12 Komunikasi Politik Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul

advertisement
Komunikasi Politik Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul
(Studi Kasus Pilkada Lebak 2013)
Abdul Malik
FISIP Universitas Serang Raya
Jalan Raya Serang-Cilegon Km.5 Taman Drangong Serang Banten Tel. (254) 8235008
Email: [email protected]
Abstract
Election of pair Iti Oktavia Jayabaya-Ade Sumardi in the local elections in 2013 as the Regent of Lebak
not be separated from the pro-indigenous Kesepuhan Banten Kidul offerings. In the election this pair gain
significant votes from the pockets of indigenous peoples. Siding with indigenous groups to partner Iti-Ade
is inseparable from the processes of political communication in which intertwined lobbying and
negotiating. This study aims to gain an overview of the things underlying the indigenous peoples to
establish the lobby and the implications of the lobby and the post-election negotiations. The theory used in
this study is the theory of political communication, lobbying and negosiation with qualitative approach
and case study method. This research has resulted in findings; first, political communication undertaken
by indigenous peoples is based on the problem of existence as a result of residential land tenure and
livelihood by the manager Region Mist Mountain Salak National Park (TNGHS). Second, to regain their
existence to establish political communication in the form of lobbying and negotiations with the political
forces that advanced in the elections lebak 2013. Third, the processes of political communication in the
form of lobbying and negotiations have brought victory couples Iti-Ade in the elections of 2013 and
implications for the publication Regional Regulation (Perda) on indigenous peoples.
Keywords: Kasepuhan Banten Kidul, Political Communication, Indigenous People
PENDAHULUAN
Bintang, dan pasangan independen H. Pepep
Latar Belakang
Faisaludin-Aang Rasidi (Panglima).
Pemilihan
kepala
daerah
(Pilkada)
Pasangan
IDE,
baik
pada
pemilihan
Kabupaten Lebak tahun 2013 telah menjadikan
pertama yang kemudian dianulir oleh Mahkamah
pasangan Iti Oktavia Jayabaya dan Ade Sumardi
Konstitusi (MK), maupun pada pemilihan ulang,
sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih. Pilkada
berhasil meraih kemenangan dengan suara mutlak.
Lebak 2013 diikuti oleh tiga pasangan calon, yakni
Namun, di balik proses terpilihnya pasangan IDE
pasangan Iti Oktavia Jaya Baya - Ade Sumardi
tersebut ada fakta menarik yang tidak banyak
(IDE) yang didukung oleh koalisi delapan partai
terungkap ke publik. Bahwa kemenangan mutlak
politik,
PDI
pasangan Iti-Ade yang didukung oleh koalisi
Perjuangan, PKS, Partai Hanura, Partai Gerindra,
sejumlah partai itu tidak terlepas dari pemihakan
PPP, dan PPD. Dua pasangan lainnya adalah
masyarakat
pasangan H. Amir Hamzah-Kasmin (HAK) yang
Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum
diusung oleh Partai Golkar dan Partai Bulan
(KPU) Kabupaten Lebak, dari sekitar 900 ribuan
yakni
Partai
Demokrat,
PKB,
12
adat
Kasepuhan
Banten
Kidul.
13 Scientium, Volume 3, No. 5, Desember 2016:12-26
pemilik hak suara dalam Pilkada Lebak 2013,
Ciptagelar-Sinarresmi-Ciptamulya sendiri sebagian
sebanyak 30 persennya adalah pemilik suara yang
wilayahnya masuk ke dalam wilayah administrasi
berasal dari masyarakat kasepuhan.
Kabupaten Lebak, namun sebagian lagi masuk ke
Masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul
dalam wilayah administrasi Kabupaten Sukabumi.
tinggal dan tersebar di wilayah Kabupaten Lebak
Adanya
pemihakan
masyarakat
adat
di Provinsi Banten, Sukabumi, dan Bogor di
terhadap pasangan IDE sejatinya tidak terlepas dari
Provinsi Jawa Barat. Mereka adalah komunitas
proses-proses komunikasi politik, terutama antara
yang menamakan diri sebagai Komunitas Adat
masyarakat adat yang direpresentasikan oleh tokoh
Kasepuhan atau disebut juga Kaolotan Banten
dan sesepuh adat yang tergabung dalam Satuan
Kidul, yang memiliki kesamaan, antara lain pada
Adat Banten Kidul (SABAKI) dengan pihak
aspek kesejarahan di mana mereka berasal dari
keluarga Mulyadi Jayabaya selaku orang tua Iti
suku dan budaya yang sama, yakni
Oktavia
suku dan
Jayabaya
dan
dengan
partai-partai
budaya Sunda, termasuk keturunan yang sama
pendukungnya. Sebagaimana diketahui bahwa
(incu putu).
komunikasi
Berdasarkan
dalam
rangka
memperoleh konsensus. Demikian pula halnya
komunitas
dengan komunikasi politik yang dilakukan oleh
Kasepuhan yang mendiami wilayah Gunung
masyarakat adat. Dalam komunikasi itu terjalin
Halimun di Kabupaten Lebak. Jumlah total
lobi dan negosiasi antar-mereka. Kajian ini
Kasepuhan yang mendiami 3 kabupaten (Lebak,
bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang
Sukabumi dan Bogor) adalah 67 komunitas. Luas
hal-hal yang melatarbelakangi masyarakat adat
wilayah adat Kasepuhan mencapai 20 kali luas
menjalin lobi dan negosiasi dengan kekuatan
wilayah Baduy. Saat ini luas wilayah Kasepuhan
politik di Kabupaten Lebak dalam Pilkada 2013,
yang
proses lobi dan negosiasi, dan implikasi dari lobi
(RMI),
sudah
Rimbawan
dilakukan
Muda
Indonesia
data
politik
terdapat
terpetakan
57
melalui
pemetaan
partisipatif adalah 21.059,204 hektar. Dari luas
dan negosiasi pasca Pilkada Lebak 2013.
wilayah tersebut, sebagian beririsan dengan hutan
konservasi,
yaitu
Taman
Nasional
Gunung
Landasan Teori
Halimun Salak (TNGHS), sebagian lain beririsan
McNair (2007: 4) menyatakan komunikasi
dengan hutan produksi dan fungsi-fungsi lainnya.
politik adalah semua bentuk komunikasi yang
Hasil dari pemetaan partisipatif yang dilakukan
dilakukan oleh politisi dan aktor politik lain untuk
masyarakat
mencapai tujuan-tujuan tertentu. McNair (2007: 6)
menunjukkan
bahwa
14.138,045
hektar, atau 67%, dari 8 kasepuhan di Kabupaten
kemudian
mengkategorikan aktor politik dalam
Lebak yang telah dipetakan beririsan dengan
tiga kategori, yakni individu yang tergabung dalam
fungsi konservasi TNGHS. Kasepuhan-kasepuhan
organisasi politik (terdiri dari partai politik,
ini adalah Kasepuhan Cirompang, Kasepuhan
organisasi
Karang, Kasepuhan Sindang Agung, Kasepuhan
organisasi teroris, dan lembaga pemerintahan),
Pasir Eurih, Kasepuhan Cibedug, Kasepuhan
media massa, dan warga masyarakat. Sesuai
Citorek dan Kasepuhan Cibarani. Kasepuhan
definisi tersebut, maka para tokoh atau elit dari
masyarakat,
kelompok
penekan
Komunikasi Politik Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul
(Studi Kasus Pilkada Lebak 2013), (Malik)
14
masyarakat adat yang tergabung dalam organisasi
influence government and its institutions by
seperti Satuan Adat Banten Kidul (SABAKI)
informing the public policy agenda. It is also, of
merupakan aktor politik.
course, the art of political persuasion. Lobi
Dalam
konteks
politik,
keberadaan
sebagaimana dikemukakan Grunig
Hunt
organisasi yang mewadahi kepentingan masyarakat
(dalam
adat seperti SABAKI, dapat dipahami sebagai
ditujukan
bagian
organisasi-organisasi lain, berbagai kepentingan
dari
kelompok
kepentingan
(interest
Oleh McNair (2007: 6) kelompok
group).
kepentingan
seperti
ini
diistilahkan
sebagai
organisasi masyarakat. Miriam Budiardjo (2008:
Partao,
dan
untuk
2006:23) antara lain biasa
membangun
koalisi
dan tujuan-tujuan
untuk
bersama
memengaruhi
dalam
melakukan
dengan
usaha
wakil-wakil
legislatif.
382-383) menyebut komunikasi politik yang
David Oliver (dalam Heryanto & Rumaru,
dilakukan oleh kelompok kepentingan sebagai
2013:
bentuk dari partisipasi politik. Menurutnya, salah
transaksi di mana kedua pihak mempunyai veto
satu sebab kemunculan kelompok kepentingan ini
atas hasil akhir. Untuk mencapainya diperlukan
adalah suara satu orang seperti dalam pemilu
persetujuan dua belah pihak. Tujuan dari negosiasi
sangat
antara lain (Heryanto dan Rumaru, 2013: 1)
kecil pengaruhnya. Melalui kegiatan
menggabungkan
merupakan
diharapkan tuntutan mereka akan lebih didengar
yang di dalamnya terkandung kesamaan persepsi,
oleh pemerintah. Adapun tujuan dari kelompok ini
saling pengertian dan persetujuan, tercapainya
adalah untuk memengaruhi kebijakan pemerintah
kondisi penyelesaian (solutions) atau jalan keluar
agar
menguntungkan
dan
Howard
Budiardjo, 2008: 383)
satu
negosiasi
tercapainya kata sepakat (gentlement agreement)
Ethridge
dalam
menyebut
kelompok
lebih
diri
105)
mereka.
Marcus
(way out) atas masalah yang dihadapi bersama, dan
Handelman
(dalam
tercapainya kondisi saling menguntungkan, di
menyebut kelompok
mana masing-masing pihak merasa “menang”
kepentingan sebagai organisasi yang berusaha
(win-win).
untuk memengaruhi kebijakan publik dalam satu
bidang yang penting untuk anggota-anggotanya.
Kajian Terdahulu
Proses-proses komunikasi politik tidaklah
terlepas dari lobi dan negosiasi. Berridge
Keterlibatan
masyarakat
adat
dalam
and
dinamika politik di tanah air telah lama menjadi
menyebut lobi sebagai
kajian dalam perspektif komunikasi politik. Di
“applying pressure on those with legislative
antaranya dilakukan M. Najib Husain (2012)
and executive authority to obtain a decision
berjudul
favourable to one’s cause.” Sedangkan Lionel
Mempertahankan Sebuah Adat Istiadat: Sebuah
Zetter dalam bukunya Lobbying, the Art of
Upaya Komunikasi Politik dan Diplomasi Berbasis
Political Persuasion (2008:3) menyebut lobi
Kearifan Lokal dari Masyarakat Desa Lapandewa
sebagai sebuah keahlian sekaligus sebagai seni. Ia
Sulawesi Tenggara. Kajian ini mengungkap peran
menyatakan lobbying is the process of seeking to
penting
James
(2003:167)
Menolak
parabela
Pemekaran
sebagai
pemimpin
untuk
adat
15 Scientium, Volume 3, No. 5, Desember 2016:12-26
masyarakat di Buton dalam membangun harmoni
Penelitian ini menggunakan pendekatan
di masyarakat, baik dalam bidang pemerintahan,
kualitatif.
sosial, ekonomi maupun kesehatan. Namun, peran-
“Pendekatan
peran tersebut mulai terkikis seiring dengan
penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada
diberlakukannya Otonomi Daerah. Kajian lain
metodologi yang menyelidiki suatu fenomena
dilakukan oleh Fransiskus Xav Ndiwa (2009)
sosial dan masalah manusia”. Analisis data dalam
tentang Lembaga adat, Opinion Leader dalam
penelitian ini menggunakan studi kasus dalam
Pembangunan Politik Lokal, Studi Kasus Peranan
bentuk desain kasus tunggal, yakni peneliti
Lembaga Adat dan Mosadaki sebagai Opinion
mengumpulkan
Leader dalam Pembangunan Politik Lokal di
pertanyaan yang terlebih dahulu ditentukan (Yin,
Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
2006). Dalam pendekatan rumpun kualitatif,
Penelitian ini menjelaskan bahwa dalam proses
langkah-langkah studi kasus untuk pengumpulan
pembangunan,
data
pemerintah
daerah
belum
tidak
Cresswell
(1998:
kualitatif
adalah
data
terlepas
15)
terarah
dari
ciri
menyatakan
suatu
proses
berdasarkan
umum
yang
mengakomodir peran dari lembaga adat dan
ditampilkan dalam penelitian kualitatif. Data dalam
mosadaki. Ini nampak dari belum adanya perda
konteks penelitian ini
yang mengatur dan merevitalisasi peranan lembaga
primer dan sekunder. Sumber primer adalah suatu
adat dan mosadaki tersebut. Akibatnya, nilai-nilai
objek ataupun dokumen asli yang berupa material
vital adat belum terakomodir dalam sistem
mentah dari pelaku utamanya yang disebut sebagai
pemerintahan daerah.
first-hand
Dua
yang
mengupas tentang peran dan keterlibatan adat
situasi langsung yang aktual ketika suatu peristiwa
dalam komunikasi politik. Komunikasi politik
itu terjadi (Silalahi, 2006:266), baik berdasarkan
yang dilakukan terkait dengan persoalan eksistensi.
hasil wawancara maupun observasi.
tentang
Sumber data yang kedua adalah sumber
komunikasi politik masyarakat adat Kasepuhan
data sekunder dimana data yang dikumpulkan ini
Banten Kidul. Hal yang membedakan penelitian ini
berasal dari tangan kedua atau sumber-sumber lain
dengan dua penelitian tersebut adalah pada peran
yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan
komunikasi politik yang jauh lebih luas, yakni
(Silalahi, 2006:266). Untuk penentuan informan
dalam dinamika dan kontestasi pemilihan kepala
dalam penelitian ini maka teknik yang digunakan
daerah.
yang
adalah purposive sampling, yakni berdasarkan
dilakukan sebagai bentuk bargaining adat terhadap
tujuan yang hendak dicapai oleh peneliti. Analisis
kekuatan politik dalam upaya memperjuangkan
data dilakukan berdasarkan tiga alur kegiatan yang
eksistensi. Sedangkan kajian komunikasi politik
terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data,
pada dua penelitian sebelumnya lebih bersifat
penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau
mikro.
klarifikasi. Dalam reduksi data ini terdapat proses
Di
mana
dengan
atas
Data-data
dikumpulkan di sumber primer ini berasal dari
juga
di
information.
sama-sama
Demikian
penelitian
terbagi atas sumber data
penelitian
komunikasi
politik
pemilihan, penyederhanaan, pengabstraksian dan
METODE
transformasi data kasar yang muncul dari catatan-
16
Komunikasi Politik Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul
(Studi Kasus Pilkada Lebak 2013), (Malik)
catatan tertulis yang ada di lapangan (Silalahi,
yang berkonflik itu diperebutkan oleh masyarakat
2006:312).
dan Perum Perhutani. Kemudian 41% konflik
terjadi
antara
masyarakat
dengan
Taman
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Nasional/Kementerian Kehutanan. Sisanya konflik
Persoalan yang Melatarbelakangi Lobi dan
antarmasyarakat sendiri. Permasalahan tata batas
Negosiasi
yang tidak jelas serta ketiadaan pengakuan
Masyarakat adat yang tergabung dalam
terhadap hak-hak masyarakat kasepuhan yang
Satuan Adat Banten Kidul (SABAKI) berada di
melakukan
wilayah Provinsi Jawa Barat dan Banten. Pada
(ngahuma) menjadi pemicu konflik terbesar di
2003
RI
Kawasan Halimun, yang berujung, misalnya, pada
mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang
kasus pengusiran dan pembakaran rumah gubuk
perluasan kawasan Taman Nasional Gunung
tempat warga berladang oleh oknum petugas
Halimun Salak No.175/Kpts-II/2003, dari 40.000
berwenang, karena lahan yang digarap warga adat
ha
itu dianggap lahan milik pemerintah.
yang
lalu,
Menteri
menjadi 113.357 ha.
Kehutanan
Konsekuensi atas
perluasan ini adalah sebagian besar area yang
praktik
perladangan
tradisional
Dalam menghadapi problem eksistensi
didiami oleh komunitas adat masuk ke dalam
akibat
kawasan TNGHS.
masyarakat kasepuhan tidak tinggal diam. Mereka
Pasca
oleh
TNGHS,
melakukan berbagai upaya penyelesaian. Sebagai
kawasan TNGHS melakukan pematokan batas
contoh, pada Rabu 25 April 2007, sebanyak
kawasan sehingga menuai protes dari kalangan
sembilan tokoh adat kesepuhan yang tergabung
masyarakat adat yang berdiam di dalam maupun di
dalam organisasi SABAKI meminta perlindungan
sekitar kawasan. Berdasarkan data Epistema
Bupati. Upaya ini membawa dampak positif seiring
sebanyak
41
SK,
wilayah
pengelola
Institute,
dikeluarkannya
penguasaan
komunitas
adat
kasepuhan di 10 kecamatan di Lebak berbatasan
langsung dengan TNGHS. Sembilan di antaranya
masuk TNGHS. Di dalam area taman nasional
tersebut terdapat 1.119 hektar pemukiman yang
dihuni oleh 25.629 keluarga atau 112.664 jiwa,
terdapat sebanyak 44 gedung pemerintahan, 21
sarana kesehatan, 176 sarana pendidikan, 312
sarana keagamaan, dan 1.002 unit industri kecil.
Luas garapan warga 19.036 hektar terdiri dari
11.898 hektar sawah, 5.086 hektar kebun, 1.020
hektar ladang, lima hektar kolam, dan 1.028 hektar
hutan hak. Di kawasan Halimun saja setidaknya
telah terjadi 26 konflik. Seluas 55% dari wilayah
dengan keberpihakan bupati kepada masyarakat
adat. Dalam pernyataannya bupati mengatakan:
"Kami menginginkan pihak TN
Gunung Halimun-Salak, mengkaji dan
menetapkan tapal batas yang jelas
antara kawasan yang dilindungi dan
kawasan ulayat. Masyarakat adat di
sekitar kawasan TN Gunung Halimun
itu sudah ada sebelum gunung itu
ditetapkan sebagai kawasan taman
nasional. Saya tentu akan memihak
kepentingan rakyat, karena selama ini
saya menilai tidak ada kejelasan,
terkesan pengelola TN Gunung
Halimun memperluas arealnya dan
merebut tanah ulayat."
Penolakan Bupati tidak hanya didasarkan
oleh desakan dari masyarakat adat, tetapi juga
17 Scientium, Volume 3, No. 5, Desember 2016:12-26
menyangkut persoalan kewibawaan Pemerintah
kenyataan.
Kabupaten Lebak yang sama-sama dirugikan
Bersamaan dengan itu, masyarakat adat
akibat ekspansi kewilayahan tersebut. Sebab,
melalui
dengan adanya perluasan TNGHS dari 40 ribu
perwakilan masyarakat Kasepuhan Cisitu bersama
hektar menjadi 113 ribu ribu hektar mengharuskan
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan
Pemerintah
perwakilan masyarakat adat Kenegerian Kuntu,
Kabupaten
Lebak
memberikan
organisasi
oleh TNGHS. Akibatnya, 44 desa yang berada di
permohonan peninjauan kembali (judicial review)
10 kecamatan yang berada di kawasan tersebut
atas UU No. 41 Tahun 1999
dinyatakan masuk ke dalam perluasan TNGHS.
Konstitusi (MK). Hasilnya, pada 16 Mei 2013,
Padahal, di dalam kawasan perluasan itu terdapat
melalui putusan atas perkara Nomor 35/PUU-
11 ribu ha lahan garapan masyarakat, 1.118 ha
X/2012 (selanjutnya disebut Putusan MK 35), MK
pemukiman, 44 unit sarana pemerintahan, 21 unit
menetapkan
sarana kesehatan, 176 unit sarana pendidikan dan
diklasifikasikan sebagai hutan negara. Putusan MK
1,002 unit industri kecil dan 112,664 jiwa (25,629
tmenyebutkan bahwa hutan adat bukan lagi bagian
KK) warga tinggal di dalamnya.
dari hutan negara, melainkan bagian dari hutan hak
bahwa
2012,
hutan
mengajukan
ke Mahkamah
adat
tidak
lagi
tidak
(Pasal 5 ayat (1)). Hutan adat adalah hutan yang
berhenti hanya pada tuntutan penolakan, tetapi juga
berada dalam wilayah masyarakat hukum adat
meminta bupati melakukan langkah lebih konkret.
(Pasal 1 angka 6). Hutan adat ditetapkan sepanjang
Hasilnya, bupati didukung DPRD menyampaikan
menurut kenyataannya masyarakat hukum adat
surat keberatan atas dikeluarkannya SK Kemenhut
yang
kepada
keberadaannya (Pasal 5 ayat (3) (Mia Siscawati,
pemerintah
kasepuhan
Maret
oleh
Riau,
masyarakat
19
diwakili
wilayahnya seluas 42.925,15 ha untuk dikelola
Upaya
pada
SABAKI
pusat.
Dalam
suratnya,
bersangkutan
ada
2012, Bupati meminta agar Menteri Kehutanan
masyarakat
segera
memanfaatkan kawasan hutan (TNGHS) untuk
Keputusan
Menteri
adat
secara
tentang Perluasan Kawasan Taman Nasional
menganulir
Gunung
Bersama
Namun, putusan MK tidak serta merta membuat
perwakilan masyarakat kasepuhan Bupati juga
mereka lega. Pasalnya, pasca keputusan pun masih
bertemu langsung dengan Menteri Kehutanan
terjadi silang sengkarut antara adat dengan
(Menhut) Zulkifli Hasan termasuk dengan komisi
pengelola TNGHS.
II DPR RI.
(TNGHS).
Menurut Bupati, Menhut Zulkifli
Pasca
Menhut
keluarnya
dengan
leluasa
kepentingan
SK
dan
seharusnya
Kehutanan (Menhut) Nomor 175 Tahun 2003
Halimun-Salak
mereka,
dapat
itu
diakui
2014).
Surat
keputusan
dan
sebagaimana dilansir tempo.co edisi 1 Oktober
merevisi
Dengan
masih
sendirinya
No.175/Kpts-II/2003.
keputusan
MK,
Hasan sempat merespon positif surat penolakan
masyarakat kasepuhan semakin intens melakukan
yang dibuat oleh Pemkab Lebak dan berjanji akan
upaya
segera merevisi SK tentang perluasan kawasan
menyampaikan tuntutan pengakuan secara hukum
TNGHS (Suara Pembaruan, Senin, 1 Oktober
atas keberadaan masyarakat adat Banten Kidul
2012). Namun, janji tersebut tidak pernah menjadi
dalam bentuk perda. Pada 26-28 Maret 2013,
penyelesaian
sengketa,
terutama
18
Komunikasi Politik Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul
(Studi Kasus Pilkada Lebak 2013), (Malik)
SABAKI bekerjasama dengan Rimbawan Muda
kemungkinan, warisan nenek moyang
ini akan punah tergerus perkembangan
zaman”.
Indonesia (RMI) menggelar pertemuan yang
dihadiri oleh perwakilan 18 kasepuhan dari
Kabupaten Lebak, Sukabumi dan Bogor di Aula
Lobi dan Negosiasi dengan Kekuatan Politik
DPRD Kabupaten Lebak. Pada pertemuan itu
Upaya dan perjuangan masyarakat adat
SABAKI secara tegas
menolak SK Kemenhut
dalam memperoleh perlindungan dan kepastian
No.175/Kpts-II/2003
sekaligus
mendesak
hukum
Lebak
memberikan
Pemerintah
Kabupaten
menemukan
momentumnya
dalam
perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada)
pengakuan hukum agar hak-hak masyarakat adat
Kabupaten
tidak diambil paksa oleh Kemenhut lewat program
dimanfaatkan oleh masyarakat kasepuhan untuk
perluasan TNGHS.
menjalin komunikasi politik berupa lobi dan
Upaya
agar
pemerintah
memberikan
pengakuan
keberadaan
masyarakat
secara
daerah
hukum
kasepuhan
Lebak
2013.
Momentum
ini
negosiasi dengan kekuatan politik di Lebak.
atas
Salah satu pihak yang dilobi adalah
sebagai
Mulyadi Jayabaya, Bupati sekaligus tokoh politik
masyarakat adat yang berhak mengelola dan
yang
memanfaatkan wilayah yang telah diklaim sebagai
Kabupaten Lebak. Dari serangkaian lobi dan
kawasan
negosiasi
TNGHS,
dilakukan
pula
dengan
memiliki
itu
pengaruh
terjalin
di
kesepakatan
bahwa
masyarakat
kasepuhan Cisungsang, misalnya, dalam pidatonya
kepemimpinan Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya
pada seren taun 2012 ketua adat Abah Usep
dan berkomitmen mendukung pencalonan Iti
Suyatma
pelestarian
Oktavia Jayabaya, putri dari Mulyadi Jayabaya,
Menurutnya,
sebagai Bupati berikutnya. Sedangkan Bupati
budaya
masyarakat
pentingnya
kasepuhan.
Mulyadi
terus
wilayah
memanfaatkan kegiatan adat seren taun. Di
menyatakan
kasepuhan
besar
Jayabaya
mendukung
pelestarian budaya di seluruh kampung adat
Lebak
berjanji
segera
kasepuhan Banten Kidul tak akan bisa terlaksana
mengeluarkan pengakuan hukum atas keberadaan
tanpa bantuan pemerintah.
masyarakat adat. Hasilnya, pada tanggal 22
Desakan serupa disampaikan Abah Usep
Agustus 2013 Bupati menerbitkan Surat Keputusan
pada seren taun 2013. Ia meminta Pemerintah
(SK) pengakuan atas keberadaan masyarakat adat
Kabupaten Lebak membuat Peraturan Daerah
Kasepuhan Banten Kidul. Melalui Surat Keputusan
(Perda) tentang perlindungan dan hukum adat.
No.
“Atas nama masyarakat adat, saya
meminta kepada Pemkab Lebak segera
menerbitkan
Perda
tentang
perlindungan dan hukum adat. Ini agar
keberadaan kami selain benar-benar
diakui sesuai yang diamanatkan oleh
konstitusi kita juga untuk menjaga
kelestarian budaya dan tradisi adat.
Jika tidak ada Perda tersebut sebagai
bentuk perlindungan dan perhatian
dari pemeritah, tidak menutup
430/Kep.
298/Disdikbud/2013,
Bupati
mengakui keberadaan masyarakat adat di wilayah
Kesatuan Adat Banten Kidul di wilayah Kabupaten
Lebak. Namun SK tersebut dianggap kurang
memberikan kepastian hukum karena di dalamnya
tidak dijelaskan secara detil kewajiban dan hak
warga
adat
di
sekitar
TNGHS.
Sehingga
masyarakat kembali melakukan konsolidasi untuk
19 Scientium, Volume 3, No. 5, Desember 2016:12-26
menuntut terbitnya Peraturan Daerah (Perda)
selama dua periode berturut-turut, yakni periode
tentang masyarakat
2003-2008 dan periode 2008-2013. Kedekatan dan
adat yang dinilai lebih
memiliki kepastian dan kekuatan hukum.
dukungan yang diberikan oleh pihak kasepuhan
Tuntutan lahirnya Perda adat terus bergulir
kepada Mulyadi Jayabaya tidak terlepas dari
hingga mendekati masa Pilkada Lebak 2013.
komitmen antar-mereka. Yakni tentang komitmen
Masyarakat kasepuhan semakin intens menjalin
Mulyadi
komunikasi
kandidat
Karenanya, pada era Jayabayalah komunitas adat
Bupati/Wakil Bupati Lebak. Namun karena sejak
Kasepuhan Banten Kidul memperoleh semacam
awal telah memiliki komitmen mendukung Iti
legitimasi seiring dengan dikeluarkannya Surat
Oktavia Jayabaya sebagai Bupati Lebak dan
Keputusan (SK) Bupati Lebak tentang Komunitas
hubungan kedekatan yang telah terjalin sejak lama
Adat Kasepuhan Banten Kidul. Di zaman Jayabaya
dengan keluarga Mulyadi Jayabaya, masyarakat
pula
adat melalui tokoh dan sesepuhnya yang aktif di
terutama terkait dengan keberadaannya di kawasan
partai politik melakukan lobi dan negosiasi dengan
TNGHS. Pemkab Lebak tak henti memprotes
kekuatan politik tersebut.
keputusan Menteri Kehutanan RI tentang perluasan
politik
Tentang
dibenarkan
dengan
hubungan
oleh
Ucuy
para
kedekatan
Mashuri,
tersebut
ketua
tim
Pemenangan Iti Oktavia Jayabaya.
Jayabaya
komunitas
adat
memperjuangkan
merasa
adat.
diperjuangkan
kawasan TNGHS yang dinilai tanpa melakukan
koordinasi sehingga tidak saja merugikan dan
mengancam keberadaan komunitas adat tetapi
“Jadi sebenarnya kalau saya melihat
Pak Mulyadi ngarahin Ibu Hajah Iti
untuk ketemu tokoh-tokoh adat, karena
mungkin salah satu tokoh adat taunya
ke JB(Jayabaya)nya, JB dalam konteks
anak Jaro Datuk bukan dalam konteks
bupatinya. Kemudian mereka bersedia
untuk mendukung Hajah Iti karena
secara adat dekat dengan Abah Datuk.
Artinya ada keterkaitan sejarah yang
sangat kuat” (wawancara pada 28
April 2015)
secara umum juga dianggap merugikan daerah.
Komitmen untuk terus memperjuangkan
kepentingan adat kemudian dilanjutkan Iti Oktavia
Jayabaya-Ade Sumardi. Menurut Ucuy:
“Perda adat sedang kita dorong, itu
salah satu bentuk komitmen politik
pasangan calon bupati dan wakil
bupati yang sekarang terpilih. Perda
adat
ini
bentuk
komitmen
kepemimpinan daerah saat ini”
(wawancara pada 27 April 2015)
Bahkan jauh sebelum Pilkada masyarakat
kasepuhan telah memberikan dukungan dan terlibat
aktif dalam pemenangan Iti pada Pemilu 2009 lalu,
sebagai anggota DPR RI dari Partai Demokrat.
Hasilnya, di wilayah selatan Lebak terutama di
kawasan adat Iti meraih lebih dari 60 persen suara
hingga melanggengkan jalannya ke Senayan.
Menurut Ucuy, masyarakat kasepuhan juga punya
kontribusi
besar
bagi
kemenangan
Mulyadi
Jayabaya saat terpilih menjadi Bupati Lebak
Dukungan
masyarakat
adat
terhadap
pencalonan Iti Oktavia Jayabaya juga disertai oleh
lobi dan negosiasi melalui pengajuan Ade Sumardi
sebagai calon wakil bupati yang berasal dari warga
kasepuhan. Ade Sumardi adalah tokoh kasepuhan
Citorek yang juga ketua DPC PDI Perjuangan
sekaligus
ketua
DPRD
Lebak.
Dengan
diajukannya Ade Sumardi sebagai calon wakil
bupati, masyarakat adat selain memiliki wakil di
Komunikasi Politik Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul
(Studi Kasus Pilkada Lebak 2013), (Malik)
20
pemerintahan, mereka berharap tuntutan lahirnya
sangat wajar, karena di satu sisi pasangan IDE
Perda adat akan mendekati kenyataan. Pengajuan
membutuhkan dukungan masyarakat kasepuhan
tokoh adat ini akhirnya disepakati, sehingga pada
untuk memperoleh sebanyak-banyaknya suara, di
Pilkada 2013 tersebut Iti Oktavia Jayabaya
sisi lain para sesepuh adat juga membutuhkan
berpasangan Ade Sumardi.
perhatian dan pengakuan atas keberadaan adat.
Diterimanya
Ade
Sumardi
sebagai
pasangan Iti Oktavia cukup beralasan. Karena di
banding sosok lain, Ade Sumardi yang berasal dari
PDI Perjuangan dinilai memiliki kantung-kantung
suara di wilayah adat. Sedangkan suara adat di
wilayah Kabupaten Lebak cukup signifikan untuk
memenangkan Pilkada.
Alasan
ini
Secara
diamini
oleh
Ketua
Tim
Pemenangan Iti Ade (IDE) Ucuy Mashuri.
PKB,
Penyelesaian
Konsolidasi
Konflik
Tenurial
di
Kawasan
politik tersebut disampaikan Ketua Satuan Adat
PDI
H. Amir Hamzah-Kasmin (HAK) yang diusung
oleh Partai Golkar dan Partai Bulan Bintang, dan
pasangan independen H. Pepep Faisaludin-Aang
Banten Kidul (Sabaki) saat itu, Uwa Ugis Suganda,
didampingi Junaedi Ibnu Jatra, Ketua Sabaki
Lebak Kaler, dan Ketua Sabaki Lebak Kidul Agus
Suhendra. Menurut mereka, dukungan dilandasi
karena selama ini baik Iti Oktavia Jayabaya
maupun Ade Sumardi memiliki peran sangat kuat
dalam memperjuangkan hak-hak adat.
Pencalonan pasangan IDE sebagai bupati
dan wakil bupati Lebak dalam Pilkada 2013 yang
didukung oleh masyarakat Kasepuhan Banten
Rasidi (Panglima).
Adanya dukungan politik dari masyarakat
terhadap
pencalonan
Iti
Oktavia
Jayabaya sebagai hasil dari proses lobi dan
dinilai
dan
Lebak, Rabu, 27 Maret 2013. Pernyataan hak
PPP, dan PPD. Dua pasangan lain adalah pasangan
negosiasi
Semiloka
Halimun-Salak, di ruangan paripurna DPRD
Perjuangan, PKS, Partai Hanura, Partai Gerindra,
kasepuhan
kegiatan
"Membaca Bentuk-bentuk Pilihan Hukum, Upaya
Ade) ini resmi diusung oleh koalisi delapan partai
Demokrat,
masyarakat
Masyarakat Adat Banten Kidul dengan tema.
pasangan yang dikenal dengan akronim IDE (Iti –
Partai
dukungan
kasepuhan atas pencalonan pasangan IDE dalam
dengan
Dari serangkaian lobi dan negosiasi itulah
yakni
resmi
Pemilukada Lebak 2013 disampaikan bersamaan
“Dalam politik kita melihat sosok
tokoh adat mampu menggerakkan
massa di luar mesin partai, di luar
mesin politik, dan lain sebagainya.
Kemampuan itu terlihat pada betapa
guyubnya masyarakat oleh hukum
adat. Ketika ketua adat mengarahkan
ya sekitar pahitnya di angka 70 persen
masyarakat mengikuti” (wawancara
pada 27 April 2015)
politik,
“Salah satu bentuk finalnya atas
bentuk dari simbiosis mutualis dari
pemerintah kepada masyarakat adat
adalah lahirnya perda itu dan sekarang
sedang digodok, karena dulu juga
pernah disampaikan bahwa pemerintah
akan melindungi hak-hak adat.”
(wawancara pada 27 April 2015)
karena hubungan simbiosis
mutualis. Menurut Ucuy, hubungan seperti itu
Kidul membawa hasil sebagaimana diharapkan.
Pasangan ini memperoleh suara terbanyak. Dari
rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara
tingkat Kabupaten Lebak pada, pasangan ini
memperoleh 407.156 suara, unggul jauh dari
21 Scientium, Volume 3, No. 5, Desember 2016:12-26
pasangan H. Amir Hamzah-Kasmin (HAK) yang
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai langkah awal
memperoleh
pasangan
persiapan penyusunan naskah akademik tentang
independen, Pepep Faisaludin-Aang Rasidi yang
Perda Kasepuhan. Kemudian pada tanggal 18 Juli
hanya memperoleh 19.163 suara. Meskipun sempat
2015 DPRD Lebak bekerjasama dengan Epistema
dianulir oleh Keputusan Mahkamah Konstitusi
Institute dan RMI-Bogor menggelar diskusi dan
(MK), namun dalam pemilihan ulang pun pasangan
workshop
ini tetap keluar sebagai pemenang dengan raihan
mengkonsolidasikan gagasan menuju pembentukan
suara terbanyak. Pada pemilihan ulang, pasangan
Perda tentang Masyarakat Kasepuhan.
226.440,
dan
dari
IDE memperoleh 398.892 suara, mengalahkan
Hasil
yang
dari
ditujukan
diskusi
dan
untuk
workshop
pasangan HAK yang memperoleh 170.340 suara,
ditindaklanjuti dengan Konsultasi Publik yang
dan
berlangsung di Kasepuhan Pasir Eurih, Kecamatan
pasangan
Pepep-Aang
(Panglima)
yang
mengantongi 19.617 suara.
Sobang, pada 1 Agustus 2015, dan di Kasepuhan
Cisungsang, Kecamatan Cibeber, pada 3 Agustus
2015. Kegiatan serupa dilaksanakan di Gedung
Implikasi dari Lobi dan Negosiasi
Terpilihnya pasangan IDE telah membawa
DPRD Lebak pada 13 Agustus 2015. Konsultasi
implikasi positif bagi kepentingan masyarakat adat.
Publik Raperda Pengakuan dan Perlindungan
Pengakuan dan kepastian hukum atas keberadaan
terhadap Masyarakat Adat Kasepuhan ini diadakan
masyarakat adat dalam bentuk Peraturan Daerah
untuk mendapatkan masukan dari masyarakat
(Perda) yang selama ini diperjuangkan, telah
Kasepuhan agar Perda yang dikeluarkan sesuai dan
disahkan oleh DPRD Lebak dalam Rapat Paripurna
memenuhi hak masyarakat Kasepuhan. Setelah
DPRD pada 19 November 2015.
rangkaian kegiatan konsultasi publik dilaksanakan,
Dalam
proses
sebelum
pada 7 September 2015 naskah Raperda secara
menjadi perda, DPRD bahkan melibatkan secara
resmi diserahkan oleh Ketua SABAKI, Sukanta,
aktif unsur masyarakat kasepuhan. Berdasarkan
kepada DPRD untuk dibahas di Badan Legislasi
keterangan Ketua DPRD Lebak Junaedi Ibnu Jarta,
(Banleg) DPRD Lebak sebagai dasar bagi Badan
pasca dimasukkan dalam Prolegda 2015, pihaknya
Musyarawarah (Bamus) untuk membuat Panitia
telah
Khusus (Pansus). Akhirnya, pada hari Kamis 19
meminta
penyusunannya
Epistema
Institute,
sebuah
organisasi non-pemerintah untuk menyusun naskah
November
akademik tentang rancangan perda kasepuhan.
diparipurnakan dan diundangkan menjadi Perda
Terkait dengan pelibatan masyarakat kasepuhan
Pengakuan,
dalam proses penyusunan naskah akademik ini,
Masyarakat Hukum Adat (MHA) Kasepuhan.
pada tanggal 22 Desember 2014, Epistema
Dalam perda antara lain disebutkan mengenai
Institute,
JKPP
proses lanjutan untuk menetapkan hutan adat
Peningkatan
Kasepuhan mengikuti peraturan yang ada. Perda
Kapasitas Pra Penyusunan Naskah Akademik dan
ini juga mengakui wilayah adat sebagai ruang
Perda Pengakuan Masyarakat Kasepuhan yang
kehidupan masyarakat Kasepuhan, yang menurut
dilaksanakan di Ruang Sidang DPRD Kabupaten.
RMI dalam rilisnya,
HuMa,
menyelenggarakan
RMI
workshop
dan
2015,
Raperda
Perlindungan
dan
Kasepuhan
Pemberdayaan
untuk pertama kalinya di
Komunikasi Politik Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul
(Studi Kasus Pilkada Lebak 2013), (Malik)
Indonesia sebuah perda pengakuan MHA memiliki
lampiran tentang wilayah adat.
Bupati
Lebak
Iti
Octavia
Jayabaya
menyatakan bahwa disahkannya Perda MHA ini
untuk
mewujudkan
kesejahteraan
masyarakat
Kabupaten Lebak yang lebih inklusif, khususnya
bagi MHA.
“Perda Pengakuan, Perlindungan dan
Pemberdayaan MHA Kasepuhan
merupakan bentuk nyata tanggung
jawab Pemerintah Daerah Kabupaten
Lebak
untuk
mengakui
dan
melindungi masyarakat kasepuhan.
Kita akan sama-sama melakukan
pelestarian dan pemberdayaan sesuai
dengan ciri khas dan karakteristik
kasepuhan itu sendiri. Perda ini akan
ditindaklanjuti oleh Perbup (Peraturan
Bupati, pen.)”
Diakomodirnya
kepentingan
masyarakat
kasepuhan oleh pemerintah daerah mendapat
respon positif dari berbagai pihak, termasuk dari
kalangan LSM yang selama ini aktif mendampingi
masyarakat kasepuhan dalam memperjuangkan
eksistensi mereka. Abdon Nababan, Sekjen Aliansi
Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mengatakan:
“Kami merasa Banten Kidul ini satusatunya basis masyarakat adat yang
masih kompak di Jawa. Sekarang
tersisa
hanya
sebagian
kecil.
Pertahanan adat di Jawa ya di sini.
Perda ini harus dikelola dengan baik
agar tidak menambah konflik.”
Sedangkan Yance Arizona dari Epistema
Institute mengungkapkan:
mengeluarkan Perda No. 32/2001
tentang Perlindungan Hak Ulayat
Masyarakat Baduy. Dan di tahun 2013
Kabupaten
Lebak
mengakui
keberadaan
masyarakat
adat
Kasepuhan dalam bentuk SK Bupati
Lebak
No.
430/Kep.298/Disdikbud/2013 tentang
Pengakuan Masyarakat Adat di
Wilayah Kesatuan Adat Banten Kidul
di Kabupaten Lebak.”
Nia
Ramdhaniaty,
Direktur
Eksekutif
Rimbawan Muda Indonesia menyatakan Perda
bagian dari pemenuhan hak konstitusi Negara
untuk mengembalikan hutan adat kembali ke
masyarakat sesuai keputusan MK 35/2015.
“Pengakuan masyarakat hukum adat
oleh Negara, yang juga mengakui
wilayah adatnya termasuk hutan
adatnya, erat hubungannya dengan
kesejahteraan masyarakat hukum adat
itu sendiri. Akibat tidak adanya
pengakuan keberadaan mereka selama
ini, masyarakat Kasepuhan yang telah
mendiami wilayah Gunung Halimun
selama
ratusan
tidak
dapat
memanfaatkan hasil hutan karena
fungsi wilayah mereka menurut
Negara masuk ke dalam fungsi
konservasi sejak tahun 1992 saat
taman nasional mulai ditetapkan di
wilayah tersebut”
Lahirnya Perda Kasepuhan sebagai hasil dari
proses komunikasi politik juga direspon positif
oleh kalangan masyarakat kasepuhan. Tidak
kurang dari Kepala Desa Cibarani, Kecamatan
Cirinten, Kabupaten Lebak, Dulhani, menyatakan
suka citanya.
“Upaya
pembentukan
Peraturan
Daerah Pengakuan dan Perlindungan
terhadap Masyarakat Adat Kasepuhan
ini patut diapresiasi. Ini bukan kali
pertama. Di tahun 2001 Kabupaten
Lebak menjadi pelopor pemberian
pengakuan
dan
perlindungan
masyarakat
adat
dengan
22
“Lahirnya
Perda
Pengakuan,
Perlindungan dan Pemberdayaan
masyarakat Kasepuhan yang telah
ditetapkan oleh DPRD Kab. Lebak
pada 19 November lalu menjadi kado
terindah bagi masyarakat Kasepuhan
Cibarani dan sekitarnya. Hal ini
23 Scientium, Volume 3, No. 5, Desember 2016:12-26
sebagai penyemangat untuk semakin
berdaulatnya masyarakat Kasepuhan
dalam
memperjuangkan
dan mengelola sumberdaya hutan
adatnya.”
SIMPULAN
Berdasarkan temuan hasil penelitian dan
pembahasan, kajian ini memberikan simpulan
sebagai berikut. Pertama, komunikasi politik yang
Perda No. 8 Tahun 2015 tentang Pengakuan,
Perlindungan
dan
Pemberdayaan
Masyarakat
Hukum Adat tersebut terdiri dari 12 bab dan 29
pasal. Bab I berisi tentang Ketentuan Umum, di
dalamnya
antara
pengakuan
dan
lain
dinyatakan
perlindungan
tentang
masyarakat
kasepuhan sebagai perwujudan konstitusi dari
negara
untuk
menghormati,
melindungi
dan
memenuhi hak-hak asasi warga negara (pasal 1).
Bab II tentang Asas, Tujuan dan Ruang Lingkup.
Bab III tentang Keberadaan dan Kedudukan
Hukum Masyarakat Kasepuhan. Bab IV tentang
Wilayah Adat, yang juga mengakomodir konsepsi
kasepuhan tentang zonasi (wewengkon) hutan yang
terdiri dari leuweung kolot, leuweung titipan,
leuweung samparan atau cawisan, lahan garapan,
dan paniisan, berikut tatacara dan mekanisme
pendaftarannya kepada pemerintah daerah untuk
kepentingan pengakuan secara hukum. Bab V
tentang Hak Masyarakat Kasepuhan. Bab VI
dilakukan oleh masyarakat masyarakat adat dengan
kekuatan politik dalam Pilkada Lebak 2013
dilatarbelakangi
penguasaan
problem
lahan
eksistensi
tempat
akibat
tinggal
matapencaharian oleh pihak pengelola Kawasan
taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Kedua, untuk memperoleh kembali eksistensinya
akibat
ekspansi
kewilayahan
oleh
pengelola
TNGHS mereka menjalin komunikasi politik
dalam bentuk lobi dan negosiasi dengan kekuatan
politik di Kabupaten Lebak dalam Pilkada 2013
melalui pemberian dukungan kepada Pasangan Iti
Oktavia-Ade Sumardi sebagai calon bupati dan
wakil bupati, dengan harapan ketika terpilih dapat
memperjuangkan
kepentingan
adat
komunikasi politik berupa lobi dan negosiasi telah
membawa kemenangan pasangan Iti-Ade dalam
Pilkada 2013 dan berimplikasi pada terbitnya
Peraturan Daerah (Perda) tentang masyarakat adat.
Adat. Bab VIII tentang Pemberdayaan Masyarakat
DAFTAR PUSTAKA
Kasepuhan.
Buku:
IX
tentang
Penyelesaian
Sengketa. Bab X tentang Ketentuan Pidana dan
Penyidikan. Bab XI tentang Ketentuan Umum. Bab
Baedhawy, Ruby A. dan N. Wachyudin.
(2013). Nilai-nilai Kearifan Lokal
XII tentang Ketentuan Peralihan. Perda ini juga
dalam
Pelestarian
membuka peluang bagi masyarakat kasepuhan
Hidup
Masyarakat
untuk memiliki sistem pemerintahan sendiri berupa
Kasepuhan
pemerintahan desa adat, yang diatur melalui perda,
sering dengan terbitnya Undang-Undang No. 6
Tahun 2014 tentang Desa (Bab III Pasal 8).
berupa
terbitnya Perda tentang adat. Ketiga, proses-proses
tentang Lembaga Adat. Bab VII tentang Hukum
Bab
dan
Lingkungan
Baduy
Cisungsang.
dan
Serang:
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Provinsi Banten.
Berridge, G.R., dan James, Alan. (2003) A
Dictionary of Diplomacy (Second
Edition).
London:
Palgrave
Komunikasi Politik Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul
(Studi Kasus Pilkada Lebak 2013), (Malik)
Macmillan's.
Artikel dalam Jurnal Wacana Edisi
Budiardjo, Miriam. (2008). Dasar-dasar
Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia.
No. 33 Tahun XIV/2014
M.
Najib
Creswell, John W. (2010). Research
Design
Pendekatan
Kuantitatif
dan
(2012).
Menolak
Pemekaran untuk Mempertahankan
Kualitatif,
Mixed
Husain
Sebuah
(edisi
Adat
Upaya
Istiadat:
Komunikasi
Sebuah
Politik
dan
terjemahan). Yogyakarta: Pustaka
Diplomasi Berbasis Kearifan Lokal
Pelajar.
dari Masyarakat Desa Lapandewa
Creswell, John W. (1998). Qualitative
Inquiry
and
Research
Design
Sulawesi
Tenggara.
Seminar
Nasional
Prosiding
Menggagas
Choosing Among Five Traditions.
Pencitraan Berbasis Kearifan Lokal,
California: Sage Publication, Inc.
Jurusan
Heryanto, Gun Gun, Shulhan Rumaru.
Ilmu
Komunikasi
Universitas Jenderal Sudirman.
(2013). Komunikasi Politik Sebuah
Pengantar. Bogor. Ghalia Indonesia.
McNair, Brian. (2007). An Introduction to
Tesis:
Fransiskus Xav Ndiwa (2009). Lembaga
Political Communication. London:
adat,
Routledge.
Pembangunan Politik Lokal, Studi
Opinion
Leader
dalam
Partao, Zaenal, Abidin. (2006). Teknik
Kasus Peranan Lembaga Adat dan
Lobi dan Diplomasi untuk Insan
Mosadaki sebagai Opinion Leader
Public Relations. Jakarta: Indeks.
dalam Pembangunan Politik Lokal
Silalahi, U. (2006) Metode Penelitian
Sosial. Bandung: Unpar Press.
di
Kabupaten
Tenggara
Sudikan, Setya Yuwana. (2001). Metode
Penelitian Kebudayaan. Surabaya:
Nagekeo,
Nusa
Tesis
Ilmu
Timur.
Komunikasi
Universitas
Gajah
Mada.
Citra Wacana.
Yin. Robert K. (2006) Studi Kasus, Desain
Portal Online:
dan Metode. Jakarta: RajaGrafindo
Bantenpos.com
Perkasa.
Komnas
Zetter, Lionel. (2008). Lobbying, The Art
of
Political
Persuasion,
Great
Britain: Harriman House.
(2015,
HAM
17
Oktober).
Anggap
TNGHS Ancam Langgar
Diunduh
Konflik
HAM.
dari:
http://bantenpos.co/arsip/2014/10/ko
mnas-ham-anggap-konflik-tnghs-
Prosiding:
ancam-langgar-ham/
Mia Siscawati (2014). Masyarakat Adat
Cibarani.desa.id (2016, 20 Januari). Perda
dan Perebutan Penguasaan Hutan.
Kasepuhan Kado Terindah Seren
24
25 Scientium, Volume 3, No. 5, Desember 2016:12-26
Taun Kasepuhan Cibarani. Diunduh
arakat-adat-kasepuhan-meminta-
dari:
pengakuan-peraturan-daerah/
http://cibarani.desa.id/2015/12/08/pe
Mongabay.co.id (2015, 20 Oktober). Perda
rda-kasepuhan-kado-terindah-seren-
Masyarakat
taun-kasepuhan-cibarani/
Ditargetkan Tahun Ini. Diunduh
Epistima.or.id
DPRD
(2015,
20
November).
Lebak
Dorong
Perda
Pengakuan Masyarakat Hukum Adat
Diunduh
Kasepuhan.
dari:
http://epistema.or.id/kabar/liputankegiatan/dprd-lebak-dorong-perda-
Adat
Kasepuhan
dari:
http://www.mongabay.co.id/2015/08
/04/perda-masyarakat-adatkasepuhan-ditargetkan-selesaitahun-ini/
Rmibogor.org
(2015,
21
November).
pengakuan-masyarakat-hukum-adat-
Perda Pengakuan Perlindungan dan
kasepuhan/
Pemberdayaan
Epistima.or.id
(2015,
11
November).
Masyarakat
Kasepuhan Telah Lahir. Diunduh
Diskusi dan Workshop Penyusunan
dari:
Naskah Akademik dan Rancangan
http://rmibogor.id/2015/11/19/perda-
Peraturan Daerah Kabupaten Lebak
pengakuan-perlindungan-dan-
tentang
pemberdayaan-masyarakat-
Masyarakat
Kasepuhan.
Diunduh
dari:
http://epistema.or.id/event/diskusi-
kasepuhan-telah-lahir/
Rmibogor.org (2015, 7 Januari). Catatan
dan-workshop-penyusunan-naskah-
Akhir Tahun RMI. Diunduh dari:
akademik-dan-rancangan-peraturan-
rmi-bogor.org/2013/12/catatan-
daerah-kabupaten-lebak-tentang-
akhir-tahun-rmi/.
masyarakat-kasepuhan/
Epistima.or.id
(2015,
Keberadaan
11
November).
Masyarakat
Adat
Majalah dan Surat Kabar:
Kabar Banten edisi 28 Maret 2013.
Kasepuhan Harus Diakui dengan
Policy Brief Epistema Instititute Volume 2/2014.
Peraturan Daerah. Diunduh dari:
Suara Pembaruan, Senin, 1 Oktober 2012
http://epistema.or.id/kabar/epistemadi-media/keberadaan-masyarakatadat-kasepuhan-harus-diakuidengan-peraturan-daerah-2/
Geoenergi.co.id
(2015,
11
November
2015). Masyarakat Adat Kasepuhan
Meminta
Daerah.
Pengakuan
Diunduh
Peraturan
dari:
http://geoenergi.co.id/2015/08/masy
Download