Uploaded by nuna220499

makalah studi fiqh new dan fix

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam sistem hukum di dunia ini, hukum akan mengalami perubahan,
pembaharuan. Pembaharuan hukum karenanya merupakan suatu keharusan sejarah
karena fenomena sosial kemasyarakatan tidaklah statis , melainkan selalu berubah. Jadi,
selain bersifat permanen, hukum juga berubah. Hukum selain bersifat statis dan tetap,
pada saat yang sama juga berubah dan diperbaharui agar sesuai dengan perkembangan
dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hukum Islam baik dilihat sebagai produk
ilmu maupun sebagai ilmu, serta dari perspektif tajdid niscaya memerlukan perubahan
dan pembaharuan.
Fenomena tajdid atau pembaruan islam sebenarnya telah terjadi jauh sebelum
Islam lahir dan akan terus berlangsung hingga sekarang ini. Dalam hal ini, akidah,
ibadah dan mu’amalat merupakan tiga komponen ajaran Islam yang tidak bisa dipisahpisahkan. Namun, dalam memahami pesan yang mengatur tata cara pelaksanaan tiga
komponen itu manusia sering mengalami kekeliruan. Kekeliruan itu bisa disebabkan
keterbatasan manusia, atau dipengaruhi oleh kondisi, ambisi dan lingkungan manusia
itu sendiri. Dari kekeliruan pemahaman dan pemikiran itu tersebut, pada gilirannya
akan mengaburkan warna asli dari ketiga komponen suci diatas. Dalam kondisi
demikian, maka sangat dibutuhkan sebuah semangat dan gerakan pembaharuan.
B. Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud dengan Tajdid?
b. Apa saja fungsi Tajdid dalam Fiqh?
c. Apa yang melatar belakangi munculnya Tajdid (Pembaharuan Fiqh) di Indonesia?
d. Metode apa saja yang digunakan untuk melakukan Tajdid (Pembaharuan Fiqh) atau
Hukum Islam
e. Bgaimana perkembangan Tajdid (Pembaharuan Fiqh) di Indonesia?
C. Tujuan Masalah
Menjelaskan pengertian, fungsi serta latar belakang dari munculnya
pembaharuan fiqh. Selain itu, penulis menjelaskan tentang metode yang digunakan
1
ketika melakukan tajdid (pembahruan fiqh) serta mengetahui perkembangan tajdid di
Indonesia.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tajdid
Secara etimologi tajdid yang berarti pembaharuan sebagai proses, cara,
perbuatan membarui atau modernisasi. Secara bahasa Arab , kata jaddada berarti
”pembaharuan” yang merupakan proses utnuk memperbaharui atau menjadikan baru.
Sedangkan secara terminologi , tajdid yang berarti pembaharuan terhadap kehidupan
keagamaan, baik dalam bentuk pemikiran ataupun gerakan, sebagai respon atau reaksi
atas tantangan baik internal maupun eksternal yang menyangkut keyakinan dan sosial
umat. 1
Dalam hal ini tajdid merupakan aktivitas konseptualisasi ulang atau perbuatan
membaru yang pada hakekatnya selalu berorientasi pada pemurnian yang sifatnya
kembali pada ajaran asal dan bukan adopsi pemikiran asing serta dalam pelaksanaannya
diperlukan pemahaman yang dalam akan pandangan hidup Islam yang bersumber dari
.Al-Qur'an dan As-Sunnah. Mengapa tajdid harus bersumber dari Al-Qur’an dan Assunnah? Karena tajdid (pembaharuan agama) bersifat menghidupkan kembali pokokpokok agama (Ushûluddin) dan cabangnya yang telah hilang atau lemah, baik berupa
ucapan atau perbuatan dan mengembalikannya kepada kebenaran yang telah diajarkan
al-Qur`ân dan sunnah serta menghilangkan semua kebid’ahan dan khurafat yang
bersemayam pada akal manusia.23
Sedangkan menurut bahasa akat fiqh berasal dan kata faqiha yafqahu-jiqhan
yang berarti paham. Jadi, Al-fiqh menurut bahasa yaitu mengetahui sesuatu dengan
mengerti. Sehingga dapat diartikan bahwa tajdid atau pembaharuan fiqh identik dengan
pembaharuan hukum Islam. Pembaharuan hukum Islam terdiri dari dua kata, yaitu:
pembaharuan yang berarti modernisasi, atau suatu upaya yang dilakukan untuk
mengadakan atau menciptakan suatu yang baru, dan hukum Islam yakni kumpulan atau
koleksi dalam bentuk hasil pemikiran untuk menerapkan syariat berdasarkan kebutuhan
masyarakat. 4
1
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 177
Ghufron A. Mas’adi, Metodologi Pembaharuan Hukum Islam, (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada,1997), hlm.
114
3
Romli SA, Studi Perbandingan Ushul Fiqh, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2014), hlm.75
4
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 178
2
3
Dari beberapa pengertian tentang pembaharuan (tajdid) tersebut, pembaharuan
hukum Islam dapat diartikan sebagai upaya dan perbuatan melalui proses tertentu
dengan penuh kesungguhan yang dilakukan oelh mereka yang mempunyai kompetensi
dan otoritas dalam pengembangan hukum Islam (Mujtahid) dengan cara-cara yang telah
ditentukan berdasarkan kaidah-kaidah istinbat hukum yang dibenarkan sehingga
menjadikan hukum Islam lebih segar dan modern, tidak ketinggalan zaman. Inilah yang
didalam istilah Ushul fiqh dikenal dengan “Ijtihad”. Ijtihad sendiri yaitu salah-satu
wacana dalam pembaharuan. Secara terminologi, ijtihad adalah: ”Mengerahkan seluruh
kemampuan dan usaha dalam mencari hukum syariat”. 5
Pembaharuan hukum Islam yang berarti gerakan ijtihad untuk menetapkan
suatu ketentuan hukum yang mampu menjawab permasalahan dan perkembangan baru
yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baik
menetapkan hukum terhadap masalah baru untuk menggantikan ketentuan hukum lama
yang tidak sesuai lagi dengan keadaan dan kemaslahatan manusia masa sekarang.
Adanya ijtihad di segala masa yang kemungkinan menurut ulama – ulama Hanbaliyah,
menetapkan bahwa tidak ada masa yang kosong dari mujtahid, karena kejadiankejadian itu terus menerus terjadi. Dimana kebutuhan mengetahui hukum Allah tetap
ada pada setiap zaman.6
Selain itu, pembaharuan yang dimaksud dalam konteks ini adalah pembaharuan
yang bersifat tajdid' bukan bid'ah, ibda' atau ibtida'. Sebab, meskipun kata-kata ini juga
mengandung makna kebaruan, pembaharuan ataupun pembuatan hal baru, konotasinya
negatif karena secara semantik mengandung arti pembuatan hal baru dalam agama. Dari
segi etimologi kata bid’ah sendiri mempunyai arti daya cipta. Adapun firman Allah
yang menjelaskan tentang bid’ah:
َّ ‫َلي يلع ٍ ْلنىَ يُ َن يكل ِ َو ٍ ْلنىَ ََّ َٰل ِقلخ‬
‫س ُعيِ َد‬
‫ت َّ َّ ي‬
َٰ ِ ‫ٱ‬
‫ٌ يَََِٰ َٰ له َ ن َنت ِ ْلل ِ ع َ له َ ِ َن كَ ٰىَٰ َّن ِ ْلِْ ْلأ ي‬
“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia
tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala
sesuatu”.7
5
Ali, A. Mukti, Ijtihad dalam Pandangan Muhammad Abduh, Akhmad Dahlan, dan Muhammad Iqbal, (Jakarta:
Bulan Bintang,1990),hlm
6
Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Pengantar Ilmu Fiqh, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra,1999),
hlm. 204
7
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 179
4
B. Fungsi Tajdid (Pembaharuan Fiqh)
Adapun secara spesifik fungsi tajdid di antaranya :
1. Merupakan upaya untuk menghadirkan kembali sesuatu yang sebelumnya telah ada
untuk diperbaiki dan disempurnakan.
2. Sebagai upaya pemurnian yang sifatnya kembali ke ajaran asal bukan adopsi
pemikiran asing.
3. Upaya yang sama sekali bukan pembenaran kepada segala upaya mengoreksi nashnash syar'i yang shahih, atau menafsirkan teks-teks syar'i dengan metode yang
menyelisihi ulama.
4. Upaya memodernisasikan Islam dari ketertinggalan (yang bersifat tidak mutlak
yang dapat dirubah-ubah) dengan tidak menghilangkan ”ciri khas" nya (Al-Qur'an
dan Al-Hadis). 8
Dalam hal ini, upaya tajdid sama sekali tidak membenarkan segala hal untuk
mengoreksi nash-nash syar’i yang shahih, atau menafsirkan teks-teks syar’i dengan
metode yang menyelisihi ijma' ulama Islam malainkan upaya untuk melakukan
penyelarasan pemahaman dan aplikasi ajaran Islam di bidang hukum dengan kemajuan
modem dengan tetap berdasarkan pada semangat ajaran Islam. 9 Agar hukum Islam
dapat diaplikasikan secara aktual, maka diperlukan reformulasi fiqh yang diberikan
para mujtahid dulu. Sehingga dapat ditegaskan bahwa usaha apapun yang dilakukan,
baik oleh individu, organisasi maupun pemerintah, jika berorientasi ke arah
pemahaman dan penerapan ajaran Islam di bidang hukum dengan perkembanganperkembangan modern.
C. Latar Belakang Munculnya Tajdid (Pembaharuan Fiqh) di Indonesia
Munculnya tajdid di Indonesia dilatar belakangi dengan dimulainya pada abad
pertengahan yang mana merupakan abad gemilang bagi kaum muslimin. Di abad inilah
daerah-daerah Islam meluas di Barat melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol, di Timur
melalui Persia samapai ke India. Daerah-daerah tersebut tunduk pada kekuasaan
khalifah yang pada mulanya berkedudukan di Madinah, kemudian di Damaskus, dan
terakhir di Baghdad. Di abad ini lahir para Pemikir dan ulama besar seperti; Maliki,
8
9
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 180
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 182
5
Syafi'i, Hanafi dan Hambali, serta lainnya di kalngan ahli hukum, teologi, tasawuf dan
sebagainya. Jadi, dengan munculnya pemikiran para ulama besar itu, maka ilmu
pengetahuan lahir dan berkembang dengan pesat, baik dalam bidang agama, non agama
maupun dalam bidang kebudayaan lainnya. Dan kemunculan ide tajidid dalam
pembahruan fiqh ini dilatarbelakangi oleh proses yang panjang sejak awal abad ke-2 H.
Dalam perkembangannya dakwah Islam semakin meluas dan mengharuskan Islam
untuk berinteraksi dengan peradaban dan agama lain. Sehingga dengan ini munculah
kekeruhan pemikiran antara Islam dengan pemikiran asing. 10
Adapun akar-akar historis yang pernah disemarakkan oleh Nurcholish, Madjid,
Djohan Effendi, Abdurrahman Wahid, dan Ahmad Wahib era 1970-an hingga 1980-an.
Pasca generasi empat pemikir muslim ini, pembaruan pemikiran islam di kajian tersebut
menarik dan tidak kehilangan isu yang diangkat. Banyak studi dilakukan untuk megkaji
pembaruan pemikiran Islam Indonesia yang ternyata terus bergerak dan berkembang.
Bahkan, pembaruan Islam Indonesia semakin marak. Ada dua penyebab utama yang
memengaruhi pembaruan pemikiran Islam Indonesia, yakni fator internal umat Islam
meliputi terjadinya modernisasi dan sekularisasi pendidikan Islam di kalangan santri,
dan sekularisasi kaum santri dalam orientasi pekerjaan. Kedua, faktor eksternal Islam,
yakni terjadinya perubahan global akibat perkembangan teknologi dan informasi.
Akaibat dari perkembangan teknologi dan informasi menjadikan batas-batas dunia
semakin tipis, hampir seluruh kejadian yang terjadi di belahan dunia dapat dapat
dinikmati dalam jeda waktu yang tidak terlalu lama, bahkan secara langsung. Seperti,
pemboman WTC, perang Irak, dan lain-lain. Jadi, kapitalisme global berpengaruh
secara nyata dalam alam pikiran umat Islam. Disitu pula pemikiran Islam kemudia
bersentuhan dengan masalah-masalah riil yang dihadapi umat Islam secara mondial.11
Dalam penelitian sejarah Islam pada umumnya menggarisbawahi bahwa
gerakan modermisme Islam timbul dari dampak penetrasi Barat, semanjak abad ke-17
M/ 12 H. Keunggulan militer dan sains Barat menyadarkan keterbelakangan
masyarakat Islam, lalu menumbuhkan semangat dan kebangkitan Islam. Gambaran
Islam pada saat itu ibarat sebuah masyarakat secara mati-matian yang menerima
pukulan dektruktif atau pengaruh Barat yang menekan. Secara praktis, aiaslam pada
saat itu adalah penguasa politik terbesar dunia, yang menjadi fator lain adalah kondisi
10
11
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 183
Zuly Qodir, Pembaharuan Pemikiran Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006) hlm.3
6
dam situasi Islam pada saat itu terbebani oleh tradisi agama, hal ini sangat ebrbeda
dengan kondisi dan situasi Islam pada abad ke-17 M / 18M.12
Hal inilah yang mendorong para pemikir Islam untuk membahas aqidah Islam
ketika menghadapi aqidah lain. Akhirnya untuk menghadapi pemikiran yang berbeda
tersebut, umat Islam pun mempelajari filsafat untuk membantah tuduhan-tuduhan
terhadap aqidah Islam, yang pada perkembangannya disebut dengan ilmu kalam. Ilmu
kalam ini dikembangkan oleh generasi setelah sahabat khalaf yang berbeda dengan
sahabat salaf. Kalangan khalaf telah membahas lebih jauh tentang dzat Allah dengan
menggunakan meetode pembahasan filosof Yunani yang mana dalam metode ini
menjadikan akal sebagai dasar pemikiran untuk membahas segala hal tentang iman.
Diantara yang mendorong timbulnya pembaharuan dan kebangkitan Islam
adalah:
1. Paham tauhid yang dianut kaum muslimin telah bercampur dengan kebiasaankebiasaan yang dipengaruhi oleh tarekat, pemujaan terhadap orang-orang suci dan
hal lain yang membawa pada kekufuran.
2. Sifat jumud membuat umat Islam berhenti berfikir dan berusaha.
3. Umat Islam selalu berpecah belah, maka Islam tidaklah mengalami kemajuan.
4. Hasil dari kontak yang terjadi antara dunia Islam dengan barat. Dengan adanya
kontak ini umat Islam sadar bahwa mereka mengalami kemunduran dibandingkan
dengan Barat. 13
Terlepas dari persoalan politik yang menyertai debat tertutupnya pintu ijtihad,
sejak saat itulah tersebar anggapan bahwa hukum Islam telah lengkap sehingga umat
Islam tidak lagi perlu berijtihad sehingga umat Islam cukup merujuk pada kitab-kitab
fiqh. Dengan kata lain, Pembaharuan hukum Islam hanya dipicu oleh faktor eksternal
Barat modern, dan karena itu hanya terjadi di abad modern. Dengan demikian,
menggejalanya taqlid dan keadaan itu telah membawa umat Islam kepada berhentinya
pemikiran. Sementara itu, pada saat yang sama kehidupan masyarakat terus berubah
dari statis ke dinamis. Dan adannya nash-nash itu terbatas sedangkan peristiwaperistiwa hukum itu senantiasa baru, sehingga memerlukan pembaharuan-pembaharuan
12
Ghufron A. Mas’adi, Metodologi Pembaharuan Hukum Islam, (Jakarta: PT Raja Gravindo Persada,1997), hlm.
49
13
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 184
7
pemikiran. Sebab itulah maka berhentinya berpikir ini pada gilirannya mengantarkan
umat Islam kepada keterbelakangan dan kesulitan-kesulitan sosial. Hal-hal ini pulalah
yang pada akhirnya secara umum melatarbelakangi upaya-upaya pembaharuan dalam
hukum Islam.14
Semangat pembaharun inhern memperoleh momentumnya kembali pada masa
modern ketika Islam berhadapan langsung dengan Barat. Namun, pertemuan kedua
peradaban besar tersebut tidak berada pada posisi dan tingkat yang Setara. Karena
Islam waktu itu berasa dalam posisi dan tingkat kemundurannya, dan sebaliknya negara
barat pada posisi dan tingkat kemajuannya. Di sinilah bisa dipahami adanya (hubungan
antara pengetahuan dan kekuasaan) dalam pembaharuan hukum Islam di dunia muslim.
Negara-negara Barat modern tidak hanya melakukan tekanan politik, bahkan melalui
kolonialisasi mereka memberlakukan hukum-hukum sekulemya secara paksa di negerinegeri muslim. 15
D. Metode Yang Digunakan Untuk Melakukan Tajdid (Pembaharuan Fqh) atau
Hukum Islam
Hukum Islam harus dinamis, sehingga tidak luput dari suatu pembaharuan.
Untuk melakukan suatu pembaharuan hukum Islam harus ditempuh melalui beberapa
metode, yaitu:
1. Pemahaman baru terhadap Kitabullah (Kitab Suci Al-Qur 'an)
Untuk mengadakan pembaharuan hukum Islam,hal ini dilakukan dengan
direkonstruksi dengan jalan mengartikan AlQur'an dalam konteks dan jiwanya.
Pemahaman melalui konteks berarti mengetahui asbabun nuzul. Sedangkan
pemahaman melalui jiwanya berarti memperhatikan makna atau substansi ayat
tersebut.
2. Pemahaman baru terhadap Sunatarasulih (As-Sunnah/Al-Hadis)
Dilakukan dengan cara mengklasifikasikan sunnah, mana yang dilakukan
Rasulullah dalam rangka tasri'al-ahkam (penetapan hukum) dan mana pula yang
dilakukannya selaku manusia biasa sebagai sifat basariyah (kemanusiaan).
14
15
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 185
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 185
8
Sunnah baru dapat dijadikan pegangan wajib apabila dila' kukan dalam rangka
tasri' al-ahknm. Sedangkan yang dilakukannya sebagai manusia biasa tidak wajib
diikuti, seperti kesukaan Rasulullah SAW kepada makanan yang manis, pakaian
yang berwarna hijau dan sebagainya. Di samping itu sebagaimana A} Qur'an,
Sunnah juga harus dipahami dari segi jiwa dan semangat atau substansi yang
terkandung di dalamnya.
3. Pendekatan ta'aqquli ( rasional)
Ulama terdahulu memahami rukun Islam dilakukan dengan taabbudi yaitu
menerima apa adanya tanpa komentar, sehingga kualitas illat hukum dan tinjauan
filosofisnya banyak tidak teri ungkap. Oleh karena itu pendekatan ta'aquli harus
ditekankan dalam rangka pembaharuan hukum Islam (ta'abadi dan ta'aqquli), Dengan
pendekatan ini illat hukum hikmah at-tashih dapat dicerna umat Islam terutama dalam
masalah kemasyarakatan.
4, Penekanan zawajir ( zawajir gian jawabir) dalam pidana
Dalam masalah hukum pidana ada unsur zawajir dan jawabir, ]awabir berarti
dengan hukum itu dosa atau kesalahan pelaku pidana akan diampuni oleh Allah.
Dengan memperhatikan jawabir ini hukum pidana harus dilakukan sesuai dengan nash,
seperti pencuri yang dihukum dengan potong tangan, pezina muhsan yang dirajam, dan
pezina ghoiru muhsan didera. Sedangkan zawajir adalah hukum yang bertujuan untuk
membuat jera pelaku pidana sehingga tidak mengulanginya lagi. Dalam pembaharuan
hukum Islam mengenai pidana, yang harus ditekankan adalah zawajir dengan demikian
hukum pidana tidak terikat pada apa yang tertera dalam nash.
5. Masalah ijma'
Pemahaman yang terlalu luas atas ijma' dan keterikatan kepada ijma' harus
diubah dengan menerima ijma' sarih,yang texjadi di kalangan sahabat (ijma' sahabat)
saja, sebagaimana yang dikemukakan oleh As-Ayafi'i. Kemungkinan terjadinya ijma'
sahabat sangat sulit, sedangkan ijma' sukuti (ijma' diam) masih diperselisihkan. Di
samping itu, ijma' yang dipedomi haruslah mempunyai sandaran qat'i yang pada
hakekatnya kekuatan hukumnya bukan kepada ijma' itu sendiri, tetapi pada dalil yang
menjadi sandarannya. Sedangkan ijma' yang mempunyai sandaran dalil zanni sangat
sulit terjadi.
9
6. Masalik al-illat (cara penetapan illat)
Kaidah-kaidah yang dirumuskan untuk mendeteksi illat hukum yang biasanya
dibicarakan dalam kaitan dengan kias Dalam kaidah pokok dikatakan bahwa hukum
beredar sesuai dengan 'llatnya. Ini di tempuh dengan merumuskan kaidah dan mencari
$erta menguji illat yang benar-benar baru.
7. Murshalih al-Mursalah
Di mana ada kemaslahatan di sana ada hukum Allah SWT adalah ungkapan
populer di kalangan ulama. Dalam hal ihi masalih mursalah dijadikan dalil hukum dan
berdasarkan ini dapat ditetapkan hukum bagi banyak masalah baru yang tidak
disinggung oleh Al-Qur’an dan As-Sunah.
8. Sadd adz-dzari'ah
Sadd adz-dzari'ah berarti sarana yang membawa ke hal Yang haram. Pada
dasarnya sarana itu hukumnya mubah, akan tetapi karena dapat membawa kepada yang
maksiat atau haram, maka sarana itu diharamkan. Dalam rangka pembaharuan hukum
Islam sarana ini digalakkan. '
9. Irtijab akhalfad-dararain
Dalam pembaharuan hukum Islam kaidah ini sangat tepat dan efektif untuk
pemecahan masalah baru. umpamanya perang di bulan Muharam. hukumnya haram,
tetapi karena pihak musuh menyerang, maka boleh dibalas dengan berdasarkan kaidah
tersebut, karena serangan musuh dapat mengganggu eksistensi agama Islam.
10. Keputusan waliyy al-amr
Keputusan waliyy al-amr atau disebut juga ulil amri yaitu semua pemerintah
atau penguasa, mulai dari tingkat yang rendah sampai yang paling tinggi. Segala
peraturan undang-undang wajib ditaati selama tidak bertentangan dengan agama.
Hukum yang tidak dilarang dan 'tidak diperintahakn hukmnnya mubahContohnya,
pemerintah atas dasar masalih mursalah menetapkan bahwa penjualan hasil pertanian
harus melalui koperasi dengan tujuan agar petani terhindar dari tipu muslihat lintah
darat.
11.Memfiqhkan hukum qat’i
10
Kebenaran qat’i bersifat absolut. SBdangkan kebenaran fiqh relatif. Menurut
para fuqaha, tidak ada ijtihad terhadap nas qat'i (nas yang tidak dapat diganggu gugat).
Tetapi kalau demikian halnya' maka hukum Islam menjadi kaku. Sedangkan kita
perpegang pqada, moto: al-Islam salih li kulli zaman wa makan dan tagayyur al-ahkam
bi tagayyur al-amkinah wa al-zaman. Untuk menghadapi masalah ini qat’i
diklasifkaskan menjadi: Qat’i fi jami’ al-ahwaldan qot’i ba’ad ahwal. Pada qot’i fi alahwal tidak berlaku ijtihad, sedangkan pada qot'ifi ba'd al-ahwal ijtihad dapat diberlakukan. Tidak semua hukum qat’i dari segi penerapanya (tatbiq) berlaku pada semua
zaman. 16
E. Perkembangan Tajdid (Pembaharuan Fiqh) di Indonesia
Dinamika perkembangan Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh fiqh
sebagai pijakan agama dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan dan
keagamaan. Dari fiqh bangunan peradaban Indonesia memiliki tata-nilai yang luhur dan
beradab, karena hakikat Islam adalah menjunjung tinggi kesadaran lokal peradaban dan
budaya dalam menata pranata-pranata sosial sehingga kehadiran Islam bisa dirasakan
sebagai rahmatan lil alamin. Untuk itu dari masa ke masa fiqh Indonesia selalu
mengalami tajdid (pembaharuan) yang lebih menyeluruh dalam menyikapi masalahmasalah kebangsaan dan keagamaan.
Proses pembaharuan ini terus bergulir dalam tahapan yang lebih sistemik ke
arah paradigma sesuai metode, konsep serta konstruksi filosofis yang terdapat dalam
khazanah kitab fiqh klasik, sehingga ruang lingkup fiqh benar-benar metodologis
melalui disiplin ushul ul-fiqh dan qawa fiqhiyah, dan bukan semata-mata bentuk sebuah
hukum atau materi semata. Konsep fiqh sebagai paradigma pemahaman agama yang
tbersifat berubah-ubah sehingga mampu menjelaskan realitas kehidupan sosial
kemasyarakatan dan kebangsaan menuju tatanan sosial kemasyarakatan dan
kebangsaan yang adil sejahtera.
Akan tetapi seiring dengan perubahan zaman, khususnya di Indonesia yang
mengalami berbagai krisis multi-dirnensi telah mengakibatkan terpuruknya tatanan
sosial ekonomi, budaya dan peradaban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh
karena, fiqh sebagai medium (pesan) nilai-nilai yang bersifat universalitas ajaran Islam
16
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 186-189
11
belum secara maksimal memberikan konstribusi besar untuk membangkitkan kembali
bangsa dan negara yang sudah diambang keterpurukan yang dahsyat dalam sendi
kehidupan sosial kemasyarakatan dan kebangsaan saat ini. Tatanan sosial ekonomi,
politik dan budaya bangsa dan negeri ini yang carut-marut mestinya menyadarkan umat
Islam agar kembali menengok sejarah peradaban Islam Nusantara sebagai budaya yang
tinggi nilainya dan memiliki identitas budaya yang paling luas yang dimiliki umat Islam
Indonesia yang menjadi pembeda dengan masyarakat lainnya.
Peradaban Islam nusantara teridentifikasi dalam unsur-unsur obyektif umum
seperti seni, bahasa, sejarah, institusi, dan identifikasi diri secara subyektif. Dan bentukbentuk itu tidak berhenti pada disposisi psikologis masa silam, melainkan berkembang
sesuai akulturasi dunia modern dan sekularisasi di dunia. Semestinya umat Islam
nusantara memiliki keuletan dan tidak akan menyerah akan semua yang telah dicapai
sekadar hanya kenangan sejarah, tanpa memikirkan problematika sosial saat ini yang
secara darurat diperlukan pikiran-pikiran cerdas untuk menggali lebih intens dan dalam
tema-tema fiqh yang progresif dan produktif bagi kemajuan dan peradaban Islam
Nusantara yang lebih mensejahterakan baik materiil maupun spirituil. Berangkat dari
fenomena diatas, upaya Pernbaharuan hukum Islam melalui wahana ijtihad adalah
keniscayaan. Tetapi realitas baru yang muncul, alih-alih ingin melakukan pembaruan
tetapi kenyataanya para pembuat fatwa (ahli hukum Islam) lebih melayani elit penguasa
ketimbang pelayanan terhadap kepentingan rakyat kecil yang semestinya.17
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
17
Sudirman, Fiqih Studies, (Malang: CV. Dream Litera Buana, 2017), hlm. 190
12
Pembaharuan hukum Islam berarti gerakan ijtihad untuk menetapkan ketentuan
hukum yang mampu menjawab permasalahan dan perkembangan baru yang
ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, baik menetapkan
hukum terhadap masalah baru untuk menggantikan ketentuan hukum lama.
Pembaharuan hukum Islam dilakukan dengan cara berijtihad. Dengan adanya ijtihad,
dapat diadakan penafsiran dan interpretasi baru terhadap ajaran-ajaran yang zanni,dan
dengan adanya ijtihad dapat ditimbulkan pendapat dan pemikiran baru sebagai
pengganti pendapat dan pemikiran ulama-ulam terdahulu yang tidak sesuai lagi dengan
perkembangan zaman.
B. SARAN
Pembaharuan hukum Islam dimaksudkan agar ajaran Islam tetap ada dan dapat
diterima semua umat. Dengan adanya ijtihad, diharapkan dapat ditimbulkan pendapat
dan pemikiran baru sebagai pengganti pendapat dan pemikiran ulama-ulama terdahulu
yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.
13
DAFTAR PUSTAKA
1. Ali, Mukti. 2000. Ijtihad. Jakarta: Bulan Bintang
2. Ghufron, Ma’adi. 1997. Metodologi Pembaharuan Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
3. Muhammad, Teuku. 1999. Pengantar Ilmu Fiqh. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra
4. Qodir, Zuly. 2006. Pembaharuan Pemikiran Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
5. Romli. 2014. Studi Perbandigan Ushul Fiqh. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
6. Sudirman. 2017. Fiqh Studies. Malang: CV. Drean Litera Buana
14
Download