Info Artikel Abstra KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN

advertisement
UJME 2 (1) (2013)
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujme
KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MODEL TAPPS BERBANTUAN
WORKSHEET TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
MATERI LINGKARAN
Nikmatul Maula, Rochmad, Edy Soedjoko
Jurusan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Gedung D7 Lt.1, Kampus Sekaran Gunungpati, Semarang 50229
Info Artikel
Sejarah Artikel:
Diterima Februari 2013
Disetujui Maret 2013
Dipublikasikan Mei 2013
Kata Kunci:
Keefektifan
Kemampuan Pemecahan
Masalah
Thinking Aloud Pair Problem
Solving (TAPPS)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan
model Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS) tuntas, apakah rata-rata
kemampuan pemecahan masalah siswa pada model TAPPS lebih tinggi daripada
rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa pada pembelajaran ekspositori,
serta apakah persentase ketuntasan belajar siswa pada model TAPPS lebih tinggi
daripada persentase ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran ekspositori.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP N 2 Pekalongan tahun
pelajaran 2012/2013. Dengan teknik cluster random sampling, terpilih sampel yaitu
siswa kelas VIII-D sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-B sebagai kelas
kontrol. Dari hasil uji ketuntasan belajar diperoleh pembelajaran pada kelas
eksperimen tuntas. Dari hasil uji perbedaan dua rata-rata, diperoleh rata-rata
kemampuan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada
kelas kontrol. Dari hasil uji proporsi satu pihak, diperoleh persentase ketuntasan
belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada pada kelas kontrol.
Simpulan yang diperoleh yaitu pembelajaran dengan model TAPPS tuntas, ratarata kemampuan pemecahan masalah siswa pada model TAPPS lebih tinggi
daripada rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa pada pembelajaran
ekspositori, dan persentase ketuntasan belajar siswa pada model TAPPS lebih
tinggi daripada persentase ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran
ekspositori.
Abstra
The purpose of this study was to know whether learning model of Thinking
Aloud Pair Problem Solving (TAPPS) can achieve mastery learning, student’s
problem-solving ability in learning of TAPPS higher than student’s problemsolving ability in expository learning, and whether percentage of completeness
students in learning of TAPPS higher the percentage of completeness students in
expository learning. The population in this study was students of grade VIII SMP
N 2 Pekalongan academic year 2012/2013. By cluster random sampling
technique, the selected sample were students of VIII-D as experiment group that
applied learning of TAPPS with worksheet based on Polya and control group was
VIII-B that applied expository learning. From result of mastery learning, showed
that learning in experiment group can achieve mastery learning. From result of
the average diffrence test, showed that student’s problem-solving ability in
experiment group higher than student’s problem-solving ability in control group.
From result of the proportion-one part test, showed that percentage of
completeness students in experiment group higher than percentage of
completeness students in control group. The conclusions obtained were learning
of TAPPS can achieve mastery learning and student’s problem-solving ability in
learning of TAPPS higher than student’s problem-solving ability in expository
learning, and percentage of completeness students in learning of TAPPS higher
than percentage of completeness students in expository learning.
 Alamat korespondensi:
E-mail: [email protected]
© 2013 Universitas Negeri Semarang
ISSN 2252-6927
N Maula et al / Journal of Mathematics Education 2 (1) (2013)
kesukaran dalam menyelesaikan soal pada
materi pokok lingkaran khususnya pada
kemampuan pemecahan masalah, sehingga
kemampuan
pemecahan
masalah
siswa
cenderung rendah. Berdasarkan data yang
diperoleh dari salah seorang guru matematika
kelas VIII SMP Negeri 2 Pekalongan, diketahui
nilai ulangan harian materi keliling dan luas
lingkaran siswa tahun pelajaran 2011/2012
masih banyak yang tidak tuntas atau tidak
mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
yang ditetapkan yaitu 75, sedangkan pada tahun
ajaran ini, KKM yang harus dicapai siswa
untuk mata pelajaran matematika cukup tinggi,
yaitu 80.
Terkait dengan masalah rendahnya hasil
belajar matematika siswa sampai saat ini, sudah
saatnya untuk membenahi proses pembelajaran
matematika
terutama
mengenai
model,
pendekatan, atau teknik yang digunakan dalam
pembelajaran. Dengan proses pembelajaran
matematika yang baik, siswa akan dapat
memahami matematika dengan baik pula
(Hudojo, 1988). Salah satu pendekatan yang
dapat memberikan kesempatan kepada siswa
menemukan rumus keliling dan luas lingkaran
adalah pembelajaran konstruktivisme. Menurut
Woolfolk (2001), “constructivism view that
emphasizes the active role of the learner in building
understanding and making sense of information”.
Hal tersebut berarti konstruktivis menekankan
peran aktif dari siswa dalam membangun
pengertian
dan
informasi.
Salah
satu
pembelajaran yang bernaung dalam teori
konstruktivisme adalah kooperatif. Beberapa
macam
model
pembelajaran
kooperatif
diharapkan mampu mengatasi permasalahan
dalam pembelajaran matematika, di antaranya
adalah pembelajaran model Thinking Aloud Pair
Problem Solving (TAPPS).
Dalam bahasa Indonesia Thinking Aloud
artinya berfikir keras, Pair artinya berpasangan
dan Problem Solving artinya penyelesaian
masalah. Thinking Aloud Pair Problem Solving
(TAPPS) dapat diartikan sebagai teknik berpikir
keras secara berpasangan dalam penyelesaian
masalah. Model TAPPS lebih ditekankan
kepada kemampuan penyelesaian masalah
(problem solving). Menurut Benham (2009),
model TAPPS merupakan pengembangan dari
model pembelajaran kooperatif. Model ini
pertama kali diperkenalkan oleh Claparede dan
kemudian digunakan oleh Bloom and Broader
pada studinya tentang proses pemecahan
Pendahuluan
Mempelajari
matematika
sangat
dibutuhkan oleh siswa, baik dalam lingkungan
sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari,
karena begitu banyak aktivitas yang mereka
lakukan melibatkan matematika. Matematika
berkenaan dengan ide-ide abstrak (Hudojo,
1988). Dengan belajar matematika, siswa dapat
belajar berpikir secara logis, analitis, kritis, dan
kreatif. Dengan belajar matematika, kita dapat
belajar berpikir secara logis, analitis, kritis, dan
kreatif.
Dalam kurikulum 2006, matematika
memiliki
tujuan
agar
siswa
memiliki
kemampuan,
(1)
memahami
konsep
matematika, (2) menggunakan penalaran pada
pola dan sifat, (3) memecahkan masalah, (4)
mengomunikasikan gagasan dengan simbol,
tabel, diagram, atau media lain, dan (5)
memiliki
sikap
menghargai
kegunaan
matematika dalam kehidupan (BSNP, 2006).
Dalam proses pembelajaran matematika,
banyak guru mengalami kesulitan dalam
mengajar siswa bagaimana memecahkan
masalah sehingga banyak siswa yang juga
kesulitan mempelajarinya. Kesulitan ini bisa
muncul karena paradigma bahwa jawaban akhir
sebagai satu-satunya tujuan dari pemecahan
masalah. Siswa seringkali menggunakan teknik
yang keliru dalam menjawab permasalahan
sebab penekanan pada jawaban akhir. Padahal
kita perlu menyadari bahwa proses dari
memecahkan masalah yaitu bagaimana kita
memecahkan masalah jauh lebih penting dan
mendasar.
Menurut Herman (2000), sejak lama
pemecahan masalah telah menjadi fokus
perhatian utama dalam pengajaran matematika
di sekolah. Sebagai contoh, salah satu agenda
yang dicanangkan the National Council of
Teachers of Mathematics (NCTM) di Amerika
Serikat pada tahun 80-an bahwa “Problem solving
must be the focus of shool mathematics in the 1980s”
atau pemecahan-masalah harus menjadi fokus
utama matematika sekolah di tahun 80-an.
Dari hasil observasi yang dilakukan di
SMP Negeri 2 Pekalongan, guru dalam
melakukan pembelajaran masih menggunakan
model ekspositori, sehingga aktivitas siswa
belum memuaskan. Interaksi antara siswa
dengan guru atau sesama siswa jarang terjadi
dan semua aktivitas siswa masih tergantung
perintah yang diberikan guru. Hal ini
menyebabkan
banyak
siswa
mengalami
33
N Maula et al / Journal of Mathematics Education 2 (1) (2013)
masalah pada mahasiswa perguruan tinggi.
Kemudian model ini dikembangkan oleh
Lochhead and Whimbey pada tahun 1987
untuk meningkatkan kemampuan penyelesaian
masalah siswa.
“The Thinking Aloud Pair Problem Solving
(TAPPS) technique is a strategy for improving
problem solving performance through verbal probing
and elaboration” (Pate, Wardlow, & Johnson,
2004). Model TAPPS adalah strategi untuk
meningkatkan
kemampuan
penyelesaian
masalah melalui penyelidikan dan perluasan
verbal. Menurut Lochhead & Whimbey,
sebagaimana dikutip oleh Pate, Wardlow, &
Johnson (2004), “TAPPS requires two students, the
problem solver and the listener, to work cooperatively
in solving a problem, following strict role protocols”.
Hal ini berarti, TAPPS membutuhkan dua
orang siswa, yang berperan sebagai problem
solver dan listener, untuk berkerja sama dalam
memecahkan masalah, mengikuti suatu aturan
tertentu.
Penerapan
TAPPS
terhadap
kemampuan pemecahan masalah siswa akan
lebih baik jika dikombinasikan dengan
penggunaan
worksheet,
karena
worksheet
memudahkan
siswa
dalam
menentukan
langkah-langkah
penyelesaian
masalah.
Worksheet yang digunakan dalam penelitian ini
adalah worksheet berbasis Polya, yaitu di dalam
pembelajaran dengan worksheet menggunakan
langkah-langkah penyelesaian masalah Polya.
Menurut Polya (1973), solusi soal pemecahan
masalah
memuat
empat
langkah
fase
penyelesaian,
yaitu
memahami
masalah
(understand the problem), mendapatkan rencana
dari penyelesaian (obtain eventually a plan of the
solution), melaksanakan rencana (carry out the
plan), dan memeriksa kembali penyelesaian
terhadap langkah yang telah dikerjakan (examine
the solution obtained). Worksheet ini berisikan
materi
yang
diperoleh
dengan
cara
mengkonstruk, contoh soal, dan soal-soal yang
berkaitan dengan kemampuan penyelesaian
masalah (problem solving). Diharapakan melalui
pemanfaatan worksheet ini siswa dituntut untuk
mengikuti, mencatat, atau menjawab soal-soal
yang diberikan oleh guru. Dengan demikian,
siswa dapat berpikir, mencoba menyelesaikan
soal, dan ketika menghadapi kesulitan bisa
mengungkapkan dengan berdiskusi dengan
temannya.
Beberapa penelitian mengenai model
TAPPS juga sudah banyak dilakukan, di
antaranya adalah penelitian yang dilakukan
oleh Pate, Wardlow, & Johnson (2004)
menunjukkan bahwa TAPPS menjadi langkah
penting dalam pengembangan keterampilan
metakognitif antara siswa dalam pemecahan
masalah di bidang teknologi, di antara siswa
yang berhasil menyelesaikan tugas-tugas
pemecahan masalah di dalam kelompok secara
berpasangan. Selain itu, penelitian yang
dilakukan oleh Benham (2009) menunjukkan
bahwa TAPPS meningkatkan prestasi siswa,
dari bukti empiris yang disajikan menunjukkan
bahwa mereka siswa yang mengikuti melakukan
proses TAPPS memang tampil lebih baik.
Penelitian lain dilakukan oleh Johnson &
Chung (1999) menunjukkan bahwa TAPPS
memiliki dampak positif pada kemampuan
subjek untuk mengevaluasi hipotesis pemecahan
masalah
dengan
benar,
temuan
ini
menunjukkan bahwa subjek TAPPS lebih
mampu mengevaluasi kesalahan potensial yang
mereka pikirkan.
Berdasarkan
uraian
di
atas,
permasalahan yang dihadapi dalam penelitian
ini adalah; (1) apakah pembelajaran dengan
model TAPPS berbantuan worksheet berbasis
Polya tuntas, (2) apakah rata-rata kemampuan
pemecahan masalah siswa pada pembelajaran
menggunakan pembelajaran model TAPPS
berbantuan worksheet berbasis Polya lebih tinggi
daripada rata-rata kemampuan pemecahan
masalah siswa dalam pembelajaran ekspositori,
dan (3) apakah persentase ketuntasan belajar
siswa
pada
pembelajaran
menggunakan
pembelajaran model TAPPS berbantuan
worksheet berbasis Polya lebih tinggi daripada
persentase ketuntasan belajar siswa dalam
pembelajaran ekspositori.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui apakah pembelajaran dengan
model TAPPS berbantuan worksheet berbasis
Polya tuntas, mengetahui apakah rata-rata
kemampuan pemecahan masalah siswa pada
pembelajaran
menggunakan
pembelajaran
model TAPPS berbantuan worksheet berbasis
Polya
lebih
tinggi
daripada
rata-rata
kemampuan pemecahan masalah siswa dalam
pembelajaran ekspositori, dan mengetahui
apakah persentase ketuntasan belajar siswa pada
pembelajaran
menggunakan
pembelajaran
34
N Maula et al / Journal of Mathematics Education 2 (1) (2013)
model TAPPS berbantuan worksheet berbasis
Polya lebih tinggi daripada persentase
ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran
ekspositori. Dengan pembelajaran model
TAPPS berbantuan worksheet berbasis Polya,
diharapkan siswa dapat berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran, dan membantu siswa
dalam
meningkatkan
kemampuannya
khususnya pada pemecahan masalah.
Problem Solving (TAPPS) berbantuan worksheet berbasis
Polya,
K = penerapan pembelajaran ekspositori, dan
T = tes hasil kemampuan pemecahan masalah.
Penelitian
ini
diawali
dengan
menentukan populasi dan memilih dua
kelompok sampel yaitu kelas eksperimen dan
kelas kontrol. Pemilihan dilakukan dengan
teknik cluster random sampling. Pada kelas
eksperimen diterapkan pembelajaran model
Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS)
berbantuan worksheet berbasis Polya, sedangkan
pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran
ekspositori. Pada akhir pembelajaran dilakukan
tes kemampuan pemecahan masalah. Tes
dilakukan di kelas kontrol dan kelas eksperimen
dengan soal yang sama. Soal tes yang diberikan
kepada kelas sampel adalah soal yang telah diuji
coba. Data-data yang diperoleh, dianalisis
sesuai dengan statistik yang sesuai.
Adapun
langkah-langkah
yang
ditempuh dalam penelitian ini adalah
menentukan populasi, menentukan sampel
dengan langkah awal mengambil data nilai
ujian akhir semester 1 mata pelajaran
matematika pada siswa kelas VIII SMP,
menganalisa data tersebut untuk diuji
normalitas,
homogenitas,
kemudian
menentukan sampel penelitian yaitu kelas
eksperimen dan kelas kontrol dengan teknik
cluster random sampling, dan diuji perbedaan
dua rata-rata kelompok sampel tersebut,
menyusun kisi-kisi dan instrumen uji coba
dalam
bentuk
uraian,
melaksanakan
pembelajaran model Thinking Aloud Pair Problem
Solving (TAPPS) berbantuan worksheet berbasis
Polya pada kelas eksperimen dan pembelajaran
ekspositori pada kelas control, mengujicobakan
instrumen uji coba pada kelompok uji coba,
menganalisis data uji coba instrumen tes uji
coba untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya
pembeda, validitas dan reliabilitas, menentukan
soal yang memenuhi syarat berdasarkan proses
analisa data uji coba, melaksanakan tes yang
sama pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
untuk mengetahui kemampuan pemecahan
masalah dari kedua kelas, menganalisis data
hasil tes pada kelas eksperimen dan kelas
control, dan menyusun hasil penelitian.
Data yang diperlukan dalam penelitian
ini diperoleh dengan cara metode dokumentasi
dan metode tes. Metode dokumentasi
digunakan untuk memperoleh data nama siswa
yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini,
Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah
siswa kelas VIII-A, VIII-B, VIII-C, VIII-D, dan
VIII-E SMP Negeri 2 Pekalongan tahun
pelajaran 2012/2013 sebanyak 145 siswa.
Pengambilan sampel pada penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan teknik cluster
random sampling. Sampel yang dipilih dalam
penelitian ini adalah siswa kelas VIII-D (28
siswa) sebagai kelas eksperimen yang diterapkan
pembelajaran model TAPPS berbantuan
worksheet berbasis Polya dan kelas VIII-B (30
orang) sebagai kelas kontrol yang diterapkan
pembelajaran ekspositori, serta kelas VIII-A (30
orang) sebagai kelompok untuk uji coba soal.
Dalam penelitian ini, variabel pada hipotesis
pertama adalah kemampuan pemecahan
masalah. Pada hipotesis kedua dan ketiga
terdapat dua variabel, variabel independen
(bebas) yaitu model pembelajaran dan variabel
dependen
(terikat)
yaitu
kemampuan
pemecahan masalah.
Dalam
penelitian
ini
penulis
menggunakan model eksperimen. Terdapat
beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat
digunakan dalam penelitian. Desain eksperimen
dalam penelitian ini mengacu pada Posttest­Only
Control Design. Dalam design ini terdapat dua
kelompok yang masing-masing dipilih secara
acak. Kelompok pertama diberi perlakuan dan
kelompok yang lain tidak. Kelompok yang
diberi perlakuan disebut kelas eksperimen dan
kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut
kelas kontrol. Desain eksperimen dalam
penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Keterangan:
X = penerapan pembelajaran model Thinking Aloud Pair
35
N Maula et al / Journal of Mathematics Education 2 (1) (2013)
kuadrat dan juga dilakukan uji homogenitas
menggunakan rumus Bartlett. Kemudian data
tersebut diuji ketuntasan belajar klasikal
menggunakan uji proporsi, uji perbedaan dua
rata-rata antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol menggunakan uji t, dan uji proporsi satu
pihak untuk mengetahui persentase ketuntasan
belajar siswa yang lebih tinggi antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol.
dan untuk memperoleh data nilai UAS untuk
mata pelajaran matematika. Nilai tersebut
digunakan untuk mengetahui normalitas dan
homogenitas populasi, serta kesamaan dua ratarata pada sampel. Metode tes dilakukan untuk
memperoleh
data
tentang
kemampuan
pemecahan masalah matematika. Materi yang
digunakan untuk menyusun tes ini adalah
materi keliling dan luas lingkaran untuk
mengukur kemampuan pemecahan masalah
sedangkan bentuk tes yang digunakan adalah tes
uraian. Tes uji coba diberikan pada kelas uji
coba. Tes tersebut diberikan sebelum tes,
kemudian diujikan pada kelas eksperimen
maupun kelas kontrol.
Pelaksanaan tes dilakukan setelah
perlakuan diberikan kepada kelas eksperimen
dan kelas kontrol. Alat tes yang telah diuji
validitas dan reliabilitasnya ini digunakan untuk
mendapatkan data akhir. Tes diberikan kepada
kedua kelompok dengan alat tes yang sama. Tes
ini dimaksudkan untuk memperoleh data
kuantitatif dan hasilnya diolah untuk menguji
kebenaran hipotesis penelitian. Materi yang
digunakan untuk menyusun tes ini adalah
materi lingkaran untuk mengukur kemampuan
pemecahan masalah sedangkan bentuk tes yang
digunakan adalah tes uraian. Menurut Hudojo
(1988), tes uraian dalam kegiatan mengajar
belajar matematika bermanfaat untuk, antara
lain:
(1)
mengungkapkan
kemampuan
intelektual
yang
tinggi,
sebab
siswa
mengorganisasikan
pengetahuannya
untuk
menemukan jawaban dengan menggunakan
kata-katanya sendiri, (2) mengungkapkan cara
berpikir matematik, namun tes tentang
membuktikan teorema yang sudah dibicarakan
akan mendorong hafalan, dan (3) mendorong
siswa untuk terbiasa dalam menentukan
langkah-langkah penyelesaian masalah disertai
alasan-alasannya.
Sebelum
soal
digunakan
untuk
mengukur kemampuan pemecahan masalah
siswa, maka soal tersebut terlebih dahulu
diujicobakan. Uji coba soal tersebut yaitu
digunakan
untuk
mengetahui
validitas,
realibilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda.
Soal yang telah diujicobakan kemudian
digunakan untuk tes pada kelas eksperimen dan
kelas kontrol.
Setelah mendapatkan data kemampuan
pemecahan masalah, kemudian data hasil
tersebut diuji normalitas menggunakan uji chi-
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis tahap awal
diperoleh data yang menunjukkan bahwa kelas
yang diambil sebagai sampel dalam penelitian
berdistribusi normal dan mempunyai varians
yang homogen. Hal ini berarti sampel berasal
dari kondisi atau keadaan yang sama yaitu
memiliki pengetahuan yang sama. Kemudian
dengan teknik cluster random sampling, dipilih
kelas VIII-D sebagai kelas ekperimen dan kelas
VIII-B sebagai kelas kontrol.
Pada kelas eksperimen, diterapkan
pembelajaran model
TAPPS berbantuan
worksheet berbasis Polya. Setelah diberi
perlakuan,
diperoleh
data
kemampuan
pemecahan masalah pada kelas eksperimen
yang dapat dilihat pada Tabel 2.
Pada pembelajaran TAPPS, rata-rata
kemampuan pemecahan masalah siswa cukup
tinggi bahkan ada siswa yang mendapatkan nilai
yang sempurna, hal ini dikarenakan TAPPS
memiliki unsur-unsur fase yang membuat siswa
lebih aktif dan lebih dapat memahami materi.
Guru tidak sekadar memberikan pengetahuan
kepada siswa, melainkan memfasilitasi siswa
untuk membangun pengetahuannya sendiri
sehingga siswa memiliki pemahaman yang lebih
mantap terhadap materi lingkaran, hal ini
sejalan dengan teori konstruktivistiktik yang
menekankan peran aktif dari siswa dalam
membangun
pengertian
dan
informasi
(Woolfolk, 2001). Menurut Trianto (2007), teori
konstruktivistik menyatakan bahwa siswa harus
menemukan sendiri dan mentransformasikan
informasi kompleks, mengecek informasi baru
36
N Maula et al / Journal of Mathematics Education 2 (1) (2013)
dengan aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi
siswa agar benar-benar memahami dan dapat
menerapkan pengetahuan, mereka harus
bekerja memecahkan masalah, menemukan
segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan
susah payah dengan ide-ide.
Dalam pembelajaran model TAPPS
dibutuhkan dua orang siswa yang berperan
sebagai problem solver dan listener untuk berkerja
sama dalam memecahkan masalah. Hal ini
sesuai dengan teori Vygotsky dan Piaget yang
menekankan keaktifan siswa dalam bekerja
sama dalam kelompoknya secara berpasangan.
Dalam proses kerjasama ini terjadi interaksi
antara siswa dengan pasangan masing-masing
yang saling membantu, saling mendukung, dan
melengkapi satu sama lain sehingga siswa yang
belum mengetahui solusi dari permasalahan
yang dihadapi. Dalam TAPPS, setiap pasangan
diberi suatu masalah yang harus dipecahkan.
Problem solver bertugas memecahkan masalah
dan menyampaikan semua gagasan dan
pemikirannya selama proses pemecahan
masalah kepada listener. Sedangkan listener
bertugas mengikuti dan mengoreksi dengan
cara mendengarkan seluruh proses yang
dilakukan problem solver dalam memecahkan
masalah dan memberikan petunjuk pemecahan
masalah dengan cara bertanya hal-hal yang
berkaitan dengan pemecahan masalah tersebut
dan tidak langsung menunjukkan pemecahan
masalah
yang
dimaksud.
Sehingga
pembelajaran
model
TAPPS
dapat
meningkatkan
kemampuan
pemecahan
masalah siswa.
Pada
kelas
kontrol,
diterapkan
pembelajaran model
ekspositori. Data
kemampuan pemecahan masalah pada kelas
kontrol dapat dilihat pada Tabel 3.
dengan apa yang biasa digunakan oleh guru di
kelas, yaitu pembelajaran ekspositori. Dalam
pembelajaran ini, tidak ada interaksi yang
berarti di antara siswa, sehingga jarang terjadi
proses
berbagi
ide-ide
tertentu
dalam
menyelesaikan
tugas-tugas
pembelajaran.
Pembelajaran berlangsung secara klasikal
cenderung membuat siswa melakukan aktivitas
belajar secara individu.
Setelah diperoleh data akhir berupa
data kemampuan pemecahan masalah pada
kelas eksperimen dan kelas kontrol, dilakukan
analisis data akhir untuk menguji hipotesishipotesis dalam penelitian ini. Uji hipotesis
pertama yaitu uji ketuntasan belajar klasikal
menggunakan uji proporsi. Hasil uji proporsi
disajikan dalam Tabel 4.
Berdasarkan
Tabel
4,
diperoleh
simpulan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima,
artinya persentase siswa kelas VIII yang tuntas
individual pada kemampuan pemecahan
masalah materi lingkaran dengan pembelajaran
model TAPPS berbantuan worksheet berbasis
Polya lebih dari 74,5%. Dalam penelitian,
ketuntasan individual yang digunakan adalah
80 dan ketuntasan klasikal yang ditetapkan
adalah 75%. Dari data yang diperoleh setelah
tes dilaksanakan, diperoleh hasil bahwa siswa
pada kelas eksperimen yang diterapkan
pembelajaran model TAPPS yang mencapai
ketuntasan individual sebesar 89%. Dari uji
proporsi pada Tabel 4, dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran dengan model TAPPS
berbantuan worksheet berbasis Polya tuntas.
Uji hipotesis kedua yaitu uji perbedaan
dua rata-rata antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol menggunakan uji t. Perbandingan nilai
rata-rata kemampuan pemecahan masalah
siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol
tampak pada Gambar 1 dan hasil uji t disajikan
dalam Tabel 5.
Pada
kelas
kontrol,
rata-rata
kemampuan pemecahan masalah siswa masih
di bawah KKM yang ditetapkan yaitu 80. Pada
kelas kontrol diberikan pembelajaran sesuai
37
N Maula et al / Journal of Mathematics Education 2 (1) (2013)
pemecahan masalah siswa kelas VIII materi
lingkaran dengan pembelajaran model TAPPS
berbantuan worksheet berbasis Polya lebih dari
persentase ketuntasan belajar pada kemampuan
pemecahan masalah siswa kelas VIII materi
lingkaran dengan pembelajaran ekspositori.
Dari Gambar 2, tampak bahwa persentase
ketuntasan individual kemampuan pemecahan
masalah siswa pada kelas eksperimen lebih dari
persentase ketuntasan individual kemampuan
pemecahan masalah siswa pada kelas kontrol.
Dari uji proporsi satu pihak pada Tabel 6, dapat
disimpulkan persentase ketuntasan belajar siswa
pada pembelajaran menggunakan pembelajaran
model TAPPS berbantuan worksheet berbasis
Polya lebih tinggi daripada persentase
ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran
ekspositori.
Dalam
penelitian
ini,
peneliti
menemukan beberapa kelebihan pembelajaran
model
Thinking Aloud Pair Problem Solving
(TAPPS), yaitu (1) siswa menjadi lebih aktif
dalam pembelajaran karena siswa berdiskusi
dalam kelompoknya secara berpasangan; (2)
memberikan lebih banyak kesempatan untuk
berinteraksi antar siswa maupun siswa dengan
guru sehingga siswa lebih mudah menemukan
dan memahami konsep-konsep yang sulit
apabila mereka saling mendiskusikan masalahmasalah tersebut dengan pasangannya; (3) siswa
dapat saling belajar mengenai strategi
pemecahan masalah satu sama lain; (4) melatih
siswa untuk berpikir keras dalam memecahkan
masalah sehingga pola berpikir mereka lebih
terstruktur; dan (5) penggunaan worksheet sangat
membantu siswa dalam melakukan proses
penyelesaian masalah serta siswa mempunyai
catatan sendiri untuk dibawa pulang dan
dipelajari kembali di rumah.
Berdasarkan
Tabel
5,
diperoleh
simpulan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima,
artinya rata-rata kemampuan pemecahan
masalah siswa kelas VIII materi lingkaran
dengan
pembelajaran
model
TAPPS
berbantuan worksheet berbasis Polya lebih dari
rata-rata kemampuan pemecahan masalah
siswa kelas VIII materi lingkaran dengan
pembelajaran ekspositori. Dari Gambar 1,
tampak
bahwa
rata-rata
kemampuan
pemecahan masalah siswa pada kelas
eksperimen lebih dari rata-rata kemampuan
pemecahan masalah siswa pada kelas kontrol.
Dari uji t pada Tabel 5, dapat disimpulkan
bahwa rata-rata kemampuan pemecahan
masalah
siswa
pada
pembelajaran
menggunakan pembelajaran model TAPPS
berbantuan worksheet berbasis Polya lebih tinggi
daripada rata-rata kemampuan pemecahan
masalah siswa dalam pembelajaran ekspositori.
Uji hipotesis ketiga yaitu uji proporsi
satu pihak untuk mengetahui persentase
ketuntasan belajar siswa yang lebih tinggi antara
kelas
eksperimen
dan
kelas
kontrol.
Perbandingan persentase ketuntasan individual
kemampuan pemecahan masalah siswa kelas
eksperimen dan kelas kontrol tampak pada
Gambar 2 dan hasil uji proporsi satu pihak
disajikan dalam Tabel 6.
Simpulan
Dari hasil penelitian yang telah
dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa (1)
pembelajaran dengan model TAPPS berbantuan
worksheet berbasis Polya tuntas, (2) rata-rata
kemampuan pemecahan masalah siswa pada
pembelajaran
menggunakan
pembelajaran
model TAPPS berbantuan worksheet berbasis
Polya
lebih
tinggi
daripada
rata-rata
kemampuan pemecahan masalah siswa dalam
pembelajaran ekspositori, dan (3) persentase
ketuntasan belajar siswa pada pembelajaran
menggunakan pembelajaran model TAPPS
Berdasarkan
Tabel
6,
diperoleh
simpulan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima,
persentase ketuntasan belajar pada kemampuan
38
N Maula et al / Journal of Mathematics Education 2 (1) (2013)
berbantuan worksheet berbasis Polya lebih tinggi
daripada persentase ketuntasan belajar siswa
dalam pembelajaran ekspositori. Dari ketiga
hasil dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
model TAPPS berbantuan worksheet berbasis
Polya pada materi lingkaran merupakan
pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu,
pembelajaran matematika dengan model
TAPPS berbantuan worksheet berbasis Polya
dapat digunakan sebagai alternatif dalam
pembelajaran pada pokok bahasan matematika
lain yang bisa dipilih oleh guru untuk
meningkatkan
kemampuan
pemecahan
masalah matematika siswa.
(Problem­Solving) dalam Pembelajaran
Matematika.
Bandung:
Universitas
Pendidikan Indonesia. Diunduh di
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA
/JUR._PEND._MATEMATIKA/1962
10111991011TATANG_HERMAN/Artikel/Artikel
14.pdf tanggal 5 Desember 2012
Hudojo, H. 1988. Mengajar Belajar Matematika.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan
Johnson, S. D. & Chung, S. 1999. The Effect of
Thinking Aloud Pair Problem Solving
(TAPPS) on the Troubleshooting
Ability
of
Aviation
Technician
Students. Journal of Industrial Teacher
Education.
37(1).
Diunduh
di
http://scholar.lib.vt.edu/ejournals/JIT
E/v37n1/john.html tanggal 3 Februari
2013
Pate, M. L., Wardlow, G. W., & Johnson, D. M.
2004. Effects of Thinking Aloud Pair
On
The
Problem
Solving
Troubleshooting
Performance
of
Undergraduate Agriculture Students In
A Power Technology Course. Journal of
Agricultural Education. 45(4): 1-11
Polya, G. 1973. How to Solve It. New Jersey:
Princeton University Press
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan
(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Bandung: Alfabeta
Woolfolk, A. 2001. Educational Psychology Eighth
Edition. United States of America:
Pearson Education Company
Ucapan Terimakasih
Artikel ini dapat tersusun dengan baik
berkat bantuan dan bimbingan banyak pihak.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima
kasih kepada: (1) Drs. Arief Agoestanto, M.Si.
selaku Ketua Jurusan Matematika, dan (2)
Bapak Arif Dewantoro, S.Pd. selaku Guru
Pamong SMP Negeri 2 Pekalongan.
Daftar Pustaka
Benham, H. 2009. Design Using “Talking
Aloud Pair Problem Solving” To
Enhance Student Performance In
Productivity Software Course. Issues
Information Systems. 10(1): 150-154
BSNP. 2006. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP
Herman, T. 2000. Strategi Pemecahan Masalah
39
Download