LAPORAN PRAKTIKUM SOSIOLOGI PERTANIAN

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM SOSIOLOGI PERTANIAN
IDENTIFIKASI KEHIDUPAN SOSIAL PETANI JAMBU
MERAH (Psidum Guajava)
DI DUSUN GANDUL DESA DALISODO
Oleh :
Najla Thufailla A
Fariz Al Dzikrulloh
Marcelina Melvyn G S
Huril Maknunin
Muhammad Hervansyah
155040201111074
155040201111085
155040201111089
155040201111061
155040201111062
Kelompok: A4
Kelas: A
Asisten: Qothrunnada Rawdhah & Annisa Firdauzi
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
MALANG
2016
i
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM SOSIOLOGI PERTANIAN
IDENTIFIKASI KEHIDUPAN SOSIAL PETANI JAMBU MERAH DI DUSUN
GANDUL DESA DALISODO
Disetujui,
Asisten I,
Asisten II,
Qothrunnada Rawdhah
NIM. 135040201111380
Annisa Firdauzi
NIM. 155040107111008
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan laporan berkenaan
dengan praktikum Sosiologi Pertanian. Makalah ini dibuat dalam rangka
menyelesaikan tugas makalah praktikum sosiologi pertanian yang membahas
mengenai aspek sosiologi petani di desa Dalisodo. Tak lupa kami ucapkan rasa
terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para asisten dan rekan - rekan kelas
A, karena dalam proses pendalaman materi sosiologi pertanian, tentunya kami
mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi serta saran.
Dalam pembuatannya, tentunya makalah ini tidak luput dari kekurangan dan
kesalahan. Kami mengharapkan kritik dan saran yang dapat diberikan kepada kami
dalam rangka mencapai kesempurnaan, agar nantinya dapat bermanfaat bagi rekanrekan lainnya.
Malang, 10 Mei 2016
Penulis
( Fariz Al Dzikrulloh, 155040201111085)
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... iv
DAFTAR TABEL .......................................................................................... v
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2 Tujuan Praktikum .............................................................................. 2
1.3 Manfaat .............................................................................................. 2
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Geografis Dusun Gandul Desa Dalisodo ........................................... 3
2.2 Aset dan Modal Pertanian .................................................................. 3
2.3 Kebudayaan ....................................................................................... 4
2.4 Kelembagaan Pertanian ..................................................................... 4
2.5 Perubahan Sosial ................................................................................ 5
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Identifikasi Petani Jambu Merah ....................................................... 6
3.2 Aset dan Modal Pertanian .................................................................. 8
3.3 Pola Tanam Pertanian Petani ............................................................. 9
3.4 Kebudayaan Petani ............................................................................ 11
3.5 Kelembagaan atau Pranata Sosial Di Dusun Gandul Desa Dalisodo 15
3.6 Perubahan Sosial Petani ..................................................................... 17
4. PENUTUP
4.1 Kesimpulan ........................................................................................ 19
4.2 Saran .................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Petani Jambu Merah ........................................................................ 6
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Penanganan Terhadap Hama............................................................. 6
Tabel 2. Pemilikan Sarana Transportasi Dan Komunikasi ............................. 8
Tabel 3. Pemilikan Ternak .............................................................................. 8
Tabel 4. Pemilikan Lahan ............................................................................... 9
Tabel 5. Pola Tanaman Lahan ........................................................................ 10
Tabel 6. Penanganan Terhadap Hama ............................................................ 10
1
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti Negara yang mengandalkan
sektor pertanian baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sebagai penopang
pembangunan. Sektor pertanian meliputi subsektor tanaman bahan makanan,
subsektor holtikultura, subsektor perikanan, subsektor peternakan, dan subsektor
kehutanan. (Dimas, 2012).
Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga
memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha,
pemilihan benih/bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk,
pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran. Apabila seorang petani
memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai
keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif (intensive farming).
Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program
dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian ke cara pandang demikian dikenal
sebagaiintensifikasi. Karena pertanian industrial selalu menerapkan pertanian intensif,
keduanya sering kali disamakan (Rifaldi, 2013).
Oleh karena itu, perlu diadakan kegiatan wawancara terhadap petani dengan cara
terjun langsung ke lokasi pengamatan. Kegiatan yang kami lakukan adalah
mengidentifikasi mengenai Kehidupan Sosial Petani Jambu Merah (Psidum Guajava).
Topik wawancara meliputi pola tanam yang diterapkan, cara pengangan terhadap
hama, kebudayaan yang dianut, dan status kepemilikan lahan.
Pada kegiatan kali ini, kami mewawancarai narasumber yang memiliki mata
pencaharian sebagai petani jambu merah dan Desa yang kami kunjungi sebagai lokasi
pengamatan yaitu Desa Dalisodo.
(Najla Thufailla Anessa, 155040201111074)
2
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari kegiatan wawancara yang dilakukan di Desa Dalisodo, antara lain;
a. Untuk mengetahui pola tanam yang diterapkan oleh petani di Dusun
Gandul Desa Dalisodo
b. Untuk mengetahui kebudayaan yang dianut oleh petani di Dusun Gandul
Desa Dalisodo
c. Untuk mengetahui perubahan sosial yang terjadi pada Dusun Gandul
Desa Dalisodo
d. Untuk mengetahui Aset dan Modal Pertanian yang dimiliki oleh petani di
Dusun Gandul Desa Dalisodo
e. Untuk mengetahui Kelembagaan atau Pranata Sosial Di Dusun Gandul
Desa Dalisodo
(Najla Thufailla Anessa, 155040201111074)
1.3 Manfaat
Manfaat dari kegiatan fieldtrip yang dilakukan di Desa Dalisodo, antara
lain :
a. Bagi Penulis diharapkan agar mahasiswa mengetahui bagaimana
kondisi sosiologi pertanian disebuah desa serta masalah masalah dari
kelembagaan, kebudayaan dan perubahan sosial terkait bidang
pertanian yang terjadi didesa tersebut.
b. Bagi pembaca diharapkan agar dapat memahami kondisi sosiologi
pertanian yang ada di desa Dalisodo dengan cara mengidentifikasi hasil
dari wawancara yang dilakukan oleh penulis
(Fariz Al Dzikrulloh, 155040201111085)
3
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Geografi Dusun Gandul Desa Dalisodo
Menurut Bagian Pengelola Data Elektronik Malang (2014) geografis dusun
Gandul Desa Dalisodo memiliki data Sebagai berikut:
Dusun Gandul Desa Dalisodo terletak di Kecamatan Wagir adalah salah satu dari 33
kecamatan yang ada di Kabupaten Malang yang terletak di Belahan Selatan Wilayah
Kabupaten Malang. Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Wagir adalah sebagai
berikut :
Timur
: Kota Malang
Selatan : Kecamatan Pakisaji, Ngajum,
Barat
: Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar
Utara
: Kecamatan Dau
Luas kawasan Kecamatan Wagir 75,43 km2, kondisi topografi Kecamatan
Wagir merupakan daerah datar dan perbukitan pada ketinggian 474 meter diatas
permukaan laut (dpl).
(Fariz Al Dzikrulloh, 155040201111085)
2.2 Aset dan Modal Pertanian
Pengertian aset adalah segala hal yang ada dalam komunitas yang
berpotensi dalam pengembangan komunitas tersebut. Baik itu berupa aset
individual atau aset komunitas. Ada beberapa aset komunitas yang perlu
dipahami dalam proses pemberdayaan masyarakat, yaitu:
1. Modal Fisik (Physical Capital)
Modal fisik merupakan sarana yang membantu masyarakat untuk
meningkatkan kualitas hidupnya, yaitu:
a. Bangunan (Buildings)
4
Rumah, pertokoan, gedung, perniagaan, taman, sekolah, dll.
b. Infrastruktur (Infrastructure)
Jalan raya, jembatan, rel kereta api, sarana pembuangan limbah,
sarana air bersih, jaringan telepon, dll.
c. Sumber Daya Alam (Natural Resource)
(Green and Haines 2007)
2. Modal Manusia (Human Capital)
Modal manusia didefinisikan sebagai bakat dan pengetahuan dari
anggota-anggota masyarakat. Sangat penting untuk mengetahui bahwa
tidak hanya para orang dewasa yang menjadi bagian dari persamaan modal
manusia, tetapi anak-anak dan para pemuda juga berkontribusi. Meliputi
skill tenaga kerja pasar, skill kepemimpinan, latar belakang pendidikan
dasar, pengembangan artistik, apresiasi, kesehatan, dan skill lainnya serta
pengalaman (Green and Haines 2007).
(M.Hervansyah 155040201111163)
3. Modal Sosial (Social Capital)
Modal social sering merujuk pada hubungan social pada masyarakat
dan dapat merujuk pada norma-norma kepercayaan dan jaringan sosial
yang didirikan (Green and Haines 2007).
(M.Hervansyah 155040201111163)
2.3 Kebudayaan
Kebudayaan pertanian adalah pilar utama peradaban semua bangsa di dunia
perkembangan pandangana, pola pikir, dan perilaku manusia terkait pertanian
menjadi cermin proses evolusi peradaban itu (Azra, 2006).
(M.Hervansyah 155040201111163)
2.4 Kelembagaan Pertanian
Kelembagaan pertanian adalah Kelembagaan usahatani memiliki potensi
untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan pelaku usaha tani (Viswanathan, 2006).
Usaha tani adalah ilmu terapan yang membahas atau mempelajari
bagaimana menggunakan sumberdaya secara efisien dan efektif pada suatu
usaha pertanian agar diperoleh hasil maksimal (Shinta,2011)
5
Hingga saat ini kelembagaan petani diakui masih belum seperti apa yang
diharapkan. Salah sat penyebab kondisi demikian adalah kekurang-pedulian
terhadap pentingnya menemukan celah masuk (entry-point) kelembagaan,
sehingga menimbulkan kebingungan dalam rekayasa kelembagaan yang sesuai
dengan tujuan produksi pertanian (Suradisastra, 2008).
(M.Hervansyah 155040201111163)
2.5 Perubahan Sosial
Menurut soekanto (2009), Definisi perubahan sosial menurut beberapa ahli
sosiologi
a. Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahanperubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
b. MacIver mengatakan perubahan-perubahan sosial merupakan sebagai
perubahan-perubahan dalam hubungan sosial (social relationships) atau sebagai
perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.
c. JL.Gillin dan JP.Gillin mengatakan perubahan-perubahan sosial sebagai
suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena
perubahanperubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi
penduduk, idiologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan
baru dalam masyarakat.
d. Selo Soemardjan. Rumusannya adalah segala perubahan-perubahan
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang
mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan
pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
(M.Hervansyah 155040201111163)
6
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Identifikasi Petani Jambu
Bapak Iskandar yang akrab disapa Bapak Kandar adalah seorang petani jambu biji
yang bertempat tinggal di Dusun Gandul Desa Dalisodo RT 01/RW 01 ,Kecamatan
Wagir,Kabupaten Malang.Berikut tabel data keluarga Bapak Kandar untuk lebih jelasnya.
Gambar 1. Petani Padi (Bapak Kandar)
Tabel 2. Data Keluarga Petani
Hubungan
No
Nama
dengan
Umur
Kepala
(tahun)
Pendidikan
Keluarga
1
Iskandar
Kepala
Pekerjaan
Tingkat
60
Terakhir
SMP
Keluarga
Utama
Sampingan
Petani
Peternak
jambu.
Bebek.
Tahun
2
Tamiyasih
Ibu
45
SD
Ibu Rumah
Tangga.
-
Tahun
3
Didik
Anak
28
Wahono
SMP
Kuli
bangunan.
Tahun
-
7
4
Daniel
Anak
23
SMP
Kuli
-
bangunan.
Tahun
5
Dedi
Anak
21
SMP
Setiawan
Petani
Membantu
jambu.
ortu.
tahun
6
7
Putri
Menantu
21
Hadianti
tahun
Raisa Putri Cucu
10
Hadianti
bulan
SMA
Mahasiswi. Ibu Rumah
Tangga.
-
-
-
Seorang petani jambu biji bernama bapak Iskandar yang akrab disapa bapak
Kandar berusia 60 tahun dan beragama Islam. Bapak Kandar memiliki istri bernama
Tamiyasih berusia 48 tahun. Mereka dikaruniai 3 orang anak bernama Didik Wahono,
Daniel dan Dedi Setiawan. Dedi Setiawan memiliki seorang istri bernama Putri Hadianti
dan seorang anak bernama Raisa Putri Hadianti. Bapak Kandar memulai pekerjaanmya
sebagai seorang petani sekitar 35 tahun yang lalu. Didik Wahono dan Daniel bermata
pencaharian sebagai kuli bangunan. Sedangkan Dedi Setiawan bermata pencaharian
sebagai petani jambu dan sesekali membantu pekerjaan orang tuanya. Sedangkan Putri
Hadianti, istri Dedi Setiawan sekarang sedang melanjutkan studinya sebagai sarjana
Pertanian di Universitas Islam Malang. Pada awalnya bapak Kandar menanam jahe, cabai,
kacang panjang, kacang tanah, sawi, jeruk keprok dan sekarang Bapak Kandar menanam
jambu biji sebagai mata pencaharian utama dan mata pencaharian sampingan adalah
berternak bebek.
Menurut Bambang Irawan (2007) dalam jurnal yang berjudul “Fluktuasi
Harga,Transmisi Harga dan Marjin Pemasaran Sayuran dan Buah” menyatakaan bahwa
pada usahatani buah kebutuhan modal usahatani tersebut tidak begitu besar sehingga cukup
jarang petani buah yang meminjam modal usahatani dari pedagang buah sehingga kekuatan
monopsoni yang terbentuk tidak sebesar pada pemasaran sayuran.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Bapak Kandar sebagai petani jambu biji yang
awalnya bermata pencaharian sebagai petani sayur kemudian beralih menjadi petani buah
(jambu biji). Beliau menyatakan bahwa kerugian bertani sayur lebih besar dibandingkan
8
keuntungan.Apalagi bila gagal panen,balik modal saja tidak bisa. Maka dari itu beliau
beralih ke petani buah. Perawatannya yang mudah dan keuntungan yang besar merupakan
alasan bapak Kandar beralih ke petani buah.
(Marcelina Melvyn G S, 155040201111089)
3.2 Aset dan Modal Pertanian
Terdapat lima modal yang dijelaskan Ellis(2000) sebagai livelihood asset yaitu
modal alam, modal fisik, modal manusia, modal finansial, dan modal sosial. Modal alam
merujuk pada sumber daya alam dasar (tanah, air, pohon) yang menghasilkan produk yang
digunakan oleh populasi manusia untuk kelangsungan hidup mereka.Sedangkan menurut
Esti Laras (2013), aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari
peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan
diperoleh entitas.
Berdasarkan hasil wawancara kami mengenai kepemilikan ternak, berikut akan disajikan
dalam bentuk tabel dibawah ini:
Tabel 3.Pemilikan Ternak
No
1
Jenis ternak
Bebek
Jumlah (ekor) menurut status
Milik
Bagi hasil
Ket.
10 ekor
-
-
Kegiatan wawancara kami kepada petani padi pada asset dan modal petani juga membahas
mengenai kepemilikan lahan petani. Pada tabel dibawah ini akan disajikan hasil wawancara
kami mengenai kepemilikan lahan.
Tabel 4. Pemilikan Lahan
Sawah
Pekarangan
Kebun
9
Status
Luas
lahan
(ha)
Milik
Pribadi
-
Lokasi
-
Luas (ha)
Lokasi
-
-
Luas (ha)
250 m²
Lokasi
Dalisodo
Di Dusun Gandul Desa Dalisodo RT 01/RW 01 ,Kecamatan Wagir,Kabupaten
Malang bapak Kandar tinggal bersama seorang istri,3 orang anak,seorang menantu,dan
seorang cucu. Kondisi rumah bapak Kandar tergolong baik dengan lantai keramik, cat yang
berwarna-warni dan desain rumah yang tergolong modern. Keadaan genteng dan tembok
pun tampak seperti pasca renovasi. Sering kali sepeda motor beliau digunakan untuk
mempermudah pengangkutan hasil panen yang dikendarai oleh anaknya Dedi Setiawan.
Sedangkan sepeda yang ia miliki, digunakan bapak Kandar sendiri untuk meninjau kebun
jambu biji miliknya. Di rumahnya beliau memiliki beberapa barang eektronik seperti 1 unit
TV, 4 unit handphone dan 1 unit radio. Namun bapak Kandar dan istrinya sendiri tidak
memiliki handphone. Hanya anak-anaknya dan menantunya saja yang menggunakan.
Dengan kondisi rumah dan beberapa barang elektronik yang beliau miliki,bapak Kandar
tergolong dalam petani yang mampu / bisa dikatakan sebagai petani buah yang sukses.
Kebun yang beliau kelola merupakan kebun milik sendiri. Kebun tersebut
memiliki luas 250m². Bapak Kandar mengelola kebun tersebut sendiri bersama anaknya
dan terkadang ketika panen ia meminta bantuan tetangga dengan upah Rp 25.000/setengah
hari. Disamping itu modal pribadi yang digunakan oleh Bapak Kandar yaitu 150 bibit
tanaman jambu biji per biji nya waktu itu dibeli dengan harga Rp 20.000. Kemudian
disamping itu Bapak Kandar memiliki 10 ekor bebek sebagai pekerjaan sampingan yang
nantinya kotoran bebek tersebut digunakan sebagai pupuk kandang yang diaplikasikan ke
tanaman-tanaman jambu biji nya setiap satu tahun sekali tanpa ada tambahan pupuk kimia
maupun pestisida kimia apapun. Bebek tersebut ia ternakkan di pekarangan belakang
rumahnya yang tidak terlalu luas.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada Bapak Kandar di Dusun
Gandul Desa Dalisodo RT 01/RW 01 ,Kecamatan Wagir,Kabupaten Malang dengan
perbandingan jurnal maka diketahui bahwa aset dan modal pertanian yang dimiliki oleh
Bapak Kandar memang benar digunakan untuk menunjang kegiatan usaha tani.
(Marcelina Melvyn G S, 155040201111089)
10
3.3 Pola Tanam Pertanian Petani
Pola tanam adalah usaha yang dilakukan dengan melaksanakan penanaman pada
sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dari tanaman dan tata urutan tanaman
selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa tidak ditanami
selama periode tertentu. (Musyafa’, 2011). Untuk mengetahui mengenai pola tanam dan
penanganan terhadap hama dapat dicermati dari tabel berikut:
Tabel 6. Pola tanaman lahan
lokasi
Bulan 2015
5
6
7
8
9
10
Bulan 2016
11
12
1
2
3
4
Dalisodo
(dekat
Jambu
Jambu
biji
biji
Jambu biji
Jambu biji
rumah)
Terkait dengan pola tanam yang dilakukan oleh petani, berhubungan juga dengan
penanganan lahan tersebut terhadap hama. Pada tabel berikut disajikan mengenai
penanganan terhadap hama.
Tabel 7. Penanganan terhadap hama
Jenis
Komoditas
Jenis Hama
Penanganan
Kelelawar
-
Takaran ( untuk pestisida
)
-
Yellow stiky
trap+
Jambu biji
Lalat buah
metrogenol
dan plastik
transparan
kiloan
-
11
Menurut wawancara yang telah kami lakukan kepada Bapak Kandar,pola
penanaman yang digunakan adalah sistem monokultur. Monokultur adalah penanaman satu
jenis tanaman pada lahan dan waktu penanaman yang sama. (Anwar, 2012)
Bapak Kandar memiliki kebun yang ditanami jambu biji. Bapak Kandar memilih
komoditas tersebut dikarenakan pengolahannya yang mudah dan keuntungan yang
menjanjikan,selain itu akibat kegagalan sebagai petani sayur dan ajakan dari sang kakak
membuat Bapak Kandar membulatkan tekad untuk menjadi petani buah jambu biji. Bapak
Kandar menanam tanaman jambu biji dengan jarak 4meter antar tanamanannya. Bapak
Kandar memulai menanam buah jambu biji sejak 4 tahun yang lalu. Pengolahan tanah yang
dilakukan di kebun milik Bapak Kandar adalah pengolahan tanah konvensional
menggunakan cangkul.
Untuk bibit, Bapak Kandar membelinya dari petani jambu biji di Temanggung.
Bapak Kandar menjual hasil panennya ke tetangga dengan alasan kekeluargaan. Untuk
sistem pengairan ke kebun, Bapak Kandar mengandalkan air hujan. Budidaya yang
dilakukan Bapak Kandar tidak sepenuhnya lancar dan bebas hambatan. Selalu ada hama
yang menyerang tanaman jambu biji. Hama yang paling banyak menyerang tanaman
budidaya Bapak Kandar adalah lalat buah. Maka dari itu Bapak Kandar mengandalkan
yellow stiky trap yang ditempeli obat metrogenol lalu untuk buah yang akan tumbuh Bapak
Kandar menggunakan plastik transparan kiloan yang dibungkuskan pada buah tersebut agar
lalat buah tidak dapat menghisapnya. Karena jika itu terjadi,maka didalam buah tersebut
akan ada larva yang berasal dari air liur lalat buah yang nantinya merusak kualitas buah.
Lalu untuk hama kelelawar menurut Bapak Kandar,serangannya tidak begitu besar
dibandingkan lalat buah. Maka dari itu untuk Bapak Kandar tidak melakukan penanganan
lebih lanjut terhadap hama kelelawar.
(Marcelina Melvyn G S, 155040201111089)
3.4 Kebudayaan Petani
3.4.1
Pengetahuan dan Ketrampilan
Menurut bapak Kandar selaku petani yang kami wawancarai
kemarin, beliau merupakan petani jambu biji yang tingga diDusun
Gandul Desa Dalisodo Kecamatan Wagir Malang. Asal mulanya
beliau menjadi petani jambu biji beliau mendapatkan pengetahuan dari
serta ketrampilan dari kakaknya sendiri yang juga seorang petani.
Setelah mendapat pengetahuan dari kakaknya tentang usaha tani yang
12
dijalaninya saat ini beliau kemudian mengembangkan sendiri
pengetahuan-pengetahuan tersebut. Seperti bagaimana memproduksi
usaha tani dan bagaimana mengelola usahanya tersebut.
Menurut
bapak
Kandar
ketika
kami
sedang
mewawancarainya, selama ini tidak pernah ada penyuluhan yang
didapat dari desanya tersebut. Sehingga mayoritas petani dari desa
tersebut hanya mengembangkan pengetahuan-pengetahuannya sendiri
yang meraka dapatkan.
(Huril Maknunin, 155040201111161)
3.4.2. Penggunaan Pupuk
Untuk pemupukan yang diberikan pada tanaman jambu biji,
bapak Kandar menggunakan pupuk kandang atau pupuk organik yang
berasal dari kotoran ternak bebek milik bapak Kandar sendiri. Tiap 1
tanaman kira-kira membutuhkan pupuk kandang sebanyak 1 karung
atau ±20 kg dan diberikan setahun sekali bisa dilakukan diawal tahun
atau diakhir tahun. Jika pupuk kandang dari bapak Kandar sendiri
kurang, beliau membeli pupuk kandang dari orang lain yang masih
saudaranya. Pupuk kandang yang dibeli biasanya sampai 50 karung
dan 1 karungnya seharga 20.000. Selain pupuk kandang, bapak Kandar
juga menggunakan pupuk kimia jenis ZA yaitu pupuk ponka. Yang
diberikan setahun sekali pada bulan 3 awal. Pupuk Ponska yang
dibutuhkan dalam pemupukan sebanyak 1 kwintal untuk 150 tanaman
pada 1 lahan. Pemberian pupuk kimia tidak bersamaan dengan
pemberian pupuk organik. Menurut Sutant (2002) penggunaan pupuk
hijau, pupuk hayati, peningkatan biomassa, penyiapan kompos yang
diperkaya mampu memperbaiki kesehatan tanah sehingga hasil
tanaman dapat ditingkatkan juga aman dan menyehatkan manusia
yang mengkonsumsinya.
Perawatan yang dilakukan pada tanaman jambu biji ini selain
pemberian pupuk secara rutin satu tahun sekali, bapak Kandar juga
melakukan perawatan dengan membasmi gulma atau rumput-
13
rumputan dengan memberikan obat gramason. Pemberian obat
tersebut dengan cara dikompreskan atau obat itu dicampurkan dengan
air kemudian disemprotkan pada rumput-rumputan. Selain dengan
cara tersebut dapat juga dilakukan dengan cara konvensional yaitu
dengan mencabuti gulma dengan pisau. Namun, dengan cara tersebut
membutuhkan waktu yang sangat lama bisa sampai 10 hari.
(Huril Maknunin, 155040201111161)
3.4.3. Penggunaan Pestisida
Dalam usaha tani yang dilakukan oleh bapak Kandar, beliau
tidak menggunakan pestisida apapun yang diberikan pada tanaman
jambu biji yang ada pada lahan kebunnya. Sehingga dapat dikatakan
bahwa budidaya tanaman jambu biji milik bapak Kandar sangat
organik, karena bersih dari bahan-bahan kimia dan hal ini sangat
bagus
karena
dalam
penggunaan
pestisida
sendiri
dapat
mengakibatkan kerusakan lingkungan, seperti udara yang akan
tercemar. Seperti yang dijelaskan oleh Sutanto (2002) bahwa hal
tersebut merupakan hal yang harus dilakukan oleh petani saat ini
dalam bidang pertanian untuk mencari teknologi alternatif dalam
mencukupi kebutuhan pangan dengan kualitas yang baik dan
menyehatkan, tetapi tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.
(Huril Maknunin, 155040201111161)
3.4.4. Alat Pertanian dan Transportasi Lokal
Dari bapak Kandar sendiri terdapat alat pertanian
konvensional dan juga transportasi lokal yang biasa digunakan untuk
mengangkut hasil panen jambu biji. Biasanya ketika sedang panen,
tjambu biji yang sudah matang dipetik kemudian dipisahkan antara
yang berwarna kuning dan berwarna hijau. Setelah jambu biji
terkumpul banyak baru kemudian bapak Kandar menggunakan alat
pertanian yang biasa beliau menyebutnya argo untuk mengangkut hasil
14
jambu biji tersebut dan dibawa menuju keluar lahan kebun. Setelah itu
baru menggunakan sepeda motor sebagai transportasi lokal yang
digunakan untuk mengangkut jambu biji dan dibawa kerumah beliau.
(Huril Maknunin, 155040201111161)
3.4.5. Panen dan Pasca Panen
Panen jambu biji dilakukan 1 tahun sekali yang disebut
dengan panen raya. Sejak penanaman hingga saat ini, budidaya
tanaman jambu biji milik bapak Kandar sudah berumur 4 tahun. Sejak
4 tahun ini panen raya terbesar menurut bapak Kandar terjadi pada
tahun 2015 dan tahun 2016. Pada tahun 2015 hasil panen raya
mencapai ±5 ton 7 kwintal sedangkan panen raya pada tahun 2016
hasilnya mencapai ±6 ton 1 kwintal. Umur tanaman jambu biji yang
sudah siap untuk dipanen sekitar 4-5 bulan. Menurut Sadjad (1980)
untuk memperoleh benih yang bermutu tinggi dan seragam, penentuan
saat panen perlu diketahui. Penentuan kemasakan dapat didasarkan
pada warna buah, kekerasan buah, rontoknya buah/biji, pecahnya
buah, dan sebagainya. Namun tolok ukur tersebut kurang objektif.
Tolok ukur yang objektif untuk penentuan kemasakan benih antara
lain adalah bobot kering benih maksimum.
Selain dilakukannya panen raya, bapak Kandar juga
memanen tanaman jambu biji miliknya 2 hari sekali. Hasil dari panen
yang dilakukan 2 hari sekali biasanya mencapai ±15 kg tiap panen.
Kegiatan panen tersebut dilakukan dengan waktu yang tidak lama,
hanya membutuhkan waktu sekitar 3-5 jam maka kegiatan panen
sudah dapat diselesaikan.
Sistem yang digunakan ketika panen hanya dengan cara
manual yaitu hanya dengan memetik batang buahnya saja. Bapak
Kandar sebelumnya juga pernah menggunakan sistem gunting ketika
panen, namun menurut beliau dengan menggunakan sistem gunting
membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga tidak efisien.
Menurut bapak Kandar, semua hasil panen yang didapat
kemudian dijual ke tengkulak yang berasal dari desanya atau bisa
15
disebut tetangganya sendiri. Hasil panen diambil sendiri oleh
tengkulak ke rumah bapak Kandar. Bapak Kandar hanya menjual hasil
panen dalam bentuk buah asli tanpa diolah dijadikan makanan lain.
Sistem penjualan yang dilakukan bapak Kandar dan tengkulak berupa
harga kiloan jambu biji dengan harga 5000/kg. Hasil yang dijual
kemudian dipacking dengan memasukkan jambu biji ke dalam satu
kotak besar dimana satu kotak tersebut dapat menampung ±60 kg
jambu biji.
Adapun dari hasil panen yang di dapat, kadang ada buah
yang hampir busuk atau rusak dan itu oleh bapak Kandar buah yang
kurang baik tidak diikut sertakan untuk dijual. Namun buah-buah
tersebut biasanya diberikan untuk hewan ternak milik bapak Kandar
sebagai makanan.
3.5. Kelembagaan atau Pranata Sosial Di Dusun Gandul Desa Dalisodo
Kelembagaan pertanian mampu memberikan jawaban atas
permasalahan-permasalahan petani saat ini. Penguatan posisi tawar
petani melalui kelembagaan merupakan suatu kebutuhan yang sangat
mendesak dan mutlak diperlukan oleh petani, agar mereka dapat
bersaing dalam melaksanakan kegiatan usahatani dan dapat
meningkatkan kesejahteraan hidupnya (Suhud, 2005).
Status lahan yang dimiliki bapak Kandar merupakan lahan
miliknya sendiri. Bapak Kandar mendapatkan lahan tersebut dari
membeli kepada orang. Luas lahan yang dimiliki bapak kandar seluas
¼ ha dan beliau mengerjakannya dibantu oleh anaknya yang nomer 3.
3.5.1.
Bibit/Benih
Pada kegiatan usaha tani yang dilakukan oleh bapak Kandar,
beliau menggunakan bibit yang dibeli di Tumenggung Jawa Tengah
dengan harga 20.000 perbibit dan bapak Kandar menggunakan 150
bibit untuk lahannya. Bapak Kandar menggunakan pupuk seperti
pupuk kimia yang jenisnya pupuk Ponka dengan harga 1 karungnya
20.000, dan beliau juga menggunakan pupuk kandang atau pupuk
organik yang berasal dari kotoran ternak bebeknya.
16
Pada masa tanam dan melakukan perawatan bapak Kandar
terkadang di bantu oleh anaknya yang nomor 3, karena anaknya yang
nomer 3 sudah berkeluarga dan saat ini sudah mempunyai anak juga,
maka dia lebih sering mengasuh anaknya sendiri dirumah sehingga
dia lebih membantu pada saat panen saja.
(Huril Maknunin, 155040201111161)
3.5.2.
Tenaga Kerja
Bapak Kandar juga menggunakan bantuan tenaga kerja
untuk membantu perawatan pada kebun tanaman jambu bijnya.
Biasanya ketika panen bapak Kandar meminta bantuan ke
tetangganya sendiri. Ada 2 tenaga kerja yang biasanya membantu
bapak Kandar. Mereka sendiri adalah masih keluarga dari baliau.
Dengan bantuan yang mereka lakukan , biasanya bapak Kandar
memberikan upah harian sebesar 25.000 tiap ½ hari bekerja dimulai
jam 7 pagi hingga jam 12 siang.
Di Desa Dalisodo menurut bapak Kandar di daerahnya tidak
ada kelompok tani, sehingga bapak Kandar kurang dalam hal arahan
atau masukan dari sesama petaninya dan cenderung melakukan
apapun sendiri dan didesa Dalisodo ini tidak ada penyuluhan ataupun
bantuan dari pemerintah setempat.
Kelompok tani adalah kumpulan petani yang terikat secara non
formal dan di bentuk atas dasar kesamaan, kepentingan, kesamaan kondisi
lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya), keakraban dan keserasian, serta
mempunyai pimpinan untuk mencapai tujuan bersama (Dinas Pertanian
Tanaman Pangan, 2002).
Kelompok tani merupakan suatu bentuk perkumpulan petani yang
berfungsi sebagai media penyuluhan. Kelompok tani sebagai media
penyuluhan bertujuan untuk mencapai petani tangguh yang memiliki
keterampilan dalam menerapkan inovasi, mampu memperoleh tingkat
pendapatan guna meningkatakan kualitas hidup sejajar dengan profesi yang
lain, mampu menghadapi resiko usaha, mampu memanfaatkan asas skala
usaha ekonomi, memiliki kekuatan mandiri dalam menghadapi pihak-pihak
17
lain dalam dunia usaha sebagai salah satu komponen untuk membangun
pertanian maju.
(Huril Maknunin, 155040201111161)
3.5.3.
Pemasaran
Pemasaran hasil panen yang di dapat dilakukan oleh
tengkulak yang mengambil hasil panen ke rumah bapak Kandar.
Tengkulak tersebut berasal dari desa itu sendiri atu tetangga sendiri
dari bapak Kandar. Hasil yang dijual ke tengkulak dengan sistem harga
kiloan sebesar 5000 /kg. Kemudian oleh tengkulak tersebut jambu biji
kemudian disebarkan dan dijual ke pasar, luar kota, dll.
Selain dari tengkulak langganan yang biasa mengambil
jambu biji dari bapak Kandar ada beberapa tengkulak lain yang inigin
mengambil buah jambu biji dari beliau. Tetapi beliau hanya
memberikan hasil panennya kepada tengkulak langganannya saja. Hal
ini dikarenakan hasil panennya yang sudah cukup diberikan kepada
tengkulak langganannya.
Banyaknya permintaan yang ingin mengambil tanaman
jambu biji disebabkan karena harganya yang lebih murah dari buahbuah lainnya dan memiliki banyak manfaat seperti pendapat
Rismunandar (1989) bahwa jambu biji sebagai salah satu jenis buahbuahan tropis yang ada di Indonesia mulai dikenal dan diketahui
masyarakat bukan hanya sebagai buah pencuci mulut saja, kabarnya
jambu biji juga dikenal manfaatnya dalam mengatasi beberapa jenis
penyakit yang umum, misalnya penyakit disentri dan untuk terapi
demam berdarah dengan cara membuat jus dari jambu biji. Oleh
karena itu jambu biji mulai banyak diminta keberaadaannya di pasarpasar karena selain manfaatnya yang banyak, harganya yang relatif
murah dibandingkan dengan buah-buahan lainnya.
(Huril Maknunin, 155040201111161)
3.6
Perubahan Sosial Petani
18
Menurut Robert Morrison Maclver perubahan sosial
diartikan sebagai perubahan dalam bidang hubungan sosial atau
perubahan terhadap keseimbangan dalam hubungan sosial tersebut.
Sedangkan menurut Selo Soemardjan (1981) perubahan sosial adalah
semua
perubahan
yang
terjadi
pada
lembaga-lembaga
kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, di mana perubahan tersebut
memengaruhi sistem sosialnya. Perubahan sosial yang dimaksud
mencakup nilai-nilai dan pola-pola perilaku di antara kelompokkelompok dalam masyarakat.
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, bapak Kandar
memulai usaha tani sejak 35 tahun yang lalu ketika beliau berumur 25
tahun. Sebelum menanam tanaman jambu biji bapak Kandar juga
pernah menanam sayur-sayuran seperti cabai, kacang panjang, kacang
tanah, sawi, dan jeruk keprok. Namun itu semua tidak bertahan lama
karena dalam mengelola tanaman-tanaman tersebut bapak Kandar
mengalami kegagalan seperti gagal panen. Pada akhirnya sekarang ini
bapak Kandar menanam tanaman jambu biji yang sudah berumur 4
tahun. Dari komoditas tanaman ini bapak Kandar belum pernah
mengalami kegagalan dalam mengelola tanaman tersebut.
Menurut bapak Kandar tidak ada perubahan dalam bidang
sosial ataupun dalam bidang pengelolaan lahan kebun milik beliau.
Alat yang digunakan dalam pengelolaan dan perawatan kebun yaitu
sama menggunakan alat konvensional yaitu cangkul.
(Huril Maknunin, 155040201111161)
19
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Bedasarkan dari hasil praktikum sosiologi pertanian yakni wawancara dengan
salah satu petani di Dusun Gandul Desa Dalisodo yang bernama Bapak Iskandar. Pekerjaan
utama beliau adalah petani jambu merah didaerah tersebut dan memiliki sampingan yakni
berternak bebek, beliau berumur 60 tahun dan telah melakukan usaha taninya ini selama
kurang lebih 35 tahun.
Dalam pemupukan beliau menggunakan pupuk kandang yang dilakukan setiap 1
tahun sekali. untuk pupuk kimia beliau menggunakan pupuk kimia jenis ponska setiap 1
tahun sekali, Pengendalian gulma tidak dilakukan pengendalian hanya dibiarkan saja.
Untuk hama yang sering ditemukan adalah lalat buah dan beliau mengendalikannya dengan
cara membungkus buah jambu merah dengan plastic dan juga menggunakan alat perekat.
Di desa tersebut tidak ada kelompok tani dan tidak ada penyuluhan penyuluhan
atau campur tangan pemerintah langsung sehingga dalam hal informasi dan inovasi petani
didaerah tersebut masih kurang.
Beliau memiliki 1 unit sepeda, 1 unit sepeda motor yang biasa digunakan untuk
tranportasi ke lahannya, beliau juga memiliki 4 unit handphone, dan 1 unit radio dan 1 unit
tv dirumahnya. Luas lahan beliau adalah 250 m².Selain itu belakang rumah beliau juga
digunakan untuk berternak bebek, yang hasil kotorannya biasa digunakan dalam
pemupukan
Dalam pengolahan usaha tani tersebut beliau dibantu oleh keluarganya terkadang
juga ada warga sekitar atau tetangga yang ikut membantu. Dari luar keluarga biasanya
20
beliau memperkerjakan 2 orang perempuan dengan upah harian Dengan kecanggihan yang
ada sekarang dalam usahataninya beliau hanya menggunakan alat tradisional .
(Fariz Al Dzikrulloh, 155040201111085)
4.2 Saran
Saran untuk petani khususnya di Dusun Gandul Dalisodo. Petani diharapkan
bermusyawah untuk mendirikan sebuah kelompok tani yang gunanya untuk saling bertukar
informasi antar sesame petani didaerah tersebut.
Saran untuk pemertintah diharapkan pemerintah atau yang bersangkutan lebih
memperhatikan pertanian di wilayah wilayah tertentu dan memperbanyak penyuluhan
penyuluhan guna menambah pengetahuan petani sehingga dapat
mengembangkan
usahataninya dengan baik.
(Fariz Al Dzikrulloh, 155040201111085)
21
DAFTAR PUSTAKA
Azra, Azyumardi. 2006. Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban. Jakarta: UIN.
Dimas. 2012. Analisis Peranan Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Jawa Tengah
(Pendekatan Analisis Input-Output). Semarang: Fakultas Ekonomi
Universitas
Diponegoro
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Timur. 2002. Petunjuk
Pengembangan,
Bimbingan
Penyuluhan
dan
Kelembagaan
Kelompok
Tani, Samarinda.
Ellis, F. (2000) Rural Livelihoods and Diversity in Developing Countries. Oxford: Oxford
University Press.
Green dan haines. 2007. Asset Building & Community Development Third Edition. SAGE
publications.
Ira. 2014. Karakteristik Petani Dan Hubungannya Dengan Kompetensi Petani
Lahan
Sempit. Aceh: Agrisep Vol (15) No. 2 , 2014
Irawan, Bambang. 2007. Fluktasi Harga dan marjin Pemasaran Sayuran dan Buah. Bogor.
Pusat Analisi Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
JRifaldi.
2013.
Cakupan
Pertanian.
Yogyakarta:
Universitas
Muhammadiyah
Yogyakarta
Laras, Esti dkk 2013. Evaluasi Penerapan Standar Akutansi Keuangan Dalam Pelaporan
Aset Biologis (Studi Kasus Pada Koperasi “M”). Malang Fakultas Ekonomi Bisnis
Universitas Brawajiya
Maclver, Robert Morrison. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial 3. Jakarta : PT Gramedia
Rismunandar, 1989. Tanaman Jambu Biji. Sinar Baru, Bandung
Sadjad, S. 1980. Panduan Pembinaan Mutu Benih Tanaman Kehutanan di Indonesia.
Institut Pertanian Bogor, Bogor. 301 hlm
Shinta, Agustina. 2011. Perilaku Konsumen:Afeksi Konsumen. Malang, Lab Manajemen
Agribisnis/ Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
22
Soekanto, Soerjono . 2009. Peranan Sosiologi Suatu Pengantar, Edisi Baru. Jakarta.
Rajawali Pers.
Soemardjan, Selo. 1981. Perubahan Sosial. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press
Suhud, 2005., dalam Feriyanto, W.K. Peran Koperasi sebagai Kelembagaan Agribisnis
dalam Peningkatan Posisi Tawar Petani.
Suradisastra, Kedi. 2008. Strategi Pemberdayaan Kelembagaan Petani. Forum AgroEkonomi, Vol. 26 (2). PSE-KP. Hal. 82-91
Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian Organik. Yogyakarta : Kasinius
Syiful Anwar. 2012. Pola Tahun Monokultur. Agroekoteknologi. Litbang Deptan
Viswanathan. 2006. Pattern of usage of various electronic media by higher education
students. (International Journal of Education and Development using Information
and Communication Technology (IJEDICT), 2006, Vol. 2, Issue 4, pp. 100118).
diakses tanggal 11 Juli 2010.
Rismunandar, 1989. Tanaman Jambu Biji. Sinar Baru, Bandung
23
LAMPIRAN
Download