PELESTARIAN IKAN NILEM (Osteochilus hasselti C.V) MELALUI

advertisement
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
PELESTARIAN IKAN NILEM (Osteochilus hasselti C.V)
MELALUI TEKNOLOGI PEMBENIHANNYA
JOJO SUBAGJA, RUDHY GUSTIANO dan L. WINARLIN
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar
Jl. Sempur No. 1 Bogor 16154
ABSTRAK
Dalam upaya mendukung pembudidayaan ikan nilem yang kini semakin dilupakan menyebabkan
populasi ikan nilem semakin berkurang, penelitian pemijahan buatan serta strategi feminisasi ikan nilem telah
dilakukan di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar Cijeruk Bogor. Strategi feminisasi dengan
metode perendaman hormon steroid (17β -Estradiol) dibedakan pada dua teknik yaitu perendaman jangka
pendek (8-12 jam) terhadap embrio pada fase bintik mata sampai menetas dan perendaman jangka panjang (4
hari) terhadap larva baru menetas hingga mulai makan. Konsentrasi hormon pada perendaman embrio fase
bintik mata yaitu 400ug.L-1; 200 ug.L-1; 100 ug.L-1 dan kontrol, sedangkan konsentrasi hormon pada
perendaman fase larva adalah 100 ug.L-1; 75 ug.L-1; 50 ug.L-1dan kontrol. Nisbah kelamin betina tertinggi
sebesar 94% atau meningkat 30% dari kontrol dicapai pada perlakuan perendaman fase bintik mata pada
konsentrasi 400 ug/L, sementara melalui perendaman larva nisbah kelamin tertinggi yaitu sebesar 75% atau
meningkat 13% dari kontrol dicapai pada konsentrasi 50 ug.L-1.
Kata kunci: Pelestarian, ikan nilem, teknologi, pembenihan
PENDAHULUAN
Di Indonesia paling sedikit ada 12 spesies
ikan lokal yang umum dapat dibudidayakan
dalam badan air dan kolam air tawar, antara
lain ikan mas (Cyprinus carpio L.), tawes
(Puntius
gonoinotus
Blkr.),
gurame
(Ospronemus gouramy Lac.), tambakan
(Helostoma temincki C.V), betutu (Oxeolotris
marmorata), mujair (Tilapia mossambica
Peters), sepat siam (Tricogaster pectoralis
Regan), nila (Oreocromis niloticus L.), lele
dumbo (Clarias garievenus), mata merah
(Puntius orphoides C.V), keplek (P. belinka
Blkr.) dan nilem (Osteochilus hasselti C.V).
Empat spesies ikan introduksi yaitu mola
(Hypophthalamichtys molitrix C.V), koan
(Stenopharyngodon edella Val), patin siam
(Pangasius hypoththalmus Fow) dan bawal air
tawar (Colossoma sp.) SUSENO (1980) serta
ada tiga spesies hasil domestikasi yaitu patin
jambal (Pangasius djambal Blkr.) LEGENDRE
et al., 2000; jelawat (Leptobarbus hoeveni
C.V) HARDJAMULIA dan ATMAWINATA, 1980;
dan ikan tor (Tor soro Wbr.) SUBAGJA et al.,
2006. Ikan-ikan tersebut telah berhasil
dipijahkan dengan teknik hipofisasi dan
pemijahan suntik rangsangan hormonal,
sehingga ke 7 spesies tersebut dapat
dikembangkan sebagai ikan budidaya air tawar.
Ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V),
adalah salah satu komoditas budidaya ikan air
tawar yang terkonsentrasi di Pulau Jawa
khususnya di wilayah Priangan, sementara
sekarang pembudidayaan ikan tersebut hampir
dilupakan/ditinggalkan. Tercermin dari data
Statistik Perikanan Budidaya 2002, dimana
produksi ikan nilem terhadap produksi ikan
budidaya lainnya dari tahun 1996 sampai 2000
persentasinya cenderung menurun berturutturut 11,96;7,28;7,28;6,78 dan 6,96%. Padahal
ikan tersebut mempunyai potensi cukup besar
dalam pengembangannya dimasa yang akan
datang
karena
memiliki
keunggulan
komparative. Budidaya ikan nilem pada
umumnya saat ini masih bersifat tradisional,
bahkan hanya berupa produk sampingan dari
hasil budidaya ikan secara polikultur dengan
ikan mas, mujaer atau nila dan gurame.
Potensi lain yang dimiliki ikan nilem saat
ini adalah telurnya yang sangat digemari
masyarakat karena rasanya lezat dan dapat
diekspor kenegara tertentu sebagai pengganti
kapiar, selain itu telur nilem sudah
dimanfaatkan sebagai bahan pembuat saus.
Demikian juga dengan ikan ukuran 5 gram
telah diproduksi dan diolah menjadi makanan
279
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
siap saji populer disebut sebagai baby fish.
Dari kelompok ciprinidae ikan nilem termasuk
ikan yang tahan terhadap serangan penyakit,
diduga dengan kebiasaan makan ikan nilem
termasuk kedalam kelompok omnivora dimana
pakan yang dikonsumsi didominasi dengan
pakan alami dari kelompok ganggang yang
disinyalir banyak mengandung anti bodi.
Dengan mayoritas makanannya berupa
peryphiton dan tumbuhan penempel dengan
demikian ikan nilem dapat berfungsi sebagai
pembersih jaring apung (JANGKARU, 1989).
Melihat beberapa pertimbangan potensi dan
manfaatnya, sehingga Menteri Kelautan dan
Perikanan pada tanggal 3 Mei 2006,
mengukuhkan ikan ini sebagai salah satu
komoditas Gerakan Mina Padi Rakyat
(GEMPAR).
Untuk
mempertahankan
atau
pun
meningkatkan produksi ikan nilem supaya
mampu mendukung program GEMPAR, serta
untuk menjaga kelestarian ikan tersebut maka
manjemen budidaya ikan nilem harus
diperbaiki dari sistem pemeliharaan secara
lokal-tradisional ke sistem pemeliharaan yang
cakupannya lebih luas dan intensif agar tujuan
skala usaha yang besar seperti untuk tujuan
produksi telur dapat tercapai. Salah satu aspek
yang harus diperbaiki adalah dalam
manajemen perbenihannya.
Makalah ini akan mengemukakan hasilhasil penelitian yang dilakukan di Balai Riset
Perikanan Budidaya Air Tawar dan beberapa
hasil referensi dari luar balai, meliputi kajian
aspek manajemen induk, pemijahan buatan,
produski monosek betina, pemeliharaan benih
sampai dengan ukuran 5 gram (ngeramo),
dibandingkan dengan informasi yang diperoleh
dari hasil wawancara dengan petani ikan nilem
di daerah Tasikmalaya, Singaparna dan
Sumedang.
BAHAN DAN METODE
Manajemen induk
Struktur
pemeliharaan
induk
yang
dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya
Air Tawar (BRP-BAT), di Instalasi Riset
Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar Cijeruk:
Induk ikan nilem hasil koleksi dari petani ikan
daerah Sumedang sebanyak 300 ekor terdiri
280
dari 230 ekor ikan betina dan 70 ekor jantan
(kondisi induk ikan belum pernah dipijahkan),
ukuran bobot badan rata-rata 150 g per ekor
dipeliharan dalam kolam tembok luas 40 M2,
ikan jantan dan betina dipelihara secara
terpisah supaya tidak terjadi pemijahan
spontan.
Pakan induk dengan kadar protein 42%
dengan ransum harian sebanyak 2% dari bobot
biomas diberikan 2 kali yakni pagi dan sore
hari (DJAJASEWAKA, 2005), kolam mendapat
pasokan air dari air sumber (mata air) dengan
debet 20-30 L.menit-1.
Pemeriksaan tingkat kematangan gonad
dilakukan setiap 3 minggu dengan jalan
pengamatan terhadap >50 butir telur hasil
kanulasi dari masing-masing betina (masingmasing betina diberi tasi dengan “stream
tagging”), diameter oosit diukur garis
tengahnya menggunakan mikroskop yang
dilengkapi dengan mikrometer, sebaran
frekuensi oosit yang diamati dipetakan dalam
grafik, kriteria betina yang matang gonad dan
siap dilakukan pemijahan apabila modul
diameter oosit sudah mencapai kisaran 1,1 mm.
Pemeriksaan ikan jantan dilakukan dengan
jalan “stripping” perut pada bagian belakang
dengan notasi sebagai berikut:
0 : Tidak ada sperma
1 : Ada sedikit sperma setelah sedikit
dipijat (< 0,5 ml)
2 : Jumlah sperma lebih banyak (0,5-1,5
ml)
3 : Sangat banyak (>1,5ml)
Pemijahan buatan
Penyuntikan
menggunakan
hormon
reproduksi pada ikan jantan dan betina akan
menghasilkan pemijahan yang serentak
dibandingkan dengan tanpa penyuntikan.
Dengan demikian anakan yang dihasilkan lebih
seragam dan akan memudahkan pemeliharaannya. Penyuntikan untuk ovulasi, mengguna-kan
hormon ovaprim dengan dosis 0,3 ml kg-1
bobot ikan diberikan satu kali, penyuntikan
dilakukan pada bagian belakang sirip
punggung. Pengeluaran telur (ovulasi) terjadi
9-11 jam setelah penyuntikan pada kisaran
suhu air inkubasi 21 - 25°C.
Ikan nilem jantan tidak harus dilakukan
penyuntikan, namun untuk memperoleh jumlah
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
sperma yang lebih banyak penyuntikan
ovaprim dengan dosis 0,2 ml kg-1 bobot ikan
bisa dilakukan, pengeluaran sperma dilakukan
sebelum proses pengeluaran telur (stipping
betina), selanjutnya sperma diawetkan dalam
larutan fisiologis atau larutan infus NaCl 0,9%
diencerankan 100 kali dan disimpan pada suhu
antara 4-5°C (LEGENDRE et al., 1988), pada
kondisi demikian sperma nilem dapat bertahan
hidup hingga 8-12 jam dengan viabilitas >80%.
Persiapan pemijahan dilakukan dengan cara
mengkoleksi
telur
dengan
melakukan
pemijatan atau “stripping” pada bagian perut
ikan betina yang sudah ovulasi, awal terjadi
ovulasi biasanya ditandai dengan keluarnya
beberapa butir telur bila dilakukan pemijatan
bagian perut ikan secara perlahan, setelah
diketahui terjadi ovulasi dibiarkan sekitar 30
menit – 1 jam. Pada saat stripping telur
ditampung dalam wadah/waskom. Selanjutnya
telur dan sperma dicampurkan dalam wadah
pembuahan dan dilakukan pengadukan secara
perlahan menggunakan bulu ayam agar
pembuahan dapat merata. Ditambahkan
aquades atau air sumber yang bersih sebanyak
1-2 kali volume telur untuk mengaktifkan
sperma. Proses pembuahan berlangsung selama
0,5 menit, setelah itu baru dilakukan
pembilasan dengan air bersih untuk membuang
sisa sperma mati. Telur yang dibuahi ditandai
dengan intinya yang berkembang dan berwarna
transparan sedangkan telur yang tidak dibuahi
dalam waktu 6 jam akan berwarna putih keruh,
telur nilem yang sudah dibuahi akan
mengembang hingga 3-5 kali dari diameter
awal.
Akuarium yang berisi air bersih dan telah
diaerasi selama 24 jam digunakan sebagai
media penetasan. Inkubasi telur dilakukan
dengan cara menebarkan telur ke dasar
akuarium atau dapat menggunakan rak-rak
yang tersusun pada kolom air. Telur yang telah
dibuahi menetas dalam kurun waktu 23-27 jam
pada suhu inkubasi 21- 27°C. Penetasan dapat
juga dilakukan didalam corong penetasan
sistem air mengalir.
Manajemen embrio dan benih serta strategi
budidaya
desinfektan menggunakan blue metilene
dengan dosis 10 ppm (berwarna biru laut) dan
dilengkapi dengan pengaerasian, volume
akuarium 100 L telah dipergunakan untuk
menetaskan 15-20 g telur. Setelah telur
menetas segera dilakukan penggantian air
menggunakan air yang sudah ditampung
(diendapkan).
Strategi
untuk
tujuan
pembetinaan
(Feminisasi) dalam menunjang produksi telur
dan benih maka pengalihan kelamin dilakukan
dengan pemberian hormon 17β-estradiol
(ZAIRIN, 2004) dengan teknik perendaman
singkat yang dilakukan pada saat bintik mata
terbentuk (8-12 jam setelah fertilisasi) sampai
dengan menetas (SYAM, 1997), dan
perendaman jangka panjang yaitu setelah
menetas sampai dengan larva mulai makan
(perendaman selama 4 hari).
Pemeliharaan larva setelah menetas, larva
siap diberi pakan dengan nauvilii artemia
setelah berumur
3-4
hari, frekuensi
pemberiannya setiap 4 jam. Pemberian artemia
berlangsung selama 5 hari setelah itu ikan bisa
diberikan pakan buatan berbentuk tepung
halus. Lama pemeliharaan dalam akuarium
adalah 15 hari, setelah itu benih/kebul ikan
didederkan kekolam pendederan yang sudah
dilakukan persiapan pemupukan, dosis pupuk
TSP dan Urea masing-masing 10 g/m3 dan
pupuk kandang 200 g/m3, setelah satu bulan
dilakukan pemupukan susulan sebanyak ½
dosis dari pemupukan, selama pemeliharaan
benih ikan diberi pakan buatan sebanyak 4%
dari bobot biomassa.
Untuk meningkatkan produksi benih, telah
diujicoba perbedaan kedalaman kolam
pendederan untuk memperoleh benih ukuran
“ngeramo”, lama waktu pemeliharaan 85 hari,
serta dilakukan persiapan kolam dengan
pemupukan.
Informasi tentang sistem produksi dan
pembenihan ikan nilem yang dilakukan di
Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Air
Tawar telah dilakukan uji banding dengan
sistem pembenihan yang dilakukan di
Singaparna dan Tasikmalaya, informasi
diperoleh melalui wawancara dengan beberapa
orang pembenih, pendeder dan pedagang
pengumpul serta beberapa pembesaran.
Air media inkubasi telur sebelum
dipergunakan terlebih dahulu dilakukan
281
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
modul diameter oosit sudah mencapai 1.1 mm,
dari Gambar 1 frekuensi tertinggi dicapai pada
waktu pengamatan ke 4 (hari ke 84).
Proporsi betina setiap TKG selama
percobaan berlangsung tertera dalam Gambar
2. Sesuai dengan perkembangan oosit seperti
tertera dalam Gambar 1, proporsi TKG IV
(ikan siap dipijahkan) tertinggi hampir 57%
dicapai pada waktu pengamatan ke 4 (Gambar
2).
HASIL DAN BAHASAN
Manajemen induk
Dari hasil pengamatan perkembangan oosit
dari sampel gonad yang diambil secara
periodik setiap induk nilem (jumlah induk yang
diambil telur = 25 ekor) dari masing masing
betina sampel oosit hasil kanulasi >50 butir,
tertera dalam Gambar 1. Tingkat kematangan
gonad (TKG) akhir yaitu dicirikan dengan
45.00
40.00
Frekuensi (%)
35.00
30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0.9
1
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5
diameter oosit (mm)
1
2
3
4
5
Gambar 1. Perkembangan diameter oosit hasil kanulasi yang dilakukan setiap tiga minggu (21 hari)
sebanyak 5 kali pengambilan. (n = 25 ekor setiap pengamatan)
60.00
Proporsi (%)
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
1
2
3
4
5
Waktu pengamatan setiap 3 minggu
TKG I
TKGII
TKG III
TKG IV
TKG V
Gambar 2. Proporsi ikan betina dari masing-masing tingkat kematangan sesuai waktu pengamatan (n = 230)
282
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
TKG V diketahui fase atresia, dari hasil
pengamatan visual terhadap telur hasil kanulasi
diketemukan >50% oosit sudah mengalami
atresia, dan kondisi gonad banyak cairan serta
cangkang/folikel dan banyak diketemukan
oogonia (diameter <0,1 mm) hampir dari setiap
periode pengamatan diperoleh induk yang
mengalami fase ini, dari Gambar 2 didapat
proporsi induk tertinggi yaitu pada pengamatan
ke 5 hampir mendekati 38%.
Dengan menajemen induk yang lebih
intensif rematurasi induk ikan nilem seperti
terlihat dari Gambar 2 diperlukan waktu sekitar
3 bulan.
Dari penampilan ke dua gambar diatas
tampak jelas bahwa peranan pakan induk
memberikan dampak/hasil terhadap jumlah
indukan yang matang gonad, hal ini sesuai
pendapat yang dikemukakan oleh WATANABE
(1988), kualitas dan kuantitas pakan yang
diberikan kepada induk ikan penting untuk
keberhasilan pematangan, pemijahan dan
kualitas telur.
Sementara informasi yang diperoleh dari
petani pembenih, mereka menggunakan
indukan hasil seleksi dari kolam pemeliharaan/
kolam pembesaran yang dipelihara secara
polikultur, kriteria untuk memilih induk yang
akan dipijahkan berdasarkan pengalaman yaitu
dengan melihat dan meraba dari tingkat
kegendutan
perut
ikan.
Berdasarkan
pengalaman mereka, bila perut diraba sudah
lembut dan mengembang ke belakang maka
ikan tersebut yang dipilih untuk dipijahkan.
Hasil seleksi yang diperoleh dan memenuhi
kriteria tersebut dari satu kolam paling banyak
5% dari jumlah populasi yang ada. Kondisi
demikian memang wajar karena indukan yang
dipelihara hanya mendapatkan pasokan pakan
dari sisa-sisa dapur dan hanya sesekali saja
induk diberi pakan komersial, sistem
pemeliharaan induk masih digabung antara
ikan betina dan jantan.
Pemijahan buatan
Untuk melihat lebih jauh peranan pakan
buatan (kadar protein 42%) yang diberikan
pada percobaan, telah dilakukan pemijahan
secara kawin rangsang menggunakan hormon
“ovaprim”. Dari 15 ekor induk yang memenuhi
kriteria TKG IV setelah dilakukan penyuntikan
dengan hormon reproduksi semua dapat
ovulasi total, rata-rata telur yang dapat
dikeluarkan saat stripping sebesar 21,15%,
serta waktu latent (yaitu kurun waktu setelah
penyuntikan hormon sampai ovulasi) rata-rata
10,8 jam pada kondisi suhu air inkubasi 24,5 26oC, data lebih rinci tertera dalam Tabel 1.
Tabel 1. Bobot induk disuntik, bobot gonad, waktu laten serta kisaran fekunditas ikan nilem
No Betina
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Rata-rata
Bobot induk
(g)
362,50
158,50
100,80
180,00
190,00
190,00
210,00
220,00
210,00
200,00
200,00
210,00
180,00
180,00
190,00
Bobot gonad
(g)
57,00
37,60
30,00
40,00
44,70
41,90
37,50
48,50
45,00
52,50
27,50
27,00
37,60
41,60
42,80
198,79
40,75
GSI (%)
15,72
23,72
29,76
22,22
23,53
19,95
17,05
23,10
22,50
26,25
13,10
15,00
20,89
21,89
22,53
21,15
Waktu laten
(jam)
9,18
10,20
9,25
9,48
9,82
10,08
10,00
11,18
12,18
12,38
12,02
11,77
13,00
11,35
11,37
10,88
Fekunditas/
betina
60,306
39,780
31,740
42,320
47,292
44,330
39,675
51,313
47,610
55,545
29,095
28,566
39,780
44,012
45,282
43,110
Per kg induk
166,361
250,983
314,880
235,111
248,908
233,316
188,928
233,240
226,714
277,725
145,475
136,028
221,004
244,515
238,328
216,865
283
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
Telur hasil stripping dilakukan pembuahan
dengan sperma yang sudah dikoleksi 2 jam
sebelumnya, sperma berasal dari 8 ekor jantan
dikoleksi menjadi satu dan diencerkan 100 x
menggunakan NaCl 0,9% dan disimpan pada
suhu 4-5oC. Setiap 5 ml sperma campuran
cukup untuk membuahi 100 g telur. Setelah
dilakukan pengadukan menggunakan bulu
ayam selama 0,5-1 menit lalu dilakukan
pembilasan dengan air bersih. Telur yang
sudah dibilas diinkubasikan ke dalam
akuarium. Sebagian telur diinkubasikan ke
dalam bak plastik volume 300 ml sebagai
kontrol dengan tujuan untuk mengetahui
derajat penetasan. Keragaan daya tetas serta
jumlah larva normal dan survival rate sampai
dengan hari ke 10 dari hasil pengamatan
inkubasi telur kontrol disajikan dalam Tabel 2.
Pemijahan ikan nilem yang dilakukan
petani secara tradisional dilakukan dikolamkolam khusus yang mendapat aliran air deras
dan adanya tanggul tempat memijah. Untuk
pemijahan tersebut ada tiga cara lokal yaitu
cara Tarogong, Galunggung dan Nagrek.
Pembenihan ke tiga cara tersebut merupakan
cara yang sudah berkembang karena digunakan
prinsip penetasan secara terkontrol di kolam
khusus
penetasan
(HARDJAMULIA
dan
ATMAWINATA, 1980), namun untuk lebih
meningkatkan hasil penetasan perlu sedikit
perbaikan dalam hal manjemen embrio (telurtelur yang telah dibuahi berkembang dan
menetas), karena masih banyak dijumpai pada
pembenih tertentu keberhasilan panen larva
masih rendah < 55%.
Dari data Tabel 2 diperoleh informasi
bahwa pemijahan buatan menghasilkan anakan
(larva) sampai umur 10 cukup tinggi yaitu
sekitar 77%. Apabila data ini dikonversikan ke
fekunditas per kg induk hasil pemeliharaan di
kolam Instalasi Cijeruk, maka akan diperoleh
167,000 ekor “kebul” atau sama dengan 16-17
cangkir, harga percangkir Rp. 12.000,-.
Sementara informasi dari petani pembenih
untuk setiap 1 kg (8-10 ekor betina induk) yang
dipijahan dengan cara tradisional diperoleh
larva sekitar 3-5 cangkir, dengan demikian
teknik pemijahan melalui teknik kawin
rangsang menghasilkan kebul 3 kali lebih
banyak.
Tabel 2. Rata-rata persentase daya tetas, larva normal dan kelangsungan hidup larva (ukuran kebul) ikan
nilem sampai umur 10 hari
Jumlah telur
554.75
602.75
476.00
627.75
Larva normal Abnormal Jumlah menetas HR (%) Normalitas (%) Survival rate (%)
515.25
530.50
430.00
585.25
13.75
51.25
17.25
21.75
529.00
581.75
447.25
607.00
MANAJEMEN EMBRIO DAN BENIH
SERTA STRATEGI BUDIDAYA
Meningkatkan nisbah kelamin betina pada
ikan nilem telah dilakukan melalui perendaman
embrio pada fase pembentukan bintik mata
sampai dengan menetas, dan perendaman larva
setelah menetas sampai mulai makan (selama 4
hari perendaman) menggunakan hormon 17 β estrdiol. Dari kedua perlakuan tersebut
diperoleh
informasi
bahwa
melalui
perendaman embrio, dengan konsentrasi 400
ug.L-1 nisbah kelamin betina rata-rata 94%,
sementara pada kelompok kontrol (tanpa
hormon) diperoleh rata-rata 64%, dengan
demikian perendaman hormon E2 pada fase
embrio meningkatkan nisbah betina sebesar
284
95.29
96.21
93.97
96.57
97.36
90.03
96.17
96.34
78.36
65.85
97.33
82.40
30%.
Sedangkan
dengan
perlakuan
perendaman larva nisbah kelamin betina
tertinggi yaitu sebesar 75% pada perendaman
dengan konsentrasi E2 50 ug L-1 dan kontrol
62%, dengan demikian pada perlakuan ini
hanya meningkatkan nisbah betina 13%.
Feminisasi melalui teknik perendaman
hormon adalah dalam rangka percepatan
mendukung penyediaan calon induk betina
yang diperlukan dalam produksi telur atau
penyediaan calon indukan untuk keperluan
pembenihan dalam jangka pendek (program
jangka cepat), namun teknik ini tidak
direkomendasikan untuk diaplikasikan di
tingkat petani, karena kajian yang lebih detil
tentang dampak atau akses dari perlakuan
hormon tersebut belum selesai diteliti.
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
Strategi teknologi feminisasi yang mungkin
aman di tingkat petani adalah perlakuan
hibridisasi/persilangan dari indukan nilem
“jantan fungsional” (hasil perlakuan setcromosom) yang dihasilkan oleh instansi
pemerintah, dengan betina normal, dari hasil
persilangan
tersebut
akan
diperoleh
keturunannya semua betina. Penelitian tentang
pembentukan jantan fungsional sedang
dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya
Air Tawar, hasil sementara yang sudah dicapai
baru pada tahap pembesaran materi calon
induk hasil maskulinisasi untuk keperluan
pengujian
progeni
(seleksi
“jantan
fungsional”), penelitian masih berlangsung.
Pendederan/pemeliharaan kebul dilanjutkan
ke kolam yang telah dilakukan pemupukan
menggunakan pupuk kandang dan pupuk
buatan, telah diuji perbedaan kedalam kolam
pemeliharaan yaitu 30 cm, 60 cm dan 120 cm.
Dengan kepadatan 1 ekor L-1.
Dari hasil percobaan yang dilakukan di
kolam Instalasi Riset PN Cijeruk, diperoleh
informasi, kedalaman kolam tidak berpengaruh
nyata terhadap kelangsungan hidup, namun ada
kecenderungan dengan semakin dangkal kolam
pendederan kelangsungan hidup semakin
rendah. Rata-rata kelangsungan hidup dari
masing-masing perlakuan kedalaman dari
mulai 30 cm sampai 120 cm berturut-turut
adalah 26,23; 46,23 dan 64,28%. Sedangkan
untuk pertumbuhan bobot rata-rata individu
menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)
dimana perlakuan kedalaman 30 cm
menghasilkan rata-rata tertinggi yaitu 6,4 g.
KESIMPULAN
Dari serangkaian kegiatan pembenihan ikan
nilem yang dilakukan di INRIS Plasma Nutfah
Perikanan Air Tawar Cijeruk, dapat di
simpulkan sebagai berikut:
1. Pemeliharaan
induk
dengan
menggunakan pakan buatan dengan
protein 42%, menghasilkan 57% betina
matang gonad (TKG IV) dan rematurasi
lebih singkat diperlukan waktu 3 bulan.
2. Penyuntikan hormon reproduksi dapat
menyeragamkan proses ovulasi dan
pemijahan, dengan waktu laten 10,8 jam
serta fekunditas rata-rata per kg induk
menghasilkan 216.865 butir telur.
3. Inkubasi telur pada wadah kontrol daya
tetas telur rata-rata mencapai 95,5% dan
larva normal 80,98% serta kelangsungan hidup sampai umur 10 hari
77,35%.
4. Feminisasi melalui perendaman embrio
dengan konsentrasi hormon E2 400 ug
L-1 menghasilkan nisbah kelamin betina
tertinggi yaitu sebesar 94%, atau naik
30% dari kontrol.
5. Pendederan benih dikolam pada
kedalaman 120 cm cenderung meningkatkan kelangsungan hidup mencapai
64,28%, namun menghasilkan ukuran
rata-rata individu paling kecil yaitu 1,58
g, sedangkan pada kedalaman kolam 30
cm kelangsungan hidup 26,23% dan
rata-rata individu saat panen 4,6 g.
UCAPAN TERIMAKASIH
Pada kesempatan ini kami mengucapkan
terimakasih kepada Balai Riset Perikanan
Budidaya Air Tawar yang telah membiayai
kegiatan riset melalui DIPA TA 2006. Kepada
Saudara WAWAN S, DENI IRAWAN dan SIROD
DIANA yang telah membantu pelaksanaan
kegiatan ini sampai selesai.
DAFTAR PUSTAKA
DEPARTEMEN KELAUTAN dan PERIKANAN. 2002.
Statistik Perikanan Budidaya Indonesia 2000,
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,
Jakarta, 104 hlm.
DJAJASEWAKA.H., J. SUBAGJA; A. WIDIYATI, R.
SAMSUDIN dan WINARLIN. 2005. Pengaruh
Kadar Protein Terhadap Produksi dan Kualitas
Telur Induk Ikan Nilem (Osteochilus
Hasselti). Seminar Hasil Penelitian Balai Riset
Perikanan Budiaya Air Tawar, Bogor.
HARDJAMULIA.A, dan ATMAWINATA S. 1980. Teknik
Hipofisasi beberapa Jenis Ikan Air Tawar.
Pros. Lokakarya Nasional Teknologi Tepat
Guna
Bagi
Pengembangan
Perikanan
Budidaya Air Tawar. Bogor, hlm 1-16.
JANGKARU. Z. 1980. Budidaya Ikan dalam Kantong
Jaring Terapung. Pros. Lokakarya Nasional
Teknologi Tepat Guna Bagi Pengembangan
Perikanan Budidaya Air Tawr. Bogor, hlm 8292
LEGENDRE. M, J. SUBAGJA, and J. SLEMBROUCK.
1998. Absence of Marked Seasonal Variations
in
Sexual
Maturity
of
Pangasius
hypophthalmus Brooders Held in Ponds at the
Sukamandi Station (Java, Indonesia), Proc.
Mid-term Catfish Asia Project, Canhto,
Vietnam. 91 - 96.
LEGENDRE M., POUYAUD L., SLEMBROUCK J.,
GUSTIANO R., KRISTANTO A.H., SUBAGJA J.,
KOMARUDIN O., SUDARTO and MASKUR.
2000a. Pangasius djambal: a New Candidate
285
Lokakarya Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Genetik di Indonesia: Manfaat Ekonomi untuk Mewujudkan Ketahanan Nasional
Species for Fish Culture in Indonesia. IARD
Journal, 22, 1-14.
LEGENDRE M., SLEMBROUCK J. and SUBAGJA J. 1999.
First Results on Growth and Artificial
Propagation of Pangasius djambal in
Indonesia. P. 97-102, in Proceedings of the
Mid-Term Workshop of the "Catfish Asia
Project", 11-15 May 1998, Cantho, Vietnam
SUBAGJA.J, SIDI ASIH dan RUDHY GUSTIANO. 2006.
Manajemen Induk dalam Pembenihan Ikan
Tor soro Media Akuakultur Indonesia.
SUSENO D. 1980. Pembenihan Beberapa Varitas/
Strin Ikan Mas (Cyprinus carpio. L). Pros.
Lokakarya Nasional Teknologi tepat guna
Bagi Pengembangan Perikanan Budidaya Air
Tawr. Bogor, hlm 17-26.
286
SUTRISNO, E. 1996. Pengaruh Lama Waktu
Pemberian Hormon17b- Estradiol Secara Oral
Terhadap Nisbah Kelamin Ikan Nila Merah
(Oreochromis Niloticus), Skripsi Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor.
SYAM, Y. 1997. Pengaruh Perendaman Hormon 17
Estradiol Dengan Dosis Berbeda Pada Larva
Umur 7 Hari Selama 18 Hari Terhadap Nisbah
Kelamin Ikan Nila Merah (Oreochromis Sp),
Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.
WATANABE, T. 1988. Fish Nutrition
and
Mariculture. JICA Textbook the General
Aquaculture Course. Page: 147 – 159.
ZAIRIN.M. JR. 2004. Sex Reversal Memproduksi
Benih Ikan Jantan Atau Betina, Penebar
Swadaya , Jakarta: 96 hlm.
Download