BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Wanita Usia Reproduktif
Merupakan masa antara awal seorang wanita mulai mendapat haid sampai
akhir pubertas atau seorang wanita tidak haid lagi/menopouse, bisanya pada usia 1549 tahun (BKKBN, 2011). Usia subur atau reproduktif bagi seorang wanita dapat
dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1.
Reproduktif Muda
Apabila seorang perempuan itu hamil dan melahirkan dalam usia antara 15-20
tahun.
2.
Reproduktif Sehat
Apabila seorang perempuan itu hamil dan melahirkan bayi dalam usia antara
20-30 tahun.
3.
Reproduktif Tua
Apabila perempuan itu hamil dan melahirkan bayi dalam usia antara 30-49
tahun.
(BPS Kota Pematang Siantar, 2009).
2.2
Infeksi Menular Seksual (IMS)
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri,
virus, parasit, atau jamur yang penularannya terutama melalui hubungan seksual dari
seseorang yang terinfeksi kepada mitra seksualnya. Penyakit ini dapat ditularkan
melalui hubungan seks vaginal, anal, maupun oral. Sebagian besar penyakit menular
seksual disebabkan bila seseorang pernah melakukan kontak seksual dengan
7
8
seseorang yang menderita penyakit menular seksual. Sejak tahun 1998 istilah STD
berubah menjadi Sexually Transmitted Infection (STI) atau infeksi menular seksual
(IMS) adalah nama lain untuk penyakit menular seksual (PMS). Nama IMS sering
dipakai karena ada beberapa IMS seperti klamidia, yang dapat menginfeksi
seseorang tanpa menimbulkan gejala. Seseorang yang tanpa gejala mungkin tidak
menganggap diri mereka memiliki penyakit, namun mereka sudah terinfeksi dan
perlu diobati. Beberapa penyakit menular seksual dapat ditularkan oleh orang yang
terinfeksi bahkan jika mereka tidak memiliki gejala apapun. IMS tertentu juga dapat
menular dari wanita hamil ke anaknya yang belum lahir. Banyak penyakit menular
seksual dapat dengan mudah disembuhkan tetapi jika tidak diobati, mereka dapat
menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan dan bisa menimbulkan kerusakan
jangka panjang seperti infertilitas (Morse, 2010)
Menurut Gail Bolan, Direktur Divisi Pencegahan Penyakit Menular Seksual
(CDC) Centers for Disease Control and Prevention (2012), seseorang yang telah
terinfeksi IMS seperti gonore dan klamidia yang menginfeksi uretra, rektum, atau
faring dapat meningkatkan risiko infeksi HIV jika belum terinfeksi HIV, dan pada
orang yang telah terinfeksi HIV akan memudahkan penularan HIV kepada orang lain
(French, 2015).
2.3
Jenis-jenis Infeksi Menular Seksual (IMS)
2.3.1 IMS yang disebabkan oleh Bakteri
1.
Klamidia
Klamidia adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri
chlamydia trachomatis. Penyakit ini dapat menginfeksi uretra, rektum dan
leher rahim pada wanita. Chlamydia ditularkan melalui kontak kelamin atau
9
hubungan seksual dengan seseorang yang sudah terinfeksi. Klamidia
merupakan IMS yang paling umum terjadi dan dapat disembuhkan. Individu
tidak harus melakukan penetrasi seks karena bakteri dapat berpindah dari satu
area muskus ke area lain, seperti mata, tenggorokan, anus, vagina, serviks,
atau uretra. Diperkirakan antara 5% dan 10% wanita berusia 24 tahun yang
aktif secara seksual dan pria berusia antara 20 dan 24 tahun yang aktif secara
seksual mungkin terinfeksi (French, 2015).
2.
Gonorrhea (GO)
Gonorea adalah infeksi bakteri Diplokokus Gram Negatif, yaitu
Neisseria gonorrhoea. GO pada wanita sering menimbulkan infeksi pada
Glandula Bartolini (Bartholinitis), isinya cepat menjadi nanah dan akan
menjadi abses apabila tidak keluar dari duktusnya dan berkumpul di dalam.
Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seks melalui anus
(anal seks) dapat menderita GO pada rektumnya. Penderita akan merasakan
tidak nyaman disekitar anusnya dan dari rektumnya keluar cairan. Daerah
disekitar anus tampak merah dan kasar serta tinjanya terbungkus oleh lendir
dan nanah. Hubungan seksual melalui mulut (oral seks) dengan seorang
penderita GO biasanya akan menyebabkan GO pada tenggorokan (faringitis
gonokokal). Umumnya infeksi tersebut tidak menimbulkan gejala, namum
kadang-kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan untuk
menelan (Morse, 2010).
3.
Sifilis
Sifilis merupakan penyakit infeksi kronik dan sistemik yang
ditularkan melalui hubungan seksual, juga dapat ditularkan dari ibu hamil
kepada janinnya melalui proses persalinan. Bakteri penyebab sifilis adalah
10
Treponema pallidum sub spesies Pallidum.
Sifilis ditularkan melalui
hubungan seksual dengan cara kontak langsung dari luka yang mengandung
Treponema, kemudian dapat melewati selaput lendir yang normal atau luka
pada kulit (chancre atau ulkus durum) (Morse, 2010).
4.
Ulkus Molle (Kankroid)
Ulkus molle merupakan penyakit kelamin dengan ulkus genital yang
nyeri sekali. Kuman penyebabnya adalah hemofilus ducrey. Penularannya
biasanya dilakukan lewat koitus tetapi dapat pula melalui tangan. Lama
inkubasinya pendek, biasanya luka sudah terlihat dalam waktu 3-5 hari atau
lebih dini lagi setelah terkena infeksi. Gambaran klinisnya tampak berupa
vesikopustula pada vulva, vagina atau servik. Luka sangat nyeri dan
mengeluarkan getah yang berbau, kental, dan dapat menular (Morse, 2010).
5.
Granuloma Inguinale
Granuloma Inguinale adalah suatu penyakit granulomatik ulseratif
yang menahun dan bisanya terdapat pada vulva, perineum, dan daerah
inguinal. Penularan terjadi melalui hubungan seksual dengan masa inkubasi
8-12 minggu. Penyakit ini tampak seperti papula yang kemudian mengalami
ulserasi dan berubah menjadi suatu daerah yang granuler yang berwarna
merah dibatasi dengan pinggir yang tajam dengan eksudat yang bau. (Morse,
2010).
6.
Limfogranuloma venerum (LGV)
Penyakit ini disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Penyakit ini
menular melalui hubungan seksual dengan masa inkubasi beberapa hari. Dari
tempat masuknya, kuman menyebar melalui saluran dan kelenjar limfe ke
daerah genital, inguinal, dan perianal melalui jalan darah. Penyakit ini
11
menimbulkan nyeri yang keras sehingga menimbulkan kesulitan untuk duduk
atau berjalan. Pada fase lanjut dapat timbul gejala-gejala sistemik seperti
demam, sakit kepala, arthralgia, menggigil, dan kejang abdominal (Morse,
2010).
2.3.2 IMS yang disebabkan oleh virus
1.
Herpes Genitalis
Herpes genitalis merupakan infeksi pada genital dengan gejala khas
berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritem bersifat rekuren.
Herpes genitalis terjadi pada alat genital dan sekitarnya (bokong, daerah anal
dan paha). Ada dua macam tipe HSV yaitu : HSV-1 dan HSV-2 dan
keduanya dapat menyebabkan herpes genital. Infeksi HSV-2 sering ditularkan
melalui hubungan seks dan dapat menyebabkan rekurensi dan ulserasi genital
yang nyeri. Tipe 1 biasanya mengenai mulut dan tipe 2 mengenai daerah
genital (Susanto, 2013).
2.
Kondiloma Akuminata
Tumor pada genetalia yang bersifat lunak seperti jengger ayam dan
tidak nyeri. Pertumbuhan jaringan yangbersifat jinak, superfisial, terutama di
daerah genetalia (kelamin). Kodiloma akuminata/Genitalwarts juga dikenal
sebagai kutil kelamin memiliki lesi yang dapat berproliferasi selama
kehamilan dan sering mengalami regresi spontan setelah persalinan. Tidak
ada komplikasi kehamilan yang disebabkan hPV yang diketahui seperti
abortus spontan ataupun persalinan prematur. (Sarwono, 2008).
12
3.
HIV/AIDS
HIV adalah virus dan seperti kebanyakan virus, HIV memerlukan sel
inang untuk memperbanyak diri guna melakukan replikasi dan bertahan
hidup. HIV diklasifikasikan sebagai retro virus, yaitu virus asam ribonukleat
(RNA). Pada manusia, yang berperan sebagi sel inang adalah sistem imun
dan dikenal sebagai sel clusterofdifferentiation 4 (CD4). Sistem imun yang
sehat mampu menghadapi virus, melindungi tubuh dari penyakit atau infeksi
yang memburuk, tetapi HIV menyerang sistem imun ini sehingga proses
perlindungan tubuh tidak lagi dapat bekerja secara efektif (French, 2015).
4.
Hepatitis B dan C
Hepatitis adalah inflamasi hati dan memiliki sejumlah penyebab yang
berbeda seperti infeksi, kondisi medis lain, gangguan otoimun, atau
penyalahgunaan alkohol. Hepatitis ditandai oleh kondisi akut atau kronik.
Semua hepatitis viral adalah penyakit yang dapat dilaporkan terjadi dan harus
dilaporkan ke public health serta semua pasangan seksual yang dimilki pasien
harus diinformasikan (French, 2015).
5.
Moluskum Kontagiosum
Moluskum kontagiosum disebabkan oleh virus cacar dan merupakan
infeksi kulit yang biasa terjadi terutama pada anak. Virus ini tidak berbahaya
dan biasanya menghilang sendiri dalam 12-18 bulan. Virus ini, seperti
namanya sangat menular (contagious) dan berpindah dari satu orang ke orang
yang lain melalui kontak dengan lesi. Moluskum ditandai oleh adanya papula
lembut dengan bagian tengah yang bebentuk cekung (French, 2015).
13
2.3.3 IMS yang disebabkan oleh parasit
IMS
yang
diebabkan
oleh
parasit
trichomonas
vaginalis
adalah
Trikomoniasis. Parasit ini paling sering menyerang wanita, namun pria dapat
terinfesksi dan menularkan ke pasangannya lewat kontak seksual. Vagina merupakan
tempat infeksi paling sering pada wanita, sedangkan uretra (saluran kemih)
merupakan tempat infeksi paling sering pada pria. Parasit ini menyebar melalui
hubungan seksual dengan orang yang sudah terkena penyakit ini (Susanto, 2013).
2.3.4 IMS yang disebabkan oleh jamur
Infeksi jamur dapat menyerang mulut, kulit, bahkan daerah kewanitaan.
Vagina sebenarnya mengandung bakteri sehat yang berfungsi menjaga keasaman
daerah intim. Namun jika jumlahnya berlebihan, maka bakteri tersebut dapat
menyebabkan infeksi jamur vagina. Ketidakseimbangan dalam produksi bakteri juga
meningkatkan risiko infeksi jamur vagina. Ketidakseimbangan tersebut dipicu oleh
perubahan hormon, obat-obatan tertentu, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Penyebab lain dari infeksi jamur vagina adalah kadar hormon esterogen yang
meningkat drastis. Estrogen sendiri biasanya meningkat pada saat kehamilan dan
kelahiran. Kurangnya menjaga kebersihan alat kelamin pun meningkatkan risiko
infeksi jamur vagina. Mencuci alat kelamin dengan sabun dengan aroma kuat dan
kandungan kimia berbahaya adalah penyebab terakhir dari munculnya infeksi jamur
vagina. (Susanto, 2013).
14
2.4
Faktor Risiko yang Mempengaruhi Infeksi Menular Seksual
2.4.1 Umur
Menurut Kemenkes (2013), populasi usia 15-49 tahun termasuk ke dalam
data estimasi dan proyeksi prevalensi HIV dari modul AEM (Asean Epidemic Model)
yang dirancang untuk dapat menjelaskan dinamika epidemi HIV di negara Asia atau
lokasi geografis tertentu, hal ini menunjukkan bahwa pada rentang usia tersebut
rentan terhadap kejadian HIV (dalam hal ini IMS). Kelompok usia dengan proporsi
kasus AIDS terbanyak dilaporkan pada kelompok 20-29 tahun (47,8%) disusul
kelompok
umur
30-39
tahun
(31%)
dan
40-49
tahun
(9,2%)
(Komisi
Penanggulangan AIDS, 2010).
Menurut teori dari Daili (2014) yang tergolong kelompok risiko tinggi
terkena IMS adalah usia 20-34 tahun pada wanita, 16-24 tahun pada laki-laki dan 2024 tahun pada kedua jenis kelamin. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Budiman dkk (2015) yang meneliti tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian gonore di wilayah kerja Puskesmas Ibrahim Kota Bandung, menyatakan
bahwa mereka yang berumur 20-34 tahun berisiko tinggi terkena IMS dibandingkan
mereka yang berumur <20 atau >34 tahun.
2.4.2 Pekerjaan
Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh
manusia. Dalam arti sempit istilah pekerjaan digunakan untuk satu tugas atau kerja
yang menghasilkan uang bagi seseorang. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini
sering dianggap sinonim dengan profesi. Setiap pekerjaan memiliki risiko yang juga
dapat menentukan pola penyakit yang akan di derita oleh pekerjanya, oleh karena itu
pekerjaan dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang yang merupakan salah
15
satu askpek yang dapat mempengaruhi jenis penyakit yang dapat diderita oleh
pekerjanya.
Wanita usia reproduktif
yang bekerja yang berisiko tertular IMS adalah
mereka yang bekerja pada industri hiburan seperti pegawai restoran, pegawai cafe,
pegawai bar, pegawai karaoke, pegawai diskotek, pegawai klub malam, penari dan
penyanyi malam, dan lainnya (Depkes RI, 2006). Salah satu contohnya adalah
kejadian HIV yang meningkat pada wanita pekerja hiburan di China karena
kurangnya pemahaman kerja wanita tersebut terhadap hubungan seks yang tidak
aman. Dengan pendidikan formal yang rendah serta alternatif lapangan pekerjaan
yang sedikit, banyak pekerja wanita terpaksa bekerja di industri hiburan (Yang,
2010). Pada penelitian Satriani (2015), menyatakan ada hubungan pekerjaan dengan
kejadian IMS pada wanita pasangan usia subur dimana wanita usia subur dengan
pekerjaan yang berpeluang berisiko terkena IMS 12,06 kali dibandingkan wanita
dengan pekerjaan yang tidak berpeluang.
2.4.3 Status Pernikahan
Status pernikahan berperan dalam membentuk perilaku seksual seseorang.
Menurut Dachlia (2000), status pernikahan memberi manfaat dalam membantu
meningkatkan perilaku seksual yang aman dengan adanya anjuran dari pasangan agar
memakai kondom saat berhubungan seks diluar pasangan tetap, terutama bila kedua
belah pihak saling terbuka dalam negosiasi seksual. Status pernikahan terutama pada
status cerai banyak ditemukan pada WPS dimana WPS tersebut berisiko untuk
terkena IMS, berdasarkan data STBP 2007 paling banyak adalah gonore dan
klamidia. Selain itu norma yang berlaku secara umum pada masyarakat Indonesia
bahwa hubungan seks hanya dibenarkan pada pasangan yang sudah menikah.
16
Hubungan seks diluar ikatan pernikahan masih dianggap tabu serta merupakan
pelanggaran norma sosial dan hukum agama (STBP,2007).
Muda (2014) setelah melakukan pengkajian lebih dalam dengan penderita
IMS, menyatakan bahwa IMS terjadi karena pada seseorang dengan status tidak
menikah baik laki-laki maupun perempuan kebutuhan akan seksual lebih tinggi
dibandingkan dengan seseorang yang sudah menikah, sehingga perilaku seks yang
tidak aman dengan pasangan yang berisiko menularkan IMS dapat menjadi sumber
terinfeksinya IMS pada diri seseorang yang tidak memiliki status menikah. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Satriani (2015), menyatakan bahwa ada hubungan
antara status pernikahan dengan kejadian IMS. Wanita usia subur yang berstatus
tidak menikah berisiko 4, 69 kali untuk terkena IMS dibandingkan yang berstatus
menikah.
2.4.4 Umur Pertama Kali Berhubungan Seksual
Risiko yang potensial terhadap aktivitas seksual adalah kehamilan yang tidak
diinginkan dan IMS. Mudanya usia saat melakukan hubungan seksual pertama kali
meningkatkan risiko penyakit menular seksual dan penularan infeksi HIV. Menurut
SDKI (2012), umur pertama kali berhubungan seksual dapat mempengaruhi lamanya
keterpajanan terhadap virus HIV. Remaja dilaporkan memiliki banyak alasan untuk
ingin menjadi seksual aktif, bagaimanapun juga pada mereka yang melakukan
hubungan seks pertama sejak dini tidak memiliki kemampuan dalam membuat
keputusan untuk memiliki klarifikasi nilai dan masih memiliki pengetahuan yang
kurang tentang kontrasepsi dan IMS (Bobak,2005). Wanita muda (15-20 tahun) yang
aktif secara seksual memiliki risiko lebih besar berkembangnya agen penyebab PMS.
Hal ini disebabkan karena pada saat umur muda, sel – sel rahim masih belum matang
17
secara ssempurna. Sel tersebut akan matang seiring bertambah usia dan menjadi
lebih mampu menahan proses yang dihasilkan akibat penetrasi seksual. Terpajan
proses ini sebelum matur dapat merusak sel – sel yang belum matang tersebut.
Sehingga dipandang semakin muda umur pertama kali seseorang melakukan
hubungan seksual, semakin berisiko pula untuk terkena IMS.
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Bali (2016) salah satu cara pencegahan
IMS adalah dengan menunda berhubungan seks dibawah umur 20 tahun, karena
senggama pertama pada umur 15-20 tahun paling berisiko mencetus keganasan leher
rahim. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arnoldus Tiniap (2012),
menunjukkan bahwa mereka yang melakukan hubungan seks pertama kali pada usia
kurang dari 20 tahun berisiko 1,36 kali untuk terinfeksi HIV (dalam hal ini IMS)
dibanding yang melakukannya pada usia 20 tahun atau lebih.
2.4.5 Jumlah Pasangan Seksual
Menurut Kemenkes (2010), salah satu cara pencegahan IMS adalah
melakukan hubungan seksual hanya dengan satu orang. Jika memiliki pasangan seks
lebih dari satu maka sangat berpotensi untuk tertular IMS. Banyaknya pasangan seks
memberikan banyak peluang risiko dalam seks yang tidak aman, dimana seks yang
tidak aman merupakan faktor penting dalam penularan IMS. Menurut data STBP
(2007) abstinen dan setia pada pasangan tetap adalah upaya pencegahan terbaik dari
tertular HIV melalui hubungan seks.
Menurut penelitian Satriani (2015) menunjukkan bahwa wanita usia subur
dengan jumlah pasangan seks lebih dari satu berisiko terkena IMS 14,11 kali
dibandingkan dengan WUS yang hanya memiliki satu pasangan seksual. Budiman
(2015) dalam faktor yang berhubungan dengan kejadian gonore menyatakan terdapat
18
perbedaan yang signifikan antara jumlah partner seksual merupakan faktor risiko
kejadian gonore. Dengan OR 4,23 (95% CI = 1,31-13,62) menyimpulkan bahwa
orang yang memiliki jumlah partner seksual >1 orang berisiko terkena gonore
sebesar 4,23 kali dibanding dengan orang yang hanya memiliki 1 partnet seksual.
Begitu pula pada penelitian Afriana (2011) menyatakan WPS yang memiliki jumlah
pelanggan ≥6 perminggu memiliki risiko 1,28 kali lebih besar terinfeksi gonore.
2.4.6 Riwayat Penggunaan Kondom
Hubungan seksual yang aman membicarakan tentang melindungi diri dan
pasangan dari infeksi terutama dengan menggunakan metode kontrasepsi barier
kondom dan dental dam (pelindung dari gigitan). Penting untuk diingat bahwa
infeksi tidak hanya dapat ditularkan melalui kegiatan seks dengan penetrasi. Ketika
individu dekat dengan seseorang ia mempunyai risiko tertular penyakit orang
tersebut, dan jika individu melakukan hubungan seksual dengan seseorang, ia
mempunyai risiko tertular penyakit kelamin orang tersebut. Melakukan hubungan
seksual yang aman yaitu dengan menggunakan pelindung seperti kondom akan
sangat mengurangi risiko penularan melalui hubungan seksual (French, 2015).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tiniap (2012) didapat hasil
hubungan antara penggunaan kondom dan risiko terinfeksi HIV yang merupakan
salah satu jenis IMS bahwa mereka yang tidak pernah menggunakan kondom saat
berhubungan seks berisiko 6,40 kali untuk terinfeksi HIV dibanding yang pernah
menggunakan. Dari hasil analisis penelitian Budiman (2015) didapatkan bahwa
responden yang tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual dapat
meningkatkan risiko untuk terkena IMS. Dimana orang yang tidak menggunakan
kondom berisiko terkena gonore sebesar 3,99 kali dibandingkan orang yang
19
menggunakan kondom, dengan nilai P=0,045 menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan. Hal ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Amalya
(2012) mengenai perilaku pemakaian kondom dengan kejadian Infeksi Menular
Seksual didapatkan nilai p = 0,000 yang berarti terdapat hubungan antara perilaku
pemakaian kondom dengan kejadian IMS.
2.5
Strategi Global untuk Pencegahan dan Pengendalian IMS
Upaya pencegahan IMS di berbagai negara belum memberikan hasil yang
memuaskan. Hal ini disebabkan beberapa hambatan seperti timbulnya resistensi
terhadap obat, pengaruh lingkungan yang mempermudah penyebaran IMS, kesulitan
mendiagnosa, pengobatan yang tidak tepat, dan kurangnya fasilitas pelayanan
kesehatan yang tersedia. Pengendalian IMS tepat menjadi prioritas WHO. Majelis
Kesehatan Dunia mengesahkan strategi global untuk pencegahan dan pengendalian
IMS pada Mei 2006. Strategi ini mendesak semua negara untuk mengontrol transmisi
IMS dengan menerapkan sejumlah intervensi, termasuk yang berikut :
1.
Pencegahan dengan mempromosikan perilaku seksual yang lebih aman.
2.
Akses ke kondom berkualitas dengan harga terjangkau.
3.
Promosi langkah utama untuk pelayanan kesehatan oleh orang-orang yang
menderita IMS dan oleh mitra mereka.
4.
Memasukkan pengobatan IMS dalam pelayanan kesehatan dasar.
5.
Layanan khusus untuk populasi yang sering atau berperilaku seksual yang
berisiko tinggi, seperti pekerja seks, remaja, jarak jauh dari pasangan
(truck-drivers), personil militer, pengguna susbtansi dan tahanan.
6.
Pengobatan IMS yang benar, yaitu menggunakan obat yang benar dan
efektif, pengobatan mitra seksual, pendidikan dan nasihat.
20
7.
Penapisan klinis pasien asimptomatik (misalnya sifilis, klamidia).
8.
Penyisihan konseling dan tes sukarela untuk infeksi HIV.
9.
Pencegahan dan perawatan sifilis kongenital dan neonatalconjunctivitis.
10. Keterlibatan semua pihak terkait, termasuk sektor swasta dan masyarakat
dalam mencegah dan perawatan IMS.
Kelompok risiko tinggi tertular IMS termasuk HIV / AIDS adalah mereka yang
memiliki perilaku suka berganti -ganti pasangan seksual (multiplesexualpatner),
penggunaan jarum suntik bersama, transfusi darah, dan yang berisiko rendah adalah
wanita hamil kepada bayi yang dikandung serta masyarakat umum lainnya. Strategi
penularan IMS termasuk HIV dilakukan dengan pemutusan mata rantai penularan
dengan melakukan pencegahan penularan melalui hubungan seksual, darah dan
produksi darah, dari ibu hamil kepada anaknya (WHO,2015).
Download

BAB II TINJAUAN PUSTAKA