eksistensi pers pada pemberitaan politik kasus century

advertisement
EKSISTENSI PERS PADA
PEMBERITAAN POLITIK KASUS CENTURY
“STUDI KOMPARATIF JURNAL NASIONAL DAN KORAN
TEMPO”
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana (S.sos.)
Oleh :
ZUBEIR
Nim: 104033201149
PROGRAM STUDI ILMU POLITIK
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M
ABSTRAK
Zubeir
Eksistensi Pers Pada Pemberitaan Politik “Kasus Century” (Studi
Komparatif Jurnal Nasional Dan Koran Tempo)
Pers merupakan sarana demokrasi untuk rakyat sebagai sumber
pengetahuan dan untuk menjadi penyeimbang (check and balances) pada lembaga
demokrasi yang ada seperti eksekutif, yudikatif dan legislative bilamana ada
ketimpangan permaslahan. Pers dinilai sangat efektif dalam berperan dalam
demokrasi dan politik dibandingkan kekuatan-kekuatan demokrasi yang ada, pers
juga dapat menajaid sebagai ruang public (public sphere) di mana memberi ruang
para pengamat maupun masyarakat dalam berpendapat, maka tidak salah pers
dijadikan salah satu pilar demokrasi dan juga dilindungi eksistensinya.
Kasus Century merupakan kasus yang melibatkan pejabat pemerintah
dalam mengucurkan dana talangan(bailout) pada Bank Century yang di nilai
janggal pada saat proses dana talangan, meskipun bank telah mendapatkan dana
talangan bank itupun malah mengalami kerugian dan merugikan nasabah. Kasus
Century sendiri sebelumnya tidak di ungkap ke publik yang hanya diketahui pada
kalangan tertentu (laten), kasus ini muncul disebabkan dengan pemberitaan
diberbagai media kasus ini menjadi sorotan publik dan opini yang selalu
berkembang serta memberikan kesan pengetahuan politik pada masyarakat dan
khalayak. Kasus century merupakan kasus yang dinilai besar karena melibatkan
para pejabat publik yang sangat dikenal masyarakat dan juga membawa dampak
besar dengan adanya hak angket dan sidang paripurna dalam menyikapi kasus ini
sehingga munculnya tawar menawar (bargaining) politik antara partai di saat
penentuan sikap dalam menangani kasus Century.
Pada kasus Century eksistensi pers semakin menguat dengan adanya
pemberitaan politik diberbagai media dari media cetak, surat kabar, elektronik dan
lain-lain, antara lain media Jurnal Nasional dan Koran Tempo yang juga
merupakan bagian pers cukup berperan dalam menginformasikan setelah
dilakukan penelitian pada surat kabar yang dirilis telah memberikan sebuah
informasi pengetahuan politik dalam pemberitaan kasus Century, dengan
memberitakan politik secara intens dalam memberitakan kasus Century dan juga
pola teori komunikasi yang digunakan dapat memberikan khalayak perhatian dan
pengetahuan khusus pada jalannya kasus Century saat bergejolak pemerintahan.
Melalui pemberitaan dampak yang menimbulkan gerakan kognitif pada setiap
individu khalayak yang diperoleh dari pembertiaan kasus ini.
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Alah SWT, yang telah memberikan
limpahan kasih saying dan karunia yang tiada terhingga kepada penulis. Shalawat
dan salam selalu tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sehingga penulis
dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang berjudul “Eksistensi Pers Pada
Pemberitaan Politik Kasus Century ”Studi Komparatif Jurnal Nasional Dan
Koran Tempo”.
Pada kesempatan ini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi ini. Untuk itu,
penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak diantaranya :
1. Bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, selaku Rektor UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Prof. Dr. Bahtiar Effendy,M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sayrif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Hj. Dra. Wiwi Siti Sajaroh, M.Ag., selaku Ketua Program Studi Ilmu
Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Idris Thaha, M.Si., selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan pengarahan dan masukan dalam penulisan karya ini.
5. Seluruh dosen dan segenap staf pengajar pada Program Studi Ilmu Politik,
terima kasih atas proses pembelajaran yang telah penulis jalani selama ini.
ii
6. Media Jurnal Nasional dan Koran Tempo sebagai media yang diteliti
dalam pemberitaan politik sebagai narasumber yang telah berbagi
informasi kepada penulis, serta terima kasih pula atas saran dan kritiknya.
7. Teruntuk kedua orang tuaku, Zulham Efendy dan Sariyana,. untukmu
penulis persembahkan karya ini. Do’a dan harapanmu membuat penulis
terpacu untuk memberikan yang terbaik dalam kehidupan ini.
8. To My Family, untuk adik-adik ku, Lukman, Nur Adillah, dan
Abdurrahman. Terima kasih untuk dukungan Do’a dan moril yang
diberikan kepada penulis. Dukungan ini memberikan semangat kepada
penulis untuk bisa memberikan yang terbaik untuk kalian.
9. Untuk seluruh sahabatku anak-anak Fraksi Pojok; Praga, Yudhi,
Sucilawati, Ikbal, Ramli, Iyok, Jabbar, Basit, Bayu. Terima kasih atas
dukungan kepada penulis dalam penyusunan karya ini. Serta teman-teman
PPI angkatan 2004/2005 yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca sekalian. Akhirnya,
hanya kepada Allah-lah penulis serahkan, semoga segala amal baik yang telah
mereka berikan mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. Amin.
Jakarta,
Penulis,
ZUBEIR
iii
DAFTAR ISI
ABSTRAK ........................................................................................ .........
i
KATA PENGANTAR ...............................................................................
ii
DAFTAR ISI ...............................................................................................
iii
BAB I
BAB II
BAB III
BAB V
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...............................................
1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ...........................
6
C. Metodologi Penelitian ..................................................
6
D. Tujuan dan manfaat penelitian ......................................
8
E. Sistematika Penulisan ...................................................
8
LANDASAN TEORI
A. Makna dan Peran Pers ................................................
10
B. Pers Sebagai Kekuatan Politik .....................................
13
C. Surat Kabar Dan Berita Sebagai Intepretasi Politik .....
19
KASUS CENTURY BERMUATAN POLITIK
A. Awal berdirinya Bank Century ...................................
25
B. Latar belakang kasus Century .....................................
27
C. Kronologi kasus Century ..............................................
34
EKSISTENSI PERS DALAM PEMBERITAAN POLITIK
KASUS CENTURY
A. Dampak kekuatan pers dalam politik pada pemberitaan kasus
Century .........................................................................
vi
48
B. Studi Komparatif Pemberitaan Kasus Century Pada Surat
Kabar Jurnal Nasional dan Koran Tempo ................
55
C. Analisa Kekuatan Pers Pada Pemberitaan Kasus Century di
Surat Kabar Jurnal Nasional dan Koran Tempo ..........
BAB V
63
PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................
67
B. Saran dan kritik .............................................................
68
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
69
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pada puncak era reformasi pers mempunyai andil yang sangat besar, ketika
rakyat terbuka wawasan politik pada pemerintahan dan demokrasi bukan hanya
untuk hak milik dan dapat diketahui oleh kaum elit saja, tetapi rakyat juga
mempunyai andil dalam setiap kegiatan dalam negaranya. Pada saat itu pula
kekuatan peran pers terbebaskan dengan terbukanya keran kebebasan informasi.
Kekuatan pers kembali unjuk gigi untuk tetap bereksistensi pada negara
setelah beberapa tahun reformasi terlewati, melalui pemberitaan di berbagai media
dalam mengawal dengan pemberitaan suatu kasus yang krusial dan membawa
keresahan publik dan pemerintah yaitu “kasus Century” ketika kasus Century
mencuat ke publik akhir 2009, di mana kasus ini sebelumnya tidak terungkap di
publik.
Kasus Century diduga melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara dan
mantan petinggi negara serta oknum pemerintahan bahkan disebut-sebut kasus ini
ada “konspirasi tingkat tinggi” serta skandal hukum yang berdampak besar dan
efek domino pada skala politik nasional sendiri. Kasus Century menjadi sorotan di
berbagai media dibandingkan dengan kasus-kasus politik lainnya dan banyaknya
politisi menanggapi serta memberi keterangan dan perhatian yang cukup
signifikan dalam kasus ini. Pergolakan politik pun terjadi cukup jelas di badan
pemerintahan dengan adanya Hak Angket dan Sidang Paripurna dalam menyikapi
kasus ini.
1
2
Kasus Century adalah kasus pengucuran dana(bailout) oleh pemerintah
pada Bank Century, dananya diduga mengalir pada salah satu partai politik dan
proses bailout yang janggal pada proses tersebut disinyalir ada praktik rekayasa
dan kolusi dalam penanganan kasus ini.
Bermula pada transisi politik yang dimulai pada saat era reformasi banyak
bermunculan pergolakan dan anomali politik yang terjadi salah satunya kasus
Century, era baru ini memberikan kita kesempatan untuk kebangkitan kembali
atas hak dan kewajiban menjalankan demokrasi, warga negara mempunyai hak
untuk ikut serta dalam demokrasi dan kewajiban pemerintah dalam menjalankan
konsep demokrasi yang ada di Indonesia. Yaitu dengan mengetahui pergolakan
politik yang terjadi dengan memperhatikan alat demokrasi yang ada, salah satunya
pers melalui pemberitaan politik yang dimunculkan.
Pers merupakan salah satu alat demokrasi, di mana demokrasi yang kita
kenal sebagai sebuah konsep yang membutuhkan saling mengontrol kekuasaan.
Kekuasaan tertinggi dalam negara berada di tangan rakyat. Rakyat yang
memberikan ketentuan dalam masalah-masalah mengenai kehidupannya termasuk
dalam menilai kebijakan negara, karena kebijakan tersebut akan menentukan
kehidupan rakyat. Dengan demikian negara yang menganut sistem demokrasi
adalah negara yang diselanggarakan berdasarkan kehendak dan kemauan rakyat.1
Dalam demokrasi rakyat harus dilibatkan dalam politik, minimal pada proses
politik yaitu keikutsertaan memberikan suaranya pada saat pemilu ataupun tahu
1
Dede Rosyada, dkk., Demokrasi,Hak Asasi Manusia Dan Masyarakat Madani (Jakarta:
ICCE UIN SYARIF HIDAYATULLAH, 2003), h. 111.
3
problem politik yang berlangsung, sehingga slogan dari rakyat, oleh rakyat dan
untuk rakyat bukan lagi cuma isapan jempol belaka.2
Dalam demokrasi juga dikenal istilah trias politika yang membagi
kekuasaan negara menjadi tiga yaitu eksekutif, yudikatif dan legislatif. Pembagian
kekuasaan ini diperlukan agar terjadi keseimbangan antar lembaga negara,
sehingga
lembaga-lembaga
negara
bisa
saling
mengawasi
dan
saling
mengimbangi (check and balances). Kekuasaan eksekutif dilaksanakan oleh
lembaga pemerintahan, yudikatif dilaksanakan oleh lembaga peradilan dan
legislatif dilaksanakan oleh lembaga perwakilan rakyat. Dalam hal ini kita ketahui
Indonesia menganut sistem ini untuk menjalankan sistem demokrasinya.
Namun ketiga komponen ini masih kurang lengkap yang bersinergi dan
tidak dapat berjalan dengan cita-cita demokrasi yang diharapkan, yang hanya
bermodalkan wakil rakyat dan lembaga pemerintahan saja tidak cukup
menampung aspirasi rakyat, lembaga pers-lah yang dibutuhkan dalam setiap
negara agar pada setiap kebijakan yang dapat diketahui oleh rakyat secara cepat,
akurat, dan terpercaya.
Pers mempunyai andil dalam demokrasi serta dalam kehidupan bernegara
bahkan disebutkan oleh pakar pengamat politik modern salah satunya Eric Louw
yang mengungkapkan pers termasuk dari bagian keempat dari bagian sistem di
atas, yang mempunyai peran sangat penting pada jalannya ketiga sistem ini guna
menghubungkan tiga sistem ini pada rakyat sebagai sistem kontrol agar
masyarakat berperan aktif dalam sistem demokrasi.
2
Ibid, h121.
4
Pers dijadikan sebuah alat hukum yang dapat dilindungi sebagai landasan
dari persatuan negara-negara yaitu PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa), piagam PBB
tentang hak asasi manusia yang berbunyi “… setiap orang berhak atas kebebasan
mempunyai dan mengeluarkan pendapat ….”3, dalam hak ini termasuk kebebasan
memiliki tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan
informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang
batas- batas wilayah.
Begitu juga sistem yang ada di Indonesia pers menjadi suatu yang dapat
dilindungi dengan dasar hukumnya yaitu yang terdapat pada Undang-Undang
Dasar (UUD) 1945 pasal 28 yang berbunyi tentang “… kemerdekaan berserikat
dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan ….”4. Begitu juga
pada pasal yang terdapat pada pasal 28F, yang menyatakan “… setiap orang
berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh
memilliki
menyimpan
mengolah
dan
menyampaikan
informasi
dengan
menggunakan segala jenis saluran yang tersedia ....”5 Dan juga pada ketetapan
Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) tentang hak asasi manusia, yang menyatakan
bahwa “… setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi ….”6
Pers di Indonesia sangat berperan sekali dalam menciptakan sistem
demokrasi terbukti pada tahun 1945-1950-an pada masa ini, pers sering disebut
3
Resolusi Majelis Umum PBB 217 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia
10 Desember 1948 di Palais de Chaillot, Paris, Eleanor Roosevelt menyebutnya sebagai "Magna
Carta bagi seluruh umat manusia". diakses pada 18 Maret 2011 artikel di akses pada 18 Februari
2011 dari http://id.wikisource.org/wiki/Pernyataan_Umum_tentang_Hak-Hak_Asasi_Manusia.
4
Pasal 28 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
5
Pasal 28F Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
6
ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998
5
sebagai pers perjuangan. Pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan untuk
kemerdekaan bangsa Indonesia. Beberapa hari hari setelah proklamasi dibacakan
Bung Karno, terjadi perebutan kekuasaan dalam berbagai bidang kehidupan
masyarakat, termasuk pers. Pada September-Desember 1945, kondisi pers RI
semakin kuat, yang ditandai oleh mulai beredarnya koran, antara lain: Soera
Merdeka (Bandung), Berita Indonesia (Jakarta), Merdeka, Independent,
Indoneisan News Bulletin, Warta Indonesia Dan The Voice Of Free Indonesia.
Lalu bagaimana kekuatan pers pada politik dalam pemberitaan kasus
Century, pers dituntut untuk tetap berani, yaitu sebagai alat demokrasi yang kita
kenal selama ini. Dengan melakukan perannya melalui pemberitaan kasus Century
di mana sistem negara kita yang menganut trias politik kurang cukup dipercaya
oleh rakyat. adapun pers dalam wujudnya yaitu pada surat kabar Jurnal Nasional
dan Koran Tempo yang dinilai cukup intens dalam headline pemberitaan politik
dalam hal kasus Century ini, karena selama ini pers menunjukan sebuah identitas
kekuatan politik serta andil pada setiap perjalanan sistem demokrasi kita selama
ini dari prakemerdekaan hingga saat ini. Pers juga menjadi tuntunan rakyat
Indonesia agar tetap On The Right Track (jalur yang benar) demokrasi dan tidak
keluar dari jalur.
Berdasarkan dari latar belakang maka penulis tertarik untuk mengangkat
skripsi dengan judul “EKSISTENSI PERS PADA PEMBERITAAN POLITIK
“KASUS CENTURY” (STUDI KOMPARATIF JURNAL NASIONAL DAN
KORAN TEMPO)
6
Berdasarkan judul diatas penulis mengangkat tema media dan politik di
mana asumsi kami media cukup berperan penting dalam setiap permasalahan
politik yang terjadi, sedangkan kasus Century ini banyak menyita perhatian publik
maupun setiap kalangan baik politikus dan ekonom, maka penulis tertarik untuk
mengangkat skripsi dengan judul ini.
B.
Pembatasan dan Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian tentang pers dan demokrasi yang dikemukakan dalam
latar belakang, penulis membatasi permasalahan dalam penelitian ini pada
kontribusi pers dalam pemberitaan tentang kasus Century di headline surat kabar
Jurnal Nasional dan Koran Tempo periode 28 februari- 4 maret 2010 terhadap
jalannya demokrasi Indonesia pada kasus Century .
Agar pembahasan didalam penelitian ini lebih terarah dan mencapai
sasaran, maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana kekuatan pers pada pemberitaan politik kasus Century ?
2. Dampak kasus Century pada politik indonesia atas pemberitaan
media ?
C.
Metode Penelitian
Penelitian skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library
research) yaitu penelitian yang dilakukaan dengan cara mengumpulkan data-data
yang relevan kurang lebih dari sebulan pada pemberitaan terkait yaitu dalam hal
kasus Century dengan metode random komparatif pemberitaan politik pada media
7
Jurnal Nasional dan Koran Tempo melalui surat kabar yang diterbitkan,
kemudian kami beri batasan waktu. melalui headline berita yang diberitakan yaitu
pada pemberitaan kasus Century dengan urutan peristiwa yang ada serta tanggal
dan bulan kejadian yang sama, serta perkembangan yang berkaitan dengan topik
pembahasan dan sumber lain yang berhubungan dengan masalah yang
berhubungan dengan objek penelitian.
Data primer: sumber-sumber yang digunakan sebagai rujukan utama dalam
penelitian yang langsung berhubungan dengan objek penelitian, yang meliputi
sumber berita terkait, media terkait dan koran (koran resmi Jurnal Nasional dan
Koran Tempo).
Data sekunder : data yang diperoleh dari literatur-literatur kepustakaan
seperti buku-buku, koran, artikel, majalah dan sumber yang berhubungan dengan
masalah yang dibahas dan sumber lainnya yang relevan dengan materi penelitian.
Selanjutnya data-data yang terkumpulkan kemudian diklasifikasikan sesuai
tema dan hal-hal yang akan dibahas penulis, lalu penulis menguraikan dan
komparatif data-data dengan memaparkan secara sistematis dengan disertai
analisis.
Analisis data dalam penelitian bersifat kuantitatif dengan komparatif pada
setiap pemberitaan yang terkumpul kemudian menggunakan teknik pembahasan
deskriptif analisis, yaitu dengan memaparkan dan menganalisa data-data yang di
peroleh. Untuk pedoman penulisan, penelitian ini berpedoman pada buku
pedoman penulisan karya ilmiah (skripsi, tesis, dan disertasi), yang diterbitkan
oleh CeQDA Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah 2007.
8
D.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian yang berjudul EKSISTENSI PERS PADA
PEMBERITAAN POLITIK “KASUS CENTURY” (STUDI KOMPARATIF
JURNAL NASIONAL DAN KORAN TEMPO) adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kontribusi pers terhadap politik Indonesia.
2. Dapat menjadi
referensi kajian peneliti kajian tentang media dan
politik.
3. Untuk mengetahui eksistensi peran pers terhadap pemberitaan politik
pada kasus Century pada surat kabar Jurnal Nasional dan Koran
Tempo.
E.
Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah memahami dari isi skripsi ini, maka penulis
membagi isi skripsi ini menjadi lima bab tiap bab yang di dalamnya terdiri sub
bab. Adapun sistematika sebagai berikut:
Bab pertama berisi pendahuluan meliputi latar belakang masalah,
pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, metodologi penelitian,
serta sistematika penulisan.
Bab kedua teori serta landasan yang berisikan pedoman Undang-Undang
pers serta kacamata politik pers dalam menanggapi suatu permasalah dalam
pemberitaan khususnya dalam masalah politik yang menyangkut elite politik.
Bab ketiga yang berisikan bahasan umum awal mula berdirinya Bank
Century seputar kronologi dan latar belakang kasus Century serta dampak politik
9
yang terjadi, serta perkembangan kasus politik yang terjadi selama Hak Angket
tentang kasus Century berjalan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Bab keempat inti bahasan pokok masalah inti fokus yaitu mengurai
permasalahan dengan menganalisa berita politik dengan komparasi dua media
pers dalam pemberitaan yakni surat kabar Koran Tempo dan Jurnal Nasional
dalam pemberitaan kasus Century dan dampak pemberitaan pers dan cara opini
yang dibentuk dalam pada dua media tersebut.
Bab kelima merupakan penutup tahap akhir penulisan skripsi, yang berisi
kesimpulan dan rekomendasi seputar Persoalan yang diangkat.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Makna Dan Peran Pers
Pers merupakan salah satu alat politik negara yang sangat efektif apalagi
saat kasus Century mencuat ke publik, di mana pers telah memberikan arti dan
menunjukkan perannya pada publik yang sangat berarti dalam menengarai kasus
ini antara publik dan pemerintah. Lalu bagaimana arti dan peran pers
sesungguhnya dalam perkembangan saat ini.
Istilah pers berasal dari bahasa Belanda, yang berarti dalam bahasa Inggris
berarti press.1 Secara harfiah pers berarti cetak, dan secara maknafiah berarti
penyiaran secara tercetak atau publikasi secara dicetak. Dalam perkembangannya
pers mempunyai dua pengertian, yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam
pengertian sempit. Pers dalam pengertian luas meliputi segala penerbitan, bahkan
termasuk pers elektronik, radio siaran, dan televisi siaran. Sedangkan pers dalam
arti sempit hanya terbatas pada pers cetak, yakni surat kabar, majalah, dan buletin
kantor berita,bahkan sampai internet.2 adapun makna yang ditafsirkan pada
undang-undang tentang pokok pers sebagai berikut:
”pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang
melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh,
memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik
dalam bentuk lisan, suara,gambar, serta data dan grafik maupun dalam
1
Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik Teori Dan Praktek
(Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007 ), h.17.
2
F. Rachmadi, Perbandingan Sistem Pers: Analisis Deskriptif Sistem Pers Di Berbagai
Negara,(Jakarta: PT. Gramedia, 1990), h. 9.
10
11
bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak media elektronik dan
segala jenis saluran yang tersedia.”3
Disamping itu, pers banyak mewarnai saat kasus Century mencuat dari
berbagai macam media, adapun pers sendiri mempunyai ciri-ciri komunikasi yang
dapat diidentifikasi dari segi komunikasinya sebagai berikut:
” 1. Periodesitas. pers terbit secara kontinyu dan beraturan melalui
waktu,hari, jam dan tanggal. 2. Penerbitan atau publisitas di mana sasaran
pers mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. 3. Objektivitas adalah di
mana pers mempunyai landasan serta etika profesionalisme dalam
penerbitannya. 4. Aktualitas. pers yang bersifat unsur renewlitas dan
realitas yang ada serta fakta-fakta yang baru terjadi. 5. Universalitas. pers
dapat menyuguhkan varian berita yang ada baik dari sumbernya maupun
materi isinya.”4
Saat kasus Century berlangsung pun pers memberikan makna mendasar
atas perannya yang terkandung, bahwa pers merupakan lembaga sosial yang dapat
memberikan informasi melalui media manapun. Pada dasarnya, fungsi pers dapat
dirumuskan menjadi 5 bagian yaitu :
”1. Pers sebagai Informasi (to inform) Fungsi pertama dari lima fungsi
utama pers ialah menyampaikan informasi secepat-cepatnya kepada
masyarakat yang seluas-luasnya. Setiap informasi yang disampaikan harus
memenuhi kriteri dasar: aktual, akurat, faktual, menarik atau penting,
benar, lengkap, utuh, jelas-jernih, jujur adil, berimbang, relevan .
bermanfaat dan etis. 2. Pers sebagai Edukasi (to educate) Apa pun
informasi yang disebarluaskan pers hendaklah dalam kerangka mendidik.
Sebagai lembaga ekonomi, pers memang dituntut berorientasi komersil
untuk memperoleh keuntungan finansial. Namun orientasi dan misi
komersil itu, sama sekali tidak boleh mengurangi, apalagi meniadakan
fungsi dan tanggung jawab sosial, Seperti ditegaskan Wilbur Schramm
dalam Men, Messages, And Media (1973), bagi masyarakat, pers adalah
watcher, teacher dan forum (pengamat, guru dan forum). 3. Pers sebagai
koreksi (to correct). Pers adalah pilar demokrasi keempat setelah
legislative, eksekutif, dan yudikatif dalam kerangka ini, kehadiran pers
dimaksudkan untuk mengawasi atau mengontrol kekuasaan legislatif,
3
UU Pers 1999.
F. Rachmadi, Perbandingan Sistem Pers: Analisis Deskriptif Sistem Pers Di Berbagai
Negara, h.10.
4
12
eksekutif dan yudikatif agar kekuasaan mereka tidak menjadi korup dan
absolut. 4. Pers sebagai rekreasi (to intertain).Fungsi keempat pers adalah
meghibur, pes harus mampu memerankan dirinya sebagai wahan rekreasi
yang mnyenangkan sekaligus yang menyehatkan bagi semua lapisan
masyarakat. Artinya apa pun pesan rekreatif yang disajikan mulai dari
cerita pendek sampai kepada teka-teki silang dan anekdot, tidak boleh
bersifat negatif apalagi destruktif. 5. Pers sebagai mediasi (to mediate)
Mediasi artinya penghubung atau sebagai fasilatator atau mediator. Pers
harus mampu menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lain,
peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain, orang yang satu dengan
peristiwa yang lain, atau orang yang satu dengan orang yang lain pada saat
yang sama. Dalam buku karya McLuhan, menyatakan pers adalah
perpanjang dan perluasan manusia.”5
Adapun pengertian fungsi pers selain sebagai media informasi, juga
sebagai kontrol sosial yang dapat berperan penting sebagai median interpretatif
sosial dalam segala permasalahan sosial yang ada, arti fungsi pers tertuang pada
UU pers pasal 3.
Peran pers tertulis pada undang-undang (UU) tentang pers pada pasal 6 di
mana intinya pers menjadi sebagai media yang dapat mengawasi kepentingan
umum dan dapat menjaga nilai-nilai demokrasi.disamping itu,makna peran pers
akan berarti secara teori, di mana pers kita dapat diartikan pers tanggungjawab
sosial di mana pers tanggung jawab sosial sejatinya melakukan prinsip-prinsip
dasar menurut pandangan Siebert sebagai berikut:
” 1. Melayani sistem politik dengan menyediakan informasi, diskusi
dan perdebatan tentang masalah-masalah yang dihadapi masyarakat. 2.
Memberi keterangan kepada masyarakat, sedemikian rupa sehingga
masyarakat dapat mengatur dirinya sendiri. 3. Menjadi penjaga hak-hak
perorangan dengan bertindak sebagai anjing penjaga yang mengawasi
pemerintah.3.Menyediakan hiburan Melayani sistem ekonomi dengan
mempertemukan pembeli dan penjual barang atau jasa melalui medium
5
F. Rachmadi, Perbandingan Sistem Pers: Analisis Deskriptif Sistem Pers Di Berbagai
Negara, h.8.
13
periklanan. 4. Melayani sistem ekonomi dengan mempertemukan pembeli
dan penjual barang atau jasa melalui medium periklanan. 5.
Mengusahakan sendiri biaya finasial, agar bebas dari tekanan orang yang
mempunyai kepentingan.”6
Dengan banyaknya keterangan diatas, kita menjadikan landasan teori
untuk melihat sejauh mana eksistensi pers kita ketika menghadapi permasalahan
pelik yaitu ketika permasalahan yang timbul serta melibatkan kalangan pejabat
negara yaitu pada “kasus Century” yang konon persoalan ini diamati sangat
krusial yang membawa efek domino terhadap kinerja pemerintah, bagaimana pers
dapat melakukan Perannya melalui berita atau informasi yang disampaikannya?
Yang terdapat pada undang-undang konstitusi kita saat ini.
B. Pers Sebagai Kekuatan Politik
Pers menunjukkan taji dan kekuatannya dalam situasi urgensi politik,
setelah beberapa dekade terlewati disaat munculnya suatu kasus yaitu kasus
Century yang di kenal mempunyai efek domino pada sistem politik yang banyak
melibatkan banyak oknum pejabat politik. Banyak hal yang terjadi pada
perkembangan kasus Century sendiri pada sistem politik kita di mana saat pers
menunjukkan perannya dalam menenggarai kasus pada publik, kekuatan politik
pers smakin terlihat menunjukkan eksistensi pers sendiri pada sistem politik kita
yang amat urgen pada setiap permasalahan yang ada.
Pers dan politik sesungguhnya mempunyai dasar ikatan batin sejak dahulu
kala bahkan, sejak zaman romawi dahulu ketika saat itu pers hanya sebagai alat
penguasa sebagai legalitas aturan oleh penguasa yaitu dengan menempelkan
6
Oliviawidayu, ”Empat Teori Pers,” diakses
http://oliviadwiayu.wordpress.com/2007/01/05/empat-teori-pers/
pada
5
Oktober
dari
14
aturan tersebut atau diumumkan pada rakyatnya pada tempat di mana masyarakat
berkumpul dan melihatnya. Politik merupakan hal yang berkaitan dengan
pemerintah pada proses pembuatan, pengambilan dan pelaksanaan dalam
kebijakan.7
Dimensi dari ruang politik sendiri terbagi tiga yaitu pada studi
kelembagaan negara (state), studi kekuasaan dan studi kebijakan publik.8
sedangkan politik menurut Miriam Budiardjo adalah suatu subjek yaitu
pemerintah dalam melakukan sebuah keputusan atau dengan istilah kebijakan
besar dalam mengayomi rakyatnya.9 serta dalam hal melakukan keputusan
membutuhkan suatu yang extraordinary, salah satunya pers, dibutuhkan dalam
melaksanakan sebuah keputusan yang legal sebagai perpanjang informasi pada
rakyat pada suatu kebijakan yang telah di putuskan oleh pemerintah.
Bahkan pers juga diposisikan sederajat dengan lembaga-lembaga
pemerintahan yaitu eksekutif, yudikatif, dan legislatif menurut John Locke yang
menambahkan pendapat Montesque tentang tiga pilar dalam negara yang menjadi
empat pilar yaitu pers. menurut Miriam Budiardjo, salah satu ciri negara
demokrasi
adalah memiliki
pers
yang bebas
dan bertanggung jawab
mengasumsikan bahwa adanya adanya pers menunjukkan arti pentingya sebuah
pers pada suatu negara, Dengan landasan dasar ini kita tentunya dapat mengetahui
bahwa pers mempunyai andil yang sangat besar dalam politik dan juga demokrasi.
7
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia, 1992), h.131.
8
Hafied congara, Komunikasi Politik (Konsep, Teori Dan Strategi) (Jakarta:
PT.Rajagrafindo Persada, 2009), h. 29.
9
Miriam Budiardjo , Dasar-Dasar Ilmu Politik (edisi revisi) (Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama 2008), h. 406.
15
Menurut Amien Rais, Pers memiliki kekuatan politik yang mempunyai ciri
khas tersendiri di mana pers dapat melakukan kritik sosial sebagai saluran yang
dapat menghilangkan kerusuhan, yang akan timbul bila ada kritik disampaikan
terkait dengan pejabat publik dengan besarnya peristiwa tersebut secara
langsung(verbal). Dan saluran pers juga tidak langsung komunikasi dengan bentuk
pesan yang tak langsung dengan hati-hati karena pers adalah media massa yang
mempunyai gaya komunikasi tersendiri. 10
Kekuatan yang dimiliki pers adalah gaya komunikasi politik yang khas
pada beberapa media yang menjadi suatu ragam saluran teori propaganda, yaitu
yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat dengan
menyampaikan pesan politik yang dapat menentukan perubahan politik.11 Tentu
saja untuk mengefektifkan propaganda politik di media massa ada strategi prinsipprinsip umum yang digunakan media dalam usaha persuasif.
”Usaha persuasif dalam strategi media ada tiga (3), pertama, status
komunikator (objek pemberitaan). Artinya medaia akan melihat pada
setiap peran membawa status (prestise) tersendiri. Secara umum, semakin
tinggi posisi atau status seseorang ditengah masyarakat maka akan
semakin mampu dia melakukan persuasi atau pendekatan contoh
pemberitaan seorang pejabat yang dikenal melakukan jumpa pers dan
klarifikasi hal ini akan memberi respon positif dalam pemberitaan
ketimpang pemberitaan seorang kaum buruh. Kedua kredibilitas
komunikator (objek) ketika komunikan dapat menarik serta mahir dalam
penyampaian sebuah isu politik dengan demikina pemilihan propagandis
terutama dalam media massa yang di tujukan pada khalayak yang
heterogen membutuhkan mereka yang punya status kuat. Ketiga, daya tarik
komunikator, hal ini meningkatkan daya tarik persuasif. Hal ini berlaku
pada homofili (kesamaan), yakni tingkat kesamaan usia, latar belakang ,
kepentingan seperti di persepsi orang. Persuasi itu sebagian besar berhasil
bila orang mempersepsi komunikator seperti dirinya sendiri secara
gamblang. Karena persuasi dalam haliini propaganda politrik merupkan
10
Amin Rais, Demokrasi Dan Proses Politik, (Jakarta: LP3ES, 1986), h.110.
Wikipedia.com, “propaganda,” artikel diakses pada 2 desembar 2011
http://id.wkipedia.org/wiki/propaganda
11
dari
16
upaya penyebaran informasi dan pengaruh satu kepada banyak maka
instrumen teknologi yang dapat menyebarkan kepada anggota kelompok
merupakan hal yang tepat dilakukan dalam politik.”12
Di samping itu pesan media dalam melakuakan propagandis berhubungan
dengan keefektifannya ada dua hal. Pertama isi pesan, hal ini menyangkut model
pilihan isi yang di rilis dalam propaganda di media massa. Bisa jadi isi suatu
berita suatu ancaman pada kelomppok kepentingan dan hal ini juga dapat
mempersuasi khalayak juga dalam kondisi tertentu. Kedua struktur pesan, bisa
jadi karena media yang di pakai adalah media massa yang memiliki keterbatasn
waktu atau tempat menyebakan penyusunan
struktur pesan yang efektif dan
efisien. Namun terlepas dalam hal tersebut, propaganda terkadang dilakukan
secara terus menerus sehingga menjadi terpaan (exposure).
”Menurut Daniel Dhakidae, pers mempunyai kekuatan dan fungsi
yang tidak dimiliki oleh kekuatan-kekuatan politik yang ada, yaitu mampu
menjadi penekan yang tak terduga terhadap kekuasaan (negara), dan juga
memiliki efek perlipatan (multiplying effect) dari kekuatan informasi yang
maha dahsyat dan pengaruh yang besar. adapun Fungsi pertama, pers dapat
meningkatkan imajinasi mereka yang berkuasa tentang kekuasaannya.
Fungsi kedua, dapat meningkatkan imajinasi dari orang yang tidak
berkuasa. Imajinasi bahwa ia adalah wakil rakyat yang berpihak pada
kepentingan masyarakat bawah. Dengan beragam imajinasi tersebut,
pers dituntut dinamis dan mampu menundukkan setiap kekuatan yang
menghalanginya untuk leluasa berkiprah serta mampu membuktikan
kekuatan sejati yang dimilikinya.”13
Demikian pun dengan teori-teori komunikasi massa yang dimiliki pada
pers yang mampu mempersuasi masyarakat dalam hubungannya dengan aktivitas
politik.
12
Gun-gun heryanto,”propaganda politik melalui media massa,” artikel diakses pada 5
juni 2011 dari http://gunhaeryanto.blogspot.com/2007/08/propaganda -politik-melalui-mediamassa.html
13
Antoni , Riuhnya Persimpangan Itu: Profil dan Pemikaran Para Penggagas Kajian
Ilmu Komunikasi (Surakarta: Tiga Serangkai, 2004), h. 113.
17
Adapun Pengaruh pers dalam ruang politik dan pemerintah dewasa ini
memiliki aspek yang berbeda.14 Aspek-aspek tersebut adalah:

Pelaporan fakta yang dapat memberikan petunjuk terhadap opini publik.
Disebabkan pengetahuan seseorang akan fakta tentang pemerintah adalah
hal yang menjadi fondasi dalam kehidupan demokrasi. Dan surat kabar
merupakan hal yang dapat memberikan petunjuk untuk hal tersebut.

Publikasi membersihkan masalah politik dan pemerintahan. Berita tentang
pemerintah membuang atau mengenyampingkan masalah yang bersifat
rahasia dan menjalankan diantara para pekerja sebuah sense tanggung
jawab publik. Sehingga publikasi diperlukan untuk mengingatkan
pemerintah tentang tanggung jawab tersebut.

Pers fokus terhadap isu-isu yang sedang terjadi. Dalam hal ini, surat kabar
membawa permasalahan umum bukan dari publik itu sendiri. Dan
melahirkan sebuah area debat dengan isu yang dibentuk oleh surat kabar
tersebut.

Interpretasi mengklarifikasi urusan publik.

Berita propaganda membelokkan opini publik. Publik bisa menerima
sebagai fakta satu sisi sebuah informasi yang terdapat dalam kolom surat
kabar, yang terjadi secara ekslusif disebabkan hanya menyangkut satu
partai dan tidak menguntungkan partai lainnya.
14
Wordpress.com, “Pers Sebagai Kekuatan Politik”artikel diakses pada 18 November
2010 dari http://rabiahal.wordpress.com/pers
18

Kekritisan pers membantu terjadinya reformasi. Sifat kritis surat kabar
dapat memaksa ketidakinginan para pelaku politik untuk pensiun.
Sehingga, setiap surat kabar memiliki record dalam membuat sebuah
perubahan, biasanya menuju hal yang lebih baik, dalam kehidupan publik.

Kampanye mempengaruhi reformasi. Kampanye yang ditulis dalam kolom
berita dengan konsentrasi pada fakta melalui argumen yang dilakukan dari
hari ke hari dapat mempengaruhi terjadinya reformasi

Aktivitas “pelayanan” membantu pemerintah. Pelayanan Surat kabar
berkaitan dengan urusan publik dalam memfasilitasi pemerintahan yang
bagus.

“Platform” menyediakan pengumpulan poin untuk masalah yang dijadikan
untuk diskusi dan aksi.

Pers mempengaruhi hubungan baik dalam kancah internasional. Hubungan
internasional dipengaruhi oleh bentukan opini-opini yang dibentuk dalam
surat kabar. Dengan memicu publik dalam pembentukan pemikiran, surat
kabar menjadi penentu perpolitikan internasional.

Kolom iklan dapat menghasilkan hasil. Para kandidat dan kelompokkelompok yang memiliki kepentingan menekan opini publik dengan pesan
yang mereka sampaikan melalui iklan yang ditampilkan. Iklan didesain
untuk membentuk opini dalam ranah kebijakan publik dan hukum
membutuhkan rencana berikut presentasi.

Bahkan pers menjadi alat pendukung moral politik yang ampuh dalam
memerankan serta menstimulasi opini publik. Contoh ketika jaringan
19
sosial seperti facebook serta twitter menjadi alat penggalangan satu juta
suara dukung Bibit dan Hamzah dalam kasus cicak dan buaya. Bahkan
dalam merebak nya jaringan sosial pada internet yang dinamakan oleh
para pakar menamakan sebagai citizen journalisme yang berupaya
menyampaikan opini dalam berbagai persoalan politik.
Pada negara-negara Berkembang pers pada saat ini mulai berperan aktif
dalam memainkan perannya pada politik, namun juga perlu diketahui bahwa pers
bagaikan dua mata pisau di mana fungsinya menjadi efek yang positif dan negatif.
Dengan banyaknya keterangan tersebut bahwasanya pers yang sebenarnya
mempunyai andil yang besar dan dapat mempunyai legalitas dalam dunia politik
yang dapat mengolah serta menyebarkan suatu berita pada rakyat. Apalagi dalam
menenggarari kasus kasus besar salah satunya pada kasus Century dapat dirasakan
kekutan pers lebih efektif di banding sarana kekuatan-kekuatan politik lainnya.
Namun di balik itu pers juga dapat mempunyai dampak yang luas yang semua itu
tergantung pada pihak pengelola pers melihat sebuah realita dengan perspektif
yang dipahaminya.
C. Surat Kabar Dan Berita Sebagai Interpretasi Sosial Politik
Berita kasus Century merupakan hal yang menarik untuk di konsumsi
public di mana dari setiap pemberitaan yang di kemas dan objek berita di kemasa
sedemikian rupa yang dapat menarik perhatian public. Banyak yang memberikan
perhatian tersendiri pada beberapa kalangan pejabat, media, partai oposisi dan
lain-lainnya dalam menanggapi berita ini dairi sisi positif dan negatife.
20
Berita tentunya bukan hal yang asing pada diri kita yaitu sebuah makna
informasi, apalagi dengan adanya berita politik yang terkait tentang kebijakan
pemerintah pada rakyatnya yang membentuk sebuah opini public tentan berita
tersebut seperti berita tentang kasus Century terkait suatu permasalahan, berita
merupakan konsumsi hampir setiap hari berbagai media massa baik cetak maupun
elektronik merilis untuk dikonsumsi masyarakat. Berita diasumsikan oleh pers
barat sebagai sebuah “komoditi” yang bisa diperjual belikan namun sebaliknya
menurut pers timur berita bukanlah sebuah barang dagangan. Berita adalah sebuah
yang esensial dalam kehidupan manusia bahkan merupakan suatu kebutuhan yang
tidak dapat dipisahkan untuk menambah wawasan dan mendewasakan alam
pikiran.15
Banyak pengertian arti tentang berita salah satunya, dalam arti kamus
besar indonesia berartikan warta atau kabar. sedangkan menurut kamus barat
Grolier pengertian arti berita adalah seperti yang disajikan oleh media seperti
radio, televisi dan surat kabar dan arti lainnya adalah sebuah informasi yang
hangat tentang sesuatu yang telah terjadi, dengan banyaknya pengertian arti berita
bahkan seorang wartawan senior pun tidak dapat mengartikan berita itu sendiri
namun jika kita meminta contoh berita wartawan akan banyak menunjukan contoh
berita dari macam headline sumber dan suatu hal yang tidak penting dapat
ditunjukkan, arti berita pun bersifat multitafsir apabila dibaca dan diamati oleh
khalayak. Adapun Unsur layak berita menurut pasal 5 kode etik jurnalistik
wartawan indonesia Sebagai berikut “…Wartawan indonesia menyajikan berita
15
h.78.
Ermanto, Menjadi Wartawan Handal Dan Profesional (Yogyakarta: Cinta Pena, 2005),
21
secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak
mencampurkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini
wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya….” 16
Surat kabar sendiri muncul pada abad ketujuh belas, surat kabar adalah
salah satu instrument yang masih dapat kita rasakan sampai saat ini yang mampu
dalam pembentukan opini yang banyak digunakan khalayak untuk mendapatkan
informasi atau berita tentang fenomena yang terjadi di sekitarnya. dalam surat
kabar ada suatu berita yang utama yaitu dengan sebutan headline yang biasanya
akan dimuat dihalaman depan maupun belakang atau dengan subjudul yang tebal
dengan frase (kalimat) yang menarik, di mana headline sendiri pada surat kabar
dari sekian khalayak akan melihat dan membaca headline depan dari surat kabar.
Sedangkan headline dapat diartikan sebagai berita utama. Secara bahasa
head berarti kepala. line berarti garis. Jadi dapat diartikan kepala garis atau kepala
berita. Dalam media cetak, headline merupakan berita yang paling banyak dibaca
dan menarik perhatian. Jika peristiwa itu dijadikan headline maka pihak terkait
atau khalayak menganggapnya sebagai peristiwa penting. Di sinilah media sangat
berperan membentuk opini publik. Adapun dalam menangkap headline berita
pada surat kabar penonjolan masalah berita agar menarik melalui proses atau
disebut proses framing bingkai pada surat kabar, disamping itu ada tiga hal aspek
yang perlu diketahui dalam proses framing pada surat kabar yaitu:17
16
17
Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia Bab 2 Tentang Pemberitaan
Alex sobur, Analisis Teks Media (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h. 161.
22
1. Proses framing sebagai metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang
suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibalikkan secara
halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja,
dengan menggunakan istilah-istilah yang mempunyai konotasi tertentu, dan
dengan bantuan foto, karikatur dan alat ilustrasi lainnya.
2. Proses framing merupakan bagian tak terpisahkan dari proses penyuntingan
yang melibatkan semua pekerja di bagian keredaksian media cetak.
Redaktur, dengan atau tanpa konsultasi dengan redaktur pelaksana,
menentukan apakah laporan si reporter akan dimuat ataukah tidak, serta
menentukan judul yang akan diberikan.
3. Proses framing tidak hanya melibatkan para pekerja pers, tetapi juga pihakpihak yang bersengketa dalam kasus-kasus tertentu yang masing-masing
berusaha menampilkan sisi informasi yang ingin ditonjolkannya (sambil
menyembunyikan sisi lain). Proses framing menjadikan media massa
sebagai arena di mana informasi tentang masalah tertentu diperebutkan
dalam suatu perang simbolik antara berbagai pihak yang sama-sama
menginginkan pandangannya didukung pembaca.
Dalam proses framing pada akhirnya akan membawa efek. Karena sebuah
realitas bisa jadi dibingkai dan dimaknai berbeda oleh media, bahkan pemaknaan
itu bisa jadi akan sangat berbeda. Untuk melihat bagaimana media melakukan
framing dalam pemberitaan biasanya dapat menggunakan teori Robert Entman
yaitu dengan empat cara pertama mendefinisikan masalah yang diberitakan
biasanya pada bingkai headline yang tertera dalam suatu berita, kedua
23
mendefinisikan penyebab masalah biasanya dengan metode apa atau siapa yang
akan diberitakan. ketiga evaluasi moral biasanya wartawan akan menambahkan
suatu argumentasi tambahan dengan siapa yang mampu menyelesaikan masalah
seperti para ahli atau orang yeng terlibat hal ini biasanya dilakukan setelah
pendefinisian masalah dan penyebab masalah. Keempat penyelesaian masalah
atau solusi saat pemberitaan akan melihat bagaiamana masalah terlihat dan siapa
yang menyebabkan masalah dengan memberi jalan keluar masalah dan siapa yang
dapat menyelesaikan masalah tersebut.18
Realitas sosial yang kompleks penuh dimensi dan tidak beraturan,
disajikan dalam berita sebagai sesuatu yang sederhana, beraturan dan memenuhi
logika tertentu. Berdasarkan penyederhanaan atas kompleksnya realitas yang
disajikan media, menimbulkan efek framing, yaitu: Pertama. Framing yang
dilakukan media akan menonjolkan aspek tertentu dan mengaburkan aspek yang
lain. framing umumnya ditandai dengan menonjolkan aspek tertentu dari realitas,
akibatnya ada aspek lain yang tidak mendapat perhatian yang memadai. Kedua.
framing yang dilakukan oleh media akan menampilkan sisi tertentu dan
melupakan sisi yang lain. Dengan menampilkan sisi tertentu dalam berita ada sisi
lain yang terlupakan, menyebabkan aspek lain yang penting dalam memahami
realitas tidak mendapat liputan dalam berita. Ketiga. framing yang dilakukan
media akan menampilkan aktor tertentu dan menyembunyikan aktor yang lain.
Efek yang segera terlihat dalam pemberitaan yang memfokuskan pada satu pihak,
18
Alex sobur, Analisis Teks Media (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h. 172
24
menyebabkan pihak lain yang mungkin relevan dalam pemberitaan menjadi
tersembunyi.
Dalam hal keterangan diatas bahwa surat kabar dengan berita serta
headline melalui framing yang ada, kita dapat mengetahui kabar realitas sosial
yang terjadi, di mana kita rasakan peran rakyat dalam berpartisipasi dalam politik
terbatas untuk mengetahui sebuah informasi politik menjadi suatu interpretatif
sosial dalam melakukan hal politik yaitu untuk mengetahui putusan serta kasus
politik yang terjadi meskipun tidak secara langsung.
BAB III
KASUS CENTURY BERMUATAN POLITIK
A.
Awal Berdirinya Bank Century
Narasi munculnya Bank Century banyak keganjilan ketika di dirikan,
awal berdiri berdasarkan Akta No.136 pada 30 Mei 1989 yang dibuat Lina
Laksmiwardhani, SH, notaris pengganti Lukman Kirana, SH, notaris di Jakarta.
Kemudian disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusannya No.C.2-6169.HT.01.01.TH 89 tertanggal 12 Juli 1989. Di daftarkan
ke Pengadilan Negeri(PN) Jakarta Selatan pada 2 Mei 1991 dengan No.
284/Not/1991.
Anggaran Dasar Bank Century telah disesuaikan dengan Undang-Undang
PerseroanTerbatas No.1 Tahun1995 dalam Akta No. 167 tanggal 29 Juni 1998
dari Rachmat Santoso, S.H, notaris di Jakarta. Pada 16 April 1990, Bank Century
memperoleh izin usaha sebagai bank umum dari Menteri Keuanga (MENKEU)
Republik Indonesia melalui surat keputusan No.462/KMK.013/1990. Pada tanggal
22 April 1993, Bank Century memperoleh peningakatan status menjadi bank
devisa dari Bank Indonesia (BI) melalui surat keputusan No. 26/5/KEP/DIR.
Anggaran Dasar Bank Century telah beberapa kali berubah, terakhir pada Akta
No.159 tanggal 29 Juni 2005 .1
1
BPK. Go.id, “ Dana Hibah Bank Century,” artikel diakses pada 5 juni 2011 dari
http://www.jdih.bpk.go.id/artikel/DanaHibahBankCentury.pdf
25
26
Bank Century berdomisili di Indonesia dengan 27 Kantor Cabang Utama,
30 Kantor Cabang Pembantu dan 8 Kantor Kas. Kantor Pusat Bank beralamat di
Gedung Sentral Senayan II, Jl. Asia Afrika No. 8 Jakarta. Dari jumlah kantor
tersebut di atas yang beroperasi sebanyak 63 kantor2.
Sesuai dengan permintaan Bank Indonesia melalui surat Bank Indonesia
tanggal 14 Desember 2001 (yang di pertegas melalui surat Bank Indonesia tanggal
20 Agustus 2004) pertemuan dengan Bank Indonesia pada tanggal 16 April 2004
dengan manajemen Bank dan pemegang saham pengendali First Gulf Asia
Holdings Limited (Chinkara Capital Limited) setuju untuk melakukan merger atau
penggabungan Bank dengan PT Bank Pikko Tbk dan PT Bank Danpac Tbk untuk
menghasilkan sinergi dan memperkuat permodalan Bank hasil merger. Proposal
merger tersebut disampaikan kepada Bank Indonesia pada tanggal 26 April2004.
Pada tanggal 21 Mei 2004, Bank, PT Bank Danpac Tbk dan PT Bank Pikko Tbk,
telah menandatangani kesepakatan untuk melakukan tindakan hukum penyatuan
kegiatan usaha dengan cara Penggabungan atau Merger di mana Bank Century
sebagai “Bank Yang Menerima Penggabungan” dan PT Bank Danpac Tbk dan PT
Bank Pikko Tbk sebagai “Bank Yang Akan Bergabung”.3
Peleburan usaha (merger) yang dilaksanakan dengan syarat dan ketentuan
antara lain sebagai berikut 4:
2
Sonowijoyo,wordpress.com,“Kronologi Kasus Bank Century,” artikel diakses pada 5
juni 2011 dari http://sonowijoyo.wordpress.com/2010/01/28/kronologi-kasus-bank-century/
3
Blogspot.com, “ Kasus Skandal Bank Century,” artikel diakses pada 5 juni 2011dari
http://imperiumindonesia.blogspot.com/2009/12/kasus-skandal-bank-century
4
Aloysius soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha,( Jakarta:
Kompas Media Nusantara, 2010),h.323.
27

Semua kekayaan dan kewajiban serta operasi, usaha, kegiatan setiap
Bank yang menggabungkan diri beralih hukum kepada Bank Century.

Semua pemegang saham Bank-Bank yang bergabung karena hukum
menjadi pemegang saham Bank Century.

Bank sebagai Perusahaan hasil penggabungan tetap mempertahankan
eksistensinya sebagai perusahaan terbatas dan sebagai Bank umum
dengan memakai nama PT Bank Century Tbk.

Semua perusahaan yang menggabungkan diri karena hukum akan
bubar tanpa melakukan likuidasi.
Pada 6 Desember 2004 BI telah memberi persetujuan atas merger beberapa
pihak Bank menjadi Bank Century, namun pada saat setelah merger Bank ini terus
mengalami kerugian kendati pada saat krisis perbankan pada tahun 2008, bank ini
tetap dipertahankan agar tidak berdampak besar pada perbankan lainnya . Dari
awal berdirinya Bank ini banyak yang tidak beres dan selalu berkelut dalam
permasalahan. Padahal Bank Century sendiri telah dinyatakan sebagai Bank Gagal
dan juga dalam keadaan awas oleh pihak pengawas BI (Bank Indonesia) sendiri,
namun tetap saja para pengawas Bank tetap mempertahankan keberadaan Bank
Century.5
B.
Latar Belakang Kasus Century
Kasus Century merupakan kasus hukum namun dibawa keranah politik
yang menjadikan kasus ini sebagai kasus politik yang komplek, banyak hal politis
5
Simpuldemokrasi.com, “Membaca Drama Century,”artikel diakses pada 5 juni 2011dari
http://www.simpuldemokrasi.com/artikel-opini/2096-membaca-drama-century.html
28
yang terjadi pada maraknya pemberitaan kasus Century seperti isu manuver
politik yaitu rombak kabinet (reshuffle), transaksional politik (bargaining politik),
perombakan dalam koalisi partai pada pemerintahan, pertemuan ketua lembaga
negara di Cikeas dirumorkan adanya konspirasi pada pejabat pemerintah dalam
menangani kasus ini, dan hal politis lainnya. Dampak kasus ini dalam hal politik
akan terasa jelas pada pembentukan Pansus(Panitia Khusus) Hak Angket dan
Sidang Paripurna di DPR dalam hak tanya kejelasan panitia Hak Angket pada
pemerintah dalam hal kasus ini dengan di warnai konstelasi politik.
Latar belakang kasus Century berawal dari kecurigaan para elite politik
pada kebijakan pemerintah di mana adanya dugaan dana talangan pada Bank
Century mengalir pada salah satu tim sukses partai yang memang pada saat
pengucuran dana (bailout) tepat pada saat-saat waktu akan pemilu (pemilihan
umum) Capres(calon Presiden) dan Cawapres(calon Wakil Presiden) 2009. Awal
kasus Century berbicara tentang sebuah kebijakan politik yang dijalani oleh
pemerintah, kebijakan pun berporos pada sistem pengawasan. Banyak pengamat
politik mempunyai ekspektasi yang pesimis dalam penyelesaian kasus Century.
Kasus Century merupakan kasus permasalahan perbankan tentang kucuran
dana (bailout) pada Bank Century, yang memang kasus perbankan merupakan
kasus yang unik di mana dari banyaknya kasus perbankan yang sebelumsebelumnya dinilai sulit untuk dapat diselesaikan karena banyak oknum pejabat
yang terlibat dan unsur politik kepentingan. Kasus Century sendiri menjadi sebuah
momok yang mesti diperhatikan bagi pemerintah, dengan menguras tenaga serta
29
biaya yang tidak kecil pula tentang permasalahan ini, Kasus ini sendiri diduga
melibatkan sejumlah pejabat negara dengan ”konspirasi” tingkat tinggi.6
Kasus Century menjadi sorotan publik dibanding kasus politik lainnya
dengan maraknya pemberitaan oleh media, menyebabkan banyaknya antusiasme
publik dengan merebaknya opini yang berkembang, dalam mengungkap kasus
Century yang didasari merugikan banyaknya nasabah sehingga para nasabah
mendemo sehingga diliput oleh media sedemikian rupa sehingga menarik
antusiasme masyarakat dan juga dari banyaknya dukungan para tokoh publik
seperti Abdurahman Wahid (Gusdur), Amien Rais, Syafi’i Ma’arif dan lainlainnya untuk dibuka secara terang. Maka terbentuklah kasus ini menjadi bola api
yang menjadi sorotan publik bahkan Presiden pun diawal dalam pengungkapan
kasus Century dengan menyatakan tegas dalam pertemuan tanggal 22 November
2009 dengan beberapa ketua media pers saat di istana agar kasus Century dibuka
secara terang benderang yang memungkinkan seorang Presiden menjadi titik
acuan kinerja program 100 hari yang dijalankan Presiden Soesilo Bambang
Yudhyono (SBY).
Dari pernyataan Presiden seketika itu terbentuklah Alasan-alasan politik
latar belakang kasus Century untuk dibuka pihak Pansus atas dasar mengadakan
Pansus Century berdasarkan Hak Angket sebagai berikut7:
6
A Tony Prasetiantono,Kompas.com,” “Teori Konspirasi “Century”,” artikel diakses
pada 25 Agustus 2010 dari http://m.kompas.com/news/read/data/2009.12.02.02373810
7
Wikipedia online, “Panitia Khusus Hak Angket_Bank Century,” artikel diakses pada 22
Oktober 2010 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Panitia_Khusus_Hak_Angket_Bank_Century
30
1. Mengetahui
sejauh
mana
pemerintah
melaksanakan
peraturan
perundangan yang berlaku, terkait keputusannya untuk mencairkan
dana talangan (bailout) Rp 6,76 triliun untuk Bank Century. Adakah
indikasi pelanggaran peraturan perundangan, baik yang bersifat pidana
maupun perdata.
2. Mengurai secara transparan komplikasi yang menyertai kasus
pencairan dana talangan Bank Century. Termasuk mengapa bisa terjadi
perubahan Peraturan Bank Indonesia secara mendadak, keterlibatan
Kabareskrim Mabes Polri ketika itu, Komjen Susno Duadji, dalam
pencairan dana nasabah Bank Century, dan kemungkinan terjadi
konspirasi antara para pemegang saham utama Bank Century dan
otoritas perbankan dan keuangan pemerintah.
3. Menyelidiki ke mana saja aliran dana talangan Bank Century,
mengingat sebagian dana talangan tersebut oleh direksi Bank Century
justru ditanamkan dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan
dicairkan
bagi
kepentingan
nasabah
nasabah
besar
kecil
(Budi
justru
Sampoerna).
terabaikan.
Sementara
Adakah
faktor
kesengajaan melakukan pembobolan uang negara demi kepentingan
tertentu, misalnya politik, melalui skenario bailout bagi Bank Century.
4. Menyelidiki mengapa bisa terjadi pembengkakan dana talangan
menjadi Rp 6,76 triliun bagi Bank Century? Sementara Bank Century
hanyalah sebuah Bank swasta kecil yang sejak awal bermasalah,
bahkan saat menerima bailout, Bank ini dalam status pengawasan
31
khusus. Rasionalkah alasan pemerintah bahwa Bank Century patut
diselamatkan karena mempunyai dampak sistemik bagi perbankan
nasional secara keseluruhan.
5. Mengetahui seberapa besar kerugian negara yang ditimbulkan oleh
kasus bailout Bank Century dan sejumlah kemungkinan penyelamatan
uang negara bisa dilakukan. Sebab lain penegakan hukum, Ditengah
berbagai kesulitan hidup yang dialami masyarakat kebanyakan, aspek
penyelamatan uang negara ini sangat penting untuk dijadikan perioritas
demi memenuhi rasa keadilan rakyat. Selanjutnya, uang negara yang
dapat diselamatkan bisa digunakan untuk kepentingan meningkatkan
kesejahteraan rakyat pada umumnya.
Kasus Century sendiri menjadi fenomena dengan kompleksitas masalah
yang berkembang pada banyaknya opini membuat anomali politik yang belum
terjadi selama 10 tahun terakhir di indonesia paska reformasi.8
Pengungkapan kasus ini bermuara banyaknya tuntutan nasabah terhadap
Bank yang merugikan pada nasabah dan juga tentang penggelapan serta pencucian
uang pada suatu Bank yaitu Bank Century yang dilakukan oleh sipemilik sehingga
merugikan nasabah,9 dan juga pemeliharaan kasus ini sejak berdirinya Bank
Century untuk kepentingan politik sehingga berlarut-larut serta adanya bailout
yang janggal terdapat penyalahgunaan wewenang dalam mem-bailout kasus
8
Arsipberita.com,“Pidato Presiden Menanggapi Kasus Century”, artikel diakses pada 2
Desember 2010 dari http://arsipberita.com/show/pidato-Presiden-menanggapi-kasus-century-ii70351.html
9
Ismokowidjaya, “CENTURY HIMPUN DATA KERUGIAN NASABAH”, artikel
diakses pada 2 Desember 2010 dari http://dunia.vivanews.com/news/read/65753Century_himpun_data_kerugian_nasabah
32
Century seolah memudahkan aturan ketentuan dalam melakukan pem-bailout-an
yang dilakukan oleh pihak terkait. Yang mana dalam kasus Century keluar dari
mainset teoritikal dalam mem-bailout Bank Century dan juga Sense of Public
Decission yang diungkap para ahli ekonom tidak masuk logika jika memang Bank
Century dalam kesulitan dan dinyatakan Bank gagal10 yang harus di bailout lebih
mudah ditutup sehingga dana bailout tidak akan sebesar yang dikeluarkan.
Dalam waktu yang singkat kurun beberapa hari anggaran untuk kucuran
pada Bank Century membengkak dalam rencana penanggulangan pada Bank
dalam keadaan darurat. diduga pula waktu pada saat penangguhan Bank tersebut
dekat dalam waktu kampanye pemilu umum dan mengalir pada salah satu tim
sukses pasangan Capres-Cawapres pada tahun 2009, Oleh karena itu dicurigai
bahwa dana yang dikucurkan mengalir pada pada salah satu partai politik
digunakan untuk sebuah kampanye besar dalam pemilu.11 dengan dugaan-dugaan
tersebut kasus ini menjadi suatu mega kasus di mana banyak sekali suatu proses
baillout yang janggal serta waktu dan kucuran yang hilang menguap entah
kemana tanpa kejelasan dari pejabat itu sendiri.
Hal ini ditegaskan pada pada ungkapan pihak terkait pada tanggal 27
November 2009 yang menangani kasus ini yaitu mantan Bareskrim Susno Duadji
bahwa dalam menangani kasus ini tidak melakukan perkembangan kasus, karena
ada pihak yang melakukan wewenang dalam bailout sedang dalam mengikuti
10
Bank gagal adalah suatu keadaan di mana operasional Bank tertentu dapat dihentikan
yang dinyatakan pihak pengawas bank dilakukan oleh otoritas pengawasan perbankan oleh
negara.
11
Izhary Agusjaya Moenzir, Bukan Testimony Susno, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2010), h.112.
33
pemilu ”Capres-Cawapres” hal inilah mengapa kasus century tidak di usut secara
tuntas yang menjadi titik acuan para anggota dewan untuk mengungkap serta
mengembangkan opini dengan alat kelengkapan yaitu dengan Hak Angket melalui
Pansus yang dilakukan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) pada pihak terkait yaitu
pemerintah.
Adapun pandangan pihak terkait dalam melihat kasus Century ini, yaitu
Susno Duadji mantan petinggi Polisi Republik Indonesia (POLRI) sebelumnya
menangani kasus Century, dalam hal ini beliau melihatnya ada tiga kasus dalam
hal ini, Pertama, Kasus murni perbankan dengan tersangka Robert Tantular dan
kroninya mereka melakukan tindak pidana perbankan dengan modus operandi,
yakni kredit fiktif, kontrak kelola fiktif pencairan deposito valas tanpa seizin
pemiliknya, menggelapkan surat berharga dan L/C(letter of credit) fiktif dengan
jumlah kerugian Rp 3,4 triliyun. Kedua, Kasus non perbankan yaitu kejahatan
dibidang pasar modal yang dilakukan oleh Robert serta kroninya dengan
menggunakan sekuritas PT. ANTABOGA dan PT. SCI yang mengakibatkan
kerugian berjumlah 1.565 trilyun. Ketiga, Kasus dugaan korupsi penyertaan dana
LPS(lembaga Penjamin Simpanan) ke Bank Century Rp 6,762 triliun. 12
Sedangkan pandangan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada saat
pemanggilan pada Pansus Hak Angket Century, menilai kasus pemberian dana
talangan ini ada lima kesalahan dalam catatan hukum kasus Bank Century.
Pertama, pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BPMK) melalui
pemberian surat-surat berharga (SSB) yang bernilai rendah. Aturan hukum yang
12
Moenzir, Bukan Testimony Susno, h.113.
34
berpotensi ditubruk adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 199213 tentang
Perbankan. Kedua, pelanggaran yang dilakukan oleh pemegang saham, pengurus
Bank Century, dan pihak terkait melalui pemberian kredit fiktif. Ketiga, kebijakan
fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) bertentangan dengan Peraturan Bank
Indonesia Nomor 10/26/PBI/ 2008 tanggal 30 Oktober 2008 yang menentukan
rasio kecukupan modal (Capital Adequancy Ratio/CAR) yang harus di miliki oleh
Bank calon penerima FPJP adalah 8 persen. Padahal, CAR Bank Century minus.
Diduga, ada rekayasa untuk membuat CAR Bank Century menjadi positif dan di
atas 8 persen. Keempat, potensi pelanggaran terhadap PERPPU(Peraturan
Pemerintah Pengganti UU) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem
Keuangan(JPSK). Kelima, penyerahan Bank Century ke LPS(lembaga Penjamin
Simpanan) pada 21 November 2008 dinilai oleh BPK tidak mempunyai landasan
hukum.14
C.
Kronologi Kasus Century
Kronologi kasus Century sendiri terjadi ketika Bank Century di nyatakan
sebagai Bank gagal oleh Bank Indonesia (BI) 15 tertanggal 21 November
2008,16yang memang banyak seblumnya permasalahan internal dari sis
manajemen Bank Century sendiri. pengertian Bank Century yang di klaim sebagai
13
UU No.7 1992.
Aloysius soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h.334.
15
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 yang diubah dengan undangundang No.3 tahun 2004 maka BI memiliki fungsi pengawasan sepenuhnya dan independen
terhadap Bank-Bank yang ada di Indonesia. Dalam fungsi ini melekat kewenangan yang dimiliki
BI untuk merekomendasikan rapat kepada KSSK jika menemukan bank yang mengalami kesulitan
keuangan (kesulitan likuiditas dan permasalahan solvabilitas) dan ditenggarai berdampak sistemik.
Hal ini diatur dalam Perppu JPSK (PERPPU Nomor 4 Tahun 2008) yang berlaku efektif sejak 15
Oktober 2008.
16
Aloysius soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h.330.
14
35
Bank gagal adalah jika Bank ini tidak diselamatkan maka akan terjadi krisis
perbankan yang berdampak sistemik.17 Hal ini yang menyebabkan pemerintah
dalam hal ini Bank Indonesia memberikan sinyal akan perlunya memberikan
Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD) kepada Century atau yang dikenal dengan
istilah bailout18 sebesar 6,7 Triliun yang berasal dari Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) yan dilakukan empat tahapan Faktor inilah yang mendasari kasus
Century.
Awalnya DPR menyetujui bailout Bank Century sebesar 2 Triliun rupiah
karena dana nasabah sebesar 1.4 triliun hilang, tetapi pada kenyataannya bailout
yang diberikan melebihi dari persetujuan DPR, hal ini yang mengindikasikan
bahwa ada peran pemerintah untuk menyelamatkan nasabah yang mempunyai
kepentingan pribadi dengan pemerintah. Dan juga ketidak transparannya
pemerintah dalam proses bailout Bank Century yang menyebabkan kecurigaan
publik mengenai penanganan “spesial” Bank Century. Berikut merupakan
kronologis19 serta pendasaran aturan undang-undang yang diterapkan pada kasus
Century dari awal penanganan Bank Century sampai saat ini:
17
Istilah sistemik diambil dari kata sistem. Kerusakan sistemik berarti kerusakan
menyeluruh pada sistem yang ada. Mengacu pada definisi Perppu JPSK, yang dimaksud
berdampak sistemik adalah suatu kondisi sulit yang ditimbulkan oleh suatu Bank, LKBB, dan/atau
gejolak pasar keuangan yang apabila tidak diatasi dapatmenyebabkan kegagalan sejumlah Bank
dan/atau LKBB lain sehingga menyebabkan hilangnya kepercayaan terhadap sistem keuangan dan
perekonomian nasional.
18
Bailout dalam istilah ekonomi dan keuangan digunakan untuk menjelaskan situasi di
mana sebuah entitas yang bangkrut atau hampir bangkrut, seperti perusahaan atau sebuah bank
diberikan suatu injeksi dana segar yang likuid, dalam rangka untuk memenuhi kewajiban jangka
pendeknya.
19
Teguh Santosa, “Membaca Ulang Etape Skandal Bank Century, Membaca Ulang Peran
Boediono
dan
Sri
Mulyani,”
artikel
diakses
pada
25
Oktober
2010
http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=18322
36

20 November 2008: menggunakan UU BI No. 3 th.2004, Bank
Century telah dinyatakan sebagai Bank gagal dan hasil analisa sebagai
bank berdampak sistemik
yang dilakukan oleh pihak
Bank
Indonesia(BI)

20-21 November 2008: mengunakan PERPPU No. 4 th. 2008 tentang
JPSK, bank century yang telah dinyatakan sebagai Bank gagal akan
diserahkan pengurusan masalahnya pada KSSK(Komite Stabilitas
Sistem Keuangan)

21-30 November 2008: mengunakan UU No. 4 th. 2004 tentang LPS,
masalah Bank Century diputuskan secara bersama oleh KSSK(Komite
Stabilitas Sistem Keuangan )+LPS (Lembaga Penjamin Simpanan)
dalam penanganan Bank Century sebagai Bank gagal berdampak
sistemik.
Dalam Kronologi penanganan Kasus Century pada Bank Century sendiri
ditangani dalam 2 fase, Fase pertama yaitu mengenai rapat konsultasi Bank
Indonesia dengan Menteri Keuangan (13-19 November 2008) dan Fase kedua
yaitu mengenai rapat pengambilan keputusan rapat KSSK (tanggal 20-21
November 2008).20
Setelah mem-bailout terjadilah kecurigaan pada Bank Century bahwa
terjadi penggelapan dana nasabah oleh pemilik Bank yaitu Robert Tantular yang
kemudian ditangani oleh hukum dan ditangkap dan dijatuhi hukuman 4 tahun
penjara dan denda Rp 50 miliar. Kemudian Bank Century telah berganti nama
20
Indonesia recovery.com “Kronologis Penyelamatan Century”, artikel diakses pada 2
Desember 2010 dari http://www.indonesiarecovery.com/kronologis-penyelamatan.html
37
Bank Mutiara pada tanggal 2 Oktober 2009. adanya proses hukum yang dilakukan
dalam kasus Century yaitu dengan dihukumnya sipemilik Bank yaitu Robert
Tantular dan bergantinya nama Bank menjadi Bank Mutiara belum ada juga tanda
berakhirnya kasus Century, bahkan itu hanya sebuah permulaan.
Puncaknya kasus Century menjadi sorotan politik dan publik bermula dari
pidato Presiden pada tanggal 22 November 2009 yang menyatakan untuk
mengusut kasus Century secara tuntas dan terbuka.21 Kemudian dengan
pernyataan Presiden tersebut ditindaklanjuti dengan adanya investigasi dalam
penanganan Bank Century yang diawali dengan inisiatif tim sembilan dalam
pengajuan Hak Angket pada DPR maka terbentuklah panitia khusus (Pansus) dan
Hak Angket pada tanggal 4 Desember 2009 yang terdiri dari 30 anggota antara
lain 8 anggota Demokrat, Golkar (golongan karya) 6 anggota, PDI-P (partai
demokrasi indonesia perjuangan) 5 anggota, PKS (partai keadilan sejahtera) 3
anggota, PKB (partai kabangkitan bangsa 2 anggota), PAN (Partai Amanat
Nasional) 2 anggota, PPP (partai persatuan pembangunan) 2 anggota, Gerindra (1
anggota) dan Hanura (Hati Nurani Rakyat) 1 anggota.22
Adapun babak permulaan dengan adanya Hak Angket dan Pansus bermula
dengan kesepakatan para anggota dewan membentuk sebuah tim untuk kasus
Century, sebelumnya saat proses bailout yang telah dilakukan oleh pihak terkait
pada Bank Century Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memanggil Menteri
Keuangan (MENKEU), Bank Indonesia (BI), dan LPS untuk meminta penjelasan
21
22
“Presiden Ingin Kasus Century Dibuka,” Jurnal nasional, 23 November 2009, h.7.
Soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h. 337.
38
perihal pembengkakan suntikan modal hingga Rp.6,7T padahal pemerintah hanya
meminta persetujuan sebesar Rp.1,3 T saja. Dalam pertemuan dengan DPR itu
pula, MENKEU menegaskan dampak sistemik yang akan terjadi pada perbankan
Indonesia jika Bank Century ditutup.
Perlu diingat bahwa Pansus23 dan Hak Angket24 bukanlah lembaga hukum
yang dapat memvonis suatu kebijakan pemerintah. Sesuai dengan Undangundang Nomor 6 tahun 195425 tentang Hak Angket tidak dapat dijadikan alat
bukti dan pidana hal ini dinyatakan oleh Presiden. bahkan dengan adanya Pansus
dan Hak Angket menelan biaya yang cukup besar bahkan diberitakan bahwa
Pansus Century menelan biaya yang tidak cukup kecil sekitar 5 miliar selama
kasus bergulir di DPR. 26
Pada perjalanan Pansus Hak Angket diisi dengan banyak perdebatan
mengenai kasus Century, bahkan banyak isu, serta opini yang terbentuk pada
aktualisasi Pansus dari pemanggilan pihak terkait oleh Pansus dan perdebatan
tentang pandangan kasus Century pada pihak terkait (Stakeholder) internal
maupun eksternal yang turut mempengaruhi jalannya Pansus Century. Selama
masa kerja Pansus selama beberapa minggu serta agenda yang dijadwalkan pun
menuai banyak ”polemik” cara pemanggilan dan aturan terhadap pihak yang
23
Panitia khusus dibentuk oleh DPR dan merupakan alat kelengkapan DPR yang bersifat
sementara. DPR menetapkan susunan dan keanggotaan panitia khusus berdasarkan perimbangan
dan pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi. Jumlah anggota panitia khusus ditetapkan oleh
rapat paripurna paling banyak 30 orang.
24
Hak angket adalah Hak untuk penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang
dan/atau kebijakan Pemerintah yang dimiliki DPR(dewan perwakilan rakyat) diajukan oleh
anggota DPR minimal 10 orang pada pimpinan DPR.
25
UU NO. 6 tahun 1954.
26
Surya, “Sinetron Pansus Century Telan Biaya Rp 5 Miliar” artikel diakses pada 22
Oktober 2010 dari http://www.surya.co.id/2010/03/04/sinetron-Pansus-Century-telan-biaya-rp-5miliar.html
39
bersangkutan, di mana Pansus ingin memanggil semua pihak yang terkait dengan
kasus Bank Century ini. Mulai dari pihak manajemen Bank Century, KSSK ,
Menteri Keuangan, LPS, BPK, PPATK, pemilik saham, dan nasabah Bank
Century, serta pihak-pihak lain yang terkait, termasuk mantan wakil Presiden
Jusuf Kalla, yang saat kasus pengucuran dana itu terjadi sedang menjabat sebagai
Presiden ad interim (menggantikan wewenang keputusan) menggantikan SBY
yang sedang berada di luar negeri, bahkan seorang Presiden pun di agendakan
akan dipanggil serta wakilnya yang dimungkinkan adanya pemakzulan terhadap
pihak terkait.27
Setelah masa kerja Pansus berakhir kurang lebih 60 hari, kasus ini belum
juga menunjukkan ujungnya. Pansus terkesan hanya menjadi arena drama
politik dan ajang meningkatkan Bargaining Position atau nilai tawar partai politik.
Pihak-pihak terkait yang dipanggil ke DPR untuk memberikan keterangan di
hadapan Pansus hanya memberikan jawaban normatif, bahkan seringkali
mengutarakan ketidaktahuan mereka.
Silang pendapat bermunculan Perdebatan memanas tentang apakah
keputusan pemberian talangan dana atau bailout tersebut tepat atau tidak
profesional atau legal dalam cara menanganinya, mengapa sampai terjadi, dan
sebagainya.28 Bahkan, sampai muncul dugaan dari beberapa pihak bahwa ada
sebagian dana dari Rp. 6,7 T yang mengalir kepada partai dan Capres-Cawapres
27
28
Soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h.10.
Soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h.87.
40
tertentu saat penyelenggaraan Pemilu 2009 lalu, dalam hal ini partai Demokrat
dan SBY-Boediono.
Di akhir perjalanan Pansus, konflik-konflik lain mulai memanas.
Perdebatan tidak hanya terjadi antara partai oposisi dengan partai yang tergabung
dalam koalisi pemerintahan yang dibangun SBY dan Partai Demokrat sebagai
pemenang Pemilu, namun juga terjadi perdebatan antar partai koalisi, seperti
Partai Demokrat dengan Partai Golkar dan PKS.
Tekanan dan dugaan upaya pengalihan isu pun menguat. Partai-partai yang
bergabung di koalisi namun belum juga menunjukkan sikap tidak bersahabat
dalam Panitia Angket mendapatkan sejumlah tekanan, seperti membuka kasuskasus lain seperti tunggakan pajak, korupsi di Departemen Sosial, hingga
ancaman perombakan kabinet(reshuffle), bahkan secara terang-terangan, anggota
Dewan Pembina Partai Demokrat, Haryono Isman, mengungkapkan, meminta
partai koalisi yang tidak sejalan untuk menarik kadernya dari kabinet.
Tepat pada hari Selasa 23 Februari 2010, Pansus Hak Angket Century pun
menyampaikan pandangan akhir tiap fraksi. Dalam pandangan akhir tersebut,
setidaknya tujuh fraksi, yaitu fraksi PDIP, fraksi Partai Gerindra, fraksi Golkar,
fraksi PKS, fraksi Hanura, fraksi PAN, dan fraksi PPP menyatakan bahwa ada
kesalahan dalam proses pemberian dana talangan untuk Bank Century tersebut.
Sementara itu, dua fraksi lainnya, yakni fraksi Partai Demokrat dan fraksi PKB
41
menyatakan bahwa pemberian dana tersebut telah sesuai dengan prosedur dan
tidak ada yang bersalah.29
Beberapa fraksi, dalam pandangan akhirnya juga menyebutkan beberapa
nama yang dianggap bersalah dan bertanggung jawab atas keluarnya dana negara
sebesar Rp. 6,7 T yang kemudian tidak jelas kemana alirannya. Termasuk di
antara nama-nama yang disebut adalah Boediono, Wakil Presiden RI saat ini yang
dahulu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia saat kasus ini terjadi. Sri
Mulyani, Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 1 dan 2 juga
dianggap bertanggung jawab, dengan jabatannya sebagai ketua KSSK saat
pemberian dana talangan.30
Setelah penyampaian pandangan akhir Hak Angket kemudian diputuskan
dalam Sidang Paripurna, Sebelum mengadakan sidang paripurna Century banyak
tekanan tentang bagaimana cara pembuatan keputusan tentang kasus Century
dengan berita tuntutan perihak yang bertanggung jawab dalam penyebutan nama
pejabat publik, serta cara penanganan kasus ini selanjutnya. Dalam rapat
Paripurna DPR RI pada Selasa 2 Maret 2010, Pansus membacakan pandangan
akhirnya dengan mengajukan dua opsi pilihan. Sidang Paripurna DPR RI ini di
warnai juga dengan aksi demonstrasi oleh berbagai elemen massa yang ingin
mengawal rapat paripurna agar menghasilkan keputusan yang sesuai dengan apa
yang diharapkan rakyat. Demonstrasi berlangsung serentak di depan gedung DPR
serta di berbagai kota lain seperti Makassar, Yogyakarta, Bandung, dan lainnya.
29
30
Soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h.344.
Soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h.345.
42
Proses pengambilan keputusan dilaksanakan pada 3 Maret 2010, setelah
sempat pada Paripurna hari pertama mengalami kericuhan yang dipicu oleh
kurang akomodatifnya Ketua DPR, Marzuki Alie yang memimpin jalannya rapat
paripurna. Pada hari kedua, walaupun proses berjalan alot, dipenuhi berbagai
dinamika dan diwarnai hujan interupsi,akhirnya Rapat Paripurna pun memutuskan
dua opsi yaitu opsi A dan opsi C sebagai pilihan Paripurna melalui voting atau
pemungutan suara dari seluruh anggota DPR RI yang hadir. Adapun keterangan
putusan opsi A dan opsi C tentang dana talangan pada Bank Century sebagai
berikut31:
Keputusan Opsi A: Yang Menyetujui Adanya Bailout Century
1. Permasalahan Bank Century muncul sejak akusisi-merger yang tidak
dilakukan berdasar persyaratan dan undang-undang yang berlaku.
Merger bahkan melanggar aturan perundang-undangan, sarat penipuan,
dan tindak money laundering oleh pengurus Bank.
2. Praktek itu (penipuan, money laundering, dll) terus menerus terjadi
berkaitan lemahnya pengawasan Bank Indonesia yang bahkan
memberikan kemudahan-kemudahan yang berlebihan.
3. Keputusan pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek ke Bank
Century adalah wewenang Bank Indonesia sesuai PERPPU 2/2008
untuk
mencegah
ketidakstabilan
perekonomian.
Terdapat
penyalahgunaan wewenang dalam mekanismenya.
31
Wikipedia online, “Panitia Khusus Hak Angket_Bank Century”artikel diakses pada 22
Oktober 2010 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Panitia_Khusus_Hak_Angket_Bank_Century
43
4. Penetapan Bank Century sebagai Bank gagal yang ditenggarai
berdampak sistemik berdasar PERPPU 4/2008 untuk mencegah
Indonesia dari krisis ekonomi sebagai dampak krisis global.
5. Keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan bahwa Bank Century
gagal berdampak sistemik adalah untuk menyelamatkan sistem
keuangan dan perbankan nasional.
6. Terdapat indikasi kuat bahwa penetapan Bank Century sebagai bank
gagal berdampak sistemik tidak disertai data-data akurat dan tidak
disertai prinsip kehati-hatian. Namun itu dapat dipahami karena
keputusan dilakukan di saat krisis.
7. Di tahap pemberian Penyertaan Modal Sementara masih terjadi
perdebatan
mengenai
kerugian
negara
yang
muncul.
Pansus
memberikan hal tersebut ke penegak hukum untuk ditindaklanjuti.
8. Pansus belum temukan bukti bahwa terjadi aliran dana ke sebuah
partai politik atau salah satu pasangan Capres-Cawapres.
Rekomendasi
1. Perlu dilakukan proses hukum ke manajemen Bank Century, termasuk
mengambil langkah hukum ke pejabat BI yang diduga ikut melakukan
tindak pidana.
2. Pelanggaran pelaksanaan pemberian FPJP perlu ditindaklanjuti
penegak hukum bila terdapat indikasi tindak pidana.
3. Meminta DPR melakukan revisi perundang-undangan terkait sektor
moneter dan fiskal.
44
4. Pemerintah dan DPR harus membentuk UU Otoritas Jasa Keuangan
demi independensi lembaga keuangan dan UU Jaring Pengaman
Sektor Keuangan sebagai dasar yuridis pemerintah untuk mengambil
kesimpulan di saat krisis.
5. BI (Bank Indonesia) harus memperbaiki aturan internal untuk
meminimalisi penyalahgunaan wewenang oleh pejabatnya.
6. Pemerintah perlu membentuk tim pemburu aset yang diambil secara
tidak sah oleh pelaku tindak pidana. Upaya tersebut perlu dilaporkan
ke DPR.
7. Terkait dana nasabah PT. Antaboga Delta Sekuritas, ternayata memang
nasabah Antaboga ditawarinya dengan modus penipuan oleh Bank
Century. Pansus meminta pemerintah mencari jalan keluar untuk
mengganti dana nasabah.
Keputusan Opsi C: Menyatakan Bailout Century menyimpang
1. Pengucuran dana FPJP dan PMS ke Bank Century adalah termasuk
keuangan negara.
2. Patut diduga terjadi penyimpangan dalam proses pengambilan
kebijakan oleh otoritas moneter dan fiskal yang diikuti banyak
penyalahgunaan, mulai dari akuisisi-merger, pemberian FPJP, PMS,
hingga tahap aliran dana.
3. Diduga terjadi penyimpangan proses pengambilan kebijakan oleh
otoritas moneter dan fiskal dengan mengikutsertakan pemilik saham
dan manajemen Bank Century sehingga merugikan negara. Kepada
45
pihak yang diduga bertanggung jawab, FPG, FPDIP, FPKS dan
FHanura menyebut nama. FPPP sebut unit kerja dalam institusi, dan
FGerindra sebuah pejabat yang bertanggung jawab. Daftar nama
terlampir.
4. Kasus Bank Century merupakan perbuatan melanggar hukum yang
berlanjut atau penyalahgunaan wewenang oleh pejabat otoeritas moner
dan fiskal sehingga dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana
korupsi karena diduga merugikan negara.
5. Berkenaan dengan dugaan mengalirnya dana PMS (Penyertaan Modal
Sementara) ke sebuah parpol atau suatu pasangan Capres-Cawapres
tertentu, Pansus belum dapat menuntaskannya karena keterbatasan
waktu dan wewenang Pro-Justicia.
Rekomendasi:
1. Merekomendasikan seluruh penyimpangan dan penyalahgunaan
wewenang yang berindikasi perbuatan melawan hukum yang
merupakan tindak pidana korupsi, tindak pidana perbankan dan tindak
pidana umum berikut pihak-pihak yang di duga bertanggung jawab
agar diserahkan kepada lembaga Penegak Hukum. yaitu kepolisian
republik indonesia, kejaksaan agung dan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) sesuai dengan kewenangannya.
2. Meminta kepada DPR bersama dengan pemerintah untuk segera
membentuk dan merevisi berbagai peraturan perundang-undangan
yang terkait dengan pengelolaan sektor moneter dan fiskal.
46
3. Melakukan pemulihan asset yang telah diambil secara tidak sah oleh
pelaku tindak pidana yang merugikan keuangan Bank Negara, baik
pada Bank Century maupun pada Bank CIC yang diduga dilakukan
oleh Robert Tantular, dengan meminta terlebih dahulu forensik audit
terhadap kasus aliran dana Bank Century yang dilakukan oleh kantor
akuntan publik di bawah supervisi dari tim monitoring Panitia Angket
Century. Upaya pemulihan asset yang telah dilarikan keluar negeri
secara tidak sah harus diselesaikan selambat-lambatnya pada bulan
Desember 2012.
4. Meminta kepada DPR agar membentuk Tim Pengawas tindak lanjut
rekomendasi Panitia Angket Bank Century yang bertugas untuk
mengawasi pelaksanaan rekomendasi dan proses penelusuran aliran
dana serta pemulihan asset dengan kewenangan sesuai dengan
peraturan selambat-lambatnya pada masa persidangan berikut.
5. Meminta kepada pemerintah dan/atau Bank Indonesia untuk segera
menyelesaikan permasalahan yang menimpa nasabah PT. Antaboga
Delta Sekuritas dengan mengajukan kepada DPR pola penyelesaian
secara menyeluruh baik dasar hukum maupun sumber pembiayaan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Banyak hal yang terjadi dalam pemungutan suara atau voting tersebut, ada
enam fraksi, yakni Golkar, PDIP, PKS, Gerindra, dan Hanura, PPP yang memilih
opsi C. Sedangkan tiga fraksi lainnya, yaitu fraksi Partai Demokrat, fraksi PAN,
dan fraksi PKB memilih opsi A. Satu hal menarik yang juga cukup mendapat
47
perhatian adalah adanya satu orang anggota fraksi PKB, Lily Wahid yang berbeda
pilihan dari apa yang menjadi pilihan fraksinya. Lily, seorang diri dari fraksi PKB
yang memilih opsi C. Dalam kenyataan yang terjadi bahwa koalisi partai yang ada
pada DPR yang seharusnya dalam hitungan matematika logis akan memenangkan
putusan opsi A. Namun fakta yang terjadi tidak mempengaruhi jalannya satu
pendapat, dimungkinkan banyaknya pemberitaan serta pandangan opini yang
diberitakan pers dapat mempengaruhi sikap fraksi dalam menanggapi kasus
Century. Inilah, suatu bukti bahwa ”Lobi” serta tawaran-tawaran politik
(Bargaining Politic) yang belum kuat ataupun juga memang para dewan
melihatnya secara objektif pada rapat Paripurna kasus Century. Dan akhirnya 315
berbanding 212 untuk kemenangan opsi C.32
Satu hari paska Paripurna, Presiden Soesilo Bambang Yudhyono (SBY)
berpidato di Istana menanggapi hasil Paripurna DPR. Dalam pidatonya, SBY
kembali menegaskan pembelaannya terhadap kebijakan bailout dan kepada
Boediono dan Sri Mulyani. SBY menyebut bahwa kebijakan tersebut sudah tepat
dan bahkan mengatakan bahwa Boediono dan Sri Mulyani adalah pihak yang
berjasa menyelamatkan perekonomian Indonesia. Pidato SBY tersebut seakan
menafikan hasil Rapat Paripurna DPR RI.33
32
Kangnawar.com “Hasil Sidang Paripurna Bank Century “artikel diakses pada 26
2010 dari http://kangnawar.com/politik-pemilu/hasil-sidang-paripurna-kasus-bank-
33
Soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h.348.
Oktober
Century
BAB IV
EKSISTENSI PERS DALAM
PEMBERITAAN POLITIK ”KASUS CENTURY”
A. Dampak Kekuatan Pers Pada Politik Dalam Pemberitaan Kasus Century
Kasus Century terkuak dan menjadi sorotan opini publik tidak lepas dari
peran kekuatan pers dengan pemberitaan di berbagai media dan juga efek
mencuatnya kasus Century di publik membawa efek domino tersendiri pada
politik nasional, kasus ini sesungguhnya bermula dari dugaan kecemburuan elite
politik tentang dana Bank Century mengalir pada salah satu partai yang harusnya
kasus ini dibawa keranah hukum namun dibawa keranah politik.
Berlarut-larutnya kasus ini yang menjadi bola liar disebabkan dari sikap
pemerintah dengan kebuntuan komunikasi politik pemerintah pada masyarakat
dalam menenggarai kasus iini secara komprehensif,1 sehingga pemberitaan kasus
semakin meruak dalam pemberitaan media serta opini yang kian berkembang
banyak dan kian makin tak jelas ujungnya dalam penanganan kasus ini karena
banyaknya manuver politik yang terjadi pada elite poltik sendiri pada saat sidang
pansus maupun sidang paripurna yang disiarkan dan dirilis oleh beberapa media,
yang seharusnya partai koalisi dapat dukungan penuh apa yang dilakukan
pemerintah namun tidak dalam kenyataannya dalam parlemen. Sehingga
1
Antaranews.com,”Pakar Kasus Century Berlarut karena Komunikasi Buntu,”artikel
diakses pada 5 juni 2011 dari http://www.antaranews.com/berita/1265360067/pakar kasus century
berlarut karena komunikasi buntu
48
49
pemberitaan kasus Century sempat membingungkan menurut ketua Dewan pers
Indonesia Bagir Manan.2
Dalam pemberitaan kasus ini banyak yang di pertaruhkan antara lain citra
pada lembaga-lembaga negara serta pemimpin negara yaitu presiden yang
diisukan akan adanya pemakzulan atau mosi tidak percaya pemerintah. Banyak
kekuatan yang bergulir dan terlibat dalam pemberitaan kasus Century, kasus
Century menjadi suatu isu sentral pertarungan propaganda politik. sehingga
banyak media masa melakukan propaganda dalam pemberitaannya.
Menurut kami, ada teori propaganda politik yang dilakukan oleh media
cetak selama berlangsungnya kasus Century. Yang pertama, beroperasi melalui
imbauan-imbauan khas berjangka pendek. Biasanya melibatkan usaha-usaha
pemerintah, partai atau golongan berpengarauh untuk mencapai strategis atau
taktis. Contoh dengan memberitakan adanya aliran dana pada salah satu partai
politik dan pemaknaan pertemuan pejabat negara bersama Presiden di istana
Cikeas. Adapun yang kedua, tipenya berangsur-angsur, merembes kedalam
lembaga-lembaga ekonomi, social dan politik di mana media menghiasi
pemberitaan politik kasus Century sebagai pokok berita(Headline) dihalaman
cetak surat kabar secara terus menerus begitu juga televisi akan menyiarkan
berita secara eksklusif dengan memberitakan kasus ini secara langsung. Sehingga
melalui propaganda ini orang ataupun khalayak akan terpadaya seolah disuntik
2
Gin-gin tigunulur, Okzone.com “Bagir pemberitaan kasus Century membingungkan,”
artikel
diakses
pada
tanggal
1
oktober
2010
dari
http://news.okzone.com/read/2010/01/10/339/296661/bagi-pemberitaan-kasus-centurymembingungkan
50
secara tak berdaya dengan suatu cara hidup dengan apa yang diberitakan media.
Hasilnya,suatu konsepsi umum tentang kasus Century.3
Meruaknya kasus Century pada akhir tahun 2009 menjadi suatu fenomena
yang jadi sorotan publik selama 3 bulan kurang lebih dari awal November hingga
Februari 2010 dengan tingkat pengetahuan publik sebanyak 77% dari hasil survei
nasional dalam kasus ini.4 Kasus ini sendiri menjadi sorotan publik terbentuk
adanya
dukungan dari pihak elite politik untuk membongkar kasus ini serta
pemberitaan dibeberapa media indonesia, bahkan presiden mengatakan untuk
membongkar tuntas dalam hal ini dan juga peran pers dalam memberikan
kontribusi dalam pemberitaan kasus ini.
Mengapa kasus Century menarik untuk diberitakan oleh pers? Disebabkan
kasus ini menyangkut hubungan politik terkait pada pejabat publik, dalam hal ini
di mana pers menjalankan apa yang diamanatkan undang-undang pers nomor 40
agar melakukan kontrol pada pemerintahan sesuai fungsinya, dan juga sebagai
predictor of political change dan juga political actor
5
yaitu sebagai peramal
dalam perubahan politik di mana media berupaya sebagai inisiator serta pemicu
untuk merubah alur politik jika memang terdapat tidak pada koridor yang ada
yaitu Undang-Undang(UU) dan juga sebagai aktor politik di mana media sebagai
pihak yang dapat melakukan perubahan politik dengan transparansi informasi
yang mereka sebarkan dalam upaya melakukan check and balances, oleh
3
Gun-gun heryanto ,” Propaganda Politik Melalui Media Massa,” artikel diakses pada 5
juni 2011 dari http://gunheryanto.blogspot.com/2007/09/propaganda -politik -melalui -media massa-.html.
4
Starbrainindonesia,“Kasus Century Dimata Publik,” artikel diakses pada 5 November
2010 dari http://www.starbrainindonesia.com/site/news/152/kasus-Century-dimata-publik
5
Hafied Congara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori dan Strategi, h.141
51
karenanya media akan selalu memberitakan serta tertarik dan juga hujan kritikan
dalam penanganan kasus ini. memang media selau akan menjadi musuh berat atau
watchdog bagi pemerintah.6
Disamping pemberitaan pers yang memang bercirikan teori ”agenda
setting” dengan menyiarkan secara terus menerus, yang memang sesuai minat para
pengamat dan rakyat untuk selalu menikmati pemberitaan kasus ini karena
memang kasus ini mempunyai Interest dan kepentingan peristiwa (Prominance)
besar yang meyangkut citra pejabat publik dan kompleksitas kasus Century yang
kuat, dalam pemberitaan oleh media, bahkan suatu lembaga meneliti banyaknya
pemberitaan kasus Century pada surat kabar pada 10 surat kabar nasional dengan
hasil yang cukup fantastis untuk pemberitaan kasus ini bahkan menjadi topik
headline di beberapa halaman muka surat kabar tentang berita kasus Century
selama tiga bulan.
Dalam pemberitaan politik kasus Century ada tiga hal positif yang kita
rasakan pada pemberitaan media kita saat ini menurut Gun-Gun Heryanto,
Pertama, ”Demokratisasi Informasi” diadakannya siaran langsung dan framing
media yang sebelumnya tidak pernah terjadi, dalam pembahasan kasus Century
media pun dapat melontarkan kritik dan membuat opini publik dalam
menenggarai kasus ini.Kedua, bingkai media telah memberi fokus pada ranah
”Diskursus Publik” pengetahuan pada publik sebagai informasi penting. Ketiga,
6
Hafied Congara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori dan Strategi, h.141
52
media massa juga berperan penting dalam peneguhan (reinforcement) gerakan
sosial politik yang muncul dari simpul-simpul kekuatan rakyat.7
Dengan catatan diatas bahwasanya memang kasus ini sebagai trendtopik
untuk diberitakan bahkan acapkali beberapa media menjadikan berita yang dieluelukan oleh publik untuk selalu mengekspos kasus ini berlangsung. Bahkan
beberapa stasiun televisi swasta menyediakan siaran langsung dalam meliput
kasus ini memungkinkan adanya sinetron kasus Century jilid dua. seolah berita
dimuat berdasarkan kemauan pangsa pasar atau pembaca media dan juga terikat
dengan akumulasi keuntungan yang memang berita Massive yang kemudian berita
hanya berisikan sensasi dan pertarungan politik dalam pembahasan kasus ini dan
media tak lebih kurang objektif dalam pemberitaan kasus ini.
Adanya pemberitaan kasus Century mempengaruhi dalam hal membuat
banyaknya pro-kontra kisruh kepentingan politik dan terjadinya anomali politik
yang belum terjadi selama 10 tahun terakhir.8 Bahkan dalam pemberitaan kasus
Century seolah ”penuh jebakan”9 untuk publik disebabkan banyaknya isu dan
serta kasus yang terjebak dalam kepentingan politik bahkan pers atau pada
beberapa media terjebak pada kepentingan yang ada, sehingga berita yang
diberitakan cenderung bias pada permasalahan pokok .
Sejatinya, dalam pemberitaan dan opini yang berkembang pada
penanganan kasus ini oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ada dua yaitu
7
“Gun-gun heryanto, “komodifikasi kasus bank Century,” artikel diakses pada 5
November 2010 dari
http://gunheryanto.blogspot.com/2010/03/komodifikasi-kasus-bankCentury.html
8
Aloysius soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha,( Jakarta:
Kompas Media Nusantara, 2010),h.238.
9
Ibid., h. 9.
53
pertama, bekerja pada alur yang tidak menenggelamkan objektivitas Kedua,
mampu menyimpulkan hasil kerja secara objektif, tentu dengan menomor satukan
keadilan, bukan menang kalah politik.10
Namun fakta pada berita yang bekermbang pada penanganan kasus
Century adalah kisruh tentang debat argumen dipanggung pansus serta kasus yang
lain seolah sengaja diangkat ke permukaan (Blowup) pada publik demi
membiaskan objektivitas untuk memancing selera kemauan pasar atau konsumen
media ataupun oplah dan juga berita tentang kasus Century dijadikan sebuah isu
komuditi yang dianggap media, hal ini pula media mengindikasikan adanya
penggembosan berita. Objektivitas dalam pemberitaan adalah masalah akut yang
tidak dapat dihindarkan dari dulu dan belum adanya ukuran suatu objektivitas
dalam permasalahan yang di beritakan, ketika para jurnalis dan media sendiri
tidak bergerak pada ruang hampa melainkan bergerak dibanyak ruang sehingga
media sendiri masih terjebak pada kepentingan- kepentingan yang ada.
Selama pemberitaan kasus Century ada hal pokok issue politik yang
terbentuk pada pemberitaan media pada bulan Februari-Maret 2010 antara lain:

pemberitaan tentang wacana Impeachment (pemakzulan presiden)

pemberitaan
tentang
wacana
Impeachment(pemakzulan
wakil
presiden)

pemberitaan tentang penonaktifan Sri Mulyani

pemberitaan tentang hasil pemeriksaan pihak-pihak terkait di pansus
Century
10
Soni ed., Centurygate mengurai konspirasi pengusaha-pengusaha, h.189.
54

pemberitaan tentang hasil pandangan sementara Pansus

pemberitaan tentang kesimpulan hasil Pansus

pemberitaan tentang sidang paripurna DPR terkait hasil pansus
Century

pemberitaan tentang kinerja Pansus dan konflik personal antar
Anggota Pansus
Adapun pihak terkait pada kasus Century dalam pemberitaan yang sering
disebut bertanggung jawab dalam penanganan kasus Century antara lain:

Susilo Bambang Yudhoyono: selaku presiden yang memberi
keputusan serta tanggapan pada menteri keuangan dan Gubernur
BI(Bank Indonesia) yang menurut kedua pihak tersebut sudah
menkonfirmasi presiden sebelum mengucurkan dana talangan pada
Bank Century dalam menangani krisis perbankan dan juga sebagai
pihak yang diduga adanya aliran dana Bank Century pada partai yang
mengusung presiden dalam pemilu.

Boediono: selaku wakil presiden yang sebelumnya menjabat
Gubernur BI yang ikut dalam proses rapat untuk membailout Bank
Century

Sri mulyani: selaku menteri keuangan yang memberikan putusan
untuk membailout Bank Century.

Robert tantular dan manajemen Bank Century: sebagai pengelola dan
pemilik Bank Century yang menerima dana talangan atau bailout.
55
B. Studi Komparatif Pemberitaan Kasus Century Pada Headline Jurnal
Nasional Dan Koran Tempo
Komparatif atau Perbandingan Menurut kamus besar bahasa indonesia
adalah sebuah kata untuk mengetahui perbedaan dan kesamaan. penulis meneliti
secara komparatif
pada dua media yaitu Jurnal Nasional dan Koran Tempo
tentang eksistensi pers pada pemberitaan kasus Century. Adapun alasan mengapa
pada dua media ini karena menilai dua media ini cukup intens dalam pemberitaan
kasus Century, di mana tercatat dalam survei yang dilakukan lembaga survei
swasta Starbraindonesia, pada media Tempo tercatat 189 kali pemberitaan kasus
Century, sedangkan media Jurnas sebanyak 149 kali pemberitaan dari bulan
Desember hingga Februari.11
Surat Kabar Jurnal Nasional adalah salah satu surat kabar harian nasional
di Indonesia yang terbit pada 1 Juni tahun 2006, harian ini diterbitkan oleh PT.
Media Nusa Perdana. Mempunyai kantor di Jakarta pusat- Johar yang sebelumnya
di Bogor. Jurnas merupakan salah satu surat kabar nasional yang cukup dilirik
dalam pemberitaan politik nasional di mana dalam surat kabarnya menyediakan
berita politik dalam tajuk kolom yang dikhususkan yaitu pada kolom hukum
politik nasional, Surat kabar ini terbit dalam dua versi yaitu versi cetak dan versi
elektronik (online). Media ini dipimpin oleh N. Syamsuddin Ch. Haesy hingga
saat ini.12
11
Starbrainindonesia.com,”hasil riset starbrain indonesia tentang kasus bank Century “,
artikel diakses pada 25 oktober 2010 dari http://www.starbrainindonesia.com/site/news/193/hasilriset-starbrain-indonesia-tentang-kasus-bank-Century
12
Jurnal nasional.com, “Tentang Kami” artikel diakses pada 28 november 2010 pada
http://www.jurnas.com/tentangkami
56
Surat kabar Tempo adalah media yang dikenal sebelumnya pada penerbitan
majalahnya yaitu majalah tempo yang dikenal cukup kritis hingga sempat dibredel
2 kali pada saat zaman orde baru, adapun pemilik usaha media ini masih terkait
dengan majalahnya, yaitu P.T. TEMPO INTI MEDIA HARIAN. Surat kabar
Tempo terbit pada 2 April 2001 dan berkantor di Mayestik-Kebayoran Lama
sedangkan kantor pusatnya terdapat di Jakarta Pusat-Menteng dipimpin redaksi
S.Malela Mahargasari.13 surat kabar tempo terbit dalam dua versi yaitu cetak dan
koran tempo online, dalam koran tempo berita politik nasional dikhususkan, yang
terdapat pada kolom nasional.
Berikut beberapa berita kompilasi pada headline dihalaman muka surat
kabar yang dirilis dua media, Koran Tempo dan Jurnal nasional pada saat puncak
proses penanganan kasus Century pada tanggal 28 Februari hingga 4 Maret 2010
sebagai berikut:
Tanggal
pemberitaan
28 Februari 2010
Headline Koran Tempo pada
framing berita kasus Century
”...PDI-P-Golkar
Pemakzulan:
Enggan
Bicara
“… Presiden Tolak Deal Politik-
menjelang
sidang
Hukum: staff kePresidenan Andi
pleno DPR yang akan membahas
Arief
kasus Century , fraksi PDI-P dan
permohonan
Golkar
kepada
memilih
pembicaraan
13
Headline Jurnal Nasional pada
Framing Berita Kasus Century
menghindari
,
mengatakan,
kredit
Bank
dugaan
fiktif
Century
L/C
yang
mengenai
dilakukan salah satu inisiator pansus
kemungkinan pemakzulan Wakil
Bank Century dari PKS Muhammad
Presiden Boediono ” agak berat
Misbakhun
komplikasi
Markas Besar Kepolisian RI ….”15
politiknya
karena
akan
dilaporkan
ke
Tempointeraktif.com “Tentang Kami” artikel diakses pada 28 november 2010 pada
http://webtorial2.tempointeraktif.com/rups2009/
57
(Presiden-Wakil Presiden) itu satu
paket ....”
14
Pada halaman depan
dengan gambar petinggi PDI-P serta
tanpa gambar yang relevan depan
hanya headline berita dihalaman
depan.
headline besar dan tebal.

Identifikasi
Masalah:
pembahasan pemakzulan jelang
sidang pleno kasus Century
Identifikasi
Penyebab
Masalah: wacana pemakzulan
presiden dan wakil presiden
pada saat jelang pleno kasus
Century semakin menguat
apalagi diduga wapres budiono
mempunyai
andil
dalam
permasalhan
pada
saat
menjabat gubernur BI kala itu.
Evaluasi Moral : dua fraksi
Golkar dan PDI-P menghindari
tentang wacana pemakzulan
presiden dan wakil presiden
karena
pertimbangan
komplikasi politik.
Penanggulangan Masalah :
pada jelang sidang pleno DPR
dua fraksi yaitu Golkar dan PDI
-P hanya ingin membahas kasus
Century
dan
menghindari
pembicaraan
wacana
pemakzulan presiden maupun
wakil presiden.



1 Maret 2010




Identifikasi Masalah : deal
(negoisasi) antara hukum dan
politik pada kasus Century.
Identifikasi
penyebab
masalah : presiden menolak
negoisasi hukum dengan politik
Evaluasi Moral : inisiator
Muhammad Misbakhun Bank
Century akan dilaporkan ke
polisi dengan dugaan kredit
fiktif oleh staff presiden.
penanggulangan masalah :
bahwa masalah kredit fiktif
ditegakkan melalui jalur hukum
tanpa memandang masalah
politik hal ini dilakukan oleh
staff presiden sendiri.
”...Satuan Tugas Hukum Siap Usut
”...SBY : Bailout Century Benar:
Kasus Misbakhun: ”rela masuk bui
Presiden
Susilo
Bambang
Yudhoyono dan kalangan Bankir
asalkan satu sel dengan Boediono”
16
....”
dengan font besar di muka
halaman dan gambar foto kartun
menilai pemberian dana talangan
(bailout) Rp 6,7 triliun kepada Bank
Century adalah
benar
15
untuk
kebijakan
yang
menyelamatkan
“Presiden Tolak Deal Politik-Hukum,” Jurnal Nasional, 28 Februari 2010, h.1.
“PDIP- GOLKAR Enggan Bicara Pemakzulan,” Koran Tempo, 28 Februari 2010,h.1.
16
“ Satuan Tugas Siap Usut Kasus Misbakhun,” Koran Tempo, 1 Maret 2010, h.1.
14
58
seorang anggota DPR.
perekonomian dan perbankan dari
krisis keuangan dunia saat itu ....”17


gambar
foto
Presiden
memegang map dihalaman muka
serta headline besar.

”...Politikus PKS Dilaporkan Ke
Polisi Dalam Kasus Century: staff
kericuhan dalam Sidang Paripurna
khusus
Arief
DPR kemarin merupakan proses
Muhammad
pembelajaran yang negatif dalam

Presiden,
melaporkan
17
dengan
Identifikasi
masalah
:
penilaian presiden tentang
bailout Century benar
 Identifikasi
Penyebab
Masalah : banyaknya wacana
dan penilaian atas kucuran dana
(bailout) ke Bank Century
presiden
mengungkapkan
bahwa dirinya bertanggung
jawab
atas
keputusan
pembailoutan
pada
bank
Century
 Evaluasi
Moral
:
sigit
pramono
ketua
perbanas
membenarkan bailout Century
sudah sesuai dengan tolak ukur
kondisi
yang
ada
saat
mengambil keputusan tersebut.
 Penanggulangan
Masalah:
penilaian benar atau tidak
dalam pembailoutan akan di
tentukan di DPR dan presiden
belum mau menjelaskan hal ini
secara jelas karena masih dalam
pembahasan di parlemen agar
tidak mempengaruhi kinerja
DPR dalam menilai kasus ini.
”...DPR Beri Pelajaran Negatif:

2 Maret 2010
Identifikasi Masalah : satgas
hukum
membahas
kasus
misbakhun.
Identifikasi
Penyebab
Masalah : mengusut salah satu
inisiator angket kasus Century
yang diduga terlibat oleh satgas
hukum.
Evaluasi Moral :
siap
mengusut secara hukum oleh
satuan tugas hukum kasus
Century meskipun salah satu
insiator angket kasus Century
Penangulangan
Masalah:
Misbakhun siap di usut oleh
satgas hukum dan rela masuk
penjara asalkan satu sel
bersama
Wakil
Presiden
Budiono
Andi
“SBY:Bailout Century Benar,” Jurnal Nasional,1 Maret 2010
59
Misbakhun,
komisaris
P.T.Selalang
Prima
yang
politikus
juga
utama
International
PKS,
ke
penguatan
....”19
headline.








18
foto
kericuhan
DPR
Identifikasi
Masalah
:
kericuhan pada saat sidang
paripurna DPR yang membahas
kasus Century
Identifikasi
Penyebab
Masalah : banyaknya anggota
interupsi disaat sidang dan
suara
ribut-ribut
dengan
panasnya dinamika politik
jelang mengambil keputusan,
menunjukkan anggota DPR
ingin tampil eksis di televisi .
Evaluasi Moral : pada
pemberitaan ini, seharusnya
menurut bambang fraksi golkar
para politikus kurang mengerti
tentang etika politik yang
santun apalagi disaat media
menyoroti apa tidak malu
dengan
penilaian
rakyat
terhadap kinerja DPR yang di
nilai hanya bisa ribut saja.
Penanggulangan
Masalah:
ricuhnya
anggota
DPR
seharusnya bisa di redam
menurut
maswadi
rauf
pengamat politik UI, meredam
dengan cara rapat internal ketua
fraksi kemudian dapat ditindak
lanjuti dengan etika politik
yang santun tanpa perlu ribut
lagi.
“Politikus PKS Dilaporkan Ke Polisi Dalam Kasus Century,” Koran Tempo, 2 Maret
2010, h.1.
19
indonesia
dihalaman muka surat kabar serta
kepolisian Jakpus ....”18
Identifikasi
Masalah
:
politikus PKS dilaporkan ke
polisi oleh staff presiden
Identifikasi
Penyebab
Masalah : dilaporkan ke polisi
oleh staff presiden yang diduga
terlibat pada kasus Century.
Evaluasi Moral : Andi Arief
staff presiden melaporkan ke
polisi muhammad Misbakhun
yang memiliki P.T. Selalang
Prima International terlibat
dalam kasus Century
Penanggulangan Masalah :
staff presiden melaporkan ke
polisi
tentang
perusahaan
Selalang Prima International
yang di miliki muhammad
Misbakhun di duga terlibat
pada kasus Century.
demokrasi
“DPR Beri Pelajaran Negatif,” Jurnal Nasional, 2 Maret 2010,
60
3 Maret 2010
”...PKS-GOLKAR
Tetap
Lawan
”... DPR Putuskan Rekomendasi
Istana
kisruh
dalam
sidang
Kasus Century Hari Ini: Dewan
DPR
kemarin
tidak
:
paripurna
Rakyat
pengaruhi sikap fraksi PKS dan
memutuskan
partai GOLKAR atas kasus Bank
mengenai
....”20
rekomendasi
kasus
Bank
final
Century
dalam rapat Paripurna ....”21 foto
simbol partai dan sebuah istana
gambar beberapa anggota dewan
serta
yang sedang rapat digedung.
headline
dengan
besar
tebal
di
halaman muka surat kabar.




Identifikasi masalah : “ PKS
dan Golkar lawan istana atas
kasus bank Century”
Identifikasi
Penyebab
Masalah : kedua partai koalisi
tidak satu visi dengan fraksi
pemerintah yaitu demokrat
pada saat merokemendasikan
tentang kasus Century.
Evaluasi Moral : pada aturan
politik seharusnya partai koalisi
satu
visi
dengan
partai
pemerintah namun beberapa
partai berbeda pandangan atas
nama fakta dan rakyat.sehingga
menimbulkan
instabilitas
politik dalam mengambil setiap
keputusan.
Penanggulangan Masalah :
dalam
pemberitaan
ini
seharusnya masalah partai
koalisi bersatu pada suatu fakta
kebenaran yang terungkap dan
membenahi manajemen koalisi
agar menciptakan politik yang
stabil dalam setiap mengambil




Identifikasi
Masalah
:
rekomendasi kasus Century di
DPR akan di putuskan hari ini
Identifikasi
penyebab
masalah : rekomendasi tentang
putusan DPR menjadi dua opsi
yang bersinggungan dengan
kepentingan-kepentingan
politik yang ada, di duga ada
barter kepentingan politik
Evaluasi Moral : putusan dan
rekomendasi akan ditentukan
dengan ketentuan fakta yang
ada, menurut ical ketua golkar
tidak akan
mempengaruhi
tentang isu dengan adanya
berter politik.
Penanggulangan
Masalah:
pada putusan rekomendasi
kasus Century esok, menurut
ical ketua fraksi golkar akan
tetap merekomendasikan namanama yang terlibat meskipun
seorang pejabat.
“PKS-GOLKAR Tetap Lawan Istana” Koran Tempo, 3 Maret 2010, h.1.
“DPR Putuskan Rekomendasi Hari Ini,” Jurnal Nasional, 3 Maret 2010,h. 1.
21
akan
gambar
Century
20
Perwakilan
61
4 Maret 2010
keputusan
tidak
lagi
bersinggungan
pada
saat
mengambil keputusan.
”...Tiga Fraksi Mitra Koalisi Tak
”...Fraksi
Bisa Dijinakkan, Tak Terbendung:
Voting:
fraksi Demokrat gagal membendung
Opsi C yang menyatakan telah
fraksi
terjadi pelanggaran pada pemberian
yang
menyalahkan
pendukung
dana
gambar
hasil
Bank Century dalam pemungutan
putusan
sidang
prosentase
paripurna
pada
dan
suara
talangan
(voting)
(bailout)
terbuka
kepada
dengan
gambar anggota dewan pada sidang
dukungan 325 suara....”23 dengan
putusan kasus Century.
gambar hasil prosentase hasil voting



serta headline dihalaman muka.
Identifikasi masalah: Putusan
rekomendasi
kasus
DPR
melalui voting
Identifikasi
penyebab
masalah : gagalnya meredam
partai koalisi menyebabkan
kekalahan
pendukung
pemerintah pada voting di
DPR.
Evaluasi Moral : kurangnya
manajemen partai koalisi di
legislatif
menyebabkan
instabilitas politik pada saat
mengambil keputusan.
Penanggulangan
Masalah:
partai yang terikat dalam partai
koalisi
seharusnya
dapat
menyesuaikan satu visi baik di
pemerintahan
maupun
di
parlemen agar stabilitas politik
tercipta dan tidak tarik menarik
pada putusan di parlemen.




23
fraksi-fraksi
Menang
penyelamatan Bank Century....”22

22
Anti-Bailout
Identifikasi Masalah : voting
masalah kasus Century dengan
putusan opsi A dukung
pembailoutan century sudah
benar dan opsi C anti bailout
yang diduga belum tepat dan
mesti diusut oleh pihak
berwenag
Identifikasi
penyebab
masalah
:
memberitakan
tentang putusan dua opsi yaitu
opsi A dan C penuh tarik ulur
kepentingan
partai
politik
dalam
saat
mengambil
keputusan tersebut.
Evaluasi Moral : keputusan
opsi C dimenangkan dalam
voting, bahwa keputusan ini
dianggap kemenangan rakyat
ungkap marzuki sebagai ketua
DPR.
Penanggulangan Masalah :
keputusan opsi C akan di tindak
“Tiga Fraksi Mitra Koalisi Tak Bisa Dijinakkan,” Koran Tempo, 4 Maret 2010, h.1.
“Fraksi Anti Bailout Menang Voting,” Jurnal Nasional, 4 Maret 2010,h.1.
62
lanjuti
oleh
KPK
yang
kemungkina para pejabat tinggi
terkait dalam kasus Century
Penulis menyimpulkan dari kedua media ini pertama, Koran Tempo lebih
banyak mengemas berita headline tentang kasus Century dengan kalimat
emosional seperti, dijinakkan, lawan, rela, dan enggan bicara. adapun tentang isi
berita lebih menekankan kasus Century pada berita yang menyangkut kontroversi
sehingga pemaknaan berita terkesan berhati-hati pada pemberitaan pembahasan
kasus Century di DPR seperti Pemakzulan, status partai koalisi di parlemen, dan
pelaporan staff presiden ke polisi yang terlibat dalam kasus Century. Kedua,
Jurnal Nasional memuat berita headline dengan kalimat solusi atau pembenaran
seolah menekankan apa yang dilakukan oleh pemerintah sudah benar dalam kasus
Century dan banyak menyoroti perdebatan di parlemen seperti, tolak deal politikhukum, bailout Century benar, DPR beri pelajaran negatif, ricuh, dan fraksi antibailout menang.
Dari banyaknya pemberitaan yang dirilis pada dua media tersebut terlihat
berbeda pada bingkai berita (framing) headline yang disampaikan dan
pembahasan juga akan berbeda pada setiap pemberitaan yang diangkat padahal
pada peristiwa kasus yang sama yaitu kasus Century. Di mana yang kita pahami
bahwa seperti keterangan sebelumnya akan ada bingkai berita (framing) yang
berbeda pada setiap pemberitaan pada media.dan juga untuk mengetahui
63
bagaimana ideologi
politik suatu media akan dibutuhkan studi komunikasi
mendalam analisa framing. Dalam setiap pemberitaan dua media ini yang
diinformasikan tentunya memberi tafsiran makna yang berbeda pada khalayak dan
akan membentuk suatu pandangan umun tentang kasus Century.
C. Analisa Faktor Pembentuk Opini Publik Pada Pemberitaan Kasus
Century Pada Media Jurnal Nasional Dan Koran Tempo
Pada pemberitaan media terlihat bahwa pada media ini melakukan
intensitas berita pada kasus Century, dalam hal ini kami melihat ada beberapa
faktor pada dua media ini dalam membentuk opini publik. adapun penjelasannya
sebagai berikut:

Intesitas, di mana dua media ini dalam catatan kami melakukan
pemberitaan yang cukup tinggi ketimbang pada pemberitaan kasus
lainnya.

Framing, pada dua media terlihat dalam membingkai berita terlihat pada
dua media selalu menonjolkan berita kasus Century pada headline halaman
depan dengan gambar dan frase pada surat kabar yang diterbitkan.

Frase (kalimat kata yang ada dalam pemberitaan), di mana dua media ini
selalu memberitakan dengan kata serta makna yang menarik pada headline
yang ditonjolkan dalam pemberitaan kasus Century yang kemudian dalam
setiap frase serta berita yang ada akan memberi pemaknaan serta sikap
khalayak dalam membaca berita kasus Century sendiri.
64

Pengembangan berita / Tanggapan (Statement) berita, di mana
pemberitaan dengan tokoh-tokoh yang dikenal (public figure) dengan
memberi saran ataupun kritik dalam hal kasus Century, sehingga membuat
berita semakin menarik dan mudah dipahami pada khalayak dalam hal
kasus Century
Pada dasarnya dua media ini memang berperan dalam memberitakan
sesuatu informasi yang diamanatkan oleh undang-undang pers pada pasal 6
tentang peranan pokok pers yang harus melakukan pemberitaan dalam memenuhi
hak masyarakat untuk mengetahui peristiwa.
Dalam pemberitaan pada dua media ini, kita melihat faktor sesungguhnya
pada teori komunikasi yang dilakukan dalam pemberitaan pada dua surat kabar
Koran Tempo dan Jurnal Nasional. Ada tiga teori komunikasi yang digunakan
dalam pembentuk opini publik pada pemberitaan Century. Pertama, teori agenda
setting, dalam hal ini berita kasus Century selalu terus menerus diberitakan
dengan tingkat intensitas yang cukup banyak dengan memuat framing yang
menarik serta headline yang dimuat pada halaman depan, sehingga menjadi
perhatian yang dirasakan perlu bagi masyarakat untuk mengetahuinya. Kedua,
teori penanaman (Cultivation Theory) yaitu efek dari agenda setting di mana akan
tertanam pada khalayak dalam suatu berita pemaknaan dan isi berita itu sendiri
pada suatu kasus atau berita yang dibaca akan membentuk serta penilaian dalam
membaca berita. Ketiga, teori jarum suntik24 di mana dalam pemberitaan akan
terbentuk opini publik dengan adanya informasi kita tidak dapat menolaknya
24
Hafied Congara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori dan Strategi (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 2009), h. 120.
65
seolah khalayak sebagai korban hipnotis yang terjadi dan seolah khalayak akan
menjadi korban dari pemberitaan media yang tidak dapat ditolak sehingga akan
melahirkan gerakan kognitif atas pemberitaan media yang membentuk menjadi
sebuah opini publik dan gerakan sikap dalam menanggapi setiap persoalan yang
diberitakan. Di mana opini publik ditandai dengan adanya pihak terkait
(stakeholder) dan gerakan yang ada, yaitu adanya pansus Hak Angket
DPR(Dewan Perwakilan Rakyat), ungkapan para tokoh publik serta lembaga
Swadaya Masyarakat ( LSM) , dan juga dengan tandanya tanggapan dalam pidato
presiden dan gerakan dari mahasiswa atau demonstrasi dalam hal kasus Century.
Wujud eksistensi pers pada politik tidak lepas dari peran jurnalis maupun
khalayak yang mampu membaca berita secara seksama dalam kasus Century dan
pengaruh pers juga mampu mempengaruhi dalam mengubah alur politik yang
terjadi di DPR, peran media tidak lepas dari jurnalis yang mampu memahami pada
politik literacy sehingga pemberitaan menjadi suatu andil yang cukup berpengaruh
baik dalam keputusan politik maupun pada khalayak yang menangkap isi berita.
ada pun khalayak agar dapat mensinergikan suatu berita politik perlu adanya
Media Literasi(pembelajaran terhadap pada media informasi) Program Media
Literasi dimaksudkan mendidik khalayak supaya senantiasa bersikap kritis
terhadap informasi apapun yang di terima dari media.25
Media Literasi juga menanamkan pentingnya kebiasaan untuk bersikap
selektif atas setiap mata acara yang akan ditonton atau setiap berita yang akan
25
Wordpress.com,”Perkembangan Media Massa Dan Media Literasi,” artikel diakses
pada 28 November 2010 pada http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/22/perkembangan-mediamassa-dan-media-literasi/
66
dibaca. Sebab orang-orang yang kurang terdidik dalam memahami media lebih
rentan berpengaruh pada bentuk berita yang termanipulasi yang halus pada
framing suatu berita. Paling tidak ada beberapa unsur yang fundamental dalam
pendidikan media literacy. Yakni, kesadaran terhadap dampak media, pamahaman
terhadap
proses
komunikasi
massa,
strategis
untuk
menganalisis
dan
mendiskusikan pesan-pesan media, pemahaman terhadap isi media sebagai tekad
yang menyajikan pandangan bagi kehidupan dan budaya kita, dan kesanggupan
untuk menikmati, memahami dan mengapresiasi isi media.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisa dan uraian di atas, maka dapat dikemukakan beberapa
kesimpulan sebagai berikut:

Kekuatan pers pada pemberitaan politik kasus Century cukup signifikan
dan efektif dalam memberi ruang publik (public sphere) untuk mengetahui
jalannya politik serta berbagai media menjadi saluran propaganda politik
sehingga kasus century menjadi perhatian besar pada publik

Dampak pemberitaan politik kasus Century menjadi isu sentral berita dan
pertarungan citra politik serta lembaga-lembaga negara. Kasus century
adalah kasus perbankan dalam dana talangan (bailout) yang merugikan
nasabah, kasus ini dibawa keranah politik yang menjadikan kasus politik.
Kasus ini menjadi sorotan publik dengan terbentuknya berbagai macam
opini yang dibentuk oleh pemberitaan pers serta dukungan dari pihak
terkait baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah (Stakeholder)
pada kasus Century, namun hingga kini kasus Century belum dapat
diselesaikan dan beritanya pun jarang muncul kembali.

Pemberitaan surat kabar Jurnal Nasional dan Koran Tempo dalam hal
kasus Century adalah bagian dari beberapa media yang membentuk
terjadinya sorotan publik dengan teori komunikasi politik yang dilakukan
dalam pemberitaan dalam hal framing berita kasus Century. memberikan
67
68
arti peran penting dalam pemberitaan pada khalayak yang memberikan
ruang demokrasi (Public Sphere) dalam berpendapat dan berpatisipasi
dalam hal pengetahuan tentang kasus politik. pers memberi nuansa politik
yang cukup dinamis dalam pemberitaannya Walaupun hal itu terkait pada
pejabat publik sekalipun. serta membentuk diskursus pada opini publik
yang berkembang dan juga peneguhan (reinforcement) gerakan sosial
politik dengan berita, kritik serta saran.
B. Saran-saran

Untuk memberdayakan eksistensi pers masih harus ditingkatkan dalam hal
literasi politik serta integritas para jurnalis agar pada penulisan dalam
penyampaian berita tidak rancu pada tafsiran berita khalayak, agar pers
dapat menjadi pilar demokrasi yang lebih dipercayai dalam mengemban
aspirasi rakyat ketimbang pilar yang lainnya.

Pola kekuatan pers pada politik tidak lepas dari peran kemampuan
khalayak dan jurnalis dalam menangkap isi berita serta tafsiran opini yang
dibaca, namun khalayak dituntut harus mampu memilah dan memilih
media yang dibaca agar tidak terjebak pada pemberitaan yang hanya
sekedar berita sensasi dan juga menjadi korban pemberitaan media dimana
media sendiri masih terjebak pada oplah kepentingan, serta ideologi para
jurnalis yang ditulis dalam berita maka perlunya para khalayak memahami
media literasi yang diberitakan oleh media tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Agusjaya Moenzir, Izhary. Bukan Testimony Susno, Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 2010.
Antoni. Riuhnya Persimpangan Itu: Profil dan Pemikaran Para Penggagas
Kajian Ilmu Komunikasi. Surakarta: Tiga Serangkai, 2004.
Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik (edisi revisi) Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama 2008.
Congara, Hafied. Komunikasi Politik Konsep, Teori dan Strategi. Jakarta:
RajaGrafindo Persada.2009.
Ermanto, Menjadi Wartawan Handal Dan Profesional Yogyakarta: Cinta
Pena, 2005.
Isjwara. Pengantar Ilmu Politik. Bandung: CV Binacipta, 1966.
Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. Jurnalistik Teori Dan
Praktek Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.
Rosyada, Dede. dkk. Demokrasi,Hak Asasi Manusia Dan Masyarakat
Madani Jakarta: ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2003.
Rachmadi, F. Perbandingan Sistem Pers: Analisis Deskriptif Sistem Pers Di
Berbagai Negara, Jakarta: PT. Gramedia, 1990.
Surbakti,Ramlan. Memahami Ilmu Politik
Widiasarana Indonesia, 1992.
Jakarta:
PT.
Gramedia
Rais, Amien. Demokrasi Dan Proses Politik, Jakarta: LP3ES, 1986.
Sobur, Alex. Analisis Teks Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009 .
Soni, Aloysious, ed. Centurygate mengurai konspirasi pengusahapengusaha, Jakarta: Kompas Media Nusantara,, 2010.
Undang-Undang
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 Tentang PERS
Pasal 28 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
Pasal 28F Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
69
70
Ketetapan MPR RI NO. XVII/MPR/1998.
Koran
“Boediono-Sri Mulyani Tetap Santai” Koran Tempo, 3 Maret 2010.
“PKS-GOLKAR Tetap Lawan Istana” Koran Tempo, 3 Maret 2010.
“DPR Beri Pelajaran Negatif,” Jurnal Nasional, 2 Maret 2010.
“DPR Putuskan Rekomendasi Hari Ini,” Jurnal Nasional, 3 Maret 2010.
“Fraksi Anti Bailout Menang Voting,” Jurnal Nasional, 4 Maret 2010.
“PDIP- GOLKAR Enggan Bicara Pemakzulan,” Koran Tempo, 28 Februari
2010.
“Politikus PKS Dilaporkan Ke Polisi Dalam Kasus Century,” Koran Tempo,
2 Maret 2010.
“Panitia Angket Tak Akan Minta Fatwa Mahkamah Agung.” Koran Tempo,
1 Desember 2009.
“PDIP- GOLKAR Enggan Bicara Pemakzulan” Koran Tempo,28 Februari
2010.
“Presiden Siap Bertanggung Jawab”, Koran Tempo,2 Maret 2010.
“SBY:Bailout Century Benar,” Jurnal Nasional,1 Maret 2010.
“Sri Mulyani Siap Hadapi Proses Hukum” Jurnal Nasional 4 maret 2010.
“ Satuan Tugas Siap Usut Kasus Misbakhun,” Koran Tempo, 1 Maret 2010.
“Tiga Fraksi Mitra Koalisi Tak Bisa Dijinakkan,” Koran Tempo, 4 Maret
2010.
Internet
A Tony Prasetiantono, Kompas.com,” “Teori Konspirasi” Century.” artikel
diakses
pada
25
Agustus
2010
dari
http://m.kompas.com/news/read/data/2009.12.02.02373810
Blogspot.com, “ Kasus Skandal Bank Century,” artikel diakses pada 5 juni
2011dari http://imperiumindonesia.blogspot.com/2009/12/kasusskandal-bank-century
BPK. Go.id, “ Dana Hibah Bank Century,” Artikel diakses pada 5 juni 2011
dari http://www.jdih.bpk.go.id/artikel/DanaHibahBankCentury.pdf
71
Gun-gun heryanto, “Komodifikasi Kasus Bank Century,” artikel diakses
pada
5
November
2010
dari
http://gunheryanto.blogspot.com/2010/03/komodifikasi-kasusbank-century.html
Gungun Heryanto, ” Propaganda Politik Melalui Media Massa” artikel
diakses
pada
5
juni
2011
dari
http://gunheryanto.blogspot.com/2007/08/propaganda-politikmelalui-media-massa.html
Gin-gin Tigunulur, Okzone.com “Bagir Pemberitaan Kasus Century
Membingungkan.” artikel diakses pada tanggal 1 Oktober 2010
dari http://news.okezone.com/read/2010/01/10/339/292661/bagirpemberitaan-kasus-century-membingungkan
Ismoko.Widjaya Vivanews.com, “Century Himpun Data Kerugian
Nasabah.” artikel diakses pada 2 Desember 2010 dari
http://dunia.vivanews.com/news/read/65753century_himpun_data_
kerugian_nasabah
IndonesiaRecovery.Com “Kronologis Penyelamatan Century”, artikel
diakses
pada
2
Desember
2010
dari
http://www.indonesiarecovery.com/kronologis-penyelamatan.html
Kangnawar.com “Hasil Sidang Paripurna Bank Century “artikel diakses
pada 26 oktober 2010 dari http://kangnawar.com/politikpemilu/hasil-sidang-paripurna-kasus-bank-century
Oliviadwiayu. ”Empat Teori Pers” diakses pada 5 Oktober dari
http://oliviadwiayu.wordpress.com/2007/01/05/empat-teori-pers/
Simpuldemokrasi.com, “Membaca Drama Century,”artikel diakses pada 5
juni
2011dari
http://www.simpuldemokrasi.com/artikelopini/2096-membaca-drama-century.html
Sonowijoyo,Wordpress.Com,“Kronologi Kasus Bank Century,” artikel
diakses
pada
5
juni
2011
dari
http://sonowijoyo.wordpress.com/2010/01/28/kronologi-kasusbank-century/
Starbrainindonesia.com,”Hasil Riset Starbrain Indonesia Tentang Kasus
Bank Century “, artikel diakses pada 25 oktober 2010 dari
http://www.starbrainindonesia.com/site/news/193/hasil-risetstarbrain-indonesia-tentang-kasus-bank-century
Starbrainindonesia,“Kasus Century Dimata Publik.” artikel diakses pada 5
November
2010
dari
http://www.starbrainindonesia.com/site/news/152/kasus-century
dimata-publik
72
Surya.“Sinetron Pansus Century Telan Biaya Rp 5 Miliar” artikel diakses
pada
22
Oktober
2010
dari
http://www.surya.co.id/2010/03/04/sinetron-pansus-century-telanbiaya-rp-5-miliar.html
Vivanews.com, “Poin Penting Pidato SBY Soal Century,” artikel diakses
pada
26
Oktober
2010
dari
http://politik.vivanews.com/news/read/134023ini_poin_poin_penting_pidato_sby_soal_century
Wsmulyana. “Perkembangan Media Massa Dan Media Literasi
http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/22/perkembanganmedia-massa-dan-media-literasi/
Wordpress.com,”Perkembangan Media Massa Dan Media Literasi,” artikel
diakses
pada
28
November
2010
pada
http://wsmulyana.wordpress.com/2008/12/22/perkembanganmedia-massa-dan-media-literasi/
Wordpress.com, “Pers Sebagai Kekuatan Politik Sosial “artikel diakses pada
5 oktober 2010 dari http://rabiahal.wordpress.com/”pers
Wikipedia online, “Panitia Khusus Hak Angket_Bank Century” artikel
diakses
pada
22
oktober
2010
dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Panitia_Khusus_Hak_Angket_Bank_C
entury
Wikipedia online, “propaganda” artikel diakses pada 5 juni 2011 dari
http://id.wikipedia.org/wiki/Propaganda
Yahoo answer,” Peranan Pers Pada Masa Orde Lama, Orde Baru, Dan
Reformasi?,” artikel di akses pada 18 November 2010 dari
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100307021812
AABjODK
Download