi ketidak harmonisan antar warga
sekolah karena perbedaan persepsi dan tujuan masingmasing personal.
2.7.
Penelitian Yang Relevan
Penelitian purnama yang berjudul pengembangan
tata kelola sarana dan prasarana dalam pencapaian target
akreditasi sekolah Kecamatan Bandungan Kabupaten
Semarang yang menemukan bahwa:
Kekuatan utama yang dimiliki sekolah-sekolah pada
Gugus Mina Kencana terletak pada aspek perencanaan dan
pengadaan
sarana
dan
prasarana.Hampir
secara
keseluruhan sekolah telah melibatkan para guru dalam
penyusunan Rencana Kerja Sekolah (RKS) sehingga hal
ini mendorong sekolah untuk dapat meningkatkan potensi
tata kelola sekolah sarana dan prasarana secara maksimal
dalam akreditasi sekolah.
Penelitian Amir Daud menemukan bahwa peran serta
masyarakat dalam pengendalian mutu pendidikan masih
kurang. Hal ini didukung oleh sejumlah data, yaitu : 1)
hanya sekitar 45% komite sekolah yang selalu berperan
secara aktif, 2) hanya sekitar 36% tokoh masyarakat yang
menyatakan bahwa selalu terlibat secara langsung dalam
perencanaan program sekolah, pelaksanaan program,
penggalangan sumber dana, memberi bantuan baik berupa
tenaga, dana maupun bahan, serta terlibat aktif dalam
bentuk pemikiran. Namun demikian, masih terdapat 11%
tokoh masyarakat yang tidak pernah terlibat atau
diikutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan, serta
pertanggungjawaban program dan kualitas pendidikan di
sekolah; (3) hanya sekitar 35% orang tua siswa yang selalu
terlibat. Secara langsung dalam perencanaan program
sekolah, pelaksanaan program, penggalangan sumber
dana, memberi bantuan baik berupa tenaga, dana maupun
bahan, serta terlibat aktif dalam bentuk pemikiran.
Penelitian Sunarno yang berjudul pelaksanaan
akreditasi sekolah studi kasus SD Negeri Tlogorejo 1
Guntur-Demak yang menyimpulkan bahwa pelaksanaan
akreditasi sekolah ditinjau dari komponen ketenagaan dan
peserta
didik
sudah
memenuhi
kualifikasi
yang
dipersyaratkan tercapai hampir 90%, keterlibatan anggota
sekolah dalam pelaksanaan akreditasi semua berperan
dalam
membantu
sekolah
dalam
mempersiapkan
pelaksanaan akreditasi sekolah.
Dengan meningkatnya kompetensi tenaga pendidik
dalam
kegiatan
belajar
mengajar
maka
dapat
meningkatkan kualitas peserta didik. Selain itu juga
dengan
tenaga
kependidikan
yang
sesuai
dengan
bidangnya maka tugas yang dilakukannyaakan semakin
terfokus. Dengan adanya peserta didik yang berkualitas
maka
dapat
meningkat
animo
masyarakat
untuk
menyekolahkan anaknya disekolah tersebut.
Suryana (2007:9) meneliti akreditasi, sertifikasi dan
upaya
penjaminan
mutu
pendidikan
kesimpulannya
akreditasi dan sertifikasi diharapkan dapat memberikan
percepatan kepada pencapaian mutu pendidikan, variasi
mutu yang ada dapat diarahkan kepada pencapaian yang
sama melalui benchmark sebagai pagu bagi pelaksanaan
dengan standarisasi yang sama sehingga memperoleh hasil
yang kompetetif.
Dampak negatif yang mungkin muncul dapat
dieliminasi melalui penataan system penyelenggaraan
yang terbuka (tranparant), bersih (clean), dan komitmen
yang tinggi dari para pelaksana pendidikan.
Pencapaian mutu sekolah melalui kegiatan akreditasi
sekolah diarahkan pada hal-hal berikut ini : (1) proses
akreditasi mengarah pada peningkatan kualitas sekolah, (2)
melihat dan memperoleh gambar kinerja sekolah yang
sebenarnya, (3) sebagai alat pembinaan, pengembangan,
dan peningkatan mutu pendidikan disekolah, (4) kelayakan
sekolah dalam penyelenggaraan dan pelayanannya, (5)
Gambaran menyeluruh bagi masyarakat tentang tingkat
sekolah dimana anaknya berada dengan sekolah-sekolah
lainnya.
Kristina Maric 2008 dalam penelitiannya yang
berjudul “Effects And Implications Of The Accreditation
Process At Postsecondary Vocational Schools In Serbia”
menyimpulkan bahwa untuk mencapai tingkat yang lebih
tinggi dari transparansi dalam proses dan beberapa
perbaikan lebih lanjut dari standar akreditasi maka perlu
pertimbangan perbedaan institusional dalam hal modus
pembiayaan dan mata pelajaran pada suatu institusi
sekolah.
Pencapain mutu sekolah melalui kegiatan akreditasi
sekolah diarahkan pada hal-hal berikut ini (1) proses
akreditasi mengarah pada peningkatan kualitas sekolah, (2)
melihat dan memperoleh gambaran kinerja sekolah yang
sebenarnya, (3) sebagai alat pembinaan, pengembangan,
dan peningkatan mutu pendidikan disekolah, (4) kelayakan
sekolah dalam penyelenggaraan dan pelayanannya, (5)
Gambaran menyeluruh bagi masyarakat tentang tingkat
sekolah dimana anaknya berada dengan sekolah-sekolah
lainnya.
Dengan akreditasi terhadap satuan pendidikan dan
sertifikasi untuk jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan
akan
memberikan
dorongan
yang
besar
terhadap
peningkatan mutu pendidikan pada level kelembagaan dan
mendukung peningkatan mutu pendidikan nasional.
Kajian kepustakaan diatas memaparkan akreditasi
sebagai upaya meningkatkan mutu pendidikan.Purnama
dan Amir Daud meneliti pengembangan tata kelola sarana
dan prasarana dalam pencapaian target akreditasi sekolah.
Amir Daudmenemukan bahwa peran serta masyarakat
dalam pengendalian itu berpengaruh cukup signifikan
pencapaian mutu sekolah melalui kegiatan akreditasi
sekolah diharapkan pada persiapan dan proses akreditasi
yang mengarah pada peningkatan kualitas sekolah.
Kajian kepusatakaan diatas belum cukup untuk
meneliti secara khusus tentang pendampingan partisipatif
dalam persiapan pelaksanaan akreditasi sekolah. Dengan
demikian peneliti masih mempunyai kesempatan untuk
melakukan
peneliti
tentang
gambaran
program
peningkatan akreditasi yang mendukung 8 Standar
Nasional Pendidikan khususnya standar isi dan proses.
Peneliti
berpendapat
bahwa
program
peningkatan
akreditasi yang mendukung 8 standar nasional pendidikan
berpengaruh signifikan terhadap peningkatan peringkat
akreditasi artinya segala potensi yang ada pada sekolah
yang diprioritaskan pada peningkatan program komponen
akreditasi yang masih kurang maksimal akan berpengaruh
terhadap peningkatan penilaian peringkat akreditasi.
2.8.
Kerangka Berpikir
Untuk
memberikan
jaminan
kualitas
proses
pengelolaan sekolah diperlukan adanya penilaian atau
audit oleh pihak luar sekolah harus diakreditasi. Kenyataan
menunjukkan banyak sekolah yang tidak melakukan
perencanaan dan persiapan akreditasi sekolah sehingga
hasil peringkat akreditasinya masih kualifikasi cukup dan
baik.Oleh karena itu sekolah harus menyiapkan bahanbahan yang diperlukan dalam mengikuti akreditasi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk
meningkatkan status akreditasi dan meningkatkan kualitas
kelembagaan sekolah secara holistik dengan melakukan
persiapan dan pendampingan pelaksanaan akreditasi.
Berikut akan disajikan kerangka berfikir untuk
pendampingan partisipatif dalam persiapan pelaksanaan
akreditasi sekolah.
Sekolah hasil akreditasinya
kurang maksimal
Persiapan dan
Perencanaan
akreditasi
sekolah
Pendampingan
partisipatif
pelaksanaan
akreditasi sekolah
Peringkat atau
hasil akreditasi
baik/sangat baik
Kualitas pelayanan pendidikan meningkat
Alur dari gambar tersebut menunjukkan persiapan
dan perencanaan akreditasi sekolah dengan model
pendampingan partisipatif pelaksanaan akreditasi sekolah
dapat
meningkatkan
kualitas
pelayanan
pendidikan.Dengan cara sekolah mempersiapkan secara
terprogram untuk melaksanakan akreditasi sekolah dengan
model pendampingan partisipatif yang dilakukan oleh
pengawas sekolah.
2.9.
Hipotesis
Dalam penelitian ini dapat dirumuskan hipotesis
penelitian sebagai berikut :
2.9.1. Pendampingan
partisipatif
dalam
persiapan
akreditasi sekolah dapat meningkatkan peringkat
akreditasi yang maksimal.
2.9.2. Persiapan
sekolah
dengan
pembimbingan
partisipatif dapat meningkatkan hasil akreditasi.
Download