Regulasi Quality of Service (QoS)

advertisement
1
Regulasi Quality of Service (QoS) Pada Lingkungan Next Generation
Network (NGN) dan Usulan di Indonesia
Yudistira Adi Pradana
Teknik Telekomunikasi, Sekolah Teknik Elektro Informatika (STEI), Institut Teknologi Bandung
Makalah ini dibuat untuk memberikan gambaran mengenai regulasi di era Next Generation Network (NGN) yang berhubungan
dengan Quality of service (QoS) dengan mempertimbangkan potensi permasalahan yang mungkin terjadi. Regulasi QoS yang dikenal
saat ini merupakan suatu sistem pengukuran dan pengawasan parameter kinerja layanan telekomunikasi. Sistem tersebut akan tetap
diperlukan ketika jaringan saat ini bermigrasi menuju NGN. Akan tetapi permasalahan pokok mengenai QoS yang memerlukan
perhatian regulasi terletak pada kedudukan suatu operator dengan kekuatan pasar (significant market power) yang mempengaruhi
QoS suatu layanan. Permasalahan lain adalah kemungkinan adanya suatu sistem perbedaan (diferensiasi) kualitas berdasarkan
prioritas pada paket layanan NGN. Dengan memperhatikan skenario pasar yang mungkin terjadi di awal terbentuknya NGN di
Indonesia, maka akan diberikan usulan penerapan regulasi yang umumnya menggunakan intervensi ex ante secara minimum.
Kata Kunci—intervensi ex ante, pengawasan parameter, significant market power (SMP), sistem perbedaan kualitas, Quality of
Service
I. PENDAHULUAN
N
ext generation network (NGN) atau konvergensi
merupakan konsep jaringan berbasis paket internet
protocol (IP) yang mampu menyediakan berbagai layanan
telekomunikasi di dalam platform jaringan yang sama, dengan
teknologi transport yang memungkinkan adanya Quality of
Service (QoS). Lahirnya konsep jaringan ini dilatar belakangi
oleh kecenderungan adanya kebutuhan layanan triple play
(voice, data, video) yang memberikan kesempatan kepada
operator telekomunikasi untuk memperluas bisnisnya dengan
memberikan jenis layanan baru.
Perkembangan jaringan menuju era NGN telah terjadi di
beberapa negara yang berfokus pada dua hal yaitu jaringan inti
dan jaringan akses. Pada tahun 2004, operator British Telecom
(BT) melakukan migrasi seluruh jaringan yang ada menuju IP
based Next Generation Network, yang disebut 21stCentury
Network (21CN). Awal ketika diluncurkan, 21 CN merupakan
program jaringan inti berbasis IP-Multi Protocol Labe
Switching (MPLS)-Wave length Division Multiplexing
(WDM) yang akan membawa layanan voice dan data dengan
QoS yang baik. Perkembangan pada jaringan akses dapat
ditemui di Belanda dan Jerman dimana terjadi penggantian
setahap demi setahap jaringan akses yang ada menuju Very
high speed digital subscriber lines (VDSL) / fibre to the curb
(FTTC). Jepang merupakan contoh lain negara dengan
penetrasi pelanggan fibre to the home (FTTH) yang tinggi,
yaitu 40 % dari jumlah total pelanggan broadbandnya (akhir
Desember 2007). Hal tersebut diakibatkan adanya migrasi dari
waktu ke waktu pengguna broadband tradisional (DSL)
menuju FTTH.
Migrasi jaringan saat ini menuju era NGN mengakibatkan
beberapa perubahan dan dampak. Masalah transisi antara
jaringan PSTN menuju NGN mengakibatkan sejumlah
ketidaknyamanan pengguna layanan yang harus diantisipasi
oleh operator. Masalah keamanan jaringan, jaringan NGN
yang berbasis IP akan mendapatkan potensi masalah
keamanan yang hampir sama dengan internet publik.
Penomoran, NGN mengkombinasikan sejumlah jaringan yang
berbeda, maka ada harapan untuk melakukan sistem
penomoran baru. Kompetisi, NGN seharusnya merupakan
suatu pendorong adanya kompetisi baru di industri
telekomunikasi. Quality of Service (QoS), perubahan jaringan
inti berbasis IP harus menjamin bahwa layanan seperti voice
akan memiliki kualitas yang sama seperti layanan PSTN.
Untuk menjamin layanan seperti voice dan layanan bersifat
real time lainnya maka sebaiknya NGN menggunakan
teknologi dan mekanisme QoS pada jaringan IP yang dapat
menjamin layanan tertentu mendapatkan performansi yang
lebih baik dari pada layanan lain. Fokus utama pada makalah
ini, adalah pada QoS dan masalah lain yang mempengaruhi
QoS.
II. QUALITY OF SERVICE (QOS)
A. Konsep Quality of Service
Quality of Service (QoS) adalah kumpulan dampak dari
kinerja layanan yang menentukan tingkat kepuasan pengguna
layanan. Elemen dari kinerja jaringan yang termasuk kedalam
lingkup QoS antara lain availability, bandwidth, latency
(delay), delay variation, information loss, dll. Tujuan QoS
adalah untuk menyediakan jaminan pada jaringan dengan
mekanisme yang ada untuk mendapatkan hasil yang
diinginkan oleh pengguna layanan.
Untuk mengelompokan parameter-parameter QoS ke dalam
kelompok kelas layanan tertentu, ITU-T mengkategorikan dua
jenis kelas, yaitu network QoS class dan application QoS
Class. Untuk NGN, ITU-T memberikan network QoS Class
dengan rekomendasi Y.1541 Network performance objective
for IP-based service dan application QoS class dengan
rekomendasi G.1010 end user multimedia QoS categories.
B. Mekanisme Quality of Service
Jaringan berbasisi internet protocol (IP) alaminya
merupakan jaringan yang bekerja dengan prinsip best effort
sehingga level QoS relatif tidak terjamin untuk jenis layanan
2
tertentu. Untuk menjawab permasalahan tersebut diberikan
mekanisme yang dapat digunakan untuk menyediakan QoS
dalam jaringan IP. Secara umum dikenal tiga jenis mekanisme
QoS yang didefinisikan oleh IETF (Internet Engineering Task
Force) yaitu Integrated Services (IntServ), Differentiated
Services (DiffServ), label Switching (Multi Protocol Label
Switching-MPLS).
1) Integrated Services
Mekanisme IntServ terinspirasi oleh jaringan telkom
dan ATM yang mana dibutuhkan pensinyalan sebelum sesi
komunikasi terbangun. Intserv menyediakan solusi end-to-end
QoS dengan cara signalling dan admission cotrol di setiap
elemen jaringan. Resource Reservation Protocol (RSVP)
merupakan protokol signalling yang digunakan oleh aplikasi
untuk melakukan permintaan (request) QoS ke dalam
jaringan. Karena perlunya reservasi resource pada setiap
aliran aplikasi, maka mekanisme ini mengalami permasalahan
dalam hal skalabilitas.
2) Differentiated Services
DiffServ
untuk
memecahkan
permasalahan
skalabilitas dan tidak fleksibelnya mekanisme IntServ dengan
menggunakan pendekatan class-based untuk memperlakukan
paket secara berbeda di jaringan. Semua trafik yang masuk
digabungkan kedalam Class of Service (CoS) yang masingmasing berhubungan dengan persyaratan kualitas tertentu.
Semua elemen jaringan sepanjang jalur mempelajari nilai dari
Differentiated Service Code point (DSCP) dan menentukan
QoS yang diberikan pada paket. Setiap elemen jaringan
memiliki tabel yang memetakan nilai dari DSCP ke per hop
behaviour (PHB) yang menetukan bagaimana sebuah paket
diperlakukan.Karena perlunya reservasi resource pada setiap
aliran aplikasi, maka mekanisme ini mengalami permasalahan
dalam hal skalabilitas.
3) Label Switching
Multi Protocol Label Switching (MPLS) merupakan konsep
pemberian label pada paket yang digunakan untuk mengurangi
kerja di setiap router, sehingga jaringan lebih efisien dan
pengiriman paket menjadi lebih cepat. Label digunakan untuk
menentukan jalanya paket menuju router pada hop berikutnya.
Sehingga router melakukan proses forward paket bergantung
hanya pada label yang diberikan, tidak pada alamat tujuan
pada paket.
MPLS dan DiffServ, keduanya merupakan teknologi saling
melengkapi yang digunakan untuk mengimplementasikan
sistem perbedaan QoS di dalam NGN. Pemberian mekanisme
QoS DiffServ pada MPLS adalah dengan memanfaatkan
bagian header paket MPLS.
III. REGULASI TELEKOMUNIKASI
Regulasi telekomunikasi adalah kumpulan dari peraturan,
hukum, norma dan prosedur yang mengatur perilaku ekonomi
pelaku industri telekomunikasi. Dalam membuat regulasi dan
aturan di dalam industri telekomunikasi terdapat dua model
yang digunakan antara lain :
• Intervensi Ex Ante. Jenis intervensi yang dilakukan
untuk mengantisipasi adanya suatu masalah
•
Intervensi Ex Post. Jenis intervensi yang dilakukan
setelah terjadinya penyalahgunaan kekuatan pasar
di dalam industri telekomunikasi.
IV. REGULASI QOS TELEKOMUNIKASI
Regulasi QoS yang ada selama ini adalah sistem
pengawasan (monitoring) dan pengukuran terhadap suatu
parameter nilai (distandardkan atau tidak distandardkan) yang
berkaitan dengan kualitas layanan telekomunikasi. Dalam
melakukan kebijakan monitoring harus diperhatikan beberapa
langkah diantaranya:
• Diskusi stakeholder telekomunikasi
• Mendefinisikan pengukuran
• Menentukan target
• Melakukan pengukuran
• Pemeriksaan pengukuran
• Publikasi pengukuran
• Memeriksa pencapaian kebijakan
Dari langkah tersebut, langkah kedua merupakan bagian
terpenting yang harus diperhatikan. Langkah tersebut berisi
deskripsi pengukuran dan metode pengukuran. Informasi
mengenai hal tersebut secara lengkap dapat mengacu pada
panduan European Telecommunications Standards Institute
(ETSI). Beberapa deskripsi pengukuran yang diterapkan di
setiap negara merupakan hal yang berbeda bergantung kepada
fokus utama layanan telekomunikasi di setiap negara.
Dalam menerapkan regulasi tersebut, terdapat dua model
pendekatan yang ada yaitu encouragement dan enforcement.
Model enforcement merupakan model yang berasal dari
Amerika yang diterapkan dengan menyertakan sejumlah
penalti apabila terdapat bentuk kegagalan operator dalam
memenuhi target parameter yang diberikan oleh regulator.
Sedangkan encouragement yang dipakai oleh sejumlah negara
eropa adalah model yang tidak menyertakan sejumlah penalti,
hanya regulator mensyaratkan publikasi hasil pengukuran
kualitas di dalam bentuk yang memudahkan pelanggan untuk
membandingkan kinerja layanan.
V. REGULASI QOS NGN
A. Kedudukan Operator
Regulasi QoS dalam lingkungan NGN tidak lagi dapat
difokuskan pada sistem pengawasan terhadap parameter
layanan telekomunikasi, namun lebih luas dari itu. QoS suatu
layanan akan sangat bergantung kepada posisi pasar operator
jaringan. Operator memiliki peran penting dalam hal QoS
suatu layanan karena operator memiliki kemampuan untuk
mengatur dan mengontrol QoS layanan yang berjalan di
jaringannya, operator khususnya yang berhubungan langsung
dengan akses merupakan kanal distribusi utama layanan
kepada pengguna yang disediakan penyedia konten.
Kedudukan dan kemampuan operator akan signifikan
dengan model bisnis yang terjadi pada masa NGN, yaitu
model bisinis yang tidak lagi terintegrasi melainkan model
bisnis yang terbagi ke dalam beberapa layer. Operator yang
bekerja hanya pada layer jaringan atau transmisi diharuskan
melakukan interkoneksi ke operator lain atau dengan pihak
ketiga seperti penyedia layanan. Posisi kekuatan pasar besar
(significant market power) SMP dari operator dapat
3
mengancam kualitas layanan yang diberikan oleh penyedia
layanan independen terlebih dengan kecenderungan bisnis
terintegrasi operator sampai dengan level konten. Regulasi
yang ada seharusnya menjamin keberlangsungan penyedia
layanan independen dalam hubunganya dengan SMP operator.
B. Sistem Perbedaan QoS
Dengan adanya migrasi jaringan menuju NGN, tuntutan
akan sistem perbedaan QoS semakin besar, dengan
menggunakan DiffServ dan MPLS seperti telah disebutkan
sebelumnya. Dengan adanya sistem ini akan memudahkan
pengguna untuk menentukan, memprioritaskan, dan memilih
satu jenis layanan terhadap layanan yang lain. Saat ini sistem
perbedaan QoS sudah lazim diimplementasikan di dalam satu
lingkup jaringan. Akan tetapi secara nyata, sistem ini tidak
berkembang karena pengembanganya tidak meluas hingga
lingkup antar jaringan.
Permasalahan tersebut contoh dari efek jaringan (network
externality), maksudnya sistem merupakan fungsi dari jumlah
pihak yang berpartisipasi. Semakin banyak jaringan yang
menggunakan sistem ini, keuntungan yang didapat dari sistem
perbedaan QoS akan semakin besar.
Oleh karena itu
dibutuhkan keadaan kompetisi terbuka tanpa adanya regulasi
berlebih agar sistem ini berkembang sesuai dengan mekanisme
pasar yang ada. Dengan pasar yang memiliki efek jaringan
yang kuat diharapkan interkoneksi antar jaringan dengan
sistem perbedaan QoS mudah terbangun, karena setiap
operator menginginkan interoperabilitas penuh terhadap
sistem tersebut.
Sistem perbedaan QoS berdasarkan prioritas ini merupakan
contoh kasus dari permaslahan network neutrality di jaringan
internet publik saat ini. network neutrality adalah apakah
jaringan internet yang ada seharusnya bersifat terbuka, netral,
nondiskriminatif dan dapat diakses oleh siapa saja. Terdapat
tiga tingkatan di dalam net neutrality yaitu blocking
(penutupan akses kepada konten tertentu), degradasi kualitas,
prioritas. Sistem perbedaan QoS berdasarkan prioritas
merupakan contoh dari net neutrality dengan tingkatan
tertinggi. Contoh kebijakan yang diambil di Amerika adalah
dengan memperbaiki undang-undang telekomunikasi AS
1996, salah satunya dengan Internet Freedom and
Preservation Act, yang melarang operator jaringan melakukan
blocking, degrading, prioritisation hanya kepada penyedia
konten tertentu.
C. Pengawasan QoS Layanan NGN
Proses pengawasan QoS pada layanan NGN memiliki
langkah kerja yang sama dengan masa sekarang, yang
membedakan adalah bahwa semua layanan dikategorikan
kedalam parameter yang sama seperti delay, jitter, packet loss.
Untuk itu sangat penting bagi otoritas regulasi untuk
menerapkan minimum standard kualitas (QoS) yang akan
diterima oleh pengguna layanan. Sebagai acuan untuk
mendapatkan nilai parameter QoS end-to-end (UNI-UNI)
untuk beberapa layanan tertentu, ITU-T telah menstandardkan
nilai dari parameter QoS menurut rekomendasi Y.1541.
Hal lain yang penting adalah proses pengawasan pada titik
interkoneksi antara operator. Karena keberhasilan end-to-end
QoS dipengaruhi oleh QoS diantara operator (inter-provider
QoS). Sejauh ini belum adanya standard yang menjamin end
to end QoS pada jaringan IP/MPLS yang saling
berinterkoneksi. Hanya perjanjian bilateral antara operator
yang memfasilitasi QoS antara operator. Secara teknis
masalah ini dapat diselesaikan dengan sejumlah penelitian
yang telah dilakukan, namun hambatan yang terjadi terletak
pada kedudukan operator SMP yang telah dibahas
sebelumnya.
VI. USULAN REGULASI QOS DI INDONESIA
Dengan melihat fakta yang ada bahwa Indonesia saat ini
belum memiliki regulasi QoS yaitu sebuah sistem pengawasan
akan
layanan
telekomunikasinya.
Badan
Regulasi
Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang merupakan salah satu
stakeholder berkewajiban menetapkan parameter-parameter
kualitas layanan. Parameter-parameter yang ada dapat
mengacu kepada beberapa standard telekomunikasi yang ada,
salah satunya European Telecommunication Standard Institute
(ETSI). Di dalam proses mendefinisikan pengukuran,
dianjurkan untuk melibatkan kelompok industri (operator
telekomunikasi) agar jenis parameter serta metode pengukuran
yang digunakan dapat diseragamkan, sehingga memudahkan
dalam proses perbandingan. Untuk jenis pendekatan
dianjurkan menggunakan model enforcement dengan
menyertakan sejumlah penalti (bentuk law enforcement).
Penerapan sistem penalti diberikan pada indikator kinerja
layanan, yaitu permasalahan-permasalahan seperti permintaan
layanan, jumlah kegagalan (fault) jaringan, lamanya perbaikan
fault, penanganan aduan, dll. Proses pengukuran tanpa adanya
penalti diberikan kepada indikator kinerja teknis seperti
network coverage, delay, dll. Setiap hasil pengukuran
dipublikasikan di media seperti website agar pengguna dapat
membandingkan kinerja operator
Sebelum memberikan usulan mengenai bentuk regulasi
yang cocok diterapkan di Indonesia pada masa NGN, terlebih
dahulu diasumsikan skenario pasar yang mungkin terjadi.
Dengan melihat pasar industri telekomunikasi saat ini, bahwa
sebagian besar pasar industri telekomunikasi merupakan
bentuk monopoli dan duopoli, dimana terdapat satu atau dua
operator besar berskala nasional. Skenario pasar cukup terlihat
pada industri layanan seluler.
fixed
wireline
1%
Telkom
99%
BBT
4
fixed
wireless
24%
Telkom
5%
71%
Indosat
Bakrie
tel
seluler
16%
3%
Telkomsel
25%
56%
Indosat
Excel
ini, regulator menilai dampak dari sistem prioritas ini apakah
terjadi persaingan yang anti kompetitif atau justru sistem ini
memberikan dampak yang baik kepada pengguna. Selanjutnya
regulator menentukan apakah diperlukan regulasi yang lebih
ketat atau tidak (berjalan menurut kinerja pasar).
Model pengawasan dan pengukuran terhadap parameter
layanan NGN juga tetap dilakukan. Sebagai bagian dari sistem
tersebut, diusulkan di dalam proses mendefinisikan
pengukuran dan menetapkan target mengacu pada
rekomendasi ITU-T Y.1541 diantara user network interface.
Hal lain yang tidak dapat dikesampingkan adalah indikator
kinerja layanan. Karena kecenderungan yang ada pengguna
jasa telekomunikasi akan tetap memfokuskan diri pada
indikator kinerja layanan disamping indikator teknis. Model
pendekatan yang digunakan adalah model encouragement
dengan harapan di Indonesia terjadi transisi menuju skenario
pasar kompetisi penuh.
TABEL I
REKOMENDASI ITU-T Y.1541 NETWORK PERFORMANCE
OBJECTIVES FOR IP BASED SERVICE
lain
Gambar 1. Penetrasi telekomunikasi Indonesia Desember 2006 (Sumber:
Dirjen Postel)
Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa skenario awal
pasar NGN di Indonesia adalah skenario monopoli dengan
adanya satu atau dua operator berskala nasional. Skenario
awal monopoli setahap demi setahap diharapkan berubah
menuju skenario pasar dengan tetap melihat kemungkinan
adanya operator SMP.
Dengan kecenderungan pasar yang ada dan potensi
permasalahan yang akan muncul maka fokus utama regulasi
yang ada berhubungan dengan kekuatan pasar dari operator
dalam hubungannya pada interkoneksi dengan sesama
operator dan penyedia layanan. Bentuk regulasi ex ante yang
mensyaratkan kewajiban anti diskriminasi dalam hal kualitas
termasuk block atau penutupan akses terlihat cukup memadai
untuk diterapkan di awal. Intervensi ex post dapat
dipertimbangkan jika adanya pelanggaran terhadap komitmen
sikap anti kompetitif dan diskriminatif yang dilakukan oleh
operator. Dalam aspek hukum, kebijakan pro persaingan yang
melandasi UU No.36 tahun 1999, selain berfokus pada
hubungan interkoneksi antar operator juga pada hubungan
antara operator dan penyedia layanan.
Masalah sistem perbedaan QoS dengan prioritas sebaiknya
menjadi hal penting lain bagi regulator di Indonesia untuk
dipertimbangkan. Kebijakan yang ada sebaiknya bersifat
minimum dengan harapan sistem ini berkembang sesuai
mekanisme pasar yang ada menuju skenario kompetisi.
Sebagai tahap awal sebaiknya regulasi yang diberikan
mengarah kepada transparansi informasi mengenai sistem
perbedaan QoS berdasarkan prioritas ini. Setelah mekanisme
pasar terbentuk, yang mana diasumsikan bahwa semakin
banyak operator yang mengimplementasikan sistem prioritas
TABEL 2
PEMBAGIAN LAYANAN NGN BERDASARKAN KELAS JARINGAN
Kelas jaringan
Layanan
Kelas 0
Layanan interaktif (voice,
video teleconferencing)
Kelas 1
Layanan interaktif (voice,
video teleconferencing)
Kelas 2
Transaksi
data
sangat
interaktif (pensinyalan)
Kelas 3
Transaksi data, interaktif
Kelas 4
Video streaming, bulk data
Kelas 5
Aplikasi standard jaringan IP
VII. KESIMPULAN
Migrasi jaringan menuju NGN harus diantisipasi dengan
regulasi yang mengakomodasi segala kemungkinan yang ada.
Berkaitan dengan QoS, regulasi tidak lagi hanya berfokus
5
pada sistem pengawasan parameter kualitas layanan
telekomunikasi, namun mencakup aspek kedudukan operator
di pasar dan sistem perbedaan QoS. Sistem perbedaan QoS
dapat menjadi ciri NGN, karena dengan adanya sistem ini
akan memudahkan pengguna untuk menentukan, dan
memprioritaskan satu jenis layanan terhadap layanan yang
lain.
Sebelum memasuki era NGN sudah seharusnya Indonesia
memiliki sistem pengukuran dan pengawasan kualitas layanan
telekomunikasinya dengan model pendekatan enforcement.
Secara umum bentuk bentuk regulasi dengan intervensi
bersifat preventif atau ex ante cocok untuk diterapkan di
Indonesia pada awal terbentuknya lingkungan NGN.
VIII. REKOMENDASI
Makalah ini membutuhkan perbaikan kedepannya dalam hal
pengukuran dan pengawasan QoS di titik interkoneksi antara
operator. Sejauh ini sudah ada penelitian teknis yang
membahas mengenai interprovider QoS, tetapi diyakini
sebelumnya bahwa permasalahan QoS sangat berhubungan
dengan kedudukan dominan salah satu operator yang dapat
memberikan keterbatasan pada sistem pengawasan yang akan
diterapkan. Penelitian sebaiknya mempertimbangkan metode
pengukuran
QoS
pada
titik
interkoneksi
dengan
mempertimbangkan aspek ekonomi dan kedudukan operator.
IX. REFERENSI
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
[8]
[9]
[10]
[11]
[12]
[13]
J.S.Marcus, D.Elixmann, “Regulatory Approaches to Next Generation
Networks (NGNs) : An International Comparison, Wik-Consult,”.
R. Milne, “ICT Quality of Service Regulation: practices and proposals,”
diberikan pada seminar Global Seminar on Quality of Service and
Consumer Protection Geneva 31 Agustus 2006- 1 Spetember 2006.
J.G. Williams, “Quality of Service Measurements, Standards and
Consequences,”
M. Chiesa, M. Frank, “QoS Regulation in a Converged IP/NGN
Environment,” diberikan pada ITU-D Workshop for the Arab region on
Interconnection and Next Generation Networks Bahrain 2-3 Mei 2007.
Quality of Service Working Group MIT CFP “Inter-provider Quality of
Service,” November 2006
R. Stevens, “Quality of Service and Consumer Protection in an NGN
World,” diberikan pada Global Symposium for Regulators Dubai 5-7
Febuari 2007.
J.S. Marcus, D. Elixmann, “The Future of IP Interconnection :
Technical, Economic, and Public Policy Aspect,” WIK-Consult final
report 29 Januari 2008.
T. Onali, “Quality of Service Technologies for Multimedia Applications
in Next Generation Network,” disertasi Ph.D., University of Cagliari.
L. Hou, P. Valcke, D. Stevens, E. Kosta, “Network Neutrality in Europe:
innovation thanks to or in spite of the law?,” ICRI K.U. Leuven-IBBT
31 Maret 2008-1 April 2008.
Jung-Eun Ku, Sun-Me, Choi, Sang-Woo, Lee, Tchanghee, Hyun,
“Interconnection Sceanario and Regulation under NGN Environment in
The Case of Korea,” diberikan saat Third International Conference on
Networking and Services 2007.
A. Dame, J.H. Guettler, K. Leeson, M. Schultz, T.B. Jensen,
“Regulatory Implications of The Introduction of Next Generation
Networks
and
Other
New
Developments
in
Electronic
Communications,” Devoteam Siticom 16 Mei 2003.
Judhariksawan, “Pengantar Hukum Telekomunikasi,” Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2005.
Network performance objectives for IP based service, Rekomendasi
ITU-T Y.1541.
Download