2016-12-25 – netralnews.com – UGM Serukan Aksi BPJS

advertisement
UGM Serukan Evaluasi BPJS
Rabu, 25 Desember 2016, 09:57 WIB
Red: martina Rosa DEwi Lestari/ Lince Eppang
JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tahun 2016 merupakan tahun ketiga pelaksanaan Jaminan
Kesehatan Nasional (JKN), sebuah kebijakan kesehatan yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan masyarakat. Hingga saat ini, JKN telah memberikan manfaat kepada
jutaan warga Indonesia. Meski demikian, kebijakan ini masih memiliki banyak kekurangan. Di
penghujung tahun 2016, JKN menjadi salah satu kebijakan kesehatan penting yang perlu
direfleksikan untuk keperluan pengembangan dan perbaikan di tahun 2017.
“Sudah saatnya pada tahun 2017 dilakukan evaluasi terhadap kebijakan BPJS. Kita menghadapi
situasi yang cukup serius karena ada berbagai masalah konseptual yang perlu ditelaah lebih
detail. Pada tahun yang keempat nanti akan sangat krusial untuk menyatakan bahwa kita
memerlukan agenda baru terkait sistem kesehatan di Indonesia,” ujar Ketua Board Pusat
Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran UGM, Prof. Laksono
Trisnantoro, dalam Diskusi Refleksi 2016 dan Outlook Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
2017 seperti dikutip dari laman UGM, Minggu (25/12/2016).
Laksono menyampaikan paparan terkait refleksi sektor kesehatan secara umum di Indonesia. Ia
mempertanyakan efektivitas BPJS dalam mencapai misi untuk memberikan kemudahan dan
pemerataan akses pelayanan kesehatan di seluruh pelosok negeri. Hingga saat ini, menurutnya,
BPJS justru lebih banyak dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki akses terhadap sarana
kesehatan.
“Pada tahun 2016 ini kita belum bisa meningkatkan pemerataan dan mutu. Kelompok yang di
kota besar bisa mendapatkan manfaat yang jauh lebih banyak daripada mereka yang berada di
kota-kota terpencil,” imbuh Prof. Laksono.
Persoalan terkait efektivitas BPJS, menurut Laksono, bukan hanya terletak pada pelaksanaannya,
melainkan juga dalam proses kebijakan dan penetapan agenda. Selain itu, hubungan
antarlembaga terkait juga belum berjalan dengan baik. Untuk tahun mendatang, ia menyebutkan
3 solusi yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah, yaitu penambahan sumber dana,
pembatasan pengeluaran, serta dana kompensasi.
“Pemerintah harus memikirkan bagaimana bisa menjamin pemerataan, juga apakah memang
perlu BPJS semua atau bisa ada alternatif sistem yang lebih baik,” ucap Laksono.
Sementara itu, dalam tingkat global, sepanjang tahun 2016 masyarakat dunia juga menyaksikan
berbagai krisis di dunia kesehatan, terutama terkait penyebaran wabah penyakit serta situasi
krisis akibat bencana alam atau konflik bersenjata. Dalam konteks kesehatan global, tahun 2016
bahkan disebut sebagai tahun yang suram.
“Banyak hal-hal yang memprihatinkan dan mengkhawatirkan terjadi di tahun 2016. Berbagai
outbreak penyakit yang muncul sepanjang tahun ini menunjukkan bahwa sistem kesehatan kita
saat ini masih sangat rentan,” ujar Direktur Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan
(PKMK), Yodi Mahendradhata.
Salah satu hal yang cukup menyedot perhatian dunia dalam tahun ini adalah penyebaran virus
Zika. Kerentanan sistem kesehatan dunia, menurut Yodi, tampak dalam ketidaksiapan berbagai
negara untuk menghadapi penyebaran virus ini.
Selain persoalan terkait persebaran penyakit, Yodi juga menyebutkan berbagai gejolak dalam
politik dunia, seperti keluarnya Inggris dari Uni Eropa serta terpilihnya Donald Trump sebagai
presiden Amerika Serikat. Hal ini, akan memiliki pengaruh tertentu terhadap sistem kesehatan
dunia, terutama terkait dana bantuan yang biasanya banyak disumbangkan oleh negara-negara
besar tersebut.
Terkait prospek kesehatan di tahun 2017, ia mengaku cukup sulit untuk memprediksi apa yang
akan terjadi. Meski demikian, ia menyebutkan bahwa kondisinya mungkin tidak jauh berbeda
dengan kondisi di tahun 2016 yang diwarnai dengan berbagai krisis. Karena itu, ia menekankan
pentingnya peningkatan kapasitas serta daya lenting pelaku kesehatan untuk merespons krisis
dan tetap menjalankan fungsi utamanya saat krisis berlangsung.
“Sistem kesehatan harus resilient, cepat bangkit setelah krisis bahkan rebound menjadi lebih
kuat. Resiliensi juga memerlukan kapasitas untuk mendeteksi ancaman kesehatan sebelum itu
terjadi agar kita tidak tergagap-gagap,” imbuh Yodi.
Sumber: http://www.netralnews.com/news/kesehatan/read/43898/ugm.serukan.evaluasi.bpjs
Download