Menawarkan Inovasi

advertisement
REPUBLIKA
khazanah
20
Halaman >>
Selasa > 26 Oktober 2010
Menawarkan
Inovasi
Oleh Yusuf Assidiq
raktisi kedokteran modern terus mempelajari risalah yang ditulis Serafeddin Sabuncuoglu, yaitu Cerrahiye-i Ilhaniye. Buku ini
berisi penjelasan lengkap mengenai ilmu
bedah. Kitab itu diakui sebagai salah satu ensiklopedi bedah terlengkap dari era Turki Usmani.
Buku tersebut disusun Sabuncuoglu saat telah
berusia 80 tahun. Akan tetapi, usia lanjut tidak
menyurutkan semangatnya dalam berkarya dan
memberikan sumbangan intelektual berharga.
Menurut Ibrahim Basagaoglu, pakar medis dari
Universitas Istanbul, karya Sabuncuoglu itu merupakan buku bedah pertama yang dilengkapi gambar ilustrasi.
Secara keseluruhan, buku itu terdiri dari tiga
bab, 191 pokok bahasan, dan 412 halaman. Di
seluruh dunia, terdapat tiga salinan buku ini.
Salinan pertama saat ini masih disimpan di
Perpustakaan Fatih Millet, Istanbul, Turki. Salinan
kedua berada di Departemen Sejarah Kedokteran
di Universitas Istanbul. Dan, Salinan terakhir dapat
ditemukan di Perpustakaan Biblioteaque, Paris,
Prancis.
Sejarawan medis dari Departemen Ilmu Bedah
Anak Universitas Istanbul, Nil Sari, menyampaikan
pujian terhadap karya Serafeddin. Ia mengatakan,
selain ilustrasi prosedur operasi bedah, risalah itu
berperan penting dalam pengembangan teknik
bedah.
Sabuncuoglu mampu mengombinasikan prosedur bedah dari peradaban Yunani, Arab, dan Turk,
de-ngan berbagai inovasi yang diciptakannya
sendiri. Hasilnya adalah sebuah praktik ilmu bedah
dengan teknik cemerlang hingga berpengaruh luas
di belahan benua Eropa.
Disebutkan Nil Sari, walau telah banyak literatur
kedokteran yang membahas teknik bedah, akan
tetapi bidang ini belum sepenuhnya digali secara
sistematis. Keistimewaan karya Serafeddin adalah
penjelasannya yang lengkap mengenai teori dan
praktik bedah anak.
Pada pertemuan asosiasi bedah anak di Yunani
pada 1983, Nil Sari mengungkapkan bahwa hanya
Sabuncuoglu yang secara konsisten menerjemahkan Buku Petunjuk tentang Pembedahan yang disusun al-Zahrawi. Ia kemudian memodifikasi
teknik, instrumen, dan prosedur bedah dari
ilmuwan legendaris tersebut.
Cerrahiye-i Ilhaniye, ujar Nil Sari, membahas
empat bidang penting, yaitu teknik kateterisasi;
bedah umum, termasuk pediatri dan bedah plastik;
ortopedi; serta persiapan operasi. Di dalamnya
mengkaji tentang berbagai penanganan bedah,
antara lain penyembuhan hydrocephalus, pengobatan jari, pengobatan anus, dan khitan anak.
Di sisi lain, Sabuncuoglu memandang penting
bidang farmasi, terutama keberadaan fasilitas
apotek. Hendaknya, apotek tersedia di banyak tempat sehingga memudahkan masyarakat memperoleh obat-obatan. Karya medisnya yang lain adalah
buku berjudul Mucerrebname (Dalam Perjuangan).
P
●
Perawatan Pasien dalam Cerrahiye-i Ilhaniye
MUSLIMHERITAGE.COM
Serafeddin Sabuncuoglu
AHLI ANESTESI
TURKI USMANI
PEMIKIRAN SERAFEDDIN SABUNCUOGLU
BERPENGARUH BESAR BAGI KEMAJUAN
KEDOKTERAN DUNIA.
■ ed: ferry kisihandi
●
Mandrake
Oleh Yusuf Assidiq
S
uasana keilmuan di Amasya
memberi pengaruh tersendiri
bagi Serafeddin Sabuncuoglu.
Daerah yang berada Anatolia
Tengah itu memang dikenal
sebagai pusat ilmu, perdagangan, dan seni. Lingkungan yang
sarat tradisi keilmuan seakan membawanya larut di dalamnya. Ia
merambah ke dalam luasnya ilmu
kedokteran.
Kemampuannya kian terasah saat ia
bergabung dengan rumah sakit di
Amasya yang dibangun pada 1308
Masehi oleh Pemerintah Turki Usmani.
Selama 14 tahun berpraktik di sana,
Serafeddin telah melakukan sejumlah
operasi pada tubuh manusia. Lalu,
merintis teknik sterilisasi, analgesi atau
menahan rasa sakit, dan anastesi atau
pembiusan.
Teknik-teknik itu sangat penting
dalam proses pembedahan. Ketiga
teknik yang ia kembangkan berbasis
pada pemanfaatan kandungan khasiat
tanaman obat. Adalah akar tanaman
mandrake serta minyak almond yang
menurut eksperimen medisnya ternyata
bisa digunakan untuk melakukan
anelgesi ataupun anestesi.
Pada tanaman mandrake, terdapat
sejumlah zat yang bisa digunakan
sebagai obat penenang dan pembiusan.
Ibrahim Basagaoglu, pakar medis dari
Departemen Sejarah Kedokteran dan
Ilmu Anestesi, Universitas Istanbul,
pada artikel “Anesthesia Techniques in
●
Khitan
the Fifteenth Century”, menyampaikan
kekagumannya pada Sabuncuoglu.
Menurut dia, di samping menemukan
kombinasi tanaman obat yang tepat,
Sabuncuoglu juga berhasil merintis
teknik dan prosedur anestesi modern.
Serafeddin menuliskannya dalam kitab
kedokteran yang membuatnya terkenal,
yaitu Cerrahiye-i Ilhaniye. Kitab ini
ditulis saat ia berusia 80 tahun.
Sabuncuoglu memaparkan, beberapa
pasien bisa tahan ketika dilakukan
katerisasi, sebagian lainnya tidak.
Maka itu, obat bius atau murkid perlu
disiapkan. Ia pun memberikan
langkah-langkah pembuatan ramuan
anestesi tersebut.
Akar tanaman mandrake (luffah)
diambil sebagian, lalu dicampurkan ke
dalam minyak almond. Biarkan selama
satu malam. Setelah itu, berikan satu
sendok larutan kepada pasien sesudah
makan. Beberapa menit kemudian, sang
pasien sudah tertidur.
Ia juga mengingatkan, pemberian
obat bius itu harus memperhatikan
dosis secara akurat. Bagi orang dewasa,
takarannya satu sendok makan. Untuk
pasien anak-anak, cukup separuhnya.
Ia meminta para dokter dan ahli bedah
tidak menambah atau mengurangi dosis
agar menghindari malapraktik. Prosedur anestesi dan pembuatan obat anestesi merupakan sumbangsih berharga
Sabuncuoglu di dunia kedokteran.
Ia menyempurnakan teknik serupa
yang sudah berlangsung sejak dahulu
kala. Sejarah menyebutkan, anestesi
telah dipakai dalam lingkup
pengobatan pada zaman peradaban
Mesir, Mesopotamia, Assyria, Yunani,
hingga Romawi kuno. Masyarakat kuno
menggunakan tanaman opium, selain
mandrake, untuk keperluan ini.
Kandungan zat pada tanaman opium
juga efektif dalam proses anestesi dan
pengurang rasa sakit. Era kejayaan
Islam meneruskan tradisi ini dengan
memanfaatkan khasiat tanaman
tersebut secara luas dalam praktik
medis. Al Razi (845-930) adalah dokter
dan ahli bedah Muslim kenamaan yang
memakai tanaman itu dalam operasi.
Demikian pula dengan Abu Qasim al
Ammar (936-1013). Ia kerap
mengandalkan tanaman opium dan
mandrake pra dan pascaoperasi
pembedahan. Ia bahkan menuangkan
teknik yang digunakannya dalam buku
bertajuk al-Tashrif. Pada buku Canon
of Medicine, Ibnu Sina mengatakan
bahwa opium dan mandrake sebagai
tanaman obat paling efektif. Khususnya dalam anestesi dan analgesi.
Empat abad berikutnya,
Sabuncuoglu memperkuat teori dan
praktik pemanfaatan tanaman obat,
semisal opium dan mandrake, pada
proses anestesi ataupun pengobatan
sakit kepala dan luka terbuka. Seperti
dokter dan ahli bedah Muslim lainnya,
ia juga menggunakan teknik anestesi
dengan cara hirup.
Bahan spons dicelupkan pada
larutan dari campuran tanaman
mandrake, opium, dengan minyak
almond. Kemudian, ditutupkan ke
hidung pasien. Tak berapa lama, pasien
itu tertidur dan dapat dioperasi. Tak
hanya mahir di bidang anestesi, bedah
menjadi keahlian lainnya yang ia
kuasai dengan baik.
Kontribusi paling penting adalah
penyebaran pengetahuan bedah anak.
Ia mengkaji secara mendalam sejumlah
aspek mengenai bidang ini. Salah satu
bagian dari buku Cerrahiye-i Ilhaniye
membahas teknik bedah anak. Lewat
buku itu, bidang bedah anak
memperoleh pijakan kuat pada lingkup
kedokteran.
Penjelasan sistematis dan berbagai
modifikasi medis dalam buku tadi
membuatnya dijadikan salah satu
referensi utama buku-buku terkait
operasi bedah, selain buku karya alZahrawi. Sabuncuoglu mengembangkan teknik bedah anak yang mencakup
praktik operasi bedah bayi, balita, dan
anak-anak.
Secara umum, beberapa terobosan
baru mampu dihasilkan, misalnya
menyangkut proses bedah, teknik
bedah, instrumen bedah, dan
penanganan setelah operasi. Prosedur
yang dilakukan merupakan kombinasi
dari metode bedah anak yang sudah
dipraktikkan di dunia kedokteran
Yunani, Arab, Persia, dan Romawi.
Ragam inovasi pada prosedur
anestesi, analgesi, ataupun operasi
bedah dari Sabuncuoglu berpengaruh
besar bagi kemajuan ilmu kedokteran
di seluruh dunia. ■ ed: ferry kisihandi
Download