Modul Agama [TM13] - Universitas Mercu Buana

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
ETIKA
Membangun Masyarakat Islam
Modern
Fakultas
Program Studi
Ilmu Komputer
nformatika
Tatap Muka
Kode MK
12
Dr. Rais Hidayat
Abstract
Islam dan Globalisasi
Disusun Oleh
Kompetensi




Mengetahui peranan dan fungsi muslim
dalam fenomena globalisasi
Menguraikan implementasi agama islam
sebagai agama universal
Menjelaskan peran agama islam dalam
perdamaian baik konsepsi maupun
implementasinya
Memahami konsepsi islam dalam masalah
gender, kemanusiaan, kepemimpinan dan
demokrasi
Pengantar: Muslim Dan Fenomena
Globalisasi
Dunia sedang berubah. Komunikasi antara manusia menjadi tanpa batas. Kemajuan
teknologi, komunikasi, transportasi dan turisme, telah menjadikan dunia sebagai “desa
besar”. Ditengah situasi dunia yang berubah itu, dunia islam merancangkan abad ke-15
hijriah ini sebagai abad kebangkitan kembali islam. Walupun pelecehan menerpa, umat
islam musti tetap optimis menghadapinya.
Banyak tantangan menghadang umat. Tanpa analisa dan perencanaan strategis, umat
tidak akan mencapai tujuan bersama untuk renaissance. Umat islam dapat belajar dari
sejarah renaissance barat. Mantan presiden amerika, Richard Nixon, dalam buku
terakhirnya sebelum meninggal, seize the moment, America challenges in one super power
world, mengatakan barat berhutang besar kepada dunia islam untuk renaissancenya. Untuk
renaissance, barat terdiri dari pundak dunia islam pada masa lalu. Karena itu, kalau kaum
muslimin ingin renaissance pada abad ke-15 hijriah ini, kaum muslimin bisa meniru scenario
masa lalu. Tidak mencapai renaissance dapat kaum muslimin dilaksanakan dengan berdiri
di atas pundak barat.
Islam Agama Universal
Secara tekstual sejak 14 abad yang lalu Al-quar’an telah menegaskan bahwa islam
adalah ajaran universal, dimana misi serta klaim kebenaran ajarannya melampaui batasbatas suku, etnis, bangsa dan bahasa. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika
berbagai
seruan
Al-Qur’an
banyak
sekali
menggunakan
ungkapan
yang
berciri
kosmopolitalisme ataupun globalisme.
Faktor-faktor sejarah yang menjadi angenda umat islam untuk dikaji dalam rangka
mengangkat kembali citra dan peran islam dalam percaturan global, karena peran sejarah
ini oleh Allah telah diamanatkan pada kaum muslim sebagiamana terkandung dalam konsep
“khalifah Allah dimuka bumi”. Sekali lagi, sekarang ini disadari atau tidak umat islam telah
memasuki arena percaturan dan pertarungan global, baik dalam kontek teknologi, filsafat,
ekonomi, politik, maupun budaya. Dalam pada itu semua ajaran agama yang bersifat
dokterinal disatu sisi dan kualitas pendukungnya disisi lain semuanya akan di uji oleh
sejarah dan oleh standar-standar kemanusiaan.
Oleh karenanya tidaklah mengherankan bahwa hal itu merupakan sunatullah, bahwa
berbagai filsafah, ideology, budaya dan agama yang ada mengalami pasang surut bahkan
kebangkrutan. Contoh yang masih hangat tentunya kebangkrutan ideology komunisme
dibekas unisoviet yang telah membawa pengaruh global baik pada iklim politik maupun
ekonomi dunia, yang secara langsung juga disarankan oleh dunia islam.
memangnya tidak boleh dinafikan bahawa Islam merupakan agama yang bersifat universal
('alamiyyah). Ia diturunkan oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia, ia tidak
membeza-bezakan antara lelaki dan wanita, antara yang berkulit putih mahupun hitam.
Islam tidak pernah sekali-kali mengajak kepada sifat 'ketaksuban' bahkan Islam mengizinkan
bukan Islam untuk bersama-sama tinggal di tanahair yang satu dengan penuh aman dan
bahagia. Al-Qur'an al-Karim dengan jelas menyatakan secara berulang kali bahawa Islam
merupakan agama yang bersifat 'universal' sehingga mengulang sebanyak lebih 70 kali
kalimah al-'alaminyang membawa maksud alam sejagat atau sekalian alam. Menurut
Qatadah sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Qurtubi dalam tafsirnya kalimah a 'alamin
merupakan perkataan jamak bagi alam yang bermaksud semua yang wujud melainkan
Allah SWT.
Antara sumber wahyu yang merakamkan kenyataan ini a dalah firman Allah SWT di
dalam surah al-Anbiya' ayat 107 yang bermaksud:
"Dan tidaklah kami mengutuskan engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat
kepada sekalian alam".
Menurut Ibnu Kathir dalam tafsirnya di dalam ayat ini Allah SWT mengkhabarkan
bahawa Dia menjadikan Muhammad sebagai rahmat bagi mereka (umat) semua,
barangsiapa yang menerima rahmat ini lalu beriman dan membenarkannya maka dia
beroleh rahmat dan sesiapa yang melakukan sebaliknya maka dia akan kerugian di dunia
dan akhirat. Ini jelas menunjukkan bahawa setiap muslim perlu sedar dan insaf bahawa
tanggungjawab mereka begitu besar kerana menganuti suatu agama wahyu yang
melampaui segala fahaman mahupun doktrin kepercayaan manusia apalagi istilah moden
yang sering mengaitkan agama dengan tabiat tertentu sama ada inklusif ataupun eksklusif.
Islam Dan Perdamaian
Islam adalah negara perdamaian. Konstribusi islam untuk perdamaian dunia dan
regional, sedemikian besar dalam sejarah umat islam. Menurut islam, tujuan utama
penciptaan manusia adalah saling mengenal dan hidup dalam damai.
Kekerasan bukanlah sejarah yang identik dengan umat islam. Meluasnya pengaruh
islam kepenjuru dunia dan konversi agama dari non-islam kepada islam tidak mendukung
oleh militer sebagai faktor utama melainkan nilai-nilai yang ditawarkan oleh islam, yakni
pembebasan (futuhat) dan perdamaian (salam).
Islam juga mengajarakan kesetaraan (equality) dikalangan masyarakat. Setiap orang
serta dihadapan Allah, kecuali dalam kualitas iman dan ketaatan mereka kepada Allah.
Doktrin kesetaraan ini menyerang basis system kasta yang dipraktikan oleh agama lain,
yang mempercepat konsveksi damai dan sukarela masyarakat lokal kepada agama islam
sepanjang abad ke-13 hingga ke-16
Misi Kemanusiaan Dan Islam
Agama apapun didunia ini, lebih-lebih islam, pada prinsipnya membawa misi
kemanusiaan dan memberi penghargaan tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan, namun
dalam kenyataan tidak dalam demikian. Berbagai tidak kekerasan, kerusuhan, dan ketidak
adilan, seringkali melibatkan sentimen agama. Pada gilirannya menimbulkan persepsi
negative pada islam.
Tindakan represif dan radikal dalam pemberantasan kejahatan dan kemaksiatan,
oleh sebagian kalangan dipandang merupaka bagian dari dakwah (amar makruf nahi
mungkar). Walaupun sebagian kaum muslim menganggap tindakan tidak bersahabat
tersebut dianggap kurang etis, selain menimbulkan korban jiwa dan harta, akan
memperburuk citra islam.
Misi damai islam harus ditetapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara yang majemuk, baik karena berbeda agama maupun suku. Islam bukan hanya
menghargai orang seagama, tetapi juga sangat menghargai umat yang berbeda agama
(tidak beragama islam).
Kajian Kasus
Islam dan barat perlu di jembatani
Ketua pengurus besar nadhatul ulama (PBNU) kh hayim muzadi, menilai kotonomi
antara islam dan barat yang menjadi selama ini tidak produktif, barat maupun islam kata dia
di rugikan karena itu dia menilai Islam dan Barat posisi sulit
Menurut muzadi barat takmelulu harus dihadapi secara apriori. Sebab Islam sendiri
mengajarkan untuk menerima kebenaran dari manapun datangnya gerakan Islam apriori
gerakan barat .
Tantangan Pendidikan Islam
Pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dalam
keadaan fitrah yaitu dengan potensi bawaan seperti potensi ilahiyah, potensi untuk memikul
amanah dan tanggung jawab, potensi kecerdasan, potensi fisik. Dengan potensi ini manusia
mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan
orang lain atau pendidik secara sengaja agar menjadi manusia muslim mampu menjadi
khalifah dan Abdullah.
Upaya membangun pendidikan Islam berwawasan global bukan persoalan mudah,
karena pada waktu bersamaan pendidikan Islam harus memiliki kewajiban untuk
melestarikan, menamkan nilai-nilai ajaran Islam dan dipihak lain berusaha untuk
menanamkan karakter berbasis lokal. Upaya untuk membangun pendidikan Islam yang
berwawasan global dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah yang terencana dan
strategis dengan menangkap peluang dan bersiaga mengahadapi tantangan masa depan.
Tantangan yang akan dihadapi oleh pendidikan Islam pada masa yang akan datang,
menurut Sa’id Ismail Ali, bahwa umat Islam:
1. Kurang mampu menyeleksi informasi dan teori-teori mana yang maslahat untuk
diaplikasi dan mana pula yang tidak.
2. Gaya hidup hedonis, konsumtif dan fantatif akibat pengaruh era globaliosasi dan era
informasi.
3. Berkiblat dan berbarometer kepada Negara maju secara fisikly padahal terbelakang
pada aspek peradaban dan akhlak.
Disamping ketiga tantangan tersebut, terdapat tujuh tantangan lainnya yaitu:
1. Mengurangi
kesenjangan
dalam
pemerataan
pendidikan,
kemiskinan,
marginalisasi dan eksklusivitas pendidikan.
2. Mengukuhkan hubungan yang lebih baik antara pendidikan dan ekonomi
setempat (lokal), dan antara pendidikan dengan dunia kerja yang mengglobal.
3. Mencegah berkembangnya peran dari riset dan pendidikan yang dikendali-kan
oleh pasar dan melebarnya kesenjangan teknologi dan ilmu pengeta-huan di
antara Negara industry dan Negara berkembang.
4. Menjamin bahwa persyaratan riset Negara berkembang menerima perhatian dan
ditunjukkan oleh ilmuwan dan sarjananya.
5. Mengurangi dampak negatif dari brain drain dari Negara miskin ke Negara kaya,
dan dari wilayah tertinggal ke wilayah maju, sebagai pasar untuk siswa yang juga
mengglobal.
6. Mengarahkan dampak dari prinsip-prinsip pemasaran dan perubahan peran dari
Negara terhadap pendidikan dan membantu perencanaan dan manajemen
pendidikan.
7. Menggunakan sistem pendidikan tidak hanya untuk memindahkan batang tubuh
keilmuan secara umum, tetapi melestarikan berbagai nwarisan budaya dunia,
bahasa seni, gaya hidup di dunia yang semakin menjadi homogen.
Tantangan-tantangan tersebut bila disadari merupakan signal peluang
yang menuntut para praktisi pendidikan untuk membuat formula, design, konsep,
dan strategi pendidikan menjadi bersaing dalam ruang global yang meliputi tiga
dimensi, yaitu ekonomi, politik, dan budaya. Ekonomi, terkait dengan produksi,
pertukaran distribusi, dan konsumsi barang dan jasa; politik, terkait dengan
distribusi, kekuasaan, pusat kebijakan pengembangan dan lembaga kekuasaan
berikut pengawasannya; budaya, terkait dengan social produksi, pertukaran, dan
ungkapan bahasa isyarat dan simbol, arti, kepercayaan dan kesukaan, rasa dan
nilai1.
Daftar Pustaka
1. Aning S. 2005. 100 tokoh yang mengubah Indonesia. Agromedia PuSTAKA.
Tngerang.
2. Anwar C. 2000. Islam dan tantangan kemanusiaan abad XXI. Pustaka Pelajar Offset.
Yogyakarta.
3. Azra, A. 2005. Jaringan Ulama: Timjr Tengah dan Keplauan Nusantara. Abad XVII &
XVIII (Akar Pembaharuan Di Indonesia). Prenada Media. Jakarta.
4. Departemen Agama. Pendidikan Agama Islam di Perguruan tinggi. Departemen
Agama. Jakarta.
5. Kuntowijoto. 1997. Identitas Politik Umat Islam. Mizan. Bandung.
6. Srijanti, Dkk, 2009, Edisi ke dua, “Etika Membangun Masyarakat Islam”, Graha Ilmu.
Download