makalah imunologi

advertisement
MAKALAH IMUNOLOGI
ANTIGEN- ANTIBODY
Dosen :
Dra. Refdanita, M.Si., Apt.
Disusun Oleh :
Agustina Eka Pratiwi
12330054
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
1
Imunologi adalah spesialisasi medis yang berkaitan dengan kekebalan dan semua
aspek dari kemampuan tubuh untuk melewan infeksi dan penyakit yang disebabkan
oleh patogen ( organisme penyebab penyakit yang biasanya adalah mikroorganisme).
Imunitas atau kekebalan adalah sistem pada organisme yang bekerja melindungi
tubuh terhadap pengaruh antigen yang dapat bersifat patogen bagi tubuh.
1.2
RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari Antigen dan Antibodi?
2. Bagaimana mekanisme dari Antigen dan Antibodi?
3. Apa saja klasifikasinya?
4. Apa perannya dalam suatu penyakit?
1.3
TUJUAN PENULISAN
1. Mahasiswa dapat mengaplikasikan teori Imunologi yang didapat dari perkuliahan.
2. Mahasiswa mendapat wawasan lebih mengenai Imunologi khususnya tentang
1.4
Antigen dan Antibodi.
MANFAAT PENULISAN
1. Mahasiswa dapat memahami ilmu tentang Imunologi khususnya Antigen dan
2.
Antibodi.
Mahasiswa dapat memenuhi tugas dalam mata kuliah Imunologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
SEL T dan SEL B
A. Sel T
Sel T adalah sel di dalam salah satu grup sel darah putih yang diketahui
sebagai limfosit dan memainkan peran utama pada kekebalan selular. Sel T mampu
membedakan jenis patogen dengan kemampuan berevolusi sepanjang waktu demi
peningkatan kekebalan setiap kali tubuh terpapar patogen. Hal ini dimungkinkan
2
karena sejumlah sel T teraktivasi menjadi sel T memori dengan kemampuan untuk
berkembangbiak dengan cepat untuk melawan infeksi yang mungkin terulang
kembali. Kemampuan sel T untuk mengingat infeksi tertentu dan sistematika
perlawanannya, dieksploitasi sepanjang proses vaksinasi, yang dipelajari pada
sistem kekebalan tiruan.
Respon yang dilakukan oleh sel T adalah interaksi yang terjadi antara reseptor
sel T (bahasa Inggris: T cell receptor, TCR) dan peptida MHC pada permukaan sel
sehingga menimbulkan antarmuka antara sel T dan sel target yang diikat lebih lanjut
oleh molekul co-receptor dan co-binding. Ikatan polivalen yang terjadi
memungkinkan pengiriman sinyal antar kedua sel.[2] Sebuah fragmen peptida kecil
yang melambangkan seluruh isi selular, dikirimkan oleh sel target ke antarmuka
sebagai MHC untuk dipindai oleh TCR yang mencari sinyal asing dengan lintasan
pengenalan antigen. Aktivasi sel T memberikan respon kekebalan yang berlainan
seperti produksi antibodi, aktivasi sel fagosit atau penghancuran sel target dalam
seketika. Dengan demikian respon kekebalan tiruan terhadap berbagai macam
penyakit diterapkan.
Sel T memiliki prekursor berupa sel punca hematopoietik yang bermigrasi dari
sumsum tulang menuju kelenjar timus, tempat sel punca tersebut mengalami
rekombinasi VDJ pada rantai-beta pencerapnya, guna membentuk protein TCR
yang disebut pre-TCR, pencerap spesial pada permukaan sel yang disebut pencerap
sel T (bahasa Inggris: T cell receptor, TCR). "T" pada kata sel T adalah singkatan
dari kata timus yang merupakan organ penting tempat sel T tumbuh dan menjadi
matang. Beberapa jenis sel T telah ditemukan dan diketahui mempunyai fungsi
yang berbeda-beda.
3
B. Sel B
Sel B adalah limfosit yang memainkan peran penting pada respon imun
humoral yang berbalik pada imunitas selular yang diperintah oleh sel T. Fungsi
utama sel B adalah untuk membuat antibodi melawan antigen. Sel B adalah
komponen sistem kekebalan tiruan.
Pencerap antigen pada sel B, biasa disebut pencerap sel B, merupakan
imunoglobulin. Pada saat sel B teraktivasi oleh antigen, sel B terdiferensiasi
menjadi sel plasma yang memproduksi molekul antibodi dari antigen yang terikat
pada pencerapnya.
2.2
ANTIGEN
Antigen adalah zat-zat asing yang pada umumnya merupakan protein yang berkaitan
dengan bakteri dan virus yang masuk ke dalam tubuh. Beberapa berupa olisakarida atau
polipeptida, yang tergolong makromolekul dengan BM > 10.000 yang dapat
merangsang respon imun dan dapat bereaksi dengan antibodi.
Antigen merupakan bahan asing yang dikenal dan merupakan target yang akan
dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh. Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel,
tetapi dalam keadaan normal, sistem kekebalan seseorang tidak bereaksi terhadap
selnya sendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen merupakan sebuah zat yang
menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi antibodi. Antigen biasanya
protein atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul lainnya, termasuk molekul
kecil (hapten) dipasangkan ke protein-pembawa. Sistem kekebalan atau sistem imun
adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ
khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini
akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel
kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya
melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang
menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga
memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah
dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. Dalam faktanya
kekuatan antibody seseorang tersebut dalam melawan antigen yang terdapat dalam
tubuh seseorang.
4
2.2.1
Jenis – jenis Antigen
Ada beberapa jenis antigen, yaitu jenis antigen berdasarkan determinannya, jenis
antigen berdasarkan spesifiktasnya, jenis antigen berdasarkan ketergantungan pada sel
T, dan jenis antigen menurut berdasarkan kandungan bahan kimianya.
1. Jenis antigen berdasarkan determinannya, yaitu:
 Unideterminan univalen merupakan jenis epitop satu dan jumlahnya satu,
 Unideterminan multivalen merupakan jenis epitop satu dan jumlahnya

lebih dari satu,
Multideterminan univalen merupakan jenis epitop lebih dari satu dan

jumlanya satu,
Multideterminan multivalen merupakan jenis epitop lebih dari satu dan
jumlanya lebih dari satu.
2. Jenis antigen berdasarkan spesifiktasnya, yaitu:
 Heteroantigen yaitu antigen yang dimiliki oleh banyak spesies,
 Xenoantigen yaitu antigen yang dimiliki oleh spesies tertentu,
 Alloantigen yaitu antigen yang dimiliki oleh satu spesies,
 Antigen organ spesifik yaitu antigen yang dimiliki oleh organ tertentu,
 Autoantigen yaitu antigen yang berasal dari tubuhnya sendiri.
3. Jenis antigen berdasarkan ketergantungan pada sel T, yaitu:
 T dependen adalah antigen yang perlu pengenalan terhadap sell T dan sel

B untuk merangsang antibodi,
T independen adalah antigen yang dapat merangsang sel B tanpa perlu
mengenal sel T terlebih dahulu.
4. Jenis antigen menurut berdasarkan kandungan bahan kimianya, yaitu:
 Karbohidrat adalah antigen yang imunogenik
 Lipid adalah antigen yang tidak imunogenik namun hapten
 Asam nukleat adalah antigen yang tidak imunogenik
 Protein adalah antigen yang imunogenik
5
2.3
ANTIBODI
Antibodi adalah protein yang dapat ditemukan pada darah atau kelenjar tubuh
vertebrata
lainnya,
dan
digunakan
oleh
sistem
kekebalan
tubuh
untuk
mengidentifikasikan dan menetralisasikan benda asing seperti bakteri dan virus.
Mereka terbuat dari sedikit struktur dasar yang disebut rantai. Tiap antibodi memiliki
dua rantai berat besar dan dua [rantai ringan]. Antibodi diproduksi oleh tipe sel darah
yang disebut sel B. Terdapat beberapa tipe yang berbeda dari rantai berat antibodi, dan
beberapa tipe antibodi yang berbeda, yang dimasukan kedalam isotype yang berbeda
berdasarkan pada tiap rantai berat mereka masuki. Lima isotype antibodi yang berbeda
diketahui berada pada tubuh mamalia, yang memainkan peran yang berbeda dan
menolong mengarahkan respon imun yang tepat untuk tiap tipe benda asing yang
berbeda yang ditemui.
Antibodi adalah molekul immunoglobulin yang bereaksi dengan antigen spesifik
yang menginduksi sintesisnya dan dengan molekul yang sama; digolongkan menurut cara
kerja seperti agglutinin, bakteriolisin, hemolisin, opsonin, atau presipitin. Antibodi
disintesis oleh limfosit B yang telah diaktifkan dengan pengikatan antigen pada reseptor
permukaan sel. Antibodi biasanya disingkat penulisaanya menjadi Ab.
Antibodi terdiri dari sekelompok protein serum globuler yang disebut sebagai
immunoglobulin (Ig). Sebuah molekul antibody umumnya mempunyai dua tempat
pengikatan antigen yang identik dan spesifik untuk epitop (determinan antigenik) yang
menyebabkan produksi antibody tersebut. Masing-masing molekul antibody terriri atas
empat rantai polipeptida, yaitu dua rantai berat (heavy chain) yang identik dan dan dua
6
rantai ringan (light chain) yang identik, yang dihubungkan oleh jembatan disulfida untuk
membentuk suatu molekul berbentuk Y. Pada kedua ujung molekul berbentuk Y itu
terdapat daerah variabel (V) rantai berat dan ringan. Disebut demikian karena urutan
asam amino pada bagian ini sangat bervariasi dari satu antibodi ke antibodi yang lain.
Daerah V rantai berat dan daerah V rantai ringan secara bersama-sama membentuk suatu
kontur unik tempat pengikatan antigen milik antibodi. Interaksi antara tempat pengikatan
antigen dengan epitopnya mirip dengan interaksi enzim dan substratnya: ikatan
nonkovalen berganda terbentuk antara gugus-gugus kimia pada masing-masing molekul.
2.3.1 Macam Antibodi
a. Imunoglobulin G
Merupakan antibodi yang paling berlimpah dalam sirkulasi. Terbanyak dalam
serum (75%). Antibodi ini dengan mudah melewati dinding pembuluh darah dan
memasuki cairan jaringan. IgG juga menembus plasenta dan memberikan
kekebalan pasif bagi ibu ke janin. Ig G melindungi tubuh dari bakteri, virus, dan
toksin yang beredar dalam darah dan limfa, dan memicu kerja sistem komplemen.
Mempunyai sifat opsonin berhubungan erat dengan fagosit, monosit dan
makrofag. Berperan pada imunitas seluler yang dapat merusak antigen seluler
berinteraksi dengan komplemen, sel K, eosinofil dan neutrofil.
b. Imunoglobulin A
IgA dihasilkan paling banyak dalam bentuk dua monomer Y (suatu dimer) oleh
sel-sel yang terdapat berlimpah pada membran mukosa. Jumlah dalam serum
sedikit. Banyak terdapat dalam saluran nafas, cerna, kemih, air mata, keringat,
ludah dan air susu. Fungsi utama IgA adalah untuk mencegah pertautan virus dan
bakteri ke permukaan epitelium. Fungsinya menetralkan toksin dan virus,
mencegah kontak antara toksin/ virus dengan sel sasaran dan mengumpalkan/
mengganggu gerak kuman yang memudahkan fagositosis.
7
c. Imunoglobulin M
Immunoglobin M ialah antibodi yang disintesis pertama kali dalam stimulus
antigen. Konsentasinya dalam darah menurun secara cepat. Hal ini diagnostik
bermanfaat karena kehadiran IgM umumnya mengindikasikan adanya infeksi baru
oleh patogen yang menyebabkan pembentukannya. Sintesis imunoglobin M
dilakukan oleh fetus waktu intrauterin. Oleh karena tidak dapat melawan plasenta,
maka IgM pada bayi yang baru lahir menunjukkan tanda-tanda infeksi intrauterin.
Fungsinya mencegah gerakan mikroorganisme antigen, memudahkan fagositosis
dan Aglutinosis kuat terhadap antigen.
d. Imunoglobulin E
Antibodi IgE berukuran sedikit besar dibandingakan dengan molekul IgG dan
hanya mewakili sebagian kecil dari total antibodi dalam darah. Ig E disekresikan
oleh sel plasma di kulit, mukosa, serta tonsil. Jika bagian ujung IgE terpicu oleh
antigen, akan menyebabkan sel melepaskan histamin yang menyebabkan
peradangan dan reaksi alergi. Mudah diikat oleh sel mastosit, basofil dan
eosinofil. Kadar tinggi pada kasus: alergi, infeksi cacing, skistosomiasis,
trikinosis. Proteksi terhadap invasi parasit seperti cacing.
e. Imunoglobulin D
Sedikit ditemukan dalam sirkulasi. Antibodi IgD tidak mengaktifkan sistem
komplemen dan tidak menembus plasenta. IgD terutama ditemukan pada
permukaan sel B, yang kemungkinan berfungsi sebagai suatu reseptor antigen
yang diperlukan untuk memulai diferensiasi sel-sel B menjadi sel plasma dan sel
B memori. Tidak dapat mengikat komplemen. Mempunyai aktifitas antibodi
terhadap makanan dan autoantigen.
8
BAB III
PEMBAHASAN
2.1
MEKANISME KERJA ANTIGEN
Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang
bisa masuk ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat
pada protein tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut
dikenal dengan istilah hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non
spesifik (eksternal maupun internal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan
dengan sel limfosit B yang akan mensintesis pembentukan antibodi.
Contoh hapten diantaranya adalah toksin poison ivy, berbagai macam obat (seperti
penisilin), dan zat kimia lainya yang dapat membawa efek alergik.
2.2
MEKANISME PEMBENTUKAN ANTIBODI
Antibodi dibentuk oleh sel plasma yang yang berasal dari diferensiasi sel B akibat
adanya kontak dengan antigen. Selama berdiferensiasi menjadi sel plasma, limfosit B
membengkak karena retikulum endoplasma kasar (tempat sintesis protein yang akan
dikeluarkan) sangat berkembang. Sel-sel plasma menghasilkan sampai dua ribu molekul
antibodi per detik.
Mekanisme pembuatan antibodi sebagai reaksi atas masuknya antigen masih belum
diketahui secara pasti. Sehingga ada beberapa teori yang memberi gambaran mengenai
sintesis antibodi ditinjau dari beberapa sudut.

Teori Selektif
9
Permukaan setiap sel pembentuk antibodi di dalam tubuh memiliki gugusangugusan kimia yang khas (side chain), semacam reseptor yang berfungsi seperti
antibodi dan dapat mengikat antigen yang sesuai untuknya. Antigen itu akan
merusak reseptor yang berlebihan dan dilepaskan oleh sel ke dalam serum sebagai
antibodi. Teori ini kemudian ditinggalkan karena dianggap tidak masuk akal.

Teori Instruktif
Antigen bekerja sebagai cetakan atau template dan persediaan gamma-
globulin di dalam badan yang bentuknya menyesuaikan bentuk komplementer dari
antigen. Bentuk ini kemudian dapat dipertahankan dengan ikatan-ikatan disulfida,
ikatan-ikatan hydrogen dan sebagainya. Teori ini tidak dapat dipertahankan
setelah diketahui bahwa sifat khas antibodi ditentukan oleh urutan asam amino di
bagian variabel FAB (Fragment Antigen Binding), yang pembentukannya
ditentukan oleh suatu messenger RNA dan perubahan mRNA tidak dapat terjadi
secepat kontak dengan antigen.

Teori Seleksi Klonal
Teori ini berdasarkan kemampuan mutasi dan seleksi dari sel-sel tertentu di
dalam tubuh sesuai dengan kemampuan yang sama pada kuman. Sel yang
berperan dalam reaksi kekebalan, sel limfosit, hanya dapat mengikat satu jenis
antigen. Kemampuan ini telah ada sejak lahir dan merupakan sifat bawaaan.
Dengan demikian maka sel-sel limfosit di dalam tubuh merupakan kumpulan sel
yang berlainan, ada yang dapat bereaksi dengan satu antigen dan ada yang
bereaksi dengan antigen lain. Bila antigen masuk ke dalam tubuh ia diikat oleh
reseptor pada permukaan limfosit yang cocok, dan sel limfosit itu akan mengalami
proliferasi dan membentuk satu clone. Sebagian dari sel clone ini akan
mengeluarkan antibodi dan sebagian lain akan menyebar melalui aliran darah dan
limfe ke dalam jaringan tubuh sebagai cadangan sel yang sensitif terhadap antigen
itu (memory cells). Antigen yang sama apabila masuk ke dalam tubuh untuk kedua
kalinya akan bertemu dengan sel cadangan ini dan mengakibatkan terbentuknya
antibodi yang lebih cepat dan lebih banyak.
10
Perbedaan dalam respon imun primer dan sekunder , kadar antibodi yang dibentuk,
lamanya lag phase dan lain-lain sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain :




Jenis antigen
Dosis antigen yang diberikan ke darah
Cara masuk antigen ke tubuh
Sensitivitas teknik yang digunakan untuk mengukur antibodi
11
Pembentukan antibodi tidak berlangsung tanpa batas, ada mekanisme control
yang mengendalikan dan menghentikaan pembentukan antibodi berlebihan. Beberapa
di antara mekanisme control itu adalah berkurangya kadar antigen, pengaturan oleh
idiotip, dan penekanan oleh sel T penekan.
2.3
MEKANISME KERJA ANTIBODI
Antibodi merupakan senjata yang tersusun dari protein dan dibentuk untuk
melawan sel-sel asing yang masuk ke tubuh manusia. Senjata ini diproduksi oleh sel-sel
B, sekelompok prajurit pejuang dalam sistem kekebalan. Antibodi akan menghancurkan
bakteri atau virus tertentu yang menyerang sistem pertahanan tubuh manusia. Antibodi
mempunyai dua fungsi, pertama untuk mengikatkan diri kepada sel-sel musuh, yaitu
antigen. Fungsi kedua adalah membusukkan struktur biologi antigen tersebut lalu
menghancurkannya.Berada dalam aliran darah dan cairan non-seluler, antibodi
mengikatkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Mereka menandai
molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri. Dengan demikian sel prajurit
tubuh dapat membedakan sekaligus melumpuhkannya.Antibodi bersesuaian dengan
antigen secara sempurna, seperti anak kunci dengan lubangnya yang dipasang dalam
struktur tiga dimensi.Tubuh manusia mampu memproduksi masing-masing antibodi yang
cocok untuk hampir setiap musuh yang dihadapinya. Antibodi bukan berjenis tunggal.
Sesuai dengan struktur setiap musuh, maka tubuh menciptakan antibodi khusus yang
cukup kuat untuk menghadapi musuh. Hal ini karena antibodi yang dihasilkan untuk
suatu penyakit belum tentu berhasil bagi penyakit lainnya. Membuat antibodi spesifik
untuk masing-masing musuh merupakan proses yang luar biasa dan proses ini dapat
terwujud hanya jika sel-sel B mengenal struktur musuhnya dengan baik. Dan, di alam ini
12
terdapat jutaan musuh (antigen).Satu sel B yang sedemikian kecil, menyimpan jutaan bit
informasi dalam memorinya, dan dengan sadar menggunakannya dalam kombinasi yang
tepat. Tersimpannya jutaan formula dalam suatu sel yang sangat kecil merupakan
keajaiban yang diberikan kepada manusia. Yang tak kurang menakjubkan adalah bahwa
kenyataannya sel-sel menggunakan informasi ini untuk melindungi kesehatan
manusia.Satu sel B menggandakan antibodi spesifiknya dan mencantolkannya ke
permukaan luar membran selnya. Antibodi memanjang keluar seperti jarum, aerial yang
sudah menyesuaikan diri menunggu berkontak dengan sekeping protein tertentu yang bisa
mereka kenali. Antibodi tersebut terdiri dari dua rantai ringan dan dua rantai berat asam
amino yang bersambungan dalam bentuk Y. Setelah digandakan sampai jutaan, sebagian
besar sel B berhenti membelah dan menjadi sel plasma, jenis sel yang bagian dalamnya
berisi alat untuk membuat satu produk antibodi. Sebagian sel B lain membelah terus tak
berhingga, dan menjadi sel memori. Antibodi bebas yang dibuat oleh sel plasma
berkeliling di darah dan cairan limpa. Ketika antibodi mengikatkan diri pada antigen
sasarannya, bentuknya berubah. Perubahan bentuk inilah yang membuat antibodi
"menempel" di bagian luar makrofag.
2.4
INTERAKSI ANTIGEN dengan ANTIBODI
Antibodi adalah molekul protein (immunoglobulin) yang memiliki satu atau lebih
tempat perlekatan (combining sites) yang disebut paratope (Brownlee, 2007). Antigen
adalah molekul asing yang mendatangkan suatu respon spesifik dari limfosit. Salah satu
cara antigen menimbulkan respon kekebalan adalah dengan cara mengaktifkan sel B
untuk mensekresi protein yang disebut antibodi. Istilah antigen sendiri merupakan
singkatan antibody-generator (pembangkit antibodi). Masing-masing antigen mempunyai
bentuk molekuler khusus dan merangsang sel-sel B tertentu untuk mensekresi antibodi
yang berinteraksi secara spesifik dengan antigen tersebut (Campbell, 2004). Interaksi
antigen antibodi merupakan interaksi kimiawi yang dapat dianalogikan dengan interaksi
enzim dengan substratnya. Spesifitas kerja antibodi mirip dengan enzim.
Sel-sel kunci dalam respon antigen-antibodi adalah sel limfosit. Terdapat dua jenis
limfosit yang berperan, yaitu limfosit B dan T. Keduanya berasal dari sel tiang yang sama
dalam sumsum tulang. Pendewasaan limfosit B terjadi di Bursa Fabricius pada unggas,
sedangkan pada mamalia terjadi di hati fetus, tonsil, usus buntu dan jaringan limfoid
dalam dinding usus. Pendewasaan limfosit T terjadi di organ timus. Sistim kebal atau
13
imun terdiri dari dua macam, yaitu sistim kebal humoral dan seluler. Limfosit B
bertanggung jawab terhadap sistim kebal humoral. Apabila ada antigen masuk ke dalam
tubuh, maka limfosit B berubah menjadi sel plasma dan menghasilkan antibodi humoral.
Antibodi humoral yang terbentuk di lepas ke darah sebagai bagian dari fraksi γ- globulin.
Antibodi humoral ini memerangi bakteri dan virus di dalam darah.
Sistem
humoral
merupakan
sekelompok
protein
yang
dikenal
sebagai
imunoglobulin (Ig) atau antibodi (Ab). Limfosit T bertanggung jawab terhadap kekebalan
seluler. Apabila ada antigen di dalam tubuh, misalnya sel kanker atau jaringan asing,
maka limfosit T akan berubah menjadi limfoblast yang menghasilkan limphokin
(semacam antibodi), namun tidak dilepaskan ke dalam darah melainkan langsung
bereaksi dengan antigen di jaringan. Sistim kekebalan seluler disebut juga “respon yang
diperantarai sel”.
14
15
Aktifitas Sel B dalam Reaksi Antigen-antibodi (Soegiri, 1988).
Secara garis besar, interaksi antigen-antibodi adalah seperti bagan berikut:
16
Interaksi antigen-antibodi dapat dikategorikan menjadi tingkat primer, sekunder,
dan tersier.


Primer
Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya antigen dengan antibody
pada situs identik yang kecil, bernama epitop.
Sekunder
Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya:
a) Netralisasi
Adalah jika antibody secara fisik dapat menghalangi sebagian antigen
menimbulkan effect yang merugikan. Contohnya adalah dengan mengikat
toksin bakteri, antibody mencegah zat kimia ini berinteraksi dengan sel yang
rentan.
b) Aglutinasi
Adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfuse darah
yang tidak cocok berikatan bersama-sama membentuk gumpalan.
c) Presipitasi
Adalah jika complex antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar,
sehingga tidak dapat bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya
mengendap.
d) Fagositosis
Adalah jika bagian ekor antibody yang berikatan dengan antigen mampu
mengikat reseptor fagosit (sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis
korban yang mengandung antigen tersebut.
e) Sitotoksis
Adalah saat pengikatan antibody ke antigen juga menginduksi serangan sel
pembawa antigen oleh killer cell (sel K). Sel K serupa dengan natural killer
cell kecuali bahwa sel K mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibody
sebelum dapat dihancurkan melalui proses lisis membran plasmanya.
 Tersier
Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologic dari interaksi antigenantibodi
yang
dapat
berguna
atau
merusak
bagi
penderitanya.
Pengaruh
menguntungkan antara lain: aglutinasi bakteri, lisis bakteri, immnunitas mikroba,dan
lain-lain. Sedangkan pengaruh merusak antara lain: edema, reaksi sitolitik berat, dan
defisiensi yang menyebabkan kerentanan terhadap infeksi.
17
BAB IV
PENUTUP
4.1
KESIMPULAN
1. Antigen merupakan bahan asing yang dikenal dan merupakan target yang akan
dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh.
2. Antibodi adalah protein yang dapat ditemukan pada darah atau kelenjar tubuh
vertebrata
lainnya,
dan
digunakan
oleh
sistem
kekebalan
tubuh
untuk
mengidentifikasikan dan menetralisasikan benda asing seperti bakteri dan virus.
3. Salah satu cara antigen menimbulkan respon kekebalan adalah dengan cara
mengaktifkan sel B untuk mensekresi protein yang disebut antibodi.
4. Interaksi antigen antibodi merupakan interaksi kimiawi yang dapat dianalogikan
dengan interaksi enzim dengan substratnya.
18
5. Sel-sel kunci dalam respon antigen-antibodi adalah sel limfosit. Terdapat dua jenis
limfosit yang berperan, yaitu limfosit B dan T
6. Interaksi antigen-antibodi dapat dikategorikan menjadi tingkat primer, sekunder, dan
tersier.
DAFTAR PUSTAKA
http://biologipedia.blogspot.com/2011/03/antigen-dan-antibodi.html
http://belindch.wordpress.com/2009/12/07/interaksi-antigen-antibodi-dan-pengamatanjenis-jenis-leukosit/
http://filzahazny.wordpress.com/2008/10/31/antigen-dan-antibodi/
http://sistempertahanantubuh.blogspot.com/2011/04/mengenal-anti-bodi-danantigen.html
19
Download