Uploaded by User114702

ARTIKEL ILMIAH

advertisement
ARTIKEL ILMIAH
BAHASA INDONESIA
“PENGARUH TEMPERATUR DAN MEDIA
PENDINGIN (HEAT TREATMENT) TERHADAP
SIFAT MEKANIS DAN MIKROSTRUKTUR
PADA BAJA”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Disusun oleh :
Nama : Adam Arjun Putra Agassi
Nim
: 3331200046
Kelas : A
JURUSAN TEKNOLOGI MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2021
PENGARUH TEMPERATUR DAN MEDIA PENDINGIN
(HEAT TREATMENT) TERHADAP SIFAT MEKANIS
DAN MIKROSTRUKTUR PADA BAJA
Adam Arjun Putra Agassi
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik
Mesin,
ABSTRACT
In this paper, a simple modification process was introduced to investigate the effects
of cooling media on microstructure and mechanical properties of low carbon steels.
Low carbon steel sheets are formed and heated in an oven at 900 °C for 30 minutes
and cooled using different cooling media, namely: water (quenching), air
(normalizing) and annealing cooling. Mechanical properties, including tensile
strength, impact strength and microstructure are determined using the ultimate
machine tensile machine and impact machine. Microstructures of steel have also
been investigated and analyzed using microscope metallurgy and have been
compared with steel raw materials. The results showed that the hardness of steel
using water media is higher than the other media being studied; because the
deformation of the ferrite structure becomes pearlite. Inter–critical samples of
annealing tests at temperatures of 900 °C exhibit ferrite–martensite double phases
and exhibit excellent mechanical properties when compared to NO, QE and RM test
samples. These results are useful for researchers and industrialists as a basis for the
development of steel properties into desired industrial products.
Keywords: Annealing, normalizing, quenching, mechanical properties and
quenching
ABSTRAK
Dalam paper ini, proses modifikasi sederhana diperkenalkan untuk menyelidiki
efek media pendinginan terhadap struktur mikro dan sifat mekanik dari baja karbon
rendah. Lembaran baja karbon rendah dibentuk dan dipanaskan dalam oven pada
suhu 900 oC selama 30 menit dan didinginkan meggunakan media pendinginan
yang berbeda, yaitu: air (quenching), udara (normalizing) dan pendinginan dalam
oven (annealing). Sifat mekanik, meliputi kekuatan tarik, kekuatan impak dan
struktur mikro ditentukan menggunakan mesin ultimate tensile machine dan impact
machine. Mikrostruktur baja juga telah diselidiki dan dianalisa menggunakan
microscope metallurgy dan telah dibandingkan dengan bahan baku baja. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kekerasan baja menggunakan media air lebih tinggi
dibandingkan dengan media lain yang dipelajari; dikarenakan deformasi struktur
ferrit menjadi pearlit. Inter–critical sampel uji annealing (AN) pada suhu 900 °C
menunjukkan ferit–martensit fase ganda dan menunjukkan sifat mekanik yang
sangat baik bila dibandingkan dengan sampel uji (NO), (QE) dan tanpa perlakuan
(RM). Hasil ini bermanfaat untuk peneliti dan industriawan sebagai dasar untuk
pengembangan sifat baja menjadi produk industri yang diinginkan.
Kata Kunci : Annealing, normalizing, perlakuan panas, sifat mekanik dan
quenching,
1
LATAR BELAKANG
Meskipun sejumlah besar bahan tersedia, baja telah digunakan dalam berbagai
aplikasi karena fasilitas untuk mendapatkan mereka dan juga untuk sifat berbeda
yang diperoleh dengan proses perlakuan panas, termasuk biaya yang rendah, dan
dengan mempertimbangkan bahan baku dan produksi baja di seluruh dunia sekitar
6x109 ton per tahun. Baja adalah paduan Fe–C (kandungan Carbon maksimum
sekitar 2%) yang dapat mengandung elemen paduan lainnya, sesuai dengan
aplikasinya. Bahkan variasi rendah dalam komposisi tersebut dapat menyebabkan
perbedaan besar dalam sifat mekanik, karena struktur akhir dapat berubah sesuai
dengan pengolahan manufaktur dan juga siklus perlakuan panas yang diterapkan
[1]. Aplikasi industri pembentukan lembaran baja mencari bahan dengan potensi
deformasi plastis dan kekuatan tinggi. Tantangan ini tidak mudah dicapai, karena
biasanya kenaikan kekuatan baja selalu disertai dengan penurunan elongasi [2].
Naeem et. al (2016)[3] telah menyelidiki baja karbon biasa yang diproses dengan
teknik cathodic cage plasma nitriding (CCPN) menggunakan austenitic stainless
steel cathodic cage (CC) memiliki variabel diameter (13–21 cm). Mereka
melaporkan bahwa proses nitriding secara siknifikan meningkatkan kekerasan baja
tanpa pra–perlakuan atau pencampuran paduan. Kemudian, Sergey et al. (2016)[4]
telah mempelajari ketangguhan impak dari spesimen baja 12Cr1MoV pada
temperatur mulai dari 20oC sampai 600oC. Mereka melaporkan bahwa peningkatan
temperatur pengujian dari 20oC sampai 375oC dan kemudian menjadi 600oC
menyebabkan ketangguhan impak dari baja menurun sebesar 1.2 dan 2.42 kali,
berturut–turut. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki untuk
menyelidiki efek media pendinginan terhadap struktur mikro dan sifat mekanik dari
baja karbon rendah ST 37. Penelitian bermanfaat untuk peneliti dan industriawan
untuk mengembangkan sifat baja menjadi produk industri yang diinginkan..
2
FOKUS DAN PERTANYAAN PENELITIAN
Pada pembuatan artikel ini, ditinjau dari pemahaman masyarakat Indonesia
tentang sifat mekanik dan mikrostruktur pada baja. Pada umumnya sifat-sifat dari
suatu material bergantung pada struktur mikro yang membentuk material itu
sendiri. Dengan adanya struktur tersebut, suatu material akan memiliki
keunggulannya tersendiri, seperti daya tahan terhadap korosi, kekerasan yang
tinggi, mampu di ditempa, dan lain-lain, sehingga dibuatlah beberapa pertanyaan
mengenai maknanan gulai ayam, antara lain :
1. tahukah anda apa itu baja?
2. sebutkan contoh sifat mekanis baja yang anda ketahui!?
3. menurut kamu apakah temperatur dapat mempengaruhi mikrostrukur pada
baja?
4. menurut kamu apakah temperatur juga dapat mempengaruhi sifat mekanis
suatu baja?
5. perlukah kita melakukan heat treatment pada sebuah material?
6. menurut kamu seberapa penting perlakuan temperatur terhadap material baja?
TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari pembuatan artikel ini adalah untuk mengetahui pemahaman dan
pengetahuan masyarakat Indonesia tentang sifat mekanis dan struktur mikro pada
baja, yang dianalisis menggunakan kuesioner yang berisi tentang pertanyaan
pengetahuan dan pendapat masyarakat.
heat treatment sangat penting agar salah satu karakter yang dibutuhkan dari
material tersebut meningkat, seperti nilai kekerasan, kekuatan dan struktur
mikronya Dan juga untuk menghasilkan sifat-sifat logam yang diinginkan.
Perubahan sifat logam akibat proses perlakuan panas dapat mencakup keseluruhan
bagian dari logam atau sebagian dari logam
3
KERANGKA TEORI
Sifat Mekanik Baja
Baja sebagai bahan konstruksi bangunan mempunyai beberapa sifat fisik dan
mekanis yang dapat mempengaruhi kekuatan sebuah konstruksi bangunan. Berikut
ini beberapa sifat mekanik yang dimiliki oleh baja yang meliputi :
1. Kerapuhan Baja
Sifat penting pada baja adalah kuat tarik. Oleh karena daya tarik baja yang kuat
maka baja dapat menahan berbagai tegangan, sehingga tingkat kerapuhan pada
baja sangat rendah
2. Kekerasan Baja
Kekerasan baja adalah ketahanan baja terhadap besarnya gaya yang dapat
menembus permukaan baja. Baja itu sangat keras sekali sehingga banyak
digunakan sebagai bahan konstruksi. Tingkat kekerasan yang tinggi sangat
penting untuk benda-benda tertentu yang dibuat dari baja. Untuk dapat
mencapai kekerasan yang tinggi, maka diperlukan sistem perawatan dengan
panas khusus (300°C – 650°C) yang disebut dengan proses ‘pengerasan’.
3. Keuletan (kemudahan berubah) Baja
Keuletan baja merupakan kemampuan baja untuk berdeformasi sebelum baja
putus. Keuletan ini berhubungan dengan besarnya regangan/strain yang
permanen sebelum baja putus. Pada umumnya baja bersifat sangat alot,
sehingga tidak cepat patah. Apabila baja dipanaskan lebih lama dan suhu
pemanasan yang lebih tinggi dari proses ‘pengerasan’ pada umumnya, maka
kekerasan baja akan semakin berkurang, akan tetapi kealotan, kemudahan untuk
dibentuk dan terutama ketahanan terhadap benturan menjadi lebih besar.
Dengan demikian mutu baja menjadi lebih baik dan dapat disesuaikan dengan
tujuan penggunaannya.
4. Keteguhan Baja
Keteguhan baja adalah hubungan antara jumlah energi yang dapat diserap oleh
baja sampai baja tersebut putus. Semakin kecil energi yang diserap oleh baja,
maka baja tersebut makin rapuh dan makin kecil keteguhannya. Cara ujinya
dengan cara memeberi pukulan mendadak (impact/pukul takik)
5. Kelelahan Baja
Tingkat kelelahan pada baja terbilang cukup rendah dikarenakan baja memiliki
sifat daya tarik yang sangat kuat dan tingkat kekerasan yang tinggi sehingga
4
terjadinya kegagalan (patah) pada komponen akibat beban dinamis akan
memakan waktu yang cukup lama
Perlakuan Panas (Heat Treatment)
Perlakuan panas atau heat treatment adalah salah satu proses untuk mengubah
struktur logam dengan jalan memanaskan specimen pada electric furnace (tungku) pada
temperatur rekristalisasi selama periode tertentu kemudian didinginkan pada media
pendingin seperti udara, air, air garam, oli dan solar yang masingmasing mempunyai
kerapatan pendinginan yang berbeda-beda. Sifat-sifat logam terutama sifat mekanik yang
sangat dipengaruhi oleh struktur mikro logam disamping komposisi kimianya, contoh
suatu logam atau paduan akan mempunyai sifat mekanis yang berbedabeda struktur
mikronya diubah. Dengan adanya pemanasan atau pendinginan dengan kecepatan tertentu
maka bahan-bahan logam dan paduan memperlihatkan perubahan strukturnya.
Perlakuan panas merupakan proses kombinasi antara proses pemanasan atau
pendinginan dari suatu logam atau paduannya dalam keadaan padat untuk mendapatkan
sifat-sifat tertentu. Untuk mendapatkan hal ini maka kecepatan pendinginan dan batas
temperatur sangat menentukan sehingga penentuan bahan logam yang tepat pada
hakekatnya merupakan kesepakatan antara berbagai sifat, lingkungan
dan
cara
penggunaan hingga sampai dimana sifat bahan logam tersebut dapat memenuhi
persyaratan yang telah ditentukan. Sifat –sifat bahan logam perlu dikenal secara baik
karena bahan logam tersebut dipakai pada berbagai kepentingan dan dalam keadaan
sesuai dengan fungsinya. Tetapi terkadang sifat-sifat bahan logam ternyata kurang
memenuhi persyaratan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Sehingga diperlukan
suatu usaha untuk dapat meningkatkan atau memperbaiki sifat-sifat logam. Sifat-sifat
logam tersebutdapat ditingkatkan dengan salah satunya adalah perlakuan panas.
Perlakuan panas adalah proses untuk memperbaiki sifat dari logam dengan
jalan memanaskan coran sampai temperatur yang cocok, kemudian dibiarkan beberapa
waktu pada temperatur itu, kemudian didinginkan ke temperatur yang lebih rendah
dengan kecepatan yang sesuai. Salah satu cara perlakuan panas pada logam paduan
aluminium adalah dengan penuaan keras (age hardening). Melalui penuaan keras ( age
hardening ), logam paduan aluminium akan memperoleh kekuatan dan kekerasan yang
lebih baik. Dahulu orang menyebut penuaan keras (age hardening ) dengan sebutan
pemuliaan atau penemperan keras. Penamaan tersebut kemudian dibakukan menjadi
5
penuaan keras (age hardening) karena penemperan keras pada logam paduan baja
berbeda dengan penemperan keras yang berlangsung pada penemperan keras baja.
Paduan baja yang dapat dituakeraskan atau di age hardening dibedakan atas paduan baja
yang dapat dituakeraskan dalam keadaan dingin dan paduan baja yang dapat
dituakeraskan dalam keadaan panas. Penuaan keras (age hardening) berlangsung dalam
tiga tahap yaitu:
1. Solution Heat Treatment
2. Quenching
3. Aging
Mikrostruktur
Pemeriksaan metalografi memberi tahu kita banyak tentang identitas, komposisi, dan
sejarah termomekanis dari logam atau paduan. Seorang Metalografer berpengalaman akan
dapat memperoleh informasi tentang semua aspek ini dari pengamatan Mikrostruktur pada
pembesaran yang sesuai dan menggunakan reagen etsa yang sesuai. Struktur mikro sendiri
memiliki sifat-sifat mekanik yang berbeda beda. Berikut adalah jenis-jenis struktur mikro
beserta sifatsifat mekanik nya.[1]
1. Austenit
2. Ferit
3. Sementit
4. Perlit
5. Ladeburit
6. Marsentit
7. Bainit
6
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN
Kuesioner merupakan alat untuk pengumpul data yang berbentuk pertanyaan
yang akan diisi atau dijawab oleh responden. Beberapa alasan digunakannya
kuesioner adalah : kuesioner dapat dipakai untuk mengukur variabel yang bersifat
faktual, untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian, dan
untuk memperoleh informasi dengan validitas dan reliabilitas setinggi mungkin
(Djaali dan Mulyono, 2008 : 64).
Metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah penerapan analisis sifat
mekanik baja serta struktur mikro dan analisis tingkat pemahan responder atau
konsumen terhadap material baja tersebut. Pada penelitian ini, proses pengumpulan
data dilakukan dengan cara membuat kuesioner yang akan diisi oleh responder.
Kuesioner ini berisi tentang pendapat dan pemahaman responder terhadap material
baja yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari
7
ANALISA DATA
Setelah membuat kuesioner, responder yang telah mengisi adalah sebanyak 26
orang dari berbagai kalangan usia, sehingga didapatkan data kuantitatif sebagai
berikut:
Pemahaman Responder Mengenai Material Baja
Pemahaman responder mengenai material baja ini dapat dilihat dari data pada
tabel berikut ini :
Tabel 1. Hasil pendapat responder mengenai rasa material baja
Alternatif Jawaban
Frekuensi
Persentase
Tahu
26 orang
100%
Tidak
0 orang
0%
Pemahaman Responder Mengenai Material Baja
0 (0%)
tahu
tidak
26(100%)
Gambar 1. Grafik lingkaran dari Tabel 1
Berdasarkan dari tabel diatas menunjukan bahwa semua responder mengetahui
bentuk material baja itu sendiri.
8
Pendapat Responder Mengenai Sifat Mekanik Baja
Pendapat responder mengenai sifat mekanik baja ini dapat dilihat dari data
pada tabel berikut ini :
Tabel 2. Hasil pendapat responder mengenai sifat mekanik pada baja
Alternatif Jawaban
Frekuensi
Persentase
Kerapuhan
0 orang
0%
Kekerasan
13 orang
5%
Keuletan
6 orang
21%
Keteguhan
5 orang
17%
Kelelahan
0 orang
0%
Jawaban Lain
5 orang
17%
Pendapat Responder Mengenai Sifat Mekanik Baja
0 (0%)
0 (0%)
5 (17%)
13 (45%)
5 (17%)
6 (21%)
kerapuhan
kekerasan
keuletan
keteguhan
kelelahan
jawaban lain
Berdasarkan dari tabel diatas menujukan bahwa pengetahuan responder
mengenai sifat mekanik pada baja sudah cukup baik. Hal ini ditunjukan dengan
responder yang menjawab sifat mekanik baja tidak sesuai pada literature hanya 5
jawaban.
9
Pendapat Responder Mengenai Apakah Temperatur Dapat Mempengaruhi
Mikrostrukur Pada Baja
Pendapat responder mengenai apakah temperatur dapat mempengaruhi
mikrostrukur pada baja dapat dilihat dari datapada tabel berikut ini :
Tabel 3. Hasil pendapat responder mengenai apakah temperatur dapat mempengaruhi
mikrostrukur pada baja
Alternatif Jawaban
Frekuensi
Persentase
perlu
24 orang
92 %
tidak
2 orang
8%
Responder Mengenai Apakah Temperatur Dapat Mempengaruhi
Mikrostrukur Pada Baja
2 (8%)
24 (92%)
perlu
tidak
Gambar 3. Grafik lingkaran dari Tabel 3
Berdasarkan dari tabel diatas menujukan bahwa responder mengetahui
pentingnya temperature terhadap struktur mikro pada sebuah material dengan
presentase 92%, karena temperature pada saat melakukan proses metalografi sangat
mempengaruhi bentuk sebuah struktur mikro pada suatu material.
10
Pendapat Responder Mengenai Apakah Temperatur Dapat Mempengaruhi
Sifat Mekanik Pada Baja
Pendapat responder mengenai apakah temperatur dapat mempengaruhi sifat
mekanik pada baja dapat dilihat dari datapada tabel berikut ini :
Tabel 4. Hasil pendapat responder mengenai apakah temperatur dapat mempengaruhi
sifat mekanik pada baja
Alternatif Jawaban
Frekuensi
Persentase
perlu
24 orang
92 %
tidak
2 orang
8%
Responder Mengenai Apakah Temperatur Dapat Mempengaruhi Sifat
Mekanik Pada Baja
2 (8%)
24 (92%)
perlu
tidak
Gambar 4. Grafik lingkaran dari Tabel 4
Berdasarkan dari tabel diatas menujukan bahwa responder mengetahui pentingnya
temperature terhadap sifat mekanis pada sebuah material dengan presentase 92%, karena
temperature akan mempengaruhi sifat suatu material.
11
Pendapat Responder Mengenai Perlukah Melekakuan Heat treatment
Pendapat responder mengenai apakah Perlukah Melekakuan Heat treatment
pada baja dapat dilihat dari datapada tabel berikut ini :
Tabel 5. Hasil pendapat responder mengenai Perlukah Melekakuan Heat treatment
Alternatif Jawaban
Frekuensi
Persentase
perlu
25 orang
96 %
tidak
1 orang
4%
Sales
1 (4%)
25 (96%)
perlu
tidak
Gambar 5. Grafik lingkaran dari Tabel 5
Berdasarkan dari tabel diatas menujukan bahwa responder mengetahui pentingnya
melakukan heat treatment pada sebuah material, karena Tujuan dilakukannya perlakuan
panas (heat treatment) adalah agar salah satu karakter yang dibutuhkan dari material tersebut
meningkat, seperti nilai kekerasan, kekuatan dan struktur mikronya.
12
PEMBAHASAN
Perlakuan panas dapat didifinisikan suatu kombinasi proses pemanasan dan
pendinginan logam/ paduanya dalam keadaan padat secara dikontrol. Tujuannya
adalah untuk mempersiapkan material logam sebagai produk setengah jadi agar
layak diproses lanjut untuk meningkatkan umur pakai material logam sebagai
produk jadi. Pertimbangan lain, dengan biaya perlakuan panas yang relatif rendah,
umur pemakaiann komponen akan lebih lama. Secara umum, proses perlakuan
panas adalah yang pertama Memanaskan logam / paduannya sampai suhu tertentu
dengan kecepatan tertentu. Kedua, Mempertahankan pada temperatur pemanasan
tesebut dalam waktu / tempo tertentu. Kemudian, Mendinginkan dengan media
pendingin dengan laju tertentu.
Tahap pertama dalam proses age hardening yaitu solution heat treatment atau
perlakuan panas pelarutan. Solution heat treatment yaitu penasan logam aluminium
dalam
dapur
pemanas
dengan
temperatur
5500C 5600 C
dan dilakukan
penahanan atau holding sesuai dengan jenis dan ukuran benda. pada tahap solution
heat treatment terjadi pelarutan fasa-fasa yang ada, menjadi larutan padat. Tujuan
dari solution heat treatment itu sendiri yaitu untuk mendapatkan larutan padat yang
mendekati homogen.
Proses solution heat treatment dapat dijelaskan dalam gambar 1 dimana logam
paduan alumunium pertama kali dipanaskan dalam dapur pemanas hingga
mencapai temperatur T1. Pada temperatur T1 fase logam paduan alumunium
akan berupa kristal campuran a dalam larutan padat. Pada temperatur T1 tersebut
pemanasan ditahan beberapa saat agar didapat larutan padat yang mendekati
homogen.
Quenching merupakan tahap yang paling kritis dalm proses perlakuan
panas. Quenching dilakukan dengan cara mendinginkan logam yang telah
dipanaskan dalam dapur pemanas kedalam media pendingin. Dalam proses age
hardening logam yang diquenching adalah logam paduan aluminium yang telah
dipanaskan dalam dapur pemanas kedalam media pendingin air. Dipilihnya air
sebagai media pendingin pada proses quenching karena air merupakan media
pendingin yang cocok untuk logam-logam yang memiliki tingkat kekerasan atau
hardenabiliti yang relatif rendah seperti logam paduan aluminium.
13
Pendingin dilakukan secara cepat, dari temperatur pemanas (5050C) ke
temperatur yang lebih rendah, pada umumnya mendekati temperatur ruang. Tujuan
dilakukan quenching adalah agar larutan padat homogen yang terbentuk pada
solution heat treatment dan kekosongan atom dalam keseimbangan termal pada
temperatur tinggi tetap pada tempatnya. Pada tahap quenching akan menghasilkan
larutan padat lewat jenuh (Super Saturated Solid Solution) yang merupakan fasa
tidak stabil pada temperatur biasa atau temperatur ruang.
Pada proses quenching tidak hanya menyebabkan atom terlarut tetap ada
dalam larutan, namun juga menyebabkan jumlah kekosongan atom tetap besar.
Adanya kekosongan atom dalam jumlah besar dapat membantu proses difusi atom
pada temperatur ruang untuk membentuk zona Guinier - Preston (Zona GP). Zona
Guinier - Preston ( Zona GP) adalah kondisi didalam paduan dimana terdapat
agregasi atom padat atau pengelompokan atom padat
Setelah solution heat treatment dan quenching tahap selanjutnya dalam proses
age hardening adalah aging atau penuaan. Perubahan sifat-sifat dengan berjalanya
waktu pada umumnya dinamakan aging atau penuaan. Aging atau penuaan pada
paduan aluminium dibedakan menjadi dua, yaitu penuaan alami (natural aging) dan
penuaan buatan (artificial aging).
Penuaan alami (natural aging) adalah penuaan untuk paduan aluminium yang
di age hardening dalam keadaan dingin. Natural aging berlangsung pada temperatur
ruang antara 15oC - 25oC dan dengan waktu penahanan 5 sampai 8 hari. Penuaan
buatan (artifical aging) adalah penuaan untuk paduan aluminium yang di age
hardening dalam keadaan panas. Artifical aging berlangsung pada temperature
antara 100oC -200oC dan dengan lamanya waktu penahanan antara 1 sampai 24 jam.
Pada tahap artificial aging dalam proses age hardening dapat dilakukan
beberapa variasi perlakuan yang dapat mempengaruhi hasil dari proses age
hardening. Salah satu variasi tersebut adalah variasitemperatur artificial aging.
Temperatur artificial aging dapat ditetapkan pada temperatur saat pengkristalan
paduan alumunium (1500C), di bawah temperatur pengkristalan atau di atas
temperatur pengkristalan logam paduan alumunium.
14
SIMPULAN
Pengerasan thermal merupakan salah satu upaya yang dapat diterapkan pada
logam baja untuk meningkatkan kekerasannya. Dalam pelaksanaan prosesnya,
logam tersebut akan mengalami kondisi dari temperatur ruang menjadi kondisi
temperatur tinggi dan akhirnya dikondisikan lagi dalam keadaan dingin. Dengan
pelakukan ini tentu logam akan mengalami suatu perubahan baik yang memang
diharapkan maupun yang tidak diharapkan..
SARAN
Dengan dibuatnya artikel ini diharapkan pembaca dapat lebih memahami
pentingnya perlakuan panas (heat treatment) pada suatu material untuk menentukan
kriteria material yang di perlukan sesuai dengan kebutuhan.
15
DAFTAR PUSTAKA
Afrilianan, Asmak. 2018. Teknologi Pengolahan Kopi Terkini. Yogyakarta:
Deepublish
Alawiah, W. 2010. Gini Lho, Varian Masakan Kambing Yang Mantappp.
Yogyakarta: FlashBook
Anugerah, Putri, Maria. 2016. Pengembangan Produk Gulai Ayam Kaleng
Sebagai Sumber Lemak Dan Protein Pada Pangan Darurat. Skripsi.
Fakultas Teknologi Pertanian. Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan.
Institut Pernaian Bogor: Bogor
Boga, Yasa. 2010. Koleksi 120 Resep Masakan Ayam. Jakarta: Gramedia
Djaali, H., dan Muljono Pudji. 2008. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan.
Jakrata: Grasindo
Ernawati, A. S. 2010. Dapur Pintar. Jakarta: Kawahmedia
Meilgaard. 2000. Sensory evaluation techniques. Boston: CRC
Purwadi, Radiati, Eka, Lilik, Evanuarini, Herly, dan Andriani, Dewi, Ria. 2017.
Penanganan Hasil Ternak. Malang: UB Press
Suliasih, Neneng, Nurminabari, Siti, Ina, dan Kusuma, Budia, Ruhmiana, Giga.
2017. Pengaruh Formula Dan Perbandingan Bumbu Serbuk Dengan Santan
Serbuk Terhadap Karakteristik Bumbu Gulai Serbuk Dengan Metode
Foam-Mat Drying. Pasundan Food Technology Journal. Vol. 4 (3): 167175
Yuwono, Setyo, Sudarminto, dan Waziiroh, Elok. 2017. Teknologi Pengolahan
Pangan Hasil Perkebunan. Malang: UB Press
16
LAMPIRAN
Kuesioner yang diisi oleh responder
Pertanyaan dan jawaban yang telah diisi
oleh responder
Pertanyaan dan jawaban yang telah diisi
oleh responder
Proses pembagian link kuesioner agar
dapat diisi oleh responder
Download