Uploaded by yudaprasetya

LP BAYI PREMATUR

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
BAYI PREMATUR
A. Pengertian
Bayi premature adalah bayi yang lahir dengan usia
kehamialan kurang dari 37 minggu dan dengan berat badan
kurang dari 2.500 gram. Sebagian besar organ tubuhnya
juga
belum
berfungsi
dengan
baik,
karena
kelahirannya
yang masih dini (Priyono, 2010).
Menurut WHO bayi premature adalah bayi lahir hidup
sebelum usia kehamilan minggu ke 37 (dihitung dari hari
pertama haid terakhir. Bayi premature atau bayi preterem
adalah
bayi
yang
berumur
kehamilan
37
minggu
tanpa
memperhatikan berat badan (Wong, dkk, 2004).
B. Etiologi
Menurut Handayani, dkk (2008), penyebab dari bayi
premature adalah:
1. Faktor Ibu
a. Toksemia
gravidarum,
yaitu
pre
eklamsia
dan
eklamsia
b. Kelainan
bentuk
uterus(misal,
uterus
bikornis,
inkompten serviks)
c. Tumor (misal, mioma uteri, sistoma)
d. Ibu yang mederita penyakit
1) Akut dengan gejala demam tinggi (misalnya, Thypus
abdominalis, Malaria)
2) Kronis (Misalnya, TBC, penyakit jantung, GNK)
e. Trauma pada masa kehamilan
1) Fisik (jatuh)
2) Psikologis (stress)
f. Usia ibu pada waktu hamil krang dari 20 tahun atau
lebih dari 35 tahun
g. Plasenta (plasenta previa, solusio plasenta)
2. Faktor janin
a. Kehamilan ganda
b. Hodramnion
c. Ketuban pecah dini
d. Cacat bawaan
e. Infeksi (misal, rubella, sifilis, toksoplasma)
f. Insufisiensi plasenta
g. Inkompatibilitas
darah
ibu
dan
janin
(faktor
rhessus, golongan darah ABO)
3. Faktor plasenta
a. Plasenta previa
b. Solusio plasenta
4. Faktor tidak diketahui
C. Tanda dan Gejala
Menurut Hidayah, dkk (2008), tanda dan gejala bayi
premature adalah:
a. Umur kehamilan sama dengan atau kurang dari 37 minggu
b. Berat badan sama dengan atau kurang dari 2500 gram
c. Panjang bdan sama dengan atau kurang dari 46 cm
d. Kuku panjangnya belum melewati ujung jari
e. Batas dahi dan rambut kepala tidak jelas
f. Lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm
g. Lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm
h. Rambut lanugo masih banyak
i. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang
j. Tulang
rawan
daun
pertumbuhannya,sehingga
telinga
belum
seolah-olah
sempurna
tidak
teraba
tulang tawan daun telinganya
k. Tumit mengilap,telapak kaki halus
l. Alat kelamin pada bayi laki-laki pigmentasi dan rugae
pada
skrotum
kurang.tetis
belum
turun
ke
dalam
skrotum.untuk bayi perempuan klitoris menonjol,labia
minora belum tertutup oleh labia mayora
m. Tonus
otot
lemah,sehingga
bayi
kurang
aktif
dan
pergerakannya lemah
n. Fungsi
saraf
yang
matang,mengakibatkan
belum
reflex
atau
kurang
isap,menelan
dan
batuk
masih lemahaatau tidak efektif,dan tangisnya lemah
o. Jaringan
kelenjar
mamae
masih
kuraang
akibat
pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang
p. Verniks kaseosa tidk ada atau sdikit.
D. Patofisiologi
Organ
bekerja
tubuh
secara
bayi
prematur
sempurna.
Hal
umumnya
ini
belum
dapat
mengakibatkan
bayi
prematur sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar
Rahim sehingga iapun banyak mengalami banyak gangguan.
Semakin dini ia dilahirkan semakin banyak organ tubuhnya
yang belum siap, dan semakin banyak pula gangguan yang
akan dialami.
Gangguan
kesehatan
yang
dialami
bayi
premature
cukup rentan dan bias mengancan jiwanya. Ancaman yang
paling
berbahaya
adalah
akibat
paru-paru
serta
kesulitan
seluruh
bernafas.
system
Hal
ini
pernafasannya,
seperti otot dada dan pusat pernafasan di otak, belum
dapat bekerja secara sempurna.
Karena
prematur
lapisan
juga
lemak
tidak
yang
memiliki
masih
tipis,
bayi
yang
cukup
perlindungan
dalam menghadapi suhu luar yang memang lebih dingin dari
suhu
dalam
mengalami
Rahim.
Bayi
penurunan
prematur
akan
lebih
sering
tubuh
di
bawah
normal
suhu
(hipotermi). Selain itu, mekanisme pengontrol suhu tubuh
bayi
prematur
sehingga
di
memang
dalam
belum
ruang
mampu
yang
bersuhu
bekerja
sempurna
normalpun,
bayi
sering mengalami kedinginan.
Hati
dan
ginjal
bayi
premature
juga
belum
siap
bekerja secra sempurna. Hati (lever) bertugas mengolah
zat-zat
makanan
yang
masuk
ke
dalam
tubuh
sekaligus
penawar racun (detoksifikasi). Sedangkan ginjal, bertgas
mengatur dan mengolah pembuangan di dalam tubuh. Karena
hati dan ginjal bayi prematur belum sempurna kerjanya,
maka
semua
prematur
kedua
pemasukan
harus
organ
dan
pengeluaran
benar-benar
ini
akan
pada
diperhatikan.
rusak
dan
bayi
tubuh
bayi
Bila
tidak,
semakin
rentan
terhadap penyakit.
Bayi
premature
juga
mudah
mengalami
perdarahan
otak. Hal ini akibat pembuluh darah yang masih sangat
halus
dan
kedinginan.
mudah
pecah
Sementara
bila
kekurangan
perdarahan
di
zat
otak
asam
kelak
atau
dapat
menimbulkan gangguan perkembangan motorik seperti lambat
berjalan, maupun kognitif seperti lambat bicara (Priyono,
2010).
E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemantauan glukosa darah terhadap hipoglikemia
Nilai normal glukosa serum : 45 mg/dl
2. Pemantauan gas darah arteri
Normal untuk analisa gas darah apabila kadar PaO2 50–
70
mmHg
dan
kadar
PaCO2
35–45
mmHg
dan
saturasi
oksigen harus 92–94 %.
3. Kimia darah sesuai kebutuhan
a. Hb (Hemoglobin)
Hb
darah
lengkap
bayi
1–3
hari
adalah
14,5–22,5
gr/dl
b. Ht (Hematokrit)
Ht normal berkisar 45%-53%
c. LED darah lengkap untuk anak–anak
Menurut:
1) Westerfreen : 0–10 mm/jam
2) Wintrobe : 0–13 mm/jam
d. Leukosit (SDP)
Normalnya 10.000/mm³.pada bayi preterm jumlah SDP
bervariasi dari 6.000–225.000/mm³.
e. Trombosit
Rentang normalnya antara 60.000–100.000/ mm³.
f. Kadar serum / plasma pada bayi premature (1 minggu)
Adalah 14–27 mEq/ L
g. Jumlah
eritrosit
(SDM)
darah
lengkap
bayi
(1–3
hari)
Adalah 4,0–6,6 juta/mm³.
h. MCHC darah lengkap : 30%-36% Hb/sel atau gr Hb/dl
SDM
i. MCH darah lengkap : 31–37 pg/sel
j. MCV darah lengkap : 95–121 µm³
k. Ph darah lengkap arterial prematur (48 jam) : 7,35–
7,5
4. Pemeriksaan sinar sesuai kebutuhan
5. Penyimpangan darah tali pusat.
F. Penatalaksanaan Medis
1. Perawatan di Rumah Sakit
Mengingat belum sempurnanya kerja alat–alat tubuh
yang
perlu
penyesuaian
uterus
untuk
diri
maka
pertumbuhan
dengan
perlu
dan
perkembangan
lingkungan
diperhatikan
hidup
di
pengaturan
dan
luar
suhu
lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu pemberian
oksigen,
mencegah
infeksi
serta
mencegah
kekurangan
vitamin dan zat besi.
a. Pengaturan suhu
Bayi prematur mudah dan cepat sekali menderita
hipotermia bila berada di lingkungan yang dingin.
Kehilangan
bai
yang
dengan
bawah
panas
disebabkan
relative
berat
kulit
badan,
dan
lebih
oleh
luas
kurangnya
kekurangan
permukaan
bila
dibandingkan
jaringan
lemak
tubuh
lemak
coklat
di
(brown
flat). Untuk mencegah hipotermia perlu diusahakan
lingkunagn yang cukup hangat untuk bayi dan dalam
keadaan istirahat konsumsi okigen paling sedikit,
sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. Bila bayi di
rawat
di
dalam
incubator
maka
suhu
untuk
bayi
dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35 ˚C
dan untuk bayi dengan berat badan 2–2,5 kg adalah
34
˚C
agar
ia
dapta
mempertahankan
suhu
tubuh
sekitar 37 ˚C. Kelembapan incubator berkisar antara
50%-60%.
Kelembapan
yang
lebih
tinggi
diperlukan
pada bayi dengan sindroma gangguan pernafasan. Suhu
incubator dapat diturunkan 1˚C perminggu untuk bayi
dengan berat badan 2 kg dan secara berangsur–angsur
ia dapat di letakkan di dalam tempat tidur bayi
dengan suhu lingkungan 27˚C-29˚C.
Bayi dalam incubator hanya dipakaikan popok.
Hal ini mungkin untuk pengawasan mengenai keadaan
umum,
perubahan
tingkah
laku,
warna
kulit,
pernafasan, kejang dan sebagainya sehingga penyakit
yang
diderita
tindakan
dapat
serta
dikenal
pengobatan
sedini–dininya
dapat
dan
dilaksanakan
secepatnya (Priyono, 2010).
b. Pemberian ASI pada bayi premature
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang terbaik
yang dapat diberikan oleh ibu pada bayinya, juga
untuk bayi premature. Komposisi ASI yang dihasilkan
ibu
yang
komposisi
melahirkan
ASI
melahirkan
yang
cukup
premature
dihasilkan
bulan
dan
berbeda
oleh
dengan
ibu
yang
perbedaan
ini
berlangsung selama kurang lebih 4 minggu.
c. Makanan bayi
Pada bayi prematur, reflek hisap, telan dan
batuk
belum
sedikit,
daya
sempurna,
enzim
kapasitas
pencernaan
lambung
terutama
masih
lipase
masih kurang disamping itu kebutuhan protein 3–5
gram/ hari dan tinggi kalori (110 kal/ kg/ hari),
agar berat badan bertambah sebaik–baiknya. Jumlah
ini lebih tinggi dari yang diperlukan bayi cukup
bulan.
Pemberian
berumur
3
minum
jam
dimulai
pada
bayi
tidak
agar
waktu
bayi
menderita
hipoglikemia dan hiperbilirubinemia.
Sebelum
pemberian
minum
pertama
harus
dilakukan penghisapan cairan lambung. Hal ini perlu
untuk mengetahui ada tidaknya atresia esophagus dan
mencegah
muntah.
dilakukan
Penghisapan
setiap
cairan
sebelum
lambung
pemberian
juga
minum
berikutnya. Pada umumnya bayi denagn berat lahir
2000
gram
Bayi
dengan
kurang
atau
lebih
berat
mampu
dapat
lahir
menghisap
menyusu
kurang
air
pada
ibunya.
dari
1500
gram
ibu
atau
susu
susu
botol, terutama pada hari–hari pertama, maka bayi
diberi
minum
melalui
sonde
lambung
(orogastrik
intubation).
Jumlah
cairan
yang
diberikan
untuk
pertama
kali adalah 1–5 ml/jam dan jumlahnya dapat ditambah
sedikit
demi
cairan
yang
setiap
hari
sedikit
setiap
diberikan
12
adalah
dinaikkan
sampai
jam.
Banyaknya
60mg/kg/hari
200mg/kg/hari
dan
pada
akhir minggu kedua.
d. Mencegah infeksi
Bayi prematur mudah sekali terserang infeksi.
Ini
disebabkan
terhadap
oleh
infeksi
membentuk
karena
kurang,
antibodi
dan
daya
relatif
daya
tahan
belum
tubuh
sanggup
fagositosis
serta
reaksi terhadap peradangan belum baik oleh karena
itu
perlu
dilakukan
dimulai
pada
sosial
ekonomi,
kebersihan
perawatan
masa
dan
tindakan
perinatal
pencegahan
memperbaiki
yang
keadaan
program
pendidikan
(nutrisi,
kesehatan,
keluarga
berencana,
antenatal
dan
post
natal),
screening
(TORCH, Hepatitis, AIDS), vaksinasi tetanus serta
tempat
kelahiran
kebersihannya.
selalu
dan
Tindakan
digalakkan,
dibangsal
perawatan
aseptik
baik
neonatus.
yang
antiseptik
dirawat
Infeksi
terjamin
gabung
yang
sering
harus
maupun
terjadi
adalah infeksi silang melalui para dokter, perawat,
bidan,
dan
petugas
lain
yang
berhubungan
dengan
bayi.Untuk mencegah itu maka perlu dilakukan :
1) Diadakan
pemisahan
antara
bayi
yang
terkena
infeksi dengan bayi yang tidak terkena infeksi
2) Mencuci tangan setiap kali sebelum dan sesudah
memegang bayi
3) Membersihkan temapat tidur bayi segera setelah
tidak
dipakai
memakai
lagi
tempat
(paling
tidur
lama
selama
1
seorang
minggu
bayi
untuk
kemudian dibersihkan dengan cairan antisptik)
4) Membersihkan ruangan pada waktu–waktu tertentu
5) Setiap bayi memiliki peralatan sendiri
6) Setiap petugas di bangsal bayi harus menggunakan
pakaian yang telah disediakan
7) Petugas yang mempunyai penyakit menular dilarang
merawat bayi
8) ulit
dan
tali
pusat
bayi
hanya
boleh
harus
dibersihkan
sebaik–baiknya
9) Para
pengunjung
melihat
bayi
dari
belakang kaca
e. Minum cukup
Selama
dirawat,
pihak
rumah
sakit
harus
memastikan bayi mengkonsumsi susu sesuai kebutuhan
tubuhnya. Selama belum bisa menghisap denagn benar,
minum susu dilakukan dengan menggunakan pipet.
f. Memberikan sentuhan
Ibu sangat disarankan untuk terus memberikan
sentuhan pada bayinya. Bayi prematur yang mendapat
banyak sentuhan ibu menurut penelitian menunjukkan
kenaikan berat badan yang lebih cepat daripada jika
si bayi jarang disentuh (Priyono, 2010).
g. Membantu beradaptasi
Bila memang tidak ada komplikasi, perawatan di
RS
bertujuan
lingkungan
membantu
barunya.
bayi
Setelah
beradaptasi
suhunya
dengan
stabil
dan
dipastikan tidak ada infeksi, bayi biasanya sudah
boleh dibawa pulang. Namunada juga sejmlah RS yang
menggunakan patokan berat badan. Misalnya bayi baru
boleh pulang kalau beratnya mencapai 2kg kendati
sebenarnya
dengan
berat
badan
kondisi
tidak
kesehatan
berbanding
bayi
lurus
secara
umum
(Didinkaem, 2007).
2. Perawatan di rumah
a. Minum susu
Bayi prematur membutuhkan susu yang berprotein
tinggi. Namun dengan kuasa Tuhan, ibu – ibu hamil
yang
melahirkan
bayi
prematur
dengan
sendirinya
akan memproduksi ASI yang proteinnya lebih tinggi
dibandingkan dengan ibu yang melahirkan bayi cukup
bulan. Sehingga diusahakan untuk selalu memberikan
ASI
eksklusif,
didalamnya
karena
belum
ada
zat
yang
gizi
yang
terkandung
menandinginya
dan
ASI
dapat mempercepat pertumbuhan berat anak.
b. Jaga suhu tubuhnya
Salah satu masalah yang dihadapi bayi prematur
adalah suhu tubuh yang belum stabil. Oleh karena
itu, orang tua harus mengusahakan supaya lingkungan
sekitarnya
tidak
memicu
kenaikan
atau
penurunan
suhu tubuh bayi. Bisa dilakukan dengan menempati
kamar yang tidak terlalu panas ataupun dingin.
c. Pastikan semuanya bersih
Bayi prematur lebih rentan terserang penyakit
dan infeksi. Karenanya orang tua harus berhati–hati
menjaga
keadaan
sekaligus
si
kecil
meminimalisir
infeksi.
Maka
supaya
tetap
kemungkinan
sebaiknya
cuci
bersih
terserang
tangan
sebelum
memberikan susu, memperhatikan kebersihan kamar.
d. BAB dan BAK
BAB
dan
BAK
bayi
prematur
masih
terhitung
wajar kalau setelah disusui lalu dikeluarkan dalam
bentuk pipis atau pup. Menjadi tidak wajar apabila
tanpa diberi susu pun bayi terus BAB dan BAK. Untuk
kasus seperti ini tak ada jalan lain kecuali segera
membawanya ke dokter.
e. Berikan stimulus yang sesuai
Bisa
dilakukan
membelai,
memijat,
dengan
mengajak
mengajak
bermain,
berbicara,
menimang,
menggendong, menunjukkan perbedaan warna gelap dan
terang,
gambar–gambar
dan
mainan
berwarna
cerah
(Bobak, 2004).
G. Komplikasi
Menurut
Nelson
(2000),
komplikasi
dari
bayi
prematur adalah:
1. System pernafasan
a. Sindrom gawat nafas, defisiensi surfaktan
Surfaktan
yang
belum
terbentuk
dapat
menurunkan komplience paru. Alveoli belum sempurna
sehingga sering terjadi apnoe.
b. Apnoe Recurent
Adalah periode tidak bernafas lebih dari 20
detik yang disertai dengan bradikardi dan sianosis.
Hal ini timbul karena SSP dan paru belum matang.
c. Air leak syndrome
Bayi premature yang mendapat terapi oksigen
dapat
timbul
komplikasi
kebocoran
pemberian tekanan yang terlalu besar.
udara,
karena
d. Broncho Pulmonary Displasia
Penyakit ini timbul sebagai komplikasi dari
pemakaian oksigen yang terlalu lama.
2. System cardiovaskuler
a. Penutupan
duktus
botalli
terhambat
dapat
dipengaruhi oleh input cairan yang berlebihan dan
pemberian oksigen yang agresif.
b. Bayi
mudah
mengalami
hypotensi
karena
adanya
hypovolemic.
3. Gastrointestinal
Pada
matangnya
bayi
premature
system/fungsi
dapat
terjadi
dari
tidak
gastrointestinal,
ditandai dengan refleks isap yang belum baik sampai
usia
34–35
yang
minggu.
lama,
Pengosongan
rendahnya
lambung
absorpsi
dalam
lemak,
waktu
kurangnya
motilitas, adanya trauma hypoksi iskemik pada saluran
cerna dan kolonisasi bakteri pathogen yang berlebihan
dalam
lumen
usus
bisa
menimbulkan
resiko
tinggi
terjadinya NEC.
4. System urogenitalis
Struktur ginjal bayi premature belum matang dan
fungsi belum sempurna, terutama fungsi filtrasi masih
rendah
serta
elektrolit,
ketidakmampuan
sehingga
mudah
mengatur
mengalami
keseimbangan
keracunan
obat
dan menderi asidosis metabolic
5. Immunologi
Bayi premature sangat mudah mengalami infeksi,
hali ini berhubungan dengan kedua immunoglobulin yang
masih
rendah,
aktifitas
bakterisidal,
serta
efek
cytotoksik lymphocyte masih rendah
6. Metabolisme
Pada
neonatorum,
transferase
bayi
premature
karena
kedlam
sel
bisa
produksi
–
sel
terjadi
enzim
hati
belum
ikterus
glucoronil
sempurna.
Disamping
itu
hypokalsemi
mengalami
juga
mudah
mengalami
dini,
teritama
keracunan
obat
jika
dan
hypoglikemi
bayi
dan
premature
menderita
asidosis
menurunnya
eritrosit
metabolik
7. Hematologi
Anemi
berhubungan
dengan
waktu lahir, sebagai akibat perdarahan pre dan post
natal
atau
penyebab
lainnya.
Jika
bayi
premature
menderita sepsis dapat timbul komplikasi DIC.
8. System neurologi
a. Perdarahan periventrikuler
Terjadi
akibat
subependimal/lapisan
rupture
germinal
pembuluh
pada
darah
bagian
bawah
kepala yang berasal dari nucleus caudatus di depan
foramen monrow.
b. Leucomasia periventrikuler
Adalah
premature
suatu
hingga
lesi
iskemik
dapat
pada
menyebabkan
otak
bayi
terjadinya
nekrosis koagulasi.
c. Aktifitas reflek batuk masih lemah
Bayi
dapat
tersedak
dan
selanjutnya
dapat
timbul aspirasi.
d. Refleks primitive seperti menoleh, menghisap, dan
menelan masih lemah, mengakibatkan bayi belum bisa
menetek, sehingga pemberian makanan melalui sonde.
9. System termoregulasi
Pusat termoregulasi belum sempurna karena lemak
subkutan
dan
lemak
coklat
masih
sedikit,
sehingga
mudah mengalami hypotermi dan hypertermi.
10. System integument
Kulit
bayi
bayi
premature
sangat
tipis,
transparan terutama pada bayi dengan gestasi kurang
dari 30 minggu, sehingga kehilangan IWL sangat tinggi.
11. System optalmologis
Merupakan
komplikasi
pada
bayi
premature
yang
mengenai mata atau disebut juga dengan Retinopathy of
Prematurity.
Retina
yang
sedang
berkembang
sangat
sensitive terhadap perubahan perfusi dan oksigenasi.
H. Data yang perlu dikaji
1. Riwayat kehamilan
a. Umur
ibu
dibawah
16
tahun
dengan
latar
belakang
pendidikan rendah
b. Kehamilan kembar
c. Status sosial ekonomi, prenatal care tidak adekuat,
nutrisi buruk
d. Kemungkinan penyakit genetic
e. Riwayat melahirkan premature
f. Infeksi seperti TORCH, penyakit menular seksual dan
lain sebagainya
g. Kondisi seperti toksemia, prematur rupture membran,
abruptio placenta dan prolaps umbilicus
h. Penyalahgunaaan obat, merokok, konsumsi kafeine dan
alcohol
i. Golongan darah, faktor Rh, amniocentesis.
2. Status bayi baru lahir
a. Umur
kehamilan
antara
24–37
minggu,
berat
badan
lahir rendah atau besar masa kehamilan
b. Berat
badan
dibawah
2500
gram
Kurus, lemak subkutan minimal
c. Adanya kelainan fisik yang terlihat
d. APGAR
skore
1–5
menit
:
0–3
mengindikasikan
distress berat, 4–6 menunjukkan disstres sedang dan
7–10 merupakan nilai normal.
3. Kardiovaskular
a. Denyut jantung 120–160 x per menit pada sisi apikal
dengan irama teratur
b. Saat kelahiran, terdengar murmur
4. Gastrointestinal
a. Protruding abdomen
b. Keluaran mekonium setelah 12 jam
c. Kelemahan menghisap dan penurunan reflex
d. Pastikan anus tanpa/dengan abnormalitas kongenital
5. Integumen
a. Cyanosis, jaundice, mottling, kemerahan, atau kulit
berwarna kuning
b. Verniks
caseosa
sedikit
dengan
rambut
lanugo
di
seluruh tubuh
c. Kurus
d. Edema general atau local
e. Kuku pendek
f. Kadang-kadang terdapat petechie atau ekimosis
6. Muskuloskeletal
a. Cartilago pada telinga belum sempurna
b. Tengkorak lunak
c. Keadaan rileks, inaktive atau lethargi
7. Neurologik
a. Refleks dan pergerakan pada test neurologik tanpa
resistansi
b. Reflek
menghisap,
swalowing,
gag
reflek
serta
reflek batuk lemah atau tidak efektif
c. Tidak ada atau minimalnya tanda neurologic
d. Mata masih tertutup pada bayi dengan umur kehamilan
25–26 minggu
e. Suhu tubuh yang tidak stabil : biasanya hipotermik
8. Pulmonary
a. Respiratory
rate
antara
40–60
x/menit
dengan
periode apnea
b. Respirasi irreguler dengan nasal flaring, grunting
dan
retraksi
(interkostal,
substrenal)
c. Terdengar crakles pada auskultasi
suprasternal,
9. Renal
a. Berkemih
terjadi
Kemungkinan
8
jam
ketidakmampuan
setelah
lahir
mengekresikan
sulution
dalam urine.
10. Reproduksi
a. Perempuan : labia mayora belum menutupi klitoris
sehingga tampak menonjol
b. Laki-laki : testis belum turun secara sempurna ke
kantong skrotum, mungkin terdapat inguinal hernia.
11. Data penunjang
I. Diagnosa Keperawatan dan Prioritas
1. Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi
paru
2. Gangguan
pertukaran
gas
b/d
kurangnya
ventilasi
alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan
3. Resiko
cairan
tinggi
dan
gangguan
elektrolit
keseimbangan
b/d
keseimbangan
ketidakmampuan
ginjal
mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
4. Perubahan
berhubungan
nutrisi
dengan
kurang
tidak
dari
kebutuhan
adekuatnya
tubuh
persediaan
zat
besi, kalsium, metabolisme yang tinggi dan intake yang
kurang adekuat
5. Resiko tinggi hipotermi atau hipertermi b/d imaturitas
fungsi termoregulasi atau perubahan suhu lingkungan
J. Rencana tindakan keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ekspansi
paru.
a. Tujuan
: Pola nafas yang efektif
b. Kriteria hasil
: Kebutuhan oksigen menurun
Nafas spontan, adekuat
Tidak sesak
Tidak ada retraks
c. Tindakan :
1) Observasi
irama,
kedalaman
dan
frekuensi
pernafasan
Rasional:
Distress pernafasan yang dibuktikan
dengan dyspnea dan takipnea sebagai
indikasi
penurunan
kemampuamenyediakan
oksigen
bagi
jaringan.
2) Berikan posisi kepala sedikit ekstensi
Rasional:
Untuk mengoptimalkan jalannya saluran
nafas
3) Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
Rsional:
Meningkatkan
suplai
oksigen
jaringan paru
2. Gangguan
pertukaran
gas
b/d
kurangnya
ventilasi
alveolar sekunder terhadap defisiensi surfaktan
a. Tujuan
: Pertukaran gas adekuat
b. Kriteria hasil
: Tidak sianosis
Analisa gas darah normal
Saturasi oksigen normal
c. Tindakan:
1) Lakukan isap lendir kalau perlu
Rasional:
Membantu pembersihan jalan nafas
2) Berikan oksigen dengan metode yang sesuai
Rasional:
Meningkatkan
suplai
oksigen
jaringan paru
3) Observasi warna kulit, catat
adanya sianosis
pada kulit, kuku dan jaringan sentral
Rasional:
Sianosis
kuku
vasokontriksi.
menunjukkan
Sedangkan sianosis
daun telinga, membrane mukosa dan
kulit
sekitar
mulut
(membrane
hangat)
menunjukkan
hipoksemia
sistemik.
4) Ukur saturasi oksigen
Rasional:
Evaluasi
berkala
keberhasilan
terapi/tindakan tim kesehatan
5) Observasi tanda-tanda perburukan pernafasan
Rasional:
Distress pernafasan yang dibuktikan
dengan dyspnea dan takipnea sebagai
indikasi
penurunan
kemampuan
menyediakan oksigen bagi jaringan.
6) Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah
Rasional:
AGD yang menunjukkan penurunan PO2
sebagai indikasi penurunan oksigen
jaringan.
7) Kolaborasi dalam pemeriksaan surfaktan
Rasional:
Untuk menentukan intervensi yang tepat
dan sesuai
3. Resiko
tinggi
elektrolit
gangguan
b/d
keseimbangan
ketidakmampuan
ginjal
cairan
dan
mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit
a. Tujuan
: Hidrasi baik
b. Kriteria hasil
: Turgor kulit elastic
Tidak ada edema
Produksi urin 1-2 cc/Kg BB/jam
Elektrolit
darah
dalam
batas
normal
c. Tindakan :
1) Observasi turgor kulit
Rasional: Penurunan turgor kulit mengindikasikan
adanya kekurangan cairan.
2) Catat intake dan output
Rasional: Untuk
mengetahui
intake
dapat
danoutput
perkembangan
cairan
menentukan
sehingga
keputusan
untuk
tindakan selanjutnya.
3) Kolaborasi dalam pemberian cairan intra vena dan
elektrolit
Rasional: Pembatasan
berat
cairan
tubuh
akan
ideal,
menentukan
haluaran
urine
dan respon terhadap terapi
4) Kolaborasi dalam pemeriksaan elektrolit darah
Rasional:
Menentukan
berkaitan
adanya
dengan
kelainan
cairan
dan
yang
uneuk
menentukan intervensi yang tepat
4. Perubahan
berhubungan
nutrisi
dengan
kurang
tidak
dari
kebutuhan
adekuatnya
tubuh
persediaan
zat
besi, kalsium, metabolisme yang tinggi dan intake yang
kurang adekuat
a. Tujuan
: Nutrisi adekuat
b. Kriteria hasil
: Berat badan naik 10-30 gr/hari
Tidak ada edema
Protein
dan
albumin
darah
dalam batas normal
a. Tindakan :
1) Berikan ASI/PASI dengan metode yang tepat
Rasional:
Dapat
meningkatkan
nafsu
makan
input
mungkin
meskipun
lambat
untuk
kembali.
2) Observasi dan catat toleransi minum
Rasioanl:
Untuk
menentukan
jumlah
cairan
akan diberikan sesuai kebutuhan.
yang
3) Timbang berat badan setiap hari
Rasional:
Memberikan
terbaik
hasil
dari
pengkajian
status
yang
cairan
yang
sedang berlangsung dan selanjutnya
dalam
memberikan
cairan
sesuai
dengan kebutuhan.
4) Catat intake dan output
Rasional:
Untuk
mengetahui
intake
danoutput
dapat
menentukan
perkembangan
cairan
sehingga
keputusan
untuk
tindakan selanjutnya.
5) Kolaborasi
dalam
pemberian
total
parenteral
menangani
masalah
nutrition kalau perlu
Rasional:
Mempercepat
pasien
5. Resiko tinggi hipotermi atau hipertermi b/d imaturitas
fungsi termoregulasi atau perubahan suhu lingkungan
a. Tujuan
: Suhu tubuh stabil
b. Kriteria hasil
: Suhu 36,5 0C -37,2 0C
Akral hangat
c. Tindakan :
1) Rawat bayi dengan suhu lingkungan sesuai
Rasional:
Suhu
lingkungan
yang
sesuai
dapat
menjaga keseimbangan suhu tubuh.
2) Hindarkan
bayi
kontak
langsung
dengan
benda
sebagai sumber dingin/panas
Rasional:
Perubahan
cepat
suhu
terjadi
tubuh
pada
sehingga
prematur
benda
yang
dingin maupun panas dapt mempengaruhi
suhu tubuh bayi.
3) Ukur suhu bayi setiap 3 jam atau kalau perlu
Rasional:
Untuk mengetahui tingkat perkembangan
pasien dan menentukan intervensi yang
tepat
4) Ganti popok bila basah
Rasional: Mencegah terjadinya hipotermi
DAFTAR PUSTAKA
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak, Volume 2 Edisi 15. EGC.
Jakarta
Handayani, dkk. 2008. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. EGC:
Jakarta
Priyono, Yunisa. 2010. Merawat Bayi Tanpa Baby Sitter. Media
Pressindo: Jakarta
Wong,
Donna
L.
2004. Pedoman
Pediatrik.Jakarta : EGC
Klinis
Keperawatan
Boback. 2004. Keperawatan Maternitas. Ed. 4. Jakarta: EGC
Carpenito,
Lynda
Juall.
2001. Buku
Keperawatan.Edisi 8. Jakarta : EGC
Saku
Diagnosa
Doenges, Marilynn E. 2001. Rencana Perawatan Maternal. Ed.
2. Jakarta : EGC
Saccharin, Rossa M. 2004. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Ed.
2. Jakarta : EGC
Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik.
Jakarta : EG
Download