HUBUNGAN DENSITY PADA RUMAH KOS

advertisement
HUBUNGAN DENSITY PADA RUMAH KOS DENGAN
MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA
Disusun Oleh:
Fresyana Paramony
[email protected]
Ika Herani
Nur Hasanah
Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Brawijaya, Malang
ABSTRACT
This study aims to determine whether there is a relationship between the
density (density) in a boarding house with student learning motivation. This
research was conducted in two villages in Malang is the Village Ketawanggede
and Dinoyo. Respondents are students who reside temporarily (kos) in two
villages with 100 respondents. This study uses correlation (relationship) with data
collection questionnaire or questionnaire. Data analysis techniques in this study
using analysis of correlation (relationship). The results of this study are: there is
no significant influence between density and student learning motivation with
correlation coefficient 0.086. The majority of respondents have a density value
and motivation to learn in each category are as much as 43% and 42% with a
coefficient of determination (r²) by 19%.
Keywords: density, boarding houses, motivation to learn, student
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara
density (kepadatan) di rumah kos dengan motivasi belajar mahasiswa. Penelitian
ini dilakukan di dua kelurahan di Kota Malang yaitu Kelurahan Ketawanggede
dan Kelurahan Dinoyo. Responden penelitian ini adalah mahasiswa yang
bertempat tinggal sementara (kos) di dua kelurahan tersebut dengan jumlah
responden 100 orang. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner atau angket.
Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis korelasi
(hubungan). Hasil penelitian ini tidak terdapat pengaruh signifikan antara density
dan motivasi belajar mahasiswa dengan nilai koefisien korelasi 0,086. Mayoritas
responden memiliki nilai density dan motivasi belajar dalam kategori sedang
masing-msing sebanyak 43% dan 42% dengan nilai koefisien determinasi (r²)
sebesar 19%.
Kata kunci: density, rumah kos, motivasi belajar, mahasiswa
LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup terlepas dari lingkungan
sosial. Proses tersebut bisa dilihat dari hubungan manusia dan lingkungan sosial
interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam
suatu pasangan atau kelompok kecil. Dalam kehidupan sehari-hari manusia sering
menemui kendala yang menghambat proses interaksi tersebut, salah satunya
gangguan yang ditimbulkan dari situasi lingkungan tempat tinggal. Kepadatan
lingkungan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau dapat ditentukan oleh
penilaian individu berdasarkan karakteristik setting lingkungan fisik, karakteristik
setting sosial, dan karakteristik personal kemampuan beradaptasi. Lingkungan
fisik meliputi kondisi bangunan dimana bangunan adalah salah satu faktor
individu tersebut merasa padat. Setting sosial adalah keadaan dimana populasi
individu di daerah tersebut mengenal lingkungan sekitar satu sama lain,
sedangkan karakter personal dan kemampuan adaptasi juga salah satu pendukung
individu mampu bertahan di lingkungan tersebut atau tidak (Reivich&Shatte,
2002)
Kemampuan individu untuk beradaptasi di lingkungan tempat tinggalnya
sangatlah berbeda, tergantung dari berbagai macam faktor diantaranya usia yang
berpengaruh pada kematangan, cara dan proses berpikir serta pengalaman
individu
tersebut
bersosialisasi
dengan
lingkungannya
(Alwisol,
2005).
Lingkungan dengan kepadatan yang tinggi merupakan salah satu syarat yang
dapat menimbulkan kesesakan pada lingkungan tinggal tersebut. Kepadatan yang
tinggi dapat mengakibatkan keseskan pada individu.
Kenyamanan tempat tinggal bisa dilihat dari kualitas fisik lingkungan dan
bangunan. Suatu bangunan hunian dapat dikatakan nyaman ketika lingkungan
tersebut mempunyai kriteria dimana aspek fungsionalisnya sebagai fasilitas
hunian harus mampu memenuhi kebutuhan dasar penghuninya atas fasilitas
hunian mereka. Lingkungan yang padat dan sesak bisa menjadi salah satu
penyebab stressor dalam diri individu tersebut.
Density adalah salah satu keadaan lingkungan dimana kepadatan menjadi
masalah karena terlalu banyak individu yang berada dalam lingkungan tersebut
sehingga menimbulkan masalah (Sarwono, 1992).Rapaport (dalam Stokols dan
Altman, 1987) mengatakan kepadatan adalah suatu evaluasi subjektif dimana
besarnya ruang dirasa tidak mencukupi sebagai kelanjutan dari persepsi langsung
terhadap ruang yang tersedia. Batasan kesesakan melibatkan persepsi seseorang
terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia,
dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang dirasa
terlalu banyak. Tempat tinggal atau hunian adalah salah satu dari faktor yang
mempengaruhi density. Rumah kos adalah salah satu tempat tinggal yang dihuni
untuk tinggal sementara atau di sewa oleh seseorang. Kos adalah sebuah jasa yang
menawarkan sebuah kamar atau tempat untuk ditinggali dengan sejumlah
pembayaran tertentu untuk setiap periode tertentu. Bentuk fisik rumah kos terdiri
dari beberapa kamar dengan ukuran normal 3x4 meter persegi. Rumah kos
umumnya disewa oleh individu yang membutuhkan tempat tinggal sementara.
Rumah kos yang berada di daerah industri pabrik biasanya menyediakan kamar
kos untuk orang yang sudah berumah tangga dan kos pada lingkungan universitas
atau perguruan tinggi disediakan untuk mahasiswa perantau dari luar daerah.
Mahasiswa adalah golongan generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan
tinggi, sebagaian besar dari mahasiswa adalah pendatang atau berasal dari daerah
lain. Mahasiswa perantau atau yang datang dari daerah lain banyak memilih
rumah kos untuk solusi tempat tinggal selama mereka menempuh pendidikan di
universitas. Tujuan utama mahasiswa menempuh pendidikan adalah untuk proses
pembelajaran. Sebagian besar mahasiswa menyewa kamar kos yang letaknya
berdekatan dengan universitas yang sebagian besar rumah kos tersebut
mempunyai banyak ruangan atau kamar yang menimbulkan penduduk yang
banyak pula dalam rumah kos tersebut. Hal ini menimbulkan mahasiswa yang
tinggal di dalamnya merasa terganggu dengan keadaan dalam rumah kos dan
berpengaruh terhadap konsentrasi belajar, tingkat stress, prestasi belajar dan
motivasi belajar mahasiswa tersebut.
Daerah Kelurahan Ketawanggede dan Kelurahan Dinoyo Kota Malang
adalah salah satu kawasan pemukiman yang banyak menyediakan rumah kost
untuk disewa oleh mahasiswa. Kawasan tersebut dinilai strategis dan dekat
dengan Perguruan Tinggi Universitas Brawijaya dan Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim di Kota Malang Provinsi Jawa Timur. Padatnya kawasan
tersebut memberikan efek density pada masyarakat asli ataupun mahasiswa yang
menyewa rumah kos tersebut (http://www.malangkota.go.id/). Mahasiswa yang
tinggal di kawasan padat dan rumah kos yang berpenghuni banyak dengan bentuk
bangunan yang sempit, kamar yang berderet, suara berisik yang ditimbulkan oleh
penghuni lain bahkan kekurangan space. Space adalah ruang disekeliling
seseorang dengan batas – batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh
memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975), menggambarkan ruang personal
sebagai jarak atau daerah di sekitar individu dimana jika dimasuki orang lain,
menyebabkan ia akan merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan
kadang – kadang menarik diri,menjadikan mahasiswa kekurangan ruang gerak
dan meminimalisir kegiatan menjadikan mahasiswa mempunyai kebiasaan buruk
bermalas-malasan di kamar rumah kos dan hal ini berpengaruh pada motivasi
belajarnya. Motivasi belajar mahasiswa tersebut menjadi menurun seiring dengan
padatnya rumah kos.
LANDASAN TEORI
Density
Kepadatan adalah keadaan dimana ruangan yang penuh dan pengetahuan
seseorang terhadap jumlah orang yang terlalu banyak dalam ruang tertentu
(Altman, 1975). Dalam hal ini banyak orang memiliki pendapat bahwa kepadatan
dapat memberi dampak negatif kesehatan organisme dan terhadap perilaku
organisme (Hanurawan, 2008). Individu yang tidak mempunyai informasi tentang
kepadatan merasa lebih sesak daripada individu yang sebelumnya sudah
mempunyai informasi tentang kepadatan (Fisher dan Baum dalam Gifford, 1987).
Faktor-faktor yang mempengaruhi density (a) kontrol pribadi (b) budaya,
pengalaman, dan proses adaptasi (c) jenis kelamin dan usia. Dampak kepadatan
dan kesesakan pada manusia dapat meningkatan beberapa hal diantaranya,
kejahatan, bunuh diri, penyakit jiwa, kenakalan remaja. Selain dampak kepadatan
dan kesesakan terjadi pada individu, hal ini juga terjadi dan berdampak pada
lingkungan sosial yaitu, agresi, menarik diri dari lingkungan sosial, berkurangnya
tingkah laku menolong dan kecenderungan menjelekkan orang lain.
Motivasi Belajar
Seseorang tidak akan melakukan suatu perbuatan tanpa ada kekuatan dalam
dirinya yang mendorong untuk mencapai apa yang diinginkan. Dorongan tersebut
dapat berasal dari dirinya sendiri ataupun diluar dirinya sendiri seperti melakukan
sesuatu demi orang lain, ingin mendapat pujian, hadiah dan sebagainya. Motivasi
timbul ketika dirasakan adanya suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Faktor
lingkungan yang memadai mendukung pencapaian dan perwujudan motivasi
sehingga dapat berlangsung tanpa banyak kesulitan. Namun faktor lingkungan
yang kurang memadai dapat menghambat pencapaian motivasi tersebut (Makmun,
2001). Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
pengertian motivasi adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri
maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk mencapai kondisikondisi tertentu dan memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang
dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai. Faktor psikologis yang mempengaruhi
belajar mahasiswa meliputi, kecerdasan atau intelegensi, bakat, minat danmotivasi
(Syah, 2008).
Rumah Kos
Rumah kos bisa juga disebut rumah penginapan. Kos adalah rumah yang
digunakan orang umtuk menginap selama 1 hari atau lebih, dan kadang-kadang
untuk periode waktu yang lebih lama misalnya: minggu, bulan atau tahunan.
(http://library.binus.ac.id). Rumah kos dirancang untuk memenuhi kebutuhan
hunian yang bersifat sementara dengan sasaran pada umumnya adalah mahasiswa
dan pelajar yang berasal dari luar kota ataupun luar daerah.
PARTISIPAN DAN DESAIN PENELITIAN
Teknik pengambilan sampling responden dalam penelitian ini adalah
purposive sampling. Dalam penelitian ini, peneliti memiliki karakteristik
responden yaitu :
Mahasiswa dan mahasiswi yang bertempat tinggal sementara (kos) di daerah
kelurahan Ketawanggede dan kelurahan Dinoyo Kota Malang.
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat korelasi
(hubungan). Penelitian korelasi atau korelasional adalah suatu penelitian untuk
mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa
ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut sehingga tidak terdapat
manipulasi variabel (Faenkel & Wallen, 2008). Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah mahasiswa yang tinggal di rumah kos daerah kelurahan
Ketawanggede dan Kelurahan Dinoyo kota Malang.
ALAT UKUR DAN PROSEDUR PENELITIAN
Instrumen penelitian atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini
adalah skala psikologi, yaitu skala density dan skala motivasi belajar dengan
model skala likert.
HASIL
Variabel
Density
Motivasi Belajar
Statistik
Hipotetik
Empirik
Skor Minimum
9
12
Skor Maksimum
36
36
Mean
4
24,11
Standar Deviasi
20
3,95
Skor Minimum
12
29
Skor Maksimum
48
48
Mean
6
38,71
Standar Deviasi
30
3,84
Berdasarkan hasil pengolahan data, diketahui skor empirik untuk variabel
density memperoleh rata-rata skor sebesar 24,11 dengan skor minimum 12 dan
skor maksimum 36, sedangkan standar deviasi sebesar 3,95. Sedangkan skor
empirik untuk variabel motivasi belajarmemperoleh rata-rata skor sebesar 38,71
dengan skor minimum 29 dan skor maksimum 48, sedangkan standar deviasi
sebesar 3,84.
Skor hipotetik diperoleh dengan cara perhitungan manual. Variabel density
yang terdiri atas 9 aitem dengan skor terendah untuk pilihan jawaban adalah 1 dan
skor tertinggi untuk pilihan jawaban adalah 4. Dari sini diperoleh nilai terendah
dari variabel density sebesar 1 x 9 = 9 dan nilai tertinggi 4 x 9 = 36. Rentang jarak
hipotetik atau luas jarak sebarannya adalah 36 – 9 = 24. Dari sini dapat diperoleh
deviasi standar bernilai SD = 24/6 = 4 dan rata-rata (mean hipotetik) 24 – 4 = 20.
Sementara untuk skor hipotetik dari skala motivasi belajar yang terdiri atas 12
aitem memiliki skor terendah untuk pilihan jawaban adalah 1 dan skor tertinggi
untuk pilihan jawaban adalah 4. Dari perhitungan tersebut diperoleh nilai terendah
dari variabel motivasi belajar sebesar 1 x 12 = 12 dan nilai tertinggi 4 x 12 = 48.
Rentang jarak hipotetik atau luas jarak sebenarnya adalah 48 – 12 = 36. Jadi setiap
satuan deviasi standarnya bernilai SD = 36/6 = 6 dan rata-rata (mean hipotetik) 36
– 6 = 30. Setelah mendapatkan skor empirik dan hipotetik, maka akan diperoleh
gambaran mengenai variabel yang diteliti. Subjek penelitian akan digolongkan
dalam tiga kategori untuk setiap variable.
Sebelum dilakukan analisis data, ada beberapa syarat yang harus dilakukan
terlebih dahulu, yaitu uji normalitas sebaran data pada variabel penelitian baik
variabel bebas maupun variabel terikat. Selain itu uji linieritas juga dilakukan
untuk mengetahui bentuk korelasi dari kedua variabel. Pengujian asumsi dan
analisis data dilakukan dnegan menggunakan SPSS for Windows versi 20.00.
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan metode statistik One
Sample Kolmogorov Smirnov test. Hasil uji normalitas variabel density dan
motivasi belajar dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Variabel
Signifikansi
Keterangan
Density
0,132
Distribusi Normal
Motivasi Belajar
0,200
Distribusi Normal
Hasil dari pengujian Kolmogorov Smirnov didapatkan nilai signifikansi
variabel density sebesar 0,132, dimana nilai tersebut lebih besar daripada α = 0,05.
Dengan nilai signifikansi lebih besar daripada α = 0,05 dapat disimpulkan bahwa
asumsi normalitas telah terpenuhi sehingga dapat dinyatakan variabel density
berdistribusi normal. Begitu juga dengan variabel motivasi belajar memiliki nilai
signifikansi bernilai 0,200 yang berarti lebih besar dari 0,05 sehingga dapat
dinyatakan pula variabel motivasi belajar juga berdistribusi normal.
Hasil uji linearitas berdasarkan nilai signifikasi = 0,078 lebih besar dari 0,05
yang artinya terdapat hubungan linear secara signifikan antara variabel density (X)
dengan variabel motivasi belajar (Y) dan berdasarkan nilai F diperoleh nilai F
hitung = 1,566 sedang F tabel kita cari pada tabel distribution tabel nilai F 0,05
berdasarkan angka df nya, diketahui df 22.76. Pada tabel distribution tabel nilai F
0,05, ditemukan nilai F tabel = 1,75. Karena nilai F hitung lebih kecil dari F tabel
maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan linear secara signifikan antara
variabel density (X) dengan variabel motivasi belajar (Y). Hal ini menunjukkan
suatu hubungan linier antara variabel density dan motivasi belajar dimana semakin
tinggi nilai tingkat density pada mahasiswa yang tinggal di rumah kos, maka
semakin tinggi nilai motivasi belajar pada mahasiswa. Begitu pula sebaliknya,
semakin rendah nilai tingkat density pada mahasiswa maka akan rendah pula
motivasi belajar pada mahasiswa. Data dari variabel density dan motivasi belajar
telah memenuhi uji asumsi yakni uji normalitas dan linearitas, sehingga uji
hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan korelasi Product Moment
Pearson. Hasil uji korelasi Product Moment Pearson ditunjukkan pada tabel
berikut :
Variabel
Koefisien
Signifikansi
Keterangan
0,086
Tidak
Korelasi
Density*Motivasi
Belajar
0,137
Signifikan
Keterangan : (*) = Terhadap
Sesuai dengan pedoman pada tabel 15. berdasarkan hasil uji korelasi
diperoleh korelasi sebesar 0.137 dengan signifikansi 0,086 sehingga dalam
penelitian ini hubungan antara density dan motivasi belajar adalah tidak
signifikan. Apabila ditarik kesimpulan, dalam penelitian ini hipotesis ditolak yang
berarti bahwa tidak ada hubungan antara density dan motivasi belajar. Selain itu,
dapat dilihat pula bahwa nilai korelasi product-moment Pearson yang dihasilkan
bernilai positif.
DISKUSI
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan
antara variabel bebas yaitu density pada rumah kos dengan variabel terikat yaitu
motivasi belajar pada mahasiswa dengan pemilihan tempat penelitian di daerah
padat rumah kos di kelurahan Ketawanggede dan Dinoyo. Hasil yang diperoleh
tidak sesuai dengan hipotesis yang diajukan peneliti, yaitu tidak ada hubungan
antara density dan motivasi belajar pada mahasiswa, sehingga dapat dikatakan Ha
ditolak.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment
Pearson yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara density dan
motivasi belajar, dengan angka koefisien korelasi sebesar 0,137 dengan nilai
signifikansi 0,086.
Kepadatan atau density ini ternyata mendapat perhatian yang serius dari
ahli-ahli psikologi lingkungan. Menurut Sundstrom (Wrightsman & Deaux,
1981)kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan atau sejumlah
individu yang berada disuatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik
Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu
batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya
(Sarwono,1992).
Kepadatan mencakup banyak dimensi. Kepadatan tidak hanya mencakup
dimensi fisik seperti ukuran jumlah penduduk per wilayah atau jumlah orang per
rumah (kepadatan hunian dan kepadatan rumah) akan tetapi juga mengandung
aspek sosial, ekonomi, dan lain-lain. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi
kepadatan perlu memperhatikan aspek lain di luar aspek fisik. Berbagai aspek
tersebut terutama yang menguntungkan kehidupan penduduk perlu dipertahankan
sehingga kebiasaan dan perilaku yang positif tetap dapat dipertahankan. Ditinjau
dari segi penduduk, terungkap bahwa rumah padat bagi penduduk berarti rumah
yang luasnya tidak sebanding dengan jumlah penghuninya, serta tidak ada tempat
bermain atau halaman.
Holahan (1982) menggolongkan kepadatan ke dalam dua kategori, yaitu
kepadatan spasial (spatial density) terjadi bila besar atau luas ruangan diubah
menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan jumlah individu tetap, sehingga
didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruang.Kepadatan
sosial (social density) terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan
penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat
sejalan dengan bertambahnya individu.
Altman (1975) membagi kepadatan menjadikepadatan dalam (inside
density) yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruang atau tempat
tinggal. Seperti kepadatan di dalam rumah, kamar.Kepadatan luar (outside
density) yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti
jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.Setiap wilayah
pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah
tinggal pada setiap struktur hunian dan struktur hunian pada setiap wilayah
pemukiman. Sehingga suatu wilayah pemukiman dapat dikatakan mempunyai
kepadatan tinggi atau kepadatan rendah.
Daerah kelurahan Ketawanggede dan Dinoyo adalah daerah padat
penduduk, sebagaian besar rumah penduduk asli disewakan beberapa kamar untuk
tempat tinggal sementara
(kos) mahasiswa selama menempuh pendidikan di
universitas, bahkan masyarakat sekitar rela untuk membagi lahan rumahnya hanya
untuk dijadikan tempat kos yang khusus di bangun hanya untuk di sewakan.
Besarnya peluang ekonomi tersebut membuat warga sekitar berlomba-lomba
untuk memberikan fasilitas lebih ataupun merenovasi hunian mereka agar terlihat
mewah dan minimalis. Ditinjau dari keadaan fisik bangunan, warga pemilik
rumah kos di kelurahan Ketawanggede dan Dinoyo tidak terlalu memperhatikan
dan mementingkan luas bangunan yang sesuai dengan banyaknya mahasiswa
yang tinggal di rumah kos tersebut. Rata-rata rumah kos di kedua daerah tersebut
memiliki kamar yang berjumlah lebih dari 15 dengan posisi kamar yang sempit
dan di isi oleh 2 orang penghuni setiap kamarnya. Hal ini menjadikan para
penyewa yaitu mahasiswa merasa bahwa kondisi kos mereka sangat padat dan
kurang nyaman karena terlalu banyak jumlah penghuni dalam setiap rumah kos.
Di sisi lain, pihak penyewa atau mahasiswa tidak hanya memperhatikan aspek
kepadatan, mereka juga sangat memilih bagaimana para pemilik kos menawarkan
fasilitas dan terutama harga. Harga kos yang bersaing dan semakin tinggi menjadi
perhatian utama para penyewa. Hampir setiap tahun pelaku usaha rumah kos
selalu menaikkan harga sewa. Mahasiswa selalu mempertimbangkan harga sewa
kos sesuai dengan kemampuan orang tua mereka, maka dari itu penyewa
terkadang mengesampingkan kondisi rumah kos yang padat demi harga yang
murah dan terjangkau. Aspek sosial juga sangat berpengaruh pada hal ini
dikarenakan mahasiswa sebagian besar menyewa kos karena pada rumah kos
tersebut ada teman yang mereka kenal, jadi mereka tidak memikirkan kondisi kos
tetapi hanya semata-mata betah atau kerasan karena ada teman akrab mereka, hal
ini menjadikan hubungan sosial juga sangat mempengaruhi pergaulan mereka
selama tinggal di kos.
Motivasi mereka memilih tempat kos juga beragam. Motivasi ini muncul
dan berkembang dalam diri seseorang dengan jalan dari dalam diri individu itu
sendiri (intrinsik) dan datang dari lingkungan (esktrinsik). Factor lingkungan yang
memadai mendukung pencapaian dan perwujudan motivasi sehingga dapat
berlangsung tanpa banyak kesulitan. Namun factor lingkungan yang kurang
memadai dapat menghambat pencapaian motivasi tersebut (Makmun, 2001).
Dalam kamus psikologi (Kartono dan Gulo 1987) mengartikan istilah motivasi
sebagai kecenderungan organisme untuk melakukan sesuatu yang dipengaruhi
oleh kebutuhan dan diarahkan kepada sesuatu tujuan tertentu yang telah
direncanakan. Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan, motif dan tujuan
yang sangat mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. Kebutuhan merupakan
pembangkit dan penggerak perilaku apabila terdapat kekurangan akan kebutuhan,
maka individu akan lebih memperhatikan motivasi yang dimiliki.
Meskipun kondisi tempat tinggal mereka sangat padat, mereka tidak
menunjukkan adanya pengaruh yang merugikan dan menganggap pengalaman
mereka sebagai suatu tantangan yang positif. Mereka mengembangkan semangat
yang tinggi dan suasana kerjasama. Untuk tinggal bersama dalam satu atap di
rumah kos pasti memiliki kepribadian yang berbeda dan bermacam-macam antar
penghuni. Mereka tahu bahwa situasi tersebut hanya bersifat sementara.
Kesimpulan dari hal ini adalah bahwa tinggal ditempat yang berkepadatan tinggi
bisa menjadi pengalaman yang positif dalam situasi tertentu, dengan tidak adanya
hubungan antara kepadatan di rumah kos dengan motivasi belajar mereka. Hal ini
bisa dilihat dari pribadi masing-masing mahasiswa dan motivasi mereka dalam
proses belajar meskipun rumah kos mereka padat hal ini tidak mempengaruhi
motivasi mereka untuk belajar dan sebaliknya meskipun rumah kos mereka tidak
terlalu padat, individu tersebut juga tidak mempunyai motivasi belajar yang
tinggi.
Dalam mengulas berbagai macam penemuan ini, Epstein (Sears dkk,
1992)menyatakan bahwa pengaruh negative dari kepadatan tempat tinggal tidak
akan terjadi bila penghuni mempunyai sikap kooperatif dan tingkat kendali
tertentu. Tampaknya beberapa individu tidak banyak mengalami kesesakan di
dalam rumah, karena mereka mampu mengendalikan diri dan mempunyai
interaksi yang dapat meminimalkan timbulnya masalah tempat tinggal
berkepadatan tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Altman, I. (1975). Environment and Social Behavior: Privacy, Personal Space,
Territory, and Crowding. Monterey, CA: Brooks/Cole.
Alwisol. (2005). Psikologi Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas
Muhammadyah Malang.
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, Saifuddin. (2010). Sikap Manusia teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Fraenkel, J.R dan Wellen, N.E. (2008). How to Design and Evaluate research in
Education. New York: McGraw-Hill.
Hanurawan, Fattah. (2010). Psikologi Sosial. Universitas Negeri Malang: Remaja
Rosdakarya.
Holahan, CJ. (1982). Enviromental Psychology. New York: Random House.
Kartono, Kartini. & Gulo, Dali. & Gulo, Dali. (1987).
Bandung: Pionir Jaya
Kamus psikologi.
Makmun, Abin Syamsuddin. (2001). Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Muhibbin, Syah. (2008). Psikologi Belajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Rapoport, A. (1977). Human Aspects of Urban Form. Oxford: Pergamon Press.
__________. (1982). The Meaning of the Built Environment. Beverly Hills, CA:
Sage.
Reivich, K & Shatte, A. (2002). The Resilience Factor ; 7 Essential Skill For
Overcoming Life’s Inevitable Obstacle. New York, Broadway Books.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1992). Psikologi Lingkungan. Jakarta: Gramedia
Sears, D.O., Freedman, J.L., & Peplau, L.A. (1992). Psikologi Sosial Jilid I. Edisi
Kelima. Alih Bahasa: Michael Adryanto & Savitri Soekrisno. Jakarta:
Erlangga.
____________________________________. (1992). Psikologi Sosial Jilid II.
Edisi
Kelima. Alih Bahasa: Michael Adryanto & Savitri Soekrisno. Jakarta:
Erlangga.
Stokols, D. (1987). Conceptual Strategies of Environmental Psychology. In D.
Stokols & I. Altman (Eds). Handbook of Environmental Psychology, Vol. 1. New
York: Wiley, pp. 41-70.
Website :
http://eprints.unika.ac.id/2036/1/04.40.0117_Fransisca_Anies_PA.pdf.
Diperoleh 1 Juli 2014
http://eprints.unika.ac.id/11715/1/85.130_Andi_Noermartanto.pdf.
Diperoleh 1 Juli 2014.
(http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2009-1-00024AR%20Bab%202.pdf). Diperoleh 1 Juli 2014
http://dinoyo.malangkota.go.id/. Diperoleh 28 Juli 2014
http://www.malangkota.go.id/halaman/16060714. Diperoleh 5 Agustus 2014
http://kelketawanggede.malangkota.go.id/. Diperoleh 5 Agustus 2014
http://www.pucktr.jatimprov.go.id/. Diperoleh 5 Agustus 2014
Download