Uploaded by riczko9

Laporan Kasus Luka Bakar

advertisement
LAPORAN KASUS
LUKA BAKAR
PEMBIMBING :
dr. Anthony Heryanto, Sp.B
dr. Marisa Skolastika
dr. Fenny Shuriana
DISUSUN OLEH:
Abraham Albert Nugraha
PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA
PERIODE DUA TAHUN 2020
RS KARTIKA CIBADAK
KABUPATEN SUKABUMI
2020
1
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan
rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus yang mengenai
“Luka Bakar”. Penulisan laporan kasus ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah
satu syarat dalam menjalani Program Internsip Dokter Indonesia .
Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini dapat terselesaikan dengan adanya
bantuan moril dari berbagai pihak, sehingga dengan hormat penulis menyampaikan
terima kasih sebesar-besarnya kepada dr. Anthony Heryanto, Sp.B, dr. Marisa
Skolastika, dan dr Fenny Shuriana​ ​selaku dokter pembimbing.
Penulis menyadari bahwa dalam laporan kasus ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, segala kritik komentar yang bersifat membangun diharapkan dapat
dijadikan perbaikan di masa datang. Penulis berharap semoga laporan kasus ini
memberikan manfaat bagi semua pihak.
29 Juni 2020
Penulis
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I PENDAHULUAN
1
BAB II LAPORAN KASUS...........................................................................
2
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
8
A. ANATOMI
8
B. FISIOLOGI
10
C. ETIOLOGI
10
D. PATOGENESIS
11
E. DIAGNOSIS
12
F. DIAGNOSIS BANDING
19
G. TATALAKSANA
20
H. KOMPLIKASI
23
BAB IV ANALISIS KASUS..........................................................................
24
DAFTAR PUSTAKA
32
2
BAB I
PENDAHULUAN
Luka bakar merupakan kerusakan kulit tubuh yang disebabkan oleh trauma
panas atau trauma dingin (frost bite). Penyebabnya adalah api, air panas, listrik,
kimia, radiasi dan trauma dingin (frost bite). Kerusakan ini dapat menyertakan
jaringan bawah kulit.​1
Menurut WHO terdapat sekitar 180.000 kematian setiap tahunnya. Dan luka
bakar yang tidak menyebabkan kematian, dapat juga menyebabkan komorbid. Luka
bakar dapat menyebabkan kerusakan kosmetik dan bahkan fungsional tubuh.
Kerusakan kosmetik dan fungsional tubuh dapat memberikan efek kepada sosial
ekonomi juga. Komorbid ini dapat menyebabkan sang penderita kehilangan pekerjaan
dan dikucilkan karena penampilannya setelah terkena luka bakar. Hal ini diperparah
dengan angka kejadian luka bakar terdata banyak mengenai masyarakat sosial
ekonomi rendah. Menurut WHO mortalitas luka bakar 7 kali lipat lebih tinggi pada
masyarakat dengan ekonomi rendah dibanding ekonomi tingga.​2
Di Indonesia sendiri, kontak dengan air panas pada anak kecil adalah
penyebab tersering terjadinya luka bakar pada anak kecil. Luka bakar merupakan
kejadian yang bersifat ​high volume, high risk, high cost​. Angka kejadian luka bakar
cukup tinggi, dengan resiko kematian yang cukup tinggi pula, dan memerlukan biaya
pengobatan yang tidak murah. Tatalaksana luka bakar sebelum tahun 2018 masih
bervariasi dan tidak terstandarisasi sehingga dibuatlah panduan penatalaksanaan luka
bakar oleh Kemenkes Indonesia.​1
Berdasarkan pendahuluan diatas penulis tertarik untuk membuat laporan kasus
tentang Luka Bakar.
BAB II
LAPORAN KASUS
1
IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien
:An. RMY
Umur
: 9 Bulan
Jenis Kelamin
: Laki - laki
Pekerjaan
: Tidak Bekerja
Alamat
: Kabupaten Sukabumi, Cibadak
Waktu Pemeriksaan : 27 Juni 2020
B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
: Wajah terkena air panas
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke IGD dibawa oleh orang tuanya dikarenakan
ketumpahan air panas kurang lebih 1 jam SMRS. Air yang tertumpah ke
pasien adalah air yang baru saja mendidih. Air panas mengenai wajah, telinga,
leher, dada bagian atas, dan lengan atas kanan pasien. Beberapa kulit pasien
ada yang mengelupas dan ada bagian kulit yang menggelembung.
Ibu pasien sedang merebus air untuk ayah pasien untuk minum kopi.
Saat air baru saja dipindahkan ke gelas yang diletakkan di atas meja, pasien
berjalan ke arah gelas tersebut dan berusaha menggapai gelas tersebut. Meja
lebih tinggi daripada pasien, alhasil air panas tertumpah ke wajah pasien.
Pasien sudah sebelumnya sudah berusaha mengolesi seluruh luka dengan pasta
gigi.
Riwayat Pengobatan
:
Pasien sudah berobat ke klinik terdekat rumahnya 1/2 jam sebelumnya
dan diberi salep antibiotik dan disarankan untuk segera ke IGD.
Riwayat Penyakit Dahulu
:
Pasien tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
:
2
Pasien tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Riwayat Alergi
:
Pasien tidak memiliki riwayat alergi
Riwayat Psikososial
:
Pasien adalah anak yang aktif dan sangat penasaran akan hal - hal yang
baru.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
: Pasien Tampak Sakit Sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
Frekuensi Nadi
: 138 x/menit
Frekuensi Nafas
: 34 x/menit
Suhu Tubuh
: 36,9 o​​ C
Berat Badan
: 8,4 kg
Status Generalis
:
Kepala : Bentuk normal, tidak teraba benjolan, rambut berwarna hitam
terdistribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata : Kedua konjungtiva mata tidak anemis. Sklera tidak ikterik.
Palpebra superior dan inferior kiri dan kanan tidak ada
pembengkakkan. Pupil bulat dengan diameter kurang lebih 3
mm. Refleks cahaya langsung dan tidak langsung baik. Mata
tidak cekung
Telinga : Bentuk normal, liang telinga lapang, tidak ada sekret, tidak
ada serumen
Hidung : Bentuk normal, tidak ada deviasi septum nasi, tidak ada
sekret
3
Mulut : Tidak ada sianosis perioral, bibir lembab, letak uvula di
tengah, faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1
Leher : Pembesaran KGB -/Thorax :
Inspeksi : Bentuk dada kanan dan kiri simetris, barrel chest (-),
pergerakan dinding dada simetris,
Palpasi : Vokal fremitus simetris kiri dan kanan, tidak semakin
besar ataupun kecil.
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : S1 S2 reguler, Murmur(-), Gallop (-), Bunyi
jantung tambahan (-)
Abdomen:
Inspeksi: Perut rata, umbilikus masuk merata, distensi (-),
perubahan warna (-), Ascites (-), spider navy (-),
sianosis (-)
Auskultasi : Bising usus (+), Metallic sound (-), Bising aorta (-)
Perkusi : Nyeri ketok (-), Timpani
Palpasi : Nyeri tekan (-), Supel
Ekstremitas: Akral hangat, CRT<2 detik, Sianosis (-), Edema (-),
Deformitas (-),
Inguinal - genitalia - anus : Tidak diperiksa
Status Lokalis:
Wajah :
- Tampak multiple bula kencang berisi cairan bening dengan berbagai
macam diameter dari kurang lebih 1cm sampai 5 cm.
4
- Tampak pengelupasan epidermis pada palpebra superior dextra
sepanjang kurang lebih 3 cm. Dasar berupa dermis. Permukaan basah.
Sisa epidermis masih tampak pada tepi - tepi jejas
- Tampak bula pecah pada pipi kanan pasien berdiameter kurang lebih
2-3 cm. Sisa epidermis masih tampak. Dasar jejas dermis dan
permukaan jejas basah.
Telinga Kanan :
- Tampak pengelupasan epidermis pada pangkal telinga kanan pasien
kurang lebih 1 x 2cm. Dasar dermis. Dasar jejas masih basah
Leher :
- Tampak jejas pengelupasan epidermis pada leher kanan sampai ke
dagu kurang lebih 2 x 3 cm. Dasar dermis. Dasar jejas masih basah.
- Tampak bula kencang pada leher kanan bagian bawah memanjang
berukuran kurang lbeih 2 x 0,5 cm.
Dada atas kanan :
- Tampak jejas pengelupasan epidermis dengan dasar dermis. Jejas
masih basah.
- Tampak multiple bula kencang pada di atas jejas sebelumnya
berukuran 0,5 x 0,25 cm.
Lengan kanan atas perbatasan dengan lengan kanan bawah
- Tampak bula kencang bediameter kurang lebih 1 cm. Dasar eritem.
Tampak seperti bekas tergesek.
5
Gambar 2.1
Gambar 2.2
6
Gambar 2.3
Gambar 2.4
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hemoglobin : 10,4 g/dL (N: 10,5-13,5 g/dL)
Hematokrit : 28,7 % (N: 33,0-40,0 %)
Jumlah Leukosit : 14.600 /uL (N: 4.000-10.000 /uL)
Jumlah Trombosit : 381.000/uL (N: 150.000-350.000/uL)
Hitung Jenis
Basofil
: 0% (N: 0-1%)
7
Eosinofil
: 2% (N: 1-3%)
Batang
:2% (N: 2-6%)
Segmen
: 43% (N: 50-70%)
Limfosit
: 47% (N: 20-40%)
Monosit
: 6% (N: 2-8%)
GDS: 233 mg/dL (N: 70-180 mg/dL)
E. DIAGNOSIS KERJA
Luka Bakar Grade IIA TBSA 10%
F. ANJURAN PENATALAKSANAAN
Kuratif
:
- Debridement lokal, buang kulit yang terkelupas. Bersihkan jejas dengan
NaCl steril lalu tutup dengan sufratul + kassa lembab. Ganti balut kassa dan sufratul
setiap 2 hari.
- Posisikan leher ekstensi agar tidak terjadi kontraktur
- Observasi jalan nafas, pastikan tidak ada edem laring
- Resusitasi cairan dengan D5 1/4 NS sebanyak 630 cc pada 8 jam pertama
dan 630 cc pada 16 jam selanjutnya. Pada hari selanjutnya 806 cc/24 jam.
- Injeksi Ceftriaxone 2x420 mg iv.
G. PROGNOSIS
:
Ad Vitam : Dubia ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia ad Bonam
Ad Functionam : Dubia ad Bonam
H. EDUKASI
:
Perlunya pemberian cairan tambahan untuk pasien agar tidak terjadi dehidrasi
mengingat pada luka bakar penguapan cairan tubuh berlangsung lebih cepat.
Mengajarkan pada orang tua bahwa leher pasien harus dalam posisi
diekstensikan agar tidak terjadi kontraktur
8
Mengajarkan pentingnya higenitas pada luka bekas air panas agar tidak terjadi
infeksi sekunder.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
STRUKTUR KULIT
Struktur kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu : 1.Kulit ari (epidermis), sebagai
lapisan yang paling luar, 2.Kulit jangat (dermis, korium atau kutis), dan 3.jaringan
penyambung di bawah kulit (tela subkutanea, hipodermis atau subkutis)​3
9
Gambar 3.1 Struktur Kulit
1. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar kulit, yang terdiri dari : 4​
Stratum korneum, yaitu sel yang telah mati, selnya tipis, datar, tidak mempunyai inti
sel dan mengandung zat keratin.
Stratum lusidum, yaitu sel bentuk pipih, mempunyai batas tegas, tetapi tidak ada inti.
Lapisan ini terdapat pada telapak kaki. Dalam lapisan ini terlihat seperti pita yang
bening, batas-batas sudah tidak begitu terlihat.
Stratum glanulosum, sel ini berisi inti dan glanulosum.
Zona germinalis, terletak dibawah lapisan tanduk dan terdiri atas dua lapisan epitel
yang tidak tegas.
Sel berduri, yaitu sel dengan fibril halus yang menyambung sel satu dengan yang
lainnya, sehingga setiap sel seakan-akan tampak berduri.
Sel basale, sel ini secara terus-menerus memproduksi sel epidermis baru. Sel ini
disusun dengan teratur, berurutan dan rapat sehingga membentuk lapisan pertama
atau lapisan dua sel pertama dari sel basal yang posisinya diatas papilla dermis
10
Gambar 3.2 Epidermis
Dermis
Dermis terletak dibawah lapisan epidermis. Dermis merupakan jaringan ikat
longgar dan terdiri atas sel-sel fibrinoplas yang mengeluarkan protein kolagen dan
elastin. Serabut-serabut kolagen dan elastin tersusun secara acak, dan menyebabkan
dermis terenggang dan memiliki daya tahan. Seluruh dermis terdapat pembuluh darah,
saraf sensorik dan simpatis, pembuluh limfe, folikel rambut, serta kelenjar keringat
dan sebasea. Pada dermis terdapat sel mast yang berfungsi mengeluarkan histamin
selama cidera atau peradangan dan makrofag yang memililki fungsi memfagositosis
sel-sel mati dan mikroorganisme. Dermis terdiri dari dua lapisan; lapisan atas yaitu
pars papilaris (stratum papilaris), dan bagian bawah yaitu pars retikularis terdiri dari
jaringan ikat longgar yang tersusun atas serabut-serabut; serabut kolagen, serabut
elastic, dan serabut retikulus .​3
11
Gambar 3.3 Dermis
Hipodermis
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan limfe,
saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang dari
pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah
kulit berfungsi sebagai bantalan atau penyangga benturan bagi organ organ tubuh
bagian dalam, membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan. Ketebalan
dan kedalaman jaringan lemak bervariasi sepanjang kontur tubuh, paling tebal di
daerah pantat dan paling tipis terdapat di kelopak mata. Jika usia menjadi tua, kinerja
liposit dalam jaringan ikat bawah kulit juga menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya
berisi banyak lemak, akan berkurang lemaknya dan akibatnya kulit akan mengendur
serta makin kehilangan kontur.​3
12
Gambar 3.4 Hipodermis
FUNGSI KULIT 4​
Kulit pada manusia mempunyai banyak fungsi yang berguna dalam menjaga
homeostatis tubuh :
1. Fungsi Absorpsi
Kulit tidak dapat menyerap air, tetapi dapat menyerap larut-lipid seperti vitamin
A, D, E, dan K, oksigen, karbondioksida. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh
tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, dan metabolism. Penyerapan dapat
berlangsung melalui celah antar sel atau melalui muara saluran kelenjar, tetapi lebih
banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada melalui muara kelenjar.
2. Fungsi Ekskresi
Kulit berfungsi sebagai tempat pembuangan suatu cairan yang keluar dari
dalam tubuh dengan perantara 2 kelenjar keringan, yakni kelenjar keringat sebaseae
dan kelenjar keringat.
3. Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh
Sistem pengaturan suhu dilakukan dengan melebarkan pembuluh darah. Kulit akan
mengeluarkan sejumlah keringat dalam keadaan panas melalui pori-pori, panas dalam
tubuh dibawa keluar bersama keringat. Sebaliknya, jika kondisi udara dingin,
pembuluh darah akan mengecil. Pengecilan pembuluh darah ini bertujuan untuk
menahan panas keluar dari tubuh yang berlebihan. Dengan adanya sistem pengaturan
ini, maka suhu tubuh akan selalu dalam kondisi stabil.
4. Fungsi Pelindung
Kulit dapat melindungi tubuh dari gangguan fisik berupa tekanan dan gangguan yang
bersifat kimiawi. Selain itu, kulit juga dapat melindungi kita dari gangguan biologis
seperti halnya serangan bakteri dan jamur. Kulit juga menjaga tubuh agar tidak
kehilangan banyak cairan dan melindungi tubuh dari sinar UV.
5. Fungsi Peraba
13
Pada lapisan dermis terdapat kumpulan saraf yang bisa menangkap rangsangan
beruupa suhu, nyeri dan tekanan. Rangsangan tersebut akan disampaikan ke otak
sebagai pusat informasi sehingga dapat mengetahui apa yang dirasakan.
C. DEFINISI DAN ETIOLOGI LUKA BAKAR
Luka bakar merupakan kerusakan kulit tubuh yang disebabkan oleh trauma panas atau
trauma dingin (​frost bite)​ . Penyebabnya adalah api, air panas, listrik, kimia, radiasi
dan trauma dingin (​frost bite​). 1​
14
PENILAIAN LUAS DAN DALAM LUKA BAKAR
Penilaian Luas luka Bakar
Untuk melakukan penilaian area luas luka bakar secara baik dan benar
dibutuhkan penggunaan metode kalkulasi seperti “​Rule of Nines” ​untuk dapat
menghasilkan pesentasi total luas luka bakar (%TBSA). “​Rule of Nine”
membagi luas permukaan tubuh menjadi multiple 9% area, kecuali perineum
yang diestimasi menjadi 1%. Formula ini sangat berguna karena dapat
menghasilkan kalkulasi yang dapat diulang semua orang. 1​
Gambar 3.5 Rule of Nine
Sedangkan untuk mengestimasi luas luka bakar pada luka bakar yang tidak luas
dapat menggunakan area palmar (jari dan telapak tangan) dari tangan pasien yang
dianggap memiliki 1% ​total body surface area (​ TBSA). Metode ini sangat berguna
15
bila pasien memiliki luka bakar kecil yang tersebar sehingga tidak dapat
menggunakan metode “​Rule of Nine”. ​1
Gambar 3.6 Palmar Area Untuk Estimasi Ukuran Luka Bakar Kecil
Penggunaan “​Rule of Nine” ​sangat akurat untuk digunakan pada pasien
dewasa, namun tidak akurat bila digunakan pada pasien anak. Hal ini disebabkan
karena proporsi luas permukaan tubuh pada anak sangat berbeda dengan pasien
dewasa. Anak-anak memiliki proporsi paha dan kaki yang kecil dan bahu dan kepala
yang lebih besar dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itu, penggunaan “​Rule of
Nine” t​ idak disarankan untuk pasien anak-anak karena dapat menghasilkan estimasi
cairan resusitasi yang tidak akurat.​1 Sehingga pada anak - anak dibuatlah sistem
pengukuran luas luka bakar tersendiri oleh WHO.​5
Gambar 3.7 Luas Luka Bakar pada Anak (WHO)
16
Penilaian Kedalaman Luka Bakar
Berdasarkan kedalaman jaringan luka bakar yang rusak, luka bakar dibagi
menjadi 3 klasifikasi besar yaitu luka bakar ​superficial, mid ​dan ​deep.
Klasifikasi yang lebih lanjut diperjelas menjadi ​epidermal, superficial dermal,
mid-dermal, deep dermal ​atau ​full-thickness. ​1
Gambar 3.8 Kedalaman Luka Bakar
17
Tabel 3:Kedalaman Luka Bakar, Gejala, dan Tanda
a. Luka bakar superfisial
Luka bakar superfisial adalah luka bakar yang dapat sembuh secara spontan dengan
bantuan epitelisasi. Luka bakar superfisial dibagi dua yaitu luka bakar ​epidermal d​ an
superficial dermal.​1
Luka bakar ​epidermal.​ Luka bakar yang hanya terkena pada bagian epidermis
pasien. Penyebab tersering luka bakar ini adalah matahari dan ledakan minor. Lapisan
epidermis yang bertingkat terbakar dan mengalami proses penyembuhan dari
regenerasi lapisan basal epidermis. Akibat dari produksi mediator inflamasi yang
meningkat, luka bakar ini menjadi hiperemis dan cukup menyakitkan. Dapat sembuh
dalam waktu cepat (7 hari), tanpa meninggalkan bekas luka kosmetik.​1
Luka bakar ​superficial dermal.​ Luka bakar yang terkena pada bagian
epidermis dan bagian superfisial dermis (dermis papiler). Ciri khas dari tipe luka
18
bakar ini adalah muncullnya bula. Bagian kulit yang melapisi bula telah mati dan
terpisahkan dari bagian yang masih ​viable ​dengan membentuk edema. Edema ini
dilapisi oleh lapisan nekrotik yang disebut bula. Bula dapat pecah dan
mengekspos lapusan dermis yang dapat meningkatkan kedalaman dari jaringan
yang rusak pada luka bakar. Oleh karena saraf sensoris yang terekspos, luka bakar
kedalaman ini biasanya sangat nyeri. Dapat sembuh secara spontan dengan
bantuan epiteliassi dalam 14 hari yang meninggalkan defek warna luka yang
berbeda dengan kulit yang tidak terkena. Namun eskar tidak terjadi dalam tipe
luka bakar ini.​1
Gambar 3.9 : Luka Bakar Superfisial
b. Luka bakar Mid-dermal
Luka bakar ​mid-dermal a​ dalah luka bakar yang terletak diantara luka bakar
superficial dermal ​dan ​deep dermal​. Pada luka bakar ​mid-dermal j​ umlah sel epitel
yang bertahan untuk proses re-epitelisasi sangat sedikit dikarenakan luka bakar yang
agak dalam sehingga penyembuhan luka bakar secara spontan tidak selalu terjadi.
Capillary refilling ​pada pasien dengan luka bakar kedalaman ini biasanya berkurang
dan edema jaringan serta bula akan muncul. Warna luka bakar pada kedalaman ini
berwarna merah muda agak gelap, namun tidak segelap pada pasien luka bakar ​deep
dermal . ​Sensasi juga berkurang, namun rasa nyeri tetap ada yang menunjukkan
19
adanya kerusakan pleksus dermal dari saraf ​cutaneous.1​
Gambar 3.10 Luka Bakar Mid Dermal
c. Luka bakar ​deep
Luka bakar ​deep m
​ emiliki derajat keparahan yang sangat besar. Luka bakar
kedalaman ini tidak dapat sembuh spontan dengan bantuan epitelisasi dan hanya
dapat sembuh dalam waktu yang cukup lama dan meninggalkan bekas eskar yang
signifikan.
Luka bakar d​eep-dermal. ​Luka bakar dengan kedalaman ​deep-dermal
biasanya memiliki bula dengan dasar bula yang menunjukkan warna ​blotchy red
pada ​reticular dermis​. Warna ​blotchy red d​ isebabkan karena ekstravasasi
hemoglobin dari sel darah merah yang rusak karena rupturnya pembuluh darah.
Ciri khas pada luka bakar kedalaman ini disebut dengan fenomena ​capillary
blush. P
​ ada kedalaman ini, ujung-ujung saraf pada kulit juga terpengaruh
menyebabkan sensasi rasa nyeri menjadi hilang.
Luka bakar ​full thickness. ​Luka bakar tipe ini merusak kedua lapisan kulit
epidermis dan dermis dan bisa terjadi penetrasi ke struktur-struktur yang lebih
20
dalam. Warna luka bakar ini biasanya berwarna putih dan ​waxy a​ tau tampak
seperti gosong. Saraf sensoris pada luka bakar ​full thickness ​sudah seluruhnya
rusak menyebabkan hilangnya sensasi ​pinprick. ​Kumpulan kulit-kulit mati yang
terkoagulasi pada luka bakar ini memiliki penampilan ​leathery​, yang disebut
eskar. 1​
Gambar 3.11 Luka Bakar Deep
E. KLASIFIKASI LUKA BAKAR​1
1. Luka bakar ringan
Kriteria luka bakar ringan:
a. TBSA ≤15% pada dewasa
b. TBSA ≤10% pada anak
c. Luka bakar ​full-thickness ​dengan TBSA ≤2% pada anak maupun dewasa tanpa
mengenai daerah mata, telinga, wajah, tangan, kaki, atau perineum.
2. Luka bakar sedang
Kriteria luka bakar sedang:
a. TBSA 15–25% pada dewasa dengan kedalaman luka bakar full thickness <10%
b. TBSA 10-20% pada luka bakar partial thickness pada pasien anak dibawah 10
tahun dan dewasa usia diatas 40 tahun, atau luka bakar full-thickness <10%
c. TBSA ≤10% pada luka bakar ​full-thickness ​pada anak atau dewasa tanpa masalah
21
kosmetik atau mengenai daerah mata, wajah, telinga, tangan, kaki, atau perineum
3. Luka bakar berat
Kriteria luka bakar berat:
a. TBSA ≥25%
b. TBSA ≥20% pada anak usia dibawah 10 tahun dan dewasa usia diatas 40 tahun
c. TBSA ≥10% pada luka bakar ​full-thickness
d. Semua luka bakar yang mengenai daerah mata, wajah, telinga, tangan, kaki, atau
perineum yang dapat menyebabkan gangguan fungsi atau kosmetik.
e. Semua luka bakar listrik
f. Semua luka bakar yang disertai trauma berat atau trauma inhalasi
g. Semua pasien luka bakar dengan kondisi buruk
F. TATALAKSANA​1
Primary Survey​1
Segera identifikasi kondisi-kondisi mengancam jiwa dan lakukan manajemen
emergensi.
a. (​Airway​) : Penalataksanaan jalan nafas dan manajemen trauma cervical
b. (​Breathing​) : Pernapasan dan ventilasi
c. (​Circulation​) : Sirkulasi dengan kontrol perdarahan
d. (​Disability)​ : Status neurogenik
e. (​Exposure)​ : Pajanan dan Pengendalian lingkungan
2. Secondary survey 1​
Merupakan pemeriksaan menyeluruh mulai dari kepala sampai kaki. Pemeriksaan
dilaksanakan setelah kondisi mengancam nyawa diyakini tidak ada atau telah
diatasi. Tujuan akhirnya adalah menegakkan diagnosis yang tepat.
a. Riwayat penyakit
Informasi yang harus didapatkan mengenai riwayat penyakit yang diderita pasien
22
sebelum terjadi trauma:
A (​Allergies​) : Riwayat alergi
M (​Medications​) : Obat – obat yang di konsumsi
P (​Past illness)​ : Penyakit sebelum terjadi trauma
L (​Last meal​) : Makan terakhir
E (​Events​) : Peristiwa yang terjadi saat trauma
b. Mekanisme trauma
Informasi yang harus didapatkan mengenai interaksi antara pasien dengan
lingkungan:
1) Luka bakar:
a) Durasi paparan
b) Jenis pakaian yang digunakan
c) Suhu dan Kondisi air, jika penyebab luka bakar adalah air panas
d) Kecukupan tindakan pertolongan pertama
2) Trauma tajam:
a) Kecepatan proyektil
b) Jarak
c) Arah gerakan pasien saat terjadi trauma
d) Panjang pisau, jarak dimasukkan, arah
3) Trauma tumpul:
a) Kecepatan dan arah benturan
b) Penggunaan sabuk pengaman
c) Jumlah kerusakan kompartemen penumpang
d) Ejeksi (terlontar)
e) Jatuh dari ketinggian
f) Jenis letupan atau ledakan dan jarak terhempas
c. Pemeriksaan survei sekunder
1) Lakukan pemeriksaan ​head to toe examination m
​ erujuk pada pemeriksaan
sekunder ATLS ​course (advanced trauma life support)
2) Monitoring / Chart / Hasil resusitasi tercatat
3) Persiapkan dokumen transfer
3. Tatalaksana Bedah Emergensi 1​
23
a. Eskarotomi
Pengertian : Tindakan insisi eskar yang melingkari dada atau ekstremitas.
Tujuan:
1) Mencegah gangguan ​breathing​.
2) Mencegah penekanan struktur penting pada ekstremitas (pembuluh darah,
saraf).
Eskarotomi dilakukan bila ada indikasi.
Indikasi: pada luka bakar yang mengenai seluruh ketebalan dermis sehingga
timbul edema yang dapat menjepit pembuluh darah, misalnya luka bakar
melingkar di ekstremitas dan dada.
Prosedur:
1) Diagnosis:
a) Eskar melingkar di dada dan esktremitas.
b) Eskar : struktur putih / pucat yang bersifat tidak nyeri dan umumnya
akan mengeras.
c) Tanda-tanda gangguan breathing: frekuensi napas meningkat.
d) Tanda-tanda penekanan struktur penting: jari-jari terasa baal, nyeri,
pucat, dingin, tidak bisa digerakkan.
2) Persiapan alat:
a) Mata pisau No. 15
b) Betadine
c) Kauter
d) Kasa steril
e) Perban elastik
f) Plester
3) Tindakan
a) Dilakukan tindakan asepsis dan antisepsis.
24
b) Dilakukan insisi eskarotomi:
Pada dada : di linea midaksilaris bilateral.
Pada antebraki : di linea midulnar dan midradial. Pada kruris: di linea medial
dan lateral.
Pada dorsum manus dan dorsum pedis : umumnya 3 insisi berbentuk kipas.
c) Dilakukan hemostasis.
d) Penutupan dengan kasa steril dan perban elastik pada ekstremitas dan plester
pada dada.
Gambar. 3.12 Garis Eskarotomi
b. Fasciotomi
Dilakukan bila ada indikasi tanda-tanda sindroma kompartemen: terasa keras
pada palpasi, sensasi perifer menghilang secara progresif, dan nadi tidak
teraba.
4. Dokumentasi 1​
a. Buat Catatan hasil resusitasi dan hasil pemeriksaaan
b. Minta persetujuan pasien untuk dokumentasi fotografi dan persetujuan
prosedur
c. Berikan profilaksis tetanus jika diperlukan.
25
5. Re-Evaluasi 1​
a. Re-Evaluasi Primary Survey, khususnya untuk:
1) Gangguan pernafasan
2) Insufisiensi sirkulasi perifer
3) Gangguan neurologis
4) Kecukupan resusitasi cairan
5) Penilaian radiologi
6) Pencatatan warna urin untuk deteksi ​haemochromogens
b. Pemeriksaan Laboratorium:
1) Hemoglobin / Hematokrit
2) Ureum / Creatinin
3) Elektrolit
4) Urin mikroskopik
5) Analisis gas darah
6) Karboksihemoglobin
7) Kadar gula darah
6. Kebutuhan cairan 1​
Luas luka bakar dikalkulasi menggunakan ​rule of nines. ​Jika memungkinkan timbang
berat badan pasien atau tanyakan saat anamnesis. Data-data ini sangat diperlukan
untuk menghitung menggunakan formula resusitasi cairan yaitu ​Parkland formula.
Parkland formula: 3 - 4ml x kgBB x %TBSA
Perhitungan kebutuhan cairan dilalukan pada waktu pasien mengalami trauma
luka bakar, bukan saat pasien datang. Disarankan menggunakan cairan RL, 50% total
perhitungan cairan dibagi menjadi 2 tahap dalam waktu 24 jam pertama. Tahap I
diberikan 8 jam dan tahap 2 diberikan 16 jam setelahnya. Cairan harus diberikan
menggunakan 2 jalur IV line (ukuran 16 G untuk dewasa), diutamakan untuk
dipasang pada kulit yang tidak terkena luka bakar.
Rumus ​maintenance d
​ ewasa (Post resusitasi fase akut 24 jam pertama) :
(1500xTBSA) + ((25+%LB) x TBSA))
26
Untuk pasien anak dengan prinsip yang sama menggunakan Formula Parkland +
Cairan Rumatan : 3-4 ml x kgBB x %TBSA dan ditambah rumus maintenance cairan
mengandung NaCl dengan Na+ 1-2 mEq/kg/24 jam dan glukosa 4-5 mg/kg berat
badan/menit (untuk neonatus glukosa dapat diberikan hingga 8 mg/kg berat
badan/menit).
Rumus ​maintenance a​ nak (Post resusitasi fase akut 24 jam pertama):
100ml/kg untuk 10 kg pertama
+50ml/kg untuk 10 kg kedua
+20ml/kg untuk 10 kg berikutnya
Cara yang paling mudah dan dapat dipercaya untuk memonitor kecukupan resusitasi
adalah pemasangan kateter urin. Pemasangan kateter urin menjadi sangat penting
pada pemantauan dan menjadi suatu keharusan dilakukan pada:
1) Luka Bakar >10% pada anak-anak, dan
2) Luka Bakar > 20% pada dewasa.
Urine Output ​(UO) harus dipertahankan dalam level 0.5-1.0 ml/kgBB/jam pada
dewasa dan 1.0-1.5 ml/kgBB/jam pada anak untuk menjaga perfusi organ.
Lakukan pemeriksaan diagnosis laboratorium: Darah perifer lengkap, analisis gas
darah, elektrolit serum, serum lactate, albumin, SGOT, SGPT, Ureum/ Creatinin,
glukosa darah, urinalisa, dan foto toraks.
Asidosis yang jelas (pH <7.35) pada analisis gas darah menunjukkan adanya perfusi
jaringan yang tidak adekuat yang menyebabkan asidosis laktat, maka harus dilakukan
pemantauan hemodinamik dan titrasi cairan resusitasi/jam jika diperlukan, sampai
tercapai target ​Urine Output ​(UO) harus dipertahankan dalam level 0.5-1.0
ml/kgBB/jam pada dewasa dan 1.0-1.5 ml/kgBB/jam pada anak.
Hemoglobinuria: kerusakan jaringan otot akibat termal trauma listrik tegangan tinggi,
iskemia menyebabkan terlepasnya mioglobin dan hemoglobin. Urine yang
mengandung hemochromogen ini berupa warna merah gelap. Gagal ginjal akut,
merupakan kondisi yang sangat mungkin ditemui karena penimbunan deposit
hemochromogen ​di tubulus proksimal dan dibutuhkan terapi yang sesuai yaitu:
1) Penambahan cairan hingga produksi urin mencapai 2ml/Kg/jam
2) Dianjurkan pemberian manitol 12,5 g dosis tunggal selama 1 jam/L bila tidak
tercapai produksi urin 2cc/kgBB/jam meskipun sudah ditambahkan titrasinya.
27
7. Perawatan luka pada luka bakar​ 1​
Salah satu manajemen luka bakar adalah penggunaan balutan atau ​wound dressing​.
Pemilihan pembalut luka (​dressing​) harus menyerupai fungsi normal kulit yaitu
sebagai proteksi, menghindari eksudat, mengurangi nyeri lokal, respon psikologis
baik, dan mempertahankan kelembaban dan menghangatkan guna mendukung proses
penyembuhan. Penutupan luka dengan kasa berparafin / vaselin sebagai dressing
primer atau dressing yang langsung bersentuhan dengan luka. Ditutup dengan kasa
berlapis tanpa menimbulkan gangguan sirkulasi perifer sebagai dressing sekunder,
lalu ditutup dengan elastic perban sebagai dressing tersier.
Kekurangan dari pembalut luka tradisional (kasa berparafin) adalah adhesi dan
oklusi, sakit pada saat ganti balutan, dan penumbuhan bakteri. Sedangkan pembalut
luka modern seperti ​Transparent Film Dressing ​(Cling Film), ​Foam Dressing​,
Hydrogel, dan yang terbaru Nano Crystalline Silver, memiliki kelebihan mudah
dipakai, tidak nyeri saat diganti, ​bacterial barrier​, lembab dan hangat, dan membantu
proses penyembuhan luka. Berdasarkan berbagai literatur, balutan / ​dressing ​yang
paling ideal untuk pasien luka bakar belum ditemukan.
Kriteria Ideal Dressing Luka Bakar berdasarkan Balutan untuk luka bakar
dangkal (derajat 2A) dapat menggunakan film dressing, karena dapat menutup area
yang luas, mudah untuk memonitor kedalaman luka (transparan) tanpa harus buka
balutan, tidak nyeri pada waktu penggantian balutan.
Untuk luka bakar dalam (derajat 2B) dapat menggunakan kasa berparafit atau
salep antibiotik seperti Silver Sulfadiazin krim, atau yang sesuai dengan pola kuman
seperti gentamisin krim untuk pseudomonas dan mupirocin salep untuk MRSA.
Bentuk yang lebih praktis adalah nanocrystal silver untuk luka bakar dalam derajat 2B
dan 3 dengan eskar yang tipis karena kemampuannya untuk membunuh bakteri yang
luas dan menembus eskar.
Untuk luka bakar derajat 3 dengan eskar yang tebal kami selalu lakukan
eskarotomi dini, karena dibawah eskar terdapat kolonisasi bakteri dan eskar itu sendiri
memicu inflamasi berlebihan. Eskarotomi dini terbukti menurunkan angka kematian.
28
Tabel 4: Kriteria Penggantian Balutan
Pembersihan luka pada trauma luka bakar juga merupakan salah satu langkah
terpenting untuk manajemen dan pencegahan infeksi pada luka serta membantu untuk
memulai proses penyembuhan luka. Pada luka bakar yang bersih (kebanyakan luka
bakar bersih). Pembersihan harus dilakukan selembut mungkin untuk menghindari
cedera lapisan bawah epidermis, yang bertanggung jawab untuk regenerasi dan
penyembuhan luka. Sedangkan untuk luka yang terkontaminasi atau terinfeksi,
pembersihan harus dilakukan secara agresif, menyeluruh, dan sesering mungkin untuk
menghilangkan biofilm yang terdapat pada luka. Namun, dalam beberapa kasus,
ketika biofilm tidak menanggapi irigasi, eksisi bedah dengan ​debridement ​disarankan
untuk mencegah terjadinya infeksi yang diinduksi oleh biofilm. Hanya jaringan yang
mati dan ​tight debris ​yang dibuang saat prosedur STSG, kemudian irigasi dilakukan
kembali selama beberapa hari dan dinilai ulang untuk kemungkinan ​debridement l​ ebih
lanjut.
Penggunaan air keran biasa aman dan efektif untuk melakukan pembersihan dan
irigasi luka baka. Namun, penelitian juga menemukan bahwa ​saline ​lebih bermanfaat
dibandingkan air keran dalam prosedur irigasi luka bakar. Akan tetapi jenis cairan
apapun dapat digunakan untuk pembersihan luka selama cairan tersebut steril atau
mempunyai sedikit dekontaminasi. Irigasi cairan pada luka bakar harus dilakukan
secara rutin. Pada luka bakar yang terinfeksi dengan biofilm yang terlihat jelas,
penggunaan antiseptik/ antimikrobials dapat digunakan topikal, setelah irigasi
29
dilakukan untuk menyerang bakteri dan organisme yang muncul setelah proses
pembersihan luka. Antiseptik dan antimicrobial juga dapat digunakan sebagai agen
dekontaminasi setelah ​debridement ​untuk mencegah terbentuknya saluran untuk
bakteri masuk ke peredaran darah.
Kontrol Infeksi
Infeksi pada pasien luka bakar adalah salah satu penyebab terbesar mortalitas dan
morbiditas pada pasien. Terdapat berbagai macam teknik telah diaplikasikan untuk
mengurangi resiko infeksi pada pasien luka bakar. Salah satu cara dalam mencegah
terjadinya infeksi adalah melakukan eksisi yang dini, ​skin graft d​ an penggunaan
antibiotik sistemik, terutama pada pasien luka bakar dengan kedalaman ​deep-dermal
(25). Eksisi tangensial dan ​split thickness skin graft (​ STSG) dini dapat menurunkan
inflamasi, infeksi, kolonisasi kuman, dan sepsis, mempercepat penyembuhan luka,
menurunkan lama rawat.
Pembedahan dini pada luka bakar bertujuan untuk ​life saving, limb saving a​ tau
sebagai upaya mengurangi penyulit sehubungan dengan dampak yang bisa timbul
akibat masih adanya jaringan nekrotik yang melekat pada bagian tubuh yang terbakar
dan juga kaitannya dengan proses penyembuhan luka. Pertimbangan lain dilakukan
dini karena kondisi pasien masih relatif baik dan risiko yang relatif lebih kecil
dibandingkan bila ditunda dimana sudah terjadi penyulit yang kompleks. Janzekovic
1970 melaporkan hasil yang baik menggunakan konsep pembedahan dini berupa
eksisi eschar dan penutupan luka dengan ​skin grafting ​pada berbagai variasi
kedalaman. Eksisi dini dan grafting menurunkan insiden sepsis, menurunkan
mortalitas dan menurunkan lama perawatan pada pasien luka bakar.
Rehabilitasi​1
Luka bakar dapat mencetuskan berbagai masalah seperti nyeri, keterbatasan lingkup
gerak sendi, atrofi, kelemahan otot, kontraktur, perubahan penampilan, gangguan
Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS), gangguan ambulasi, parut hipertrofik, dan
masalah psikososial, yang apabila tidak tertangani dengan baik dapat mengakibatkan
30
disabilitas. Tata laksana Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR) pada luka bakar
bertujuan untuk mencapai pemulihan fungsional semaksimal mungkin, mencegah
disabilitas sekunder dan alih fungsi atau adaptasi fungsi pada disabilitas permanen.
Penentuan target tata laksana KFR ditentukan berdasarkan ekstensifikasi dan derajat
berat luka bakar meliputi kedalaman luka di tingkat kutan dan subkutan, kedalaman
luka di tingkat otot dan tendon dengan prognosis pemulihan baik serta kedalaman
luka di tingkat otot dan tendon dengan prognosis pemulihan buruk. 1​
Fokus dalam program tata laksana KFR pada luka bakar ​:
a. Atrofi otot dan berkurangnya kekuatan, ketahanan, keseimbangan dan koordinasi
otot akibat imobilisasi.
b. Berkurangnya Lingkup Gerak Sendi (LGS) akibat deposisi jaringan fibrosa dan
adhesi jaringan lunak di sekitar sendi akibat imobilisasi.
c. Ankilosis dan deformitas akibat parut hipertrofik atau kontraksi jaringan lunak
seperti jaringan parut, tendon, kapsul sendi dan otot akibat imobilisasi.
d. Rekondisi kardiorespirasi, pneumonia hipostatik, trombosis vena dalam (DVT)
dan ulkus dekubitus akibat imobilisasi.
e. Terapi adjuvan untuk membantu penyembuhan luka bakar, kontrol infeksi luka
dan edema ekstremitas.
f. Terapi adjuvan untuk memperbaiki gejala akibat jaringan parut dan luka seperti
parestesia dan nyeri.
g. Penurunan kemampuan dalam melakukan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari
(AKS), belajar dan bekerja akibat luka bakar
h. Tindak lanjut dalam pelayanan rawat jalan setelah pasien keluar dari rumah sakit.
Tabel 5 : Tindakan Pencegahan Kontraktur Pasca Luka Bakar
Bagian Tubuh Kontraktur
yang umum
Posisi yang
disarankan
31
Alat bantuan untuk
pengaturan posisi
Leher
terjadi
Fleksi
Bahu
Aduksi
Siku
Fleksi atau
Ekstensi
Sedikit ekstensi
• Aduksi horisontal 15°
• ​abduksi 80°
Ekstensi 5 derajat
Neck collar, splint ​yang
bentuknya sesuai
(​conform)​ dengan leher,
tidak menaruh bantal di
bawah leher
Airplane splint
Wedge splint ​untuk
membantu memposisikan
dalam kondisi abduksi
Jika seluruh ekstremitas
atas terkena dapat
dibantu dengan alat
berikut untuk menahan
ekstremitas atas:
-meja di samping tempat
tidur
- Side board/bedside
extension
Arm Trough Splint
Elbow EXtension Splint
Pergalangan Fleuksi atau
tangan (Wrist) ektensi dorsal
Netral atau sedikit
ekstensi
Sendi
Hiperekstensi
Metakarpofala
ngeal (MCP)
Fleksi 70-80 derajat Resting hand Splint
Sendi
interfalangeal
(IP)
Ekstensi Penuh
Fleksi
32
Wrist Cock Up Splint
Bagian dari resting hand
splint
Resting Hand Splint
Panggul
Fleksi
Ekstensi Netral
Abduksi 20 derajat
Strap lebar yang
lunak/lembut untuk
menghindari posisi ​frog
leg​ terutama pada anak anak
Lutut
Fleksi
Ekstensi
Knee extension splint,
immobilizer
Pergelangan
kaki
Plantarfleksi
90 derajat
Posterios slab (back slab),
Posisi netral
dengan ankle pada posisi
Dorsifleksi
netral,
Plantarfleksi inversi
Sendi
metatarsofala
ngeal
Dorsifleksi
Netral, ekstensi jari
jari kaki,
supinasi/pronasi
Mulut
Microstomia
Nostril
Stenosis nares
anterior
Splint Mulut
G. PROGNOSIS
Oleh karena begitu lama dan panjangnya perawatan pada pasien luka bakar di seluruh
unit luka bakar, penentuan prognosis mortalitas pada pasien luka bakar sangatlah
penting untuk memprediksi hasil dari perawatan luka bakar tersebut. Terdapat hingga
45 macam model yang dapat digunakan untuk memprediksi mortalitas dari pasien
luka bakar. Salah satu model yang paling sering digunakan adalah ABSI ​(abbreviated
burn severity index)​.
33
Tabel 6: ABSI
BAB IV
ANALISIS KASUS
Berdasarkan kasus yang sudah dipaparkan dan dasar teori yang ada dapat dilihat
bahwa
Kasus kali ini mengenai pasien sejalan dengan dasar teori yang menyatakan bahwa
penyebab luka bakar tersering pada anak kecil adalah luka bakar akibat air panas
(52%). Pada kasus kali ini, pasien mengalami luka bakar akibat air panas
34
Diagnosis kerja pada kasus ini adalah luka bakar grade IIA (Kedalaman Mid, bagian
superficial) dengan TBSA 10%. Berdasarkan dasar teori yang sudah disampaikan,
gejala dan tanda yang ada pasien, benar bahwa kedalaman luka bakar adalah IIA
(adanya bula kecil, dasar luka merah muda, dan sensoris rasa nyeri yang masih baik).
IIA di sini merujuk pada luka bakar dengan kedalaman superfisial dermal. Untuk
pengukuran TBSA pada pasien kurang lebih sudah tepat bila dibandingkan dengan
pengukuran luas luka bakar pada anak menurut WHO (10% pada wajah, pada dada
dan lengan pasien luka cukup kecil, jadi bisa diabaikan).
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien adalah
- Debridement lokal, buang kulit yang terkelupas. Bersihkan jejas dengan
NaCl steril lalu tutup dengan sufratul + kassa lembab. Ganti balut kassa dan
sufratul setiap 2 hari.
- Posisikan leher ekstensi agar tidak terjadi kontraktur
- Observasi jalan nafas, pastikan tidak ada edem laring
- Resusitasi cairan dengan D5 1/4 NS sebanyak 630 cc pada 8 jam pertama
dan 630 cc pada 16 jam selanjutnya. Pada hari selanjutnya 806 cc/24 jam.
- Injeksi Ceftriaxone 2x420 mg iv.
Berdasarkan teori:
- Tindakan debridement sudah benar untuk dilakukan demi mengurangi
kemungkinan infeksi dan terjadinya kontraktur
- Memposisikan leher pada posisi ekstensi sudah benar untuk mencegah
kontraktur pada leher. Berdasarkan teori dapat ditambahkan splint pada
mulut pasien agar tidak terjadi microstomia
- Memastikan bahwa tidak ada edem pada jalur nafas pasien seharusnya
dilakukan paling awal. Saat pasien datang seharusnya dilakukan tindakan
primary survery dan secondary survey secara menyeluruh terlebih dahulu
35
-Pemberian resusitasi cairan dan cairan rumatan pada anak dengan luka bakar
menggunakan rumus Parkland juga ditambah dengan cairan rumatan
berdasarkan holiday segar.
Parkland formula didapat sebesar : 8,4 kg x 3-4ml x 10% = 252 cc - 336
cc
Holiday Segar formula didapat sebesar : 100ml/kg/hari x 8,4 = 840 cc
Setelah dijumlah, jumlah cairan ini dibagi dua, sebagian untuk 8 jam
pertama, lalu yang kedua untuk 16 jam seterusnya.
Pemberian cairan untuk 8 jam pertama = (840cc + 336cc)/2 = 588 cc untuk
8 jam pertama.
Pada anak - anak disarankan juga untuk memberikan glukosa per iv.
Sedangkan pada orang dewasa pemberian RL lebih dianjurkan
Pada pasien ini diiberika D5 1/4 NS sebanyak 630 cc pada 8 jam pertama,
dan 630 cc pada 16 jam selanjutnya. Dan rumatan 806 cc / hari keesokan
harinya. Hal ini tidak jauh berbeda dari perhitungan berdasarkan dasar teori
yang sudah diberikan pada laporan kasus ini. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa pemberian cairan pada kasus ini sudah tepat.
-Injeksi antibiotik broad spectrum pada pasien dengan luka bakar juga
disarankan untuk mencegah infeksi. Pada luka bakar dengan kedalaman sampai
deep juga disarankan untuk skin graft tetapi pasien hanya mengalami luka
bakar yang bersifat superfisial. Sehingga tindakan pemberian antibiotik sudah
tepat untuk dilakukan dan tidak memerlukan skin graft.
36
37
DAFTAR PUSTAKA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/555/2019 TENTANG
PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TENTANG
TATALAKSANA
LUKA
BAKAR.
http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/KMK_No__HK_01
_07-MENKES-555-2019_ttg_Pedoman_Nasional_Pelayanan_Kedokteran
_Tata_Laksana_Luka_Bakar.pdf diakses 29 Juni 2020, 2.38
WHO.
6
Maret
2018.
Burns.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/burns diakses 29
Juni 2020, 3.00
Marlina.
2018.
Luka
Bakar
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_K
ELUARGA/195902031986032-MARLINA/BU_112_Dasar_Rias/Bahan_
ajar_3_Dasar_Rias.pdf​ Diakses 30 Juni 2020, 08.00
NN.
2017.
Laporan
Kasus
Luka
Bakar.
http://eprints.umm.ac.id/45567/3/BAB%20II.pdf . Diakses 30 Juni
2020, 09.00
WHO. 2016. Luka Bakar in "Buku Saku Kesehatan Anak di Rumah
Sakit". ​https://www.ichrc.org/931-luka-bakar . Diakses 1 Juli 2020,
08.00.
KEMENKES.
2019. ​KEPUTUSAN
38
Download