Di Tengah Kota Mencari Ketenangan Jiwa

advertisement
TASAWUF DI INDONESIA
DariTasawuf Sunni, via Tasawuf Falsafi, hingga Neosufisme dan Tasawuf Positif
Haidar Bagir
Spiritualisme memang tidak pernah mati. Bukan hanya karena ia terus diwariskan secara
turun-temurun dari satu generasi ke generasi lainnya dari kalangan masyarakat yang
masih memegang tradisi ini. Tapi, ia ternyata justru muncul di pusat budaya yang
sesungguhnya sedang kencang menuju ke arah yang sama sekali berbeda dengannya.
Seraya tidak kehilangan appeal-nya di ekonomi subsistem pedesaan, ia justru secara tak
terduga menyembul di sana-sini di tengah-tengah materialisme modern perkotaan.
Kemakmuran, kemajuan teknologi, kemudahan dalam penyelenggaraan kehidupan
sehari-hari, tapi juga kompetisi makin ketat yang melahirkan pressure yang terkadang
tidak tertahankan, gaya hidup instan dan serba cepat—termasuk hal konsumsi makanan—
yang tidak sehat dan menimbulkan stres, kekurangan waktu untuk memelihara
kebersamaan dalam keluarga dan bersosialisasi, kerusakan ekologis, dan sebagainya.
Pada gilirannya, semua ekses itu menggoyahkan sendi-sendi kehidupan keluarga dan
masyarakat. Sebagaimana dicatat oleh Tim American Psychological Association (APA),
ketika mengajukan proposal mengenai perlunya dikembangkan psikologi perkotaan
(urban psychology), kemajuan di perkotaan ternyata telah membawa juga bersamanya
alienasi manusia modern dari dirinya sendiri. Pada puncaknya, hal ini meningkatkan
anxiety, depresi, dan problem-problem mental-psikologis lainnya.
Lepas dari itu, kekosongan yang dirasakan justru ketika manusia telah mencapai
kemakmuran material, seolah mengajarkan betapa kebahagiaan sesungguhnya tidak
terletak di sana, melainkan di bagian yang lebih bersifat rohani (spiritual).
Memang, di samping maraknya berbagai respons yang bersifat deviatif—termasuk
penyalahgunaan obat bius dan bunuh diri—manusia modern mengembangkan apa yang
oleh Naisbitt disebut sebagai gejala high tech-high touch. Dalam konteks ini, arus balik
itu mengambil bentuk menjamurnya paguyuban spiritual. Dan di antara berbagai orientasi
spiritualisme, tak urung sufisme juga mendapatkan pengikutnya sendiri di kota-kota
besar.
Pertumbuhan kota dan urbanisasi di negara berkembang kiranya hanya mengikuti apa
yang terjadi di negara yang lebih dahulu maju. Indonesia tidak terkecuali. Barangkali
menguatnya gejala kecenderungan kepada spiritualisme perkotaan—dalam hal ini,
sufisme perkotaan—di Indonesia hanya ketinggalan paling lama dua dekade dibanding
gejala yang sama di negara-negara maju. Pertama tentu akibat perkembangan komunikasi
dan globalisasi di antara berbagai bagian dunia, yang menjadikan apa yang terjadi di
suatu bagian dunia selalu memberikan pengaruh kepada bagian dunia lainnya.
Selain itu, di Indonesia sendiri muncul penyebab-penyebab yang sama, yang telah
menghasilkan kecenderungan kepada spiritualisme seperti yang telah lebih dulu
berkembang di negara maju. Itulah menguatnya kelas menengah kota sebagai hasil
peningkatan secara pesat kemakmuran masyarakat berkat keberhasilan pembangunan
ekonomi Orde Baru. Maka berkembangnya apa yang kemudian disebut urban sufism
(sufisme perkotaan) adalah hampir-hampir bersifat alami. Kita ingat betapa sejak awal
1980-an buku tasawuf amat digandrungi oleh pembaca muslim perkotaan. Kegandrungan
ini terbukti tidak hanya terbatas pada kelompok masyarakat kelas menengah yang
memang berasal dari kalangan yang biasa disebut santri, melainkan—meminjam
Geertz—juga dari sebagian kalangan priayi dan abangan yang mengalami gejala bornagain muslims.
Jauh sebelum itu, perlu kita ingat juga bahwa penyebaran Islam pertama kali di Indonesia
tidak bisa dilepaskan dari tasawuf. Para penyebar utama Islam awal adalah kaum sufi.
Menurut versi ini, para pendakwah Islam awal adalah keturunan Imam Ahmad bin Isa alMuhajir – cucu Imam Ja’far al-Shadiq yang berhijrah ke Hadhramawt – yang membawa
suatu aliran tasawuf yang belakangan disebut sebagai Tarekat Alawiyah. Bukan hanya
Wali Songo dan para pendakwah awal lainnya di Pulau Jawa, bahkan beberapa tokoh
tasawuf di luar Jawa secara langsung atau tidak juga berada di bawah pengaruh tarekat
ini. Tarekat Alawiyah, dan berbagai tarekat mu’tabarah lainnya, dipercayai sebagai
termasuk dalam apa yang disebut sebagai tasawuf Sunni, yakni aliran yang terutama
berada di bawah pengaruh Imam Ghazali dan sufi-sufi moderat lainnya, dan pada
puncaknya menekankan pada pembinaan akhlak mulia.Tasawuf dari Tarikat Alawiyah
inilah yang kemudian membentuk kecenderungan tasawuf di kalangan NU di Indonesia.
Namun, perlu diingat pula bahwa tasawuf falsafi – yang berkembang pada zaman yang
sama di negeri ini – sempat menjadi pesang yang tangguh bagi tasawuf Sunni seperti
disinggung di atas. Kedua aliran tasawuf ini, meski dalam beberapa hal berbagi
pemahaman dan keyakinan yang sama, tak jarang mengalami konflik. Di antara yang
paling menonjol adalah perdebatan di Aceh antara Hamzah Fansuri – yang mewakili
tasawuf falsafi -- dan Nuruddin al-Raniri – yang mewakili taswwuf Sunni -- hingga
berlanjut ke para murid dan pengikut mereka. Tak bisa dipungkiri bahwa tasawuf falsafi
yang berkembang di Indonesia amat dipengaruhi oleh ’irfan sebagaimana diajarkan oleh
Ibn ‘Arabi.
Bahkan, ada kemungkinan tasawuf Sunni yang direpresentasikan oleh Tarekat Alawiyah pun
tidak benar-benar telepas dari pengaruh ‘irfan Ibn “Arabi. Terdapat catatan bahwa salah seorang
kakek buyut Al-Haddad dan keturunan ke-8 Imam Ahmad bin ‘Isa yang bernama Muhammad bin
Ali, bergelar Al-Faqih al-Muqaddam, sesungguhnya pada awalnya juga berada dalam tradisi
tasawuf Ibn ‘Arabi ini. Ada anekdot yang menceritakan bahwa al-Faqih al-Muqaddam pernah
diangkat murid secara ’Uwaysi (tanpa pernah bertemu muka) oleh Syaikh Abu Madyan, guru Ibn
’Arabi, yakni kettika Syaikh Abu Madyan mngirimkan khirqah kepada Al-Muqaddam sebagai
tanda pengangkatan al-Faqih al-Muqaddam sebagai muridnya. Hanya saja, tarekat ’Alawiyah
percaya mengenai perlunya membagi pengetahuan kesufian ke dalam dua kelompok. Yang
pertama adalah pengetahuan kesufian yang boleh diakses kaum awam. Yang kedua, yang hanya
boleh diakses oleh kaum khawwash dan khawwash al khawash. Nah, pemikiran Ibn Arabi
termasuk yang kedua.
Bahkan, lepas dari klaim kemenangan tasawuf Sunni, terbukti bahwa fenomena tasawuf
falsafi melancarkan pengaruh amat penting dalam perkembangan aliran kebatinan,
setidaknya di Pulau Jawa. Dalam hubungan itu, penulis buku ini percaya bahwa tidak
semua aliran kebatinan berasal dari bekerjanya pengaruh Hinduisme. Bahkan,
sesungguhnya sebagian-besarnya justru berakar pada tasawuf (khususnya, tasawuf
falsafi) dan, karena itu, masih memiliki kesejalanan dengan ajaran Islam. Demikianlah,
buku ini merupakan suatu sumbangan penting bagi penelitian sejarah Islam awal dan akar
tasawuf di Indonsia.
Kembali kepada gejala kebangkitan-kembali tasawuf di Indonesia, kita pun bertanyatanya : jjenis tasawuf apa yang sebaiknya dikembangkan di Indonesia?
Fazlur Rahman – diikuti antara lain oleh alm. Cak Nur dan Azyumardi Azra pernah
menyebut-nyebut neo-sufisme, yakni jenis tasawuf yang telah diperbaharui kembali. Ciri
utama jenis tasawuf ini adalah tekanannya yang begitu kuat pada cita moral sosial, dasar
syariatnya yang amat kukuh, dan semangat kosmopolitanisme serta toleransinya yang
mumpuni. Iklim demikian menandai puncak pendamaian antara tasawuf dan syariat yang
sebelumnya telah dirintis Al-Qusyairi dan diperjuangkan Al-Ghazali.
Saya sendiri dan beberapa teman pernah menawarkan suatu nama baru bagi suatu
pemahaman tasawuf yang disebut sebagai tasawuf positif. Tasawuf positif adalah sebuah
pemahaman atas tasawuf dalam upaya mendapatkan manfaat dari segala kelebihan dalam
hal pemikiran dan disiplin spitiual yang ditawarkannya untuk pendekatan diri kepada
Allah yang ditawarkannya, seraya menghindar dari ekses-eksesnya, sebagaimana
terungkap dalam sejarah Islam. Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret, berikut
akan dipaparkan ringkasan enam tema utama tasawuf positif.
Selain menyodorkan pemahaman tentang konsep tentang Allah yang seimbang antara
sifat jalalliyah (kedahsyatan yang menggentarkan, tremendum) dan jamaliyah (keindahan
yang memesona, fascinans) – yakni, yang melahirkan pemahaman Islam yang lebih
spiritual/esoteris -- tasawuf positif menawarkan beberapa perspektif lain. Termasuk di
dalamnya penempatan syariat sebagai unsur integral tasawuf. Hal ini penting mengingat
lahirnya ekses tasawuf negatif – yang sayangnya banyak juga mwarnai “tasawuf
perkotaan” yang berkembang belakangan ini -- berupa sikap kurang mementingkan
syariah. Yakni, kesesatan-pikir yang meyakinkan para penganutnya bahwa segala bentuk
ibadah mahdhah itu hanyalah bagi orang awam. Dengan kata lain, seorang yang sudah
mencapai maqam tertinggi tidak lagi perlu syariat. Tasawuf positif justru hendak
menunjukkan bahwa tak ada tasawuf tanpa syariat.Syariat, sebaliknya, adalah satusatunya jalan menuju tasawuf.
Dalam tasawuf positif, ‘irfan atau hikmah juga disodorkan sebagai alternatif terhadap
sufisme anti-intelektual. Dengan kata lain, tasawuf justru tekait erat dengan
intelektualitas dan rasionalitas – bukan dengan berbagai jenis klenik dan takhayul.
Sejalan dengan itu, tasawuf positif menekankan bahwa alam semesta sebagai tanda-tanda
Allah. Tasawuf positif menekankan bahwa alam adalah bejana/wadah yang di dalamnya
ayat-ayat Allah tersebar, sehingga ia justru mempromosikan observasi saintifik dan
penggunaan akal secara benar.
Yang tak kalah penting, tasawuf positif percaya bahwa buah tasawuf adalah akhlak mulia
Kadang-kadang orang menisbahkan cara hidup seorang sufi dengan pakaian atau
penampilan-penampilan fisik lainnya. Padahal esensi tasawuf adalah akhlak, yakni terkait
dengan kemampuan kita mengontrol hawa nafsu. Seorang sufi sepenuhnya mengontrol
emosinya sehingga menjadikan dirinya sabar, bebas dari kesombongan, hasad, dengki, iri
hati, marah dan lain sebagainya.Bukan hanya itu, seorang yang berusaha menjalani cara
hidup tasawuf akan memiliki sikap antikemewahan, apalagi perolehan harta lewat caracara yang melanggar syari’at.
Seperti neo-sufisme yang disinggung di atas, tasawuf positif pun meyakini bahwa
seorang sufi yang baik sekaligus adalah makhluk sosial. Belajar dari Nabi Muhammad
Saw, seorang sufi yang baik sama sekali tidak menyangkal kehidupan dunia, melainkan
justru menjadikannya sebagai jalan menuju Allah Swt. Dalam tasawuf positif, yang tidak
kalah penting dari akhlak individual dan kegiatan spritual adalah amal saleh, yaitu amalamal untuk memperbaiki kualitas lingkungan dan memberikan sumbangan sebesarbesarnya bagi orang banyak.
Akhirnya, ada satu hal penting yang—untuk keperluan akademis maupun praktis—perlu
dijernihkan. Banyak orang, peneliti asing maupun peneliti lokal yang mengikutinya,
cenderung menggunakan (baca: merancukan) istilah sufisme (tasawuf) untuk beberapa
hal yang sebetulnya tak sama persis. Mereka kadang memahami dan menggunakan istilah
sufisme untuk menyatakan aspek teoretis dan filosofis dari esoterisme Islam, yang
sesungguhnya paling tepat disebut sebagai ’irfan (gnostisime). Terkadang mereka
mengidentikkannya dengan aspek lebih praktis dari tasawuf, yakni suluk (disiplin
spiritual)—yang bisa diselenggarakan baik secara individual maupun berkelompok. Yang
belakangan lebih berhubungan dengan manifestasi sosiologis dalam bentuk orde tasawuf
(tarekat). Bahkan terkadang hanya dengan akhlak ataupun kesalehan (pietisme) yang bisa
dilakukan oleh setiap muslim yang baik, tak peduli apakah mereka memiliki
kecenderungan kepada sufisme ataupun tidak (termasuk kelompok ini bahkan kaum
Wahhabi yang amat antitasawuf, ataupun Jamaah Tabligh yang menekankan pada
kesalehan semata).
Penjernihan ini kiranya perlu demi menghindarkan pemahaman yang tidak fair kepada
sufisme, yang hanya dapat memperpanjang berabad-abad sikap permusuhan dan
penyesatan sebagian kelompok muslim kepada gerakan atau aliran tasawuf, yang sempat
menghalangi tasawuf dari mendapatkan pengakuan kembali oleh mainstream muslim.
Penjernihan seperti ini juga perlu agar kita dapat menawarkan perspektif yang lebih
jernih tentang berbagai aliran tasawuf dan, pada saat yang sama, tentang penyimpanganpenyinpangan yang mungkin terjadi darinya.Perlu dibedakan dengan jernih antara taawuf
falsafi – atau ’irfan -- dengan tasawuf Sunni yang mungkin lebih bersifat suluki, tasawuf
akhlaki, tarekat, dan penyimpangan-penyimpangan darinya.
Download