Campur Tangan Pemerintah Dalam Perdagangan

advertisement
Tugas : Bisnis Internasional
Tanggal Pengumpulan
:
Dosen : Arief Daryanto, Ir, DipAgEc,MEc, PhD
CAMPUR TANGAN PEMERINTAH DALAM
PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Disusun oleh :
Lily Purnama Sari
P056080622.31E
Minia Artpita Barus
P056080632.31E
PROGRAM PASCASARJANA MANAJEMEN DAN BISNIS
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2009
PENGANTAR PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Perekonomian suatu negara berhubungan dengan dan dipengaruhi oleh perekonomian
Negara lain. Hubungan ini meliputi transaksi ekonomi berupa perdagangan barang-barang,
jasa-jasa dan sumber-sumber serta transaksi investasi penanaman modal dan transaksi
finansial utang-piutang.
Perekonomian internasional tersebut mempelajari 4 aspek antara lain sebagai berikut :
1. Perdagangan Internasional
Perdagangan Internasional adalah hubungan tukar-menukar barang atau jasa yang
saling menguntungkan antara suatu Negara dengan negara lainnya.
Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya perdagangan internasional, antara lain :
a. Perbedaan sumber daya yang dimiliki.
b. Perbedaan kualitas penduduk ditinjau dari segi pendidikan, ekonomi, sosial, dan
budaya.
c. Berkembangnya sistem komunikasi dan sarana transportasi.
d. Adanya spesialisasi produksi.
Selain itu, manfaat yang bisa diperoleh dari adanya perdagangan internasional /
antarnegara, antara lain :
a. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi dalam negeri
Setiap Negara tidak dapat menghasilkan semua barang-barang yang dibutuhkannya,
untuk itu diperlukan perdagangan antar Negara yang satu dengan negara yang lain.
Misalnya, negara-negara maju memerlukan hasil alam tetapi barang tersebut tidak
dapat dihasilkan di Negara-negara mereka. Maka mereka terpaksa mengimpor barangbarang tersebut dari negara-negara di Asia Tenggara terutama dari Indonesia,
Thailand, Dan Malaysia. Sebaliknya negara-negara di Asia Tenggara belum dapat
memproduksi sendiri beberapa hasil Industri modern, seperti pesawat terbang, kapal
pengangkut minyak dan mesin-mesin industri. Maka negara-negara itu harus
mengimpor barang-barang tersebut dari negara maju.
b. Memperoleh keuntungan dari spesialisasi
Sebab yang utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh
keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat
memproduksikan sesuatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksikan oleh
negara lain, tetapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang
tersebut dari luar negeri. Contoh: Amerika Serikat dan Jepang mempunyai
kemampuan untuk memproduksi kain. Tetapi Jepang dapat memproduksikannya
dengan lebih efisien dari Amerika Serikat. Dalam keadaan seperti ini, untuk
mempertinggi koefisien penggunaan faktor-faktor produksi, Amerika Serikat perlu
mengurangi produksi kainnya dan mengimpor barang tersebut dari Jepang.
Dengan mengadakan spesialisasi dan perdagangan, setiap negara dapat memperoleh
keuntungan yang berikut:
i. Faktor-faktor produksi yang dimiliki setiap negara dapat digunakan dengan lebih
efisien.
ii. Setiap negara dapat menikmati lebih banyak barang dari yang dapat diproduksikan
di dalam negeri
Pengertian keuntungan mutlak adalah keuntungan yang diperoleh oleh sesuatu
Negara dari mengkhususkan kegiatannya kepada memproduksikan barang-barang
dengan efisiensi yang lebih tinggi dari Negara-negara lain.
Pengertian keuntungan berbanding adalah keuntungan yang diperoleh oleh suatu
Negara dari mengkhususkan (melakukan spesialisasi) dalam memproduksikan barangbarang yang mempunyai harga relatif yang lebih rendah dari Negara lain.
c. Memperluas pasar Industri dalam negeri
Beberapa jenis industri telah dapat memenuhi permintaan dalam negeri sebelum alatalat produksi sepenuhnya digunakan, ini berarti bahwa industri masih dapat
menaikkan produksi dan meningkatkan keuntungannya apabila masih terdapat pasar
untuk barang-barang yang dihasilkan oleh industri itu. Karena seluruh permintaan dari
dalam negeri telah terpenuhi satu-satunya cara untuk memperoleh pasaran adalah
dengan mengekspornya keluar negeri. Apabila kapasitas dari mesin-mesin masih
rendah, sehingga produksi mesin-mesin itu belum mencapai titik yang optimum,
ekspor ke luar negeri akan mempertinggi keefisienan dari mesin-mesin yang
digunakan dan mengurangi biaya produksi. Dengan demikian, untuk industri-industri
yang mempunyai sifat seperti itu, perdagangan luar negeri bukan saja akan menambah
produksi dan meningkatkan keuntungan. Tetapi juga dapat menurunkan biaya
produksi.
d. Menggunakan teknologi modern dan meningkatkan produktivitas
Selanjutnya perdagangan luar negeri memungkinkan sesuatu Negara untuk
mempelajari teknik produksi yang lebih efisien dan cara-cara manajemen yang lebih
modern. Perdagangan luar negeri memungkinkan negara tersebut mengimpor mesinmesin atau alat-alat yang lebih modern untuk melaksanakan teknik produksi dan cara
produksi yang lebih baik. Keuntungan-keuntungan ini terutama dinikmati oleh
Negara-negara berkembang. Di negara-negara tersebut kegiatan ekonomi masih
banyak yang menggunakan teknik produksi dan cara menajemen yang tradisional.
Oleh karena itu daya produktivitasnya masih rendah dan produksinya terbatas.
Dengan mengimpor teknologi yang lebih modern negara tersebut dapat menaikkan
produktivitasnya, dan ini akan mempercepat pertumbuhan produksi
Untuk melihat apakah suatu negara menikmati lebih banyak keuntungan dari
perdagangan luar negeri atau ia menimbulkan efek buruk kepada perekonomian negara,
perlulah diperhatikan perubahan-perubahan dalam syarat perdagangan negara tersebut.
2. Kebijakan Perdagangan Internasional
Meskipun jelas dengan mengadakan spesialisasi dan perdagangan bebas antar
negara penduduk negara-negara didunia memperoleh manfaat berupa output lebih besar,
tetapi untuk mencapai tujuan tertentu berbagai kebijakan perdagangan telah membatasi
serta merupakan penghalang spesialisasi dan perdagangan internasional hingga tidak
diperoleh manfaat sepenuhnya. Kebijakan yang merintangi perdagangan internasional
biasanya berupa tarif bea masuk dan atau kuota. Selanjutnya akan dibahas konsekuensi
ekonomi serta argument yang menyokong dan menentang. Misalnya perlukah suatu
negara melindungi industri yang baru didirikan dengan mengenakan tarif, kuota atau
berbagai rintangan perdagangan internasional?
Pembela dan penyokong perdagangan bebas menyatakan secara singkat bahwa
dengan mengadakan perdagangan bebas berdasarkan prinsip keunggulan komparatif maka
perekonomian dunia akan mencapai alokasi sumber secara optimal yang memberikan
taraf hidup lebih tinggi. Hal ini karena masing-masing negara memiliki anugerah sumbersumber alam, tenaga kerja, akumulasi kapital serta teknologi yang berbeda baik kuantitas
maupun kualitas dan mereka harus berspesialisasi pada komoditi di mana biaya
produksinya relatif lebih rendah daripada negara-negara lain dan kemudian menukarkan.
Dengan demikian maka penduduk dunia bisa memperoleh pendapatan riel lebih tinggi
dengan menggunakan sumber-sumber yang ada dan dimilikinya. Proteksi atau rintangan
perdagangan akan mengurangi manfaat yang dapat diperoleh dari adanya spesialisasi.
Dengan pembatasan ini maka sumber-sumber tak dapat dimanfaatkan untuk penggunaan
paling efisien. Para pembela perdagangan bebas akan mencegah terbentuknya proteksi
monopoli di dalam negeri. Tanpa persaingan dari luar negeri yang diakibatkan oleh
pembatasan perdagangan, monopoli akan muncul.
3. Pasar Valuta Asing
Untuk memahami bagaimana kurs valuta asing ditentukan, kita perlu menganalisis
cara kerja pasar valuta asing. Pasar Valuta Asing adalah tempat berlangsungnya
perdagangan berbagai mata uang negara yang berbeda; disinilah nilai tukar ditentukan.
Pada umumnya, valuta asing diperdagangkan oleh bank-bank serta perusahaanperusahaan yang berspesialisasi pada bisnis tersebut. Pasar valuta asing yang terorganisir
seperti di New York, Tokyo, London dan Zurich memperdagangkan beratus-ratus milyar
dolar mata uang setiap harinya. Harga valuta asing / kurs valuta asing terbentuk pada saat
penawaran dan permintaan berada dalam keadaan seimbang. Penawaran dan permintaan
pound Inggris berinteraksi di pasar valuta asing. Kekuatan pasar akan menggerakkan kurs
valuta asing ke atas / ke bawah, untuk menyeimbangkan arus masuk dan arus keluar
pound; harga yang kemudian akan berlaku adalah pada saat terjadi keseimbangan kurs
valuta asing, yaitu ketika pound yang dibeli persis sama dengan yang ingin dijual.
Keseimbangan penawaran dan permintaan valuta asing menentukan kurs mata uang
tertentu
4. Neraca Pembayaran
Neraca pembayaran internasional (International Balance Of Payment) suatu negara
merupakan lapangan keuangan negara yang bersangkutan atas semua transaksi ekonomi
dengan negara-negara lain, yang disusun secara sistematis; neracapembayaran
menghitung dan mencatat semua arus barang, jasa dan modal antara suatu negara dengan
negara-negara lain.
Neraca pembayaran luar negeri umumnya dibagi dalam empat bagian, yaitu :
a. Transaksi berjalan
b. Neraca modal
c. Penyimpangan statistik
d. Penyelesaian resmi
Tahap-tahap neraca pembayaran :
a. Negara debitur muda yang sedang tumbuh
b. Negara debitur madya
c. Negara kreditur muda
d. Negara kreditur madya
Jika pertumbuhan ekonomi suatu negara lebih cepat daripada pertumbuhan rata-rata pada
pasar ekspornya, maka hal ini akan cenderung mempercepat peningkatan impor daripada
ekspor melalui efek penyerapan.
Dalam melakukan perdagangan, dengan alasan-alasan budaya, politi, dan ekonomi maka
campur tangan pemerintah dalam arus bebas perdagangan diperlukan.
Motif campur tangan pemerintah didalam arus bebas perdagangan :
1. Motif Budaya
Negara-negara membatasi perdagangan barang dan jasa demi suatu tujuan budaya – yang
paling umum adalah untuk melindungi identitas nasional. Banyak negara memandang
kebudayaan AS sebagai ancaman terhadap kebudayaan nasionalnya sendiri karena
kekuatan global perusahaan-perusahaan AS dalam barang-barag konsumen serta dalam
dunia hiburan dan media.
2. Motif Politik
Mencakup melindungi lapangan pekerjaan, menjaga keamanan nasional, menanggapi
praktek dagang yang tidak adil yang dilakukan oleh negara lain, dan mendapatkan
pengaruh atas negara-negara lain.
3. Motif Ekonomi
Melindungi industri-industri baru dari persaingan dan mendorong kebijakan perdagangan
strategis.
Alat/metoda yang paling umum digunakan oleh pemerintah untuk mendorong
perdagangan yaitu :
a. Subsidi
Subsidi adalah bantuan finansial bagi produsen domestik dalam bentuk pembayaran tunai,
pinjaman berbunga rendah, keringanan pajak, atau bentuk lainnya. Bertujuan membantu
perusahaan-perusahaan domestik mengimbangi pesaing internasional.
b. Pembiayaan Ekspor
Pemerintah seringkali mendorong ekspor dengan membantu perusahaan mendanai
kegiatan ekspornya melalui pinjaman atau jaminan pinjaman.
Sebagai contoh, dua badan khusus yang berfungsi membantu perusahaan-perusahaan AS
memperoleh pembiayaan ekspor adalah Export-Import Bank of The United States dan
Overseas Private Insurance Corporation (OPIC).
c. Zona Perdagangan Luar Negeri
Zona perdagangan luar negeri adalah suatu kawasan gegrafis tertentu dimana barang
dagang diperbolehkan masuk dengan bea cukai yang lebih rendah dan/atau prosedur
pabean yang lebih sedikit.
Saat ini banyak perusahaan membuat sarana-sarana di zona-zona seperti ini untuk operasi
perakitan akhir produk.
Sebagai contoh, pabrik mobil Jepang di Indiana, Kentucky, Ohio, dan Tennessee
ditetapkan sebagai zona perdagangan luar negeri yang dikelola oleh Departemen
Perdagangan AS
d. Badan Pemerintah Khusus
Badan pemerintah khusus ini seringkali didirikan untuk mendorong ekspor suatu Negara.
Badan-badan ini sangat membantu dalam memperoleh kontrak bagi usaha-usaha kecil dan
menengah yang memiliki sumberdaya finansial yang terbatas, juga dapat membantu
perusahaan-perusahaan asing menemukan lokasi yang cocok di negara tuan rumah.
Selain mendorong perdagangan, maka pemerintah juga memiliki cara-cara untuk
menghambat perdagangan, dimana secara umum dibagi menjadi dua kategori yaitu hambatan
tarif dan hambatan non tarif.
a. Tarif
Hambatan tarif yaitu pajak pemerintah yang dibebankan pada suatu produk yang masuk
atau meninggalkan suatu negara. Contohnya tarif ekspor, tarif transit, dan tarif impor.
Tarif impor dapat dibagi menjadi :
•
Tarif ad valorem  tarif yang dibebankan sebagai suatu presentase harga yang tertera
pada suatu produk impor.
•
Tarif spesifik  tarif yang dibebankan sebagai biaya spesifik pada tiap unit (diukur
oleh jumlah, berat, dll) sebuah produk impor.
•
Tarif majemuk  tarif yang dihitung sebagai presentase harga yang tertera pada
sebuah produk impor, dan sebagian sebagai biaya spesifik tiap unit.
Negara membebakan tarif karena.dua alas an utama, yaitu :
1. Tarif merupaka cara melindungi produsen domestik suatu produk.
2. Tarif merupakan sumber pendapatan pemerintah.
b. Non Tarif
Adapun hambatan non tarif yang diberlakukan, yaitu :
a. Kuota
Kuota yaitu pembatasan jumlah (diukur dalam unit atau berat) barang yang dapat
masuk atau keluar dari suatu negara dalam jangka waktu tertentu.
Contohnya yaitu kuota impor dan kuota ekspor.
Alasan diberlakukannya kuota impor, antara lain :
 Pemerintah ingin melindungi produsen domestiknya dengan membatasi jumlah
barang yang diperbolehkan masuk ke dalam suatu Negara.
 Pemerintah memaksa perusahaan negara-negara lain bersaing satu sama lain untuk
sejumlah tertentu impor yang diperbolehkan.
Alasan diberlakukannya kuota ekspor, antara lain :
 Pemerintah menjaga penawaran suatu produk di pasar domestik.
 Pemerintah membatasi ekspor untuk membatasi penawaran di pasar dunia.
b. Embargo
Embargo yaitu larangan total perdagangan (impor dan ekspor) satu atau lebih produk
dengan negara tertentu. Embargo dapat dikenakan atas satu atau beberapa barang, atau
melarang perdagangan seluruh produk. Embargo dapat ditetapkan oleh negara-negara
secara individual atau oleh organisasi seperti PBB.
Sebagai contoh yaitu embargo Amerika Serikat terhadap Kuba mencakup semua
bidang dan bahkan tidak memperbolehkan warga negara AS berlibur di Kuba.
c. Persyaratan Kandungan Lokal
Persyaratan kandungan lokal merupakan peraturan yang mengharuskan sejumlah
tertentu barang atau jasa dipasok oleh produsen-produsen dalam pasar domestik.
Tujuan adalah untuk memaksa perusahaan-perusahaan dari negara lain menggunakan
sumberdaya lokal dala proses produksinya - terutama tenaga kerja.
d. Penundaan Administratif
Penundaan administrasi merupakan ketentuan pengendali atau peraturan birokratik
yang dirancang untuk menghambat arus impor yang deras ke dalam suatu negara.
Tujuan utamanya adalah proteksionisme.
e. Pengendalian Mata Uang
Pengendalian mata uang merupakan pembatasan daya konversi suatu mata uang ke
dalam mata uang lainnya atau menetapkan nilai tukar yang tidak menguntungkan bagi
pengimpor.
WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO)
Lingkungan bisnis internasional dipengaruhi oleh organisasi yang bekerja untuk
mengatur dan memperluas perdagangan dan investasi dunia. Organisasi ini mempengaruhi
strategi, taktik, dan operasi sehari-hari dari perusahaan yang ikut serta dalam bisnis
internasional, terutama karena tujuan perusahaan sering kali rumit bahkan bersifat
bertentangan.
I.
Umum
World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia
merupakan satu-satunya badan internasional yang secara khusus mengatur masalah
perdagangan antar negara. Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui suatu
persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar perdagangan internasional sebagai hasil
perundingan yang telah ditandatangani oleh negara-negara anggota. Persetujuan
tersebut merupakan kontrak antar negara-anggota yang mengikat pemerintah untuk
mematuhinya dalam pelaksanaan kebijakan perdagangannya. Walaupun ditandatangani
oleh pemerintah, tujuan utamanya adalah untuk membantu para produsen barang dan
jasa, eksportir dan importer dalam kegiatan perdagangan. Indonesia merupakan salah
satu negara pendiri WTO dan telah meratifikasi Persetujuan Pembentukan WTO
melalui UU NO. 7/1994.
II.
Sejarah Pembentukan
WTO secara resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 1995 tetapi sistem perdagangan
itu sendiri telah ada setengah abad yang lalu. Sejak tahun 1948, General Agreement on
Tariffs and Trade (GATT) - Persetujuan Umum mengenai Tarif dan Perdagangan telah
membuat aturan-aturan untuk sistem ini. Sejak tahun 1948-1994 sistem GATT memuat
peraturan-peraturan mengenai perdagangan dunia dan menghasilkan pertumbuhan
perdagangan internasional tertinggi.
Pada awalnya GATT ditujukan untuk membentuk International Trade
Organization (ITO), suatu badan khusus PBB yang merupakan bagian dari sistem
Bretton Woods (IMF dan bank Dunia). Meskipun Piagam ITO akhirnya disetujui
dalam UN Conference on Trade and Development di Havana pada bulan Maret 1948,
proses ratifikasi oleh lembaga-lembaga legislatif negara tidak berjalan lancar.
Tantangan paling serius berasal dari kongres Amerika Serikat, yang walaupun sebagai
pencetus, AS tidak meratifikasi Piagam Havana sehingga ITO secara efektif tidak
dapat dilaksanakan. Meskipun demikian, GATT tetap merupakan instrument
multilateral yang mengatur perdagangan internasional.
Hampir setengah abad teks legal GATT masih tetap sama sebagaimana pada
tahun 1948 dengan beberapa penambahan diantaranya bentuk persetujuan “plurilateral”
(disepakati oleh beberapa negara saja) dan upaya-upaya pengurangan tariff. Masalahmasalah perdagangan diselesaikan melalui serangkaian perundingan multilateral yang
dikenal dengan nama “Putaran Perdagangan” (trade round), sebagai upaya untuk
mendorong liberalisasi perdagangan internasional.
III.
Putaran-putaran Perundingan
Pada tahun-tahun awal, Putaran Perdagangan GATT mengkonsentrasikan
negosiasi pada upaya pengurangan tariff. Pada Putaran Kennedy (pertengahan tahun
1960-an) dibahas mengenai tariff dan Persetujuan Anti Dumping (Anti Dumping
Agreement).
Putaran Tokyo (1973-1979) meneruskan upaya GATT mengurangi tariff secara
progresif. Hasil yang diperoleh rata-rata mencakup sepertiga pemotongan dari bea
impor/ekspor terhadap 9 negara industri utama, yang mengakibatkan tariff rata-rata
atas produk industri turun menjadi 4,7%. Pengurangan tariff, yang berlangsung selama
8 tahun, mencakup unsur “harmonisasi” – yakni semakin tinggi tariff, semakin luas
pemotongannya secara proporsional. Dalam isu lainnya, Putaran Tokyo gagal
menyelesaikan masalah produk utama yang berkaitan dengan perdagangan produk
pertanian dan penetapan persetujuan baru mengenai “safeguards” (emergency import
measures). Meskipun demikian, serangkaian persetujuan mengenai hambatan non tariff
telah muncul di berbagai perundingan, yang dalam beberapa kasus menginterpretasikan
peraturan GATT yang sudah ada.
Selanjutnya adalah Putaran Uruguay (1986-1994) yang mengarah kepada
pembentukan WTO. Putaran Uruguay memakan waktu 7,5 tahun. Putaran tersebut
hampir mencakup semua bidang perdagangan. Pada saat itu putaran tersebut
nampaknya akan berakhir dengan kegagalan. Tetapi pada akhirnya Putaran Uruguay
membawa perubahan besar bagi sistem perdagangan dunia sejak diciptakannya GATT
pada akhir Perang Dunia II. Meskipun mengalami kesulitan dalam permulaan
pembahasan, Putaran Uruguay memberikan hasil yang nyata. Hanya dalam waktu 2
tahun, para peserta telah menyetujui suatu paket pemotongan atas bea masuk terhadap
produk-produk tropis
dari negara berkembang, penyelesaian sengketa,
dan
menyepakati agar para anggota memberikan laporan reguler mengenai kebijakan
perdagangan. Hal ini merupakan langkah penting bagi peningkatan transparansi aturan
perdagangan di seluruh dunia.
IV.
Persetujuan-persetujuan WTO
Hasil dari Putaran Uruguay berupa the Legal Text terdiri dari sekitar 60
persetujuan, lampiran (annexes), keputusan dan kesepakatan. Persetujuan-persetujuan
dalam WTO mencakup barang, jasa, dan kekayaaan intelektual yang mengandung
prinsip-prinsip utama liberalisasi.
Struktur dasar persetujuan WTO, meliputi :
1.
Barang/ goods (General Agreement on Tariff and Trade/ GATT)
2.
Jasa/ services (General Agreement on Trade and Services/ GATS)
3.
Kepemilikan intelektual (Trade-Related Aspects of Intellectual Properties/ TRIPs)
4.
Penyelesaian sengketa (Dispute Settlements)
Persetujuan-persetujuan di atas dan annexnya berhubungan antara lain dengan sektorsektor di bawah ini :
 Pertanian
 Sanitary and Phytosanitary/SPS
 Badan Pemantau Tekstil (Textiles and Clothing)
 Standar Produk
 Tindakan investasi yang terkait dengan perdagangan (TRIMs)
 Tindakan anti-dumping
 Penilaian Pabean (Customs Valuation Mathods)
 Pemeriksaan sebelum pengapalan (Preshipment Inspection)
 Ketentuan asal barang (Rules of Origin)
 Lisensi Impor (Imports Licencing)
 Subsidi dan Tindakan Imbalan (Subsidies and Countervailing Measures)
 Tindakan Pengamanan (safeguards)
Untuk jasa (dalam Annex GATS):
 Pergerakan tenaga kerja (movement of natural persons)
 Transportasi udara (air transport)
 Jasa keuangan (financial services)
 Perkapalan (shipping)
 Telekomunikasi (telecommunication)
V.
Prinsip-prinsip Perdagangan Multilateral
 MFN (Most-Favoured Nation): Perlakuan yang sama terhadap semua mitra
dagang
Dengan berdasarkan prinsip MFN, negara-negara anggota tidak dapat begitu saja
mendiskriminasikan mitra-mitra dagangnya. Keinginan tarif impor yang diberikan
pada produk suatu negara harus diberikan pula kepada produk impor dari mitra
dagang negara anggota lainnya.
 Perlakuan Nasional (National Treatment)
Negara anggota diwajibkan untuk memberikan perlakuan sama atas barang-barang
impor dan lokal- paling tidak setelah barang impor memasuki pasar domestik
 Transparansi (Transparency)
Negara anggota diwajibkan untuk bersikap terbuka/transparan terhadap berbagai
kebijakan perdagangannya sehingga memudahkan para pelaku usaha untuk
melakukan kegiatan perdagangan.
VI.
Persetujuan Bidang Pertanian
Persetujuan Bidang Pertanian (Agreement on Agriculture/ AoA) yang berlaku
sejak tanggal 1 Januari 1995 bertujuan untuk
melakukan reformasi kebijakan
perdagangan di bidang pertanian dalam rangka menciptakan suatu sistem perdagangan
pertanian yang adil dan berorientasi pasar. Program reformasi tersebut berisi
komitmen-komitmen spesifik untuk mengurangi subsidi domestik, subsidi ekspor dan
meningkatkan akses pasar melalui penciptaan peraturan dan disiplin GATT yang kuat
dan efektif.
Persetujuan tersebut juga meliputi isu-isu di luar perdagangan seperti ketahanan
pangan, perlindungan lingkungan, perlakuan khusus dan berbeda (special and
differential treatment – S&D) bagi negara-negara berkembang, termasuk juga
perbaikan kesempatan dan persyaratan akses untuk produk-produk pertanian bagi
negara-negara tersebut.
Dalam Persetujuan Bidang Pertanian dengan mengacu pada sistem klasifikasi HS
(harmonized system of product classification), produk-produk pertanian didefinisikan
sebagai komoditi dasar pertanian (seperti beras, gandum, dll.) dan produk-produk
olahannya (seperti roti, mentega, dll.) Sedangkan, ikan dan produk hasil hutan serta
seluruh produk olahannya tidak tercakup dalam definisi produk pertanian tersebut.
Persetujuan Bidang Pertanian menetapkan sejumlah peraturan pelaksanaan
tindakan-tindakan perdagangan di bidang pertanian, terutama yang menyangkut akses
pasar, subsidi domestik dan subsidi ekspor. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut,
para anggota WTO berkomitmen untuk meningkatkan akses pasar dan mengurangi
subsidi-subsidi yang mendistorsi perdagangan melalui skedul komitmen masingmasing negara. Komitmen tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
GATT.
A. Aspek Pasar
Dilihat dari sisi akses pasar, Putaran Uruguay telah menghasilkan perubahan
sistemik yang sangat signifikan: perubahan dari situasi dimana sebelumnya
ketentuan-ketentuan non-tarif yang menghambat arus perdagangan produk
pertanian menjadi suatu rezim proteksi pasar berdasarkan pengikatan tarif beserta
komitmen-komitmen pengurangan subsidinya. Aspek utama dari perubahan yang
fundamental ini adalah stimulasi terhadap investasi, produksi dan perdagangan
produk pertanian melalui: (i) akses pasar produk pertanian yang transparan,
prediktabel dan kompetitif, (ii) peningkatan hubungan antara pasar produk
pertanian nasional dengan pasar internasional, dan (iii) penekanan pada
mekanisme pasar yang mengarahkan penggunaan yang paling produktif terhadap
sumber daya yang terbatas, baik di sektor pertanian maupun perekonomian secara
luas.
Umumnya tarif merupakan satu-satunya bentuk proteksi produk pertanian
sebelum
Putaran Uruguay. Pada Putaran Uruguay, yang disepakati adalah
”diikatnya” tarif pada tingkat maksimum. Namun bagi sejumlah produk tertentu,
pembatasan akses pasar juga melibatkan hambatan-hambatan non-tarif. Putaran
Uruguay bertujuan untuk menghapuskan hambatan-hambatan tersebut. Untuk itu
disepakati suatu paket ”tarifikasi” yang diantaranya mengganti kebijakankebijakan non-tarif produk pertanian menjadi kebijakan tarif yang memberikan
tingkat proteksi yang sama.
Negara anggota dari kelompok negara maju sepakat untuk mengurangi tarif
mereka sebesar rata-rata 36% pada seluruh produk pertanian, dengan pengurangan
minimum 15% untuk setiap produk, dalam periode enam tahun sejak tahun 1995.
Bagi negara berkembang, pengurangannya adalah 24% dan minimum 10% untuk
setiap produk. Negara terbelakang diminta untuk mengikat seluruh tarif
pertaniannya namun tidak diharuskan untuk melakukan pengurangan tarif.
B. Subsidi Domestik
Subsidi domestik dibagi ke dalam dua kategori. Kategori pertama adalah
subsidi domestik yang tidak terpengaruh atau kalaupun ada sangat kecil
pengaruhnya terhadap distorsi perdagangan (sering disebut sebagai Green Box)
sehingga tidak perlu dikurangi. Kategori kedua adalah subsidi domestik yang
mendistorsi perdagangan (sering disebut sebagai Amber Box) sehingga harus
dikurangi sesuai komitmen.
Subsidi Domestik dalam sektor Pertanian :
1. Amber Box, adalah semua subsidi domestik yang dianggap mendistorsi
produksi dan perdagangan.
2. Blue Box, adalah amber box dengan persyaratan tertentu yang ditujukan untuk
mengurangi distorsi. Subsidi yang biasanya dikategorikan sebagai Amber Box
akan dimasukkan ke dalam Blue Box jika subsidi tersebut juga menuntut
dikuranginya produksi oleh para petani.
3. Green Box, adalah subsidi yang tidak berpengaruh atau kalaupun ada sangat
kecil pengaruhnya terhadap perdagangan. Subsidi tersebut harus dibiayai dari
anggaran pemerintah (tidak dengan membebani konsumen dengan harga yang
lebih tinggi) dan harus tidak melibatkan subsidi terhadap harga.
Berkaitan dengan kebijakan yang diatur dalam Green Box terdapat tiga jenis
subsidi lainnya yang dikecualikan dari komitmen penurunan subsidi yaitu
kebijakan pembangunan tertentu di negara berkembang, pembayaran langsung
pada program pembatasan produksi (blue box), dan tingkat subsidi yang disebut de
minimis
C. Subsidi Ekspor
Hak untuk memberlakukan subsidi ekspor pada saat ini dibatasi pada:
i. subsidi untuk produk-produk tertentu yang masuk dalam komitmen untuk
dikurangi dan masih dalam batas yang ditentukan oleh skedul komitmen
tersebut.
ii. kelebihan pengeluaran anggaran untuk subsidi ekspor ataupun volume ekspor
yang telah disubsidi yang melebihi batas yang ditentukan oleh skedul komitmen
tetapi diatur oleh ketentuan ”fleksibilitas hilir” (downstream flexibility).
iii. subsidi ekspor yang sesuai dengan ketentuan S&D bagi negara-negara
berkembang.
iv. Subsidi ekspor di luar skedul komitmen tetapi masih sesuai dengan ketentuan
anti-circumvention. Segala jenis subsidi ekspor di luar hal-hal di atas adalah
dilarang.
VII.
Putaran Doha
A. Deklarasi Doha
Sejak terbentuknya WTO awal tahun 1995 telah diselenggarakan lima kali
Konperensi Tingkat Menteri (KTM) yang merupakan forum pengambil kebijakan
tertinggi dalam WTO. KTM-WTO pertama kali diselenggarakan di Singapura
tahun 1996, kedua di Jenewa tahun 1998, ketiga di Seatlle tahun 1999 dan KTM
keempat di Doha, Qatar tahun 2001. Sementara itu KTM kelima diselenggarakan
di Cancun, Mexico tahun 2003.
KTM ke-4 (9-14 Nopember 2001) yang dihadiri oleh 142 negara.
Menghasilkan dokumen utama berupa Deklarasi Menteri (Deklarasi Doha) yang
menandai diluncurkannya putaran perundingan baru mengenai perdagangan jasa,
produk pertanian, tarif industri, lingkungan, isu-isu implementasi, Hak Atas
Kekayaan Intelektual (HAKI), penyelesaian sengketa dan peraturan WTO.
Deklarasi tersebut mengamanatkan kepada para anggota untuk mencari jalan
bagi tercapainya konsensus mengenai Singapore Issues yang mencakup isu-isu:
investasi,
kebijakan
kompetisi
(competition
policy),
transparansi
dalam
pengadaan pemerintah (goverment procurement), dan fasilitasi perdagangan.
Namun perundingan mengenai isu-isu tersebut ditunda hingga selesainya KTM V
WTO pada tahun 2003, jika terdapat konsensus yang jelas (explicit concensus)
dimana para anggota menyetujui dilakukannya perundingan. Deklarasi juga
memuat mandat untuk meneliti program-program kerja mengenai electronic
commerce, negara-negara kecil (small economies), serta hubungan antara
perdagangan, hutang dan alih teknologi.
Deklarasi Doha juga telah memberikan mandat kepada para anggota WTO
untuk melakukan negosiasi di berbagai bidang, termasuk isu-isu yang berkaitan
dengan pelaksanaan persetujuan yang ada. Perundingan dilaksanakan di Komite
Perundingan Perdagangan (Trade Negotiations Committee/TNC) dan badan-badan
dibawahnya (subsidiaries body). Selebihnya, dilakukan melalui program kerja
yang dilaksanakan oleh Councils dan Commitee yang ada di WTO.
B. Doha Development Agenda
Keputusan-keputusan yang telah dihasilkan KTM IV ini dikenal pula dengan
sebutan ”Agenda Pembangunan Doha” (Doha Development Agenda) mengingat
didalamnya termuat isu-isu pembangunan yang menjadi kepentingan negaranegara berkembang paling terbelakang (Least developed countries/LDCs), seperti:
kerangka kerja kegiatan bantuan teknik WTO, program kerja bagi negara-negara
terbelakang, dan program kerja untuk mengintegrasikan secara penuh negaranegara kecil ke dalam WTO.
Mengenai perlakuan khusus dan berbeda” (special and differential
treatment), Deklarasi tersebut telah mencatat proposal negara berkembang untuk
merundingkan Persetujuan mengenai Perlakuan khusus dan berbeda (Framework
Agreement of Special and Differential Treatment/S&D), namun tidak mengusulkan
suatu tindakan konkrit mengenai isu tersebut. Para menteri setuju bahwa masalah
S&D ini akan ditinjau kembali agar lebih efektif dan operasional.
C. Isu-isu yang disetujui untuk dirundingkan lebih lanjut
Deklarasi Doha mencanangkan segera dimulainya perundingan lebih lanjut
mengenai beberapa bidang spesifik, antara lain di bidang pertanian. Perundingan
di bidang pertanian telah dimulai sejak bulan sejak bulan Maret 2000. Sudah 126
anggota (85% dari 148 anggota) telah menyampaikan 45 proposal dan 4 dokumen
teknis mengenai bagaimana perundingan seharusnya dijalankan. Salah satu
keberhasilan besar negara-negara berkembang dan negara eksportir produk
pertanian
adalah
dimuatnya
mandat
mengenai
”pengurangan,
dengan
kemungkinan penghapusan, sebagai bentuk subsidi ekspor”.
Mandat lain yang sama pentingnya adalah kemajuan dalam hal akses pasar,
pengurangan substansial dalam hal program dukungan/subsidi domestik yang
mengganggu perdagangan (trade-distorting domestic suport programs), serta
memperbaiki perlakukan khusus dan berbeda di bidang pertanian bagi negaranegara berkembang.
Paragraf 13 dari Deklarasi KTM Doha juga menekankan mengenai
kesepakatan agar perlakuan khusus dan berbeda untuk negara berkembang akan
menjadi bagian integral dari perundingan di bidang pertanian. Dicatat pula
pentingnya memperhatikan kebutuhan negara berkembang termasuk pentingnya
ketahanan pangan dan pembangunan pedesaan.
VIII. Konferensi Tingkat Menteri (KTM) V WTO di Cancun, Meksiko
Konperensi Tingkat Menteri (KTM) V WTO berlangsung di Cancun, Meksiko
tanggal 10-14 September 2003. Berbeda dengan KTM IV di Doha, KTM V di Cancun
kali ini tidak mengeluarkan Deklarasi yang rinci dan substantif, karena gagal
menyepakati secara konsensus, terutama terhadap draft teks pertanian, akses pasar
produk non pertanian (MANAP) dan Singapore issues.
Perundingan untuk isu pertanian diwarnai dengan munculnya joint paper AS-UE,
proposal Group 20 (yang menentang proposal gabungan AS-UE) dan proposal Group
33 (yang memperjuangkan konsep special product dan special safeguard mechanism).
Secara singkat, joint paper AS-UE antara lain memuat proposal yang
menghendaki adanya penurunan tarif yang cukup signifikan di negara berkembang,
tetapi tidak menginginkan adanya pengurangan subsidi dan tidak secara tegas memuat
komitmen untuk menurunkan tarif tinggi (tariff peak) di negara maju.
Sebaliknya, negara berkembang yang tergabung dalam Group 20 menginginkan
adanya penurunan subsidi domestik (domestik support) dan penghapusan subsidi
ekspor pertanian di negara-negara maju, sebagaimana dimandatkan dalam Deklarasi
Doha.
Sementara itu, kelompok negara-negara berkembang lainnya yang tergabung
dalam Group 33 (group yang dimotori Indonesia dan Filipina) mengajukan proposal
yang menghendaki adanya pengecualian dari penurunan tarif, dan subsidi untuk
Special Products (SPs) serta diberlakukannya Special Safeguard Mechanism (SSM)
untuk negara-negara berkembang.
IX.
Kesepakatan Juli 2004
Setelah gagalnya KTM V WTO di Cancun, Meksiko pada tahun 2003, Sidang
Dewan Umum WTO tanggal 1 Agustus 2004 berhasil menyepakati Keputusan Dewan
Umum tentang Program Kerja Doha, yang juga sering disebut sebagai Paket Juli. Pada
kesempatan tersebut berhasil disepakati kerangka (framework) perundingan lebih lanjut
untuk DDA (Doha Development Agenda) bagi lima isu utama yaitu perundingan
pertanian, akses pasar produk non-pertanian (NAMA), isu-isu pembangunan dan
impelementasi, jasa, serta Trade Facilitation dan penanganan Singapore issues lainnya.
Keputusan Dewan Umum WTO melampirkan Annex A sebagai framework
perundingan lebih lanjut untuk isu pertanian. Keputusan untuk ketiga pilar perundingan
sektor pertanian (subsidi domestik, akses pasar dan subsidi ekspor) adalah :
Subsidi Domestik :
a. Negara maju harus memotong 20% dari total subsidi domestiknya pada tahun
pertama implementasi perjanjian pertanian.
b. Pemberian subsidi untuk kategori blue box akan dibatasi sebesar 5% dari total
produksi pertanian pada tahun pertama implementasi.
c. Negara berkembang dibebaskan dari keharusan untuk menurunkan subsidi dalam
kategori de minimis asalkan subsidi tersebut ditujukan untuk membantu petani kecil
dan miskin.
Subsidi Ekspor :
a. Semua subsidi ekspor akan dihapuskan dan dilakukan secara paralel dengan
penghapusan elemen subsidi program seperti kredit ekspor, garansi kredit ekspor
atau program asuransi yang mempunyai masa pembayaran melebihi 180 hari.
b. Memperketat ketentuan kredit ekspor, garansi kredit ekspor atau program asuransi
yang mempunyai masa pembayaran 180 hari atau kurang, yang mencakup
pembayaran bunga, tingkat suku bunga minimum, dan ketentuan premi minimum.
c. Implementasi penghapusan subsidi ekspor bagi negara berkembang yang lebih lama
dibandingkan dengan negara maju.
d. Hak monopoli perusahaan negara di negara berkembang yang berperan dalam
menjamin stabilitas harga konsumen dan keamanan pangan, tidak harus dihapuskan.
e. Aturan pemberian bantuan makanan (food aid) diperketat untuk menghindari
penyalahgunaannya sebagai alat untuk mengalihkan kelebihan produksi negara
maju.
f. Beberapa aturan perlakuan khusus dan berbeda (S&D) untuk negara berkembang
diperkuat.
Akses Pasar :
a. Untuk alasan penyeragaman dan karena pertimbangan perbedaan dalam struktur
tarif, penurunan tarif akan menggunakan tiered formula.
b. Penurunan tarif akan dilakukan terhadap bound rate.
c. Paragraf mengenai special products (SP) dibuat lebih umum dan tidak lagi
menjamin jumlah produk yang dapat dikategorikan sebagai sensitive product.
Negara berkembang dapat menentukan jumlah produk yang dikategorikan sebagai
special products berdasarkan kriteria food security, livelihood security, dan rural
development.
KASUS BISNIS # 6
UNFAIR PROTECTION OR VALID DEFENSE?
”Kanada melontarkan keberatan WTO terhadap U.S...... Meksiko memperluas tindakan
anti-dumping............ Cina
memulai penyelidikan terhadap impor karet sintetik........
Permasalahan baja meningkatkan isu dari kredibilitas perdagangan bebas.....Hal itu harus
dihentikan” adalah isi sebagian headline yang beredar diseluruh dunia.
Teori-teori perdagangan internasional berargumentasi bahwa negara seharusnya
membuka pintu terhadap adanya perdagangan. Kebijakan perdagangan bebas yang
konvensional mengajarkan bahwa melalui perdagangan dengan negara lain, sebuah negara
dapat memberikan warga negaranya, jumlah yang besar dan pilihan akan barang yang
berharga murah dibandingkan jika negara tersebut menutup diri dari perdagangan. Meskipun
demikian,
sesungguhnya perdagangan bebas masih belum berlaku, sebab beberapa
pemerintah negara menghalangi. Meskipun banyak usaha dari World Trade Organization
(WTO) dan kelompok-kelompok negara yang lebih kecil, namun beberapa pemerintah negara
masih terlibat permainan dalam perdagangan. Secara luas, jumlah kasus anti-dumping yang
diajukan rata-rata 234 per tahun selama 7 tahun terakhir, dengan kasus yang tertinggi
sepanjang masa tercatat terjadi pada tahun 1999 yakni, 356 kasus.
Dimasa lalu, negara-negara terkaya di dunia akan secara khusus mengenakan biaya
pada negara berkembang yang menggunakan dumping. Tetapi hari ini, pasar yang besar juga
akan terjun dan terseret kedalam perselisihan. Cina saat ini meluncurkan sebuah keinginan
untuk menentukan apakah import karet sintetik (yang digunakan ban kendaraan dan alas kaki)
dari Jepang, Korea Selatan dan Rusia juga merupakan produk dumping. Meksiko memperluas
cakupan dari Sistem Pemberitahuan Impor Otomatis. Sistem ini meminta importir (dari sebuah
daftar yang berisi beberapa negara-negara tertentu) untuk memberitahukan petugas Meksiko
jumlah barang dan harga dari suatu pengiriman, 10 hari sebelum kedatangan yang dijadwalkan
di Meksiko. Pemberitahuan 10 hari sebelum kedatangan memberikan sebuah peringatan yang
lebih baik kepada produsen domestik akan adanya produk berharga murah yang akan masuk
sehingga mereka dapat melaporkan akan adanya dumping sebelum produk tersebut masuk ke
pasar. India membentuk sebuah badan untuk menangani kasus antidumping. Bahkan,
Argentina, Indonesia, Afrika Selatan dan Thailand menggunakan ini sebagai alat yang dikenal
secara umum untuk melakukan proteksi terhadap praktek dumping.
Mengapa dumping begitu populer? Dan yang cukup mengherankan, bahwa WTO
memperbolehkannya. WTO telah membuat terobosan penting dalam penerapan tarif, potongan
tarif melalui hampir setiap kategori produk pada beberapa tahun terakhir ini. Tetapi WTO
tidak memiliki otoritas untuk memberikan sanksi kepada perusahaan, hanya kepada
pemerintah negara dimana perusahaan itu berada. Kemudian, WTO tidak dapat mengadili
perusahaan yang melakukan praktek dumping di pasar lain. WTO hanya dapat meloloskan
aturan terhadap pemerintah dari suatu negara yang mengenakan sebuah kewajiban
antidumping. Tetapi, WTO mengijinkan negara-negara untuk melakukan pembalasan
melawan negara yang produsennya dicurigai melakukan dumping ketika itu dapat
ditunjukkkan seperti (1) adanya pelanggar yang dinyatakan secara jelas merugikan produsen
domestik dan (2) harga eksport yang lebih rendah dari biaya produksi atau lebih rendah dari
harga pasar asal barang tersebut.
Alternatif untuk mengajukan kasus anti-dumping yang diajukan ke WTO, Presiden
Amerika George W. Bush menyadarkan pada pasal 201 atau ”global safeguard” penyelidikan
dibawah hukum perdagangan Amerika untuk mengenakan tarif hingga 30% untuk impor baja.
Industri baja Amerika telah menderita dibawah serangan gencar baja impor dari banyak
negara yang antara lain dari Brasil, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan. Namun negara-negara
masih tetap mengajukan komplain tentang tindakan-tindakan tersebut sebelum keberadaan
WTO. Serupa, pada tahun 2004 pemerintah Amerika memberikan sebuah tamparan dengan
memberikan tarif sekitar 100% terhadap produk udang yang diimport dari Cina, dan Vietnam,
pembebanan biaya negara-negara tersebut dengan dumping terhadap produk udang-udangan di
pantai Amerika.
Pendukung tarif anti-dumping mengklaim bahwa mereka mencegah pelaku dumping
menjual dengan harga yang jauh lebih murah dari harga yang dikenakan oleh produsennya
dalam sebuah pasar target, yang dapat mengusir mereka agar keluar dari bisnis. Klaim lain
dalam
mendukung
kebijakan
antidumping
adalah
dengan
sebuah
jalan
terbaik
mempertahankan beberapa tindakan proteksi untuk menghadapi potensi bahaya dari
perdagangan bebas yang dijalankan sepenuhnya. Pihak yang tidak setuju dengan pengenaan
tarif antidumping berpendapat bahwa sekali tarif tersebut diterapkan maka kemungkinan kecil
bahwa kebijakan itu akan ditarik. Mereka juga mengklaim bahwa ganti rugi perusahaan dan
pemerintah sebuah kesepakatan bagus akan waktu dan uang untuk
menyimpan dan
memperdebatkan kasus tersebut..
Ini juga menjadi alasan bahwa ketakutan dari pengenaan biaya lebih dengan dumping
menyebabkan pesaing Internasional untuk menjaga harga mereka lebih tinggi pada sebuah
pasar target daripada akan berbalik terkena kasus tersebut. Hal ini akan menjadi alasan dan
jalan untuk mengijinkan bagi perusahaan domestik untuk membebani produk dengan harga
yang lebih tinggi dan tanpa kehilangan market share – memaksa konsumen untuk membayar
lebih untuk barang yang mereka beli.
PERTANYAAN
Soal #1 :
“Anda tidak dapat memberitahukan bahwa harga rendah yang mereka bayarkan untuk mesin
fax atau mobil adalah sesuatu yang tidak adil. Mereka tidak memperdulikan pada keuntungan
yang diterima perusahaan. Bagi mereka, hal tersebut adalah suatu penawaran yang bagus dan
mereka ingin hal tersebut berlanjut.”
 Apakah anda setuju dengan pendapat ini?
 Apakah anda kira orang dari budaya yang berbeda akan berpandangan berbeda
mengenai pendapat ini? Jelaskan jawaban anda.
Jawaban #1 :
 Dalam konteks ini ada 2 buah jawaban yang saling kontradiksi tergantung berada di
posisi mana orang tersebut.
a. Bagi konsumen adalah tentu hal yang lumrah jika ia mengharapkan suatu produk
yang bagus, murah dan banyak alternatif pilihan.
b. Namun ketika ia sebagai karyawan suatu perusahaan, yang terancam di PHK
dikarenakan masuknya produk dari luar dengan kualitas bagus dan harga yang
lebih murah tentu ia tidak akan suka dengan kondisi ini.
 Budaya memiliki peranan penting dalam mempengaruhi cara seseorang melihat suatu
permasalahan.
 Sebagai contoh : Jepang sebagai suatu negara dulu dikenal dengan begitu kuatnya yang
memegang teguh budayanya yang mereka gunakan sebagai dasar bagi mereka untuk
membatasi produk-produk dari luar masuk ke dalam pasar mereka yang dikhawatirkan
akan merusak budaya mereka.
 Beda dengan negara maju lainnya dimana isu masalah HAM ataupun lingkungan hidup
telah begitu kuat mempengaruhi mereka dalam melihat serta menilai apakah suatu
produk pantas serta etis untuk mereka terima atau tidak.
 Sedangkan bagi negara yang sedang berkembang dimana kemiskinan masih menjadi
permasalahan utama, jangankan permasalahan produk dengan dumping yang masih
jadi perdebatan, sedangkan produk barang selundupanpun masih banyak ditemukan.
Soal #2 :
 Seperti yang kita lihat, saat ini WTO tidak dapat ikut terlibat dalam memberikan sanksi
hukuman kepada suatu negara. Aksi ini hanya dapat ditujukan melalui pemerintah suatu
negara. Apakah anda pikir ini adalah kebijakan yang baik? Kenapa dan kenapa tidak?
 Kenapa anda pikir WTO tidak diberikan wewenang untuk memberikan sanksi perusahaan
dengan dumping? Jelaskan!
Jawaban #2 :
 Menurut kami ini adalah tindakan yang bijaksana. WTO seharusnya menjadi penengah
atau wasit, namun untuk sanksi memang harus diarahkan pada penyelesaian pada negara
yang terlibat. Hal ini untuk menghindari pemanfaatan WTO sebagai alat politik dari
segelintir negara untuk menekan negara lain. Hal ini akan menjadi hal yang berbahaya
dimana akan ada peluang baru untuk memanfaatkan isu ekonomi untuk kepentingan
politik suatu negara.
 WTO
terbentuk
berdasarkan
keanggotaan
negara
bukan
perusahaan
sehingga
penyelesaiannya diarahkan kepada penyelesaian antar negara dimana perusahaan yang
menjadi korban praktek dumping berada.
Soal #3 :
 Identifikasilah kasus antidumping yang baru-baru ini dibawa ke WTO.
 Gunakan artikel agar dapat mendiskusikan kasus tersebut.
 Identifikasi negara, produk, dan sanksi potensial.
 Anggaplah anda sebagai bagian dari anggota penyelesaian perselisihan WTO, apakah
anda akan memilih negara yang membalas melakukan dumping? Kenapa atau kenapa
tidak?????
Jawaban #3 (Kasus Antidumping) :

Indonesia sebagai negara yang melakukan perdagangan internasional dan juga anggota
dari WTO, pernah mengalami tuduhan praktek dumping pada produk kertas yang
diekspor ke Korea Selatan.

Kasus ini bermula ketika industri kertas Korea Selatan mengajukan petisi anti-dumping
terhadap produk kertas Indonesia kepada Korean Trade Commission (KTC) pada 30
September 2002.

Perusahaan yang dikenakan tuduhan dumping adalah PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk,
PT. Pindo Deli Pulp & Mills, PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan April Pine Paper
Trading Pte Ltd.
Fakta – Fakta Hukum
Para Pihak
a. Penggugat : Indonesia
b. Tergugat : Korea Selatan
Objek Sengketa

Produk kertas Indonesia yang dikenai tuduhan dumping mencakup 16 jenis produk,
tergolong dalam kelompok uncoated paper and paper board used for writing, printing, or
other graphic purpose serta carbon paper, self copy paper and other copying atau
transfer paper.
Kronologis Kasus

Korea Selatan mengajukan petisi anti-dumping terhadap produk kertas Indonesia kepada
Korean Trade Commission (KTC) pada 30 September 2002.

Perusahaan yang dikenakan tuduhan dumping adalah PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk,
PT. Pindo Deli Pulp & Mills, PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan April Pine Paper
Trading Pte Ltd.

Pada Mei 2003 Korea Selatan memberlakukan BM (bea masuk) anti dumping atas produk
kertas Indonesia, namun pada November 2003 mereka menurunkan BM anti dumping
terhadap produk kertas Indonesia ke Korsel.

Tepatnya pada 9 Mei 2003 KTC mengenai Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD)
sementara dengan besaran untuk PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk sebesar 51,61 persen,
PT Pindo Deli 11,65 persen, PT Indah Kiat 0,52 persen, April Pine dan lainnya sebesar
2,80 persen.

Kemudian Pada 7 November 2003, KPC menurunkan BMAD untuk PT Pabrik Kertas
Tjiwi Kimia Tbk, PT Pindo Deli dan PT Indah Kiat masingmasing sebesar 8,22 persen,
serta untuk April Pine dan lainnya 2,8 persen.

Pada 4 Juli 2004, Indonesia dan Korea Selatan mengadakan konsultasi bilateral akan
tetapi tidak mencapai kesepakatan.

27 September 2004, Disputes Settlement Body WTO membentuk Panel. Pihak yang
berpartisipasi diantaranya Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China dan Kanada.

1-2 Februari 2005, diselenggarakan Sidang Panel kesatu

30 Maret 2005, diselenggarakan Sidang Panel kedua

28 Oktober 2005, Panel Report
Gugatan Indonesia Terhadap Pemerintah Korea yaitu :

Gugatan Indonesia bahwa pemerintah Korea melakukan berbagai pelanggaran terhadap
ketentuan agreement on anti dumping WTO dalam tindakan anti dumping terhadap
produk kertas Indonesia.
Hasil Panel Report
1. KTC telah melanggar ketentuan WTO dalam hal penentuan margin dumping bagi
beberapa perusahaan Indonesia.
2. Korea Selatan telah melanggar ketentuan WTO dengan menolak data dari perusahaan
kertas Indonesia.
3. Dalam hal ini, Panel hanya memeriksa kasus hukum ekonomi berdasarkan klaim utama
yang diajukan oleh Indonesia.
4. Panel menolak permohonan Indonesia agar Panel membatalkan tindakan antidumping
yang dilakukan oleh Korea Selatan.
Sanksi yang dikenakan

Dalam kasus dumping kertas yang dituduhkan oleh Korea Selatan terhadap Indonesia
pada perusahaan eksportir produk kertas tersebut diatas, Indonesia berhasil
memenangkan sengketa anti-dumping ini.

Indonesia telah menggunakan haknya dan kemanfaatan dari mekanisme dan prinsipprinsip multilateralisme sistem perdagangan WTO terutama prinsip transparansi.

Indonesia untuk pertama kalinya memperoleh manfaat dari mekanisme penyelesaian
sengketa atau Dispute Settlement Mechanism (DSM) sebagai pihakpenggugat utama (main
complainant) yang merasa dirugikan atas penerapan
peraturan perdagangan yang
diterapkan oleh negara anggota WTO lain.

Indonesia mengajukan keberatan atas pemberlakuan kebijakan anti-dumping Korea ke
DSM dalam kasus Anti-Dumping untuk Korea-Certain Paper Products.

Pada tanggal 4 Juni 2004, Indonesia membawa Korea Selatan untuk melakukan konsultasi
penyelesaian sengketa atas pengenaan tindakan anti-dumping Korea Selatan terhadap
impor produk kertas asal Indonesia.

Hasil konsultasi tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan kedua belah pihak.
Indonesia kemudian mengajukan permintaan ke DSB WTO agar Korea Selatan mencabut
tindakan anti dumpingnya yang melanggar kewajibannya di WTO dan menyalahi
beberapa pasal dalam ketentuan Anti-Dumping.

Pada tanggal 28 Oktober 2005, DSB WTO menyampaikan Panel Report ke seluruh
anggota dan menyatakan bahwa tindakan anti-dumping Korea Selatan tidak konsisten dan
telah menyalahi ketentuan Persetujuan Anti-Dumping. Kedua belah pihak yang
bersengketa
pada
akhirnya
mencapai
kesepakatan
bahwa
Korea
harus
mengimplementasikan rekomendasi DSB dan menentukan jadwal waktu bagi pelaksanaan
rekomendasi DSB tersebut (reasonable period of time/RPT).

Namun sangat disayangkan hingga kini Korea Selatan belum juga mematuhi keputusan
DSB, meskipun telah dinyatakan salah menerapkan bea masuk antidumping (BMAD)
terhadap produk kertas dari Indonesia, karena belum juga mencabut pengenaan bea masuk
anti-dumping tersebut. Padahal Badan Penyelesaian Sengketa (Dispute Settlement
Body/DSB) Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) telah menyatakan Korea Selatan
melakukan kesalahan prosedur dalam penyelidikan antidumping kertas Indonesia pada
2003. Untuk itu DSB meminta Korea Selatan segera menjalankan keputusan ini.
Jika kami bagian dari WTO’s Dispute Settlement Body…..

Tindakan membalas melakukan dumping oleh suatu negara terhadap negara lain yang
melakukan praktek dumping adalah hal yang sah selama hal tersebut benar didasarkan
fakta dan bukan berdasarkan asumsi dan kecurigaan semata.

Negara yang melakukan antidumping harus bisa menunjukkan bahwa dumping benarbenar terjadi, dapat menghitung kerugiannya terhadap perusahaan dalam
negerinya
sendiri, dan dapat menunjukan bahwa kerugian yang dialaminya nyata.

Karena free trade itu juga harus memenuhi prinsip Fair trade, adalah merupakan
kewajiban dari pemerintah suatu negara untuk melindungi kepentingan nasional, apalagi
yang bersifat strategis, yang menguasai hajat hidup rakyatnya seperti sektor pangan,
pertahanan dan keamanan, sektor migas, dll.

Hal ini ditujukan untuk menghindari atau meminimalisir ketergantungan sektor tersebut
dari negara lain yang mungkin pada kondisi normal atau damai tidak akan memberikan
persoalan yang berarti. Namun apabila dalam kondisi konflik atau perang, maka hal ini
akan menimbulkan permasalahan yang tidak sederhana.
PRESENTASI BISNIS INTERNASIONAL
ANGKATAN E-31, MB-IPB
Kelompok
:V
Anggota
: - Lily Purnama Sari (P056080622.31E)
- Minia Artpita Barus (P056080623.31E)
Topik/Judul
: Unfair Protection or Valid Defense?
Dosen Pengasuh
: Arief Daryanto, Ir, DipAgEc,MEc, PhD.
Pertanyaan/Tanggapan:
1. Nama
: Bambang Ismono (P056080432.31E)
Pertanyaan :
WTO belum sepakat mengenai dumping dan anti dumping. USA adalah sebuah
negara yang besar, dan kita susah untuk melawan mereka. Paha ayam merupakan bagian
yang banyak mengandung kolesterol sehingga di USA tidak banyak peminatnya dan
harganya menjadi rendah. Harga tersebut kemudian dialihkan ke dada ayam, sehingga
akhirnya harga paha ayam murah dan dada ayam menjadi mahal. Menurut kelompok
Anda apakah hal tersebut merupakan contoh dumping atau tidak? Bagaimana pendapat
Anda mengenai fenomena ini, apalagi hal tersebut berputar terus menerus?.
Jawaban/Tanggapan:
Menurut kami hal tersebut bukan merupakan praktik dumping, karena balik ke
pengertian dumping adalah eksportir menjual dengan harga ekspor lebih murah dari harga
bila dijual di pasar negara asal barang. Jadi, pertama kali kita harus membandingkan nilai
jual paha ayam tersebut ke pasar luar negeri dengan harga jual di pasar dalam negeri. Bila
harga jual ke pasar luar negeri tidak lebih tinggi/sama dibandingkan dengan harga jual di
pasar dalam negeri maka berarti tidak terjadi potik dumping.
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada teori awal perdagangan internasional,
bahwa setiap Negara memiliki budaya yang berbeda, dimana warga Negara USA
memiliki kesadaran yang cukup tinggi akan pentingnya kesehatan yang berimbas pada
perilaku yang menghindari makanan berkolesterol tinggi. Perusahaan yang melihat
peluang bisnis, akan mencari celah untuk menarik keuntungan yang besar dari kondisi ini.
Kecenderungan ekonomi yang berlaku umum yaitu “Semakin berkualitas barang maka
akan tinggi pula harga barang tersebut”. Jika dilihat dari hal ini, maka dada ayam yang
tingkat kesehatannya lebih tinggi dibandingkan paha ayam wajar untuk diberi harga yang
lebih mahal di USA. Sedangkan untuk paha ayam yang harganya lebih murah, selain
dijual di dalam negeri yang peminatnya sangat sedikit maka perusahaan akan mencoba
mencari pelanggan baru. Salah satunya adalah menjual barang keluar negeri yang tingkat
kehidupannya rendah dan belum begitu memperhatikan pentingnya kesehatan.
Memang hal ini akan merugikan produsen dalam negeri Negara yang dimasuki
oleh perusahaan pengekspor namun untuk mengurangi tingkat kerugian dari produsen,
pemerintah dapat membuat kebijakan tariff bea masuk dan memberikan subsidi kepada
produsen untuk mampu bersaing. Pemerintah berhak campur tangan dalam urusan
perdagangan internasional ini mengingat hal-hal seperti ini sering terjadi.
2. Nama
: Askin Tohari (P056080662.31E)
Pertanyaan :
Indonesia sebagai negara anggota WTO berarti ikut serta dalam perdagangan
bebas, dan harus membuka diri terhadap barang luar negeri. Namun banyak negara-negara
yang melakukan subsidi, sehingga harga produk-produknya menjadi rendah dan produk
kita menjadi kalah bersaing. Menurut kelompok Anda apakah kita masih perlu ikut serta
dalam WTO?
Jawaban/Tanggapan:
Ada untung rugi bila ikut WTO, namun perlu dilakukan riset dahulu sebelum
memutuskan akan ikut atau keluar dari WTO. China saja sebagai sebuah negara yang
besar melakukan riset selama 5 tahun sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan
WTO. Memang selama ini negara-negara shareholder WTO seperti USA dan Uni Eropa
banyak mementingkan kepentingan dalam negerinya. Dan negara-negara berkembang
seperti Indonesia, Australia, Selandia Baru kurang diberikan pengetahuan (transfer
knowledge) dari mereka sehingga bila kita keluar dari WTO pun secara prinsipal kita
memang belum siap. Jadi untuk saat ini, posisi kita sulit untuk keluar dari WTO.
Jika Indonesia keluar dari WTO berarti kita tidak akan bisa melakukan ekspor
keluar negeri, yang berarti juga bahwa terjadi pengurangan pendapatan devisa negara.
Mengapa kita tidak bisa mengikuti perdagangan internasional jika keluar dari WTO?
Salah satunya adalah kita tidak akan tahu persyaratan apa yang harus dipenuhi untuk
melakukan ekspor dan kita tidak tahu peraturan tariff terbaru yang telah ditetapkan. Untuk
mengantisipasi hal ini, maka salah satunya adalah membaca dengan teliti dokumen
perjanjian kerjasama perdagangan bebas antara dua negara. Apabila isi perjanjian tidak
akan dapat kita penuhi dimana hanya akan membawa erugian bagi negara kita dimana kita
akan mengalami kesulitan untuk mengekspor barang-barang dalam negeri, maka lebih
baiik perjanjian kerjasama tersebut dibatalkan / tidak ditandatangani. Walaupun ini salah
satu alternatif, tetapi seiring dengan itu, negara kita harus segera membenahi diri dengan
mulai menggunakan tekhnologi yag lebih baik untuk menghasilkan barang yang lebih
berkualitas yang dapat bersaing dengan produsen dari negara lain.
3. Nama
: Bambang Bimo Ajie (P056080712.31E)
Pertanyaan :
Dalam kasus tuntutan mengenai dumping kertas antara Indonesia dan Korea,
terlihat bahwa WTO yang seharusnya mempunyai peran sebagai penengah dan wasit dari
sengketa yang terjadi, tidak terlihat perannya secara nyata dalam penyelesaian masalah
sengketa antara kedua negara tersebut, dan kasus tersebut terlihat berputar-putar. Lalu
mengapa suatu negara harus melakukan pembalasan dumping apalagi bila terbukti tidak
ada dumping?
Jawaban/Tanggapan:
Seperti yang diketahui dan diterangkan sebelumnya bahwa untuk pembentukan
WTO pun banyak terjadi pertemuan-pertemuan yang berakhir pada kegagalan dalam
kesepakatan. Hal ini dikarenakan masing-masing negara mempertimbangkan usulan
kebijakan tersebut dengan kepentingan pribadi negaranya. WTO membuat aturan-aturan
perdagangan internasional namun karena yang bersengketa adalah perusahaan dari
masing-masing negara maka yang berhak menyelesaikan adalah perusahaan tersebut
melalui bantuan pemerintah. WTO sebagai wasit hanya memberitahukan hasil bahwa
perusahaan tersebut apakah benar telah melakukan hal-hal yang melanggar aturan yang
ditetapkan oleh WTO, berdasarkan tuntutan dan fakta yang ada. Memang seharusnya
WTO memiliki suatu kekuatan untuk menghukum negara atau perusahaan yang tidak mau
menjalankan hasil keputusan WTO, sehingga perusahaan /negara tidak mudah
menentukan suatu perbuatan perusahaan sebagai dumping tanpa bukti yang jelas.
Dalam kasus sengketa antara Indonesia dan Korea memang terlihat bahwa peran
WTO tidak terlalu nyata, dimana pada akhirnya melalui proses yang panjang, perusahaan
Korea belum mengindahkan hasil keputusan WTO.
Menanggapi masalah melakukan dumping kembali, Maksud disini bukan
melakukan kembali dumping untuk membalas dumping yang dilakukan oleh negara lain
tetapi melakukan anti dumping dengan mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD)
yang besarnya adalah margin dumping yaitu selisih antara harga jual di pasar domestik
dengan harga jual ke pasar internasional.
DAFTAR PUSTAKA
WTO. 2003. Understanding the WTO. World Trade Organization
Direktorat Perdagangan dan Perindustrian Multilateral, Persetujuan Bidang Pertanian,
Terjemaha,n Ditjen Multilateral Ekubang, Deplu. 2004.
Direktorat Perdagangan dan Perindustrian Multilateral, Sekilas WTO. World Trade
Organization, Ditjen Multilateral Ekubang, Deplu. 2003.
WTO. The Legal Text, The Results of the Uruguay Round of Multilateral Trade Negotiations,
2002.
Alan M. Rugman, Donald J. Lecraw, Laurence D. Booth, Bisnis Internasional 2, PT. Pustaka
Binaman Pressindo, 1993
Hidayat, Mochamad Slamet, dkk. 2006. Sekilas Tentang WTO (World Trade Organization).
Jakarta : Direktorat Perdagangan, Perindustrian, Investasi dan HKI, Direktorat Jendral
Multilateral Departemen Luar Negeri.
Kartadjoemena, H.S. 1996. “GATT dan WTO” Sistem, Forum dan Lembaga Internasional di
Bidang Perdagangan. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.
Widayanto, Sulistyo, 2007. Buletin Departemen Perdagangan Ditjen KPI Negosiasi untuk
Mengamankan Kepentingan Nasional di Bidang Perdagangan. Jakarta.
Rafianti, Laina, 2005. Unpad Journal of International Law : Tindakan Anti Dumping Dalam
Kegiatan Perdagangan Internasional. Bandung
Ratya Anindita dan Michael R. Reed, 2008, Bisnis dan Perdagangan Internasional, Penerbit
ANDI, Yogyakarta
Download