Uploaded by User76547

Print dietetika

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
DIETETIKA PENYAKIT MENULAR
KASUS PENYAKIT SALURAN CERNA BAWAH
Dosen Pengampuh :
Agatha Widiyawati, S.ST,M.Gizi
Oleh :
Golongan/Kelompok : A/3
1. Nova Auliyatul F.
(G42170270)
2. Ulfia Madinah
(G42170296)
3. Sekar Alaya R. P.
(G42170318)
4. Aliffia Rachman P.
(G42170324)
5. Ani Nur Sa’ida
(G42170326)
6. Rindang Riris Irianik
(G42170348)
7. Alivia Hania Syah P.
(G42170374)
8. Dwike Widiyowati
(G42170393)
PROGRAM STUDI GIZI KLINIK
JURUSAN KESEHATAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2018
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................... Ошибка! Закладка не определена.
BAB I ...................................................................................................................... 2
PENDAHULUAN .................................................................................................. 2
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 2
1.2 Tujuan ............................................................................................................ 2
1.3 Manfaat .......................................................................................................... 3
BAB II ..................................................................................................................... 4
TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 4
2.1 Definisi Diet .................................................................................................. 4
2.2 Diet Saluran Pencernaan ............................................................................... 4
2.3 Definisi Penyakit Usus Buntu ....................................................................... 5
2.4 Diet Penyakit Usus Inflamatorik (Inflammatory Bowel Disease) ................ 5
BAB III ................................................................................................................... 7
METODOLOGI PRAKTIKUM ............................................................................. 7
3.1 Waktu dan Tempat ........................................................................................ 7
3.2 Alat dan Bahan .............................................................................................. 7
3.3 Prosedur Kerja ............................................................................................... 9
BAB IV ................................................................................................................. 12
HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................. 12
4.1 Hasil............................................................................................................. 12
4.2 Pembahasan ................................................................................................. 14
BAB V................................................................................................................... 21
PENUTUP ............................................................................................................. 21
5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 21
5.2 Saran ............................................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 22
LAMPIRAN .......................................................................................................... 23
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit usus inflamatorik (usus buntu) adalah saluran usus yang
terjadinya pembusukan dan menonjol dari bagian awal usus besar atau seku.
Penyakit usus inflamatorik timbul ketika usus buntu tersumbat benda keras di
dalam tinja atau bengkaknya cabang kelenjar getah bening, apabila tidak ditangani
secara serius maka hal tersebut dapat memperburuk kondisi penderita.
(Sjamsuhidajat. Wim de jong. 2005). Gejala usus inflamatorik umumnya
mengalami sakit perut, terutama dimulai di sekitar pusar dan bergerak kesamping
kanan bawah, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, serta diare.
(Sjamsuhidajat. Wim de jong. 2005. ). Peradangan atau pembengkakaan yang
terjadi pada usus buntu menyebabkan aliran cairan limfe dan darah tidak
sempurna pada usus buntu (appendiks) akibat adanya tekanan.
Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang mudah
dikunyah, ditelan dan dicerna, makanan ini cukup kalori, protein dan zat-zat gizi
lainnya. Menurut keadaan penyakitnya makanan lunak dapat diberikan langsung
kepada pasien atau sebagai perpindahan dari makanan saring ke makanan biasa.
Makanan lunak diberikan kepada pasien sesudah operasi tertentu, pasien dengan
penyakit infeksi dengan kenaikan suhu tubuh tidak terlalu tinggi (Almatsier,
2004). Dari latar belakang di atas praktikum ini dilaksanan untuk mengetahui
contoh makanan lunak yang diberikan kepada pasien yang mempunyai penyakit
usus inflamatorik (usus buntu).
1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Mengenali contoh makanan lunak yang diberikan kepada pasien yang
mempunyai penyakit usus inflamatorik (usus buntu)
2. Mengetahui bahan dan cara memasak contoh makanan lunak
3. Mengetahui tingkat kesukaan makanan lunak dengan cara memberikan
skor nilai 1-5
2
1.3 Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah :
1. Mahasiswa dapat mengetahui contoh makanan lunak yang diberikan
kepada pasien yang mempunyai penyakit usus inflamatorik (usus buntu)
2. Mahasiswa dapat mengetahui bahan dan cara memasak makanan lunak
3. Mahasiswa dapat mengetahui tingkat kesukaan makanan lunak dengan
pemberian skor nilai 1-5
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Diet
Menurut istilah, diet memiliki arti sebagai jumlah makanan yang
dikonsumsi oleh seseorang. Di Indonesia, penggunaan istilah diet lebih
menunjukkan pada usaha menurunkan berat badan atau mengatur asupan nutrisi.
Definisi diet menurut para ahli :
1. Muda (2003)
Diet merupakan aturan amakan khusus untuk kesehatan dan sebagainya (
biasanya atas petunjuk dokter atau ahli gizi), membatasi atau berpantang diri
terhadap makanan tertentu untuk kesehatan, mengatur kuantitas dan jenis
makanan untuk mengurangi berat badan atau karena penyakit.
2. Kim dan lemon (2006)
Diet adalah pengurangan kalori untuk mengurangi berat badan.
3. Hawks (2008)
Diet merupakan usaha sadar seseorang dalam membatasi dan mengontrol
makanan yanag akan dimakan dengan tujuan mengurangi dan mempertahankan
beart badan.
2.2 Diet Saluran Pencernaan
Sistem pencernaan atau sistem gastrointestinal adalah sistem organ dalam
manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya, menyerap zatzat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat
dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus halus,
usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang
terletak diluar saluran pencernaan yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
Diet saluran cerna merupakan diet yang dilakukan saat seseorang
mengalami gangguan pada saluran pencernaan. Penderita dapat mengalami
gangguan pencernaan walaupun penyebab dan mekanisme terjadinya gangguan
tersebut secara pasti belum diketahui secara pasti, namun gangguan tersebut
sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis.
4
2.3 Definisi Penyakit Usus Buntu
Penyakit usus buntu adalah saluran usus yang terjadinya pembusukan dan
menonjol dari bagian awal usus besar atau seku. Penyakit usus buntu timbul
ketika usus buntu tersumbat benda keras di dalam tinja atau bengkaknya cabang
kelenjar getah bening, apabila tidak ditangani dengan cepat maka hal tersebut
dapat memperburuk kondisi penderita. (Sjamsuhidajat. Wim de jong. 2005).
Penyakit usus buntu terdapat di seluruh dunia dan dapat menyerang pria
maupun wanita. Penyakit usus buntu disebabkan oleh bakteri dan makan cabai
atau jambu klutuk beserta bijinya sering kali tak tercerna dalam tinja dan
menyelinap kesaluran appendiks sebagai benda asing. Gejala usus buntu
umumnya mengalami sakit perut, terutama dimulai di sekitar pusar dan bergerak
kesamping kanan bawah, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, serta diare.
(Sjamsuhidajat. Wim de jong. 2005. ).
Seseorang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), apabila cacing
yang beternak didalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu maka dapat
menimbulkan penyakit radang usus buntu. Peradangan atau pembengkakaan yang
terjadi pada usus buntu menyebabkan aliran cairan limfe dan darah tidak
sempurna pada usus buntu (appendiks) akibat adanya tekanan, akhirnya
menyebabkan usus buntu mengalami kerusakan dan terjadi pembusukan (gangren)
karena sudah tak mendapatkan makanan lagi. (Sjamsuhidajat. Wim de jong.
2005.).
2.4 Diet Penyakit Usus Inflamatorik (Inflammatory Bowel Disease)
Penyakit usus inflamatorik adalah peradangan terutama pada ileum dan
usus besar dengan gejala diare, disertai darah, lendir, nyeri abdomen, berat badan
berkurang, demam dan kemungkinan terjadi streatorea (adanya lemak dalam
feses). Penyakit ini dapat berupa Kolitis Ulseratif dan Chron’s Disease.
Tujuan diet penyakit inflamatorik adalah:
1) Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
2) Mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi kurang.
5
3) Mencegah iritasi dan inflamasi lebih lanjut.
4) Mengistirahatkan usus pada masa akut.
Syarat-syarat diet penyakit usus inflamatorik adalah:
1) Pada feses akut dipuasakan dan diberi makanan secara parenteral saja.
2) Bila fase akut teratasi, pasien diberi makanan secara bertahap, mulai dari
bentuk cair (peroral maupun enteral),
kemudian meningkat menjadi siet
sisa rendah dan serat rendah.
3) Bila gejal ahilang dapat diberikan makanan biasa.
4) Kebutuhan gizi, yaitu :

Energi dan protein tinggi.

Suplemen vitamin dan mineral antara lain vitamin A, C, D asm
folat, vitamin B12, kalsium, zat besi, magnesium dan seng.
5) Makanan enteral rendah atau bebas laktosa dan mengandung asam lemak
rantai sedang (medium chain trygliceride = MTC) dapat diberikan karena
sering terjadi intoleransi laktosa dan malabsorpsi lemak.
6) Cukup cairan dan elektrolit.
7) Menghindari makanan yang mengandung gas.
8) Makanan rendah sisa rdan secara bertahap kembali ke makanan biasa
6
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Hari
: Selasa
Tanggal
: 02 April 2019
Pukul
: 013.00 WIB – Selesai
Tempat
: Laboratorium Pengolahan Pangan, Jurusan Kesehatan, Politeknik
Negeri Jember
3.2 Alat dan Bahan
A. Alat

Sendok makan

Piring saji

Pisau

Mangkuk saji

Talenan

Cobekulekan

Baskom

Wajan

Piring plastik

1 set kompor
B. Bahan
Masakan
Bahan
Nasi Tim dan Corn Fish Soup
200 g nasi tim
100 g ikan bandeng
100 g jagung muda
1 sdm minyak kelapa sawit
2 siung bawang merah
3 siung bawang putih
1 buah bawang prei
Garam
Lada
Bubur dan Soup Ikan Tongkol
900 g bubur
30 g ikan tongkol
1 sdm minyak kelapa sawit
7
Tomat sayur
2 siung bawang merah
3 siung bawang putih
Setengah ruas jahe
1 bawang prei
Serai
1sdt air jeruk nipis
Garam
Lada
Bola Bola Tahu Kukus
100 g tahu
30 g wortel
2 siung bawang putih
I bawang prei
1 buah serai
3 helai daun salam
Garam
Lada
Minyak goreng
8
3.3 Prosedur Kerja
A. Pembuatan Corn-Fish Soup
Persiapan alat dan bahan
Pencucian, pembersihan, dan penimbangan bahan
Penghalusan bumbu (bawang putih, bawang merah)
Pemasakan bumbu hingga harum dan penambahan 200 ml air
Pemasakan bahan utama (ikan bandeng dan jagung muda)
Penambahan garam dan lada secukupnya
Pengadukan makanan dan pemasakan hingga matang
Peletakan makanan pada piring saji
9
B. Pembuatan Sup Ikan Tongkol
Persiapan alat dan bahan
Pencucian, pembersihan, dan penimbangan bahan
Penghalusan bumbu (bawang putih, bawang merah)
Pemasakan bumbu hingga harum dan penambahan 200 ml air
Pemasakan bahan utama (ikan tongkol)
Penambahan 1 sdt air jeruk nipis, garam dan lada secukupnya
Pengadukan makanan dan pemasakan hingga matang
Peletakan makanan pada piring saji
10
C. Pembuatan Bola Bola Tahu Kukus
Persiapan alat dan bahan
Pencucian, pembersihan, dan penimbangan bahan
Penghalusan bumbu dan tahu
Pemotongan wortel ke dalam bentuk dadu kecil
Pengadukan bahan hingga merata
Pembentukan bahan menjadi bola-bola
Pemasukan bola-bola tahu ke dalam daun pisang, dan
penambahan daun salam dan irisan serai
Pengukusan bola-bola tahu hingga matang
Peletakan pada piring saji
11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
A. Uji Organoleptik
Skor nilai berdasarkan tingkat kesukaan :
Tidak suka
: skor 1
Agak suka
: skor 2
Suka
: skor 3
Sangat suka
: skor 4
Amat sangat suka : skor 5
 Kasus 1
Menu makan malam : Bubur + soup ikan tongkol
a. Kelompok 1
Nama
Fairus A.
Dewi A.
Retno H.
Ainur R.
Della K.
Rizkia N.
Amalina A.
Emilda R.D
Rata-Rata
Warna/tampilan
4
3
3
2
2
1
3
2
3
b. Kelompok 2
Nama
Warna/tampilan
Vira F.
4
Nur Aini
4
Ninis L.
3
Sheila E.P
3
Azmi H.
3
Nurun Qur’Ani
3
Meilda Afriani
3
Rata-Rata
3
12
Rasa
1
2
2
1
1
2
1
2
4
Rasa
3
3
3
3
3
3
3
3
Aroma
3
3
3
3
3
3
3
3
3
Aroma
3
3
2
3
3
3
3
3
Tekstur
2
1
1
2
1
1
2
1
4
Tekstur
3
3
3
3
2
3
3
3
c. Kelompok 3
Nama
Warna/tampilan
Nova A.F
3
Ulfia M.
3
Sekar Alaya
3
Aliffia R.P
2
Ani Nur
2
Rindang R.I
2
Alivia H.S
2
Dwike W.
3
Rata-Rata
4
d. Kelompok 4
Rasa
3
3
3
3
3
3
3
3
3
Aroma
2
2
3
3
3
3
2
3
3
Tekstur
2
2
3
3
2
2
2
3
2
Nama
Aisha R.T
Nyimas Ayu
Nindi Juniar
Adestya L.
Karina Putri
Athiyatul K.
Vindi Atikatus
Ella Dwi Y.
Rata-Rata
Rasa
3
3
2
3
2
2
3
2
3
Aroma
3
2
2
3
3
1
2
3
3
Tekstur
3
3
2
3
3
2
2
2
3
Warna/tampilan
3
2
3
3
3
2
2
3
3
 Kasus 2
Menu makan malam : nasi tim + soup ikan bandeng jagung muda
a. Kelompok 1
Nama
Warna/tampilan
Fairus A.
3
Dewi A.
2
Retno H.
2
Ainur R.
2
Della K.
3
Rizkia N.
3
Amalina A.
3
Emilda R.D
2
Rata-Rata
3
13
Rasa
3
3
3
2
2
3
3
3
3
Aroma
2
3
1
2
3
3
2
2
3
Tekstur
2
2
2
3
3
3
2
2
2
b. Kelompok 2
Nama
Warna/tampilan
3
3
3
3
4
4
3
3
Rasa
3
3
3
2
3
4
4
3
Aroma
2
3
3
2
3
3
3
3
Tekstur
4
3
3
3
3
3
3
3
Nama
Warna/tampilan
Nova A.F
3
Ulfia M.
3
Sekar Alaya
3
Aliffia R.P
3
Ani Nur
4
Rindang R.I
3
Alivia H.S
3
Dwike W.
3
Rata-Rata
4
d. Kelompok 4
Rasa
3
2
3
3
3
2
3
3
3
Aroma
3
3
3
3
4
3
4
3
3
Tekstur
3
3
3
3
3
3
3
3
3
Rasa
2
3
3
2
2
3
3
3
3
Aroma
3
2
3
3
3
2
2
3
3
Tekstur
2
1
3
3
3
2
3
3
3
Vira F.
Nur Aini
Ninis L.
Sheila E.P
Azmi H.
Nurun Qur’Ani
Meilda Afriani
Rata-Rata
c. Kelompok 3
Nama
Aisha R.T
Nyimas Ayu
Nindi Juniar
Adestya L.
Karina Putri
Athiyatul K.
Vindi Atikatus
Ella Dwi Y.
Rata-Rata
4.2 Pembahasan
Warna/tampilan
3
3
3
2
1
2
3
3
3
Pada praktikum ini, dilakukan pengolahan menu makan dalam satu hari
untuk pasien dengan diagnose penyakit usus inflamatorik. Dalam satu golongan,
kami mengolah menu sehari dari 2 kasus dengan pasien yang berbeda dan menu
yang berbeda.
14
a) Kasus 1
1. Makan Pagi (Bubur sayur tahu telur)
Secara keseluruhan tampilan, rasa, aroma dan tekstur untuk menu ini
mendapatkan nilai 2 yang artiya, rata-rata panelis tidak menyukai menu ini.
Tampilan dari menu ini kurang menarik, potongan dari sayur beluntas kurang
terlihat rapi, namun penggunaan alat penyajiannya sudah sangat sesuai. Rasa dari
sayur beluntas sangat tidak enak, pahit dan sangat asin. Rasa asin disesbabkan
oleh penggunaan garam yang terlalu banyak untuk menghilangkan rasa pahit dari
sayur beluntas. Hal ini, dapat diatasi dengan mengganti sayur beluntas dengan
sayuran lainnya. Aroma yang ditimbulkan oleh sayur beluntas dalam menu ini
juga tidak nyaman. Sedangkan untuk tekstur dari bubur, tahu dan telur dalam
menu ini sudah cocok untuk menu makanan lunak.
2. Selingan Pagi (Degan susu)
Keseluruhan penilaian terhadap tampilan, rasa, aroma dan tekstur dari
menu ini ialah 2 yang berarti bahwa rata-rata panelis tidak menyukainya. tampilan
dari minuman ini sangat kurang menarik, karena tidak terdapat garnish yang dapat
menarik perhatian panelis, rasa dari minuman ini sedikit hambar dan tidak ada
sensasi kesegaran saat dikonsumsi. Hal tersebut dapat diperbaiki dengan diberikan
penambahan gula atau madu dan jeruk nipis serta disajikan dalam kondisi dingin.
Untuk aroma dari degan kurang kuat dan lebih dominan terhadap aroma susu.
Selain itu, tekstur dari minuman ini sangat encer dan kurang sesuai dengan selera
dari rata-rata panelis.
3. Makan Siang (Nasi tim, sup daging sapi)
Penilaian terhadap tampilan, rasa, aroma dan tekstur dari menu ini masingmasing ialah 3 yang artinya biasa saja. Tampilan pada menu ini sudah cukup
menarik, alat penyajian yang digunakan sudah sesuai, sup daging sapi disajikan
menggunakan mangkuk kecil sedangkan nasi tim disajikan menggunakan piring
saji dengan garnish berupa daun seledri. Tetapi, sebaiknya daun seledri tersebut
digunakan dalam bentuk potongan-potongan halus sehingga lebih cocok untuk
15
menu makanan lunak. Untuk rasa nasi tim dari menu ini sedikit hambar, namun
rasa gurih dari sup daging membuat menu ini enak saat dikonsumsi. Aroma sedap
dari sup daging dan tekstur daging yang sudah sesuai (tidak keras) dapat diterima
dengan baik oleh panelis. Daging dalam menu ini diolah dengan teknik
pemotongan bentuk cincang, sehingga cocok dan sesuai dengan syarat diet
makanan lunak (Almatsier, 2004).
4. Selingan Siang (buah potong)
Secara keseluruhan tampilan, rasa, aroma dan tekstur dari menu ini
memiliki nilai 3 yang artinya rata-rata panelis menilai biasa saja. Menu ini
disajikan menggunakan piring, terdiri dari buah salak dan buah melon dengan
potongan yang besar dan terkesan biasa saja. Selain itu, porsi dari menu selingan
ini juga terlalu besar (banyak). Sedangkan menurut Almatsier (2004), salah satu
syarat diet makanan lunak ialah makanan diberikan dalam porsi sedang. Menu ini
juga kurang cocok diberikan kepada pasien penderita usus inflamatorik, menu
selingan ini dapat disajikan dalam bentuk jus untuk menyesuaikan dengan
keadaan pasien yang dilakukan diet dengan bentuk makanan lunak. Rasa, aroma
dan tekstur menu ini sama dengan buah salak dan melon pada umumnya. Untuk
meningkatkan selera konsumen, menu ini dapat diinovasi dengan menambahkan
susu, keju ataupun madu. Sehingga konsumen tertarik untuk mengkonsumsinya.
5. Makan Malam (Nasi tim dengan sup ikan bandeng dan jagung muda)
Tampilan dalam menu ini meliki nilai 3 (biasa saja) karena ikan dalam
menu ini terlihat tidak segar. Hal tersebut disebabkan pemilihan bahan yang
kurang baik sehingga mempengaruhi tampilan dari makanan ketika dimasak. Dari
segi rasa, aroma dan tekstur menu ini memiliki nilai 3 (biasa saja), dalam menu ini
penggunaan bumbu terlalu berlebihan sehingga menimbulkan rasa yang kurang
enak dan menimbulkan aroma yang lebih menyengat. Hal tersebut tidak sesuai
dengan syarat makanan lunak yang harus diberikan dengan tidak mengandung
bumbu yang tajam (Almatsier, 2004). Sedangkan pada teksturnya ikan dalam
menu ini memiliki tingkat kematangan yang kurang merata dan tekstur yang
kurang menarik (agak hancur). Hal tersebut dikarenakan keterbatasan alat masak,
16
sehingga digunakan alat masak berupa teflon untuk mengolahnya dan kesalahan
saat pengolahan ialah ikan terlalu sering dibolak-balik. Selain itu, dalam menu ini
penggunaan bahan berupa jagung muda kurang cocok jika digunakan dalam menu
makanan lunak, seharusnya ia menggunakan bahan berupa baby corn. Hal
tersebut disebabkan adanya kesalahan pemahaman pembuat menu dalam
penamaan bahan makanan.
6. Selingan Malam (Sale pisang)
Keseluruhan tampilan, rasa, aroma dan tekstur dari menu ini memiliki nilai
3 yang berarti bahwa rata-rata panelis memberikan nilai biasa saja. Menu selingan
ini disajikan menggunakan piring kecil, memiliki rasa manis sedikit asam, aroma
yang sedikit asam dan tekstur yang keras namun sedikit lunak. secara keseluruhan,
menu ini sama seperti sale pisang pada umumnya. Oleh karena itu, rata-rata
panelis memberikan penilaian biasa saja. Untuk menambah selera makan pasien,
menu ini sebaiknya diinovasi menjadi makanan yang lebih menarik dan lebih
special agar tidak terlihat biasa saja. Menu ini dapat diberikan penambahan bahan
lain seperti keju, roti atau bahan yang lain. Menu ini juga kurang cocok disajikan
kepada pasien dengan diet makanan lunak. Menurut Almatsier (2004), syarat diet
makanan lunak ialah makanan disajikan dalam bentuk cincang atau lunak
sehingga dapat menyesuaikan dengan kemampuan makan pasien.
b) Kasus 2
1. Makan Pagi (Nasi tim, pepes tahu hati ayam dan jus tomat)
Secara keseluruhan dari segi tampilan, rasa, aroma dan tekstur menu ini
mendapatkan nilai 3 yang berarti bahwa rata-rata panelis menilai menu ini biasa
saja. Tampilan pada menu ini sudah cukup menarik, pepes tahu hati ayam
disajikan dengan bentuk potongan serong dan menggunakan piring saji beralas
daun pisang, warna merah dari jus tomat juga menambah kesan indah, tetapi
penggunaan mangkuk untuk menyajikan nasi tim masih kurang tepat. Nasi tim
seharusnya disajikan menggunakan piring saji. Rasa dari pepes tahu hati ayam
sedikit begitu juga dengan rasa dari jus tomat yang sedikit hambar dan asam.
Dapat dikatakan bahwa penggunaan bumbu dalam menu ini kurang diperhatikan.
17
Jus tomat bisa digantikan dengan buah yang lain yang tidak memiliki tingkat
keasaman yang kuat. Selain itu, jus tomat juga dapat ditambahkan madu atau gula
pasir untuk memberikan rasa manis. Kemudian, untuk tekstur dari makanan dan
minuman dalam menu ini sudah sesuai dengan syarat menu makanan lunak yang
akan diberikan pada pasien penderita usus inflamatorik.
2. Selingan Pagi (Puding maizena saus caramel)
Tampilan untuk menu ini mendapatkan nilai 4 yang artinya rata-rata
panelis menyukainya. puding pada menu ini disajikan dengan dicetak berbentuk
bunga dan saus caramel berwarna merah kecoklatan diatasnya, perpaduan bentuk
dan warna dari keduanya membuat menu ini terlihat indah dan menarik. Akan
tetapi, lebih baik saus caramel diberikan saat makanan akan disajikan. Untuk rasa
dari puding maizena ini sangat hambar dan memiliki aroma tepung maizena saja
oleh karena itu,menu ini mendapatkan nilai 3 (biasa saja). Sedangkan teksturnya
mendapatkan nilai 2 yang artinya rata-rata panelis tidak menyukainya karena
puding maizena ini memiliki tekstur agak keras tidak seperti puding pada
umumnya. Hal tersebut dapat disebabkan oleh penggunaan bahan yang tidak
sesuai, dalam menu ini pembuatan puding tidak menggunakan bahan berupa
santan.
3. Makan Siang (Nasi tim, telur wortel tahu bacem)
Menu ini disajikan dengan potongan wortel dan penambahan telur orak
arik sehingga terlihat cukup menarik, tetapi dalam menu ini tahu bacem dan nasi
tim disajikan menggunakan mangkuk kecil, sehingga terlihat kurang cocok. Oleh
karena itu, panelis rata-rata memberikan nilai 3 (biasa saja) untuk tampilan menu
ini dan sebaiknya, nasi tim serta tahu bacem tersebut disajikan menggunakan
piring saji. Untuk rasa, aroma dan tekstur menu ini juga memiliki nilai 3 (biasa
saja), rasa dari menu ini agak hambar, dan terdapat aroma amis dari telur sehingga
saat dikonsumsi sedikit kurang enak. Aroma amis tersebut dapat ditimbulkan
akibat kurangnya tingkat kematangan dari telur orak arik tersebut. Sedangkan
untuk tekstur dari nasi tim beserta lauk lainnya sudah pas untuk menu makanan
18
dalam bentuk lunak yang akan disajikan kepada pasien penderita usus
inflamatorik.
4. Selingan siang (kolak pisang lunak)
Tampilan dan rasa dari kolak pisang mendapatkan nilai 2 yang berarti ratarata panelis tidak menyukainya. Menu ini disajikan menggunakan mangkuk kecil
tanpa penambahan garnish, sehingga menurut sebagian panelis menu ini kurang
menarik dari segi penampilan. Rasa kolak pisang juga kurang manis, dimana
seperti yang banyak diketahui bahwa kolak pisang biasanya memiliki rasa yang
dominan manis. Sedangkan aroma dan teksturnya, menu ini mendapatkan nilai 3
(biasa saja), menu ini memiliki aroma susu yang diperoleh dari penggunaan bahan
berupa susu dan tidak menggunakan santan. Teksturnya lunak dan sudah sangat
cocok untuk disajikan sebagai menu makanan lunak bagi pasien penderita usus
inflamatorik.
5. Makan Malam (Bubur dengan Sup ikan tongkol dan bola-bola tahu)
Dalam menu ini, tingkat kesukaan panelis terhadap tampilannya ialah 3
yang artinya biasa saja. Tomat yang disajikan seharusnya dibuang bijinya selain
itu, ukuran dari bola-bola tahu berbeda-beda sehingga, menurut beberapa panelis
tampilan dari lauk tersebut kurang menarik. Dari segi rasa dan aromanya, menu
ini memiliki nilai 3 (biasa saja), rasa dari lauk dalam menu ini sudah cukup enak
serta memiliki aroma yang sedap dari bumbu dan rempah yang digunakan.
Sedangkan untuk teksturnya, menu ini memiliki nilai 2 yang artinya panelis tidak
menyukainya, hal tersebut dikarenakan tingkat kematangan pada bubur dalam
menu ini masih kurang, sehingga bubur tersebut memiliki tekstur yang kurang
lunak.
6. Selingan Malam (Biscuit dengan Teh manis)
Tampilan pada menu ini memiliki nilai 4 yang berarti bahwa rata-rata
panelis menyukainya. penggunaan alat penyajian sangat sesuai dengan jenis
makanannya. Biscuit disajikan menggunakan piring kecil, ditata rapi dan teh
manis disajikan menggunakan gelas serta memiliki warna yang menarik.
19
sedangkan untuk rasa, aroma dan teksturnya menu ini hanya mendapatkan nilai 3
(biasa saja). Rasa dan aroma dari teh manis sudah pas dan biscuit memiliki rasa
dan aroma yang sama seperti biscuit pada umumnya. Untuk teksturnya, juga sama
seperti the manis dan biscuit pada umumnya, the manis memiliki tekstur yang
encer/cair sedangkan biscuit memiliki tekstur agak keras. Untuk dapat
meningkatkan selera makan dari pasien, biscuit dalam menu ini sebaiknya
diinovasi menjadi menu yang lebih special.
Dari kedua menu sehari tersebut, yang lebih cocok disajikan untuk pasien
penderita usus inflamatorik ialah menu makanan sehari dari kasus 2. Menu yang
disajikan dari kasus 2 masih banyak kesesuaian dengan syarat diet makanan lunak
daripada menu sehari dari kasus 1. Dari keduanya, hal yang perlu diperhatikan
lagi ialah prinsip dan syarat dalam penyajian makanan, yaitu :

Prinsip wadah. Setiap jenis makanan ditempatkan dalam wadah terpisah
dan diusahakan tertutup agar tidak terjadi kontaminasi terhadap makanan,
dan memperpanjang masa saji makanan sesuai dengan tingkat kerawanan
makanan.

Prinsip kadar air. Makanan dengan kadar air yang tinggi disajikan pada
saat menjelang makanan tersebut dihidangkan agar tidak cepat rusak
(basi).

Prinsip edible part. Setiap bahan yang disajikan adalah bahan makanan
yang dapat dimakan.

Prinsip alat bersih. Setiap peralatan yang digunakan harus bersih serta
dalam kondisi yang baik.

Prinsip handling. Setiap penanganan makanan dan alat makan tidak kontak
langsung dengan anggota tubuh pejamah makanan terutama tangan dan
bibir (Siregar, 2016).
Selain itu, hal yang harus diperhatikan dalam membuat menu makanan
lunak ialah teknik pengolahan, teknik pemotongan bahan makanan serta
perhatikan pula pemilihan bahan makanan yang akan diolah (ketahui bahan
makanan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan sesuai kondisi pasien) dan
ketahui dengan benar nama bahan makanan yang akan digunakan.
20
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari beberapa menu yang sudah dibuat, ada beberapa menu yang cocok
dan ada pula yang tidak cocok dengan syarat diet makanan lunak. Menu yang
tidak cocok dengan prinsip syarat diet dikarenakan penggunaan bumbu terlalu
berlebihan, pemilihan bahan makanan yang tidak sesuai dengan syarat diet
makanan lunak, penyajiannya yang kurang menarik dan teknik pengolahannya
yang tidak pas. Sedangkan untuk menu makanan yang sudah pas ialah karena
bahan makanan,tekstur, dan pengolahan
pada makanan sudah sesuai dengan
syarat diet makanan lunak.
5.2 Saran
1. Sebelum praktikum, pastikan alat dan bahan sudah tersedia.
2. Saat membuat menu, sebaiknya perhatikan bahan makanan yang
digunakan sudah sesuai dengan prinsip syarat diet atau tidak.
3. Saat akan memasak suatu masakan seharusnya sudah mengerti dan paham
tentang jenis masakan yang akan diolah baik dari segi alat, bahan,
prosedur kerja dan juga rasanya.
21
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama.
Almatsier,S. (2004.) Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Umum.
Hawks, S. R. (2008). Classroom Approach for Managing Dietary Restraint,
Negative EatingStyles, and Body Images Concerns Among College
Women. Journal of American college health, Vol. 56, No. 4.
Karunia indriyati, dkk.
2014 . Makalah Diet Pada
Penyakit Saluran Pencernaan
https://www.scribd.com/doc/315528796/Makalah-diet-pada-penyakit-saluran-cerna150131005419-Conversion-Gate02 (diakses pada 7 April 2019)
Kim, M., & Lennon, S. J. (2006). “Analysis of Diet Advertisement: A cross
national comparison of Korean and U.S women’s magazine”. Clothing and
textiles research journal, 24 (4), hlm. 345-362.
Muda, Deddy Iskandar., 2003, Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional,
PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Siregar, R. 2016. Buku Ajar Gizi Kuliner Dasar. Jakarta : EGC
Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II. Jakarta: EGC.
22
LAMPIRAN
Alat dan Bahan
Pengupasan jagung
Penumisan bumbu
Pemasakan ikan
Soup
Penumisan bumbu
Pemasakan
Bumbu ditumis
Ikan dimasukkan
Ikan dimasukkan
Beras
Pengulekan bumbu
Pemasakan ikan
Pemotongan ikan
Bumbu diulek
Bola bola tahu
Pemasakan
Nasi Tim
23
Download