Uploaded by devidyusupdtb

Building Automation system

advertisement
BAB II
BUILDING AUTOMATION SYSTEM
2.1 Pendekatan Sistematik dalam Perancangan Sistem Kontrol Proses
Sistem kontrol proses terdiri atas sekumpulan piranti-piranti dan peralatanperalatan elektronik yang mampu menangani kestabilan, akurasi, dan
mengeliminasi transisi status yang berbahaya dalam proses produksi. Masingmasing komponen dalam sistem kontrol proses tersebut memegang peranan
yang penting, tidak perduli ukurannya. Untuk merancang suatu sistem kontrol
adapun pendekatan sistematiknya sebagai berikut :
1. Memilih suatu instrumen atau sistem yang hendak dikontrol. Sistem yang
terotomasi bisa berupa sebuah mesin atau suatu proses yang disebut
sebagai sistem kontrol proses. Fungsi dari sistem kontrol proses ini secara
terus menerus akan mengamati sinyal-sinyal yang berasal dari pirantipiranti masukan (sensor) dan tanggapannya berupa suatu sinyal yang
diberikan ke piranti keluaran eksternal yang secara langsung mengontrol
bagaimana suatu sistem beroperasi atau bekerja.
2. Menentukan suatu instrumen masukan dan keluaran yang akan
dihubungkan ke perangkat pengendali. Piranti masukan dapat berupa
saklar, sensor, dan sebagainya. Sedangkan piranti keluaran dapat berupa
solenoida, kran elektromagnetik, motor, relay, starter magnet begitu juga
dengan instrumen lain yang bisa menghasilkan suara atau cahaya dan lain
sebagainya.
3. Membuat program yang sesuai dengan jalannya proses yang diinginkan.
Dalam hal ini dapat menggunakan terminal konsol yang langsung
berhubungan dengan perangkat pengendali yang bersangkutan atau
melalui komputer yang memiliki saluran komunikasi yang dibutuhkan
untuk mentransfer program dari komputer ke perangkat pengendali
maupun sebaliknya.
4. Program disimpan dalam perangkat pengendali, baik dilakukan secara
langsung melalui komputer.
2.2 Pengertian Building Automation System
Building automation system adalah sebuah pemrograman, komputerisasi,
intelligent network dari peralatan elektronik yang memonitor dan mengontrol
sistem mekanis dan sistem penerangan dalam sebuah gedung. Building
Automation Systems (BAS) mengoptimasi start-up dan performansi dari
peralatan HVAC dan sistem alarm. BAS menambah dalam jumlah besar
interaksi dari mekanikal subsistem dalam gedung, meningkatkan kenyamanan
pemilik, minimasi energi yang digunakan, dan menyediakan off-site kontrol
gedung.
BAS
berbasis
kontrol
komputer
untuk
mengkoordinasi,
mengorganisasi, dan mengoptimasi kontrol subsistem pada gedung seperti
keamanan, kebakaran/keselamatan, elevator, dan lain-lain.
Bulding automation system adalah penggabungan sistem mekanik, listrik,
peralatan dengan mikroprosesor yang berkomunikasi satu sama lain dan ke
komputer. Komputer dan pengendali dalam building automation system ini
dapat dihubungkan ke internet atau berfungsi sebagai sistem yang berdiri
sendiri hanya untuk jaringan peer to peer controller saja. Selain itu,
pengendali BAS sendiri tidak memerlukan komputer untuk memproses fungsi
kontrol karena pengendali memiliki prosesor internal mereka sendiri.
BAS sendiri tidak memerlukan komputer untuk memproses fungsi kontrol
karena pengendali memiliki prosesor internal mereka sendiri.
2.3 Komponen-komponen Sistem Building Automation System (BAS)
2.3.1 Human Machine Interface (HMI)
Pada perangkat Human Machine Interface menggunakan suatu
komputer yang dilengkapi dengan printer, dan juga monitor untuk
menampilkan grafik maupun teks yang dapat dilakukan pada satu monitor
yang sama. Komputer merupakan penghubung antara operator dengan
sistem, jadi apabila komputer dimatikan, maka sistem dapat berfungsi
penuh artinya sistem dapat menjalankan kerja tanpa perintah dari seorang
operator.
Pemasukan (download) controlling operating system, dapat dilakukan
melalui komputer dan tidak memerlukan peralatan tambahan. Untuk
penyetingan hardware dan pemberian alamat dapat dilakukan pada setiap
slave.
2.3.2 Controller Unit
Perangkat pada suatu controller unit terdiri atas :
a. Master Controller
Master Controller merupakan perangkat utama yang berfungsi
sebagai pusat pengendali dan menjadi pusat dari suatu sistem.
Perangkat master controller harus memiliki memori yang tidak hilang
(non volatile) apabila terjadi gangguan listrik. Perangkat keras
(hardware) yang digunakan pada master controller harus sama dengan
yang digunakan pada slave controller , hal ini bertujuan agar jika salah
satu dari hardware yang rusak dapat saling dipertukarkan. Pada master
controller dapat dipasang komputer dan printer.
b. Branch Controller
Pada suatu sistem BAS branch controller dapat bekerja sebagai
titik pemasangan sensor-sensor (masukan) dan aktuator-aktuator
(keluaran). Sama halnya dengan master controller, branch controller
juga harus memiliki memori yang tidak hilang (non volatile) apabila
terjadi gangguan listrik.
2.3.3 Jaringan komunikasi (networking communication)
Terdapat beberapa jenis komunikasi dalam suatu controller unit antara lain :
a. Antara komputer dan master controller
Komunikasi antara komputer dan master controller terjadi secara
serial menggunakan serial port RS232. Sistem komunikasi seperti ini
merupakan perlengkapan yang standard pada komputer, tanpa
tambahan suatu interface card ataupun gateway card.
b. Antara controller dengan controller
Komunikasi
antara
perangkat
controller
dengan
controller
menggunakan 2 wire twisted shielded cable jenis AWG 18.
c. Industrial local area network
Sistem harus mampu dikembangkan untuk dihubungkan dengan
standard industrial local area network ethernet dengan kecepatan
minimum 10MB dan dapat dijalankan dari workstation yang
terhubung.
2.3.4 Perangkat Lunak (software)
Program yang dibutuhkan untuk Building Automation System
(BAS) dapat dibuat menggunakan software PG-5 yang sudah disertakan
dalam pembelian sedangkan untuk menampilkan perangkat HMI (Human
Machine Interface) dapat menggunakan program Visiplus yang memang
khusus digunakan untuk produk- produk dari SAIA Burgess.
a. Programming
Blok programming tidak berbentuk statemen-statemen, tetapi pada
blok programming telah tersedia blok-blok untuk bermacam-macam
fungsi seperti misalnya untuk pengaturan AHU, run time totalization,
alarm/report block, schedule, sequencer, dan lain-lain.
b. Kemampuan multitasking
Sistem harus mampu menjalankan program-program lain, selain
program BAS, pada saat menjalankan program lain tersebut sistem
BAS harus tetap berfungsi.
c. Pelaporan adanya kelainan / alarm (Methode of Alarm Anuciation)
Bila tejadi kelainan / alarm pada sistem, maka alarm printer secara
otomatis akan mencetak titik-titik kesalahan, bentuk-bentuk kesalahan
dan waktu terjadinya kesalahan.
d. Hubungan antara Building Automation System dengan office
automation system. Data-data yang diperlukan untuk pemrosesan lebih
lanjut, misalnya perhitungan biaya untuk keperluan statistik dan
selanjutnya dapat diproses sebagai office automation system.
2.3.5 Sensor
Sensor dapat digunakan untuk proses monitoring, controlling, dan
proteksi. Harus terdapat kecocokan antara sensor dan sistem BAS.
Biasanya sensor yang digunakan antara lain : sensor suhu, sensor tekanan,
sensor level tetapi tidak menutup kemungkinan sensor-sensor yang lain
sesuai dengan kebutuhan dan permintaan.
2.3.6 Relay MY2 coil 24 VDC
Pada sistem BAS relay digunakan pada panel untuk menghubung
dan memutus arus pada saklar automatic. Relay ini diaplikasikan untuk
menghidupkan maupun mematikan peralatan sesuai dengan jadwal yang
telah ditentukan. Relay akan menerima tegangan 24 VDC dari PCD
sehingga relay yang tadinya NO (normally open) akan terhubung NC
(normally closed).
2.4 Bagian dari sistem
2.4.1 Controller :
Controller yang digunakan biasanya terdiri dari satu atau lebih PLC
(Programmable Logic Controllers), dengan pemrograman tertentu. PLC
dalam BAS digunakan untuk mengontrol peralatan yang biasanya
digunakan dalam sebuah gedung
2.4.2 Occupancy Sensor :
Occupancy biasanya didasarkan pada waktu dari skedul harian.
Override switch atau sensor dapat digunakan untuk memantau
occupancy pada beberapa daerah internal gedung.
2.4.3 Lighting :
Lighting dapat dinyalakan maupun dimatikan dengan Building
Automation System berdasarkan waktu harian, atau pengatur waktu dan
sensor. Contoh sederhana sistem tersebut adalah menyalanya lampu
pada suatu ruangan setelah setengah jam orang terakhir keluar dari
ruangan tersebut.
2.4.4 Air Handler :
Air handler digunakan untuk mengatur keluar masuknya udara dalam
gedung. Pengaturan ini dilakukan untuk menjaga agar udara tetap sesuai
dengan kebutuhan serta kesehatan manusia yang ada dalam gedung
tersebut.
2.4.5 Central Plant :
Central Plant dibutuhkan untuk menyuplai air-handling unit dengan air.
2.4.6 Alarms and Security :
Banyak Building Automation System memiliki kemampuan alarm. Jika
sebuah alarm dideteksi, alarm tersebut dapat diprogram untuk
memberitahukan seseorang. Pemberitahuan dapat dilakukan melalui
komputer, pager maupun suara alarm. Sistem sekuriti dapat
disambungkan pada building automation system. Jika occupancy sensor
ada, maka sensor tersebut dapat juga digunakan sebagai alarm pencuri.
2.5 Topologi
Jaringan otomatis gedung terdiri dari primary dan secondary bus yang
terdiri dari Programmable Logic Controllers, input / output dan sebuah user
interface (human interface device). Primary dan secondary bus dapat berupa
kabel fiber optik, ethernet, ARCNET, RS-232, RS-485 atau wireless network.
Controller digunakan dengan software yang akan bekerja dengan standar
BACnet, LanTalk, dan ASHRAE. Input dan output berupa analog dan digital
(binary). Input analog digunakan untuk membaca pengukuran variabel. Input
digital mengindikasikan apabila device menyala atau tidak. Output analog
mengontrol kecepatan atau posisi dari peralatan, seperti variable frequency
drive, sebuah I-P transducer, atau sebuah aktuator. Output digital digunakan
untuk membuka dan menutup relay dan switch.
2.6 Keuntungan Building Automation System
1) Building automation system memungkinkan pemilik untuk mengatur
jadwal operasi untuk peralatan dan sistem pencahayaan sehingga
penghematan energi dapat direalisasikan saat bangunan atau ruang di
bangunan tidak dihuni.
2) Building automation system memungkinkan peralatan bekerja optimal
dimulai
dengan
pembelajaran
adaptif.
Permulaan
yang
optimal
memungkinkan peralatan bekerja secara teratur dan berurutan secara
otomatis sesuai jadwal sebelum bangunan direhabilitasi sehingga titik
ruang
dapat
terwujud
sebelum
ditempati.
Pembelajaran
adaptif
memungkinkan sistem untuk membandingkan suhu ruang, kondisi udara
luar, dan kemampuan peralatan sehingga peralatan dapat dihidupkan pada
waktu yang tepat untuk memastikan titik setel ruang dicapai sebelum
ditempati.
3) Building automation system harus memiliki kemampuan trim dan respons.
Berdasarkan permintaan zona, titik setel untuk berbagai sumber
pemanasan dan pendinginan akan berubah sesuai permintaan dari zona.
Dalam sistem VAV, semua kotak VAV dilayani dari unit penanganan
udara sentral. Jika semua zona berada pada titik setel maka titik setel suhu
udara yang disetel dari penangan udara secara otomatis berubah untuk
mencegah pendinginan mekanis terjadi bila tidak diperlukan. Ketika zona
tumbuh lebih hangat, titik suhu udara pasokan ditetapkan secara otomatis
diturunkan agar pendinginan mekanis bisa memenuhi permintaan. Sistem
yang konvensional memiliki satu titik suhu udara suplai tunggal yang
mencapai 55° Fahrenheit yang mengharuskan kompresor untuk berputar
bahkan bila tidak diperlukan.
4) Building automation system harus memiliki kemampuan untuk memantau
penggunaan energi termasuk kemampuan untuk meter listrik, gas, air, uap,
air panas, air dingin, bahan bakar.
5) Building automation system bekerja dengan pengaturan sistem mekanis
yang sesuai dengan menawarkan penghematan berdasarkan perhitungan
entalpi dan / atau kontrol set point CO2.
6) Building automation system harus memiliki algoritma kontrol seperti
jadwal reset untuk pemanasan, kontrol tekanan statis, dan sistem lain
dimana penghematan energi dapat direalisasikan melalui program prediktif
ini.
7) Building automation system harus memiliki system penurunan beban
ketika permintaan listrik berada pada puncaknya.
8) Building automation system menawarkan kemampuan untuk mengirim
alarm melalui email, pager, atau telepon untuk mengingatkan manajer
bangunan dan / atau teknisi untuk menginformasikan masalah dan
kegagalan sistem.
9) Building automation system harus memiliki kemampuan komunikasi
untuk diintegrasikan dengan sistem kontrol otomatisasi bangunan lainnya
dan TCP / IP. BACnet yang kompatibel atau protokol komunikasi open
source lainnya adalah nilai plus.
10) Ada banyak contoh lain tentang bagaimana cara kerja building automation
system dapat membantu anda terutama jika anda mengelola bangunan
besar bahkan jika bangunan di tempat yang berbeda di Indonesia. Building
automation system dapat dihubungkan ke komputer pusat melalui internet.
Dengan bulding automation
system
anda
dapat
memantau dan
mengendalikan semua bangunan anda di Indonesia dari komputer
manapun dengan koneksi internet. Seiring berjalannya waktu kontrol
bangunan modern membantu mengurangi penggunaan energi dan
meningkatkan nilai bangunan dengan membuat sistem listrik dan mekanik
menjadi cerdas.
2.7 SAIA Burgess Electronics
SAIA Burgess Electronics adalah sebuah sistem kontrol yang cocok
digunakan untuk gedung dengan ukuran kecil, sedang, atau gedung yang
berukuran besar. Hal ini dikarenakan SAIA Burgess Electronics mempunyai
modul-modul yang fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mulai
dari modul dengan kapasitas kecil (32 points) sampai dengan kapasitas besar
(5100 points). Modul-modul ini dikenal dengan nama SAIA PCD (Process
Control Device).
Tipe-tipe SAIA PCD yang ada yaitu tipe PCD 1 dengan kapasitas
terkecil yaitu 32 points sampai dengan PCD6 dengan kapasitas terbesar yaitu
5100 points. Istilah points yang digunakan pada PCD merupakan jumlah
masukan maupun keluaran yang akan diproses oleh PCD. Dalam hal ini
masukan berupa status atau keadaan sedangkan output berupa proses kontrol
(on/off).
Teknologi kendali yang ada pada SAIA Burgess Electronics dinamakan
DDC. Sistem DDC merupakan sebuah piranti pengontrol pada sistem
otomatisasi dengan multifungsi. DDC terbagi menjadi dua jenis yaitu PCD
dan PCS. Baik PCD maupun PCS memiliki prinsip yang hampir sama dengan
teknologi yang ada pada piranti-piranti kontrol lainnya seperti PLC.
Secara umum kesamaan antara teknologi DDC dari SAIA Burgess
Electronics dibandingkan dengan teknologi kendali lainnya yang sudah
terlebih dahulu dikenal adalah teknologi kendali ini dapat diprogram sesuai
dengan keinginan dengan menggunakan perangkat khusus melalui komputer,
program yang di download (diisikan) ke dalam memori bersifat non
permanen artinya program sebelumnya akan hilang apabila memori diisikan
dengan program yang baru.
Teknologi kendali DDC pada saat ini banyak digunakan pada sektorsektor yang memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari seperti
bandara, pusat perbelanjaan, jalan raya, rumah sakit, pabrik, dan lain-lain.
PCD1 mempunyai kapasitas sampai 32 points (masukan/keluaran). Ini
bisa dikombinasikan antara digital atau analog dan menggunakan memori
sampai 140 Kbytes, dan juga serial port RS232 atau RS485. Sedangkan untuk
kapasitas yang lebih besar dapat menggunakan PCD2 yang mempunyai
kapasitas sampai 64 points (masukan/keluaran) dan memiliki expansion unit
yang menyediakan space untuk 4 atau 8 penambahan masukan/keluaran
modul, dan seterusnya PCD6 dengan kapasitas sampai 5100 points
(masukan/keluaran).
Untuk gedung-gedung dengan ukuran kecil dapat digunakan sistem
SAIA tanpa menggunakan komputer, dimana sistem ini dapat melakukan
fungsi-fungsi Building Automation System (BAS). Sistem ini dapat dibaca
hasilnya pada display yang ditambahkan pada modul yang dianggap sebagai
master. Sistem seperti ini juga bisa menghemat biaya karena tidak diperlukan
perangkat lunak dan operator yang mengerti komputer. Struktur modular
menjamin sistem SAIA ini bisa ditingkatkan atau diperluas, dan cara
pengoperasiannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Peralatan dan sistem
lain bisa digabungkan dengan sistem secara optimal.
Untuk jenis PCD2 dengan tipe M110 biasa dipakai pada sistem BAS.
PCD ini mempunyai kapasitas sampai 64 points (masukan/keluaran) dan
memiliki expansion unit yang menyediakan
penambahan masukan/keluaran modul.
space untuk 4
atau
8
Dalam sebuah gedung ada banyak fasilitas yang menunjang kenyamanan para
penghuni gedung seperti toilet, penerangan, AC, dan lainnya. Dari sekian banyak
fasilitas yang terpasang di dalam gedung, muncul sebuah pertanyaan , “siapa yang
menyalakan dan mematikan semua fasilitas tersebut?”
Jika hanya mengandalkan pekerja tentunya akan kesulitan, mulai dari mengontrol
air yang keluar di setiap toilet, menyalakan lampu, hingga menyalakan alarm
kebakaran. Selain itu, pihak gedung juga membutuhkan biaya yang cukup besar
untuk menggaji pekerja, karena sudah pasti dibutuhkan banyak pekerja untuk
mengontrol semua fasilitas tersebut.
Building Automation System
Seiring perkembangan teknologi semua permasalahan tersebut dapat diatasi yaitu
dengan menggunakan sistem yang disebut Building Automation System. Sistem
ini bisa dibilang untuk menjalankan semua fungsi yang ada di dalam gedung
secara otomatis tanpa ada campur tangan manusia di dalamnya. Sistem ini
menggunakan komputer dan juga teknologi informasi untuk mengontrol semua
kegiatan fasilitas gedung.
Building Automation System akan mengoptimasi beberapa sistem di dalam
gedung seperti sistem keamanan, lift, lampu, dan lainnya. Fungsi dari system ini
sangat bermanfaat untuk menekan biaya atau efesiensi cost yang dikeluarkan oleh
management gedung. Adapun beberapa bagian yang termasuk dalam teknologi
Building Automation System (BAS) :
Di sebuah gedung, ada banyak fasilitas yang berkontribusi pada kenyamanan
penghuni bangunan, seperti toilet, penerangan, pendingin ruangan, dll. Di antara
banyak instalasi yang dipasang di gedung, muncul pertanyaan: “siapa yang
menghidupkan dan mematikan semua fasilitas ini?”
Jika Anda hanya mengandalkan pekerja, tentu saja akan sulit, mulai dengan
mengendalikan air yang keluar dari setiap toilet, menyalakan lampu, mengaktifkan
alarm kebakaran. Selain itu, gedung juga membutuhkan biaya yang signifikan
untuk membayar pekerja, karena banyak pekerja benar-benar perlu mengendalikan
semua fasilitas ini.
Seiring dengan perkembangan teknologi, semua masalah ini dapat diselesaikan
dengan menggunakan sistem yang disebut Building Automation System. Dapat
dikatakan bahwa sistem ini secara otomatis melakukan semua fungsi yang ada di
gedung tanpa campur tangan manusia. Sistem ini menggunakan komputer dan
teknologi informasi untuk mengendalikan semua kegiatan fasilitas.
Sistem otomasi gedung akan mengoptimalkan beberapa sistem di gedung, seperti
sistem keamanan, elevator, pencahayaan, dll. Fungsi sistem ini sangat berguna
dalam mengurangi biaya atau efisiensi biaya pengelolaan gedung.
Download