Uploaded by User48841

makna dan implikasi agama fix

advertisement
MAKALAH
MAKNA DAN IMPLIKASI AGAMA
DALAM KEHIDUPAN ANAK
Makalah Ini Di Susun
Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah
Perkembangan keberagamaan Peserta Didik
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Muh. Zuhri, M.A.
Disusun Oleh:
Nurul Khabib Allin
(12010190004)
PROGRAM PASCA SARJANA
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SALATIGA
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya setiap anak yang lahir di dunia dilengkapi sejumlah potensi yang
diperlukan untuk kehidupannya. Ia memiliki potensi untuk beragama, berfikir, berkreasi,
merasa, berkomunikasi dengan orang lain, dan potensi-potensi lainnya.
Upaya pengembangan potensi anak perlu dilakukan pada usia dini sebab pada masa
itulah terjadi masa-masa emas dari masa perkembangan berbagai potensi tersebut. Dijelaskan
oleh para ahli ( Bloom, 1994; Bredekamp dan copple, 1997; Kostenik etal, 1999; Newberger,
1997) bahwa pada usia dini terdapat periode-periode optimal dalam perkembangan anak.
Maksudnya pada masa ini terdapat kesempatan-kesempatan yang lebih memungkinkan
terjadinya perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek perkembangan anak. Namun,
dengan periode-periode optimal tidak berarti bahwa anak harus dijejali dengan berbagai
pengetahuan serta dipaksa untuk menguasai berbagai katerampilan tanpa mempedulikan taraf
perkembangan individu anak yang bersangkutan. Yang penting di sini adalah bahwa anak
mendapat kesempatan yang luas untuk memperoleh rangsangan dan pengalaman belajar yang
mendorong terjadinya proses-proses aktivitas
mental dan fisik melalui cara-cara yang
relevan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan yang bersangkutan. (Tim
Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI,2007:96)
Perkembangan Agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak
kecil, dalam keluarga, di sekolah dan dalam masyarakat lingkungan. Semakin banyak
pengalaman yang bersifat agama, (sesuai dengan ajaran agama), akan semakin banyak unsur
agama, maka sikap tindakan, kelakuan dan cara menghadapi hidup akan sesuai dengan ajaran
agama. (Daradjat,1970:55).
Sebagai umat beragama, orang tua dan pendidik berkewajiban untuk menanamkan
dasar-dasar aqidah yang benar kepada anak sejak usia dini, sebab ajaran agama merupakan
sumber rujukan nilai yang sangat fundamental bagi kepentingan hidup manusia beragama.
Apabila nilai-nilai aqidah itu sudah dibangun pada diri anak sejak usia dini, maka hal
tersebut akan menjadi suatu landasan esensial bagi perkembangan kehidupan keagamaan
anak pada tahap-tahap berikutnya.
Sementara itu Clark berpendapat, religiositas berkembang sejak usia dini melalui
proses perpaduan antara potensi bawaan keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar
diri manusia. Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam, sifat, serta
kualitas religiositas yang akan terekspresikan pada perilaku kehidupam sehari-hari. Proses
perkembangan religiositas melewati tiga fase utama, yakni fase anak, remaja dan dewasa.
Masing-masing fase perkembangan memiliki kekhasan dalam sifat serta perannya terhadap
keseluruhan perkembangan religiositas. ( Clark, W.H, 1958: 85)
Dalam makalah ini akan dibahas tentang makna dan implikasi agama dalam
kehidupan anak.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini yang menjadi rumusan masalah adalah :
1. Bagaimana perkembangan jiwa beragama pada anak?
2. Bagaimana implikasi agama dalam kehidupan anak?
C. Tujuan
1. Mengetahui makna agama bagi kehidupan anak
2. Mengetahui implikasinya dalam kehidupan anak
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan jiwa beragama pada anak
1. Agama pada masa anak
Dalam rentang kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut
Kohnstamm, tahap perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi 5 periode:
1) Umur 0-3 tahun, periode Vital atau Menyusui
2) Umur 3-6 tahun, periode estetis atau masa mencoba atau masa bermain
3) Umur 6-12 tahun, periode intelektual ( masa sekolah)
4) Umur 12-21 tahun, periode sosial atau masa pemuda
5) Umur 21 tahun ke atas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis.
Dalam pembahasan ini yang dimaksud dengan anak- anak adalah masa dimana
seseorang sebelum berumur 12 tahun.
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui
beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development Of Religion On Children, ia
mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan,
yaitu :
a. The Fairy Tale Stage (tingkat dongeng)
Tingkatan ini dimuali pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini
konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada
tingkatan anak menghayati konsep ke-Tuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan
intelektualnya. Kehidupan masa kini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi,
hingga dapat menggapai agama pun anak masih mengggunakan konsep fantastik yang
diliputi oleh dongeng-dongeng.
b.
The Realistic Stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini sejak anak masuk Sekolah Dasar (SD) hingga ke usia adolensen.
Pada masa ini, ide ke-Tuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang
berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul lembaga-lembaga
keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide
keagamaan anak dapat didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat
melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu, maka pada masa ini
anak-anak tertarik dan senang pada lembaga yang mereka lihat dikelola oleh orang
dewasa dalam ligkungan mereka. Segala bentuk tindakan (amal) keagamaan mereka
ikuti dan pelajari dengan penuh minat.
c. The Individual Stage (tingkat individu)
Pada tingkat ini anak mempunyai kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan
dengan perkembangan usia mereka, konsep keagamaan yang individualis ini terbagi
menjadi tiga golongan, yaitu :
1. Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi
sebagian kecil fantasi. Hal terserbut disebabkan oleh pengaruh luar.
2. Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang
bersifat personal (perorangan).
3. Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis
pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan
dipengaruhi oleh faktor intern, yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern berupa
pengaruh luar yang dialaminya. (Jalaluddin,2007: 67 ).
Religiositas anak adalah hasil dari suatu proses perkembangan yang
berkesinambungan dari lahir sampai menjelang remaja. Dalam proses tersebut berbagai
faktor, intern, ekstern ikut berperan. Empat diantarannya yang akan dipaparkan dalam
makalah ini, yaitu perkembangan kognisi, peran hubungan orang tua dengan anak, peran
Conscience, Guilt, Shame, serta Interaksi sosial.
1) Peran kognisi dalam perkembangan religiositas anak
Konsep tentang nila-nilai keagamaan yang digunakan sebagai dasar
pembentukan religiositas masuk ke dalam diri anak melalui kemampuan kognisi.
Kognisi difahami sebagai kemampuan mengamati dan menyerap pengetahuan dan
pengalaman dari luar diri individu. Perkembangan kognisi melewati beberapa fase
yang masing-masing memiliki ciri yang berbeda. Pengetahuan dan pengalaman yang
masuk pada diri individu akan hanya terserap sesuai dengan tingkat kemampuan
kognisinya. Demikian juga pengetahuan dan pengalaman keagamanannya.
2) Peran hubungan orang tua dengan anak dalam perkembangan religiositas anak
Hubungan orang tua dengan anak memiliki peran yang sangat besar dalam
proses peralihan nilai agama yang akan menjadi dasar-dasar nilai dari religiositas
anak. ( Clark, W.H : 87)
Melalui hubungan dengan orang tua anak menyerap konsep-konsep keimanan
(belief & faith), ibadah (ritual), maupun mu’amalah (ethic & moral). Ada dua
masalah penting yang ikut berperan dalam perkembangan religiositas anak melalui
proses hubungan orang tua dan anak, yaitu cara orang tua dalam berhubungan
dengan anaknya, serta kualitas dari religiositas orang tua.
3) Paran Conscience, Guilt dan Shame dalam perkembangan religiositas anak
Conscience, Guilt dan Shame adalah tiga keadaan kejiwaan yang berkembang
secara berurutan. Conscience adalah kemampuan yang muncul dari jiwa yang
terdalam untuk mengerti tentang benar dan salah, baik dan buruk. Dalam istilah lain
dapat disamakan dengan istilah inner light, superhero, atau internalized policeman,
yang berperan untuk mengontrol perilaku dari dalam diri. Guilt adalah perasaan
bersalah yang muncul bila dirinya tidak berperilaku sesuai dengan kata hatinya, rasa
bersalah juga dapat disebut evaluasi diri secara negative yang muncul ketika
seseorang memahami bahwa perilakunya tidak sesuai dengan standar nilai yang dia
rasa harus ditaati. Beriringan dengan itu kemudian muncul Shame, yaitu reaksi
emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian dari orang lain pada
dirinya.
4) Peran interaksi sosial dalam perkembangan religiositas anak
Interaksi sosial adalah kesempatan anak untuk berinteraksi dengan
lingkungan di luar rumah, yaitu dengan kelompok kawan sepermainan dan kawan
sekolah. Interaksi sosial mempunyai peran penting dalam perkembangan religiositas
anak melalui dua hal sebagai berikut: pertama, malalui interaksi sosial anak akan
mengetahuai apakah perilakunya yang telah terbentuk berdasarkan standar nilai
religiositas dalam keluarga dapat diterima atau ditolak oleh lingkungannya. Kedua,
interaksi sosial akan menimbulkan motivasi bagi anak untuk hanya berperilaku
sesuai dengan yang dapat diterima oleh lingkungannya. (Hurlock, E.B.1978:390)
Berkaitan dengan masalah ini, Imam Bawani membagi fase perkembangan agama
pada masa anak menjadi empat bagiaan, yaitu :
a. Fase dalam kendungan. Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini
sangatlah sulit, apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian
perlu dicatat bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada
janin, tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia atas Tuhannya.
b. Fase Bayi. Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama
pada seorang anak. Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam
hadist, seperti mendengarkan azan dan iqomah saat kelahiran anak.
c. Fase kanak-kanak . Pada fase ini merupakan saat yang tepat untuk menanamkan nilai
keagamaan. Pada fase ini anak sudah memulai bergaul dengan dunia luar. Banyak hal
yang ia saksikan ketika ia berhubungan dengan orang-orang disekelilingnya. Dalam
perkembangan inilah ia mulai mengenal Tuhan dari ucapan-ucapan orang di
sekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa kagumnya pada
Tuhan. Anak pada usia kanak-kanak belum mempunyai pemahaman dalam
melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi di sinilah peran orang tua dalam
memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan-tindakan agama
sekalipun sifatnya hanya meniru.
d. Masa anak sekolah. Seiring dengan perkembangan aspek-aspek jiwa lainnya,
perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis. Hal
ini berkeitan dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.
2. Sifat-sifat Agama pada Anak
Memahami konsep keagamaan pada anak berarti memahami sifat agama pada
anak-anak. Sesuai dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat agama pada anak-anak
tumbuh mengikuti pola ideas concept on othority.
Berdasarkan hal itu, maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi
atas :
a. Unrevlective (Tidak mendalam). Dalam penelitian Machion tentang sejumlah konsep
ke-Tuhanan pada diri anak 73% mereka menganggap Tuhan itu bersifat seperti
manusia.
b. Egosentris. Masalah keagamaan anak telah menonjolkan kepentingan dirinya dan
telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya.
c. Antromorphis. Pada umumnya konsep ke-Tuhanan pada anak berasal dari hasil
pengalamannya ketika ia berhubungan dengan orang lain. Sehingga konsep keTuhanan mereka tampak jelas menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan.
d. Verbalis dan Ritualis. Kehidupan agama pada anak-anak sebagian besar tumbuh
mula-mula secara verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat
keagamaan dan selain itu pula dari amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan
pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka.
e. Imitatif. Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh
dari meniru.
f. Rasa heran. Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang
terakhir pada anak. Rasa kagum pada anak ini belum bersifat kreatif. Rasa kagum
mereka dapat disalurkan lewat cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub.
(Jalakuddin, 2007: 70-73).
B. Implikasi Agama pada Kehidupan anak
1. Dasar-dasar pendidikan agama bagi anak
Ketika seorang anak pertama kali lahir ke dunia dan melihat apa yang ada di
dalam rumah dan sekelilingnya, tergambar dalam benaknya sosok awal dari sebuah
gambaran kehidupan. Bagaimana awalnya dia harus bisa melangkah dalam hidupnya
didunia ini. Jiwanya yang masih suci dan bersih akan menerima segala bentuk apa saja
yang datang mempengaruhinya. Maka sang anak akan dibentuk oleh setiap pengaruh
yang datang dalam dirinya. Dalam hal ini Imam Ghazali mengatakan :
Bayi itu merupakan amanat bagi kedua orang tuanya, hatinya suci dan bersih. Jika
dibiasakan dan diajarkan kebaikan, ia akan tumbuh dengan kebiasaan, pengajaran, dan
berbahagia di dunia dan di akhirat.(Ulwan, 1992: 160).
Dengan demikaian orang tua harus berusaha semaksimal mungkin agar anak
mendapatkan pendidikan agama yang baik dan terbiasa melaksanakannya. Berbicara
tentang terbiasa melaksanakan berarti menyangkut metode keteladanan, metode
keteladanan dalam pembiasaan merupakan suatu metode yang digunakan untuk
merealisasikan tujuan pendidikan dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada
anak agar mereka dapat berkembang baik fisik maupun mental dan memiliki akhlak yang
baik dan benar. Keteladanan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam pendidikan
ibadah, aklak, kesenian dan lain-lain.(Ali, 1999: 185).
Oleh karena itu yang perlu kita ketahui adalah Bentuk-bentuk pelaksanaan Ajaran
islam atau Dasar – dasar pendidikan agama bagi anak yaitu sebagai berikut:
a. Pembinaan Aqidah pada Anak
Aqidah secara bahasa berarti ikatan, secara terminologi berarti landasan yang
mengikat yaitu keimanan. Aqidah juga sebagai ketentuan dasar mengenai keimanan
seorang muslim, landasan dari segala prilakunya, bahkan aqidah sebenarnya
merupakan landasan bagi ketentuan syariah yang merupakan pedoman bagi seseorang
berperilaku di muka bumi. (Daradjat, 1992: 317) Aqidah memiliki enam Aspek yaitu:
keimanan pada Allah, pada para Malaikat-Nya, iman kepada para Rasul utusan-Nya,
pada hari akhir, dan iman kepada ketentuan yang telah dikehendaki-Nya. Apakah ini
takdir baik atau takdir buruk. Dan seluruh Aspek ini merupakan hal yang gaib. Kita
tidak mampu menangkapnya dengan panca indra kita. ( Hafihz, 1988: 109 )
Seperti yang telah dijelaskan di atas maka kita akan menemukan lima pola
dasar pembinaan aqidah anak seperti : Membacakan kalimat tauhid pada Anak,
menanamkan kecintaan mereka pada Allah, pada Rasulullah Muhammad SAW,
mengajarkan Al-qur’an dan menanamkan nilai perjuangan rasul serta pengorbanan
beliau pada mereka.
Adapun langkah-langkah yang mesti kita lakukan untuk membentuk Aqidah
anak adalah sebagai berikut:
a) Mendiktekan kalimat Tauhid pada Anak
b) Menanamkan kecintaan Anak kepada Allah, senantiasa meminta pertolongan dan
pengawasan hanya kepada Allah serta yakin akan ketentuan Allah SWT.
c) Menanamkan kecintaan Anak pada Nabi Muhammad SAW.
b. Pembinaan Ibadah pada Anak
Pembinaan anak dalam beribadah dianggap sebagai penyempurna dari
pembinaan Aqidah karena nilai ibadah yang didapat oleh anak akan dapat menambah
keyakinan akan kebenaran ajarannya atau dalam istilah lain, semakin tinggi nilai
ibadah yang ia miliki, akan semakin tinggi pula keimanannya. Maka bentu ibadah
yang dilakukan anak bisa dikatakan sebagai cerminan atau bukti nyata dari
Aqidahnya.
Bentuk pengabdian seorang hamba terhadap Tuhannya atau dalam istilah
khusus yaitu ibadah memiliki pengaruh yang sangat menakjubkan dalam diri anak.
Pada saat anak melakukan salah satu ibadah itu, secara tidak disadari ada dorongan
kekuatan yang membuat dia merasa tenang dan tentram.
Pembinaan dalam beribadah bagi anak ini terbagi dalam 4 dasar pembinaan,
yang uraiannya adalah pembinaan Shalat, pembinaan ibadah puasa, pembinaan
mengenai ibadah haji, pembinaan ibadah zakat, dan pembinaan akhlak pada anak.
Adapun pembinaan Akhlak kepada anak, yaitu:
1. Pembinaan Budi Pekerti dan Sopan Santun.
2. Pembinaan Bersikap Jujur
3. Pembinaan menjaga Rahasia
4. Pembinaan menjaga kepercayaan
5. Pembinaan Menjauhi Sifat dengki.
2. Metode mengajarkan Agama pada anak.
Pendidikan agama sebenarnya telah dimulai sejak anak lahir bahkan sejak anak
dalam kandungan. Anak usia balita atau 0-5 tahun belum termasuk usia sekolah. Dengan
demikian ia lebih banyak bersama dan berinteraksi di lingkungan keluarga terutama
orang tuanya. Maka orang tua adalah segala-galanya bagi anak. Oleh karena itu, setiap
orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan
pengetahuan agama dan melatih ketrampilan anak dalam melaksanakan ibadah.
pendidikan agama menyangkut manusia seutuhnya.
Agar agama itu dalam tumbuh dalam jiwa anak dan dapat dipahami nantinya,
maka harus ditanamkan semenjak kelahiran bayi. Dengan demikian, ada metode-metode
tertentu yang harus diterapkan dalam mengajarkan agam pada anak. (Tafsir,2007:131)
Adapun metode yang dimaksud adalah semua cara yang dilakukan dalam upaya
mendidik. Mengajar adalah termasuk upaya mendidik metode mengajarkan agama pada
anak (balita) telah banyak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Diantaranya:
a. Memperdengarkan Azan dan Iqamat saat kelahiran anak
b. Metode hiwar atau percakapan
c. Metode Pembiasaan
d. Metode drill/Latihan
e. Metode pemberian hadiah atau pujian
f. Metode keteladanan
g. Metode Nasehat
h. Metode Kisah
i. Metode Hukuman
3. Urgensi Pembinaan Kehidupan Beragama Bagi Anak
Dalam kehidupan sehari-hari, sangat banyak sekali kebiasaan yang berlangsung
otomatis dalam bertingkah laku. Oleh karena itu pembinaan kehidupan beragama melalui
proses pendidikan yang baik akan sangat berpengaruh dari genersi ke generasi sehingga
membudaya dalam kehidupan.
Pembinaan kehidupan beragama sangat penting bagi anak, sebagai mana yang
dikatakan oleh Zakiah Darajat bahwa : Pembinaan moral dan agama bagi generasi muda
tidak dapat dipisahkan dari keyakinan beragama. Karena nilai-nilai moral yang tegas,
pasti, dan tetap, tidak berubah karena keadaan, tempat, dan waktu atau nilai yang
bersumber kepada agama. Oleh karena itu dalam pembinaan generasi muda, kehidupan
moral dan agama harus sejalan dan mendapat perhatian yang serius. ( Daradjat, 1982: 39).
4. Pengaruh Pembinaan Kehidupan Beragama Bagi Anak.
Dengan adanya pembinaan kehidupan beragama bagi anak, dapat memberikan
pengaruh positif terhadap kehidupan anak. Baik dari segi budaya, social dan Religi.
Adapun uraiannya sebagai berikut:
Seperti yang dikemukaan oleh Muh. Nur Abdul Hanizh bahwa Pembinaan
membuat anak bisa bersikap benar dalam pergaulannya dengan masyarakat disekitarnya,
baik bergaul dengan anak seusianya, maupun dalam adab kesopanan terhadap orang yang
lebih dewasa.
Anak dapat berkelakuan yang sesuai dengan ukuran – ukuran (Nilai-nilai)
masyarakat, yang timbul dari hatinya sendiri, bukan paksaan dari luar, yang disertai pula
oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (Tindakan) tersebut. Tindakan itu haruslah
mendahulukan
kepentingan
pribadi.(Daradjat, 1978:63)
umum
dari
pada
kepentingan
atau
keinginan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam keseluruhan perkembangan religiositas, perkembangan pada usia anak
mempunyai makna yang sangat penting karena dalam perkembangan tersebut keseluruhan
dasar-dasar religiositas mulai terbentuk. Akan tetapi perhatian dan kesanggupan pihak orang
dewasa dalam memahami dan memecahkan permasalahan yang timbul berkaitan dengan
perkembangan religiositas usia anak dirasa kurang dibandingkan dengan perhatian dan
kesanggupannya terhadap perkembangan religiositas usia remaja dan dewasa.
B. Saran
Isi makalah ini tentunya masih banyak kekurangan , oleh karena itu kritik dan saran
sangat kami harapkan untuk perbaikan dan kesempurnaan makalah. Semoga bahan diatas
dapat dijadikan sebagai referensi bagi para pendidik, orang tua dan masyarakat dalam
mengetahui makna dan cara implikasi agama dalam mendidik anak yang kelak akan menjadi
generasi penerus bangsa yang berkarakter dan agamis.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Hafihz, Muhammad Nur, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, Cet.II; Kairo: Al-Bayan,
1988.
Ali, Hery Noer,Pendidikan Agama Islam,Jakarta:Logos, ,1999.
Abdul Manaf, Mudjahit, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet 2, 1966
Arifin, M. Menguat Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, Jakarta: PT Golden Terayon Press, Cet
7, 1997.
Clark, W.H, The Psychology Of Religion. New York : The MacMillan Company, 1958.
Daradjat, Zakiah, Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
Daradjat,Zakiah, Ilmu Jiwa Agama.Jakarta, Bulan Bintang,1970
Daradjat, Zakiah, Peran Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta:Gunung Agung, 1978
Eson, W.H, The Psychology Of Religion, New York: Rinehart and Winston, Inc, 1972.
FIP-UPI, Tim Pengembang Pendidikan, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, Jakarta: PT Imperial
Bhakti Utama, 2007.
Hurlock, E.B, Child Development, New York: McGraw-Hiil Book Company, Inc, 1978.
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.
Nasution, Harun, Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintangm 1983.
Nata, H. Abuddin, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di
Indonesia,Jakarta Timur: Prenada Media, 2003.
Rosyadi, Khoiron, Pendidikan Profetik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.
Tafsir, ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remada Rosdakarya, 2007.
Tafsir, ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: Remada Rosdakarya, 2007.
Uluwan, Abdullah Nashih, Tarbiyah Al-Aulad fi-Al Islam,ditrjemahkan oleh Khalilullah Amhad
Masykur Hakim dengan judul Pendidikan Anak Menurut Islam kaedah-kaedah
Dasar, Cet.1: Bandung:Remaja Rosdakarya, 1992.
Yusuf LN, Syamsu, Psikologi Belajar Agama (Perspektif Pendidikan Agama Islam), Bandung:
Pustaka Bani Quraisy, 2004.
Download