teori dualisme, monisme dan primat hi i

advertisement
TEORI / AJARAN
TTG HUBUNGAN H.I. DGN. H.N.:
TEORI DUALISME, MONISME DAN
PRIMAT HI
I
TEORI DUALISME
MENEMPATKAN H.I. SBG.
SISTEM HUKUM
TERPISAH
DARI H.I
AS, INGGRIS,
AUSTRALIA
II
TEORI MONISME
MENEMPATKAN H.I. DAN
HUKUM NASIONAL
SEBAGAI BAGIAN DARI :
SATU KESATUAN SISTEM
HUKUM
BLD, JERMAN,
PERANCIS
-1-
III
TEORI PRIMAT H.I.
MENEMPATKAN H.I. LEBIH
TINGGI DARI HUKUM
NASIONAL: KAEDAH H.I.
LANGSUNG MENGIKAT
NEGARA TANPA PERLU
LEMBAGA TRANSFORMASI
INDONESIA
-2-
?
AD I
TERPISAH, BERARTI:
TIDAK ADA HUBUNGAN HIRARKI
ANTARA
H.I. DENGAN HUKUM NASIONAL
SEHINGGA
DIPERLUKAN EKSISTENSI
LEMBAGA HUKUM
TRANSFORMASI
UNTUK KONVERSI H.I.
KEDLM. H.N.
DGN UNDANG-UNDANG
H.I. BERUBAH KARAKTER
KRN MELALUI LEM. HUKUM
TRANSFORMASI
DIKONVERSI
KE DLM.
H. NASIONAL
-3-
AD II
SATU KESATUAN
SISTEM HUKUM
H.I. DAN H.N.
SBG BAGIAN DARI SATU
KESATUAN SISTEM HUKUM.
ARTINYA:
H.I. EKSIS DLM RUANG-LINGKUP
H. NASIONAL TANPA PERLU
LEMBAGA HUKUM TRANSFORMASI.
JIKA ADA LEGISLASI NASIONAL YG
MENGATUR HAL2 YG SAMA SEPERTI
DIATUR DLM H.I., MAKA
LEGISLASI NASIONAL YG MENGATUR
HAL YG DIATUR DLM H.I.
HANYALAH MERUPAKAN
IMPLEMENTASI DARI KAIDAH2 H.I.
DGN DEMIKIAN:
H.I. YG BERLAKU DLM SISTEM H. NAS.
TETAP PADA KARAKTERNYA SBG H.I.
-4-
AD III
PRAKTEK IND. TTG HUBUNGAN
DAN TEMPAT P.I. DLM H. NASIONAL
INDONESIA
TIDAK JELAS
APAKAH
MENGANUT PADA TEORI MONISME,
DUALISME ATAU PRIMAT H.I.
KETIDAKJELASAN STATUS P.I.
DALAM H.N. INDONESIA
MENIMBULKAN
INKONSISTENSI APLIKASI P.I.
DI INDONESIA
-5-
Mochtar Kusumaatmadja
dlm perteorian aliran monisme dgn
dualisme cenderung pada aliran:
Monisme dgn Primat H.I.
Baca:
M.K. Pengantar H.I.
hlm: 55 s.d. 94
MK dlm bukunya menyarankan :
Dalam mengimplementasikan
Hubungan H.N. dgn H.I. Melalui P.I.
Menggunakan teori
Monisme dgn Primat H.I.
-6-
Contoh Indonesia menganut
Monisme dengan Primat H.I.
(1) Konvensi Wina 1961/1963 tentang
Hubungan Diplomatik/Konsuler
yangContoh
diratifikasi
dengan UU No.
Indonesia menganut
1/1982
telah dengan
dijadikan
dasar
Monisme
Primat
H.I. hukum
bagi pemerintah untuk
memberikan pembebasan pajak
serta fasilitas diplomatik lainnya
kepada para korps diplomatik di
Indonesia. Dalam hal ini tidak
dilakukan transformasi kaidah
Konvensi kedalam hukum nasional
dan bahkan sampai saat ini tidak
ada legislasi nasional yang
memuat kaidah konvensi ini.
(2) Jurisprudensi MA juga telah
melakukan rujukan langsung
terhadap Konvensi ini tanpa harus
bergantung kepada perundangundangan nasional.
-7-
(3) Mahkamah Konstitusi dalam
judicial review tentang UU No. 27
Tahun 2004 tentang Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi telah
melakukan rujukan langsung pada
“Praktek dan kebiasaan internasional secara universal”.
Terobosan MK sangat menarik dalam
diskusi monisme-dualisme karena
menimbulkan pertanyaan tentang
bagaimana hakim dapat terikat pada
kaidah hukum internasional.
Beberapa pakar menyebutkan bahwa
yang menjadi dasar sehingga hakim
terikat pada praktek dan kebiasaan
internasional secara universal adalah
melalui konstruksi yang dikenal dalam
hukum internasional yaitu keterikatan
setiap negara terhadap hukum
kebiasaan internasional dengan atau
tanpa persetujuan negara tersebut
(monisme-primat H.I.)
-8-
Para perumus
UU No. 24 / 2000 ttg. P.I.
Menganut teori Monisme
Bukan menganut Monisme
dengan Primat H.I.
Yang dianut:
Teori Monisme Primat H.N.
Menjadi pedoman dasar dalam
Penyusunan UU No. 24 / 2000
Hal ini tercermin dari Pasal 13
Setiap undang-undang atau keputusan presiden tentang pengesahan
Perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia.
-9-
PRAKTEK INDONESIA
TTG – P.I.
HUKUM KONSTITUSI INDONESIA
PASAL 11 UUD :
Presiden dengan persetujuan
Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang,
membuat perdamaian dan perjanjian dengan
Negara lain.
Ketentuan konstitusional yang sangat sumir ini
menimbulkan banyak permasalahan / kekisruhan
tentang praktek P.I.
Menurut Pasal 11 UUD Presiden untuk membuat P.I.
perlu mendapat persetujuan DPR.
- 10 -
1
Apa arti kata MEMBUAT perjanjian
dengan negara lain; apakah berarti
seluruh proses pembuatan P.I. ?
2
Akan timbul permasalahan dalam
praktek pembuatan P.I. jika semua P.I.
harus mendapat persetujuan DPR.
3
Apa pula yang dimaksud dengan
persetujuan DPR dan apakah
persetujuan dilakukan sebelum atau
sesudah signature oleh wakil2
negara.
4
Persetujuan DPR atas suatu P.I. yang
dibuat Presiden bentuknya undang2
atau bentuk lain seperti Keppres ?
5
Apakah kontrak2 antara Swasta
dengan Pemerintah RI termasuk
Dalam artian Perjanjian menurut
Pasal 11 ?
- 11 -
Untuk memecahkan
teka-teki
Pasal 11 UUD
Diterbitkan:
Surat Presiden
No. 2826/HK/60 tanggal 22-8-1960
kepada DPR untuk dipakai sebagai dasar
hukum pelaksanaan Pasal 11 UUD 1945.
Menjadi:
Konvensi tertulis bidang
ketatanegaraan
sampai berlakunya
UU No. 24 / 2000 tentang P.I.
- 12 -
ISI SURAT PRESIDEN:
I
P.I.
PENTING:
Isu2 Politik
TRAKTAT / TREATIES
Untuk pengesahan perlu
persetujuan DPR dengan
Undang-undang sebelum
disahkan Presiden.
II
P.I.
KURANG
PENTING:
Bersifat Teknis
PERSETUJUAN / AGREEMENT
untuk pengesahan tidak
diperlukan persetujuan DPR,
cukup dengan Keppres dan
DPR hanya perlu diberitahu
oleh Sekretariat Kabinet.
- 13 -
TERGOLONG
TREATY:
(a) Soal-soal politik atau soal-soal yang
dapat mempengaruhi haluan
politik luar negeri seperti halnya
dengan perjanjian-perjanjian persahabatan, perjanjian persekutuan (aliansi),
perjanjian tentang perubahan wilayah
atau penetapan tapal batas.
(b) Ikatan-ikatan yang sedemikian rupa
sifatnya sehingga mempengaruhi
haluan politik luar negeri dapat
terjadi bahwa ikatan-ikatan sedemikian
dicantumkan di dalam perjanjian kerja
sama ekonomi dan teknis atau pinjaman
keuangan.
(c) Soal-soal yang menurut UndangUndang Dasar atau menurut perundang-undangan kita harus diatur
dengan Undang-undang seperti soalsoal kehakiman.
- 14 -
WALAUPUN ADA
SURAT PRESIDEN
MASIH TETAP ADA
TEKA - TEKI
•
•
Kriteria apa yang dapat dipakai
untuk menentukan suatu P.I.
dapat/tidak dapat
mempengaruhi haluan politik
luar negeri.
Lembaga mana berwenang
menentukan ada / tidak adanya
pengaruh terhadap haluan
politik luar negeri
-15 -
Download