2011 [sosiologi dan politik]

advertisement
2011
UNIVERSITAS SERANG
RAYA
“Sebaiknya jaga dirimu selalu bersih dan
cemerlang; kamu adalah jendela melalui mana
kamu melihat dunia”. George Bernard Shaw
Sumber: “7 Habits of Highly Effective Teens (Sean Covey)”
Zainal Muttaqin, S.IP
[SOSIOLOGI DAN POLITIK]
Bahan Belajar Mahasiswa untuk Mata Kuliah Sosiologi dan
Politik Semester Genap Tahun Akademik 2010/2011
UNIVERSITAS SERANG RAYA
0
MENU BACA
Prologue
Bagian I Sosiologi
Ilmu Pengetahuan dan Sosiologi
Proses sosial
Kelompok-kelompok Sosial
Kebudayaan dan Masyarakat
Pelapisan sosial (Stratifikasi sosial)
Bagian II Politik
Makna Politik dan Ilmu Politik
Sistem Politik dan Pemerintahan
Sistem Politik Pemerintahan di Indonesia
Paham-Paham Besar di Dunia
Demokrasi
Bibliografi
1
PROLOGUE
Sebagai seorang alumni dari sekolah sosial dan politik, saya merasakan benar bahwa kebutuhan akan
warga negara yang mampu mengamati secara analitik serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik
sungguh sangat besar, teristimewa sekali di Indonesia. Namun, nampaknya budaya berdiskusi dan
bercengkerama seputar isu-isu politik baru sampai tahap ‘teman selingan ngopi’ yang acapkali lebih
sering disela dengan obrolan ‘dangdut’. Sebagian mengemukaan alasan budaya, bahwa ‘Dangdut is the
music of my country’ sehingga sungguh berlebihan menuduh dangdut sebagai biang ‘kepandiran’ politik
masyarakat kita.
Sebagian teman yang lain menyampaikan pandangan yang berbeda. Kultur tersebut merupakan produk
dari kebijakan struktural yang ‘sengaja’ membodohi atau membiarkan kebodohan langgeng di tengah
masyarakat kita. Inilah, ujarnya, politik penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya dengan
mencegah menguatnya kapasitas intelektual dan politik masyarakat.
Dari pendapat-pendapat itu, saya meng-iya-kan keduanya. Bahkan termasuk pandangan yang
mengatakan bahwa 1-2 kasus yang saya temui di jalan, tidak bisa men-generalisir masyarakat semuanya.
Kasus-kasus tersebut masing-masing berdiri sendiri dan belum tentu ada kaitannya.
Nah, barangkali tulisan pembuka ini tidak cukup menarik untuk menerbitkan selera anda meminati
bacaan sosial dan poltik, apalagi anda tidak berada dalam fakultas yang saya sebutkan tadi. Yang ingin
saya sampaikan, sedikitnya, adalah kita menghadapi kompleksitas persoalan kehidupan sosial, poltik,
bahkan berbangsa-bernegara yang jika diuraikan akan seperti mengurai benang kusut yang belum
diketahui ujungnya. Tanpa petunjuk apapun, tentu nyaris mustahil memecahkan persoalan tersebut.
Satu-dua bacaan ringkas yang amat tidak memadai, hasil dari kompilasi sebagai bahan belajar, mengisi
waktu luang, menghadapi ujian, atau saking tidak ada kerjaan adalah tabungan untuk menambah ikhtiar
dalam mengurai benang kusut bangsa kita.
Saya tidak berharap ada pujian dengan hadirnya kompilasi bahan belajar untuk mata kuliah Sosiologi
dan Politik ini (jujur, saya agak sedikit tidak nyaman dengannya, mengingat dua subjek ini merupakan
subjek penting yang sama luasnya dan sayang jika disatukan ‘hanya’ dalam satu mata kuliah di sebuah
semester). Saya hanya meminta pada Allah—setelah saya mengucap syukur Alhamdulillah atas kekuatan
yang Allah karuniakan sehingga memudahkan saya menamatkan kompilasi ini, serta uluran cintanya
melalui ‘tangan-tangan mungil’ jajaran pimpinan di UNSERA, FISIP UNSERA, FE UNSERA, PSS FISP
UNSERA, dan manusia-manusia rendah hati yang niscaya marah jika saya haturkan salut atas jasajasanya di sini—bahwasanya tersebarlah virus-virus yang membangkitkan kesadaran kita sebagai bagian
dari umat, khalifah di muka bumi, dan penjaga amanah antara satu dengan yang lain. Dengan demikian,
semoga kesadaran akan perlahan lahir dan menjadi tunas kebangkitan ‘jamaah’ Indonesia menuju masa
depan yang lebih baik. Memaknai kehidupan sosial secara lebih baik. Hidup dalam atmosfer budaya
politik dan berpemerintahan yang partisipatif.
Terlalu jauh? Berlebihan? Semoga saja tidak.
Dan salah satu tandanya, saya percaya, ialah datangnya kritik dan masukan dari sidang pembaca
sekalian untuk proses perbaikan kekurangan naskah sederhana ini ke depan. Anda akan
mengirimkannya bukan?
Tabik.
Carenang-Senayan, 2011
Zainalmuttaqin.blog.com
2
Bagian I Dari Mata Kuliah Sosiologi &Politik
SOSIOLOGI
Ilmu Pengetahuan dan Sosiologi
Proses sosial
Kelompok-kelompok Sosial
Kebudayaan dan Masyarakat
Pelapisan sosial (Stratifikasi sosial)
3
ILMU PENGETAHUAN DAN SOSIOLOGI
Ilmu Pengetahuan
Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini
dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi
lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan
berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan
seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu
terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu
pengetahuan adalah produk dari epistemologi.
Kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan
penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial
dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan lain sebagainya. Berbeda dengan pengetahuan,
ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan
mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan
ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama
sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat
ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang
dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut
kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang
penelitian.
2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya
penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat
cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani
“Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang
digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu
harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk
suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian
sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam
rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum
(tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal
merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar keumum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat
objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam
ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.
Contoh klasifikasi Ilmu Pengetahuan yang sederhana yaitu:
1. Ilmu dasar (Basic Science) misalnya biologi yang bertujuan mendalami teori dan isi alam yang
hidup.
4
2. Ilmu terapan (Applied Sciences) yang bertujuan untuk memanfaatkan ilmu guna memecahkan
masalah praktis misalnya mekanisme dan teknologi pertanian.
Sosiologi
Dilihat dari sudut pandang etimologi, kata sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti kawan
atau teman, dan kata Yunani logos yang berarti pengetahuan. Dengan demikian sosiologi berarti
pengetahuan tentang pertemanan atau perkawanan. Secara lebih luas maka sosiologi berarti
pengetahuan tentang hidup bermasyarakat. Yang lebih penting adalah bahwa kata sosial mengandung
pemahaman adanya sifat berjiwa pertemanan, terbuka untuk orang lain dan tidak bersifat individual
atau egoistik atau tertutup terhadap orang lain (Hendropuspito (1989).
Para ahli kemudian mencoba memberikan definisi yang lain tentang sosiologi, walaupun ada intinya
definisi yang mereka kemukakan tidak beda jauh dengan arti kata secara etimologis. Dari berbagai
pendapat para ahli tersebut terlihat bahwa pada umumnya mereka sepakat bahwa sosiologi merupakan
ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai interaksi manusia didalam kehidupan sosialnya. Sosiologi
memisatkan kajiannya pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut. Adat
istiadat, tradisi, nilai-nilai hidup, suatu kelompok, proses interaksi diantara kelompok dan
perkembangan lembaga-lembaga sosial merupakan perhatian sosiologi.
Sosiologi membatasi diri pada sistem penilaian yang terjadi dewasa ini (berupa petunjuk-petunjuk dan
gambaran), bukan apa yang seharusnya terjadi, juga tidak menentukan ke arah mana harusnya suatu
kebijakan melangkah.
Sosiologi merupakan ilmu murni (pure sciene) bukan ilmu terapan (applied science), ilmu murni
berfungsi meningkatkan secara abstrak kualitas dan mutunya, sedangkan terapan adalah ilmu yang
langsung digunakan dan diterapkan agar berguna bagi masyarakat.
Manusia memiliki naluri yang kuat untuk hidup bersama dengan yang lainnya. Semenjak lahirpun
manusia memiliki naluri untuk berkawan sehingga diistilahkan Social Animal dan memiliki naluri
Gregariousness, suatu keinginan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas, dalam pergaulannya
tersebut kadang manusia membutuhkan suatu pengakuan kebaradaan diri, dengan menunjukkan
kelebihan atau kasukaannya manusia dapat berinteraksi dan mendapatkan reaksi baik positif ataupun
negative yang berakibat pula semakin memperluas pergaulan dan sikap tindakannya.
Dengan melihat perbandingan munculnya ilmu-ilmu lain (seperti filsafat, ekonomi, hukum, dan lain-lain)
maka sosiologi dapat dikatakan sebagai ilmu yang masih muda. Auguste Comte (1798 - 1853)
merupakan orang pertama yang menggunakan istitah sosiologi yang secara tegas membedakan cakupan
dan isi sosiologi dengan cakupan dan obyek ilmu -ilmu yang lain.
Walaupun sosiologi merupakan ilmu yang masih muda namun secara tidak langsung, manusia sudah
sejak lahir telah menggeluti sosiologi terutama lewat pergaulan dengan kelompok-kelompok anggota
keluarga intinya (terutama ibu), kelompok manusia di sekitar keluarganya sampai kelompok pergaulan
internasional. Permasalahannya apakah sosiologi itu? Dari sini, mulailah orang mencoba mendefinisikan
sosiologi.
Roucek dan Warren (1962), menyebutkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan
antar manusia daiam kelompok -kelompok. Van Doorn dan Lammers (1964) menyebutkan bahwa
sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang
bersifat stabil. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1974) mendefinisikan bahwa sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial.
5
Hendropuspito (1989) mendefinisikan sosiologi adalah ilmu pergetahuan yang mempelajari masyarakat
secara empiris untuk mencapai hukum kemasyarakatan yang seluas mungkin.
Banyak definisi (seperti terurai diatas) yang satu sama lain saiing melengkapi dan mempunyai
persamaan pandangan. Persoalannya adalah apakah hakekat terdalam dari sosiologi? dan untuk apakah
sosiologi itu kita pelajari?
Hakekat Sosiologi
Kalau kita mempelajari kehidupan seseorang atau sekelompok orang tertentu sejak dia masih muda
sampai dia (mereka) dewasa maka kita lebih banyak memahami aspek-aspek kemasyarakatan yang
berkaitan dengan sejarah. Kalau kita mempelajari pola tingkah laku seseorang atau sekelompok
(mengapa mereka mempunyai sifat dan tindakan yang faktanya seperti kita amati) maka kita sedang
merambah aspek kemasyarakatan yang lebih berkaitan dengan psikologi. Kalau kita mempelajari
(mengamati atau meneliti) seseorang atau sekelompok orang dalam berhubungan dengan orang lain
atau kelompok lain (dalam istilah sosiologi dikenal sebagai interaksi), maka kita memang sedang
merambah aspek kemasyarakatan yang lebih berkaiatan dengan ranah sosiologi.
Di ranah sosiologi inilah kita dapat mempelajari: teori-teori sosiologi; tindakan dan interaksi sosial;
keteraturan dan konflik sosial; stratifikasi dan diferensiasi sosial; mobilitas sosial; pranata dan
kelembagaan sosial; perubahan sosial; masyarakat tradisional dan modern; modernisasi dan globalisasi;
masalah-masalah sosial; dan metodologi penelitian sosial (semuanya akan dibahas tersendiri); analisa
sosial; dan penerapan sosial (sosiologi pembangunan).
Berdasar definisi dan pemahaman tentang sosiologi maka pada dasamya dapat dikemukakan ciri-ciri dan
sifat-sifat dari sosiologi yang merupakan hakekat dan sosiologi itu sendiri (Soekanto, 1997).
(1) Sosiologi adalah ilmu sosial yang berisi tentang gejala-gejala kemasyarakatan.
(2) Sosiologi adalah ilmu yang tidak bersifat normatif.
(3) Sosiologi adalah ilmu pengetahuan murni dan bukan ilmu terapan (walaupun sosioiogi
dapat digunakan untuk pembangunan masyarakat).
(4) Sosiologi adalah ilmu yang merupakan abstraksi dan hal-hal kongkrit (empirik).
(5) Sosiologi melihat (mencari) pola-pola yang bersifat umum dari gejala sosial yang ada di
masyarakat.
(6) Sosiologi merupakan ilmu yang didasarkan kepada fakta empirik dan bersifat rational.
Dengan demikian maka hakekat sosiologi adalah suatu pencarian gejala umum yang terpola (umum)
yang ada dalam kenyataan di lapangan (empirik) dari setiap interaksi antar manusia atau antar
kelompok manusia.
Perkembangan Sosiologi
Zaman Keemasan Filsafat Yunani
Pada masa ini sosiologi dipandang sebagai bagian tentang kehidupan bersama secara filsafati. Pada
masa itu Plato (429-347 SM) seorang filasof terkenal dari Yunani, dalam pencariannya tentang makna
negara dia berhasil merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup kehidupan sosial dan
ekonomi. Plato menganggap bahwa institusi-institusi dalam masyarakat saling bergantung secara
fungsional. Kalau ada satu institusi yang tidak jalan maka secara keseluruhan kehidupan masyarakat
akan terganggu.
Seperti halnya Plato maka Aristoteles (384-322 SM) juga menganggap bawa masyarakat adalah suatu
organisma hidup (seperti pandangan kaum biologiwan) dengan basis kehidupannya adalah moral (yang
6
baik). Pada masa ini kaum agamawan yang berkuasa sehingga kehidupan sosial lebih diwarnai oleh
keputusan-keputusan kaum agamawan yang berkuasa.
Zaman Renaissance (1200-1600)
Machiavelii adalah orang pertama yang memisahkan antara politik dan moral sehingga terjadi suatu
pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Di sini muncul ajaran bahwa teori-teori politik dan
sosial memusatkan perhatian pada mekanisme pemerintahan. Sejak masa ini maka pengaruh kaum
agamawan mulai memperoleh tantangan.
Abad Pencerahan (abad ke 16 dan 17)
Pada masa ini muncul Thomas Hobbes (1588-1679) yang mengarang buku yang dikena! sebagai The
Leviathan. Inti ajarannya diilhami oteh hukum alam, fisika dan matematika. Pada masa ini pengaruh
keagamaan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh pandangan- pandangan yang bersifat hukum sebagai
kodrat keduniawiannya. Berdasar pandangan kelompok inilah kemudian muncul suatu kesepakatan
antar manusia (kelompok) yang dikenal sebagai kontrak sosial. Pada mulanya interaksi antar manusia
berada dalam kondisi chaos karena saling mencurigai dan saling bersaing untuk memperebutkan sumber
daya alam dan manusia yang ada. Kondisi yang bersifat kodrati (sesuai dengan hukum alam) ini
kemudian dipandang akan selalu menyengsarakan kehidupan manusia. Oleh sebab itu dibuatlah
kesepakatan-kesepakatan pengaturan antar kelompok yang dapat saling berterima dan saling
menguntungkan, yang kemudian dikenal sebagai kontrak sosial.
Abad Ke 18
Pada masa ini munculah John Locke (1632-1704) yang dianggap sebagai bapak Hak Asasi Manusia
(HAM). Dia berpandangan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai hak-hak dasar yang sangat
pribadi yang tidak dapat dirampas oleh siapapun termasuk oleh negara (seperti hak hidup, hak berpikir
dan berbicara, berserikat, dan lain-lain). Tokoh lain yang muncul adalah J.J. Rousseau (1712-1778) yang
masih berpegang pada ide kontrak sosialnya Hobbes. Dia berpandangan bahwa kontrak antara
pemerintah (negara?) dengan yang diperintah (rakyat?) menyebabkan munculnya suatu kolektifitas
yang mempunyai keinginan -keinginan tersendiri yang kemudian menjadi keinginan umum. Keinginan
umum inilah yang harusnya menjadi dasar penyusunan kontrak sosial antara negara dengan rakyatnya.
Abad ke 19
Abad ke 19 dapat dianggap sebagai abad mulai berkembangnya sosiologi, terutama sesudah Auguste
Comte (1798-1853) memperkenalkan istilah sosiologi, sebagai usaha untuk menjawab adanya
perkembangan interaksi sosial dalam masa industrialisasi.
Pada masa ini sosiologi dianggap mulai dapat mandiri. Kondisi yang baru dalam taraf mulai mandiri ini
disebabkan walaupun sosiologi sudah dapat menunjukkan adanya obyek yang dijadikan fokus
pembahasan (interaksi manusia), namun di dalam pengembangan ilmunya masih menggunakan
metode-metode ilmu-ilmu yang lain (ilmu ekonomi misalnya).
Abad ke 20
Baru pada abad ke 20 inilah sosiologi dapat benar-benar dianggap mandiri karena:
•
•
•
•
Mempunyai obyek khusus yaitu interaksi antar manusia,
Mampu mengembangkan teori-teori sosiologi,
Mampu mengembangkan metode khusus sosiologi untuk pengembangan sosiologi,
Sosiologi menjadi sangat relevan dengan semakin banyaknya kegagalan pembangunan
karena tidak mendasarkan dan memperhatikan masukan dari sosiologi.
7
Pada akhir abad ke 20 ini, maka salah satu kelemahan (masih dianggap ketinggalan) dari sosiologi,
namun yang pada saat ini juga sudah mulai dapat dipecahkan, yaitu dalam kaitannya dengan
perkembangan dan permasalahan global. Di sini interaksi antar manusia yang dapat diamati adalah
adalah interaksi tidak langsung lewat telepon, internet, dan lain-lain yang menghubungkan manusia
yang saling berjauhan letaknya.
Perspektif Sosiologi
Sosiolog bukanlah pembaca pikiran orang atau peramal tetapi dia bisa dengan sangat meyakinkan
mengatakan tentang kehidupan seorang (sekelompok orang) yang belum dikenalnya bahkan dapat
meramalkannya dengan tepat. Sosiolog dapat dengan secara tepat menggambarkan anda berasal dari
lingkungan mana, latar belakang pendidikan anda, pendapatan keluarga anda, dan bahkan
kemungkinan- kemungkinan yang akan menimpa anda (yang anda akan lakukan).
Manusia mempunyai kesempatan yang tidak terbatas untuk mencari kesempatan secara terbuka baik
dalam pemikiran maupun tindakan. Namun demikian di dalam pengambilan keputusan penting yang
terjadi setiap hari seorang individu akan tetap berada dalam arena (yang terbatas) yang dikenal sebagai
masyarakat (society), seperti keluarga, lingkungan RT/RW, kampus, suku, bangsa, bahkan lingkungan
dunia.
Makna kebijakan penting dari sosiologi adalah bahwa dunia sosial akan menuntun (guides) aktivitas dan
pilihan-pilihan hidup kita, seperti kokok ayam jantan yang menentukan kapan kita harus bangun pagi.
Demikian pula munculnya suara garengpung yang menuntun petani untuk menanam jenis tanaman
tertentu. Mengingat sosiolog adalah orang (kelompok orang) yang mempunyai pemahaman yang kuat
tentang bagaimana bekerjanya masyarakat (society works), maka mereka itu dapat menganalisa dan
meramal dengan ukuran yang baik dan akurat bagaimana seharusnya kita bertingkah laku.
Beberapa manfaat atau keuntungan yang dapat diperoleh apabila kita menggunakan perspektif sosiologi
dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah:
(1) Perspektif sosiologi telah menantang (mendorong) untuk meninjau kembali pemahaman
kita dan orang lain tentang pemahaman yang familiar. Dari sini kita bisa mengkritik
pemahaman yang dianggap secara umum memang begitu(established) yang pada dasarnya
sudah perlu dirubah.
(2) Perspektif sosiologi memungkinkan kita untuk mengetahui dan memperoleh kesempatan
atau (dan) kendala dalam kehidupan kita.
(3) Perspektif sosiologi memberdayakan kita untuk menjadi aktif berpartisipasi dalam
kehidupan bermasyarakat menuju kebaikan bersama.
(4) Perspektif sosiologi menolong kita untuk mengenali perbedaan (pluralitas) manusia dan
menghadap tantangan kehidupan dalam dunia yang bervariasi (diverse).
Penerapan Sosiologi
C. Wrigt Mills (1916-1962), pernah mengatakan bahwa sosiologi adalah jalan untuk keluar bagi kita dari
jebakan kehidupan kita karena masyarakat bertanggungjawab terhadap permasalahan kita. Apa yang
kita butuhkan adalah kualitas pikiran kita untuk menolong dan melihat apa yang terjadi di dunia dan apa
yang akan menimpa kita. lnilah yang disebutnya sebagai Sociological Imagination.
Di pihak lain adapula yang mengatakan bahwa sosiologi dapat menoiong kita untuk memperoleh
pekerjaan di banyak bidang (sebagai peneliti, pekerja sosial, pengembang masyarakat, bankir, jurnalis,
dll). Durkheim mengatakan bahwa pada jamannya tidak ada seorang ahli sosialpun yang mendekati
masyarakat dari sudut pandangan sosiologi. Pada mulanya orang hanya melihat dan menekankan
8
bagaimana caranya agar masyarakat dapat hidup lebih baik dan hanya melihat bagaimana kenyataan
kehidupan sosial masyarakat.
Munculnya era industrialisasi tidak hanya merubah pola dan tatanan ekonomi namun sekaligus juga
merubah pola dan tatanan sosial. Munculnya kota yang menjadi pusat pertumbuhan industri membawa
pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Pola interaksi antar manusia di wilayah perkotaan padat yang
dekat dengan pusat industri menjadi berubah, hubungan antar individu menjadi spesifik dan terbatas.
Dengan demikian maka terjadilah suatu perubahan sosial di masyarakat Eropa pada waktu itu.
Demikian pula muncuknya era globalisasi pada akhir abad 20 atau awal abad 21 tidak hanya membawa
perubahan ekonomi dan politik global namun juga terjadi perubahan sosial. Semakin tipisnya batasbatas negara dan semakin “dekatnya” jarak (lewat transportasi dan komunikasi canggih) memungkinkan
pola dan tatanan sosial masyarakat juga menjadi berkembang. Di sini sosiologi menjadi semakin penting
dan relevan untuk menjawab tantangan perubahan jaman untuk kebaikan bersama.
9
PROSES SOSIAL
Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompokkelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk hubungan tersebut atau
apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola
kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbal-balik antara pelbagai
segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan
ekonomi, ekonomi dengan hukum, dst.
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interkasi sosial tak akan
mungkin ada kehidupan bersama. Dengan kata lain, interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam
Kehidupan Sosial.
Bentuk umum proses sosial adalah interaksi social (yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial)
karena interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial
merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang
perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok
manusia. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi anatara kelompok tersebut sebagai
suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.
Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi pula di dalam masyarakat. Interaksi tersebut
lebih mencolok ketika terjadi benturan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok.
Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak.
Interaksi sosial tak akan mungkin teradi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan
sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan
termaksud.
Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :
a. Imitasi: Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk
mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.
b. Sugesti: Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap
yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.
c. Identifikasi: Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri
seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada
imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.
d. Simpati: Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain.
Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama
pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.
Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara
kelompok maupun antara individu dengan kelompok. Dua Syarat terjadinya interaksi sosial :
a. Adanya kontak sosial (social contact), yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk.Yaitu
antarindividu, antarindividu dengan kelompok, antarelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula
bersifat langsung maupun tidak langsung.
b. Adanya Komunikasi, yaitu seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perassaan
apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi
terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
10
Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya
menyentuh). Arti secara hanafiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi
apabila terjadinya hubungan badaniah. Sebagai gejala seosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan
badaniah, karena dewasa ini dengan adanya perkembangan teknologi, orang dapat menyentuh berbagai
pihak tanpa menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah bukanlah syarat untuk
terjadinya suatu kontak.
Kontak sosial dapat terjadi dalam 3 bentuk :
1. Adanya orang perorangan
Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebuasaan dalam keluarganya. Proses
demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru
mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota.
2. Ada orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya
kontak sosial ini misalnya adalah seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan
dengan norma-norma masyarakat atau apabila suatu partai politik memkasa anggota-anggotanya
menyesuaikan diri dengan ideologi dan programnya.
3. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.
Umpamanya adalah dua partai politik mengadakan kerja sama untuk mengalahkan parpol yang
ketiga di pemilihan umum.
Terjadinya suatu kontak tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tanggapan terhadap
tindakan tersebut. Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sengangkan yang
bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau bahkan sama seali tidak menghasilkan suatu
interaksi sosial.
Suatu kontak dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak perimer terjadi apabila yang mengadakan
hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka. Kontak sekunder memerlukan suatu perantara.
Sekunder dapat dilakukan secara langsung. Hubungan-hubungan yang sekunder tersebut dapat
dilakukan melalui alat-alat telepon, telegraf, radio, dst.
Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang
berwujud pembicaraan, gera-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin
disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap
perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.
Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan suatu kelompok manusia atau
perseorangan dapat diketahui oleh kelompok lain atau orang lainnya. Hal itu kemudian merupakan
bahan untuk menentukan reaksi apa yang dilakukannya.
Kehidupan yang Terasing
Pentingnya kontak dan komunikasi bagi terwujudnya interaksi sosial dapat diuji terhadap suatu
kehidupan yang terasing (isolation). Kehiduapan terasing yang sempurna ditandai dengan
ketidakmampuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan pihak-pihak lain. Kehidupan terasing dapat
disebaban karena secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang-orang
lainnua. Padahal perkembangan jiwa seseorag banyak ditentuan oleh pergaulannya dengan orang lain.
Terasingnya seseorang dapat pula disebabkan oleh karena cacat pada salat satu indrany. Dari beberapa
hasil penelitian, ternyata bahwa kepribadian orang-orang mengalami banyak penderitaan akibat
kehidupan yang terasing karena cacat indra itu. Orang-orang cacat tersebut akan mengalami perasaan
11
rendah diri, karena kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan kepribadiannya seolah-olah
terhalang dan bahkan sering kali tertutup sama sekali.
Pada masyarakat berkasta, dimana gerak sosial vertikal hampir tak terjadi, terasingnya seseorang dari
kasta tertentu (biasanya warga kasta rendahan), apabila berada di kalangan kasta lainnya (kasta yang
tertinggi), dapat pula terjadi.
Bentuk-bentu Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan
bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Pertikaian mungkin akan
mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk
sementara waktu, yang dinamakan akomodasi.
Ini berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenunya. Suatu keadaan dapat dianggap sebagai
bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk poko dari interaksi sosial tersebut tidak perlu
merupakan suatu kontinuitas, di dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan kerja sama yang
kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk akhirnya sampai pada
akomodasi.
Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka, ada dua macam
proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial :
Proses-proses yang Asosiatif
1. Kerja Sama (Cooperation)
Suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu
atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat
digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut
di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan
dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya,
keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama supaya rencana kerja
samanya dapat terlaksana dengan baik.
Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya)
dan kelompok lainya (yang merupakan out-group-nya). Kerja sama akan bertambah kuat jika ada
hal-hal yang menyinggung anggota/perorangan lainnya.
Fungsi Kerjasama digambarkan oleh Charles H.Cooley ”kerjasama timbul apabila orang menyadari
bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan
mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi
kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama
dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta penting dalam kerjasama yang berguna”
Dalam teori-teori sosiologi dapat dijumpai beberapa bentuk kerjasama yang biasa diberi nama
kerja sama (cooperation). Kerjasama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan :
•
•
•
•
Kerjasama Spontan (Spontaneous Cooperation) : Kerjasama yang sertamerta
Kerjasama Langsung (Directed Cooperation) : Kerjasama yang merupakan hasil perintah
atasan atau penguasa
Kerjasama Kontrak (Contractual Cooperation) : Kerjasama atas dasar tertentu
Kerjasama Tradisional (Traditional Cooperation) : Kerjasama sebagai bagian atau unsur
dari sistem sosial.
12
Ada 5 bentuk kerjasama :
•
•
•
•
•
Kerukunan; yang mencakup gotong-royong dan tolong menolong
Bargaining; yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa
antara 2 organisasi atau lebih
Kooptasi (cooptation); yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam
kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara
untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan
Koalisi (coalition); yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai
tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk
sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai
struktut yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karena maksud utama
adalah untuk mencapat satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnnya adalah
kooperatif.
Joint venture; yaitu erjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya
pengeboran minyak, pertambangan batubara, perfilman, perhotelan, dst.
2. Akomodasi (Accomodation)
Istilah Akomodasi dipergunakan dalam dua arti : menujukk pada suatu keadaan dan yntuk
menujuk pada suatu proses. Akomodasi menunjuk pada keadaan, adanya suatu keseimbangan
dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya
dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai suatu
proses akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan
yaitu usaha-usaha manusia untuk mencapai kestabilan.
Menurut Gillin dan Gillin, akomodasi adalah suatu perngertian yang digunakan oleh para sosiolog
untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan
adaptasi dalam biologi. Maksudnya, sebagai suatu proses dimana orang atau kelompok manusia
yang mulanya saling bertentangan, mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi keteganganketegangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa
menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.
Tujuan Akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu :
•
•
•
•
Untuk mengurangi pertentangan antara orang atau kelompok manusia sebagai akibat
perbedaan paham
Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer
Memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang hidupnya terpisah
akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada
masyarakat yang mengenal sistem berkasta.
Mengusahakan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah.
Bentuk-bentuk Akomodasi
•
•
•
Corecion, suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan
Compromise, bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi
tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
Arbitration, Suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang
berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri
13
•
•
•
•
Conciliation, suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak
yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
Toleration, merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.
Stalemate, suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai
kekuatan yang seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam melakukan
pertentangannya.
Adjudication, Penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan
Hasil-hasil Akomodasi
Akomodasi dan Intergrasi Masyarakat
Akomodasi dan intergrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan
masyarakat dari benih-benih pertentangan laten yang akan melahirkan pertentangan
baru.
• Menekankan Oposisi
Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu dan
kerugian bagi pihak lain
• Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda
• Perubahan lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang
berubah
• Perubahan-perubahan dalam kedudukan
Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi. Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih
saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling
mendekati.
•
3. Asimilasi (Assimilation)
Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha
mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompokkelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap,
dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama.
Proses Asimilasi timbul bila ada :
•
•
•
Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya
orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif
untuk waktu yang lama sehingga
kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing
berubah dan saling menyesuaikan diri
Beberapa bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi yang
asimilatif) bila memiliki syarat-syarat berikut ini:
•
•
•
Interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang
lain tadi juga berlaku sama
interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan
Interaksi sosial tersebut bersifat langsung dan primer
Frekuaensi interaksi sosial tinggi dan tetap, serta ada keseimbangan antara pola-pola
tersebut. Artinya, stimulan dan tanggapan-tanggapan dari pihak-pihak yang mengadakan
asimilasi harus sering dilakukan dan suatu keseimbangan tertentu harus dicapai dan
dikembangankan.
14
Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah :
•
•
•
•
•
•
•
Toleransi
Kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi
Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya
Sikap tebuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan
Perkawinan campuran (amalgamation)
Adanya musuh bersama dari luar
Faktor umum penghalangan terjadinya asimilasi
•
•
•
•
•
•
•
•
Terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat
Kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi dan sehubungan dengan itu
seringkali menimbulkan faktor ketiga
Perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi
Perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada
kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.
Dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah dapat
pula menjadi salah satu penghalang terjadinya asimilasi
In-group-feeling yang kuat menjadi penghalang berlangsungnya asimilasi. In group feeling
berarti adanya suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada kelompok dan
kebudayaan kelompok yang bersangkutan.
Gangguan dari golongan yang berkuasa terhadap minoritas lain apabila golongan minoritas
lain mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa
Faktor perbedaan kepentingan yang kemudian ditambah dengan pertentanganpertentangan pribadi.
Asimilasi menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan sosial dan dalam pola adat
istiadat serta interaksi sosial. Proses yang disebut terakhir biasa dinamakan akulturasi. Perubahanperubahan dalam pola adat istiadat dan interaksi sosial kadangkala tidak terlalu penting dan
menonjol.
Proses Disosiatif
Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional proccesses, yang persis halnya dengan kerjasama,
dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan
dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan
seseorang atau sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Pola-pola oposisi tersebut
dinamakan juga sebagai perjuangan untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk kepentingan
analisis ilmu pengetahan, oposisi proses-proses yang disosiatif dibedkan dalam tiga bentuk, yaitu :
1. Persaingan (Competition)
Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau
kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang
pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok
manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah
ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan mempunya dua tipe umum :
15
1. Bersifat Pribadi : Individu, perorangan, bersaing dalam memperoleh kedudukan. Tipe ini
dinamakan rivalry.
2. Bersifat Tidak Pribadi : Misalnya terjadi antara dua perusahaan besar yang bersaing
untuk mendapatkan monopoli di suatu wilayah tertentu.
Bentuk-bentuk persaingan :
1. Persaingan ekonomi : timbul karena terbatasnya persediaan dibandingkan dengan jumlah
konsumen
2. Persaingan kebudayaan : dapat menyangkut persaingan bidang keagamaan, pendidikan,
dst.
3. Persaingan kedudukan dan peranan : di dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok
terdapat keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai
kedudukan serta peranan terpandang.
4. Persaingan ras : merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Hal ini disebabkan krn ciriciri badaniyah terlihat dibanding unsur-unsur kebudayaan lainnya.
Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat mempunyai beberapa fungsi :
•
•
Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif
Sebagai jalan dimana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai yang pada suatu masa
medapat pusat perhatian, tersalurkan dengan baik oleh mereka yang bersaing.
Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar seks dan sosial. Persaingan berfungsi
untuk mendudukan individu pada kedudukan serta peranan yang sesuai dengan
kemampuannya.
Sebagai alat menyaring para warga golongan karya (”fungsional”)
2. Kontraversi (Contravertion)
Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara
persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Bentuk kontraversi menurut Leo von Wiese dan
Howard Becker ada 5 :
•
•
•
•
•
Yang umum meliputi perbuatan seperti penolakan, keenganan, perlawanan, perbuatan
menghalang-halangi, protes, gangguang-gangguan, kekerasan, pengacauan rencana
Yang sederhana seperti menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki
melalui surat selebaran, mencerca, memfitnah, melemparkan beban pembuktian pada
pihak lain, dst.
Yang intensif, penghasutan, menyebarkan desas desus yang mengecewakan pihak lain
Yang rahasia, mengumumkan rahasian orang, berkhianat.
Yang taktis, mengejutkan lawan, mengganggu dan membingungkan pihak lain. Contoh lain
adalah memaksa pihak lain menyesuaikan diri dengan kekerasan, provokasi, intimidasi,
dst.
Menurut Leo von Wiese dan Howard Becker ada 3 tipe umum kontravensi :
•
•
•
Kontraversi generasi masyarakat : lazim terjadi terutama pada zaman yang sudah
mengalami perubahan yang sangat cepat
Kontraversi seks : menyangkut hubungan suami dengan istri dalam keluarga.
Kontraversi Parlementer : hubungan antara golongan mayoritas dengan golongan
minoritas dalam masyarakat.baik yang menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga
legislatif, keagamaan, pendidikan, dst.
16
Tipe Kontravensi :
1. Kontravensi antarmasyarakat setempat, mempunyai dua bentuk :
1) Kontavensi antarmasyarakat setempat yang berlainan (intracommunity struggle)
2) Kontravensi antar golongan-golongan dalam satu masyarakat setempat
(intercommunity struggle)
2. Antagonisme keagamaan
3. Kontravensi Intelektual : sikap meninggikan diri dari mereka yang mempunyai latar
belakang pendidikan yang tinggi atau sebaliknya
4. Oposisi moral : erat hubungannya dengan kebudayaan.
3. Pertentangan (Pertikaian atau conflict)
Pribadi maupun kelompok menydari adanya perbedaan-perbedaan misalnya dalam ciri-ciri
badaniyah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku, dan seterusnya dengan pihak lain.
Ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada hingga menjadi suatu pertentangan atau
pertikaian.
Sebab musabab pertentangan adalah perbedaan antara individu, perbedaan kebudayaan,
perbedaan kepentingan, perubahan sosial. Pertentangan dapat pula menjadi sarana untuk
mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat. Timbulnya pertentangan
merupakan pertanda bahwa akomodasi yang sebelumnya telah tercapai.
Pertentangan mempunyai beberapa bentuk khusus:
• Pertentangan pribadi
• Pertentangan Rasial : dalam hal ini para pihak akan menyadari betapa adanya perbedaan
antara mereka yang menimbulkan pertentangan
• Pertentangan antara kelas-kelas sosial : disebabkan karena adanya perbedaan
kepentingan
• Pertentangan politik : menyangkut baik antara golongan-golongan dalam satu masyarakat,
maupun antara negara-negara yang berdaulat
• Pertentangan yang bersifat internasional : disebabkan perbedaan-perbedaan kepentingan
yang kemudian merembes ke kedaulatan negara
Akibat-akibat bentuk pertentangan:
• Tambahnya solidaritas in-group
• Apabila pertentangan antara golongan-golongan terjadi dalam satu kelompok tertentu,
akibatnya adalah sebaliknya, yaitu goyah dan retaknya persatuan kelompok tersebut.
• Perubahan kepribadian para individu
• Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia
• Akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak
Baik persaingan maupun pertentangan merupakan bentuk-bentuk proses sosial disosiatif yang
terdapat pada setiap masyarakat.
17
KELOMPOK-KELOMPOK SOSIAL
Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling
berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat memengaruhi
perilaku para anggotanya.
Menurut Sorjono Soekanto kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan-kesatuan yang hidup
bersama karena adanya hubungan di antara mereka secara timbal balik dan saling mempengaruhi.
Sedangkan menurut Hendro Puspito kelompok sosial adalah suatu kumpulan nyata, teratur dan tetap
dari individu-individu yang melaksanakan peran-perannya secara berkaitan guna mencapai tujuan
bersama. Jika merujuk Paul B. Horton & Chaster L. Hunt, kelompok sosial adalah suatu kumpulan
manusia yang memiliki kesadaran akan keanggotaannya dan saling berinteraksi.
Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya
organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi
kelompok menjadi empat macam:
(1) Kelompok statistik, yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial
dan kesadaran jenis di antaranya. Contoh: Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di
sebuahkecamatan.
(2) Kelompok kemasyarakatan, yaitu kelompok yang memiliki persamaan tetapi tidak
mempunyai organisasi dan hubungan sosial di antara anggotanya.
(3) Kelompok sosial, yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan
berhubungan satu dengan yang lainnya, tetapi tidak terukat dalam ikatan organisasi. Contoh:
Kelompok pertemuan, kerabat.
(4) Kelompok asosiasi, yaitu kelompok yang anggotanya mempunyai kesadaran jenis dan ada
persamaan kepentingan pribadi maupun kepentingan bersama. Dalam asosiasi, para
anggotanya melakukan hubungan sosial, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan
organisasi formal. Contoh: Negara, sekolah.
Ciri-ciri Kelompok Sosial
1.
2.
3.
4.
5.
Merupakan satuan yang nyata dan dapat dibedakan dari kesatuan manusia yang lain
Memiliki struktur sosial, yang setiap anggotanya memiliki status dan peran tertentu
Memiliki norma-norma yang mengatur di antara hubungan para anggotanya
Memiliki kepentingan bersama
Adanya interaksi dan komunikasi diantara para anggotanya
Dasar Pembentukan Kelompok Sosial adalah:
1.
2.
3.
4.
Faktor kepentingan yang sama (Common Interest)
Faktor darah / keturunan yang sama (common in cestry)
Faktor geografis
Factor daerah asal yang sama
Klasifikasi Kelompok Sosial
1. Klasifikasi menurut cara terbentuknya
1) Kelompok semu, terbentuk secara spontan. Contohnya Crowd (kerumunan), Publik, dan
Massa. Ciri-ciri kelompok semu:
18
a. Tidak direncanakan
b. Tidak terorganisir
c. Tidak ada interaksi secara terus menerus
d. Tidak ada kesadaran berkelompok
e. Kehadirannya tidak konstan
2) Kelompok Nyata, mempunyai beberapa ciri khusus sekalipun mempunyai berbagai
macam bentuk, kelompok nyata mempunyai 1 ciri yang sama, yaitu kehadirannya selalu
konstan.
Ciri-ciri Kelompok Nyata yaitu (1) Kelompok Statistical Group (dijadikan sasaran penelitian
oleh ahli-ahli ststistik untuk kepentingan penelitian), (2) Societal Group / Kelompok
Kemasyarakatan (yang memiliki kesadaran akan kesamaan jenis, seperti jenis kelamin,
warna kulit, kesatuan tempat tinggal, tetapi belum ada kontak dan komunikasi di antara
anggota dan tidak terlihat dalam organisasi), (3) Kelompok sosial / social groups
(masyarakat dalam arti khusus yang terbentuk karena adanya unsur-unsur yang sama
seperti tempat tinggal, pekerjaan, kedudukan, atau kegemaran yang sama. Kelompok
sosial memiliki anggota-anggota yang berinteraksi dan berkomunikasi secara terus
menerus. Contoh : ketetanggaan, teman sepermainan, teman seperjuangan, kenalan, dan
sebagainya), serta (4) Kelompok asosiasi / associational group (kelompok yang
terorganisir dan memiliki struktur formal).
2. Klasifikasi menurut erat longgarnya ikatan antar anggota
a. Gemeinschaft / paguyuban
Merupakan kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki ikatan batin yang murni,
bersifat alamiah dan kekal.
Ferdinand Thonies membagi menjadi 3 bagian :
1. Gemeinschaff by blood (Paguyuban karena adanya ikatan darah). Contohnya :
trah, kerabat, klien
2. Gemeinschaft of place (Paguyuban karena tempat tinggal berdekatan). Contoh :
RT, RW, Pedukuhan, Pedesaan
3. Gameinschaft of mind (Paguyuban karena jiwa dan pikiran yang sama). Contoh:
kelompok pengajian, kelompok mahzab (Sekte)
b.Gesselschaft / patembangan
Merupakan ikatan lahir yang bersifat kokoh untuk waktu yang pendek, strukturnya
bersifat
mekanis
dan
sebagai
suatu
bentuk
dalam
pikiran
belaka.
Contoh : ikatan antar pedagang, organisasi dalam sebuah pabrik.
19
Pembentukan Norma Kelompok
Perilaku kelompok, sebagaimana semua perilaku sosial, sangat dipengaruhi oleh norma-norma yang
berlaku dalam kelompok itu. Sebagaimana dalam dunia sosial pada umumnya, kegiatan dalam kelompok
tidak muncul secara acak. Setiap kelompok memiliki suatu pandangan tentang perilaku mana yang
dianggap pantas untuk dijalankan para anggotanya, dan norma-norma ini mengarahkan interaksi
kelompok.
Norma muncul melalui proses interaksi yang perlahan-lahan di antara anggota kelompok. Pada saat
seseorang berprilaku tertentu pihak lain menilai kepantasasn atau ketidakpantasan perilaku tersebut,
atau menyarankan perilaku alternatif (langsung atau tidak langsung). Norma terbetnuk dari proses
akumulatif interaksi kelompok. Jadi, ketika seseorang masuk ke dalam sebuah kelompok, perlahan-lahan
akan terbentuk norma, yaitu norma kelompok.
Dinamika Kelompok Sosial
Yaitu suatu proses perkembangan dan perubahan akibat adanya interaksi dan interdependensi baik
antar anggota kelompok maupun antara suatu kelompok dengan kelompok lain.
Faktor-faktor pendorong dinamika sosial :
A. Faktor dari luar (Extern)
1. Perubahan Sirkulasi Sosial
Disebabkan dari kemerdekaan wilayah, masuknya industrialisasi ke pertanian dan adanya
temuan-temuan baru.
2. Perubahan Situasi Ekonomi
Dapat menyebabkan suatu kelompok sosial berkembang, misalnya masyarakat perkotaan.
Kelompok kekerabatan akan bergeser menjadi hubungan sosial berdasarkan kepentingan
sehingga kelompok kekerabatan yang termasuk klasifikasi ke kelompok primer berubah menjadi
kelompok kepentingan yang termasuk klasifikasi kelompok sekunder.
3. Perubahan Situasi Politik
Seperti perubahan elit kekuasaan, perubahan kebijakan dan sebagainya. Menyebabkan
perkembangan pada kelompok-kelompok sosial.
B. B. Faktor dari dalam (Intern)
1. Adanya konflik antar anggota kelompok
2. Adanya perbedaan kepentingan
3. Adanya perbedaan paham
Kelompok kekerabatan berasal dari kelompok / satuan keluarga inti, kemudian berkembang menjadi
keluarga
luas,
yang
dikenal
dengan
nama
kerabat
/
kekerabat.
Keluarga inti (nuclear family), keluarga luas (extended family).
Masyarakat Kota dan Desa
Masyarakat desa merupakan kelompok primer, memiliki struktur sosial yang tradisional sehingga
perkembangan dan perubahannya relatif lambat / statis.
20
KARAKTERISTIK MASYARAKAT PERDESAAN
Warga memiliki hubungan yang lebih erat
Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar kekeluargaan
Umumnya hidup dari pertanian atau nelayan
Golongan orangtua memegang peranan penting
Dari sudut pemerintahan, hubungan antara penguasa dan rakyat bersifat informal
Perhatian masyarakat lebih pada keperluan utama kehidupan
Kehidupan keagamaan lebih kental
Banyak berurbanisasi ke kota karena ada faktor yang menarik dari kota
Sedangkan Masyarakat kota memiliki tatanan yang heterogen sehingga kelompoknya lebih dinamis.
Masyarakat kota mempunyai daya tarik bagi masyarakat desa untuk melakukan urbanisasi.
KARAKTERISTIK MASYARAKAT PERKOTAAN
Jumlah penduduknya tidak tentu
Bersifat individualistis
Pekerjaan lebih bervariasi, lebih tegas batasannya dan lebih sulit mencari pekerjaan
Perubahan sosial terjadi secara cepat, menimbulkan konflik antara golongan muda
dengan golongan orangtua
Interaksi lebih disebabkan faktor kepentingan daripada faktor pribadi
Perhatian lebih pada penggunaan kebutuhan hidup yang dikaitkan dengan masalah
prestise
Kehidupan keagamaan lebih longgar
Banyak migran yang berasal dari daerah dan berakibat negatif di kota, yaitu
pengangguran, kriminalitas, lahan, dll.
21
Faktor Pendorong perpindahan penduduk dari desa ke kota (Urbanisasi):
1. Sempitnya lapangan kerja di desa
2. Adanya generasi muda yang ingin memperbaiki kehidupan dan membebaskan diri dari interaksi
3. Kesempatan menambah ilmu, di desa sangat terbatas
Faktor Penarik Urbanisasi:
1. Kota merupakan pusat kegiatan perekonomian dan pemerintahan.
2. Kota membuka peluang lapangan kerja yang lebih banyak
3. Kota memberi peluang yang tidak terbatas untuk mengembangkan jiwa dan potensi manusia, dll.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat Kota bersifat dinamis dan selalu berkembang,
dibandingkan dengan masyarakat desa. Factor-faktor tersebut antara lain:
1. Faktor Pendidikan
Merupakan salah satu faktor terpenting dalam kehidupan masyarakat kota. Melalui pendidikan baik
formal maupun nonformal menjadikan masyarakat kota lebih siap melakukan persaingan. Pada
masyarakat kota stratifikasi sosial lebih didasarkan pada keahlian dan pendidikan.
2. Urbanisasi perpindahan dari desa ke kota
Urbanisasi yang terlampau pesat dan tkidak teratur menyebabkan penduduk kota semakin padat. Warga
desa yang melakukan urbanisasi juga berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat kota.
Nilai-nilai gotong royong dan nilai-nilai tradisional mulai ditinggalkan dan mengikuti arus perubahan.
3. Komunikasi
Faktor informasidan komunikasi yang serba cepat melalui berbagai media, baik media massa maupun
media elektronik memberikan berbagai informasi yang dapat mendorong perkembangan perubahan
masyarakat kota di antaranya dalam hal penampilan.
4. Industrialisasi dan Mekanisme
Adanya industrialiasasi dan mekanisme menyebabkan masyarakat kota semakin bergantung kepada
mesin-mesin yang telah meringankan pekerjaan. Adanya ketergantungan pada mesin-mesin
menyebabkan masyarakat manja.
22
KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT
Manusia adalah mahluk budaya. Sementara masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang
menghasilkan kebudayaan. Dengan demikian tak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan
dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat, sebagai wadah pendukungnya.
Kata Kebudayaan berasal dari kata Sansekerta BUDDHAYA yang merupakan bentuk jamak kata BUDDHI
yang berarti budi atau akal. Istilah asing –nya Culture yang berasal dari kata Latin Colere yang berarti
mengolah atau mengerjakan yaitu mengolah tanah atau bertani.
Menurut E.B.Tylor Kebudayaan adalah komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian,
moral, hukum, adat-istiadat dan lain-lain kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh
manusia sebagai anggota masyarakat. kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari polapola perikelakuan yg normatif, yaitu mencakup segala cara-cara atau pola pola berpikir, merasakan dan
bertindak.
Definisi Kebudayaan menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi Yaitu semua hasil karya,
rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan
(material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya, agar kekuatan
serta hasilnya dapat diabdikan pada keperluan masyarakat. Rasa meliputi jiwa manusia, mewujudkan
segala kaedah-kaedah dan nilai-nilai kemasyarakatan yang perlu untuk mengatur masalah-masalah
kemasyarakatan dalm arti luas. (agama, ideologi, kebatinan, kesenian, dll). Cipta merupakan
kemampuan mental, kemampuan berpikir, dari orang –orang yang hidup bermasyarakat antara lain
Filsafat, serta Ilmu Pengetahuan. Rasa dan Cipta dinamakan kebudayaan rohaniah (spiritual atau
immaterial culture).
Titik fokus perhatian sosiolog pada perikelakuan social, yaitu pola-pola perikelakuan yang membentuk
stuktur sosial dari masyarakat. Perikelakuan manusia sangat dipengaruhi oleh peralatan yang
dihasilkannya serta ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Wujud-wujud Kebudayaan
Berdasarkan pemikiran budayawan Koentjoroningrat, wujud kebudayaan dapat dibagi menjadi:
1.
Wujud kebudayaan sebagai suatu ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturanperaturan dsb (wujud ideal dan sifatnya abstrak)
2.
Wujud kebudayaan sebagai aktivitas serta tindakan yg berpola dari manusia dan masyarakat
(bersifat kongkrit)
3.
Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.Bersifat kongkrit/nyata) (Pabrik,
Komputer,Kapal,Candi, yg kecil Kain batik,, kancing baju)
Unsur-unsur Kebudayaan
Menurut Melville J Herskovits ada 4 unsur kebudayaan yaitu:
(1)
(2)
(3)
(4)
Alat-alat teknologi
Sistem ekonomi
Keluarga
Kekuasaan politik
Sedangkan, menurut Bronislaw Malinowski unsur-unsur pokok kebudayaan yaitu :
23
(1) Sistem norma-norma yang memungkinkan kerjasama antara para anggota masyarakat agar
menguasai alam sekelilingnya.
(2) Organisasi ekonomi
(3) Alat-alat dan lembaga-lembaga pendidikan, dan pendidikan informal (pendidikan keluarga)
(4) Organisasi kekuatan
Menurut C Kluckhohn ada 7 unsur kebudayaan yg dianggap sebagai cultural universal :
(1) Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga,
senjata, alat-alat produksi, transpot dsb)
(2) Mata pencarian hidup dan sistem-sistem ekonomi (petania, peternakan, sistem produksi,
sistem distribusi, dsb)
(3) Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem
perkawinan)
(4) Bahasa (lisan maupun tulis)
(5) Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dsb)
(6) Sistem pengetahuan
(7) Religi (sistem kepercayaan)
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga :
A. Gagasan ( Wujud Ideal )
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai,
norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh.
B . Aktifitas ( Tindakan )
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial.
C . Artefak ( Karya )
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua
manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan
didokumentasikan.
Komponen Utama dalam Kebudayaan antara lain:
1. Kebudayaan Material; Mengacu pada semua ciptaan manusia yang konkret.
2. Kebudayaan Nonmaterial; Ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perikelakuan manusia. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu
daripada lahirnya generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang
bersangkutan. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya.
Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, dan larangan-larangan dan
tindakan yg diizinkan.
Sifat dan hakekat tersebut di atas menjadi ciri-ciri setiap kebudayaan. Kebudayaan bersifat Universal
tetapi perwujudan kebudayaan mempunyai ciri-ciri yang khusus sesuai dg situasi dan lokasinya. Contoh:
Bangsa Indonesia, Malaysia, Amerika mempunyai kebudayaan akan tetapi memunyai ciri-ciri khusus yg
berbeda-beda dg yg lain.
24
Fungsi kebudayaan bagi masyarakat yaitu untuk
ntuk kepuasan manusia baik bidang spiritual maupun
materiil serta hasil
asil karya masyarakat menimbulkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang
mempunyai kegunaan utama untuk melindungi masyarakat terhadap lingkungan alamnya.
Tidak ada kebudayaan yg statis, semua kebudayaan mempunyai dinamika atau
tau gerak. Gerak dari
kebudayaan tersebut terjadi oleh sebab gerak dari manusia yg hidup dalam masyaraka
masyarakat yg memjadi
wadah dari kebudayaan.
Mempelajari kebudayaan tidak terbatas pada apa yang selama ini kita pahami sebagai wujudnya.
Perumpamaan belajar kebudayaan dikemukakan oleh seorang pakar. Gary Weaver menggambarklan
bagaimana secara umum budaya dipahami sebagai permukaan saja, mirip dengan fenomena gunung es.
Padahal, budaya jauh lebih luas dan dalam dari yang kita kenal selama ini.
Masyarakat yang dinamis berasal dari interaksi social yang baik. Interaksi social yang baik didukung oleh
komunikasi dan kontak social yang berkualitas. Keduanya tidak mungkin ada jika manusia sebagai
elemen individual dalam masyarakat tidak terbebas dari penyakit
penyakit-penyakit
penyakit social yang timbul karena
diantaranyaa kemajuan teknologi (TV, Komputer, HP) dan membuatnya tidak hanya gagap dalam
bersosialisasi/bermasyarakat, namun juga kehilangan kemampuan untuk mengaktualisasikan dirinya di
tengah lingkungan. Oleh karena itu, perhatian pada tingkat individual untuk men
mendorong
dorong masyarakat
yang dinamis adalah sebuah kebutuhan yang tidak terelakkan. Hal ini harus mulai disadari pemerintah
ataupun seluruh anggota masyarakat.
25
STRATIFIKASI SOSIAL
Dalam masyarakat yang paling sederhana tidak dijumpai adanya stratifikasi sosial. Semua orang yang
memiliki kategori usia dan jenis kelamin yang sama melakukan jenis pekerjaan yang kurang lebih sama.
Walaupun dalam masyarakat itu ada beberapa orang yang dihormati dan memiliki pengaruh dibanding
orang lain, namun mereka tidak memperoleh jabatan atau kedudukan yang memiliki prestise atau hakhak istimewa daripada kelompok masyarakat yang lain.
Dalam masyarakat yang semakin berkembang dan kompleks, maka perbedaan status mulai muncul, ini
disebabkan karena pekerjaan dibagi menjadi beberapa jenis pekerjaan yang semakin terspesialisasi.
Akibatnya jenis pekerjaan-pun menjadi lebih dihargai dan diberi imbalan yang lebih tinggi atau lebih
rendah daripada jenis pekerjaan lainnya. Demikian halnya dalam pemenuhan kebutuhan hidup ada
masyarakat yang memproduksi lebih banyak daripada kebutuhannya, sehingga beberapa orang
menemukan cara-cara untuk mengklaim bagian yang lebih besar bagi dirinya dan anak-anaknya. Orangorang yang memiliki prestise yang lebih tinggi dan barang yang lebih banyak, cenderung berkelompok
sesamanya.
Stratifikasi sosial dalam masyarakat memang tidak jelas batas- batasnya, namun tampak bahwa setiap
lapisan terdiri dari individu -individu dalam masyarakat yang mempunyai tingkatan atau strata sosial
yang secara relatif adalah sama. Pelapisan sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya
sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat itu sendiri, tetapi dapat pula pelapisan
social/stratifikasi sosial itu dengan sengaja disusun untuk mengejar tujuan-tujuan atau kepentingankepentingan bersama. Stratifikasi yang sengaja disusun umumnya berkaitan sengan pembagian
kekuasaan dan wewenang dalam suatu organisasi formal, misalnya birokrasi pemerintah, universitas,
sekolah, partai politik, perusahaan, perkumpulan, dan lain-lain.
Kapankah stratifikasi sosial itu ada ? Hal ini tentu sulit untuk dijawab, Selo Sumardjan dan Soelaiman
Soemardimenyatakan bahwa selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai maka dengan
sendirinya stratifikasi sosial akan terjadi.
Stratifikasi social/pelapisan sosial merupakan gejala yang sifatnya umum dan telah ada sejak lama pada
setiap masyarakat. Beberapa abad yang lalu Aristoteles (384 - 322 SM), mengemukakan bahwa
penduduk dapat dibagi dalam tiga golongan:
1) golongan sangat kaya,
2) golongan sangat miskin, dan
3) golongan yang berada diantara keduanya.
Menurut Karl Marx, kelas sosial utama terdiri atas: 1)golongan proletariat, 2) golongan kapitalis
(borjuis), dan 3)golongan menengah (borjuis rendah) yang ditakdirkan untuk diubah menjadi golongan
proletariat.
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan
para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat). Stratifikasi sosial menurut Pitirim A. Sorokin
adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis).
Pitirim A. Sorokin dalam karangannya yang berjudul “Social Stratification” mengatakan bahwa sistem
lapisan dalam masyarakat itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam masyarakat yang hidup
teratur. Menurut Drs. Robert M.Z. Lawang pelapisan social adalah penggolongan orang-orang yang
26
termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi
kekuasaan, privilese dan prestise.
Dasar-Dasar Pembentukan Pelapisan Sosial
Talcott Persons, menyebutkan ada lima menentukan tinggi rendahnya status seseorang, yaitu:
1. Kriteria kelahiran (ras, kebangsawanan, jenis kelamin)
2. Kualitas atau mutu pribadi (umur, kearifan atau kebijaksanaan)
3. Prestasi (kesuksesan usaha, pangkat)
4. Pemilikan atau kekayaan (kekayaan harta benda)
5. Otoritas (kekuasaan dan wewenang: kemampuan-untuk menguasai/ mempengaruhi orang lain
sehingga orang itu mau bertindak sesuai dengan yang diinginkan tanpa perlawanan)
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah
sebagai berikut.
1. Ukuran kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke
dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan
termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, pa tidak
mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat
dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara
berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
2. Ukuran kekuasaan dan wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan
teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan
sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat
menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat
mendatangkan kekayaan.
3. Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang
yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial
masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya
mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang
tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
4. Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu
pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi
dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini
biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh
seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti
profesor.
27
Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut
lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan
cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli
skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
Makna kelas social adalah: (1) Menentukan kesempatan hidup, (2) Menentukan kebahagiaan, (3)
Menanamkan etnosentrisme kelas social, (4) Menentukan Moralitas Konvensional, (5) Menjelaskan
banyak perbedaan kelompok lainnya, (6) Membentuk sikap poiitik dan gaya hidup, (7) Menyelesaikan
“Pekerjaan Kotor”, dan (8) Menyiapkan anggota demi status yang lebih baik.
Sebagaimana telah disinggung pada bagian awal, setiap kelas sosial merupakan suatu sub-kultur yang
mencakup sistem perilaku, seperangkat nilai, dan cara hidup. Sub-kultur ini berperan dalam membantu
orang untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang ditempuhnya dan membantu dalam
mempersiapkan anak-anak untuk menerima status kelas sosial orong tua mereka. Meskipun dalam
beberapa hal terdapat terdapat persamaan dan pengecualian, namun merupakan suatu realita bahwa
sosialisasi rata-rata anak kelas sosial menengah berbeda dengan sosialisasi rata-rata anak kelas sosial
rendah.
Namun demikian jurang perbedaan sosialisasi antar kelas sosial dapat diperkecil oleh adanya dua faktor;
(1) adanya kenalan di luar lingkungan kelas sosial, dan
(2) adanya pengaruh Televisi dan alat komunikasi lain.
Dengan adanya kedua faktor tersebut maka mereka memiliki lebih banyak kesamaan pengalaman
daripada para pemuda generasi sebelumnya.
Sifat-Sifat Stratifikasi
1.BERSIFAT TERTUTUP (CLOSED STRATIFICATION)
Yaitu membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik gerak ke
atas maupun gerak kebawah, bila akan menjadi anggota biasanya berdasarkan kelahiran (contoh : Kasta
dalam agama Hindu, Sistem Feodal, Sistem Rasial)
2. BERSIFAT TERBUKA (OPEN STRATIFICATION)
Yaitu setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri
untuk naik lapisan, atau bagi mereka yang tidak beruntung untuk jaatuh dari lapisan atas ke lapisan
bawahnya.
Contoh stratifikasi pada masyarakat Bali, misalnya, menurut garis keturunan laki-laki dapat kita lihal
pada gelar nama yang dipakai :
-
Kasta Brahmana Ida Bagus
Kasta Satria Tjokorda, Dewa,Ngahan
Kasta Vesia Bagus, Ida Gusti,Gusti
Kasta Sudra Pande.Kban,Pasek
Unsur –Unsur Stratifikasi
1.Kedudukan (Status), yaitu kedudukan sebagai tempat/posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial
2.Peranan (Role), yaitu Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan.
Macam-Macam Status
28
A. ASCRIBED STATUS;
yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan
rohaniah dan kemampuan. Contoh : Kedudukan berdasarkan kasta/feodalis
B. ACCHIEVED STATUS;
yaitu kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan sengaja. Contoh : Pendidikan
C. ASSIGNED STATUS;
yaitu kedudukan yang diberikan kepada tokoh masyarakat/ orang yang berjasa.
F.MOBILITAS SOSIAL;
yaitu Pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial
Tipe-Tipe Gerak Sosial
1. Gerak Sosial yang Horizontal; Yaitu suatu perihal individu/ objek sosial lainnya dari suatu kelompok
sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat.
2. Gerak Sosial yang Vertikal; Yaitu perpindahan individu/ objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke
kedudukan lainnya yang tidak sederajat.
Meneliti gerak sosial dapat memberikan manfaat atau kegunaan. Yaitu untuk mendapatkan keteranganketerangan perihal kelanggengan dan keluwesan struktur sosial suatu masyarakat tertentu .
Pada prinsipnya, hampir tak ada masyarakat yang sifat stratifikasinya, secara mutlak tertutup.
Betapapun terbukannya sistem berlapis-lapis dalam suatu masyarakat, tak mungkin gerak sosial yang
vertikal dilakukan dengan sebab-sebabnya, dengan kata lain banyak hambatannya. Setiap masyarakat
mempunyai ciri-cirinya yang khas bagi gerak sosialnya yang vertical. Laju gerak sosial yang vertikal yang
disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, politik serta pekerjaan adalah berbeda. Gerak sosial vertikal
yang disebabkan faktor ekonomi, politik dan pekerjaan, tak ada kecenderungan yang kontiniu, perihal
bertambah/berkurangnya laju gerak social.
29
Bagian II Dari Mata Kuliah Sosiologi &Politik
POLITIK
Makna Politik dan Ilmu Politik
Sistem Politik dan Pemerintahan
Sistem Politik Pemerintahan di Indonesia
Paham-Paham Besar di Dunia
Demokrasi
30
MAKNA POLITIK DAN ILMU POLITIK
Sejak dahulu kala masyarakat mengatur kehidupan kolektif dengan baik mengingat masyarakat sering
menghadapi terbatasnya sumber daya alam, atau perlu dicari satu cara distribusi sumber daya agar
semua warga merasa bahagia dan puas. Bagaimana caranya mencapai tujuan dengan berbagai cara,
yang kadang-kadang bertentangan dengan satu sama lainnya. Ikhtiar manusia tersebut adalah politik.
Itulah mengapa politik dalam arti ini begitu penting.
Politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik. Orang Yunani Kuno terutama Plato dan Aristoteles
menamakannya sebagai en dam onia atau the good life. Di Indonesia kita teringat pepatah gemah ripah
loh jinawi. Politik berasal dari bahasa yunani yaitu “polis” yang artinya Negara kota. Pada awalnya politik
berhubungan dengan berbagai macam kegiatan dalam Negara/kehidupan Negara.
Istilah politik dalam ketatanegaraan berkaitan dengan tata cara pemerintahan, dasar dasar
pemerintahan, ataupun dalam hal kekuasaan Negara. Politik pada dasarnya menyangkut tujuan-tujuan
masyarakat, bukan tujuan pribadi. Politik biasanya menyangkut kegiatan partai politik, tentara dan
organisasi kemasyarakatan.
Menurut Ramlan Surbakti, politik adalah proses interaksi antara pemerintah dan masyarakat untuk
menentukan kebaikan bersama bagi masyarakat yang tinggal dalam satu wilayah tertentu. Akan tetapi
semua pengamat setuju bahwa tujuan itu hanya dapat dicapai jika memiliki kekuasaan suatu wilayah
tertentu (negara atau sistem politik). Kekuasaan itu perlu dijabarkan dalam keputusan mengenai
kebijakan yang akan menentukan pembagian atau alokasi dari sumber daya yang ada.
Secara umum ilmu politik mempelajari suatu segi khusus dari kehidupan masyarakat yang menyangkut
soal kekuasaan. Ia mengkaji tentang hubungan kekuasaan, baik sesama warga Negara, antar warga
Negara dan Negara, maupun hubungan sesama Negara. Yang menjadi pusat kajiannya adalah upaya
untuk memperoleh kekuasaan, usaha mempertahankan kekuasaan, penggunaan kekuasaan tersebut
dan juga bagaimana menghambat penggunaan kekuasaan.
Beberapa definisi ilmu politik dari para ilmuwan dan tokoh politik, diantaranya :
Prof. Moh. Yamin: Ilmu Politik sebagai suatu ilmu pengetahuan kemasyarakatan, mempelajari
masalah kekuasaan dalam masyarakat : sifat hakikatnya, dasar-dasarnya, proses-proses
kelangsungannya, luas lingkungannya, dan hasil akibatnya. (dalam karangan “Ilmu Politik di
Indonesia” yang dimuat dalam “Research di Indonesia 1945-1965″ jilid VI, 1965, hal. 314)
Prof. Mr. Dr. J. Barents: Ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari penghidupan negara dan Ilmu
politik diserahi tugas untuk menyelidiki negara-negara itu sebagaimana negara-negara itu
melakukan tugasnya. (dalam “Pengantar Ilmu Politik, 1978. hal. 17)
H.D. Lasswell dan A.Kaplan: “Political science is concerned with power in general, with all the
forms in which it occurs.” (dalam “Power and Society ” A Framework for Political” 1950, hal. 85)
Rod Hague et al.” Politik adalah kegiatan yang menyangkut cara bagaimana kelompok-kelompok
mencapai keputusan-keputusan yang bersifat kolektif dan mengikat melalui usaha untuk
mendamaikan perbedaan-perbedaan di antara anggota-anggotanya.
M. Hutauruk SH.: Ilmu politik itu menyelidiki dan mempelajari proses-proses dalam pemerintahan
dan masyarakat yang berintikan aktivitas, kompetisi, dan kerjasama dalam memupuk dan
menggunakan kekuasaan.
31
Sukarna: Ilmu politik ialah yang mempelajari tentang rakyat yang berdaulat yang mendiami suatu
wilayah tertentu secara geopolitik serta mampu mengurus negaranya itu, karena mempunyai
pemerintahan yang didukung oleh rakyatnya sehingga mampu melaksanakan hubungan internal
dan eksternal serta mempunyai fungsi dan pengaruh di dalam dunia internasional. (dalam
“Pengantar Ilmu Politik”, Drs. Sukarna, 1994. CV.Mandar Maju, Bandung)
David Easton: Ilmu politik adalah studi mengenai terbentuknya kebijaksanaan umum (public
policy).
Ossip K. Flechtheim: Ilmu politik adalah ilmu sosial yang khusus mempelajari sifat dan tujuan dari
negara sejauh negara merupakan organisasi kekuasaan, beserta sifat dan tujuan dari gejala-gejala
kekuasaan lain yang tak resmi, yang dapat mempengaruhi negara (dalam buku Fundamentals of
Political Science)
Konsep – Konsep Dasar Ilmu Politik
Perbedaan-perbedaan dalam definisi yang kita jumpai disebabkan karena setiap sarjana meneropong
hanya satu aspek atau unsur dari politik. Unsur ini diperlukannya sebagai konsep pokok yang akan
dipakainya untuk meneropong unsur-unsur lain.
Miriam Budiardjo dalam Dasar-Dasar Ilmu Politik (2010) mengemukakan konsep-konsep pokok ilmu
politik itu adalah:
1.
Negara (state)
Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi
yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.
2.
Kekuasaan (power)
Kekuasaan merupakan kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi
tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelakunya.
3.
Pengambilan Keputusan (decision making)
Pengambilan keputusan diartikan membuat pilihan diantara beberapa alternative
sedangkan istilah pngambilan keputusan menunjukkan pada proses yang terjadi sampai
keputusan itu tercapai.
4.
Kebijakan (policy, beleid)
Kebijakan umum adalah kumpulan keputusan yang diambil oleh seseorang pelaku atau
kelompok politik dalam usaha memilih tujuan-tujuan dan cara-cara untuk mencapai
tujuan-tujuan itu.
5.
Pembagian (distribution/allocation)
Pembagian yaitu pembagian dan penjatahan dari nilai-nilai dalam masyarakat, yang
ditekankan bahwa pembagian selalu tidak merata sehingga timbul konflik.
Sasaran dan Tujuan Ilmu Politik
Dalam dunia keilmuan telah diterima bahwa sesuatu ilmu selalu membahas suatu sasaran tertentu.
Sasaran itu bisa berupa benda mati dalam alam semesta ini seperti misalnya benda mati seperti batu
atau berupa sesuatu gejala dalam masyarakat.
Ilmu politik harus memiliki sasaran tertentu telah pula ditegaskan oleh Eisenmann yang menyatakan :
“When mention is made of the matter of the political sciences, what is, or should be, primarily meant is
32
the facts, the data, the phenomena, on which those sciences seek to acquire knowledge; and which are
thus in some sort their ‘raw material’ or ‘matter’. There we have the first at least of the elements
essential to any definition of a science by its object.”
Sasaran pokok ilmu politik itu dapat dibedakan menjadi 6 macam, yaitu :
1.
2.
3.
5.
6.
7.
Negara
Pemerintahan
Kekuasaan
Fakta Politik
Organisasi masyarakat
Kegiatan politik
Sedangkan Ilmu politik bertujuan untuk :
•
•
Memberikan pemahaman secara integral terhadap politik dan nilai-nilai yang terkandung
didalamnya.
Memahami ilmu politik agar dapat mencapai kecerdasan politik. Rumusnya dari Kecerdasan
Politik, yaitu: PQ = A + B + C
Ket: Political Quetiont = A : Political Thinking (kemampuan berfikir politis dengan mengikuti
peristiwa, kemampuan menganalisis) B : Political Attitude (kemampuan bersikap, politik
kecerdasan [inter-intra] dalam mewujudkan pemikiran politik) C : Political Skills
(kemampuan bertindak politik) • Ilmu politik bertujuan untuk mensejahterakan bangsa,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memelihara perdamaian dunia.
Hubungan Ilmu Politik Dengan Ilmu Lain
Secara ringkas, menurut Miriam Budiardjo (2010) relasi ilmu politik dengan disiplin ilmu atau kajian
lainnya adalah:
Sejarah
Sejak dahulu kala ilmu politik erat hubungannya dengan sejarah dan filsafat. Sejarah merupakan alat
yang paling penting bagi ilmu politik, oleh karena menyumbang bahan, yaitu data dan fakta dari masa
lampau, untuk diolah lebih lanjut dan berguna untuk mengembangkan politik selanjutnya. Sarjana
politik memakai sejarah untuk menemukan pola-pola ulangan (recurrent patterns) yang dapat
membantunya untuk menentukan suatu proyeksi (gambar bayangan) untuk masa depan.
Filsafat
Ilmu pengetahuan lain yang erat sekali hubungannya dengan ilmu politik ialah filsafat. Filsafat ialah
usaha untuk secara rasional dan sistematis mencari pemecahan atau jawaban atas persoalan-persoalan
yang menyangkut alam semesta (universe) dan kehidupan manusia. Ilmu politik terutama sangat erat
hubungannya dengan filsafat politik, yaitu bagian dari filsafat yang menyangkut kehidupan politik
terutama mengenai sifat hakiki, asal – mula dan nilai (values) dari Negara. Dan membahas persoalanpersoalan politik dengan berpedoman pada suatu sistem nilai (value sistem) dan norma-norma tertentu.
Sosiologi
Di antara ilmu-ilmu sosial, sosiologi-lah yang paling pokok dan umum sifatnya. Sosiologi membantu
sarjana ilmu politik dalam usahanya memahami latar belakang, susunan dan pola kehidupan sosial dari
berbagai golongan dan kelompok dalam masyarakat. Dengan menggunakan pengertian-pengertian dan
teori-teori sosiologi , sarjana ilmu politik dapat mengetahui sampai di mana susunan dan stratifikasi
sosial mempengaruhi atau pun dipengaruhi oleh misalnya keputusan kebijaksanaan (policy decisions),
33
corak dan sifat keabsahan politik (political legitimacy), sumber-sumber kewenangan politik (sources of
political authority), pengendalian sosial (social control), dan perubahan sosial (social change).
Antropologi
Apabila jasa sosiologi terhadap perkembangan ilmu politik adalah terutama dalam memberikan analisis
terhadap kehidupan sosial secara umum dan menyeluruh, maka antrophologi menyumbang pengertian
dan teori tentang kedudukan serta peran berbagai satuan sosial-budaya yang lebih kecil dan sederhana.
Antropologi telah berpengaruh dalam bidang metodologi penelitian ilmu politik.
Ilmu Ekonomi
Pada masa silam, ilmu politik dan ilmu ekonomi merupakan bidang ilmu tersendiri yang dikenal sebagai
ekonomi politik (political economy), yaitu pemikiran dan analisis kebijakan yang hendak digunakan
untuk memajukan kekuatan dan kesejahteraan negara Inggris dalam menghadapi saingannya seperti
Portugis, Spanyol, Prancis, dan Jerman, pada abad ke-18 dan ke-19.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan pada umumnya, ilmu tersebut kemudian memisahkan diri
menjadi dua lapangan yang mengkhususkan perhatian terhadap tingkah laku manusia yang berbedabeda : ilmu politik dan ilmu ekonomi. Dengan pesatnya perkembangan ilmu ekonomi modern,
khususnya ekonomi internasional, kerjasama antara ilmu politik dan ilmu ekonomi makin dibutuhkan
untuk menganalisa siasat-siasat pembangunan nasional.
Psikologi Sosial
Psikologi sosial adalah pengkhususan psikologi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia
dan masyarakat, khususnya faktor-faktor yang mendorong manusia untuk berperan dalam ikatan
kelompok sosial, bidang psikologi umumnya memusatkan perhatian pada kehidupan perorangan.
Psikologi sosial dapat menjelaskan bagaimana kepemimpinan tidak resmi (informal leadership) turut
menentukan suatu hasil putusan dalam kebijaksanaan politik dan kenegaraan.
Ilmu Bumi
Faktor-faktor yang berdasarkan geografi, seperti perbatasan strategis, desakan penduduk, daerah
pengaruh mempengaruhi politik. Montesquie, seorang sarjana Perancis, untuk pertama kali membahas
bagaimana faktor-faktor ilmu bumi mempengaruhi konstelasi politik suatu Negara.
Dalam masa sebelum Perang Dunia II suatu cabang ilmu bumi mendapat perhatian besar, yaitu
Geopolitik atau Geopolitics, yang biasa dihubungkan dengan seorang Swedia bernama Rudolf Kiellen
(1864-1933). Ia menganggap bahwa di samping faktor ekonomi dan antropologis ilmu bumi
mempengaruhi karakter dan kehidupan nasional dari rakyat dan karena itu mutlak harus diperhitungkan
dalam menyusun politik luar negeri dan politik nasional. Dengan kekalahan Nazi Jerman yang banyak
memakai argumentasi berdasarkan geopolitik (seperti faktor ras, Lebensraum, faktor ekonomi dan
sosial) untuk politik exspansinya, Geopolitik kurang mengalami perkembangan.
Ilmu Hukum
Terutama negara-negara Benua Eropa, ilmu hukum sejak dulu kala erat hubungannya dengan ilmu
politik, karena mengatur dan melaksanakan undang-undang merupakan salah satu kewajiban negara
yang penting. Cabang-cabang ilmu hukum yang khususnya meneropong negara ialah hukum tata-negara
(dan ilmu negara).
34
SISTEM POLITIK DAN PEMERINTAHAN
ahami bagaimana sebenarnya politik, kita dapat memahami dinamika politik dengan
Untuk memahami
kacamata sistem sebagaimana kajian dan fenomena sosial lainnya
lainnya. Sistem adalah suatu kebulatan atau
keseluruhan yang kompleks dan terorganisasi. Sudut pandang ini mengandaikan politik sebagai sebuah
kesatuan utuh yang terdiri dari bagian dan masing
masing-masing
masing memiliki peran dan fungsi. Keseluruhan
bagian bersifat saling berhubungan
hubungan (inter
(inter-relasi) dan saling bergantung (inter-dependensi).
dependensi). Jika ada
bagian yang mengalami gangguan, maka secara keseluruhn, sistem akan mengalami hambatan.
Menurut Drs. Sukarna,, sistem politik adalah sekumpulan pendapat, prinsip, yang membentuk satu
kesatuan yang berhubungan satu sama lain untuk mengatur pemerintahan serta melaksanakan dan
mempertahankan kekuasaan dengan cara mengatur individu atau kelompok individu satu sama lain atau
dengan Negara dan hubungan Negara dengan Negara.
Rusadi Kartaprawira mengemukakan bahwa sistem politik adalah Mekanisme atau cara kerja
seperangkat fungsi atau peranan dalam struktur politik yang berhubungan satu sama lain dan
menunjukkan
unjukkan suatu proses yang lang
langgeng.
David Easton menggambarkan sistem politik dengan ilustrasi
trasi di bawah ini. Secara ringkas, menurut
Easton, sistem politik terdiri dari input, proses, dan output. Keseluruhan aktivitas yang siklis ini dikelilingi
(tidak terlepas dari) dan dipengaruhi oleh lingkungan atau sistem lainnya.
- INPUT dalam sistem poli
politik
tik berupa aspirasi atau kehendak masyarakat. Bentuknya dapat
berupa: tuntutan, dukungan, maupun sikap apatis.
- PROSES dalam sistem politik mencakup serangkaian tindakan pengambilan keputusan baik
oleh lembaga legislative, eksekutif, maupun yudikatif dalam rangka memenuhi atau
menolak aspirasi/kehendak masyarakat.
- OUTPUT dalam sistem politik adalah kebijakan public yang dimaksudkan untuk
mendukung/memenuhi aspirasi masyarakat ataupun ketidakbersediaan lembaga
lembaga-lembaga
politik untuk mengakomodasi aspirasi ters
tersebut. Output tersebut akan menjadi bahan
kembali input (feedback), demikian seterusnya sistem politik berjalan.
Untuk lebih memahami secara mendetail, kita dapat merujuk sistem politik yang digambarkan oleh
ilmuwan politik lainnya, Gabriel D. Almond
Almond. Almond memperinci proses dalam sistem politik yang sudah
digambarkan Easton secara umum melalui gambar berikut.
35
Menurut Gabriel Almond, dalam setiap sistem politik terdapat enam struktur atau lembaga politik, yaitu
kelompok kepentingan, partai politik, badan legislatif, badan eksekutif, birokrasi, dan badan peradilan.
Dengan melihat keenam struktur dalam setiap sistem politik, kita dapat membandingkan suatu sistem
politik dengan sistem politik yang lain. Hanya saja, perbandingan keenam struktur tersebut tidak terlalu
membantu kita apabila tidak disertai dengan penelusuran dan pemahaman yang lebih jauh dari
bekerjanya sistem politik tersebut.
Suatu analisis struktur menunjukkan jumlah partai politik, dewan yang terdapat dalam parlemen, sistem
pemerintahan terpusat atau federal, bagaimana eksekutif, legislatif, dan yudikatif diorganisir dan secara
formal dihubungkan satu dengan yang lain. Adapun analisis fungsional menunjukkan bagaimana
lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi tersebut berinteraksi untuk menghasilkan dan
melaksanakan suatu kebijakan.
Input yang masuk dalam sistem politik disalurkan oleh lembaga politik, kemudian akan menghasilkan
output, berupa keputusan yang sah dan mengikat yang sebelumnya melalui proses konversi. Dalam
konversi terjadi interaksi antara faktor-faktor politik, baik yang bersifat individu, kelompok ataupun
organisasi. Fungsi input, meliputi sosialisasi politik dan rekruitmen politik, artikulasi kepentingan,
agregasi kepentingan, dan komunikasi politik. Sedangkan fungsi output, antara lain pembuatan
kebijakan, penerapan kebijakan, dan penghakiman kebijakan.
Ciri sistem politk menurut Gabriel A. Almond:
1. Semua sistem politik mempunyai struktur politik
2. Semua sistem politik, baik yang modern maupun primitif, menjalankan fungsi yang sama
walaupun frekuensinya berbeda yang disebabkan oleh perbedaan struktur. Kemudian sistem
politik ini strukturnya dapat diperbandingkan, bagaimana fungsi-fungsi dari sistem-sistem politik
itu dijalankan dan bagaimana pula cara/gaya melaksanakannya.
3. Semua struktur politik mempunyai sifat multi-fungsional, betapapun terspesialisasinya sistem
itu.
4. Semua sistem politik adalah merupakan sistem campuran apabila dipandang dari pengertian
kebudayaan.
36
Menurut Almond ada tiga konsep dalam menganalisa berbagai siste
sistem politik, yaitu sistem, struktur, dan
fungsi. Sistem dapat diartikan sebagai suatu konsep ekologis yang menunjukkan adanya suatu organisasi
yang berinteraksi dengan suatu lingkungan, yang mempengaruhinya maupun dipengaruhinya. Sistem
politik merupakan organisasi
anisasi yang di dalamnya masyarakat berusaha merumuskan dan mencapai
tujuan-tujuan
tujuan tertentu yang sesuai dengan kepentingan bersama.
Melalui pendekatan sistem,, kita dapat menganalisis dan membuat perbandingan berbagai macam
sistem politik, demokratis atau otoriter, tradisional atau modern, dan sebagainya (tergantung
bagaimana bentuk input, proses, dan output politik dari
dari.sebuah sistem politik/Negara). Dalam membuat
analisis politik, Easton dan Almond selalu peka akan kompleksitas antara sistem politik denga
dengan sistem
sosial yang lebih besar, yang mana sistem politik adalah sub
sub-sistemnya.
Struktur Politik
Dalam sistem politik, terdapat lembaga
lembaga-lembaga atau struktur-struktur,
struktur, seperti parlemen, birokrasi,
badan peradilan, dan partai politik yang menjalankan fung
fungsi-fungsi
fungsi tertentu, yang selanjutnya
memungkinkan sistem politik tersebut untuk merumuskan dan melaksanakan kebijaksanaan
kebijaksanaankebijaksanaannya.
Untuk dapat memahami secara sederhana, sistem politik merupakan kesatuan antara struktur dan
fungsi-fungsi politik. Struktur politik adalah keseluruhan bagian atau komponen dalam suatu sistem
politik yang menjalankan fungsi atau tugas tertentu. Struktur politik diibaratkan mesin. Sedangkan
komponennya disebut fungsi. Struktur politik dibagi dua: supra struktur dan infra
infrastruktur. Masingmasing memiliki fungsi yang berbeda. Suprastruktur berfungsi membuat kebijakan (legislative),
melaksanakan kebijakan (eksekutif), dan mengawasi/menghakimi kebijakan (yudikatif).
Infrastruktur lebih banyak berfungsi pada tataran input, ya
yakni
kni perumusan dan penyampaian
kepentingan (political articulation),
), dan mengagregasi/memadukan kepentingan ((political
political aggregation).
aggregation
Jika suprastruktur berbentuk lembaga
lembaga-lembaga
lembaga Negara, infrastruktur merupakan representasi dari
masyarakat. Mereka terkumpul dalam organisasi kemasyarakatan (ormas), partai politik, media massa,
lembaga swadaya masyarakat, dan lain sebagainya. Pembagian tersebut juga menggunakan istilah lain,
seperti struktur politik formal (suprastruktur) dan informal (infrastruktur). Jika diil
diiliustrasikan,
iustrasikan, maka akan
terlihat sebagai berikut:
37
Kultur Politik
Pada dasarnya, sistem politik tidak hanya terdiri dari struktur politik. Dalam sebuah sistem politik,
budaya atau kultur politik turut menentukan wajah sebuah sistem politik. Jika struktur menggambarkan
institusi atau lembaga apa saja yang terlibat dalam proses
proses-proses dalam sistem politik, kultur politik
menerangkan bagaimana institusi atau lembaga tersebut dijalankan oleh para aktornya.
Kelompok behavioralis (pengkaji perilaku) percaya bahwa pada prinsipnya yang menentukan bagaimana
bentuk sebuah sistem politikk adalah para pelakunya. Institusi atau lembaga tersebut hanya wadah,
sementara yang menjalankan adalah operatornya (manusia) yang memiliki banyak karakter dan tidak
selalu taat pada asas dan aturan. Dapat saja sebuah aturan dibentuk dalam sebuah lembaga, namun
bagaimana aturan tersebut digulirkan sangat tergantung pada kehendak ((will)) dari manusia yang ada di
dalamnya.
Singkatnya, jika struktur menggambarkan aspek statis dari sistem politik (Negara), maka kultur politik
mengungkapkan sisi dinamisnya. Beri
Berikut
kut gambar untuk mengilustrasikan elemen dalam sebuah sistem
politik.
Macam-macam
macam budaya/kultur politik yang mengindikasikan ciri dari sebuah sistem politik menurut
Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell berdasarkan orientasi poltiknya adalah:
•
Budaya Politik Parokial
Yaitu
aitu budaya politik yang tingkat partisipasi politiknya sangat rendah. Budaya politik suatu
masyarakat dapat di katakan Parokial apabila frekwensi orientasi mereka terhadap empat
dimensi penentu budaya politik mendekati nol atau tidak memi
memiliki
liki perhatian sama sekali
terhadap keempat dimensi tersebut. Tipe budaya politik ini umumnya terdapat pada
masyarakat suku Afrika atau masyarakat pedalaman di Indonesia. dalam masyarakat ini tidak
ada peran politik yang bersifat khusus. Kepala suku, kepal
kepalaa kampung, kyai, atau dukun,yang
biasanya merangkum semua peran yang ada, baik peran yang bersifat politis, ekonomis atau
religius.
•
Budaya Politik Kaula (Subjek)
38
Yaitu budaya politik yang masyarakat yang bersangkutan sudah relatif maju baik sosial maupun
ekonominya tetapi masih bersifat pasif. Budaya politik suatu masyarakat dapat dikatakan subyek
jika terdapat frekwensi orientasi yang tinggi terhadap pengetahuan sistem politik secara umum
dan objek output atau terdapat pemahaman mengenai penguatan kebijakan yang di buat oleh
pemerintah. Namun frekwensi orientasi mengenai struktur dan peranan dalam pembuatan
kebijakan yang dilakukan pemerintah tidak terlalu diperhatikan. Para subyek menyadari akan
otoritas pemerintah dan secara efektif mereka di arahkan pada otoritas tersebut. Sikap
masyarakat terhadap sistem politik yang ada ditunjukkan melalui rasa bangga atau malah rasa
tidak suka. Intinya, dalam kebudayaan politik subyek, sudah ada pengetahuan yang memadai
tentang sistem politik secara umum serta proses penguatan kebijakan yang di buat oleh
pemerintah.
•
Budaya Politik Partisipatif
Yaitu budaya politik yang ditandai dengan kesadaran politik yang sangat tinggi. Masyarakat
mampu memberikan opininya dan aktif dalam kegiatan politik. Dan juga merupakan suatu
bentuk budaya politik yang anggota masyarakatnya sudah memiliki pemahaman yang baik
mengenai empat dimensi penentu budaya politik. Mereka memiliki pengetahuan yang memadai
mengenai sistem politik secara umum, tentang peran pemerintah dalam membuat kebijakan
beserta penguatan, dan berpartisipasi aktif dalam proses politik yang berlangsung. Masyarakat
cenderung di arahkan pada peran pribadi yang aktif dalam semua dimensi di atas, meskipun
perasaan dan evaluasi mereka terhadap peran tersebut bisa saja bersifat menerima atau
menolak.
39
SISTEM POLITIK PEMERINTAHAN DI INDONESIA
Setiap negara di dunia pastinya memiliki bentuk-bentuk pemerintahan tertentu. Bentuk pemerintahan
itu sendiri ada banyak. Namun terlebih dahulu, kita pahami apa itu bentuk pemerintahan.
Bentuk pemerintahan dapat diartikan sebagai rangkaian lembaga politik yang berfungsi untuk
mengorganisasikan suatu negara guna menegakkan kekuasaannya atas masyarakatnya. Di bawah ini
adalah beberapa bentuk pemerintahan dari era klasik hingga era modern.
Bentuk Pemerintahan
Bentuk Pemerintahan Klasik
Menurut Plato: Aristokrasi, Temokrasi, Oligarkhi, demokrasi, Tirani
•
•
•
•
•
Aristokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang kekuasaannya berada di sekelompok orang
yang dapat mencerminkan rasa keadilan.
Temokrasi yaitu suatu bentuk pemerintahan yang kekuasaannya dipegang oleh sekelompok orang
yang berlimpah harta (hartawan)
Oligarkhi artinya Suatu bentuk pemerintahan yang kekuasannya dipegang oleh golongan orang
yang dipengaruhi kemewahan atau harta kekayaan.
Demokrasi tidak lain Suatu bentuk pemerintahan yang menyerahkan seluruh kekuasannya kepada
rakyat
Tirani adalah Suatu bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang tiran yang jauh dari rasa
keadilan
Menurut Aristoteles: Monarki, Tirani, Aristokrasi, Oligarkhi, Plutokrasi, Politeia, Demokrasi
•
•
•
•
•
•
•
Monarki merupakan bentuk pemerintahan yang kekuasaannya berada di tangan seorang raja
atau kaisar untuk kepentingan umum.
Tirani adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaannya berada di tangan satu orang (raja atau
kaisar) untuk kepentingan pribadi.
Aristokrasi bermakna bentuk pemerintahan suatu negara yang kekuasaannya berada di tangan
kaum yang dianggap paling baik. Dalam hal ini biasanya adalah kaum bangsawan atau
cendekiawan.
Oligarki menggambarkan bentuk pemerintahan suatu negara yang kekuasaan politiknya dipegang
oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau
militer. Istilah oligarki diambil dari kata dalam bahasa Yunani yaitu oligon yang berarti sedikit
dan arkho yang artinya memerintah
Plutokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang mendasarkan suatu kekuasaan atas dasar
kekayaan yang dimiliki seseorang. Dalam plutokrasi, kekuasaan hanya bergilir dari satu orang kaya
ke orang kaya lainnya. Plutokrasi diambil dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu ploutos yang
berarti & kekayaan ; dan kratos yang berarti & kekuasaan. Riwayat keterlibatan kaum hartawan
dalam politik kekuasaan memang berawal di Yunani, untuk kemudian diikuti di kawasan Genova,
Italia.
Politeia artinya bentuk pemerintahan yang kekuasaannya dipegang oleh banyak orang demi
kepentingan umum.
Demokrasi yaitu bentuk pemerintahan, di mana kekuasaan tertingginya berada di tangan rakyat
40
Berbagai istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan masing-masing situasi yang dicermati oleh
filsuf-filsuf politik. Kini, umumnya pada ilmuwan menggambarkan bentuk pemerintahan klasik tersebut
dalam sebuah bagan siklus yang diberi istilah POLYBIOS seperti dalam gambar berikut.
Istilah Okhlokrasi dikemukakan untuk mengantarkan transisi dari kondisi pemerintahan yang mulanya
dijalankan dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat (demokrasi) menjadi kemudian tidak terkendali karena
hokum tidak dapat mengelola kebebasan dan kepentingan individual supaya tidak bertabrakan dan
merugikan satu sama lain. Istilah lain untuk Okhlokrasi adalah Mobokrasi (mob=kerumunan) yang
maknanya pemerintahan dijalankan atas kehendak sekelompok manusia yang tidak terikat satu sama
lain oleh aturan dan tempat (dengan kata lain, tidak ada aturan yang disepakati bersama).
Kondisi ini akan berakhir ketika muncul satu orang kuat yang akan memimpin semuanya dan
menjalankan sistem kepemimpinan individual (monarki) yang berkembang menjadi tirani dan
seterusnya mengikuti gambar siklus di atas.
Bentuk Pemerintahan Modern
1. MONARKI
Monarki absolute
Bentuk pemerintahan suatu negara yang dipimpin oleh seorang (raja, ratu, kaisar, syah). Dalam
monarki absolut, kekuasaan pemimpin tidak terbatas. Bentuk pemerintahan
ini pernah
dijalankan oleh Raja Louis XIV di Perancis. Beberapa negara lainnya yang pernah menganut
monarki absolut adalah Brunei Darussalam, Arab Saudi, dan Swaziland (Sebuah negara kecil di
selatan Afrika).
Monarki konstitusional
Bentuk pemerintahan suatu negara yang dipimpin oleh seorang raja, namun kekuasaan raja
dibatasi oleh undang-undang dasar (konstitusi). Contoh negara yang pernah menganut monarki
konstitusional adalah Jepang, Denmark, Belanda, Inggris, Thailand, Spayol, dan lain-lain.
Monarki Parlementer
41
Bentuk pemerintahan suatu negara yang dipimpin oleh seorang raja, namun kekuasaan yang
tertinggi berada di tangan parlemen (DPR). Contoh negara yang pernah menganut monarki
parlementer adalah Belanda, Inggris, dan Malaysia.
2. REPUBLIK
Republik Absolut
sebuah bentuk pemerintahan otokratis (kekuasaan dipegang satu orang) yang dipimpin oleh
seorang diktator. Tidak ada batasan bagi kekuasaan bagi pemimpin negara. Pemerintahan seperti
ini pernah dijalankan oleh negara Italia dan Jerman pada masa perang dunia II.
Republik Konstitusional
Bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang presiden.Kekuasaan presiden dibatasi oleh UUD
atau konstitusi. Contoh negara yang menganut republik konstitusional adalah Indonesia dan
Amerika Serikat
Republik Parlementer
Bentuk pemerintahan yang kekuasaannya terbagi, kepala negara dipegang oleh presiden,
sedangkan kepala pemerintahan dipegang oleh seorang perdana menteri Contoh negara yang
menganut republik parlementer adalah India, Pakistan, Israel, Perancis
3. EMIRAT
Istilah emirat diambil dari bahasa Arab yang bentuk jamaknya adalah imarat. Emirat merupakan
suatu wilayah yang dipimpin oleh seorang emir. Dalam bahasa Arab, istilah emirat dapat merujuk
pada provinsi apa pun dari sebuah negara yang diperintah oleh anggota kelompok pemerintah.
Penggunaan emirat ini terlihat pada emirat nama negara Uni Emirat Arab, di mana Negara ini
dibagi menjadi tujuh emirat federal yang masing-masing diperintah oleh seorang emir.
4. FEDERAL ATAU FEDERASI
Federasi merupakan suatu bentuk pemerintahan yang membagi negaranya menjadi beberapa
negara bagian yang saling bekerja sama dan membentuk negara kesatuan. Masing-masing negara
bagian memiliki beberapa otonomi khusus dan pemerintahan pusat mengatur beberapa urusan
yang dianggap nasional. Contoh negara yang pernah menganut bentuk federasi adalah Amerika
Serikat, Australia, Kanada, India, dan sebagainya.
5. NEGARA KOTA
Merupakan istilah untuk menyebuat sebuah negara yang berbentuk kota dan mempunyai wilayah
kekuasaan, memiliki rakyat, dan pemerintahan yang berdaulat penuh. Salah satu contoh negara
kota adalah Singapura.
Variasi dari bentuk pemerintahan pada era modern juga ditentukan dari berbagai kombinasi bentuk
dengan sistem pemerintahan. Pada saat ini ada banyak bentuk pemerintahan. Bahkan ada
pemerintahan yang dikategorikan di luar istilah yang ada karena tidak masuk dalam criteria yang
ditentukan.
42
Dalam pembahasan terkini, bentuk Negara umumnya dibagi ke dalam tiga kategori: Kesatuan, Federasi,
dan Konfederasi:
1. Negara Kesatuan (Unitaris)
Negara Kesatuan adalah negara bersusunan tunggal, yakni kekuasaan untuk mengatur seluruh
daerahnya ada di tangan pemerintah pusat. Pemerintah pusat memegang kedaulatan sepenuhnya, baik
ke dalam maupun ke luar. Hubungan antara pemerintah pusat dengan rakyat dan daerahnya dapat
dijalankan secara langsung. Dalam negara kesa
kesatuan
tuan hanya ada satu konstitusi, satu kepala negara, satu
dewan menteri (kabinet), dan satu parlemen. Demikian pula dengan pemerintahan, yaitu pemerintah
pusatlah yang memegang wewenang tertinggi dalam segala aspek pemerintahan. Ciri utama negara
kesatuan adalah
dalah supremasi parlemen pusat dan tiadanya badan
badan-badan
badan lain yang berdaulat.
Negara kesatuan dapat dibedakan menjadi dua macam sistem, yaitu Sentralisasi dan Desentralisasi.
Dalam negara kesatuan bersistem sentralisasi, semua hal diatur dan diurus oleh pemerintah pusat,
sedangkan daerah hanya menjalankan perintah
perintah-perintah dan peraturan-peraturan
peraturan dari pemerintah
pusat. Daerah tidak berwewenang membuat peraturan
peraturan-peraturan
peraturan sendiri dan atau mengurus rumah
tangganya sendiri.
2. Negara Serikat (Federasi)
Negara Serikat
erikat adalah negara bersusunan jamak, terdiri atas beberapa negara bagian yang masing
masingmasing tidak berdaulat. Kendati negara
negara-negara
negara bagian boleh memiliki konstitusi sendiri, kepala negara
sendiri, parlemen sendiri, dan kabinet sendiri, yang berdaulat dala
dalam
m negara serikat adalah gabungan
negara-negara
negara bagian yang disebut negara federal.
43
Setiap negara bagian bebas melakukan tindakan ke dalam, asal tak bertentangan dengan konstitusi
federal. Tindakan ke luar (hubungan dengan negara lain) hanya dapat dilakukan oleh pemerintah
federal.
Ciri-ciri negara serikat/ federal:
1. tiap negara bagian memiliki kepala negara, parlemen, dewan menteri (kabinet) demi
kepentingan negara bagian;
2. tiap negara bagian boleh membuat konstitusi sendiri, tetapi tidak boleh bertentangan dengan
konstitusi negara serikat;
3. hubungan antara pemerintah federal (pusat) dengan rakyat diatur melalui negara bagian,
kecuali dalam hal tertentu yang kewenangannya telah diserahkan secara langsung kepada
pemerintah federal.
Dalam praktik kenegaraan, jarang dijumpai sebutan jabatan kepala negara bagian (lazimnya disebut
gubernur negara bagian). Pembagian kekuasaan antara pemerintah federal dengan negara bagian
ditentukan oleh negara bagian, sehingga kegiatan pemerintah federal adalah hal ikhwal kenegaraan
selebihnya (residuary power).
Pada umumnya kekuasaan yang dilimpahkan negara-negara bagian kepada pemerintah federal meliputi:
1. hal-hal yang menyangkut kedudukan negara sebagai subyek hukum internasional, misalnya:
masalah daerah, kewarganegaraan dan perwakilan diplomatik;
2. hal-hal yang mutlak mengenai keselamatan negara, pertahanan dan keamanan nasional, perang
dan damai;
3. hal-hal tentang konstitusi dan organisasi pemerintah federal serta azas-azas pokok hukum
maupun organisasi peradilan selama dipandang perlu oleh pemerintah pusat, misalnya:
mengenai masalah uji material konstitusi negara bagian;
4. hal-hal tentang uang dan keuangan, beaya penyelenggaraan pemerintahan federal, misalnya:
hal pajak, bea cukai, monopoli, matauang (moneter);
5. hal-hal tentang kepentingan bersama antarnegara bagian, misalnya: masalah pos,
telekomunikasi, statistik.
Menurut C.F. Strong, yang membedakan negara serikat yang satu dengan yang lain adalah:
1. cara pembagian kekuasaan antara pemerintah federal dan pemerintah negara bagian;
2. badan yang berwenang untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul antara pemerintah
federal dengan pemerintah negara bagian.
Berdasarkan kedua hal tersebut, lahirlah bermacam-macam negara serikat, antara lain:
a. negara serikat yang konstitusinya merinci satu persatu kekuasaan pemerintah federal, dan
kekuaasaan yang tidak terinci diserahkan kepada pemerintah negara bagian. Contoh negara
serikat semacam itu antara lain: Amerika Serikat, Australia, RIS (1949);
b. negara serikat yang konstitusinya merinci satu persatu kekuasaan pemerintah negara bagian,
sedangkan sisanya diserahkan kepada pemerintah federal. Contoh: Kanada dan India;
c. negara serikat yang memberikan wewenang kepada mahkamah agung federal dalam
menyelesaikan perselisihan di antara pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian.
Contoh: Amerika Serikat dan Australia;
d. negara serikat yang memberikan kewenangan kepada parlemen federal dalam menyelesaikan
perselisihan antara pemerintah federal dengan pemerintah negara bagian. Contoh: Swiss.
44
Persamaan antara negara serikat dan negara kesatuan bersistem desentralisasi: 1) Pemerintah pusat
sebagai pemegang kedaulatan ke luar; 2) Sama-sama memiliki hak mengatur daerah sendiri (otonomi).
Sedangkan perbedaannya adalah: mengenai asal-asul hak mengurus rumah tangga sendiri itu. Pada
negara bagian, hak otonomi itu merupakan hak aslinya, sedangkan pada daerah otonom, hak itu
diperoleh dari pemerintah pusat.
3. Konfederasi (Perserikatan Negara)
Selain negara serikat, ada pula yang disebut serikat negara (konfederasi). Tiap negara yang menjadi
anggota perserikatan itu ada yang berdaulat penuh, ada pula yang tidak. Perserikatan pada umumnya
timbul karena adanya perjanjian berdasarkan kesamaan politik, hubungan luar negeri, pertahanan dan
keamanan atau kepentingan bersama lainnya.
Perserikatan Negara pada hakikatnya bukanlah negara, melainkan suatu perserikatan yang
beranggotakan negara-negara yang masing-masing berdaulat. Dalam menjalankan kerjasama di antara
para anggotanya, dibentuklah alat perlengkapan atau badan yang di dalamnya duduk para wakil dari
negara anggota.
Contoh Perserikatan Negara yang pernah ada misalnya Perserikatan Amerika Utara (1776-1787); Negara
Belanda (1579-1798), Jerman (1815-1866). Contoh saat ini adalah Uni Eropa.
Sistem Politik dan Pemerintahan Indonesia
Sistem politik Indonesia diartikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai kegiatan dalam Negara
Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum termasuk proses penentuan tujuan, upaya-upaya
mewujudkan tujuan, pengambilan keputusan, seleksi dan penyusunan skala prioritasnya. Seluruhnya
diatur dalam konstitusi karena Indonesia penganut Negara hukum.
Suprastruktur politik Indonesia adalah Lembaga-Lembaga Negara. Lembaga-lembaga tersebut di
Indonesia diatur dalam Konstitusi Negara, yakni UUD 1945. UUD 1945 yang telah empat kali
diamandemen menyebutkan beberapa lembaga suprastruktur poltik/pemerintahan Indonesia: MPR,
DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial.
Lembaga-lembaga ini yang akan membuat keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kepentingan
umum.
Badan yang ada di masyarakat atau infrastruktur politik seperti Parpol, Ormas, media massa, Kelompok
kepentingan (Interest Group), Kelompok Penekan (Presure Group), Alat/Media Komunikasi Politik,
Tokoh Politik (Political Figure), dan pranata politik lainnya adalah merupakan infrastruktur politik,
melalui badan-badan inilah masyarakat dapat menyalurkan aspirasinya. Tuntutan dan dukungan sebagai
input dalam proses pembuatan keputusan. Dengan adanya partisipasi masyarakt diharapkan keputusan
yang dibuat pemerintah sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat.
Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen keempat, struktur kelembagaan poltik-pemerintahan di
Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut:
45
KEKUASAAN EKSEKUTIF
KEKUASAAN LEGISLATIF
KEKUASAAN YUDIKATIF
Deskripsi Struktur Ketatanegaraan RI “Setelah” Amandemen UUD 1945:
Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi dimana kedaulatan berada di tangan rakyat dan
dijalankan sepenuhnya menurut UUD. UUD memberikan pembagian kekuasaan (separation of power)
kepada 6 Lembaga Negara dengan kedudukan yang sama dan sejajar, yaitu Presiden, Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD),
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA), dan Mahkamah Konstitusi (MK).
Perubahan (Amandemen) UUD 1945:
•
•
•
•
•
•
Mempertegas prinsip negara berdasarkan atas hukum [Pasal 1 ayat (3)] dengan menempatkan
kekuasaan kehakiman sebagai kekuasaan yang merdeka, penghormatan kepada hak asasi
manusia serta kekuasaan yang dijalankan atas prinsip due process of law.
Mengatur mekanisme pengangkatan dan pemberhentian para pejabat negara, seperti Hakim.
Sistem konstitusional berdasarkan perimbangan kekuasaan (check and balances) yaitu setiap
kekuasaan dibatasi oleh Undang-undang berdasarkan fungsi masing-masing.
Setiap lembaga negara sejajar kedudukannya di bawah UUD 1945.
Menata kembali lembaga-lembaga negara yang ada serta membentuk beberapa lembaga
negara baru agar sesuai dengan sistem konstitusional dan prinsip negara berdasarkan hukum.
Penyempurnaan pada sisi kedudukan dan kewenangan maing-masing lembaga negara
disesuaikan dengan perkembangan negara demokrasi modern.
46
MPR
•
•
•
•
•
•
Lembaga tinggi negara sejajar kedudukannya dengan lembaga tinggi negara lainnya seperti
Presiden, DPR, DPD, MA, MK, BPK.
Menghilangkan supremasi kewenangannya.
Menghilangkan kewenangannya menetapkan GBHN.
Menghilangkan kewenangannya mengangkat Presiden (karena presiden dipilih secara langsung
melalui pemilu).
Tetap berwenang menetapkan dan mengubah UUD.
Susunan keanggotaanya berubah, yaitu terdiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan
angota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih secara langsung melalui pemilu.
DPR
•
•
•
•
Posisi dan kewenangannya diperkuat.
Mempunyai kekuasan membentuk UU (sebelumnya ada di tangan presiden, sedangkan DPR
hanya memberikan persetujuan saja) sementara pemerintah berhak mengajukan RUU.
Proses dan mekanisme membentuk UU antara DPR dan Pemerintah.
Mempertegas fungsi DPR, yaitu: fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan
sebagai mekanisme kontrol antar lembaga negara.
DPD
•
•
•
•
Lembaga negara baru sebagai langkah akomodasi bagi keterwakilan kepentingan daerah dalam
badan perwakilan tingkat nasional setelah ditiadakannya utusan daerah dan utusan golongan
yang diangkat sebagai anggota MPR.
Keberadaanya dimaksudkan untuk memperkuat kesatuan Negara Republik Indonesia.
Dipilih secara langsung oleh masyarakat di daerah melalui pemilu.
Mempunyai kewenangan mengajukan dan ikut membahas RUU yang berkaitan dengan otonomi
daerah, hubungan pusat dan daerah, RUU lain yang berkait dengan kepentingan daerah.
BPK
•
•
•
•
Anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD.
Berwenang mengawasi dan memeriksa pengelolaan keuangan negara (APBN) dan daerah
(APBD) serta menyampaikan hasil pemeriksaan kepada DPR dan DPD dan ditindaklanjuti oleh
aparat penegak hukum.
Berkedudukan di ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi.
Mengintegrasi peran BPKP sebagai instansi pengawas internal departemen yang bersangkutan
ke dalam BPK.
PRESIDEN
•
•
Membatasi beberapa kekuasaan presiden dengan memperbaiki tata cara pemilihan dan
pemberhentian presiden dalam masa jabatannya serta memperkuat sistem pemerintahan
presidensial.
Kekuasaan legislatif sepenuhnya diserahkan kepada DPR.
47
•
•
•
•
Membatasi masa jabatan presiden maksimum menjadi dua periode saja.
Kewenangan pengangkatan duta dan menerima duta harus memperhatikan pertimbangan DPR.
Kewenangan pemberian grasi, amnesti dan abolisi harus memperhatikan pertimbangan DPR.
Memperbaiki syarat dan mekanisme pengangkatan calon presiden dan wakil presiden menjadi
dipilih secara langsung oleh rakyat melui pemilu, juga mengenai pemberhentian jabatan
presiden dalam masa jabatannya.
MAHKAMAH AGUNG
•
•
Lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman, yaitu kekuasaan yang
menyelenggarakan peradilan untuk menegakkan hukum dan keadilan [Pasal 24 ayat (1)].
Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peaturan perundang-undangan di bawah
Undang-undang dan wewenang lain yang diberikan Undang-undang.
MAHKAMAH AGUNG
•
•
Di bawahnya terdapat badan-badan peradilan dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan
Peradilan Agama, lingkungan Peradilan militer dan lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara
(PTUN).
Badan-badan lain yang yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam
Undang-undang seperti : Kejaksaan, Kepolisian, Advokat/Pengacara dan lain-lain.
MAHKAMAH KONSTITUSI
•
•
•
Keberadaanya dimaksudkan sebagai penjaga kemurnian konstitusi (the guardian of the
constitution).
Mempunyai kewenangan: Menguji UU terhadap UUD, Memutus sengketa kewenangan antar
lembaga negara, memutus pembubaran partai politik, memutus sengketa hasil pemilu dan
memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan atau
wakil presiden menurut UUD.
Hakim Konstitusi terdiri dari 9 orang yang diajukan masing-masing oleh Mahkamah Agung, DPR
dan pemerintah dan ditetapkan oleh Presiden, sehingga mencerminkan perwakilan dari 3
cabang kekuasaan negara yaitu yudikatif, legislatif, dan eksekutif.
48
PAHAM-PAHAM BESAR DI DUNIA
Tulisan ini hanya akan menjadi pengantar singkat untuk mulai memahami secara lebih luas beberapa
(tidak semua) paham (isme) yang mewujud pada pola pikir dan cara pandang seseorang dalam
kehidupan sosial.
Adapun pendalaman dapat dipelajari lebih jauh melalui minat pribadi atau mengikuti kelas-kelas formal
maupun informal, agar kita terbiasa memperluas cara pandang dan memahami bahwa dalam kehidupan
bermasyarakat tidak dapat dilakukan pukul-rata antara satu-individu dengan individu lainnya, atau satu
masyarakat dengan masyarakat lainnya, atau satu bangsa dengan bangsa lainnya.
Beberapa hal yang didiskusikan pada kesempatan kali ini bukan bermaksud menjadi klaimatas tafsir
satu-satunya dari setiap paham. Namun, justru mencerminkan cara pandang penyusun terhadap paham
itu sendiri. Adapun perbedaan pengertian tentu akan menjadi kekayaan kita bersama dalam diskusidiskusi mendatang.
Nasionalisme
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara
(dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok
manusia.
Para nasionalis menganggap negara adalah berdasarkan beberapa "kebenaran politik" (political
legitimacy). Bersumber dari teori romantisme yaitu "identitas budaya", debat liberalisme yang
menganggap kebenaran politik adalah bersumber dari kehendak rakyat, atau gabungan kedua teori itu.
Ikatan nasionalisme tumbuh di tengah masyarakat saat pola pikirnya mulai merosot. Ikatan ini terjadi
saat manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tak beranjak dari situ. Saat itu,
naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan
negerinya, tempatnya hidup dan menggantungkan diri. Dari sinilah cikal bakal tubuhnya ikatan ini, yang
notabene lemah dan bermutu rendah. Ikatan inipun tampak pula dalam dunia hewan saat ada ancaman
pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Namun, bila suasanya aman dari
serangan musuh dan musuh itu terusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini.
Dalam zaman modern ini, nasionalisme merujuk kepada amalan politik dan ketentaraan yang
berlandaskan nasionalisme secara etnik serta keagamaan, seperti yang dinyatakan di bawah. Para
ilmuwan politik biasanya menumpukan penyelidikan mereka kepada nasionalisme yang ekstrem seperti
nasional sosialisme, pengasingan dan sebagainya.
Beberapa bentuk nasionalisme
Nasionalisme dapat menonjolkan dirinya sebagai sebagian paham negara atau gerakan (bukan negara)
yang populer berdasarkan pendapat warganegara, etnis, budaya, keagamaan dan ideologi. Kategori
tersebut lazimnya berkaitan dan kebanyakan teori nasionalisme mencampuradukkan sebahagian atau
semua elemen tersebut.
Nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil) adalah sejenis nasionalisme dimana negara
memperoleh kebenaran politik dari penyertaan aktif rakyatnya, "kehendak rakyat"; "perwakilan politik".
Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara
tulisan yang terkenal adalah buku berjudulk Du Contract Sociale (atau dalam Bahasa Indonesia
"Mengenai Kontrak Sosial").
49
Nasionalisme etnis adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari
budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang
memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk "rakyat").
Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari
nasionalisme etnis dimana negara memperoleh kebenaran politik secara semulajadi ("organik") hasil
dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada
perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk
konsep nasionalisme romantik. Misalnya "Grimm Bersaudara" yang dinukilkan oleh Herder merupakan
koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.
Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari
budaya bersama dan bukannya "sifat keturunan" seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang
terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras
telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai
rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa
membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka
nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRC karena pemerintahan RRT
berpaham komunisme.
Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan
nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak
universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip
masyarakat demokrasi. Penyelenggaraan sebuah 'national state' adalah suatu argumen yang ulung,
seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, serta
nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di
Spanyol, serta sikap 'Jacobin' terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis, seperti juga
nasionalisme masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan
(equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalis Basque atau Korsika. Secara
sistematis, bila mana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada
kesetiaan masyarakat, dan terhadap wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya
terhadap nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Sepanyol dan
Perancis dengan nasionalisme Basque, Catalan, dan Corsica.
Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari
persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan
nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan
agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP
bersumber dari agama Hindu.
Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya merupakan simbol dan bukannya
motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya pada abad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh
mereka yang menganut agama Protestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk
memartabatkan teologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut
paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Justru itu,
nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan.
Anarkisme
Anarkisme atau dieja anarkhisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara,
pemerintahan, dengan kekuasaannya adalah lembaga-lembaga yang menumbuh suburkan penindasan
50
terhadap kehidupan, oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus
dihilangkan/dihancurkan.
Secara spesifik pada sektor ekonomi, politik, dan administratif, Anarki berarti koordinasi dan
pengelolaan, tanpa aturan birokrasi yang didefinisikan secara luas sebagai pihak yang superior dalam
wilayah ekonomi, politik dan administratif (baik pada ranah publik maupun privat).
Fasisme
Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi.
Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara.
Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat
tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi
dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah.
Pada abad ke-20, fasisme muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga
muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan fasisme, yaitu Nazisme pimpinan Adolf
Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja,
tetapi bahkan rasialisme dan rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai
mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah.
Komunisme
Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme dan ideologi lainnya. Komunisme lahir
sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan individu
pemilik dan mengesampingkan buruh.
Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang
digunakan partai komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga
dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".
Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya,
perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar, namun pengorganisasian
Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai.
Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa
berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi "tumpul" dan tidak
lagi diminati.
Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana
kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh
negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada
rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme.
Secara umum komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama dianggap
candu yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional
dan nyata.
Komunisme di Dunia
Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7
November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke
negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam,
Korea Utara, Kuba dan Laos.
51
Maoisme
Ideologi komunisme di Tiongkok agak lain daripada dengan Marxisme-Leninisme yang diadopsi bekas
Uni Soviet. Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang
kemudian ia sebut sebagai Maoisme. Perbedaan mendasar dari komunisme Tiongkok dengan
komunisme di negara lainnya adalah bahwa komunisme di Tiongkok lebih mementingkan peran petani
daripada buruh. Ini disebabkan karena kondisi Tiongkok yang khusus di mana buruh dianggap sebagai
bagian tak terpisahkan dari kapitalisme.
Liberalisme
Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada
pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan
berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah
dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang
mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang
transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham
liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.
Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan
keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Bandingkan Oxford Manifesto dari Liberal
International: "Hak-hak dan kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui demokrasi yang sejati. Demokrasi
sejati tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetujuan yang dilakukan dengan
sadar, bebas, dan yang diketahui benar (enlightened) dari kelompok mayoritas, yang diungkapkan
melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan pandangan-pandangan
kaum minoritas.".
Kapitalisme
Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan
usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak
dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan
secara besar-besaran untung kepentingan-kepentingan pribadi. Walaupun demikian, kapitalisme
sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas.
Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad
ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana
sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat
memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah
dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modalmodal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai
operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.
Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan
oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini,
kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan
belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme
lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.
52
Kaum klasik kapitalis
Pemerintah mendominasi bidang perdagangan selama berabad-abad namun kemudian malah
memunculkan ketimpangan ekonomi. Para pemikir ini mulai beranggapan bahwa para borjuis, yang
pada era sebelumnya mulai memegang peranan penting dalam ekonomi perdagangan yang didominasi
negara atau lebih dikenal dengan merkantilisme, seharusnya mulai melakukan perdagangan dan
produksi guna menunjang pola kehidupan masyarakat.
Sosialisme
Istilah sosialisme atau sosialis dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan dengan ideologi atau
kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai digunakan sejak awal abad ke-19.
Dalam bahasa Inggris, istilah ini digunakan pertama kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada
tahun 1827. Di Perancis, istilah ini mengacu pada para pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1832
yang dipopulerkan oleh Pierre Leroux dan J. Regnaud dalam l'Encyclopédie Nouvelle.
Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh
berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh
industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan
memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani
masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite.
53
DEMOKRASI
Dalam pengertian umum seperti yang termuat di situs ensiklopedi bebas, Wikipedia.com, Demokrasi
adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitulah pemahaman yang paling
sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang
Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari
rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan).
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία – (dēmokratía) "kekuasaan rakyat", yang dibentuk dari
kata δῆμος (dêmos) "rakyat" dan κράτος (Kratos) "kekuasaan", merujuk pada sistem politik yang muncul
pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul
revolusi rakyat pada tahun 508 SM.
Berbicara mengenai demokrasi adalah memburaskan (memperbincangkan) tentang kekuasaan, atau
lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem manajemen kekuasaan yang
dilandasi oleh nilai-nilai dan etika serta peradaban yang menghargai martabat manusia. Pelaku utama
demokrasi adalah kita semua, setiap orang yang selama ini selalu diatasnamakan namun tak pernah ikut
menentukan. Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki,
menjaga hak-hak itu agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha melanggar hakhak itu. Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang (people rule), dan di dalam sistem politik yang
demokratis warga mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur pemerintahan
di dunia publik. Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak.
Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak
anti-feodalisme dan anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis. Bagi Gus Dur,
landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti
juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan
apa yang dia ingini. Jadi masalah keadilan menjadi penting, dalam arti dia mempunyai hak untuk
menentukan sendiri jalan hidupnya, tetapi harus dihormati haknya dan harus diberi peluang dan
kemudahan serta pertolongan untuk mencapai itu.
Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah pengakuan hakikat manusia,
yaitu pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan yang sama dalam hubungan sosial. Berdasarkan
gagasan dasar tersebut terdapat 2 (dua) asas pokok demokrasi, yaitu:
1. Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya pemilihan wakil-wakil rakyat untuk
lembaga perwakilan rakyat secara langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jurdil; dan
2. Pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya adanya tindakan pemerintah untuk
melindungi hak-hak asasi manusia demi kepentingan bersama.
Ciri-Ciri Pemerintahan Demokratis
Istilah demokrasi diperkenalkan kali pertama oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu
suatu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan banyak orang (rakyat).
Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir
seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut.
Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun
tidak langsung (perwakilan).
•
•
Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
54
•
Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat.
Prinsip-Prinsip Demokrasi dan Demokrasi Pancasila
Setiap prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi telah terakomodasi dalam
suatu konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prinsip-prinsip demokrasi, dapat ditinjau dari
pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan "soko guru demokrasi." Menurutnya, prinsip-prinsip
demokrasi adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Kedaulatan rakyat;
Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;
Kekuasaan mayoritas;
Hak-hak minoritas;
Jaminan hak asasi manusia;
Pemilihan yang bebas dan jujur;
Persamaan di depan hukum;
Proses hukum yang wajar;
Pembatasan pemerintah secara konstitusional;
Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;
Nilai-nilai tolerensi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat
Menurut Wikipedia Indonesia, demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu
negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk
dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Demokrasi yang dianut di Indonesia, yaitu demokrasi berdasarkan Pancasila, masih dalam taraf
perkembangan dan mengenai sifat-sifat dan ciri-cirinya terdapat berbagai tafsiran serta pandangan.
Tetapi yang tidak dapat disangkal ialah bahwa beberapa nilai pokok dari demokrasi konstitusionil cukup
jelas tersirat di dalam Undang Undang Dasar 1945. Selain dari itu Undang-Undang Dasar kita menyebut
secara eksplisit 2 prinsip yang menjiwai naskah itu dan yang dicantumkan dalam penjelasan mengenai
Sistem Pemerintahan Negara, yaitu:
1. Indonesia ialah negara yang berdasarkan atas hukum (Rechstaat).
Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechstaat), tidak berdasarkan kekuasaan belaka
(Machstaat).
2. Sistem Konstitusionil
Pemerintahan berdasarkan atas Sistem Konstitusi (Hukum Dasar), tidak bersifat Absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas). Berdasarkan 2 istilah Rechstaat dan sistem konstitusi, maka
jelaslah bahwa demokrasi yang menjadi dasar dari Undang-Undang Dasar 1945, ialah demokrasi
konstitusionil. Di samping itu corak khas demokrasi Indonesia, yaitu kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilana, dimuat dalam Pembukaan
Undang-Undang Dasar.
Dengan demikian demokrasi Indonesia mengandung arti di samping nilai umum, dituntut nilai-nilai
khusus seperti nilai-nilai yang memberikan pedoman tingkah laku manusia Indonesia dalam
hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, tanah air dan Negara Kesatuan Republik
Indonesia, pemerintah dan masyarakat, usaha dan krida manusia dalam mengolah lingkungan hidup.
Pengertian lain dari demokrasi Indonesia adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan, yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang
Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan bertujuan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia (demokrasi pancasila).
55
Pengertian tersebut pada dasarnya merujuk kepada ucapan Abraham Lincoln, mantan presiden Amerika
Serikat, yang menyatakan bahwa demokrasi suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat, berarti pula demokrasi adalah suatu bentuk kekuasaan dari – oleh untuk rakyat. Menurut
konsep demokrasi, kekuasaan menyiratkan arti politik dan pemerintahan, sedangkan rakyat beserta
warga masyarakat didefinisikan sebagai warga negara. Kenyataannya, baik dari segi konsep maupun
praktik, demos menyiratkan makna diskriminatif. Demos bukan untuk rakyat keseluruhan, tetapi
populus tertentu, yaitu mereka yang berdasarkan tradisi atau kesepakatan formal memiliki hak
preogratif forarytif dalam proses pengambilan/pembuatan keputusan menyangkut urusan publik atau
menjadi wakil terpilih, wakil terpilih juga tidak mampu mewakili aspirasi yang memilihnya. (Idris Israil,
2005:51)
Secara ringkas, demokrasi Pancasila memiliki beberapa pengertian sebagai berikut:
•
•
•
•
Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang berdasarkan kekeluargaan dan gotong-royong yang
ditujukan kepada kesejahteraan rakyat, yang mengandung unsur-unsur berkesadaran religius,
berdasarkan kebenaran, kecintaan dan budi pekerti luhur, berkepribadian Indonesia dan
berkesinambungan.
Dalam demokrasi Pancasila, sistem pengorganisasian negara dilakukan oleh rakyat sendiri atau
dengan persetujuan rakyat.
Dalam demokrasi Pancasila kebebasan individu tidak bersifat mutlak, tetapi harus diselaraskan
dengan tanggung jawab sosial.
Dalam demokrasi Pancasila, keuniversalan cita-cita demokrasi dipadukan dengan cita-cita hidup
bangsa Indonesia yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan, sehingga tidak ada dominasi
mayoritas atau minoritas.
Implementasi Demokrasi di Indonesia dari Perspektif Hak-Hak Sipil
Menurut Johannes Johny Koynja, SH.,MH (2010), terdapat beberapa hal yang penting diperhatikan
dalam implementasi demokrasi di Indonesia. Hal-hal tersebut sangat erat dicermati dari sudut pandang
hak-hak sipil. Karena inti dan esensi demokrasi adalah melindungi hak-hak sipil.
1. Implementasi hak-hak sipil di Indonesia
Undang Undang RI Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak - hak
Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights). Kovenan ini mengukuhkan pokokpokok hak asasi manusia di bidang sipil dan politik yang tercantum dalam Universal Declaration of
Human Rights sehingga menjadi ketentuan-ketentuan yang mengikat secara hukum. Kovenan tersebut
terdiri dari pembukaan dan Pasal-Pasal yang mencakup 6 bab dan 53 Pasal.
Hak-hak sipil (Civil Rights) dalam pengertian yang luas, mencakup hak-hak ekonomi, sosial dan
kebudayaan, merupakan hak yang dinikmati oleh manusia dalam hubungannya dengan warga negara
yang lainnya, dan tidak ada hubungannya dengan penyelenggaraan kekuasaan negara, salah satu
jabatan dan kegiatannya (Subhi, 1993 : 236)
Hak - hak sipil (kebebasan-kebebasan fundamental) meliputi hak-hak berikut :
1)
2)
3)
4)
hak hidup;
hak bebas dari siksaan, perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi, atau
merendahkan martabat;
hak bebas dari perbudakan;
hak bebas dari penangkapan atau penahanan secara sewenang-wenang;
56
5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)
12)
13)
14)
hak memilih tempat tinggalnya, untuk meninggalkan negara manapun termasuk negara
sendiri;
hak persamaan di depan peradilan dan badan peradilan;
hak atas praduga tak bersalah.
hak kebebasan berpikir;
hak berkeyakinan (consciense) dan beragama;
hak untuk mempunyai pendapat tanpa campur tangan pihak lain;
hak atas kebebasan untuk menyatakan pendapat;
hak atas perkawinan/membentuk keluarga;
hak anak atas perlindungan yang dibutuhkan oleh statusnya sebagai anak dibawah umur,
keharusan segera didaftarkannya setiap anak setelah lahir dan keharusan mempunyai
nama,
dan
hak
anak
atas
kewarganegaraan;
14) hak persamaan kedudukan semua orang di depan hukum; dan
hak atas perlindungan hukum yang sama tanpa diskriminasi.
Masuknya pasal-pasal Hak Asasi Manusia dalam UUD 1945, tidak lepas dari perdebatan yang
mendahuluinya antara kelompok yang keberatan (terutama Ir.Soekarno dan Mr.Soepomo) dan
kelompok yang menghendaki dimasukkanya konsep hak asasi manusia (terutama Moh. Hatta).
Munculnya dua pendapat yang berbeda tersebut, sebagaimana dituturkan Mr. Muhammad Yamin
dalam bukunya, Naskah Persiapan UUD 1945, Jilid I, antara lain sebagai berikut.
Bung Karno menjelaskan bahwa telah ditentukan sidang pertama bahwa “kita menyetujui keadilan
sosial. Keadilan sosial inilah protes kita yang maha hebat terhadap dasar individualisme. Kita
menghendaki keadilan sosial. Buat apa grondwet (Undang - Undang Dasar) menuliskan bahwa manusia
bukan saja mempunyai hak kemerdekaan memberi suara, mengadakan persidangan dan berapat, jikalau
misalnya tidak ada sociale rechvaardigheid (keadilan sosial) yang demikian itu? Buat apa kita membikin
grondwet, apa guna grondwet itu kalau ia tidak dapat mengisi perut orang yang hendak mati kelaparan.
Maka oleh karena itu, jikalau kita betul-betul hendak mendasarkan negara kita kepada paham
kekeluargaan, faham tolong-menolong, faham gotong - royong dan keadilan sosial, enyahkanlah tipetipe pikiran, tiap-tiap faham individualisme dan liberalisme daripadanya. Kita rancangkan UUD dengan
kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan individu. Inilah menurut paham Panitia Perancang UUD satusatunya jaminan, bahwa bangsa Indonesia seluruhnya akan selamat di kemudian hari.” Demikianlah
pendapat Bung Karno, yang kemudian didukung oleh Soepomo.
Sedangkan pendapat Drs.Mohammad Hatta, antara lain menyatakan :
“…Mendirikan negara yang baru, hendaknya kita memperhatikan syarat-syarat supaya negara
yang kita bikin jangan sampai menjadi negara kekuasaan. Kita menghendaki Negara
Pengurus, kita membangun masyarakat baru yang berdasarkan gotong-royong, usaha
bersama, tujuan kita adalah membaharui masyarakat.Tetapi disebelah itu janganlah kita
memberikan kekuasaan yang tidak terbatas kepada negara untuk menjadikan di atas negara
baru itu suatu Negara Kekuasaan. Sebab itu ada baiknya dalam salah satu fasal yang
mengenai warga negara disebutkan juga sebelah hak yang sudah diberikan kepada misalnya
tiap-tiap warga negara rakyat Indonesia, supaya tiap - tiap warga negara jangan takut
mengeluarkan suara”.
Demikianlah pendapat Bung Hatta, yang pendapatnya kemudian didukung oleh Muhammad Yamin.
Dari kedua pendapat di atas, maka memahami pokok-pokok hak asasi manusia dalam UUD 1945,
rujukannya (referensinya) yang akurat adalah pendapat Drs.Mohammad Hatta, yang esensinya
57
mencegah berkembangnya Negara Kekuasaan. Bung Hatta melihat dalam kenyataan bahwa pelanggaran
hak asasi manusia terutama dilakukan oleh penguasa.
Sedangkan pemikiran Bung Karno yang memandang hak asasi manusia bersifat individualisme dan
dipertentangkan dengan kedaulatan rakyat dan keadilan sosial, sampai saat ini masih dianut terutama
oleh penguasa.
Apa yang dikhawatirkan oleh Bung Hatta terbukti sudah. Hal itu dapat dicermati bahwa pada abad ke-20
masih tampak perjuangan hak asasi manusia terutama dilakukan masyarakat terhadap pemerintahan
sendiri yang otoriter.
Sampai memasuki abad ke-21, persoalan pada abad ke-20 masih belum berakhir. Hanya saja persoalan
hak asasi manusia, demokrasi dan lingkungan telah menjadi isue global, sehingga negara-negara yang
otoriter semakin terdesak untuk merealisasikan hak asasi manusia tidak hanya dari tuntutan
masyarakatnya tetapi juga dari dunia internasional.
Meskipun di Indonesia telah ada jaminan secara konstitusional dan telah dibentuk lembaga yang
berkomitmen melindungi hak asasi manusia, tetapi belum menjamin bahwa perlindungan hak asasi
manusia telah dilaksanakan.
Lukman Soetrisno seorang sosiolog, mengajukan indikator bahwa suatu pembangunan telah
melaksanakan hak-hak asasi manusia apabila telah menunjukkan adanya indikator-indikator, sebagai
berikut :
•
•
•
Pertama, dalam bidang politik berupa kemauan pemerintah dan masyarakat untuk mengakui
pluralisme pendapat dan kepentingan dalam masyarakat;
kedua, dalam bidang sosial berupa : (1) perlakuan yang sama oleh hukum antara wong cilik dan
priyayi; (2) toleransi dalam masyarakat terhadap perbedaan atau latar belakang agama dan ras
warga negara Indonesia; serta
Ketiga, dalam bidang ekonomi dalam bentuk tidak adanya monopoli dalam sistem ekonomi yang
berlaku (Paul S.Baut, 1989 : 227)
Ketiga indikator tersebut, jika dipakai untuk melihat pelaksanaan pembangunan di Indonesia dewasa ini
di bidang politik, sosial dan ekonomi, masih jauh dari yang diharapkan.
Kehidupan politik masih cenderung didominasi konflik antar elit politik sering berimbas pada konflik
dalam masyarakat (konflik horizontal) dan elit politik lebih memperhatikan kepentingan diri atau
kelompoknya, sementara kepentingan masyarakat sebagai konstiuennya diabaikan. Ingat
berkecamuknya konflik di Ambon, Poso, konflik prokontra pemekaran provinsi di Papua, dan konflik
antar simpatisan partai politik (akhir Oktober 2003) di Bali.
Di bidang hukum, masih terlihat lemahnya penegakan hukum, banyak pejabat yang melakukan
pelanggaran hukum sulit dijamah oleh hukum, sementara ketika pelanggaran itu dilakukan oleh wong
cilik hukum tampak begitu kuat cengkeramannya. Dalam masyarakat juga masih tampak kurang adanya
toleransi terhadap perbedaan agama, ras konflik. Berbagai konflik dalam masyarakat paling tidak
dipermukaan masih sering terdapat nuansa SARA.
Sedangkan di bidang ekonomi masih tampak dikuasai oleh segelintir orang (konglomerat) yang
menunjukkan belum adanya kesempatan yang sama untuk berusaha. Kondisi tersebut merupakan salah
satu faktor mengapa Indonesia begitu sulit untuk keluar dari krisis politik, ekonomi dan sosial. Ini berarti
harus diakui bahwa dalam pelaksanaan hak-hak sipil masih banyak terjadi pelanggaran dalam berbagai
bidang kehidupan.
58
Banyaknya pelanggaran hak-hak sipil di Indonesia, baik dilakukan oleh Pemerintah, aparat keamanan
maupun oleh masyarakat. Namun ada kecenderungan pihak Pemerintah lebih dominan, karena sebagai
pemegang kekuasaan dapat secara leluasa untuk memenuhi kepentingan yang seringkali dilakukan
dengan cara-cara manipulasi sehingga mengorbankan hak-hak pihak lain. Seperti kebijakan pemerintah
mengenai impor beras, dirasakan sangat merugikan para petani.
Masih terbenam dalam ingatan, kasus Marsinah. Kasus yang berawal dari unjuk rasa dan pemogokan
yang dilakukan buruh PT.CPS pada tanggal 3-4 Mei 1993 yang berbuntut di PHK-nya 13 buruh. Marsinah
menuntut dicabutnya PHK yang menimpa rekan-rekannya. Pada 5 Mei 1993, Marsinah ‘menghilang’,
yang kemudian ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan pada 9 Mei 1993 di hutan
Wilangan, Nganjuk. Perkembangan pengusutan kasus ini membuktikan adanya keterlibatan 6 anggota
TNI-AD dari kesatuan Danintel Kodam, Kopasus, 20 anggota Polri dan 1 orang dari Kejaksaan.
Namun perlakuan Kodim tidak berhenti pada PHK 13 orang dan tewasnya Marsinah, karena pada
tanggal 7 Mei 1993masih ada 8 orang buruh PT.CPS yang juga di PHK oleh pihak Kodim di Markas Kodim
(Prisma, 4 April 1994 : 71-73, Saurip Kadi, 2000 : 24)
Peristiwa berdarah di Universitas Muslim Indonesia (UMI), Ujung Pandang pada tanggal 26 April 1996
juga menyisakan kenangan yang memilukan. Kasus yang berawal dari aksi unjuk rasa mahasiswa
Universitas Muslim Indonesia terhadap kenaikan tarif angkutan kota (pete-pete) bagi kalangan pelajar
dan mahasiswayang dikenai aturan lebih dari yang ditetapkan Menteri Perhubungan yaitu sebesar
Rp.100,-. Dalam kasus tersebut, aparat keamanan bersikap berlebihan dan represif dalam menghadapi
pengunjuk rasa dengan menyerbu kampus UMI dan menembak dengan peluru tajam sehingga pecah
insiden berdarah yang menimbulkan korban jiwa di pihak mahasiswa (Surip Kadi, 2000 : 27)
Pelanggaran hak-hak sipil yang dilakukan oleh masyarakat, terutama tampak pada kasus konflik
horizontal di berbagai daerah, seperti konflik berdarah di Palangkaraya, Sambas, kasus Sanggauledo,
Tasikmalaya, Maluku dan Ambon.
Salah satu kebiasaan yang sudah membudaya, yaitu pengeroyokan sebagai bentuk main hakim sendiri
(eigenrichting) dalam menyelesaikan pertikaian atau konflik sudah sangat kuat mempengaruhi kalangan
pelajar dan mahasiswa, serta pembakaran sampai tewas terhadap orang yang dituduh atau tertangkap
tangan melakukan pencurian.
Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Pelanggaran hak-hak sipil di Indonesia
Mengapa pelanggaran hak asasi manusia khususnya hak-hak sipil sering terjadi di Indonesia, meskipun
seperti telah dikemukakan di atas telah dijamin secara konstitusional dan telah dibentuknya lembaga
penegakan hak asasi manusia?
Menurut Johannes Johny Koynja, SH.,MH (2010), Apabila dicermati secara seksama ternyata faktor
penyebabnya sangat kompleks. Faktor - faktor penyebabnya antara lain:
A. Masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep hak-hak sipil antara paham yang
memandang hak asasi manusia bersifat universal (universalisme) dan paham yang memandang
setiap bangsa memiliki paham hak asasi manusia tersendiri berbeda dengan bangsa yang lain
terutama dalam pelaksanaannya (partikularisme).
Di Indonesia, ada kecenderungan Pemerintah menganut partikularisme dengan alasan bahwa hakhak sipil harus dipandang dari beragam perspektif, karena pada umumnya masyarakat dunia ketiga
sangat beragam.
59
Pemerintah Indonesia beranggapan bahwa konsep hak asasi manusia sebagiamana konsep Pancasila
adalah hasil galian terhadap sejarah kehidupan bangsa. Menurut aliran pemikiran partikularisme,
hak-hak sipil sudah dijamin pelaksanaannya, tidak saja secara konstitusional namun juga dalam
kenyataan struktural. Aliran ini dianut oleh Pemerintah Orde Baru.
Departemen Luar Negeri RI dalam rangka membela Indonesia di berbagai forum internasional,
mengajukan prinsip-prinsip hak asasi manusia, yaitu : universalitas, pembangunan nasional,
kesatuan hak asasi manusia, obyektivitas atau non selektivitas, keseimbangan, kompetensi nasional,
dan negara hukum (Bahar, 1994 : 93)
Pernyataan Departemen Luar Negeri RI di atas, mencerminkan sikap ambivalensi. Dikatakan
demikian, karena mengakui prinsip hak asasi manusia adalah universal, tetapi dalam
implementasinya partikularistik. Pemahaman yang demikian dianut oleh kelompok yang
mengatasnamakan Forum Eksponen’ 98 (FE 98) yang menuntut dibubarkannya Komisi Pemeriksa
Pelanggaran (KPP) HAM Trisakti, Semanggi I dan II.
Selain alasan legalitas, juga dinilai Komnas HAM khususnya KPP HAM lebih loyal kepada kepentingan
asing daripada kedaulatan Indonesia (Kompas, 25 Maret 2002). Sikap ini menunjukkan pandangan
bahwa masalah hak asasi manusia adalah masalah urusan dalam negeri.
Munculnya sikap tersebut tidak lepas karena alasan untuk melindungi kepentingan negara dan
pembangunan. Namun dalam kenyataannya cenderung dimanipulasi untuk kepentingan sendiri atau
kelompoknya. Meski dengan alasan kepentingan negara, tetapi bukankah eksistensi negara untuk
memenuhi kepentingan manusia sebagai warganya.
Agar perbedaan antara aliran universalisme dan partikularisme tidak menjadi kendala bagi
penegakan hak asasi manusia, maka perlu bersikap arif bijaksana dengan cara melihat kekurangan
selama ini dalam pelaksanaan hak asasi manusia dengan belajar keberhasilan pelaksanaan hak asasi
manusia di dunia internasional.
Memang harus diakui, bahwa manusia hidup dalam pelbagai masyarakat yang berlainan nilai-nilai
sosial dan budaya. Tetapi harus diingat bahwa manusia memiliki semua hak manusiawi dasar yang
melekat padanya karena kemanusiaannya. Sehingga, tentunya tidak dapat dibenarkan karena alasan
perbedaan sosial budaya kemudian dalam implementasi hak asasi manusia, justru secara substansi
merupakan pelanggaran hak asasi manusia.
B. Adanya dikhotomi Individualisme dan Kolektivisme yang seharusnya tidak dipandang secara
kontradiktif karena hal itu merupakan fakta sosial dan masing-masing memiliki tempatnya, bahkan
ada hak-hak yang memiliki dimensi individual dan kolektif.
Selama ini, pandangan yang muncul dan disosialisasikan di Indonesia, kepentingan umum harus
dikedepankan dibandingkan kepentingan pribadi. Oleh karena itu, ketika seseorang berusaha
memperjuangkan hak-haknya sering dinilai individualistik. Pandangan yang demikian tentunya tidak
menguntungkan bagi upaya penegakan hak asasi manusia. Sebab yang terjadi, dengan alasan demi
kepentingan umum, maka kepentingan individu menjadi korban yang berarti hak-haknya sebagai
individu tidak dapat diwujudkan.
Oleh karena itu, yang diperlukan adalah bagaimana kepentingan tersebut terakomodasi. Misalnya,
ketika hak milik pribadi diperlukan oleh negara untuk kepentingan pembangunan, maka orang yang
bersangkutan tetap harus dijamin hidup secara layak misalnya dengan pemberian ganti rugi dengan
pertimbangan rasional dan bijaksana.
Atau memperhatikan kenyataan yang ada, ketika hak-hak kebebasan individu di kedepankan, maka
potensinya sebagai manusia akan berkembang secara optimal dan hal itu akan berimbas kepada
kemajuan masyarakatnya, karena dalam kebebasan individu, bukankah masih ada tanggung jawab
60
sosial? Oleh karena itu, pandangan yang mengkontradiksikan antara individualisme dan kolektivisme
dinilai kurang tepat karena hal itu merupakan kenyataan sosial dan manusiawi.
C. Kurang berfungsinya lembaga-lembaga penegak hukum, yaitu Polisi, Jaksa dan Pengadilan.
Ketua Perhimpunan Indonesia Baru (PIB), Sjahrir pernah berpendapat tentang korupsi yang
merajalela. Ia menyatakan, “Rakyat sadar bahwa penangkapan pembesar politik dan pengusaha
kakap itu sekedar tawar-menawar bisnis diantara politisi dan pembuat hukum, pengacara dan
penuntut umum, polisi dan keluarga terdakwa” (Kompas, 23 Maret 2002)
Dalam kondisi yang demikian, ada kecenderungan kepercayaan masyarakat terhadap berfungsinya
lembaga penegak hukum menurun. Jika kondisi kurang percaya masyarakat terhadap lembaga
penegak hukum semakin menguat, maka dapat dipastikan masyarakat akan menggunakan cara-cara
lain di luar prosedur hukum dalam mengatasi berbagai masalah konflik atau bentuk pelanggaran
hukum. Hal ini tentunya akan mempersulit upaya penegakan hak asasi manusia.
D. Pemahaman yang belum merata baik di kalangan sipil maupun militer.
Kurangnya pemahaman tentang hak asasi manusia di kalangan militer, terlihat dari sikapanya yang
bertindak tidak proporsional, represif, bahkan nyaris seperti menghadapi musuh dengan
menggunakan peluru tajam yang mematikan ketika berhadapan dengan para demonstran yang
sedang menyuarakan pendapatnya.
Upaya untuk menempatkan militer hanya pada fungsi pertahanan dan Polri pada fungsi keamanan
merupakan bukti bahwa militer sering terjebak pada pelanggaran hak asasi manusia. Demikian
halnya dengan Polri yang telah lama dididik dengan pola militer, maka masih terlihat dengan jelas
perilaku Polri yang tidak banyak berbeda dengan perilaku militer dalam menangani masalahmasalah ketertiban masyarakat, yaitu represif dan mengedepankan kekerasan fisik. Mestinya
perilaku Polri dalam upaya menertibkan masyarakat lebih mengedepankan fungsi penegakan
hukum.
61
BIBLIOGRAFI
BUKU DAN ARTIKEL
Abdul Syani, 1995. Sosiologi dan Perubahan Masyarakat. Pustaka Jaya, Jakarta.
Afan Gaffar (editor). 1983. Beberapa Aspek Pembangunan Politik. CV. Rajawali : Jakarta.
Burke, Peter, 2003. Sejarah dan Teori Sosial. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Budihardjo, Miriam. 1993. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
David Osborne dan Ted Gaebler. 1999. Mewirausakan Birokrasi : Mentransformasi
Semangat Wirausaha ke Dalam Sektor Publik. PPM : Jakarta
Gie, The Liang. 1990. Ilmu Politik. Yogyakarta : Yayasan Studi dan Ilmu Teknologi.
Isjwara. 1999. Pengantar Ilmu Politik. Putra A. Bardin : Bandung.
Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta: Penerbit PT
Gramedia
Mohtar Mas’oed dan Colin MacAndrews. 2000. Perbandingan Sistem Politik. Gajah Mada
University Press : Yogyakarta.
Ramlan Surbakti. 1999. Memahami Ilmu Politik. PT. Gramedia : Jakarta.
Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial Budaya (Suatu Pengantar). Bogor: Ghalia Indonesia.
Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Sukarna. 1994. Pengantar Ilmu Politik. Bandung : CV. Mandar Maju.
Sunarto, Kemanto, 2000. Pengantar Sosiologi. LPFE-UI, Jakarta
Van Peursen: Filsafat Sebagai Seni Untuk Bertanya. Dikutip dari buku B. Arief Sidharta.
Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu Itu?, Pustaka Sutra, Bandung 2008. Hal 7-11.
WEBSITE:
http://id.wikipedia.org
http://roykesiahainenia.i8.com
http://tasarkarsum.blogspot.com
62
Download