jse vol. 1 no. 1 hal 1-71 november desember 2016 issn 2541-3953

advertisement
ISSN 2541-3953
JSE
VOL. 1
NO. 1
HAL
1-71
Diterbitkan Oleh:
SLB NEGERI SERDANG BEDAGAI
Jl. Besar Desa Bengabing Kec. Pegajahan
Kabupaten Serdang Bedagai 20988
Website: www.slbnserdangbedagai.sch.id
NOVEMBER
DESEMBER
2016
Pengantar
Puji syukur kita sampaikan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Allah Swt., atas
limpahan karunia-Nya kita terus dibimbing untuk menjadi insan-insan terdidik
dan menebarkan energi kebaikan melalui dunia pendidikan.
Terbitnya Jurnal Pendidikan Khusus dengan nama Jurnal Special Edu – sebagai
Jurnal Pendidikan Khusus yang pertama dan satu-satunya di Sumatera Utara –
adalah bagian usaha dari insan-insan terdidik SLB Negeri Serdang Bedagai untuk
menebarkan energi kebaikan melalu dunia pendidikan terutama pendidikan
khusus. Dengan kehadiran jurnal ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sarana
bagi Praktisi, Pegiat dan/atau Pemerhati Pendidikan Khusus di Sumatera Utara
pada khususnya dan Nusantara pada umumnya untuk berbagi ide dan gagasan;
bertukar pengalaman dalam memberikan layanan prima, optima dan ultima
berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan khusus serta tantangan dan harapan
bagi Anak Berkemampuan/Berkebutuhan Khusus (ABK) pada masa yang akan
datang.
Pada terbitan yang pertama ini Jurnal Special Edu akan membahas tentang:
Kemampuan Membaca Pemahaman Pada Anak Dengan Hambatan Pendengaran
Kelas 4 Di SLB-B Prima Bakti Mulya; Profil Pelaksanaan Pembelajaran Bagi
Anak Tunarungu Di SLB Kabupaten Sukoharjo; Program Pembelajaran Membaca
Permulaan Untuk Mengakomodasi Siswa Kelas II Dengan Kesulitan Membaca
Permulaan di Sekolah Dasar; Kursi Roda Kerja Untuk Bapak X (individu dengan
hambatan fisik); Pelaksanaan Pembelajaran Agama Islam Materi Sholat Bagi
Anak Tunagrahita di SLB Sukoharjo; Model Pembelajaran Dengan Pendekatan
Saintifik Berbasis Ice Breaker Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Anak
Tunagrahita Ringan Di SLB C YPAC Semarang.
Akhirnya dengan mengharap ridho Tuhan Yang Mahakuasa, Allah Swt., semoga
kehadiran jurnal ini mencerahkan, mengedukasi dan bermanfaat bagi semua
pihak. Amin.
Serdang Bedagai,
November 2016
Penanggung jawab Jurnal Special Edu
SUHENDRI
NIP. 19820504 200604 1 004
i
Dewan Redaksi
JURNAL SPECIAL EDU
Jurnal Pendidikan Khusus
Terbit Enam Kali Setahun (2 Bulanan)
Pada Bulan Januari, Maret, Mei, Juli, September, November
ISSN 2541-3953
PENANGGUNGJAWAB:
SUHENDRI
KETUA PENYUNTING:
ELFA ADILA
PENYUNTING PELAKSANA:
DARTA PARDAMEAN SARAGIH
NICKI ANDRINA SARI
VIVI WAHYUNINGSIH
ROSMA BR. SEMBIRING
NELDEWITA
PENYUNTING AHLI
MUSYAFAK ASSJARI (UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG)
RAHMAT HIDAYAT (UNIVERSITAS DHARMAWANGSA MEDAN)
CANDRA WIJAYA (UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA)
HAIDIR LUBIS (UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA)
MUHAMMAD FADHLI (IAIN MALIKUSSALEH ACEH)
TATA USAHA:
RICKI KURNIAWAN
IMELDA NASUTION
SURI HAKIKI
FREDY PRATAMA
PENERBIT:
SLB NEGERI SERDANG BEDAGAI
JURNAL SPECIAL EDU menerima artikel kebijakan, penelitian, pemikiran, review
teori/konsep/metodologi, dan informasi lain yang berkaitan dengan pendidikan khusus.
“Isi sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis”
ii
Pedoman Penulisan
1) Artikel merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah di publikasikan.
2) Artikel ditulis di kertas A4 dengan font “Times New Roman 12pt”
3) Artikel ditulis maksimal 15 halaman.
4) Seluruh artikel ditulis dengan Bahasa Indonesia
5) Susunan Jurnal Hasil Penelitian:

Judul (14 pt)

Nama Penulis

Institusi dan Alamat Email

Abstrak (150-200 kata)

Kata Kunci (Maks. 5 kata)

Pendahuluan

Metode

Hasil dan Pembahasan

Ucapan Terima Kasih (jika diperlukan)

Referensi (Daftar Pustaka)
6) Susunan Artikel Kajian Teori:

Judul (14 pt)

Nama Penulis

Institusi dan Alamat Email

Abstrak (150-200 kata)

Kata Kunci (Maks. 5 kata)

Pendahuluan

Sub Judul

Sub Judul

Kesimpulan

Ucapan Terima Kasih (jika diperlukan)

Referensi (Daftar Pustaka)
iii
Sistematika Penulisan
1.
Artikel yang ditulis untuk Jurnal Special Edu meliputi hasil penelitian dan
hasil telaah di bidang Pendidikan Khusus, yakni mengenai Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK) baik berupa konsep pemikiran, hasil kajian,
maupun hasil penelitian yang memberi kontribusi pada pemahaman,
pengembangan, dan penanganan terhadap ABK di Indonesia.
2.
Naskah diketik dengan program Microsoft Word, huruf Times New Roman,
ukuran 12pt dengan spasi 1,5 pada kertas A4 menggunakan margin sisi atas
dan kiri 4 cm, margin sisi bawah dan kanan 3 cm, dengan panjang tulisan 1015 halaman.
3.
Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia.
4.
Artikel ditulis dengan sistematika dan ketentuan sebagai berikut:
Judul Artikel
Judul artikel tidak boleh lebih dari 25 kata. Judul dicetak dengan huruf kapital
di tengah-tengah dengan ukuran huruf 14 pt.
Nama Penulis
Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik, disertai asal
lembaga, dan ditempatkan di bawah judul artikel. Dalam hal naskah ditulis
oleh tim, penyunting atau redaksi hanya berhubungan dengan penulis utama
atau yang namanya tercantum pada urutan pertama. Penulis utama harus
mencantumkan alamat korespondensi atau e-mail.
Instansi Penulis
Ditulis nama instansi tempat penulis berasal, letaknya dibawah nama penulis,
misal: Universitas Negeri Medan.
iv
Abstrak
Abstrak dan kata kunci ditulis dalam bahasa Indonesia. Abstrak diketik 1 cm
menjorok kedalam. Panjang abstrak 150-200 kata, sedangkan jumlah kata
kunci 3-5 kata (sesuai dengan variabel penelitian/telaah).
 Abstrak Hasil Penelitian: memuat tujuan, metode penelitian dan hasil
penelitian.
 Artikel Kajian dan Konsep Pemikiran: memuat permasalahan dan
pembahasan.
Kata Kunci
Berisi kata atau istilah yang mencerminkan esensi konsep dalam cakupan
permasalahan, dapat terdiri dari beberapa buah kata/istilah dan terdapat dalam
abstrak. Kata kunci ditulis di bawah abstrak dicetak miring-tebal.
Batang Tubuh Artikel
 Artikel hasil penelitian terdiri atas pendahuluan yang memuat latar belakang
permasalahan termasuk tujuan, metode penelitian, hasil penelitian dan
pembahasan, serta kesimpulan.
 Artikel kajian dan konsep pemikiran terdiri atas pendahuluan yang berisi
permasalahan dan kerangka berpikir dan atau kerangka analisis, sub-subjudul
yang berisi pembahasan, dan penutup.
Daftar Pustaka/Daftar Rujukan
Daftar pustaka yang dirujuk sangat disarankan dari pustaka primer, mutakhir
dan bukan merupakan tulisan sendiri.
Daftar rujukan/daftar pustaka disusun mengacu pada APA Style seperti
contoh berikut ini dan diurutkan secara alfabetis dan kronologis:
Rujukan dari buku:
Dekker, N. 1992. Pancasila sebagai Ideology Bangsa: dari Pilihan Satusatunya ke Satu-satunya Azas. Malang: FPIPS IKIP Malang.
Jika ada beberapa buku yang dijadikan sumber ditulis oleh orang yang
sama dan diterbitkan dalam tahun yang sama pula, data tahun
penerbitan diikuti oleh huruf a, b, c, dan seterusnya yang urutannya
v
ditentukan secara kronologis atau berdasarkan abjad judul bukubukunya. Contoh:
Cornet, L. & Weeks, K. 1985a. Career Ladder Plans. Altanta GA: Career
Ladder Clearinghouse.
Cornet, L. & Weeks, K. 1985b. Planning Carrer Ladder: Lesson from the
States. Altanta GA: Career Ladder Clearinghouse.
Rujukan dari buku yang berisi kumpulan artikel (terdapat editornya).
Ditambah dengan ed jika satu editor, eds jika editornya lebih dari satu.
Contoh:
Denzin, N.K., Lincoln, Y. S., eds. 2009. Handbook of Qualitative Research.
Terj. Daryatmo. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rujukan dari artikel dalam buku kumpulan artikel (ada editornya)
contoh:
Hasan, M.Z. 1990. Karakteristik Penelitian Kualitatif. Dalam Aminuddin
(Ed.). Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra.
Malang: HISKI Komisariat dan YA3.
Rujukan dari buku yang ditulis lebih dari dua penulis et.al maupun dkk.
ditulis lengkap nama penulis lainnya.
Heo, K. H. G., Cheatham, A., Mary, L. H., & Jina, N. 2014. Korean Early
Childhood Educators’ Perceptions of Importance and Implementation of
Strategies to Address Young Children’s Social-Emotional Competence.
Journal of Early Intervention, 36 (1), hlm. 49-66.
Rujukan dari artikel dalam jurnal, contoh:
Naga, D.S. 1998. Karakteristik Butir pada Alat Ukur Model Dikotomi. Jurnal
Ilmiah Psikologi, III (4), hlm. 34-42
Rujukan dari artikel dalam majalah atau koran, contoh:
Alka, D.K. 4 Januari 2011. Republik Rawan Kekerasan? Suara Karya, hlm.
11
Rujukan dari Koran tanpa penulis, contoh:
Kompas. 19 September 2011. Sosok: Herlambang Bayu Aji, Berkreasi
dengan Wayang di Eropa, hlm. 16
vi
Rujukan dari dokumen resmi pemerintah yang diterbitkan oleh suatu
penerbit tanpa pengarang dan tanpa lembaga, contoh:
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. 1990. Jakarta: diperbanyak oleh PT Armas Duta Jaya.
Rujukan dari lembaga yang ditulis atas nama lembaga tersebut, contoh:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Panduan Manajemen
Sekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Rujukan dari karya terjemahan, contoh:
Sztompka, P. 2005. Sosiologi Perubahan Sosial (Terj. Alimandan) Jakarta:
Penerbit Prenada.
Rujukan berupa skripsi, tesis, atau disertasi, contoh:
Indarno, J. 2002. Kontribusi Penerapan Berbasis Sekolah terhadap Kualitas
Penyelenggaraan Pendidikan Tingkat Dasar di Jawa Tengah. Tesis.
Semarang: Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.
Rujukan berupa makalah yang disajikan dalam seminar, penataran,
atau lokakarya, contoh:
Siskandar. 2003. Teknologi Pembelajaran dalam Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Makalah: Disajikan pada Seminar Nasional Teknologi
Pembelajaran pada Tanggal 22-23 Agustus 2003 di Hotel Inna Garuda
Yogyakarta.
Rujukan dari internet, contoh:
Jamhari, M. Pendekatan Antropologi dalam Kajian Islam,
http://www.ditpertais.net/artikel/jamhari01.asp. diakses tanggal 15 Januari
2012.
5.
Segala sesuatu yang menyangkut perizinan pengutipan atau penggunaan
software komputer untuk pembuatan naskah dan ihwal lain yang terkait
dengan HaKI (Hak Kekayaan Intelektual) yang dilakukan oleh penulis artikel,
berikut konsekuensi hukum yang mungkin timbul karenanya, menjadi
tanggung jawab penuh penulis artikel.
6.
Artikel yang masuk ke meja redaksi diseleksi oleh tim penyuntingRedaksi
hanya menerima tulisan yang sesuai dengan ketentuan redaksi. Redaksi hanya
vii
menerima tulisan yang sesuai dengan ketentuan redaksi. Artikel dapat
diterima tanpa perbaikan, diterima dengan perbaikan dan/atau ditolak.
7.
Tulisan dapat dikirimkan kepada redaksi Jurnal “SPECIAL EDU” melalui
email
dengan
alamat
[email protected]
atau
diserahkan langsung/via pos berupa hard copy dan softcopy sebanyak 1
eksemplar ke:
Sekretariat Jurnal Pendidikan Khusus “SPECIAL EDU”
SLB Negeri Serdang Bedagai
Jl. Besar Desa Bengabing Kec. Pegajahan Kab. Serdang Bedagai
Kode Pos. 20988
8.
Sebagai bukti pemuatan artikel, kepada penulis akan dikirimkan Jurnal
Special Edu melalui email.
viii
Daftar Isi
Pengantar
i
Dewan Redaksi
ii
Pedoman Penulisan
iii
Sistematika Penulisan
iv
Daftar Isi
ix
Dewi Ekasari Kusumastuti, Zaenal Alimin
Kemampuan Membaca Pemahaman Pada Anak Dengan
Hambatan Pendengaran Kelas 4 Di SLB-B Prima Bakti Mulya
1-13
Dieni Laylatul Zakia, Sunardi, Sri Yamtinah
Profil Pelaksanaan Pembelajaran Bagi Anak Tunarungu Di SLB
Kabupaten Sukoharjo
14-26
Elfa Adila
Program Pembelajaran Membaca Permulaan Untuk
Mengakomodasi Siswa Kelas II Dengan Kesulitan Membaca
Permulaan di Sekolah Dasar
27-37
Asrori Ahmad, Amanah , Suratmi Rachmat , Sri Rezeki Sulantina
Kursi Roda Kerja Untuk Bapak X (individu dengan hambatan
fisik)
38-44
Nurian Anggraini, Dwi Aris Himawanto, Abdul Salim
Pelaksanaan Pembelajaran Agama Islam Materi Sholat Bagi
Anak Tunagrahita di SLB Sukoharjo
45-55
Wahyu Agus Setyani
Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik Berbasis Ice
Breaker Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Anak
Tunagrahita Ringan Di SLB C YPAC Semarang.
56-71
ix
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN PADA ANAK
DENGAN HAMBATAN PENDENGARAN KELAS 4 DI SLB-B
PRIMA BAKTI MULYA
Dewi Ekasari Kusumastuti dan Zaenal Alimin
Universitas Pendidikan Indonesia
Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154
Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya pemahaman anak dengan
hambatan pendengaran dalam memahami bacaan (membaca pemahaman). Untuk
mengetahui kemampuan membaca pemahaman anak dengan hambatan
pendengaran secara lebih mendalam perlu dilakukannya asesmen membaca
pemahaman. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui
kemampuan membaca pemahaman anak dengan hambatan pendengaran kelas 4
di SLB-B Prima Bakti Mulya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata siswa
dengan hambatan pendengaran kelas 4 di SLB-B Prima Bakti Mulya mengalami
hambatan dalam pemahaman konsep kata tanya, penguasaan kosakata dan
pemahaman isi teks bacaan secara utuh.
Kata kunci: Kemampuan Membaca Pemahaman, Asesmen Membaca Pemahaman,
Anak dengan Hambatan Pendengaran
PENDAHULUAN
Bunawan dan Yuwati (2000 : 33) mengemukakan bahwa “Permasalahan
utama yang dialami oleh anak dengan hambatan pendengaran adalah bukan
ketidakmampuannya dalam berbicara melainkan akibat dari keadaan tersebut
terhadap perkembangan kemampuan berbahasa, yaitu ketidakmampuan mereka
dalam memahami lambang dan aturan bahasa.” Selain itu, mereka juga
mengalami keterbatasan dalam penguasaan kosakata dan memaknai kata.
Sebagaimana dikemukakan oleh Queril dan Forschhammer (dalam Bunawan dan
Yuwati, 2000 : 52) :
Anak yang mendengar tidak mengalami masalah dalam memperoleh
masukan bahasa dalam jumlah yang besar, lengkap dan jelas karena
sepanjang hari akan dibanjiri dengan bahasa melalui pendengarannya,
1
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
sedangkan bagi kaum anak dengan hambatan pendengaran keadaan itu
hanya dapat dicapai bila diimbangi dengan membaca.
Sejalan dengan pernyataan di atas, salah satu dampak dari hambatan
berbahasa yang dialami anak dengan hambatan pendengaran adalah mereka
mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan atau yang biasa disebut dengan
membaca pemahaman. Aulia (2012 : 347) dalam penelitiannya mengemukakan
bahwa “ membaca pemahaman bagi anak dengan hambatan pendengaran dilihat
sebagai alat yang tidak tergantikan dalam perkembangan bahasa, karena
kemampuan tersebut merupakan dasar untuk memiliki kemampuan selanjutnya.”
Berkenaan dengan itu, penguasaan dari kemampuan ini ditekankan pada
pemahaman makna dari bacaan yang dibaca.
Berdasarkan pemaparan di atas diketahui bahwa pentingnya penguasaan
kemampuan membaca pemahaman bagi anak dengan hambatan pendengaran.
Namun, proses penguasaan kemampuan tersebut tidaklah mudah dikarenakan
hambatan pendengaran yang mereka alami. Berlandaskan pendapat beberapa ahli
(dalam Coppens, dkk, 2010 : 464) dalam penelitiannya diketahui bahwa ‘In
general, hearing-impaired children show lower levels of reading comprehension
than their hearing peers’. Makna pernyataan beberapa ahli di atas adalah secara
umum,
anak-anak
dengan
hambatan
pendengaran
menunjukkan
tingkat
pemahaman bacaan yang lebih rendah daripada anak mendengar. Lebih lanjut
beberapa ahli (dalam coppen, dkk, 2010 : 464) tersebut mengemukakan bahwa
‘Only 4% of the hearing-impaired students in their study were reading at an ageappropriate level. The poor vocabulary (in terms of size and/or depth of semantic
knowledge) of hearing-impaired students may limit their reading comprehension’.
Secara garis besar, beberapa ahli tersebut mengemukakan bahwa hanya 4% dari
siswa dengan hambatan pendengaran dalam penelitian mereka yang mampu
membaca pada tingkat yang sesuai dengan usia. Minimnya kosakata yang dimiliki
(dalam hal ukuran dan/atau kedalaman pengetahuan semantik) siswa dapat
membatasi kemampuannya dalam memahami bacaan.
Sehubungan dengan pemaparan di atas, tujuan dari penelitian ini adalah
mengetahui
kemampuan
membaca
pemahaman
anak
dengan
hambatan
2
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
pendengaran kelas 4 di SLB-B Prima Bakti Mulya. Dalam rangka mencapai
tujuan penelitian tersebut, peneliti harus menjawab pertanyaan penelitian,
“Bagaimana kemampuan membaca pemahaman anak dengan hambatan
pendengaran kelas 4 SDLB?”.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini berlokasi di SLB-B Prima Bakti Mulya dengan subyek
penelitian 6 orang anak dengan hambatan pendengaran kelas 4 di SLB-B Prima
Bakti Mulya. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui
wawancara dan asesmen membaca pemahaman dengan teknik analisis data secara
kualitatif. Sehubungan dengan itu, analisis data yang digunakan berlandaskan
pada kerangka yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Teknik analisis ini
terdiri dari tiga fase, yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data
display), dan menarik kesimpulan atau verifikasi (Basrowi dan Suwandi, 2008).
Sehingga dalam penelitian ini kemampuan membaca pemahaman anak dengan
hambatan pendengaran kelas 4 di SLB-B Prima Bakti Mulya yang diperoleh dari
kegiatan asesmen membaca pemahaman dianalisis secara kualitatif. Sebagai
penunjang, sebelum dilakukan analisis, dilakukan penskoran nilai terlebih dahulu
untuk menentukan tingkat kemampuan membaca pemahaman masing-masing
anak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
Peneliti melakukan asesmen kepada enam orang siswa dengan hambatan
pendengaran kelas 4 di SLB-B Prima Bakti Mulya. Jenis-jenis pertanyaan yang
diujikan dalam proses asesmen tersebut meliputi jenis pertanyaan eksplisit
tentang fakta, eksplisit tentang urutan/sekuen, eksplisit tentang argumentasi,
implisit dan pertanyaan terkait pemahaman interpretasi. Berkenaan dengan itu;
Herdianti, dkk (2014) secara garis besar memaparkannya pada tabel di bawah
ini:
Tabel 1. 1 Indikator Pencapaian Kemampuan Membaca Pemahaman
3
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Ruang
Jenis
Indikator
Bobot
Lingkup
Pertanyaan
Pemahaman
Eksplisit tentang
Dapat memahami isi teks bacaan
Isi Bacaan
Fakta
yang
Penilaian
bersifat
tekstual.
1
Cara
untuk menggali pemahaman ini
melalui pertanyaan apa, siapa,
berapa dan kapan.
Eksplisit tentang
Dapat memahami isi teks bacaan
Sekuen / Urutan
berdasarkan urutan logika teks
1
yang dibacanya. Pemahaman ini
dapat digali melalui pertanyaan
yang mengarah kepada urutan
peristiwa
atau
kejadian
dan
hubungan sebab akibat.
Eksplisit tentang
Dapat memahami isi teks bacaan
Argumentasi
yang mengandung argumentasi.
2
Pemahaman ini digali melalui
pertanyaan yang mengandung
argu-mentasi. Seperti: mengapa,
bagaimana.
Implisit
Dapat memahami isi teks bacaan
1
yang terdapat di luar konten
bacaan tetapi masih memiliki
hubungan dengan teks tersebut.
Pertanyaan
Dapat memahami teks bacaan
terkait
dengan
pemahaman
kembali apa yang tersampaikan
interpretasi
dalam
cara
teks
2
mengungkapkan
dalam
suatu
ringkasan yang relatif sederhana.
4
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Langkah selanjutnya setelah diketahui indikator pencapaian kemampuan
membaca pemahaman siswa melalui tes pemahaman isi bacaan, dilakukan
penskoran nilai untuk menentukan tingkat kemampuan membaca pemahaman.
Adapun hasil penskoran tes pemahaman isi bacaan dijelaskan pada tabel di bawah
ini:
Tabel 1.2 Hasil Penskoran Tes Pemahaman Isi Bacaan
Perolehan Nilai Kelas 4
No.
Nama
Paket
Tahap 1
Siswa
Soal
16 Maret
16 Maret
2016
2016
1.
HAS
A
73,33 %
2.
WMF
A
46,67 %
3.
AAR
B
73,33 %
4.
RMA
B
46,67 %
5.
PNS
B
73,33 %
6.
MTA
A
46,67 %
Level
Instruction
Level
Frustation
Level
Instruction
Level
Frustation
Level
Instruction
Level
Frustation
Level
Tahap 2
53,33 %
46,67 %
66,67 %
33.33 %
60 %
38,46 %
Level
Instruction
Level
Frustation
Level
Instruction
Level
Frustation
Level
Instruction
Level
Frustation
Level
Setelah diketahui indikator pencapaian dan tingkat kemampuan membaca
pemahaman
masing-masing
siswa,
diperoleh
gambaran
kemampuan
pemahaman isi bacaan anak dengan hambatan pendengaran kelas 4 di SLB-B
Prima Bakti Mulya. Adapun gambaran kemampuan tersebut dijelaskan lebih
lanjut pada tabel di bawah ini:
Tabel 1.3 Gambaran Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas IV di
SLB-B Prima Bakti Mulya Berdasarkan Hasil Asesmen
Inisial Siswa
Gambaran Kemampuan Siswa
HAS
Kemampuan pemahaman isi bacaan HAS dikategorikan berada
5
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
pada instruction level. Artinya, HAS dapat memahami isi
bacaan namun belum sempurna sehingga membutuhkan
bantuan berupa penjelasan lebih detail tentang soal atau konsep
yang tidak dipahami. Berdasarkan hasil asesmen tahap I dan II,
HAS telah mampu menjawab jenis pertanyaan eksplisit tentang
fakta. Hal tersebut terlihat dari HAS mampu menjawab dengan
benar pertanyaan apa, siapa, berapa, kapan dan dimana dengan
mencari jawabannya pada teks bacaan. Untuk jenis pertanyaan
implisit, HAS telah mampu menjawab dengan benar pertanyaan
yang menanyakan judul dari teks bacaan. Sedangkan, untuk
jenis pertanyaan eksplisit tentang sekuen/urutan, salah atau
benarnya jawaban HAS
tergantung pada
teks bacaan.
Diasumsikan seperti itu karena terdapat perbedaan hasil pada
tahap I dan II. Pada tahap I, HAS mampu menjawab dengan
benar, sedangkan pada tahap II HAS tidak mampu menjawab
dengan benar. Sama halnya dengan jenis pertanyaan eksplisit
tentang sekuen/urutan, pada jenis eksplisit tentang Argumentasi
juga terdapat perbedaan hasil pada tahap I dan II. Pada tahap I,
HAS mampu menjawab dengan benar, sedangkan pada tahap II,
HAS tidak mampu menjawab dengan benar. Hal tersebut
dikarenakan pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan
kemampuan untuk menganalisis teks bacaan, selain itu juga
berkaitan erat dengan tingkat pemahaman siswa terhadap teks
bacaan yang diberikan. Selanjutnya, untuk pertanyaan terkait
pemahaman interpretasi, HAS telah mampu menceritakan
kembali inti dari isi teks bacaan dalam bentuk poin-poin, namun
poin-poin tersebut belum mencakup inti dari isi teks bacaan.
Dapat dikatakan hampir mendekati indikator yang ingin dicapai.
WMF
Kemampuan pemahaman isi bacaan WMF dikategorikan pada
frustation level. Artinya, WMF belum mampu atau gagal dalam
memahami isi bacaan walaupun telah diberikan bantuan atau
6
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
AAR
arahan. Berdasarkan hasil asesmen tahap I dan II, WMF telah
mampu menjawab jenis pertanyaan eksplisit tentang fakta. Hal
tersebut terlihat dari WMF mampu menjawab dengan benar
pertanyaan siapa, berapa, kapan dan dimana dengan mencari
jawabannya pada teks bacaan. Namun, pada pertanyaan “apa”
salah atau benarnya jawaban WMF tergantung pada teks bacaan
yang diberikan. Diasumsikan seperti itu karena terdapat
perbedaan hasil pada tahap I dan II. Pada tahap I, WMF tidak
mampu menjawab dengan benar, sedangkan pada tahap II
WMF mampu menjawab dengan benar. Untuk jenis pertanyaan
eksplisit tentang sekuen/urutan, WMF telah mampu menjawab
dengan benar pertanyaan yang mengarah kepada hubungan
sebab akibat. Selain itu, WMF juga telah mampu menjawab
dengan benar jenis pertanyaan implisit yang menanyakan
tentang judul teks bacaan. Sedangkan, untuk jenis pertanyaan
eksplisit tentang Argumentasi, WMF belum mampu menjawab
dengan tepat. Hal tersebut dikarenakan pertanyaan-pertanyaan
tersebut membutuhkan kemampuan untuk menganalisis teks
bacaan, selain itu juga berkaitan erat dengan tingkat
pemahaman siswa terhadap teks bacaan yang diberikan.
Selanjutnya, untuk pertanyaan terkait pemahaman interpretasi,
WMF telah mampu menceritakan kembali inti dari isi teks
bacaan dalam bentuk poin-poin. Poin-poin tersebut tampak
menyalin dari teks bacaan dan belum mencakup inti dari isi teks
bacaan tersebut. Namun, dapat dikatakan hampir mendekati
indikator yang ingin dicapai.
Kemampuan pemahaman isi bacaan AAR dikategorikan berada
pada instruction level. Artinya, AAR dapat memahami isi
bacaan namun belum sempurna sehingga membutuhkan
bantuan berupa penjelasan lebih detail tentang soal atau konsep
yang tidak dipahami. Berdasarkan hasil asesmen tahap I dan II,
AAR telah mampu menjawab jenis pertanyaan eksplisit tentang
fakta. Hal tersebut terlihat dari AAR mampu menjawab dengan
benar pertanyaan apa, berapa, kapan dan dimana dengan
mencari jawabannya pada teks bacaan. Namun, pada pertanyaan
yang mengandung kata tanya “siapa”, salah atau benarnya
jawaban AAR tergantung pada teks bacaan yang diberikan.
Diasumsikan seperti itu karena terdapat perbedaan hasil pada
tahap I dan II. Pada tahap I, AAR tidak mampu menjawab
dengan benar, sedangkan pada tahap II AAR mampu menjawab
7
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
RMA
dengan benar. Untuk jenis pertanyaan eksplisit tentang
sekuen/urutan, AAR telah mampu menjawab dengan benar
pertanyaan yang mengarah kepada hubungan sebab akibat.
Selain itu, AAR juga telah mampu menjawab dengan benar
jenis pertanyaan implisit yang menanyakan tentang judul teks
bacaan. Sedangkan, untuk jenis pertanyaan eksplisit tentang
Argumentasi, terdapat perbedaan hasil pada tahap I dan II. Pada
tahap I, AAR mampu menjawab dengan benar, sedangkan pada
tahap II AAR tidak mampu menjawab dengan benar. Hal
tersebut
dikarenakan
pertanyaan-pertanyaan
tersebut
membutuhkan kemampuan untuk menganalisis teks bacaan,
selain itu juga berkaitan erat dengan tingkat pemahaman siswa
terhadap teks bacaan yang diberikan. Selanjutnya, untuk
pertanyaan terkait pemahaman interpretasi, AAR telah mampu
menceritakan kembali inti dari isi teks bacaan dalam bentuk
poin-poin. Poin-poin tersebut tampak menyalin dari teks bacaan
dan belum mencakup inti dari isi teks bacaan tersebut. Namun,
dapat dikatakan hampir mendekati indikator yang ingin dicapai.
Kemampuan pemahaman isi bacaan RMA dikategorikan berada
pada frustation level. Artinya, RMA belum mampu atau gagal
dalam memahami isi bacaan walaupun telah diberikan bantuan
atau arahan. Berdasarkan hasil asesmen tahap I dan II, RMA
telah mampu menjawab jenis pertanyaan eksplisit tentang fakta.
Hal tersebut terlihat dari RMA mampu menjawab dengan benar
pertanyaan yang mengandung kata tanya “siapa, berapa dan
kapan” dengan mencari jawabannya pada teks bacaan. Namun,
pada pertanyaan apa, salah atau benarnya jawaban RMA
tergantung pada teks bacaan. Diasumsikan seperti itu karena
terdapat perbedaan hasil pada tahap I dan II. Pada tahap I, RMA
mampu menjawab dengan benar, sedangkan pada tahap II RMA
tidak mampu menjawab dengan benar. Selain itu, RMA belum
mampu menjawab dengan benar pertanyaan yang mengandung
kata tanya “dimana”. Ia tampak belum memahami penggunaan
kata tanya “dimana.” Dikarenakan tidak terdapat hubungan
sama sekali antara jawaban RMA dengan pertanyaan bacaan.
Begitu halnya dengan jenis pertanyaan eksplisit tentang
sekuen/urutan, RMA juga belum mampu menjawab dengan
benar pertanyaan yang mengarah kepada hubungan sebab
akibat. Untuk jenis pertanyaan implisit, RMA telah mampu
menjawab dengan benar pertanyaan yang menanyakan judul
8
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
PNS
MTA
dari teks bacaan. Sedangkan, untuk jenis pertanyaan eksplisit
tentang Argumentasi, RMA belum mampu menjawab dengan
tepat. Hal tersebut dikarenakan pertanyaan-pertanyaan tersebut
membutuhkan kemampuan untuk menganalisis teks bacaan,
selain itu juga berkaitan erat dengan tingkat pemahaman siswa
terhadap teks bacaan yang diberikan. Selanjutnya, untuk
pertanyaan terkait pemahaman interpretasi, RMA telah mampu
menceritakan kembali inti dari isi teks bacaan dalam bentuk
poin-poin. Poin-poin tersebut tampak menyalin dari teks bacaan
dan belum mencakup inti dari isi teks bacaan tersebut. Namun,
dapat dikatakan hampir mendekati indikator yang ingin dicapai.
Kemampuan pemahaman isi bacaan PNS dikategorikan berada
pada instruction level. Artinya, PNS dapat memahami isi
bacaan namun belum sempurna sehingga membutuhkan
bantuan berupa penjelasan lebih detail tentang soal atau konsep
yang tidak dipahami. Berdasarkan hasil asesmen tahap I dan II,
PNS telah mampu menjawab jenis pertanyaan eksplisit tentang
fakta. Hal tersebut terlihat dari PNS mampu menjawab dengan
benar pertanyaan apa, siapa, berapa, kapan dan dimana dengan
mencari jawabannya pada teks bacaan. Untuk jenis pertanyaan
eksplisit tentang sekuen/urutan, PNS telah mampu menjawab
dengan benar pertanyaan yang mengarah kepada hubungan
sebab akibat. Selain itu, PNS juga telah mampu menjawab
dengan benar jenis pertanyaan implisit yang menanyakan
tentang judul teks bacaan. Sedangkan, untuk jenis pertanyaan
eksplisit tentang Argumentasi, PNS belum mampu menjawab
dengan tepat. Hal tersebut dikarenakan pertanyaan-pertanyaan
tersebut membutuhkan kemampuan untuk menganalisis teks
bacaan, selain itu juga berkaitan erat dengan tingkat
pemahaman siswa terhadap teks bacaan yang diberikan.
Selanjutnya, untuk pertanyaan terkait pemahaman interpretasi,
PNS telah mampu menceritakan kembali inti dari isi teks
bacaan dalam bentuk poin-poin. Poin-poin tersebut tampak
menyalin dari teks bacaan dan belum mencakup inti dari isi teks
bacaan tersebut. Namun, dapat dikatakan hampir mendekati
indikator yang ingin dicapai.
Kemampuan pemahaman isi bacaan MTA dikategorikan berada
pada frustation level. Artinya, MTA belum mampu atau gagal
dalam memahami isi bacaan walaupun telah diberikan bantuan
atau arahan. Berdasarkan hasil asesmen tahap I dan II, MTA
9
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
telah mampu menjawab jenis pertanyaan eksplisit tentang fakta.
Hal tersebut terlihat dari MTA mampu menjawab dengan benar
pertanyaan apa, berapa, kapan dan dimana dengan mencari
jawabannya pada teks bacaan. Namun, pada pertanyaan siapa
salah atau benarnya jawaban MTA tergantung pada teks bacaan.
Diasumsikan seperti itu karena terdapat perbedaan hasil pada
tahap I dan II. Pada tahap I, MTA mampu menjawab dengan
benar, sedangkan pada tahap II MTA tidak mampu menjawab
dengan benar. Begitu halnya dengan jenis pertanyaan eksplisit
tentang sekuen/urutan, terdapat perbedaan hasil pada tahap I
dan II. Pada tahap I, MTA tidak mampu menjawab dengan
benar, sedangkan pada tahap II, MTA mampu menjawab
dengan benar. Untuk jenis pertanyaan implisit, MTA telah
mampu menjawab dengan benar pertanyaan yang menanyakan
judul dari teks bacaan. Sedangkan, untuk jenis pertanyaan
eksplisit tentang Argumentasi, MTA belum mampu menjawab
dengan tepat. Hal tersebut dikarenakan pertanyaan-pertanyaan
tersebut membutuhkan kemampuan untuk menganalisis teks
bacaan, selain itu juga berkaitan erat dengan tingkat
pemahaman siswa terhadap teks bacaan yang diberikan.
Selanjutnya, untuk pertanyaan terkait pemahaman interpretasi,
pada dasarnya MTA telah memahami inti dari teks bacaan.
MTA menceritakan kembali isi teks ini berdasarkan
pengalamannya dan mencoba mengungkapkannya dengan
bahasanya sendiri. Namun, bukan hal tersebut yang
dimaksudkan dalam pertanyaan ini sehingga diasumsikan
jawaban MTA belum sesuai dengan indikator.
Berdasarkan gambaran kemampuan siswa kelas 4 di SLB-B Prima
Bakti Mulya di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya hambatan
yang dialami siswa di kelas tersebut pada pemahaman konsep kata tanya,
penguasaan kosakata dan pemahaman isi teks bacaan secara utuh.
2. Pembahasan
Setelah melakukan kegiatan asesmen membaca pemahaman diperoleh
gambaran kemampuan pemahaman isi bacaan siswa kelas 4 di SLB-B Prima
Bakti Mulya. Pada dasarnya hambatan yang dialami siswa di kelas tersebut
adalah pemahaman konsep kata tanya, penguasaan kosakata dan pemahaman
10
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
isi teks bacaan secara utuh. Hambatan yang dialami oleh para siswa tersebut
merupakan dampak dari keterlambatan perkembangan bahasa yang mereka
alami. Hal tersebut didukung oleh pendapat Leigh dalam Hernawati (2007,
hlm.2-3):
Masalah utama kaum dengan hambatan pendengaran bukan terletak pada
tidak dikuasainya suatu sarana komunikasi lisan, melainkan akibat hal
tersebut terhadap perkembangan kemampuan berbahasanya secara
keseluruhan yaitu mereka tidak atau kurang mampu dalam memahami
lambang dan aturan bahasa. Secara lebih spesifik, mereka tidak mengenal
atau mengerti lambang/kode atau „nama‟ yang digunakan lingkungan
guna mewakili benda-benda, peristiwa kegiatan, dan perasaan serta tidak
memahami aturan/sistem/tata bahasa. Keadaan ini terutama dialami anak
tunarungu yang mengalami ketulian sejak lahir atau usia dini (tuli
prabahasa).
Sejalan dengan pendapat di atas, Rachman (dalam Rohman, 2013, hlm.
2) mengemukakan bahwa:
Penguasaan bahasa anak dengan hambatan pendengaran dalam proses
pembelajaran dapat dilihat dari banyaknya perbendaharaan kata yang
dimilikinya. Peningkatan perbendaharaan kata dalam menyusun kata
atau kalimat menentukan keberhasilan anak dengan hambatan
pendengaran sedang dalam berkomunikasi dan dapat memahami
informasi yang diperolehnya. Bahwa perbendaharaan atau kosa kata
yang dimiliki seseorang biasanya dijadikan ukuran untuk menetapkan
kadar pengetahuan, tingkat kecerdasan, dan pengalaman pribadi orang
yang bersangkutan.
Beberapa pendapat di atas memperkuat hasil asesmen membaca
pemahaman yang telah dilakukan pada penelitian ini. Anak dengan hambatan
pendengaran mengalami hambatan dalam perkembangan bahasa sehingga
perbendaharaan kata yang dimilikinya tidak seperti siswa reguler pada
umumnya. Adapun dampak dari kondisi tersebut, mereka mengalami
kesulitan untuk mengenal atau mengerti lambang/kode atau „nama‟ yang
digunakan lingkungan guna mewakili benda-benda, peristiwa kegiatan, dan
perasaan serta tidak memahami aturan/sistem/tata bahasa. Sehingga para
siswa dengan hambatan pendengaran mengalami kesulitan dalam memahami
konsep kata tanya, penguasaan kosakata dan pemahaman isi teks bacaan
secara utuh. Sehubungan dengan itu, hasil penelitian ini sejalan dengan
11
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
pernyataan Yuwati (dalam Budiarti, 2013) dalam penelitiannya yang
mengemukakan bahwa „tingkat pemahaman membaca siswa sekolah luar
biasa berada jauh di bawah kemampuan siswa sekolah reguler, bahkan nilai
yang diperoleh siswa dengan hambatan pendengaran berada jauh dibawah
kemampuan siswa sekolah reguler‟.
KESIMPULAN
Kemampuan Anak Dengan Hambatan Pendengaran Kelas 4 di SLB-B Prima
Bakti Mulya adalah rata-rata siswa di kelas tersebut mengalami hambatan dalam
pemahaman konsep kata tanya, penguasaan kosakata dan pemahaman isi teks
bacaan secara utuh. Sehingga dapat dikatakan Anak dengan hambatan
pendengaran di kelas tersebut memiliki kemampuan membaca pemahaman yang
membutuhkan perhatian dan intervensi khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Aulia, R. 2012. Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Pada
Anak Tunarungu. Jurnal Ilmiah Pendidikan Khusus, 1 (2), hlm. 347357
Basrowi dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta:
Rineka Cipta
Budiarti, K. (2013). Strategi Pembelajaran PQ4R Terhadap Kemampuan
Membaca Pemahaman Siswa Tunarungu di SMALB-B Surabaya.
Jurnal Pendidikan Khusus, 3 (3), hlm. 1-7.
Bunawan dan Yuwati. 2000. Penguasaan Bahasa Anak Tunarungu. Jakarta:
Yayasan Santirama
Coppens, K.M., Tellings, A., Verhoeven, L.., & Schreuder, R. 2011. Depth of
Reading Vocabulary in Hearing and Hearing-impaired children.
Journal Reading and Writing, 24 (4), hlm. 463-477
Herdiyanti,
R.S,
dkk.
Bandung : ________
2014.
Asesmen
Membaca
Lanjutan.
Hernawati, Tati. 2007. Pengembangan Kemampuan Berbahasa dan Berbicara
Anak Tunarungu. JASSI_anakku, 7 (1), hlm. 101-110
12
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Rohman, F. (2013). Permainan Susun Kata Terhadap Peningkatan
Perbendaharaan Kata Anak Tunarungu. Jurnal Pendidikan Khusus, 2
(2), hlm. 1-10
13
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
PROFIL PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA BAGI ANAK
TUNARUNGU DI SLB KABUPATEN SUKOHARJO
Dieni Laylatul Zakia, Sunardi, Sri Yamtinah
Magister Pendidikan Luar Biasa, Pascasarjana UNS
Jl. Ir. Sutami No. 36A, Surakarta, Jawa Tengah 57126
Email : [email protected]
Hp. 085642224207
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran
IPA, hambatan pelaksanaan pembelajaran IPA dan upaya mengatasi hambatan
pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu di SLB Kabupaten Sukoharjo.
Penelitian ini tergolong penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus.
Informan yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah guru kelas, siswa, dan kepala
sekolah. Fokus penelitian ini adalah 1) pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak
tunarungu di SLB Kabupaten Sukoharjo, 2) hambatan pelaksanaan pembelajaran
IPA bagi anak tunarungu pada SLB Kabupaten Sukoharjodan 3) upaya mengatasi
hambatan pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungupada SLB Kabupaten
Sukoharjo. Data dikumpulkan dengan melakukan studi dokumen, observasi, dan
wawancara serta dianalisis secara interpretatif dengan teknik trianggulasi sumber
informasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwapelaksanaan pembelajaran IPA
bagi anak tunarungu masih belum berjalan dengan optimal meskipun sudah
sistematis sesuai silabus dan RPP, ada beberapa kendala yang dialami selama
pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu terutama dalam penerapan
metode dan penggunaan media, sudah dilakukan beberapa usaha untuk mengatasi
kendala yang dialami selama pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu.
Kata kunci : pembelajaran IPA, SLB, Tunarungu
14
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
PENDAHULUAN
Anak berkebutuhan khusus merupakan individu yang unik. Hal ini sesuai
dengan beberapa pengertian mengenai anak berkebutuhan khusus yang
dikemukakan beberapa ahli. Menurut Cahya (2013: 5), anak berkebutuhan khusus
adalah anak yang dalam pendidikan memerlukan pelayanan yang spesifik,
berbeda dengan anak pada umumnya. Sesuai dengan Permendiknas Nomor 70
Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki
Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, bahwa
peserta didik yang memiliki kelainan fisik, mental atau memiliki kecerdasan
dan/atau bakat istimewa adalah : 1) tunanetra; 2) tunarungu; 3) tunawicara; 4)
tunagrahita; 5) tunadaksa; 6) tunalaras; 7) berkesulitan belajar; 8) lamban belajar;
9) autis; !0) memiliki gangguan motorik; 11) menjadi korban penyalahgunaan
narkoba, obat terlarang dan zat adiktif lainnya; 12) memiliki kelainan lainnya; 13)
tunaganda.
Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam pembangunan
bangsa. Sejarah menunjukkan bahwa kunci keberhasilan pembangunan negaranegara maju adalah tersedianya penduduk yang terdidik dalam jumlah jenis dan
tingkat yang memadai. Pelaksanaan pendidikan yang berkualitas merupakan
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tertuang pada Undang –
Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat 1 artinya tanpa terkecuali setiap warga negara
berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, termasuk anak atau peserta
didik dengan kebutuhan khusus. Pelaksanaan pendidikan yang berkualitas dilihat
pada proses belajar mengajar.Pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus yang
dimaksud adalah pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak
berkebutuhan khusus. Pendidikan yang tidak sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhan siswa tidak dapat menghasilkan sumber daya manusia yang
berkualitas. Meskipun anak yang mendapatkan pendidikan ini merupakan anak
berkebutuhan khusus, hasil yang diharapkan juga sama seperti hasil pendidikan
anak normal yaitu sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan tingkat
kekhususannya.
15
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Salah satu jenis anak berkebutuhan khusus adalah anak tuna rungu.
Menurut Cahya (2013: 11), tunarungu adalah anak yang kehilangan seluruh atau
sebagian daya pendengarannya sehingga mengalami gangguan berkomunikasi
secara verbal.
Keterbatasan secara fisik yang dimiliki anak tunarungu (pada organ
pendengaran) mempengaruhi juga faktor lain seperti mental, sosialmaupun
intelektual. Meskipun sebenarnya IQ mereka sama seperti anak normal, namun
karena pengaruh keterbatasan pendengaran tersebut menyebabkan pengetahuan
yang mereka peroleh hanya sebagian. Adanya keterbatasan secara fisik, mental,
sosial maupun intelektual maka mereka memerlukan pemenuhan kebutuhan yang
berbeda sesuaidengan kondisi mereka. Oleh karena itu, dalam proses belajar
mengajar pun mereka memerlukan bantuan sesuai dengan kebutuhan mereka agar
mereka dapat menerima pembelajaran dengan baik.
Pembelajaran merupakan proses dimana seseorang sengaja maupun tidak
sengaja untuk mendapatkan suatu kemampuan atau potensi yang mereka miliki
untuk dapat dieksplor atau ditonjolkan. Dalam proses pembelajaran tersebut
banyak pihak-pihak terkait sebagai penyalur pembelajaran baik dari manusianya
maupun alat bantu dalam belajar untuk pembelajaran agar sampai pada seseorang
yang akan mendapat suatu pembelajaran tersebut.
Kegiatan pembelajaran ini dilakukan dalam rangka mewujudkan tujuan
pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional ini berlaku untuk semua jenjang
pendidikan baik SD, SMP dan SMA. Berlaku juga untuk anak berkebutuhan
khusus, tidak hanya anak normal pada umumnya. Salah satu tujuan pendidikan
nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
berilmu. Salah satu ilmu yang harus dikuasai oleh peserta didik dari semua
jenjang adalah IPA.
IPA merupakan konsep pembelajaran alam dan mempunyai hubungan
yang sangat luas dengan kehidupan manusia. Pembelajaran IPA sangat berkaitan
dengan dunia nyata dalam kehidupan sehari – hari. Siswa dapat menghubungkan
materi pelajaran IPA yang dipelajari dengan permasalahan atau persoalannya
dalam kehidupan sehari – hari.
16
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Tujuan pembelajaran IPA antara sekolah umum dan SLB sama
begitujuga dengan ruang lingkup materi yang dipelajari. Perbedaannya terletak
pada sub materi SLB yang lebih sederhana dibandingkan sekolah umum.
Persamaan tujuan pembelajaran IPA tersebut tidak dapat disimpulkan bahwa
proses pembelajaran IPA yang terjadi di kedua sekolah sama. Mengingat latar
belakang peserta didik SLB merupakan anak berkebutuhan khusus yang dalam
proses pembelajarannya memerlukan bantuan karena adanya keterbatasan yang
dimilikinya, terutama anak tunarungu yang memiliki keterbatasan dalam
komunikasi dan pendengarannya.
Bagi siswa tunarungu, IPA merupakan pelajaran yang cukup sulit
dipahami karena IPA memiliki karakteristik khusus yaitu mempelajari fenomena
alam yang faktual (factual) baik berupa kenyataan atau kejadian dan hubungan
sebab akibat. Dalam hal ini anak tunarungu kesulitan dalam menghubungkan
sebuah peristiwa sebab akibat.
Permasalahan umum yang dihadapi oleh siswa tunarungu adalah kurang
dapat memahami hal yang bersifat abstrak dan verbal, padahal dalam proses
belajar mengajar kemampuan verbal sangat diutamakan untuk penyampaian
materi. Selain itu sifat IPA yang cenderung memerlukan media malah yang
terlihat banyak diajarkan dengan metode penjelasan sehingga apa yang didapatkan
anak tunarungu pun tidak maksimal.
Pembelajaran IPA merupakan interaksi antara komponen-komponen
pembelajaran dalam bentuk proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang
berbentuk kompetensi yang telah ditetapkan. Pembelajaran IPA merupakan
sebuah sistem, yang terdiri atas komponen-komponen masukan pembelajaran,
proses
pembelajaran
dan
keluaran
pembelajaran.
Komponen
masukan
pembelajaran adalah komponen yang diperlukan proses pembelajaran agar dapat
berjalan dengan maksimal yang meliputi kurikulum, guru, metode pembelajaran,
media pembelajaran, sarana/prasarana pembelajaran, lingkungan dan peserta
didik. Dengan adanya ketersediaan komponen-komponen masukan pembelajaran
yang lengkap akan menyebabkan proses pembelajaran dapat berjalan sesuai
dengan perencanaan dan akhirnya hasilnya/keluaran pembelajaran pun sesuai
17
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
dengan yang diharapkan yaitu peserta didik yang berhasil, dalam hal ini adalah
siswa tunarungu yang berhasil.
Berdasarkan alasan tersebut, maka perlu dilakukan penggalian informasi
mengenai proses pembelajaran IPA di SLB bagi anak tunarungu, baik dalam
perencanaan, pelaksanaan serta penilaian pembelajaran IPA. Hal ini dikarenakan
guru yang professional dituntut untuk mampu menyusun perangkat perencanaan
pembelajaran meliputi silabus dan RPP yang mengikuti standar proses,
pelaksanaan proses pembelajaran mengikuti perencanaan yang telah dibuat dan
disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan anak didik, melakukan penilaian hasil
belajar dan mengkondisikan kelas agar sesuai dengan perencanaan yang dilakukan
(BSNP, 2007). Oleh karena itu, penelitian ini merupakan kajian menarik dan
urgen yang bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran IPA bagi
anak tunarungu di SLB Kabupaten Sukoharjo. Hasil penelitian ini diharapkan
memberi umpan balik terhadap pendidik dan pemerintah untuk meningkatkan
kompetensi guru dalam pembelajaran IPA di SLB.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang dipergunakan yaitu penelitian deskriptif kualitatif.
Arikunto (2010: 3) menjelaskan penelitian deskriptif adalah “Penelitian yang
dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi, atau hal lain-lain, yang
hasilnya dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian”. Sejalan dengan hal tersebut
Penelitian deskriptif (descriptive research) adalah penelitian yang dilakukan
untuk menggambarkan atau menjelaskan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fakta dan sifat populasi tertentu (Sanjaya, 2013: 59).
Subjek dalam penelitian adalah sesuatu yang dijadikan responden dalam
penelitian. Subjek penelitian ini adalah siswa tunarungu yang berada di kelas XI
SLB se-Kabupaten Sukoharjo.
Dengan demikian sumber data utama penelitian yang bersifat deskritif
kualitatif ini adalah semua yang terkait kedalam pembelajaran IPA di kelas XI
untuk anak tunarungu ini seperti siswa, guru, dan kepala sekolah yang membantu
pembelajaran IPA tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara, studi
18
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
dokumen, dan observasi. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis interpretatif dengan teknik triangulasi sumber informasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam pendeskripsian hasil penelitian ini, peneliti mengambil data
meliputi observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Berdasarkan kisi-kisi yang
telah dirancang hasil penelitian pun dideskripsikan sebagai berikut :
A. Pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu kelas XI di SLB
Kabupaten Sukoharjo
Pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu kelas XI dalam
penelitian ini meliputi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian (evaluasi).
1. Perencanaan pembelajaran IPA
Berdasarkan hasil penelitian, guru kelas XI telah membuat silabus
dan RPP. Pembuatan silabus dan RPP ini disesuaikan dengan karakteristik
materi pelajaran dan karakteristik siswa. Tetapi dalam pelaksanaannya
silabus dan RPP ini mengalami perubahan-perubahan karena kemampuan
siswa tunarungu yang beragam sehingga disesuaikan dengan kemampuan
akademik masing-masing siswa.
2. Pelaksanaan pembelajaran IPA
Berdasarkan hasil penelitian, guru kelas XI telah melaksanakan
pembelajaran sudah sistematik sesuai dengan silabus dan RPP yang dibuat
dan
melakukan
beberapa
perubahan
karena
disesuaikan
dengan
kemampuan penerimaan dan akademik masing-masing siswa. Sehingga
target yang harus dicapai dan sudah ditentukan dalam silabus dan RPP
sering meleset. Guru sudah menggunakan metode yang bervariasi seperti
ceramah, drill, tanya jawab, demonstrasi dan eksperimen. Variasi ini
dilakukan agar siswa kelas XI mengerti setiap pembelajaran yang guru
berikan. Hanya saja dalam penyampaian materi IPA metode ceramah
masih mendominasi karena waktu yang tidak cukup ketika ingin
menerapkan metode lain dan materi yang diberikan cukup banyak
sehingga menyebabkan materi yang diberikan tidak maksimal lagi.
19
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Penggunaan media dalam pembelajaran IPA juga kurang maksimal
karena
keterbatasan
media
yang
dimiliki
sekolah.
Guru
hanya
menggunakan alat yang seadanya dan yang dimiliki sekolah saja.
Penggunaan media ini monoton karena guru hanyamenggunakan yang
tersedia di sekolah. Hal ini menyebabkan siswa kurang termotivasi dalam
belajar IPA. Padahal ada banyak media yang dapat digunakan untuk
pembelajaran IPA.
Keterbatasan pelaksanaan pembelajaran IPA ini adalah tidak adanya
buku teks atau bacaan yang bisa dibawa pulang siswa untuk belajar
mandiri di rumah sehingga selama proses pembelajaran mengharuskan
guru untuk menjelaskan dan membuat catatan. Karena tidak memiliki buku
teks, siswa tidak bisa belajar materi terlebih dahulu sebelum proses
pembelajaran berlangsung. Sehingga pengetahuan awal siswa mengenai
materi yang akan diajarkan pun sangat minim.
3. Penilaian Pembelajaran IPA
Berdasarkan hasil penelitian, penilaian dilakukan melalui kegiatan
ujian tengah semester dan ujian semester. Sedangkan untuk penilaian
ulangan harian jarang dilakukan karena guru lebih fokus dalam mengejar
materi pembelajaran yang cukup banyak.
B. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran IPA
bagi anak tunarungu kelas XI di SLB Kabupaten Sukoharjo
Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan beberapa kendala yang
dihadapi selam pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu :
1. Siswa masih terlihat pasif dalam penerimaan materi yang diajarkan oleh
guru.
Kepasifan siswa ini terlihat ketika siswa dilakukan tanya jawab, dan anak
tidak mau bertanya jika ada materi yang belum paham.
2. Siswa
tidak
memperhatikan
saat
guru
menyampaikan
materi
pembelajaran, terutama ketika guru sedang membuat catatan di papan
tulis.
20
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Siswa secara diam-diam melakukan kegiatan seperti berbicara dengan
teman, keluar masuk kelas, dan bermain hp.
3. Beberapa metode yang diterapkan seperti diskusi, kerja kelompok dan
eksperimen memerlukan waktu yang lama dan tempat yang memadai agar
pelaksanaannya dapat terlaksana dengan baik. Sedangkan alokasi waktu
pelajaran hanya sedikit (40 menit). Sehingga untuk menerapkan metode
tersebut kekurangan waktu. Jika bisa diterapkan materi yang tercapai
sangat sedikit.
4. Penggunaan media yang kurang maksimal.
Lebih banyak menggunakan media papan tulis dan gambar. Hal ini
membuat pembelajaran IPA menjadi monoton dan minat siswa sangat
kurang sehingga siswa menjadi sering keluar masuk kelas.
5. Minimnya ketersediaan buku teks.
Sekolah hanya memiliki 2 buku teks IPA khusus SMALB. Sehingga
siswa tidak memiliki buku pelajaran IPA yang dapat dibawa pulang untuk
belajar mandiri di rumah. Sedangkan anak malas untuk mencari sumber
informasi lain misalnya melalui internet atau perpustakaan.
C. Usaha-usaha yang dilakukan pada saat pelaksanaan pembelajaran IPA
bagi anak tunarungu kelas XI di SLB Kabupaten Sukoharjo
Berdasarkan hasil penelitian, usaha-usaha yang dilakukan untuk
mengatasi hambatan pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu
adalah sebagai berikut :
1. Melibatkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran melalui variasi
penggunaan metode dan media.
2. Adanya bimbingan
dari
guru
kepada siswa agar
siswa lebih
memperhatikan ketika pembelajaran berlangsung.
3. Menerapkan variasi metode yang lain yaitu metode latihan dan penugasan
agar siswa tunarungu tidak kesulitan dengan metode ceramah yang selalu
dipakai oleh guru kelas.
4. Membawa anak ke media aslinya misalnya melihat benda konkrit yang
bisa menunjang pelaksanaan pembelajaran IPA tersebut.
21
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
5. Memberikan catatan mengenai materi yang dibahas pada hari tersebut.
Sehingga ketika ujian siswa memiliki bahan untuk bisa dipelajari.
Anak tunarungu merupakan anak yang memiliki keterbatasan dalam
pendengarannya namun dalam segi intelektualnya sama dengan anak normal
lainnya. Anak tunarungu dalam segi pembelajaran sangat memerlukan
media/objek agar mereka dapat lebih paham dalam menerima pembelajaran IPA
karena mereka memiliki keterbatasan dalam komunikasi dan kemampuan verbal
sehingga jika guru hanya menggunakan metode ceramah/menjelaskan secara
verbal saja maka siswa tunarungu tidak akan paham tentang materi yang
dijelaskan.
Pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu yang diterapkan
SLB di Kabupaten Sukoharjo masih kurang sesuai dengan kemampuan anak
tunarungu. Menurut Nasichin (2002: 17) menyatakan bahwa :
1. Menetapkan bidang-bidang atau aspek kesulitan belajar yang akan ditangani.
2. Menetapkan pendekatan pembelajaran yang akan dipilih termasuk rencana
pengorganisasian siswa, apakah bentuknya berupa pembelajaran remedial,
penambahan latihan dan penguasaan pembelajaran.
3. Menyusun program pembelajaran individual sesuai dengan kebutuhan khusus
bagi anak yang berkesulitan belajar dan anak berkebutuhan khusus.
Sehingga pelaksanaan pembelajaran IPA di SLB Kabupaten Sukoharjo bagi anak
tunarungu kelas XI ini kurang terlaksana dengan baik. Sehingga agar pelaksanaan
pembelajaran IPA dapat berjalan baik diperlukan program pembelajaran
individual yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing siswa.
Bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus, penggunaan media
pembelajaran merupakan komponen yang penting dari sistem pendidikan yang
diselenggarakannya. Media pembelajaran yang tepat bagi anak berkebutuhan
khusus (ABK) adalah media yang telah dimodifikasi sesuai dengan tingkat
kebutuhan para peserta didik karena tidak semua media yang berada di
masyarakat dapat digunakan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus.
Ketidaksesuaian
media
pembelajaran
dengan
tingkat
kebutuhan
anak
berkebutuhan khusus menyebabkan anak berkebutuhan khusus (ABK) belum
22
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
termotivasi sekaligus mengembangkan sikap dan kemampuan kepribadian anak,
bakat, kemampuan mental sampai mencapai potensi mereka yang optimal. Oleh
karena itu diperlukan pengembangan media pembelajaran yang diupayakan sesuai
dengan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus sehingga media pembelajaran
tersebut dapat dimanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh media
tersebut dan menghindari hambatan-hambatan yang mungkin muncul dalam
proses pembelajaran anak berkebutuhan khusus (ABK).
Dalam Musfiqon (2012: 118), kriteria pemilihan media yang perlu
diperhatikan, yaitu:
1) Kesesuaian dengan tujuan
Pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu pada tujuan yang telah
dirumuskan. Maka pemilihan media hendaknya menunjang pencapaian tujuan
pembelajaran
yang
dirumuskan
tersebut.
Kehadiran
media
dalam
pembelajaran adalah untuk mendukung pencapaian tujuan pembelajaran agar
lebih efektif dan efisien. Oleh karena itu, media pembelajaran yang sesuai
dengan tujuan pembelajaranlah yang dapat berfungsi secara optimal.
2) Ketepatgunaan
Tepat guna dalam konteks media pembelajaran diartikan pemilihan media
telah didasarkan pada kegunaan. Jika media itu dirasakan belum tepat dan
belum berguna maka tidak perlu dipilih dan digunakan dalam pembelajaran.
3) Keadaan peserta didik
Kriteria pemilihan media yang baik adalah disesuaikan dengan keadaan
peserta didik, baik keadaan psikologis, filosofis, maupun sosiologis anak.
Sebab media yang tidak sesuai dengan keadaan anak didik tidak dapat
membantu banyak dalam memahami materi pembelajaran.
4) Ketersediaan
Walaupun suatu media dinilai sangat tepat untuk mencapai tujuan
pembelajaran, media tersebut tidak dapat digunakan jika tidak tersedia.
23
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
5) Biaya kecil
Faktor biaya seringkali menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan media
pembelajaran. Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan menggunakan
media hendaknya benar-benar seimbang dengan hasil-hasil yang akan dicapai.
6) Keterampilan guru
Aspek keterampilan guru ini seringkali menjadi kendala tersendiri dalam
proses pemilihan media. Banyak guru yang memilih media sederhana dengan
alasan tidak bisa mengoperasionalkan media yang lebih canggih atau modern.
Padahal dari sisi hasil media yang lebih canggih bisa menghasilkan
pembelajaran yang lebih optimal.
7) Mutu teknis
Kualitas media jelas mempengaruhi tingkat ketersampaian pesan atau materi
pembelajaran kepada anak didik. Untuk itu, media yang dipilih dan digunakan
hendaknya memiliki mutu teknis yang bagus.
Berdasarkan uraian di atas, pemilihan media bagi anak tunarungu juga
harus memenuhi kriteria tersebut agar didapatkan hasil yang maksimal. Hanya
saja dalam prakteknya pemilihan media masih belum disesuaikan dengan
karakteristik anak karena guru hanya menggunakan media yang dimiliki sekolah
saja, jika tidak ada maka penyampaian materi dilakukan dengan ceramah.
Dalam Sartika (2013: 42), mengemukakan bahwa anak tunarungu
memiliki keterbatasan dalam berbicara dan mendengar, sehingga media
pembelajaran yang cocok untuk anak tunarungu adalah media visual dan cara
menerangkannya dengan Bahasa bibir/gerak bibir. Salah satu jenis media visual
adalah media cetak yang dapat berupa buku, modul, majalah, koran dan
sebagainya. Pemilihan media visual ini disebabkan karena indera penglihatan
merupakan indera yang tersisa dan pengaruhnya paling besar dalam menerima
pembelajaran dibandingkan indera lainnya.
Hal yang sama mengenai anak tunarungu merupakan pembelajar visual
disampaikan oleh Marlon Kuntze, Debbie Golos and Charlotte Enns (2014) yang
menyebutkan bahwa “in deaf education the fact that deaf children are by nature
visually oriented has been historically marginalized in favor of focusing on a lack
24
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
of auditory access”.Sehingga media yang efektif digunakan bagi anak tunarungu
adalah media visual, yang dapat memberikan gambaran konkrit tentang peristiwa
dalam pembelajaran IPA.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut :
1. Pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu masih belum berjalan
dengan optimal meskipun sudah sistematis sesuai silabus dan RPP
2. Ada beberapa kendala yang dialami selama pelaksanaan pembelajaran IPA
bagi anak tunarungu terutama dalam penerapan metode dan penggunaan
media.
3. Sudah dilakukan beberapa usaha untuk mengatasi kendala yang dialami
selama pelaksanaan pembelajaran IPA bagi anak tunarungu.
2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka dapat diberikan saran sebagai
berikut:
1. Bagi Sekolah
Untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka diharapkan kepada seluruh
pihak yang terkait dalam sekolah agar membantu berjalanannya pelaksanaan
pembelajaran IPA bagi anak tunarungu pada kelas XI.
2. Bagi guru
Bagi guru agar dapat memotivasi lagi siswa dalam pelaksanaan pembelajaran
IPA karena guru yang merupakan tenaga pendidik dan fasilitator.
3. Bagi orang tua
Dukungan orang tua merupakan pensupport anak untuk pelaksanaan
pembelajaran IPA, dengan bantuan orang tua anak dapat lebih baik lagi. Jika
anak yang kurang perhatiannya dari orang tua akan menyebabkan anak
25
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
menjadi malas untuk belajar, karena hal tersebut orang tua dapat mencarikan
jalan yang terbaik untuk masa depan anaknya kelak.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
Rineka Cipta.
BSNP. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar
dan Menengah. Jakarta: BSNP.
Cahya, Laili S. (2013). Buku Anak untuk ABK. Yogyakarta : Familia
Marlon Kuntze, Debbie Golos, Charlotte Enns. 2014. Rethinking Literacy :
Broadening Opportunities for Visual Learners. Sign Language Studies.
Volume 14, Number 2, Winter 2014, pp 203 – 224.
Musfiqon. 2012. Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran.Jakarta :
Prestasi Pustaka Karya.
Nasichin. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta
Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau
Bakat Istimewa
Sanjaya, M. 2013.Kurikulum Berbasis Kompetensi, Konsep: Karakteristik dan
Implementasi.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sartika, Y. 2013. Ragam Media Pembelajaran Adaptif untuk Anak Berkebutuhan
Khusus.Yogyakarta : Familia
26
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
PROGRAM PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN
UNTUK MENGAKOMODASI SISWA KELAS II DENGAN
KESULITAN MEMBACA DI SEKOLAH DASAR
Elfa Adila
SLB Negeri Serdang Bedagai
Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang ditemui di lapangan, bahwa
adanya siswa kelas dua yang belum mampu menguasai keterampilan membaca
permulaan, yang merupakan pelajaran dasar dan kunci untuk pelajaran-pelajaran
lainnya. Selanjutnya ditemukan pembelajaran yang dilaksanakan guru belum dapat
mengakomodasi anak yang mengalami kesulitan membaca permulaan dan tidak
adanya program pembelajaran yang dipersiapkan oleh sekolah. Penelitian ini
bertujuan untuk membuat program pembelajaran membaca permulaan yang
mampu mengakomodasi siswa yang mengalami kesulitan membaca. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan dua tahap
penelitian, tahap pertama, pendahuluan, untuk menggali kemampuan objektif
siswa dan pelaksanaan pembelajaran, dan tahap kedua, perumusan program dan uji
keterlaksanaan. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi.
Teknik analisis data melalui reduksi data, display data, penarikan kesimpulan, dan
verifikasi. Berdasarkan hasil analisis kondisi objektif kemampuan anak dan hasil
analisis kondisi objektif pembelajaran di kelas, dirumuskanlah sebuah program
pembelajaran membaca permulaan yang meliputi program perumusan perencanaan
pembelajaran, dan program pelaksanaan pembelajaran. Program di validasi oleh
beberapa validator dengan menggunakan teknik delphie, dan setelah divalidasi,
dilaksanakan uji coba keterlaksanaan program. Dari keterlaksanaan program
diperoleh hasil bahwa adanya perubahan yang terjadi pada anak yang kesulitan
membaca permulaan di dalam kelas, dan perubahan positif yang terjadi pada
kondisi pembelajaran membaca permulaan di kelas serta terciptanya suasana dan
pelaksanaan pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan siswa. Hasil dari
keterlaksanaan program akan direkomendasikan kepada guru dan peneliti
selanjutnya.
Kata Kunci
: Membaca Permulaan, Kesulitan Membaca, Program Pembelajaran
27
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
PENDAHULUAN
Membaca merupakan suatu pengetahuan yang harus dimiliki setiap orang.
Kemampuan membaca adalah suatu fungsi kemanusian yang tertinggi yang menjadi
pembeda manusia dengan makhluk yang lain (Sumarlin, et.al 2013). Membaca
mempunyai manfaat bagi orang dewasa dalam hubungan sosial, pekerjaan,
kesenangan, dan informasi (Sadoski,2004 :46). Jadi membaca memegang peranan
yang sangat penting untuk segala aspek kehidupan manusia.
Keterampilan membaca bagi siswa sekolah dasar merupakan bekal
kemampuan yang mutlak harus dimiliki. Membaca merupakan hal yang paling
mendasar untuk anak dapat mengembangkan pengetahun dan informasi yang diterima
(Razak.2011). Membaca bagi anak yang mengalami kesulitan belajar membaca
bukanlah hal yang mudah (Isnaini.2013). Kondisi kesulitan yang dihadapi anak dalam
mengembangkan kemampuan membaca, khususnya membaca permulaan dapat
disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal, berupa dukungan lingkungan
dalam mengembangkan kesadaran linguistic (Lyster. 1999), kemampuan perceptual
(English. 1981) dan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah
(Westwood.2001). sedangkan menurut Ruhaena (2008) menyatakan bahwa
kemampuan anak untuk mengenali kata dan huruf saat membaca dipengaruhi juga
oleh cara pengajaran atau metode mengajar yang digunakan oleh guru.
Latar belakang peneliti mengangkat masalah pembelajaran membaca
permulaan ini karena adanya keresahan yang penulis alami setelah melihat kondisi
pembelajaran dan kondisi siswa yang mengalami kesulitan membaca di lapangan
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan, penulis menemukan beberapa fakta
yang membuat peneliti merasa perlu mengangkat masalah ini ke dalam penelitian,
ditemukan seorang anak kelas II sekolah dasar yang belum mampu membaca dengan
baik, setelah dilaksanakan identifikasi secara mendalam, ternyata kemampuan
membaca anak masih pada tahap mengenal huruf, dan belum mampu membaca huruf,
28
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
suku kata secara fasih, padahal kurikulum kelas II sekolah dasar menuntut para siswa
untuk dapat memiliki kemampuan membaca beberapa kalimat.
Selain hal itu, di lapangan juga ditemukan bahwa guru dalam pelaksanaan
pembelajaran tidak ada acuan program yang jelas. Jadi pembelajaran hanya
disesuaikan dengan materi pada buku paket tanpa adanya menyusun silabus,
rancangan program pembelajaran, ataupun program pembelajaran individual.
Sehingga selama pembelajaran terlihat materi yang disampaikan tidak runtut dan
kegiatan pembelajarannya melompat-lompat, dan terlihat juga sewaktu guru
menerangkan materi bahasa Indonesia, ada beberapa siswa yang sibuk dengan mata
pelajaran yang lain. Selanjutnya khusus untuk anak yang mengalami kesulitan
membaca permulaan, tidak ada program khusus yang disusun atau direncanakan guru
untuk mampu mengakomodasi kemampuan belajar anak. Tidak ada perlakuan atau
kegiatan khusus yang diberikan kepada anak yang mengalami kesulitan membaca.
Selain itu dalam pembelajaran, tidak terlihat perhatian yang diberikan oleh guru
kepada anak yang mengalami kesulitan membaca ini.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi fokus
permasalahan dalam penelitian ini adalah “Program pembelajaran membaca
permulaan yang bagaimanakah yang sesuai untuk mengakomodasi siswa kelas II
yang mengalami kesulitan membaca permulaan di SD?”
METODE PENELITIAN
Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Research and
Development, menurut (Sugiyono 2009a, 2012b) metode penelitian Research and
Development yang disingkat dengan R&D adalah metode penelitian yang digunakan
untuk
menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut.
Penelitian akan dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Cidadap 1 di kota Bandung.
Subjek penelitian ini adalah seorang siswa laki-laki yang mengalami kesulitan
membaca permulaan di kelas dua dengan inisial AG, dimana anak ini mengalami
kesulitan membaca permulaan dengan belum mampu membaca huruf, suku kata
29
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
maupun kata-kata. Penelitian ini menggunakan teknik analisis yang dikemukakan
oleh Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2012 : 334) Langkah-langkah penelitian
ini terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan reduksi data.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Reduksi data, merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pengabstraksian,
dan mentransformasi data kasar dari lapangan. Penyajian data adalah secara
sistematis hasil reduksi data, diketahui tema dan polanya dengan menentukan
bagaimana data disajikan antara lain dengan mengklasifikasikan data sesuai dengan
pokok masalah. Verifikasi, merupakan proses membuat rumusan proposisi terkait ciri,
logika mengangkat sebagai temuan penelitian, dilanjutkan dengan mengkaji secara
mendalam data yang ada untuk keperluan menyusun program pembelajaran membaca
permulaan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Penelitian ini dilaksanakan kepada salah seorang anak yang mengalai
kesulitan membaca permulaan di kelas 2 SD, penelitian dilaksanakan dengan
mengamati dan mengasesmen kemampuan awal anak yang mengalami kesulitan
membaca permulaan dan pengamatan langsung proses pembelajaran membaca dalam
mata pelajaran bahasa Indonesia. Berikut secara garis besar dipaparkan tentang profil
kemampuan anak dan profil pembelajaran sebelum diberikan program:
Tabel 1.1
Kondisi Objektif Anak yangMengalami Kesulitan Membaca Permulaan
Kemampuan
Mampu membaca huruf
vokal
Kesulitan
Secara dominan anak
belum mampu melafalkan
huruf konsonan
Mampu membaca vocal
Anak secara umum
Kebutuhan
Pengenalan kembali
konsep huruf konsonan,
baik huruf besar
maupun huruf kecil
Diberikan pemahaman
30
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
rangkap
Mampu membaca
beberapa huruf
konsonan
Dilihat dari segi social
dan interaksi, Patuh
kepada tugas yang
diberikan guru
membaca huruf konsonan
dengan penambahan vocal
“a”
Pembalikan huruf,
beberapa huruf dibalikkan
konsepnya, misalnya : b
dan d, u,v,dan n, p dan q, j
dan h
Ketidakkonsistenan
membaca huruf, selama
test membaca, jawaban
anak berubah-berubah,
padahal soal yang
diberikan sama
Terlihat kurang percaya
diri dan kurang
berinteraksi dengan
temannya
tentang membaca huruf
tanpa ditambah huruf
“a”
Latihan diskriminasi
dan identifikasi huruf
Bimbingan intensif
membaca permulaan
kepada anak selama dan
setelah pembelajaran
Bimbingan untuk
meningkatkan
kepercayaan diri dan
interaksi
Tabel 1.2
Profil Proses Pembelajaran Membaca Permulaan
Kekuatan
Kelemahan
Guru
mampu Tidak
ada
rencana
memberikan keceriaan pembelajaran
dan semangat belajar
kepada siswa
Guru selalu memberikan
penghargaan atas hasil
pekerjaan
siswa,
walaupun berupa tepuk
tangan
Pada saat pembelajaran,
gaya
mengajar
guru
kurang variasi. Alokasi
waktu pembelajaran tidak
jelas
Penyampaian
materi Metode dan media kurang
jelas
dan
melayani variatif, metode hanya
semua pertanyaan siswa ceramah dan tanya jawab
serta sekali permainan, dan
media hanya buku teks
Kebutuhan
Pengetahuan tentang cara
perumusan
dan
penyusunan
program
pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik anak
Modifikasi
dan
penyesuaian silabus dan
RPP
yang
mampu
mengakomodasi
pembelajaran
secara
umum dan anak-anak yang
mengalami
kesulitan
membaca permulaan.
Adanya variasi metode
pembelajaran dan media
pembelajaran
yang
menarik bagi anak dalam
pembelajaran
31
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
pelajaran.
Kurang
melibatkan Pembelajaran kelompok
keaktifan siswa secara atau metode permainan
keseluruhan
sehingga
meningkatkan
keaktifan siswa
Pembelajaran
bersifat Perlunya
bimbingan
keseluruhan,
tidak khusus kepada anak yang
mengakomodasi
anak- mengalami
kesulitan
anak
yang
memiliki membaca
permulaan
kesulitan belajar, seperti selama pembelajaran
kesulitan
membaca
permulaan
Tidak adanya penarik Memberikan
informasi
kesimpulan
diakhir akhir dari pelajaran
pembelajaran
Evaluasi belajar
hanya Perlu adanya evaluasi
berpatok kepada hasil, dan proses dan pelaksanaan
tidak ada evaluasi khusus evaluasi hasil dengan
untuk
anak
yang memperhatikan
mengalami
kesulitan kemampuan siswa
membaca permulaan serta
tidak
adanya
format
evaluasi.
Setelah dilaksanakan asesmen kepada anak dan pengamatan langsung proses
pembelajaran membaca permulaan, disusunlah sebuah program pembelajaran untuk
meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak yang mengalami kesulitan
membaca permulaan. Program disusun dan disesuaikan dengan profil siswa dan
pembelajaran. Program pembelajaran membaca permulaan ini disusun dengan guru
sebagai target utama, yang diharapkan guru mampu meningkatkan proses
pembelajaran sehingga kemampuan membaca anak pun dapat ditingkatkan. Program
pembelajarannya meliputi : 1) petunjuk penyusunan program pembelajaran, seperti
menyusun silabus dan menyusun rencana pembelajaran yang mampu mengakomodasi
anak yang mengalami kesulitan membaca permulaan untuk bisa belajar bersama
dengan temannya yang tidak mengalami kesulitan membaca permulaan, 2)
Penyusunan perencanaan pembelajaran yang telah disesuaikan sehingga mampu
32
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
mengakomodasi semua kemampuan siswa. Berikut hasil keterlaksanaan program
yang telah dilaksanakan :
Tabel 1.3
Keterlaksanaan Program Pembelajaran pada Siswa
No
Aspek
Kondisi Sebelum
Pelaksanaan
Program
1
2
3
1. Pelaksanaan AG selama
Pembelajaran pembelajaran
duduk di belakang
dan tidak adanya
teman yang
membantu dalam
belajar
Khusus untuk AG,
kegiatan inti
pembelajaran
mengikuti materi
temannya dan
mengerjakan
instruksi guru
tentang materi
yang dia tidak
mengerti
Kondisi Setelah
Pelaksanaan
Program
4
Posisi duduk AG
dipindah ke depan
dan diberikan tutor
sebaya
selama
pembelajaran
Dalam
kegiatan
inti pembelajaran
AG
diberikan
materi
tentang
mengenal bentukbentuk
huruf
konsonan
dan
dalam
pembelajaran AG
diberikan media
berupa kartu huruf
dan
latihan
mengenal
huruf
selama
pembelajaran yang
dibimbing
oleh
guru.
Selama
Dengan
adanya
pembelajaran AG program
khusus
tidak
dilibatkan untuk AG, selama
secara
penuh pembelajaran AG
dalam
mempu
pembelajaran
berpartisipasi aktif
Perubahan
5
AG
bisa
berinteraksi
dengan temannya
dan tutor sebaya
mampu
membantu AG
belajar membaca
selama di kelas
AG mendapatkan
materi
sesuai
dengan
kemampuannya
dan
mampu
mengikuti materi
yang diberikan
oleh guru
Meningkatnya
kepercayaan diri
dan
semangat
belajar AG
33
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Bimbingan belajar
diakhir pelajaran
kepada AG tidak
sesuai
dengan
kemampuan
dasarnya
dalam
pembelajaran dan
berani tampil di
depan kelas
Setelah
adanya
asesmen,
bimbingan belajar
AG
disesuaikan
dengan
hasil
asesmen,
dan
diberikan dengan
media
yang
menarik
Konsep tentang
pengenalan huruf
AG
sudah
meningkat,
dimana
AG
sudah
mampu
mengenal huruf
konsonan dengan
lebih baik
2. Pembahasan
Berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan, baik itu dengan
melaksanakan tes, wawancara kepada guru, dan observasi selama anak belajar,
diketahui bahwa kemampuan membaca permulaan anak baru menguasai huruf vokal,
anak belum menguasai huruf konsonan secara keseluruhan, dan belum mampu
membaca suku kata dengan baik dan benar.
Menurut Hargrove & Poteet dalam Abdurrahman (2012), perilaku anak yang
mengalami kesulitan membaca atau kesulitan membaca adalah : (1) Tidak mampu
memahami simbol bahasa, (2) Kesulitan mengurutkan kata dan huruf-huruf, (3)
Tidak mampu menganalisa huruf-huruf, (4) Membaca secara terbata-bata.
Selanjutnya sesuai dengan hasil observasi, terlihat bahwa anak selama
pembelajaran cendrung pendiam, kurang kepercayaan diri, kurang antusias untuk
belajar. Hal ini mungkin terjadi karena anak kurang dilibatkan oleh guru selama
pembelajaran, diberikan materi yang tidak sesuai dengan kemampuannya, serta
ketidakmampuan siswa untuk mengikuti pembelajaran bersama dengan teman-teman
yang lain. Menurut McCombs (dalam Santrock,2007) menemukan bahwa siswa yang
didukung dan diperhatikan oleh guru lebih termotivasi untuk melakukan kegiatan
akademik daripada siswa yang tidak didukung dan diperhatikan oleh guru. Dari teori
34
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa pemberian materi yang sesuai dengan
anak dapat meningkatkan motivasi belajar.
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat ditarik beberapa
kesimpulan, yaitu:
1. Berdasarkan
hasil
asesmen
diketahui
bahwa
anak
belum
mampu
mengidentifikasi semua huruf, terutama huruf konsonan, namun anak sudah
menguasai semua huruf vokal, anak juga belum mampu membaca suku kata,
baik itu dengan pola konsonan vokal, maupun vokal konsonan. Terdapat
kesalahan konsep seperti pembalikan huruf yang dilakukan oleh anak.
Kemampuan membaca permulaan anak sangat rendah dibandingkan dengan
teman sekelasnya,
2. Selama proses pembelajaran, terlihat pelaksanaan pembelajaran yang
monoton,
kurangnya
variasi
dalam
pembelajaran,
langkah-langkah
pelaksanaan pembelajaran kurang terstruktur, evaluasi pembelajaran yang
kurang jelas, dan tidak adanya perhatian atau pembelajaran khusus yang
diberikan oleh guru kepada anak,
3. Dari hasil keterlaksanaan didapatkan hasil bahwa program ini mampu
memberikan pengetahuan baru kepada guru tentang penyusunan program,
guru mengerti bagaimana mengakomodasi kebutuhan anak dalam praktek
pembelajaran, dan program ini mampu menciptkan suasana kelas yang
semangat belajar. Sedangkan dari program ini, juga memberikan manfaat
kepada siswa khususnya siswa yang mengalami kesulitan membaca
permulaan, dimana dalam
pembelajaran semua kebutuhan siswa dapat
diberikan dan diakomodasi oleh guru, sehingga anak yang tertinggal
belajarnya mampu mengikuti pelajaran di kelas secara baik, dan
meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi belajarnya.
35
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
SARAN
Anak yang mengalami kesulitan membaca permulaan, kemampuannya
berbeda dengan temannya yang lain, hendaknya guru mampu untuk mengasesmen
siswa sehingga yang menjadi kebutuhan dan kelemahan siswa dapat digali dengan
baik, sehingga nantinya dalam menyusun sebuah program pembelajaran harus
disesuaikan dengan kebutuhan semua anak, dimana anak yang mengalami kesulitan
membaca permulaan mampu diakomodasi dengan baik untuk bisa belajar bersama
dengan temannya yang lain yang tidak mengalami kesulitan membaca permulaan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono (2012) Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Al Razak. (2011) Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Bagi Anak
Kesulitan Belajar Melalui Brain Gym. E-JUPEKhu Vol 3,No. 1. Ejupekhu
English, Kevin. (1981) Visual Perception and Reading Disabilities (Review). Dimuat
: Australian Jounal of Ophtamology.1981
Isnaini, Sari Selviana. (2013) Penggunaan Metode AISMA untuk meningkatkan
kemampuan Membaca Permulaan Bagi Anak Berkesulitan Belajar Membaca.
Jurnal Pendidikan Luar Biasa. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Lyster, Solveig – Alma Halaas. (1999) Learning to Read and Write the Individual
Child and Contextual Interaction. Oslo : University of Oslo. Rch.Ltd
Ruhaena, L. (2008). Pengaruh Metode Pembelajaran Jolly Phonics terhadap
Kemampuan Baca-Tulis Permulaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
pada Anak Prasekolah. Jurnal Penelitian Humaniora, 9 (2), 192-206.
Sadoski, Mark. 2004. Conceptual Foundation of Teaching Reading. London : The
Gulidford Press.
Santrock, J. (2007). Perkembangan Anak. University of Texas: Erlangga
36
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Sumarlin, Desi, et.al. (2013) Meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui
metode Glenn Doman bagi anak tuna grahita sedang. E-JUPEKhu Vol 2,No.
3. Ejupekhu
Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Westwood, Peter. (2001) Reading and Learning Difficulties : Approaches to
Teaching and Assessment . Victoria : The Australian Council for
Educational Reseach.
37
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
KURSI RODA KERJA BAGI BAPAK X
(individu dengan hambatan fisik)
Asrori Ahmad, Amanah , Suratmi Rachmat &Sri Rezeki Sulantina
Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia
Email : [email protected]
ABSTRAK
Berbagai usaha dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Setiap manusia memiliki aktifitas/mobilitas kehidupan sehari-hari,
tak luput juga para penyandang disabilitas seperti Bapak X dengan hambatan
motorik fisik. Mobilitas merupakan kesulitan tersendiri dengan aktifitasnya
sebagai perajin sangkar burung. Walaupun dengan berbagai kesulitan aktifitas
hidup harus terus dijalani untuk bisa bertahan hidup. Selama ini setiap aktifitas
dan kegiatannya dilakukan dengan sebuah papan gelinding yang sangat
sederhana sekali. Melihat dari hal tersebut, maka dirancanglah sebuah kursi
roda kerja yaitu suatu kursi roda kerja khusus untuk Bapak X dengan
hambatan motorik fisik. Langkah-langkah dalam mewujudkan kursi roda kerja
ini yaitu observasi, wawancara, studi pendahuluan, perancangan prototype,
pembuatan, dan uji coba. Setelah diuji coba dapat diketahui kelebihan,
efektifitas, dan kekurangan. Dengan kursi roda kerja ini Bapak X dapat lebih
mudah dalam beraktifitas, mendapat kenyamanan dalam bekerja, dan
produktifitas hasil kerjanya sebagai perajin sangkar burung meningkat.
Dengan demikian kursi roda kerja ini efektif dapat membatu Bapak X.
Sedangkan kekurangan alat ini yaitu alat ini bisa digunakan dengan baik jika
banyak berlatih.
Kata kunci: kursi roda kerja, tuna daksa
PENDAHULUAN
Berbagai usaha dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Setiap manusia memiliki aktifitas kehidupan sehari-hari sesuai dengan
tujuan dan keinginan yang hendak dicapai. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan
sehari-hari, misalnya seorang anak dengan rutinitasnya menuntut ilmu atau
bersekolah. Aktifitas atau mobilitas sangat dipengaruhi oleh keadaan motorik fisik
seseorang. Hal ini terlihat pada perbedaan bagaimana cara melakukan aktifitas
kesehariannya.
38
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Sejauh ini orang dengan hambatan motorik fisik beraktifitas dengan
berbagai alat bantu, misalnya kursi roda. Akan tetapi bantu tersebut belum tentu
sesuai dengan kebutuhan setiap orang dengan hambatan motorik fisik dalam
beraktifitas/bekerja. Hal ini terbukti pada Bapak X dengan hambatan motorik
fisik. Mobilitas merupakan kesulitan tersendiri dengan aktifitasnya sebagai perajin
sangkar burung. Walaupun dengan kursi roda, ia merasa kesulitan saat bekerja.
Sehingga ia membuat sebuah papan gelinding sederhana. Akan tetapi dengan alat
tersebut ia masih merasa kesulitan dalam berpindah. Walaupun demikian
aktifitasnya harus terus dijalani untuk bisa bertahan hidup. Oleh karena itu perlu
dirancang sebuah kursi roda kerja untuk mempermudah dalam beraktifitas,
mendapat kenyamanan dalam bekerja, dan meningkatkan produktifitas hasil
kerjanya sebagai perajin sangkar burung.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Menurut
Susetyo (2010) metode diskriptif adalah pencarian facta dengan interpretasi yang
tepat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi,
wawancara dan dokumentasi. Menurut Susan Stainback (Sugiyono,2010)
mengemukakan bahwa ‘… provide the researcher a means to gain a deeper
understanding of how the participant interpret a situation or phenomenon than
can be gained through observation alone.’ Jadi dengan wawancarra, peneliti akan
mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan (informan) dalam
menginterpretasikan, situasi dan fenomena yang terjadi. Sedangkan dokumentasi
menurut Satori dan Komariah (2010) adalah mengumpulkan dokumen dan data
yang diperlukan dalam permasalahan peneitian lalu ditelaah secara intens
sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan serta membuktikan suatu
kejadian. Penelitian dilakukan tiga tahap yaitu studi pendahuluan, rancangan
prototipe, sampai pada uji coba penggunaan kursi roda kerja oleh penyandang
tunadaksa untuk bekerja.
39
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
HASIL DAN PEMBAHASAN
1) Subjek
Bapak X adalah seorang yang mengalami hambatan motorik.
Beliau mengalami kesulitan dalam berpindah tempat, merasa kurang
nyaman saat bekerja, dan produktifitas kurang maksimal. Selama ini
Bapak X hanya menggunakan papan gelinding sederhana untuk berpindah
tempat.
Papan
ini
tidak
dilengkapi
system
transmisi
sehingga
pengoperasiannya masih manual. Cara yang dilakukan Bapak X tidak
efektif dan membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Kesulitan dalam
berpindah lebih banyak, kenyamanan dalam bekerja sangat kurang, dan
produktifitasnya belum optimal.
2) Kursi Roda Kerja
(1) Desain
Menurut Gregory (Hurst, Ken. 2006) mendefinisikan desain
sebagai “relating product with situation to give satisfaction”, yang
lebih mengutamanakan hubungan antar benda (barang) dengan suatu
keadaan atau kondisi tertentu; dengan tujuan memberikan kepuasan
bagi pengguna barang (benda,produk) tersebut.
Gambar 1
Desain Kursi Roda Kerja
Kursi roda yang kami namakan kursi roda kerja ini terdapat meja
kerja, loker, sandaran, dan system transmisi. Meja kerja berfungsi
sebagai tempat bekerja. Loker berfungsi sebagai tempat untuk
40
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
menyimpan peralatan kecil misalnya pensil. Sandaran berfungsi
sebagai tempat beristirahat saat kelelahan dalam bekerja. System
transmisi berfungsi sebagai system penggerak utama kursi roda kerja.
Dengan kursi kerja ini diharapkan dapat berpindah dengan mudah,
lebih nyaman dalam bekerja, dan dapat meningkatkan produktifitas
dalam bekerja.
(2) Proses Pembuatan Kursi Roda Kerja
Proses pembuatan kursi roda kerja ini didasarkan pada masalah
yang bersifat aplikatif, yaitu perencanaan dan perealisasian kursi roda
kerja agar dapat bekerja sesuai dengan yang direncanakan dengan
mengacu dalam rumusan masalah. Langkah-langkah yang perlu
dilakukan untuk merealisasikan alat yang dirancang adalah penentuan
spesifikasi, studi literature, perancangan dan pembuatan, pengujian,
dan pengambilan kesimpulan.
a. Perancangan dan Pembuatan Kursi Roda Kerja
Secara garis besar perancangan dan pembuatan kursi roda
kerja dibagi dalam beberpa tahapan yaitu penentuan spesifikasi,
pengukuran
dimensi
yang
sesuai
kebutuhan
Bapak
X,
menggambar dengan program Auto CAD, pembuatan kerangka,
pembuatan system transmisi, pembuatan loker dan meja, membuat
jog, perakitan, dan finising.
b. Pengujian dan Analisis Pengujian
Pengujian dan analisis pengujian dilakukan pada setiap
bagian kursi roda kerja seperti kerangka, system transmisi, loker,
meja kerja, dan jog. Setelah pengujian tiap bagian kemudian
dilakukan pengujian operasional kursi roda kerja dengan tahapan
sebagai berikut: (1) sosialisasi kursi roda kerja; (2) penjelasan
fungsi
dan
cara
pengoperasian
setiap
bagian;
dan
(3)
pengoperasian kursi roda kerja.
41
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
(3) Penggunaan Kursi Roda Kerja
Kursi roda kerja dapat dioperasikan untuk berpindah, bekerja, dan
beristirahat. Hal ini dapat dilakukan dengan mengatur ster untuk
menentukan arah dan memutar handel untuk bergerak maju atau
mundur. Meja kerja dapat dibuka dan ditutup sesuai keperluan. Loker
dapat dijangkau dengan mudah. Roda dirancang sedemikian rupa
sehingga dapat diganti ketika sudah menipis.
3) Proses Uji Coba Alat
Tahap ini penting dilakukan untuk mengetahui keefektifan dari
kursi roda kerja yang telah dibuat. Subjek dari pembuatan kursi roda kerja
ini adalah Bapak X. Prosedur cara pemakaian kursi roda kerja,
berdasarkan modul cara penggunaan yang sudah kami susun sebelumnya.
Garis besar prosedur pemakaian kursi roda kerja yaitu: (1) cara membuka
dan menutup meja kerja; (2) cara mengendalikan setir; (3) cara memutar
hendel; dan (4) cara membuka loker.
4) Perkembangan Alat
Gambar 2
Rancangan Pertama Kursi Roda
Kerja
Gambar 3
Rancangan Kedua Kursi Roda
Kerja
Dari papan gelinding kami tambahkan meja kerja (lihat gambar 2)
dengan pengoperasian manual, selanjutnya kami tambahkan system
transmisi Rantai Rol (lihat gambar 3). Menurut Sularso (1997) Transmisi
Rantai Rol dapat meneruskan daya tanpa slip, sehingga perbandingan
42
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
putaran tidak berubah-ubah. Selain itu kursi roda kerja ini juga
menggunakan setir berbentuk lingkaran dengan tongkat pengendali,
namun setelah di uji cobakan Bapak X merasa kesulitan dalam
mengoperasikannya. Sehingga diganti dengan setang berupa batang pipa
agar Bapak X lebih mudah dalam mengoperasikannya.
Penambahan panjang jog sandaran dan ujung kursi roda kerja
bertujuan untuk meningkatkan kenyaman pada saat digunakan. Sehingga
tumit dan kepala tidak sakit ketika menggunakan kursi roda kerja
tersebut.
5) Efektifitas Kursi Roda Kerja Berdasarkan Uji Coba diketahui efektif
dapat digunakan dalam berpindah, bekerja, dan beristirahat saat bekerja.
6) Testimoni Pengguna Kursi Roda Kerja
“ Kursi roda kerja ini dapat membantu saya untuk berpindah, bekerja,
dan beristirahat di saat kelelahan dalam bekerja, sehingga saya lebih
mudah dalam berpindah tempat, lebih nyaman dalam bekerja, lebih
mudah dalam menggambil peralatan yang kecil-kecil, dan lebih nyaman
ketika beristirahat sejenak ketika kelelahan dalam bekerja. Hanya saja
untuk mengoperasikan kursi roda kerja ini harus banyak latihan.”
7) Kelebihan alat ini yaitu dapat membantu Bapak X dalam berpindah
tempat, meningkatkan produktifitas kerja dan kenyamanan dalam bekerja
8) Kelemahan kursi roda kerja ini yaitu hanya bisa dikendalikan dengan baik
jika banyak berlatih dan terbiasa menggunakannya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kursi roda kerja merupakan alat bantu sederhana yang dirancang bagi
penyandang tunadaksa dengan transmisi rantai rol sebagai penggerak utama,
meja kerja dan loker tempat penyimpanan peralatan dengan ukuran kecil. Dengan
43
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
demikian dapat mempermudah Bapak X dalam melakukan aktifitas pekerjaannya
sebagai perajin sangkar burung.
DAFTAR PUSTAKA
Hurst, Ken. (2006) Prinsip-prinsip Perancangan Teknik. Terjemahan. Jakarta:
Erlangga.
Satori, Dj., dan Komariah, S. (2010) Metode Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta
Sugiono, (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Sularso, & Kiyokatsu, S., (1997). Dasar perencanaan dan pemilihan elemen
mesin. Edisi ke 9. Jakarta, Indonesia: PT Pradnya Paramita
Susetyo. (2010). Statistika untuk Analisis Data Penelitian. Bandung: PT.
Revika Aditama.
44
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM MATERI
SHOLAT BAGI ANAK TUNAGRAHITA DI SLB SUKOHARJO
Nurian Anggraini, Dwi Aris Himawanto, Abdul Salim
Pascasarjana Pendidikan Luar Biasa Universitas Sebelas Maret
Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran
agama Islam materi sholat bagi anak tunagrahita di SLB Sukoharjo, yakni di SLB
Negeri Sukoharjo, SLB B-C YPALB Langenharjo, SLB ABC Tawangsari, SLB BC
YSD Polokarto, dan SLB B-C Hamongputro Jombor.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan fokus penelitian
berupa penggunaan metode dan media pembelajaran oleh guru agama Islam dalam
mengajarkan materi sholat berupa gerakan dan bacaan sholat kepada anak tunagrahita
tingkat dasar di SLB Sukoharjo, alasan menggunakan metode dan media
pembelajaran tersebut, dan respon siswa ketika mengikuti kegiatan pembelajaran.
Subyek penelitian adalah guru agama Islam dan siswa tunagrahita kelas IV di masing
– masing sekolah. Pengambilan sampel sebagai subyek penelitian menggunakan
teknik non-probability sampling tipe purposeful sampling. Peneliti melakukan
wawancara semi terstruktur kepada subyek penelitian mengenai penggunaan metode
dan media pembelajaran dan observasi langsung untuk mengamati keberlangsungan
kegiatan pembelajaran agama Islam. Data yang telah dikumpulkan atau diperoleh
dianalisis melalui reduksi data, display data, dan menarik kesimpulan. Kesimpulan
disajikan dalam bentuk teks naratif berupa catatan lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran agama Islam materi sholat
dilaksanakan dengan menggunakan metode demonstrasi atau praktek langsung dan
media pembelajaran yang sederhana berupa buku pedoman pembelajaran dan
visualisasi berupa gambar karena mudah diperoleh, sedangkan respon siswa ketika
mengikuti kegiatan pembelajaran sudah lumayan baik, siswa mau mengikuti petunjuk
guru untuk mempraktikkan gerakan sholat dan membaca ulang bacaan sholat, mereka
juga tertarik dan memperhatikan ketika guru menampilkan media visualisasi gambar
yang menarik dan bagus untuk menyampaikan materi pelajaran.
Kata kunci: Pembelajaran agama Islam, Materi Sholat, Anak Tunagrahita, SLB
Sukoharjo.
45
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
PENDAHULUAN
Anak tunagrahita adalah salah satu jenis anak yang masuk pada kategori anak
berkebutuhan khusus. Anak tunagrahita adalah individu yang memiliki intelegensi
yang signifikan berada di bawah rata – rata dan disertai dengan ketidakmampuan
dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan (Meimulyani dan
Caryoto, 2013:15).
Keterbatasan inteligensi yang dialami oleh anak tunagrahita menjadi kendala
ketika ia meniti tugas perkembangannya. Beberapa hambatan yang tampak pada anak
tunagrahita adalah keterlambatan dalam hal berfikir, kesulitan menganalisis, kesulitan
berkonsentrasi, keterbatasan bersosialisasi, memiliki daya ingat yang lemah, dan
sebagainya.
Mengacu pada skala Weschler (WISC) anak tunagrahita diklasifikasikan
menjadi beberapa tingkatan yaitu tunagrahita ringan dengan tingkat IQ 69-55,
tunagrahita sedang dengan tingkat IQ 54-40, dan tunagrahita berat dengan tingkat IQ
39-25. Meskipun memiliki tingkat inteligensi di bawah rata-rata, anak tunagrahita
masih bisa dididik dan dilatih di sekolah baik dari segi akademis maupun vokasional
sebagai bekal mereka di kala dewasa.
Tak hanya bekal akademik dan vokasional yang dibutuhkan anak tunagrahita,
mereka juga berhak mendapatkan bekal spiritual dari segi keagamaan seperti
pembelajaran mengenai pengenalan al-qur’an, aqidah, akhlak, dan fiqih.
Kegiatan pembelajaran baik dari aspek akademik, vokasional, maupun
spiritual yang dilakukan di sekolah luar biasa bagi anak tunagrahita harus dibarengi
dengan penggunaan metode pembelajaran, media pembelajaran, dan bahan ajar yang
sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Selama proses pembelajaran,
anak hendaknya dilibatkan secara aktif dan materi yang dipelajari dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari. Salah satu cara yang bisa dilakukan guru adalah menggunakan
metode dan media pembelajaran sebagai alat bantu pembelajaran.
46
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Dalam dunia pendidikan metode pembelajaran adalah suatu cara atau upaya
yang dilakukan oleh para pendidik agar proses belajar-mengajar pada siswa tercapai
sesuai dengan tujuan. Menurut Andayani (2015:84) metode penelitian adalah istilah
yang berkaitan dengan perencanaan secara menyeluruh untuk menyajikan materi
pelajaran secara runtut dan teratur. Sedangkan media pembelajaran diartikan sebagai
alat dan bahan yang bisa digunakan sebagai perantara dan mampu menciptakan
kondisi yang memungkinkan pebelajar untuk menerima pengetahuan dan sikap.
Media pembelajaran menurut Musfiqon (2012:28) merupakan alat bantu fisik
maupun non fisik yang sengaja digunakan sebagai perantara antara guru dan siswa
dalam memahami materi pembelajaran agar lebih efektif dan efisien, sehingga materi
pembelajaran lebih cepat diterima siswa dengan utuh serta menarik minat siswa untuk
belajar lebih lanjut. Media pembelajaran berfungsi sebagai pemusat perhatian siswa,
menggugah emosi siswa, membantu siswa memahami materi pembelajaran,
membantu siswa mengorganisasikan informasi, membangkitkan motivasi belajar
siswa, membuat pembelajaran menjadi lebih konkret, mengatasi keterbatasan ruang,
waktu, dan daya indra, mengaktifkan pembelajaran, mengurangi kemungkinan
pembelajaran yang melulu berpusat pada guru, dan mengaktifkan respon siswa.
Penggunaan metode dan media pembelajaran bisa disesuaikan dengan karakteristik
siswa, tujuan pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran. Hal ini berlaku untuk
semua mata pelajaran, termasuk pada pelajaran agama Islam.
Pelajaran agama Islam merupakan pelajaran yang wajib diikuti oleh seluruh
siswa yang beragama Islam. Hakikat pembelajaran agama Islam di sekolah luar biasa
menekankan pada keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara hubungan
manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan
manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Pada
pembelajaran agama Islam, penggunaan metode pembelajaran yang bisa digunakan
adalah metode ceramah, demontrasi, latihan keterampilan, diskusi, dan beberapa
metode pembelajaran lainnya. Sedangkan media pembelajaran bisa menjadi alternatif
47
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
dalam menyampaikan materi pelajaran, seperti penggunaan media gambar, video
pembelajaran, buku cerita, dan sebagainya.
Namun fakta dilapangan tidak sedikit pula guru yang masih belum
memanfaatkan berbagai metode dan media pembelajaran sebagai perantara dalam
menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa. Oleh karena itu perlu dianalisa
lebih lanjut apa saja metode pembelajaran dan media pembelajaran yang sudah dan
belum digunakan serta respon dari siswa ketika mengikuti pembelajaran dengan
metode dan media yang digunakan.
Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui metode dan media pembelajaran
yang diterapkan atau digunakan oleh guru agama Islam dalam mengajarkan materi
sholat berupa gerakan dan bacaan sholat kepada anak tunagrahita tingkat dasar di
SLB Sukoharjo, alasan guru menggunakan metode dan media tersebut, dan respon
siswa ketika mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di lima SLB yang ada di kabupaten Sukoharjo,
yakni SLB Negeri Sukoharjo, SLB B-C YPALB Langenharjo, SLB ABC
Tawangsari, SLB BC YSD Polokarto, dan SLB B-C Hamongputro Jombor. Metode
penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono
(2009:15) penelitian kualitatif adalah “suatu metode penelitian yang berlandaskan
pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek alamiah
dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, pengambilan sampel sumber data
dilakukan secara purposive, teknik pengumpulan dengan tiangulasi, analisis data
bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada
generalisasi”.
Subyek penelitian adalah guru agama Islam tingkat dasar dan siswa
tunagrahita kelas IV di masing-masing sekolah. Pemilihan subyek penelitian sebagai
sampel penelitian dilakukan melalui teknik sampling non-probability sampling tipe
purposeful sampling, yaitu memilih sampel penelitian berdasarkan kepada ciri-ciri
48
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
yang dimiliki oleh subyek penelitian yang sesuai dengan tujuan penelitian yang akan
dilakukan (Herdiansyah, 2010:106).
Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah melalui wawancara dan
observasi. Wawancara dilakukan secara mendalam dengan bentuk wawancara semi
terstruktur, yakni pelaksanaan wawancara menggunakan pertanyaan terbuka dengan
tema yang telah ditentukan, fleksibel, mengacu pada pedoman wawancara yang
bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dan memahami suatu
fenomena.
Sedangkan
observasi
dilakukan
oleh
peneliti
selama
kegiatan
pembelajaran agama Islam berlangsung di masing – masing sekolah.
Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis data model interaktif
menurut Miles & Huberman (Herdiansyah. 2010:164) yang terdiri dari empat
tahapan, yaitu: 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) display data, dan 4)
penarikan kesimpulan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan di SLB
Negeri Sukoharjo, SLB B-C YPALB Langenharjo, SLB ABC Tawangsari, SLB BC
YSD Polokarto, dan SLB B-C Hamongputro Jombor diketahui bahwa di kelima SLB
tersebut guru agama Islam ketika mengajarkan materi sholat yakni gerakan dan
bacaan sholat menggunakan metode ceramah dan demonstrasi, sedangkan untuk
bacaanya guru menggunakan pendekatan meniru bacaan dengan harapan semakin
sering anak mengucapkan bacaan maka anak mampu menghafal bacaan sedikit demi
sedikit. Adapun media pembelajaran yang digunakan adalah media sederhana seperti
buku cetak dan visualisasi gambar. Buku yang digunakan adalah buku pedoman
pembelajaran dan media visualisasi gambar biasanya berupa gambar diam. Deskripsi
mengenai fokus penelitian dijabarkan sebagai berikut:
49
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
1. Metode dan media yang digunakan oleh guru agama Islam
Guru agama Islam ketika mengajarkan materi pelajaran agama Islam materi
sholat menggunakan metode ceramah dan demonstrasi. Guru menjelaskan nama
gerakan dan mendemonstrasikannya di hadapan para siswa, kemudian siswa diminta
satu persatu untuk mempraktekkan seperti yang telah didemonstrasikan guru, untuk
bacaan sholat biasanya siswa menirukan atau mengikuti bacaan yang dilafalkan guru
secara perlahan dengan harapan bisa mengingat bacaan tersebut sedikit demi sedikit.
Adapun untuk penggunaan media pembelajaran cenderung menggunakan media
pembelajaran sederhana seperti buku pelajaran, visualisasi gambar melalui gambar
yang ditempel di atas karton atau menggambar langsung di papan tulis. Sedangkan
untuk media pembelajaran yang kreatif dan modern seperti media audio visual,
media yang berbasis IT, dan sebagainya masih belum sering digunakan.
2. Alasan penggunaan metode dan media pembelajaran
Pemilihan metode ceramah dan demonstrasi dalam mengajarkan materi sholat
yang mencakup gerakan dan bacaan sholat bertujuan agar dengan mempraktekkan
langsung kegiatan atau urutan sholat siswa bisa menghafal sedikit demi sedikit
gerakan dan menyelaraskannya dengan bacaan yang seharusnya. Adapun untuk
menghafal bacaan sholat guru membimbing siswa untuk mengikuti bacaan yang
telah diucapkan guru sedikit demi sedikit secara perlahan, dengan harapan agar siswa
bisa mengingat bacaan setelah mengulangnya berkali-kali. Adapun penggunaan
beberapa media pembelajaran sederhana seperti buku cetak/ buku pedoman
pembelajaran dikarenakan medianya mudah diperoleh dan bisa disesuaikan dengan
tema atau tujuan pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Sedangkan tidak
dipilihnya media yang modern atau canggih seperti media audio visual atau media
yang berbasis IT disebabkan oleh beberapa hal seperti minimnya fasilitas yang
disediakan sekolah, kurangnya pengetahuan guru mengenai penggunaan media
pembelajaran yang berbasis IT, dan kurangnya materi ajar yang mendukung tujuan
pembelajaran agama Islam. Sehingga apabila guru hendak menggunakan media
pembelajaran yang lebih modern atau canggih maka guru harus mencari referensi
50
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
terlebih dahulu, dan tak jarang beberapa materi tersebut belum tersedia di pasaran
dan guru harus membuat atau memproduksinya sendiri. Oleh karena itu, para guru
agama islam cenderung cendrung memilih untuk menggunakan buku cetak pelajaran
agama Islam anak regular yang disesuaikan dengan materi atau tujuan pembelajaran
yang dilaksanakan, menggambarkan suatu materi atau memberi gambaran dengan
cara menjelaskan secara langsung dan disertai tulisan atau gambar yang telah di
cetak dan ditempelkan di atas karton atau yang digambar langsung di papan tulis.
3. Respon siswa terhadap metode dan media pembelajaran yang digunakan.
Penggunaan metode ceramah ataupun demonstrasi sudah bisa membuat anak
untuk lebih aktif ketika tiba giliran mereka untuk mendemonstrasikan gerakan dan
menirukan bacaan. Namun ketika menunggu giliran praktek siswa terkadang merasa
sedikit jenuh karena guru lebih berfokus pada satu siswa. sedangkan untuk
penggunaan media pembelajaran yang masih bersifat konvensional tersebut juga
berpengaruh
terhadap
keberlangsungan
kegiatan
pembelajaran
bagi
siswa
tunagrahita. Beberapa siswa yang telah diwawancarai mengatakan mereka cenderung
jenuh dan kurang bersemangat mengikuti pembelajaran ketika guru hanya
menggunakan buku cetak atau buku pedoman pembelajaran sahaja, namum ketika
menggunakan gambar mereka merasa bersemangat dan suka melihat gambar yang
ditampilkan. Namun tidak semua gambar yang disediakan guru bisa menarik minat
dan perhatian siswa, terkadang apabila gambar yang disediakan kurang bagus dan
tidak menarik dari sudut pandang siswa maka ketika mengikuti kegiatan
pembelajaran mereka memilih untuk diam dan ada juga siswa yang memilih untuk
keluar dengan alasan hendak ke kamar mandi, dan hal ini dilakukan tidak hanya
sekali, namun berkali – kali.
Pembahasan
Pada dasarnya anak tunagrahita memiliki tingkat inteligensi yang rendah/
dibawah normal dan memerlukan bantuan atau layanan yang berbeda dalam meniti
tugas kesehariannya, termasuk dalam hal mengikuti kegiatan pembelajaran. Somantri
51
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
(2006:105) menjelaskan “tunagrahita merupakan kondisi dimana perkembangan
kecerdasannya mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap perkembangan
yang optimal”. Wijaya (2013:21) juga mengemukakan tunagrahita sebagai individu
yang memiliki intelegensi yang signifikan berada di bawah rata-rata dan disertai
dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa
perkembangan.
Effendi (2006:98) menjelaskan bahwa anak tunagrahita cenderung memiliki
kemampuan berfikir konkrit/ nyata dan sukar berfikir abstrak, mengalami kesulitan
dalam konsentrasi, kemampuan sosialnya terbatas, tidak mampu menyimpan
instruksi yang sulit, kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang
dihadapi, dan prestasi tertinggi bidang baca, tulis, hitung tidak lebih dari anak
normal setingkat kelas III-IV SD. Rendahnya tingkat inteligensi yang dimiliki oleh
anak tunagrahita tidak hanya berdampak pada aspek kehidupannya dalan hal sosial,
adaptasi perilaku, pemahaman terhadap situasi, berkomunikasi, dan memahami
keadaan sekitarnya, tetapi juga berdampak pada kegiatan pembelajaran yang
diikutinya di sekolah luar biasa.
Pembelajaran yang dilakukan bagi siswa tunagrahita disajikan melalui metode
dan cara belajar yang disesuaikan dengan kemampuan yang mereka miliki. Selain
itu, guru juga bisa menggunakan media pembelajaran yang kreatif dan bisa menarik
minat dan perhatian siswa untuk memperhatikan materi pelajaran dengan seksama.
Metode
pembelajaran
menurut
Sutikno (2009:
88)
adalah
cara-cara
menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses
pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan. Metode
pembelajaran terbagi menjadi beberapa macam diantaranya adalah metode ceramah,
demonstrasi, diskusi, tanya jawab, eksperimen, latihan, penyelesaian masalah, dan
sebagainya.
Media
pembelajaran
merupakan
perantara
yang
berfungsi
untuk
menyampaikan pesan berupa meteri pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang
ditentukan bisa tercapai dengan optimal (Susilana dan Riyana, 2009: 7). Pemilihan
52
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
media pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan karakteristik siswa yang akan
menerima materi pelajaran, efektif, efisien, relevan, dan produktif dalam
menyampaikan pesan atau materi pembelajaran. Media pembelajaran terbagi menjadi
beberapa macam, yakni media visual, media audio, dan media audio-visual.
Pemilihan dan penggunaan metode dan media pembelajaran oleh guru agama
Islam di kelima SLB di kabupaten Sukoharjo masih sederhana. Para guru cenderung
memilih media berupa media visual seperti buku cetak pelajaran agama Islam,
gambar diam yang berkaitan dengan materi pelajaran, atau menggambar langsung di
papan tulis. Pemilihan media tersebut dikarenakan mudah diperoleh dan tidak
membutuhkan alat bantu atau alat proyeksi untuk menampilkan media tersebut.
Metode dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru agama Islam di
masing-masing sekolah bertujuan untuk membuat pembelajaran menjadi lebih
menarik, efisien, hemat tenaga, dan bisa meningkatkan kualitas belajar siswa.
Namun tidak semua tema atau materi pelajaran bisa disajikan melalui metode dan
media pembelajaran yang sama, beberapa materi membutuhkan metode yang
diintegrasikan dan media pembelajaran yang lebih inovatif dan tentunya
membutuhkan alat bantu proyektor, penguasaan terhadap penggunaan alat tersebut.
Selain itu, guru juga harus menyiapkan atau mencari materi ajar berupa video, slide,
film, dan sebagainya karena pihak sekolah belum memfasilitasi hal tersebut. Kondisi
dilapangan menunjukkan tidak semua kelas memuliki LCD atau alat bantu
proyektor, sehingga apabila guru hendak menggunakan media berbasis IT tersebut
mereka harus bergantian dengan guru yang lainnya, dan juga sebagian guru masih
belum terampil dalam mencari dan membuat materi ajar yang sesuai dengan materi
pelajaran yang akan dipelajari. Oleh karena itu mereka lebih memilih menggunakan
buku cetak dan gambar diam sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan
materi pelajaran.
Penggunaan metode dan media pembelajaran yang beragam juga berdampak
pada pemahaman dan minat siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Siswa
cenderung lebih tertarik ketika mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan
53
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
tampilan gambar dibandingkan bila hanya menggunakan buku cetak saja. Gambar
yang disajikan dengan kreatif dan sesuai materi pelajaran bisa membuat siswa fokus
dan mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik.
Berdasarkan pada hasil analisis data penelitian dan pembahasan diketahui
bahwa penggunaan metode pembelajaran oleh guru dalam mengajarkan materi sholat
sudah cukup bagus, namun media pembelajaran yang digunakan masih belum
bervariasi dan belum optimal.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru lebih menggunakan metode
ceramah dan demonstrasi untuk mengajarkan gerakan sholat, untuk mengajarkan
mengenai bacaan sholat biasanya guru melafalkan bacaan dan siswa mengikuti
bacaan tersebut. Penyampaian materi mengenai gerakan dan bacaan sholat ini
ditunjang dengan pemakaian media pembelajaran berupa media pembelajaran
sederhana seperti buku cetak/ buku pedoman pembelajaran dan cetakan gambar yang
berkaitan dengan materi pembelajaran, guru belum menggunakan bantuan media
yang berbasis IT dalam mengajarkan materi tersebut. Hal ini dilakukan karena media
sederhana lebih mudah diperoleh dan penggunaannya juga tidak membutuhkan alat
bantu lainnya. Respon siswa ketika mengikuti pembelajaran berbeda sesuai dengan
strategi dan media yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Ketika menggunakan buku cetak/ buku pedoman pembelajaran siswa cenderung
lebih mudah bosan dan kurang memperhatikan, namun apabila menggunakan
visualisasi gambar yang kreatif dan bagus, maka siswa cenderung tertarik dan
memperhatikan pembelajaran. Namun tidak semua gambar bisa menarik minat dan
perhatian siswa, adakalanya gambar yang ditampilkan tergolong biasa dan membuat
siswa tidak betah mengikuti kegiatan pembelajaran.
54
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah ditemukan maka peneliti memberikan
saran kepada guru yakni hendaknya menggunakan variasi metode dan media
pembelajaran ketika mengajarkan pelajaran agama Islam, penggunaan beberapa
metode yang diintegrasikan dan media berbasis teknologi atau yang lebih modern
bisa digunakan agar tujuan pembelajaran bisa lebih optimal dan materi pelajaran
tersampaikan dengan baik. Sedangkan bagi pihak sekolah bisa memfasilitasi
kegiatan pembelajaran agama Islam dengan menyediakan media pembelajaran yang
lebih modern dan kreatif, dan juga bisa memberi pelatihan mengenai berbagai
macam metode dan media pembelajaran dan cara menggaplikasikannya.
DAFTAR PUSTAKA
Andayani. (2015). Problema dan Aksioma dalam Metodologi Pembelajaran Bahasa
Indonesia. Yogyakarta. Deepublish.
Effendi, M. (2006). Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta. Bumi
Aksara.
Herdiansyah, H. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta. Salemba
Humanika.
Meimulyani, Y. & Caryoto. (2013). Media Pembelajaran Adaptif. Bandung.
Luxima Metro Media.
Musfiqon. (2012). Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran. Jakarta.
Prestasi Pustakarya.
Somantri, T. S. (2006). Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung. Anggota IKAPI.
Sugiyono.(2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung. Alfabeta.
Susilana, R dan Cepi Riyana. (2009). Media Pembelajaran; Hakikat,
Pengembangan, Pemanfaatan, dan Penilaian. Bandung. Wacana Prima.
Wijaya, A. (2013). Teknik Mengajar Siswa Tunagrahita. Yogyakarta. Imperium.
55
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
MODEL PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN
SAINTIFIK BERBASIS ICE BREAKER UNTUK
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PADA ANAK
TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB C YPAC SEMARANG
Wahyu Agus Setyani
[email protected]
ABSTRAK
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi
belajar siswa adalah dengan menggunakan ice breaker. Ice breaker adalah
pemecah kebekuan fikiran atau fisik siswa agar proses pembelajaran menjadi
lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar
pada anak tunagrahita ringan melalui model pembelajaran dengan
pendekatan saintifik berbasis ice breaker. Obyek penelitian ini adalah model
pembelajaran dengan pendekatan saintifik di SLB C YPAC Semarang.
Teknik yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah purposive
sampling.
Bentuk penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis
penelitian pengembangan. Metode penelitian yang digunakan pada tahap I
adalah: 1) wawancara mendalam, 2) pengamatan terlibat, 3) analisis isi
dokumen. Hasil yang sudah dicapai dalam penelitian ini adalah: 1)
identifikasi model pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang dijalankan
oleh guru bagi anak tunagrahita ringan di SLB C YPAC Semarang,2)
Identifikasi gambaran motivasi belajar anak tunagrahita ringan di SLB C
YPAC Semarang, 3) susunan draft model pembelajaran dengan pendekatan
saintifik berbasis Ice Breaker yang efektif dapat meningkatkan motivasi
belajar bagi anak tunagrahita ringan.
Kata Kunci : pendekatan saintifik, ice breaker,Motivasi Belajar Siswa.
56
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
PENDAHULUAN
Kurikulum yang dipakai di Indonesia saat ini adalah Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 juga digunakan pada anak berkebutuhan khusus pada semua
kategori ketunaan termasuk pada anak tunagrahita ringan. Pembelajaran dalam
Kurikulum 2013 memiliki karakterisitik yang menjadi ciri khas pembeda dengan
kurikulum-kurikulum yang telah ada selama ini salah satunya adalah pada
pendekatan pembelajarannya. Pendekatan pembelajaran yang dipakai pada
Kurikulum 2013 adalah mengggunakan pendekatan saintifik (pendekatan ilmiah).
Berdasarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2013
menyebutkan bahwa proses pembelajaran pada pendekatan saintifik ini meliputi
tiga ranah belajar, yaitu: Sikap (yang terdiri dari sikap spiritual dan sikap sosial),
Pengetahuan (Produk), dan Keterampilan (Proses dan Psikomotorik). Peserta
didik diharapkan mampu mengimplementasikan penguatan sikap (tahu mengapa),
keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang saling
terintegrasi satu sama lain. Hasil akhirnya diharapkan implementasi kurikulum ini
dapat membantu siswa menjadi insan yang pandai bersyukur, berjiwa sosial
tinggi, cerdas, mandiri, dan kreatif ( soft skill dan hard skill seimbang).
Pada beberapa jurnal dan penelitian ilmiah, pengggunaan pendekatan
saintifik dalam pembelajaran di sekolah umum dengan peserta didik non
tunagrahita telah terbukti berhasil untuk meningkatkan motivasi maupun hasil
belajar anak. Menurut Deden (2015) Dengan pendekatan saintifik peserta didik
akan lebih tertarik untuk belajar, dengan konsep menemukan sendiri maka mereka
juga dapat lebih mengingat materi yang dibahas dalam proses kegiatan belajar
mengajar. Pendapat serupa juga diberikan oleh Sumayasa, Marhaeni dan Dantes
(2015) yang mengatakan motivasi belajar dan hasil belajar siswa yang mengikuti
model pembelajaran saintifik (kelompok eksperimen) hasilnya lebih baik daripada
siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional (kelompok kontrol).
Namun, pada anak tunagrahita yang mengalami hambatan khususnya yang
berkenaan dengan perhatian atau konsentrasi, ingatan, berbicara dengan bahasa yang
benar, dan dalam kemampuan akademiknya, pendekatan saintifik yang menekankan pada
keterlibatan peserta didik secara aktif sepanjang kegiatan pembelajaran, mungkin akan
57
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
nampak rumit bagi anak tunagrahita. Oleh karena itu, kurikulum 2013 yang digunakan
dalam penyelenggaraan pendidikan khusus membutuhkan modifikasi yang disesuaikan
dengan ragam hambatan yang dialami peserta didik yang bervariasi, sehingga sesuai
dengan kebutuhan peserta didikterutama pada anak tunagrahita. Model pembelajaran
terhadap peserta didik berkebutuhan khusus disusun secara khusus melalui penggalian
kemampuan diri peserta didik dan dapat mengakomodir segala kebutuhan dan kekhasan
yang ada pada setiap individu.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti pada seorang guru di SLB C YPAC
Semarang menyebutkan bahwa motivasi belajar siswa masih rendah. Siswa juga
kurang bersemangat untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Rendahnya motivasi
belajar siswa tersebut mengakibatkan hasil belajar yang rendah pula pada anak.
Motivasi belajar juga berpengaruh terhadap hasil belajar. Siswa yang mempunyai
motivasi belajar yang tinggi cenderung memiliki hasil belajar yang baik. Begitu
juga sebaliknya, siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah cenderung
memiliki hasil belajar yang kurang baik. Hasil belajar akan menjadi lebih optimal
jika disertai dengan motivasi belajar yang baik. Jadi motivasi akan senantiasa
menentukan intensitas usaha belajar bagi siswa (Sardiman, 2012).
Temuan pada observasi peneliti menunjukkan bahwa pola pembelajaran di
kelas sebagian besar guru masih mengandalkan pada metode ceramah. Dalam
pelaksanaan pembelajaran di kelas, hanya 5-10 menit anak dapat berkonsentrasi
pada pelajaran yang disampaikan oleh guru, setelah ituanak mengalami kejenuhan
dan
tidak
lagi
memperhatikan
pelajaran
yang
disampaikan.
Mereka
melampiaskannya dengan mengobrol, berbaring di lantai bahkan ada yang keluar
dari kelas. Menanggapi masalah tersebut, pendekatan dapat dikembangkan
melalui teknik pembelajaran kreatif, inovatif dan menyenangkan yang cocok
untuk mengatasi kejenuhan anak.
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa adalah dengan menggunakan ice breaker. Icebreaker
adalah pemecah kebekuan fikiran atau fisik siswa agar proses pembelajaran
menjadi lebih efektif. Penggunaan ice breaker dalam pembelajaran akan sangat
membantu
dalam
menciptakan
suasana
pembelajaran
yang
bermakna,
menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis (Sunarto, 2012).
58
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Ice breaker sangat diperlukan dalam proses pembelajaran di kelas untuk menjaga
stamina emosi dan kecerdasan berfikir siswa. Ice breaker diberikan untuk memberikan
rasa gembira yang bisa menumbuhkan sikap positif siswa dalam proses pembelajaran.
Suasana belajar yang menyenangkan dan penuh semangat tentu tidak terjadi begitu saja,
tetapi harus direncanakan dengan baik oleh guru. Untuk menciptakan situasi
pembelajaran yang menyenangkan selain membuat skenario pembelajaran yang dapat
melibatkan seluruh siswa aktif, tentu akan sangat membantu jika para guru bisa
menggunakan ice breaker sebagai alat untuk menciptakan nuansa kegembiraan.
Hasil penelitian ini diharapkan keakraban antar siswa, maupun antara guru dan
siswa (Sunarto, 2012). Hasil penelitian pada model pembelajaran melalui pendekatan
saintifik berbasis ice breaker diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar
bagi anak tunagrahita ringan. Secara khusus penelitian ini bertujuan :1) Untuk
mengetahui model pembelajaran dengan pendekatan saintifik yang dijalankan oleh guru
bagi anak tunagrahita ringan pada saat ini, 2) Untuk mengetahui gambaran motivasi
belajar anak tunagrahita ringan pada saat ini, 3) Untuk mengetahui gambaran hasil belajar
anak tunagrahita ringan pada saat ini, 4) Untuk mengetahui model pembelajaran dengan
pendekatan saintifik berbasis ice Breaker yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil
belajar bagi anak tunagrahita ringan, 5) Untuk mengetahui model pembelajaran dengan
pendekatan saintifik dengan berbasis ice breaker efektif untuk meningkatkan motivasi
dan hasil belajar anak tunagrahita ringan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SLB C YPAC Semarang dengan pendekatan
kualitatif. Kajiannya ditekankan pada aspek pengembangan model pembelajaran
dengan pendekatan saintifik yang dapat meningkatkan memotivasi siswa untuk
yang bisa menumbuhkan sikap positif siswa dalam proses pembelajaran. Teknik
cuplikan yang digunakan didasarkan pada konsep teoritis yang digunakan,
keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik dan lain-lainnyan (Sutopo, 2006).
Beberapa sumber data yang dipilih sebagai sampling dalam penelitian
meliputi informan, tempat/ peristiwa dan dokumen didasarkan dengan teknik
purposive sampling. Adapun sampel penelitian adalah berupa orang (guru dan
siswa) dan atau benda seperti silabus serta materi pembelajaran. Teknik untuk
melangkapi data hasil pengamatan adalah wawancara mendalam.
59
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Validitas dilakukan dengan tiga cara yaitu: (1) tringulasi sumber, (2)
recheck, (3) peer debriefing. Tringulasi sumber dilakukan dengan cara
membandingkan data informasi terhadap berbagai sumber data berbeda mengenai
masalah yang sama. Recheck dilakukan dengan cara meneliti ulang data informasi
dari para informan agar diperoleh perbaikan atau kebenrana data terhadap
berbagai sumber informasi yang salah dan tidak lengkap dari hasil informasi
sebelumnya. Peer debriefing, yaitu mendiskusikan hasil penelitian dengan
personal yang sebanding (setara pengetahuan) untuk memperoleh kritikan dan
pertanyaan tajam yang menentang tingkat kepercayaan terhadap kebenaran
penelitian, dengan demikian peneliti sebagai instrumen penelitian senantiasa
melakukan koreksi secara terus menerus mengenai hasil penelitian yang telah
dihimpun. (Nasution, 1988:116).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian telah dilaksanakan selama kurun waktu 1 bulan, yaitu pada
bulan April 2016 di SLB C YPAC Semarang. Berdasarkan penelitian
permasalahannya dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.
Model pembelajaran yang dijalankan oleh guru bagi anak tunagrahita
ringan pada saat ini.
Model pembelajaran yang digunakan di SLB C YPAC Semarang adalah
pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Dalam pengembangan silabus
kurikulum 2013, setiap satuan pendidikan diberikankebebasan dan keleluasaan
dalam mengembangkanya disesuaikan dengan kebutuhan masing masing sekolah.
Prinsip ini belum dilaksanakan oleh guru untuk anak tunagrahita ringan di SLB C
YPAC Semarang. Dalam pengembangan silabus guru masih mengadopsi silabus
dari hasil rapat KKG/KKS. Selanjutnya model silabus tersebut ditelaah dan
disesuaikan dengan kondisi sekolah. Apabila silabus tersebut tidak sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan siswa maka akan direvisi dan disesuaikan dengan
kebutuhan siswa. Untuk penyusunan rencana Pelaksanaan model pembelajaran
(RPP) guru berpedoman pada silabus yang telah disediakan oleh KKG/KKS.
Dalam silabus tersebut sudah disediakan pemetaan KI/KD setiap mata pelajaran
60
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
yang akan dalam hal ini media tersebut harus memilki kegunaan yang dapat
dimanfaatkan olehberbagai bidang studi yang terkait dan terpadu.
Penggunaan metode pembelajaran yang dipakai guru dalam pembelajaran
saintifik bagi siswa tunagrahita ringan di SLB C YPAC Semarang dapat
dideskrisikan guru berorientasi pada metode ceramah dan pemberian tugas.
Sehingga pembelajaran yang dilaksanakan kurang menarik perhatian siswa.
Dalam penerapannya, kurikulum 2013 memberikan kebebasan kepada peserta
didik untuk dapat memperkaya pengetahuan dari berbagai sumber, seperti buku,
internet, dan lingkungan sosial masyarakat. Peran guru dalam kurikulum 2013
hanya
sebagai
fasilitator
dalam
proses
pembelajaran,
yang
fungsinya
mengarahkan peserta didik untuk mencapai target pembelajaran sesuai dengan
yang ditetapkan. Hasil akhir yang diharapkan dari model pembelajaran yang aktif,
kreatif, dan gembira ini adalah para peserta didik terpacu untuk meningkatkan
kemampuannya di bidang sains, matematika, dan membaca.
Namun, pada anak tunagrahita yang mengalami hambatan khususnya yang
berkenaan dengan perhatian atau konsentrasi, ingatan, berbicara dengan bahasa yang
benar, dan dalam kemampuan akademiknya, pendekatan saintifik yang menekankan pada
keterlibatan peserta didik secara aktif sepanjang kegiatan pembelajaran, mungkin akan
nampak rumit bagi anak tunagrahita. Oleh karena itu, kurikulum 2013 yang digunakan
dalam penyelenggaraan pendidikan khusus membutuhkan modifikasi yang disesuaikan
dengan ragam hambatan yang dialami peserta didik yang bervariasi, sehingga sesuai
dengan kebutuhan peserta didikterutama pada anak tunagrahita. Model pembelajaran
terhadap peserta didik berkebutuhan khusus disusun secara khusus melalui penggalian
kemampuan diri peserta didik dan dapat mengakomodir segala kebutuhan dan kekhasan
yang ada pada setiap individu.
Menurut Mulyasa (2014) kunci sukses pembelajaran dengan pendekatan saintifik
ada beberapa faktor yaitu:
a) Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kepemimpinan Kepala Sekolah merupakan salah satu faktor penentu yang
dapat menggerakkan semua sumber daya sekolah untuk mewujudkan visi,
misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang
dilaksanakan secara terencana dan terprogram.
61
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
b) Kreativitas guru
Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya, bahkan sangat
menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar. Pembelajaran dengan
pendekatan saintifik yang berbasis karakter dan kompetensi, antara lain
ingin mengubah pola pendidikan sebagai sebuah proses yang dalam
pembelajarannya harus sebanyak mungkin melibatkan melibatkan siswa
agar mereka mampu bereksplorasi untuk membentuk kompetensi dengan
menggali berbagai potensi dan kebenaran ilmiah. Dalam kerangka inilah
perlunya kreativitas guru, agar mereka mampu menjadi fasilitator dan
mitra belajar bagi siswa. Tugas guru tidak hanya menyampaikan informasi
kepada siswa, tetapi harus kreatif memberikan layanan dan kemudahan
belajar kepada seluruh siswa agar mereka belajar dalam suasana yang
menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak cemas dan berani
mengemukakan pendapat secara terbuka.
c) Aktivitas peserta didik
Dalam rangka mendorong dan mengembangkan aktivitas peserta didik,
guru harus mampu mendisiplinkan peserta didik, terutama disiplin diri.
Guru harus mampu membantu peserta didik mengembangkan pola
perilakunya, meningkatkan standar perilakunya, dan melaksanakan aturan
sebagai alat untuk menegakkan disiplin dalam setiap aktivitasnya. Untuk
mendisiplinkan diri perlu dimulai dengan prinsip yang sesuai dengan
tujuan pendidikan nasional, yakni sikap demokratis sehingga peraturan
disiplin perlu berpedoman pada hal tersebut. dalam hal ini guru harus
mampu memerankan diri sebagai pengemban ketertiban, yang patut ditiru
dan diteladani serta tidak otoriter.
d) Sosialisasi Kurikulum 2013
Sosialisasi sangat penting dilakukan, agar semua pihak yang terlibat dalam
implementasinya di lapangan paham dengan perubahan yang harus
dilakukan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing,
sehingga mereka memberikan dukungan terhadap perubahan kurikulum
yang dilakukan. Dalam hal ini sebaiknya pemerintah memberikan grand
62
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
design yang jelas dan menyeluruh, agar konsep kurikulum yang
diimplementasikan dapat dipahami oleh para pelaksana secara utuh, tidak
ditangkap secara parsial, keliru atau salah paham.
e) Fasilitas dan sumber ajar
Dalam pengembangan fasilitas dan sumber ajar, guru di samping harus
mampu membuat sendiri alat pembelajaran dan alat peraga juga harus
berinisiatif mendayagunakan lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber
ajar yang lebih konkret. Pendayagunaan lingkungan sebagai sumber ajar
misalnya memanfaatkan bebatuan, tanah, tumbu-tumbuhan, keadaan alam,
pasar, kondisi sosial, ekonomi, dan budaya kehidupan yang berkembang di
masayarakat.
f)
Lingkungan yang kondusif akademik
Lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan tertib, optimisme dan
harapan yang tinggi dari seluruh warga sekolah, kesehatan sekolah, serta
kegiatan-kegiatan yang terpusat pada peserta didik merupakan iklim yang
membangkitkan nafsu, gairah dan semangat belajar. Iklim belajar yang
kondusif merupakan tulang punggung dan faktor pendorong yang dapat
memberikan daya tarik sendiri bagi proses belajar, sebaliknya iklim belajar
yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan.
2.
Gambaran motivasi belajar anak tunagrahita ringan di SLB C YPAC
Semarang.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa motivasi belajar pada anak
tunagrahita ringan di SLB C YPAC Semarang cenderung rendah. Motivasi belajar
yang rendah menyebabkan siswa menjadi kurang bersemangat dalam belajar
terlebih dengan karakteristik anak tunagrahita yaitu keterlambatan dalam proses
berfikir, maka karakteristik anak tunagrahita berdampak pada keseluruhan
perilaku dan pribadinya, termasuk dalam pencapaian hasil belajarnya. Menurut
pendapat Schunk, Pintrich, dan Meece (2012:6) “Motivasi merupakan sebuah
63
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
proses diinisiasikannya dan dipertahankannya aktivitas yang diarahkan pada
pencapaian tujuan.” Ini berarti motivasi menyangkut berbagai tujuan yang
memberikan daya penggerak dan arah bagi tindakan. Mengawali pencapaian
sebuah tujuan merupakan sebuah proses penting dan sering kali sulit. Akan tetapi,
proses-proses motivasi seperti pengharapan, persepsi penyebab, emosi, dan afek
membantu invidu mengatasi kesulitan dan mempertahankan motivasi.
Menurut Slameto (2003:2) Belajar adalah “Suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.”
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi.
Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan
berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor
ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan
kegiatan belajar yang menarik (Uno, 2006).
Slameto (2010: 54) berpendapat bahwa ada tiga faktor yang dapat
mempengaruhi minat belajar, yakni faktor jasmani, faktor psikologis, dan faktor
kelelahan. Beberapa hal yang harus dikuasai anak tunagrahita dalam motivasi
belajar yaitu ketekunan belajar, keuletan dalam belajar, minat/perhatian dalam
belajar, tidak bosan belajar, belajar dan senang belajar. Berdasarkan keterbatasan
tersebut maka diperlukan pelayanan pendidikan khusus untuk mengembangkan
motivasi anak.
3.
Gambaran
hasil belajar anak tunagrahita ringan di SLB C YPAC
Semarang
Berdasarkan penelitian, menunjukan bahwa hasil belajar anak tunagrahita
ringan di SLB C YPAC Semarang rendah. Hal ini ditunjukkan dari penilaian hasil
belajar pada anak tunagrahita ringan yang hampir semua tidak mencapai Standar
Kelulusan Batas Minimum (SKBM) yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh
karena itu, sekolah tidak menentapkan SKBM (standar kelulusan batas minimum)
kepada siswa dengan alasan memperhatikan kemampuan yang dimiliki
64
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
siswa.Apabila SKBM ditetapkan sesuai aturan maka akan banyak siswa yang
tidak naik kelas sedangkan usia mereka sudah besar.
Ada keterkaitan langsung antara kemampuan intelektual dengan hasil
belajar pada anak. Menurut Edgar dalam Efendi (2006) mengatakan bahwa
sesorang dikatakan tunagrahita jika (1) secara sosial tidak cakap, (2) secara mental
di bawah anak normal sebayanya, (3) Kecerdasannya terhambat sejak lahir atau
pada usia muda dan (4) kematangannya terhambat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
tunagrahita adalah anak yang memiliki tingkat intelektual yang rendah yaitu
dibawah 70, karena ketunagrahitaanya tersebut berdampak pula pada keterbatasan
kecerdasannya, maupun keterlambatan dalam sosial, akademik dan tingkat
kematangan dari seorang anak tunagrahita.
Keterbatasan kecerdasan yang dimiliki anak tunagrahita menjadi kendala
utama dalam belajar. Materi pembelajaran bagi anak tunagrahita harus dirinci dan
sedapat mungkin dimulai dari hal-hal konkrit, mengingat mereka mengalami
keterbatasan dalam berfikir abstrak. Materi yang bersifat akademik juga diberikan
pada anak tunagrahita. Namun, hanya anak tunagrahita dengan kategori ringan
yang masih mendapatkan pembelajaran akademik di sekolah. Walaupun begitu,
mereka tetap memiliki kemampuan yang lebih rendah bila dibandingkan dengan
anak yang memiliki tingkat intelegensi normal atau diatas rata-rata.
4.
Model pembelajaran dengan pendekatan saintifik berbasis Ice Breaker
yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar bagi anak tunagrahita ringan.
Teknik pembelajaran Ice Breaker mengutamakan suasana belajarmengajar yang ceria, semangat, dan tidak membosankan yang dilakukan secara
individual dan kelompok. Memang, ice breaker ini biasanya dipakai pada saat
penataran atau diklat. Namun, ice breaker juga sangat baik diterapkan pada saat
proses pembelajaran.
Chlup and Collin (2009) berpendapat bahwa:
Icebreaker activities, as the name implies help "break the ice" in various
ways. They help group members get acquainted and begin conversations,
relieve inhibitions or tension between people, allowing those involved to
build trust with and feel more open to one another. Icebreakers encourage
65
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
participation by all, helping a sense of connection and shared focus to
develop.
Artinya adalah kegiatan Ice breaker, seperti namanya membantu "memecahkan
es" dalam berbagai cara. Mereka membantu anggota kelompok berkenalan dan
mulai percakapan, meredakan hambatan atau ketegangan antara orang-orang,
yang memungkinkan mereka yang terlibat untuk membangun kepercayaan dengan
dan merasa lebih terbuka satu sama lain. Ice breaker mendorong partisipasi dari
semua, membantu rasa saling membutuhkan dan mengembangkan kefokusan.
Penggunaan Ice breaker dalam pembelajaran dimaksudkan untuk
memecahkan kejenuhan dan kebosanan di saat pembelajaran tengah berlangsung.
Hal ini sesuai dengan fungsi Ice Breaker dalam pembelajaran menurut Pramudyo
(2007) yaitu:
a) Membuat anak saling mengenal dan akan menghilangkan jarak mental
sehingga suasana menjadi benar-benar rileks, cair dan mengalir,
b) Mengarahkan atau memfokuskan peserta pada topik pembahasan atau
pembicaraan,
c) Dapat digunakan sebagai daya pembangkit (energizer),
d) Menghidupkan anak. Hal ini terutama bila anak menunjukkan gejala
bosan, jenuh, capai atau mengantuk,
e) Memotivasi anak untuk melanjutkan pembelajaran berikutnya,
f) Membantu memahami masalah,
g) Mempercepat proses pembelajaran,
h) Membantu memahami orang lain.
5.
Model pembelajaran dengan pendekatan saintifik / berbasis ice breaker
efektif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar anak tunagrahita ringan.
Tujuan
utama
ice
breaker
dalam
pembelajaran
adalah
untuk
mengoptimalkan hasil belajar siswa. Dengan dilakukannya ice breaker motivasi
siswa menjadi tinggi, sehingga mempunyai rasa senang dalam mengikuti proses
pembelajaran. Oleh karena itu, penggunaan ice breaker dalam pembelajaran perlu
mempertimbangkan beberapa prinsip yaitu; efektivitas, motivate, sinkronized,
66
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
tidak berlebihan, tepat situasi, tidak mengandung unsur SARA, serta tidak
mengandung unsur pornografi.
Jenis ice breaker yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar anak
menurut Sunarto (2012:110) adalah:
a) Jenis Yel-yel
b) Jenis tepuk
c) Jenis lagu
d) Jenis game
e) Dan jenis cerita
Ice breaker dalam pembelajaran dapat dilakukan secara spontan, pada
awal pelajaran, inti proses pembelajaran, maupun pada akhir pembelajaran.
a) Penerapan ice breaker secara spontan dalam proses pembelajaran
Ice breaker dapat dilakukan secara spontan tanpa persiapan
sebelumnya. Seorang guru yang tanggap terhadap kondisi siswa tentu akan
segera mengambil tindakan terhadap kondisi dan situasi pembelajaran yang
kurang kondusif selama proses pembelajaran berlangsung. Ice breaker
diberikan spontan dalam pembelajaran dengan tujuan:
(1) Memusatkan perhatian siswa kembali
(2) Memberikan semangat baru pada saat siswa mencapai titik jenuh
(3) Mengalihkan perhatian terhadap fokus materi pelajaran yang berbeda
b) Ice breaker di awal kegiatan pembelajaran
Pada saat mengawali proses pembelajaran seorang guru harus
melaksanakan beberapa hal yang berkaitan dengan “kesiapan mental” anak
didik dalam mengikuti proses pembelajaran yang akan berlangsung. Dalam
rangka menyiapkan kondisi tersebutselain melakukan apersepsi, guru dapat
memulai proses pembelajaran dengan ice breaker. Kelebihan-kelebihan ice
breaker pada awal kegiatan pembelajaran adalah:
(1) Ice breaker dapat terpilih secara lebih tepat, baik dalam menyesuaikan
materi maupun ketepatan memilih prinsip penggunaan ice breaker
67
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
(2) Ada kesempatan bagi guru untuk belajar terhadap ice breaker yang
akan disampaikannya
(3) Ice breaker dapat dipersiapkan lebih sinkron dengan strategi
pembelajaran yang dipilih guru saat itu
(4) Ice breaker terasa lebih menyatu dengan proses pembelajaran
c) Ice breaker pada inti kegiatan pembelajaran
Pada kegiatan inti pembelajaran merupakan waktu yang krusial dimana
siswa harus terus memusatkan perhatiannya selama pembelajaran berlangsung.
Waktu yang begitu panjang untuk terus berkonsentrasi pada hal yang sama adalah
hal yang sangat sulit, untuk itu dibutuhkan ice breaker untuk memceahkan
kejenuhan tersebut. Penggunaan ice breaker pada inti pembelajaran dilakukan
dengan ketentuan-ketentuan berikut:
(1) Ice breaker digunakan pada saat pergantian sesi atau pergantian
kegiatan,
(2) Ice breaker digunakan pada saat anak mengalami kejenuhan atau
kebosanan pada saat belajar,
(3) Ice breaker digunakan untuk memberikan penguatan materi yang
sedang diberikan.
d) Ice breaker pada akhir kegiatan
Walaupun pelajaran sudah selesai ice breaker masih dianggap perlu. Ice
breaker diakhir pembelajaran berfungsi untuk :
(1) Memberikan penguatan tentang pemahaman konsep pelajaran yang
baru saja dilaksanakan,
(2) Mengakhiri kegiatan dengan penuh kegembiraan,
(3) Memotivasi siswa untuk selalu senang mengikuti pelajaran berikutnya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pembelajaran selama di lapangan telah
ditemukan masalah-masalah yaitu:
68
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
1.
Perbedaan tunagrahita dengan anak normal dalam proses belajar
adalah terletak pada hambatan dan amsalah atau karakteristik
belajarnya. Perbedaan karakteristik belajar anak tunagrahita dengan
anak sebayanya, anak tunagrahita mengalami masalah pada tingkat
kemahiran dalam memecahkan masalah, melakukan generalisasi dan
mentransfer sesuatu yang baru, minat dan perhatian terhadap
penyelesaian tugas.
2.
Model pembelajaran yang diberlakukan saat ini menggunakan
pembelajaran dengan pendekatan saintifik namun belum dimodifikasi
sesuai dengan kebutuhan khusus anak tunagrahita ringan.
3.
Karakteristik yang dimiliki oleh anak tunagrahita ringan, berdampak
pada rendahnya motivasi dan hasil belajar pada anak tunagrahita
ringan.
4.
Guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran dengan
pendekaan saintifik ini disebabkan kurangya pemahaman guru dalam
melaksanakan pembelajaran ini.
5.
Teknik
pembelajaran
Ice
Breaker
dapat
digunakan
untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada anak tunagrahita ringan.
Ice breaker mengutamakan suasana belajar-mengajar yang ceria,
semangat, dan tidak membosankan yang dilakukan secara individual
dan kelompok.
Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan dapat diperoleh
suatu kesimpulan sebagaimana telah diuraikan diatas, untuk itu peneliti
mengajukan beberapa saran yang mungkin bermanfaatkan bagi berbagai
pihak.
1.
Kepala Sekolah, dengan adanya penelitian ini hendaknya kepala
sekolah dapat memotivasi dan memfasilitasi guru – gurunya untuk
mengikuti pelatihan -pelatihan yang berkaitan dengan pembelajaran
69
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
saintifik ini sendiri. Baik itu tentang perencanaanya, pelaksanaan,
maupun penilaianya.
2.
Guru hendaknya bisa lebih aktif dalam mencari informasi yang
berkaitan dengan pembelajaran dengan pendekatan saintifik . Baik itu
aktif dalam mengikuti kegiatan yang dilaksanakan KKG, agar bisa
membahas secara bersama-sama bagaimana bentuk pelaksanaan
model pembelajaran tematik bagi siswa tunagrahita ringan di sekolahsekolah luar biasa yang ada.
3.
Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan
kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi
dirinya maupun masyarakat. Dalam hal ini peserta didik semestinya
menerima pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh
kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis,
dan menyenangkan.
4.
Pelaksanaan pembelajaran
memungkinkan peserta didik mendapat
pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan atau percepatan
sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik.
Pembelajaran dilaksanakan dalam suasana hubungan yang aktif,
inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, gembira, dan berbobot.
DAFTAR PUSTAKA
Chlup, Dominique; Tracy E. Collins. (2014).Breaking the Ice: Using Ice-Breakers
and Re-Energizers with Adult Learners. Adult Learning. Hal. 35A39A.https://learningtrendz.files.wordpress.com/2014/06/collins-chlupbreaking-the-ice.pdf
Deden. (2015). Penerapan Pendekatan Saintifik Dengan Menggunakan Model
Pembelajaran Inkuiri Pada Mata Pelajaran Ekonomi. Prosiding Seminar
Nasional 9 Mei 2015. Universitas Negeri Surabaya. 98-107.
Effendi, Mukhlison. (2006). Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Nadi Ofset.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Implementasi Kurikulum
2013. Jakarta: Depdikbud.
70
Jurnal Special Edu
ISSN: 2541-3953
2016. Vol. 1 No. 1
Mulyasa. (2014). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:
Remaja Rosdakarya Offset.
Nasution. 2003. Metode Research, Jakarta : PT. Bumi Aksara
Sardiman. (2012). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo
Persada: Jakarta.
Schunk, Dale; Paul, R; Judith, L. (2012). Motivasi dalam Pendidikan. Jakarta:
Indeks.
Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Sumayasa, I Nyoman; A.A.I.N.Marhaeni; Nyoman Dantes. (2015). Pengaruh
Implementasi Pendekatan Saintifik Terhadap Motivasi Belajar Dan Hasil
Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas Vi Di Sekolah Dasar Se Gugus
Vi Kecamatan Abang, Karangasem. e- Journal Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Ganesha Program Studi Pendidikan Dasar. Volume
5. hal 1-11.
Sunarto.(2012).Ice breaker Dalam Pembelajaran Aktif. Cakrawala Media:
Surakarta.
Sutopo. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS.
Uno, H. B. (2006). Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi
Aksara.
71
SPECIAL EDU . Jurnal Pendidikan Khusus
Dewi Ekasari Kusumastuti, Zaenal Alimin
Kemampuan Membaca Pemahaman Pada Anak Dengan Hambatan
Pendengaran Kelas 4 Di SLB-B Prima Bakti Mulya
1-13
Elfa Adila
Program Pembelajaran Membaca Permulaan Untuk Mengakomodasi
Siswa Kelas II Dengan Kesulitan Membaca Permulaan di Sekolah
Dasar
27-37
Asrori Ahmad, Amanah , Suratmi Rachmat , Sri Rezeki Sulantina
Kursi Roda Kerja Untuk Bapak X (individu dengan hambatan fisik)
38-44
Nurian Anggraini, Dwi Aris Himawanto, Abdul Salim
Pelaksanaan Pembelajaran Agama Islam Materi Sholat Bagi Anak
Tunagrahita di SLB Sukoharjo
45-55
Wahyu Agus Setyani
Model Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik Berbasis Ice
Breaker Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Anak
Tunagrahita Ringan Di SLB C YPAC Semarang.
56-71
November-Desember 2016
14-26
Volume. 1 Nomor. 1 Hal. 1-71
Dieni Laylatul Zakia, Sunardi, Sri Yamtinah
Profil Pelaksanaan Pembelajaran Bagi Anak Tunarungu Di SLB
Kabupaten Sukoharjo
Download