rencana tindak lanjut - BPSDMD Prov. Jateng

advertisement
RENCANA TINDAK LANJUT
BAHAN AJAR DIKLAT FUNGSIONAL
Oleh :
Drs. Siswanta Jaka Purnama, Apt, MKes
NIP : 19631028 198911 1001
PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH
BADAN PENGEMBANAGAN SUMBER DAYA MANUSIA
BAHAN AJAR RENCANA TIDAK LANJUT
1
Air sangat diperlukan oleh tubuh manusia seperti halnya udara dan makanan. Tanpa air,
manusia tidak akan bisa bertahan hidup lama. Sekitar enam puluh lima persen dari tubuh
manusia berisi air. Kehilangan air yang cukup banyak dapat mengakibatkan kematian. Air
minum dalam tubuh manusia berperan sebagai zat pelarut (solvent), media pembawa ( carrier )
atau unsur pereaksi ( katalisator ). Karena itu air minum tersebut harus aman bagi kesehatan.
Ukuran keamanan air minum ditentukan berdasarkan syarat kualitas fisik, kimia, mikrobiologi
dan radioaktif. Karena air merupakan zat pelarut dan media yang baik, sehingga dapat
membawa berbagai zat pencemar yang tergantung pada faktor lingkungannya. Sumber air
banyak jenisnya, seperti mata air, sungai, sumur, hujan, danau, laut atau tanaman sehingga
kualitasyan pun berbeda satu dengan yang lain. Pengertian air minum menurut Keputusan
Menteri Kesehatan RI Nomor 907/ MENKES/ VII /2002 adalah air yang melalui proses
pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat
langsung diminum. Gangguan kesehatan yang dapat terjadi pada masyarakat yang
mengkonsumsi air yang tidak memenuhi syarat kesehatan antara lain : typhoid, diare/kolera,
disentri dan hepatitis. Hasil survey WHO (1990), menunjukkan bahwa penyakit diare (infeksi)
menempati urutan kedua penyebab kematian di Indonesia setelah penyakit jantung koroner.
Berdasarkan data sie Surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali periode Januari s/d April
2009, terdapat penderita penyakit diare sebanyak 7.450 kasus dan penyakit typhus abdominalis
940 kasus serta penyakit hepatitis sebanyak 14 kasus. Dari hasil kajian epidemiologi ternyata
jumlah penderita penyakit diare dan typhus abdominalis menduduki urutan pertama dan kedua
dari 10 besar penyakit menular yang dilaporkan oleh puskesmas. Salah satu faktor yang dapat
meningkatkan insidens penyakit-penyakit tersebut adalah masih banyaknya masyarakat
mengkonsumsi air minum yang tidak memenuhi syarat kesehatan disamping sanitasi
lingkungan pemukiman yang kurang layak. Untuk melindungi masyarakat dari gangguan
kesehatan akibat menggunakan air yang tidak sehat, maka Dinas Kesehatan Kabupaten
Boyolali secara intensif melakukan kegiatan pengawasan kualitas air melalui petugas sanitarian
puskesmas. Petugas sanitarian puskesmas yang tersebar di seluruh kecamatan menjadi ujung
tombak bagi Dinas Kesehatan untuk memantau secara langsung di lapangan terhadap kualitas
air yang di manfaatkan oleh masyarakat baik dari aspek sarana fisik sumber air maupun dari
aspek kualitas air itu sendiri. Begitu tingginya perhatian Dinas Kesehatan terhadap peningkatan
program pengawasan kualitas air di Kabupaten Boyolali, sehingga untuk mobilitas di lapangan
semua petugas sanitarian telah dilengkapi dengan sarana kendaraan operasional roda dua.
2
Sarana penunjang lain yang menjadi perhatian Dinas Kesehatan saat ini adalah peningkatan
sarana dan prasarana Laboratorium Kesehatan Daerah dalam mendukung program
pengawasan kualitas air dan pengawasan makanan minuman terutama unsur-unsur kimia
berbahaya
dalam
makanan/
jajanan
anak-anak
sekolah.
PETUGAS
SANITARIAN
PUSKESMAS Tenaga kesehatan banyak jenisnya dimana masing-masing jenis mempunyai
keahlian berbeda-beda sesuai dengan bidangnya, diantaranya dokter, apoteker, bidan,
perawat, sanitarian dsb. Sanitarian merupakan tenaga profesi kesehatan yang telah mengikuti
pendidikan formal sesuai dengan standar Departemen Kesehatan RI dan mempunyai
ketrampilan dan keahlian dibidang penyehatan lingkungan. Berdasarkan Keputusan Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara No.19/KEP/M.PAN/11/2000 yang tertuang pada BAB
I pasal 1 menyatakan, bahwa Sanitarian adalah pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas,
tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk
melakukan kegiatan pengamatan, pengawasan dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka
perbaikan
kualitas
kesehatan
lingkungan
untuk
dapat
memelihara,
melindungi
dan
meningkatkan cara-cara hidup bersih dan sehat. awasan kesehatan lingkungan adalah suatu
upaya untuk mengetahui tingkat risiko pencemaran dan atau penyimpangan standar,
persyaratan, kriteria kesehatan media lingkungan dan rekomendasi tindak lanjut perbaikan
kualitasnya. Kegiatan tenaga sanitarian adalah kegiatan yang dilakukan oleh tenaga sanitarian
berupa upaya-upaya peningkatan derajat kesehatan, pencegahan dan pemberantasan penyakit
berbasis lingkungan yang meliputi kegiatan penyusunan, perencanaan, pengamatan dan
pengawasan kesehatan lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan kegiatan penunjang
lainnya untuk meningkatkan kualitas lingkungan. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya
penyuluhan kesehatan lingkungan dalam rangka perbaikan kualitas lingkungan untuk
memelihara, melindungi dan meningkatkan cara-cara hidup bersih dan sehat. Dalam
melaksanakan tugas profesinya seorang sanitarian harus selalu bekerjasama dengan profesi
lain dan berkoordinasi dengan lintas sektor terkait untuk mengatasi permasalahan kesehatan
lingkungan di wilayah kerjanya. Mengingat permasalahan kesehatan lingkungan sangat luas
dan kompleks, maka keberadaan petugas sanitarian di puskesmas adalah mutlak. Namun
sayang belum semua puskesmas di Kabupaten Boyolali mempunyai tenaga sanitarian,
sehingga akan menghambat pelaksanaan program kesehatan lingkungan di wilayah tersebut.
Salah satu kegiatan pokok sanitarian puskesmas adalah melaksanakan kegiatan pengawasan
kualitas air sehingga selalu tersedia informasi keadaan sanitasi sarana air bersih dan kualitas
air di wilayahnya. Dengan demikian selalu tersedia pula rekomendasi untuk tindak lanjut
terhadap upaya perlindungan pencemaran, perbaikan kualitas air dan penyuluhan kepada pihak
3
terkait. Adapun kegiatan pengawasan kualitas air meliputi : Inpeksi sanitasi pada sarana
sumber air, Pengambilan sample (contoh) air di lapangan dan Pengiriman ke Laboratorium
Kesehatan Daerah, Pemeriksaan kualitas air di lapangan serta memberikan rekomendasi &
saran tindak lanjut bagi perbaikan sarana sumber air maupun kualitas air yang dihasilkan.
Tujuan dari inspeksi sanitasi adalah untuk mengetahui apakah kontruksi sumber air minum
penduduk tersebut telah memenuhi syarat kesehatan. Artinya terlindung dari cemaran bakteri
penyakit atau unsur/ zat berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan. Pemeriksaan sampel
air (contoh air) bertujuan untuk mendeteksi apakah sumber air tersebut layak atau aman bila
digunakan untuk sumber air minum. PENGAWASAN KUALITAS AIR Air merupakan salah satu
medium tempat tinggalnya beribu – ribu spesies makhluk hidup. Dalam standar kualitas
ditetapkan setiap 100 ml contoh air, MPN koliform bakteri harus nol. Koliform bakteri digunakan
sebagai indikator di dalam menentukan apakah air telah tercemar oleh tinja atau air limbah.
Penyimpangan terhadap standar ini dapat disimpulkan bahwa air tersebut kemungkinan besar
terdapat kuman-kuman yang membahayakan kesehatan manusia. Pada prinsipnya tujuan
pemeriksaan kualitas air ialah untuk mengetahui ada tidaknya kuman berbahaya. Akan tetapi di
dalam praktik jarang ditemukan Shigella, Salmonella atau Vibrio dari contoh air yang diteliti.
Oleh karena itu pengujian air didasarkan atas ada tidaknya bakteri golongan “kolon” saja.
Bakteri kolon terdiri atas berbagai bakteri yang merupakan penghuni biasa dari usus tebal
manusia atau hewan yang sehat maupun yang sakit, misalnya Escherichia coli dan Aerobacter
aerogenes. Kehadiran bakteri kolon di dalam suatu contoh air menunjukkan adanya
pencemaran yang berasal dari kotoran manusia atau hewan, dan hal itu identik dengan adanya
bakteri patogen. Pemeriksaan kualitas air dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas
Kesehatan Kabupaten Boyolali. Pemeriksaan bakteriologis bertujuan untuk mengetahui adanya
kuman penyakit dalam air (bakteri e.coli) sedangkan pemeriksaan kimiawi bertujuan untuk
mengetahui adanya unsur kimia berbahaya (besi, mangan, nitrit, nitrat dsb) yang terlarut dalam
air. Pemerintah Daerah sebenarnya sudah berupaya menyediakan sumber air minum yang
layak untuk masyarakat Boyolali melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) , namun
kapasitasnya yang terbatas hanya sebagian kecil saja yang terlayani itu pun terbanyak di
wilayah perkotaan. Berdasarkan data pada Sie Kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan
Kabupaten Boyolali, pada tahun 2008 sumber air yang digunakan oleh masyarakat di
Kabupaten Boyolali selain PDAM adalah : Sumur Gali/SGL (39.376 buah), Sumur pompa
tangan dangkal/SPT DK (7.679 buah), Sumur pompa tangan dalam/SPT DL (166 buah), Mata
air/MA (38 buah), Penampungan air hujan/PAH (1.671 buah), Sumur artesis/SA (3 buah),
Perpipaan/PP (165 buah). Disamping pengawasan terhadap sarana sumber air tersebut diatas,
4
petugas sanitarian puskesmas juga melakukan pengawasan terhadap sarana umum yang
menggunakan air atau memanfaatkan air untuk usaha-usaha bagi umum/ konsumsi publik.
Sarana yang menjadi obyek pemeriksaan kualitas air antara lain Sarana Kesehatan, Rumah
makan, Industri makanan-minuman, Hotel, Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU), Air Minum
Dalam Kemasan (AMDK), Tempat Tempat Umum (TTU) Berdasarkan Perda tentang retribusi
no 16 Tahun 2001 untuk pemeriksaan bakteriologi air dikenakan biaya sebesar Rp.30.000,- per
sample dan biaya pemeriksaan kimia air sebesar Rp.75.000,- per sample. Apabila masyarakat
ingin mengetahui kualitas air yang digunakan dapat menghubungi petugas sanitarian
puskesmas terdekat atau langsung datang ke Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas
Kesehatan Kabupaten Boyolali. HASIL PEMERIKSAAN KUALITAS AIR Hasil pemeriksaan
kualitas air yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah pada Tahun 2008, adalah
sebagai berikut : 1. Pemeriksaan Bakteriologis Hasil pemeriksaan kandungan bakteri (e.coli)
pada sampel air yang diperiksa dan telah memenuhi syarat kesehatan berdasarkan jenis lokasi/
sasaran adalah : a. Sarana Kesehatan : 81,6 % b. Rumah makan : 40 % c. Industri makananminuman : 0 % d. Hotel : 0% e. PDAM : 96,7 % f. Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) : 83 % g.
Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) : 73,7 % h. Pemukiman penduduk : 9,7 % i. Tempat
Tempat Umum (TTU) : 25 % Hasil pemeriksaan bakteriologi air berdasarkan jenis sumber air
adalah: a. PDAM : 91,6 % b. Sumur Gali : 15,2 % c. Sumur Pompa Tangan Dangkal : 50 % d.
Sumur Pompa Tangan Dalam : 100 % e. Sumur Artesis : 90,5 % f. Penampungan Air Hujan :
28,6 % g. Mata Air : 0 % h. Perpipaan : 0 % i. Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) : 87,2 % j. Air
Minum Dalam Kemasan (AMDK) : 75 % Rendahnya kualitas air pemukiman penduduk diatas,
karena sebagian besar penduduk menggunakan sumur gali yang tidak memenuhi syarat
kesehatan. Hasil inpeksi sanitasi menunjukkan bahwa jarak sumur gali dengan sumber
pencemaran terlalu dekat serta kontruksi sumur gali tidak mampu mencegah kontaminasi zat
pencemar dari luar. Penampungan air hujan (PAH) adalah bangunan penangkap air hujan yang
sengaja dibuat/dibangun baik oleh pemerintah daerah maupun oleh masyarakat (perorangan)
untuk memenuhi kebuthannya akan air. PAH banyak ditemukan pada daerah-daerah sulit air,
antara lain di Kecamatan Musuk, Kemusu, wonosegoro dan Juwangi. Biasanya bangunan PAH
terutama yang dibuat penduduk kontruksinya kurang memenuhi syarat sehingga mudah
terkontaminasi sumber pencemar dari luar bahkan banyak yang menjadi tempat perindukan
nyamuk. ain kualitas air pada pemukiman penduduk yang perlu menjadi perhatian adalah
DAMIU dan AMDK, karena memproduksi air minum yang langsung di konsumsi masyarakat
harus 100 % bebas dari bakteri. Ditemukan nya bakteri pada AMDK dikarenakan pemeriksaan
kualitas air dilakukan sejak proses pengolahan awal sampai akhir. Pada proses awal biasanya
5
masih banyak ditemui kandungan bakteri tetapi pada proses akhir sebelum di kemas/ packing
untuk dipasarkan, sudah tidak ditemukan adanya bakteri lagi (100 % bebas bakteri). Salah satu
factor penyebab masih adanya bakteri pada DAMIU, karena alat desinfektan (ultra violet/ UV)
kurang berfungsi atau tidak mampu membunuh bakteri lagi. Kepada masyarakat yang
mengkonsumsi air isi ulang, agar selalu melihat hasil pemeriksaan kualitas air pada Depot
tersebut. Caranya dengan menanyakan langsung pada pemilik/ penunggu Depot dan dilihat
kapan waktu pemeriksaannya. Pada DAMIU yang memperhatikan keamanan produksinya akan
selalu memeriksakan kualitas airnya minimal 6 bulan sekali dan hasilnya ditempel di depan agar
mudah dilihat oleh konsumen. Upaya untuk mengatasi agar air bebas dari bakteri penyakit
adalah melakukan kaporisasi sumur dan memasak air sampai mendidih sebelum di konsumsi.
2. Pemeriksaan Kimiawi Hasil pemeriksaan kimia (Nitrit, nitrat, Fe dsb) pada sampel air yang
diperiksa dan telah memenuhi syarat kesehatan berdasarkan jenis lokasi/ sasaran adalah: a.
Sarana Kesehatan : 76,9 % b. Rumah makan : 100 % c. Industri makanan-minuman : 100 % d.
Hotel : 100 % e. PDAM : 98 % f. Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) : 100 % g. Air Minum
Dalam Kemasan (AMDK) : 100 % h. Pemukiman penduduk : 91,7 % i. Tempat Tempat Umum
(TTU) : 50 % Hasil pemeriksaan kimiawi (Nitrit, nitrat, Fe dsb) pada sampel air yang diperiksa
dan telah memenuhi syarat kesehatan berdasarkan jenis sumber air adalah: a. PDAM : 100 %
b. Sumur Gali : 85,3 % c. Sumur Pompa Tangan Dangkal : 100 % d. Sumur Pompa Tangan
Dalam : 100 % e. Sumur Artesis : 66,7 % f. Penampungan Air Hujan : 0 % g. Mata Air : 71,4 %
h. Perpipaan : 100 % i. Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) : 100 % j. Air Minum Dalam
Kemasan (AMDK) : 100 % Kandungan kimia dalam air pada sumber-sumber air di Kabupaten
Boyolali pada umumnya baik, kecuali pada sarana sumber air yang menggunakan sumur
dengan kedalaman lebih dari 20 meter. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa
sample air yang diperiksa dari sumber air dengan kedalam lebih dari 20 meter banyak
ditemukan kandungan besi (Fe). Pada sumber air dari mata air biasanya ditemukan nitrit atau
nitrat. Kondisi ini mencerminkan telah terjadi kontaminasi dari luar terhadap mata air tersebut,
baik dari sampah organic maupun dari kotoran hewan/ manusia. Hasil pemeriksaan bakteri pun
menunjukkan bahwa semua sumber air dari mata air yang diperiksa mengandung bakteri.
Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan treatmen, antara lain : Aerasi dan
kaporisasi. KESIMPULAN Air merupakan media yang baik bagi tumbuhnya mikroorganisme
penyebar penyakit yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia, sehingga perlu selalu
dipantau kualitasnya sebelum di konsumsi. Hasil pemeriksaan sampel air menunjukkan bahwa
masih banyak masyarakat di Kabupaten Boyolali menggunakan air dari sarana sumber air yang
tidak memenuhi syarat kesehatan, bahkan Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) yang tersebar di
6
wilayah kecamatan-kecamatan di Kabupaten Boyolali, tidak dapat menjamin kualitas air minum
yang diproduksinya 100 % bebas bateri. Petugas Sanitarian puskesmas menjadi ujung tombak
paling depan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali dalam perannya melindungi
masyarakat terhadap penggunaan air yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
7
Download