Gangguan disintegratif anak Vs Autisme

advertisement
Child Psychiatry
Jumat, 19 november 2010
Dr. Warih Andan, Sp.Kj
CHILD
PSCHIATRY
Assalamualaikum……………………
Sebenernya masalah psikiatri pada anak-anak itu banyak kawand, Cuma berhubung
kita dapat jatah kuliahnya 2 jam aja jadi diambil materi yang paling banyak ditemuin di
tempat-tempat pelayanan kesehatan kayak AUTIS n ADHD. Paling ngga kita ini sebagai calon
dokter umum harus bisa mengindentifikasi kedua macam gangguan tersebut supaya cepat
mendapat intervensi dan prognosisnya baik.
AUTIS
(DETEKSI DINI GANGGUAN AUTISME)
yang paling penting buat dokter umum adalah deteksi dini karena deteksi dini lah yang
akan memperbaiki prognosis secara keseluruhan.
Latar belakang
Autism merupakan gangguan perkembangan pada anak yang seharusnya pada usia
kurang dari 3 tahun sudah bisa terdeteksi. Karena sebenernya sejak lahir kelainannya sudah
muncul, bukan di dapat saat anak sudah besar. Namun biasanya baru terdeteksi setelah
usianya 3 tahun. Karena pada usia 3 tahun kelainannya sudah tampak jelas. Misalnya usia
segitu harusnya udah bisa komunikasi sama orang tua, teman-teman, tapi kok dia gak bisa
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
20
Child Psychiatry
ngomong. Atau harusnya dia bisa bersosialisasi dengan orang lain, tapi kok dia gak bisa.
Adanya keterlambatan-keterlambatan kayak gitu biasanya yang kemudian menimbulkan
kekhawatiran orang tua sehingga orang tua baru memeriksakan anaknya. Padahal
sebenernya ada tanda-tanda yang harus dicurigai bahwa anak mengalami autis.
Dari bagan sudah jelas dong
ya kalo autism itu ditandai dengan
symptom yang paling nyata yaitu:
a. Gangguan Interaksi social
b. Gangguan komunikasi
c. Gangguan perilaku
Prevalensinya pada tahun 1966-2000 meningkat 10x lipat, sehingga perlu penanganan
yang tepat untuk mengatasi masalah-masalah ini.
Peningkatan tersebut dapat disebabkan oleh:
a. prevalensinya memang meningkat
b. Deteksi terhadap autis sudah sangan jeli sehingga
kasusnya banyak ditemukan
Keterlambatan diagnosis mengakibatkan intervensi
yang terlambat juga sehingga prognosisnya buruk.
Makin cepat deteksi → makin cepat mendapat
intervensi→diharapkan dapat mempengaruhi prognosis
pasien.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
21
Child Psychiatry
Gejala klinis gangguan autism
1. Gangguan kualitatif interaksi social
Gagal dalam:
a. Mengembangkan empati
Anak-anak tu biasanya kalo temennya diserang maka dia akan membantu
temennya itu, ngebelain temennya lah istilahnya mah. Nah itu tu cikal bakal rasa
empati pada anak-anak. Jadi kalo liat anak yang beramtem buat ngebelain temennya
tu jangan di marahin, tapi harus diarahkan karena kadang-kadang si anak membela
yang gak bener. Tapi prinsipnya yang kayak gitu tu anak sedang belajar
mengembangkan rasa empatinya.
Anak-anak yang autis itu cuek, cenderung berperilaku stereotipik. Dia gak akan peduli
walopun di sampingnya ada temennya yang disakiti.
b. Interaksi social dengan lingkungannya
 Keakraban dengan orang tua, orang lain (guru dan saudara)
Anak gak akan nangis kalo ditinggal ibunya pergi. Nah, kita sebagai calon ibu
ntar kalo udah punya anak jangan bangga atau seneng kalo anak anteng-anteng aja
pas ditinggal pergi karena jangan-jangan anak mengalami autis. Secara
perkembangan normal anak itu pasti ada rasa kecewa dan sedih kalo ditinggal
orang yang dicintai dia walopun reaksi masing-masing anak itu berbeda tegantung
rasa keamannya dia. Misalnya walopun ditinggal pergi ibunya, tapi dirumahnya ada
nenek atau pengasuhnya yang dia cintai biasanya anak jadi gak rewel tapi tetep aja
sebenernya dia meresa sedih. Kalo anak jadi rewel karena ditinggal ibunya, maka
harus dicari penyebab kerewelannya itu. Mungkin aja karena anak
mengkhawatirkan ibunya atau dia merasa tidak nyaman dengan lingkungannya.
Jadi kerewelan anak itu jangan dianggap sebagai hal sepele karena kalo gak
ditanganni bisa-bisa anak mengalami gangguan pada psikologisnya.
Anak autis itu seperti gak butuh orang lain. Mainpun dia lebih seneng sendirian.
Hanya aktif dalam kesendirian dan fikirannya sendiri.
 berbagi kesenangan dengan orang lain.
Misalnya punya mainan baru untuk dimainkan dengan orang lain, dia malah
tidak merasa senang.
 menjalin persahabatan
 Senang beraktivitas seorang diri.
 Hidup dalam dunianya sendiri
Jadi anak autis itu cenderung anteng, tenang, cuek dan gak butuh orang lain. Kalo ada
bayi pada usia awal-awal itu gak rewel harus dicari penyebabnya, kalo gak rewelnya karena
dia nyaman ya gak masalah. Tapi kalo gak rewelnya karena emang karena gak membutuhkan
orang lain berarti kemungkinan bayi mengalami autis. Dari usia 1 bulan pun sebenernya udah
bisa diliat gangguan interaksi sosialnya, jadi jangan nunggu sampe usia sekolah baru
diperiksain karena udah terlambat dan prognosisnya pun jadi buruk.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
22
Child Psychiatry
2. Gangguan kualitatif komunikasi
Terlambat dalam kualitas bicara, tidak bisa bicara, dan tidak bisa megungkapkan apa yang
ingin diungkapkannya.
 Gangguan bahasa verbal (berkata-kata) dan nonverbal (ekspresi, senyuman)
Keluhan utama yang diungkapkan orang tua biasanya keterlambatan bicara
pada anak. Sedangkan masalah interaksi social biasanya kurang terperhatikan oleh
orang tua.
 Gangguan bahasa verbal itu seperti:
 Ekolalia adalah mengulang kata-kata yang sama. Misalnya ibu nanya: udah makan
de?, anak menjawab: makan, makan, makan. Karena komunikasinya yang emang
gak bagus, jadi kata-kata yang diucapkannya itu asal aja, gak ada maknanya.
Biasanya juga anak mengulang kata terakhir yang dia ucapkan.
 Gangguan artikulasi. Ngomongnya gak jelas.
 Gangguan kualitas suara dan irama. Terbatas dalam menceritakan atau
mengungkapkan sesuatu. Kalo anak marah, yang muncul itu perilakunya misalnya
ngebanting barang-barang, mukul-mukul, karena dia gak bisa mengekspresikan
kemarahannya dengan kata-kata.
Di dalam perkembangan anak, penting
untuk diajarkan ekspresi perasaan. Sehingga
ketika anak menagis, tugas orang tua atau yang
lainnya bukan Cuma menyuruh anak untuk
berhenti menangis tapi juga harus sambil
mengenalkan emosinya. Misalnya anak nangis
karena mainannya diambil kakaknya, maka si ibu
bilang “ ade jengkel ya mainannya diambil
kakak?”. Dengan begitu anak jadi tau emosinya,
perasaan kayak gitu tu namanya jengkel. Setelah
anaknya berhenti menangis atau udah tenang,
ajarkan
anak
untuk
mengekspresikan
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
23
Child Psychiatry
perasaannya. Misalnya suruh menceritakan tadi dia nangisnya itu kenapa. Kalo dari kecilnya
udah diajarkan cara mengidentifikasi emosi dan mengungkapkan perasaannya maka sampe
anak dewasa dia akan terbiasa sehingga gak “makan hati” dan kondisi mentalnya lebiih baik.
Kalo “makan hati” lama-lama dipendem bisa jadi penyakit kayak depresi. Nah lho? Maka
penting bagi orang tua untuk mengajarkan anaknya mengekspresikan apa yang dia rasakan
supaya kesehatan mentalnya lebih baik.
Anak autis tidak bisa mengekspresikan perasaan nya karewna memang dia punya
gangguan dalam berkomunikasi.
3. Gangguan perilaku
 Perilaku, minat dan aktivitas streotipik (itu-itu aja, monoton) serta terbatas, tidak
banyak yang disukai. lebih suka benda yang berputar.
 Gerakan aneh, monoton, dan berulang.
Mobil-mobilan dan sepeda bukan dimainin tapi
malah dibalik dan diputar-putar rodanya. Anak autis bisa
memandangi roda yang berputar selama berjam-jam.
 Konsistensi
Tidak menyukai perubahan. Kalo di dalam ruangan
letak benda-benda yang dia suka diubah, dia akan marah.
Anak normal mempunyai keterampilan yang bervariasi
sedangkan anak autis perilakunya saja sangat terbatas.
4. Gejala lain
 Hiperaktif
 Impulsive. Empati rendah → impulsif tinggi
 Destruktif (merusak)
 Respon sensorik abnormal
Dulu ada teori social yang mengatakan bahwa autis itu diakibatkan oleh gaya
pengasuhan ternyata terbatahkan dengan adanya gangguan sensori dan pemeriksaan
penunjang yang abnormal. Dengan demikian ternyata autis itu ada factor herediternya
sehingga seharusnya sudah bisa terdeteksi sejak bayi.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
24
Child Psychiatry
5. Gejala penyerta
 75%-80% mengalami retardasi mental.
Untuk mengetahui seseorang mengalami retardasi mental itu tesnya
memerlukan kemampuan kognitif. Nah, anak autis itu apa mungkin emang
kemampuan kognitifnya rendah dengan IQ di bawah 70 atau IQnya normal tapi tidak
kooperatif saat tes karena gak bisa
berkomunikasi, perilakunya terbatas dan
tidak memenuhi intruksi saat tes sehingga
hasil IQnya rendah. Sebagian ahli ada yang
berpendapat seperti itu karena memang
retardasi mental itu acuannya IQ.
 10%-35% mengalami bangkitan kejang
Factor-faktor yang mempengaruhi deteksi dini
gangguan autism
a. Factor gejala yang tidak konsisten.
Jadi gejala-gejala yang muncul pada tiap anak autis itu kadang-kadang tidak sama
persis. maka kemudian ada yang namanya spectrum autism. Spectrum autisme ini
gejalanya mirip anak autis tapi tidak sesuai dengan pedoman diagnostic yang ada di
PPDGJ.
b. Perjalanan penyakit gangguan autism
Sejak lahir sudah autis tapi progresivitasnya berbeda-beda. Ada yang dari bayi emang
udah langsung memburuk. Tapi ada juga memburuknya tuh waktu udah gede.
c. Factor orang tua
Kesibukan orang tua sehingga anaknya gak diperhatiin. Atau mengira bahwa anaknya
mengalami keterlambatan karena emang di keluarganya ada riwayat yang sama. Atau
bahkan menganggap anaknya gak rewel karena mengerti kesibukan orang tua. Nah,
kekurangtanggapan orang tua ini lah yang mengakibatkan anak terlambat terdiagnosis.
d. Factor klinisi
Dokter umum diharapkan bisa mengatasi masalah yang muncul karena factor klinisi.
Kalo kita punya pasien anak, jangan hanya memperhatikan kesehatan fisiknya saja tapi
juga harus mengidentifikasi kesehatan mentalnya. Harus memeriksa secara holistik gitu
deh. Orang tua cenderung lebih memilih membawa anaknya ke dokter umum daripada ke
psikiater atau tenaga-tenaga menthal health yang lain sehingga dokter umum harus bisa
mendiagnosis.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
25
Child Psychiatry
Mengenal gejala-gejala dini gengguan autism
Gejala dini autis itu sebenarnya udah ada sejak si anak lahir. Tapi kebanyakan orang
tua baru menyadari ada kelainan pada anaknya setelah anaknya itu seharusnya mempunyai
kemampuan yang lebih, misalnya ketika berusia lebih dari 18 bulan. Karena sebelum 18
bulan sulit melihat gangguan komunikasi anak. Karena komunikasi itu menurut kebanyakan
orang tua hanya komunikasi verbal aja padahal kalo lebih jeli dari bahasa nonverbalnya juga
udah bisa dideteksi.
Seharusnya, anak usia 3 bulan tu udah bisa kontak dengan pengasuhnya dan udah
mulai ngoceh. 5-6 bulan udah mengenal objek lekatnya, biasanya maunya pada ibunya. Lebih
besar lagi usia anaknya, maka dia akan mulai punya rasa takut pada orang lain yang gak
dikenalnya.
Melihat gejala perusia
Dibawah ini gejala-gejala lebih detail yang terjadi pada anak autis berdasarkan usianya.
Kelainan-kelainan ini juga bisa digunakan untuk edukasi kepada orang tua supaya orang tua
bisa mendeteksi sendiri kalo-kalo anaknya mengalami kelainan dan segera memeriksakan
anaknya. Sehingga intervensinya tidak terlambat.
Jadi dokter itu seharusnya menggiatkan promotif dan preventif sehingga tidak hanya
menunggu pasien yang sudah terlanjur sakit.
1. Usia 1 bulan
 Sensitive
Misalnya menjerit-jerit sendiri kalo mendengar suara yang keras.
 Masalah dalam geraka oral
Anak usia 1 bulan kalo diamati pada waktu subuh itu bisanya mulutnya kayak yang
komat-kamit atau ngoceh. Tapi anak yang autis dia cenderung diam, gak bisa
menggerakan oral/mulutnya.
 Terlihat tidak aktif
Bayi kalo dibuka bedongnya, tangan+kakinya itu bergerak-gerak gak bisa diam kecuali
kalo tidur. Anak autis lebih banyak diamnya.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
26
Child Psychiatry
2. Usia 4 bulan
 Mudah terstimulasi
 Tidak dapat memegang suatu benda dengan baik
 Tidak dapat tenang atau susah ditenangkan
3. Usia 6 bulan
 Gangguan regulasi
 Hipersensitifitas terhadap rangsangan taktil karena adanya gangguan sensori
 Hipertonia atau hipotonia
 Gangguan gerak motorik
4. Usia 9 bulan
 Gangguan emosi timbal balik
Anak-anak yang interaksi sosialnya baik itu ditandai pertama kali dengan merespon
kalo di “liling”. Selalu ada interaksi antara ibu dan anak. Tapi anak yang autis, dia tidak
suka di”liling” atau kalopun dilililng, dia gak mau lihat yang melilingnya dan cuek.
 Raut wajah tidak berekspresi
 Kontak mata kurang
 Tidak ada permainan imitative
 Tidak tertarik dengan mainan
 Tidak ada celotehan imitative (omongan yang belum jelas)
 Cuek mendengar suara keras
5. Usia 12 bulan
Semakin besar, gangguannnya akan tampak semakin nyata.








Gangguan interaksi social
Gangguan komunikasi
Gangguan perhatian bersama
Gagal orientasi nama
Tidak ada kontak mata
Tidak dapat menunjuk atau mempertunjukkan
Tidak dapat merasakan kesenangan bersama
Gangguan berbahasa reseptif sehingga tidak bisa memahami bahasa yang dikatakan
orang lain.
6. Usia 18 bulan
 Keterlambatan berbahasa
kenapa biasanya baru terdeteksi setelah usianya 18 bulan? Karena pada usia ini sudah
mulai keliatan keterlambatan berbahasanya. :p
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
27
Child Psychiatry
7. Usia 2 tahun
 Gangguan interaksi social mengakibatkan anak sulit membentuk suatu hubungan
dengan orang lain
 Gangguan komunikasi sehingga si anak sulit memulai dan mempertahankan
percakapan dan sulit menggunakan atau merangkai kata-kata.
8. Usia 4-5 tahun
 Perilaku repetitive
 Preokupasi dan kompulsif
 Ritual
 Semakin tampak bahwa anak tidak bisa bersosialisasi
Harusnya sudah bisa bersosialisasi dan masuk TK/playgrup
Checklist untuk membantu orang tua dalam mendeteksi gangguan dini gejala spektum
autism
Checklist ini digunakan sebagai acuan untuk menanyakan kepada orang tua mengenai
keadaan anaknya. Atau sebagai self assessment untuk orang tua sehingga dokter hanya
tinggal memeriksa ulang untuk memastikan.
1. Bayi lahir sampai usia 6 bulan
 Anak terlalu tenang
 Irritable, banyak menangis pada malam hari dan sulit ditenangkan
 Jarang menyodorkan kedua tangan untuk minta digendong
 Jarang mengoceh
 Jarang menunjukkan senyum social
 Jarang menunjukkan kontak mata
 Perkembangan gerakan kasar tampak normal
2. Usia 6 bulan sampai 2 tahun
 Tidak mau dipeluk
 Tidak peduli pada kedua orang tuanya
 Tidak mau ikut permainan sederhana seperti “ci luk ba”
 Tidak berupaya menggunakan kata-kata
 Seperti tidak tertarik pada boneka atau mainan lainnya
 Bisa sangat tertarik
keterampilannya
pada
kedua
tangannya
sendiri
kaena
keterbatasan
 Mungkin menolak makanan keras atau tidak mau mengunyah, berhubungan dengan
system neurologisnya.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
28
Child Psychiatry
3. Usia 2-3 tahun
 Tidak tertarik atau terbatas dalam mununjukkan perhatian khusus
 Menganggap orang lain sebagai alat atau benda
 Menunjukkan kontak mata yang terbatas
 Mencium atau menjilati benda
 Menolak untuk dipeluk dan menjadi tegang atau sebaliknya, tubuhnya mejadi lemas
 Relative tidak peduli dalam menghadapi kedua orang tuanya
4. Usia 4-5 tahun
 Ekolali
 Suaranya aneh: nada tinggi dan monoton
 Sangat terganggu dengan perubahan rutin pada kegiatan sehari-hari
 Kontak mata sangat terbatas, walaupun bisa terjadi perbaikan
 Tantrum dan agresi
Ada usia-usia normal anak mengalami temper tantrum. Temper tantrum adalah
perilaku yang cepat marah/ ngamuk.
 Malukai diri sendiri
 Merangsang diri sendiri
Diagnosis banding gangguan autism
Gangguan perkembangan pervasif lainnya
Gangguan perkembangan lainnya (misal:Retardasi mental)
Gangguan sensorik, terutama ketulian
Untuk mengetahui diagnosis bandingnya lebih jelas lagi, temen-temen bisa baca buku PPDGJ
ya.
1. Gangguan Rett
Gangguan ini termasuk Gangguan pervasive, sama kayak autis tapi tetep ada perbedaannya.
•
Jenis kelamin: perempuan
•
Dari bayi sampai usia 5 bulan anak masih normal, keterampilan motorik, interaksi
sosial, pertumbuhan baik. Tetapi setelah usianya lebih dari 5 bulan, terjadi penurunan
yang progresif dari perkembangannya.
Usia 6 bulan-2 tahun terjadi: ensefalopati progresif dengan ciri:
-
gerak stereotipik
-
hilangnya kemampuan bicara
-
retardasi psikomotor
-
mikrosefali ok pertumbuhan lingkar kepala terhambat.
-
kemampuan bahasa reseptif & ekspresif menghilang
Bahasa reseptif adalah kemampuan untuk memahami bahasa yang diutarakan orang lain.
Bahasa ekspresif adalah bagaimana di mengekspresikan/mengungkapkan bahasanya sendiri.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
29
Child Psychiatry
•
Gejala penyerta:
-
75% kejang
-
gangguan respirasi: hiperventilasi, apnea, menahan nafas
Gangguan rett ini secara klinis lebih berat dari pada autis dan munculnya tidak sejak
bayi. 5 bulan pertama anak masih normal, kemudian mengalami penurunan yang progresif.
Gangguan Rett Vs Autisme
Anak autis tidak terlalu terganggu atau bahkan tidak terganggu fungsi motoriknya. Dia
masih bisa mein sepeda sendiri. Tapi kalo udah bosen, dia langsung ninggalin sepedanya
dimana aja.
2. Gangguan Asperger
Termasuk gangguan pervasif
 Gambaran awal: IQ normal yg menunjukkan gangguan kualitatif dalam interaksi sosial
timbal balik & keanehan perilaku TANPA keterlambatan perkembangan bahasa
 Secara internasional diagnosisnya berdasarkan ICD-10: ditandai oleh gangguan
kualitatif interaksi sosial, tidak adanya keterlambatan bahasa & kognitif yg bermakna,
dan adanya perilaku & minat yg terbatas
 Perbedaan dengan autisme: pada autisme terhadap keterlambatan berbahasa
3. Gangguan disintegratif masa kanak
 Perburukan selama beberapa bulan pada fase intelektual, sosial, & bahasa yang terjadi
pada anak dengan usia 3-4 tahun dengan fase yang sebelumnya normal. Setelah
perburukan, anak menjadi seperti autisme.
 Onset:3-4 thn, onset minimal: 2 thn.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
30
Child Psychiatry
 Ciri inti: hilangnya keterampilan komunikasi, regresi yg jelas pd interaksi timbal balik,
timbulnya gerak stereotipik & kompulsif (diulang-ulang).
 Regresi dlm menolong diri sendiri spt pengendalian usus & kandung kemih. Anak jadi
suka ngompol dan BAB sembarangan.
Gangguan disintegratif anak Vs Autisme
 Pada gangguan disintegrative Perkembangan sebelumnya telah tercapai, sedangkan
pada autis tidak
 Bahasa sebelumnya telah berkembang sampai pembentukan kalimat.pada autisme,
bahasa tidak melebihi 1 kata.
Diagnosis Banding Autisme dan Ggn Perkembangan Pervasif Nonautistik
Skizofrenia dengan onset masa kanak menjadi DD ( different diagnose)dari autis
Skizofrenia itu gangguan jiwa yang berat. Sering kan kita liat ada orang yang
menggelandang di jalan, gak pake baju. Orang yang daya realitasnya jelek, gak realistis. Punya
waham sendiri dan berhalusinasi, sering juga ngomong sendiri karena dia menganggap ada
yang ngajak ngomong. Nah, mereka-mereka itu rata-rata menderita skozofrenia.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
31
Child Psychiatry
 Definisi Skizofrenia: sekelompok gangguan psikotik dengan gangguan dasar pada
kepribadian, distorsi khas proses pikir, kadang-kadang mempunyai perasaan bahwa
dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya, waham yang kadang-kadang
aneh, gangguan persepsi, afek abnormal yg tak terpadu dgn situasi nyata/sebenarnya, dan
autisme
 Terdapat kesadaran yang jernih
 Fungsi intelektual biasanya tidak terganggu
Orang skizofren tidak mengalami retardasi mental. Coba aja dicek pas udah sembuhnya,
mereka bisa pinter kayak orang normal. :p
 Definisi menurut DSM IV TR: suatu gangguan paling tidak 6 bulan, termasuk paling tidak 1
bulan menunjukkan gejala fase aktif seperti: waham, halusinasi, disorganisasi
pembicaraan, disorganisasi perilaku yg jelas atau katatonik, negatif simptom
 Halusinasi:komentar/ kritik, perintah
 Waham: somatik, penyiksaan, kebesaran, keagamaan
 Kriteria: waham, halusinasi, disorganisasi pembicaraan, negatif symptom
Skizofrenia masa kanak Vs Autisme
Skizofrenia
 Sama2 ggn afek, bhs,
interaksi interpersonal.
 Onset remaja & dws
muda, > 5 thn
 Prev org tua: 8%
 P:L=1,67:1
 Rwyt kel dgn skizofrenia
tinggi
 IQ: 70% < 70
 Perilaku khas: gagal
membentuk relasi,
ekolali, dorongan
stereotipik
Autisme
 Onset < 3 thn
 Tertawa atau menangis
inappropiate pd autisme berhub
dgn ktdkmampuan menyatukan
makna peristiwa disebut afek
inapropiate
 Dpt tertawa bila org lain tdk
mengerti
 Rwyt keluarga skizo tdk tinggi
 IQ: 15% < 70
 Halusinasi & waham
Biasanya skizofren terjadi pada masa remaja. Jarang sekali muncul pada masa kanak-kanak.
Retardasi mental Vs Autisme
Penderita Retasdasi mental tidak mengalami gangguan dalam interaksi social. Dia
masih bisa mengobrol, makanya sering disalahgunakan oleh orang-orang yang gak
bertanggung jawab misalnya menjadi korban pelecehan seksual.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
32
Child Psychiatry
 Autisme jarang melihat orang lain & kurang bereaksi bila namanya dipanggil dibanding
dengan retardasi mental
 Anak RM biasanya mempunyai relasi dengan orang dewasa & anak lainnya sesuai dengan
usia mentalnya
Tuli kongenital Vs Autisme
Kok tuli menjadi DD autis? Ya Karena kalo dilihat dari komunikasinya anak mengalami
keterbatasan. Jadi untuk menentukan diagnosisnya itu harus benar-benar jeli mencari tahu
penyebab keterbatasan dalam komunikasinya tersebut.
Tuli
 riwayat mengoceh normal,
berhenti sekitar usia 6 bln-1
tn
 Hanya akan bereaksi thd
suara keras
Autisme
 Jarang mengoceh
 Mengabaikan suara keras &
normal, ttp tertarik dg suara
lembut & rendah
 Audiogram : (+)
 Relasi dgn ortu, mengharap
kasih sayang, senang
digendong
 Segera bereaksi bila diberi
alat bantu dengar
 Penggunaan bhs isyarat
Ganguan berbahasa Vs Autisme
Gangguan bahasa
 Sering tuli
 Komunikasi nonverbal (+)
 Abnormalitas berbhs tdk
ada
 Perilaku autistik tidak ada
 Imaginatif play: (+)
 Pola test IQ: lebih rata,
walaupun verbal lebih
rendah drpd performance
Autisme
 Tidak tuli
 Tidak bisa komunikasi nonverbal
 Abnormalitas dalam berbahasa
 Perilaku autistic
 Imaginatif play: (-)
 Iq verbal & comprehension lebih
rendah
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
33
Child Psychiatry
Perbedaan ADHD – Autisme
ADHD
Autisme
Stimulasi
Mudah. Dikagetin sedikit aja anak itu
bisa lari-lari.
sulit
Mainan
ingin terus ganti. Selalu merasa bosan
dengan mainannya. Kalo lagi main terus
denger “sesuatu”, dia pasti langsung
tertarik ma “sesuatu”nya itu.
sulit untuk ganti. Dia lebih
menyukai mainan yang itu-itu
aja.
Sosialisasi
Ada Keinginan untuk bermain dengan
teman-temannya, tetapi sering ditolak
karena sering merusak dan menyakiti
temannya. Jadi kan teman-temannya
pada takut.
Tidak ada keinginan untuk
bersosialisasi. Dia lebih seneng
main sendiri.
Persepsi
sensorik
Kadang terganggu
terganggu
Emosi
Bila
marah
diredakan
Bayi
Lebih rewel
Lebih bnyk tenang
Prognosis
Baik
Buruk
Onset usia
< 7 thn
< 3 thn
kadang-kadang
sulit
Sangat sulit diredakan
Nah, di bawah ini neh ringkasan dari buku synopsis psikiatri tentang panduan perilaku
normal anak dari setiap usia. Sehingga kalo ini tersosialisasikan kepada ibu-ibu kelainannya
bisa terdeteksi sedini mungkin. Mudah-mudahan bisa kebaca jelas. Tapi lebih baik baca
bukunya langsung aja, cari di perpus. hehehe
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
34
Child Psychiatry
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
35
Child Psychiatry
Criteria diagnosisnya secara internasional mengacu pada DSM IV
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
36
Child Psychiatry
Checklist ini bisa diberikan kepada orang tua. Kata ibunya, beliau belum menemukan
checklist dalam bahasa Indonesia yang sudah tervalidasi. Jadi checklistnya yang biasa dipake
ya yang pake bahasa inggris ini.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
37
Child Psychiatry
Dari ckecklist ini kita bisa tahu anak mengalami resiko tinggi, resiko sedang, resiko
rendah atau juga normal. Jadi checklist ini berfungsi sebagai alat screening.
Misalnya setelah dilakukan screening dengan checklist ini ditemukan kelompok anakanak yang ibunya bekerja dan anak diasuh oleh orang lain skornya lebih tinggi. Sehingga
dapat diambil kesimpulan bahwa gangguan pada anak disebabkan oleh pengasuhan
walaupun gangguan tersebut merupakan herediter juga.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
38
Child Psychiatry
Kalo yang di bawah
ini criteria diagnostiknya
berdasarkan PPDGJ
(pedoman diagnostic
gangguan jiwa). Kuncinya
tetep 3 buat mendiagnosis
autis, yaitu gangguan
interaksi social, komunikasi
dan perilaku yang
munculnya sebelum usia 3
tahun.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
39
Child Psychiatry
Masih banyak pendapat tentang etiologi autis ini, karena multifaktorial. Dulu katanya
muncul karena adanya masalah psikologi. Kemudian ada lagi pendapat lain yang
menemukakan tentang teori biologis. Tapi ternyata muncul juga kondisi medis yang lain.
Factor-faktor prenatal, perinatal dan neonatal juga mempengaruhi.
Berikut ini bukti-bukti yang membantah kalo autis itu hanya masalah psikososial saja.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
40
Child Psychiatry
Terapi psikofarmakologi hanya
diberikan kalo anak bener-bener dalam
keadaan yang kacau misalnya sering
agitasi, tantrum, menyakiti diri sendiri.
Kalo gak ada masalah dengan hal-hal
tadi, maka terapinya cukup dengan
terapi perilaku saja.
Bentuk
Keterangan
Tipe
Progresif
3 bln
• Sering lambat terdeteksi
• Perjalanan progresif
• Menunjukkan ggn mood sejak awal: tdpt ketdk acuhan, apatis, & mood
depresi
• Pd awalnya tdk bermasalah dlm kemampuan sosial
• Kurang vitalitas & pertukaran interaktif
• Hub emosional gagal berkembang, terdpty peningkatan penarikan diri
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
41
Child Psychiatry
Tipe
Regresif
18 bln
• Ditandai periode bebas sbl onset tanda pertama dr ggn perkembangan
pervasif
• Perubahan umumnya pd usia 18 bln, terdpt perubahan tdk terduga,ti dgn
jarak waktu yg singkat ( 3 bln ), beralih dr berkembangnya kontak sosial mjd
suatu penarikan diri & isolasi
Tipe
Fluktuatif
• Bln I kehidupan keterlambatan maturitas postural ringan & sedikit inisiatif
motorik bersamaan dgn hiporeaktivitas thd stimulasi lingk.
• 6 bln ke II & 6 bln pertama pd thn ke 2  perbaikan ringan dlm interest
,keikutsertaan lingk sekitar & kemampuan komunikatif
• Selanjutnya hilangnya kontak akan terlihat kembali
Instrumen pemeriksaan
CHATc
Checklist for Autism in Toddlers
18 bln-3 thn
CARS
Childhood Autism Rating Scale
≥2thn
ADIRADOS
Autism Diagnostic Interview
Observation Schedule
STAT
Screening Test for Autism in Toddlers
2-3 thn
ESA
Early Screening for Autism Questionnaire
14 bln
PDDST
Pervasive Development Disorders Screening Test
26 bln
ASQ
Autism Screening Questionnaire
≥ 48 bln
GARS
Gillian Autism Rating Scale
> 3 thn
Revised-Autism
Diagnostic
2-3 thn
ATTENTION DIFICIT HYPERCTIVITY DISORDES
(ADHD)
Gangguan Aktivitas dan Perhatian
ADHD→ gangguan dalam hala atensi (perhatian) dan hiperaktif.
 Banyak ditemui
Kalo dilakukan screening pada anak TK dan SD ternyata prevalensinya lumayan tinggi. Sering
menjadi masalah ketika di dalam kelas karena anak ADHD sangat sulit tenang.
 Belum banyak dipahami
 Banyak menimbulkan masalah
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
42
Child Psychiatry




Keluarga
Masyarakat
Proses belajar mengajar
Ketidakmampuan yang menetap dalam memusatkan perhatian dan atau disertai
hiperaktivitas.
 Timbul sebelum usia 7 tahun (bisa mulai usia tiga tahun).
Onsetnya masa anak-anak, jadio sudah jelas akan datangnya ke dokyter umum bukan ke RSJ.
Sehingga kita sebagai calon dokter umum harus bisa cara mendeteksinya.
 Diognosa sesudah gejalanya sangat nyata beberapa tahun
 Saudara kandung anak ADHD mempunyai resiko tinggi untuk menderita
a. ADHD
b. Gangguan tingkah laku
c. Kecemasan
d. Depresi
e. Prestasi belajar menurun
f. Gagal di sekolah (kesulitan bersosialisasi)
 Orang tua anak ADHD; insiden tinggi:
a. Hiperkinetik
b. Sosiopatik
c. Peminum alcohol
d. Gangguan konversi
 Penyebab ADHD
Hampir semua gangguan jiwa yang terjadi pada anak, remaja maupun dewasa penyebabnya itu
multifaktorial, tidak pernah ada yang diakibatkan oleh penyebab tunggal. Sehingga
pendekatannya pun harus secara mutifaktorial.
ADHD penyebabnya multifaktorial:
 Kebanyakan anak ADHD mengalami kerusakan nyata pada Ѳ di dalam otaknya.
Anak dengan gangguan neurologis akibat trauma otak → ADHD Ѳ
 Penyebab ADHD → heterogen:
 Factor bioligik. Dengan menggunakan pembacaan gelombang EEG terdapat perbedaan
nyata disbanding dengan anak yang normal
 Factor psikologik
 Faktor kondisi social
 Penyebab ADHD yang diperkirakan
 Keracunan sewaktu dalam kandungan
 Prematuritas
 Proses kelahiran yang mempengaruhi SSP misalnya asfiksia
 Factor genetic
 Factor perkembangan
 Factor kerusakan otak
 Factor zat-zat kimia di otak
 Factor fisiologo persarafan → pembentukan neuron saat dalam kandungan
 Factor psikososial
 Kontaminasi bumbu masak, pewarna, pengawet dan gula tapi belum ada bukti ilmiah yang
mendukung hal ini.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
43
Child Psychiatry
 Factor psikososial
 Stress maternal saat kehamilan
Kesiapan ibu ketika hamil berpengaruh besar pada kondisi janin yang dikandungnya.
 Kurang sentuhan atau perawatan (dipenitipan, perceraian)
Apakah anak tersebut dirawat sesuai kebutuhannya atau malah terterlantarkan.
 ADHD sering ditemukan pada anak:
a. Ibu dengan riwayat psikiatri
b. Ayah dengan penyalahgunaan alcohol
c. Sosioekonomi rendah
d. Kekacauan dalam keluarga
e. Komunikasi yang buruk dalam keluarga
5 hal di atas sangat mempengaruhi pola pengasuhan anak. Bayangkan kalo kondisi
sosioekonominya rendah, maka orang tua biasanya terlau sibuk sendiri mencari nafkah untuk
mencukupi kehidupannya sehari-hari sehingga anaknya gak keurus (kasian ya……). Jadi maksudnya
disini bukan orang miskin nanti anakanya pasti jelek perkembangannya tapi karena keadaan
sosioekonomi yang rendah mengakibatkan focus orang tua tidak samapi kepada anaknya. Kalo
kebutuhan biologisnya sendiri belum tercapai, maka otomatis kebutuhan yang lainnya pun tidak bisa
tercapai.
Begitu juga dengan kondisi keluarga yang kacau. Bagaimana orang tua menstimulasi anaknya
kalo mereka aja malah sibuk berantem. Hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap pola asuh
anak, dan pola asuh sangat mempengaruhi perkembangan anak.
 Gejala inti
1) Kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian
2) Hiperaktivitas + Impulsivitas.
1. Kurangnya kemampuan untuk memusatkan perhatian
a. Sering tidak dapat memusatkan perhatian pada suatu hal secara rinci dan sering membuat
kesalahan karena ceroboh
Contohnya kalo membawa makanan malah tumpah, disuruh ngerjain sesuatu juga sering
salah.
b. Sulit mempertahankan perhatian pada tugas-tugas atau aktivitas bermain
Jadi di sekolah keluhan yang sering diutarakan guru adalah anak sering tidak menyelesaikan
tugasnya dan malah muter-muter di kelas dan menggangu temannya. Waktu bermain pun
sama aja, belum selesai main yang “ini” udah langsung mainin yang “itu”.
c. Seperti tidak mendengarkan sewaktu diajak bicara
Karena pergerakannya sangat cepat, untuk memperhatikan sesuatu berlama-lama itu dia gak
bisa.
d. Sering tidak mengikuti perintah,cenderung menentang dan tidak memahami perintah
Hal ini terjadi karena perhatiannya rendah. Makanya guru sering pusing sendiri kalo punya
murid yang ADHD.
e. Sering tidak dapat mengorganisir tugas-tugas atau aktivitasnya
f. Sering menolak dan tidak menyenangi untuk terikat pada tugas-tugas yang menuntut
ketahanan mental
g. Sering kehilangan barang
h. Perhatiannya mudah beralih
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
44
Child Psychiatry
i.
Pelupa
Tugas-tugas sekolah anak ADHD sering terganggu. ADHD ini bukan retardasi mental sehingga
anaknya itu tetap bisa disekolahkan di sekolah biasa. Kalo autis, karena sebegian dari mereka
komorbiditasnya dengan retardasi tinggi mereka sekolahnya di SLB.
2. Hiperaktivitas
a. Kaki dan tangannya tidak dapat tenang. Berteriak-teriak di tempat duduknya
b. Sering meninggalkan tempat duduknya sewaktu di kelas
c. Berlari kesana kemari, manjat-manjat
d. Sulit melakukan aktivitas ataun bermain dengan tenang
e. Ada saja yang dilakukan (~mesin). Gak bisa diam dan usil.
f. Sering bicara keras-keras
3. Impulsive
a. Sering menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan
b. Sulit untuk dapat menunggu giliran. Simplenya mah gak bisa antri (Indonesia banget ya.
Hehehe)
c. Sering menginterupsi/menyela orang lain
Kalo pinter antri, memperhatikan orang bicara dan tidak memotongnya, berarti terhindar dari
impulsivitas. Tapi kalo sebaliknya, gak bisa antri atau suka memotong pembicaraan orang, janganjangan itu sisa-sisa ADHD waktu kecil. Hayo, ada yang suka kayak gitu gak?????
 Tipe ADHD
 Tipe gangguan pemusatan perhatian (GPP)
 Tipe hiperaktivitas dan impulsive (HI)
 Tipe campuran (GPP dan HI)
Prognosisnya lebih baik dari autis. Tidak semua anak yang aktif itu hiperaktif lho. Justru kalo anak
kecil anteng-anteng aja malah membahayakan.
 Diagnose banding
 Kurang bisa memusatkan perhatian dan aktivitas yang tinggi tapi masih dalam batas normal
sehingga pada usia kurang darti 3 tahun sulit dibedakan.
Gak jarang orang tua datang memeriksakan anaknya dan menanyakan apakah anaknya itu
termasuk hiperaktif atau nggak. Jadi kita harus bisa mengidentifikasi apakah keaktifan anak
tersebut sesuai dengan usianya atau malah mengarah ke diagnosis ADHD.
 Kecemasan
Anak-anak kan masih belum bisa mengungkapkan perasaannya sehingga kalo dia merasa
cemas maka akan diekspresikan dengan prilakunya.
 Kesulitan belajar.
 Perjalanan penyakit dan prognosa
 Bervariasi
 Menetap sampai dewasa atau remaja (15-29%)
 Membaik pada masa pubertas
 Hiperaktivitas menghilang tetapi gangguan pemusatan perhatian dan impulsivitas tetap
ada
 Tipe HI → selanjutnya banyak menjadi tipe campuran
Bila disertai agresivitas→sering→dilinquent (kenakalan) + GTL (gangguan tingkah laku) agresif
 Tipe GPP sering mempunyai IQ rendah dan keterlambatan perkembangan bahasa
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
45
Child Psychiatry
 Perbaikan jarang terjadi sebelum usia 12 tahun
Biasanya terjadi pada usia 12-20 tahun
 Sebagian besar mengalami perbaikan partial dan resiko untuk terjadinya GTL antisocial,
pengguanaan zat, dan gangguan emosi.
 Diramalkan ADHD akan menetap bila:
 Ada riwayat ADHD dalam keluarga
 Adanya kejadian-kejadian negative dalam kehidupan
Kehidupannya penuh dengan stressor
 Disertai gangguan tingkah laku, depresi dan kecemasan
 Terapi
Terapinya dilakukan secra terpadu, antara lain:
 Penatalaksanaan psikososial (terapi perilaku/modifikasi perilaku)
 Obat-obatan stimulansia (methylphenidate)
 Antidepresan trisiklik dan agonis α2-noradrenergik (clonidin), diberikan bila obat stimilansia
tidak memberikan hasil
 Farmakoterapi itu untuk mengandalikan hiperktivitasnya. Yang umum dipakai adalah retalin
(methylphenidate). Sedangkan untuk gangguan agitasinya biasa diberikan respiredone.
 Terapi perilaku:
Terapi perilaku harus melibatkan orang-orang terdekatnya, gak bisa hanya menterapi anak
ADHDnya saja. Dokter umum harus menberikan edukasi kepada orang tua, guru sehingga bisa
memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan anak ADHD. Semakin anak hiperaktif, maka
akan semakin sering juga membuat konflik di rumah. Sehingga kalo orang-orang terdekat tidak
memahami kondisi anak, si anak malah akan sering dimarahi, dicubit, dipukul dan akhirnya si anak
merasa dibenci oleh orang-orang sekitarnya. Kalo udah ngerasa dibenci, perilakunya malah akan
semakin hiperaktif.
a. Pelatihan orang tua
 Mengurangi konflik anak dan orang tua
 Diajarkan pola asuh yang sesuai (reward and punishment)
b. Intervensi di sekolah
 Edukasi guru dan petugas sekolah agar dapat membimbing di bidang akademik, mengatasi
masalah social, dan meningkatkan harga diri anak.
c. Intervensi pada anak
 Kerjasama antara konselor dan anak untuk membantu menurunkan perilaku agresif dan
meningkatkan kemampuan bersosialisasi dan harga diri anak.
Pada umumnya dengan memperbaiki fungsi keluarga, fungsi social penderita, mengurangi
agresivitasnya sedini mungkin diharapkan dapat menyembuhkan ADHD dengan optimal.
ATTENTION DIFICIT HYPERCTIVITY DISORDES
(gangguan pemusatan perhatian/hiperaktif)
Criteria diagnostic ADHD pada anak, DSM-IV TR:
A. Dua-duanya, (1) atau (2) :
1. Enam atau lebih dari gejala-gejala gangguan pemusatan perhatian di bawah ini, menetap
selama 6 bulan secara terus-menerus, dibandingkan dengan sebaya normal.
Kesulitan memusatka perhatian:
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
46
Child Psychiatry
 Sering gagal dalam memusatkan perhatian pada hal-hal kecil atau ceroboh dalam
pekerjaan sekolah atau kegiatan lainnya
 Sering sulit mempertahankan perhatian pada waktu melaksanakan tugas atau kegiatan
bermain
 Sering seperti tidak mendengarkan pada waktu diajak bicara
 Sering tidak mengikuti petunjuk atau gagal menyelesaikan pekerjaan sekolah dan tugas
(tidak disebabkan oleh perilaku menentang atau kegagalan memahami petunjuk)
 Sering sulit mengatur tugas dan kegiatan
 Sering menghindar, tidak suka atau enggan melibatkan diri dalam tugas yang memerlukan
ketekunan yang berkesinambungan seperti melakukan kegiatan sekolah atau pekerjaan
rumah
 Sering menghilangkan benda yang diperlukan untuk melaksanakan tugas atau kegiatan
 Perhatiaanya sering mudah dialihkan oleh rangsangan dari luar
 Sering lupa dalam kegiatan sehari-hari
2. Enam atau lebih gejala hiperaktivitas, menetap selama eman bulan secara terus menerus
disbanding dengan sebayanya.
Hiperaktivitas:
 Sering tangan dan kakinya tidak bisa diam atau tidak bisa duduk diam
 Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau di situasi lain di mana diharapakan
untuk tetap diam
 Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak sesuai untuk
hal tersebut
 Sering mengalami kesulitan untuk bermain dan mengikuti kegiatan pada waktu senggang
dengan tenang
 Sering dalam keadaan siap gerak ( bertindak seperti digerakan oleh mesin)
 Sering berbicara berlebihan
Impulsive
 Sering melontarkan jawaban terhadap pertanyaan sebelum pertanyaan yang ditanyakan
selesai (menjawab pertanyaan tanpa dipikir terlebih dahulu)
 Sering sulit menunggu giliran.
 Sering atau memaksakan diri terhadap orang lain. Misalnya memotong percakapan atau
menggangu permainan
B. Hiperaktif-impulsif atau gangguan pemusatan perhatian dimulai sebelum usia 7 tahun
C. Gejala-gejala tersebut terjadi baik di rumah ataupun di sekolah
 Summary
ADHD pada anak:
 Tampak pada usia kurang dari 7 tahun. (3-7 tahun)
 Kesulitan memusatkan perhatian
 Hiperaktif
 Impulsive
D. Mengakibatkan gangguan dalam fungsi social, akademik dan pekerjaan
E. Symptom tersebut diatas bukan disebabkan karena PPD, skizofrenia, gangguan psikotik lain
seperti gangguan mood, gangguan cemas, gangguan disosiatif, gangguan kepribadian
 Tipe ADHD
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
47
Child Psychiatry
1. ADHD kombinasi
Criteria A1 dan A2 telah ditemukan selama 6 bulan
2. ADHD inattentive
Criteria A1 telah ditemukan, A2 tidak, selama 6 bulan
3. ADHD hiperaktive-impulsive
Criteria A2 telah ditemukan, A1 tidak, selama 6 bulan




ADHD not otherwise specified (NOS)
Conduct disorder (CD)
Oppositional defiant disorder (ODD)
Disruptive behavior disorder (BDB)
Catatan:
ADHD pada remaja dan dewasa,
symptom ditemukan tidak
lengkap khususnya pada keadaan
remisi
 Conduct disorder (CD)
a. Perilaku melanggar norma-norma masyarakan
b. Onset muda, 10-11 tahun (gejala awal)
c. Early onset, biasanya pada anak laki-laki dengan ADHD
d. 92% ADHD→ CD (serangan pada awal usia 12 tahun)
e. Delinquency → conduct disorder → AS disorder ?
f. 90% usia 15 tahun dengan 3 atau lebih symptom CD → melapor sendiri
g. 50% pada anak-anak dengan CD → menetap 3 tahun kemudian
h. 88% CD pada anak laki-laki → menetap 3 tahun kemudian
i. CD yang samar-samar
j. ODD adalah CD yang agresif
k. Comorbid dengan ADHD
 Oppositional defiant disorder (ODD)
a. Perilaku menyimpang, tidak patuh
tatasusila
 Oppositional defiant disorder (ODD)
b. Comorbid dengan : ADHD (14%), anxiety
a. Wanita <laki-laki
(14%), depresi (9%), CD+hiperaktif (29%),
b. DBD yang jelas: konfrontatif dan berkelahi
CD tanpa hiperaktif (8%)
c. DBD samar-samar: sembunyi-sembunyi,
c. Dilaporkan oleh guru, orang tua, anak
mencuri
d. Prevalensi ODD berdasar usia, tidak jelas
 Antisocial personality disorder
 Mulai usia > 18 th.
 DBD  CD  APD ( comorbid )
Behavior Problem  ADHD  ODD  CD  AS.
Penegakan diagnosis ADHD kelainannya tidak boleh hanya terjdi di satu tempat saja. Jadi
gangguan perhatian, hiperaktif dan impulsifnya bisa terjadi di mana saja, di tempat yang membuat
dia nyaman ataupun tidak
Nah, jadi dokter umum itu setidaknya harus bisa mengidentifikasi kedua gangguan psikologi
anak di atas supaya bisa mendeteksi dini sehingga cepat memberikan intervensi/penatalaksanaan
yang mampu dilakukan atau segera mengkonsultasikan pada ahlinya sehingga tidak terjadi
keterlambatan dalam penanganan dan prognosisnya juga baik.
Block 8 Growth, Development, Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
48
Child Pschiatry
Alhamdulillaah…………………
Mudah-mudahan editannya gampang dimengerti. 
Block 8 Growth, Development & Geriatric | 3rd Chapter | Editor : Venny
14
Download