gambaran insiden keselamatan pasien berdasarkan karakteristik

advertisement
GAMBARAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN
BERDASARKAN KARAKTERISTIK PERAWAT, ORGANISASI,
DAN SIFAT DASAR PEKERJAAN DI UNIT RAWAT INAP
RUMAH SAKIT AL-ISLAM BANDUNG PADA PERIODE 2012-2016
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M)
OLEH:
FITRI HANDAYANI
1112101000002
PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017 M / 1438 H
i
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
Skripsi, April 2017
Fitri Handayani, NIM: 1112101000002
Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Perawat,
Organisasi, dan Sifat Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung pada Periode 2012-2016
(xxii + 150 halaman, 22 tabel, 1 grafik, 1 bagan, 3 gambar, 3 lampiran)
ABSTRAK
Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman. Penerapan program keselamatan pasien di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah dilaksanakan sejak tahun 2010. Namun,
berdasarkan laporan insiden keselamatan pasien (IKP) Komite Keselamatan
Pasien tercatat pada tahun 2013 terdapat sebanyak 108 insiden yang di antaranya
terdiri dari 18 kasus KTD, 16 kasus KNC, dan 72 kasus KTC. Tahun 2014 tercatat
sebanyak 129 insiden yang di antaranya terdiri dari 9 kasus KTD, 23 kasus KNC,
dan 96 kasus KTC. Tahun 2015 tercatat sebanyak 105 insiden yang di antaranya
terdiri dari 28 kasus KTD, 8 kasus KNC, dan 66 kasus KTC.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran IKP pada perawat
berdasarkan umur, pengetahuan, stres, kelelahan, komunikasi, implementasi SOP,
kerjasama tim, dan gangguan atau interupsi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan cross
sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung. Pengambilan sampel menggunakan
purposive sampling dengan sampel sebanyak 76 perawat dan pengumpulan data
dilakukan melalui kuesioner.
Berdasarkan hasil penelitian, perawat yang pernah melakukan IKP sebesar
39,5%. Perawat berusia ≤ 30 tahun sebesar 51,2%, pengetahuan kurang sebesar
89,5%, stres tinggi sebesar 78,6%, kelelahan tinggi 55,2%, persepsi kurang
terhadap implementasi SOP sebesar 65,2%, kerjasama tim kurang baik sebesar
68,4% cenderung pernah melakukan IKP. Sedangkan, perawat yang memiliki
komunikasi efektif sebesar 71,7% dan gangguan atau interupsi rendah sebesar
70,8% cenderung tidak pernah melakukan IKP.
Untuk mengantisipasi terjadinya IKP pada perawat, rumah sakit sebaiknya
dapat meningkatkan faktor – faktor yang berperan dalam insiden keselamatan
pasien terutama pada perawat yang berusia ≤ 30 tahun, pengetahuan, stres,
kelelahan, persepsi terhadap implementasi SOP, dan kerjasama tim.
Kata kunci
: Insiden Keselamatan Pasien, Perawat, Karakteritik Individu,
Karakteristik Organisasi, Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan
Daftar Bacaan: 65 (2000 – 2015)
ii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM
HEALTH SERVICE MANAGEMENT
Undergraduated Thesis, April 2017
Fitri Handayani, ID Number: 1112101000002
Description of Patient Safety Incidents Based on The Characteristics of
Nurses, Organizations, and The Nature of Work in Inpatient Unit of AlIslam Bandung Hospital in The Periode 2012-2016
(xxii + 150 pages, 22 tables, 2 charts, 3 images, 3 attachments)
ABSTRACT
Hospital patient safety is a system where hospitals make patient care safer.
Application of patient safety programs in the hospital Al-Islam Bandung has been
ongoing since 2010. However, patient safety incidents reported by Patients Safety
Committe recorded in 2013 were 108 incidents of which 72 cases KTC, 18 cases
KTD, and 16 cases of KNC. In 2014, there were 129 incidents of which 96 cases
KTC, 23 cases of KNC, and 9 cases KTD. In 2015, there were 105 incidents of
which 66 cases KTC, 28 cases KTD, and 8 cases KNC.
This study aims to description of patient safety incidents by nurses based
of individual characteristics which include age, knowledge, stress and fatigue,
organizational characteristics which consists of communication and
implementation of SOP, teamwork, and disturbance/interruptions at Unit Inpatient
of Al-Islam Bandung Hospital. The study design used in this research is
descriptive research with cross sectional approach. The study population was all
nurses in Inpatient Unit of Al-Islam Bandung Hospital. How sampling collected
using purposive sampling with a sample of 76 nurses and data collected through
questionnaires.
The results showed that were as much as 39,5% of nurses who had
conducted patient safety incidents in Inpatient Unit of Al-Islam Bandung
Hospital. Nurses age of < 30 years 51,2%, lack of knowledge 89,5%, high stress
78,6%, high fatigue 55,2%, lack of perception of the SOP 65,2%, lack of
teamwork 71,7% of nurses who had conducted patient safety incidents. While
nurses have effevtive communication 71,7% and low disturbance/interruptions
70,8% of nurses who hadn’t conducted patient safety incidents.
To prevent the occurrence of patient safety incidents, the hospital should
be able to improve determinan of patient safety incidents, specifially to nurses
age of < 30 years, knowledge, stress, fatigue, lack of perception of the SOP, and
teamwork.
Keywords
: Patient Safety Incidents, Nurse, Individual Characteristics,
Organizational Characteristics, The Nature of Work Characteristics
Reading List :65 (2000 – 2015)
iii
iv
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Identitias Pribadi
Nama Lengkap
: Fitri Handayani
Tempat / Tanggal
: Sukabumi, 02 April 1994
Lahir
Jenis Kelamin
: Perempuan
Alamat
: Jalan R. A. Kosasih Ciaul Gang Mahmud RT. 003 RW. 005
No. 52, Kelurahan Citamiang, Kecamatan Cikole, Kota
Sukabumi, Jawa Barat
Agama
: Islam
Telepon
: 085720008912
Email
: [email protected]
Riwayat Pendidikan
2012 – 2017
: Peminatan Manajemen Pelayanan Kesehatan, Program
Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan,
Universitas
Islam
Negeri
Hidayatullah Jakarta
2009 – 2012
: SMA Negeri 5 Kota Sukabumi
2006 – 2009
: SMP Negeri 15 Kota Sukabumi
2000 – 2006
: SD Negeri Cijangkar 1 Kota Sukabumi
1999 – 2000
: TK Islam Assalam
vi
(UIN)
Syarif
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang Maha
Pengasih dan Maha Penyayang atas limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya
sehingga skripsi yang berjudul “Gambaran Insiden Keselamatan Pasien
Berdasarkan Karakteristik Perawat, Organisasi, dan Sifat Dasar Pekerjaan
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 20122016” dapat diselesaikan. Sholawat dan salam tidak lupa penulis sampaikan pada
baginda Rasulullah Muhammad SAW yang membawa umatnya ke jalan yang
diridhoi oleh Allah SWT.
Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk
menyelesaikan program Strata Satu (S1) pada Program Studi Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta. Penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1.
Keluarga tercinta, terutama Ayahanda Suhendi Sadeli, Ibunda Juju, dan
Saudara – Saudariku, Moch. Iskandar dan Keluarga, Lina Nurhayati, S. Hut.
dan Keluarga, Nurdin Sayid Firdaus, untuk segala do’a, dorongan semangat,
dukungan moril dan materil, perhatian, serta kasih sayang yang tiada henti
kepada penulis.
2.
Bapak Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes., selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
vii
3.
Ibu Fajar Ariyanti, SKM, M.Kes, Ph. D., selaku Kepala Program Studi
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Pembimbing
Skripsi yang telah memberikan arahan serta bimbingannya.
4.
Ibu Lilis Muchlisoh, SKM, MKM., selaku Pembimbing Skripsi yang telah
memberikan arahan serta bimbingannya.
5.
Ibu Riastuti Kusuma Wardani, SKM, MKM., selaku Penanggung Jawab
Peminatan Manajemen Pelayanan Kesehatan.
6.
Ibu Ratri Ciptaningtyas, MHS., Ibu Iting Shofwati, ST, MKKK., dan Ibu
Puput Oktamianti, SKM, MM., selaku Penguji Sidang Skripsi yang telah
memberikan arahan dan bimbingannya.
7.
Direktur Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang telah memberikan kesempatan
kepada peneliti untuk melakukan penelitian skripsi di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung.
8.
dr. Rita Herawati, Sp. PK, M. Kes. selaku Kepala Komite Mutu dan
Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
9.
Bapak Ujang Hidayatullah, SKM. selaku Staf Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang telah memberikan kesempatan kepada
peneliti untuk dapat melaksanakan penelitian skripsi dan juga bersedia
memberikan bimbingan serta arahan selama pelaksanaan kegiatan penelitian
skripsi.
10. Seluruh perawat di unit rawat inap yang telah bersedia untuk bekerja sama
dan menjadi responden dalam penelitian skripsi di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung.
viii
11. Sahabat terbaik, Eka Putri Hanifah, S. Pd. yang selalu mendengarkan keluh
kesah penulis, memberikan semangat, dan motivasinya untuk penulis dapat
menyelesaikan skripsi.
12. Hipni Solehudin, S. Ked., dan Keluarga “REKISHI”, Rizki Ananda Prawira
Marpaung, S. Ked., Fitria Nurannisa, S. Ked., Putri Auliya Hilfa Lubis, S.
Ked., dan Muthiah Miftahul Husnayain, S. Ked. yang selalu memberikan
motivasi serta semangatnya kepada penulis.
13. Teman – teman seperjuangan Kesehatan Masyarakat Angkatan 2012
khususnya Peminatan
Manajemen Pelayanan Kesehatan
yang telah
memberikan dorongan semangat dan kebersamaannya selama menyelesaikan
perkuliahan.
14. Bi Ade dan Keluarga Bandung, Mbak Laily Rachmayanti, dan Keluarga
Tante Dessy yang telah membantu peneliti selama melakukan penelitian.
15. Semua pihak yang secara tidak langsung membantu penulis dalam
menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
Dengan mengirimkan doa kepada Allah SWT, penulis berharap semua
kebaikan yang telah diberikan mendapat pahala dari Allah SWT. Terakhir penulis
berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Aamiin ya
rabal ‘alamin.
Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
Jakarta, April 2017
Peneliti
ix
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN ......................................................................................... i
ABSTRAK ................................................................................................................... ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN............................................................................ iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................................. vi
KATA PENGANTAR ............................................................................................... vii
DAFTAR ISI ................................................................................................................ x
DAFTAR TABEL .................................................................................................... xiv
DAFTAR BAGAN................................................................................................... xvii
DAFTAR GRAFIK ................................................................................................ xviii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ xix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................. xx
DAFTAR ISTILAH ................................................................................................. xxi
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang ......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................................... 6
C. Pertanyaan Penelitian ............................................................................................... 7
D. Tujuan Penelitian...................................................................................................... 8
1. Tujuan Umum....................................................................................................... 8
2. Tujuan Khusus ...................................................................................................... 8
E. Manfaat Penelitian .................................................................................................... 8
1. Bagi Rumah Sakit Al-Islam Bandung .................................................................. 8
2. Bagi Peneliti selanjutnya ...................................................................................... 9
F. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................................................ 9
x
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................... 10
A. Konsep Keselamatan Pasien di Rumah Sakit......................................................... 10
1. Definisi Keselamatan Pasien .............................................................................. 10
2. Tujuan Program Keselamatan Pasien ................................................................. 11
3. Standar Keselamatan Pasien ............................................................................... 11
4. Tujuh Langkah Keselamatan Pasien .................................................................. 13
5. Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (TKPRS) .............................................. 14
6. Sasaran Keselamatan Pasien .............................................................................. 15
B. Insiden Keselamatan Pasien ................................................................................... 24
C. Sistem Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien ...................................................... 28
D. Faktor – Faktor yang Berkontribusi dalam Insiden Keselamatan Pasien............... 33
E. Kerangka Teori Penelitian ...................................................................................... 54
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL .................. 56
A. Kerangka Konsep ................................................................................................... 56
B. Definisi Operasional ............................................................................................... 59
BAB IV METODE PENELITIAN .......................................................................... 62
A. Desain Penelitian .................................................................................................... 62
B. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................................. 62
C. Populasi dan Sampel .............................................................................................. 62
1. Populasi .............................................................................................................. 62
2. Sampel ................................................................................................................ 63
3. Kriteria Sampel................................................................................................... 65
D. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................................... 65
1. Sumber Data ....................................................................................................... 65
xi
2. Instrumen Penelitian ........................................................................................... 66
E. Uji Validitas dan Realibilitas .................................................................................. 71
1. Uji Validitas ....................................................................................................... 71
2. Uji Realibilitas .................................................................................................... 72
F. Pengolahan Data ..................................................................................................... 73
G. Analisis Data .......................................................................................................... 75
BAB V HASIL PENELITIAN ................................................................................. 76
A. Gambaran Umum Rumah Sakit Al-Islam Bandung ............................................... 76
B. Gambaran Umum Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung . 77
C. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap Rumah
Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 2012-2016 ................................................. 88
D. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik
Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung... ............................ 90
1. Usia ..................................................................................................................... 90
2. Pengetahuan ........................................................................................................ 91
3. Stres.. ................................................................................................................... 93
4. Kelelahan............................................................................................................. 95
E. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik
Organisasidi Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung ............................ 96
1. Komunikasi ......................................................................................................... 96
2. Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) ........................................... 99
F. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik
Sifat Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung ....... 101
1. Kerjasama Tim .................................................................................................. 101
xii
2. Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat ....................................... 103
BAB VI PEMBAHASAN........................................................................................ 105
A. Keterbatasan Penelitian ........................................................................................ 106
B. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung pada Periode 2012-2016.............................................................. 107
C. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Perawat di
Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung ............................................... 115
1. Usia ................................................................................................................... 115
2. Pengetahuan ...................................................................................................... 117
3. Stres.. ................................................................................................................. 124
4. Kelelahan........................................................................................................... 129
D. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Organisasi
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung ........................................... 134
1. Komunikasi ....................................................................................................... 134
2. Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP) ......................................... 138
E. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Sifat Dasar
Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung .......................... 141
1. Kerjasama Tim ................................................................................................. 141
2. Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat.. .................................... 144
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ..................................................................... 147
A. Simpulan .............................................................................................................. 147
B. Saran ..................................................................................................................... 148
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. xxii
LAMPIRAN ...................................................................................................................
xiii
DAFTAR TABEL
No.
Nama Tabel
Halaman
Faktor yang Berpengaruh terhadap Insiden Keselamatan
34
Tabel
2.1
Pasien (WHO, 2009)
2.2
Faktor Model Sistem yang Berkontribusi dalam Insiden
35
Keselamatan Pasien (Henriksen et al., 2008)
3.1
Definisi Operasional
59
4.1
Perhitungan Jumlah Sampel
64
4.2
Nilai Cronbach Alpha pada Instrumen Penelitian
73
4.3
Skor Likert pada Pernyataan Positif dan Negatif
74
5.1
Distribusi Pernyataan Perawat terkait Insiden Keselamatan
88
Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
pada Periode 2012-2016
5.2
Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Usia
90
Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
5.3
Distribusi
Insiden
Keselamatan
Pasien
Berdasarkan
91
Pengetahuan Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung
5.4
Distribusi Jawaban Perawat Terkait Pengetahuan di Unit
92
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
5.5
Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Stres
Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
xiv
93
No.
Nama Tabel
Halaman
Tabel
5.6
Distribusi Jawaban Perawat Terkait Stres di Unit Rawat Inap
94
Rumah Sakit Al-Islam Bandung
5.7
Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Kelelahan
95
Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
5.8
Distribusi Jawaban Perawat Terkait Kelelahan di Unit Rawat
96
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
5.9
Distribusi
Insiden
Keselamatan
Pasien
Berdasarkan
97
Komunikasi Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung
5.10
Distribusi Jawaban Perawat Terkait Komunikasi di Unit
98
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
5.11
Distribusi
Insiden
Keselamatan
Pasien
Berdasarkan
99
Implementasi SOP di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
5.12
Distribusi Jawaban Perawat Terkait Implementasi SOP di Unit
100
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
5.13
Distribusi
Insiden
Keselamatan
Pasien
Berdasarkan
101
Kerjasama Tim Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung
5.14
Distribusi Jawaban Perawat Terkait Kerjasama Tim di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
xv
102
No.
Nama Tabel
Halaman
Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Gangguan
103
Tabel
5.15
atau Interupsi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
5.16
Distribusi Jawaban Perawat Terkait Gangguan atau Interupsi
yang Dialami oleh Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit
Al-Islam Bandung
xvi
104
DAFTAR BAGAN
No.
Nama Bagan
Halaman
Struktur Organisasi Komite Mutu dan Keseelamatan Pasien
79
Bagan
5.1
Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016
xvii
DAFTAR GRAFIK
No.
Nama Grafik
Halaman
Distribusi Pernyataan Perawat Berdasarkan KTD, KNC, KTC
89
Grafik
5.1
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada
Periode 2012-2016
xviii
DAFTAR GAMBAR
No.
Nama Gambar
Halaman
Faktor – Faktor yang Berkontribusi terhadap Insiden
38
Gambar
2.1
Keselamatan Pasien pada Pelayanan Kesehatan (Henriksen
et al., 2008)
2.2
Kerangka Teori Penelitian
55
2.3
Kerangka Teori Penelitian
58
xix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Izin Penelitian dari Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Lampiran 2. Kuesioner Penelitian
Lampiran 3. Output SPSS
xx
DAFTAR ISTILAH
Nama Singkatan
Kepanjangan
AHRQ
= Agency For Healthcare Research and Quality
Depkes
= Departemen Kesehatan
GKPRS
= Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit
IKP
= Insiden Keselamatan Pasien
IOM
= Institute of Medicine
IPSG
= International Patient Safety Goals
JCAHO
= Joint Commission on Acreditation of Healthcare Organization
JCI
= Joint Commission International
KKPRS
= Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit
KNC
= Kejadian Nyaris Cedera
KPC
= Kejadian Potensial Cedera
KTC
= Kejadian Tidak Cedera
KTD
= Kejadian Tidak Diharapkan
LASA
= Look Alike Sound Alike
NIOSH
= National Institute for Occupational Safety and Health
NORUM
= Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip
PERSI
= Persatuan Rumah Sakit Indonesia
PPNI
= Persatuan Perawat Nasional Indonesia
SBAR
= Situation, Background, Asessment, Recommendation
SOP
= Standar Operasional Prosedur
TBAK
= Tulis, Baca, Konfirmasi Kembali
TKPRS
= Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit
SPM
= Standar Pelayanan Minimal
WHO
= World Health Organization
xxi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat
yang di dalamnya terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur,
banyak alat dengan teknologinya, bermacam jenis tenaga profesi dan non
profesi yang memberikan pelayanan kepada pasien selama 24 jam terus
menerus. Keberagaman dan kerutinan pelayanan tersebut apabila tidak dikelola
dengan baik dapat menimbulkan peluang terjadinya kejadian yang tidak
diharapkan sehingga dapat mengancam keselamatan pasien (Depkes, 2006).
Keselamatan pasien adalah sistem pelayanan dalam rumah sakit yang
memberikan asuhan pasien menjadi lebih aman. Resiko pasien tidak aman di
rumah sakit bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan terhadap siapa saja. Hal
tersebut tergantung pada lamanya kontraktual pelayanan, keadaan pasien,
kecakapan petugas kesehatan, serta prosedur dan kelengkapan fasilitas rumah
sakit (Sofyan, 2010).
Terjadinya insiden keselamatan pasien di suatu rumah sakit akan
memberikan dampak yang merugikan bagi pihak rumah sakit, staf, dan pasien
sebagai penerima pelayanan. Adapun dampak yang ditimbulkan adalah
semakin meningkatnya perasaan tidak puas hingga maraknya tuntutan pasien
atau keluarganya. Dengan demikian keselamatan pasien merupakan hal yang
sangat penting dalam bidang kesehatan terutama dalam pelayanan rumah sakit
(Sofyan, 2010).
1
Dampak lain yang dapat terjadi menurut Apriningsih (2013) adalah
memperpanjang masa rawat, meningkatkan cedera, kematian, perilaku saling
menyalahkan, konflik antara petugas dan pasien, tuntutan dan proses hukum,
blow up media massa, dapat menurunkan citra dari sebuah rumah sakit, serta
dapat mengindikasikan bahwa mutu pelayanan di rumah sakit masih kurang
baik. Kondisi ini harus mampu diantisipasi oleh penyelenggara layanan
kesehatan agar keselamatan pasien terjamin, kontinuitas pelayanan, dan
organisasi tetap berjalan.
Keselamatan pasien merupakan prioritas utama untuk dilaksanakan di
rumah sakit dan hal tersebut terkait dengan isu mutu dan citra perumahsakitan
(Depkes, 2006). Rumah sakit perlu meningkatkan mutu pelayanan untuk
mengembalikan kepercayaan masyarakat di antaranya melalui Program
Keselamatan Pasien, dimana World Health Organization (WHO) telah
memulainya pada tahun 2004. Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(GKPRS) di Indonesia dicanangkan oleh Menteri Kesehatan Republik
Indonesia pada 21 Agustus 2005.
Pada tahun 2000 Institute of Medicine (IOM) di Amerika Serikat
menerbitkan laporan “To Err Is Human, Building a Safer Health System”.
Laporan tersebut mengemukakan penelitian di rumah sakit yakni di Utah dan
Colorado, serta New York. Di Utah dan Colorado ditemukan Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD) sebesar 2,9%, dimana 6,6% di antaranya meninggal. Di
New York ditemukan KTD sebesar 3,7% dengan angka kematian 13,6%.
Angka kematian akibat KTD pada pasien rawat inap di seluruh Amerika yang
berjumlah 33,6 juta per tahun berkisar 44.000 - 98.000 per tahun. Publikasi
2
WHO pada tahun 2004, mengumpulkan angka – angka penelitian di rumah
sakit berbagai Negara, yakni: Amerika, Inggris, Denmark, dan Australia,
ditemukan KTD dengan rentang 3,2% - 16,6%. Dengan data – data tersebut,
berbagai negara melakukan penelitian dan mengembangkan keselamatan
pasien (Depkes, 2006).
Berdasarkan data insiden keselamatan pasien yang diterbitkan oleh
KKPRS tahun 2006 – 2007, di Indonesia ditemukan sebanyak 145 laporan,
tahun 2008 sebanyak 61 laporan, tahun 2009 sebanyak 114 laporan, tahun 2010
sebanyak 103 laporan, dan tahun 2011 sebanyak 34 laporan. Total keseluruhan
laporan dari tahun 2007 – triwulan I tahun 2011 sebanyak 457 laporan insiden
keselamatan pasien yang terjadi di rumah sakit yang ada di Indonesia (KKPRS,
2012). Pelaporan Kejadian Nyaris Cidera (KNC) lebih banyak dilaporkan,
yakni sebesar 47,6%. Angka tersebut jelas lebih tinggi jika dibandingkan
dengan KTD yang hanya sebesar 46,2% (KKPRS, 2008). Data – data yang
dilaporkan tersebut menunjukkan bahwa jumlah insiden keselamatan pasien di
Indonesia sangatlah tinggi.
Berdasarkan laporan KKPRS tahun 2011 Triwulan I, jumlah laporan
insiden keselamatan pasien sebesar 11,23% terjadi di unit keperawatan, 6,17%
di unit farmasi, dan 4,12% oleh dokter. Hal tersebut disebabkan karena ruang
perawatan di rumah sakit merupakan tempat yang berkontribusi paling besar
dalam perawatan pasien. Sebagai tempat yang langsung berhubungan dengan
pasien, maka risiko untuk terjadi kesalahan ataupun insiden keselamatan pasien
sangat besar.
3
Menurut Cahyono (2015), tenaga perawat merupakan tenaga profesional
yang berperan penting dalam fungsi rumah sakit. Hal tersebut didasarkan atas
jumlah tenaga perawat yang memiliki porsi terbesar, yakni 40% - 60% di
dalam pelayanan rumah sakit karena perawat merupakan staf yang memiliki
kontak terbanyak dengan pasien selama 24 jam. Perawat juga merupakan
bagian dari suatu tim yang didalamnya terdapat profesional lain, salah satunya
yakni dokter. Luasnya peran perawat memungkinkan lebih besar terjadi risiko
kesalahan pelayanan yang mengancam keselamatan pasien. Untuk itu, perawat
harus menyadari perannya dalam penyelenggaraan upaya menjaga mutu
pelayanan di rumah sakit dan harus dapat berpartisipasi aktif dalam
mewujudkan keselamatan pasien.
Masalah terkait keselamatan pasien harus segera ditangani oleh pihak
rumah sakit. Menurut Mustikawati (2011), keselamatan pasien dapat diperoleh
bila faktor yang berkontribusi terhadap insiden keselamatan pasien dapat
diminimalisir bahkan dihindari. Faktor – faktor yang berkontribusi terhadap
insiden keselamatan pasien menurut Henriksen et al. tahun 2008 adalah
karakteristik
individu,
organisasi,
sifat
dasar
pekerjaan,
manajemen,
lingkungan eksternal, dan lingkungan fisik. Adapun menurut WHO tahun
2009, empat faktor yang sangat berpengaruh dalam insiden keselamatan
pasien, yakni karakteristik individu, organisasi dan manajerial, kerjasama tim,
dan lingkungan.
Selain penyebab insiden yang dikemukakan sebelumnya, penyebab lain
terjadinya insiden keselamatan pasien dikemukakan pula oleh Cooper & Clarke
pada tahun 2003 yakni stres di tempat kerja (WHO, 2009). Mattox (2012) juga
4
berpendapat bahwa kelelahan perawat merupakan faktor yang dapat
berkontribusi terjadinya insiden keselamatan pasien.
Penelitian Schaefer et al. (1994) dalam WHO (2009) mengemukakan
bahwa 70% - 80% dari kesalahan terkait insiden keselamatan pasien
disebabkan karena komunikasi dan kerjasama tim yang buruk. Begitu pula
laporan insiden keselamatan oleh KKPRS tahun 2011 menyebutkan bahwa
penyebab insiden keselamatan pasien sebesar 19,58% berasal dari tim kerja
yang kurang.
Agency for Healthcare Research and Quality (AHRQ) tahun 2003 juga
mengungkapkan bahwa faktor yang dapat menimbulkan insiden keselamatan
pasien adalah masalah sumber daya manusia dalam pelaksanaan alur kerja atau
prosedur yang tidak adekuat. Begitu pula laporan KKPRS tahun 2011
menyebutkan bahwa kesalahan terkait insiden keselamatan pasien sebesar
9,26% disebabkan pada proses atau prosedur klinik.
Menurut Kuncoro (2012) dalam menerapkan keselamatan pasien di
rumah sakit ada beberapa aspek yang harus dibangun, salah satunya adalah
aspek pengetahuan. Pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien sangat
penting untuk mendorong pelaksanaan program keselamatan pasien.
Rumah Sakit Al-Islam Bandung merupakan salah satu rumah sakit
swasta tipe B yang telah menerapkan program keselamatan pasien sejak tahun
2010. Dalam PMK No. 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit bahwa terjadinya insiden keselamatan pasien standarnya adalah
0% atau 100% tidak terjadi di rumah sakit. Namun, insiden keselamatan pasien
di Rumah Sakit Al-Islam Bandung masih terjadi. Hal ini didasarkan atas
5
laporan Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung, yakni
pada tahun 2013 terdapat sebanyak 108 insiden yang terdiri dari 18 KTD, 16
KNC, dan 72 Kejadian Tidak Cidera (KTC). Tahun 2014 terdapat sebanyak
129 insiden yang terdiri dari 9 KTD, 23 KNC, dan 96 KTC. Tahun 2015
terdapat sebanyak 105 insiden yang terdiri dari 28 KTD, 8 KNC, dan 66 KTC.
Sebagian besar insiden keselamatan pasien yang dilaporkan terjadi di ruang
rawat inap.
Adanya kejadian terkait insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit AlIslam Bandung menunjukkan bahwa standar yang ditetapkan belum dapat
terpenuhi, serta mengindikasikan bahwa terdapat banyak kejadian yang
berpotensi menimbulkan kerugian bahkan mengancam keselamatan pasien.
Atas dasar tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang
“Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Perawat,
Organisasi, dan Sifat Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung pada Periode 2012-2016”.
B. Rumusan Masalah
Keselamatan pasien merupakan suatu sistem yang difokuskan untuk
meningkatkan mutu dan citra rumah sakit. Fokus tentang keselamatan pasien
tersebut didorong karena masih tingginya angka insiden keselamatan pasien di
rumah sakit baik secara nasional maupun global.
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini
adalah adanya kejadian terkait insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit AlIslam Bandung sehingga standar yang ditetapkan dalam Permenkes No. 129
tahun 2008 belum dapat terpenuhi. Hal ini menunjukkan bahwa perawat dalam
6
memberikan pelayanan asuhan keperawatan kepada pasien di unit rawat inap
belum mengutamakan aspek keselamatan pasien secara optimal dan
mengindikasikan
bahwa
terdapat
banyak
kejadian
yang
berpotensi
menimbulkan kerugian bahkan mengancam keselamatan pasien. Keadaan ini
dapat disebabkan karena belum diketahuinya gambaran faktor yang
berkontribusi dalam insiden keselamatan pasien di Unit Rawat Inap Rumah
Sakit Al-Islam Bandung.
C. Pertanyaan Penelitian
Adapun beberapa pertanyaan penelitian yang selanjutnya hendak diteliti
dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode 2012-2016?
2. Bagaimana distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien berdasarkan
karakteristik perawat (usia, pengetahuan, stres, dan kelelahan) di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung?
3. Bagaimana distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien berdasarkan
karakteristik organisasi (komunikasi dan implementasi SOP) di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung?
4. Bagaimana distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien berdasarkan
karakteristik sifat dasar pekerjaan (kerjasama tim dan gangguan atau
interupsi yang dialami oleh perawat) di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung?
7
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang dilaksanakan antara lain:
1. Tujuan Umum
Diketahuinya gambaran insiden keselamatan pasien berdasarkan
karakteristik perawat, organisasi, dan sifat dasar pekerjaan di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode 2012-2016.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode 2012-2016.
b. Diketahuinya
distribusi
frekuensi
insiden
keselamatan
pasien
berdasarkan karakteristik perawat (usia, pengetahuan, stres, dan
kelelahan) di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
c. Diketahuinya
distribusi
frekuensi
insiden
keselamatan
pasien
berdasarkan karakteristik organisasi (komunikasi dan implementasi SOP)
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
d. Diketahuinya
distribusi
frekuensi
insiden
keselamatan
pasien
berdasarkan karakteristik sifat dasar pekerjaan (kerjasama tim dan
gangguan atau interupsi yang dialami oleh perawat) di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak
manajemen rumah sakit dalam rangka memberikan pelayanan kepada pasien
yang aman, nyaman, dan bermutu tinggi. Dengan meningkatnya
8
keselamatan pasien diharapkan pula dapat meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap rumah sakit.
2. Bagi Peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi atau
gambaran untuk pengembangan penelitian selanjutnya yang berkaitan
dengan insiden keselamatan pasien dan dapat menjadi bahan – bahan
referensi untuk melakukan penelitian lain atau serupa.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan oleh Mahasiswa Peminatan Manajemen
Pelayanan Kesehatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran
insiden keselamatan pasien berdasarkan karakteristik perawat, organisasi, dan
sifat dasar pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada
periode 2012-2016. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya kejadian terkait
insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang
menunjukkan tidak tercapainya salah satu target SPM Rumah Sakit dalam
PMK No. 129 tahun 2008 pada poin keselamatan pasien. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Keselamatan Pasien di Rumah Sakit
1. Definisi Keselamatan Pasien
World Health Organization (WHO) (2007) mengungkapkan bahwa
pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien bukan sebuah pilihan akan
tetapi merupakan hak pasien untuk pecaya pada pelayanan yang diberikan
oleh suatu sistem pelayanan kesehatan.
Menurut Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS)
Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) (2008), keselamatan (safety)
adalah bebas dari bahaya atau risiko (hazard). Keselamatan pasien adalah
pasien bebas dari cedera (harm) yang tidak seharusnya terjadi atau bebas
dari cedera yang potensial akan terjadi (penyakit, cedera fisik, sosial,
psikologi, cacat, kematian, dan lain – lain) terkait dengan pelayanan
kesehatan.
Dalam PMK RI No. 1691 tahun 2011, keselamatan pasien rumah sakit
adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman.
Sistem tersebut meliputi: assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal
yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi
solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko. Sistem tersebut diharapkan
dapat mencegah tejadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang
seharusnya dilakukan.
10
2. Tujuan Program Keselamatan Pasien
Dalam KKPRS (2008), tujuan dari program keselamatan pasien di
rumah sakit antara lain:
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
b. Meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.
c. Menurunnya kejadian yang tidak diharapkan di rumah sakit.
d. Terlaksananya program – program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan.
3. Standar Keselamatan Pasien
Setiap rumah sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien.
Standar ini disusun dengan mengacu pada “Hospital Patient Safety
Standards” yang dikeluarkan oleh Joint Commision on Acreditation of
Health Organization (JCAHO), Illinois, USA, tahun 2002, yang disesuaikan
situasi dan kondisi perumahsakitan di Indonesia (Depkes, 2006). Standar
keselamatan pasien di rumah sakit terdiri dari:
a. Standar 1: Hak pasien
Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya
kejadian tidak diharapkan.
b. Standar II: Mendidik pasien dan keluarga
Rumah sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban
dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
11
c. Standar III: Jaminan keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan.
Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin
koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.
d. Standar IV: Penggunaan metoda – metoda peningkatan kinerja untuk
melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien.
Rumah sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang
ada, memonitor, dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,
menganalisis secara intensif kejadian tidak diharapkan, dan melakukan
perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
e. Standar V: Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan
pasien
1) Pimpinan
mendorong
dan
menjamin
implementasi
program
keselamatan pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui
penerapan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit.
2) Pimpinan
menjamin
berlangsungnya
program
proaktif
untuk
identifikasi risiko keselamatan pasien dan program menekan atau
mengurangi kejadian tidak diharapkan.
3) Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi
antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan
tentang keselamatan pasien.
4) Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk
mengukur, mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit, serta
meningkatkan keselamatan pasien.
12
5) Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam
meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien.
f. Standar VI: Mendidik staf tentang keselamatan pasien
1) Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan, dan orientasi
untuk
setiap
jabatan
mencakup
keterkaitan
jabatan
dengan
keselamatan pasien secara jelas.
2) Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf
serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.
g. Standar VII : Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai
keselamatan pasien
1) Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen
informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi
internal dan eksternal.
2) Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.
4. Tujuh Langkah Keselamatan Pasien
Mengacu kepada standar keselamatan pasien, rumah sakit harus
merancang proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara
intensif terhadap insiden, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan
kinerja serta keselamatan pasien. Proses perancangan tersebut harus
mengacu pada visi, misi, dan tujuan rumah sakit, kebutuhan pasien, petugas
pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan
faktor – faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan tujuh
13
langkah keselamatan pasien rumah sakit. Menurut Depkes (2006), tujuh
langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit terdiri dari:
a. Bangun
kesadaran
akan
nilai
keselamatan
pasien.
Ciptakan
kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.
b. Pimpin dan dukung staf. Bangun komitmen dan fokus yang kuat dan
jelas tentang keselamatan pasien di rumah sakit.
c. Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko. Kembangkan sistem dan proses
pengelolaan risiko, serta lakukan identifikasi dan asessmen hal yang
potensial bermasalah.
d. Kembangkan sistem pelaporan. Pastikan staf di rumah sakit agar dengan
mudah dapat melaporkan kejadian atau insiden, serta rumah sakit
mengatur pelaporan kepada KKPRS.
e. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Kembangkan cara – cara
komunikasi yang terbuka dengan pasien.
f. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. Dorong staf
melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa
kejadian itu timbul.
g. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien. Gunakan
informasi yang ada tentang kejadian atau masalah untuk melakukan
perubahan pada sistem pelayanan.
5. Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (TKPRS)
Dalam PMK No. 1691 tahun 2011, rumah sakit dan tenaga kesehatan
yang bekerja di rumah sakit wajib melaksanakan program dengan mengacu
pada Kebijakan Nasional KKPRS PERSI. Setiap rumah sakit wajib
14
membentuk TKPRS yang ditetapkan oleh kepala rumah sakit sebagai
pelaksana
kegiatan
keselamatan
pasien.
TKPRS
yang
dimaksud
bertanggung jawab kepada kepala rumah sakit. Keanggotaan TKPRS terdiri
dari manajemen rumah sakit dan unsur dari profesi kesehatan di rumah
sakit. Menurut Depkes (2008), tugas dari TKPRS sebagai berikut:
a. Mengembangkan program keselamatan pasien di rumah sakit sesuai
dengan kekhususan rumah sakit tersebut.
b. Menyusun kebijakan dan prosedur terkait dengan program keselamatan
pasien rumah sakit.
c. Menjalankan peran untuk melakukan motivasi, edukasi, konsultasi,
pemantauan (monitoring), dan penilaian (evaluasi) tentang penerapan
(implementasi) program keselamatan pasien rumah sakit.
d. Bekerjasama dengan bagian pendidikan dan pelatihan rumah sakit untuk
melakukan pelatihan internal keselamatan pasien rumah sakit.
e. Melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden, serta
mengembangkan solusi untuk pembelajaran.
f. Memberikan masukan dan pertimbangan kepada kepala rumah sakit
dalam rangka pengambilan kebijakan keselamatan pasien rumah sakit.
g. Membuat laporan kegiatan kepada kepala rumah sakit.
6. Sasaran Keselamatan Pasien
Dalam PMK No. 1691 tahun 2011, pelaksanaan sasaran keselamatan
pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit yang
terakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Penyusunan
sasaran ini mengacu kepada Nine Life – Saving Patient Safety Solutions dari
15
WHO (2007) yang digunakan juga oleh KKPRS PERSI, dan dari The Joint
Comission International (JCI).
Tujuan dari sasaran keselamatan pasien adalah mendorong perbaikan
spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian – bagian yang
bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti, serta solusi
dari konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan ini. Enam
sasaran keselamatan pasien terdiri dari:
a. Ketepatan Identifikasi Pasien
Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien dapat
terjadi di hampir semua aspek atau tahapan diagnosis dan pengobatan.
Kesalahan identifikasi pasien bisa terjadi pada pasien yang dalam
keadaan terbius/tersedasi, mengalami disorientasi, tidak sadar, bertukar
tempat tidur/kamar/lokasi di rumah sakit, adanya kelainan sensori, atau
akibat situasi lain. Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali
pengecekan yaitu: pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu
yang akan menerima pelayanan dan pengobatan; dan kedua, untuk
kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Kebijakan
dan/atau
prosedur
yang
secara
kolaboratif
dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi, khususnya pada
proses untuk mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat, darah atau
produk darah, pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan
klinis, atau pemberian pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan dan/atau
prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi
seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir,
16
gelang identitas pasien dengan barcode, dan lain – lain. Nomor kamar
pasien atau lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan
dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas berbeda di
lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan rawat jalan, unit
gawat darurat, atau ruang operasi termasuk identifikasi pada pasien koma
tanpa
identitas.
Suatu
proses
kolaboratif
digunakan
untuk
mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur agar dapat memastikan
semua kemungkinan situasi untuk dapat diidentifikasi.
Elemen Penilaian Sasaran I:
1) Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien misalnya
nama dan tanggal lahir pasien. Tidak boleh menggunakan nomor
kamar atau lokasi pasien.
2) Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk
darah.
3) Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain
untuk pemeriksaan klinis.
4) Pasien
diidentifikasi
sebelum
pemberian
pengobatan
dan
tindakan/prosedur.
5) Kebijakan dan/atau prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi
yang konsisten pada semua situasi dan lokasi.
b. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Komunikasi efektif merupakan komunikasi yang tepat waktu,
akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien sehingga akan
mengurangi kesalahan dan menghasilkan peningkatan keselamatan
17
pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis.
Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat
perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. Komunikasi yang
mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil
pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laporan laboratorium klinik
cito melalui telepon ke unit pelayanan.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan
dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk mencatat
(atau memasukkan ke komputer) perintah yang lengkap atau hasil
pemeriksaan oleh penerima perintah, kemudian penerima perintah
membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan, dan
mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang
adalah akurat. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga
menjelaskan bahwa diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali
(read back) bila tidak memungkinkan seperti di kamar operasi dan situasi
gawat darurat di instalasi gawat darurat atau intensive care unit.
Elemen Penilaian Sasaran II:
1) Perintah lengkap secara lisan dan melalui telepon atau hasil
pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah.
2) Perintah lengkap lisan dan telepon atau hasil pemeriksaan dibacakan
kembali secara lengkap oleh penerima perintah.
3) Perintah atau pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau
yang menyampaikan hasil pemeriksaan.
18
4) Kebijakan dan/atau prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi
keakuratan komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten.
c. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (High Alert
Medications)
Bila obat – obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien
manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan
pasien. Obat – obatan yang perlu diwaspadai adalah obat yang sering
menyebabkan terjadi kesalahan – kesalahan serius (sentinel event), obat
yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan
(adverse outcome), seperti obat – obat yang terlihat mirip dan
kedengarannya mirip (Nama Obat, Rupa, dan Ucapan Mirip/ NORUM,
atau Look Alike Sound Alike/ LASA). Obat – obatan yang sering
disebutkan dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian elektrolit
konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium klorida 2 meq/ml atau
yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0,9%,
dan magnesium sulfat sama dengan 50% atau lebih pekat). Kesalahan ini
bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit
pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih
dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang
paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut
adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat –obat yang perlu
diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit
pelayanan pasien ke farmasi.
19
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan
dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat – obat yang perlu
diwaspadai berdasarkan data yang ada dirumah sakit. Kebijakan dan/atau
prosedur juga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan
elektrolit konsentrat, seperti di instalasi gawat darurat atau kamar operasi,
serta pemberian label secara benar pada elektrolit yang benar dan
bagaimana penyimpanannya di area tersebut sehingga membatasi akses
untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja atau kurang hati – hati.
Elemen Penilaian Sasaran III:
1) Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses
identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label, dan penyimpanan
elektrolit konsentrat.
2) Implementasi kebijakan dan prosedur.
3) Elekrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien, kecuali jika
dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah
pemberian yang kurang hati – hati diarea tersebut sesuai kebijakan.
4) Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan pasien harus
diberi label yang jelas dan disimpan pada area yang dibatasi ketat
(restricted).
d. Kepastian Tepat – Lokasi, Tepat – Prosedur, Tepat – Pasien Operasi
Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu
kebijakan dan/atau prosedur yang efektif didalam mengeliminasi masalah
yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti,
seperti yang digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient
20
Safety (2009), juga The Joint Commitions Universal Protocol for
Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Persont Surgary.
Salah lokasi, salah prosedur, dan salah pasien pada operasi adalah
sesuatu yang mengkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit.
Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang
tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien
di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur
verifikasi lokasi operasi. Disamping itu, asessmen pasien yang tidak
adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang
tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah,
permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak
terbaca (illegible hand writing), dan pemakaian singkatan adalah faktor –
faktor kontribusi yang sering terjadi.
Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan
atas satu tanda yang dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara
konsisten di rumah sakit dan harus dibuat oleh operator atau orang yang
melakukan tindakan, dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika
memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat. Penandaan
lokasi operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality),
multiple struktur (jari tangan, jari kaki lesi), atau multiple level (tulang
belakang). Maksud proses verifikasi praoperatif adalah untuk:
1) Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar.
21
2) Memastikan
bahwa
semua
dokumen,
foto
(imaging),
hasil
pemeriksaan yang relevan yang tersedia, diberi label dengan baik dan
dipampang.
3) Melakukan verifikasi ketersediaan peralatan khusus dan/atau inplant –
inplant yang dibutuhkan.
Tahap “sebelum insisi” (time out) memungkinkan semua
pertanyaan atau kekeliruan diselesaikan. Time out dilakukan ditempat
dimana tindakan akan dilakukan tepat sebelum tindakan dimulai dan
melibatkan seluruh tim operasi. Rumah sakit menetapkan bagaimana
proses itu didokumentasikan secara ringkas, misalnya menggunakan
checklist.
Elemen Penilaian Sasaran IV:
1) Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dimengerti
untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien didalam proses
penandaan.
2) Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk
memverifikasi saat praoperasi tepat – lokasi, tepat – prosedur, tepat –
pasien operasi dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan
tersedia tepat dan fungsional.
3) Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur
“sebelum insisi” (time out). Tepat sebelum dimulainya suatu prosedur
atau tindakan pembedahan.
4) Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mendukung proses
yang seragam untuk memastikan tepat-lokasi, tepat – lokasi, tepat –
22
prosedur, tepat – pasien operasi, termasuk prosedur medis dan dental
yang dilaksanakan diluar kamar operasi.
e. Pengurangan Risiko Infeksi terkait Pelayanan Kesehatan
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) merupakan tantangan
terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan dan peningkatan biaya untuk
mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan
merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional
pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk
pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran
darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan
dengan ventilasi mekanis).
Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi – infeksi lain adalah
cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Rumah sakit mempunyai proses
kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang
menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima
secara umum dan untuk implementasi sebagai petunjuk di rumah sakit.
Elemen Penilaian Sasaran V:
1) Rumah sakit mengadopsi dan mengadaptasi pedoman hand hygiene
terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum (antara lain
dari WHO Patient Safety).
2) Rumah sakit menerapkan hand hygiene yang efektif.
3) Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan
pengurangan secara berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan.
23
f. Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi
pasien rawat inap. Dalam konteks populasi atau masyarakat yang
dilayani, pelayanan yang disediakan fasilitasnya, rumah sakit perlu
mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk
mengurangi risiko cedera bila pasien jatuh. Evaluasi bisa termasuk
riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap konsumsi obat, gaya jalan dan
keseimbangan, serta alat bantu yang digunakan oleh pasien.
Elemen Penilaian Sasaran VI:
1) Rumah sakit melakukan proses assesmen awal atas pasien terhadap
risiko jatuh dan melakukan asessmen ulang pasien bila diindikasikan
terjadi perubahan kondisi atau pengobatan, dan lain – lain.
2) Langkah – langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi
mereka yang pada hasil asessmen berisiko jatuh.
3) Langkah
–
langkah
dimonitor
hasilnya,
baik
keberhasilan
pengurangan cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian yang tidak
diharapkan.
4) Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan
pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh dirumah
sakit.
B. Insiden Keselamatan Pasien
Dalam PMK No. 1691 tahun 2011, insiden keselamatan pasien adalah
setiap kejadian atau situasi yang tidak disengaja dan kondisi yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada
24
pasien. Menurut Depkes (2008), insiden keselamatan pasien juga merupakan
akibat dari melaksanakan suatu tindakan (comission) atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil (omission).
Adapun jenis – jenis kejadian yang terkait insiden keselamatan pasien
dalam penelitian ini terdiri dari:
1. Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) atau Adverse Event
Reason (2000) mengungkapkan bahwa KTD dapat terjadi di semua
tahapan dalam pemberi pelayanan kesehatan mulai dari diagnosis,
pengobatan, dan pencegahan. Cahyono (2008) berpendapat bahwa KTD ada
yang dapat dicegah (preventable adverse event) dan ada yang tidak dapat
dicegah (unpreventable adverse event). KTD yang dapat dicegah berasal
dari kesalahan proses asuhan pasien. KTD sebagai dampak dari kesalahan
proses asuhan sudah banyak dilaporkan terutama di negara maju. KTD yang
tidak dapat dicegah adalah suatu kesalahan akibat komplikasi yang tidak
dapat dicegah.
Menurut KKPRS (2008), KTD merupakan suatu kejadian yang tidak
diharapkan yang mengakibatkan cedera pada pasien akibat melaksanakan
suatu tindakan (comission) atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil (omission), dan bukan karena penyakit dasarnya (underlying
disease) atau kondisi pasien. Cedera dapat diakibatkan oleh kesalahan medis
atau bukan kesalahan medis.
Bentuk KTD yang dilaporkan oleh Ballard (2003) meliputi: 28%
reaksi dari pengobatan atau obat – obat yang diberikan, 42% adalah kejadian
yang mengancam kehidupan tetapi dapat dicegah, 20% pelayanan yang
25
didapat di poliklinik, 10% - 30% merupakan kesalahan hasil laboratorium.
Yahya (2006) memaparkan di Indonesia sepanjang tahun 2004 – 2005
laporan dari berbagai sumber tentang dugaaan malpraktek didapatkan data
47 insiden meliputi: pasien meninggal karena operasi, meninggal saat
melahirkan, operasi yang mengakibatkan luka dan cacat, keracunan obat,
salah pemberian obat, dan kelalaian yang mengakibatkan kematian.
2. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) atau Near Miss
Aspden (2004) mengungkapkan bahwa KNC lebih sering terjadi
dibandingkan dengan KTD, frekuensi kejadian ini tujuh sampai seratus kali
dibandingkan dengan KTD. Bentuk KNC yang dilaporkan oleh Shaw et al.
tahun 2005 dari total insiden sebanyak 28.998 kasus yang dilaporkan
sebanyak (41%) pasien tergelincir, tersandung dan jatuh, (9%) insiden
terkait manajemen obat, (8%) insiden terkait sumber dan fasilitas, dan (7%)
terkait pengobatan sebanyak 138 laporan merupakan masalah besar
(katastropik) dan 260 laporan KTD. Kejadian tergelincir, tersandung, dan
jatuh dilaporkan merupakan hal yang paling besar (n = 11.766).
Data KNC harus dianalisis agar pencegahan dan pembentukan sistem
dapat dibuat sehingga cedera aktual tidak terjadi. Pada sebagian besar kasus
KNC dapat memberi dampak pada pembuatan model penyebab dari insiden
(incident causation model) atau proses hingga KNC terjadi. Model
penyebab terjadinya insiden, KNC berperan sebagai pelopor awal sebelum
terjadinya KTD. KNC menyediakan dua tipe informasi terkait dengan
keamanan pasien: 1) kelemahan dari sistem pelayanan kesehatan (kesalahan
dan kegagalan termasuk tidak adekuatnya sistem pertahanan), dan 2)
26
kekuatan dari sistem pelayanan kesehatan, yaitu tidak ada perencanaan atau
tindakan pemulihan secara informal (Robert, 2002 dalam Aspden, 2004).
Berdasarkan KKPRS (2008), KNC adalah suatu kejadian akibat
melaksanakan suatu tindakan (comission) atau tidak mengambil tindakan
yang seharusnya diambil (omission) yang dapat mencederai pasien, tetapi
cedera serius tidak terjadi karena:
a) “keberuntungan” (misalnya: pasien yang menerima suatu obat kontra
indikasi tetapi tidak timbul reaksi obat).
b) “pencegahan” (misalnya: secara tidak sengaja pasien akan diberikan
suatu obat dengan dosis lethal, tetapi staf lain mengetahui dan
membatalkannya sebelum obat diberikan).
c) “peringatan” (misalnya: pasien secara tidak sengaja telah diberikan suatu
obat dengan dosis lethal, segera diketahui secara dini lalu diberikan
antidotumnya, sehingga tidak menimbulkan cidera yang berarti).
Menurut Cahyono (2008), terciptanya keselamatan pasien sangat
didukung oleh sistem pelaporan yang baik setiap kali insiden terjadi. Faktor
penyebab KNC sulit didapatkan jika tidak didukung oleh dokumentasi yang
baik (sistem pelaporan). Hal ini dapat mengakibatkan langkah pencegahan
dan implementasi untuk perbaikan sulit dilakukan.
Menurut Kaplan (2002), tujuan sistem pelaporan KNC terdiri dari: 1)
pemodelan: bertujuan melihat lebih mendalam bagaimana kegagalan atau
kesalahan berkembang menjadi KNC. Mengidentifikasi faktor – faktor apa
saja
yang
mempengaruhi
terjadinya
kejadian
diawal,
bagaimana
meningkatkan keamanan pasien, bagaimana mencegah hal tersebut tidak
27
terjadi, dan memberi penguatan pada model pemecahan masalah yang
diambil pada kasus sebelumnya, 2) arah atau kecenderungan: bertujuan
melihat kecenderungan terjadinya masalah (masalah apa yang sering terjadi,
faktor
apa
saja
yang
berkontribusi
terhadap
terjadinya
masalah,
menyediakan cara pemecahan masalah yang paling efektif, dan prioritas
untuk dijalankan, 3) meningkatkan kesadaran dan kehati – hatian.
3. Kejadian Tidak Cedera (KTC)
KTC adalah suatu insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi
tidak mengakibatkan cedera.
C. Sistem Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien
Pelaporan insiden keselamatan pasien yang selanjutnya disebut pelaporan
insiden adalah suatu sistem untuk mendokumentasikan laporan insiden
keselamatan pasien, analisis, dan solusi untuk pembelajaran (PMK No. 1691
tahun 2011).
Menurut KKPRS (2008), KTD dan KNC sangat rentan terjadi di rumah
sakit. Pada tahun 2005, WHO menyebutkan kecelakaan yang terjadi di rumah
sakit adalah 1 : 3000 lebih besar dibandingkan dengan kemungkinan
kecelakaan di penerbangan sebesar 1 : 3.000.000. Hal tersebut menunjukkan
bahwa kemungkinan kecelakaan di rumah sakit lebih besar dibandingkan
dengan kemungkinan kecelakaan akibat penerbangan. Oleh karena itu, untuk
mengevaluasi keberhasilan dari prosedur pengendalian insiden keselamatan
pasien membutuhkan sebuah metode untuk mengidentifikasi risiko, salah satu
cara yang dilakukan dengan mengembangkan sistem pelaporan dan sistem
analisis. Sistem pelaporan ini dipastikan akan mengajak semua orang dalam
28
organisasi kesehatan untuk peduli akan bahaya atau potensi bahaya yang dapat
terjadi kepada pasien. Pelaporan juga penting digunakan untuk memonitor
upaya pencegahan terjadinya error, sehingga diharapkan dapat mendorong
dilakukannya investigasi selanjutnya. Beberapa ketentuan terkait pelaporan
insiden sesuai dengan Panduan Nasional KKPRS (2008) sebagai berikut:
1. Insiden sangat penting dilaporkan karena akan menjadi awal proses
pembelajaran untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.
2. Memulai pelaporan insiden dilakukan dengan membuat suatu sistem
pelaporan insiden di rumah sakit meliputi kebijakan, alur pelaporan,
formulir pelaporan dan prosedur pelaporan yang harus disosialisasikan pada
seluruh karyawan.
3. Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi
ataupun yang nyaris terjadi.
4. Pelapor adalah siapa saja atau semua staf rumah sakit yang pertama
menemukan kejadian atau yang terlibat dalam kejadian.
5. Karyawan diberikan pelatihan mengenai sistem pelaporan insiden mulai dari
maksud, tujuan dan manfaat laporan, alur pelaporan, bagaimana cara
mengisi formulir laporan insiden, kapan harus melaporkan, pengertianpengertian yang digunakan dalam sistem pelaporan dan cara menganalisa
laporan.
KKPRS menganalisis semua insiden keselamatan pasien yang telah
dilaporkan oleh pihak rumah sakit setelah mendapatkan rekomendasi dan
solusi dari TKPRS. Sistem pelaporan ini akan mendokumentasikan laporan
insiden keselamatan pasien, menganalisis dan mencari solusi untuk dijadikan
29
pembelajaran, sistem pelaporan yang bersifat rahasia, dijamin keamanannya,
dibuat anonim, dan tidak mudah diakses oleh yang tidak berhak.
Pelaporan insiden keselamatan pasien mempunyai beberapa tujuan
sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Pelaporan insiden keselamatan pasien bertujuan untuk menurunkan
angka insiden keselamatan pasien (KTD dan KNC), meningkatkan mutu
pelayanan, dan keselamatan pasien.
2. Tujuan Khusus
a. Rumah Sakit (Internal)
1) Terlaksananya sistem pelaporan dan pencatatan insiden keselamatan
pasien di rumah sakit.
2) Diketahui penyebab insiden keselamatan pasien sampai pada akar
masalah.
3) Didapatkannya pembelajaran untuk perbaikan asuhan kepada pasien
agar dapat mencegah kejadian yang sama dikemudian hari.
b. KKPRS (Ekternal)
1) Diperolehnya data atau peta nasional angka insiden keselamatan
pasien (KTD dan KNC).
2) Diperolehnya pembelajaran untuk meningkatkan mutu pelayanan dan
keselamatan pasien bagi rumah sakit lain.
3) Ditetapkannya langkah – langkah praktis keselamatan pasien untuk
rumah sakit di Indonesia.
30
Berdasarkan buku Pedoman Penyelenggaraan Keselamatan Pasien di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung, adapun alur pelaporan insiden keselamatan
pasien secara internal dan eksternal sebagai berikut:
1. Pelaporan Internal
a. Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD) di rumah sakit, wajib segera
ditindaklanjuti (dicegah/ditangani) untuk mengurangi dampak/akibat
yang tidak diharapkan oleh pihak yang terkait.
b. Setelah ditindak lanjuti, segera dibuat laporan insiden dengan mengisi
laporan insiden pada akhir jam kerja/shift yang ditujukan kepada atasan
langsung (paling lambat 2 x 24 jam). Pelaporan insiden tidak boleh
ditunda terlalu lama.
c. Setelah selesai mengisi format laporan, segera serahkan kepada atasan
langsung pelapor. Atasan langsung disepakati sesuai keputusan
manajemen,
yaitu:
supervisor/kepala
unit/kepala
instalasi/kepala
bagian/Kepala SMF/ketua komite medis.
d. Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan grading resiko
terhadap insiden yang dilaporkan.
e. Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisa yang akan
dilakukan sebagai berikut:
1) Grade biru: Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu
maksimal 1 minggu.
2) Grade hijau: Investigasi sederhana oleh atasan langsung, waktu
maksimal 2 minggu.
31
3) Grade kuning: Investigasi komprehensif/ analisis akar masalah /RCA
oleh Tim KP di RS, waktu maksimal 45 hari.
4) Grade merah: Investigasi komprehensif/ analisis akar masalah / RCA
oleh Tim KP di RS, waktu maksimal 45 hari.
f. Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi
dan laporan insiden dilaporkan ke Tim KP di RS.
g. Tim KP di RS akan menganalisa kembali hasil Investigasi dan Laporan
insiden untuk menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan
(RCA) dengan melakukan re-grading.
h. Untuk grade kuning/merah, Tim KP di RS akan melakukan analisis akar
masalah/ RCA.
i. Setelah melakukan RCA, Tim KP di RS akan membuat laporan dan
rekomendasi untuk perbaikan serta “pembelajaran” berupa petunjuk
”safety alert” untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.
j. Hasil RCA, rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan kepada Direksi.
k. Rekomendasi untuk “perbaikan dan pembelajaran” diberikan umpan
balik kepada unit kerja terkait.
l. Unit Kerja membuat analisis dan trend kejadian di satuan kerjanya
masing - masing.
m. Monitoring dan evaluasi perbaikan oleh tim KP di RS.
2. Pelaporan Eksternal
a. Laporan hasil investigasi sederhana/ analisis akar masalah/ RCA yang
terjadi pada pasien dilaporkan oleh Tim KP di RS (Internal)/ Pimpinan
32
RS ke KKP-RS nasional dengan mengisi formulir laporan insiden
keselamatan pasien.
b. Laporan dikirim ke KKP-RS lewat POS atau KURIR ke alamat:
Sekretariat KPP-RS d/a Kantor Persatuan Rumah Sakit Indonesia
(PERSI) Jalan Boulevard Artha Gading Blok A-7A No 28, Kelapa
Gading – Jakarta Utara 14240, Telp.(021) 45845303/304.
D. Faktor - Faktor yang Berkontribusi dalam Insiden Keselamatan Pasien
IOM melalui laporannya yang berjudul “To Err is Human: Building a
Safety Health System” pada tahun 2000 menekankan bahwa yang
meningkatkan pencegahan terhadap insiden (adverse event) adalah berupa
faktor yang sistemik, artinya tidak hanya berasal dari kinerja seorang perawat,
dokter, atau tenaga kesehatan lain menurut Sanders, 1993 dalam Kohn (2000).
Laporan tersebut juga memberi perhatian pada faktor komunitas manusia yang
terlibat pada masalah pelayanan kesehatan. Insiden keselamatan pasien
dihasilkan dari interaksi atau kecenderungan dari beberapa faktor yang
diperlukan kecuali beberapa faktor yang tidak sesuai. Kekurangan pada faktor
– faktor tersebut terlihat pada sistem, telah lama ada sebelum terjadi suatu
insiden. Yang menjadi poin penting adalah pada pemahaman bahwa, ada
kebutuhan untuk menyadari dan memahami fungsi dari banyaknya sistem yang
masing – masing berkaitan dengan setiap penyedia layanan kesehatan dan
bagaimana kebijakan, serta tindakan yang diambil pada suatu bagian (dalam
sistem tersebut) akan berdampak pada keamanan, kualitas, dan efisiensi pada
sistem bagian lainnya (Kohn, 2000). Adanya laporan tersebut berdampak pada
gerakan untuk melakukan program keselamatan pasien di setiap rumah sakit di
33
seluruh dunia untuk mengatasi masalah insiden keselamatan pasien yang sering
terjadi di berbagai rumah sakit yang ada di dunia.
Beberapa peneliti telah mengusulkan beberapa model sistem dengan
faktor. salah satunya yakni WHO tahun 2009 mengembangkan empat kategori
faktor dengan sepuluh topik yang sangat berhubungan dengan penyebab
insiden keselamatan pasien.
Tabel 2.1 Faktor yang Berpengaruh terhadap Insiden Keselamatan Pasien
(WHO, 2009)
No
1
Kategori
Individu
Topik
1. Stres
2. Kelelahan
3. Kewaspadaan Situasi
4. Pengambilan Keputusan
2
Organisasi
5. Komunikasi
6. Budaya Keselamatan
7. Kepemimpinan Manajer
3
Kerjasama Tim
8. Kerjasama tim
9. Supervisor
4
Lingkungan
10. Lingkungan Kerja dan Budaya
Sebuah istilah yang dikenal dalam bidang keselamatan pasien adalah
bahwa setiap sistem secara sempurna dirancang untuk meraih hasil yang
didapatkan (Henriksen et al., 2008). Beberapa peneliti telah mengusulkan
beberapa model sistem dengan faktor. Perbandingan elemen – elemen model
pada sistem sosioteknikal sebagai berikut:
34
Tabel 2.2 Faktor Model Sistem yang Berkontribusi dalam Insiden
Keselamatan Pasien (Henriksen et al., 2008)
No
Penulis
1
Henriksen et al., 1993
Faktor Pada Model Sistem
1. Karakteristik individu
2. Sifat dasar pekerjaan
3. Interaksi antara sistem dan manusia
4. Lingkungan fisik
5. Lingkungan sosial/organisasi
6. Manajemen
7. Lingkungan Eksternal
2
Vincent, 1998
1. Karakteristik pasien
2. Faktor pekerjaan
3. Faktor individu
4. Lingkungan kerja
5. Faktor manajemen dan organisasi
3
Carayon, 2000
1. Manusia (disiplin ilmu)
2. Teknologi dan perangkat
3. Lingkungan fisik
4. Target organisasi
5. Proses pelayanan
Pelayanan kesehatan tidak terlepas dari sebuah sistem yang kompleks.
Terdiri dari berbagai bagian sistem yang saling bertautan. Pendekatan sistem
memberikan perspektif yang luas untuk mencari solusi dalam lingkungan
secara fisik dan budaya. Sebagai contoh, yakni bagaimana pengaturan unit,
prosedur pelayanan kesehatan, transfer pengetahuan oleh organisasi, kesalahan
teknis, kurangnya kebijakan dan prosedur, komunikasi antar tim, dan isu dalam
ketenagaan mempengaruhi seorang individu dalam memberikan layanan yang
aman dan berkualitas. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi, maka akan
menghasilkan error atau kesalahan (Carayon, 2003).
35
Menurut Carayon (2003), tipe error dan bahaya dapat terklarifikasi
menurut domain atau kejadian dalam spectrum pelayanan kesehatan. Akar
permasalahan dari bahaya teridentifikasi menurut definisi berikut:
1. Latent
Failure,
yaitu
melibatkan
pengambilan
keputusan
yang
mempengaruhi kebijakan, prosedur organisasi, dan alokasi sumber daya.
2. Active Failure, yaitu kontak langsung dengan pasien.
3. Organizational failure, yaitu kegagalan secara tidak langsung yang
melibatkan manajemen, budaya, organisasi, proses atau protokol, transfer
pengetahuan, dan faktor eksternal.
4. Technical failure, yaitu kegagalan secara tidak langsung dari fasilitas atau
sumberdaya eksternal.
Menurut AHRQ (2003), faktor yang dapat menimbulkan insiden
keselamatan pasien adalah komunikasi, arus informasi yang tidak adekuat,
masalah SDM, hal – hal yang berhubungan dengan pasien, transfer
pengetahuan di rumah sakit, alur kerja, kegagalan teknis, serta kebijakan dan
prosedur yang tidak adekuat.
Adapun menurut Depkes (2008), faktor yang berkontribusi terhadap
terjadinya insiden keselamatan pasien adalah faktor eksternal atau luar rumah
sakit, faktor organisasi dan manajemen, faktor lingkungan kerja, faktor
kerjasama tim, faktor petugas dan kinerja, faktor tugas, faktor pasien, dan
faktor komunikasi.
Pada gambar 2.1, menunjukkan bahwa komponen – komponen yang
terdapat dalam sebuah sistem perlu dipahami tentang dasar terjadinya insiden
keselamatan pasien. Setiap faktor saling berinteraksi satu sama lain. Ketika
36
komponen – komponen tersebut berfungsi secara bersamaan akan terbentuk
barrier atau sistem pertahanan terhadap insiden keselamatan pasien yang
sebenarnya dapat dicegah. Namun, apabila terdapat kekuarangan atau
ketidaksesuaian pada komponen – komponen tersebut dan satu sama lain
bergerak terpisah, maka hal itulah yang menjadi kekurangan sistem sehingga
adanya insiden keselamatan pasien (Henriksen et al, 2008). Gambar 2.1 juga
menunjukkan akar permasalahan sampai penyebab langsung terjadinya insiden
keselamatan pasien. Meski tersusun secara bertingkat, setiap faktor tersebut
tetap memiliki pengaruh terhadap insiden keselamatan pasien.
37
Eksternal Environment
Knowledge Base
Demographics
New Technology
Government intiatives
Public Awareness
Political climate
Economic Pressure
Healthcare Policy
Management
Latent Condition
Patient load
Staffing
Resource Availability
Organizational Accessibility of Personnel
Structure
Safety Culture
Phisical Environment
Lighting
Notice
Temperature
Workplace Layout
Ventilation
Empluyee Development
Leadership Involvement
Human System
Interfaces
Org/Social
Environment
Medical Devices
Equipment Location
Controls & Displays
Software Control
Paper/Electronic
Authority Gradients
Group Norms
Communication
Local Procedures
Work Life Quality
Nature of the Work
Treatment Complexity
Workflow
Individual vs Teamwork
Competing task
Interupption
Physical/Cognitive
Individual Characteristics
Knowlwdgw/Skill
Experience
Sensory Capability
Fatique
Motivation
Cultural Competency
Active Errors
Acceptable
Performance
Sub-Standard
Performance
Preventable Adverse Event
Gambar 2.1 Faktor
– Faktor
yang Berkontribusi Pada Insiden
Keselamatan Pasien di Pelayanan Kesehatan (Henriksen et al, 2008)
38
Faktor yang berkontribusi dalam insiden keselamatan pasien yang
disampaikan oleh Henriksen et al. (2008) dan WHO (2009) dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Karakteristik Perawat
a. Usia
Menurut Depkes (2002) dalam Hasmoko (2002), kemampuan dan
keterampilan seseorang seringkali dihubungkan dengan usia, sehingga
semakin lama usia seseorang, maka pemahaman terhadap masalah akan
lebih dewasa dalam bertindak dan berpengaruh terhadap produktivitas
dalam bekerja.
Teori
Robbins
(2003)
mengemukakan
bahwa
usia
dapat
mempengaruhi kondisi fisik, mental, kemampuan kerja, dan tanggung
jawab seseorang. Hal tersebut berarti bahwa semakin dewasa usia
perawat, maka semakin baik kinerjanya dalam memberikan asuhan
keperawatan yang aman atau tidak menyebabkan insiden keselamatan
pasien. Staf dengan usia muda umumnya memiliki kekurangan karena
cepat bosan, kurang tanggung jawab, dan turn over tinggi. Staf dengan
usia lebih tua kondisi fisiknya kurang tetapi bekerja lebih ulet, tanggung
jawab besar, dan turn over rendah.
Menurut Mulyana (2013), perawat yang berusia kurang dari 30
tahun memiliki risiko asuhan keperawatan yang tidak aman, sehingga hal
ini dapat menyebabkan terjadinya insiden keselamatan pasien. Semakin
muda usia perawat kecenderungan terjadinya insiden keselamatan pasien
semakin besar, sementara semakin meningkatnya usia perawat maka
39
terjadinya insiden keselamatan pasien semakin kecil. Perawat dengan
usia yang lebih dewasa atau tua memiliki kematangan dalam berpikir dan
bertindak serta memiliki kemampuan untuk mengenali dan mencegah
bahaya yang didapatkannya seiring dengan perkembangan usia dan
kematangannya. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh
Suhartati (2002) bahwa terdapat kecenderungan semakin tua usia perawat
semakin etik dalam melakukan asuhan keperawatan, sehingga hal ini
akan membuat perawat lebih berhati – hati dalam memperhatikan secara
seksama terhadap asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
Menurut Amstrong dan Giffin (1987) dalam Mustikawati (2011),
usia petugas tidak mempengaruhi jumlah konsultasi dan jumlah
kunjungan rawat yang dilakukan pada klien. Usia berkaitan erat dengan
tingkat kedewasaan perawat, semakin bertambah usia akan menunjukkan
kemampuan
membuat
keputusan
yang
baik,
bijaksana,
dapat
mengendalikan emosi, taat prosedur, dan memiliki komitmen yang tinggi
terhadap pekerjaan. Hal tersebut dapat pula berpengaruh pada
menurunnya angka insiden keselamatan pasien.
b. Pengetahuan
Menurut Kuncoro (2012), dalam menerapkan keselamatan pasien
di rumah sakit ada beberapa aspek yang harus dibangun, salah satunya
yakni aspek pengetahuan. Pengetahuan perawat tentang keselamatan
pasien
sangat
penting
untuk
keselamatan pasien.
40
mendorong
pelaksanaan
program
Berdasarkan
Laporan
FDA
Safety
tahun
pada
2001
mengungkapkan bahwa yang menjadi kesalahan yang berhubungan
dengan faktor manusia antara lain berhubungan dengan kurangnya
pengetahuan sebesar 12,3%. Hal yang sama disampaikan oleh Carayon
tahun 2003 bahwa tipe error dan bahaya diklarifikasikan menjadi tiga,
salah satunya yakni organizational failure. Kegagalan secara tidak
langsung yang melibatkan salah satunya yaitu transfer pengetahuan.
AHRQ tahun 2003 menyatakan bahwa faktor yang dapat menimbulkan
insiden keselamatan pasien, salah satunya yakni transfer pengetahuan di
rumah sakit (WHO, 2009).
Menurut Gunibala (2015), pengetahuan merupakan faktor penting
dalam seseorang mengambil keputusan, namun tidak selamanya
pengetahuan seseorang bisa menghindarkan dirinya dari kejadian yang
tidak diinginkannya. Misalnya, perawat yang tingkat pengetahuannya
baik, tidak selamanya menerapkan keselamatan pasien dengan baik
karena segala tindakan yang dilakukan berisiko menimbulkan terjadinya
kesalahan. Faktor lainnya adalah kurangnya minat belajar perawat, yakni
perawat yang tidak mempunyai keinginan untuk mengakses teori – teori
baru dalam bidang keperawatan khususnya mengenai keselamatan
pasien.
Meliono (2007) berpendapat bahwa seseorang yang kurang
memahami sesuatu tidak dapat melakukan tindakan dengan baik. Perawat
yang
memiliki
pengetahuan
kurang
dalam
memahami
tentang
keselamatan pasien tidak mampu menerapkan keselamatan pasien dengan
41
baik sehingga melakukan kesalahan yang dapat menyebabkan insiden
keselamatan pasien.
Upaya meningkatkan pengetahuan yang bersifat tetap merupakan
suatu hal yang penting khususnya dalam konteks keselamatan pasien. Hal
tersebut didukung oleh pendapat Notoadmodjo (2009) yang menyatakan
bahwa pengetahuan yang menunjang keterampilan perlu diberikan agar
staf dapat melakukan tugasnya berdasarkan teori – teori yang dapat
dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan hal tersebut Henriksen et al.
(2008) juga menyatakan bahwa keterbatasan pengetahuan sumber daya
manusia memiliki peran penting dalam menyebabkan keterbatasan
institusi pelayanan untuk mengelola pelayanan yang berorientasi pada
keselamatan pasien. Hal tersebut berarti bahwa keterbatasan pengetahuan
merupakan hal penting yang sangat perlu dipertimbangkan demi
keamanan asuhan yang diberikan oleh tenaga kesehatan termasuk
perawat. Pada intinya, pengetahuan yang baik dapat menjadi tolak ukur
dari suatu pelaksanaan, maka pelaksanaan yang baik dan benar harus
didasari oleh pengetahuan dan pengalaman. Semakin baik pengetahuan
perawat tentang keselamatan pasien, maka akan baik pula penerapan
keselamatan pasien sehingga kesalahan – kesalahan yang mengancam
keselamatan pasien dapat dihindari atau diminimalisir.
Menurut Rivai dan Sagala (2009), pelatihan memiliki peranan yang
sangat penting dalam mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien.
Pelatihan sebagai bagian dari pendidikan yang menyangkut proses
belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem
42
pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat. Lubis (2007)
berpendapat bahwa perawat yang tidak mendapat pelatihan atau
pembelajaran mempunyai kecenderungan lebih besar untuk melakukan
tindakan tidak aman yang menjadi salah satu pemicu terjadinya insiden
keselamatan pasien.
Berdasarkan KPPRS (2008), terdapat standar untuk mendidik staf
tentang keselamatan pasien yaitu:
1) Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan, dan orientasi
untuk
setiap
jabatan
mencakup
keterkaitan
jabatan
dengan
keselamatan pasien secara jelas.
2) Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf,
serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien
dengan kriteria sebagai berikut:
a) Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat
topik keselamatan pasien.
b) Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan
in service training dan memberikan pedoman yang jelas tentang
pelaporan insiden.
3) Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork)
guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam
rangka melayani pasien.
43
c. Stres
Pada titik tertentu dalam dunia pekerjaan banyak orang akan
mengalami stres terkait pekerjaan. Stres dipengaruhi oleh keseimbangan
antara persepsi terhadap tuntutan seseorang (misalnya: dengan beban
kerja yang ad, bagaimana menilai sumberdaya untuk memenuhi tuntutan
tersebut). Ketika tuntutan dirasa lebih utama dari kemampuan, seseorang
akan mengalami efek tidak menyenangkan, seperti kelelahan atau
perasaan lelah, konsentrasi kurang, dan mudah tersinggung (Arfan,
2014).
Perawat sebagai tenaga kesehatan diharapkan dapat bekerja secara
profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Menurut Houtman (2005), stres umumnya lebih banyak dikeluhkan oleh
petugas kesehatan seperti perawat. Kesiagaan setiap saat dari seorang
perawat dalam menangani pasien, serta situasi pekerjaan dan beban kerja
yang ada membuat perawat mengalami tekanan yang membuat stres.
Adapun menurut Widyasari (2010), profesi perawat merupakan profesi
yang membutuhkan ketrampilan tingkat tinggi dan juga membutuhkan
kerjasama tim dalam berbagai situasi sehingga profesi perawat di dalam
tempat kerja memiliki banyak stresor.
Hasil penelitian National Institute for Occupational Safety and
Health (NIOSH) dalam Widyasari (2010) mengungkapkan bahwa profesi
perawat merupakan profesi yang memiliki resiko tinggi terhadap stres,
kondisi ini terjadi karena perawat memiliki tugas dan tanggung jawab
yang sangat tinggi terhadap keselamatan nyawa manusia. Selain itu,
44
penelitiannya mengungkapkan bahwa pekerjaan perawat memiliki
karakteristik cukup sulit karena tekanan dan tuntutan kerja yang tinggi.
Karakteristik tersebut terdiri dari: 1) otoritas bertingkat ganda, 2)
heterogenitas personalia, 3) ketergantungan dalam pekerjaan dan
spesialisasi, 4) budaya kompetitif di rumah sakit, 5) jadwal kerja yang
ketat dan harus siap kerja setiap saat, serta 6) tekanan – tekanan dari
teman sejawat. Begitu pula hasil survei Persatuan Perawat Nasional
Indonesia (PPNI) pada tahun 2006, sekitar 50,9% perawat rumah sakit
yang bekerja di empat provinsi mengalami stres kerja, sering pusing,
lelah, tidak bisa beristirahat karena beban kerja terlalu tinggi dan menyita
waktu, serta gaji rendah tanpa insentif memadai.
Menurut Manojlovich (2007), stres kerja memiliki efek yang
negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan fisik perawat. Perawat
yang mengalami stres kerja yang tinggi tidak dapat menunjukkan kinerja
yang optimal. Hasil penelitian Olaleye (2002) juga mengungkapkan
bahwa stres pekerjaan berpengaruh sigifikan terhadap kondisi kesehatan
dan kemampuan perawat dalam melayani pasien. Pengaruh stres pada
kesehatan fisik muncul dalam bentuk, yakni sakit kepala, sakit punggung
atau leher, nyeri otot, tekanan darah tinggi, sedangkan pengaruhnya
terhadap kondisi psikis adalah munculnya perasaan cemas, merasa
tertekan, kurang konsentrasi, dan kesulitan dalam membuat keputusan.
Dari gambaran tersebut diketahui bahwa, kesehatan fisik dan mental
dipengaruhi oleh stres kerja yang secara tidak langsung akan
45
mempengaruhi konsentrasi dan kinerja dari perawat itu sendiri sehingga
berpengaruh ketika melayani pasien.
Oleh karena itu, manajemen stres penting untuk diterapkan di unit
kerja dimana responden mengalami stres kerja demi mengurangi angka
insiden
keselamatan
pasien.
Adapun
beberapa
cara
yang
direkomendasikan oleh para ahli berdasarkan kebutuhan dan tingkat stres
yang dialami. WHO tahun 2009 menyatakan bahwa stres dapat dicegah
dengan tiga cara, yakni secara primer, sekunder (meliputi: mendeteksi
dan mengelola gejala), dan tersier (meliputi: efek stres yang dapat
diobati). Berdasarkan penelitian oleh Everly & Mitchell tahun 1999
menyarankan melakukan Insiden Kritis Manajemen Stres (CISM) untuk
tim atau individu yang mungkin terkena situasi stres tinggi (WHO,
2009).
Menurut Sauter et al. (1990), identifikasi risiko dapat dikelola
dengan berbagai cara, misalnya dengan memastikan jumlah staf yang
memadai dan memberikan pelatihan yang tepat. Selain itu, organisasi
dapat mengurangi stres kerja, misalnya dengan memungkinkan periode
pemulihan setelah periode beban kerja yang tinggi, memberikan peran
atau
tugas
yang
jelas,
serta
meningkatkan
kesempatan
untuk
mendapatkan promosi jabatan.
d. Kelelahan
Menurut Budiono (2003), kelelahan merupakan suatu kondisi yang
disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan dalam bekerja. AHRQ (2003)
mengungkapkan bahwa dampak kelelahan yang dialami perawat
46
mengakibatkan medical error. Lingkungan kerja dan pekerjaan perawat
dapat menjadi sumber kelelahan perawat. Sumber kelelahan tersebut
dapat ditimbulkan dari pengaturan shif kerja, jam kerja, rotasi, lama
kerja, karakteristik pekerjaan, pengaturan waktu istirahat, beban kerja,
kondisi kerja, dan iklim kerja.
Menurut Peters and Peters (2008), salah satu penyebab medical
error disebabkan faktor manusia akibat kelelahan yang dialami. Jam
kerja yang lama dan kelebihan beban kerja dapat memungkinkan
menghasilkan gejala fisik dan mental seperti: merasakan kelelahan dan
kecerobohan kognitif. Perasaan subjektif dari kelelahan mengacu pada
rasa kelelahan, kekurangan energi, dan mengurangi motivasi yang
disertai dengan kewaspadaan mental menurun, gangguan prestasi kerja,
meningkatnya rasa kantuk, tertidur pada saat bekerja, dan pada tingkat
yang lebih tinggi dapat menyebabkan kecelakaan.
Drake et al. (2005) dalam Mulyana (2013) menyatakan bahwa
pengaturan dinas dapat menimbulkan gangguan tidur pada perawat, tidur
yang tidak adekuat menyebabkan perawat mengalami rasa mengantuk
saat bekerja, menurunnya kemampuan bekerja dengan efisien, aman, dan
menurunnya tingkat kewaspadaan. Hal tersebut sangat beresiko
menimbulkan insiden keselamatan pasien.
2. Karakteristik Organisasi
a. Komunikasi
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang pada prosesnya dapat
menghasilkan persepsi, perilaku, dan pemahaman yang berubah menjadi
47
sama antara pemberi informasi dan penerima informasi. Menurut
Jalaluddin (2008), komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya
pengertian, dapat menimbulkan kesenangan, mempengaruhi sikap,
meningkatkan hubungan sosial
yang baik,
dan pada akhirnya
menimbulkan suatu tindakan.
Menurut Salim (2006) dan Hamdani (2007), komunikasi harus
terjadi dalam pola dua arah, dari pimpinan ke personel garis depan dan
sebaliknya. Demikin juga, tindakan diam terhadap kesalahan harus
diganti dengan keterbukaan, serta kejujuran mengenai kejadian yang
menyangkut dengan keselamatan pasien. Pelaporan dan kepatuhan
terhadap prosedur keselamatan pasien merupakan parameter yang
dijadikan tolak ukur berjalannya komunikasi keselamatan yang efektif
dan menjadi elemen penting untuk mewujudkan pelayanan yang aman,
serta menuju keselamatan pasien.
Dalam komunikasi, efektifitas merupakan hal yang paling penting
karena komunikasi efektif merupakan salah satu strategi untuk
membangun budaya keselamatan pasien. Komunikasi efektif sangat
berperan menurunkan insiden keselamatan pasien dalam sebuah asuhan
medis pasien. Strategi tersebut ditetapkan oleh The Joint Comission on
Acreditation of Healthcare Organization (JCAHO) sejak tahun 2010
sebagai tujuan nasional keselamatan pasien. Strategi yang diterapkan
JCAHO bertujuan untuk menciptakan proses komunikasi efektif melalui
pendekatan standarisasi komunikasi yakni pada saat serah terima pasien
(hand over). Hal tersebut dikarenakan komunikasi saat proses transisi
48
perawatan pasien dapat berisiko terjadinya kesalahan ketika informasi
yang diberikan tidak akurat.
Menurut Nurmalia (2012), keterbukaan pada komunikasi juga
melibatkan pasien. Pasien mendapatkan penjelasan akan tindakan dan
juga kejadian yang telah terjadi. Pasien mendapatkan informasi tentang
kondisi yang akan menyebabkan risiko terjadinya kesalahan. Perawat
memberi motivasi untuk memberikan setiap hal yang berhubungan
dengan keselamatan pasien.
Komunikasi terhadap berbagai informasi mengenai perkembangan
pasien antar profesi kesehatan di rumah sakit merupakan komponen yang
fundamental dalam perawatan pasien (Riesenberg, 2010 dalam Marjani
2015). Menurut Alvarado, et al. (2006) dalam Marjani (2015)
mengungkapkan bahwa ketidakakuratan informasi dapat menimbulkan
dampak yang serius pada pasien, hampir 70% kejadian sentinel yaitu
kejadian yang mengakibatkan kematian atau cedera yang serius di rumah
sakit disebabkan karena komunikasi yang buruk. Adapun Angood (2007)
dalam Marjani (2015) mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil kajian
data terhadap adanya insiden keselamatan pasien di rumah sakit, masalah
yang menjadi penyebab utama adalah komunikasi.
WHO (2009) menyatakan bahwa beberapa masalah yang
berhubungan dengan kegagalan komunikasi diantaranya yaitu: efek status
yang menghambat staf junior untuk berbicara kepada atasan dan
kesulitan transmisi informasi antara organisasi atau unit, sehingga
kemungkinan kurangnya umpan balik positif dan diskusi disebabkan
49
karena masih ada perawat ataupun petugas kesehatan junior yang segan
untuk berbicara langsung kepada atasannya, serta masih ada sekat status
yang menghalangi proses komunikasi yang berlangsung diantara
keduanya.
b. Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP)
Menurut Setyarini (2013), Standar Operasional Prosedur (SOP)
merupakan suatu standar atau pedoman tertulis yang dipergunakan untuk
mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan
organisasi. SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan
yang harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu.
Adapun menurut Musdalifah (2013), pelaporan kejadian dan
feedback yang baik harus terus ditingkatkan dengan rasa saling percaya
dan no blame culture, artinya bila staf melakukan kesalahan staf lainnya
tidak menilai sebelah mata atas kesalahan yang telah dilakukan oleh staf
tersebut dan memberikan umpan balik kepada staf yang telah melapor.
Apabila staf melaporkan setiap kesalahan, maka tidak berarti staf tersebut
harus dipersalahkan (di blame) ataupun dihukum atas kesalahan yang
telah dilakukan. Setiap anggota organisasi memiliki peran dalam
melindungi staf atau rekan yang telah melaporkan kesalahan dengan
tidak mengecilkan hati rekan yang telah melakukan kesalahan. Bila
keadaan ini mampu dibangun dan dipertahankan, tentu akan dapat
meningkatkan
frekuensi
pelaporan
kejadian.
Hamdani
(2007)
berpendapat bahwa organisasi kesehatan harus mampu menciptakan
lingkungan yang nonpunitive yang tujuannya adalah supaya setiap
50
elemen staf tidak takut untuk melaporkan kejadian. Ketika sistem
punishment dijalankan, maka staf akan enggan melaporkan insiden.
Kejadian yang tidak dilaporkan tersebut membuat organisasi tidak belajar
dari kesalahan dan kurang peduli terhadap pelayanan.
Melalui pelaksanaan SOP yang sudah ditetapkan di rumah sakit
diharapkan terjadinya insiden keselamatan pasien menurun. Menurut
Cahyono (2008), pengembangan dan ketersediaan standar, pedoman, dan
protokol mendukung program keselamatan pasien. Standarisasi memiliki
tujuan menetapkan tingkat tampilan minimal yang harus dipenuhi
seseorang
dalam
penampilan,
setiap
lingkungan
proses,
kerja,
tindakan,
serta
keterampilan
kondisi
alat
yang
klinis,
harus
terstandarisasi.
Hal tersebut ditunjang oleh teori Wood dalam Cahyono (2008)
yang mengembangkan teori “blunt and sharp end” yang menjelaskan
bagaimana interaksi manusia dengan sistem yang dapat menyebabkan
terjadinya insiden keselamatan pasien. Blunt and (sisi tumpul)
menggambarkan penampilan organisasi, dalam hal ini SOP atau alur
kerja yang berfungsi sebagai pelindung atau pencegah kesalahan. Sharp
end (sisi tajam) menggambarkan petugas kesehatan, dalam hal ini
perawat yang bertugas. Interaksi antara blunt and sharp end seharusnya
seimbang sehingga insiden keselamatan pasien dapat dihindari. Dengan
demikian, peran perawat sebagai sisi tajam dari pelayanan sangat besar,
perawat diharapkan mampu memegang teguh pedoman, kebijakan dan
51
standar praktik keperawatan. Jika hal ini dilanggar, cedera pada pasien
tidak dapat dihindarkan.
Adapun IOM (2000) yang mengemukakan dua peran perawat
dalam keselamatan pasien, yakni memelihara keselamatan melalui
transformasi
lingkungan
keperawatan
yang
lebih
mendukung
keselamatan pasien, dan peran perawat dalam keselamatan pasien melalui
penerapan standar keperawatan.
Menurut WHO (2007), untuk mengurangi kesenjangan dalam
pemberian pelayanan keselamatan kepada pasien, maka setiap rumah
sakit membentuk SOP. SOP dibentuk, dikeluarkan, dan dibakukan
dengan bertujuan untuk menjamin mutu di setiap rumah sakit, serta
menjamin mutu tenaga kesehatan demi menunjang keselamatan pasien.
3. Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan
a. Kerjasama Tim
Menurut Katzenbach & Douglas dalam Cahyono (2008), kerjasama
tim merupakan suatu kelompok kecil dengan keterampilan yang saling
melengkapi dan berkomitmen pada tujuan bersama, serta sasaran –
sasaran kinerja dan pendekatan yang dijadikan tanggung jawab bersama.
Kerjasama merupakan bentuk attitude dari perawat dalam bekerja di
dalam tim karena membuat individu saling mengingat, mengoreksi, dan
berkomunikasi sehingga peluang terjadinya kesalahan dapat dihindari.
Menurut Canadian Nurse Association pada tahun 2004 dalam
Setiowati (2010), faktor – faktor yang menjadi tantangan bagi perawat
dalam memberikan keperawatan yang aman dan memberikan kontribusi
52
dalam keselamatan pasien salah satunya yakni kerjasama tim. Cahyono
(2008) mengungkapkan bahwa kinerja kerjasama tim yang terganggu
juga merupakan salah satu penyebab insiden keselamatan pasien yang
merupakan kombinasi dari kegagalan sistem. Peluang insiden terjadi
akibat dari kondisi – kondisi tertentu. Kondisi yang memudahkan
terjadinya kesalahan, misalnya: gangguan lingkungan dan kerjasama tim
yang tidak berjalan.
Menurut Vincent (2003) dalam Setiowati (2010), hambatan
komunikasi dan pembagian tugas yang tidak seimbang menjadi penyebab
tidak berjalannya kerjasama tim yang efektif. Efektifitas kerjasama tim
sangat tergantung pada komunikasi dalam tim, kerjasama, adanya
supervisi, dan pembagian tugas. Sebuah studi observasional dan analisis
retrospektif terhadap insiden keselamatan pasien menunjukkan bahwa
faktor kerjasama tim yang kurang berkontribusi lebih banyak
dibandingkan dengan kamampuan klinis yang lemah.
Darmanelly (2000) dalam WHO (2009) mengungkapkan bahwa
kerjasama tim dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni: kesesuaian
memercayai anggota tim, kesediaan untuk mengalah, kemampuan
menyampaikan kritik, kesediaan memperbaiki diri, solidaritas kelompok,
tanggung jawab, dan pemantaun secara berkala.
Menurut Bower et al. (2003) dalam WHO (2009), kerja tim yang
baik dapat membantu mengurangi masalah keselamatan pasien,
meningkatkan semangat anggota, dan kesejahteraan tim sehingga tim
akan berfungsi dari waktu ke waktu. Baker et al. (2005) pun
53
mengungkapkan bahwa kerjasama tim sangat dibutuhkan antar tim medis
untuk meningkatkan keselamatan pasien melalui pengurangan kesalahan
– kesalahan akibat adanya kerjasama tim antar petugas medis.
b. Gangguan atau Interupsi
Persepsi pemberi pelayanan kesehatan terhadap gangguan atau
interupsi tinggi yaitu apabila petugas kesehatan merasakan adanya
aktivitas atau kegiatan lain diluar tugas dan tanggung jawabnya yang
harus dilakukan pada saat sedang memberikan pelayanan kesehatan
kepada pasien atau keluarga pasien lebih banyak dibandingkan kegiatan
yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya.
Menurut Henrikson et al. tahun 1993 dalam Henriksen et al.,
(2008), penyebab insiden keselamatan pasien salah satunya disebabkan
oleh faktor sifat dasar pekerjaan yang meliputi: gangguan atau interupsi
selama bekerja, beban kerja, dan alur kerja atau proses kerja.
E. Kerangka Teori Penelitian
Kerangka teori yang digunakan pada penelitian ini, peneliti mengacu
pada teori yang dikemukakan oleh Henriksen et al. (2008) dan WHO (2009)
terkait faktor yang berkontribusi dalam terjadinya insiden keselamatan pasien
di rumah sakit. Adapun kerangka teori pada penelitian ini yaitu:
54
Faktor – faktor yang berkontribusi dalam insiden keselamatan
pasien:
Karakteristik Individu:
Usia1, Pengetahuan1, Kelelahan1,2,
Sensori
dan
Memori1,
Keterampilan1, Kapabilitas
Training
dan
Edukasi1,
Tingkat
Pendidikan1, Pengalaman Kerja1, Motivasi1, Stres2, Kewaspadaan
Situasi2, Pengambilan Keputusan2
Karakteristik Organisasi:
Lingkungan Organisasi1, Komunikasi1,2, SOP1, Kekuasaan dan
Kepemimpinan1,2,
Insiden Keselamatan
Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan:
Gangguan atau Interupsi1, Kerjasama1,2, Alur Kerja1, Beban
Kerja1, Kompleksitas Kerja1
Karakteristik Manajemen:
Struktur Organisasi1, Budaya Safety1,2, Staffing1, Supervisor2
Karakteristik Lingkungan Eksternal:
Kebijakan Kesehatan1, Demografi1
Karakteristik Lingkungan Fisik:
Desain Tempat dan Peralatan Kerja1, Suhu1, Kebisingan1,
Pencahayaan1, Lingkungan Kerja dan Bahaya2
Karakteristik Interaksi Sistem dan Manusia:
Sistem1, Peralatan1, Teknologi Informasi1.
Sumber: 1Henriksen et al. (2008), 2WHO (2009)
Gambar 2.2 Kerangka Teori Penelitian
55
Pasien
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
gambaran insiden keselamatan pasien berdasarkan karakteristik perawat,
karakteristik organisasi, dan karakteristik sifat dasar pekerjaan di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode 2012-2016. Berdasarkan
tinjauan pustaka yang telah dipaparkan sebelumnya, pada penelitian ini peneliti
mengacu pada Teori Henriksen et al. (2008) dan WHO (2009). Dalam
penelitian ini, peneliti membatasi variabel yang diteliti yakni difokuskan pada
karakteristik organisasi yang terdiri dari usia, pengetahuan, stres, dan
kelelahan, karakteristik organisasi yang terdiri dari komunikasi dan
implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP), serta karakteristik sifat
dasar pekerjaan yang terdiri dari kerjasa tim dan gangguan atau interupsi yang
dialami oleh perawat di Unit Rawat Inap di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yakni berdasarkan teori yang
dikemukan oleh Henriksen et al. (2008) dan WHO (2009) mengenai faktor –
faktor yang memiliki peranan yang sangat besar terhadap insiden keselamatan
pasien pada pelayanan kesehatan.
Berdasarkan WHO (2009) yang mengembangkan empat kategori
karakteristik dengan sepuluh topik yang berkontribusi terhadap penyebab
terjadinya insiden keselamatan pasien yaitu karakteristik individu, karakteristik
organisasi, karakteristik kerja tim, dan karakteristik manajerial. Masing –
masing keempat faktor tersebut memiliki sub faktor yang terdiri atas sepuluh
56
sub faktor. Sedangkan berdasarkan Henriksen et al. (2008) mengemukakan
faktor yang berkontribusi dalam insiden keselamatan pasien dimulai dari akar
permasalahan hingga penyebab langsung terjadinya insiden keselamatan pasien
yang tersusun secara bertahap, yaitu dari karakteristik individu, karakteristik
organisasi, karakteristik sifat dasar pekerjaan, karakteristik manajemen,
karakteristik lingkungan ekternal, karakteristik lingkungan fisik, serta
karakteristik hubungan interaksi sistem dan manusia.
Pemilihan
ketiga
variabel
utama
yakni
karakteristik
individu,
karakteristik organisasi, dan karakteristik sifat dasar pekerjaan dalam penelitian
ini berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Mulyana (2013) dan
Afran (2014) bahwa beberapa variabel dalam penelitian tersebut memiliki
hubungan dengan insiden keselamatan pasien, serta karakteristik yang
difokuskan dalam penelitian ini yang telah peneliti jelaskan sebelumnya
memiliki determinan terhadap terjadinya inbsiden keselamatan pasien. Adapun
variabel yang termasuk kedalam penelitian ini yakni insiden keselamatan
pasien, usia, pengetahuan, stres, kelelahan, komunikasi, implementasi Standar
Operasional Prosedur (SOP), kerjasama tim, dan gangguan atau interupsi.
Sedangkan untuk variabel yang tidak diteliti dalam penelitian ini yakni
karakteristik terkait lingkungan, dan karakteristik hubungan interaksi sistem
dan manusia dikarenakan lingkup penelitian menjadi sangat luas dan
keterbatasan waktu yang dimiliki oleh peneliti pada saat melakukan
pengambilan data.
57
Karakteritik Individu Perawat:
- Usia
- Pengetahuan
- Stres
- Kelelahan
Karakteristik Organisasi:
Insiden Keselamatan Pasien
- Komunikasi
(KTD, KNC, KTC)
- Implementasi SOP
Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan:
- Kerjasama Tim
- Gangguan atau Interupsi yang
Dialami oleh Perawat
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
58
B. Definisi Operasional
Adapun definisi operasional dari variabel – variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 3.1
Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian
No
1.
Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Hasil Ukur
Cara Ukur
Skala
Insiden
Setiap kejadian atau situasi yang tidak
Kuesioner
0. Pernah melakukan insiden
Pengisian
Ordinal
Keselamatan
disengaja dan kondisi yang mengakibatkan
keselamatan
Pasien
atau berpotensi mengakibatkan cedera yang
KTD, KNC, dan KTC, jika
dapat
perawat memilih jawaban
dicegah
pada
pasien
meliputi:
pasien
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yaitu
“Jarang”,
kejadian yang berakibat cedera, Kejadian
“Selalu” pada kueioner.
Nyaris Cidera (KNC) yaitu kejadian yang
1. Tidak pernah melakukan
berpotensi
menimbulkan
cedera,
“Sering”,
baik
dan
dan
insiden keselamatan pasien
Kejadian Tidak Cidera (KTC) yaitu kejadian
baik KTD, KNC, dan KTC,
yang tidak menimbulkan cedera.
jika
perawat
jawaban
“Tidak
Kuesioner
memilih
Pernah”
pada kuesioner.
2.
Usia
Masa hidup perawat dihitung sejak tanggal
kelahiran hingga ulang tahun terakhir pada
59
Kuesioner
0. ≤ 30 tahun
Pengisian
1. > 30 tahun
Kuesioner
Ordinal
saat mengisi kuesioner.
3.
Pengetahuan
Tingkat
pengetahuan
(Mulyana, 2013)
perawat
terhadap
Kuesioner
Stres
kurang
konsep keselamatan pasien, pengertian, cara
(apabila nilai median < 7)
pelaporan, dan tindakan yang bertujuan pada
1. Pengetahuan baik (apabila
Pengisian
Ordinal
Kuesioner
nilai median ≥ 7)
keselamatan pasien.
4.
0. Pengetahuan
Suatu kondisi yang mempengaruhi keadaan
Kuesioner
fisik atau psikis perawat karena adanya
0. Stres tinggi (apabila nilai
median < 9)
tekanan dari dalam ataupun dari luar
Pengisian
Ordinal
Kuesioner
1. Stres rendah (apabila nilai
median ≥ 9)
sehingga dapat mengganggu pelaksanaan
kerja.
5.
Kelelahan
Suatu kondisi yang dialami oleh perawat
Kuesioner
yang disebabkan karena adanya beban kerja
0. Kelelahan tinggi (apabila
nilai median < 9 )
berlebih dan jadwal kerja yang padat.
Pengisian
Ordinal
Kuesioner
1. Kelelahan rendah (apabila
nilai median ≥ 9)
6.
Komunikasi
Suatu proses penyampaian pesan (informasi,
ide, gagasan, pernyataan) dari staf (perawat)
tanpa rasa takut atau bebas mengungkapkan
pendapat, baik mengenai tindakan yang
diputuskan maupun jika melihat sesuatu
60
Kuesioner
0. Komunikasi kurang efektif
(apabila nilai median < 16)
1. Komunikasi efektif (apabila
nilai median ≥ 16)
Pengisian
Kuesioner
Ordinal
yang
berdampak
negatif
yang
dapat
mempengaruhi pasien pada perawat di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
7.
Implementasi
Pelaksanaan Standar Operasional Prosedur
SOP
(SOP)
oleh
perawat
terkait
Kuesioner
dengan
pelaporan insiden keselamatan pasien di
0. Implementasi SOP kurang
Pengisian
baik (apabila nilai median <
Kuesioner
Ordinal
16)
Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
1. Implementasi
SOP
baik
(apabila nilai median) ≥ 16)
8.
Kerjasama Tim Kondisi dimana individu dalam satu unit
Kuesioner
saling mendukung satu sama lain dan saling
0. Kerjasama tim kurang baik
(apabila nilai median < 22)
membantu untuk memberikan perawatan
Pengisian
Ordinal
Kuesioner
1. Kerjasama tim baik (apabila
nilai median ≥ 22)
terbaik bagi pasien pada perawat di RSAI
Bandung.
9.
Gangguan atau
Adanya aktivitas atau kegiatan lain yang
Interupsi
dialami oleh perawat di unit kerja diluar
(apabila nilai median < 9)
tugas dan tanggung jawab yang harus
1. Gangguan/interupsi rendah
dilakukan pada saat sedang memberikan
(apabila nilai median ≥ 9)
pelayanan kesehatan kepada pasien atau
keluarga pasien.
61
Kuesioner
0. Gangguan/interupsi
tinggi
Pengisian
Kuesioner
Ordinal
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross
sectional. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross
sectional karena peneliti ingin mengukur semua variabel pada waktu yang
bersamaan. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Menurut
Notoatmodjo (2005), metode penelitian deskriptif adalah suatu metode
penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau
deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung yang beralamat di Jalan Soekarno – Hatta No. 644, Kelurahan
Sekejati, Kecamatan Margacinta Kota Bandung, Jawa Barat, pada bulan
Oktober – November tahun 2016.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau
subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya
(Sugiyono, 2012). Populasi pada penelitian ini adalah keseluruhan dari
perawat yang bertugas di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
berjumlah 243 perawat.
62
2. Sampel
Sampel penelitian merupakan bagian dari keseluruhan objek yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi dalam peneliitian tersebut
(Sugiyono, 2012). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini
menggunakan non probability sampling. Non probability sampling adalah
teknik pengambilan sampel yang tidak memberi kesempatan yang sama bagi
setiap anggota populasi untuk dapat dipilih menjadi sampel. Cara
pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan purposive
sampling. Menurut Setiadi (2007), purposive sampling yaitu teknik
penentuan pengambilan sampel dengan pertimbangan dan penilaian tertentu
sesuai yang diinginkan oleh peneliti.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus estimasi
proporsi pada populasi terbatas sebagai berikut:
Z21-α/2 P(1-P)N
n =
d2(N-1)+ Z21-α/2 P(1-P)
PQ
Keterangan :
n
= jumlah sampel yang dibutuhkan
N
= jumlah populasi
Z 1-α/2 = tingkat kepercayaan sebesar 95% = 1,96
P
= proporsi insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung sebesar 50% (0,5)
d
= sampling error sebesar 10%
Berdasarkan rumus di atas, dari jumlah populasi sejumlah 243 perawat
dilakukan perhitungan besar sampelnya sebagai berikut:
.
n =
(1,96) 2. (0,5). (1-0,5).243
(0,1) 2. (243-1) + (1,96) 2. (0,5). (1-0,5)
63
233,3772
=
=
69,03 dibulatkan menjadi 69
2,42 + 0,9604
Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus di atas dari jumlah
populasi sebesar 243 perawat, maka jumlah sampel yang diperlukan dalam
penelitian ini adalah 69 perawat dan untuk menghindari adanya drop out,
maka peneliti menambah jumlah sampel sebanyak 10% sehingga jumlah
sampel keseluruhan menjadi 76 orang.
Pengambilan sampel dari setiap unit dilakukan secara proporsional
dengan cara meminta persetujuan dari pihak rumah sakit. Kemudian peneliti
menyebarkan kuesioner kepada unit – unit terkait yakni perawat yang
sedang bertugas pada saat shif pagi dan sift malam yang memenuhi kriteria
inklusi dan kriteria eksklusi dengan meminta persetujuan kepala ruangan.
Perhitungan jumlah sampel di setiap unit sebagai berikut:
Tabel 4.1 Perhitungan Jumlah Sampel
No
Unit
Jumlah
Populasi
Perhitungan
Hasil
Sampel
1
Darussalam 5
30
30/243 x 76
9,38
10
2
Darussalam 4
30
30/243 x 76
9,38
10
3
Firdaus 3
30
30/243 x 76
9,38
10
4
Darussalam 3
22
22/243 x 76
6,88
7
5
Darussalam 3 A
26
26/243 x 76
8,13
8
6
Raudhah
26
26/243 x 76
8,13
8
7
Nifas
8
8/243 x 76
2,50
3
8
Perina
22
22/243 x 76
6,88
7
9
ICU
20
20/243 x 76
6,25
6
10
HCU
29
29/243 x 76
9,06
9
Total
243
76
Sumber : Data Keperawatan, Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016
64
3. Kriteria Sampel
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria yang dijadikan karakteristik umum
subjek penelitian pada populasi target atau populasi aktual sehingga
subjek dapat diikutkan dalam penelitian, yaitu:
1) Perawat pelaksana di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
2) Perawat tidak dalam masa cuti
3) Bersedia menjadi responden
b. Kriteria Ekslusi
Kriteri eksklusi adalah kriteria yang memungkinkan sebagian
subjek yang memenuhi kriteria inklusi yang tidak dijadikan responden
dalam penelitian oleh karena berbagai sebab, yaitu perawat yang
memiliki jabatan sebagai kepala ruangan atau penanggung jawab
ruangan, perawat sukarela, dan mahasiswa perawat.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Sumber Data
a. Data Primer
Data primer pada penelitian ini adalah data yang berasal dari
pengisian kuesioner oleh responden. Data yang dicari dalam penelitian
ini adalah jumlah respon dari setiap pertanyaan atau pernyataan pada
kuesioner. Pertanyaan atau pernyataan dalam kuesioner penelitian ini
berjumlah 49 yang terdiri dari 9 pertanyaan dan 40 pernyataan, serta
sampel pada penelitian ini berjumlah 76 responden, sehingga jumlah
65
respon yang didapatkan adalah 49 dikali 76 responden yaitu 3.724 respon
apabila semua responden menjawab semua pertanyaan dan pernyataan
kuesioner.
b. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang
berupa profil Rumah Sakit Al-Islam Bandung, jumlah perawat di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung, data laporan insiden
keselamatan pasien, dan data – data yang berkaitan dengan Sistem
Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat – alat yang akan digunakan untuk
pengumpulan data (Notoadmodjo, 2005). Instrumen penelitian yang
digunakan pada penelitian ini berupa kuesioner yang diisi oleh responden.
Seluruh instrumen penelitian dibuat berdasarkan kerangka konsep dan
definisi operasional penelitian.
a. Kuesioner digunakan untuk mendapatkan gambaran insiden keselamatan
pasien, usia, pengetahuan, stres, kelelahan, komunikasi, implementasi
SOP, kerjasama tim, dan gangguan atau interupsi yang dialami oleh
perawat.
Kuesioner
diadopsi
dari
penelitian
sebelumnya
yang
berhubungan dengan insiden keselamatan pasien dan dimodifikasi atau
disesuaikan dengan kondisi lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan
skala likert yang ditujukan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau kelompok tentang fenomena sosial (Sugiyono, 2009).
Pada skala likert, pernyataan yang disajikan dalam bentuk pernyataan
66
favorable dan pernyataan unfavorable. Untuk menjawab pernyataan
tersebut responden diberikan beberapa pilihan jawaban dari tingkatan
yang positif sampai dengan yang negatif.
b. Kuesioner untuk melakukan uji validitas dan realibilitas data dilakukan
kepada 30 perawat yang bertugas di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung, yakni Unit Rawat Inap Darussalam 5, Darussalam 4,
Firdaus, dan HCU. Uji validitas data bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi
ukurnya (Hastono, 2007). Validitas suatu instrumen kuesioner dalam
penelitian ini dilakukan dengan membandingkan nilai r hasil dengan nilai
r tabel, dikatakan valid apabila nilai r hasil yang dilihat pada tabel
Corrected Item – Total Correlation lebih besar daripada nilai r tabel.
Kemudian untuk pernyataan yang tidak valid dapat segera dihilangkan
dan dilakukan uji validitas kembali tanpa menyertakan pernyataan yang
tidak valid sebelumnya. Uji realibitas data dilakukan untuk menunjukkan
tingkat konsistensi hasil pengukuran bila dilakukan pengukuran dua kali
(Sugiyono, 2009). Uji realibilitas dilakukan dengan cara membandingkan
nilai Cronbach Alpha dengan nilai standar yaitu 0,6. Suatu variabel
dikatakan realibel atau dapat dipercaya apabila hasil yang dapat dilihat
pada tabel Cronbach Alpha ≥ 0,6, dikatakan tidak realibel apabila
Cronbach Alpha < 0,6.
67
c. Pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi variabel penelitian
sebagai berikut:
1) Insiden Keselamatan Pasien
Variabel
insiden
keselamatan
pasien
diukur
dengan
menggunakan kuesioner yang terdiri dari 14 pernyataan pada
kuesioner bagian G meliputi pernyataan Kejadian Tidak Diharapkan
(KTD), Kejadian Nyaris Cidera (KNC), dan Kejadian Tidak Cidera
(KTC). Instrumen ini diadopsi dari penelitian Mulyana (2013) yang
disesuaikan dengan PMK No. 1691 tahun 2011 tentang keselamatan
pasien di rumah sakit. Adapun untuk menggolongkan kedalam
kategori perawat yang pernah dan tidak pernah melakukan kesalahan
yang menyebabkan terjadinya insiden keselamatan pasien dalam
penelitian ini sebagai berikut:
0. Pernah melakukan insiden keselamatan pasien baik KTD, KNC,
dan KTC, jika perawat memilih jawaban “Jarang”, “Sering”, dan
“Selalu” pada kueioner.
1. Tidak pernah melakukan insiden keselamatan pasien baik KTD,
KNC, dan KTC, jika perawat memilih jawaban “Tidak Pernah”
pada kuesioner.
2) Usia
Variabel usia dari setiap perawat diukur dengan menggunakan
instrumen kuesioner yang akan langsung dijawab oleh perawat dengan
mengisi kuesioner sesuai lama hidup perawat dihitung sejak tanggal
kelahiran hingga ulang tahun terakhir pada saat mengisi kuesioner.
68
Jawaban usia perawat kemudian dikategorikan menurut Mulyana
(2013), bahwa kategori usia kurang dari 30 tahun memiliki
kecenderungan melakukan kesalahan yang menyebabkan terjadinya
insiden keselamatan pasien.
3) Pengetahuan
Variabel pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner
yang terdiri dari 9 pertanyaan pada kuesioner bagian A. Kuesioner
tentang pengetahuan mengacu pada KKPRS (2008) meliputi: konsep
keselamatan pasien, pengertian, cara pelaporan, dan tindakan yang
bertujuan pada keselamatan pasien. Kuesioner ini dikembangkan oleh
peneliti berdasarkan KKPRS (2008) yang didukung oleh kepustakaan.
Peneliti mengadopsi kuesioner pengetahuan perawat berdasarkan
KKPRS (2008) ini karena aplikatif dan sesuai dengan kondisi rumah
sakit tempat penelitian dilakukan dan hal ini merupakan standar yang
harus diterapkan pelaksanaannya di setiap rumah sakit.
4) Stres
Variabel stres diukur dengan menggunakan kuesioner yang
terdiri dari 3 pernyataan pada kuesioner bagian B. Pengukuran yang
digunakan untuk mengukur variabel stres kerja pada penelitian ini
hanya terkait dukungan rekan kerja dan pimpinan, konsentrasi saat
bekerja, dan jadwal kerja perawat yang diadopsi sebagian dari
indikator stres kerja Health and Safety Executive (HSE), tidak
berdasarkan pada kuesioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale)
yang mengembangkan tiga gejala stres yaitu gejala psikologis,
69
fisiologis, dan perilaku untuk mengukur tingkat stres kerja yang
dialami oleh responden.
5) Kelelahan
Variabel kelelahan diukur dengan menggunakan kuesioner yang
terdiri dari 3 pernyataan pada kuesioner bagian B. Pada variabel
kelelahan pengukuran yang dilakukan hanya terkait jumlah perawat di
unit tempat bekerja, adanya beban kerja, dan jadwal kerja perawat,
tidak berdasarkan pada Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan
Kerja (KAUPK2) yang terdiri dari 17 item pertanyaan untuk
mengukur tingkat perasaan kelelahan kerja yang dialami oleh
responden.
6) Komunikasi
Variabel komunikasi diukur dengan menggunakan kuesioner
yang terdiri dari 5 pernyataan pada kuesioner bagian E. Instrumen
untuk mengukur faktor komunikasi ini diambil dari kuesioner yang
dikeluarkan oleh AHRQ pada Hospital Survey on Patient Safety
Culture.
7) Implementasi SOP
Variabel implementasi SOP diukur dengan menggunakan
kuesioner yang terdiri dari 5 pernyataan pada kuesioner bagian C.
Instrumen ini disesuaikan dengan pelaporan insiden kelamatan pasien
di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
70
8) Kerjasama Tim
Variabel kerjasama tim diukur dengan menggunakan kuesioner
yang terdiri dari 7 pernyataan pada kuesioner bagian D. Instrumen
untuk mengukur faktor kerjasama tim ini diambil dari kuesioner yang
dikeluarkan oleh AHRQ pada Hospital Survey on Patient Safety
Culture.
9) Gangguan atau Interupsi
Variabel gangguan atau interupsi diukur dengan menggunakan
kuesioner yang terdiri dari 3 pernyataan pada kuesioner bagian F.
Instrumen ini diadopsi dari penelitian yang dilakukan oleh Arfan
(2014).
E. Uji Validitas dan Realibilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu
benar – benar mengukur apa yang diukur. Menurut Hastono (2007), uji
validitas dilakukan guna mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan
alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu kuesioner dikatakan valid
jika pernyataan pada kuesioner mampu untuk mengungkap sesuatu yang
akan diukur oleh kuesioner tersebut. Dalam hal ini digunakan beberapa item
pernyataan yang dapat secara tepat mengungkapkan variabel yang diukur
tersebut. Uji ini dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing –
masing skor item pernyataan dari setiap variabel dengan total skor variabel
tersebut. Uji validitas menggunakan korelasi Product Moment dari Pearson.
71
Suatu instrumen dikatakan valid atau sahih apabila korelasi tiap butiran
memiliki nilai positif dan nilai t hitung > t tabel.
Notoatmodjo (2010) berpendapat sebaiknya jumlah responden untuk
uji validitas berjumlah paling sedikit 20 orang agar diperoleh distribusi nilai
hasil pengukuran mendekati normal. Uji validitas pada penelitian ini
dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada 30 perawat yang bertugas
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung yang bukan merupakan
sampel penelitian. Kuesioner yang diuji validitas adalah kuesioner yang
digunakan untuk mengetahui pengetahuan, stres, kelelahan, komunikasi,
implementasi SOP, kerjasama tim, dan gangguan atau interupsi yang
dialami oleh perawat.
Penelitian ini merupakan penelitian yang ditujukan untuk menilai
sikap, pendapat, dan persepsi responden terkait beberapa variabel yang
diteliti,uji validitas suatu instrumen kuesioner dalam penelitian ini dilakukan
dengan membandingkan nilai r hasil dengan nilai r tabel. Dengan sampel 30
perawat, maka didapat df = n – 2 = 28. Pada tingkat kemaknaan 5% dengan
df = 28% didapat angka r tabel = 0,361. Suatu pernyataan kuesioner
dinyatakan valid apabila nilai r hasil yang dilihat pada tabel Corrected item
– Total Correlaltion dalam software pengolahan data di perangkat lunak
komputer lebih besar daripada nilai r tabel. Dari total 56 pernyataan atau
pertanyaan kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan dan 46 pernyataan
yang di uji validitas kepada perawat, sebanyak 7 kuesioner tidak valid dan
dikeluarkan dari kuesioner.
72
2. Uji Realibilitas
Uji Realibilitas dilakukan setelah setiap pernyataan yang terdapat
didalam alat ukur dinyatakan valid dan setelah menghilangkan pernyataan
yang tidak valid. Uji realibilitas bertujuan untuk menunjukkan tingkat
konsistensi hasil pengukuran bila dilakukan pengukuran dua kali (Sugiyono,
2009). Uji realibilitas dilakukan dengan cara membandingkan nilai
Chronbach Alpha dalam software analisis data di perangkat lunak komputer
dengan nilai standar yaitu 0,6. Suatu variabel dikatakan realibel atau dapat
dipercaya apabila hasil yang dapat dilihat pada tabel Chronbach Alpha ≥
0,6, dan dikatakan tidak realibel apabila Chronbach Alpha < 0,6 (Hastono,
2007). Berikut hasil perhitungan uji reabilitas:
Tabel 4.2 Nilai Cronbach Alpha pada Instrumen Penelitian
No
Variabel
Nilai Cronbach Alpha
1
Pengetahuan
0,712
2
Stres dan Kelelahan
0,655
3
Komunikasi
0,754
4
Implementasi SOP
0,852
5
Kerjasama Tim
0,769
6
Gangguan atau Interupsi
0,697
7
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)
0,647
8
Kejadian Nyaris Cedera (KNC)
0,832
9
Kejadian Tidak Cedera (KTC)
0,867
Sumber : Data Primer
F. Pengolahan Data
Pelaksanaan pengolahan data bertujuan untuk menghasilkan informasi
yang benar dan sesuai dengan tujuan penelitian. Pengolahan data dilakukan
73
setelah seluruh data yang diperlukan selesai dikumpulkan. Tahapan yang
dilakukan dalam pengolahan data primer dari kuesioner sebagai berikut:
1. Mengkode data (data coding), yaitu membuat klasifikasi data dan memberi
kode atau nilai pada jawaban dari setiap pernyataan dalam kuesioner.
Pemberian nilai tergantung pada pernyataan positif atau pernyataan negatif
pada kuesioner.
Tabel 4.3 Skor Likert pada Pernyataan Positif dan Negatif
No
Katagori Skala
Skor Pernyataan
Skor Pernyataan
Positif
Negatif
1
Sangat Setuju (SS)/ Selalu
4
1
2
Setuju (S)/ Sering
3
2
3
Tidak Setuju (TS)/ Jarang
2
3
4
Sangat Tidak Setuju
1
4
(STS)/ Tidak Pernah
2. Menyunting data (data editing), yaitu kuesioner yang telah diisi dilihat
kelengkapan jawabannya sebelum dilakukan proses pemasukan data ke
dalam komputer, sehingga ketika terdapat data yang salah atau meragukan
dapat ditelusuri kembali ke responden yang bersangkutan.
3. Membuat struktur data (data structure) dan file data (data file), yaitu
membuat template sesuai format kuesioner yang digunakan pada software.
4. Memasukkan data (data entry), yaitu dilakukan pemasukan data ke dalam
templete yang telah dibuat pada program software computer. Adapun
software computer yang digunakan dalam penelitian ini adalah program
SPSS versi 16.
74
5. Membersihkan data (data cleaning), yaitu data yang telah diinput kemudian
dicek kembali untuk memastikan bahwa data tersebut bersih dari kesalahan,
baik kesalahan pengkodean maupun kesalahan dalam membaca kode.
Dengan demikian diharapkan data tersebut benar – benar siap untuk
dianalisis.
G. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini berupa analisis data univariat. Analisis
univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk menggambarankan distribusi
frekuensi masing – masing variabel penelitian menggunakan uji statistik
deskripstif pada software analisis data.
75
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Rumah Sakit Al-Islam berada di Kota Bandung bagian timur tepatnya di
Jalan Soekarno – Hatta No. 644, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Margacinta
Kota Bandung, Jawa Barat. Rumah Sakit Al-Islam Bandung merupakan
Rumah Sakit Swasta Tipe B yang bernuansakan islam dalam setiap
pelayanannya.
Rumah Sakit Al-Islam Bandung mengalami perkembangan yang pesat
dalam pelayanan maupun fasilitasnya. Awal berdirinya Rumah Sakit Al-Islam
Bandung merupakan salah satu amal usaha Ibu – Ibu Badan Kerja Sama
Wanita Islam (BKSWI) Jawa Barat dengan membentuk Badan Hukum
Yayasan Rumah Sakit Islam BKSWI Jawa Barat yang dibantu oleh berbagai
pihak sehingga dapat berkembang seperti sekarang.
1. Visi:
“Menjadi Rumah Sakit yang Unggul, Terpercaya, dan Islami”.
2. Misi:
a. Melaksanakan dan menerapkan nilai – nilai islam ke dalam seluruh aspek
pelayanan maupun pengelolaan rumah sakit.
b. Mendukung dan membantu program pemerintah dalam bidang kesehatan.
c. Melakukan kerjasama lintas sektoral dan ikut berperan aktif dalam upaya
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
d. Melaksanakan pelayanan kesehatan dengan memberi kepuasan kepada
konsumen sehingga melebihi apa yang diharapkan.
76
e. Mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kesejahteraan sumber
daya manusia yang dimiliki.
3. Falsafah:
Beriman kepada Allah SWT dengan berpegang kepada Al-Quran dan
Al-Hadist
sebagai
landasan utama, bekerja
profesional
(wa’amilu
shoolihaati) dalam suatu “team work” (wa tawaa shaubilhaqi wa tawaa
shaubishabri).
4. Motto:
Internal : “Cepat, Ramah, Profesional dan Islami.”
Eksternal : “Sahabat Anda Menuju Sehat Bermanfaat.”
B. Gambaran Umum Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
Meningkatnya keadaan sosial ekonomi masyarakat dan kesadaran
masyarakat akan hukum, membuat rumah sakit dituntut untuk memberikan
pelayanan yang bermutu tinggi, aman, dan selalu menggunakan teknologi
mutakhir. Pelayanan di rumah sakit sangat kompleks dan multidisiplin dengan
ratusan bahkan ribuan prosedur, sehingga kemungkinan terjadi kesalahan atau
insiden sangat besar. Oleh karena itu, Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah
melakukan berbagai upaya pengendalian mutu agar dapat memberikan mutu
pelayanan terbaik, namun demikian masih tetap ada komplain/ketidakpuasaan
dari pihak pengguna pelayanan. Demikian pula laporan insiden masih terjadi
baik yang dilaporkan oleh staf rumah sakit sendiri maupun laporan yang
didapat dari pihak pengguna pelayanan, serta tidak sedikit berujung pada
tuntutan penggantian secara materil.
77
Budaya saling menyalahkan apabila terjadi insiden masih sering terjadi
dan dirasakan masih kurangnya komunikasi serta transparansi dari pihak
pemberi pelayanan kepada masyarakat walaupun sudah terdapat wadah profesi
baik medis, keperawatan, profesi lain, maupun non medis sebagai advisory
board dalam menjaga mutu pelayanan. Hal – hal tersebut dirasakan perlu
upaya lain dalam peningkatan mutu pelayanan yang lebih terstruktur dan
bersifat proaktif. Tujuannya agar insiden di rumah sakit dapat diminimalisir
dan pada akhirnya akan berkembang suatu budaya karyawan yang memberikan
pelayanan bermutu tinggi, aman, transparan, dan responsive menjadi bagian
dari kegiatan yang tidak terpisahkan dalam kehidupan profesi sehari – hari.
Untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit, salah satu upaya yang
dilakukan yaitu melalui penerapkan program keselamatan pasien sesuai standar
yang telah ditetapkan oleh Komite Keselatamatan Pasien Rumah Sakit
(KKPRS) PERSI dan The Joint Comission International (JCI). Pada tahun
2011, Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah terakreditasi lulus tingkat lengkap
(16 pelayanan). Kemudian pada tahun 2016, telah lulus paripurna dalam
penilaian Akreditasi Rumah Sakit Nasional Versi 2012. Hal tersebut dilakukan
sesuai dengan visinya untuk menjadi rumah sakit yang unggul, islami, dan
terpercaya
dalam
pelayanan
dan
pengelolaan,
serta
misinya
yaitu
melaksanakan pelayanan kesehatan dengan memberi kepuasan kepada
konsumen sehingga melebihi apa yang diharapkan.
Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah memiliki komite khusus yang
menangani keselamatan pasien rumah sakit. Komite tersebut yakni Sub Komite
Keselamatan Pasien yang berada dalam Komite Mutu dan Keselamatan Pasien
78
(KMKP) yang telah ditetapkan oleh keputusan Direktur Rumah Sakit AI-Islam
Bandung pada tahun 2008. Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit
merupakan unit fungsional yang dipimpin seorang ketua yang diangkat oleh
direktur, memiliki ruang lingkup membantu direktur dalam menjalankan
program peningkatan mutu, sasaran keselamatan pasien, dan manajemen risiko
rumah sakit. Pada bagan 5.1 merupakan struktur organisasi Komite Mjutu dan
Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016.
STRUKTUR ORGANISASI KOMITE MUTU DAN KESELAMATAN
PASIEN RUMAH SAKIT AL ISLAM BANDUNG
DIREKTUR
KETUA
KOMITE MUTU DAN
KESELAMATAN PASIEN
SUB KOMITE
KESELAMATAN
PASIEN
SUB KOMITE
MANAJEMEN RISIKO
SUB KOMITE
MANAJEMEN MUTU
PENANGGUNG JAWAB MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN UNIT PELAYANAN
Sumber: Profil Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016
Bagan 5.1 Struktur Organisasi Komite Mutu dan Keselamatan Pasien
Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016
79
Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah menerapkan sasaran keselamatan
pasien sejak tahun 2010 sebagai program kerja yang dilaksanakan oleh Sub
Komite Keselamatan Pasien. Adapun pelaksanaan sasaran keselamatan pasien
di Rumah Sakit Al-Islam Bandung sebagai berikut:
a. Ketepatan Identifikasi Pasien
Pada sasaran keselamatan pasien pertama, pelaksanaan ketepatan
identifikasi pasien ditetapkan berdasarkan kebijakan SK Direktur Rumah
Sakit Al-Islam Bandung No.4020/RSAI/UM/VIII/2014 tentang Identifikasi
Pasien di Rumah Sakit Al-Islam Bandung dengan telah terbentuknya
panduan identifikasi pasien dan Standar Operasional Prosedur (SOP)
identifikasi pasien yang mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang
konsisten pada semua situasi dan lokasi. Identifikasi pasien adalah proses
pengumpulan data, pencatatan dan konfirmasi segala keterangan tentang
bukti – bukti dari pasien agar sesuai dengan rekam medik pasien, sehingga
dapat menetapkan dan menyamakan keterangan tersebut.
Untuk melakukan identifikasi pasien, Rumah Sakit Al-Islam Bandung
telah menggunakan minimal dua identitas pasien yaitu nama, tanggal lahir
dan nomor rekam medis. Petugas melakukan identifikasi pasien dengan cara
menanyakan langsung kepada pasien. Pelaksanaan identifikasi pasien
dilakukan sejak dari awal pasien masuk rumah sakit yaitu di perawatan IGD
(Instalasi Gawat Darurat) dan akan selalu dikonfirmasi dalam segala proses
di rumah sakit. Proses verifikasi identifikasi pasien dilakukan pada saat
sebelum pemberian obat, sebelum pemberian transfusi darah atau produk
darah, sebelum pengambilan spesimen untuk pemeriksaan klinis (seperti:
80
darah, urin, dan cairan tubuh lainnya) dan sebelum pemberian tindakan atau
prosedur.
Sarana identifikasi pasien yang berlaku di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung terdiri dari gelang identitas pasien, label identitas pasien, berkas
rekam medis dan formulir pelayanan (lembar bukti pendaftaran pelayanan,
surat pengantar dirawat, formulir pemeriksaan penunjang, surat rujukan
pelayanan, dan lembar resep pasien). Pada gelang identitas pasien dibedakan
antara jenis kelamin perempuan dan laki – laki. Gelang identitas pasien
warna merah muda untuk pasien perempuan dan warna biru untuk pasien
laki – laki. Pemberian gelang identitas tersebut bertujuan untuk
memudahkan proses identifikasi pasien.
b. Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Pada sasaran keselamatan pasien kedua, pelaksanaan peningkatan
komunikasi yang efektif ditetapkan berdasarkan panduan komunikasi efektif
dan SOP komunikasi efektif yang berlaku di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung. Pada Pelaksanaan konsul ke dokter, petugas menggunakan
metode
ISBAR
(Introduction,
Situation,
Backgroud,
Assessment,
Recommendation) dalam melakukan pengulangan untuk perintah yang
diberikan oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP).
Untuk prosedur yang digunakan pada perintah lisan dan/atau melalui
telepon menggunakan metode Tbak (Tulis Baca Kembali). Metode Tbak
berlaku untuk semua petugas kesehatan yang melakukan dan menerima
perintah verbal (lisan dan/atau telepon). Komunikasi verbal dengan metode
Tbak melalui telepon untuk staf yang menerima pesan harus menuliskan dan
81
membacakannya kembali kepada pemberi pesan (konfirmasi dan verifikasi
dilakukan langsung saat itu juga).
c. Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai
Pada sasaran keselamatan pasien ketiga, pelaksanaan peningkatan
keamanan obat yang perlu diwaspadai ditetapkan berdasarkan kebijakan SK
Direktur Rumah Sakit Al-Islam Bandung No. 712A/RSAI/SK/UM/II/2015
tentang Pengelolaan Obat High Alert di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
Untuk meningkatkan kewaspadaan akan keamanan obat high alert
dilakukan upaya – upaya untuk meminimalisir terjadinya kesalahan serta
menurunkan potensi resiko terhadap pasien sehingga dapat lebih
meningkatkan kepercayaan masyarakat dan meningkatkan mutu pelayanan
di rumah sakit. Bagian Instalasi Farmasi Rumah Sakit Al-Islam Bandung
telah memiliki daftar obat NORUM (Nama Obat, Rupa, dan Ucapan Mirip)
yang ditetapkan berdasarkan kebijakan dan pedoman khusus untuk
NORUM. Obat high alert tidak berada diruang perawatan dan harus
dibawah pengawasan apoteker sehingga disimpan di gudang pusat, satelit
farmasi, dan di beberapa nurse station. Untuk obat narkotika disimpan
dengan tempat terpisah dan dilakukan double kunci. Adapun obat high alert
yang disimpan di nurse station ditempatkan pada lemari secara terpisah dan
lemari dalam keadaan terkunci serta diberi label “Peringatan: High Alert
Medications” pada tutup luar tempat penyimpanan.
d. Ketepatan Tepat Lokasi Tepat Prosedur dan Tepat Pasien
Pada pelaksanaan sasaran keselamatan pasien keempat, Rumah Sakit
Al-Islam Bandung berupaya memberikan pelayanan pembedahan yang
82
aman untuk mengurangi kejadian salah lokasi, prosedur dan pasien yang
akan menjalani suatu tindakan operasi. Upaya yang dilakukan yaitu dengan
melakukan asessment (pengkajian) dan identifikasi pasien, komunikasi
efektif, dan site marking. Penerapan site marking dengan menuliskan “YA”
pada daerah yang akan dilakukan operasi dan mengisi lembar formulir
penandaan lokasi operasi dengan dilengkapi pembubuhan tanda tangan oleh
pasien sebagai persetujuan atau konfirmasi ulang. Penandaan ini dilakukan
pada organ yang bilateral atau lebih dari dua.
Untuk menjamin sisi operasi yang tepat, prosedur yang tepat, serta
pasien yang tepat baik sebelum, saat dan setelah menjalani operasi
dilakukan penerapan formulir checklist keselamatan operasi/tindakan
berisiko, maka sebelum pasien dilakukan tindakan akan melalui prosedur
Check – In (tempat penerimaan pasien), Sign – In (sebelum tindakan
anestesi/induksi), Time-Out (sebelum tindakan insisi), Sign – Out (sebelum
menutup luka operasi dan meninggalkan kamar operasi) dan Check – Out
(serah terima perawat anestesi dengan perawat ruangan).
e. Pengurangan Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Pada sasaran keselamatan pasien kelima, pelaksanaan pengurangan
risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan ditetapkan berdasarkan kebijakan
Surat
Keputusan
Direktur
Rumah
No.657A/RSAI/SK/UM/II/2015
tentang
Sakit
Al-Islam
Kebersihan
Tangan
Bandung
dengan
menerapkan panduan kebersihan tangan dan Standar Operasional Prosedur
(SOP) mencuci tangan yang berlaku di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
Tindakan yang dilakukan untuk mengurangi penyebaran infeksi dengan
83
program kebersihan tangan (hand hygiene) yang menekankan pada
ketepatan cara, waktu, dan langkah dalam melakukan cuci tangan.
Penerapan cuci tangan merupakan program yang dilakukan oleh Sub
Komite Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) yang berada dalam
Komite Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
Penerapan cuci tangan pada petugas kesehatan disesuaikan dengan
standar yang ditetapkan oleh WHO dengan five moments for hand hygiene.
Five Moments for Hand Hygiene adalah 5 momen krusial mencuci tangan
pada petugas kesehatan untuk mengoptimalkan kebersihan tangan dengan
mencuci tangan pada waktu yakni 1) sebelum kontak dengan pasien, 2)
sebelum melakukan tindakan aseptis, 3) setelah terkena cairan tubuh pasien,
3) setelah kontak dengan pasien, dan 4) setelah kontak dengan lingkungan
pasien.
Fasilitas kebersihan tangan, seperti cairan alcohol – based hand – rubs
telah disediakan di area perawatan yaitu tempat dimana terdapat pasien,
petugas pelayanan kesehatan, dan perawatan atau pengobatan yang
melibatkan kontak dengan pasien atau kontak dengan lingkungan pasien
sehingga untuk melakukan cuci tangan dapat dengan mudahnya untuk
diakses. Sedangkan untuk fasilitas kebersihan tangan, seperti handwash
tersedia di setiap westafel yang berada di area perawatan pasien dan area
yang memungkinkan terjadinya kontak dengan cairan tubuh pasien, bahan
atau alat yang terkontaminasi. Hal ini menunjukkan kepedulian yang tinggi
untuk mencegah infeksi yang berada di rumah sakit.
84
Petugas kesehatan telah diberikan sosialisai melalui klasikal
mentoring karyawan Rumah Sakit Al-Islam Bandung mengenai cara
mencuci tangan yang terdiri dari 2 (dua) yaitu cuci tangan dengan
menggunakan cairan hand-rubs (dengan waktu 20 – 30 detik) untuk
dekontaminasi tangan jika tangan tidak terlihat noda dan cuci tangan dengan
menggunakan sabun antiseptik serta air yang mengalir (dengan waktu 40 –
60 detik) bila tangan terlihat kotor atau cairan tubuh pasien. Adapun langkah
mencuci tangan yang terdiri dari 6 (enam) langkah yang dikenalkan di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung dengan singkatan TEPUNG–SELA–
CIPUPUT yang artinya telapak tangan, punggung tangan, sela – sela jari
kemudian diputar putar. Berikut ini 6 (enam) langkah mencuci tangan yang
baik dan benar sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO, yaitu:
1) Ratakan dengan kedua telapak tangan;
2) Gosok punggung dan sela – sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan
sebaliknya;
3) Gosok kedua telapak dan sela – sela jari;
4) Jari – jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci;
5) Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan
sebaliknya; dan
6) Gosok dengan memutar ujung jari – jari ditelapak tangan kiri dan
sebaliknya.
f. Pencegahan Risiko Pasien Jatuh
Rumah Sakit Al-Islam Bandung melakukan upaya pengurangan risiko
pasien jatuh dengan melakukan asessment (pengkajian) dan pengadaan
85
fasilitas pendukung keselamatan pasien, seperti: menggunakan tempat tidur
yang memiliki penghalang sisi kanan dan kiri/bed plang, bel pasien,
penempatan furniture kamar pasien dan peralatan yang rapi dengan tidak
mengganggu mobilitas pasien, serta penanda pasien risiko jatuh yang terdiri
dari: label penanda risiko jatuh (warna kuning) pada gelang identitas pasien,
pemasangan sign net peringatan risiko jatuh pada tempat tidur pasien bagi
keluarga dan pengunjung serta tanda segitiga berwarna kuning pada pintu
kamar pasien sebagai peringatan bagi perawat bahwa di kamar tersebut ada
pasien yang berisiko jatuh.
Proses penatalaksanaan keselamatan pasien risiko jatuh diawali
dengan melakukan asessment awal. Pelaksanaan asessment awal telah
ditetapkan dalam kebijakan dan pedoman mengenai asessment awal pasien
resiko jatuh. Asessment awal ini dilakukan melalui formulir pengkajian
risiko jatuh baik pada pasien dewasa, pasien anak dan pasien ganggung
jiwa. Perawat yang bertugas akan melakukan pengkajian pada pasien risiko
jatuh saat awal pasien masuk di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan rawat
inap nantinya, dengan menggunakan metode pengkajian risiko jatuh yang
telah ditetapkan oleh Rumah Sakit Al-Islam Bandung yaitu pada pasien
dewasa dengan menggunakan Skala Morse/Morse Fall Scale (MFS), pada
pasien anak dengan menggunakan Skala Humpty Dumpty Score dan pada
pasien lansia menggunakan Skala Hendrich. Hasil pengkajian tersebut
kemudian didokumentasikan pada formulir pengkajian resiko jatuh dengan
melingkari score.
86
Pada metode dengan menggunakan Skala Morse/Morse Fall Scale
(MFS) untuk pasien dewasa terbagi menjadi kategori risiko tinggi (skor
≥45), kategori risiko sedang (skor 25-44) dan kategori rendah (skore 0-24).
Pada metode dengan menggunakan Skala Humpty Dumpty Score untuk
pasien anak terbagi menjadi kategori risiko tinggi (skore ≥12) dan kategori
risiko rendah (skor 7-11). Sedangkan pada metode dengan Skala Hendrich
untuk pasien lansia memiliki risiko jatuh apabila skor total ≥ 20). Bila
pasien berdasarkan skala tersebut masuk dalam kategori resiko rendahsedang diberikan penanda risiko jatuh pada gelang identitas, dan apabila
pasien masuk dalam kategori resiko tinggi selain diberikan penanda risiko
jatuh pada gelang identitas juga diberikan penanda khusus pada tempat tidur
maupun penanda di depan pintu kamar perawatan.
Pada tahap selanjutnya, perawat akan melakukan asessment ulang
resiko jatuh secara berkala sesuai hasil pengkajian risiko jatuh yang
dilaksanakan pada saat terjadi perubahan kondisi pasien atau pengobatan,
dapat juga dilakukan pada pasien yang mengalami perubahan kondisi fisik
atau status mental. Hasil asesssment ulang tersebut dituliskan pada formulir
asessment ulang yang dilengkapi dengan tanggal pengkajian dan identitas
perawat. Kemudian perawat akan menempelkan tanda kuning pada gelang
identitas pasien dengan risiko jatuh sedang atau tinggi, pemasangan sign net
sebagai tanda risiko jatuh pada tempat tidur dan pemasangan tanda segitiga
di pintu kamar perawatan pasien.
87
C. Distribusi Frekuensi Insiden Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 2012-2016
Insiden keselamatan pasien yang dilakukan oleh perawat dalam
penelitian ini meliputi: Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris
Cedera (KNC), dan Kejadian Tidak Cedera (KTC). Distribusi frekuensi insiden
keselamatan pasien dapat dilihat pada tabel 5.1
Tabel 5.1 Distribusi Pernyataan Perawat Terkait Insiden Keselamatan
Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
pada Periode 2012-2016
Pernyataan Perawat Terkait
Frekuensi
Persentase
Insiden Keselamatann Pasien
(n)
(%)
Pernah
30
39,5%
Tidak Pernah
46
60,5%
Total
76
100%
Dari tabel 5.1 diatas, didapatkan dari 76 responden penelitian yang tidak
pernah melakukan insiden keselamatan pasien adalah sebanyak 46 perawat
atau sebesar 60,5%, dan perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan
pasien adalah sebanyak 30 perawat atau sebesar 39,5%.
88
Grfaik 5.1 Distribusi Pernyataan Perawat Berdasarkan KTD, KNC, KTC
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 20122016
Keterangan:
KTD
KNC
KTC
Dari grafik 5.1 di atas, didapatkan dari 30 perawat yang pernah
melakukan insiden keselamatan pasien, sebanyak 20 perawat atau sebesar
26,3% pernah melakukan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), 23 perawat atau
sebesar 30,3% pernah melakukan Kejadian Nyaris Cedera (KNC), dan 28
perawat atau sebesar 36,8% pernah melakukan Kejadian Tidak Cidera (KTC).
Hasil penelitian menunjukkan jenis insiden KTC lebih banyak pernah
dilakukan oleh perawat dibandingkan dengan perawat yang pernah melakukan
insiden KNC dan KTD.
89
D. Distribusi
Frekuensi
Insiden
Keselamatan
Pasien
Berdasarkan
Karakteristik Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
1. Usia
Peneliti mengategorikan variabel usia menjadi dua kategori yaitu usia
≤ 30 tahun dan usia > 30 tahun. Distribusi frekuensi insiden keselamatan
pasien pada perawat berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 5.3
Tabel 5.2 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Usia
Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien
Usia
Pernah
Total
Tidak Pernah
n
%
46,8%
47
100%
24
82,8%
29
100%
46
60,5%
76
100%
n
%
n
%
≤ 30 tahun
25
53,2%
22
> 30 tahun
5
17,2%
Total
30
39,5%
Dari tabel 5.2, didapatkan dari 76 responden penelitian yang berusia ≤
30 adalah sebanyak 47 perawat atau sebesar 61,8%. Sedangkan responden
yang berusia > 30 tahun adalah sebanyak 29 perawat atau sebesar 38,2%.
Sedangkan untuk gambaran distribusi numerik dari variabel usia dapat
diketahui usia termuda di unit rawat inap adalah berusia 22 tahun dan
perawat tertua adalah berusia 45 tahun. Hasil tabulasi silang diketahui
perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak
adalah perawat yang termasuk dalam kategori usia ≤ 30 tahun yaitu
sebanyak 25 perawat atau sebesar 53,2%.
90
2. Pengetahuan
Pengetahuan perawat digolongkan kedalam dua kategori yaitu
pengetahuan kurang dan pengetahuan baik. Distribusi frekuensi insiden
keselamatan pasien pada perawat berdasarkan pengetahuan dapat dilihat
pada tabel 5.3
Tabel 5.3 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan
Pengetahuan Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
Insiden Keselamatan Pasien
Pengetahuan
Pernah
Total
Tidak Pernah
n
%
10,5%
19
100%
44
77,2%
57
100%
46
60,5%
76
100%
n
%
n
%
Kurang
17
89,5%
2
Baik
13
22,8%
Total
30
39,5%
Dari tabel 5.3, didapatkan dari 76 responden penelitian yang memiliki
pengetahuan baik adalah sebanyak 57 perawat atau sebesar 75%.
Sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang adalah sebanyak
19 perawat atau sebesar 25%. Hasil tabulasi silang diketahui perawat yang
pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak adalah
perawat yang memiliki pengetahuan kurang yaitu sebanyak 17 perawat atau
sebesar 89,5%.
Hasil distribusi jawaban perawat terkait pengetahuan di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.4
91
Tabel 5.4 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Pengetahuan di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
No
Pertanyaan
1
Sistem keselamatan pasien di rumah sakit
2
Pelaksanaan keselamatan pasien di Rumah
Sakit Al-Islam Bandung
Jenis insiden keselamatan pasien
3
4
5
6
7
8
9
Waktu pelaporan setiap terjadi insiden harus
dilaporkan secara internal kepada TKPRS (Tim
Keselamatan Pasien Rumah Sakit)
Dua cara untuk mengidentifikasi seorang
pasien
Prinsip pemberian obat kepada pasien
Prosedur mencuci tangan yang baik benar
sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO
Five moments for hand hygiene atau 5 moment
krusial mencuci tangan pada petugas kesehatan
untuk mengoptimalkan kebersihan tangan
disaat
Pengkajian resiko pasien jatuh
Jawaban
Salah
Benar
25
51
(32,9%) (67,1%)
39
37
(51,3%) (48,7%)
10
66
(13,2%) (86,8%)
25
51
(32,9%) (67,1%)
Total
76
(100%)
76
(100%)
76
(100%)
76
(100%)
13
(17,1%)
17
(22,4%)
6
(7,9%)
0
63
(82,9%)
59
(77,6%)
70
(92,1%)
76
(100%)
76
(100%)
76
(100%)
76
(100%)
76
(100%)
2
(2,6%)
74
(97,4%)
76
(100%)
Dari tabel 5.4 diketahui dari 9 pertanyaan kuesioner tentang
pengetahuan, terdapat 1 item pertanyaan yang dijawab benar oleh seluruh
perawat yang menjadi responden sebanyak 76 perawat atau sebesar 100%
dan 1 item pertanyaan yang dijawab benar oleh hampir seluruh perawat
yang menjadi responden sebanyak 74 perawat atau sebesar 97,4%, yaitu
pertanyaan nomor 8 tentang pelaksanaan Five Moments for Hand Hygiene
atau 5 moment krusial mencuci tangan pada petugas kesehatan untuk
mengoptimalkan kebersihan tangan dan pertanyaan nomor 9 tentang
92
pengkajian resiko pasien jatuh dengan form dilakukan pada saat pasien
masuk rawat inap.
Adapun beberapa perawat yang masih menjawab salah dari
pertanyaan sehingga perlu mendapatkan perhatian tentang pengetahuan
yaitu informasi terkait dimulainya pelaksanaan keselamatan pasien di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung sebanyak 39 perawat atau sebesar 51,3%,
sistem keselamatan pasien di rumah sakit sebanyak 25 perawat atau sebesar
32,9%, dan setiap terjadi insiden harus dilaporkan secara internal kepada
TKPRS (Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit) dalam waktu paling lambat
2 kali 24 jam sebanyak 25 perawat atau sebesar 32,9%.
3. Stres
Stres perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
digolongkan kedalam dua kategori yaitu stres tinggi dan stres rendah.
Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien pada perawat berdasarkan
stres di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada
tabel 5.5
Tabel 5.5 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Stres
Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien
Stres
Pernah
Tidak Pernah
n
%
21,4%
14
100%
43
69,4%
62
100%
46
60,5%
76%
100%
n
%
n
%
Tinggi
11
78,6%
3
Rendah
19
30,6%
Total
30
39,5%
93
Total
Dari tabel 5.5, didapatkan dari 76 responden penelitian yang
mengalami stres rendah adalah sebanyak 62 perawat atau sebesar 81,6%.
Sedangkan responden yang mengalami stres tinggi adalah sebanyak 14
perawat atau sebesar 18,4%. Hasil tabulasi silang diketahui perawat yang
pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak adalah
perawat yang mengalami stres tinggi yaitu sebanyak 11 perawat atau sebesar
78,6%.
Hasil distribusi jawaban perawat terkait stres di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.6
Tabel 5.6 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Stres di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Al-Islam Bandung
No
Pernyataan
1
Pimpinan dan rekan kerja saya
saling mendukung satu sama
lain sehingga tercipta situasi
yang kondusif ditempat kerja
Saya
mampu
menjaga
konsentrasi kerja saat sedang
sibuk
Jadwal kerja dan peraturan di
rumah
sakit
tidak
memungkinkan saya untuk
memulihkan semangat kerja
2
3
STS
0
Jawaban
Total
TS
S
SS
0
44
32
76
(57,9%) (42,1%) (100%)
0
5
(6,6%)
20
(26,3)
36
(47,4%)
60
11
76
(78,9%) (14,5%) (100%)
19
(25%)
1
(1,3%)
76
(100%)
Dari tabel 5.6 diketahui sebagian besar menyetujui pada saat bekerja
mampu menjaga konsentrasi kerja ketika sedang sibuk sebanyak 60 perawat
atau sebesar 78,9%, pimpinan dan rekan kerja saling mendukung satu sama
lain sehingga tercipta situasi yang kondusif ditempat kerja sebanyak 44
perawat atau sebesar 57,9%. Namun, ada beberapa jawaban perawat yang
94
perlu mendapatkan perhatian tentang stres yaitu sebanyak 19 perawat atau
sebesar 25% menyetujui terhadap jadwal kerja dan peraturan di rumah sakit
yang tidak memungkinkan untuk memulihkan semangat kerja.
4. Kelelahan
Kelelahan perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung digolongkan kedalam dua kategori yaitu kelelahan tinggi dan
kelelahan rendah. Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien pada
perawat berdasarkan kelelahan dapat dilihat pada tabel 5.7
Tabel 5.7 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan
Kelelahan Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien
Kelalahan
Pernah
Tidak Pernah
n
%
44,8%
29
100%
33
70,2%
47
100%
46
60,5%
76
100%
n
%
n
%
Tinggi
16
55,2%
13
Rendah
14
29,8%
Total
30
39,5%
Dari
Total
tabel 5.7 didapatkan dari 76 responden penelitian yang
mengalami kelelahan rendah adalah sebanyak 47 perawat atau sebesar
61,8%. Sedangkan responden yang mengalami kelelahan tinggi adalah
sebanyak 29 perawat atau sebesar 38,2%. Hasil tabulasi silang diketahui
perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak
adalah perawat yang mengalami kelelahan tinggi yaitu sebanyak 16 perawat
atau sebesar 55,2%.
Hasil distribusi jawaban perawat terkait kelelahan di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.8
95
Tabel 5.8 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Kelelahan di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
No
Pernyataan
1
Jumlah perawat di unit tempat
bekerja sudah sesuai dengan
beban kerja perawat
Perawat melakukan kesalahan
dalam pelayanan pasien karena
bekerja melebihi dari ketentuan
yang ada dan terlalu banyak
tugas yang harus dikerjakan
Merasakan kenyamanan dengan
jadwal kerja yang sudah
ditetapkan
2
3
STS
0
13
(17,1%)
0
Jawaban
Total
TS
S
SS
7
58
11
76
(9,2%) (76,3%) (14,5%) (100%)
37
26
(48,7%) (34,2%)
3
(3,9%)
68
(89,5%)
0
76
(100%)
5
(6,6%)
76
(100%)
Dari tabel 5.8 diketahui sebagian besar menyetujui merasakan
kenyamanan dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan sebanyak 68
perawat atau sebesar 89,5% dan jumlah perawat di unit tempat bekerja
sudah sesuai dengan beban kerja perawat sebanyak 58 perawat atau sebesar
76,3%. Namun, ada beberapa jawaban perawat yang perlu mendapatkan
perhatian tentang kelelahan yaitu sebanyak 26 perawat atau sebesar 34,2%
menyetujui perawat melakukan kesalahan dalam pelayanan pasien karena
bekerja melebihi dari ketentuan yang ada dan terlalu banyak tugas yang
harus dikerjakan.
E. Distribusi
Frekuensi
Insiden
Keselamatan
Pasien
Berdasarkan
Karakteristik Organisasi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
1. Komunikasi
Komunikasi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
digolongkan kedalam dua kategori yaitu komunikasi kurang efektif dan
96
komunikasi efektif. Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien
berdasarkan komunikasi perawat dapat dilihat pada tabel 5.9
Tabel 5.9 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan
Komunikasi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien
Komunikasi
Pernah
Tidak Pernah
Total
n
%
52,8%
36
100%
27
67,5%
40
100%
46
60,5%
76
100%
n
%
n
%
Kurang Efektif
17
47,2%
19
Efektif
13
32,5%
Total
30
39,5%
Dari tabel 5.9, didapatkan dari 76 responden penelitian yang memiliki
komunikasi efektif adalah sebanyak 40 perawat atau sebesar 52,6%.
Sedangkan responden yang memiliki komunikasi kurang efektif adalah
sebanyak 36 perawat atau sebesar 47,4%. Hasil tabulasi silang diketahui
sebanyak 15 perawat atau sebesar 52,8% yang memiliki komunikasi kurang
efektif lebih banyak yang tidak pernah melakukan insiden keselamatan
pasien, sedangkan sebanyak 17 perawat atau sebesar 47,2% yang memiliki
komunikasi kurang efektif lebih sedikit yang pernah melakukan insiden
keselamatan pasien.
Hasil distribusi jawaban perawat terkait komunikasi di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.10
97
Tabel 5.10 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Komunikasi di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
No
Pernyataan
1
Manajer saya memberikan
umpan balik ke arah perbaikan
berdasarkan laporan kejadian
insiden
Kami bebas mengungkapkan
pendapat jika melihat sesuatu
yang bisa berdampak negatif
terhadap pelayanan pasien
Kami diberi tahu mengenai
kesalahan – kesalahan yang
terjadi di unit kami
Kami merasa bebas untuk
bertanya
kepada
sesama
perawat lain/dokter tentang
keputusan maupun tindakan
yang diambil di unit ini
Di unit ini kami mendiskusikan
dengan sesama perawat/dokter
bagaimana
cara
untuk
mencegah insiden supaya tidak
terjadi kembali
2
3
4
5
STS
0
Jawaban
TS
S
1
39
(1,3%)
(51,3%)
Total
SS
36
(47,4%)
76
(100%)
0
1
(1,3%)
56
(73,7%)
19
(25%)
76
(100%)
0
2
(2,6%)
50
(65,8%)
24
(31,6%)
76
(100%)
0
4
(5,3%)
54
(71,1,%)
18
(23,7%)
76
(100%)
1
(1,3%)
11
(14,5%)
38
(50%)
26
(34,2%)
76
(100%)
Dari tabel 5.10 diketahui sebagian besar menyetujui perawat bebas
mengungkapkan pendapat jika melihat sesuatu yang bisa berdampak negatif
terhadap pelayanan pasien sebanyak 56 perawat atau sebesar 73,7% dan
perawat merasa bebas untuk bertanya kepada sesama perawat lain/dokter
tentang keputusan maupun tindakan yang diambil di unit tempat bekerja
sebanyak 54 perawat atau seebsar 71,1,%. Namun, ada beberapa jawaban
perawat yang perlu mendapatkan perhatian tentang komunikasi yaitu
sebanyak 11 atau sebesar 14,5% tidak menyetujui di unit tempat bekerja
98
mendiskusikan dengan sesama perawat/dokter bagaimana cara untuk
mencegah insiden supaya tidak terjadi kembali.
2. Implementasi SOP (Standar Operasional Prosedur)
Implementasi SOP terkait pelaporan insiden keselamatan pasien oleh
perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung digolongkan
kedalam dua kategori yaitu implementasi SOP kurang baik dan
implementasi SOP baik. Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien
berdasarkan implementasi SOP dapat dilihat pada tabel 5.11
Tabel 5.11 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan
Implementasi SOP di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien
Implementasi
Pernah
SOP
Tidak Pernah
Total
n
%
34,5%
23
100%
38
71,7%
53
100%
46
60,5%
76
100%
n
%
n
%
Kurang Baik
15
65,2%
8
Baik
15
28,3%
Total
30
39,5%
Dari tabel 5.11, didapatkan dari 76 responden penelitian yang
memiliki persepsi baik terhadap implementasi SOP terkait pelaporan insiden
keselamatan pasien adalah sebanyak 53 perawat atau sebesar 69,7%.
Sedangkan responden yang memiliki persepsi kurang baik terhadap
implementasi SOP terkait pelaporan insiden keselamatan pasien adalah
sebanyak 23 perawat atau sebesar 30,3%. Hasil tabulasi silang diketahui
perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak
adalah perawat yang memiliki persepsi kurang baik terhadap implementasi
99
SOP terkait pelaporan insiden keselamatan pasien yaitu sebanyak 15
perawat atau sebesar 65,2%.
Hasil distribusi jawaban perawat terkait implementasi SOP di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.12
Tabel 5.12 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Implementasi SOP di
Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
No
Pernyataan
1
Ketika terjadi insiden keselamatan
pasien diharuskan untuk melaporkan
insiden tersebut kepada Kepala unit
terkait untuk mendapatkan tindak lanjut.
Setelah ditindaklanjuti kejadian insiden
keselamatan pasien, menyegerakan
untuk membuat laporan insiden dengan
mengisi formulir laporan insiden pada
akhir jam kerja/shift kepada kepala unit
terkait
Ketika terjadi suatu insiden keselamatan
pasien paling lambat dilaporkan selama
2 x 24 jam setelah terjadinya insiden
keselamatan pasien
Pelaporan insiden keselamatan pasien
bertujuan untuk mengetahui penyebab
insiden keselamatan pasien sampai pada
akar masalahnya
Setiap terjadi suatu insiden keselamatan
pasien mendapatkan tindaklanjut dari
Komite Keselamatan Pasien
2
3
4
5
STS
0
Jawaban
TS
S
0
29
(38,2%)
Total
SS
47
(61,8%)
76
(100%)
1
(1,3%)
0
45
(59,2%)
30
(39,5%)
76
(100%)
0
7
(9,2%)
45
(59,2%)
24
(31,6%)
76
(100%)
0
0
48
(63,2%)
28
(36,8%)
76
(100%)
0
5
(6,6%)
45
(59,2%)
26
(34,2%)
76
(100%)
Dari tabel 5.12 diketahui sebagian besar menyetujui bahwa pelaporan
insiden keselamatan pasien bertujuan untuk mengetahui penyebab insiden
keselamatan pasien sampai pada akar masalahnya sebanyak 48 perawat atau
sebesar 63,2%. Namun, ada beberapa jawaban perawat yang perlu
mendapatkan perhatian tentang implementasi SOP yaitu sebanyak 7 perawat
100
atau sebesar 9,2% tidak menyetujui ketika terjadi suatu insiden keselamatan
pasien paling lambat dilaporkan selama 2 x 24 jam setelah terjadinya
insiden keselamatan pasien dan setiap terjadi suatu insiden keselamatan
pasien mendapatkan tindaklanjut dari Komite Keselamatan Pasien dan
sebanyak 5 perawat atau sebesar 6,6%.
F. Distribusi
Frekuensi
Insiden
Keselamatan
Pasien
Berdasarkan
Karakteristik Sifat Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit AlIslam Bandung
1. Kerjasama Tim
Kerjasama tim perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung digolongkan kedalam dua kategori yaitu kerjasama tim kurang
baik dan kerjasama tim baik. Distribusi frekuensi insiden keselamatan
pasien pada perawat berdasarkan kerjasama tim dapat dilihat pada tabel 5.13
Tabel 5.13 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan
Kerjasama Tim Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam
Bandung
Insiden Keselamatan Pasien
Kerjasama
Pernah
Tim
Total
Tidak Pernah
n
%
31,6%
19
100%
40
70,2%
57
100%
46
60,5%
76
100%
n
%
n
%
Kurang Baik
13
68,4%
6
Baik
17
29,8%
Total
30
39,5%
Dari tabel 5.13, didapatkan dari 76 responden penelitian yang
memiliki kerjasama tim baik adalah sebanyak 57 perawat atau sebesar 75%.
Sedangkan responden yang memiliki kerjasama tim kurang baik adalah
101
sebanyak 19 perawat atau sebesar 25%. Hasil tabulasi silang diketahui
perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien, paling banyak
adalah perawat yang memiliki kerjasama tim kurang baik yaitu sebanyak 13
perawat atau sebesar 68,4%.
Hasil distribusi jawaban perawat terkait kerjasama tim di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dapat dilihat pada tabel 5.14
Tabel 5.14 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Kerjasama Tim di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
No
1
2
3
4
5
6
7
Pernyataan
STS
0
Jawaban
Total
TS
S
SS
0
39
37
76
(51,3%) (48,7%) (100%)
1
45
30
76
(1,3%) (59,2%) (39,5%) (100%)
Kami sesama staf di unit ini saling
mendukung satu sama lain
Jika banyak pekerjaan yang harus
0
diselesaikan dengan cepat, kami saling
bekerja sama sebagai tim
Saya merasa setiap orang di unit ini
0
0
44
32
76
saling menghargai satu sama lain
(57,9%) (42,1%) (100%)
Bila suatu area di unit ini sibuk, maka
3
8
43
22
76
perawat di area lain akan membantu
(3,9%) (10,5%) (56,6%) (28,9%) (100%)
Kami merasa ada kerja sama yang baik
1
3
47
25
76
antar unit di rumah sakit saat (1,3%) (3,9%) (61,8%) (32,9%) (100%)
menyelesaikan pekerjaan bersama
Unit satu dengan unit lain di rumah
26
33
7
10
76
sakit ini tidak berkoordinasi dengan (34,2%) (43,4%) (9,2%) (13,2%) (100%)
baik
Saya sering kali merasa tidak nyaman
26
37
7
6
76
bila harus bekerja sama dengan staf (34,2) (48,7%) (9,2%) (7,9%) (100%)
unit lain di rumah sakit ini
Dari tabel 5.14 diketahui sebagian besar menyetujui bahwa perawat
merasa ada kerja sama yang baik antar unit di rumah sakit saat
menyelesaikan pekerjaan bersama sebanyak 47 perawat atau sebesar 61,8%,
jika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat, kami saling
102
bekerja sama sebagai tim sebanyak 45 perawat atau sebesar 59,2%, dan
perawat merasa setiap orang di unit ini saling menghargai satu sama lain
sebanyak 44 perawat atau sebesar 57,9%. Namun, ada beberapa jawaban
perawat yang perlu mendapatkan perhatian tentang kerjsama tim yaitu
sebanyak 17 perawat atau sebesar 22,4% menyetujui bahwa unit satu
dengan unit lain di rumah sakit ini tidak berkoordinasi dengan baik.
2. Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat
Gangguan atau interupsi yang dialami oleh perawat di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung digolongkan kedalam dua kategori
yaitu gangguan atau interupsi rendah dan gangguan atau interupsi tinggi.
Distribusi frekuensi insiden keselamatan pasien berdasarkan gangguan atau
interupsi yang dialami oleh perawat dapat dilihat pada tabel 5.15
Tabel 5.15 Distribusi Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan
Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Insiden Keselamatan Pasien
Gangguan/
Pernah
Interupsi
Tidak Pernah
Total
n
%
57,1%
28
100%
34
70,8%
48
100%
46
60,5%
76
100%
N
%
n
%
Tinggi
12
42,9%
16
Rendah
14
29,2%
Total
30
39,5%
Dari tabel 5.15, didapatkan dari 76 responden penelitian yang
mengalami gangguan atau interupsi rendah adalah sebanyak 48 perawat atau
sebesar 63,2%, Sedangkan responden yang mengalami gangguan atau
interupsi tinggi adalah sebanyak 28 perawat atau sebesar 36,8%. Hasil
103
tabulasi silang diketahui sebanyak 16 perawat atau sebesar 57,1% yang
mengalami gangguan atau interupsi tinggi tidak pernah melakukan insiden
keselamatan pasien, sedangkan sebanyak 12 perawat atau sebesar 42,9%
yang mengalami gangguan atau interupsi tinggi lebih sedikit yang pernah
melakukan insiden keselamatan pasien.
Hasil distribusi jawaban perawat terkait gangguan atau interuspi yang
dialami oleh perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
dapat dilihat pada tabel 5.16
Tabel 5.16 Distribusi Jawaban Perawat Terkait Gangguan atau
Interupsi yang Dialami oleh Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit
Al-Islam Bandung
No
1
2
3
Jawaban
TP
J
SE
Anda mendapatkan pekerjaan
30
33
12
lain di luar tugas dan tanggung (39,5%) (43,4%) (43,4%)
jawab sebagai perawat pelaksana
Pada saat bekerja melakukan
25
26
22
lebih dari satu pekerjaan dalam (32,9%) (34,2%) (28,9%)
waktu yang sama
Saya mendapatkan pekerjaan
30
33
12
lain yang harus dilakukan ketika (39,5%) (43,3%) (15,8%)
sedang melaksanakan tugas
Pernyataan
Total
SL
1
(1,3%)
76
(100%)
3
(3,9%)
76
(100%)
1
(1,3%)
76
(100%)
Berdasarkan tabel 5.16 diketahui sebagian besar perawat jarang
mengalami gangguan atau interupsi pada saat melaksanakan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya. Namun, ada beberapa jawaban perawat yang
perlu mendapatkan perhatian tentang gangguan atau interupsi yaitu sebesar
28,9% pada saat bekerja selalu melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam
waktu yang sama.
104
BAB VI
PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian
Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan antara lain:
1. Pengambilan data yang dilakukan kepada responden yang bertugas secara
shift membuat peneliti harus meninggalkan atau menitipkan kuesioner
kepada kepala unit untuk diberikan kepada perawat yang menjadi
responden. Hal tersebut dapat memberi kesempatan kepada responden untuk
menanyakan kepada rekannya dengan jawaban yang sama persis tanpa
menjawab sesuai dengan pengalaman atau penilaian pribadi sehingga
menimbulkan ketidaksesuaian atau bias antara data dengan kondisi keadaan
di lapangan.
2. Pada penelitian ini tidak dilakukan validasi data laporan insiden
keselamatan pasien terkait perawat yang pernah mekakukan insiden
keselamatan pasien.
3. Instrumen penelitian pada item pertanyaan terkait pengetahuan perawat
yakni berupa kuesioner yang diadopsi dan dimodifikasi oleh peneliti sendiri
dari penelitian sebelumnya yang terkait dengan insiden keselamatan pasien
dan bukan merupakan kuesioner standar, dimana seluruh pertanyaan dibuat
berdasarkan tinjauan pustaka. Sehingga pertanyaan yang ditanyakan kepada
responden memiliki kemungkinan belum mencakup secara detail dari aspek
yang
menyangkut
menimimalisir
pengetahuan
keterbatasan
ini
perawat.
dengan
Peneliti
cara
sudah
membuat
berusaha
pertanyaan
berdasarkan teori – teori yang ada, sehingga untuk menghindari bias maka
105
sebelum melakukan penelitian terlebih dahulu peneliti melakukan uji
validitas dan uji reabilitas.
4. Untuk mengukur variabel stres perawat pada penelitian ini hanya terdiri dari
3 pernyataan terkait dukungan rekan kerja dan pimpinan, konsentrasi saat
bekerja, dan jadwal kerja perawat yang diadopsi sebagian dari indikator
stres Health and Safety Executive (HSE), tidak berdasarkan pada kuesioner
Hamilton Rtaing Scale Anxiety (HRS – A) yang mengembangkan tiga gejala
stres yaitu gejala psikologis, fisiologis, dan perilaku untuk mengukur tingkat
stres kerja yang dialami oleh responden.
5. Untuk mengukur variabel kelelahan perawat pada penelitian ini terdiri dari 3
pernyataan terkait jumlah perawat di unit tempat bekerja, adanya beban
kerja, dan jadwal kerja perawat, tidak berdasarkan pada Kuesioner Alat
Ukur Perasaan Kelelahan kerja (KAUPK2) yang terdiri dari 17 item
pertanyaan untuk mengukur tingkat perasaan kelelahan kerja yang dialami
oleh responden.
B. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien di Unit Rawat Inap Rumah Sakit
Al-Islam Bandung pada Periode 2012-2016
Pasien yang dirawat di rumah sakit mempunyai hak untuk mendapatkan
asuhan pasien yang aman melalui suatu sistem yang dapat mencegah terjadinya
insiden keselamatan pasien. Berdasarkan PMK No. 1691 tahun 2011,
keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien menjadi lebih aman. Sedangkan insiden keselamatan
pasien merupakan suatu kejadian atau situasi yang tidak disengaja dan kondisi
106
yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien yang
sebenarnya dapat dicegah.
Hasil penelitian pada 76 perawat pelaksana yang bertugas di unit rawat
inap, peneliti menemukan bahwa sebagian besar perawat tidak pernah
melakukan insiden keselamatan pasien yaitu sebanyak 46 perawat atau sebesar
60,5%. Meskipun sebagian besar perawat tidak pernah melakukan insiden
keselamatan pasien, akan tetapi masih ditemukan perawat yang pernah
melakukan insiden keselamatan pasien yaitu sebanyak 30 perawat atau sebesar
39,5%. Hal ini berarti insiden keselamatan pasien masih terjadi di ruang
perawatan. Dalam PMK No. 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit bahwa, insiden keselamatan pasien standarnya adalah
0% kasus atau 100% tidak terjadi di rumah sakit. Sehingga hal tersebut
menunjukkan
belum
dapat
memenuhi
standar
yang
ditetapkan
dan
menggambarkan bahwa sebagian perawat dalam memberikan pelayanan
asuhan perawatan kepada pasien di unit rawat inap belum mengutamakan
aspek keselamatan pasien secara optimal dan mengindikasikan bahwa terdapat
banyak kejadian yang potensi menimbulkan kerugian bahkan mengancam
keselamatan pasien.
Hasil penelitian ini diperkuat dari laporan insiden keselamatan pasien
oleh Komite Keselamatan Rumah Sakit Al-Islam Bandung, yakni pada tahun
2013 terdapat sebanyak 108 insiden, tahun 2014 terdapat sebanyak 129 insiden,
dan tahun 2015 terdapat sebanyak 105 insiden. Sebagian besar insiden
keselamatan pasien yang dilaporkan terjadi di ruang rawat inap.
107
Didalam pelayanan kesehatan di rumah sakit seperti yang tertuang dalam
UU No.44 tahun 2009 pasal 29 menyatakan bahwa rumah sakit berkewajiban
memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi, dan
efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar
pelayanan minimal rumah sakit. Sehingga semua insiden yang terjadi di rumah
sakit merupakan tanggung jawab dari rumah sakit khususnya perawat dalam
melakukan proses pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien sebagai
penerima pelayanan kesehatan. Terjadinya insiden keselamatan pasien di
rumah sakit sekecil apapun kejadiannya haruslah segera ditangani, jika tidak
hal ini akan memberikan dampak yang merugikan bagi pihak rumah sakit, staf,
dan pasien sebagai penerima pelayanan. Adapun dampak yang ditimbulkan
menurut Flynn (2002) dalam (Cahyono, 2008) adalah menurunnya tingkat
kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan karena rendahnya
kualitas atau mutu asuhan yang diberikan kepada pasien.
Dampak lain yang dapat terjadi menurut Apriningsih (2013) adalah
memperpanjang masa rawat, meningkatkan cidera, kematian, perilaku saling
menyalahkan, konflik antara petugas dan pasien, tuntutan dan proses hukum,
blow up media massa, dapat menurunkan citra dari sebuah rumah sakit, serta
dapat mengindikasikan bahwa mutu pelayanan di rumah sakit masih kurang
baik. Kondisi ini harus mampu diantisipasi oleh penyelenggara layanan
kesehatan agar keselamatan pasien terjamin, kontinuitas pelayanan, dan
organisasi tetap berjalan.
Menurut Elrifda (2011), adanya insiden keselamatan pasien di rumah
sakit memerlukan perhatian pihak manajemen dan petugas sendiri agar di masa
108
yang akan datang keselamatan pasien lebih ditingkatkan karena keselamatan
pasien bukan hanya penting bagi pasien atau keluarganya, tetapi juga
mempengaruhi eksistensi institusi dalam jangka panjang. Bila keselamatan
pasien kurang diperhatikan sehingga menyebabkan kejadian tidak diinginkan
dan merugikan pasien maka reputasi mutu rumah sakit akan berkurang di mata
masyarakat. Efek domino dari permasalahan ini adalah promosi dari mulut ke
mulut tentang kurangnya mutu pelayanan dikalangan masyarakat yang akan
memperburuk reputasi rumah sakit hingga akhirnya masyarakat akan memilih
rumah sakit lain untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Insiden keselamatan pasien pada penelitian ini meliputi: Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD) yaitu kejadian yang berakibat cidera, Kejadian Nyaris
Cidera (KNC) yaitu kejadian yang berpotensial menimbulkan cidera, dan
Kejadian Tidak Cidera (KTC) yaitu kejadian yang tidak menimbulkan cidera.
Hasil penelitian pada 76 perawat pelaksana yang bertugas di unit rawat inap,
peneliti menemukan bahwa dari 30 perawat atau sebesar 39,5% yang pernah
melakukan insiden keselamatan pasien yaitu sebanyak 20 perawat atau sebesar
26,3% pernah melakukan KTD yang disebabkan karena pasien yang dirawat
terjatuh dari tempat tidur sehingga pasien mengalami cedera karena tidak
melakukan identifikasi dan pengelolaan risiko pasien sebanyak 17,1% dan
komunikasi yang tidak efektif sehingga terjadi insiden yang merugikan pasien
sebanyak 13,1%.
Hasil analisis distribusi pernyataan perawat terkait KNC diketahui
sebanyak 23 perawat atau sebesar 30,3% pernah melakukan KNC yang
disebabkan karena pasien yang dirawat terjatuh dari tempat tidur tetapi pasien
109
tidak mengalami cedera sebanyak 18,7% dan terjadi kesalahan dalam
pengisisan data rekam medik pasien sehingga melakukan kesalahan dalam
pemberian tindakan tetapi pasien tidak mengalami cedera sebanyak 13,1%.
Hasil analisis distribusi pernyataan perawat terkait KTC diketahui
sebanyak 28 perawat atau sebesar 36,8% pernah melakukan KTC yang
disebabkan karena terjadi kesalahan tindakan akibat pengisian rekam medik
pasien sebanyak 32,9%% dan pasien yang dirawat hampir terjatuh dari tempat
tidur tetapi tidak terjadi karena segera diketahui oleh petugas yang sedang
berjaga sebanyak 30,3%.
Berdasarkan jenisnya, insiden keselamatan pasien yang paling banyak
terjadi adalah insiden KTC dibandingkan dengan insiden KNC dan insiden
KTD. Hasil ini diperkuat pula dari data laporan insiden keselamatan pasien
oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada tahun
2013, yakni terdapat sebanyak 72 KTC, 16 KNC, dan 18 KTD. Tahun 2014
terdapat sebanyak 96 KTC, 23 KNC, dan 9 KTD. Tahun 2015 terdapat
sebanyak 66 KTC, 8 KNC, dan 28 KTD.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mustikawati (2011) bahwa
KTD lebih jarang terjadi dibandingkan dengan KNC sebesar 26,3% di Unit
Perawatan Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta Tahun 2009 – 2010. Bentuk
KTD dan KNC yang terjadi adalah 1) ketidaksesuaian identifikasi pasien
seperti salah penulisan nomor medical record, penulisan nama pasien yang
kurang tepat, penempelan stiker nama pasien tidak sama dengan penulisan
manual, dan penulisan nomor kamar pasien yang salah, 2) kesalahan dalam
110
pemberian obat seperti salah pasien, salah dosis, dan salah jenis obat, 3) sampel
darah pasien tertukar, dan 4) pasien jatuh.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, dari keseluruhan insiden
keselamatan pasien yang pernah dilakukan oleh perawat yang paling banyak
terjadi adalah insiden jatuh di ruang perawatan. Hal tersebut disebabkan
perawat tidak melakukan identifikasi dan pengelolaan risiko pasien. Hasil ini
didukung pula oleh data laporan insiden keselamatan pasien, bahwa jumlah
insiden jatuh pada tahun 2013 terdapat 13 kasus, tahun 2014 terdapat 21 kasus,
dan tahun 2015 terdapat 22 kasus. Hal ini berarti dari tahun 2013 sampai
dengan tahun 2015, insiden jatuh mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Berdasarkan hasil pengamatan pada saat penelitian, perawat pelaksana
yang bertugas di unit rawat inap masih ditemukan belum melakukan asessment
ulang atau pengkajian secara berkala sesuai dengan penilaian pada pasien yang
memiliki risiko jatuh dan jika terjadi perubahan kondisi atau pengobatan. Hal
tersebut belum sesuai dengan prosedur yang berlaku di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung yang seharusnya perawat harus melakukan assesment ulang atau
pengkajian secara berkala. Selain itu, pada pengisian formulir pengkajian ulang
untuk pasien yang memiliki resiko jatuh, perawat tidak melakukan penilaian
yang dilengkapi dengan waktu pelaksanaan pengkajian. Hal tersebut
dikhawatirkan dapat menimbulkan insiden jatuh karena terjadinya perubahan
kondisi pasien atau pengobatan.
Selanjutnya, berdasarkan hasil investigasi sederhana yang dilakukan oleh
staf Sub Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung
ditemukan pula bahwa terjadinya insiden jatuh disebabkan pasien atau keluarga
111
pasien tidak memberitahu perawat yang sedang berjaga ketika pasien akan
meninggalkan tempat tidur untuk meminta bantuan mendampingi pasien. Hal
ini dikarenakan perawat belum melakukan edukasi kepada pasien dan keluarga
pasien mengenai faktor risiko jatuh di lingkungan rumah sakit dan meminta
persetujuan keikutsertaan untuk mengikuti strategi pencegahan jatuh sepanjang
keperawatan pasien melalui pengisian formulir yang telah ditetapkan. Edukasi
tersebut meliputi pemberian informasi kepada pasien dan keluarga pasien
dalam semua aktifitas sebelum memulai penggunaan alat bantu dan
mengajarkan pasien untuk menggunakan pegangan dinding baik di kamar
mandi atau pegangan pasien di dinding koridor bangsal.
Dampak terburuk dari terjadinya insiden jatuh menurut Stanley (2006),
yakni beberapa kasus di antaranya berakibat pada kematian dan luka berat.
Insiden jatuh dapat mengakibatkan berbagai jenis cedera, kerusakan fisik, dan
psikologis. Kerusakan fisik yang paling ditakuti dari insiden jatuh adalah patah
tulang panggul. Jenis patah tulang lain yang sering terjadi akibat jatuh adalah
patah tulang pergelangan tangan, lengan atas dan pelvis, serta kerusakan
jaringan lunak. Dampak psikologis selain cedera fisik, yakni syok pasca jatuh
dan rasa takut akan terjatuh lagi yang dapat memiliki banyak konsekuensi
termasuk ansietas, hilangnya rasa percaya diri, pembatasan dalam aktivitas
sehari-hari, dan falafobia atau fobia jatuh.
Menurut Potter dan Perry (2009), beberapa intervensi yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya insiden jatuh pada pasien antara lain: 1)
mengorientasikan pasien pada saat masuk rumah sakit dan menjelaskan sistem
komunikasi yang ada, 2) bersikap hati – hati saat mengkaji pasien dengan
112
keterbatasan gerak, 3) melakukan supervisi ketat pada awal pasien dirawat
terutama malam hari, 4) menganjurkan menggunakan bed bila membutuhkan
bantuan, 5) memberikan alas kaki yang tidak licin, 6) memberikan
pencahayaan yang adekuat, 7) memasang pengaman tempat tidur terutama
pada pasien dengan penurunan kesadaran dan gangguan mobilitas, dan (8)
menjaga lantai kamar mandi agar tidak licin.
Dalam penilaian Akreditasi versi 2012, sebuah rumah sakit memerlukan
elemen
penilaian
untuk
mengurangi
risiko
jatuh.
Elemen
penilaian
pengurangan risiko jatuh meliputi: 1) rumah sakit melakukan proses assesmen
awal atas pasien terhadap risiko jatuh dan melakukan asessmen ulang pasien
bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan, dan lain – lain, 2)
langkah – langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang
pada hasil asessmen berisiko jatuh, 3) langkah – langkah dimonitor hasilnya,
baik keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian
yang tidak diharapkan, dan 4) kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan
untuk mengarahkan pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat
jatuh dirumah sakit.
Upaya yang dilakukan oleh rumah sakit untuk mencegah dan mengurangi
terjadinya insiden keselamatan pasien di rumah sakit yaitu melalui penerapan
program keselamatan pasien. Sistem dalam keselamatan pasien dalam PMK
No. 1691 tahun 2011 meliputi: assessmen risiko, identifikasi dan pengelolaan
hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
serta kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya, serta implementasi
solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko.
113
Selain itu, dalam Permenkes No. 1691 tahun 2011 disebutkan bahwa
setiap rumah sakit wajib mengupayakan pemenuhan sasaran keselamatan
pasien. Sasaran keselamatan pasien rumah sakit yang saat ini digunakan
mengacu pada “Nine Life Saving Patient Safety Solutions” dari WHO Patient
Safety tahun 2007 yang juga digunakan oleh Komite Keselamatan Pasien
Rumah Sakit (KKPRS) Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), terdiri dari:
1) ketepatan identifikasi pasien, 2) peningkatan komunikasi secara efektif, 3)
peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, 4) kepastian tepat lokasi
tepat prosedur dan tepat pasien operasi, 5) pengurangan risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan, dan 6) pengurangan risiko pasien jatuh.
Sistem tersebut diharapkan dapat meminimalisir atau mencegah risiko
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu
tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan, sehingga
dapat belajar dari persitiwa yang tidak diharapkan, nyaris terjadi, dan akan
terjadi. Menurut Kohn (2000), inti dari sistem keselamatan pasien adalah
belajar. Proses belajar dan perbaikan yang berkelanjutan mengacu pada
pembelajaran dari kesalahan (error). Bagaimana terjadi dan bagaimana
tindakan pencegahan yang harus dilakukan supaya kesalahan tidak terulang
kembali. Organisasi kesehatan harus membuat dan memelihara lingkungan dan
sistem untuk menganalisa kesalahan yang terjadi.
114
C. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik
Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
1. Usia
Usia menjadi salah satu faktor yang berkontribusi dalam terjadinya
insiden keselamatan pasien. Semakin muda usia perawat memiliki
kecenderungan menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien
dibandingkan dengan usia perawat yang lebih tua. Perawat yang berusia >
30 tahun biasanya jauh lebih terampil karena cenderung berhati – hati dan
sangat memperhatikan pelayanan yang diberikan kepada pasien sebagai
penerima pelayanan (Mulyana, 2013).
Dalam penelitian ini, responden dengan usia termuda di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung adalah 22 tahun dan perawat tertua
berusia 45 tahun. Rata – rata responden dalam tahap usia dewasa muda yaitu
20 sampai 40 tahun yang merupakan usia dimana perkembangan puncak
dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
serta kebiasaan berfikir rasionalnya akan meningkat (Potter, 2005). Kondisi
ini akan memengaruhi perawat dalam meengaplikasikan ilmu pengetahuan,
keterampilan, dan kreativitas yang dimiliki termasuk dalam menerapkan
keselamatan
pasien
sehingga
dapat
mencegah
terjadinya
insiden
keselamatan pasien di rumah sakit pada saat memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien. Sehingga usia perawat di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Al-Islam Bandung saat ini sebagian besar termasuk usia yang
ideal dalam bekerja.
115
Hasil penelitian didapatkan pula bahwa perawat yang berusia ≤ 30
tahun cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien sebanyak 25
perawat atau sebesar 53,2% dibandingkan perawat yang berusia > 30 tahun.
Perawat yang berusia ≤ 30 tahun tersebut masih dikategorikan dewasa muda
yang kemungkinan lebih besar memberikan sumbangsi terhadap terjadinya
insiden keselamatan pasien. Hal ini menunjukkan semakin muda usia
perawat,
maka
semakin
berisiko
menimbulkan
terjadinya
insiden
keselamatan pasien.
Menurut Teori Robbins (2003), usia dapat memengaruhi kondisi fisik,
mental, kemampuan kerja, dan tanggung jawab seseorang. Hal tersebut
berarti bahwa semakin dewasa usia perawat, maka semakin baik kinerjanya
dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman atau tidak melakukan
kesalahan yang menyebabkan insiden keselamatan pasien pada saat
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Staf dengan usia muda
umumnya memiliki kekurangan karena cepat bosan, kurang tanggung
jawab, dan turn over tinggi. Staf dengan usia lebih tua kondisi fisiknya
kurang tetapi bekerja lebih ulet, tanggang jawab besar, dan turn over rendah.
Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak Manajemen Rumah Sakit AlIslam Bandung yaitu memberikan perhatian khusus pada perawat yang
berusia muda (< 30 tahun), misalnya dengan diberikan pengawasan dan
bimbingan langsung oleh supervisor. Supervisi adalah melakukan
pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan
yang dilakukan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah
segera diberikan petunjuk dan bimbingan atau bantuan yang bersifat
116
langsung guna mengatasinya (Gibson, 1996 dalam Aprilia 2016).
Supervisor menginformasikan kepada staf hasil monitoring yang telah
dilakukan. Bila terjadi penyimpangan, supervisor akan mendiskusikan
masalah tersebut bersama dengan pihak terkait dan hasilnya dilaporkan
kepada pimpinan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan dan tindak lanjut.
2. Pengetahuan
Menurut Kuncoro (2012), dalam menerapkan keselamatan pasien di
rumah sakit ada beberapa aspek yang harus dibangun, salah satunya yakni
aspek pengetahuan. Pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien sangat
penting untuk mendorong pelaksanaan program keselamatan pasien.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki
pengetahuan baik yaitu sebanyak 57 perawat atau sebesar 75%. Meskipun
dalam
penelitian
ini
pengetahuan
perawat
hanya
diukur
dengan
menggunakan kuesioner terdiri dari 9 pertanyaan yang meliputi: konsep
keselamatan pasien, pengetian keselamatan pasien, cara pelaporan insiden
keselamatan pasien, dan tindakan yang betujuan pada keselamatan pasien
yang memiliki kemungkinan belum mencakup secara detail dari aspek yang
menyangkut pengetahuan perawat. Namun, ditemukan beberapa responden
yang masih salah dalam menjawab pertanyaan yang diajukan yakni sebesar
51,3% belum mengetahui sejak kapan pelaksanaan keselamatan pasien di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung, 32,9% salah dalam menjawab sistem
keselamatan pasien, dan 32,9% salah dalam menjawab waktu paling lambat
117
pelaporan setiap terjadi insiden keselamatan pasien di rumah sakit selama 2
x 24 jam.
Menurut Gunibala (2015), pengetahuan merupakan faktor penting
dalam
seseorang
mengambil
keputusan,
namun
tidak
selamanya
pengetahuan seseorang bisa menghindarkan dirinya dari kejadian yang tidak
diinginkannya. Misalnya, perawat yang tingkat pengetahuannya baik, tidak
selamanya menerapkan keselamatan pasien dengan baik karena segala
tindakan yang dilakukan berisiko menimbulkan terjadinya kesalahan. Faktor
lainnya adalah kurangnya minat belajar perawat, yakni perawat yang tidak
mempunyai keinginan untuk mengakses teori – teori baru dalam bidang
keperawatan khususnya mengenai keselamatan pasien.
Adapun Meliono (2007) berpendapat bahwa seseorang yang kurang
memahami sesuatu tidak dapat melakukan tindakan dengan baik. Hasil
penelitian ini menunjukkan hal serupa, bahwa perawat yang memiliki
pengetahuan kurang baik cenderung pernah melakukan insiden keselamatan
pasien sebanyak 17 perawat atau sebesar 89,5% dibandingkan perawat yang
memiliki pengetahuan baik. Asumsi pertama peneliti mencoba meninjau
dari usia perawat. Pada penelitian ini, proporsi responden paling banyak
pada perawat yang berusia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 47 perawat
atau sebesar 61,8% dan 25 perawat atau sebesar 53,2% diantaranya pernah
melakukan insiden keselamatan pasien. Dari hal tersebut, peneliti berasumsi
bahwa perawat yang masih memiliki pengetahuan kurang dapat disebabkan
karena masa kerja yang masih singkat sehingga perawat belum dapat
menerapkan pengetahuan mengenai keselamatan pasien dengan baik.
118
Perawat dengan masa kerja lebih lama cenderung memiliki pengalaman
kerja lebih banyak dibandingkan perawat yang baru bekerja. Lama kerja di
unit keperawatan menentukan banyaknya pengalaman perawat mengenail
keselamatan pasien yang telah atau hampir dialami. Pengalaman bekerja
banyak memberikan keahlian dan keterampilan kerja. Hal ini sejalan dengan
penelitian Aprilia (2011), perawat dengan masa kerja lebih lama akan lebih
memahami pentingnya penerapan IPSG agar terhindar dari kejadian –
kejadian tidak diharapkan yang dapat membahayakan pasien.
Penelitian yang dilakukan oleh Sofyan (2010), pada umumnya
ditemukan bahwa pengetahuan seseorang yang sangat baik dipengaruhi oleh
meningkatnya usia seseorang, akan tetapi dari hasil penelitiannya diketahui
bahwa tingkat pengetahuan yang sangat baik lebih didominasi oleh perawat
yang berusia 20 – 40 tahun. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor
yang mempengaruhi perubahan pengetahuan seseorang diantaranya:
lingkungan sekitar seseorang, pergaulan sehari – hari, dan kemampuan
belajar seseorang. Selain itu, dalam penelitiannnya memaparkan bahwa
sumber informasi yang didapat mempengaruhi pengetahuan petugas
kesehatan mengenai keselamatan pasien. Tingkat pengetahuan yang kurang
disebabkan karena petugas kesehatan tidak pernah mendengar tentang
keselamatan pasien dan tidak mendapatkan sumber informasi tentang
keselamatan pasien. Dengan semakin banyaknya seseorang mendapatkan
informasi dari berbagai sumber maka pengetahuan akan semakin baik. Hal
tersebut sesuai dengan pendapat Notoatmodjo bahwa ketersediaan fasilitas
merupakan faktor yang memudahkan untuk mempengaruhi tingkat
119
pengetahuan seseorang. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ketersediaan
fasilitas adalah sumber informasi.
Selain itu, adanya perawat yang masih memiliki pengetahuan yang
kurang mengenai keselamatan pasien dalam penelitian ini dapat disebabkan
oleh kurangnya pelatihan sehingga belum mampu untuk menerapkan
pengetahuan yang ada. Menurut Lubis (2007), perawat yang tidak mendapat
pelatihan/pembelajaran mempunyai kecenderungan lebih besar untuk
melakukan tindakan tidak aman yang menjadi salah satu pemicu terjadinya
insiden keselamatan pasien. Hal tersebut diperkuat dari pelatihan yang
dilaksanakan oleh Sub Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam
Bandung ditemukan belum semua perawat mendapatkan pelatihan terkait
keselamatan pasien, sehingga pelatihan yang telah dilaksanakan belum
maksimal disampaikan kepada seluruh perawat. Adapun perawat yang telah
mendapatkan 1 kali pelatihan tentang keselamatan pasien karena rumah
sakit sedang mempersiapkan untuk Akreditasi Rumah Sakit Nasional Versi
2012.
Upaya dalam meningkatkan pengetahuan yang bersifat tetap
merupakan suatu hal yang penting khususnya dalam konteks keselamatan
pasien. Hal tersebut didukung oleh pendapat Notoatmodjo (2009) bahwa,
pengetahuan yang menunjang keterampilan perlu diberikan agar staf dapat
melakukan
tugasnya
berdasarkan
teori
–
teori
yang
dapat
dipertanggungjawabkan. Sejalan dengan hal tersebut Henriksen (2008) juga
menyatakan bahwa, keterbatasan pengetahuan sumber daya manusia
memiliki peran penting dalam menyebabkan keterbatasan institusi
120
pelayanan untuk mengelola pelayanan yang berorientasi pada keselamatan
pasien. Hal ini berarti bahwa keterbatasan pengetahuan merupakan hal
penting yang sangat perlu dipertimbangkan demi keamanan asuhan yang
diberikan oleh tenaga kesehatan termasuk perawat. Pada intinya,
pengetahuan yang baik dapat menjadi tolak ukur dari suatu pelaksanaan,
maka pelaksanaan yang baik dan benar harus didasari oleh pengetahuan dan
pengalaman. Semakin baik pengetahuan perawat tentang keselamatan
pasien, maka akan baik pula penerapan keselamatan pasien sehingga
kesalahan – kesalahan yang mengancam keselamatan pasien dapat dihindari
atau diminimalisir.
Dalam KPPRS (2008), terdapat suatu standar untuk mendidik staf
tentang keselamatan pasien yaitu:
a. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan, dan orientasi untuk
setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien
secara jelas.
b. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf, serta
mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien dengan
kriteria sebagai berikut:
1) Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat
topik keselamatan pasien.
2) Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan in
service training dan memberikan pedoman yang jelas tentang
pelaporan insiden.
121
c. Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork)
guna mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka
melayani pasien.
Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan oleh Sub Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit Al-Islam Bandung yaitu melalui
pelatihan. Pelatihan diberikan kepada perawat di unit rawat inap terutama
perawat yang masih memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai
keselamatan pasien dan perawat yang termasuk dalam dewasa muda
didorong agar lebih memiliki kemampuan mengenai keselamatan pasien
dengan cara diberikan pelatihan secara berkala agar keselamatan pasien
diterapkan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan perawat mengenai
keselamatan pasien dalam memberikan
asuhan keperawatan
yang
berkualitas kepada pasien, sehingga meningkatkan profesionalisme pada
perawat yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat dalam pelayanan yang diberikan menjadi lebih aman kepada
pasien sebagai penerima pelayanan kesehatan. Setiap kali ada pelatihan
tentang keselamatan pasien harus dilakukan pretest dan post test agar dapat
dimonitor seberapa jauh perkembangan pengetahuan perawat tentang
keselamatan pasien.
Hal ini pun disampaikan oleh Rivai dan Sagala (2009), pelatihan
memiliki peranan yang sangat penting dalam mencegah terjadinya insiden
keselamatan pasien. Pelatihan sebagai bagian dari pendidikan yang
menyangkut
proses
belajar
untuk
122
memperoleh
dan
meningkatkan
keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang
relatif singkat.
Pelatihan terkait keselamatan pasien merupakan suatu upaya untuk
mencegah atau meminimalisir kesalahan – kesalahan yang mengancam
keselamatan pasien. Pelatihan yang diberikan tersebut meliputi standar
keselamatan pasien rumah sakit dan pelaksanaan sasaran keselamatan
pasien. Menurut PMK No. 1691 tahun 2011, sasaran keselamatan pasien
merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit yang diakreditasi
oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) terdiri dari: 1) ketepatan
identifikasi pasien, 2) peningkatan komunikasi yang efektif, 3) peningkatan
keamanan obat yang perlu diwaspadai, 4) kepastian tepat lokasi, tepat
prosedur, dan tepat pasien operasi, 5) pengurangan risiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan, dan 6) pengurangan risiko pasien jatuh. Tujuan dari
sasaran keselamatan pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam
keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian – bagian yang bermasalah
dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari
konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan ini.
Untuk mengantisipasi hasil yang bias terkait pengukuran pada variabel
pengetahuan
perawat
maka
peneliti
menyarankan
kepada
peneliti
selanjutnya, untuk mengukur pengetahuan perawat mencakup secara detail
yang meliputi: manfaat keselamatan pasien, standar keselamatan pasien,
jenis insiden keselamatan pasien, pelaporan insiden keselamatan pasien, dan
6 sasaran keselamatan pasien yang terdiri dari: 1) ketepatan identifikasi
pasien, 2) peningkatan komunikasi yang efektif, 3) peningkatan keamaman
123
obat yang perlu diwaspadai, 4) kepastian tepat lokai tepat prosedur dan tepat
pasien operasi, 5) pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan,
dan 6) pengurangan risiko pasien jatuh.
3. Stres
Pada titik tertentu dalam dunia pekerjaan banyak orang yang akan
mengalami stres terkait pekerjaan. Stres dipengaruhi oleh keseimbangan
antara persepsi terhadap tuntutan seseorang misalnya dengan beban kerja
yang ada dengan bagaimana menilai sumberdaya untuk memenuhi tuntutan
tersebut. Ketika tuntutan dirasa lebih utama dari kemampuan, seseorang
akan mengalami efek tidak menyenangkan, seperti kelelahan atau perasaan
lelah, konsentrasi kurang, dan mudah tersinggung (Arfan, 2014).
Menurut Houtman (2005), stres kerja umumnya lebih banyak
dikeluhkan oleh petugas kesehatan seperti perawat. Kesiagaan setiap saat
dari seorang perawat dalam menangani pasien, serta situasi pekerjaan dan
beban kerja yang ada membuat perawat mengalami tekanan yang membuat
stres. Profesi perawat merupakan profesi yang membutuhkan keterampilan
tingkat tinggi dan juga membutuhkan kerjasama tim dalam berbagai situasi,
sehingga profesi ini di dalam tempat kerja memiliki banyak stresor.
Stres perawat yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu suatu keadaan
yang dapat memicu reaksi psikologis pemberi pelayanan kesehatan. Untuk
mengukur variabel stres perawat, pada penelitian ini hanya terdiri dari 3
pernyataan terkait dukungan rekan kerja dan pimpinan, konsentrasi saat
bekerja, dan jadwal kerja perawat yang diadopsi sebagian dari indikator
stres Health and Safety Executive (HSE).
124
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat
mengalami stres rendah yaitu sebanyak 62 perawat atau sebesar 81,6%.
Sedangkan perawat yang mengalami stres tinggi yaitu sebanyak 14 perawat
atau sebesar 18,4% dan sebanyak 11 perawat atau sebesar 78,6%
diantaranya cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien. Hal
ini menunjukkan semakin perawat mengalami stres, maka semakin berisiko
menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien.
Hasil distribusi jawaban perawat bahwa penyebab stres yang dialami
perawat disebabkan karena jadwal kerja yang tidak memungkinkan untuk
memulihkan semangat kerjanya sebesar 25%. Hal tersebut diduga
disebabkan oleh jadwal kerja dan peraturan di rumah sakit yang menuntut
perawat bekerja lebih lama dari waktu yang seharusnya dan perawat juga
melakukan pekerjaan yang kompleks dengan ketersediaan waktu yang
cukup singkat, namun hal tersebut tetap menjadikan setiap pelayanan yang
diberikan
oleh
perawat
harus
berwaspada
dalam
mengutamakan
keselamatan pasien.
Stres merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap
setiap tuntutan atau beban atasnya. Stres terjadi apabila seseorang
mengalami beban atau tugas yang berat orang tersebut tidak dapat mengatasi
tugas yang dibebankan, maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu
terhadap tugas tersebut sehingga mengalami stres. Penyebab suatu stres
dapat berasal dari lingkungan baik secara fisik, psikososial, maupun
spiritual. Sumber stres yang lain adalah berasal dari 1) di dalam diri sendiri,
yakni dikarenakan konflik yang terjadi antara keinginan dan kenyataan
125
berbeda, dalam hal ini permasalahan yang terjadi tidak sesuai dengan
dirinya dan tidak mampu diatasi maka dapat menimbulkan suatu stres, dan
2) di dalam masyarakat, sumber stres ini dapat terjadi di lingkungan atau
masyarakat pada umumnya seperti lingkungan pekerjaan karena beban
kerja, tanggung jawab kerja, dan keamanan kerja (Bart Smet, 1993 dalam
Tobing, 2007).
Penelitian National Institute for Occupational Safety and Health
(NIOSH) dalam Widyasari (2010) mengungkapkan bahwa profesi perawat
merupakan profesi yang memiliki resiko tinggi terhadap stres, kondisi ini
terjadi karena perawat memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat
tinggi terhadap keselamatan nyawa manusia. Selain itu, penelitiannya juga
mengungkapkan bahwa pekerjaan perawat memiliki karakteristik yang
cukup sulit karena tekanan dan tuntutan kerja yang tinggi. Karakteristik
tersebut terdiri dari: 1) otoritas bertingkat ganda, 2) heterogenitas
personalia, 3) ketergantungan dalam pekerjaan dan spesialisasi, 4) budaya
kompetitif di rumah sakit, 5) jadwal kerja yang ketat dan harus siap kerja
setiap saat, dan 6) tekanan – tekanan dari teman sejawat.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Tarigan (2004) yang
melakukan penelitian di bagian ruang bedah RSU Santa Elisabeth Medan
bahwa perawat mengalami stres kerja disebabkan komunikasi dengan atasan
dan teman kerja tidak baik, mudah bosan, merasa tidak puas terhadap
sesuatu yang salah dan beban kerja untuk gaji, merasa tidak seefisien
sebagaimana mestinya, merasa tidak mempunyai perasaan secara emosional
terhadap masalah dan kebutuhan orang lain, frustasi dalam melaksanakan
126
pekerjaaan, dan faktor individu yakni umur, lama kerja, serta lingkungan
psikososial yakni hubungan personal.
Hasil survei dari PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) tahun
2006, sekitar 50,9% perawat yang bekerja di 4 provinsi di Indonesia
mengalami stres kerja, sering pusing, lelah, tidak bisa beristirahat karena
beban kerja terlalu tinggi dan menyita waktu. Stres kerja pada perawat
merupakan salah satu permasalahan dalam manajemen sumber daya
manusia di Rumah Sakit. Stress kerja adalah suatu tekanan yang tidak dapat
ditoleransi oleh individu baik yang bersumber dari dirinya sendiri mapun
dari luar dirinya. Penyebab stres bersumber dari biologis, psikologik, sosial,
dan spritual. Stres kerja adalah perasaan tertekan yang dialami karyawan
dalam menghadapi pekerjaan, yang disebabkan oleh stresor yang datang dari
lingkungan kerja seperti faktor lingkungan, organisasi dan individu
(Widyasari, 2010).
Menurut Manojlovich (2007), stres di tempat kerja memiliki efek yang
negatif pada kesehatan mental dan kesejahteraan fisik perawat. Perawat
yang mengalami stres kerja yang tinggi, tidak dapat menunjukkan kinerja
yang optimal. Hasil penelitian Olaleye (2002) mengungkapkan bahwa stres
pekerjaan
berpengaruh
sigifikan
terhadap
kondisi
kesehatan
dan
kemampuan perawat dalam melayani pasien. Pengaruh stres pada kesehatan
fisik muncul dalam bentuk, yakni sakit kepala, sakit punggung atau leher,
nyeri otot, tekanan darah tinggi, sedangkan pengaruhnya terhadap kondisi
psikis adalah munculnya perasaan cemas, merasa tertekan, kurang
konsentrasi, dan kesulitan dalam membuat keputusan. Dari gambaran
127
tersebut diketahui bahwa, kesehatan fisik dan mental dipengaruhi oleh stres
kerja yang secara tidak langsung akan mempengaruhi konsentrasi dan
kinerja dari perawat itu sendiri sehingga berpengaruh ketika melayani
pasien.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi stres kerja, yakni
dengan melakukan manajemen stres. Manejemen stres penting untuk
diterapkan di unit kerja dimana perawat mengalami stres kerja demi
mengurangi angka insiden keselamatan pasien. Guna mengelola stres
dengan baik ada beberapa cara yang direkomendasikan oleh para ahli
berdasarkan kebutuhan dan tingkat stres yang dialami. Salah satunya, WHO
(2009) menyatakan bahwa stres dapat dicegah dengan tiga cara, yakni
secara primer, sekunder (mendeteksi dan mengelola gejala), dan tersier
(efek stres yang dapat diobati). Untuk melakukan identifikasi risiko dapat
dikelola dengan berbagai cara, misalnya dengan memastikan tingkat staf
yang memadai dan memberikan pelatihan yang tepat. Selain itu, organisasi
dapat mengurangi stres di tempat kerja, misalnya dengan memungkinkan
periode pemulihan setelah periode beban kerja yang tinggi dan memberikan
peran atau tugas yang jelas atau meningkatkan kesempatan untuk
mendapatkan promosi jabatan.
Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen Rumah Sakit AlIslam Bandung untuk menurunkan stres yang dialami oleh perawat yaitu
mendesain kembali beban kerja dengan melihat kuantitas Sumber Daya
Manusia (SDM) yang tersedia dengan memperhatikan shift atau jadwal
kerja pada perawat. Hal ini direkomendasikan dari penelitian Jones &
128
Johnston (dalam McVicar, 2003) program yang dapat dilakukan untuk
mengurangi stres yakni 1) meninjau ulang mendesain kembali beban kerja
dengan melihat kuantitas SDM yang tersedia, 2) perlu diperhatikan shift
atau jadwal kerja, 3) model kepemimpinan atau manajemen yang berlaku
pada organisasi, dan 4) manajemen konflik yang kondusif.
Selain itu, untuk mengantisipasi hasil yang bias terkait pengukuran
pada variabel stres perawat, maka peneliti menyarankan kepada peneliti
selanjutnya untuk mengukur stres perawat dengan menggunakan kuesioner
HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale) yang mengembangkan tiga gejala
stres yaitu gejala psikologis, fisiologis, dan perilaku untuk mengukur tingkat
stres kerja yang dialami oleh responden. Menurut Suparyanto (2011),
tingkat stres dapat dikelompokkan dengan menggunakan kriteria HARS
(Hamilton Anxiety Rating Scale). Unsur yang dinilai antara lain: perasaan
ansietas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, gangguan kecerdasan,
perasaan
depresi,
gejala
somatik,
gejala
respirasi,
gejala
gejala
kardiovaskuler, gejala respirasi, gejala gastrointestinal, gejala urinaria,
gejala otonom, gejala tingkah laku.
4. Kelelahan
Menurut Budiono (2003), kelelahan merupakan suatu kondisi yang
disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan dalam bekerja. AHRQ (2003)
mengungkapkan
bahwa
dampak
kelelahan
yang
dialami
perawat
mengakibatkan medical error. Lingkungan kerja dan pekerjaan perawat
dapat menjadi sumber kelelahan perawat.
129
Kelelahan perawat yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu suatu
keadaan yang dapat memicu reaksi psikologis pemberi pelayanan kesehatan.
Untuk mengukur variabel stres perawat, pada penelitian ini hanya terdiri
dari 3 pernyataan terkait jumlah perawat di unit tempat bekerja, adanya
beban kerja, dan jadwal kerja perawat.
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat
mengalami kelelahan rendah yaitu sebanyak 47 perawat atau sebesar 61,8%.
Sedangkan perawat yang mengalami kelelahan tinggi yaitu sebanyak 29
perawat atau sebesar 38,3% dan sebanyak 16 perawat atau sebesar 55,2%
diantaranya cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien. Hal
ini menunjukkan semakin perawat mengalami kelelahan, maka semakin
berisiko menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien.
Hasil distribusi jawaban perawat bahwa penyebab kelelahan yang
dialami disebabkan karena perawat melakukan kesalahan dalam pelayanan
pasien karena bekerja melebihi dari ketentuan yang ada dan terlalu banyak
tugas yang harus dikerjakan sebesar 48,7%, sehingga hal tersebut dapat
menurunkan kewaspadaan yang pada akhirnya perawat mengalami
kelelahan. Selain itu, asumsi peneliti mencoba meninjau dari stres yang
dialami oleh perawat. Pada penelitian ini, proporsi responden yang
mengalami stres tinggi yaitu sebanyak 14 perawat atau sebesar 18,4% dan
sebanyak 11 perawat atau sebesar 78,6% diantaranya cenderung pernah
melakukan insiden keselamatan pasien. Dari hal tersebut, peneliti berasumsi
bahwa adanya perawat yang mengalami kelelahan dapat dipengaruhi stres
yang dialami oleh perawat. Menurut Widyananti (2010), salah satu
130
hambatan yang akan timbul oleh karena adanya stres yang dialami perawat
adalah kelelahan. Kelelahan dapat diartikan sebagai suatu kondisi
menurunnya efisiensi, performasi kerja, dan berkurangnya kekuatan atau
ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus
dilakukan. Kelelahan kerja dapat menimbulkan beberapa keadaan yaitu
prestasi kerja yang menurun, fungsi fisiologis motorik dan neural yang
menurun, badan terasa tidak enak disamping semangat kerja yang menurun.
Perasaan kelelahan di tempat kerja cenderung meningkatkan terjadinya
kesalahan, sehingga dapat merugikan diri perawat maupun rumah sakit
karena adanya penurunan produktivitas kerja. Kelelahan kerja memiliki
gejala-gejala seperti, menguap, mengantuk, susah berfikir, cenderung untuk
lupa, merasa nyeri di punggung, dan lain-lain. Selain itu kelelahan kerja
memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti usia, jenis kelamin,
penyakit, keadaan psikis tenaga kerja, dan beban kerja.
Adapun menurut AHRQ (2003), sumber kelelahan dapat ditimbulkan
dari pengaturan shift kerja, jam kerja, rotasi, lama kerja, karakteristik
pekerjaan, pengaturan waktu istirahat, beban kerja, kondisi kerja, dan iklim
kerja. Adapun Sochalski (2004) berpendapat bahwa perawat yang
mengemban beban kerja lebih tinggi dilaporkan lebih sering melakukan
kesalahan dan mengalami kejadian pasien jatuh pada saat mereka berdinas.
Kelelahan yang dialami perawat karena bekerja dengan waktu yang terlalu
lama dan pengaruh stres yang dapat menurunkan kewaspadaan (Henriksen
et al., 2008).
131
Peters and Peter (2008) menyatakan bahwa salah satu penyebab
medical error disebabkan faktor manusia akibat kelelahan yang dialami.
Jam kerja yang lama dan kelebihan beban kerja dapat memungkinkan
menimbulkan gejala fisik dan mental seperti merakan kelelahan dan
kecerobohan kognitif. Perasaan subjektif dari kelelahan mengacu pada rasa
kelelahan, kekurangan energi, dan mengurangi motivasi yang disertai
dengan kewaspadaan mental yang menurun, gangguan prestasi kerja,
meningkatnya rasa kantuk, tertidur pada saat bekerja, dan pada tingkat yang
lebih tinggi dapat menyebabkan kecelakaan. Adapun AHRQ (2003)
menyatakan bahwa sumber kelelahan dapat ditimbulkan dari pengaturan shif
kerja, jam kerja, rotasi, lama kerja, karakteristik pekerjaan, pengaturan
waktu istirahat, beban kerja, kondisi kerja, dan iklim kerja.
Menurut Haryanti (2013), dampak negatif dari beban kerja yang
berlebihan adalah kemungkinan timbulnya emosi perawat yang tidak sesuai
dengan yang diharapkan pasien. Bila beban kerja seorang perawat tinggi,
maka sangat berpengaruh besar dalam memberikan pelayanan keperawatan
di unit rawat inap karena berpotensi besar perawat melakukan kesalahan
terkait keselamatan pasien. Jika seorang perawat salah dalam menentukan
prioritas utama pasien, maka pasien akan beresiko tinggi mengalami
kecacatan bahkan kematian. Dampak beban kerja yang dirasakan perawat
adalah sering merasa lelah, tidak dapat rileks, otot tengkuk, dan punggung
tegang. Kadang – kadang perawat mudah marah, sulit tidur, dan sulit
berkonsentrasi, selain itu konsekuensi dari beban kerja yang dialami perawat
132
yakni kurang responsif dan kurang memperhatikan aspek psikologis, serta
emosi pasien.
Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak Manajemen Rumah Sakit AlIslam Bandung untuk memotivasi perawat dalam upaya meningkatkan
semangat kerja perawat sehingga memberikan asuhan keperawatan kepada
pasien menjadi lebih aman yaitu mengupayakan pendidikan lanjut
keperawatan minimal sampai S1 Keperawatan sebagai bentuk suatu reward
atas kinerja yang telah diberikan selama bekerja.
Selain itu, untuk mengantisipasi hasil yang bias terkait pengukuran
pada variabel kelelahan perawat, maka peneliti menyarankan kepada
peneliti
selanjutnya
untuk
mengukur
kelelahan
perawat
dengan
menggunakan Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2).
KAUPK2 merupakan parameter untuk mengukur perasaan kelelahan kerja
sebagai gejala subjektif yang dialami pekerja dengan perasaan yang tidak
menyenangkan. Keluhan yang dialami pekerja setiap harinya membuat
mereka mengalami kelelahan kronis. KAUPK2 terdiri dari 17 item
pertanyaan (3 aspek keluhan subjektif yang diderita oleh tenaga kerja yang
mengalami kelelahan, yaitu aspek pelemahan aktivitas sebanyak 7 butir,
aspek pelemahan motivasi sebanyak 3 butir, dan aspek gejala fisk sebanyak
7 butir).
133
D. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik
Organisasi di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
1. Komunikasi
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang pada prosesnya dapat
menghasilkan persepsi, perilaku, dan pemahaman yang berubah menjadi
sama antara pemberi informasi dan penerima informasi. Dalam PMK No.
1691 tahun 2011, peningkatan komunikasi yang efektif merupakan sasaran
keselamatan pasien kedua. Komunikasi efektif, tepat waktu, akurat, lengkap,
jelas, dan dipahami oleh pasien akan mengurangi kesalahan, dan
meningkatkan keselamatan pasien.
Pada komunikasi dalam penelitian ini yaitu adanya keaktifan interaksi
yang dilakukan oleh perawat dengan sesama petugas kesehatan yang
berkaitan dengan keselamatan pasien. Komunikasi dikatakan efektif jika
komunikasi yang terjalin diantara perawat sebagai pemberi pelayanan
kesehatan saling mengerti dan memperlihatkan adanya keterbukaan, saling
mendukung, bersikap positif, dan kesetaraan.
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat telah
melakukan komunikasi efektif antara petugas kesehatan di unit rawat inap
yaitu sebanyak 40 perawat atau sebesar 52,6%. Sedangkan perawat yang
masih kurang efektif yaitu sebanyak 36 perawat atau 47,4% dan sebanyak
19 perawat atau sebesar 52,8% diantaranya cenderung lebih banyak tidak
pernah melakukan insiden keselamatan pasien. Hasil distribusi jawaban
perawat bahwa kurangnya komunikasi efektif pada penelitian ini disebabkan
karena perawat jarang mendiskusikan dengan sesama perawat atau dokter
134
bagaimana cara untuk mencegah insiden supaya tidak terjadi kembali
sebesar 15,8% dan perawat belum merasa bebas untuk bertanya kepasa
sesama perawat lain atau dokter tentang keputusan maupun tindakan yang
harus diambil sebesar 5,3%.
Komunikasi dalam keselamatan pasien telah menjadi standar dalam
The Joint Comission on Acreditation of Healthcare Organization (JCAHO)
sejak tahun 2010. Menurut Salim (2006) dan Hamdani (2007), komunikasi
harus terjadi dalam pola dua arah, dari pimpinan ke personel garis depan
dan sebaliknya. Demikian juga, tindakan diam terhadap kesalahan harus
diganti dengan keterbukaan, serta kejujuran mengenai kejadian yang
menyangkut dengan keselamatan pasien. Pelaporan dan kepatuhan terhadap
prosedur keselamatan pasien merupakan parameter yang dijadikan tolak
ukur berjalannya komunikasi keselamatan yang efektif dan menjadi elemen
penting untuk mewujudkan pelayanan yang aman, serta menuju keselamatan
pasien. Adapun menurut Jalaluddin (2008), komunikasi yang efektif
ditandai dengan adanya pengertian, dapat menimbulkan kesenangan,
mempengaruhi sikap, meningkatkan hubungan sosial yang baik, dan pada
akhirnya menimbulkan suatu tindakan.
Dalam komunikasi, efektifitas merupakan hal yang paling penting
karena komunikasi efektif merupakan salah satu strategi untuk membangun
budaya keselamatan pasien. Komunikasi efektif sangat berperan dalam
menurunkan insiden keselamatan pasien dalam sebuah asuhan medis pasien.
Strategi tersebut ditetapkan oleh JCAHO sejak tahun 2010 sebagai tujuan
nasional keselamatan pasien. Strategi tersebut bertujuan untuk menciptakan
135
proses komunikasi efektif melalui pendekatan standarisasi komunikasi yakni
pada saat serah terima pasien (hand over). Hal tersebut dikarenakan
komunikasi saat proses transisi perawatan pasien dapat memiliki risiko
terjadinya kesalahan ketika informasi yang diberikan tidak akurat. Menurut
Nazhar (2009) dalam Hamdani (2007) komunikasi dapat diwujudkan pada
saat serah terima, briefing, dan ronde keperawatan. Perawat menggunakan
komunikasi terbuka pada saat serah terima dengan mengkomunikasikannya
kepada perawat lain tentang risiko terjadinya insiden, melibatkan pasien
pada saat serah terima. Briefing digunakan untuk berbagi informasi seputar
isu – isu keselamatan pasien, perawat dapat secara bebas bertanya seputar
keselamatan pasien yang potensial terjadi dalam kegiatan sehari – hari.
Ronde keperawatan dapat dilakuakn setiap minggu dan fokus hanya pada
keselamatan pasien.
Komunikasi pada saat serah terima pasien di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung biasanya tidak hanya secara lisan tetapi juga dalam bentuk tulisan.
Briefing atau “operan” menjadi sarana untuk berkomunikasi secara lisan
perihal asuhan keperawatan yang perlu dilakukan perawat pelaksana yang
menjalankan shift selanjutnya. Adapun komunikasi lisan melalui telepon
oleh perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung dengan
menggunakan metode ISBAR (introduction, situation, background,
asessment, recommendation) dan teknik TBAK (Tulis, Baca, Konfirmasi
Kembali). Namun hasil pengamatan di lapangan pada saat penelitian,
pelaksanaan peningkatan komunikasi efektif dengan menggunakan metode
TBAK masih ditemukan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) belum
136
melengkapi dokumentasi verifikasi secara tertulis berupa pembubuhan tanda
tangan/paraf pada berkas rekam medis pasien. Hal tersebut belum sesuai
dengan prosedur komunikasi efektif yang berlaku, bahwa seharusnya
pemberi pesan harus segera melengkapi dokumentasi verifikasi secara
tertulis berupa pembubuhan tanda tangan atau paraf verifikasi komunikasi
efektif dalam catatan berkas rekam medis pasien. Ada pula komunikasi yang
di dokumentasikan dalam bentuk tulisan di Rumah Sakit Al-Islam Bandung,
antara lain: 1) buku operan shift, 2) catatan perawat yang dipegang sendiri
sebagai Perawat Penanggung Jawab Pelayanan (PPJP), dan 3) lembar
catatan medik harian pada berkas rekam medis.
Selain komunikasi lisan dan komunikasi tulisan, adapula kegiatan
ronde kelapangan terkait keselamatan pasien yang telah dilaksanakan di
Rumah Sakit Al-Islam Bandung, namun belum berjalan dengan maksimal.
Pelaksanaan ronde keselamatan pasien ini sudah dilaksanakan sejak tahun
2013 yang dilakukan 2 kali selama 1 bulan, namun pada pelaksanaannya
terdapat kendala karena berbagai kegiatan dan tugas yang padat dari bagian
komite sehingga kegiatan ronde keselamatan pasien hanya dilaksanakan
sesuai sesuai kondisi. Kegiatan ronde keselamatan pasien bertujuan untuk
memonitoring sejauh mana pelaksanaan keselamatan pasien di Rumah Sakit
Al-Islam Bandung. Hasil dari ronde kelapangan tersebut kemudian menjadi
evaluasi dan menjadikan rekomendasi kepada unit terkait. Pelaksanakan
ronde keselamatan pasien merupakan suatu bentuk dukungan yang diberikan
dapat diwujudkan dalam bentuk kunjungan atau supervisi ke setiap untuk
pelayanan untuk memonitoring atau mengetahui kesulitan/permasalahan/
137
kendala yang dihadapi dalam melaksanakan keselamatan pasien dan
memastikan bahwa seluruh personil rumah sakit mendukung pelaksanaan
keselamatan pasien.
Menurut O’Daniel (2008), komunikasi yang baik mendorong
kolaborasi dan membantu mencegah kesalahan. Oleh karena itu, sebaiknya
komunikasi yang kurang efektif lebih diperhatikan lagi oleh pihak rumah
sakit sehingga insiden – insiden yang berhubungan dengan keselamatan
pasien dapat dikurangi atau bahkan dapat dihindari.
2. Implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP)
Menurut Setyarini (2013), Standar Operasional Prosedur (SOP)
merupakan suatu standar atau pedoman tertulis yang dipergunakan untuk
mendorong dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan
organisasi. SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang
harus dilalui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. Menurut IOM
(2000), peran perawat dalam keselamatan pasien yaitu memelihara
keselamatan pasien melalui transformasi lingkungan keperawatan yang
lebih mendukung keselamatan pasien dan peran perawat dalam keselamatan
pasien melalui penerapan standar keperawatan. Yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah implementasi SOP terkait pelaporan insiden
keselamatan pasien di Rumah Sakit Al-Islam Bandung.
Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah memiliki SOP yang mengatur
tentang pelaporan insiden keselamatan pasien secara tertulis dan detail.
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat memiliki
persepsi baik terhadap implementasi SOP terkait pelaporan insden
138
keselamatan pasien yaitu sebanyak 53 perawat atau sebesar 69,7%.
Sedangkan perawat yang memiliki persepsi kurang baik terhadap
implementasi SOP terkait pelaporan insden keselamatan pasien yaitu
sebanyak 23 perawat atau sebesar 30,3% dan sebanyak 15 perawat atau
sebesar 65,2% diantaranya cenderung lebih banyak pernah melakukan
insiden keselamatan pasien. Hal ini menunjukkan semakin perawat memiliki
persepsi kurang baik terhadap implementasi SOP, maka semakin berisiko
menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien.
Hasil distribusi jawaban perawat yang memiliki persepsi kurang
terhadap implementasi SOP disebabkan karena sebesar 9,2% tidak
menyetujui bahwa ketika terjadi suatu insiden keselamatan pasien paling
lambat dilaporkan selama 2 x 24 jam setelah terjadinya insiden keselamatan
pasien dan sebesar 6,6% belum mendapatkan tindak lanjut dari komite
keselamatan pasien ketika terjadi insiden keselamatan pasien.
Pelaporan insiden keselamatan pasien di rumah sakit dilakukan untuk
menilai jenis insiden yang terjadi dan dapat diketahui kesalahan yang biasa
dilakukan oleh perawat, serta dapat diambil tindakan sebagai bahan
pembelajaran organisasi. Organisasi belajar dari pengalaman sebelumnya
dan mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi faktor risiko terjadinya
insiden, sehingga dapat mengurangi atau mencegah insiden yang akan
terjadi karena telah belajar dan terinformasi dengan jelas dari insiden yang
sudah pernah terjadi melalui pelaporan kejadian dan investigasi.
Menurut Musdalifah (2013), pelaporan kejadian dan feedback yang
baik harus terus ditingkatkan dengan rasa saling percaya dan no blame
139
culture, artinya bila staf melakukan kesalahan, staf lainnya tidak menilai
sebelah mata atas kesalahan yang telah dilakukan oleh staf tersebut dan
memberikan umpan balik kepada staf yang telah melapor. Apabila staf
melaporkan setiap kesalahan, maka tidak berarti staf tersebut harus
dipersalahkan (di blame) ataupun dihukum atas kesalahan yang telah
dilakukan. Setiap anggota organisasi memiliki peran dalam melindungi staf
atau rekan yang telah melaporkan kesalahan dengan tidak mengecilkan hati
rekan yang telah melakukan kesalahan. Bila keadaan ini mampu dibangun
dan dipertahankan, tentu akan dapat meningkatkan frekuensi pelaporan
kejadian. Hamdani (2007) berpendapat bahwa organisasi kesehatan harus
mampu menciptakan lingkungan yang nonpunitive yang tujuannya adalah
supaya setiap elemen staf tidak takut untuk melaporkan kejadian. Ketika
sistem punishment dijalankan, maka staf akan enggan melaporkan insiden.
Kejadian yang tidak dilaporkan tersebut membuat organisasi tidak belajar
dari kesalahan dan kurang peduli terhadap pelayanan.
Melalui pelaksanaan SOP yang sudah ditetapkan di rumah sakit
diharapkan terjadinya insiden keselamatan pasien menurun. Menurut
Cahyono (2008), pengembangan dan ketersediaan standar, pedoman, dan
protokol mendukung program keselamatan pasien. Standarisasi memiliki
tujuan menetapkan tingkat tampilan minimal yang harus dipenuhi
seseorang, setiap proses, tindakan, keterampilan klinis, penampilan,
lingkungan kerja, serta kondisi alat yang harus terstandarisasi.
Hal ini ditunjang oleh teori Wood dalam Cahyono (2008) yang
mengembangkan teori “blunt and sharp end” yang menjelaskan bagaimana
140
interaksi manusia dengan sistem yang dapat menyebabkan terjadinya
insiden keselamatan pasien. Blunt and (sisi tumpul) menggambarkan
penampilan organisasi, dalam hal ini SOP atau alur kerja yang berfungsi
sebagai pelindung atau pencegah kesalahan. Sharp end (sisi tajam)
menggambarkan petugas kesehatan, dalam hal ini perawat yang bertugas.
Interaksi antara blunt and sharp end seharusnya seimbang sehingga insiden
keselamatan pasien dapat dihindari. Dengan demikian, peran perawat
sebagai sisi tajam dari pelayanan sangat besar, perawat diharapkan mampu
memegang teguh pedoman, kebijakan dan standar praktik keperawatan. Jika
hal ini dilanggar cedera pada pasien tidak dapat dihindarkan.
Dengan demikian, upaya yang dapat dilakukan oleh pihak Manajemen
Rumah Sakit Al-Islam Bandung perlu melakukan sosialisasi dan
pengawasan yang lebih intensif terhadap pelaksanaan SOP terkait pelaporan
insiden keselamatan pasien di setiap unit kerja sehingga perawat dapat
melaksanakan tugasnya sesuai dengan pelaksanaan SOP terkait pelaporan
insiden keselamatan pasien yang berlaku di rumah sakit untuk memberikan
asuhan keperawatan yang lebih aman bagi pasien.
E. Gambaran Insiden Keselamatan Pasien Berdasarkan Karakteristik Sifat
Dasar Pekerjaan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung
1. Kerjasama Tim
Menurut Katzenbach & Douglas dalam Cahyono (2008), kerjasama
tim merupakan suatu kelompok kecil dengan keterampilan yang saling
melengkapi dan berkomitmen pada tujuan bersama, serta sasaran – sasaran
kinerja dan pendekatan yang mereka jadikan tanggung jawab bersama.
141
Kerjasama merupakan bentuk attitude dari perawat dalam bekerja di dalam
tim karena membuat individu saling mengingat, mengoreksi, dan
berkomunikasi, sehingga peluang terjadinya kesalahan dapat dihindari.
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat
memiliki kerjasama tim yang baik yaitu sebanyak 57 perawat atau sebesar
75%. Sedangkan perawat yang memiliki kerjasama tim kurang baik yaitu
sebanyak 19 perawat atau sebesar 25% dan 13 perawat atau sebesar 68,4%
cenderung melakukan insiden keselamatan pasien. Hal ini menunjukkan
semakin perawat memiliki kerjasama tim yang kurang baik, maka semakin
berisiko menimbulkan terjadinya insiden keselamatan pasien.
Hail distribusi jawaban perawat bahwa perawat yang masih kurang
dalam kerjasama tim disebabkan karena perawat merasa sulit untuk
berkoordinasi dengan unit lain sebesar 22,4% dan perawat lebih nyaman
bekerja sendiri dibanding bekerja dalam tim sebesar 16,1%. Hal tersebut
bisa jadi ada hubungannya dengan komunikasi yang terjalin di unitnya.
Kurangnya komunikasi yang tejalin antar perawat disebabkan adanya status
jawaban dan kurangnya keterbukaan sesama tim dapat menyebabkan
kerjasama dalam tim tidak terkoordinasi dengan baik. Dalam melakukan
asuhan keperawatan kepada pasien, perawat melakukannya hanya kepada
pasien yang menjadi tanggung jawabnya saja dari pada bekerja di dalam
tim. Setiap perawat memiliki tanggung jawab dan tugasnya masing –
masing terhadap pasien sehingga perawat lain tidak saling mengetahui
pekerjaan rekannya. Hal tersebut yang kemudian membuat perawat menjadi
tidak saling meng-crosscheck pekerjaan satu sama lain, hal ini dapat
142
semakin
besar
menimbulkan
potensi
terjadinya
kesalahan
dalam
memberikan asuhanan perawatan kepada pasien. Dengan demikian, peneliti
memberikan masukan kepada pihak manajemen rumah sakit untuk
meningkatkan
kerjasama
tim
antar
perawat.
Tidak
hanya
untuk
meningkatkan kinerja dalam asuhan keperawatan tetapi juga untuk
meningkatkan keselamatan pasien selama melakukan perawatan di rumah
sakit.
Menurut Manser (2009) dalam Lestari (2013), hambatan komunikasi
dan pembagian tugas yang tidak seimbang menjadi penyebab kurang
efektifnya kerjasama tim. Efektifitas kerjasama tim sangat tergantung pada
komunikasi dalam tim, adanya supervisi, dan pembagian tugas. Menurut
Vincent (2003) dalam (Setiowati, 2010) mengemukaan sebuah studi
observasional dan analisis retrospektif oleh terhadap insiden keselamatan
pasien menunjukkan bahwa faktor kerjasama tim yang kurang, berkontribusi
lebih banyak dibandingkan dengan kemampuan klinis yang lemah.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
Mulyana (2013) yakni faktor kerjasama menjadi indikator bahwa perawat
dengan kerjasama kurang memiliki kecenderungan menyebabkan insiden
keselamatan pasien tiga kali lebih besar dari perawat yang memiliki persepsi
sebaliknya. Darmanelly (2000) dalam WHO (2009) berpendapat bahwa
kerjasama tim dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni kesesuaian
mempercayai anggota tim, kesediaan untuk mengalah, kemampuan
menyampaikan kritik, ketersediaan memperbaiki diri, solidaritas kelompok,
tanggung jawab, dan pemantauan secara berkala.
143
Kerjasama tim dalam pelayanan dapat mempengaruhi kualitas dan
keselamatan pasien di rumah sakit. Potensi konflik yang mungkin terjadi
dalam interaksi tim dapat berakibat pada pelaksanaan kerjasama tim dalam
pelayanan. Bekerja secara tim merupakan sebuah nilai yang harus dibangun
sebagai budaya dalam penerapan keselamatan pasien. Konflik yang muncul
dapat menurunkan persepsi individu atas kerjasama tim yang mengganggu
proses pelayanan dan berujung pada kemungkinan terjadinya insiden
keselamatan pasien. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bower et al.
(2003) dalam WHO (2009) bahwa kerja tim yang baik dapat membantu
mengurangi masalah keselamatan pasien, meningkatkan semangat anggota,
dan kesejahteraan tim sehingga tim akan berfungsi dari waktu ke waktu.
Adapun menurut Baker et al. (2005), kerja tim sangat dibutuhkan antar tim
medis untuk meningkatkan keselamatan pasien melalui pengurangan
kesalahan – kesalahan akibat adanya kerjasama tim antar petugas medis.
Upaya yang dapat dilakukan oleh pihak Manajemen Rumah Sakit AlIslam Bandung yaitu melaksanakan rapat rutin dengan mengundang setiap
kepala instalasi atau atasan langsung beserta beberapa anggotanya untuk
rutin membahas masalah – masalah internal terkait dengan kerjasama,
koordinasi antar unit, dan koordinasi antar tim terkait dengan keselamatan
pasien dan melaksanakan outbond bersama – sama antar perawat dan profesi
kesehatan lainnya untuk meningkatkan kerjasam tim.
2. Gangguan atau Interupsi yang Dialami oleh Perawat
Adanya gangguan atau interupsi yang dialami oleh perawat memiliki
kemungkinan untuk menimbulkan kesalahan – kesalahan yang dapat
144
berakibat fatal bagi pasien. Menurut teori Henrikson et al. (1993) dalam
Henriksen et al (2008) bahwa penyebab insiden keselamatan pasien salah
satunya disebabkan oleh faktor sifat dasar pekerjaan yang meliputi adanya
gangguan atau interupsi selama bekerja.
Persepsi perawat terhadap gangguan atau interupsi tinggi yaitu apabila
perawat merasakan adanya aktivitas atau kegiatan lain di luar tugas dan
tanggung jawabnya yang harus dilakukan pada saat sedang memberikan
pelayanan kesehatan kepada pasien atau keluarga pasien lebih banyak
dibandingkan kegiatan yang sesuai dengan tugas dan tanggung jawab
pekerjaannya.
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar perawat
mengalami gangguan atau interupsi rendah yaitu sebanyak 48 perawat atau
sebesar 63,2%. Sedangkan perawat yang mengalami gangguan atau
interupsi tinggi yaitu seabnyak 28 perawat atau sebesar 36,8% dan sebanyak
16 perawat atau sebesar 57,1% diantaranya cenderung lebih banyak tidak
pernah melakukan inisiden keselamatan pasien. Hasil distribusi jawaban
perawat yang merasakan gangguan atau interupsi tinggi disebabkan karena
ketika sedang melaksanakan tugas yang dirasakan oleh perawat paling
banyak disebabkan karena sering melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam
waktu yang sama sebesar 28,9%. Namun, secara keseluruhan perawat yang
mengalami gangguan atau interupsi rendah lebih banyak dibandingkan
dengan perawat yang mengalami gangguan atau interupsi tinggi. Sehingga,
adanya gangguan yang dialami oleh perawat ketika sedang melaksanakan
tugas yang menjadi tanggung jawabnya tidak memberatkan maupun
145
menyulitkan perawat untuk melakukan aktifitas atau kegiatan lain di luar
tugas dan tanggung jawabnya. Hal tersebut dapat tejadi dikarenakan
gangguan atau interupsi sudah membudaya di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung. Tugas perawat di ruang perawatan tidak hanya melakukan asuhan
keperawatan tetapi juga melakukan pekerjaan administrasi seperti pengisian
rekam medis, memfasilitasi pasien makan, berpakaian, mengantar dan
menjemput pasien saat konsul ke unit atau rumah sakit lain, serta mengisi
formulir lain yang terkait dengan asuhan keperawatan. Di luar itu, perawat
juga dilibatkan dalam kegiatan rumah sakit yang menyebabkan terjadinya
interaksi dengan banyak pihak dan terlibat dalam pekerjaan lain di luar
asuhan keperawatan.
146
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian “Gambaran Insiden Keselamatan Pasien
Berdasarkan Karakteristik Perawat, Organisasi, dan Sifat Dasar Pekerjaan di
Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada Periode 2012-2016”
yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 hingga November 2016,
menghasilkan simpulan sebagai berikut:
1. Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al-Islam Bandung pada periode
2012-2016 lebih banyak perawat yang tidak pernah melakukan insiden
keselamatan pasien sebanyak 46 perawat (60,5%) dibandingkan dengan
perawat yang pernah melakukan insiden keselamatan pasien sebanyak 30
perawat (39,5%) dalam satu tahun terakhir. Berdasarkan jenis insiden
keselamatan pasien yakni KTC lebih banyak pernah dilakukan oleh perawat
dibandingkan dengan jumlah perawat yang pernah melakukan KNC dan
KTD. Perawat yang pernah melakukan KTC sebanyak 28 perawat (36,8%),
perawat yang pernah melakukan KNC sebanyak 23 perawat (30,3%), dan
perawat yang pernah melakukan KTD sebanyak 20 perawat (26,3%).
2. Berdasarkan karakteristik perawat, perawat yang berusia ≤ 30 tahun
cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien sebesar 53,2%,
perawat yang memiliki pengetahuan kurang cenderung pernah melakukan
insiden keselamatan pasien sebesar 89,5%, perawat yang mengalami stres
tinggi cenderung pernah melakukan insiden keselamatan pasien sebesar
147
78,6%, dan perawat yang mengalami kelelahan tinggi cenderung pernah
melakukan insiden kselamatan pasien sebesar 55,2%.
3. Berdasarkan karakteristik organisasi, perawat yang memiliki komunikasi
kurang efektif cenderung tidak pernah melakukan insiden keselamatan
pasien sebesar 52,8% dan perawat yang memiliki persepsi kurang baik
terhadap implementasi SOP cenderung pernah melakukan insiden
keselamatan pasien sebesar 65,2%.
4. Berdasarkan karakteristik sifat dasar pekerjaan, perawat yang memiliki
kerjasama tim kurang cenderung pernah melakukan insiden keselamatan
pasien sebesar 68,4% dan perawat yang mengalami gangguan atau interupsi
tinggi cenderung tidak pernah melakukan insiden keselamatan pasien
sebesar 57,1%.
B. Saran
1. Bagi Rumah Sakit Al-Islam Bandung
a. Rumah
sakit
diharapkan
dapat
meneruskan
dan
meningkatkan
pelaksanaan program – program keselamatan pasien yang telah
dilaksanakan.
b. Sebaiknya pihak rumah sakit memberikan perhatian khusus pada perawat
yang berusia muda (< 30 tahun), misalnya dengan diberikan pengawasan
dan bimbingan langsung oleh supervisor.
c. Sebaiknya rumah sakit melakukan peningkatan pengetahuan perawat di
unit rawat inap terutama perawat yang masih memiliki tingkat
pengetahuan kurang dengan mengadakan upgrading pelatihan secara
rutin dan berkesinambungan. Setiap kali ada pelatihan tentang
148
keselamatan pasien harus dilakukan pretest dan post test agar dapat
dimonitor seberapa jauh perkembangan pengetahuan perawat tentang
keselamatan pasien.
d. Sebaiknya rumah sakit melakukan desain kembali beban kerja perawat
dengan melihat kuantitas SDM yang tersedia dengan memperhatikan
shift atau jadwal kerja pada perawat.
e. Sebaiknya rumah sakit dapat mengupayakan pendidikan lanjut
keperawatan minimal sampai dengan S1 Keperawatan sebagai suatu
bentuk reward untuk memotivasi perawat dalam upaya meningkatkan
semangat kerja perawat sehingga memberikan asuhan kepada pasien
menjadi lebih aman.
f. Sebaiknya kepala ruangan agar memberikan sosialisasi tentang SOP
terkait pelaporan insiden keselamatan pasien pada setiap akan memulai
pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien.
g. Sebaiknya pihak manajemen rumah sakit melaksanakan rapat rutin
dengan mengundang setiap kepala instalasi atau atasan langsung beserta
beberapa anggotanya untuk rutin membahas masalah – masalah internal
terkait dengan kerjasama, koordinasi antar unit, dan koordinasi antar tim
terkait dengan keselamatan pasien dan melaksanakan outbond bersama –
sama antar perawat dan profesi kesehatan lainnya untuk meningkatkan
kerjasam tim.
149
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
a. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian yang terkait dengan
menggunakan metode kualitatif agar hasil yang didapatkan lebih lengkap
dan lebih tergali secara mendalam.
b. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian mengenai
insiden keselamatan pasien dengan mengukur karakteristik lain yang
belum diteliti.
c. Peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengukur pengetahuan perawat
mencakup secara detail yang meliputi manfaat keselamatan pasien,
standar keselamatan pasien, jenis insiden keselamatan pasien, pelaporan
insiden keselamatan pasien, dan 6 sasaran keselamatan pasien yang
terdiri dari: 1) ketepatan identifikasi pasien, 2) peningkatan komunikasi
yang efektif, 3) peningkatan keamaman obat yang perlu diwaspadai, 4)
kepastian tepat lokai tepat prosedur dan tepat pasien operasi, 5)
pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan, dan 6)
pengurangan risiko pasien jatuh.
d. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan kuesioner HRS – A (Hamilton
Rtaing Scale Anxiety) yang mengembangkan tiga gejala stres yaitu gejala
psikologis, fisiologis, dan perilaku untuk mengukur tingkat stres kerja
yang dialami oleh responden.
e. Peneliti selanjutnya dapat menggunakan kuesioner KAUPK2 (Kuesioner
Alat Ukur Perasaan Kelelahan kerja) untuk mengukur tingkat perasaan
kelelahan kerja yang dialami oleh responden.
150
DAFTAR PUSTAKA
Agency For Healthcare Research and Quality (AHRQ). 2003. Diakses dari
https://www.ahrq.gov/ pada tanggal 27 Mei 2016.
Aprilia, S. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perawat dalam Penerapan
IPSG (Internasional Patient Safety Goal) Pada Akreditasi JCI (Joint
Commission International) di Instalasi Rawat Inap RS Swasta X Tahun 2011.
FKM UI.
Apriningsih, Desmawati., & Joesro, Mohamad. 2013. Kerjasama Tim dalam Budaya
Keselamatan Pasien di RS X (Studi Kualitatif di Suatu RSUD di Provinsi Jawa
Barat). Jurnal Ilmiah Kesehatan, 5 (3).
Arfan, A. N. 2014. Gambaran Determinan Insiden Keselamatan Pasien Pada
Petugas Kesehatan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Tahun 2014. FKM
Universitas Hasanuddin Makasar.
Aspden, Philip., Corrigan, Janet M., Wolcott, Julie., and Erickson, Shari M. 2004.
Patient Safety: Achieving A New Standard For Care. Washington, D.C.: The
National Academies Press.
Baker, et al. 2005. The Role of Teamwork in the Professional Education of
Physicians: Current Status and Assessment Recommendations. Diakses dari
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.473.8079&rep=re&t
ype=pdf pada tanggal 29 Juli 2016.
Ballard, K. A. 2003. Patient Safety: A Share Responsibility. Online Journal of Issues
in
Nursing.
Volume
8
No.3.
Diakses
dari
http://www.nursingworld.org/MainMenuCategories/ANAMarketplace/ANAPer
iodicals/OJIN/TableofContents/Volume82003/No3Sept2003/PatientSafety.html
pada tanggal 29 Juli 2016.
xxii
Bawelle, dkk. 2013. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan
Pelaksanaan Keselamatan Pasien (Patient Safety) di Ruang Rawat Inap RSUD
Liun Kendage Tahuna. Ejournal Keperawatan (e-Kp) Volume 1. Nomor 1.
Universitas Sam Ratulangi Manado.
Cahyono, A. 2015. Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Perawat
Terhadap Pengelolaan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit. Jurnal Ilmiah
WIDYA, Volume 2 No. 2.
Cahyono, J. B. 2008. Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam Praktik
Kedokteran.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Carayon, Pascale. & Ayse, P. Gurses. 2008. Nursing Workload and Patient Safety – A
Human Factors Enginnering Perspektive. Patient Safety and Quality: An
Advance – Based Handbook for Nurses. Chapter 30 Vol.2. Diakses dari
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:http://www.ahrq.gov/p
rofessionals/cliniciansproviders/resources/nursing/resources/nurseshdbk/Carayo
nP_NWPS.pdf pada tanggal 17 Mei 2016.
Data Keperawatan Rumah Sakit Al-Islam Bandung Tahun 2016.
Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia.
2006. Panduan Nasional
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient Safety): Utamakan Keselamatan
Pasien. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
2008. Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Patient
Safety): Utamakan Keselamatan Pasien. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Elrifda. 2011. Budaya Patient Safety dan Karakteistik Kesalahan Pelayanan:
Implikasi Kebijakan di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Jambi. Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 6 No.2.
xxiii
Gunibala, Moch. T. 2015. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Perawat dengan
Penerapan Patient Safety di RSUD Prof. Dr. Hi. Aloei Saboe Kota Gorontalo.
Fakultas Ilmu – Ilmu Kesehatan dan Keolahragaan Universitas Negeri
Gorontalo.
Hamdani, Siva. 2007. Analisis Budaya Keselamatan Pasien (Patient Safety Culture)
di Rumah Sakit Islam Jakarta Tahun 2007. FKM UI.
Hapsari, Raditya Wahyu. 2013. Hubungan Peran Perawat Sebagai Edukator dengan
Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman Paisen di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit
Umum dr. H. Koesnadi Kabupaten Bondowoso. Universitas Jember.
Hastono, Sutanto Priyo. 2007. Analisis Data Kesehatan. Depok: FKM UI.
Hastono, Sutanto Priyo., & Sabri, Luknis. 2010. Statistik Kesehatan. Jakarta:
Rajawali Pres.
Henriksen, K., et. al. 2008. Patient Safety and Quality: An Evidence Base Handbook
for Nurses. Rockville MD: Agency for Healthcare Research and Quality
Publications. Diakses dari http://www.ahrq.gov/QUAL/nurseshdbk/ pada
tanggal 17 Mei 2016.
2008. Understanding Adverse Events: A Human Factors Framework.
Diakses dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK2666/pdf/ch5.pdf pada
tanggal 17 Mei 2016.
Institute of Medicine (IOM). 2000. To Err is Human: Building a Safer Health System.
Washington D.C.: The National Academies Press.
Jalaluddin, Rakhmat. 2008. Psikologi Komunikasi [e-book]. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Diakses
dari
http://www.e-bookspdf.org/download/jalaludin
rakhmat-psikologi-komunikasi-rosdakarya.html pada tanggal 29 Juli 2016.
xxiv
Joint Commission International (JCI). 2007. Meeting the International Patient Safety
Goals. ISBN: 978-1-59940-158-4.
2011. Standar Akreditasi Rumah Sakit, Enam Sasaran Keselamatan
Pasien. Edisi ke-4.
Kaplan, H. 2002. Alertness to Danger When Rates of Injury are Low. Institute od
Medicine Committee.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 129/MENKES/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
.2011.
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia
No.
1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Kertadikara, P. 2008. Patient Safety: Paradigma Baru Layanan Medis. Diakses dari
http://kertadikara.blogspot.com/ pada tanggal 23 Februari 2017.
Kohn, Linda T., Corrigan, Janet M., and Donaldson, Molla S. 2000. To Err Is
Human: Building a Safer Health System. Wahington, D.C.: The National
Academies Press.
Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). 2012. Instrumen Akreditasi Rumah Sakit
Standar Akreditasi Versi 2012. Edisi-1.
Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS). 2008. Pedoman Pelaporan
Insiden Keselamatan Pasien (Patient Safety Incident Report). Jakarta: KKPRS
PERSI.
2010.
Laporan
Insiden
Keselamatan
Pasien.
Diakses
dari
www.inapatsafety-persi.or.id/umpanbalik Laporan_ikp1.pdf pada tanggal 24
Mei 2016.
xxv
2011. Laporan Insiden Keselamatan Pasien. Jakarta: Badan Pusat
Statistik.
Komite Keselamatan Paisen Rumah Sakit Al-Islam Bandung. Tahun 2013 – 2015.
Laporan Insiden Keselamatan Pasien Komite Keselamatan Paisen Rumah Sakit
Al-Islam Bandung Tahun 2013 – 2015.
Kuncoro. 2012. Hubungan Pengetahuan, Sikap dan Kualitas Kerja dengan Kinerja
Perawat dalam Penerapan Sistem Keselamatan Pasien.
Lestari, dkk. 2013. Konsep Manajemen Keselamatan Pasien Berbasis Program di
RSUD Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. FKG. Universitas Padjajaran.
Lim, A. 2010. New Course Tackles Patient Safety. Australian Nursing Journal. North
Fitzroy.
Manojlovich, M., et.al. 2007. Healthy Work Environment, Nurses- Physician
Communication, and Patinent’s Outcomes. American Journal of Critical Care
Vol. 16.
Marjani, Farida. 2015. Pengaruh Dokumentasi Timbang Terima Paisen dengan
Metode Situation Background Assessment Recomendation (SBAR) terhadap
Insiden Keselamatan Pasien di Ruang Medical Bedah RS. Panti Waluyo. Stikes
Kusuma Husada Surakarta.
Mattox, E. A. 2012. Strategies for improving patient safety: Linkingt ask type to error
type.
Critical
Care
Nurse.
Vol.
32/No.1.
Diakses
pada
http://web.ebscohost.com/ehost/detail?vid=25&hid=118&sid=b9117e5d-bab14cae-9010-559f1406d321%40sessionmgr1 pada tanggal 1 Juni 2016.
Mulyana, Dede Sri. 2013. Analisis Penyebab Insiden Kesehatan Pasien oleh Perawat
di Unit Rawat Inap Rumah Sakit X Jakarta. Tesis: FKM UI.
xxvi
Mustikawati, Y. H. 2011. Analisis Determinan Kejadian Nyaris Cedera dan Kejaidna
Tidak Diharapkan di Unit Perawatan Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta.
Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan UI.
Nurmalia. 2012. Pengaruh Program Mnetoring Keperawatan terhadap Penerapan
Budaya Keselamatan Paisen di Ruang Rawat Inap RS Sultan Agung Semarang.
Tesis. FKM UI.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
2010. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
2010. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
O’Daniel
and
Roseinsten.
2008.
Professional
Communication
and
Team
Collaboration. Patient Safety and Quality: An Evidence-Based Handbook for
Nurses. Diakses dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK2637/pdf/ch33.
pdf pada tanggal 29 Juli 2016.
Peters and Peters. 2008. Medical Error and Patient Safety; Human Factors in
Medicine [e-book].
London, New
York:
CRC
Press.
Diakses
dari
http://www.freebookspot.es/Comments.aspx?Element_ID=364411 pada tanggal
17 Mei 2016.
Potter, P. A & Perry, A.G. 2009. Fundamental of Nursing: Concepts, Prosess &
Practice. St Louis: Mosby Year Book. Inc. Jakarta: ECG.
Reason, J. 2000. Human Error: modes and management. BMJ: 320( 7237): 768-770.
Diakses dari http://www.bmj.com/content/320/7237/768 pada tanggal 29 Juli
2016.
xxvii
Reader, et al. 2006. Communication skills and error in the intensive care unit.
Wolters Kluwer Health. Diakses dari http://www.pdfio.com/k-6647985.html
pada tanggal 29 Juli 2016.
Robbins, S. P. 2003. Perilaku Organisasi. Edisi ke-10. Jakarta: PT. Indeks Gramedia.
Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Setiowati, Dwi. 2010. Hubungan Kepemimpinan Efektif Head Nurse dengan
Penerapan Budaya Keselamatan Pasien oleh Perawat Pelaksana di RSUPN
Dr. Cipto Mangkusumo Jakarta. Tesis, Universitas Indonesia.
Setyarini, dkk. 2013. Kepatuhan Perawat Melaksanakan Standar Prosedur
Operasional Pencegahan Pasien Resiko Jatuh di Gedung Yosep 3 Dago dan
Surya Kencana Rumah Sakit Borromeus.
Jurnal Kesehatan. STIKes Santo
Borromeus.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sutriningsih, Ani., & Harus, Bernadeta Dece. 2015. Pengetahuan Perawat tentang
Keselamatan Paisen dengan Pelaksanaan Prosedur keselamatan Pasien Rumah
Sakit (KPRS) di Rumah Sakit Panti Walyu Sawahan Malang. Jurnal CARE,
Vol. 3, No.1.
Stanley. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Tobing, Erida R. L. 2007. Gambaran Stres Kerja pada Perawat di Ruang TB Paru di
Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang Kecamatan Sidikalang Kabupaten
Dairi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, Medan.
xxviii
World Health Organization (WHO). 2005. World Allience For Patient Safety: WHO
Draft Guidelines For Adverse Events Reporting and Learning System. WHO:
Geneva. Diakses dari http://osp.od.nih.gov/sites/default/files/resources/Reportin
g_Guidelines.pdf pada tanggal 24 Mei 2016.
2007.
Nine
Life
Saving
Patient
Safety
Solution.
Diakses
dari
http://www.who.int pada tanggal 12 Desember 2016.
2009. Human Factors in Patient Safety Review of Topics and Tools. Diakses
dari http://www.who.int/patientsafety/research/methods_measures/human_facto
rs/human_factors_review.pdf pada tanggal 24 Mei 2016.
Yahya, A. A. 2006. Konsep dan Program Patient Safety. Bandung: Konvensi
Nasional Mutu Rumah Sakit.
xxix
xxx
No.Responden
KUESTIONER PENELITIAN
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INSIDEN
KESELAMATAN PASIEN DI UNIT RAWAT INAP RUMAH SAKIT AL-ISLAM
BANDUNG TAHUN 2016
Kepada Yth
Bapak/Ibu/Saudara/i Perawat Unit Rawat Inap
di Rumah Sakit Al-Islam Bandung
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam Hormat
Saya Fitri Handayani Mahasiswi Program Studi Kesehatan Masyarakat Peminatan
Manajemen Pelayanan Kesehatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta akan mengadakan penelitian mengenai
“Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Insiden Keselamatan Pasien di Rumah Sakit
Al-Islam Bandung Tahun 2016”.
Penelitian ini tidak menimbulkan akibat yang merugikan Bapak/Ibu/Saudara/i
sebagai responden. Informasi yang diberikan akan dijaga kerahasiaannya dan hanya
digunakan untuk kepentingan penelitian ini. Oleh karena itu saya mohon kesediaan
Bapak/Ibu/Saudara/i untuk menjawab kuestioner ini dengan sejujur-jujurnya dan
memberikan penilaian yang objektif sesuai fakta yang ada.
Pernyataan dalam kuestioner ini merupakan pernyataan yang menggambarkan
kondisi umum pekerjaan Bapak/Ibu/Saudara/i selama bekerja di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung. Bantuan Bapak/Ibu/Saudara/i akan sangat membantu dan besar manfaatnya
dalam penelitiaan ini. Atas kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i dalam mengisi kuestioner
ini, saya mengucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
A. Latar Belakang Responden
Nama Responden
:....................................................................
Ruang
:....................................................................
Usia (*wajib diisi)
:....................................................................
Bandung, November 2016
Tanda Tangan Responden
Peneliti
Fitri Handayani
B. Petunjuk Pengisian
1. Survei ini bertujuan untuk meminta Bapak/Ibu/Saudara/i memberikan pendapat
mengenai keselamatan pasien di rumah sakit Bapak/Ibu/Saudara/i. Survei ini kirakira memerlukan 10 – 15 menit untuk mengisi keseluruhan pernyataan.
2. Kuesioner ini bukan tes dengan jawaban benar atau salah, yang terpenting adalah
menjawab pernyataan dengan jujur sesuai pendapat dan keadaan yang sebenarnya.
3. Kuestioner ini dapat digunakan secara optimal bila semua pertanyaan dijawab,
oleh karena itu mohon teliti kembali apakah semua pernyataan semua telah
terjawab sebelum dikembalikan kepada peneliti.
C. Kuestioner Penelitian
Pengetahuan
A. Petunjuk pengisian :
Berilah jawaban yang menurut Bapak/Ibu/Saudara/i benar pada pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda
(√) pada kolom yang tersedia.
Kode
[A1]
A.
[A2]
[A3]
[A4]
[A5]
[A6]
[A7]
[A8]
[A9]
Pertanyaan
Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem di mana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih
aman. Sistem tersebut meliputi, kecuali.....
asessmen
implementasi
solusi
pelaporan
dan
terciptanya
budaya
resiko
untuk
meminimalkan
analisis insiden
keselamatan pasien di
timbulkan resiko
rumah sakit
Rumah Sakit Al-Islam Bandung telah menerapkan keselamatan pasien sejak tahun?
2010
2009
2008
2007
Kejadian tidak diharapkan (KTD) adalah..........
suatu insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak mengakibatkan cidera.
suatu kondisi yang sangat berpotensi untuk menimbulkan cidera, tetapi belum terjadi insiden.
suatu kejadian yang tidak diharapkan yang mengakibatkan cidera pada pasien akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit
dasarnya atau kondisi pasien.
terjadinya insiden yang belum sampai terpapar ke pasien.
Setiap terjadi insiden harus dilaporkan secara internal kepada TKPRS (Tim Keselamatan Pasien Rumah
Sakit) dalam waktu paling lambat, adalah...........
1 x 24 jam
2 x 24 jam
3 x 24 jam
4 x 24 jam
Diperlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, yaitu dengan......
nomor rekam medik
nama pasien dan
nomor rekam medik
semua
jawaban
dan nomor kamar
nomor kamar
dan nama pasien
benar
Pemberian obat kepada pasien dilakukan dengan prinsip............
7 benar 1 dok
6 benar 1 dok
5 benar 1 dok
4 benar 1 dok
Prosedur mencuci tangan yang baik benar sesuai standar yang ditetapkan oleh WHO, terdiri dari.........
5 langkah
6 langkah
7 langkah
8 langkah
Berikut ini yang bukan termasuk kedalam Five moments for hand hygiene atau 5 moment krusial
mencuci tangan pada petugas kesehatan untuk mengoptimalkan kebersihan tangan disaat, yaitu....
sebelum
setelah
melakukan
setelah menyentuh
sebelum menyentuh
menyentuh
tindakan
–
tindakan
daerah
sekitas
keluarga pasien
pasien
invasive
pasien
Pengkajian resiko pasien jatuh dengan form dilakukan saat...........
Pasien mengalami
angka
kejadian
tak
pasien
ada instruksi dari
cedera akibat jatuh
diharapkan (KTD) meningkat
masuk
dokter
rawat inap
B. Petunjuk pengisian :
Berilah jawaban yang menurut Bapak/Ibu/Saudara/i sesuai pada pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda
ceklis (√) pada kolom yang tersedia.
Pilihan Jawaban :
STS = Sangat Tidak Setuju
TS = Tidak Setuju
S = Setuju
SS = Sangat Setuju
STS
TS
S
SS
Kode
Pernyataan
1
2
3
4
Stress Perawat
[B1] Pimpinan dan rekan kerja saya saling mendukung satu sama
lain sehingga tercipta situasi yang kondusif ditempat kerja
[B2] Saya mampu menjaga kosentrasi kerja saat sedang sibuk
[B3] Jadwal kerja dan peraturan di rumah sakit tidak
memungkinkan saya untuk memulihkan semangat kerja
Kelelahan Perawat
[B4] Jumlah perawat di unit tempat bekerja sudah sesuai dengan
beban kerja perawat
[B5] Perawat melakukan kesalahan dalam pelayanan pasien karena
bekerja melebihi dari ketentuan yang ada dan terlalu banyak
tugas yang harus dikerjakan
[B6] Merasakan kenyamanan dengan jadwal kerja yang sudah
ditetapkan
Implementasi SOP (Standar Operasional Prosedur)
[C1] Ketika terjadi insiden keselamatan pasien diharuskan untuk
melaporkan insiden tersebut kepada Kepala unit terkait untuk
mendapatkan tindak lanjut.
[C2] Setelah ditindaklanjuti kejadian insiden keselamatan pasien,
menyegerakan untuk membuat laporan insiden dengan mengisi
formulir laporan insiden pada akhir jam kerja/shift kepada
kepala unit terkait
[C3] Ketika terjadi suatu insiden keselamatan pasien paling lambat
dilaporkan selama 2 x 24 jam setelah terjadinya insiden
keselamatan pasien
[C4] Pelaporan insiden keselamatan pasien bertujuan untuk
mengetahui penyebab insiden keselamatan pasien sampai pada
akar masalahnya
[C5] Setiap terjadi suatu insiden keselamatan pasien mendapatkan
tindaklanjut dari Komite Keselamatan Pasien
Kerjasama Tim
[D1] Kami sesama staf di unit ini saling mendukung satu sama lain
[D2] Jika banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat,
kami saling bekerja sama sebagai tim
[D3] Saya merasa setiap orang di unit ini saling menghargai satu
sama lain
[D4] Bila suatu area di unit ini sibuk, maka perawat di area lain
akan membantu
[D5] Kami merasa ada kerja sama yang baik antar unit di rumah
sakit saat menyelesaikan pekerjaan bersama
[D6] Unit satu dengan unit lain di rumah sakit ini tidak
berkoordinasi dengan baik
[D7] Saya sering kali merasa tidak nyaman bila harus bekerja sama
dengan staf unit lain di rumah sakit ini
Kode
Pernyataan
Komunikasi
[E1] Manajer saya memberikan umpan balik ke arah perbaikan
berdasarkan laporan kejadian insiden
[E2] Kami bebas mengungkapkan pendapat jika melihat sesuatu
yang bisa berdampak negatif terhadap pelayanan pasien
[E3] Kami diberi tahu mengenai kesalahan – kesalahan yang terjadi
di unit kami
[E4] Kami merasa bebas untuk bertanya kepada sesama perawat
lain/dokter tentang keputusan maupun tindakan yang diambil
di unit ini
[E5] Di unit ini kami mendiskusikan dengan sesama perawat/dokter
bagaimana cara untuk mencegah insiden supaya tidak terjadi
kembali
Gangguan/Interupsi
[F1] Anda mendapatkan pekerjaan lain di luar tugas dan tanggung
jawab sebagai perawat pelaksana
[F2] Pada saat bekerja melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam
waktu yang sama
[F3] Saya mendapatkan pekerjaan lain yang harus dilakukan ketika
sedang melaksanakan tugas
Tidak
Pernah
1
Jarang
2
Sering
3
Selalu
4
C. Petunjuk pengisian :
Berilah jawaban yang menurut Bapak/Ibu/Saudara/i sesuai pada pertanyaan di bawah ini dengan memberi
tanda ceklis (√) pada kolom yang tersedia.
Pilihan Jawaban :
Kuesioner Tentang Insiden Keselamatan Pasien
Pilihan jawaban :
1. Tidak Pernah : (>5 tahun sekali)
2. Jarang
: (>2-5 tahun sekali)
3. Sering
: (beberapa kali/tahun)
4. Selalu
: (Tiap minggu/bulan)
Seberapa sering kejadian di bawah ini terjadi di area kerja/unit kerja Anda?
Tidak
Kode
Pernyataan
Pernah Jarang Sering
Selalu
1
2
3
4
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)
[G1] Melaksanakan tindakan kepada pasien yang mengakibatkan
cedera pada pasien
[G2] Salah memberikan tindakan kepada pasien sehingga
menyebabkan pasien mengalami gangguan kesehatan lain di
luar penyakitnya
[G3] Pasien yang dirawat ditempat saya bekerja terjatuh dari
tempat tidur sehingga pasien mengalami cedera karena tidak
melakukan identifikasi dan pengelolaan risiko pasien
[G4] Terjadi kesalahan dalam pengisian data rekam medik pasien,
sehingga saya melakukan kesalahan dalam pemberian
tindakan kepada pasien yang mengakibatkan pasien cedera
[G5] Komunikasi antara petugas tidak efektif sehingga terjadi
insiden yang merugikan pasien
Kejadian Nyaris Cedera (KNC)
[G6] Memberikan tindakan kepada pasien yang mengakibatkan
insiden yang telah terpapar ke pasien tetapi tidak
mengakibatkan cedera pada pasien
[G7] Salah memberikan tindakan kepada pasien tetapi tidak
mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan lain
[G8] Terjadi kesalahan dalam pengisian data rekam medik pasien,
sehingga saya melakukan kesalahan dalam pemberian
tindakan tetapi pasien tidak mengalami cedera
[G9] Pasien yang dirawat ditempat Anda bekerja terjatuh dari
tempat tidur tetapi pasien tidak mengalami cedera
[G10] Komunikasi antara petugas tidak efektif sehingga terjadi
insiden tetapi tidak mengakibatkan cedera pada pasien
Kejadian Tidak Cedera (KTC)
[G11] Pasien saya hampir mengalami insiden tetapi tidak jadi
karena segera diketahui oleh petugas yang lain
[G12] Terjadi kesalahan dalam pengisian data rekam medik pasien,
tetapi segera diketahui dan dilakukan perbaikan
[G13] Pasien yang dirawat ditempat Anda bekerja hampir terjatuh
dari tempat tidur tetapi tidak jadi karena segera diketahui
oleh petugas
[G14] Komunikasi antara petugas tidak efektif tetapi tidak terjadi
insiden pada pasien
Terima Kasih Atas kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/i untuk mengisi kuesioner ini.
Mohon untuk diperiksa kembali jawaban Anda dan pastikan sudah lengkap tersisi
semua.
LAMPIRAN HASIL OUTPUT SPSS
Kategori_IKP
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Pernah
30
39.5
39.5
39.5
Tidak Pernah
46
60.5
60.5
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_KTD
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Pernah
20
26.3
26.3
26.3
Tidak Pernah
56
73.7
73.7
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_KNC
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Pernah
23
30.3
30.3
30.3
Tidak Pernah
53
69.7
69.7
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_KTC
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Pernah
28
36.8
36.8
36.8
Tidak Pernah
48
63.2
63.2
100.0
Total
76
100.0
100.0
UJI NORMALITAS
Descriptives
Statistic
Skor_PengetahuanPerawat
Mean
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
6.94
Upper Bound
7.45
5% Trimmed Mean
7.22
Median
7.00
Variance
1.254
Std. Deviation
1.120
Minimum
5
Maximum
9
Range
4
Interquartile Range
.128
2
Skewness
Skor_Komunikasi
Std. Error
7.20
-.168
.276
Kurtosis
-.546
.545
Mean
16.34
.224
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
15.90
Upper Bound
16.79
5% Trimmed Mean
16.28
Median
16.00
Variance
3.828
Std. Deviation
1.957
Minimum
13
Maximum
20
Range
7
Interquartile Range
3
Skewness
Kurtosis
Skor_GangguanInterupsi
Mean
95% Confidence Interval for
Mean
.244
Upper Bound
9.72
5% Trimmed Mean
9.31
Median
9.00
Variance
4.530
Std. Deviation
2.128
Minimum
3
Maximum
12
9
3
Skewness
-.276
.276
Kurtosis
-.544
.545
9.49
.144
Mean
95% Confidence Interval for
Mean
Lower Bound
9.20
Upper Bound
9.77
5% Trimmed Mean
9.47
Median
9.00
Variance
1.586
Std. Deviation
1.260
Minimum
7
Maximum
12
Range
5
Interquartile Range
1
Skewness
Kurtosis
Mean
95% Confidence Interval for
Mean
.442
.276
-.128
.545
8.91
.113
Lower Bound
8.68
Upper Bound
9.13
5% Trimmed Mean
8.88
Median
9.00
Variance
.965
Std. Deviation
.982
Minimum
7
Maximum
12
Range
5
Interquartile Range
2
Skewness
Kurtosis
Skor_ImplementasiSOP
.545
9.24
8.75
Interquartile Range
Skor_KelelahanPerawat
.276
Lower Bound
Range
Skor_StresPerawat
.556
-.935
Mean
95% Confidence Interval for
Mean
.449
.276
.178
.545
16.86
.221
Lower Bound
16.41
Upper Bound
17.30
5% Trimmed Mean
16.83
Median
16.00
Variance
3.725
Std. Deviation
1.930
Minimum
14
Maximum
20
Range
6
Interquartile Range
4
Skewness
Kurtosis
Skor_KerjasamaTim
Mean
95% Confidence Interval for
Mean
.496
.276
-1.225
.545
22.74
.296
Lower Bound
22.15
Upper Bound
23.33
5% Trimmed Mean
22.71
Median
22.00
Variance
6.676
Std. Deviation
2.584
Minimum
16
Maximum
28
Range
12
Interquartile Range
3
Skewness
.470
.276
Kurtosis
.480
.545
DISTRIBUSI FREKUENSI
Kategori_UsiaPerawat
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
< 30 Tahun
47
61.8
61.8
61.8
> 30 Tahun
29
38.2
38.2
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_PengetahuanPerawat
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Pengetahuan Kurang
19
25.0
25.0
25.0
Pengetahuan Baik
57
75.0
75.0
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_StresPerawat
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Stres Tinggi
14
18.4
18.4
18.4
Stres Rendah
62
81.6
81.6
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_KelelahanPerawat
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Kelelahan Tinggi
29
38.2
38.2
38.2
Kelelahan Rendah
47
61.8
61.8
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_Komunikasi
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Komunikasi Tidak Efektif
36
47.4
47.4
47.4
Komunikasi Efektif
40
52.6
52.6
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_ImplementasiSOP
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Implementasi SOP Kurang
23
30.3
30.3
30.3
Implementasi SOP Baik
53
69.7
69.7
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_KerjasamaTim
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Kerjasama Tim Kurang
19
25.0
25.0
25.0
Kerjasama Tim Baik
57
75.0
75.0
100.0
Total
76
100.0
100.0
Kategori_GangguanInterupsi
Frequency
Valid
Gangguan/Interupsi Tinggi
28
Gangguan/Interupsi Rendah
48
Total
76
Percent
Valid Percent
36.8
Cumulative Percent
36.8
36.8
63.2
63.2
100.0
100.0
100.0
OUTPUT TABULASI SILANG
Kategori_UsiaPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_UsiaPerawat
< 30 Tahun
> 30 Tahun
Total
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
25
22
47
% within Kategori_UsiaPerawat
53.2%
46.8%
100.0%
Count
5
24
29
% within Kategori_UsiaPerawat
17.2%
82.8%
100.0%
Count
30
46
76
% within Kategori_UsiaPerawat
39.5%
60.5%
100.0%
Kategori_PengetahuanPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_PengetahuanPer
awat
Pengetahuan
Kurang
Pengetahuan
Baik
Total
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
17
2
19
% within
Kategori_PengetahuanPerawat
89.5%
10.5%
100.0%
Count
13
44
57
% within
Kategori_PengetahuanPerawat
22.8%
77.2%
100.0%
Count
30
46
76
% within
Kategori_PengetahuanPerawat
39.5%
60.5%
100.0%
Kategori_StresPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_StresPerawat
Stres Tinggi
Stres Rendah
Total
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
11
3
14
% within Kategori_StresPerawat
78.6%
21.4%
100.0%
Count
19
43
62
% within Kategori_StresPerawat
30.6%
69.4%
100.0%
Count
30
46
76
Kategori_StresPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_StresPerawat
Stres Tinggi
Stres Rendah
Total
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
11
3
14
% within Kategori_StresPerawat
78.6%
21.4%
100.0%
Count
19
43
62
% within Kategori_StresPerawat
30.6%
69.4%
100.0%
Count
30
46
76
% within Kategori_StresPerawat
39.5%
60.5%
100.0%
Kategori_KelelahanPerawat * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_KelelahanPe
rawat
Kelelahan Tinggi
Kelelahan Rendah
Total
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
16
13
29
% within
Kategori_KelelahanPerawat
55.2%
44.8%
100.0%
Count
14
33
47
% within
Kategori_KelelahanPerawat
29.8%
70.2%
100.0%
Count
30
46
76
% within
Kategori_KelelahanPerawat
39.5%
60.5%
100.0%
Kategori_Komunikasi * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_Komunikasi
Komunikasi Tidak
Efektif
Komunikasi Efektif
Total
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
17
19
36
% within Kategori_Komunikasi
47.2%
52.8%
100.0%
Count
13
27
40
% within Kategori_Komunikasi
32.5%
67.5%
100.0%
Count
30
46
76
% within Kategori_Komunikasi
39.5%
60.5%
100.0%
Kategori_ImplementasiSOP * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_ImplementasiSO
P
Implementasi SOP
Kurang
Implementasi SOP
Baik
Total
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
15
8
23
% within
Kategori_ImplementasiSOP
65.2%
34.8%
100.0%
Count
15
38
53
% within
Kategori_ImplementasiSOP
28.3%
71.7%
100.0%
Count
30
46
76
% within
Kategori_ImplementasiSOP
39.5%
60.5%
100.0%
Kategori_KerjasamaTim * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_KerjasamaTim
Kerjasama Tim Kurang
Kerjasama Tim Baik
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
13
6
19
% within
Kategori_KerjasamaTim
68.4%
31.6%
100.0%
Count
17
40
57
% within
Kategori_KerjasamaTim
29.8%
70.2%
100.0%
Count
30
46
76
% within
Kategori_KerjasamaTim
39.5%
60.5%
100.0%
Total
Kategori_GangguanInterupsi * Kategori_IKP Crosstabulation
Kategori_IKP
Kategori_GangguanInt
erupsi
Gangguan/Interupsi
Tinggi
Gangguan/Interupsi
Rendah
Pernah
Tidak Pernah
Total
Count
16
12
28
% within
Kategori_GangguanInterupsi
57.1%
42.9%
100.0%
Count
14
34
48
% within
Kategori_GangguanInterupsi
29.2%
70.8%
100.0%
Count
30
46
76
% within
Kategori_GangguanInterupsi
39.5%
60.5%
100.0%
Total
DISTRIBUSI ITEM PERTANYAAN
A1
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
0
25
32.9
32.9
32.9
1
51
67.1
67.1
100.0
Total
76
100.0
100.0
A2
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
0
39
51.3
51.3
51.3
1
37
48.7
48.7
100.0
Total
76
100.0
100.0
A3
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
0
10
13.2
13.2
13.2
1
66
86.8
86.8
100.0
Total
76
100.0
100.0
A4
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
0
25
32.9
32.9
32.9
1
51
67.1
67.1
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
0
13
17.1
17.1
17.1
1
63
82.9
82.9
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
17
22.4
22.4
22.4
A5
Valid
Cumulative Percent
A6
Valid
0
1
59
77.6
77.6
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
100.0
A7
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
0
6
7.9
7.9
7.9
1
70
92.1
92.1
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
76
100.0
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
A8
Valid
1
A9
Valid
0
2
2.6
2.6
2.6
1
74
97.4
97.4
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
3
44
57.9
57.9
57.9
4
32
42.1
42.1
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
D1
Valid
Cumulative Percent
D2
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
2
5
6.6
6.6
6.6
3
60
78.9
78.9
85.5
4
11
14.5
14.5
100.0
Total
76
100.0
100.0
D3
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
1
1
1.3
1.3
1.3
2
19
25.0
25.0
26.3
3
36
47.4
47.4
73.7
4
20
26.3
26.3
100.0
Total
76
100.0
100.0
D4
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
7
9.2
9.2
9.2
3
58
76.3
76.3
85.5
4
11
14.5
14.5
100.0
Total
76
100.0
100.0
D5
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
26
34.2
34.2
34.2
3
37
48.7
48.7
82.9
4
13
17.1
17.1
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
100.0
D6
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
2
3
3.9
3.9
3.9
3
68
89.5
89.5
93.4
100.0
4
5
6.6
6.6
Total
76
100.0
100.0
E1
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
3
29
38.2
38.2
38.2
4
47
61.8
61.8
100.0
Total
76
100.0
100.0
E2
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
1
1
1.3
1.3
1.3
3
45
59.2
59.2
60.5
4
30
39.5
39.5
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
7
9.2
9.2
9.2
3
45
59.2
59.2
68.4
4
24
31.6
31.6
100.0
Total
76
100.0
100.0
E3
Valid
E4
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
3
48
63.2
63.2
63.2
4
28
36.8
36.8
100.0
Total
76
100.0
100.0
E5
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
5
6.6
6.6
6.6
3
45
59.2
59.2
65.8
4
26
34.2
34.2
100.0
Total
76
100.0
100.0
F1
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
3
39
51.3
51.3
51.3
4
37
48.7
48.7
100.0
Total
76
100.0
100.0
F2
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid
2
1
1.3
1.3
1.3
3
45
59.2
59.2
60.5
4
30
39.5
39.5
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
3
44
57.9
57.9
57.9
4
32
42.1
42.1
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
F3
Valid
Cumulative Percent
F4
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
1
3
3.9
3.9
3.9
2
8
10.5
10.5
14.5
3
43
56.6
56.6
71.1
4
22
28.9
28.9
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
1
1.3
1.3
1.3
F5
Valid
1
2
3
3.9
3.9
5.3
3
47
61.8
61.8
67.1
4
25
32.9
32.9
100.0
Total
76
100.0
100.0
F6
Valid
1
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
10
13.2
13.2
13.2
2
7
9.2
9.2
22.4
3
33
43.4
43.4
65.8
4
26
34.2
34.2
100.0
Total
76
100.0
100.0
F7
Valid
1
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
6
7.9
7.9
7.9
2
7
9.2
9.2
17.1
3
37
48.7
48.7
65.8
4
26
34.2
34.2
100.0
Total
76
100.0
100.0
B1
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
1
1.3
1.3
1.3
3
39
51.3
51.3
52.6
4
36
47.4
47.4
100.0
Total
76
100.0
100.0
B2
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
1
1.3
1.3
1.3
3
56
73.7
73.7
75.0
4
19
25.0
25.0
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
B3
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
2
2
2.6
2.6
2.6
3
50
65.8
65.8
68.4
4
24
31.6
31.6
100.0
Total
76
100.0
100.0
B4
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
4
5.3
5.3
5.3
3
54
71.1
71.1
76.3
4
18
23.7
23.7
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
B5
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
1
1
1.3
1.3
1.3
2
11
14.5
14.5
15.8
3
38
50.0
50.0
65.8
4
26
34.2
34.2
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
1
1
1.3
1.3
1.3
2
12
15.8
15.8
17.1
3
33
43.4
43.4
60.5
4
30
39.5
39.5
100.0
Total
76
100.0
100.0
C1
Valid
C2
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
1
3
3.9
3.9
3.9
2
22
28.9
28.9
32.9
3
26
34.2
34.2
67.1
4
25
32.9
32.9
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
C3
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
1
2
2.6
2.6
2.6
2
17
22.4
22.4
25.0
3
31
40.8
40.8
65.8
4
26
34.2
34.2
100.0
Total
76
100.0
100.0
G1
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
3
4
5.3
5.3
5.3
4
72
94.7
94.7
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
G2
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
3
5
6.6
6.6
6.6
4
71
93.4
93.4
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
3
13
17.1
17.1
17.1
4
63
82.9
82.9
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
1
1.3
1.3
1.3
3
4
5.3
5.3
6.6
4
71
93.4
93.4
100.0
Total
76
100.0
100.0
G3
Valid
Cumulative Percent
G4
Valid
G5
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
1
1.3
1.3
1.3
3
9
11.8
11.8
13.2
4
66
86.8
86.8
100.0
Total
76
100.0
100.0
G6
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
3
5
6.6
6.6
6.6
4
71
93.4
93.4
100.0
Total
76
100.0
100.0
G7
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
3
6
7.9
7.9
7.9
4
70
92.1
92.1
100.0
Total
76
100.0
100.0
G8
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
1
1.3
1.3
1.3
3
9
11.8
11.8
13.2
4
66
86.8
86.8
100.0
Total
76
100.0
100.0
2
G9
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
2
2.6
2.6
2.6
3
13
17.1
17.1
19.7
4
61
80.3
80.3
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
G10
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
2
1
1.3
1.3
1.3
3
13
17.1
17.1
18.4
4
62
81.6
81.6
100.0
Total
76
100.0
100.0
G11
Valid
1
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
1
1.3
1.3
1.3
2
5
6.6
6.6
7.9
3
16
21.1
21.1
28.9
4
54
71.1
71.1
100.0
Total
76
100.0
100.0
G12
Valid
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
4
5.3
5.3
5.3
3
21
27.6
27.6
32.9
4
51
67.1
67.1
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
2
10
13.2
13.2
13.2
3
13
17.1
17.1
30.3
4
53
69.7
69.7
100.0
Total
76
100.0
100.0
Frequency
Percent
G13
Valid
G14
Valid
Valid Percent
Cumulative Percent
2
1
1.3
1.3
1.3
3
17
22.4
22.4
23.7
4
58
76.3
76.3
100.0
Total
76
100.0
100.0
Download