Pembangunan Politik

advertisement
BAB V
PEMBANGUNAN POLITIK
A. UMUM
Sejak bekerjanya Kabinet Gotong Royong pada 2001, secara
umum dapat dikatakan bahwa proses demokratisasi yang menjadi
kebijakan umum reformasi politik telah berjalan pada jalur dan arah
yang benar. Pada tingkat masyarakat, antusiasme berpolitik melalui
organisasi partai politik cukup tinggi, walaupun masih tetap terlihat
adanya ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan partisipasi
masyarakat dalam proses demokratisasi, berupa masih kuatnya budaya
kekerasan dan meluasnya praktek-praktek politik uang. Pada tingkat
negara, ada konsensus yang cukup tinggi untuk terus membenahi dan
memberdayakan lembaga-lembaga penting demokrasi pada semua
tingkat, meskipun tetap menghadapi hambatan berupa masih
longgarnya nilai-nilai kepatuhan pada peraturan perundangan dan
lemahnya tradisi dalam berdemokrasi.
Pada sisi lain, begitu tingginya harapan dan antusiasme terhadap
reformasi pada awal-awal proses demokratisasi, merupakan amanat
dan pekerjaan rumah yang besar untuk merealisasikannya menjadi
hasil-hasil yang konkret untuk rakyat. Di sinilah tantangan pemerintah
dan partai-partai politik yang sesungguhnya, yakni menyiapkan
wacana berkelanjutan bagi masyarakat mengenai hakekat demokrasi,
berbagai dilema yang menyertai demokratisasi, serta peluang dan
harapan dalam demokrasi yang tidak mungkin dicapai melalui jalan
otoriterianisme.
Masalah-masalah politik dalam negeri yang menghadang
diharapkan menjadi perhatian serius semua pihak. Di samping
persoalan-persoalan aktual yang muncul sebagai akibat proses
pembangunan politik, persoalan-persoalan klasik masih akan tetap
menjadi beban di dalam proses demokratisasi selanjutnya.
Permasalahan kelembagaan, baik yang menyangkut penerapan peran
dan fungsi eksekutif, legislatif, dan yudikatif maupun yang berkaitan
dengan pelaksanaan desentralisasi kekuasaan dan otonomi daerah
masih menuntut perhatian yang mendalam untuk mengatasinya.
Persoalan separatisme dan ketidakpuasan politik di daerah juga adalah
persoalan-persoalan nyata yang menuntut perhatian yang segera.
Selain itu, pemerintah yang memiliki kredibilitas dan visi
internasional menjadi faktor yang cukup penting dalam membina
hubungan luar negeri, selain faktor-faktor pembenahan dalam bidang
struktural kelembagaan penyelenggara hubungan luar negeri.
Memasuki abad ke-21, persoalan-persoalan internasional memiliki
dinamika dan tingkat perubahan yang mendasar, di tengah tarikmenarik antara berbagai kekuatan besar di dunia. Indonesia
diharapkan mampu menempatkan diri secara tepat, agar mampu
mengoptimalkan pencapaian kepentingan nasionalnya, termasuk tetap
memperjuangkan asas-asas kemerdekaan dan keadilan dalam
pergaulan masyarakat internasional, serta mengedepankan pendekatan
multilateralisme dalam menyelesaikan permasalahan internasional
melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi-organisasi
internasional lainnya.
Pada sub bidang penyelenggaraan negara permasalahan yang
masih menjadi prioritas penanganannya sampai dengan tahun terakhir
pelaksanaan Program Pembangunan Nasional (Propenas) tahun 2000
– 2004 antara lain masih ditemukannya praktek-praktek
penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN) di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah
daerah. Upaya yang sungguh-sungguh untuk memberantas KKN
sebenarnya telah mulai dilakukan sejak tahun 2000 dan telah
V- 2
memperlihatkan hasilnya. Telah banyak pelaku KKN, baik di pusat
maupun di daerah, yang diproses dan ditindak secara hukum.
Demikian pula dalam Penataan Organisasi dan Ketatalaksanaan
Pemerintahan walaupun telah dilakukan upaya pendayagunaan
(efektifitas) namun belum sepenuhnya sesuai dengan analisa jabatan
dan kebutuhan organisasi serta beban tugas. Masalah kelembagaan
pemerintah baik di pusat maupun di daerah masih terlihat belum
efektif dalam menunjang pelaksanaan tugas dan belum efisien dalam
penggunaan sumber dayanya.
Di bidang pelayanan publik, harapan masyarakat mengenai
terwujudnya pelayanan, yang cepat, tepat, murah, manusiawi dan
transparan serta tidak diskriminatif belum tercapai sebagaimana
mestinya. Lebih jauh lagi penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi (E-Government) dalam pemberian pelayanan di
lingkungan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah masih sangat
jauh tertinggal.
Upaya-upaya untuk meningkatkan profesionalisme melalui sistem
karier berdasarkan prestasi belum sepenuhnya dapat terwujud. Upaya
peningkatan profesionalisme aparatur tentunya perlu diimbangi
dengan peningkatan kesejahteraannya. Peningkatan kesejahteraan ini
hingga saat ini masih belum dapat dilaksanakan secara fundamental
mengingat keterbatasan dana pemerintah.
Dari arah kebijakan yang telah digariskan oleh Garis-Garis Besar
Haluan Negara (1999-2004), pembangunan bidang penyelenggaraan
negara dalam kurun tahun 2000–2004 berbagai hal telah dilaksanakan
antara lain: terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
sesuai amanat Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; penataan kelembagaan
pemerintah daerah melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun
2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah; Pendataan
Ulang Pegawai Negeri Sipil (PUPNS); dan mengembangkan dan
memanfaatkan teknologi
dan komunikasi elektornik dalam
penyelenggaraan pelayanan publik.
V-3
Pelaksanaan pembangunan penyelenggaraan negara masih
dihadapkan pada berbagai tantangan yang meliputi: penataan
kelembagaan pemerintah pusat dan daerah yang lebih efisien dan
efektif yang didukung oleh sumber daya manusia aparatur yang
profesional dan sejahtera sesuai dengan amanat Undang-Undang
Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian;
penyelenggaraan pelayanan publik yang lebih cepat, tepat, murah,
manusiawi, transparan, dan akuntabel sesuai dengan Inpres Nomor 5
Tahun 2003; dan terwujudnya aparatur negara yang bersih dan bebas
dari KKN.
Dengan memperhatikan berbagai kondisi dan perkembangan
politik yang ada, maka hal-hal positif yang sudah dicapai dalam
pelaksanaan pembangunan politik dapat dijadikan modal bagi
terpeliharanya momentum proses jangka panjang konsolidasi
demokrasi. Hasil-hasil pemilihan umum langsung anggota DPR,
DPRD, DPD, serta Presiden dan Wakil Presiden pada tahun 2004,
dapat dijadikan landasan demokratisasi selanjutnya, dengan prioritas
pada penguatan, penyempurnaan, dan penyesuaian kelembagaan
penyelenggaraan negara dan lembaga kemasyarakatan dengan
mengacu pada amanat Konstitusi dan perundang-undangan yang
berlaku. Pemerintah yang terbentuk sebagai hasil Pemilu 2004
diharapkan dapat lebih membumikan hasil-hasil proses demokratisasi,
agar lebih mampu diterjemahkan ke dalam tema-tema kesejahteraan
dan keadilan di dalam kehidupan nyata masyarakat. Untuk itu,
meningkatkan transparansi dan keterbukaan informasi serta
memelihara kebebasan pers dan media massa adalah juga masalah dan
tantangan yang menuntut komitmen yang kuat terhadap demokrasi
dari semua pihak. Dengan demikian lebih dapat membangkitkan
optimisme dan harapan bersama.
B. PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN
Program-program pembangunan politik adalah sebagai berikut:
(i) Sub Bidang Politik Dalam Negeri; (ii) Sub Bidang Hubungan Luar
V- 4
Negeri, (iii) Sub Bidang Penyelenggara Negara; dan (iv) Sub Bidang
Komunikasi, Informasi dan Media Massa.
1.
Politik Dalam Negeri
Menurut Garis-garis Besar Haluan Negara 1999-2004, arah
kebijakan Propenas dalam Sub Bidang Politik Dalam Negeri adalah:
a. Memperkuat keberadaan dan kelangsungan Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang bertumpu pada ke-bhinekatunggalika-an.
Untuk menyelesaikan masalah-masalah yang mendesak dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, perlu upaya
rekonsiliasi nasional yang diatur dengan undang-undang.
b. Menyempurnakan Undang-Undang Dasar 1945 sejalan dengan
perkembangan kebutuhan bangsa, dinamika dan tuntutan
reformasi, dengan tetap memelihara kesatuan dan persatuan
bangsa, serta sesuai dengan jiwa dan semangat Pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945.
c. Meningkatkan peran Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan
Perwakilan Rakyat, dan lembaga-lembaga tinggi negara lainnya
dengan menegaskan fungsi, wewenang, dan tanggung jawab yang
mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan
yang jelas antara lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
d. Mengembangkan sistem politik nasional yang berkedaulatan
rakyat, demokratis dan terbuka, mengembangkan kehidupan
kepartaian yang menghormati keberagaman aspirasi politik, serta
mengembangkan sistem dan penyelenggaraan Pemilu yang
demokratis dengan menyempurnakan berbagai peraturan
perundang-undangan di bidang politik.
e. Meningkatkan kemandirian partai politik terutama dalam
memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat serta
mengembangkan fungsi pengawasan secara efektif terhadap
kinerja lembaga-lembaga negara dan meningkatan efektivitas,
fungsi dan partisipasi organisasi kemasyarakatan, kelompok
profesi, dan lembaga swadaya masyarakat dalam kehidupan
bernegara.
f. Meningkatkan pendidikan politik secara intensif dan
komprehensif kepada masyarakat untuk mengembangkan budaya
politik yang demokratis, menghormati keberagaman aspirasi dan
V-5
menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
g. Memasyarakatkan dan menerapkan prinsip persamaan dan anti
diskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
h. Menyelenggarakan pemilihan umum secara lebih berkualitas
dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya atas dasar prinsip
demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil dan
beradab yang dilaksanakan oleh badan penyelenggara independen
dan non-partisan selambat-lambatnya pada tahun 2004.
i. Membangun bangsa dan watak bangsa (nation and character
building) menuju bangsa dan masyarakat Indonesia yang lebih
maju, bersatu, rukun, damai, demokratis, dinamis, toleran,
sejahtera, adil dan makmur.
j. Menindaklanjuti paradigma baru Tentara Nasional Indonesia
dengan menegaskan secara konsisten reposisi dan redefinisi
Tentara Nasional Indonesia sebagai alat negara dengan
mengoreksi peran politik Tentara Nasional Indonesia dalam
kehidupan bernegara. Keikutsertaan Tentara Nasional Indonesia
dalam merumuskan kebijakan nasional dilakukan melalui lembaga
negara Majelis Permusyawaratan Rakyat.
1.1 Program Perbaikan Struktur Politik1)
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program ini adalah menyempurnakan konstitusi
sesuai dinamika kehidupan politik nasional dan aspirasi
masyarakat
serta
perkembangan
lingkungan
strategis
internasional, mengembangkan institusi politik demokrasi, dan
mewujudkan netralitas pegawai negeri sipil dan militer, serta
memantapkan mekanisme pelaksanaannya.
) Perbaikan struktur politik dititikberatkan pada proses “pelembagaan”
demokrasi
1
V- 6
Sasaran Program adalah terwujudnya struktur politik yang
demokratis, yang berintikan pemisahan kekuasaan yang tegas dan
keseimbangan kekuasaan serta terwujudnya peningkatan kapasitas
lembaga-lembaga negara dalam menjalankan peran, dan tugasnya
dan dalam menerapkan mekanisme kontrol dan keseimbangan
(checks and balances).
Arah Kebijakan Program ini adalah memperkuat keberadaan
dan kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
bertumpu pada ke-bhinekatunggalika-an. Untuk menyelesaikan
masalah-masalah
yang
mendesak
dalam
kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, perlu upaya rekonsiliasi
nasional yang diatur dengan undang-undang; menyempurnakan
Undang-Undang Dasar 1945 sejalan dengan perkembangan
kebutuhan bangsa, dinamika dan tuntutan reformasi, dengan tetap
memelihara kesatuan dan persatuan bangsa, serta sesuai dengan
jiwa dan semangat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945;
meningkatkan peran Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan
Perwakilan Rakyat, dan lembaga-lembaga tinggi negara lainnya
dengan menegaskan fungsi, wewenang, dan tanggung jawab yang
mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan
yang jelas antara lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif;
menindaklanjuti paradigma baru Tentara Nasional Indonesia
dengan menegaskan secara konsisten reposisi dan redefinisi
Tentara Nasional Indonesia sebagai alat negara dengan
mengoreksi peran politik Tentara Nasional Indonesia dalam
kehidupan bernegara. Keikutsertaan Tentara Nasional Indonesia
dalam merumuskan kebijakan nasional dilakukan melalui lembaga
tertinggi negara Majelis Permusyawaratan Rakyat.
b.
Pelaksanaan
i.
Hasil yang dicapai
Perubahan struktur politik yang sudah dilaksanakan atau
dicapai dalam pembangunan politik dan demokrasi dewasa
ini dapat digolongkan dalam beberapa kelompok utama.
Pertama, proses amandemen (empat tahap) UUD 1945 yang
V-7
secara mendasar telah mengubah beberapa konsensus dalam
penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kedua,
terciptanya format politik baru dengan disahkannya
perundangan-undangan baru bidang politik, pemilu, dan
susunan kedudukan MPR, dan DPR yang menjadi dasar
pelaksanaan Pemilu 1999 dan Pemilu 2004.2) Ketiga,
terciptanya format hubungan pusat-daerah yang baru
berdasarkan perundangan-undangan otonomi daerah yang
baru.3) Keempat, terciptanya konsensus mengenai format
baru hubungan sipil-militer dan TNI dengan Polri
berdasarkan ketetapan-ketetapan MPR4) dan perundanganundangan baru bidang pertahanan dan keamanan.5) Kelima,
disepakatinya pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil
presiden secara langsung di dalam konstitusi dan dituangkan
dalam bentuk perundang-undangan yang menjadi dasar
pemilihan umum presiden dan wakil presiden pada 2004.6)
Keenam, kesepakatan mengenai diakhirinya pengangkatan
TNI/Polri dan Utusan Golongan di dalam komposisi
parlemen hasil Pemilu 2004 mendatang. Ketujuh,
kesepakatan nasional mengenai netralitas PNS, TNI dan Polri
terhadap politik.7) Kedelapan, konsensus perlunya payung
2
)
3
)
4
)
5
)
6
)
7
)
UU No.2/1999 tentang Parpol; UU No. 3/1999 tentang Pemilu dan UU
No.4/1999 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD.
Untuk Pemilu 2004 sudah disahkan perundang-undangan politik yang
baru, yakni UU No. 31/2002 tentang Parpol, UU No. 12/2003 tentang
Pemilu, dan UU No. 22/2003 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis
Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No.25/1999 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah.
Tap. MPR No. VII/2000 tentang Peran TNI dan Peran Polri ; Tap MPR
No. VI/2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri.
UU No. 3/2002 tentang Pertahanan Negara dan UU No.2/2002 tentang
Kepolisian Republik Indonesia.
UU No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden.
Netralitas PNS telah diatur dalam UU No. 43 tahun 1999 tentang
perubahan atas UU No. 8 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian.
V- 8
kelembagaan yang independen khusus dalam pemberantasan
korupsi8)
Perubahan struktural yang paling mendasar selama
beberapa tahun terakhir adalah terselesaikannya seluruh
proses amandemen UUD 1945 melalui 4 (empat) tahap.
Amandemen memiliki dua arti penting, yakni arti simbolik
dan arti substansial. Makna simbolik dari amandemen
konstitusi adalah membatalkan mitos yang dibangun Orde
Baru, bahwa UUD 1945 bersifat sakral, sudah lengkap dan
tidak boleh diubah. Mengubah UUD 1945 berarti
mengembalikan posisi konstitusi sebagai dokumen
kenegaraan yang tidak kebal terhadap perubahan. Konstitusi
selalu mengandung kekurangan dan ketidak sempurnaan,
sejalan dengan perkembangan kehidupan politik dan
kenegaraan. Makna substansial dari amandemen berkaitan
dengan cukup mendasarnya perubahan-perubahan yang
terjadi, baik dalam teks maupun dalam semangat yang
terkandung di dalamnya, sedemikian rupa mengubah secara
mendasar struktur dan hubungan kelembagaan politik yang
ada.
Kemajuan kelembagaan lain yang penting dicatat adalah
penyelenggaraan pemilihan umum yang dilaksanakan oleh
lembaga independen Komisi Pemilihan Umum (KPU),
dengan pemerintah bertindak sebagai fasilitator, merupakan
suatu perkembangan positif yang perlu dipelihara dalam
menjaga kebebasan dan keadilan proses pemilu yang
demokratis. Kelemahan-kelemahan penyelenggaraan pemilu
dapat terus dibenahi dengan tidak boleh mengubah prinsip
penyelenggaraan pemilu yang jujur, independen, bebas dan
adil.
Dalam kaitannya dengan persoalan separatisme,
perubahan status Darurat Militer menjadi Darurat Sipil di
8
)
Undang-Undang No. 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi (KPK).
V-9
Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sejak 19 Mei 2004
merupakan langkah maju bagi normalisasi kehidupan politik
dan pemerintahan di dalam negeri.
ii. Permasalahan dan Tantangan
Tantangan terbesar adalah bagaimana mengelola proses
transisi struktur politik secara tepat agar mengalami
keberlanjutan dan tidak kehilangan momentum menuju
demokrasi yang sesungguhnya. Pada satu pihak, hasil-hasil
amandemen I, II, III, IV, UUD 1945 dianggap masih banyak
mengandung berbagai ketimpangan konseptual, kerancuan
dan kontradiksi di antara pasal-pasal yang ada di dalamnya.
Dengan demikian, persoalan konstitusi ini masih menyisakan
pekerjaan rumah yang besar dalam upaya menciptakan
struktur politik yang demokratis. Menjadi tanda tanya besar,
mampukah Indonesia mengagendakan penyusunan konstitusi
yang benar-benar utuh, tidak hanya merupakan potonganpotongan gagasan-gagasan dalam mengatur kehidupan
bernegara dan bermasyarakat. Termasuk ke dalamnya
menuntaskan persoalan hubungan kelembagaan trias politica
beserta segala kompleksitasnya, mewujudkan parlemen
bikameral yang sesungguhnya dengan kekuasaan serta
pembagian kerja DPR dan DPD yang setara, serta
meletakkan dasar-dasar lembaga yudikatif yang kuat dan
berwibawa.
Pada pihak lain, ancaman-ancaman kembalinya
kekuatan politik otoriter tetap besar, termasuk yang
menginginkan kembali UUD 1945 pra-amandemen serta
mengaktifkan kembali TNI ke dalam kegiatan politik. Oleh
karena itu, konsolidasi demokrasi harus sangat ekstra hatihati agar tidak masuk ke dalam perangkap yang sama seperti
yang terjadi pada proses demokratisasi era konstituante yang
dibubarkan hanya melalui sebuah Dekrit Presiden pada 1959.
Ancaman nyata lainnya adalah bahaya disintegrasi nasional
serta disintegrasi sosial yang merupakan produk langsung
dari ketidakadilan serta intoleransi sosial politik yang sudah
V- 10
berakar pada masa lalu, di dalam sistem politik yang
sentralistis dan otoriter.
Permasalahan selanjutnya adalah masih sangat kuatnya
pengaruh kepentingan kelompok dalam proses perumusan
perundang-undangan
yang
mengatur
kehidupan
kemasyarakatan di segala bidang. Hal ini kemudian
mengalami komplikasi dengan permasalahan etika politik
yang rawan manipulasi, akuntabilitas politik yang rendah,
permasalahan korupsi yang merata di lembaga-lembaga
penting penyelenggaraan negara, baik eksekutif, legislatif
maupun yudikatif. Sebagai konsekuensi logisnya adalah
terbengkalainya penyelesaian banyak produk perundanganundangan; kurang tepatnya prioritas dalam legislasi yang
menjadi tugas parlemen dan pemerintah, sehingga
perundang-undangan yang dianggap strategis dalam
mendukung proses demokrasi terus mengalami penundaan;
serta kurangnya kualitas perundang-undangan sebagai
produk hukum yang diharapkan memayungi kepentingan
seluruh golongan masyarakat.
iii. Tindak lanjut
Untuk mewujudkan kehidupan kelembagaan yang
konstitusional, maka kepastian hukum pada tingkat konstitusi
merupakan prioritas bersama yang utama. Mahkamah
Konstitusi9) merupakan lembaga penting yang perlu dijaga
dan dipelihara independensi, kapasitas dan integritasnya.
Keputusan-keputusannya yang bersifat final dalam
melakukan pengujian berbagai produk perundang-undangan
terhadap konstitusi, diharapkan dapat memberikan terobosan9
)
UUD 1945, Pasal 24C, Ayat 1 menyebutkan: “Mahkamah Konstitusi
berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya
bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang
Dasar, yang memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil
pemilihan umum.
V - 11
terobosan hukum yang strategis dan berdampak meluas
dalam kehidupan politik, termasuk hal-hal yang berdampak
pada pengembangan civil society yang toleran,
antidiskriminasi, hubungan sipil-militer yang sesuai dengan
asas-asas demokrasi, persoalan konflik politik dan dinamika
kelembagaan penyelenggaraan negara.
Selain itu, keberadaan lembaga parlemen bikameral,
menuntut adanya penyesuaian-penyesuaian yang relevan,
sesuai dengan makna hakiki keberadaan sistem bikameral itu
sendiri. Sistem bikameral selain untuk menciptakan parlemen
yang lebih mendekati keseimbangan antara aspirasi politik
nasional dan aspirasi politik lokal, juga untuk menciptakan
checks and balances secara internal, agar tidak tercipta
hegemoni yang terlalu besar di dalam parlemen. Berkaitan
dengan itulah, maka diperlukan penyempurnaan semua
aspek-aspek yang berkaitan dengan hubungan checks and
balances di antara lembaga-lembaga penyelenggara negara,
dengan tekanan cukup besar diharapkan pada penguatan
posisi DPD (Dewan Perwakilan Daerah).
Tindak lanjut lain yang perlu mendapat perhatian adalah
memperjelas arah otonomi daerah dan mempercepat upaya
pelembagaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR)
sebagai salah satu prasyarat penting bagi terciptanya budaya
politik yang lebih adil dan damai. Baik otonomi daerah
maupun rekonsiliasi nasional memiliki urgensi yang tinggi
untuk diprioritaskan, dalam upaya memperkuat dasar-dasar
persatuan nasional Indonesia di masa mendatang.
Pada satu sisi, walaupun desentralisasi sudah merupakan
konsensus yang diatur melalui perundang-undangan, namun
diakui struktur peraturan perundangan pendukung yang ada
dewasa ini dapat dianggap belum mampu merumuskan
secara komprehensif mengenai penerapan otonomi daerah,
serta belum mampu mengatur dan mengakomodasikan secara
jelas berbagai kepentingan yang saling bertentangan antara
pusat dengan daerah, serta antara daerah satu dengan daerah
V- 12
lainnya. Ini adalah pekerjaan rumah yang menuntut
keseriusan dalam mengelola dan mengkoordinasikan segenap
sumber daya yang ada.
Pada pihak lain, ada keperluan untuk mempercepat
upaya pelembagaan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
(KKR) sebagai salah satu prasyarat penting bagi terciptanya
budaya politik yang lebih adil dan damai. Upaya-upaya
rekonsiliasi yang terlembaga bukanlah dimaksudkan untuk
menggantikan lembaga pengadilan, melainkan lebih
difokuskan pada penyelesaian konflik-konflik di masa lalu
secara politik, dengan sasaran utama menciptakan suasana
perdamaian yang sesungguhnya, agar segenap energi bangsa
dapat dikerahkan secara optimal ke arah masa depan.
1.2 Program Peningkatan Kualitas Proses Politik10)
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program Peningkatan Kualitas Proses Politik adalah
meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilihan umum,
meningkatkan kualitas partai-partai politik dan organisasi
kemasyarakatan, serta partisipasi politik rakyat.
Sasaran Program Peningkatan Kualitas Proses Politik
Propenas adalah terwujudnya Pemilu yang demokratis dan
transparan, terwujudnya sistem kaderisasi dan mekanisme
kepemimpinan nasional yang transparan dan terakunkan
(accountable), serta tersedianya fasilitas penyaluran aspirasi
masyarakat.
Arah Kebijakan Program ini adalah mengembangkan sistem
politik nasional yang berkedaulatan rakyat, demokratis dan
terbuka,
mengembangkan
kehidupan
kepartaian
yang
10
)
Peningkatan kualitas proses politik dititikberatkan pada proses
“pengalokasian/representasi” kekuasaan
V - 13
menghormati
keberagaman
aspirasi
politik,
serta
mengembangkan sistem dan penyelenggaraan Pemilu yang
demokratis dengan menyempurnakan berbagai peraturan
perundang-undangan
di
bidang
politik;
meningkatkan
kemandirian partai politik terutama dalam memperjuangkan
aspirasi dan kepentingan rakyat serta mengembangkan fungsi
pengawasan secara efektif terhadap kinerja lembaga-lembaga
negara dan meningkatan efektivitas, fungsi dan partisipasi
organisasi kemasyarakatan, kelompok profesi, dan lembaga
swadaya
masyarakat
dalam
kehidupan
bernegara;
menyelenggarakan pemilihan umum secara lebih berkualitas
dengan partisipasi rakyat seluas-luasnya atas dasar prinsip
demokratis, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil dan
beradab yang dilaksanakan oleh badan penyelenggara independen
dan non-partisan selambat-lambatnya pada tahun 2004.
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Sebagai konsekuensi dari telah diberlakukannnya
berbagai perundang-undangan baru di bidang pemilu,
kepartaian serta rekrutmen para pejabat publik, kualitas
proses politik sudah mengalami perubahan yang sangat
drastis. Untuk pertama kalinya di dalam sejarah politik di
Indonesia, rakyat memilih presiden secara langsung pada
tahun 2004. Pada tahun yang sama, rakyat juga memilih para
anggota legislatif yang sudah mengalami perubahan dalam
struktur keanggotaannya, yakni parlemen yang memiliki dua
kamar (bikameral), serta dihilangkannya keanggotaan
parlemen melalui pengangkatan di luar pemilu. Parlemen
juga sudah mampu melakukan proses seleksi kewajaran dan
kepantasan (fit and proper test) yang cukup transparan
terhadap para pejabat publik.
Kepartaian yang sejak pemilu 1999 sudah menganut
sistem multipartai, pada pemilu 2004 makin menunjukkan
kristalisasi dengan munculnya beberapa partai politik yang
V- 14
dominan. Karena partai-partai yang berorientasi pada asasasas kepartaian politik modern sudah cukup kuat berakar,
maka partai-partai primordial yang saat ini masih cukup
besar, secara alamiah diharapkan tidak lagi mendominasi
kehidupan politik dan penyelenggaraan negara di masa
depan. Kehidupan kepartaian, termasuk proses pembentukan
aliansi, koalisi, kompromi dan konsensus antar partai dan
tokoh-tokoh partai dalam pemilu legislatif maupun pemilu
presiden, tampak sudah banyak mengalami proses
rasionalisasi. Sejalan dengan makin kritis dan terdidiknya
masyarakat, hubungan partai-partai dan massa tampak makin
berorientasi pada kredibilitas pelaksanaan visi-misi serta
program, serta makin kurang terfokus hanya pada latar
belakang aliran, agama dan ideologi.
Lembaga-lembaga yang dibentuk untuk meningkatkan
kualitas proses politik, seperti Mahkamah Konstitusi, KPU,
dan Panwaslu, sudah memainkan peranan aktifnya masingmasing dalam mempersiapkan pemilu (KPU), mengadili
sengketa pemilu (Mahkamah Konstitusi), dan mengawasi
jalannya pemilu (Panwaslu). Pada tingkat masyarakatpun,
bermunculan organisasi-organisasi yang berinisiatif sebagai
watchdog dari proses-proses politik yang terjadi secara
begitu intens selama tahun 2004. Dalam keseluruhan proses
persiapan, penyelenggaraan, dan pengawasan pemilu yang
terjadi pada 2004, keterlibatan pemerintah sangat minimal.
Kerja keras lembaga-lembaga yang disebutkan di atas serta
luasnya partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan
pemilu, termasuk di dalam mengawasi penyelenggaraannya,
merupakan pertanda awal dari berjalannya proses
transformasi politik ke arah yang benar. Walaupun pada
awalnya banyak kalangan yang menyatakan pesimistis atas
keberhasilan pemilu, ternyata pemilu dapat berjalan relatif
sukses.
V - 15
ii. Permasalahan dan Tantangan
Salah satu kelemahan yang masih perlu diperbaiki dalam
peningkatan kualitas proses politik adalah masih besarnya
kesenjangan antara pertumbuhan jumlah partai dengan
peningkatan kualitas organisasi kepartaian dan miskinnya
visi dalam kehidupan politik partai-partai yang ada. Selain
itu, penyelenggaraan pemilu masih menunjukkan beberapa
kelemahan pengorganisasian, seperti masalah kecurangan
penghitungan suara, kelemahan akomodasi dan pengadaan
perlengkapan pemilu serta penggunaan teknologi informasi
yang akurasinya banyak mengundang kritik masyarakat.
Walaupun kelembahan-kelemahan ini bukan hanya akibat
dari kelemahan Komisi Pemilihan Umum (KPU), melainkan
juga karena lemahnya perundang-undangan yang ada serta
rendahnya kesadaran berbagai pihak yang terlibat dalam
pemilu untuk mentaati peraturan-peraturan perundangan yang
berkaitan dengan pemilu.
Tantangan yang besar adalah merasionalkan prosesproses politik dan membersihkannya dari praktek-praktek
yang bertentangan ataupun dapat mendistorsi tujuan-tujuan
yang hakiki dari demokrasi. Masalah yang masih kuat dalam
berlangsungnya proses demokratisasi dewasa ini adalah
masih kuatnya penggunaan praktek politik uang (money
politic) dalam berbagai kegiatan politik.
Permasalahan dan tantangan dalam realitas proses politik
memang tidak hanya dapat diatasi secara politik belaka,
namun terkait erat juga dengan penegakan hukum. Persoalanpersoalan pelanggaran pidana dalam proses politik seperti
dalam proses pemilu, maksimal hanya akan menjadi wacana
publik melalui media-media massa, tidak dapat diselesaikan
secara meyakinkan melalui proses pengadilan yang cepat dan
mengikat para pihak yang bersengketa.
V- 16
iii. Tindak Lanjut
Salah satu hal terpenting dalam meningkatkan kualitas
proses politik adalah membenahi kapasitas pengorganisasian
proses penyelenggaraan pemilu. Termasuk ke dalamnya
adalah memperkuat kewenangan lembaga pengawas pemilu
dalam melakukan kontrol terhadap berbagai potensi
penyelewengan penyelenggaraan proses pemilu.
Hal lain adalah mendorong proses rekrutmen politik
yang lebih rasional dan terbuka, tidak hanya berdasarkan
pertimbangan emosional melalui proses yang tidak
transparan. Untuk itulah mekanisme debat publik perlu
didorong dan difasilitasi secara lebih intensif, agar publik
mengetahui kelayakan visi dan misi para wakil dan para
pemimpin politiknya, serta dapat menilainya secara kritis.
Publik perlu didorong untuk lebih mampu merumuskan
standar dan parameter yang jelas bagi penyaringan para
pejabat politik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,
baik dari segi kemampuan, sikap dan karakter, etika politik,
maupun kejujurannya. Pola-pola penyaringan terhadap para
anggota parlemen dan para calon presiden yang sudah
dilaksanakan oleh negara-negara demokrasi maju dapat
dijadikan acuan, untuk menguji integritas dan visi
kepemimpinan dari para calon. Demikian juga proses uji
kelayakan terhadap para pejabat publik. Metode uji
kelayakan yang sudah berjalan selama ini di DPR, perlu
diperluas jangkauannya ke berbagai tingkat dan diperbaiki
kualitasnya, serta dengan keterbukaan yang lebih besar
terhadap penilaian masyarakat umum.
Satu hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah
berlanjutnya komitmen politik yang kuat terhadap pentingnya
memelihara dan melanjutkan berbagai wacana dan forum
untuk mengembangkan proses komunikasi politik yang lebih
sehat, bebas dan efektif. Wacana komunikasi yang sehat
sangat berhubungan erat dengan terbukanya arus informasi
media massa serta keterbukaan sumber-sumber informasi
V - 17
lainnya. Kemerdekaan pers dan media massa sangat
menentukan dalam membangun proses politik yang lebih
sehat dan demokratis.
1.3 Program Pengembangan Budaya Politik11)
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program pengembangan budaya politik adalah
meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap
kewajiban dan hak politiknya, meningkatkan kualitas komunikasi
dan kapasitas kontrol politik masyarakat, serta membangun
karakter bangsa yang kuat (nation and character building) menuju
bangsa dan masyarakat Indonesia yang maju, bersatu, rukun,
damai, demokratis, dinamis, toleran, sejahtera, adil, dan makmur.
Sasaran Program ini adalah terpenuhinya hak dan kewajiban
politik masyarakat termasuk pemuda secara maksimal sesuai
dengan kedudukan, fungsi, dan perannya dalam sistem politik
nasional.
Arah Kebijakan Program ini adalah Meningkatkan
pendidikan politik secara intensif dan komprehensif kepada
masyarakat untuk mengembangkan budaya politik yang
demokratis, menghormati keberagaman aspirasi dan menjunjung
tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia berdasarkan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945; memasyarakatkan
dan menerapkan prinsip persamaan dan anti diskriminasi dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; membangun
bangsa dan watak bangsa (nation and character building) menuju
bangsa dan masyarakat Indonesia yang lebih maju, bersatu,
rukun, damai, demokratis, dinamis, toleran, sejahtera, adil dan
makmur.
) Pengembangan budaya politik dititikberatkan pada proses “penanaman”
nilai-nilai demokratis
11
V- 18
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Beberapa perubahan-perubahan struktur politik melalui
proses demokratisasi12) beberapa tahun belakangan ini, telah
membawa berbagai perubahan dalam sikap, perilaku, dan
cara masyarakat berinteksi antar sesamanya dan antara
masyarakat dan negara. Banyak contoh yang menunjukkan
masyarakat sudah tidak rela menerima begitu saja kebijakan
yang dipaksakan dari atas, dan sudah memiliki keberanian
dalam mempertahankan hak-haknya. Dalam beberapa
peristiwa di berbagai daerah, masyarakat telah dapat
menunjukkan sikap yang lebih kritis dan dewasa dalam
memahami kondisi yang ada termasuk melakukan fungsi
kontrol terhadap jalannya pemerintahan yang ada.
Bersama-sama dengan perubahan-perubahan struktur
politik, maka perubahan-perubahan budaya yang terjadi
diharapkan akan berdampak pada transformasi sosial politik
yang sesungguhnya dari suatu masyarakat politik berbudaya
paternalistik dan primordial dalam politik, diarahkan ke
masyarakat berbudaya politik modern yang demokratis dan
menjunjung tinggi hukum. Pemimpin tidak lagi bertindak dan
diperlakukan sebagai pihak yang serba tahu dan selalu benar,
melainkan tak lebih dari manusia biasa yang mendapat
mandat, yakni individu “yang pertama dari yang sama”
(primus inter pares) belaka, yang terpilih melalui mekanisme
politik oleh mayoritas rakyat, dan dalam menjalankan
misinya terikat oleh rambu-rambu konstitusional, karenanya
perlu diawasi dan dikontrol.
12
) Antara lain amandemen I-IV UUD 1945, berbagai perundang-undangan
politik baru, penghapusan Utusan Golongan dan Fraksi TNI-Polri yang
diangkat di parlemen, dan pemberlakukan otonomi daerah (lihat
Struktur Politik pada sub-bab Demokrasi Pasca Orba ini).
V - 19
Pada sisi pemegang kekuasaan negara, mulai pula terjadi
pergeseran-pergeseran dalam mempersepsikan politik dan
kekuasaan, walaupun masih bersifat terbatas dan simbolik
sifatnya. Mundur dari suatu jabatan sudah mulai menjadi hal
biasa untuk suatu kondisi politik tertentu, demikian pula
kebiasaan untuk mengumumkan jumlah aset dan kekayaan
pribadi seorang yang mencalonkan diri untuk suatu jabatan
publik dan politik.
ii. Permasalahan dan Tantangan
Walaupun telah terjadi pergeseran-pergeseran, namun
secara menyeluruh budaya politik dominan masih jelas
merupakan budaya politik lama yang cenderung tidak
demokratis, yang sudah tertanam mendalam mengikuti
struktur politik dan peran negara pada masa orde lama
maupun orde baru. Transformasi budaya politik jelas akan
memakan waktu panjang, karena menyangkut persepsi,
sikap, perilaku, etika para pelaku politik secara umum
terhadap kekuasaan, jabatan, wewenang dan tanggung jawab
yang menyertainya. Budaya pemaksaan kehendak dan
kekerasan, ancaman, diskriminasi, serta KKN, masih
merupakan permasalahan dan tantangan yang sangat besar
dalam membangun budaya demokratis, toleran, dan egaliter
di Indonesia.
Pengembangan budaya politik menyangkut perkara yang
jauh melampaui proses-proses politik dalam arti sempit,
namun juga sangat berkaitan dengan persoalan dan prosesproses sosial kebudayaan secara umum, termasuk
pendidikan. Apabila perubahan struktur politik dilakukan
sejalan dengan perubahan orientasi dalam pendidikan berupa
penanaman nilai-nilai demokrasi ke dalam jiwa dan semangat
generasi yang akan datang, maka demokrasi yang kuat sangat
mungkin mengakar di Indonesia dalam jangka panjang.
V- 20
iii. Tindak Lanjut
Strategi pengembangan budaya politik merupakan
bagian dari strategi transformasi sosial kebudayaan secara
sistemik. Dalam jangka pendek dan menengah, keberlanjutan
perubahan struktur politik dan proses politik diharapkan
memberikan dampak pada perubahan-perubahan sikap dan
perilaku masyarakat dalam kehidupan politik. Dalam jangka
panjang perubahan budaya politik yang hakiki hanya dapat
dicapai melalui proses pendidikan. Sistem politik yang
demokratis hanya akan berkembang secara dinamis apabila
diimbangi oleh manusia yang berjiwa demokrat, yang
mempercayai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam
demokrasi.
Untuk itulah, negara perlu memberi masukan serta
memfasilitasi upaya–upaya politik bagi penyelenggaraan
civic education yang berintikan nilai-nilai pendidikan politik
modern serta penyempurnaan kurikulum sekolah-sekolah
negeri dengan muatan budaya (cultural matters) berintikan
nilai–nilai budaya (cultural values) Demokrasi, HAM dan
Etika Politik. Penyempurnaan pendidikan mencakup metode
pendidikan maupun substansi pendidikan dengan sasaran
utama membentuk sejak dini kepribadian dan sikap manusia
Indonesia yang toleran, memahami nilai-nilai etika politik
dan persamaan (egalitarianism) yang diperlukan oleh seluruh
komponen bangsa yang demokratis.
Selain itu, perlu upaya terus-menerus untuk
mewujudkan dan memfasilitasi berbagai forum dan wacanawacana sosial politik yang dapat memperdalam pemahaman
mengenai pentingnya persatuan bangsa, mengikis sikap
diskriminatif, dan menghormati perbedaan-perbedaan dalam
masyarakat. Media massa cetak dan penyiaran sebagai alat
komunikasi dan informasi umum dapat diikutsertakan dalam
upaya mempromosikan nilai-nilai luhur dari sikap toleransi,
persatuan, anti-diskriminasi dan nilai-nilai HAM yang
bersifat universal.
V - 21
2.
Hubungan Luar Negeri13)
Menurut Garis-garis Besar Haluan Negara 1999-2004, arah
kebijakan Propenas dalam Sub Bidang Hubungan Luar Negeri adalah:
a. Menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang bebas dan
aktif dan berorientasi pada kepentingan nasional, menitikberatkan
pada solidaritas antarnegara berkembang, mendukung perjuangan
kemerdekaan bangsa-bangsa, menolak penjajahan dalam segala
bentuk, serta meningkatkan kemandirian bangsa dan kerjasama
internasional bagi kesejahteraan rakyat.
b. Dalam melakukan perjanjian dan kerjasama internasional yang
menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak harus
dengan persetujuan lembaga perwakilan rakyat.
c. Meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur luar negeri agar
mampu melakukan diplomasi pro aktif dalam segala bidang untuk
membangun citra positif Indonesia di dunia internasional,
memberikan perlindungan dan pembelaan terhadap warganegara
dan kepentingan Indonesia, serta memanfaatkan setiap peluang
positif bagi kepentingan nasional.
d. Meningkatkan kualitas diplomasi guna mempercepat pemulihan
ekonomi dan pembangunan nasional, melalui kerjasama ekonomi,
regional maupun intternasional dalam rangka stabilitas, kerjasama
dan pembangunan kawasan.
e. Meningkatkan kesiapan Indonesia dalam segala bidang untuk
menghadapi perdagangan bebas, terutama dalam menyongsong
pemberlakukan AFTA, APEC dan WTO.
f. Memperluas perjanjian ekstradisi dengan negara-negara sahabat
serta memperlancar prosedur diplomatik dalam upaya
melaksanakan ekstradisi bagi penyelesaian perkara pidana.
g. Meningkatkan kerja sama dalam segala bidang dengan negara
tetangga yang berbatasan langsung dan kerjasama kawasan
ASEAN untuk memelihara stabilitas, pembangunan dan
kesejahteraan.
) Peranan hubungan luar negeri ditekankan pada proses “pemberdayaan”
posisi Indonesia sebagai negara bangsa, termasuk peningkatan kapasitas
dan integritas nasional melalui keterlibatan di organisasi-organisasi
internasional.
13
V- 22
2.1 Program Penguatan Politik Luar Negeri dan Diplomasi
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program Penguatan Politik Luar Negeri dan
Diplomasi adalah meningkatkan peran dan partisipasi Indonesia
di berbagai kerjasama internasional baik bersifat bilateral,
regional, maupun multilateral yang berorientasi pada kepentingan
nasional dalam upaya meningkatkan kemandirian bangsa,
memulihkan citra dan kepercayaan masyarakat internasional
terhadap Indonesia, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sasaran Program ini adalah terwujudnya peningkatan kualitas
dan kinerja aparatur penyelenggara hubungan luar negeri serta
sarana dan prasarana penyelenggara hubungan luar negeri dalam
rangka memperkuat peran dan partisipasi Indonesia di berbagai
kerjasama internasional.
Arah Kebijakan Program ini adalah menegaskan arah politik
luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dan berorientasi pada
kepentingan nasional, menitikberatkan pada solidaritas
antarnegara berkembang, mendukung perjuangan kemerdekaan
bangsa-bangsa, menolak penjajahan dalam segala bentuk, serta
meningkatkan kemandirian bangsa dan kerjasama internasional
bagi kesejahteraan rakyat; dalam melakukan perjanjian dan
kerjasama internasional yang menyangkut kepentingan dan hajat
hidup orang banyak harus dengan persetujuan lembaga
perwakilan rakyat; meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur
luar negeri agar mampu melakukan diplomasi pro aktif dalam
segala bidang untuk membangun citra positif Indonesia di dunia
internasional, memberikan perlindungan dan pembelaan terhadap
warganegara dan kepentingan Indonesia, serta memanfaatkan
setiap peluang positif bagi kepentingan nasional; meningkatkan
kualitas diplomasi guna mempercepat pemulihan ekonomi dan
pembangunan nasional, melalui kerjasama ekonomi, regional
maupun intternasional dalam rangka stabilitas, kerjasama dan
pembangunan kawasan.
V - 23
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Selama tahun 2003 pelaksanaan diplomasi dan hubungan
internasional ditandai dengan pencapaian yang signifikan
antara lain meningkatnya pengakuan internasional terhadap
kedaulatan dan integritas NKRI, meningkatnya kepercayaan
dunia internasional terhadap komitmen dan kesungguhan
pemerintahan RI dalam pemberantasan tindak pidana
terorisme, serta diterimanya upaya dan langkah pemerintah
RI untuk merealisasi gagasan “ASEAN Security Community”
yang telah mendapat sambutan positif negara-negara
ASEAN.
Sementara itu, upaya-upaya terpadu dan sistimatis dari
sisi diplomasi telah pula dilakukan untuk memagari potensi
disintegrasi bangsa, melalui penggalangan dukungan seluruh
negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap
keutuhan wilayah dan kedaulatan NKRI. Dalam kaitan ini,
pada pertemuan di New York bulan September 2002, Sekjen
PBB Kofi A. Annan telah menyampaikan kepada Presiden
Megawati Soekarnoputri bahwa PBB dan seluruh negara
anggotanya mendukung keutuhan wilayah dan kedaulatan
Indonesia. Upaya penggalangan melalui jalur diplomasi pun
ditempuh terhadap sasaran-sasaran lainnya, dengan hasil
semakin mantapnya dukungan ASEAN, ARF, OKI, GNB
dan PIF terhadap integritas territorial dan kedaulatan wilayah
Indonesia. Sementara itu pula, dari perspektif bilateral, tidak
kurang dari negara-negara seperti Amerika Serikat telah
menegaskan penolakan mereka terhadap separatisme di
Indonesia dan mendukung integritas kedaulatan NKRI.
Kebijakan Indonesia dalam menangani masalah Papua
mendapatkan momentum yang kuat berupa dukungan
pemerintah AS atas persatuan NKRI dan menolak
separatisme Papua, yang dinyatakan secara terbuka pada joint
statement presiden George W. Bush dengan Presiden
Megawati pada 19 September 2001 dan penegasan kembali
V- 24
oleh presiden AS pada kunjungan ke Bali, 22 Oktober 2003.
Demikian pula dukungan dari pemerintah Australia terhadap
keutuhan wilayah dan kesatuan nasional Indonesia. Upayaupaya diplomasi juga ditempuh untuk menjalin kerjasama
dengan negara-negara tetangga guna menutup jalur-jalur
pasokan senjata gelap (illicit arms) yang dimanfaatkan oleh
berbagai kelompok separatis di Indonesia.
Dalam pada itu, upaya diplomasi berupaya pula untuk
meyakinkan dunia luar bahwa kebijakan otonomi khusus di
Aceh dan Papua merupakan solusi terbaik untuk mengatasi
masalah yang ada di kedua daerah tersebut. Melalui paket
otonomi khusus tidak saja masyarakat Aceh dan Papua
dimungkinkan untuk mengatur rumah tangga mereka secara
mandiri, tetapi juga terkandung adanya pembagian keuangan
pusat-daerah yang menguntungkan Aceh dan Papua karena
kedua wilayah itu berhak untuk memperoleh pendapatan
sekitar 70-80% dari sumber-sumber alam yang dimilikinya.
Dalam persoalan separatisme Aceh, momentum positif
yang cukup penting dicacat adalah keberhasilan diplomasi
Indonesia dalam meyakinkan pemerintah Kerajaan Swedia
untuk melakukan pemrosesan awal secara hukum terhadap
tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sudah menjadi
warga negara Swedia, Hasan Tiro, atas tuduhan melakukan
kegiatan-kegiatan pelanggaran hukum di negara lain, yakni
separatisme di Indonesia. Walaupun masih memerlukan
proses hukum yang sangat panjang, proses penahanan dan
pemeriksaan Hasan Tiro, Tengku Malik Mahmud, Dr. Zaini
Abdullah perlu dijadikan contoh diplomasi pro-aktif, dengan
koordinasi lintas institusi yang cukup berhasil di dalam
negeri.
Secara internal kelembagaan, kegiatan-kegiatan penting
dalam pelaksanaan program penguatan politik luar negeri dan
diplomasi antara lain berupa dilaksanakannya berbagai upaya
untuk meningkatkan kualitas para penyelenggara hubungan
luar negeri, yang didukung juga oleh adanya peningkatan
V - 25
sarana dan prasarana penyelenggara hubungan luar negeri,
serta upaya penggalangan masyarakat Indonesia di luar
negeri dan masyarakat berbagai profesi di negara setempat
agar dapat mendukung upaya diplomasi Indonesia di luar
negeri melalui jalur diplomasi publik.
Dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan
hubungan luar negeri telah disusun Undang-undang No. 24
tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. Di samping itu,
telah disusun pula rancangan peraturan pemerintah untuk
mengatur koordinasi antarlembaga pemerintah dalam
penyelenggaran hubungan luar negeri sebagai penjabaran
pasal 28 ayat 2 UU No. 37 tahun 1999 tentang Hubungan
Luar Negeri. Sedangkan, dalam rangka menjamin terciptanya
kepastian hukum bagi penyelenggaraan hubungan luar negeri
dan pelaksanaan politik luar negeri, termasuk koordinasi
antarinstansi pemerintah dan antarunit yang ada di
Departemen Luar Negeri, saat ini sedang disusun RPP
mekanisme kerja sama para pihak.
Dalam rangka menghadapi tantangan yang semakin
kompleks dalam penyelenggaraan hubungan luar negeri,
telah dilakukan restrukturisasi Departemen Luar Negeri,
antara lain melalui pembentukan suatu Direktorat
Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) yang
khusus menangani masalah tersebut di luar negeri. Dalam
rangka peningkatan perlindungan TKI, Indonesia membentuk
team advokasi bagi para TKI di luar negeri dan
penandatanganan berbagai MOU bilateral tentang kerjasama
di bidang ketenagakerjaan.
Peningkatan kualitas para penyelenggara hubungan luar
negeri telah dilakukan secara regular melalui pelaksanaan
berbagai pendidikan dan latihan struktural, pendidikan
keprofesionalan, serta melalui pendidikan formal pasca
sarjana disamping pemantauan prestasi dan hasil kinerja para
diplomat Indonesia. Dalam rangka untuk mengembangkan
kebijakan luar negeri telah dilakukan upaya kerjasama
V- 26
dengan lembaga–lembaga pendidikan tinggi disamping
institusi think thanks dari beberapa negara sahabat.
Di samping itu, juga dilakukan restrukturisasi
Perwakilan RI di Luar Negeri guna meningkatkan kinerjanya
dalam rangka memperjuangkan kepentingan nasional melalui
kerjasama bilateral, regional dan internasional. Kemudian
untuk memperluas jaringan diplomasi telah dibuka kantorkantor Perwakilan RI di Lima (Peru), Lisabon (Portugal),
Tripoli (Libya), Guangzhou (China), dan Kabul
(Afghanistan).
Dalam kaitannya dengan pengembangan diplomasi
publik, kegiatan yang selama ini ditempuh adalah melalui
penyelenggaraan “foreign breakfast meeting” dan pertemuan
dengan tokoh masyarakat, agama, budaya dan mahasiswa
yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri secara teratur. Para
tokoh agama Indonesia yang tergabung dalam “Gerakan
Moral Nasional Indonesia” telah mengadakan kunjungan ke
Vatikan dan Brussel, dalam rangka menyampaikan rasa
keprihatinan umat beragama di Indonesia atas berbagai
kejadian yang menyudutkan Islam di dunia internasional.
Diplomasi publik tersebut juga diperkuat dengan berbagai
temu budaya di berbagai negara serta kerjasama dengan
wartawan luar negeri seperti dengan wartawan Amerika
Serikat dan wartawan Jerman dan Spanyol, untuk memuat
berita yang proporsional mengenai Indonesia. Di samping
itu, upaya lain yang telah dilakukan khususnya dalam tahun
2002 adalah penyebarluasan informasi melalui media center
maupun melalui website informasi publik.
Secara keseluruhan berbagai program penguatan politik
luar negeri dan diplomasi Indonesia masih membutuhkan
waktu untuk dirasakan dampaknya secara signifikan terhadap
politik luar negeri Indonesia dalam arti peningkatan dalam
posisi bargaining power Indonesia, serta perannya dalam
mendukung percepatan pemulihan ekonomi Indonesia.
V - 27
ii. Permasalahan dan Tantangan
Salah satu tantangan yang krusial adalah menggunakan
Politik Luar Negeri untuk mempercepat pemulihan krisis
nasional. Pemulihan kepercayaan internasional merupakan
kombinasi antara perubahan realitas politik dalam negeri dan
kekuatan diplomasi. Keberhasilan menggalang dukungan
internasional dapat sangat membantu penyelesaianpenyelesaian berbagai isu krusial nasional.
Tantangan besar lainnya adalah merevitalisasi konsep
“National Identity” dalam politik luar negeri. “National
Identity” tidak lagi dibentuk berdasarkan dominasi negara,
melainkan atas dasar “Nation and Character Building” yang
dirumuskan oleh proses-proses demokratis. Masyarakat dan
negara diharapkan mampu merumuskan “National Identity”
yang dapat mengangkat martabat dan kehormatan bangsa
dalam percaturan internasional. Hal ini berkaitan dengan
upaya meyakinkan dunia internasional, bahwa dinamika
politik di dalam negeri yang terkesan kurang stabil dan
kurang memiliki kepastian arah, merupakan situasi yang
wajar dan sehat. Dunia internasional memiliki kepentingan
untuk menjaga Indonesia yang bersatu dan demokratis,
sedangkan perpecahan dan kembali kepada otoriterisme
adalah pilihan yang merugikan, tidak hanya di tingkat negara
Indonesia, melainkan juga di tingkat regional maupun
internasional.
iii. Tindak Lanjut
Dalam mengatasi berbagai tantangan yang ada, maka
selain negara sebagai pelaku dan perumus arah kebijakan
politik, maka program-program yang ada juga terarah pada
upaya peningkatan peran diplomasi publik sebagai instrumen
diplomasi bilateral, regional (khususnya ASEAN) dan
diplomasi multilateral untuk mendukung penyelenggaraan
hubungan luar negeri Indonesia. Diplomasi publik yang
menekankan pendekatan budaya diharapkan dapat
mempermudah saling pengertian antar bangsa, yang pada
V- 28
gilirannya dapat mengoptimalkan perjuangan Indonesia
untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan politiknya.
Untuk memperkuat politik luar negeri, Indonesia juga
perlu merumuskan konsep pemberian respons yang lebih
tegas, visioner dan berkualitas berkaitan dengan isu-isu
internasional strategis dalam setiap periode tertentu. Sebagai
negara demokrasi yang besar, yang sebagian besar
penduduknya beragama Islam, respons yang tegas dan
konsisten diharapkan dapat mempengaruhi dan membentuk
opini, saling pengertian, dan kepercayaan masyarakat
internasional terhadap masyarakat dan kebudayaan Islam,
terutama dalam rangka memperjuangkan kepentingan
nasional dalam dunia yang sudah berubah. Faktor Islam
sebagai perekat persatuan Indonesia, bukan pemecah belah,
diharapkan dapat menjadi alat untuk meyakinkan dunia
internasional bahwa Indonesia yang bersatu jauh lebih baik,
dibandingkan dengan Indonesia yang mengalami perpecahan
dan ketidakstabilan politik. Lebih jauh lagi, Indonesia dapat
ikut merumuskan kembali berbagai hal yang menjadi
keprihatinan dunia internasional, seperti persoalan-persoalan
unilateralisme-multilateralisme, perang melawan terorisme,
arah globalisasi dan persoalan-persoalan lainnya.
Tindak lanjut dalam melakukan tindakan hukum atas
tokoh-tokoh GAM, antara lain perlu diupayakan kerjasama
intelijen dan interpol dengan negara-negara Asia Tenggara
untuk menangkap tokoh GAM yang berkeliaran di wilayah
ini, seperti Zakaria Zaman. Selain berkonsentrasi pada
tindakan hukum terhadap pimpinan GAM berwarganegara
Swedia, perlu dikaji kemungkinan penyerahan pimpinan
GAM yang bukan berwarganegara Swedia, misalnya Malik
Mahmud (wargenegara Singapura), yang saat ini masih
berada di Swedia.
Selain itu, untuk melindungi tenaga kerja Indonesia di
luar negeri, pemerintah membentuk atase khusus yang
bertugas melindungi dan memperjuangkan buruh Indonesia.
V - 29
Atase perburuhan perlu dibentuk di sedikitnya 6 (enam)
negara yang paling banyak menampung TKI yaitu: Uni
Emirat Arab, Singapura, HongKong, Korea Selatan, Kuwait
dan Taiwan.
2.2 Program Peningkatan Kerjasama Ekonomi Luar Negeri
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program ini adalah mencari peluang dan potensi di
luar negeri dan meningkatkan dukungan masyarakat luar negeri
dalam pemulihan ekonomi.
Sasaran Program ini adalah terwujudnya peningkatan
dukungan dunia internasional kepada Indonesia dalam rangka
pemulihan dan perbaikan perekonomian nasional serta dalam
upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.
Arah Kebijakan Program ini adalah meningkatkan kesiapan
Indonesia dalam segala bidang untuk menghadapi perdagangan
bebas, terutama dalam menyongsong pemberlakukan AFTA,
APEC dan WTO; meningkatkan kerja sama dalam segala bidang
dengan negara tetangga yang berbatasan langsung dan kerjasama
kawasan ASEAN untuk memelihara stabilitas, pembangunan dan
kesejahteraan.
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang telah dicapai
Berbagai upaya telah dilakukan dalam upaya mendorong
berbagai negara untuk melakukan kerjasama dengan
Indonesia adalah melalui kegiatan temu wicara dan temu
usaha, serta pameran dagang. Pada tahun 2001, antara lain
telah dilakukan lokakarya Potential and Challenges on
Expanding Economic Relation and Practical Breakthrough
for Public and Private Enterprises, temu wicara dan temu
V- 30
usaha dalam rangka peningkatan kerjasama ekonomi dan
perdagangan Indonesia RRC, temu usaha Sub Regional
Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle, temu wicara
dan lokakarya promosi perdagangan dan investasi Indonesia
dengan negara-negara ASEAN, temu wicara peningkatan
hubungan dagang dengan mitra utama potensial seperti AS,
Jepang, Singapura, Inggris, dan Australia, serta temu usaha
untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dan investasi di
wilayah perbatasan Indonesia di Kalimantan dan
mempromosikan protensi daerah dalam rangka pelaksanaan
kebijakan otonomi daerah.
Sedangkan untuk lebih meningkatkan kesiapan
pemerintah dan pengusaha Indonesia khususnya pengusaha
daerah dalam menghadapi era perdagangan bebas, telah
dilakukan sosialisasi kesepakatan forum WTO, APEC,
ASEM dan AFTA di berbagai kota besar di Indonesia. Pada
tahun 2002, telah dilakukan seminar dalam rangka kesiapan
pemerintah daerah dalam penyelenggaraan otonomi daerah
dalam menghadapi liberalisasi ekonomi dan perdagangan
dunia, temuwicara peningkatan kerjasama ekonomi dengan
negara-negara anggota D-8 dalam kerangka kerjasama
Selatan-Selatan, seminar sosialisasi APEC dalam kerangka
peningkatan kemampuan sumber daya manusia di bidang
teknologi informasi dan komunikasi, temu usaha peningkatan
pananaman modal asing dikaitkan dengan pelaksanaan
otonomi daerah, sosialisasi kesepakatan forum WTO dan
APEC, temu wicara dengan mitra dagang yang berasal dari
Korea Selatan, Persatuan Emirat Arab dan Afrika Selatan,
temu usaha Kerjasama Perikanan dalam Forum negaranegara anggota Indian Ocean Rim Association for Regional
Cooperation (IOR ARC) bekerjasama dengan Departemen
Kelautan dan Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia.
Kegiatan temu usaha antara pemerintah Indonesia
dengan negara-negara sahabat secara keseluruhan tidak
secara langsung dapat atau akan meningkatkan kerjasama
ekonomi luar negeri, namun kegiatan tersebut merupakan
V - 31
langkah awal dan sebagai pembuka yang memerlukan
langkah tindak lanjut berikutnya. Demikian pula dalam
kegiatan yang ditujukan untuk menghadapi era liberalisasi
perdagangan, kegiatan yang berupa sosialisasi kesepatakan
WTO dan AFTA maupun lokakarya mengenai kesiapan
pengusaha dalam menghadapi perdagangan bebas,
merupakan kegiatan awal sebagai penggugah bagi pengusaha
dan eksportir.
ii. Permasalahan dan Tantangan
Salah satu permasalahan kerjasama Indonesia dalam
bidang ekonomi adalah citra Indonesia sebagai negara yang
tidak
memiliki kepastian hukum dan tidak pula
menunjukkan tanda-tanda perbaikan ke arah yang lebih baik
dalam bidang penegakan keadilan, baik ke dalam negerinya
sendiri, terlebih terhadap para investor asing yang ingin
menanamkan modalnya. Besarnya birokrasi pemerintahan
dan gawatnya permasalahan korupsi, memperburuk posisi
tawar-menawar politik dan ekonomi Indonesia di dunia
internasional.
Permasalahan dan tantangan yang krusial adalah
menciptakan akses pasar dalam perdagangan bebas
internasional. Terbukanya akses pasar di luar negeri sangat
tergantung pada daya saing produk, selain pada kemampuan
membaca arah perkembangan ekonomi, bisnis, dan
perdangangan internasional.
Tantangan lain adalah mencari posisi yang tepat dalam
rivalitas antar para adidaya dunia, dalam hal ini rivalitas
ekonomi dunia. Bagaimana persaingan antara AS, Uni Eropa,
Jepang dan RRC dalam dalam waktu 10-15 tahun mendatang
sangat menentukan arah ekonomi global. Kemampuan
melakukan pemahaman persoalan ini, sangat membantu
untuk memposisikan Indonesia secara tepat, sehingga mampu
mengambil manfaat secara optimal di dalam arus global
persaingan ekonomi dan perdagangan.
V- 32
iii. Tindak Lanjut
Peran kerjasama ekonomi luar negeri perlu
dititikberatkan pada upaya–upaya untuk memperkuat
kembali aktivitas–aktivitas yang lebih mampu di dalam
memanfaatkan peluang dan potensi ekonomi di bidang
perdagangan, investasi, pariwisata, pembangunan dan
keuangan internasional. Diperlukan berbagai inovasi dalam
membuka jalur investasi ke dalam negeri, selain memperkuat
penegakan kepastian hukum dan meringankan beban
birokrasi.
Tindak lanjut yang penting dalam kaitan ini adalah
menciptakan kesepahaman dan koordinasi yang lebih terarah
antar kelembagaan dengan lembaga-lembaga mitra dari
negara-negara tetangga bagi meningkatkan saling pengertian
dalam upaya pengamanan aktivitas ekonomi perdagangan
antar negara dan kekayaan sumber daya alam nasional.
Berbagai upaya subversi dan tindakan kriminalitas ekonomi
dan perdagangan yang semakin meningkat kualitasnya,
diharapkan dapat ditanggapi dengan kerjasama dan
koordinasi yang lebih baik antar negara-negara yang
bertetangga, seperti pertukaran data dan informasi intelijen.
Penggalangan dan sinergi ekonomi ASEAN, dalam hal
ini merealisasikan
Pembentukan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (ASEAN Economic Community) pada 2020,
merupakan visi yang perlu mendapatkan prioritas seluruh
anggota. Masyarakat Ekonomi ASEAN dalam jangka
panjang akan menjadi pilar ekonomi ASEAN, dengan
demikian seluruh anggota ASEAN mendapat manfaat dan
maju dalam kebersamaan, serta menciptakan kesejahteraan
dan keadilan ekonomi yang lebih baik.
Masyarakat Ekonomi ASEAN akan membentuk satu
pasar tunggal berbasis produksi, mengubah keragaman
kawasan menjadi menjadi peluang bisnis yang dinamis bagi
ASEAN. Penguatan daya saing ASEAN dimaksudkan agar
ASEAN menjadi bagian jaringan eksportir global yang kuat.
V - 33
Termasuk penerapan mekanisme inisiatif ekonomi baru
seperti ASEAN free Trade Area (AFTA), ASEAN Framework
Agreement on Services (AFAS), dan ASEAN Investment Area
(AIA). Kesepakatan ASEAN Concord II pada KTT ASEAN
2003 di Bali perlu dilaksanakan secara konsisten dan terpadu,
sekaligus menegaskan kembali kepeloporan regional
(regional entitlement) Indonesia, sebagai salah satu pendiri
ASEAN.
2.3 Program Perluasan Perjanjian Ekstradisi
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program adalah untuk meningkatkan kerjasama
internasional dalam pemberantasan kejahatan lintas batas dan
operasi keamanan yang berdimensi internasional serta
memperlancar prosedur diplomatik dalam upaya melaksanakan
ekstradisi dalam penyelesaian perkara-perkara pidana.
Sasaran Program ini adalah terbinanya kerjasama
internasional dalam upaya pemberantasan kejahatan lintas batas
serta terwujudnya perjanjian ekstradisi dengan negara-negara lain
dan melakukan langkah penyelesaiannya.
Arah Kebijakan Program ini adalah memperluas perjanjian
ekstradisi dengan negara-negara sahabat serta memperlancar
prosedur diplomatik dalam upaya melaksanakan ekstradisi bagi
penyelesaian perkara pidana.
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Kinerja penting program perluasan perjanjian ekstradisi
pada tahun 2001 adalah telah ditetapkannya UU No. 1 tahun
2001 tentang Pengesahan Persetujuan antara Pemerintah RI
dengan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar
V- 34
Hukum yang Melarikan Diri. Upaya lain adalah
dilakukannya pengkajian yang mendalam yang akan
dijadikan bahan masukan penyusunan kerangka hukum
kerjasama luar negeri untuk menangani kejahatan lintas batas
negara serta bahan masukan untuk penyempurnaan UU No. 1
tahun 1979 tentang Ekstradisi. Di samping itu, pelembagaan
pemberantasan kejahatan lintas batas (TNC) melalui antara
lain perjanjian ekstradisi dengan beberapa negara, seperti
yang telah dilaksanakan dengan Australia, Filipina dan
Malaysia.
Khusus terkait dengan proses penyelesaian perkara
kejahatan lintas batas negara, pada bulan Desember 2002
telah diselenggarakan konferensi tingkat tinggi antara
Pemerintah Indonesia dan Australia untuk mengatasi
pencucian uang dan pembiayaan teror “Combating Money
Loundering and Terrorist Financing”. Hal ini diharapkan
mampu menjadi cikal bakal upaya lebih lanjut dalam
pencegahan kejahatan yang berdimensi sosial ekonomi, serta
menegakkan hukum.
ii. Permasalahan dan Tantangan
Permasalahan dan tantangan dalam persoalan perluasan
perjanjian ekstradisi adalah persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan prioritas dan kepentingan politik masingmasing negara yang dapat bertentangan satu sama lain,
sehingga dapat menambah kompleksitas permasalahan
ekstradisi dalam implementasinya.
Permasalahan lain yang lebih bersifat teknis prosedural
adalah masih lemahnya koordinasi di antar lembaga antar
jajaran instansi pemerintah untuk menyempurnakan UU No.
1 tahun 1979 tentang Ekstradisi. Di samping itu,
penyempurnaan UU mengenai ekstradisi sangat ditentukan
pula oleh inisiatif pihak legislatif.
V - 35
iii. Tindak Lanjut
Pelaksanaan program perluasan perjanjian ekstradisi
diarahkan pada peningkatan kerjasama bilateral/regional
dengan negara-negara tetangga khususnya dengan ASEAN di
bidang penanggulangan kejahatan lintas batas negara
termasuk
pemberantasan
terorisme
internasional.
Penyempurnaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1979
tentang Ekstradisi merupakan pekerjaan rumah bersama,
sejalan dengan kepentingan untuk merevisi berbagai
perjanjian ekstradisi dengan negara-negara sahabat. Salah
satu agenda yang mendesak adalah penyelesaian perjanjian
ekstradisi dengan pemerintah Singapura yang telah tertunda
selama 30 tahun, termasuk penyelesaian pemetaan batas
wilayah udara, laut dan darat.
2.4 Program Peningkatan Kerjasama Bilateral, Regional dan
Global Multilateral
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program adalah meningkatkan kerjasama di bidang
politik, sosial, budaya pertahanan dan keamanan, baik secara
bilateral, regional maupun global/multilateral.
Sasaran Program ini adalah terwujudnya kerjasama
internasional yang saling menguntungkan di berbagai bidang,
serta terciptanya stabilitas politik di kawasan Asia dan Pasifik
serta kawasan internasional lainnya.
Arah kebijakan Program ini adalah meningkatkan kesiapan
Indonesia dalam segala bidang untuk menghadapi perdagangan
bebas, terutama dalam menyongsong pemberlakukan AFTA,
APEC dan WTO.
V- 36
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Indonesia memperoleh anugerah ASEAN Award (tahun
2001) karena sumbangannya terhadap perdamaian regional di
kawasan Laut Cina Selatan. Penghargaan ini sebagai
pengakuan atas keberhasilan peran Indonesia untuk
menciptakan situasi damai di wilayah Laut Cina Selatan.
Selama ini Indonesia memfasilitasi pertemuan regular setiap
tahunnya untuk membahas persoalan politik dan keamanan di
wilayah ini.
Upaya perlindungan dan pemajuan HAM juga telah
diselaraskan dengan berbagai standar yang tertuang dalam
instrumen-instrumen HAM internasional, termasuk Deklarasi
Universal HAM serta Deklarasi dan Rencana Aksi Wina.
Penyelarasan itu juga telah ditempuh melalui aksesi dan
ratifikasi berbagai konvensi HAM, seperti Konvensi Hakhak Anak; Konvensi Penghapusan Diskriminasi terhadap
Perempuan; Konvensi menentang Penyiksaan, Perlakuan atau
Hukuman Kejam dan Tidak Berperikemanusiaan atau
Merendahkan; Konvensi Penghapusan Berbagai Bentuk
Diskriminasi Rasial dan berbagai konvensi inti (core
convention) ILO.
Penetapan Rencana Aksi Nasional HAM (RAN-HAM)
yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia juga telah
sesuai dengan praktek-praktek internasional. RAN-HAM
1998-2003, dan 2004-2009 memperhatikan pula terkini yang
terjadi di bidang HAM, yang dalam artian luas mencakup
tidak hanya hak-hak sipil dan politik tetapi juga hak-hak
ekonomi, sosial dan budaya, termasuk hak pembangunan.
Hasil penting lainnya yang perlu dicatat pada tahun 2001
adalah diperolehnya penghargaan dari Komisi HAM PBB
atas langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Indonesia
dalam upaya mengadili pelaku pelanggaran HAM di Timor
V - 37
Loro Sae. Hal ini diharapkan dapat mengangkat kredibilitas
Indonesia di mata dunia internasional karena dianggap serius
menyelesaikan permasalahan perbatasan dengan Timor Loro
Sae. Kesungguhan Indonesia tersebut antara lain terlihat
dengan terlaksananya pertemuan bilateral dengan Timor Loro
Sae guna menyelesaikan residual issues khususnya
perbatasan, pengungsi dan masalah asset. Selain itu
mekanisme tripartit antara Indonesia, Timor Loro Sae dan
Australia juga sudah mengadakan pertemuan yang terkait
dengan upaya penyelesaian persoalan setelah lepasnya Timor
Loro Sae dari Indonesia.
Menguatnya dukungan internasional atas keutuhan
wilayah Indonesia ditunjukkan dengan adanya ASEAN
Ministerial Meeting Communique tahun 2003 yang
memberikan dukungan penuh negara-negara ASEAN
terhadap NKRI di samping adanya komitmen dan kesediaan
bekerjasama untuk membantu menyelesakan permasalahan
yang dihadapi oleh Indonesia tersebut, khususnya negara –
negara ASEAN. Di samping itu, dukungan diberikan pula
oleh negara-negara sahabat dari Amerika, Afrika, Timur
Tengah, Asia Pasifik dan Eropa termasuk Perserikatan
Bangsa – Bangsa agar kedaulatan dan integritas wilayah RI
tetap terjaga. Diplomasi Indonesia juga berhasil mengurangi
bahkan menggagalkan upaya–upaya kekuatan eksternal
termasuk rencana pengerahan “peace keeping force” untuk
turut campur dalam penyelesaian masalah konflik internal
dalam negeri. Dalam KTT Pacific Islands Forum (PIF) tahun
2001 diberikan juga dukungan atas integritas wilayah RI,
khususnya yang terkait dengan kasus Papua. Sampai dengan
tahun 2004, melalui program kegiatan border diplomacy,
Indonesia telah menandatangani 17 perjanjian Garis Batas
Kontinen dengan negara-negara sekitar, seperti Malaysia,
Australia, Thailand, Singapura, Papua New Guinea, Vietnam
dan Timor Loro Sae. Untuk batas wilayah internasional di
darat, telah dilakukan deliniasi, delimitasi dan demarkasi
serta pemetaan batas wilayah antara RI dengan Malaysia,
PNG dan RDTL dengan hasil berupa peta skala 1:50.000
V- 38
masing-masing sebanyak 10 nomor lembar peta (NLP), 20
NLP dan 17 NLP.
Dalam upaya memperkuat ketahanan nasional, Indonesia
meningkatkan kerjasama militer secara bilateral dengan
beberapa negara dalam rangka modernisasi, alih teknologi
dan sistem persenjataan di Indonesia. Untuk itu, selain tetap
menjalin kerjasama dengan negara-negara maju di kawasan
Eropa Timur dan Asia Timur, Indonesia juga berupaya
membina kerjasama militer dengan negara-negara sahabat di
kawasan Eropa Barat, Amerika Utara dan Pasifik Barat Daya.
Kerjasam ini dilakukan melalui pertemuan berkala
Indonesia-US Security Dialogue, Pertemuan Tingkat Pejabat
Tinggi (SOM) Regional Security and Arms Control Talks dan
berbagai kegiatan serupa dengan negara sahabat lainnya.
ASEAN ditetapkan sebagai concentric circle pertama
dari politik dan hubungan luar negeri Indonesia. Peran
Indonesia yang menonjol dalam kerjasama regional ASEAN
adalah keberhasilan Indonesia dalam mengupayakan
tercapainya integrasi ekonomi ASEAN, sebagaimana
tercantum dalam ASEAN Vision 2020, menuju Komunitas
Ekonomi ASEAN. Pada 9th ASEAN Summit di Bali Tahun
2003, disepakati Declaration of ASEAN Concord II mengenai
pembentukan ASEAN Community yang bertumpu pada tiga
pilar, yaitu ASEAN Security Community, ASEAN Economic
Community dan ASEAN Socio-cultural Community.
Sedangkan dalam 37th ASEAN Ministerial Meeting di Jakarta
Tahun 2004, Indonesia mendapat mandat untuk
memformulasikan Plan of Action bagi komunitas keamanan
ASEAN (ASEAN Security Community) yang akan diajukan
pada KTT ASEAN bulan November 2004.
Pada lingkaran konsentris kedua, Indonesia terus
meningkatkan upaya-upaya diplomasi yang efektif dan
terarah dengan negara-negara penting di kawasan Asia
Timur, khususnya konsepsi “masyarakat Asia Timur” yang
sudah digulirkan melalui ASEAN + 3 (China, Jepang dan
V - 39
Republik Korea). Sedangkan pada lingkaran konsentris
ketiga perlu terus memelihara hubungan dan solidaritas
dengan negara-negara GNB, OKI, Kelompok-77 dan
Kelompok-15 dan D-8 serta memanfaatkan PBB sebagai
satu-satunya organisasi yang bersifat universal bagi
pencapaian kepentingan nasional Indonesia. Pada Organisasi
Konferensi Islam (OKI) Indonesia mengupayakan agar
organisasi ini menjadi wahana yang efektif bagi penyelesaian
masalah yang dihadapi anggotanya. Dalam hal ini, dengan
selesainya fase I implementasi Perjanjian Damai 1996 GRPMNLF, Indonesia telah diminta untuk melanjutkan
kepemimpinannya dalam Komite 8 OKI dalam membantu
Filipina dalam menyelesaikan masalah Muslim di Filipina
Selatan melalui pemantauan pelaksanaan fase II perjanjian
tersebut.
Di samping itu dalam Asian-African Sub Regional
Organizations Conference (AASROC) yang diselenggarakan
di Bandung Tahun 2003, Indonesia mendukung pembentukan
open-ended Working Group on AASROC yang bertujuan
mengembangkan modalitas, pendekatan operasional dan
format kerjasama untuk menjamin pelaksanaan New
Strategic Partnership. Dalam Working Group tersebut,
Indonesia dan Afrika Selatan berperan sebagai Co-Host.
Dalam pemberantasan terorisme, di tingkat bilateral
Indonesia meningkatkan kerjasama dengan berbagai negara
antara lain Australia, AS, Jepang dan negara-negara tetangga
di Asia Tenggara. Pada tanggal 3 Juli 2004 Pemerintah telah
meresmikan berdirinya Jakarta Center for Law Enforcement
Cooperation (JCLEC). Lembaga ini akan berperan antara
lain sebagai pusat pelatihan bagi penegak hukum negaranegara Asia Pasifik dalam pemberantasan terorisme dan
kejahatan internasional.
Indonesia juga telah meratifikasi empat konvensi
mengenai terorisme, yakni: Convention on Offences and
Certain Other Acts Committed on Board Aircraft, Tokyo,
V- 40
1963; Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of
Civil Aviation, The Hague, 1970; Convention for the
Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Civil
Aviation, Montreal, 1971; dan Convention on the Physical
Protection of Nuclear Material, Vienna, 1980, serta
menandatangani dua konvensi lainnya, yaitu: Protocol on the
Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving
International Civil Aviation, Supplementary to the
Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the
Safety of Civil Aviation, Montreal, 1988 dan International
Convention for the Suppression of the Financing of
Terrorism, New York, 1999.
Pemerintah juga telah memanfaatkan mekanismemekanisme kerjasama bilateral, regional dan global dalam
upayanya memerangi terorisme. Dengan Pemerintah
Australia, Indonesia menandatangani MOU tentang Counter
Terorism pada 7 Februari 2003, menyelenggarakan seminar
regional mengenai pencucian uang dan terorisme serta Bali
Regional Ministerial Conference on Terrorism pada bulan
Februari 2004. Indonesia dan India telah menandatangani
Memorandum Kesepahaman untuk Memerangi Terorisme.
Dalam kerangka ASEAN, Indonesia telah menjalin
kerjasama kepolisian dan angkatan bersenjata maupun
dengan badan-badan intelijen. Di sela sela penyelenggaran
AMM-3/PMC/ARF-11 pada tanggal 28 Juni – 2 Juli 2004
telah ditandatangani ASEAN-Australia Joint Declaration for
Cooperation to Combat International Terrorism dan ASEANRussian Federation Joint Declaration for Cooperation to
Combat International Terrorism. Di forum internasional
lainnya seperti organisasi Non-Blok, OKI maupun APEC,
Indonesia secara aktif ikut menyuarakan dalam memerangi
terrorisme internasional.
Di forum PBB, Indonesia telah aktif dalam pembahasanpembahasan masalah terorisme serta dalam memajukan
kerjasama dengan Komite Pemberantasan Terorisme PBB
(UN CTC).
Pemerintah RI telah siap melaksanakan
V - 41
ketentuan-ketentuan yang terkandung dalam resolusi Dewan
Keamanan (DK) PBB No.1373 (2001) secara penuh,
termasuk ketentuan 90 hari dalam penyampaian laporan
penanganan pemberantasan terorisme di negara masingmasing. Usaha tersebut konsisten dengan upaya nasional
untuk menghilangkan aksi terorisme yang menjadi ancaman
potensial terhadap proses reformasi dan demokratisasi di
Indonesia.
Satu catatan penting lainnya adalah upaya Indonesia
untuk mempererat kerjasama dengan negara-negara di
Kawasan Pasifik Barat Daya (Southwest Pacific) yang
termasuk wilayah dalam lingkar strategis Indonesia di
sebelah Timur. Dalam beberapa tahun belakangan ini,
Indonesia membangun struktur-struktur hubungan baru
dengan negara-negara tetangga itu, di samping terus
memperkuat hubungan bilateral dengan masing-masing
negara. Dalam hal ini, Indonesia terus membangun forum
konsultasi trilateral Indonesia-Australia-Timor Leste dan
forum dialog Pasifik Barat Daya. Selain itu, Indonesia juga
terus aktif sebagai mitra wicara dari negara-negara Pacific
Islands Forum (PIF).
Upaya diplomasi di Kawasan Pasifik Barat Daya ini
terbukti berhasil untuk mengubah posisi negara-negara di
kawasan tersebut yang sejak lama condong bersimpati pada
gerakan separatisme di Papua. Sebagai contoh, Vanuatu dan
Fiji sebagai dua negara kunci anggota PIF saat ini telah
mendukung penyelesaian isu Papua berdasarkan pemberian
Otonomi Khusus, bahkan Vanuatu bersedia memfasilitasi
kepulangan 11 tokoh OPM yang bermukim di Pasifik Barat
Daya ke Indonesia.
Akan halnya Timor Leste, Indonesia menekankan
perlunya pengembangan hubungan tetangga baik berdasarkan
semangat rekonsiliasi yang berwawasan ke depan. Untuk itu,
kedua negara telah melakukan berbagai pertemuan untuk
membahas penyelesaian masalah-masalah residual yang
V- 42
muncul setelah kemerdekaan Timor Leste pada tahun 1999
termasuk masalah-masalah baru menyangkut batas wilayah
darat dan batas wilayah maritim kedua negara. Banyak
langkah maju yang diraih dari upaya itu, antara lain
penyelesaian batas darat (sekitar 90 persen), penyelesaian
masalah pengungsi (dari 285.000 pada November 1999
menjadi 16.000 pada 2004).
Sementara itu, hubungan bilateral Indonesia-Australia
mencatat perkembangan penting yakni berhasilnya potensi
benturan kedua negara diubah menjadi kerjasama kongkrit
yang saling menguntungkan, tercermin dari peningkatan
kerjasama kedua negara di bidang kontra- terorisme, dialog
antar agama dan penanganan masalah penyelundupan dan
perdagangan manusia (people smugling and trafficking in
persons). Di samping itu Indonesia tetap konsisten dalam
usaha pemberantasan tindak pencucian uang dan usaha
Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran
Gelap Narkoba (P4GN).
ii. Permasalahan dan Tantangan
Salah satu tantangan yang terbesar saat ini adalah
menempatkan Indonesia secara tepat atas isu-isu global. Isu
seperti “War on Terrorism,” tampaknya akan menjadi isu
tetap sebagai prioritas dunia internasional selama sedikitnya
5 (lima) tahun mendatang. Indonesia mesti memiliki
sensitivitas dalam menempatkan diri secara tepat berkaitan
dengan isu ini.
Tantangan lain adalah menyusun strategi yang tepat
dalam menghadapi potensi konflik teritorial. Kalahnya
Indonesia dalam kasus persengketaan Pulau Sipadan-Ligitan
dengan Malaysia menunjukkan bahwa persoalan effective
rule sangat menentukan sengketa teritorial, apabila
argumentasi hukum internasional relatif sama kuat. Namun
pada sisi lain, penyelesaian masalah Sipadan-Ligitan harus
V - 43
dilihat sebagai perwujudan cara penyelesaian sengketa secara
damai.
Selain itu, adanya keperluan untuk memperkuat makna
penting multilateralisme dalam hubungan internasional
secara global. Kecenderungan-kecenderungan unilateralisme
dapat menyebabkan lumpuhnya PBB, dengan akibat terburuk
terjadinya anarkisme dalam hubungan internasional.
iii. Tindak lanjut
Program ini akan lebih banyak difokuskan pada upaya
untuk melanjutkan persiapan ratifikasi berbagai konvensi
yang berkaitan dengan pemajuan dan perlindungan hak-hak
ekonomi, sosial dan budaya, sipil dan politik, termasuk
kewajiban-kewajiban Indonesia mengenai perlucutan senjata,
melanjutkan upaya-upaya untuk menentukan Alur Laut
Kepulauan Indonesia (ALKI), melanjutkan penyelesaian
masalah dengan Timor-Timur, serta meningkatkan kerjasama
ASEAN di berbagai bidang.
Di samping itu, pelaksanaan program diarahkan untuk
memperluas jaringan kerjasama, tidak hanya di lingkup
ASEAN, tetapi memanfaatkan kerjasama antar kawasan di
luar ASEAN dalam bidang politik ekonomi dan sosial
budaya, seperti dengan Uni Eropa dan dengan negara-negara
Asia Timur, seperti Cina, Jepang, Korea Utara dan Korea
Selatan di bidang Usaha Kecil dan Menengah, serta
meningkatkan kerjasama dengan negara-negara Timur
Tengah dan Afrika khususnya negara-negara teluk (GCC).
Lebih jauh lagi, pengembangan kerjasama internasional
diarahkan juga untuk menangani dan menyelesaikan
permasalahan-permasalahan kejahatan dan terorisme
internasional. Menempatkan Indonesia secara tepat sangat
diperlukan, dengan memberikan tekanan yang cukup besar
pada upaya-upaya mengatasi akar-akar munculnya ideologi
terorisme dan berbagai tindakan kriminalitas lintas batas
V- 44
yang konvensional, bukan hanya mengatasi gejala yang
muncul di permukaan. Indonesia diharapkan mampu
menciptakan perspektif alternatif terhadap persoalanpersoalan ketidak adilan dan terorisme.
3.
Penyelenggara Negara
Arah kebijakan Sub Bidang Penyelenggara Negara yang
diamanatkan oleh Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 19992004 adalah sebagai berikut:
a. Membersihkan penyelenggara negara dari praktik korupsi, kolusi,
nepotisme (KKN) dengan memberikan sanksi seberat-beratnya
sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, meningkatkan
efektivitas pengawasan internal dan fungsional serta pengawasan
masyarakat, dan mengembangkan etika dan moral.
b. Meningkatkan kualitas aparatur negara dengan memperbaiki
kesejahteraan dan keprofesionalan serta memberlakukan sistem
karier berdasarkan prestasi dengan dengan prinsip memberikan
penghargaan dan sanksi.
c. Melakukan pemeriksaan terhadap kekayaan pejabat negara dan
pejabat pemerintah sebelum dan sesudah memangku jabatan
dengan tetap menjunjung tinggi hak hukum dan hak asasi
manusia.
d. Meningkatkan fungsi dan keprofesionalan birokrasi dalam
melayani masyarakat dan akuntabilitasnya dalam mengelola
kekayaan negara secara transparan, bersih, dan bebas dari
penyalahgunaan kekuasaan.
e. Meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri dan Tentara
Nasional Indonesia/Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk
menciptakan aparaturyang bebas dari KKN, bertanggung jawab,
profesional, produktif dan efisien.
f. Memantapkan netralitas politik pegawai negeri dengan
menghargai hak-hak politiknya.
V - 45
3.1 Program Pengawasan Aparatur Negara
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan program ini adalah mewujudkan aparatur negara yang
bersih, berwibawa, dan bebas KKN.
Sasarannya adalah memberantas KKN di lingkungan aparatur
negara yang didukung dengan penegakan peraturan perundangundangan, peningkatan kinerja, dan profesionalisme aparatur
negara baik di pusat maupun di daerah.
Arah kebijakannya adalah membersihkan penyelenggara
negara dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme dengan
memberikan sanksi seberat-beratnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, meningkatkan efektivitas
pengawasan internal dan fungsional serta pengawasan
masyarakat, mengembangkan dan menerapkan kode etik dan
moralitas bagi setiap unsur aparatur pengawas; melakukan
pemeriksaan terhadap pejabat negara dan pejabat pemerintah
sebelum dan sesudah memangku jabatan dengan tetap
menjunjung tinggi hak hukum dan hak asasi manusia.
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Dalam upaya mewujudkan program tersebut telah
menghasilkan berbagai hal yang meliputi: (1) tersedianya
sistem Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(LAKIP), dan melakukan sosialisasi pelaksanaan teknis
SAKIP dan LAKIP; (2) PP No 20 Tahun 2001 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah; (3) meningkatnya penyelesaian tindak lanjut kasuskasus berindikasi korupsi, kolusi, dan nepotisme; (4)
meningkatnya pelaksanaan pengawasan oleh Aparat
Pengawasan Fungsional Pemerintah (APFP) di pusat dan
daerah; (5) meningkatnya kualitas APFP mengenai teknik-
V- 46
teknik pengawasan internal yang baru seperti penilaian
Good Coorporate Governance, Pemeriksaaan indikator
kinerja kunci (key performance indicators audit), audit
kecurangan (fraud audit), penilaian resiko dan pelaksanaan
audit berbasis kinerja; (6) menurunnya jumlah keseluruhan
uang/kekayaan negara yang terindikasi tindak pidana korupsi
(TPK); (7) dilimpahkannya keinstansi penyidik kejaksaan
dan kepolisian
sebanyak 800 kasus; (8) melakukan
penyuluhan sistem pengawasan, melakukan penyusunan
standar dan sistem akuntansi keuangan daerah,
mengefektifkan dan mengoptimalisa-sikan pelaksanaan
tindak lanjuk pengawasan, termasuk pengawasan yang
dilaksanakan masyarakat, meningkatkan pemberantasan
KKN di pusat dan daerah; (9) penyempurnaan pedoman
penyusunan pelaporan AKIP, sosialisasi dan pelaksanaan
bantuan teknis SAKIP dan LAKIP; (10) terlaksananya
kegiatan rutin pengawasan berupa pemeriksaan represif yang
meliputi kegiatan pengawasan reguler dan audit laporan
keuangan dan kinerja BUMN/D.
ii. Permasalahan dan Tantangan
Kencenderungan perilaku KKN di lingkungan aparatur
negara merupakan penyakit sosial yang melibatkan banyak
pihak di luar birokrasi dan memerlukan penanganan dengan
cepat dan tepat. Penanganan perilaku korupsi yang dilakukan
selama ini masih cenderung lebih investigatif/represif, dan
kurang pembenahan dalam melakukan tindakan preventif
dengan melakukan pembenahan administrasi, institusi, dan
gerakan budaya anti korupsi di lingkungan birokrasi
pemerintah.
Permasalahan lainnya adalah tingkat kesejahteraan
aparatur negara pada umumnya dan pegawai negeri pada
khususnya yang relatif kecil dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Di samping kapasitas kemampuan SDM dalam
mendukung penyelenggaraan kegiatan akuntabilitas pada
instansi pemerintah dirasakan masih sangat kurang.
V - 47
Demikian pula, kelembagaan yang berwenang dalam
penanganan KKN, yang seharusnya saling berkoordinasi dan
saling mendukung, namun dalam kenyataannya masih belum
terintegrasi dan bersinergi secara efektif.
iii. Tindak Lanjut
Dalam melakukan penanganan tindakan KKN perlu
keserasian antara tindakan memberikan hukuman yang
seberat-beratnya bagi pelaku KKN dan juga melakukan
tindakan pencegahan dengan melakukan pembenahan
administratif, kelembagaan, dan men-dukung gerakan
kampanye anti korupsi. Kemudian perlunya lebih
mengintensifkan koordinasi dan kerja sama dengan pihak
terkait dalam melakukan pemeriksaan dan audit dalam
penyelengaraan negara. Perlunya mempercepat proses hukum
terhadap temuan dari hasil pemeriksaan BPK, BPKP,
Bawasda, dan unit-unit pengawasan lainnya baik yang berada
di dalam maupun di luar instansi pemerintah, khususnya
yang terindikasi adanya penyalahgunaan pengelolaan
keuangan negara. Di samping itu perlunya peningkatan etika
dan moral PNS didukung oleh peningkatan kesejahteraan
PNS. Demikian pula perlunya menerapkan strategi
pemberantasan korupsi “tiga pilar” yang meliputi: preventif,
investigatif/represif, dan edukatif secara paralel dengan
memprioritaskan kegiatan-kegiatan sesuai dengan kondisi di
masa yang akan datang.
3.2 Program Penataan Kelembagaan dan Ketatalaksanaan
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program ini adalah untuk menciptakan organisasi
pemerintah baik pusat maupun daerah yang berdasarkan pada
visi, misi, sasaran, strategi, agenda kebijakan, program, dan
kinerja kegiatan yang terencana. Di samping itu, program ini juga
difokuskan pada upaya pelaksanaan tugas umum pemerintahan
V- 48
dan pembangunan yang didukung oleh sistem pengelolaan
dokumen/arsip yang lebih efektif dan efisien disertai dukungan
sistem informasi yang terarah pada pengembangan EGovernment.
Sasarannya adalah demi terciptanya struktur kelembagaan
yang efektif, efisien dan aksesif, dan terciptanya sistem
ketatalaksanaan yang terkait dengan penataan kewenangan dan
hubungan kerja antara pemerintah pusat, propinsi, dan
kabupaten/kota untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah
serta terjalin dengan jelas satu sama lain sebagai satu kesatuan
dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(SANKRI).
Arah kebijakannya adalah untuk meningkatkan fungsi dan
keprofesionalan birokrasi dalam melayani masyarakat dan
akuntabilitasnya dalam mengelola kekayaan negara secara
transparan, bersih, dan bebas dari penyalahgunaan kekuasaan.
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Dalam upaya mewujudkan program tersebut telah
menghasilkan berbagai hal yang meliputi: (1) melakukan
evaluasi dan penyempurnaan pedoman organisasi perangkat
pemerintah daerah yang ditetapkan dengan PP Nomor 8
Tahun 2003 sebagai pengganti UU 84 tahun 2000; (2)
pengembangan konsep sistem manajemen kinerja prima
otonomi daerah; (3) penatausahaan dan pemanfaatan sarana
dan prasarana kerja aparatur negara; (4) melakukan
penyusunan model strategi penerapan sistem informasi (EGovernment) dalam peningkatan kinerja pelayanan aparatur
pemerintah daerah; (4) tersusunnya buku teknik penyusunan
organisasi berkinerja tinggi; (5) tersusunnya RUU
kementerian negara; (6) penyempurnaan sistem hubungan
kerja, penyederhanaan prosedur, tata hubungan kewenangan
dan tanggung jawab pada instansi pemerintah baik di pusat
V - 49
maupun di daerah, dan (7) Tersusunnya RUU tentang
perilaku aparatur Negara; (8) Pemberian penghargaan bagi
PNS yang menunjukkan dedikasi, disiplin dan berprestasi
dalam menjalankan tugasnya sebagai bagian dari upaya
pembinaan; dan (9) tersusunnya buku Sistem Administrasi
Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI) sebagai
pengganti buku Sistem Administrasi Negara Republik
Indonesia (SANRI).
ii. Permasalahan dan Tantangan
Sampai dengan tahun terakhir pelaksanaan Propenas
2000 – 2004, struktur pemerintahan di pusat dan daerah
masih belum berjalan dengan efektif dan efisien. Meskipun
pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 8 Tahun 2003,
tentang pedoman organisasi perangkat daerah pengganti PP
Nomor 84 Tahun 2000 yang sudah tidak sesuai lagi dengan
keadaan dan perkembangan penataan organisasi pemerintah
daerah. Namun dalam pelaksanaannya dianggap belum
mencerminkan kebutuhan riil kelembagaan di masing-masing
daerah. Sedangkan penataan organisasi di lingkungan
pemerintah pusat, baru dalam tahap menjadi RUU
Kementerian Negara. Demikian pula, masih belum
munculnya prioritas untuk meningkatkan fungsi sistem
administrasi
negara
sebagai
pendukung
sistem
pertanggungjawaban nasional yang dapat membentuk suatu
kepemerintahan yang baik.
Selanjutnya tantangan dalam upaya penataan
kelembagaan dan ketatalaksanaan adalah dengan melakukan
sinkronisasi tata hubungan kewenangan antara pemerintah
pusat dan
pemerintah daerah
guna
mendorong
penyelenggaraan otonomi daerah yang lebih efisien, efektif,
berdaya guna dan berhasil guna, serta menjamin keserasian
hubungan pemerintah Pusat dan daerah sebagai satu kesatuan
dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik
Indonesia (SANKRI).
V- 50
iii. Tindak Lanjut
Perlunya mempercepat penataan struktur kelembagaan
instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan
mempercepat realisasi PP Nomor 8 Tahun 2004 tentang
Pedoman Organisasi Perangkat Daerah dan mempercepat
penyelesaian RUU Kemen-terian negara.
3.3 Program Peningkatan Pelayanan Publik
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan program ini adalah meningkatkan kualitas pelayanan
publik di berbagai bidang pemerintahan sesuai dengan sistem
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) pada unit-unit
kerja pemerintah pusat dan daerah.
Sasarannya program ini adalah terselenggaranya pelayanan
publik yang cepat, tepat, murah, dan memuaskan pada unit-unit
kerja di lingkungan pemerintah pusat dan daerah.
Arah kebijakannya adalah meningkatkan fungsi dan
keprofesionalan birokrasi dalam melayani masyarakat dan
akuntabilitasnya dalam mengelola kekayaan Negara secara
transparan, bersih dan bebas dari penyalahgunaan kekuasaan.
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
(1) tersusunnya pedoman penyelenggaraan pelayanan
publik; (2) melakukan inventarisasi terhadap fungsi-fungsi
pelayanan publik dalam rangka penataan fungsi fungsi
pelayanan yang dapat diserahkan ke sektor swasta dan yang
masih dipertahankan oleh pemerintah; (2) melakukan
V - 51
penyusunan dan menyiapkan naskah RUU pelayanan publik;
(3) penyusunan kebijakan tentang koorporatisasi dan
privatisasi unit-unit pemerintahan yang menye-lenggarakan
pelayanan publik; (4) mengembangkan dan meman-faatkan
teknologi informasi dalam penyelenggaraan pelayanan
publik; (5) mengembangkan dan menetapkan pola pelayanan
terpadu, pengukuran indeks kepuasan masyarakat, dan
standar pelayanan publik; (6) pencanangan Bulan
Peningkatan Pelayanan Publik pada tahun 2003 dan
dilanjutkan dengan pencanangan Tahun Peningkatan
Pelayanan Publik pada tahun 2004.
ii. Permasalahan dan Tantangan
Meskipun upaya ke arah peningkatan kualitas pelayanan
publik terus dilakukan, namun masih terdapat kelemahan
kinerja pelayanan publik yang ditandai dengan masih
banyaknya keluhan masyarakat, baik menyangkut prosedur,
kepastian, tanggung jawab, moral petugas, serta masih
terjadinya praktek pungli yang memperbesar biaya
pelayanan.
Menghadapi berbagai permasalahan tersebut di atas,
maka berbagai tantangan yang harus dihadapi ke depan
adalah bagaimana agar aparatur negara mampu memberikan
pelayanan kepada masyarakat dengan cepat, tepat, aksesif,
murah, manusiawi dan transparan, disertai penggunaan
teknologi
informasi.
Di
samping
itu
perlunya
mengembangkan strategi dan kebijakan yang tepat sehingga
dapat meningkatkan peran serta dan partisipasi masyarakat di
dalam pelaksanaan pelayanan publik.
iii. Tindak Lanjut
Perlunya mempercepat RUU pelayanan Publik sebagai
dasar yuridis dalam pelaksanaan pelayanan publik di
samping perlunya peraturan perundang-undangan untuk
meningkatkan peran serta dan partisipasi masyarakat,
Lembaga Swadaya Masyarakat, dan dunia usaha di dalam
V- 52
merumuskan dan memformulasikan norma-norma dan etika
serta budaya kerja agar tercipta pelayanan publik yang lebih
cepat, tepat, aksesif, murah, manusiawi, dan transparan.
3.4 Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program ini: adalah meningkatkan kualitas,
profesionalisme, dan keterampilan aparatur negara dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya secara lebih optimal.
Sasaran Program ini adalah terwujudnya aparatur negara
yang profesionalitas dan berkualitas dalam melaksanakan tugas
umum pemerintahan dan pembangunan.
Arah kebijakan program peningkatan kapasitas sumber daya
manusia aparatur antara lain diarahkan agar setiap aparatur: (a)
meningkatkan kualitas aparatur negara dengan memperbaiki
kesejahteraan dan keprofesionalan serta memberlakukan sistem
karier berdasarkan prestasi dengan prinsip memberikan
penghargaan dan sanksi; (b) meningkatkan kesejahteraan pegawai
negeri dan Tentara Nasional Indonesia/Kepolisian Negara
Republik Indonesia untuk menciptakan aparatur yang bersih dari
korupsi, kolusi, nepotisme, bertanggung jawab, profesionalisme,
produktif, dan efisien; dan (c) memantapkan netralitas politik
pegawai negeri dengan menghargai hak-hak politiknya.
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
(1) Melakukan penyempurnaan dan perubahan terhadap
Peraturan Pemerintah (PP) yang meliputi: (a) PP Nomor 11
tahun 2002 tentang Perubahan Atas PP Nomor 98 tahun 2000
tentang Pengadaan PNS, (b) PP Nomor 12 Tahun 2002
tentang Perubahan Atas PP No. 99 Tahun 2000 tentang
Kenaikan Pangkat PNS, (c) PP Nomor 13 Tahun 2002
V - 53
tentang Perubahan Atas PP Nomor 100 Tahun 2000 tentang
Pengangkatan PNS Dalam Jabatan Struktural; (2) telah
disusun (a) RPP tentang Pembinaan Jiwa Korsa, (b) RPP
tentang Kode Etik PNS. (3) penyusunan dan penyempurnaan
yang meliputi: (a) RPP tentang Perubahan PP Nomor 30
Tahun 1980 tentang Peraturan disiplin PNS, (b)
Penyempurnaan dan perubahan PP Nomor 97 Tahun 2002
tentang Formasi PNS; (4) melakukan pendataan ulang
pegawai negeri sipil; (5) memantapkan konsep kepegawaian
yang unified, melalui pengembangan pola karier terbuka
secara nasional; (6) memantapkan netralitas politik PNS; (7)
pengembangan dan penyempurnaan ketentuan mengenai
etika dan disiplin bagi PNS; (8) melakukan evaluasi pasca
diklat Spamen dan Spati; (9) terselengaranya diklat
struktural, fungsional dan teknis di dalam upaya mewujudkan
standarisasi kompetensi PNS; dan (10) menyelenggarakan
diklat TOT (training of trainers) untuk meningkatkan
kualitas tenaga widyaiswara; tersusunnya standar kompetensi
jabatan struktural.
ii. Permasalahan dan Tantangan
Upaya meningkatkan kapasitas telah dilakukan secara
berkelanju-tan, namun masih dihadapkan pada permasalahan
mengenai belum adanya pemetaan wilayah pembinaan diklat
yang detail dan komprehensif untuk seluruh Indonesia. Di
samping itu tuntutan akan profesional PNS belum dibarengi
dengan peningkatan kesejahteraan agar PNS dapat hidup
dengan layak dan sejahtera sebagaimana tuntutan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian.
Demikian halnya tantangan dalam upaya peningkatan
kapasitas sumber daya manusia adalah meningkatkan
kompetensi aparatur negara melalui pendidikan dan pelatihan
struktural, fungsional dan teknis secara komprehensif, dan
meningkatkan kesejahteraan aparatur negara dengan
V- 54
melakukan penyempurnaan sistem renumerasi yang berbasis
kompetensi yang kesemuanya itu diharapkan akan dapat
membangunn suatu sistem kepemerintahan yang baik (good
governance).
iii. Tindak Lanjut
Memasuki tahun terakhir pelaksanaan Propenas 2000 –
2004, perlunya merumuskan dan menetapkan kebijakan
renumerasi PNS yang berbasis kompetensi dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan aparatur negara. Di samping itu
perlunya diterapkan merit system dan penilaian prestasi kerja
berbasis kinerja, dan pemberian penghargaan dan sanksi
secara tegas terhadap aparatur negara yang dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya melakukan pelanggaran.
4.
Komunikasi, Informasi, dan media Massa14)
Menurut Garis-garis Besar Haluan Negara 1999-2004, arah
kebijakan Propenas dalam Sub Bidang Komunikasi, Informasi dan
Media Massa adalah :
a. Meningkatkan pemanfaatan peran komunikasi melalui media
massa modern dan media tradisional untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa; memperkukuh persatuan dan kesatuan;
membentuk kepribadian bangsa; serta mengupayakan keamanan
hak pengguna sarana dan prasarana informasi dan komunikasi;
b. Meningkatkan kualitas komunikasi di berbagai bidang melalui
penguasaan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi
guna memperkuat daya saing bangsa dalam menghadapi
tantangan global;
c. Meningkatkan peran pers yang sejalan dengan peningkatan
kualitas dan kesejahteraan insan pers agar professional,
berintegritas, menjunjung tinggi etika pers, supremasi hukum,
serta hak asasi manusia;
14
)
Peranan komunikasi, informasi dan media massa ditekankan pada
proses “pencerdasan” masyarakat dalam kehidupan politik.
V - 55
d.
e.
Membangun jaringan informasi dan komunikasi antara pusat dan
daerah serta antar daerah secara timbal balik dalam rangka
mendukung pembangunan nasional serta memperkuat persatuan
dan kesatuan bangsa;
Memperkuat kelembagaan, sumber daya manusia, sarana dan
prasarana penerangan khususnya di luar negeri dalam rangka
memperjuangkan kepentingan nasional di forum internasional.
4.1 Program Pengembangan Informasi, Komunikasi, dan Media
Massa
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program ini adalah meningkatkan dan memantapkan
pertukaran informasi dan komunikasi antar dan intra kelompok
masyarakat serta antar lembaga politik dengan rakyat sesuai
dengan peran dan fungsinya masing-masing.
Sasaran Program ini adalah terwujudnya kesadaran dan
kedewasaan berpolitik masyarakat melalui pertukaran arus
informasi yang bebas dan transparan, serta adanya mekanisme
kontrol politik yang lebih terbuka.
Arah Kebijakan Program ini adalah meningkatkan
pemanfaatan peran komunikasi melalui media massa modern dan
media tradisional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,
memperkukuh persatuan dan kesatuan, membentuk kepribadian
bangsa, serta mengupayakan keamanan hak pengguna sarana dan
prasarana informasi dan komunikasi; meningkatkan peran pers
yang sejalan dengan peningkatan kualitas dan kesejahteraan insan
pers agar professional, berintegritas, menjunjung tinggi etika pers,
supremasi hukum, serta hak asasi manusia.
V- 56
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Perkembangan kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi dewasa ini secara mendasar telah membawa
implikasi terhadap perubahan dan pembaharuan kehidupan
masyarakat baik di bidang politik, ekonomi, sosial budaya
maupun hankam. Di lain pihak, industri media massa, baik
pers maupun penyiaran, sudah mendapatkan kebebasan
dalam melaksanakan kontrol sosial politiknya, walaupun
masih perlu didukung oleh profesionalisme yang lebih
memadai. Perpaduan antara kemajuan teknologi informasi
dan kebebasan media massa berpotensi besar untuk
mendukung secara kuat proses demokratisasi.
Salah satu indikator kinerja penting adalah terbentuknya
perangkat perundang-undangan yang memberikan jaminan
hukum terlaksananya fungsi-fungsi
media massa dan
terlindunginya masyarakat dari pengaruh negatif media
massa, termasuk Rancangan Undang-undang Kebebasan
Memperoleh Informasi Publik (RUU KMIP) dan UU No 32
Tahun 2002 tentang Penyiaran, sekaligus penyelenggaraan
sosialiasi terhadap konsep perangkat perundangan dimaksud.
Dampak (outcomes) yang diharapkan adanya kepastian legal
yang menjamin hak-hak masyarakat mendapatkan informasi
yang diperlukannya (right to know) dan kewajiban
pemerintah untuk menyampaikan informasi publik yang
dibutuhkan oleh masyarakat (obligation to tell) sejalan
dengan pengembangan demokratisasi dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.
Pada sisi lain, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
menyiapkan pula Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar
Isi Siaran. Asosiasi Televisi Siaran Indonesia (ATVSI) yang
mengeluarkan pedoman perilaku televisi Indonesia yang
mencakup perilaku siaran dan bisnis penyiaran. Yang tidak
kurang penting, sudah munculnya lembaga seperti Television
V - 57
Watch menunjukkan kepedulian masyarakat atas tayangan
media massa, khususnya televisi.
Dalam rangka mewujudkan jaringan infokom dan media
massa ke seluruh pelosok sebagai salah satu indikator kinerja
yang penting telah disusun konsep pengembangan media
komunitas, pemberdayaan dan pemanfaatan media komunitas
sebagai mitra pemerintah yang lebih efektif. Peran media
komunitas menjadi lebih besar sebagai akses publik ke dalam
media. Peluang untuk menentukan cita rasa dan kebutuhan
publik diperluas dengan memberikan kesempatan pada
berbagai komunitas untuk mendiseminasi informasi yang
dianggap penting. Media komunitas juga merupakan jalan
tembus agar semua anggota publik mempunyai akses yang
sama terhadap informasi.
Dalam program ini telah dilakukan pula pengkajian yang
menghasilkan data dan informasi mengenai sistem layanan
informasi luar negeri dan pengkajian pemanfaatan
komunikasi media baru (internet) yang menghasilkan data
dan informasi mengenai keadaan pemanfaatan media baru
sebagai sarana komunikasi. Hasil pengkajian ini merupakan
masukan untuk perumusan kebijakan di bidang
pengembangan sistem layanan informasi luar negeri dan
kebijakan pemanfaat media baru sebagai sarana komunikasi
untuk penyebarluasan informasi kebijakan pemerintah.
Indikator kinerja yang menekankan pada meningkatnya
kemampuan penyediaan dan pelayanan informasi nasional
sesungguhnya diarahkan bagi upaya mengurangi disparitas
informasi di dalam masyarakat. Untuk hal ini, telah pula
dilaksanakan rangkaian kegiatan antara lain menyusun model
informasi pusat dan daerah, inventarisasi media komunitas,
menyusun konsep pengembangan lembaga pemantau media,
sosialisasi rumusan pengembangan media komunitas,
menyusun konsep rating standar profesional konten media
massa. Dalam meningkatkan prasarana penyiaran,
informatika dan media massa dilakukan kegiatan untuk
V- 58
memperluas jaringan kominfo terutama di daerah terpencil
yaitu penyediaan aplikasi manajemen dokumen dan data
reporting, dan penyediaan panduan pemetaan informasi
layanan pemerintah.
Selain itu, telah dilaksanakan juga kegiatan-kegiatan
yang difokuskan untuk mendorong masyarakat dalam
mengembangkan media komunikasi secara mandiri untuk
memenuhi kebutuhan informasi, melakukan upaya
pemerataan informasi kepada seluruh lapisan masyarakat
Indonesia, serta membangun dan mengembangkan
kelembagaan informasi, komunikasi, dan media massa.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain meningkatkan
kajian tentang peraturan perundangan untuk mendukung
terselenggaranya pendayagunaan teknologi kominfo (ICT);
meningkatkan partisipasi dalam penyusunan kebijakan
jaringan teknologi kominfo (ICT) pada pemerintah, dunia
usaha dan masyarakat; meningkatkan partisipan dalam
penyusunan kebijakan jaringan komsos dalam masyarakat;
meningkatkan partisipasi stakeholder dalam pengembangan
sarana kominfo; membentuk forum komunikasi lembaga
pemantau media. Sementara itu untuk meningkatkan
pengkajian dan pengembangan komunikasi dan informasi
telah dilakukan kegiatan antara lain penyusunan rancangan
pengembangan sistem layanan informasi luar negeri, serta
penyediaan informasi pendapat masyarakat tentang kinerja
dan kebijakan pemerintah.
ii. Permasalahan dan Tantangan
Dalam pelaksanaan program pengembangan informasi,
komunikasi dan media massa terdapat beberapa kendala yang
pada umumnya menyangkut adanya perubahan institusional
(kelembagaan) sejak era reformasi. Perubahan kelembagaan
ini juga menyebabkan penyesuaian-penyesuaian dalam tugastugas pokok dan fungsi-fungsi utama masing-masing
lembaga yang bersangkutan, sehingga ada penundaanpenundaan pengembangan kegiatan program. Kendala lain
V - 59
yang mempengaruhi upaya pencapaian indikator kinerja
antara lain belum dipahaminya secara mendasar pentingnya
transparansi dan kebebasan memperoleh informasi, baik dari
sisi masyarakat maupun pemerintah. Hal ini kemudian
berdampak pada belum berperannya media komunitas. Selain
itu, kebebasan media massa yang cukup luas belum diiringi
kesadaran masyarakat untuk membentuk semacam lembaga
pemantau media massa, menyangkut content yang dapat
merugikan masyarakat.
Salah satu persoalan dalam pembangunan komunikasi
dan informasi sebagai akibat dari disparitas ekonomi dan
sosial adalah terjadinya kesenjangan informasi di dalam
masyarakat yang pada akhirnya mengakibatkan semakin
besarnya kesenjangan antara masyarakat yang kaya dan
miskin informasi (the rich and the poor information society).
iii. Tindak Lanjut
Fondasi yang telah dibangun dalam rangka
pengembangan informasi, komunikasi dan media massa
masih memerlukan tindak lanjut untuk menjaga
kesinambungan tujuan dan sasaran Program. Tindak lanjut
yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah perlunya
sosialisasi yang lebih intens kepada masyarakat terkait
dengan RUU mengenai Kebebasan Memperoleh Informasi
Publik, kemandirian dan kedewasaan pers; perlu adanya
sinergi antara lembaga informasi, komunikasi dan media
massa dalam menyusun standar pelayanan minimum sebagai
salah satu bahan kebijakan pemanfaatan teknologi informasi;
perlu upaya memfasilitasi berbagai forum kerjasama dengan
lembaga infokom pemerintah daerah dengan masyarakat
dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat guna
mendorong partisipasi dan berinvestasi dalam penggunaan
jasa pelayanan informasi; perlu upaya yang lebih serius
dalam memfasilitasi dan mengembangkan peran media
komunitas; perlu dilakukan peningkatan pemahaman
masyarakat tentang pentingnya lembaga pemantau media
V- 60
massa; serta melakukan pengkajian dan penelitian yang
relevan dalam rangka pengembangan pers dan media massa
yang profesional, bercirikan antara lain memiliki kemampuan
menciptakan tradisi pers yang menganut prinsip precision
journalism (berdasarkan investigative reporting).
Selanjutnya, diperlukan upaya-upaya memfasilitasi
judicial review atas aspek-aspek sosial politik terhadap UU
Penyiaran serta peraturan perundangan yang berkaitan
dengan pers dan media massa, terutama yang berkenaan
dengan rumusan-rumusan yang dianggap kontroversial bagi
kebebasan pers dan proses demokratisasi. Pers adalah
lembaga yang sangat penting dalam menjaga transparansi
politik dan menjaga hak masyarakat memperoleh informasi
yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Oleh
karena itu kebebasan dan independensinya perlu dipelihara
secara bersama-sama.
4.2 Program Peningkatan Prasarana Penyiaran, Informatika dan
Media Massa
a.
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan program ini adalah meningkatkan kualitas dan
kuantitas prasarana komunikasi dan informasi bagi
terselenggaranya proses sosialisasi, agregasi, serta artikulasi
politik dan sosial budaya.
Sasaran program ini adalah terpenuhinya kebutuhan
informasi masyarakat secara optimal dengan kemampuan untuk
menjangkau semua jenis media informasi yang ada.
Arah Kebijakan Program ini adalah meningkatkan kualitas
komunikasi di berbagai bidang melalui penguasaan dan
penerapan teknologi informasi dan komunikasi guna memperkuat
daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan global.
V - 61
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Dalam program peningkatan pasarana penyiaran,
informatika dan media massa, dampak penting yang dapat
dicatat adalah terbangunnya jaringan informasi dan
komunikasi antar pusat dan daerah serta antar daerah secara
timbal balik dalam rangka mendukung pembangunan
nasional. Dalam program ini dikembangkan data ware house
sebagai basis aplikasi sistem tata alir informasi layanan
pemerintah dan pusat interkoneksi data tentang layanan dan
aturan pemerintah dan lembaga negara lainnya; persiapan
pembentukan pusat layanan informasi pemerintah dan
persiapan pembangunan jaringan komunikasi dan informasi
antara pusat dengan daerah dan antar daerah, serta ke
mancanegara untuk memperjuangkan kepentingan nasional
Sebagai tindak lanjut telah dibangun portal informasi
(lin.go.id dan info.ri.com) sebagai media untuk
penyebarluasan informasi mengenai kebijakan pemerintah
secara on-line. Dengan tersedianya portal tersebut sebagian
kendala penyebarluasan informasi mengenai kebijakan
pemerintah secara cepat dapat teratasi. Diharapkan portal ini
ke depan dapat dikembangkan menjadi portal nasional.
Dengan pengembangan kapasitas portal, kemampuan dan
jenis layanan portal semakin meningkat sehingga dapat
memenuhi kebutuhan penyebarluasan dan kebutuhan
masyarakat akan informasi pemerintah.
Di samping itu dalam upaya meningkatkan prasarana
penyiaran, informatika dan media masa dilakukan kegiatan
antara lain membangun jaringan informasi dan komunikasi
antar pusat dan daerah serta antar daerah secara timbal balik
untuk mendukung pembangunan nasional serta memperkuat
persatuan dan kesatuan bangsa, sedangkan peningkatan
kualitas pelayanan informasi pembangunan dilakukan
melalui beberapa kegiatan, antara lain : menyediakan
V- 62
informasi pemetaan potensi daerah, konsep informasi bidang
ekuin, sosbud dan polkam; menyediakan iklan layanan
masyarakat; dan meningkatkan kajian tentang pemanfaatan
teknologi kominfo pada instansi pemerintah pusat dan
daerah.
ii.
Permasalahan dan Tantangan
Permasalahan utama dalam pelaksanaan program
peningkatan prasarana penyiaran, informatika, dan media
massa, adalah belum adanya grand design mengenai
pengembangan media informasi dan komunikasi di
lingkungan masyarakat secara mandiri.
Di samping itu, masih diperlukan berbagai penataan
regulasi bidang kominfo baik terhadap aspek infrastruktur,
jaringan, sarana dan sumber daya manusia (SDM). Pada
aspek kelembagaan, masih terlihat adanya inefisensi dalam
penyusunan kebijakan dan pengelolaan informasi.
Untuk mewujudkan jaringan komunikasi dan informasi
antar pusat, pusat dan daerah, serta ke mancanegara juga
mengalami berbagai kendala terkait dengan belum adanya
standar dalam organisasi pengelolaan jaringan. Kurangnya
sumberdaya manusia professional dalam melaksanakan
kegiatan layanan informasi melalui portal yang ada juga
sangat dirasakan sebagai permasalahan dan tantangan yang
cukup besar.
iii.
Tindak Lanjut
Tindak lanjut yang masih diperlukan terkait dengan
berkembangnya media informasi dan komunikasi di
lingkungan masyarakat secara mandiri adalah perlunya
rumusan grand design sebagai dasar pengembangan Jaringan
Informasi Elektronik Masyarakat Indonesia (JIEMI).
V - 63
Dalam rangka mewujudkan jaringan komunikasi dan
informasi antar pusat, pusat dan daerah memang telah
disusun aplikasi yang dapat menghubungkan jaringan antar
pusat dan pusat-daerah, serta ke manca negara melalui portal
lin.go.id. Namun demikian, untuk mengoptimalkan
pemanfaatan dan pelayanan jaringan tersebut perlu
ditetapkan organisasi pengelola dan peningkatan sumber
daya manusia yang kompeten melalui program-program
pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan.
4.3. Program Peningkatan
Pembangunan
a.
Kualitas
Pelayanan
Informasi
Tujuan, Sasaran, dan Arah Kebijakan
Tujuan Program ini adalah meningkatkan jaringan informasi
kepada dan dari masyarakat untuk mendukung proses sosialisasi
politik dan partisipasi politik rakyat.
Sasaran Program ini adalah meningkatnya kemampuan
masyarakat untuk menyeleksi informasi agar tidak menimbulkan
hilangnya rasa saling percaya antar anggota masyarakat, serta
yang dapat menimbulkan kesenjangan informasi yang
mengancam integrasi nasional.
Arah Kebijakan Program ini adalah membangun jaringan
informasi dan komunikasi antara pusat dan daerah serta antar
daerah secara timbal balik dalam rangka mendukung
pembangunan nasional serta memperkuat persatuan dan kesatuan
bangsa; memperkuat kelembagaan, sumber daya manusia, sarana
dan prasarana penerangan khususnya di luar negeri dalam rangka
memperjuangkan kepentingan nasional di forum internasional.
V- 64
b. Pelaksanaan
i.
Hasil yang Dicapai
Hasil dari pelaksanaan program peningkatan kualitas
pelayanan informasi pembangunan antara lain adalah mulai
meningkatnya ketersediaan informasi dan tersebarnya
informasi khususnya bagi wilayah di mana jangkauan media
swasta dan publik masih rendah serta meningkatnya
kapasitas portal pemerintah pada aspek muatan melalui
penganekaragaman konten dan meningkatkan kerjasama
antar lembaga.
Dalam kegiatan pelaksanaan program peningkatan
kualitas pelayanan informasi pembangunan, telah dilakukan
kegiatan penyusunan panduan pemetaan informasi layanan
pemerintah. Kegiatan ini telah menghasilkan pedoman
pemetaan informasi layanan pemerintah untuk digunakan
oleh berbagai instansi/lembaga pemerintah dalam
membuat/menyusun peta layanan informasi yang dilakukan
masing-masing instansi, termasuk informasi pemetaan
tentang potensi daerah. Dengan dimanfaatkannya basis data
tersebut diharapkan memberikan dampak pada meningkatnya
kesadaran dan motivasi instansi pemerintah pusat dan daerah
dalam memanfaatkan teknologi informasi.
Penyediaan dan penyebarluasan informasi mengenai
kebijakan pemerintah dimaksud dilakukan dalam dua bentuk
yaitu bentuk tercetak untuk konsumsi luar negeri dan bentuk
iklan layanan masyarakat melalui media elektronik untuk
konsumsi masyarakat dalam negeri. Melalui kedua bentuk
kegiatan ini diharapkan informasi mengenai berbagai
kebijakan pemerintah, semakin diketahui dan dipahami
masyarakat secara luas.
Selain itu juga telah dimulai pengadaan barang dan jasa,
dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi
melalui e-procurement.
V - 65
ii.
Permasalahan dan Tantangan
Beberapa kendala yang dihadapi dalam rangka
pelaksanaan program ini antara lain berkenaan dengan
sulitnya
koordinasi
lintas
sektor
dalam
mengimplementasikan konsep-konsep tentang layanan
informasi pembangunan yang sudah dirumuskan. Penyediaan
informasi pembangunan yang bersifat lintas sektor baru dapat
dipenuhi melalui portal lin.go.id dengan fasilitas link antar
sektor.
Di samping itu, kecilnya kapasitas sumber daya manusia,
terutama dalam rangka pelayanan informasi nasional dan
akses masyarakat internasional terhadap informasi juga
merupakan kendala yang signifikan. Kemampuan
merumuskan informasi yang lengkap dengan format yang
sederhana dan mudah diakses masih sangat terbatas sehingga
pelayanan dan akses masyarakat terhadap informasi juga
masih terbatas.
iii.
Tindak Lanjut
Dalam upaya meningkatkan penyediaan dan kualitas
informasi pembangunan, telah dihasilkan beberapa konsep
yang mengatur tentang penyediaan informasi yang dilakukan
oleh pemerintah. Sebagai langkah tindak lanjut dari Inpres
No. 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan e-Government, Kementerian Kominfo telah
menyiapkan Inter Governmental Access Share Information
System (IGASIS) atau Sistem Pertukaran Data dan Informasi
Pemerintah, yang akan dicobakan di 3 (tiga) instansi
pemerintah yakni: BKKBN, Kominfo, dan Deptan, serta
menerbitkan buku panduan tentang e-Government yakni : (1)
Panduan Penyelenggaraan Situs Web Pemerintah Daerah, (2)
Panduan Pembangunan Infrastruktur Portal Pemerintah, (3)
Panduan Manajemen Sistem Dokumen Elektronik
Pemerintah,
(4)
Panduan
Penyusunan
Rencana
V- 66
Pengembangan e-Government Lembaga, (5) Panduan tentang
Pendidikan dan Pelatihan SDM e-Government. Namun
demikian karena masih adanya kendala koordinasi lintas
sektor, maka perlu tindak lanjut diseminasi khususnya di
lingkungan institusi pemerintah.
Terhadap upaya pengembangan pelayanan informasi
nasional, sudah dapat dipenuhi pelayanan informasi di bidang
pariwisata, budaya, bisnis dan industri serta iklan layanan
masyarakat. Namun demikian, masih sangat diperlukan
tindak lanjut pengembangan kualitas substansi maupun
peningkatan kuantitas masing-masing media informasi yang
sudah ada.
Peningkatan kualitas pelayanan informasi pembangunan
yang berhasil sangat erat hubungannya dengan kebutuhan
dan kelayakan penyajiannya untuk dunia pers dan media
massa. Dalam kaitan ini perlu dipertimbangkan pembentukan
lembaga jurubicara kepresidenan (press secretary) yang
sekaligus berperan sebagai jurubicara pemerintah sebagai
sarana sosialisasi kebijakan dan kegiatan-kegiatan rutin
pemerintahan. Dalam suatu iklim pers bebas di sebuah
negara demokrasi, maka pemerintah umumnya sangat
memerlukan lembaga khusus yang mampu menjelaskan
kebijakan pemerintah, menjawab pertanyaan-pertanyaan
media massa secara spontan, mampu memahami
kecenderungan-kecenderungan pendapat publik (public
opinion) terhadap kebijakan–kebijakan pemerintah, serta
memiliki sensitivitas terhadap masukan (feedback)
masyarakat kepada pembuat kebijakan.
V - 67
Download