BAB V KESIMPULAN Pada Kumpulan Cerpen Memotret

advertisement
BAB V
KESIMPULAN
Pada Kumpulan Cerpen Memotret Perempuan karya Hapie Joseph Aloysia
terdapat kecenderungan permasalahan yang selaras dengan kritik sastra feminis, yaitu
kritik sastra feminis sosialis karena dalam Kumpulan Cerpen ini
menceritakan
realitas kehidupan perempuan yang menjadi korban laki-laki yang mengakibatkan
penderitaan, penghinaan, bahkan penyiksaan, yang mengakibatkan tekanan hidup
yang sangat menyedihkan, ancaman pembunuhan, akan adanya paradigma cengeng
untuk perempuan yang selalu menjadi sumber inspirasi segalanya. Tokoh utama,
penderitaan, paksaan, penghinaan, emosi dan keputusasaan sekaligus cinta. Pada
Kumpulan Cerpen Memotret Perempuan terlihat juga unsur feminis liberal karena
tokoh utama perempuan yang digambarkan, telah memahami prinsip-prinsip
feminisme ini yang menyadari bahwa walaupun ia anak seorang sundal namun juga
bisa berbuat lebih baik, dengan menempuh pendidikan S2 di Kanada, ia memiliki
tujuan hidup yang diperlakukan secara layak dan dihargai. Apa yang diharapkan
tokoh tersebut sejalan dengan apa yang diinginkan pengarang yang memiliki faham
feminisme liberal. Menurut Tong (2004:22) yang menyatakan bahwa apa yang
diinginkan perempuan adalah seorang manusia utuh (personhood). Perempuan adalah
suatu tujuan, suatu agen bernalar, yang harga dirinya ada dalam kemampuannya
untuk menentukan nasibnya sendiri. Feminisme liberal yang menuntut adanya
keadilan atau kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam bidang ekonomi,
94
95
pendidikan dan politik. Tokoh tersebut bertujuan untuk mencapai kesejatian seorang
perempuan sebagai manusia yang utuh (personhood) sama seperti laki-laki. Tokoh
utama perempuan dalam Kumpulan Cerpen Memotret Perempuan mengalami ketidak
adilan, dihina karena anak seorang sundal. Namun karena menempuh pendidikan S2
di Kanada dan sampai selesai sehingga memperoleh nilai cumlaude yang akhirnya
dapat bekerja sebagai advokat setelah kembali ke negaranya. Tokoh utama
perempuan dapat bangkit menjadi manusia utuh yang dapat menyelesaikan persoalan
tersebut ia memperoleh pendidikan tinggi setara dengan laki-laki. Penulis
menunjukkan kematangan dan kedewasaan dalam menulis fiksi, bertransformasi
dengan progresif dalam gaya bahasa dan pilihan kata dia menemukan olah rasa dan
olah kepekaan untuk melihat kaumnya dari sudut kejahatan, kekerasan yang
dilakukan oleh laki-laki dan ketabahan, kesabaran perempuan akan memberikan
solusi dari setiap konflik. Membuat semakin menyadarkan si pembaca tentang
dinamika kompilatif antara kekuatan, keeleganan, ketabahan dan kesabaran hati
yang melekat pada perempuan.
Hasil identifikasi tokoh dari kelima sampel cerpen sebagai berikut:
a.
Cerpen Memar Hati Seorang Perempuan.
Dalam cerpen Memer Hati Seorang Perempuan terdapat tokoh Aku yang
menjadi tokoh utama dan merupakan tokoh perempuan. Tokoh Suami merupakan
96
tokoh yang bersikap kontra feminis karena membuat tokoh Aku menderita akibat
tekanan yang sangat berat dari suaminya shingga tidak membuat bahagia.
Bentuk kekerasan yang dialami oleh perempuan adalah kekerasan psikis /
mental karena dia mengalami tekanan yang sangat berat yang dilakukan oleh
suaminya sendiri. Diksi yang menekankan perempuan sebagai the second sex terkutip
dari penggunaan diksi pemuas laki-laki. Wanita penghibur merupakan diksi
memaksa, melayani dapat dimaknai sebagai aktivitas seksual yang sering
diasumsikan sebagai tindakan yang merujuk laki-laki sebagai subyek dan perempuan
sebagai obyeknya. Seksisme bahasa bekerja dalam penggunaan diksi melayani karena
diksi tersebut harus memposisikan laki-laki sebagai subyek. Kalimat perempuan
melayani laki-laki /sebagai wanita penghibur adalah kalimat yang lazim digunakan
dalam masyarakat pemakai bahasa. Berdasarkan pemakaian diksi tersebut
memberikan makna bahwa laki-laki sering menjadi subyek dominan dalam seluruh
tindakan yang merujuk pada keaktifan salah satunya dalam aktivitas seksual,
sedangkan perempuan didalam budaya patriarki diklaim sebagai obyek yang
menerima tindakan dari pihak laki-laki atau berlaku pasif. Obyektivitas perempuan
versus laki-laki secara detail akan diungkapkan dalam analisis perempuan sebagai
obyek pasif dan laki-laki sebagai subyek aktif. Menunjuk pada pemilihan diksi untuk
menyebut perempuan sebagai obyek seksual laki-laki. Diksi memuaskan bermakna
perempuan menjadi alat pemuas kebutuhan laki-laki dalam hal seksual. Diksi
bermakna serupa yang menunjukkan perempuan adalah alat pemuas. Perempuan
97
adalah pemuas laki-laki ketika laki-laki membutuhkannya merupakan obyek pemuas
kebutuhan seksual laki-laki.
b.
Cerpen Jangan Panggil Aku Perempuan Jalang.
Dalam cerpen Jangan panggil Aku Perempuan Jalang tokoh utama Aku
adalah tokoh perempuan berparas cantik. Tokoh Ibu adalah tokoh perempuan
merupakan tokoh utama yang bersikap kontra feminis karena menjadi pelacur
adalah perbuatan yang tidak baik dan tidak berguna bagi masyarakat. Tokoh Aku
adalah seorang anak pelacur yang dianggap hina yang dilahirkan dari rahim seorang
sundal. Tokoh Nenek adalah tokoh tambahan dan merupakan tokoh perempuan.
yang bersikap profeminis karena mengasuh, menyekolahkan tokoh Aku. Tokoh
Bos Johan adalah tokoh tambahan dan merupakan tokoh laki-laki yang bersikap
pro feminis karena membuat
tokoh Ibu dan tokoh Aku/anak
mendapatkan
kehidupan yang lebih baik. Bos Johan juga menyekolahkan anak ibu ke Kanada
sampai S2 Tokoh Aku adalah tokoh perempuan merupakan tokoh utama yang
bersikap profeminis karena berbuat baik pada tokoh tambahan. Tokoh Mantan istri
Bos Johan adalah tokoh tambahan dan merupakan tokoh perempuan yang bersikap
profeminis karena tidak membenci pada tokoh Aku karena ulah ibunya melainkan
malah menyukainya dan menyayanginya seperti menyayangi ketiga putranya dan
diminta menjadi menantunya bukan untuk menebus dosa ibunya melainkan ia
menginginkan untuk mendampingi putranya. Tokoh kekasih Aku/anak sulung Bos
johan adalah tokoh utama yang merupakan tokoh laki-laki yang bersikap
98
profeminis karena membuat tokoh Aku bahagia dan akan dinikahi menjadi istrinya.
Bentuk kekerasan yang dialami oleh anak adalah kekerasan non fisik karena dihina
sebagai anak sundal/pelacur, padahal dia tidak bersalah. Berdasarkan pemakaian diksi
tersebut memberikan makna bahwa laki-laki sering menjadi subyek dominan dalam
seluruh tindakan yang merujuk pada keaktifan salah satunya dalam aktivitas seksual,
sedangkan perempuan didalam budaya patriarki diklaim sebagai obyek yang
menerima tindakan dari pihak laki-laki atau berlaku pasif. Obyektivitas perempuan
versus laki-laki secara detail akan diungkapkan dalam analisis perempuan sebagai
obyek pasif dan laki-laki sebagai subyek aktif. Menunjuk pada pemilihan diksi untuk
menyebut perempuan sebagai obyek seksual laki-laki. Diksi memuaskan bermakna
perempuan menjadi alat pemuas kebutuhan laki-laki dalam hal seksual. Diksi
bermakna serupa yang menunjukkan perempuan adalah alat pemuas. Perempuan
adalah pemuas laki-laki ketika laki-laki membutuhkannya merupakan obyek pemuas
kebutuhan seksual laki-laki.
c.
Cerpen Binatang di Tubuh Perempuan.
Tokoh utama pada cerpen Binatang di Tubuh Perempuan, adalah tokoh aku
adalah tokoh perempuan merupakan tokoh utama dan tokoh kekasih adalah tokoh
laki-laki merupakan tokoh utama yang bersikap kontrafeminis karena membuat
tokoh aku diperlakukan sebagai wanita simpanan / gundik. . merupakan contoh
ketidakadilan gender
bagi seorang perempuan dengan wujud pelecehan yang
dilakukan laki-laki terhadap perempuan. Perempuan menjadi jenis kelamin yang
99
diremehkan dengan berbagai karakteristiknya yang dianggap tidak berkualitas. Ia
tidak pernah berdiri pada posisi diatas laki-laki atau sama dengan laki-laki. Dalam
segala hal ia menjadi pihak yang dirugikan, segala kesalahan, perempuan menjadi alat
pemuas kebutuhan laki-laki dalam hal seksual, merupakan bentuk kekerasan seksual.
Diksi yang menekankan perempuan sebagai the second sex terkutip dari penggunaan
diksi pemuas laki- laki. Wanita simpanan/ gundik
merupakan diksi memaksa,
melayani dapat dimaknai sebagai aktivitas seksual yang sering diasumsikan sebagai
tindakan yang merujuk laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obyeknya.
Seksisme bahasa bekerja dalam penggunaan diksi melayani karena diksi tersebut
harus memposisikan laki-laki sebagai subyek. Kalimat perempuan melayani laki-laki
/sebagai wanita simpanan sama dengan laki-laki. Dalam segala hal ia menjadi pihak
yang dirugikan, segala kesalahan, perempuan menjadi alat pemuas kebutuhan lakilaki dalam hal seksual, merupakan bentuk kekerasan seksual. Diksi yang menekankan
perempuan sebagai the second sex terkutip dari penggunaan diksi pemuas laki- laki.
Wanita simpanan/ gundik
merupakan diksi memaksa, melayani dapat dimaknai
sebagai aktivitas seksual yang sering diasumsikan sebagai tindakan yang merujuk
laki-laki sebagai subyek dan perempuan sebagai obyeknya. Seksisme bahasa bekerja
dalam penggunaan diksi melayani karena diksi tersebut harus memposisikan laki-laki
sebagai subyek. Kalimat perempuan melayani laki-laki /sebagai wanita simpanan
adalah kalimat yang lazim digunakan dalam masyarakat pemakai bahasa.
100
Berdasarkan pemakaian diksi tersebut memberikan makna bahwa laki-laki
sering menjadi subyek dominan dalam seluruh tindakan yang merujuk pada keaktifan
salah satunya dalam aktivitas seksual, sedangkan perempuan didalam budaya
patriarki diklaim sebagai obyek yang menerima tindakan dari pihak laki-laki atau
berlaku pasif. Obyektivitas perempuan versus laki-laki secara detail akan
diungkapkan dalam analisis perempuan sebagai obyek pasif dan laki-laki sebagai
subyek aktif. Menunjuk pada pemilihan diksi untuk menyebut perempuan sebagai
obyek seksual laki-laki. Diksi memuaskan bermakna perempuan menjadi alat pemuas
kebutuhan laki-laki dalam hal seksual. Diksi bermakna serupa yang menunjukkan
perempuan adalah alat
pemuas. Perempuan adalah pemuas laki-laki ketika
membutuhkannya merupakan obyek pemuas kebutuhan seksual laki-laki.
d.
Cerpen Surtini.
Tokoh yang berpengaruh dalam cerpen Surtini pada Kumpulan
Memotret Perempuan. Tokoh perempuan : Aku
yaitu
Cerpen
Surtini, Teman
perempuan, Dukun bayi. Tokoh laki-laki yaitu Kekasih Surtini, Majikan/ Tuan.
Aku yaitu Surtini merupakan tokoh utama yang mengisahkan cerita, bahwa Surtini
sering diperkosa dan pernah hamil namun tidak dinikah malah dikasih uang untuk
menggugurkan kandungannya. Perbuatan berikut mencerminkan bahwa perempuan
yang merupakan korban pemuas kebutuhan seks oleh laki-laki. Feminisme korban
melihat perempuan dalam peran seksual yang murni dan mistis, dipandu oleh naluri
untuk mengasuh dan memelihara, serta kejahatan-kejahatan yang terjadi atas
101
perempuan sebagai jalan untuk menuntut atas hak-hak perempuan. Feminisme
kekuasaan menganggap perempuan sebagai manusia biasa yang secara seksual dan
individual tidak lebih baik dan tidak lebih buruk dibandingkan dengan laki-laki dan
mengklaim hak-hak perempuan.
Tokoh Aku, Surtini merupakan tokoh utama dan tokoh Majikan / Tuan
bersikap kontra feminis tidak menunjukkan sikap yang membuat bahagia namun
malah
menyiksa bertubi-tubi
tokoh utama tidak menghargai perempuan yaitu
Surtini bahkan memperkosa dan menghamilinya. Tokoh
pememperkosa Surtini
sewaktu menjadi TKW adalah tokoh lelaki merupakan tokoh utama yang bersikap
kontrafeminis, karena tidak menghargai perempuan dan membuat perempuan
menderita karena diperkosa. Tokoh Teman Surtini adalah tokoh perempuan dan
merupakan tokoh tambahan yang bersikap profeminis karena membantu Surtini,
menasihatinya. Tokoh Pemangku Desa adalah tokoh laki-laki merupakan tokoh
tambahan yang bersikap profeminis karena menolong teman Surtini. Teman SMA
Surtini yang dianggap kekasih Surtini adalah tokoh tambahan dan merupakan
tokoh lak-laki yang bersikap kontrafeminis karena membuat Surtini hamil namun
tidak mau bertanggung jawab untuk mengawininya malah diberi uang untuk
menggugurkan kandungannya. Tokoh Dokter adalah tokoh tambahan merupakan
tokoh laki-laki yang bersikap profeminis karena menolong Surtini sewaktu sakit
dan didiagnosa mengidap HIV Aids. Tokoh Dukun Bayi adalah tokoh tambahan
dan merupakan tokoh perempuan yang bersikap kontra feminis karena mau
102
menggugurkan kandungan Surtini dan mengkiretnya, membuat Surtini sakit, terkapar
karena kehilangan banyak darah. Surtini dianiaya merupakan bentuk kekerasan fisik
yang dialaminya, sedangkan Surtini diperkosa merupakan bentuk kekerasan seksual,
merupakan contoh ketidakadilan gender bagi seorang perempuan dapat dikatakan
tersubordinasi dengan wujud pelecehan yang dilakukan laki-laki terhadap
perempuan. Perempuan menjadi jenis kelamin yang diremehkan dengan berbagai
karakteristiknya yang dianggap tidak berkualitas. Ia tidak pernah berdiri pada posisi
diatas laki-laki atau sama dengan laki-laki. Dalam segala hal ia menjadi pihak yang
dirugikan, segala kesalahan. Diksi yang menekankan perempuan sebagai the second
sex terkutip dari penggunaan diksi pemuas laki- laki. Perkosa merupakan diksi
memaksa, menyetubuhi dapat dimaknai sebagai aktivitas seksual yang sering
diasumsikan sebagai tindakan yang merujuk laki- laki sebagai subyek dan perempuan
menjadi obyeknya.
e.
Cerpen Lelaki Akademisi dan Perempuan Seniwati.
Tokoh Aku yaitu Swastika Agni adalah tokoh perempuan merupakan tokoh
utama yang bersikap profeminis karena dapat merubah tokoh Engkau mampu
membuat gairah dalam hidupnya. Tokoh Engkau yaitu Erlangga Bagaskara adalah
tokoh laki-laki
merupakan tokoh utama bersikap kontrafeminis
karena tidak
menghargai perempuan dengan mencumbui berkali-kali tanpa diinginkan. Tokoh
Engkau juga dapat dikatakan profeminis karena tokoh Engkau mencintai tokoh
Aku bukan karena ketampanannya namun karena mencintai apa adanya. Bentuk
103
kekerasan yang dialami oleh Swastika Agni adalah pelecehan seksual karena
mencumbui bertubi-tubi tidak seijin terlebih dahulu.dan belum berkenalan. Lelaki
adalah berpendidikan sarjana ilmu politik yang disebut manusia Akademisi
sedangkan perempuan seniman aotodidak. Sehingga ada ketidak setaraan gender
antara laki-laki dan perempuan, namun perempuan dapat mengubah sikap kekasihnya
menjadi lebih baik. Laki-laki selalu diklaim sebagai jenis kelamin yang disebut-sebut
sebagai jenis kelamin yang pertama (first sex) dan mereka memiliki lebih banyak
kekuasaan atas segala hal terutama terhadap perempuan. Pengestimewaan laki-laki
dibandingkan dengan perempuan menimbulkan kuasa laki-laki terhadap perempuan,
yang tercermin dari sikap selalu lebih, terhadap eksistensi perempuan, yang
menganggap bahwa perempuan lebih rendah dan memandang sebagai pendamping
pada kehidupan laki-laki saja. Terdapat diksi yang menggunakan perfik di-, perfiks
di- menandai pembentukan kalimat pasif. pendamping pada kehidupan laki-laki saja.
Terdapat diksi yang menggunakan perfik di-, perfiks di- menandai pembentukan
kalimat pasif.
Dari hasil analisa aspek kebahasaan pada
Kumpulan Cerpen Memotret
Perempuan untuk kelima cerpen sebagai sampel yaitu menggunakan gaya bahasa
simile/ persamaan, anaphora, repetisi, asonansi, repetisi jenis simploke, repetisi jenis
aliterasi, repetisi jenis epizeuksis, hiperbola, personifikasi dan paralelisme.
Download