MAKNA PESAN PROPAGANDA KOMUNIKASI POLITIK TENTANG

advertisement
MAKNA PESAN PROPAGANDA KOMUNIKASI POLITIK TENTANG
ISLAM DALAM FILM 3 (ALIF, LAM, MIM)
Skripsi
Diajakun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S. Skom. I)
Disusun Oleh :
Wiwi Alawiyah
NIM 1112051000009
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1437 H/ 2016 M
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan sebagai salah satu
persyaratan memperoleh gelar Strata I di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil asli karya saya atau
merupakan jiplakan dari hasil karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 19 Agustus 2016
Wiwi Alawiyah
Nim: 1112051000009
ABSTRAK
Wiwi Alawiyah
NIM: 1112051000009
Makna Pesan Propaganda Komunikasi Politik Tentang Islam dalam Film 3
(Alif, Lam, Mim)
Berbagai film yang bermunculan saat ini dikalangan masyarakat. Bahkan, film
bisa dijadikan salah satu alat propaganda untuk mempengaruhi pikiran seseorang.
Melalui Film 3 (Alif, Lam, Mim) seorang pemimpin politik berusaha mempengaruhi
pikiran masyarakat dengan menyebarkan berbagai fitnah tentang Islam, semata-mata
hal itu untuk kepentingan pribadi.
Berdasarkan konteks di atas, maka peneliti menggunakan kajian semiotik
Roland Barthes. Pada beberapa adegan Film 3 yang mengandung pesan propaganda
politik tentang Islam dengan beberapa teknik yang digunakan. Peneliti merumuskan
pertanyaan yakni: Bagaimana pesan propaganda politik tentang Islam dalam Film 3
(Alif, Lam, Mim)?
Teori yang digunakan adalah analisis semiotik Roland Barthes. Konsep
analisis semiotik ini bertujuan untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, dan
mitos. Makna denotasi adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks, dan
sebagainya. Sedangkan makna konotasi sebagai sesuatu yang hanya bisa dipahami
dalam kaitannya dengan signifikasi tertentu seperti novel, puisi, dan musik.
Kemudian mitos berfungsi untuk mengungkapkan nilai-nilai dominan yang berlaku
biasanya berkaitan dengan kebudayaan yang ada di masyarakat.
Berdasarkan penilitian yang dilakukan, maka pesan propaganda politik yang
digunakan dengan menyebarkan fitnah dan informasi yang bohong. Kemudian
pemimpin politik menjadikan Islam sebagai dalang dari kejadian pengeboman yang
terjadi saat itu. Selain itu juga, Islam sebagai teroris, elit-elit politik yang berkuasa
pada negara saat itu yang berusaha mempengaruhi pikiran masyarakat dengan
menganggap bahwa Islam sebagai pengacau di negara kita, masyarakat percaya
dengan isu yang disebarluaskan oleh pemimpin politik tersebut.
Metode yang digunakan oleh penulis adalah metode penelitian deskriptif.
Tujuan untuk memberikan gamabaran tentang suatu fenomena secara detail (untuk
menggambarkan yang terjadi) sehingga mendapatkan fakta-fakta yang akurat yang
terdapat dalam objek.
Ditemukan, pertama seorang Kyai yang dianggap sebagai pimpinan teroris,
pakaian umat Muslim yang dicuriga menimbulkan citra buruk di mata masyarakat
sehingga masyarakat beranggapan dengan memberikan persepsi bahwa pakaian itu
adalah pakaian seorang teroris.
Kedua, mengandung pesan propaganda politik oleh seorang Kolonel
terhadap umat Muslim dan agama Islam. Dengan menyebarkan isu-isu negatif tentang
Islam kepada masyarakat. Teknik-teknik propaganda seperti, Name Calling, Card
Stacking, Frustration or Spacegot,propaganda ratio (positif). Teknik-teknik itu
dilakukan untuk melancarkan tujuannya mendapatkan kedudukan lebih tinggi dan
membuat citra agama Islam buruk di mata masyarakat.
Kata Kunci: Propaganda, Islam, Teroris, Pemimpin Politik, Masyarakat.
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas karunia
dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga
senantiasa selalu tercurahkan kepada Rasulullah Saw, kaum keluarga, para sahabat,
dan para pengikutnya yang selalu senantiasa mengikuti sunnahnya sampai akhir
zaman.
Penulisan skripsi ini dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan untuk
mencapai gelar Sarjana Komunikasi Islam, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam,
Program Strata I, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebagai
manusia biasa, peneliti menyadari dalam penulisan skripsi ini masih terdapat
kekurangan dan kelemahan. Dan saya sangat menyadari bahwa tanpa bantuan dari
berbagai pihak, dari awal masa perkuliahan hingga penulisan skripsi ini, segala upaya
tidak akan berhasil tanpa adanya motivasi dan dukungan dari orang-orang yang telah
memberikan motivasi kepada saya. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan banyak
terima kasih kepada:
1. Dr. Arief Subhan. M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi beserta Dr. Suparto, M.Ed, MA selaku wakil Dekan I Bidang
Akademik, Dr. Hj. Roudhonah, M.Ag selaku Wakil Dekan II Bidang
Administrasi Umum, serta Dr. Suhaimi, M.Si selaku Wakil Dekan III Bidang
Kemahasiswaan.
ii
iii
2. Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Drs. Masran, MA beserta
Sekretaris Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fita Fathurokhmah, M.
Si.
3. Prof. Dr. M. Yunan Yusuf, selaku Dosen Penasihat Akademik. Terima kasih
untuk saran dan masukan yang diberikan selama ini.
4. Dr. Suhaimi M. Si. Selaku dosen pembimbing yang telah membimbing saya
dengan sabar. Terima kasih untuk waktu, tenaga, saran, dan ilmunya yang
bapak berikan selama masa bimbingan.
5. Terima kasih untuk Orang tua saya, Bapak Acang dan Ibu Fatimah (Alm),
yang telah mendidik dan mendoakan saya selama kuliah. Terima kasih untuk
Ibu saya yang telah mengajarkan saya banyak hal meskipun beliau kini telah
tiada.
6. Keluarga Besar Bapak Muhayar dan Bapak Januri,
7. Sahabat-sahabat saya getmerried: Erki, Rizal, Jaenudin.
8. Teman-teman kelas KPI A angkatan 2012 yang telah berjuang bersama dan
selalu kompak dalam segala hal. Terima kasih untuk kesan dan kenangan
yang telah kalian berikan selama empat tahun ini.
9. Kelompok KKN Reaktif Desa Karang Tengah, Sentul Bogor. Serta untuk
teman Ciwi-ciwi KKN Reaktif: Tami, Aura, Kiki, Diana, Lisma, Suci, Siska,
dan Friska.
10. Seluruh Dosen dan Staf Akademik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu
Komunikasi atas ilmu yang telah diajarkan kepada saya.
iv
11. Segenaf Staf Perpustakaan Utama UIN Jakarta dan Perpustakaan Fakultas
Ilmu Dakwah dan Komunikasi.
12. Terima kasih untuk Yusuf Rachman yang telah memberikan support kepada
saya. Serta orang-orang yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini
dapat terselesaikan. Terima kasih untuk doa yang diberikan kepada saya.
Semoga senantiasa Allah selalu memberikan kebaikan dan kesehatan untuk
kalian semua, Amin.
Peneliti menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, peneliti meminta saran dan kritik untuk penelitian ini agar kedepannya
lebih baik lagi. Peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca
dan dapat membantu untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
Jakarta, 9 Agustus 2016
Wiwi Alawiyah
DAFTAR ISI
ABSTRAK...........................................................................................................
KATA PENGANTAR……………………………………………….................
LEMBAR PERNYATAAN……………………………………………………
DAFTAR ISI……………………………….......................................................
DAFTAR TABEL………………………….......................................................
DAFTAR GAMBAR……………………………..............................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
BAB II
BAB III
i
ii
v
vi
vii
viii
Latar Belakang Masalah……………....................................
Batasan dan Rumusan Masalah…….....................................
Tujuan dan Manfaat Penelitian……….................................
Metodelogi Penelitian………...............................................
Kerangka Konsep…………………………………………..
Tinjauan Pustaka..................................................................
Sistematika Penulisan……...................................................
LANDASAN TEORI
A. Propaganda
1. Pengertian Propaganda………….....................................
2. Teknik-teknik Propaganda……........................................
3. Jenis-jenis Propaganda……..............................................
4. Film sebagai Media Propaganda………………….……..
5. Politik sebagai Struktur Kekuasaan……………………..
B. Semiotika
1. Konsep Semiotika Roland Barthes…...............................
C. Konsep Teror dan Fanatisme
1. Teror dan Terorisme………..............................................
2. Fanatik atau Fanatisme……..............................................
3. Prasangka Terhadap Islam sebagai Agama Teroris…......
D. Film
1. Pengertian Film……........................................................
2. Jenis-jenis Film………....................................................
SINOPSIS dan PROFIL PEMAIN FILM 3 (ALIF LAM MIM)
A. Sinopsi Film 3……..............................................................
B. Profil Sutradara Film 3........................................................
C. Profil Pemain Film 3……………………….......................
D. Tim Produksi dan Nama-nama Pemain Film 3…...............
E. Keistimewaan Film 3…………………………………......
1
4
5
6
11
13
15
17
21
26
27
30
33
41
42
43
45
46
49
52
53
61
62
BAB IV
PROPAGANDA KOMUNIKASI POLITIK TENTANG ISLAM
DALAM FILM 3
A. Makna Denotasi, Konotasi, dan Mitos Dalam Semiotik …... 69
B. Pesan Propaganda Politik Tentang Islam Dalam Film 3……. 98
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan………............................................................
B. Saran.….............................................................................
103
105
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..
LAMPIRAN………………………………………………………………….
106
109
DAFTAR GAMBAR
Signifikasi Dua Tahap…………………………………………………
Cover Film 3 (Alif Lam Mim)………………………………………….
Gambar Data 1…………………………………………………………
Gambar Data 2…………………………………………………………
Gambar Data 3…………………………………………………………
Gambar Data 4…………………………………………………………
31
45
70
77
82
89
DAFTAR TABEL
Tabel Peta Barthes………………………………………………………
Tabel 1 Analisis Data 1………………………………………………….
Tabel 2 Analisis Data 2………………………………………………….
Tabel 3 Analisis Data 3………………………………………………….
Tabel 4 Analisis Data 4………………………………………………….
34
71
77
83
90
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Film sebagai media audio-visual komunikasi politik dan banyak dijadikan
sebagai alat propaganda yang digunakan untuk mempengaruhi pikiran manusia
dengan memanipulasi representasinya.1 Oleh karena itu, film sebagai medium yang
paling ampuh dalam mempengaruhi pikiran khalayak. Seperti propaganda yang
terdapat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim ) yang terdapat unsur propaganda politik
tentang Islam yang dilakukan oleh seorang pemimpin politik semata-mata untuk
tujuan tertentu.
John A. Broadwin dan V.R Berghahn (1996), dalam Bukunya The Triumphof
Propaganda, mengutip pernyataan Fritz Hippler bahwa “Dibandingkan dengan seni
lain, film menimbulkan dampak psikologis dan propagandistik yang abadi dan
pengaruhnya sangat kuat dan efeknya tidak hanya melekat pada pikiran, tetapi juga
emosi dan bersifat visual sehingga bertahan lebih lama daripada pengaruh yang
dicapai oleh ajaran gereja atau sekolah.2
1
Toni, Ahmad. Jurnal: Mitologi Perempuan dalam Film Drama:Analisis Semiotik Roland
Barthes dalam Film “Jamila dan Sang Presiden” Karya Ratna Sarupaet. (Jakarta: UIN Jakarta, 2014),
hal. 45.
2
Soelhi, Mohammad. Propaganda dalam Komunikasi Internasional. (Bandung: Simbiosa
Rekatama Media, 2012), h. 165
1
2
Film “3 (Alif, Lam, Mim)” yang ditulis oleh Anggy Umbara. Film ini
diproduksi oleh MVP Pictures (Multivision Plus) dan FAM Productions. Film ini
juga dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro, Cornelio Sunny, Prisia
Nasution, Tika Bravani, Donny Alamsyah, Piet Pagau, Cecep Arif Rahman, dan
lainnya. Film ini bergenre film laga futuristik (futuristis) pertama di Indonesia. Film 3
(Alim, Lam, Mim) ini mengisahkan perbedaan pandangan tiga sahabat yang
mempunyai kemampuan bela diri dan tumbuh besar bersama sejak kecil di sebuah
pondok pesantren Al-Ikhlas.3
Keistimewaan yang terdapat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) dibandingkan
dengan film-film lainnya yaitu berhasil mendapatkan beberapa penghargaan seperti
Best Feature Film Freethought International Film Festival di Florida – USA, 5
Nominasi di FFI (Festival Film Indonesia) 2015, 8 Nominasi di Piala Maya 2015, 4
Nominasi di Indonesian Movie Actor Awards (IMAA) 2016.4 Selain itu, Film 3 (Alif,
Lam, Mim) sempat menjadi tayangan regular di Singapura.
Dibandingkan dengan film-film lainnya, seperti film The Raid dan film
lainnya. Film ini mampu menceritakan keadaan kota Jakarta pada tahun 2036 begitu
banyak terjadi perubahan. Film ini juga berawal berawal dari mimpi sang sutradara
yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah film. Meskipun film ini berani
mengusung paham-paham Liberalis yang masih jarang sekali untuk perfilman di
Indonesia.
3
4
www.wikipedia.com diakses tgl. 20 Feb 2016, pkl. 11:00.
https://twitter.com//@3_themovie/ diakses pada 18 juni 2016
3
Dalam film ini menggambarkan keadaan negara saat sudah kembali damai dan
sejahtera sejak perang saudara dan pembantaian kaum radikal berakhir di Revolusi
tahun 2026. Jakarta saat itu menjadi Negara yang Liberal, ketika agama sudah tidak
menjadi nilai yang diutamakan dan tidak dianggap penting lagi kecuali bagi mereka
golongan minoritas yang masih mengutamakan agama khsusnya bagi orang-orang
Islam. Hak asasi manusia menjadi segalanya. Manusia diberi kebebasan untuk
melakukan hal apa saja selama itu sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh
pemimpin negara termasuk dalam hal agama. Bahkan, tidak sampai 20 tahun, 232
tempat beribadah yang ada di Jakarta dihancurkan dan ditransformasi menjadi
gudang. Pemikiran-pemikiran logis saat itu yang lebih mendasar dibandingkan
dengan pemikiran-pemikiran yang mengandung nilai-nilai keagamaan.
Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini juga, menggambarkan Islam di mata masyarakat
karena pengaruh yang diberikan oleh seorang Kolonel. Agama yang saat itu dicap
sebagai pemicu kekacauan. Sehingga orang-orang Islam yang mengenakan pakaian
seperti jubbah, gamis, dan sorban dianggap sebagai seorang teroris. Orang-orang
yang mengenakan pakaian seperti itu dianggap dapat melakukan tindakan kekerasan
dan kekecauan bahkan sampai melakukan pengeboman. Hal yang ingin disampaikan
dalam Film 3 ini agar masyarakat tidak mudah percaya terhadap ucapan atau pesan
yang disampaikan oleh seseorang sebelum pesan yang disampaikan tersebut dapat
dibuktikan. Masyarakat juga tidak menuduh orang lain hanya karena berpenampilan
berbeda dengan dirinya sama saja masyarakat melakukan diskriminasi terhadap orang
lain.
4
Pemimpin politik menyampaikan berbagai pesan propaganda tentang Islam
kepada masyarakat, sehingga secara tidak langsung pesan tersebut dapat merubah
pandangan masyarakat terhadap agama Islam. Bahkan masyarakat menganggap
bahwa orang-orang Islam harus dihindari dan dihancurkan. Secara sengaja
pemerintah telah melakukan propaganda kepada agama Islam terutama untuk orangorang Islam dengan memberikan citra yang jelek kepada agama Islam di mata
masyarakat.
Film pada umumnya dibangun dengan berbagai tanda-tanda yang ada
kemudian dimaknai oleh masyarakat. untuk mengetahui hal tersebut, kita dapat
melakukan penelitian melalui pendekatan semiotik. Karena tanda tidak pernah benarbenar mengatakan sesuatu kebenaran secara keseluruhan.5
Dalam film “3 (Alif, Lam, Mim)” ini terdapat propaganda politik tentang
Islam. Propaganda yang dilakukan oleh para pemimpin kekuasaan dengan
menggambarkan Islam sebagai teroris. Pemimpin kekuasaan memberikan pengaruh
negatif kepada pikiran masyarakat dengan pesan yang menganggap agama Islam
sebagai agama yang sering membuat kekacauan, bom, kekerasan. Orang-orang Islam
dianggap memiliki pemikiran kolot. Hal tersebut terdapat dalam alur cerita yang ada
dalam film ini. Terutama mengenai agama Islam yang dianggap teroris oleh negara
sendiri dalam film ini.
5
21.
Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotik Media, (Yogyakarta: Jala Sutra, 2010), h.
5
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti bermaksud menyusun skripsi
dengan judul “Makna Pesan Propaganda Komunikasi Politik Tentang Islam
dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim)”.
B. Batasan dan Rumusan Masalah
Agar pembahasannya lebih terarah lagi dan lebih fokus lagi, maka penulis
membatasi dan merumuskan masalah dalam penelitian ini. maka peneliti membatasi
objek penelitian pada adegan atau tanda-tanda dan makna yang mengandung
propaganda Islam.
Adapun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terdapat dalam Film 3 (Alif,
Lam, Mim)?
2. Apa pesan propaganda politik tentang Islam yang terdapat dalam Film 3(Alif,
Lam, Mim)?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian yang
ingin dicapai sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, dan mitos dalam Film 3(Alif,
Lam, Mim).
2. Untuk mengetahui pesan atau dialog propaganda yang terdapat dalam Film 3
(Alif, Lam, Mim).
6
2. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan konstribusi
positif bagi pengembangan dalam menambah wawasan pengetahuan
mengenai model propaganda politik. Selain itu juga diharapkan dapat
menambah refernsi bagi mahasiswa-mahasiswi yang berada di Universitas
Islam Negeri Jakarta untuk mengetahui tentang media dan propaganda yang
terdapat dalam sebuah film.
2. Manfaat Praktis
1. Mitos-mitos yang terdapat dalam Film 3 dapat bermanfaat bagi
masyarakat umum atau khalayak.
2. Pesan komunikasi politik yang terdapat dalam Film 3 dapat bermanfaat
bagi pemimpin dan komunikasi politik.
3. Model propaganda yang terdapat dalam Film 3 dapat bermanfaat bagi
mahasiswa-mahasiswi
yang
ingin
melakukan
penelitian
dengan
memggunakan model propaganda.
D. Metodelogi Penelitian
1. Paradigma dan Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini menurut Lexy J. Moleong yang mengutip pernyataan
Bogdan dan Bilken menyatakan bahwa paradigma adalah kumpulan proposisi
7
yang mengalahkan cara berpikir dalam penelitian.6 Dalam penelitian ini,
peneliti menggunakan paradigma konstruktivis. Paradigma konstrukvis
berbasis pada pemikiran umum tentang teori-teori yang dihasilkan oleh
peneliti dan teoritis aliran konstruktivis. Little John mengatakan bahwa teoriteori aliran ini berlandaskan pada ide bahwa realitas bukanlah bentukan yang
objektif, tetapi dikonstruksi melalui proses interaksi dalam kelompok,
masyarakat, dan budaya.7 Peneliti mencoba untuk mengungkapkan realitas
yang tersembunyi dalam Film 3 (Alif. Lam, Mim).
Metode penelitian pada penelitian ini merupakan metode penelitian
kualitatif dengan jenis penelitian bersifat deskriptif.8 Menurut Bosrowi
Sadikin penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan
penemuan-penemuan yang tidak dicapai dengan menggunakan prosedurprosedur statistik atau dengan cara kuantifikasi lainnya.9 Melalui penelitian
kualitatif dapat mengenali subjek dan merasakan apa yang mereka alami
dalam kehidupan sehari-hari. Data yang dihasilkan adalah data deskriptif
berupa gambaran mengenai makna dari tanda-tanda suatu teks secara detail.
Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk
memberikan gambaran tentang suatu fenomena secara detail (untuk
menggambarkan yang terjadi).
6
Moleong, Lexy J, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2006), h. 49.
7
Stephen W. Little John, Theories of Human Communication, Wadsworth, Belmon, 2002,
h.163
8
Wibowo, Indriawan Seto Wahyu, Semiotik Komunikasi, (Jakarta: Mitra Wacana Media,
2913), h. 162
9
Sudikin, Bosrowi, Metode Penelitian Kualitatif Prespektif Mikro, (Surabaya: Insancendikia,
2002), h.1
8
2. Metode Penelitian
Objek penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini mengenai
sinematografi merupakan tanda-tanda verbal dan no-verbal yang terdiir dari
berbagai macam tanda yang tergabung dalam sistem, maka metode analisis
yang digunakan adalah analisis semiotika. Barthes mengungkapkan bahwa
semiotika pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusian
memaknai hal-hal.10 Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis semiotik
Roland Barthes.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek yang digunakan dalam penelitian ini sendiri adalah tim produksi
Film 3 (Alif, Lam, Mim). Sedangkan untuk objek penelitiannya adalah
berbagai potongan adegan-adegan dan dialog yang mengandung unsur
propaganda politik tentang Islam yang dilakukan pemerintah kepada rakyat
dalam mempengaruhi rakyat untuk menganggap Islam itu agama yang buruk
dalam film tersebut.
4. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan mulai dari tanggal 21 Januari 2016 oleh penulis
setelah mendapatkan persetujuan dari proposal yang diajukan penelitian
kepada dosen penasihat akademik. Tempat penelitian dilakukan di kampus
UIN Jakarta dan sekitarnya yang akan membantu untuk referensi dalam
10
Ibid, h.15.
9
mengumpulkan data penelitian. Selain itu, peneliti juga melakukan penelitian
di Senayan City saat mewawancarai narasumber pada tanggal 23 mei 2016.
5. Tahapan Penelitian
Prosedur penelitian terdiri dari mengumpulkan data, mengolah data, dan
menganlisa data sebagaimana akan di bahas di bawah ini.
a. Pengumpulan Data
Teknik yang dilakukan oleh peneliti dalam mengumpulkan data adalah
dengan instrument sebagai berikut:
1) Observasi
Observasi merupakan pengamatan langsung yang dilakukan peneliti
dengan mengamati langsung setiap adegan yang terdapat dari hasil download
Film 3 (Alif, Lam, Mim)melalui youtube. Dengan mengambil simbol-simbol
dan tanda-tanda yang terdapat dalam film tersebut sesuai dengan model
penelitian yang digunakan oleh peneliti.
2) Wawancara
Wawancara merupakan alat pengumpulan data yang sangat penting dalam
penelitian komunikasi kualitatif yang melibatkan manusia sebagai subjek
(sutradara dan penulis film) sehubungan dengan realitas atau gejala yang
dipilih untuk diteliti.11 Wawancara yang dilakukan oleh peneliti baik itu
secara langsung ataupun tidak langsung dengan narasumber. Peneliti
11
Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, (Yogyakarta: PT. LKS Pelangi Aksara
Yogyakarta, 2007), h. 157.
10
mewawancarai Anggy Umbara sebagai sutradara sekaligus penulis Film 3
sebagai narasumber.
3) Dokumentasi
Dokumen merupakan data film yang dapat mendukung peneliti dalam
melakukan penelitian, seperti bahan pustaka, referensi-referensi yang dapat
menunjang penulis, studi berupa buku-buku, majalah (3 movie dan lainlain), dan artikel-artikel yang berhubungan dengan objek permasalahan yang
akan diteliti. Selain itu, data didapatkan melalui rekaman dan adegan yang
terdapat dalam Film sehingga penelitian ini dapat terselesaikan.
b. Pengolahan Data
Pada jenis penelitian kualitatif ini, pengolahan data tidak harus dilakukan
setelah data terkumpul atau pengolahan data selesai. Dalam hal ini, data
sementara yang dikumpulkan, data yang sudah ada dapat diolah dan dilakukan
analisis data secara bersamaan. Dalam pengolahan data dapat dilakukan
dengan yang pertama, reduksi data dalam pemilihan, pemusatan, dan
penyerhadaan data yang telah didapatkan di lapangan. Kedua, penyajian data
dilakukan setelah melakukan reduksi data, penyajian data dilakukan agar data
hasil reduksi teroganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga lebih
mudah dipahami. Ketiga, menarik kesimpulan setelah mendapatkan semua
data yang diperolah dari lapangan kemudian data disimpulkan sebagai hasil
penelitian dan mencari makna.
Data tersebut dimasukkan ke dalam gambar-gambar (21 gambar), baganbagan seperti kerangka konsep, kemudian daftar tabel yang terdapat di dalam
11
penelitian. Peneliti menggunakan pedoman penulisan dalam menulis skripsi
ini yaitu pedoman akademik tahun 2012.
c. Teknik Analisis Data
Temuan ditafsirkan berdasarkan kerangka konsep setelah mendapatkan
sumber dari data primer dan data sekunder yang sudah terkumpul, kemudian
hal itu dikaitkan dengan rumusan masalah yang sudah dilakukan peneliti.
Kemudian peneliti mengkaitkan dengan analisis semiotik model Roland
Barthes dengan mencari gambaran mengenai tanda-tanda dan simbol-simbol
yang terdapat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) yang mengenai propaganda
politik tentang Islam yang terdapat dalam film tersebut. Selain itu, juga
peneliti mencari makna denotasi, konotasi, dan mitos yang ada dalam film
tersebut sesuai dengan rumusan masalah.
E. Kerangka Konsep
Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal
khusus.oleh karena konsep merupakan abstraksi maka konsep tidak dapat langsung
diamati atau diukur.
Menurut Dan Nimmo, pengertian komunikasi politik sebagai kegiatan
komunikasi
yang
berdasarkan
konsekuensi-konsekuensinya
(actual
maupun
potensial) yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik.12
Sementara menurut Anwar Arifin, komunikasi politik sebagai suatu fungsi politik,
12
Dan Nimmo, Komunikasi Politik, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1989, h. 9.
12
bersama-sama dengan fungsi artikulasi, agregasi, sosialiasasi, yang terdapat dalam
suatu sistem politik.13
1.
Komunikasi Politik dalam Pesan
Dakwah Siyazah
Dan Nimmo (1989), Anwar Arifin
(2003)
Tenik-teknik Propaganda terdiri 7
teknik yang terdapat dalam Film 3
antara lain:
1.
2.
3.
4.
Name Calling
Card Stacking
Frustration or Spacegot
Propaganda positif
Semiotika model
1. Denotasi
2. Konotasi
3. 3.mitos
Contoh Film
Futuristik
Teknik-teknik propaganda yang terdapat seperti Name Calling adalah
propaganda dengan memberikan sebuah ide atau label yang buruk. Card Stacking
meliputi seleksi dan kegunaan fakta atau kepalsuan, ilustrasi atau kebingungan dan
masuk akal atau tidak masuk akal suatu pernyataan agar memberikan kemungkinan
terburuk atau terbaik suatu gagasan, program, manusia dan barang. Teknik ini
13
Anwar Arifin, Komunikasi Politik: Paradigma-Teori-Aplikasi-Strategi dan Komunikasi
Politik di Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 9
13
digunakan untuk menyalurkan kebencian atau frustasi dengan cara menciptakan
kambing hitam.14
Makna denotasi adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks, dan
sebagainya. Sedangkan makna konotasi sebagai sesuatu yang hanya bisa dipahami
dalam kaitannya dengan signifikasi tertentu seperti novel, puisi, dan musik.
Kemudian mitos berfungsi untuk mengungkapkan nilai-nilai dominan yang berlaku
biasanya berkaitan dengan kebudayaan yang ada di masyarakat. 15
Beberapa contoh film futuristik yang ada seperti, A Trip to the Moon (1902),
Metropolis (1927), A Space Odyssey (1968), Film 3 (Alif, Lam, Mim) (2015).
F. Tinjauan Pustaka
Pada penelitian ini peneliti juga menggunakan skripsi yang memliki beberapa
persamaan dengan skripsi yang dilakukan oleh peneliti. Hal ini dilakukan untuk
menginspirasi peneliti dalam melakukan penelitiannya. Selain itu, untuk membantu
peneliti dalam merumuskan masalah yang ada dalam penelitiannya, seperti skripsiskripsi berikut ini “Semiotik Taubat Dalam Film Mama Cake”16, yang ditulis oleh Ika
Kurnia Utami, menemukan makna taubat yang dilakukan oleh oleh Ananda Omes
sebagai pemeran dalam film itu yang melakukan taubat setelah mendapatkan pesan
dari neneknya. Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam. Persamaan yang terdapat dalam Skripsi ini yaitu sama-sama
14
Mohammad Soelhi, Propaganda dalam Komunikasi Internasional, (Bandung: Simbiosa
Reakatama Media, 2012), h. 67.
15
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 266.
16
Ika, Kurnia Utami, Semiotik Taubat Dalam Film Mama Cake, Skripsi, Fak. Fidkom, Jur.
KPI.
14
menggunakan metode analisis yang digunakan adalah model Roland Barthes. Hasil
dari penelitian yang didapatkan untuk mengetahui makna denotasi, konotasi, dan
mitos. Serta untuk perbedaan yaitu mengenai makna yang ingin diteliti yaitu untuk
mengetahui makna taubat dalam film tersebut.
Kemudian sebagai bahan untuk menginspirasi lainnya peneliti juga
menggunakan skripsi-skripsi lain. seperti, Propaganda Media Dalam Bentuk
Kekerasan Terbuka (Studi Semiotika Terhadap Film Pengkhianatan G 30 S PKI)” 17,
yang ditulis oleh Mamik Sarmiki, menyimpulkan tanda kekerasaan yang
menggambarkan sifat kebrutalan dan kekejaman yang dilakukan oleh PKI, kekerasan
terbuka,
dimana
banyaknya
tindakan
pemukulan,
pengeroyokan,
bahkan
penganiayaan hingga pembunuhan secara terang-terangan yang dilakukan oleh
gerakan PKI. Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam. Dalam skripsi ini ingin mengetahui bagaimana teknik propaganda
yang dilakukan dalam film tersebut. Persamaan yang terdapat yaitu ingin mengetahui
teknik propaganda yang digunakan sedangkan perbedaan yang terdapat yaitu
mengenai objek yang diteliti.
Skripsi lain yang digunakan sebagai bahan refensi untuk menyelesaikan
penelitian ini yaitu, Analisis Semiotik Propaganda Perang Amerika-Irak Dalam Film
Sniper18, yang ditulis oleh Nur Ajijah, menulis bahwa Amerika melakukan
propaganda kepada Irak dengan menggunakan berbagai teknik propaganda sehingga
17
Mamik, Sarmiki, Propaganda Media Dalam Bentuk Kekerasan Terbuka (Studi Semiotika
Terhadap Film Pengkhianatan G 30 S PKI, Skripsi, Fak. Fidkom, Jur. KPI.
18
Nur Ajijjah, Analisis Semiotik Propaganda Perang Amerika-Irak Dalam Film Sniper,
Skripsi, Fak. Fidkom, Jur. KPI.
15
menimbulkan pengaruh buruk. Mahasiswi UIN Hidayatullah Jakarta, Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam. Dalam film ini yang ingin disampaikan oleh
penulis mengenai teknik propaganda perang dilakukan Amerika terhadap Islam yang
ada di Irak dalam film tersebut. Persamaan dalam film ini dengan skripsi yang saya
teliti yaitu sama-sama ingin mengetahui pesan propaganda dan teknik propaganda
yang digunakan. Sedangkan perbedaan yang terdapat dalam penelitian ini yaitu objek
atau film yang diteliti berbeda.
G. Sistematika Penulisan
Secara sistematis dalam penulisan skripsi ini dibagi kedalam lima bab. Dalam
setiap bab terdiri oleh sub-sub bab yang saling memiliki keterkaitan pada tiap babnya.
Untuk lebih jelasnya lagi penulis uraikan penulisan sistematis sebagai berikut:
BAB I
PENDAHULUAN
Berisi latar belakang masalah penelitian, batasan dan rumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, metodelogi penelitian, tinjauan pustaka, dan
sistematika penulisan.
BAB II
KAJIAN TEORI
Membahas tentang konsep dan teori mengenai propaganda, film dan teori semiotika
oleh Roland Barthes.
BAB III GAMBARAN UMUM
Dalam bab ketiga ini akan diuraikan sinopsi mengenai Film 3 dan beberapa profil
pemain Film 3, pemeran dan sutradara Film 3 serta tim produksi yang mensukseskan
Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini.
16
BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA
Berisi analisis mengenai data semiotik pada makna denotasi, konotasi, dan mitos dari
temuan data yang dilakukan peneliti berupa data-data dari film 3 (Alif, Lam, Mim)
serta propaganda yang dilakukan oleh para elit politik dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim).
BAB V
PENUTUP
Yang berisi kesimpulan peneliti terhadap beberapa pertanyaan dari rumusan masalah
penelitian, serta saran peneliti untuk memberi motivasi kepada peneliti lain jika ingin
melakukan penelitian yang sama.
BAB II
KERANGKA TEORITIS
A. Teori Propaganda
1.
Pengertian Propaganda
Propaganda merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang
atau sebuah organisasi untuk mempengaruhi manusia. Terkadang propaganda
dilakukan untuk merubah pemikiran seseorang dengan tujuan untuk kepentingan
sendiri karena propaganda dapat merubah kepercayaan dan opini.
Dalam propaganda mempunyai kajian pokok “How to Influence and to
control the mind’s of men”- Bagaimana mempengaruhi dan menguasai pikiran
manusia.1 Istilah propaganda bisa jadi telah mengukirkan suatu gambaran negatif atau
hal buruk di dalam pikiran seseorang.2 kegiatan seperti ini bagian dari upaya untuk
membujuk orang lain agar mengikuti dan melakukan sesuai keinginan propagandis.
Propaganda berasal dari bahasa Latin propagare artinya cara tukang kebun
menyemaikan tunas suatu tanaman ke sebuah lahan untuk memproduksi suatu
tanaman baru yang kelak akan tumbuh sendiri. Dengan kata lain juga berarti
mengembangkan atau memekarkan (untuk tunas).3 Dari sejarahnya sendiri,
propaganda awalnya adalah mengembangkan dan memekarkan agama Khatolik
Roma baik di Italia maupun di negara-negara lain. sejalan dengan tingkat
1
Ginting Munthe, Moeryanto, Propaganda dan Ilmu Komunikasi, Jurnal IISIP, Vol. IV, No.
1, Edisi Juni 2012, h. 49
2
Ginting Munthe, Moeryanto, Propaganda dan Ilmu Komunikasi, Jurnal IISIP, Vol. IV, No.
1, Edisi Juni 2012, h. 40
3
Nurudin, Komunikasi Propaganda, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 9
17
18
perkembangan manusia, propaganda tidak hanya digunakan dalam bidang keagamaan
saja tetapi juga dalam bidang pembangunan, politik, komersial, pendidikan, dan lainlain.
Menurut Jacques Ellul, seorang sosiolog dan filosof Perancis, pengertian
propaganda sebagai komunikasi yang “digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi
yang ingin menciptkan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu
massa yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara psikologis melalui
manipulasi psikologis dan digabungan dalam suatu organisasi”.
4
Jacques Ellul
(1965) propaganda politik adalah kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah, partai
politik, dan kepentingan untuk mencapai tujuan politik (strategis dan taktis) dengan
pesan-pesan yang lebih khas yang lebih berjangka pendek.5
Propaganda politik adalah sebuah bentuk kekerasan yang halus dan tak
mampu, yang menyembunyikan pemaksaan interpretasi dan realitas, maka dia dapat
dilihat sebagai sebauh bentuk kekerasan pada tingkat tanda atau simbol.6
Propaganda politik dapat merupakan kegiatan komunikasi politik yang
dilakukan
secara
terencana
dan
sistematik,
untuk
menggunakan
sugesti
(mempermainkan emosi), untuk tujuan mempengaruhi seseorang atau kelompok
orang, khalayak atau komunitas yang lebih besar (bangsa) agar melaksanakan atau
menganut suatu ide (ideology, gagasan, sampai sikap), atau kegiatan tertentu dengan
kesadarannya sendiri tanpa merasa dipaksa/terpaksa.
4
Dan Nimmo, Komunikasi Politik (Komunikator, Pesan, dan Media), (Bandung: Remadja
Karya, 1989), h. 136
5
Anwar Arifin, Komunikasi Politik: Paradigma-Teori-Aplikasi-Strategi dan Komunikasi
Politik di Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 74
6
Arief Adityawan S, Propaganda Pemimpin Politik Indonesia, (Jakarta: Pustaka LP3ES
Indonesia, 2008), h. xix
19
Harold D. Lasswell dalam tulisannya Propaganda mengatakan propaganda
adalah teknik untuk mempengaruhi kegiatan manusia dengan memanipulasi
representasinya (Propaganda in broadest sense is the technique of influencing human
action by the manipulation of representations)”. Definsi lainnya dari Laswell yang
menyebutkan propaganda adalah semata-mata kontrol opini yang dilakukan melalui
simbol-simbol yang mempunyai arti, atau menyampaikan pendapat yang kongkrit dan
akurat (teliti), melalui sebuah cerita, rumor laporan gambar-gambar dan bentukbentuk lain yang bisa digunakan dalam komunikasi sosial (It refeers propaganda
solely to the control of public opinion by significant symbols, or to speak more
concretely and less accurately, by the stories, rumours, report, pictures and other
form of social communication)”.7
Dalam negara demokrasi, propaganda menurut Leonard W. Dobb dipahami
sebagai suatu usaha individu atau individu-individu yang berkepentingan untuk
menggunakan sugesti. Sedang Harbert Blumer mengemukakan bahwa propaganda
dapat dianggap sebagai suatu kampanye politik yang dengan sengaja mengajak dan
membimbing untuk
mempengaruhi/membujuk orang guna menerima suatu
pandangan, sentiment, atau nilai.8
Dalam propaganda media memiliki peran yang penting dalam proses
penyebaran pesan. Salah satu media yang biasanya digunakan dalam kegiatan
propaganda adalah media massa karena keunggulan media massa adalah
7
Nurudin, Komunikasi Propaganda, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 10
Anwar Arifin, Komunikasi Politik: Paradigma-Teori-Aplikasi-Strategi dan Komunikasi
Politik di Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 74
8
20
jangkauannya yang sangat luas. Sehingga peran media massa untuk propaganda
sangat efektif.9
Propaganda politik yang dilakukan melalui media massa sebenarnya upaya
untuk mengemas isu, tujuan, pengaruh, dan kekuasaan politik untuk memanipulasi
psikologi khalayak.10 Salah satu media yang digunakan untuk menyebarluaskan pesan
yang bertujuan mempengaruhi pikiran manusia adalah film.
Dalam Film 3 ini, propaganda yang dilakukan yaitu dengan menyerbarluaskan
isu-isu yang bohong kepada masyarakat untuk merubah kepercayaan masyarakat
terhadap Islam. Berbagai pesan yang disampaikan oleh pemimpin politik untuk
mempengaruhi pemikiran rakyat hal itu bertujuan agar masyarakat membenci agama
Islam sehingga tujuan yang diinginkan oleh pemimpin politik tercapai.
Pesan-pesan yang disebarluaskan mengandung bujukan atau rayuan sehingga
rakyat mengikuti apa yang diinginkan oleh seorang propagandis. Proapaganda yang
disebarluaskan dalam Film 3 ini dengan mengungkapkan pesan yang belum tahu
kebenarannya sehingga pesan yang disampaikan oleh kalangan pemimpin politik
masih mengandung kenyataan yang semu atau kebohongan.
Dalam Film 3 ini, pemimpin negara yang memiliki kekuasaan tertinggi di
negara yang melakukan propaganda kepada masyarakat. Bahakan, dia yang
menyebarkan isu-isu yang bohong semata-mata hanya untuk memperoleh kekuasaan
yang lebih tinggi lagi dan agara masyarakat percaya kepada pemerintah dan peraturan
yang ada bukan kepada agama Islam.
9
Nurudin, Komunikasi Propaganda. (PT. Remaja Rosdakarya, Bandung: 2002), h. 35
Gungun, Heryanto, Propaganda Politik Melalui Media Massa: Analisa Dari Perspektif
Teori Agenda Setting, Jurnal Dakwah UIN Jakarta, Volume IX No. 1, Edisi Juni 2007, h. 7
10
21
Jadi, propaganda politik merupakan cara yang dilakukan oleh kalangan elitelit politik yang berkuasa di dalam sebuah pemerintahan. Para pemimpin politik
biasanya mempengaruhi pemikiran rakyatnya dengan mengubah representasi yang
ada sehingga secara tidak sadar rakyat terpengaruh dengan apa yang disampaikan
oleh kalangan pemimpin politik tersebut. Biasanya mereka menyebarkan pesan-pesan
yang tidak sesuai dengan kenyataannya sehingga secara tidak langsung para elit
politik membohongi rakyat. Dengan seperti itu para pemimpin politik melakukan
propaganda terutama jika itu dilakukan secara terus menerus.
2.
Teknik-teknik Propaganda
Berbagai teknik propaganda yang digunakan oleh seorang propagandis untuk
mempengaruhi masyarakat dalam merubah persepsi. Propaganda juga dapat
dilakukan dalam beberapa teknik memanipulasi emosi bahkan bisa dilakukan dengan
cara membahayakan bagi seorang propagandis karena tujuan dari teknik yang
digunakan seorang propagandis untuk “memanipulasi” mulai dari perasaan suka
menjadi perasaan tidak suka, dari perasaan cinta menjadi benci, dan lain sebagainya.
Memanipulasi emosi seorang masyarakat juga merupakan teknik yang
digunakan oleh seorang propagandis untuk mencapai sasaran dan tujuannya,
propaganda seperti halnya komunikasi, sangat membutuhkan teknik. Seperti halnya
dengan menggunakan media film yang dijadikan sebagai propaganda dalam
mempengaruhi seseorang.
Melalui berbagai teknik ini, propagandis memanipulasi kata, suara, simbol
pesan non verbal, sehingga secara tidak langsung tingkat emosinal masyarakat jadi
22
berubah. Dengan cara seperti itu seorang propagandis mempengaruhi masyarakat
karena melalui teknik seperti ini tingkat emosional masyarakat akan berubah ketika
seorang propagandis menyebarkan pesan.
Seperti yang terdapat dalam Film 3 ini beberapa teknik yang digunakan
seorang propagandis dalam merubah persepsi atau pandangan mansyarakat terhadap
agama Islam sebagai berikut:
a. Name Calling
Name Calling adalah propaganda dengan memberikan sebuah ide atau
label yang buruk. Tujuannya adalah agar orang menolak dan mengangsikan
ide tertentu tanpa mengkoreksinya/memeriksa terlebih dahulu.
Salah satu yang paling melekat pada teknik ini adalah seorang
propagandis menggunakan sebutan-sebutan yang buruk pada lawan yang
dituju seperti halnya dalam film 3 (Alif, Lam, Mim) ini seorang Kolonel di
Negara memberikan sebutan-sebutan buruk kepada Islam dengan menyebut
Islam sebagai teroris.
Contoh lain adalah pernyataan Kolonol sebagai seorang pemimpin negara
yang menyebut agama Islam sebagai teroris, pemimpin menganggap bahwa
orang-orang yang mengenakan pakaian gamis dan sorban dapat menimbulkan
tindakan-tindakan kekerasan seperti pengeboman sehingga disebut sebagai
seorang teroris. Islam juga dianggap sebagai agama yang fanatik dengan
seperti itu sama saja telah memberikan label yang buruk kepada Islam.
b. Glittering Generalities
23
Glittering Generalities adalah mengasosiasikan sesuatu dengan suatu
“kata bijak” yang digunakan untuk membuat kita menerima dan menyetujui
hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Teknik ini dimunculkan untuk
mempengaruhi persepsi masyarakat agar mereka ikut serta mendukung
gagasan propagandis.
Hal yang dapat kita lihat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini ketika
Kolonel menyuruh seorang propagandis untuk menyebarkan pesan yang buruk
mengenai Islam kepada rakyat akan tetapi, seorang propagandis tersebut
menyampaikannya dengan kata-kata bijak seolah-olah rakyat percaya dengan
ucapan yang disampaikan oleh propagandis tersebut.
c. Transfer
Transfer meliputi kekuasaan, sanski dan pengaruh sesuatu yang lebih
dihormati serta dipuja dari hal lain agar membuat “sesuatu” lebih bisa
diterima. Teknik yang seperti ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang
memiliki kekuasaan dalam sebuah negara.
Teknik propaganda transfer bisa digunakan dengan memakai pengaruh
seseorang atau tokoh yang paling dikagumi dan berwibawa dalam lingkungan
tertentu. Seorang propagandis dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini menyebarkan
pesan buruk tentang Islam dengan mengatas namakan Kolonel yang saat itu
sebagai pemimpin negara, propagandis melakukan hal tersebut dengan
maksud agar komunikan terpengaruh secara psikologis terhadap apa yang
dipropagandakan oleh si propagandis.
d. Testimonial
24
Testimonial berisi perkataan manusia yang dihormati atau dibenci bahwa
ide atau program/produk adalah baik atau buruk. Propaganda ini sering
digunakan dalam kegiatan komersial, meskipun juga bisa digunakan untuk
kegiatan politik.
Dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) ini aparat negara menggunakan teknik ini
sebagai kegiatan politiknya untuk memanipulasi pikiran masyarakat dengan
memberikan
pemahaman-pemahaman
negatif
tentang
Islam
kepada
masyarakat, selain itu, aparat negara memberikan pemahaman kepada
masyarakat agar membenci Islam karena orang-orang Islam dianggap sebagai
teroris.
e. Card Stacking
Card Stacking meliputi seleksi dan kegunaan fakta atau kepalsuan,
ilustrasi atau kebingungan dan masuk akal atau tidak masuk akal suatu
pernyataan agar memberikan kemungkinan terburuk atau terbaik suatu
gagasan, program, manusia dan barang. Teknik propaganda yang hanya
menonjolkan hal-hal atau segi baiknya saja, sehingga publik hanya melihat
satu sisi saja.
Pada teknik Card Stacking yang terdapat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim)
ini adalah Aparat negara berusaha menonjolkan sesuatu usaha yang baik yang
telah dilakukan oleh pemerintah kepada rakyat seolah-olah rakyat percaya
dengan hal tersebut. Pemimpin negara menjelaskan kepada rakyat bahwa
mereka berhasil menangkap teroris yang selama ini membuat kehancuran di
negara kita.
25
f. Frustration or Spacegot
Teknik ini digunakan untuk menyalurkan kebencian atau frustasi dengan
cara menciptakan kambing hitam.11
Sementara untuk teknik seperti ini dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim),
Kolonel Mason yang menjadi pemimpin negara dengan sengaja menjadikan
agama Islam sebagai kambing hitam dalam kasus pengeboman yang terjadi di
Candi cafe. Hal tersebut bertujuan agar rakyat membenci Islam hingga
masyarakat memushi orang-orang Islam.
Teknik yang lebih banyak digunakan dalam Film 3 ini, yaitu teknik Name
Calling, Card Stacking, Frustration or Spacegot. Dalam teknik name calling
ini, pemerintah memberikan ide-ide dan pemahaman yang
buruk kepada
masyarakat dengan mengatakan bahwa agama Islam itu bukan agama yang
membawa kebenaran dan kebaikan untuk manusia sehingga secara tidak sadar
masyarakat terpengaruh dengan menganggap Islam sebagai teroris. Sedangkan
dalam teknik card stacking, saat pemerintah memberikan bukti-bukti dan
kesaksian palsu kepada masyarakat mengenai kasus pengeboman yang terjadi
di candie café. Kemudian untuk teknik frustration or spacegot saat pemimpin
negara menjadi orang-orang Islam sebagai kambing hitam yang melakukan
pengeboman.
11
Mohammad Soelhi, Propaganda dalam Komunikasi Internasional, (Bandung: Simbiosa
Reakatama Media, 2012), h. 67.
26
3.
Jenis-jenis Propaganda
Jenis propaganda dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
1. Propaganda Politik adalah propaganda yang dipraktikan melalui pesanpesan dalam jangka pendek dan sementara. Propaganda jenis ini biasanya
melibatkan usaha dari pemerintah, partai atau korporasi, dan golongan
tertentu yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan sosialnya
untuk mencapai suatu tujuannya.
2. Propaganda Sosial adalah propaganda yang sifatnya berangsur-angsur
terserap ke dalam lembaga ekonomi, kehidupan sosial, dan politik dalam
masyarakat. Dalam kehidupan sosial propaganda ini terserap ke dalam
sendi-sendi kehidupan sehingga dapat memengaruhi cara hidup dan
ideologi masyarakat.
3. Propaganda Agitasi adalah propaganda yang biasanya dilakukan oleh
tokoh, aktivis partai politik dan ormas. Karena pada praktiknya kegiatan
propaganda agitasi lebih cenderung menghasut atau memprovokasi dan
membangkitkan
emosional
khalayak
sehingga
khalayak
bersedia
memberikan jiwa dan pengorbanan yang besar untuk mencapai cita-cita
dan tujuan.
4. Propaganda Integratif adalah propaganda yang ditempuh melalui
komunikasi interpersonal dengan target orang-orang tertentu dalam rangka
penanaman doktrin, kemudian target yang sudah kuat mengikuti doktrin
melancarkan propaganda pada target tertentu lainnya, dan seterusnya.
Propaganda ini mengejar suatu tujuan dalam jangka panjang.
27
5. Propaganda Ratio adalah sejenis propaganda yang bersifat positif. Jenis ini
lebih menjurus kea rah perpaduan dan mencipta nama baik.selain itu, ia
mempromosikan ikatan persahabatan dan meningkatkan moral sesuatu
yang disebarkan.
Tiga tambahan tipe propaganda yang dapat melengkapi jenis sebelumnya:
1. Propaganda putih yaitu propaganda yang menyebarkan informasi
ideologi dengan menyebutkan sumbernya.
2. Propaganda kelabu yaitu propaganda oleh kelompok yang tidak jelas.
Biasanya ditunjukkan untuk mengacaukan pikiran orang lain seperti
adu domba, intrik, dan gosip.
3. Propaganda hitam yaitu propaganda yang menyebarkan informasi
palsu untuk menjatuhkan moral lawan, tidak mengenal etika dan
cenderung berpikir sepihak. Misalnya CIA dan KGB saling
menyebarkan berita palsu yaitu sekedar menggertak atau menakutnakuti pihak lawan.
4.
Film Sebagai Media Propaganda
Film sangat besar pengaruhnya dan paling banyak digunakan sebagai alat
propaganda, baik secara terang-terangan maupun secara terselubung. Film merupakan
refleksi dari masyarakat mulai dilakukan dalam beberapa penelitian tentang dampak
film terhadap masyarakat, hubungan antara film dan masyarakat selalu dipahami
28
secara linear.12 Dalam hal ini film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat
berdasarkan muatan pesan (message) dibaliknya tanpa pernah berlaku sebaliknya.
Dalam film secara tidak sadar seseorang akan mudah terpengaruh terhadap
film yang ditontonnya. Sehingga film memiliki peran yang penting untuk dijadikan
media propaganda oleh kalangan para elit politik dalam mempengaruhi masyarakat.
Film selalu menjadi media yang memiliki daya tarik tersendiri terhadap audiensnya.
Film yang ditonton secara terus-menerus akan merubah pola pikir manusia
karena film dan manusia memiliki hubungan yang erat. Sehingga banyak kalangan
politik memilih film sebagai media propaganda untuk menyebarkan isu atau pesan
yang berisi kepentingan para politik.
Pemimpin yang ingin mencapai kinerja kepemimpinan optimal dengan massa
pengikut yang luas dan dikenang sepanjang zaman, akan memilih propaganda sebagai
alat untuk menanamkan pengaruh
yang kokoh ditengah massanya. Upaya yang
ditempuh pun beragam, mulai dari kerapnya ia tampil dalam berbagai forum untuk
berkomunikasi dengan massa pengikutnya, juga menyampaikan pesan melalui media
massa, seperti surat kabar, radio, televisi, dan film, pertunjukan musik, atraksi, gerak
tubuh, atraksi latar, pelantunan lirik lagu.
12
Disitu ia menguatkan kesan
Budi Irawanto, Film, Ideologi, dan Militer, Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia,
(Media Perssindo: Yogyakarta, 1999), h. 13
29
kepemimpinannya melalui simbol tertentu, baik simbol gambar maupun simbol
gerak.13
John A. Broadwin dan V.R. Berghahn (1996), dalam bukunya The Triumphof
Propaganda, Mengutip pernyataan Fritz Hippler bahwa “Dibandingkan dengan seni
lain, film mampu menimbulkan dampak psikologis dan propagandistik yang abadi
dan pengaruhnya sangat kuat karena efeknya tidak melekat pada pikiran, tetapi pada
emosi dan bersifat visual sehingga bertahan lebih lama daripada pengaruh yang
dicapai oleh ajaran gereja atau sekolah, buku, surat kabar, atau radio.14
Tidak diragukan lagi media massa yang paling berpengaruh pada masa Reich
Ketiga adalah film. Film yang bersifat seni merupakan sarana komunikasi yang
digunakan Hilter untuk menanamkan pengaruh pada dunia politik dan menimbulkan
efek terpenting pada massa. Selain film dengan daya persuasif emosional, radio dan
surat kabar juga tidak kalah penting dalam membawa dan menyebarkan pesan
ideologi baru. Dalam konteks strategi propaganda Goebbles, alat propaganda tersebut
merupakan alat faktor yang sangat diperlukan dalam kampanye indoktrinisasi apa
pun, khususnya ditinjau dari fakta bahwa efek film lebih bertahan lama karena tidak
mengenal aktualitas seperti radio dan surat kabar.15
13
Mohammad Soelhi, Propaganda dalam Komunikasi Internasional, (Bandung: Simbiosa
Reakatama Media, 2012), h. 157
14
Mohammad Soelhi. Propaganda dalam Komunikasi Internasional. (Bandung: Simbiosa
Rekatama Media, 2012), h. 165
15
Mohammad Soelhi. Propaganda dalam Komunikasi Internasional. (Bandung: Simbiosa
Rekatama Media, 2012), h. 166
30
Film merupakan alat yang paling ampuh untuk dijadikan media propaganda.
Seperti disalah satu negara yang banyak melakukan propaganda dalam film-filmnya
yaitu Amerika adalah negara yang sengaja atau tidak melakukan propaganda melalui
film-film kepahlawanan tentara Amerika ditunjukkan dalam perang dengan setting
perang “Perang Vietnam”. Untuk menyebut contoh antara lain Coming Home (Hal
Ashby, 1978), The Deer Hunter (Michael Comino, 1978), Rambo Blood Part II
(Goerge F. Cosmatus, 1985), Platon (Oliver Stone, 1986), Full Metal Jacket (Stanley
Kubrick, 1987), dan Apocalyspe Now (Franciz Ford Capollo, 1979).16
Dalam Film 3, film merupakan media yang digunakan untuk mempengaruhi
pikiran manusia. Film menjadi media yang paling ampuh untuk memanipulasi pesanpesan yang terdapat dalam sebuah film. Film yang bersifat audio-visual sehingga film
berbeda dengan media lain yang digunakan sebagai media propaganda lainnya.
Dalam film sutradara berusaha menjelaskan bagaimana kalangan pemimpin politik
dalam mempengaruhi rakyat melalui pesan-pesan propaganda yang disebarluaskan
melalui media massa yang ada di era globalisasi saat ini. Pesan propaganda tidak
hanya disampaikan melalui media cetak dan elektronik saja akan tetapi, film juga
mampu menjadi media propaganda yang digunakan untuk memanipulasi pesan.
Pesan
propaganda
yang
terdapat
dalam
film
3,
saat
pemimpin
menyebarluaskan pesan yang mengandung kebohongan mengenai suatu peristiwa
dimana saat itu pemimpin politik menjadikan Islam sebagai kambing hitam dalam
kejadian tersebut. Dengan seperti itu, masyarakat terpengaruh dengan pesan
16
Nurudin, Komunikasi Propaganda. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 37
31
propaganda yang disebarluaskan oleh kalangan pemimpin politik. Saat seorang
pemimpin politik ingin memperoleh kekuasaan tertinggi di negara mereka akan rela
melakukan hal-hal yang negatif demi keinginan yang dituju.
B. Politik Dalam Struktur Kekuasaan
Istilah “politik” (politics) sering dikaitan dengan bermacam-macam kegiatan
dalam sistem politik ataupun negara yang menyangkut proses penentuan tujuan
maupun dalam melaksanakan tujuan tersebut. Politik adalah seni dan ilmu untuk
meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Biasanya
menggunakan cara atau taktik untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Politik dapat didefinisikan sebagai kegiatan dimana individu atau kelompok
terlibat sedemikian rupa guna memperoleh dan menggunakan kekuasaan untuk
mencapai kepentingannya sendiri. Kendati politik punya kans merusak, politik
sesungguhnya tidaklah buruk. Faktanya, kendatipun para manajer dan pekerja kerap
menolak
bahwa
politik
mempengaruhi
kegiatan
organisasi,
sebuah
riset
mengindikasikan bahwa politik kantor muncul dan ia punya dampak terukur dalam
perilaku organisasi. Definisi lain politik diajukan oleh Richard L. Daft, yang
menurutnya adalah “...penggunaan kekuasaan guna mempengaruhi keputusan dalam
rangka memperoleh hasil yang diharapkan." Penggunaan kekuasaan dan pengaruh
membawa pada 2 cara mendefinisikan politik. Pertama, selaku perilaku melayani diri
sendiri. Kedua, sebagai proses pembuatan keputusan organisasi yang sifatnya
alamiah.
32
Politik
dapat
seni. Dalam prespektif
dipahami
melalui
liberal, substansi
dua
politik
prespektif, yakni
adalah
nilai
liberal
dan
otoritatif, yakni:
bagaimana jabatan, kekayaan, dan pengaruh yang melekat pada diri seseorang atau
sekelompok orang didistribusikan kepada yang lain. Sedangkan dalam prespektif
seni, politik menyangkut kemampuan untuk merebut dan mempertahankan
kekuasaan.
Kekuasaan
memang
selalu
menjadi
perhatian
utama
para
elit
politik. Untuk mendapat kekuasaan, tidak hanya harta benda yang dikorbankan
bahkan kehormatan yang layak jualpun terkadang dijual untuk mendapatkan
kekuasaan. Betapa besar pengaruh seseorang yang memiliki kekuasaan, contoh paling
nyata yang bisa kita lihat adalah Soeharto. Soeharto mendapatkan kekuasaan melalui
kudeta,dan ketika berada dan memiliki tahta kekuasaan tertinggi dia melakukan apaapa yang dia inginkan, bersifat diktator tetapi hal itu adalah benar pada masanya
karna dia yang memiliki kekuasaan tertinggi. Dia dapat mengubah dan membuat
peraturan sesuai kebutuhannya.
Kekuasaan adalah gagasan politik yang berkisar pada sejumlah karakteristik.
Karakteristik tersebut mengelaborasi kekuasaan selaku alat yang digunakan
seseorang,
yaitu
pemimpin
(juga
pengikut)
gunakan
dalam
hubungan
interpersonalnya. Karakter kekuasaan, menurut Fairholm adalah:17
17
Gilbert W. Fairholm, Organizational Power Politics: Tactics in Organizational Leadership,
2nd Edition (Santa Barbara: Praeger, 2009) , p.5.
33
1. Kekuasaan bersifat sengaja, karena meliputi kehendak, bukan sekadar
tindakan acak.
2. Kekuasaan adalah alat (instrumen), ia adalah alat guna mencapai tujuan.
3. Kekuasaan bersifat terbatas, ia diukur dan diperbandingkan di aneka situasi
atau dideteksi kemunculannya.
4. Kekuasaan melibatkan kebergantungan, terdapat kebebasan atau faktor
kebergantungan-ketidakbergantungan
yang
melekat
pada
penggunaan
kekuasaan.
5. Kekuasaan adalah gagasan bertindak, ia bersifat samar dan tidak selalu
dimiliki.
6. Kekuasaan ditentukan dalam istilah hasil, hasil menentukan kekuasaan yang
kita miliki.
7. Kekuasaan bersifat situasional, taktik kekuasaan tertentu efektif di suatu
hubungan tertentu, bukan seluruh hubungan.
8. Kekuasaan didasarkan pada oposisi atau perbedaan, partai harus berbeda
sebelum mereka bisa menggunakan kekuasaan-nya.
Esensi kekuasaan adalah kendali atas perilaku orang lain. Kekuasaan adalah
kekuatan yang kita gunakan agar sesuatu hal terjadi dengan cara disengaja, di mana
influence (pengaruh) adalah apa yang kita gunakan saat kita menggunakan
kekuasaan.
C. Teori Semiotika
34
1.
Konsep Semiotika Roland Barthes
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.
Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di
dunia ini, di tengah-tengan manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika, atau
dalam istilah Barthes, semiologi pada dasarnya hendak memperlajari bagaimana
kemanusiaan (humanity) memakai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal
ini tidak dapat dicampuradukan dengan mengkomunikasikan (to communicate).
Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal
mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem
terstruktur tanda.18
Kata “semiotika” itu sendiri berasal dari Bahasa Yunani, semeion yang berarti
“tanda” atau seme, yang berarti “penafsir tanda” Semiotika berakar dari studi klasik
dan skolastika atas seni logika, retorika, dan peotika. “Tanda” pada masa itu masih
bermakna sesuatu hal yang menunjukkan pada adanya hal lain. Contohnya, asap
menandai adanya api.19
Semiotik berusaha menggali hakikat sistem tanda yang beranjak keluar kaidah
tata bahasa dan sintaksis dan yang mengatur arti teks yang rumit, tersembunyi dan
18
19
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h. 15.
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h. 16
35
bergantung pada kebudayaan. Hal ini kemudian menimbulkan perhatian pada makna
tambahan (connotative) dan arti penunjukkan (denotative).20
Salah satu pakar semiotik yang memfokuskan permasalah semiotik pada dua
makna tersebut adalah Roland Barthes. Ia adalah pakar semiotik Prancis yang pada
tahun 1950-an menarik perhatian dengan telaahnya tentang media dan budaya pop
menggunakan semiotik sebagai alat teoritisnya. Tesis tersebut mengatakan bahwa
makna struktur yang terbangun di dalam produk dan genre diturunkan dari mitosmitos kuno, dan berbagai peristiwa media ini mendapatkan jenis signifikansi yang
sama dengan signifikansi yang secara tradisional hanya dipakai untuk ritual-ritual
keagamaan.
Dalam terminologi Barthes, jenis budaya popular apapun dapat diurai
kodenya dengan membaca tanda-tanda di dalam teks. Tanda-tanda tersebut adalah
hak otonom pembacanya atau penonton.21 Sehingga, dalam semiotik Barthes, proses
represntsi itu berpusat pada makna denotasi, konotasi, dan mitos. Ia mencontohkan,
ketika mempertimbangkan sebuah berita atau laporan, akan menjadi jelas tanda
lingustik, visual dan jenis tanda lain mengenai bagaimana berita itu direpsentasikan
seperti tata letak atau lay out, rubrikasi dan sebagainnya, tidaklah sesederhana
20
Alex Sobur, Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, dan Analisis Framing, (Bandung: PT Remadja Rosdakarya, 2004), h. 126-127
21
Ade Irwansyah, Seandainya Saya Kritikus Film, (Yogyakarta: Homerian Pustaka, 2009), h.
42
36
mendenotasikan sesuatu hal, tetapi juga menciptkan tingkat konotasi yang
dilampirkan pada tanda. 22
Tatanan Pertama
Realitas
Tatanan Kedua
Tanda
Kultur
bentuk
Konotasi
Penanda
Denotasi
Petanda
Mitos
isi
Signifikasi Dua Tahap
Melalui gambar diatas, Barthes, seperti dikutip Friske, menjelaskan signifikasi
tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified di dalam sebuah
tanda terhadap realitas eksternal.
Denotasi adalah hubungan yang digunakan didalam tingkat pertama pada
sebuah kata yang secara bebas memegang peranan penting dalam ujaran. Makna
denotasi bersifat langsung, yaitu makna khusus yang terdapat dalam sebuah tanda,
dan pada intinya dapat disebut sebagai gambaran sebuah pertanda.23 Barthes
menyebutnya sebagai denotasi.
Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara tanda
dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung dan
22
Jonathan Bignell, Media Semiotic: An Introduction, (Manchester and New York:
Menchester University Press, 1997), h. 16
23
Marcel Danesi, Semiotika Komunikasi, h. 125.
37
pasti. Denotasi juga merupakan makna yang objektif dan tetap. Makna denotasi
adalah makna awal utama dari sebuah tanda, teks, dan sebagainya.
24
makna ini tidak
bisa dipastikan dengan tepat, karena makna denotasi merupakan generalisasi. Dalam
terminologi Barthes, denotasi adalah sistem signifikansi tahap pertama.
Sedangkan makna konotatif salah satu jenis makna di mana stimulus dan
respon mengandung nilai-nilai emosional. Makna konotatif terjadi karena sebagian
makna pembicara ingin menimbulkan perasaan setuju-tidak setuju, senang-tidak
senang, dan sebagainya pada pihak pendengar.25 Dalam makna konotatif, orang yang
tersenyum bisa berarti sebagai kesenangan dan kebahagian atau sebaliknya bisa saja
ekspresi senyum itu diartikan sebagai sindiran atau penghinaan terhadap orang lain.
Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang
disebut dengan „mitos‟, yang berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan
pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu.26
Jadi, mitos memiliki tugasnya untuk memberikan justifikasi ilmiah kepada kehendak
sejarah, dan membuat kemungkinan tampak abadi.27
Dapat dikatakan bahwa makna denotatif adalah makna yang digunakan untuk
menunjukkan secara jelas tentang sesuatu yang memiliki arti sebenarnya dari sebuah
tanda. Sedangkan makna konotatif adalah makna yang memiliki arti tambahan dari
makna denotatif yang merupakan hasil dari pikiran yang mengacu pada tradisi,
24
Marcel Danesi, Semiotika Komunikasi, h. 274
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), h. 266.
26
Alex Sobur, Semiotika Komunikasi.,h. 71
27
Roland Barthes, Mitologi, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009), h. 208
25
38
emosional maupun nilai rasa pada seseorang terhadap sesuatu, baik berupa kata
ataupun benda.
Mitos menurut Barthes, disebut sebagai tipe wicara. Ia juga menegaskan
bahwa mitos merupakan sistem komunikasi, bahwa dia adalah sebuah pesan. Hal ini
memungkinkan kita untuk berpandangan bahwa mitos tak bisa menjadi sebuah objek,
konsep, atau ide; mitos adalah cara penandaan (signification), sebuah bentuk. Segala
sesuatu bisa menjadi mitos asalkan disajikan oleh sebuah wacana.28 Dalam mitos
sekali lagi kita mendapati tiga pola dimensi yang disebut Barthes sebagai: penanda,
petanda, dan tanda. Ini bisa dilihat dari peta tanda Barthes yang dikutip dari buku
Semiotika Komunikasi, karya Alex Sobur sebagai berikut;
Sumber: Paul Cobley & Litza Jansz. 1999. Introducing Semiotics. NY: Totem
Books, hlm. 51.
28
Ibid., h. 151-152
39
Dari peta Barthes di atas terlihat bahawa tanda denotative (3) terdiri atas
penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah
juga penanda konotatif (4).
Mitos menurut Barthes memaparkan fakta. Mitos adalah murni sistem
ideografis. Mitos pun dapat sangat bervariasi dan lahir di lingkup kebudayaan massa.
Mitos merupakan perkembangan dari konotasi. Konotasi yang menetap pada suatu
komunitas berakhir menjadi mitos. Pemaknaan tersebut terbentuk oleh kekuatan
mayoritas yang memberi konotasi tertentu kepada suatu hal secara tetap sehingga
lama kelamaan menjadi mitos: makna yang membudaya. Mitos ini menyebabkan kita
mempunyai prasangka tertentu terhadap suatu hal yang dinyatakan dalam mitos.29
Barthes
membuktikannya
dengan
melakukan
pembongkaran
(demontage
semiologique). Mitos juga merupakan suatu bentuk pesan atau tuturan yang diyakini
kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan.
Barthes juga mengupas 28 teks dari berbagai bidang dalam konteks kehidupan
sehari-hari: pertunjukan, novel, buku petunjuk, iklan, keadaan, ma- kanan, boneka,
foto, mobil, bahan baku -plastik-, film, dan otak manusia (Einstein) disebut
Mythologies.
Adapun ciri-ciri mitos menurut Roland Barthes,30 yaitu:
1. Detormatif. Barthes menerapkan unsur-unsur Saussure menjadi form
(signifier), concept (signified). Ia menambahkan signification yang merupakan
29
Indriawan Seto Wahyu Wibowo, Semiotik: Aplikasi Praktis Bagi Penelitian dan Penulisan
Skripsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi, (Tangerang: Wisma Tiga Dara Perum Cimone Permai, 2009), h.
20.
30
Roland Barthes, Mythologies, (Paris: Seuil, 1957), h. 122-130.
40
hasil dari hubungan kedua unsur tadi. Signification inilah yang menjadi mitos
yang mendistorsi makna sehingga tidak lagi mengacu pada realita yang
sebenarnya.
2. International. Mitos merupakan salah satu jenis wacana yang dinyatakan
secara internasional. Mitos berakar dari konsep historis. Pembacalah yang
harus menemukan mitos tersebut.
3. Motivasi. Bahasa bersifat arbiter, tetapi kearibiteran itu mempunyai batas,
misalnya melalui afikasi, terbentuklah kata-kata turunan: baca-membacadibaca-terbaca-pembaca. Sebaliknya, makna mitos tidak arbiter, selalu ada
motivasi dan analogi. Mitos bermain atas analogi antara makna dan bentuk.
Analogi ini bukan sesuatu yang Alami, tetapi bersifat historis.
Salah satu contoh mitosnya. Seperti; minuman anggur di Prancis: denotasi
dari anggur adalah minuman beralkohol yang bisa memabukkan. Barthes
mengamatinya lebih dalam. Orang sangat menikmati anggur yang diminumnya bukan
sekadar untuk bermabuk-mabukan. Hal tersebut ditunjukkan pula oleh adanya
pelabelan tahun bagi minuman tersebut. Anggur dengan merek tertentu dengan usia
yang semakin tua semakin mahal harganya. Di dalam menu makan, anggur
mengambil bagian sintagmatik, yaitu anggur putih menyertai makanan dengan ikan,
anggur merah dengan daging, dsb. Dengan demikian, konotasi anggur, yaitu
kenikmatan, tertanam di dalam praktik kehidupan sehari-hari, memegang peranan
dalam menu dan pada akhirnya menjadi mitos.
41
Contoh yang terdapat dalam Film 3 (Alif, Lam, Mim) berusaha menjelaskan
penanda, pertanda, dan mitos yang terdapat dalam beberapa adegan yang ada dalam
Film 3 (Alif, Lam, Mim) yang menjelaskan mengenai penanda seorang teroris yang
digambarkan oleh pemerintah terhadap agama Islam, sedangkan pertandanya agama
Islam dikaitkan dengan kekerasan dan pengeboman. Kemudian adanya mitos yang
mengidentikan agama Islam dengan teroris, mitos itu muncul karena pengaruh yang
disebarkan oleh budaya Barat dalam menggambarkan agama Islam. Sehingga
masyarakat percaya dengan mitos yang disebarluaskan oleh kalangan politik.
D. Konsep Teror dan fanatik
a.
Teror dan Terorisme
Teror dan terorisme adalah dua kata hamper sejenis yang dalam satu dekade
ini sangat popular. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian Teror ialah
rasa takut yang ditimbulkan oleh orang atau sekelompok orang.31
Teror secara harfiah berarti menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman
oleh seseorang atau golongan. Teroris adalah orang yang menimbulkan rasa takut,
biasanya untuk tujuan politik. Sedangkan terorisme adalah penggunaan kekerasan
31
h. 654
Pusat Bahasa Indonesia, “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991),
42
untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan
politik).
Kata teror pertama kali dikenal pada zaman Revolusi Perancis. Di akhir abad
ke-19, di awal abad ke-20 dan menjelang PD II, terorisme menjadi teknik revolusi.
Istilah “terorisme” pada tahun 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom
yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan.
Pemerintah bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai “teroris” dan aksi-aksi
mereka disebut “terorisme”.
Pada dasarnya istilah terorisme merupakan sebuah konsep yang memiliki
konotasi yang sensitif karena terorisme mengakibatkan timbulnya korban warga sipil
yang tidak berdosa.32
Terorisme saat ini menjadi isu global bagi masyarakat dunia. Terkadang
tindakan terorisme selalu diidentikan dengan agama tertentu sehingga menimbulkan
prangka dan rasa takut terhadap seseorang.
Terorisme dapat dikatakan sebagai perbuatan atau tindakan dengan
menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan termasuk cara kekerasan, jelas
tindakan terorisme bertentang dengan ajaran agama Islam. Dalam ajaran agama Islam
tidak ajarkan melakukan terorisme dengan berbuat kekerasan terhadap sesame umat
manusia.
Teroris yang digambarkan dalam Film 3, seperti cara berpakaian orang-orang
Muslim yang menggunakan baju gamis serta sorban di atas kepala. Selain itu juga,
32
Indriyanto Seno Adji, Terorisme dan HAM dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia,
(Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2001), h. 17
43
teroris yang selalu diidentikan dengan kekerasan tidak hanya itu saja, tetapi dalam
Film 3 masyarakata mengidentikan terorisme dengan kasus pengeboman yang terjadi
di Candi Café. Masyarakat menuduh orang-orang Muslim yang melakukan
pengeboman tersebut. Hingga menimbulkan prasangka terhadap umat Muslim.
b. Fanatik atau Fanatisme
Kata fanatisme berasal dari dua kata yaitu “fanatik” dan “isme”. Kata fanatik
dapat diartikan sebagai sikap seseorang yang melakukan atau mencintai sesuatu
secara serius dan sungguh-sungguh. Sedangkan “isme” dapat diartikan sebagai suatu
bentuk keyakinan atau kepercayaan. Dapat disimpulkan dari dua defines tersebut
bahwa fanatisme adalah keyakinan atau kepercayaan yang terlalu kuat terhadap suatu
ajaran baik politik atau agama.
Fanatisme sesungguhnya adalah sebuah konsekuensi seseorang yang percaya
dan meyakini suatu agama, bahwa apa yang dianutnya adalah benar. Seperti orangorang muslim yang mempercayai bahwa agama Islam yang mereka anut adalah
agama yang benar dan bukan agama yang mengajarkan kejahatan untuk sesamanya.
Fanatik juga dapat diartikan suatu istilah yang digunakan untuk menyebut
suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatif,
tetapi dianut secara mendalam sehingga susah untuk diluruskan atau diubah.
Dalam Film 3, orang-orang Muslim dianggap sebagai orang-orang yang
fanatik terhadap agama yang mereka anut. Hingga pemerintah membenci orang-orang
Muslim karena sikap fanatik mereka kepada agama Islam.
44
Masyarakat Muslim tidak ingin budaya Barat mempengaruhi agama Islam
dengan merubah jati diri agama Islam. Sehingga orang-orang Islam berusaha
mempertahankan agama Islam dengan cara sikap fanatik yang mereka tunjukkan.
Seseorang yang memiliki sikap fanatik cenderung bersikeras terhadap ide-ide
mereka yang menganggap diri sendiri atau kelompok mereka benar dan mengabaikan
semua fakta atau argument yang bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan
mereka. Sehingga seseorang yang memiliki sikap fanatik akan mengabaikan semua
argument-argumen yang menjelekkan keyakinan yang mereka anut.
c.
Prasangka terhadap Islam sebagai Agama Teroris
Konfrontasi dunia Barat dengan dunia Islam sudah bukan hal baru. Pandangan
dunia Barat semakin negatif terhadap umat Islam pasca serangan teroris yang
dilakukan oleh Al-Qaeda terhadap Amerika Serikat pada tanggal 11 september 2001.
Serangan teroris yang dikenal dengan sebutan tragedy 9/11 tersebut menghancurkan
gedung World Trade Center (WTC) dan juga gedung pertahanan Amerika Serikat
Pentagon.
Tindakan terorisme yang dilakukan oleh gerakan Al Qaeda selalu dikaitkan
dengan Islam, hal ini dikarenakan Al Qaeda mengaku bahwa tindakan yang dilakukan
adalah jihad. Sementara jihad oleh dunia Barat selalu berkaitan dengan umat Islam.
Dunia Barat khususnya bagi negara-negara yang menganut paham Liberalis
menganggap bahwa Islam adalah agama yang keras dan identik dengan jihad dalam
bentuk terorisme seperti pengeboman atau bom bunuh diri. Agama Islam yang selalu
45
dipandang sebagai agama teroris disebabkan karena berbagai peristiwa yang selalu
dikaitkan dengan orang-orang Muslim.
Agama Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi dan kehidupan
yang damai dengan semua manusia. Agama Islam melihat bahwa semua manusia
adalah makhluk yang mulia dan terhormat tanpa pandang bulu.33
Orang-orang Barat yang selalu mengidentikan orang-orang Islam dan agama
Islam sebagai teroris adalah salah, karena tidak semua tindakan terorisme dilakukan
oleh orang-orang Islam akan tetapi, bisa saja tindakan itu dilakukan oleh kalangankalangan politik yang mengatasnamakan agama Islam untuk mencapai tujuannya. 34
Dalam Film 3, masyarakat menggambarkan orang-orang Islam sebagai pelaku
terorisme. Sementara agama Islam sebagai agama yang mengajarkan manusia untuk
menjadi seorang teroris. Prasangka yang digambarkan masyarakat yang menganggap
agama Islam sebagai agama teroris adalah salah. Karena dalam agama Islam manusia
diajarkan untuk membawa kedamaian bukan untuk melakukan kekerasan bahkan
kehancuran di muka bumi.
Dalam Film 3 masyarakat selalu menjadi orang-orang Islam sebagai pelaku
kejahatan yang terjadi di muka bumi. Masyarakat menganggap seperti itu karena
mereka
telah
terkontruksi
oleh
pemikiran-pemikiran
Barat
yang
selalu
menghubungkan terorisme dengan agama Islam.
33
http://fokusislam.com/4378-paus-fransiskus-islam-bukan-agama-teroris.html diakses pada
9 Agustus 2016
34
Surya Sukti, Islam dan Terorisme di Asia Tenggara, Junal Studi Agama dan Masyarakat,
Vol, 5, No. I, Thn. 2008, h. 96.
46
E. Film
1.
Pengertian Film
Film atau motion picture ditemukan dari hasil pengembangan prinsip-prinsip
fotografi dan proyektor. Seperti halnya televisi siaran, tujuan khalayak menonton film
terutama untuk memperoleh hiburan. Akan tetapi, dalam film dapat terkandung
fungsi informatif maupun edukatif, bukan persuasif. 35
Film memiliki kekuatan besar dari segi estetika karena menjajarkan dialog,
musik, pemandangan dan tindakan secara bersama-sama secara visual dan naratif.
Dalam bahasa semiotik, sebuah film dapat didefinisikan sebagai sebuah teks yang,
pada tingkat penanda, terdiri atas serangkaian imaji yang mempresentasikan aktivitas
dalam kehidupan nyata.
Pada tingkat petanda, film adalah cermin metaforis
kehidupan. Jelas bahwa topic tentang sinema adalah salah satu sentral dalam
semiotika karena genre-genre dalam film merupakan sistem signifikasi yang
mendapat respons sebagian besar orang saat ini dan yang dituju orang untuk
memperoleh hiburan, ilham, dan wawasan pada level interpretan. 36
Media hiburan film juga dapat dijadikan sebagai media propaganda yang
dilakukan oleh kalangan-kalangan penguasa dan partai politik. Melalui sebuah film
kita dapat menyaksikan tindakan-tindakan yang diperankan tokoh utamanya yang
hampir selalu berakhir dengan kisah sukses yang menggembirakan.
35
36
Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotika Media, (Jogja: Jalasutra, 2010), h.134
Marcel Danesi, Pesan, Tanda, dan Makna, Yogyakarta: Jalasutra, 2012), h. 100
47
Secara umum film memiliki empat fungsi yaitu film sebagai alat hiburan, film
sebagai sumber informasi, film sebagai alat pendidikan, dan film sebagai
pencerminan nilai-nilai sosial budaya suatu bangsa.37
Film Sebagai media komunikasi massa, dapat memainkan peran dirinya
sebagai saluran menarik untuk menyampaikan pesan-pesan tertentu dari dan untuk
manusia, termasuk pesan-pesan keagamaan yang laizimnya disebut dakwah.38
2.
Jenis-jenis film
Film terbagi ke dalam beberapa jenis diantarnya:
a.
Film Horor
Film ini biasanya berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan
supranatural, yang sering berhungan dengan hal gaib atau yang diluar nalar
kita. Sehingga film jenis terkesan menyeramkan.
b. Film Drama
Film drama biasanya bercerita tentang suatu konflik dalam sebuah
kehidupan sehari-hari. Namun, film ini terkadang dibuat secara berlebihan
sehingga penonton terbawa suasana ketika melihat film tersebut.
c. Film Komedi
Film ini biasanya berisi tentang kelucuan atau komedia sehingga
membuat penonton tertawa ketika melihat film genre ini.
d. Film Musikal
37
Teguh Trianto, Film Sebagai Media Belajar, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), h. 3
Asep Saeful Muhtadi, Komunikasi Dakwah, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), h.
38
112
48
Film jenis ini hamper sama dengan jenis film drama. Akan tetapi, dalam
cerita jenis film ini terdapat nuansa musik dari beberapa adegan yang terdapat
dalam film ini.
e. Film Laga (action)
Film laga adalah genre utama dalam film yang satu atau beberapa
tokohnya terlibat dalam tantangan yang memerlukan kekuatan fisik ataupun
kemampuan khusus. 39
Film ini biasanya berisi adegan-adegan yang dilakukan oleh pemainnya.
Film laga
Seperti adegan berantem, loncat dari gedung satu ke gedung
lainnya dan lain sebagainnya. Film seperti ini juga terkadang membuat
penonton yang melihat film ini membuat mereka tegang karena alur cerita
yang disajikan.
Film 3 (Alif, Lam, Mim), termasuk ke dalam film laga (action), karena
film ini dalam beberapa adegannya menampilkan adegan-adegan yang
diperagakan oleh pemainnya. Sehingga saat penonton melihat film ini mereka
merasa tegang dengan alur yang diceritakan dalam Film 3. Akan tetapi, tidak
hanya adegan laga saja yang terdapat dalam beberapa bagian di dalam film.
Dalam film juga terdapat beberapa adegan yang menceritakan unsur-unsur
yang mengandung nilai agama Islam. Terutama ketika seorang Kolonel
Mason yang menjabat sebagai pemimpin politik di negara. Seorang Kolonel
yang memiliki kekuasaan di negara berusaha mempengaruhi masyarakat
dengan menyebarkan isu-isu yang masih semu kebenarannya. Kolonel
39
www.wikipedia.com diakses pada tanggal 6 Juni 2016 pukul 11:09
49
mencoba memberikan citra buruk kepada agama Islam, dia sebarkan pesan
kepada masyarakat dengan tujuan agar masyarakat percaya terhadap
perkataannya kemudian masyarakat akan membenci Islam. Dengan begitu,
propaganda yang dilakukan akan berhasil.
BAB III
SINOPSIS DAN PROFIL PEMAIN FILM 3 (ALIF, LAM, MIM)
A. Sinopsis Film 3 (Alif, Lam, Mim)
FILM “3” adalah film laga futuristik pertama di Indonesia yang menceritakan
tentang persahabatan, persaudaraan dan drama keluarga. Jakarta 2036 (dua ribu tiga
puluh enam), begitu banyak terjadi perubahan. Negara sudah kembali damai dan
49
50
sejahtera sejak perang saudara dan pembantaian kaum radikal berakhir di Revolusi
tahun 2026 (dua ribua dua puluh enam).1
Hak asasi manusia menjadi segalanya. Penggunaan peluru tajam sebagai
senjata sudah menjadi ilegal. Aparat menggunakan peluru karet untuk menangkap
penjahat dan teroris yang masih tersisa. Satu dilema yang sangat menyulitkan bagi
aparat mengingat beberapa kelompok radikal kembali bangkit dan berjuang untuk
mengganti wajah demokrasi sehingga aparat mengandalkan kemampuan bela diri
yang tinggi untuk menumpas para penjahat.
Alif, Lam dan Mim adalah tiga sahabat dari satu perguruan silat yang
dibesarkan bersama di padepokan Al-Ikhlas. Dalam kondisi ini, membekali diri
dengan ilmu bela diri menjadi sesuatu yang mutlak. Dikisahkan ada orang-orang
tertentu yang memiliki keahlian bela diri di atas rata-rata, yaitu Alif, Lam, dan Mim.
Ketiga sahabat itu pernah belajar bela diri di satu Pondok Pesantren Al-Ikhlas milik
KH Muchlis (Arswendy Bening Swara).
Setelah dewasa mereka menempuh takdirnya masing-masing Alif yang lurus
dan keras dalam bersikap memilih menjadi aparat negara. Ia bertekad membasmi
semua bentuk kejahatan dan mencari para pembunuh kedua orangtuanya. Lam yang
sikapnya lebih tenang menjadi seorang jurnalis. Bertujuan untuk menyebarkan
kebenaran dan menjadikan dirinya mata dari rakyat. Sementara Mim yang bijak
memilih mengabdi menjadi pengajar dan menetap di padepokan.
1
www.wikipedia.com diakses tgl. 10 Mei 2016, pkl. 12:20
51
Ketiganya dipertemukan kembali setelah terjadi kekacauan pasca ledakan bom
di sebuah cafe. Hal itu terjadi karena adanya rentetan kejadian yang membuat Jakarta
chaos. Bom meledak di mana-mana. Kelompok radikal dituding berada di balik
peledakan kafe dan tempat hiburan. Perburuan Alif untuk menangkap dalang
peledakan membawa ia bertemu kembali dengan sahabat lamanya, Lam dan Mim,
serta kekasih lamanya, Laras (Prisia Nasution).
Bukti-bukti dan investigasi mengarah pada keterlibatan Mim beserta anakanak padepokan. Alif harus menghadapi sahabatnya sendiri dan menghancurkan
padepokan yang telah membesarkannya. Lam yang terjepit diantara kedua sahabat
berusaha mencari titik temu demi menghindari kehancuran yang lebih parah. Mim
memilih mengahadapi para aparat dan rela mengorbankan jiwanya tanpa kompromi.
Alif, Lam dan Mim dipaksa bertempur satu sama lain dalam mempertahankan dan
memperjuangkan kebenarannya masing-masing, seraya harus terus menjaga keluarga
dan orang-orang yang mereka hormati dan cintai. Alif Lam Mim bisa dijadikan
sebuah pencerminan dan kontemplasi (perhatian penuh) akan kehidupan asosiasi
(perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan bersama) negara yang terbelah
dalam beberapa kubu yang merasa paling benar. 2 film ini merupakan murni cerita
fiksi yang menyoal kebaikan dan sikap nondiskriminasi terhadap agama apa pun.
2
http://arulfittron.blogspot.co.id/2015/10/3-alif-lam-mim-2015-review-tatkala.html diakses
pada. 24 Mei 2016.
52
B. Profil Anggy Umbara Sebagai Sutradara Film 3 (Alif, Lam, Mim)
Anggy Umbara (lahir di Jakarta, 21 Oktober 1980; umur 35 tahun) adalah
seorang sutradara asal Indonesia. Film pertamanya adalah Mama Cake. Kemudian ia
mengarap film Coboy Junior The Movie, film ini pun berhasil sukses. Kemudian
namanya semakin terdengar ketika ia membuat film ke 3 nya Comic 8 yang
mendapatkan antusias luar biasa dari penonton. Selain itu Anggy Umbara juga
menjadi sutradara dari film 3:Alif, Lam, Mim yang sempat mendapatkan nominasi
sebagai penghargaan Penulis Skenario Asli Terbaik Festival Film Indonesia 2015 atas
naskah film 3 yang bersama Bounty dan Fajar Umbara.3 Anggy Umbara juga
sutradara dari film aksi-komedi Comic 8: Casino King dan Comic 8: Casino King
Part 2. Anggy Umbara sebagai sutradara dalam film 3 (tiga) punya teori sendiri
tentang hal ini. Melalui film 3 (tiga), sutradara muda ini menguliti persoalan yang
membelit kaum Muslim di tengah dunia yang beranjak liberal.4
3
http://entertaiment.ko,pas.com/read/2015/11/23/211129010/anggy.umbara.menggelar.harapa
n.di.Karpet.merah.ffi.215? Diakses pada 17 Mei 2016.
4
http://twitter.com # @FILM_Indonesia #3TheMovie #KamisKeBioskop
#BanggaFilmIndonesia diakses pada . 28 Februari 2016.
53
Dari sinilah Anggy membuka sikap keberpihakannya pada religiositas yang
belakangan ini sering disalahpahami. Peristiwa bom bunuh diri atas nama jihad yang
merebak di mana-mana memunculkan gelombang fobia (ketakutan) terhadap Islam.
Segala simbol yang terkait dengan Islam, termasuk cara berpakaian dan
penampilan, seperti jenggot dan sorban, membuat banyak orang melirik curiga.
Mereka yang memilih berpakaian gamis dicap sebagai teroris atau paling tidak ikut
andil dalam menebarkan paham radikalisme.
Anggy percaya, Islamofobia tidak hanya terjadi di Amerika Serikat dan Eropa,
tetapi terjadi juga di Indonesia. Setidaknya pada tahun 2036, masa yang
melatarbelakangi film 3. Di saat itu Islamofobia semakin tampak terang-terangan.
Di sebuah kafe, misalnya, ada larangan bagi siapa pun yang masuk ke kafe itu
dengan memakai simbol-simbol agama. Maka, tiga lelaki berpakaian gamis dan
bersorban pun terpaksa menyerah ketika diusir keluar oleh pelayan kafe. Sudah
diusir, mereka pun dituduh meledakkan kafe itu hanya karena tas berisi parfum dan
surat-surat tertinggal di sana.
B. Profil Pemain Film 3 (Alif, Lam, Mim)
1.
Abimana Aryasatya
54
Abimana Aryasatya (lahir di Jakarta, Indonesia, 24 Oktober 1982; umur 33
tahun) adalah aktor Indonesia. Sebelumnya Aktor yang juga sempat terlibat dalam
sinetron lupus pada tahun 90-an ini dikenal dengan nama Robertino, namun karena
alasan pribadi ia kemudian mengubah namanya menjadi Abimana.
Abimana Aryasatya memulai karier di dunia hiburan dengan tampil di layar
kaca dengan nama Robertino. Pada tahun 2011, ia tampil dalam film Catatan (Harian)
Si Boy. Kemudian pada tahun 2012, ia berperan sebagai pemeran utama pada film
Republik Twitter.
Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Herlam atau yang lebih dikenal
dengan sebutan Lam dalam film 3 (Alif, Lam, Mim). 5 Alif yang memiliki sikap lebih
tenang dalam menyikapi setiap masalah yang datang kepadanya akan tetapi, Alif juga
selalu sebagai penengah diantara kedua sahabatnya yaitu Alif dan Mim, mereka
berdua selalu memiliki pemahaman dan prinsip yang berbeda sehingga susah untuk
menyatukan mereka berdua. Adapun Lam menempuh jalan menjadi jurnalis untuk
membongkar ketidakadilan.
Lam memilih menjadi seorang jurnalis karena dia ingin membongkar segala
kebohongan yang dilakukan oleh publik sehingga masyarakat tidak lagi tertipu oleh
para pemimpin politik terutama hal-hal yang berbau Islam. Lam selalu berusaha
mengungkap tuntas kasus yang menurutnya janggal.
Dalam menjalani lakonnya sebagai seorang jurnalis Abimana mengaku, pada
5
http://www.tribunnews.com/seleb/2015/09/29/abimana-aryasatya-lawan-atasan-demiidealisnya-sebagai-wartawan diakses pada. 18 Mei 2016.
55
film tersebut ia kerap mengalami pertentangan batin dengan atasannya lantaran apa
yang dikerjakannya tidak sesuai idealis pada dirinya. 6
2.
Cornelio Sunny Sebagai Alif
Cornelio Sunny, (lahir 15 April 1985; umur 31 tahun) merupakan seorang
aktor berkebangsaan Indonesia. Ayahnya berasal dari Meksiko, sedangkan ibunya
dari Palembang. Ia dikenal lewat perannya sebagai Sridar dalam film Haji
Backpacker. Cornelio Sunny bukan hanya aktif di film tapi ia juga menjadi model
iklan dan bermain di serial televisi (FTV). Disamping selain menjadi seorang Aktor,
Cornelio sunny juga sebagai Film Maker dan Writer dan Director dan ini semua
semakin menguatkan eksistensi Lio sapaan Akrabnya di dunia perfilman, Terbukti
banyak penghargaan Festival film baik di luar negeri maupun dalam negeri yang di
terima oleh Film yang di bintangi Lio.
Cornelio Sunny yang berperan sebagai Alif dalam film 3 (Alif, Lam, Mim)
tersebut. Alif yang memiliki karakter lurus dan keras dalam bersikap memilih
6
http://www.tribunnews.com/seleb/2015/09/29/abimana-aryasatya-lawan-atasan-demiidealisnya-sebagai-wartawan diakses pada. 24 Mei 2016.
56
menjadi aparat negara.7 Ia bertekad membasmi semua bentuk kejahatan dan mencari
para pembunuh kedua orangtuanya. Alif berjanji kepada Alm. Ayah dan Ibunya untuk
menemukan orang-orang yang telah membunuh orangtuanya sehingga dia memilih
untuk menjadi aparatur negara. Alif sebagai aparat yang patuh terhadap perintah yang
diberikan oleh Kolonel Mason. Karena Alif menganggap bahwa apa yang
diperintahkan oleh Kolonel Mason adalah perintah yang dari seorang atasan yang
harus dipatuhi oleh bawahannya.
3.
Agus Kuncoro Sebagai Mim
Agus Kuncoro Adi (lahir di Jakarta, 11 Agustus 1972; umur 43 tahun) adalah
seorang aktor Indonesia. Agus mengawali debutnya lewat film Saur Sepuh IV, Titisan
Darah Biru (1991).Namanya melejit lewat perannya sebagai Azzam dalam sinetron
religi Para Pencari Tuhan. Beberapa sinetron yang pernah dibintanginya antara lain
Tutur Tinular (1997) sebagai Raden Wijaya, FTV Sayekti dan Hanafi sebagai Hanafi
bersama Widi Mulia sebagai Sayekti, Dunia Tanpa Koma sebagai Andar
Manik,Maharani, dan Debu Tertiup Angin. Sedangkan film yang pernah
7
http://www.tribunnews.com/seleb/2015/08/10/3-sahabat-satu-pesantren-tapi-bedamemandang-agama diakses tgl. 20 Mei 2016, pkl. 19:17
57
dibintanginya adalah Be Happy di Pinggir Kali bersama Kristina serta Kun Fa
Yakuun yang rencana tayang awal 2008.
Agus Kuncoro yang berperan sebagai Mim dalam film 3 (Alif, Lam, Mim)
tersebut. Mim yang memiliki karakter seorang yang bijaksana diantara kedua
sahabatnya yaitu Alif dan Lam. Mim
memilih mengabdi menjadi pengajar dan
menetap di padepokan. Mim menyebarluaskan dan mengajarkan agama Islam kepada
orang-orang karena kecintaannya terhadap Islam sehingga dia lebih memilih bertahan
di padepokan dibandingkan dengan menjadi Aparatur negara dan Jurnalis seperti Alif
dan Lam. Mim ingin umat Islam lebih maju lagi agar tidak dianggap sebagai teroris.
4.
Prisia Nasution Sebagai Laras
Prisia Nasution (lahir dengan nama Prisia Wulandari Nasution, lahir di
Jakarta, 1 Juni 1984; umur 31 tahun) yang akrab disapa Phia adalah seorang model
dan aktris Indonesia.8 Prisia memulai karirnya sebagai pemeran utama dalam film
adaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk berjudul Sang Penari tahun 2011 dan
langsung meraih penghargaan Aktris Utama Terbaik di Festival Film Indonesia 2011.
8
www.wikipedia.com diakses tgl. 12 Mei 2016, pkl. 10:15
58
Setelah meraih penghargaan Festival Film Indonesia karir Prisia di dunia perfilman
Indonesia melambung dengan membintangi lima film pada tahun 2013 yaitu Isyarat
sebuah film Omnibus (kumpulan film) bergenre drama, berperan sebagai istri Joko
Widodo Iriana dalam Jokowi (film), berperan sebagai aktivis lingkungan Butet
Manurung dalam Sokola Rimba, Rectoverso (film) sebuah film adaptasi dari novel
karya Dewi Lestari, dan sebuah film perjalanan Laura & Marsha.
Tahun 2014 Prisia kembali tampil dalam sebuah film drama Unlimited Love
yang mengambil syuting di Eropa. Selain itu Prisia juga kembali berkolaborasi
dengan Ifa Isfansyah untuk kedua kalinya dalam Pendekar Tongkat Emas. Setahun
berikutnya Prisia kembali tayang dalam film bergenre laga yaitu 3 (film) sebuah film
fiksi ilmiah dan Comic 8: Casino Kings Part 1 sebuah sekuel pertama Comic 8, kedua
film yang dibintangi Prisia tahun ini merupakan karya Anggy Umbara.
Prisia Nasution yang berperan sebagai Laras dalam film 3 (Alif, Lam, Mim).
Laras adalah kekasih lama Alif yang telah menghilang kemudian Laras dating dengan
membawa kerusuhan yang bersumber dari ayahnya sendiri yaitu Kolonel Moses yang
saat itu menjabat sebagai pemimpin negara. Namun, Laras menjadikan Islam sebagai
penyebab kerusuhan yang terjadi pada waktu itu.
Prisia Nasution lahir di Jakarta, Indonesia pada 1 Juni 1984. Dimulai pada
bangku SMP, Prisia bergabung dengan kamp pelatihan nasional untuk seni bela diri
Indonesia pencak silat. Ia kemudian kuliah di Swiss German University, di BSD,
Serpong, jurusan teknologi informasi.
Pada tahun 2003, selama studi universitasnya, Prisia ditawari kesempatan
59
untuk menjadi model runway. Alhasil dia diterima sebagai model, dia pun berpikir
bahwa ini adalah cara mudah untuk mendapatkan uang, tapi dia membatin bahwa dia
tidak memiliki kepercayaan diri untuk melakukannya secara profesional, dalam
sebuah wawancara 2011 dengan The Jakarta Post dia berkata pahanya yang terlalu
besar, membuat tubuhnya "aneh" untuk permodelan.
Setelah pensiun dari dunia permodelan, Prisia berperan dalam beberapa film
televisi. Dia juga merambah film layar lebar dalam film karya Ifa Isfansyah tahun
2011 berjudul Sang Penari (The Dancer) sebagai tokoh utama perempuan, Srintil,
setelah dua kali sesi casting. Ketika audisi pertamanya gagal, dia membaca novel asli
karya Ahmad Tohari tersebut dan bertekad kuat bahwa dia harus ikut dalam film
tersebut.
Pada Januari 2012, Prisia Nasution bermain dalam serial TV Laskar Pelangi–
The Series (Rainbow Warriors– The Series), berdasarkan novel karya Andrea Hirata.
Untuk perannya dalam Sang Penari, Prisia Nasution menerima Penghargaan Citra
untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik pada Festival Film Indonesia 2011.
5. Piet Pagau Sebagai Kolonel Mosan
Piet Pagau (lahir di Desa Baru Raya, Mempawah Hulu, Landak, Kalimantan
60
Barat, 23 Februari 1951) adalah pemeran Indonesia. Telah puluhan film dan sinetron
telah dibintangi Piet sejak mulai berkarier awal 1980-an. Bahkan selama industri
perfilman Indonesia colaps, Piet tetap eksis di dunia sinetron. Sinetron yang pernah
didukungnya antara lain Dua Pelang dan Gadis Penakluk.
Piet Pagau yang berperan sebagai Kolonel Moses dalam film 3 (Alif, Lam,
Mim). Kolonel Moses merupakan seorang pemimpin yang serahkan karena
ambisinya untuk menguasai negara sehingga dia berusaha melakukan propaganda
kepada rakyat. Propaganda yang dilakukan oleh Kolonel Moses yaitu dengan
menyebarluaskan informasi yang salah mengenai Islam terutama hal yang berkaitan
dengan pengeboman yang terjadi di Jakarta saat itu. Bahkan, Kolonel Moses adalah
dalang utama dari penyebab kehancuran dan kerusuhan yang terjadi saat itu.
Selain berakting di depan kamera, Piet Pagau yang ini juga terlibat dalam
berbagai kegiatan politik, baik pemerintahan maupun 'politik' perfilman. Tahun 2002,
Piet terjun ke dunia politik untuk penjaringan bakal calon Gubernur Kalimantan Barat
untuk periode 2003-2008. Piet memang bukan orang baru orang baru di
pemerintahan. Piet merupakan lulusan lulusan APDN tahun 1974. Dari tahun 1971
hingga 1976, ia mengabdikan diri dengan menjadi pegawai di kantor Pemerintah
Provinsi Kalimantan Barat. Terakhir, ia ditugaskan di kantor Camat Batang Lupar,
Lanjak, Kapuas Hulu, sebelum kemudian berhenti atas kemauan sendiri dan merantau
ke Jakarta untuk mencari pengalaman. Selain itu, Piet juga pernah bersaing untuk
memperebutkan kursi Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), periode
2006-2010. Perebutan ini dimenangkan oleh Yenny Rachman yang meraih suara
61
mutlak dengan perolehan suara 306. Sedangkan Piet Pagau meraih suara terbanyak
kedua dengan total suara 96, serta Marvin memperoleh 86 suara. Untuk kepengurusan
periode tersebut, akhirnya Piet menduduki jabatan sebagai Dewan Pertimbangan
Organisasi.
Selain itu Piet juga aktif dalam kepartaian yaitu saat ini menjabat sebagai
anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP) DPD Partai Demokrat Kalimantan Barat.
C. Tim Produksi dan Nama-nama Pemain Film 3 (Alif, Lam, Mim):
Anggy Umbara
: Sutradara dan Penulis Skenario
Bounty Umbara
: Penulis Skenario (Adik Anggy Umbara)
Fajar Umbara
: Penulis Skenario (Adik Anggy Umbara)
Arie K Untung
: Produser Film
Agus Kuncoro
: Sebagai Mim
Abimana Aryasatya
: Sebagai Lam
Cornelio Sunny
: Sebagai Alif
Prisia Nasution
: Sebagai Laras
Tika Bravani
: Sebagai Gendis
Piet Pagau
: Sebagai Kolonel Mason
Cecep Arif Rahman
: Sebagai Guru Silat
Donny Alamsyah
: Sebagai Aparat Negara
Verdi Solaiman
: Sebagai Jurnalis
Tanta Ginting
: Sebagai Aparat Negara
62
Bima Azriel
: Sebagai Aparat Negara
FAM Pictures
: Tim Produksi
MVP Pictures
: Tim Produksi
D. Keistimewaan Film 3 (Alif Lam Mim)
Film 3 dalam waktu penggarapan yang singkat dibandingkan film sejenisnya.
Pembuatan naskah 6 bulan, persiapan 3 bulan, workshop 2 bulan, syuting 26 hari, dan
CGI 2 bulan. Total pengerjaan kurang lebih 1,5 tahun. Semuanya dikerjakan oleh
para sineas Indonesia. Hal ini mengejutkan bagi para sineas asing. Budget yang
dikeluar Film 3 mencapai 10 Miliar.
Film
ini
mampu
mengikuti
festival
Internasional
Balinale
yang
diselenggarakan di Bali walaupun harus kejar-kejaran dengan waktu pengerjaan yang
sangat terbatas dan deadline yang sempit. 50% penonton dari film ini bukanlah orang
Indonesia melainkan panitia festival dari 26 negara diseluruh dunia. Film laga
futuristik pertama di Indonesia.
“Alif Lam Mim”, terdengar sangat familiar bagi kita khususnya umat Islam.
Rangkaian huruf yang menjadi pembukaan beberapa surat dalam Al-Qur’an. Alif
Lam Mim ditemukan pada 6 surat berbeda dalam Al-Qur’an diantaranya surat AlBaqarah, Ali Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman, dan As-Sajadah. Dikenal istilah
“Huruf Muqaththa’ah” sebagai nama lain untuk menyebutkan rangkaian huruf ini.
63
Namun sang sutradara memiliki pendapat tersendiri mengenai makna dari
Alim Lam Mim. “Alif itu kan lurus, saya suka menggambarkan sebagai api. Lam itu
kayak udara. Mim itu kan ke bawah seperti air. Jadi saya gambarkan seperti avatar,”
jelas Anggy.9
Memang judul dari film ini memancing beragam tafsiran sesuai dengan sudut
pandang dari masing-masing orang yang menafsirkannya. Keberagaman sudut
pandang inilah yang kemudian lebih banyak dibahas dalam setiap adegan film ini.
a. Beberapa Penghargaan yang didapat Film 3 sebagai berikut:
1. Best Feature Film Freethought International Film Festival di Florida – USA
2. 5 Nominasi di FFI (Festival Film Indonesia) 2015
3. 8 Nominasi di Piala Maya 2015
4. 4 Nominasi di Indonesian Movie Actor Awards (IMAA) 2016.10
5. World Premiere di Balinale International Film Festival
6. New Asian Action Film di OSAKA
7. Jogja Asian Film Festival
8. Opening Film di Indonesian Film Festival Los Angels
9. Best Editing di Piala Maya 2015
9
https://nurbaitihikaru.com/2016/01/10/review-film-3-alif-lam-mim/ diakses tgl. 24 Mei
2016, pkl. 11:21
10
https://twitter.com//@3_themovie/ diakses pada 18 Juni 2016
64
b. Tiga Sahabat dalam Satu Cerita
Film Alif Lam Mim bercerita tentang persahabatan tokoh Alif, Herlam dan
Mimbo. Mereka tumbuh bersama di sebuah padepokan silat bernama Al-Ikhlas.
Lebih tepatnya Pondok Pesantren Al-Ikhlas yang dipimpin oleh Kiai Mukhlis.
Walaupun sangat akrab, ketiganya memiliki cita-cita yang berbeda. Alif,
bertekad untuk menjadi seorang aparat negara yang dapat menegakkan hukum yang
benar. Sedangkan Herlam (Lam) memilih untuk menyampaikan kebenaran lewat
tulisan. Adapun Mimbo (Mim), memutuskan untuk mengabdikan kehidupannya
sebagai seorang pengajar di Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Meskipun jalan yang
mereka pilih berbeda, akan tetapi mereka memiliki satu tujuan yang sama yaitu
membela kebenaran dan memegang teguh idealisme.
Pada akhirnya mereka dapat mewujudkan cita-cita tersebut. Alif dapat
bergabung sebagai penegak hukum dalam pasukan elit Detasemen 38: 80-83, Lam
menjadi seorang Jurnalis di kantornya Libernesia, dan Mim mengabdi sebagai ustad
di Pondok Pesantren Al-Ikhlas.
c. Film Futuristik: Jakarta 2036
Kota Jakarta di tahun 2036, sungguh masih jauh dari bayangan kita. Mungkin
akan ada banyak hal yang terjadi menjelang 20 tahun tersebut. Dalam film ini, tahun
2036 digambarkan sebagai akhir dari perang saudara dan pembantaian kaum radikal
di Revolusi tahun 2026. Negara kembali damai sehingga hak asasi manusia
dipandang sebagai hal yang sangat penting. Bahkan hal ini terlihat dari keputusan
65
pihak penegak hukum untuk mengilegalkan penggunaan peluru tajam. Aparat negara
hanya menggunakan peluru karet untuk melumpuhkan penjahat dan teroris. Mau tak
mau, akhirnya mereka harus menguasai ilmu bela diri yang mumpuni untuk
meningkatkan efektivitas penumpasan kejahatan.
Film ini tercatat sebagai film laga futuristik pertama di Indonesia. Pada
beberapa bagian dari film terlihat pemvisualisasian dari setting waktu dan lokasi yang
cukup jeli. Contohnya terkait lingkungan Kota Jakarta di tahun 2036 dan aneka
gadget yang mungkin akan digunakan di masa depan (hp dan kompter transparan, spy
camera dari kontak lens). Begitu juga dengan penggambaran faham liberalisme yang
berkembang di masyarakat. Ritual keagamaan yang mulai ditinggalkan karena
dianggap kuno. Bahkan agama dicap sebagai pemicu kekerasan. Kelompok yang
awalnya mayoritas, menjadi kelompok minoritas dimasa itu.
d. Kawan atau Lawan?
Konflik berawal dari kejadian pemboman di sebuah kafe. Alif bahkan nyaris
menjadi salah seorang korban. Sedangkan Lam yang meliput kejadian menemukan
berbagai kejanggalan dari kejadian tersebut. Hingga akhirnya mengantarkan Lam
pada fakta ditemukannya botol-botol parfum yang diproduksi oleh pondok pesantren
Mim di lokasi kejadian.
Lam masih mencari berbagai fakta untuk melengkapi tulisannya, namun ia
justru diminta untuk berhenti mengusut kasus tersebut dan ditugaskan meliput di luar
Jakarta. Lam terjebak dalam pilihan antara resign atau menjalankan tugas peliputan di
luar kota.
66
Keinginan Lam yang sangat kuat untuk mengungkap kasus tersebut
membuatnya untuk memilih resign. Namun masalah berikutnya muncul. Spam
tulisan Lam yang belum rampung mengenai kasus bom tersebar kepada beberapa
awak media. Konten tulisan tersebut mengarahkan pada bukti bagi pihak aparat
terkait keterlibatan Mim dan santri-santrinya sebagai tersangka utama. Sebagai
seorang aparat negara, Alif harus menjalankan perintah penangkapan bagi Mim atau
pimpinannya. Sedangkan Lam terjebak dalam pertarungan antara menemukan
kebenaran, menengahi persiteruan antara sahabat, dan ancaman keselamatan anggota
keluarganya. Bahwa mereka mungkin sama-sama memegang kebenaran, namun kini
berada dalam kubu yang berseberangan. Yang belum mereka sadari saat itu adalah
orang-orang yang menyusun aneka intrik di belakang mereka. Setiap orang berusaha
untuk memegang kebenaran dari sudut pandangnya masing-masing.
e. Sejarah, Silat, dan Santri
Dalam beberapa bagian dari film ini, penonton akan menyaksikan adegan bela
diri (silat). Adegan-adegan ini seperti mengajak kita untuk kembali meresapi
beberapa potongan sejarah bangsa. Salah satu contohnya adalah saat perang Paderi,
perjuangan melawan penjajah di Sumatera Barat yang dipimpin oleh Tuanku Imam
Bonjol. Bahwa perjuangan tersebut diwarnai oleh para santri dengan kemampuan silat
yang mumpuni. Film Alif Lam Mim seakan mengambil peran untuk mengingatkan
kita bahwa silat dan santri adalah sebuah bagian dari sejarah bangsa dan mungkin
akan kembali kita butuhkan dimasa depan.
f. Unsur Dakwah yang Dikemas Indah
67
Arie Untung selaku produser mengakui bahwa banyak hal dalam film ini
terinspirasi dari kisah-kisah dizaman Rasulullah Muhammad SAW. Namun inspirasi
tersebut dikemas ulang sesuai dengan konteks abad 21.
Contohnya pada pemilihan angka Detasemen 38: 82-83, yang merupakan
nama dari pasukan elit tempat Alif bernaung. Angka-angka tersebut bukan tanpa
makna.
pada Al-Qur’an surat ke 38 yaitu Shad ayat 82-83.
(83). ََ‫صين‬
ِ َ‫( إِ ّ ََل ِع َبادَكََ ِم ْن ُه َُم ا ْل ُم ْخل‬82). ََ‫قَا ََل فَ ِب ِع ّز ِتكََ ََلُ ْغ ِو َينّ ُه َْم أَ ْج َم ِعين‬
Artinya: Iblis Menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka
semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.
Pemaknaan dari potongan ayat ini kemudian digambarkan dengan jelas pada
salah satu adegan saat Alif diracuni oleh pimpinan Kolonel Mason.
Seseorang yang mukhlis digambarkan pada tokoh pimpinan Pondok Pesantren
Al-Ikhlas yaitu Kiai Mukhlis. Kiai yang mampu menciptakan lingkungan pesantren
yang terbuka bagi semua mazhab untuk toleransi dan hidup tentram berdampingan.
Karena itulah beliau akhirnya dijebak oleh Detasemen 38: 82-83 untuk dijadikan
tersangka kasus terorisme.
Bagian ini tentu dapat menjadi pengingat bagi kita bahwa tantangan umat
Muslim di masa yang akan datang akan jauh lebih berat. Bahwa shaf (barisan) harus
68
dirapatkan. Muslim harus bersatu. Sebagaimana pesan dari Kiai Mukhlis kepada Mim
saat dirinya ditangkap oleh aparat Negara.
g. Kelemahan Film
Beberapa efek yang digunakan dalam film ini masih terlihat kurang begitu
baik. Hal ini mungkin dikarenakan budget pembuatan film yang terbatas. Namun
dengan budget yang terbatas, akan tetapi dapat memproduksi film sebaik ini, menurut
saya film Alif Lam Mim patut untuk mendapatkan apresiasi.
Kompleksnya ide yang ditampilkan dalam film ini mungkin menjadi kendala
penggarapan trailernya. Sehingga trailer tampil kurang meyakinkan untuk
memberikan cuplikan dari isi film ini.
Hasil yang diperoleh dari pemutaran Film 3 (Alif Lam Mim) memang
membuat banyak pihak terkejut. Butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk
memproduksi film tersebut. Tapi memang harapan tak selalu sesuai dengan
kenyataan. Film ini karena mengusung nuansa agama sehingga kurang diminati oleh
pencinta perfilman.
BAB IV
DATA DAN ANALISIS DATA
A. Makna Semiotik (Denotasi, Konotasi, dan Mitos) dalam Film 3 Alif Lam Mim
Makna pesan propaganda komunikasi politik tentang Islam dalam Film 3
(Alif, Lam, Mim) diolah berdasar model semiotika Roland Barthes sebagaimana
gambar dan tabel di bawah ini:
1. Data 1
Gambar 1. (durasi 00:34:01)
Gambar 2. (durasi 00:43:15)
Gambar 3. (durasi 00:34:45)
Gambar 4. (durasi 00:36:09)
Gambar 5. (durasi 00:37:13)
69
70
Tabel 1
Analisis Data 1
No Penanda
1
-Empat
orang
yang
sedang
berbincang dalam
sebuah cafe. Pria
yang
menggunakan
topi adalah Alif,
sedangkan wanita
itu
sebagai
seorang waiters,
dan dua orang
yang mengenakan
baju gamis dan
sorban
adalah
orang Muslim.
Alif:
saya
sebelumnya minta
maaf
kepada
bapak-bapak
untuk
meninggalkan
café ini, bukan
maksud
saya
untuk
berlaku
tidak
sopan
kepada
kalian
tapi ini semua
demi kenyamanan
bersama.
orang
Muslim:
kenapa kita harus
pergi dari sini,
kita hanya ingin
makan
karena
merasa lapar.
Waiters: iya, lebih
baik kalian pergi
saja.
Orang Muslim:
baiklah, kita akan
Petanda
-Sikap curiga yang
ditunjukkan oleh
seorang
waiters
saat
melihat
pakaian dua orang
Muslim tersebut.
-ekspresi wajah dan
sikap yang sinis
yang ditunjukkan
oleh waiters café.
Menjelaskan
bahwa secara tidak
langsung
Alif
mengusir dua orang
Muslim
namun,
dengan
menggunakan
sikap yang sopan.
Konotasi
Pakaian panjang
da
n sorban serta
seseorang yang
memiliki
jenggot panjang
dianggap
dan
diduga adalah
pakaian seorang
teroris.
Teroris memiliki
makna
yang
sensitif karena
perbuatan yang
dilakukan teroris
dapat
diidentikan
dengan
kekerasan dan
pengeboman.
Mitos
Jubbah yaitu
pakaian
longgar yang
kedua
lengannya
panjang, yang
biasanya
dikenakan
oleh
ulama
Islam.
Sorban adalah
salah
satu
jenis pakaian
yang
dikenakan di
kepala,
biasanya
berupa
kain
yang digulung
atau
diikat
dikepala.
Sorban
ini
awalnya
berasal
dari
budaya Arab.
Baju
gamis
dan
sorban
merupakan
pakaian yang
sering
digunakan
oleh
kaum
laki-laki
terutama
untuk orangorang
yang
beragama
Muslim. Pada
za
man Nabi Saw
71
2
3
4
pergi dari sini.
Alif
mengantarkan dua
orang
Muslim
masuk ke dalam
mobil.
Kemudian
dua
orang
Muslim
pergi dari Candi
café
sambil
mengucapkan
salam
kepada
Alif.
Dua
orang
Muslim:
Assalaikumsalam
Alif:
waailaikumsalam
(dengan
posisi
wajah menunduk
ke bawah).
Suara
ledakan
yang
terdengar
dari dalam Candi
café.
Gambar seorang
Pria
yang
menggunakan
pakaian
gamis
dan sorban.
Dalam hal ini Alif
berusaha
untuk
menghargai
dan
menghormati dua
orang
Muslim
tersebut
dengan
bersikap
ramah
kepada mereka.
Alif tetap percaya
dan
meyakini
agama Islam hal itu
terlihat saat Alif
menjawab
salam
yang di ucapkan
oleh dua orang
Muslim tersebut.
Alif
bersikap
seperti
itu
karena dirinya
dulu berasal dari
pesantren yang
mengajarkan
nilai-nilai agama
termasuk untuk
menjawab
salam.
Alif
menjawab salam
dengan wajah
menunduk
kebawah karena
Alif tidak ingin
ada orang yang
mendengar apa
yang diucapkan
olehnya.
Ledakan
yang
terjadi di dalam
Candi
café
menyebabkan café
hancur.
Ledakan
itu
mengakibatkan
orang-orang
yang
berada
dalam
café
meninggal.
Dugaan ledakan
terjadi
seusai
dua
orang
Muslim
pergi
dari café.
Ustad
adalah
sebutan untuk
seorang
guru.
Biasanya
sebutan
itu
sering
digunakan oleh
seorang santri
dalam pondok
pesantren untuk
memanggil
gurunya.
Pakaian
yang
digunakan oleh pria
itu adalah pakaian
yang
digunakan
oleh seorang Ustad.
Pakaian
yang
digambarkan dalam
film menjelaskan
pakaian
yang
digunakan
oleh
seorang teroris.
pakaian
jubbah dan
sorban sudah
Nabi gunakan
untuk
menyebarkan
dakwahnya.
72
5
Gambar sebuah
botol
yang
berukuran kecil
yang berisi cairan.
Diduga botol yang
berisi
cairan
tersebut merupakan
penyebab
terjadinya ledakan
di Candi café.
Cara berpakaian
yang digunakan
Mim dianggap
aneh
seperti
seorang teroris.
Botol tersebut
dianggap
sebagai cairan
yang
berisi
bahan
kimia
yang
dapat
menyebabkan
terjadinya
ledakan.
Sehingga botol
yang
berisi
cairan
itu
dijadikan
sebagai barang
bukti.
Masyarakat
menduga bahwa
dua
orang
Muslim itu yang
membawa botol
tersebut.
Mitos yang ditemukan dari hasil penelitian ini, yaitu mengenai pakaian gamis
dan sorban serta memiliki jenggot diwajahnya. Pakaian dan atribut seperti dicurigai
oleh masyarakat sebagai pakaian seorang teroris. Masyarakat menganggap bahwa
orang yang mengenakan pakaian ini dapat melakukan tindakan kejahatan dan
kekerasaan sehingga masyarakat mencurigai pakaian yang dikenakan oleh umat
Muslim. Dalam budaya bangsa Arab pakaian sorban dan gamis yang dikenakan oleh
umat Muslim terutama kaum laki-laki dianggap sebagai hal yang biasa bahkan,
pakaian ini digunakan orang Arab sebagai pakaian sehari-hari.
73
a. Interpretasi Data 1
Berdasarkan hasil penelitian bahwa data 1 menceritakan keadaan sebuah café
yang gaduh setelah dua orang Muslim masuk ke dalam café. Sehingga menyebabkan
perdebatan antara waiters café dan dua orang Muslim. Orang-orang yang berada
dalam café memandang aneh karena pakaian yang digunakan dua orang Muslim
tersebut. Dua orang Muslim itu menggunakan pakaian panjang seperti gamis dan
sorban yang diliitkan dikepala kemudian dua orang muslim itu juga memiliki jenggot
di wajahnya.
Jubah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pakaian panjang sampai
di bawah lutut, berlengan panjang, seperti yang dipakain oleh orang Arab, padri, atau
hakim sebagai pakaian luar1. Pakaian seperti ini biasanya digunakan oleh seorang
ulama Islam. Akan tetapi, masyarakat Arab menggunakan pakaian jubbah sebagai
pakaian sehari-hari. Namun, sebagian orang yang tidak pernah melihat pakaian
jubbah ini menganggap aneh. Terutama untuk kalangan orang-orang non Islam.
Banyak masyarakat yang percaya bahwa pakaian jubbah dan gamis yang dikenakan
oleh seseorang dapat menimbulkan tindakan kekerasan dan kekacauan pengeboman
sehingga masyarakat mengidentikan pakaian ini adalah pakaian yang digunakan oleh
seorang teroris, sehingga masyarakat memberikan julukan (name calling) sebagai
teroris.2
Pada gambar berikutnya terlihat sebuah botol yang berukuran kecil yang
menurut dugaan isi dari botol tersebut yang menyebabkan terjadinya ledakan dalam
1
2
http.//www.kbbi.web.id//jubah diakses pada 15 juli 2016.
Nurudin, Komunikasi Propaganda, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), h. 29
74
café tersebut. Sehingga diduga botol itu berisi bahan-bahan kimia yang mudah
meledak. Film ini juga memperkuat dugaan masyarakat terhadap teroris. Selama ini
masyarakat percaya bahwa teroris berasal dari golongan orang-orang Islam.
Kekerasan dan pengeboman yang dilakukan dimana-dimana bahkan tidak hanya di
Indonesia tetapi juga terjadi di luar negeri, masyarakat mempercayai bahwa yang
melakukan hal tersebut adalah orang-orang Islam.
Pengaruh yang terus-menerus dilakukan oleh seorang pemimpin politik
merupakan tindakan propaganda untuk mempengaruhi masyarakat agar menganggap
orang-orang Islam sebagai pelaku kejahatan. Sehingga tujuan yang diinginkan oleh
pemimpin politik dapat tercapai., secara tidak langsung masyarakat terpengaruh oleh
perkataan pemimpin politik yang mengatakan bahwa orang yang berpakaian jubbah
dan gamis dapat menimbulkan kekerasan dan kekecauan sehingga masyarakat
memberikan julukan (name calling) kepada Islam sebagai teroris. Berbagai cara yang
dilakukan oleh seorang pemimpin politik tidak hanya melalui media massa saja akan
tetapi juga dilakukan dari mulut ke mulut sehingga masyarakat percaya.
Mitos yang terdapat tentang pakaian jubah yang sudah membudaya
dikalangan orang Arab terutama orang-orang Muslim yang berada disana. Bahkan
Muslim Indonesia beranggapan bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan Nabi itu
sunah.3 Meskipun di Indonesia pakaian jubbah masih jarang sekali digunakan. Di
Indonesia pakaian ini biasanya digunakan oleh kalangan ulama dan kyai dalam Islam.
Sehingga masih banyak orang yang menganggap pakaian ini aneh. Kemudian
3
www.datdut.com diakses pada 19 Juli 2016.
75
muncullah salah satu isu penting di era globalisasi yang turut serta mewarnai
dinamika kehidupan manusia adalah terorisme. Pembunuhan-pembunuhan dan
tindakan-tindakan kekerasan (perbuatan teroris) semacam ini, yang didorong oleh
keyakinan agama.4
Setiap tindakan teror yang dilakukan kelompok tertentu, yang kemudian
disebut teroris, selalu dikaitkan dengan agama tertentu pula. Umumnya, agama yang
seringkali menjadi sasaran adalah Islam. Akibatnya, fenomena teroris semakin
membuat citra Islam sebagai salah satu agama terbesar di dunia semakin buruk.5
Beberapa orang menganggap tindakan kekerasan dan pengeboman dilakukan oleh
teroris yang mengenakan pakaian jubbah yang diduga mirip dengan pakaian yang
dikenakan oleh orang-orang Islam. Sehingga beberapa orang yang melihat pakaian
jubbah ini selalu mengidentikan dengan orang-orang Islam yang telah melakukan
tindakan kekerasan seperti yang dilakukan oleh seorang teroris. Orang-orang Islam
mengenakan pakaian jubbah karena kecintaan orang Muslim terhadap pakaian yang
digunakan Nabi pada zaman dahulu. Akan tetapi, masyarakat yang tidak mengetahui
pakaian itu malah mencurigai pakaian jubbah merupakan pakaian yang dikenakan
oleh seorang teroris.
Temuan yang terdapat yaitu mengenai pakaian jubbah yang dikenakan oleh
orang-orang Muslim yang dianggap sebagai pakaian seorang teroris. Anggapan itu
terjadi karena pengaruh yang dilakukan oleh seorang pemimpin politik yang
4
Surya Sukti, Islam dan Terorisme di Asia Tenggara, Jurnal Studi Agama dan Masyarakat,
Vol. 5, Nonor I Juni 2, h. 96.
5
http://indoprogress.com/2016/04/terorisme-bukan-karena-agama/ diakses pada 19 Juli 2016.
76
menyebarluaskan isu-isu palsu tentang Islam kepada masyarakat. Selain itu, dalam
hal ini tindakan yang dilakukan oleh pemimpin politik termasuk dalam propaganda
hitam. Propaganda politik yang dilakukan pemimpin politik dengan menyebarkan
informasi palsu untuk menjatuhkan agama Islam di mata masyarakat. Pemimpin
politik juga sebagai seorang komunikator yang menyampaikan pesan langsung
kepada komunikan namun, pesan-pesan yang disebarluaskan mengandung pesan
negatif yang dapat merubah pola pikir masyarakat tentang agama Islam. Pesan
propaganda politik yang disampaikan oleh seorang pemimpin politik yang telah
disusun secara sengaja agar memberikan pengaruh kepada masyarakat dengan
kekuasaan yang dimilikinya sebagai pemimpin politik.
2.
Data 2
Gambar 1. (durasi 00:38:40)
Gambar 3. (durasi 00:40:43)
Gambar 2. (durasi 00:39:02)
Gambar 4. (durasi 00:42:03)
77
Gambar 5. (durasi 00:43:09)
Tabel 2
Analisis Data 2
No Penanda
1
Gambar
Lam
yang
menggunakan
kacamata
dan
rambut diikat.
Pria
itu
ditampilkan
secara Close up.
dengan ekspresi
sedikit emosi.
-kalimat
yang
diucapakan
Lam,
Lam:
kenapa
setiap kali ada
kasus
yang
berhubungan
dengan Islam,
saya selalu di
asingkan dari
Libernesia?
Petanda
Ditampilkan secara
close up agar bisa
menjelaskan
ekspresi Lam secara
detail.
Kalimat
yang
diucapkan
Lam
bahwa
menandakan
pimpinannya selalu
mendiskriminasinya
dalam mengungkap
kasus tertentu.
2
Ditampilkan secara
Close up agar dapat
menjelaskan
ekspresi
wajah
secara
jelas.
Menjelaskan bahwa
pria ini tidak suka
seorang
pria
yang
menggunakan
kacamata
dan
rambut
tipis
yang
ditampilkan
Konotasi
Menjelaskan
bahwa
Lam
sebagai seorang
bawahan yang
meminta
keadilan kepada
atasannya agar
tidak membedabedakannya.
Lam
yang
berusaha ingin
mengungkapkan
kebenaran,
namun
pimpinannya
selalu melarang
Lam
karena
pimpinan Lam
menganggap
pemikiran Lam
kolot,
apalagi
tentang Islam.
Bahwa secara
tidak langsung
pria
ini
menginginkan
Lam agar resign
(mengundurkan
diri)
dari
Mitos
Dalam Islam
fanatisme
berasal
dari
dua kata yaitu
“fanatik” dan
“isme”.
Fanatik dapat
diartikan
sebagai sikap
seseorang
yang
melakukan
atau mencintai
sesuatu secara
serius
dan
sungguhsungguh.
Sedangkan
“isme” dapat
diartikan
sebagai suatu
bentuk
keyakinan
atau
kepercayaan.
Bahwa
fanatisme
adalah
keyakinan
78
3
4
secara Close up
Kalimat yang di
ucapkan,
Pimpinan
Libernesia:
karena
kamu
memiliki
pemikiran yang
kolot
setiap
yang
berhubungan
dengan agama
kamu, sehingga
saya
harus
mengirim kamu
keluar,
dan
Libernesia ini
memiliki paham
yang liberalis
bukan
kolot
seperti
kamu
Lam.
Saat Lam keluar
dari
kantor
menuju
parkiran.
Seorang wanita
yang
mencurigakan
menghampirinya
dengan
suatu
benda
yang
dimasukan ke
dalam saku jaket
Lam.
Wanita
itu
adalah Laras.Lam memaksa
Laras
menjelaskan isi
dalam flashdisk
ini.
Kalimat yang di
ucapkan
Lam
kepada bawahannya
karena selalu ikut
campur
terhadap
kasus
tentang
Islam. Pria ini
menganggap bahwa
bawahannya tidak
memiliki pemikiran
yang
sama
sepertinya sehingga
harus
diasingkan
dari kantornya.
seorang
wanita
yang
bersikap
mencurigakan.
Wanita ini ingin
memberitahu
sebuah informasi,
namun
sikapnya
membuat
Lam
curiga
sehingga
menimbulkan
perkelahian.
Melalui flashdisk
ini Laras ingin Lam
membantu dirinya
mengungkapkan
sebuah kebohongan
yang dilakukan oleh
orang Lain. Laras
memilih
Lam
karena dia percaya
kantornya.
Karena
menurutnya
orang
yang
memiliki
pemikiran yang
tidak
sama
dengannya tidak
cocok
berada
dalam
perusahaannya.
Lam dianggap
memiliki paham
berbeda dengan
pimpinannya
dan
pemerintahan
yang ada.
atau
kepercayaan
yang terlalu
kuat terhadap
suatu ajaran
baik
politik
atau
agama
(fundamental).
Dalam hal ini
seorang
Muslim yang
memiliki
sikap fanatik
terhadap
agamanya
karena
kecintaannya
terhadap
agamanya
yang
selalu
menganggap
bahwa agama
yang dianut
Sikap
adalah agama
mencurigakan
wanita
itu yang paling
membuat Lam benar.
bertanya-tanya
terutama dengan
sebuah
benda
yang dimasukan
ke dalam saku
jaket Lam.
Sikap memaksa
Lam
karena
ingin
mengetahui isi
flashdisk.
Flashdisk
ini
berisi
faktafakta
kebenaran
79
5
kepada Laras
Lam:
apa
maksud
kamu
memasukan ini
ke dalam saku
jaket saya.
Laras:
tolong
lam, cuma kamu
yang bisa tolong
saya
Lam:
tapi
caranya tidak
seperti ini
Laras:
saya
tidak tahu lagi
harus
dengan
cara apa
-ekspresi
bingung
yang
ditunjukkan
Lam sehingga
ditampilkan
secara Close up
-Lam meminta
solusi
kepada
istrinya gendis.
Kalimat
yang
diucapkan,
Lam:
aku
bingung harus
pilih mana
Gendis:
memangnya apa
Lam:
pimpinanku di
kantor
menginginkan
aku
untuk
memilih resign
(mengundurkan
diri) dari kantor
jika aku ikut
campur dalam
kasus
Lam orang
dan adil.
jujur mengenai
pengeboman
terjadi di Candi
café.
Ekspresi
yang
ditunjukkan bahwa
menunjukkan
dirinya
sedang
kebingungan. Lam
tidak ingin kerja
yang sudah tidak
sesuai
dengan
prinsip dan hatinya
lagi.
Lam
lebih
memilih untuk
keluar
dari
kantornya
ketimbang dia
tetap bekerja di
kantornya akan
tetapi
tidak
sesuai dengan
hatinya sehingga
dirinya
harus
berlaku
tidak
adil
dengan
membohongi
masyarakat
dengan
memberikan
fakta
yang
bohong kepada
masyarakat.
80
pengeboman di
Candi café atau
aku di asingkan
kembali
dari
Libernesia
Mitos yang ditemukan yaitu mengenai sikap fanatik seorang Muslim terhadap
agama Islam. Sikap fanatic orang-orang Muslim terhadap agama Islam karena
kecintaan dan keyakinan umat Muslim terdahap agama Islam yang mereka percaya.
Sikap fanatisme ini sudah ditanamkan oleh-oleh terdahulu terutama dikalangan umat
Muslim. Orang yang memiliki sikap fanatik bukan berarti seseorang itu yang
memiliki pemikiran kolot.
a.
Interpretasi Data 2
Berdasarkan hasil penelitian data 2 ini menjelaskan profesi Lam sebagai
jurnalis. Lam merasa marah kepada pimpinannya di kantor karena Lam merasa
pimpinannya berlaku tidak adil kepadanya. Karena pimpinannya menganggap bahwa
Lam memiliki pemikiran yang kolot sehingga berbeda dengan pemikiran yang ada
dalam media massa tersebut. Hingga Lam harus di asingkan dari Libernesia.
Gambar seorang wanita yang bernama Laras. Dalam hal ini, Laras bersikap
mencurigakan seperti seorang penjahat. Hal itu, dilakukan Laras karena ingin
meminta tolong kepada Lam. Namun, Lam tidak suka dengan cara yang digunakan
Laras yang bersikap mencurigakan seperti seorang penjahat yang ingin menteror
Lam.
Dijelaskan pula profesi seorang jurnalis yang memiliki sikap adil, jujur dan
benar. Seorang jurnalis di media massa bersikap jujur dan benar ketika dirinya akan
81
mengungkapkan sebuah kasus agar masyarakat dapat memahaminya. Terutama saat
ini banyak seorang jurnalis yang bersikap jujur dan benar, kebanyakan di balik tugas
seorang jurnalis itu kepentingan pemimpin media massa. Pemimpin media
memanfaatkan jurnalis untuk kepentingan media dengan memberikan informasi yang
tidak benar.
Pada gambar data ini, propaganda yang ingin dilakukan oleh pimpinan
perusahaan kepada bawahannya agar memiliki pemikiran yang sama. Lam sebagai
seorang bawahan yang tidak mudah terpengaruh karena memiliki prinsip yang kuat.
Namun, pimpinan Lam memberikan pengaruh kepada Lam dengan memaksakan
kehendaknya kepada Lam.
Mitos yang terdapat dalam gambar ini yaitu sikap fanatik yang terdapat dalam
diri seorang Muslim terhadap agama Islam. Dalam masyarakat
sikap fanatik
(fundamentalis) muncul karena rasa cinta mereka terhadap sesuatu yang mereka
yakini seperti agama. Karena sikap fanatik adalah sebuah konsekuensi seseorang
yang percaya dan meyakini suatu agama, bahwa apa yang dianutnya adalah benar.
Orang Muslim yang mempercayai bahwa agama Islam yang mereka anut adalah
agama yang benar dan bukan agama yang mengajarkan kejahatan untuk sesamanya.
Dalam hal ini, sikap Lam yang cinta terhadap agama Islam yang dianutnya dianggap
salah oleh pemimpinnya di dalam perusahaannya. Sehingga sikap yang ditunjukkan
Lam terhadap agamanya dianggap kolot oleh pemimpinnya. Pemimpin perusahaan
tempat Lam bekerja menginginkan Lam memiliki pemahaman yang sama dengan
dirinya dengan menganggap bahwa agama Islam itu mengajarkan hal yang tidak
82
benar. Namun, anggapan itu juga terbentuk karena pengaruh isu-isu palsu yang
diberikan oleh pemimpin politik kepada pemimpin perusahaan tersebut.
Seseorang yang memiliki pemahaman fanatisme agama secara tidak langsung
telah mengikis kesatuan umat, karena umat beragama seharusnya bisa menciptakan
toleransi yang baik pada kelompok sendiri maupun umat beragama lain, tapi dengan
sikap fanatisme yang berlebiha (Stereotip) malah akan menimbulkan kesenjangan.6
Namun dengan maraknya aktivitas teror beberapa periode ini menyebabkan banyak
pihak yang menganggap bahwa terorisme berpangkal dari Islam. Dengan kata lain,
Islam di nilai sebagai agama yang mendukung tindakan kekerasan bukan agama yang
mengajarkan nilai-nilai ketulusan, kebaikan, dan kelembutan yang merupakan esensi
nilai-nilai Islam sesungguhnya yang pada kitab suci Al-Qur’an.
3. Data 3
Gambar 1. (durasi 00:52:10)
Gambar 2. (durasi 00:52:19)
Gambar 3. (durasi 00:52:54)
Gambar 4. (durasi 00:55:15)
6
http://www.kompasiana.com.sani267/fanatisme-agama-danterorisme_56f4c14be6afbd43052c0e42. Diakses pada 20 Juli 2016.
83
Gambar 5. (durasi 00:57:55)
Tabel 3
Analisis Data
No
Penanda
1 Ekspresi marah
yang
terlihat
dari
wajah
Kolonel
kemudian
ditampilkan
secara Close Up
pada
wajah
Kolonel.
2
Petanda
Ekspresi
yang
ditampilkan bahwa
dirinya
sedang
marah.
Konotasi
Seorang Kolonel
yang
emosi
karena
terjadi
pengeboman
yang
mengakibatkan
banyak
rakyatnya
meninggal.
Ekspresi marah
yang
ditunjukkan
Kolonel kepada
bawahannya.
Seorang Kolonel Bahwa Kolonel
Seorang Kolonel
yang
sedang sedang
yang berusaha
berbicara
memberikan arahan mempengaruhi
dengan
Alif kepada Alif
Alif
dengan
dalam
sebuah terhadap kasus
memberikan
ruangan.
yang terjadi
fakta-fakta yang
Kolonel
melalui bukti yang berisi kepalsuan
memperlihatkan ditunjukkannya
(card stacking).
sebuah
benda kepada Alif,
Sehingga
kepada Alif.
Kolonel berusaha
Kolonel
dapat
Kalimat
yang untuk
memanipulasi
diucapkan:
mempengaruhi
pikiran Alif agar
Kolonel Mason: Alif.
membenci
kamu lihat ini
orang-orang
lif, bukti-bukti
Islam.
yang
saya
Dugaan
yang
dapatkan
mengatakan
Mitos
Kyai
adalah
orang
yang
memiliki ilmu
agama (Islam)
plus
akhlak
yang
sesuai
dengan
ilmunya. Kyai
adalah
sebuatan untuk
tokoh ulama
atau
tokoh
yang
memimpin
pondok
pesantren.
Sebutan kyai
sering
digunakan oleh
kalangan santri
dalam pondok
pesantren
untuk
menyebut guru
mereka.
Menurut asalusulnya
perkataan kyai
dalam bahasa
jawa dipakai
untuk tiga jenis
84
3
4
melalui media
massa, bahwa
ditemukannya
sebuah
botol
yang
berisi
parfum
yang
berasal
dari
pondok
pesantren
Alikhlas
Alif:
Kolonel
dapat bukti itu
dari mana?
Kolonel Mason:
saya dapat bukti
ini dari aparat
yang langsung
datang
ke
tempat kejadian.
Alif
yang
mendapatkan
tugas
dari
Kolonel.
Kalimat
yang
diucapkan:
Kolonel Mason:
kamu tahu siapa
yang melakukan
pengeboman di
Candie café?
Alif: siapa yang
sudah
melakukan itu
pak?
Kolonel Mason:
orang-orang
yang ada di
pondok
pesantren
AlIkhlas
yang
dipimpin oleh
temanmu Mim
Dua orang lakilaki yang sedang
bahwa
botol
adalah
milik
orang-orang
pondok
pesantren.
Menunjukkan
bahwa Alif aparat
yang
patuh
terhadap
sebuah
perintah
yang
diberikan
kepadanya
tanpa
memberikan
bantahan
sedikit
pun.
Kolonel melakukan
fitnah
terhadap
orang-orang yang
berada
dalam
pesantren.
Bahwa
perdebatan
Bahwa Kolonel
ingin
menangkap
orang-orang
pesantren.
Kolonel terusterus
menerus
memprovokasi
Alif agar benci
kepada
Mim.
Kolonel
memperlihatkan
bukti-bukti yang
menurutnya
akurat.
terjadi Dalam film ini
membuat dugaan
gelar
yang
saling berbeda;
pertama,
sebagai gelar
kehormatan
bagi barangbarang
yang
dianggap
kramat ;
umpamanya,
“Kyai Garuda
Kencana”
dipakai untuk
sebutan Kereta
Emas yang ada
di
Kraton
Yogyakarta.
Kedua, Gealar
kehormatan
untuk orangorang tua pada
umumnya.
Ketiga, Gelar
yang diberikan
oleh
masyarakat
kepada
seorang
ahli
agama
Islam
yang
memiliki atau
yang menjadi
pimpinan
pesantren dan
mengajar
kitab-kitab
Islam
klasik
kepada
para
santri.
masyarakat
mengidentikan
pakaian
itu
seperti seorang
pemimpin.
85
5
berkelahi
di
depan pondok
pesantren
Perkelahian
terjadi
saat
hujan turun.
sehingga
menimbulkan.
Dugaan
yang
diberikan
Alif
kepada pesantren
membuat
Mim
marah.
Kyai keluar dari
dalam pondok
pesantren
Kyai berusaha
melerai
perkelahian
antara Alif dan
Mim
Kalimat yang di
ucapkan.
Kyai Mukhlis:
Kyai Mukhlis:
sudah
Mim
hentikan
perkelahian ini
kalian
itu
bersaudara
kalian
dibesarkan
di
pondok
pesantren yang
sama.
Mim:
tetapi
Kyai,
Alif
berusaha untuk
menangkap
Bahwa
Kyai
sebagai pimpinan
pondok pesantren
yang
ingin
ditangkap
oleh
Alif.
Kyai Mukhlis tidak
mengingkan
ada
perkelahian antara
Mim muridnya dan
juga Alif yang dulu
pernah belajar di
pondok pesantren
tersebut.
Kyai
Mukhlis
merupakan orang
yang
patuh
terhadap
aturan
yang ada dalam
sebuah
negara
sehingga
tidak
membantah
apa
yang
dilakukan
Alif kepadanya.
bahwa pesantren
adalah sebagai
sarang
teroris
sehingga harus
dihancurkan.
Dugaan
yang
mengatakan
Kyai
sebagai
pimpinan teroris
yang
harus
ditangkap. Mim
bersikap untuk
membela
dan
mempertahankan
pesantren, hal ini
karena
sikap
fanatik terhadap
Islam.
Kyai
Mukhlis
sebagai seorang
pimpinan,
pondok
pesantren yang
diduga sebagai
sarang teroris.
Mengingatkan
kita
terhadap
kasus kelompok
Al Qaeda yang
diduga
adalah
kelompok teroris
yang melakukan
pengeboman di
negara
Barat,
sehingga
seorang
Kyai
digambarkan
sebagai
pimpinan teroris
yang melakukan
kekerasan dan
pengeboman.
Kyai
Mukhlis
merasa dirinya
Namun,
di
zaman seperti
sekarang
banyak
kyai
yang
sudah
menggunakan
pakaian yang
lebih modern
akan
tetapi
tetap
mengajarkan
dan
menanamkan
nilai-nilai
Islam.
86
Kyai.
Kyai Mukhlis:
Biarkan
saja
Alif menangkap
saya jika itu
memang sudah
menjadi tugas
dia
sebagai
aparat negara
dan kamu cukup
merapatkan
shaff
kalian
agar kita tidak
lalai lagi.
tidak bersalah.
Shaf
yang
diingkan
oleh
Kyai agar umat
Muslim
lebih
menjaga
tali
persaudaraan
lagi
sehingga
tidak ada cela
yang
menimbulkan
permusuhan
Mitos yang ditemukan oleh peneliti yaitu mengenai seorang Kyai yang
dicurigai sebagai seorang pimpinan teroris. Dalam agama Islam Kyai merupakan
orang yang dituakan dan sudah memiliki banyak pengetahuan mengenai agama Islam.
Kyai bukanlah orang yang mengajarkan manusia untuk berbuat kejahatan tetapi Kyai
mengajarkan manusia untuk berbuat kebaikan yang sesuai dengan ajaran agama
Islam. Namun, terkadang masyarakat yang mengidentikan seorang Kyai sebagai
pimpinan teroris. Kemudian masyarakat mengidentikan cara berpakaian seorang Kyai
yang menggunakan gamis dan sorban padahal pakaian seperti sudah ada sejak zaman
Nabi Saw.
a.
Interpretasi Data 3
Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat dalam beberapa adegan Film 3 Alif
Lam Mim Wajah Kolonel Mason ditampilkan secara close up untuk menjelaskan
ekspresinya saat sedang marah kepada Alif.
87
Pada data ini, propaganda yang dilakukan oleh Kolonel yang berusaha
memanipulasi pikiran Alif agar percaya terhadap ucapannya. Sehingga Alif mau
menerima perintahnya untuk menghancurkan dan menangkap pimpinan pondok
pesantren. Secara tidak sadar bahwa Alif telah dijadikan alat oleh Kolonel Mason
untuk memperoleh tujuan yang diinginkan. Kolonel Mason juga berusaha mengadu
domba Alif dengan Mim sehingga Alif tidak percaya terhadap penjelasan yang
diberikan Mim terhadap tuduhan Alif yang menganggap pondok pesantren dan Kyai
sebagai seorang teroris. Kolonel juga berusaha memberikan fakta yang palsu (card
stacking) bukti-bukti yang menerutnya akurat, semata-mata bukti itu ditunjukkannya
agar Alif mempercayai Kolonel bahwa memang Kyai Mukhlis adalah seorang
pimpinan teroris. Kolonel juga memfitnah Kyai Mukhlis yang telah menyuruh
santrinya untuk melakukan kekerasan dan kehancuran.
Gambar yang memperihatkan adegan silat yang ditunjukkan oleh Alif dan
Mim. Perkelahian itu terjadi saat Alif berusaha untuk menangkap Kyai Mukhlis yang
berada dalam pondok pesantren. Dugaan yang diberikan Alif membuat Mim marah.
Perkelahian itu juga digambarkan terjadi di sebuah pondok pesantren. Kyai
Mukhlis menginginkan Alif dan Mim tidak berkelahi kembali dan Kyai rela
menyerahkan dirinya kepada Alif agar tetap terjaga tali silaturahmi antara Mim dan
Alif dengan merapatkan shaff antara umat Muslim.
Mitos yang ditemukan pada beberapa dalam adegan yaitu seorang Kyai. Kyai adalah
sebutan untuk tokoh ulama atau tokoh yang memimpin sebuah pondok pesantren.
Kyai juga bisa dikatakan sebagai gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada
88
seorang ahli agama Islam yang memiliki atau yang menjadi pimpinan pesantren dan
mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santri. Selain gelar kyai, ia juga
disebut dengan orang alim (orang yang dalam pengetahuan keislamanya).7 Dalam
film ini Kyai ditangkap saat berada di pondok pesantren, Kyai ditangkap karena
diduga sebagai pimpinan seorang teroris yang telah melakukan pengeboman di Candi
café. Film ini juga menduga bahwa Kyai yang menyuruh santrinya untuk melakukan
pengeboman. Anggapan ini muncul karena peristiwa yang pernah terjadi di Amerika
Serikat yang dilakukan oleh kelompok Al Qaeda, Osama bin Laden sebagai
pemimpin tertinggi al-Qaeda.8 Akibat peristiwa itu masyarakat menganggap bahwa
Kyai yang menjadi pemimpin teroris. Kyai ditangkap oleh Alif yang dulu pernah
menjadi muridnya sewaktu Alif masih berada di pondok pesantren yang dipimpin
oleh Kyai Mukhlis. Namun, Alif terpengaruh oleh omongan Kolonel Mason untuk
menghancurkan pondok pesantren dan menangkap Kyai Mukhlis. Karena Alif
menganggap bahwa apa yang dikatakan dan ditunjukkan Kolonel Mason itu benar
sehingga Alif tega menangkap Kyai Mukhlis yang dianggap sebagai pimpinan teroris
di pesantren. Dalam hal ini Kolonel Mason menggunakan model propaganda hitam
dengan menyebarkan isu-isu negatif tentang Islam dan memberikan fakta-fakta palsu
kepada masyaraka. Fakta-fakta itu ditunjukkan agar masyarakat menganggap bahwa
Kyai dan orang-orang Islam yang telah melakukan tindakan kejahatan. Selain itu
juga, tindakan yang dilakukan Kolonel Mason untuk menjatuhkan agama Islam di
7
Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kyai
(Jakarta: LP3ES, 1982), h. 55.
8
Naharong Muis, Abdul, Terorisme Atas Nama Agama, Jurnal Studi Falsafah dan Agama,
Vol. 13, No. V, Edisi Oktober 2013, h. 599.
89
mata masyarakat agar masyarakat tidak percaya lagi dengan agama Islam.
Komunikasi yang dilakukn Kolonel Mason kepada masyarakat agar memperoleh
kekuasaan yang lebih tinggi. Dengan begitu masyarakat akan percaya terhadap
ucapan Kolonel Mason.
4. Data 4
Gambar 1. (durasi 01:04:20)
Gambar 2. (durasi 01:15:18)
Gambar 3. (durasi 01:16:10)
Gambar 4. (durasi 01:19:10)
Gambar 5. (durasi 01:20:35)
Gambar 6. (durasi 01:21:1
Tabel 4
Analisis Data 4
No
1
Penanda
Gambar
yang
terjadi di Candi
café yang diambil
melalui CCTV.
Petanda
flashdisk
berisi
gambar
yang
menjelaskan
sebelum
terjadi
Konotasi
Gambar
yang
dijelaskan
oleh
sebuah
CCTV
yang
terdapat
Mitos
Pondok
pesantren
sebagai lembaga
pendidikan
90
2
Empat
gambar
yang menjelaskan
kejadian
pengeboman
ledakan di Candi
café.
CCTV
dapat
menjelaskan semua
kejadian tersebut.
Gambar
yang
menjelaskan
keadaan di sebuah
pondok pesantren.
Alif yang bertemu
dengan
kedua
orang
Muslim
yang saat itu
berada di Candi
café
Kalimat
yang
diucapkan.
Alif:
kenapa
kalian ada disini,
kalian
yang
melakukan
pengeboman itu
kan.
Dua
orang
Muslim:
bukan
kami, memang tas
yang kami bawa
tertinggal di café
itu tapi, tas itu
hanya
berisi
pondok pesantren
sempat
terjadi
kerusuhan ketika
Alif melihat dua
orang Muslim yang
berada di dalam
Candi café.
dalam Candi café
dapat
menjadi
sebuah
barang
bukti
untuk
mengungkapkan
kebenaran
atas
kejadian
pengeboman yang
terjadi di Candi
café.
Flashdisk ini juga
membantu
menjelaskan
bahwa bukan dua
orang
Muslim
yang berasal dari
pondok pesantren
yang melakukan
kejadian itu.
Alif merasa emosi
ketika
melihat
dua orang Muslim
yang ia lihat di
Candi
café
sebelum ledakan
terjadi.
Alif menuduh dua
orang
Muslim
itulah
yang
menyebabkan
terjadinya ledakan
sehingga
mengakibatkan
banyak
orang
yang meninggal.
tradisional Islam.
Pesantren
bertujuan untuk
merespon arus
deras
modernisasi, di
kalangan Islam
yang terbagi
menjadi
beberapa
kelompok.
Dalam Islam,
pesantren
menolak pahampaham yang
telah ditanamkan
oleh budaya
Barat. Umat
Muslim tetap
berpegah teguh
pada nilai-nilai
keIslaman.
91
3
4
parfum
yang
ingin kami jual.
Gambar Kolonel
Mason
yang
keluar dari dalam
mobil
sebelum
ledakan terjadi di
Candi café yang
dilihat
dari
rekaman CCTV
Kolonel Mason
yang mengundang
Alif karena ingin
memberikan
penghargaan
kepada Alif atas
kerja keras telah
menangkap Kyai
Mukhlis.
Alif
yang
berpura-pura
tidak tahu tujuan
Kolonel Mason
mengundangnya.
Kalimat
yang
diucapkan:
Kolonel Mason:
saya
sengaja
mengundang
Gambar
ini
menunjukkan
bahwa
Kolonel
Mason
terlibat
dalam
kasus
pengeboman ini
Ekspresi
wajah
senang
yang
ditunjukkan oleh
Kolonel
Mason
kepada Alif
-tujuan
yang
diinginkan
oleh
Kolonel
Mason
untuk
mengadu
domba Alif dengan
sahabatnya berhasil
dia lakukan.
Kolonel Mason
ikut terlibat dalam
kasus
ledakan
yang terjadi di
Candi café.
CCTV
menjadikan bukti
bahwa
Kolonel
Mason
mengatakan
perkataan
yang
bohong sematamata
karena
tujuan
tertentu
hingga melakukan
propaganda
dengan
mempengaruhi
semua
pikiran
masyarakat
melalui
berita
yang
disebarkannya.
Adu domba yang
dilakukan
Kolonel Mason
kepada Alif dan
sahabatnya untuk
mempecahbelah
persahabat
mereka
dan
mendapatkan
kedudukan yang
lebih tinggi lagi
dalam
pemerintahn
sehingga
menimbulkan
permusuhan
antara Alif, Lam
dan Mim.
92
5
kamu lif, untuk
makan siang dan
memberikan
penghargaan
kepadamu.
Alif:
kenapa
Kolonel
mengundang
saya,
memang
ada apa?
Kolonel Mason:
saya
ingin
mengucapkan
terima
kasih
kepada
kamu
karena
telah
menangkap Kyai
Mukhlis.
Alif: anda yang
mengebom Candi
café?
Kolonel: memang
saya
yang
menyuruh
melakukan
pengeboman tapi
bukan
saya
melakukannya.
Gambar saat Kyai
Mukhlis
melakukan
konferensi
bersama
wartawan
saat
berada di dalam
penjara.
Kalimat
yang
diucapkan: Saya
tidak punya motip
apa apa karena
bukan saya yang
menyuruh siapa
pun
untuk
melakukannya
Bahwa
dalam
konferensi itu Kyai
Mukhlis
ingin
menjelaskan
kejadian
yang
sebenarnya kepada
wartawan
dan
masyarakat.
Kyai
juga
menjelaskan
bahwa
dirinya
tidak
pernah
melarang
santrinya untuk
berpakaian seperti
dirinya atau tidak.
Gambar
ini
menjelaskan
bahwa Kyai dan
santri-santrinya
tidak bersalah.
93
6
dan saya masih
tersangka belum
terdakwa
loh,
saya tidak pernah
memberikan
instruksi kepada
mereka
untuk
berpakaian apa
pun, karena saya
dari dulu seperti
ini,
mereka
memakai jubbah
dan gamis karena
itu
hak
dan
kemerdekaan
mereka
untuk
memilih.
Seorang pria yang
menjelaskan
kepada Alif.
Seorang pria yang
berada
dibalik
peristiwa ledakan
bom terjadi di
Candi cafe
Alif
baru
menyadari tujuan
ledakan
yang
dilakukan
oleh
Kolonel Mason dan
bawahannya.
Ternyata Kolonel
Mason
dan
bawahannya yang
telah
menyusun
strategi
untuk
meledakan Candi
café.
Alif
baru
mengetahui
bahwa
dalang
dibalik kejadian
bom yang terjadi
di Candi café
adalah
Kolonel
Mason. Kolonel
Mason lakukan
itu semata-mata
karena dia ingin
memperoleh
jabatan yang lebih
tinggi.
Kolonel
Mason lakukan
itu
karena
mendapatkan
pengaruh
dari
bawahannya.
Bawahan Kolonel
Mason yang tidak
diketahui nama
adalah orang yang
selalu
mempengaruhi
Kolonel Mason
untuk melakukan
94
pengeboman di
Candi café akan
tetapi,
mereka
menjebak orangorang
Islam
sebagai kambing
hitam
(pelaku)
dalam
café
tersebut.
Mitos yang ditemukan yaitu mengenai kejadian sebenarnya yang terjadi di
Candi café yang disebabkan oleh Kolonel Mason dan bawahannya. Dalam hal ini
Kolonel Mason menjadikan orang-orang Islam yang saat itu berada di café tersebut
sebagai kambing hitam sehingga masyarakat pun ikut menyalahkan orang-orang
Islam karena pengaruh yang diberikan oleh Kolonel Mason kepada masyarakat.
Kolonel Mason juga menganggap bahwa orang-orang Islam yang berada dalam
pondok pesantren adalah para teroris. Pondok pesantren sudah ada sejak dahulu dan
merupakan tempat untuk menimba ilmu terutama ilmu yang bernuansa Islam.
a.
Interpretasi Data 4
Pada gambar yang terdapat dalam film ini, gambar yang menjelaskan kejadian
sebenarnya sebelum ledakan yang terjadi Candi café. Gambar yang diambil dari
rekaman CCTV yang terdapat dalam Candi café. Rekaman CCTV ini dapat dijadikan
sebagai barang bukti yang paling untuk membuktiin bahwa yang melakukan
pengeboman di Candi café bukanlah dua orang Muslim yang saat itu berada di dalam
Candi café.
95
Gambar selanjutnya menceritakan keadaan dalam pondok pesantren. Alif
yang marah kepada dua orang Muslim yang dia lihat di Candi café. Alif menuduh
bahwa dua orang Muslim tersebut yang melakukannya.
Gambar seorang Kolonel Mason yang berbicara kepada Alif. Ekspresi yang
ditunjukkan oleh Kolonel terlihat bergitu senang karena Kolonel merasa bahwa
dirinya berhasil mempengaruhi Alif dengan cara melakukan propaganda kepada Alif
dan kedua sahabatnya. Propaganda merupakan sebuah usaha yang dilakukan oleh
sekelompok orang atau sebuah organisasi untuk mempengaruhi manusia. Terkadang
propaganda dilakukan untuk merubah pemikiran seseorang dengan tujuan untuk
kepentingan sendiri karena propaganda dapat merubah kepercayaan dan opini. Tujuan
Kolonel Mason melakukan itu agar Alif percaya kepada dirinya. Sehingga Alif
bersedia untuk menuruti perintahnya.
Gambar selanjutnya menggambarkan seoarang Kyai Mukhlis yang berusaha
menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada masyarakat melalui konsferensi
bersama wartawan saat dirinya berada di dalam penjara. Kyai ingin memberitahu
masyarakat bahwa tuduhan mereka kepada dirinya itu salah karena dirinya dan santrisantrinya tidak pernah melakukan pengeboman dan kekacauan seperti yang
dituduhkan oleh masyarakat karena pengaruh dari Kolonel Mason.
Gambar terakhir yaitu seorang laki-laki yang menjelaskan kepada Alif dengan
nada yang penuh kesenangan. Pria itu adalah bawahannya Kolonel Mason yang telah
memberikan pengaruh kepada Kolonel Mason agar mengikuti keinginannya untuk
melakukan pengeboman di Candi café. Pria itu yang menyuruh Kolonel Mason untuk
mempropagandakan Alif dan kedua sahabatnya. Pria itu menjelaskan tujuan dari
96
Kolonel mason dan dirinya karena mereka ingin menghancurkan orang-orang yang
berada dalam café karena dalam café itu terdapat beberapa orang yang sedang
menyusun rencana untuk menghancurkan negara ini dan ada beberapa orang yang
merupakan anak dari para koruptor. Kolonel Mason sengaja menjadikan Alif sebagai
Alat untuk menghancurkan pondok pesantren itu sehingga menimbulkan perkelahian
antara Alif dan keduasahabatnya. Pemerintah menganggap bahwa pondok pesantren
sebagai sarang para teroris yang melakukan kehancuran dimana-mana. Secara tidak
sadar bahwa Alif telah terpengaruh oleh Kolonel Mason hingga Alif mengikuti
keinganan Kolonel Mason.
Pada data ini propaganda yang terdapat yaitu saat Kolonel Mason yang terus
berusaha mempengaruhi Alif agar percaya terhadap ucapannya dengan terus-menerus
meyakinkan Alif bahwa Kyai Mukhlis adalah dalang dari pengeboman tersebut.
Propaganda yang dilakukan Kolonel kepada Alif berhasil dilakukan hal itu terbukti
dengan Alif menangkap Kyai Mukhlis. Dengan begitu bahwa Alif percaya terhadap
ucapan Kolonel Mason. Sehingga membuat Kolonel Mason merasa dirinya telah
menang dan berhasil mengadu domba alif dengan dua sahabatnya yaitu Mim dan
Lam serta Kyai Mukhlis.
Mitos yang ditemukan pada beberapa adegan dalam Film 3 yaitu bahwa dalam
film ini berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya yang terjadi di Candi café.
Dalam akhir film ini menjelaskan bahwa yang melakukan pengeboman itu bukanlah
Kyai Mukhlis dan santri-santrinya di pondok pesantren seperti yang dituduhkan oleh
Kolonel Mason. Tuduhan itu muncul karena beberapa faktor yang telah diberikan
oleh Kolonel Mason kepada masyarakat. Kolonel Mason menyebarkan fakta-fakta
97
palsu mengenai kejadian itu agar menimbulkan citra buruk tentang Islam di mata
masyarakat. Pengaruh yang diberikan oleh Kolonel Mason kepada masyarakat akan
menimbulkan persepsi (makna) negatif tentang agama Islam. Pengaruh yang terusmenerus diberikan oleh Kolonel Mason menimbulkan munculnya sikap stereotip
(prasangka) negatif masyarakat yang ditunjukkan kepada umat Muslim. Selain itu
juga, karena citra buruk yang ditimbulkan oleh Kolonel Mason membuat masyarakat
bersikap diskriminasi dengan menganggap bahwa orang-orang Islam harus dijauhi
karena orang-orang Islam dapat melakukan tindakan kejahatan. Dalam hal ini,
Kolonel Mason terus-menerus menjadikan Kyai dan pondok pesantren sebagai sarang
teroris. Padahal Kolonel Mason sendiri sebagai dalang dari pengeboman tersebut.
Namun, Kolonel Mason malah menjadikan Kyai Mukhlis sebagai tersangka yang
melakukannya. Kolonel Mason berusaha menutup-nutupi kejadian tersebut agar
masyarakat tidak menyalahkan dirinya sehingga masyarakat akan percaya dengan
ucapannya kemudian masyarakat menganggap bahwa Kyai Mukhlis dalang dari
pengeboman yang dilakukan oleh santri-santrinya. Namun sehebat apapun Kolonel
Mason berusaha untuk menutui kesalahannya lambat laun akan terbongkar semua,
seperti peribahasa ini sepintar-pintar bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.9
Peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan suatu kejahatan yang ditutup-tutupi.
Sehebat apapun Kolonel Mason menutupi semua kesalahannya atas perbuatan yang
telah ia lakukan, lambat laun semua perbuatan yang dia lakukan akan diketahui oleh
orang banyak. Kolonel Mason tidak bisa selamanya menyalahkan dan menjadikan
9
www.puisikata.com/2011/11/kumpulan-peribahasa-indonesia-kata_11.html?m=1 diakses
pada 19 Juli 2016
98
orang lain sebagai dalang atas perbuatan yang dilakukannya. Seperti peribahasa
berani berbuat berani bertanggungjawab. Artinya setiap perbuatan yang dia lakukan
maka dia harus berani mempertanggungjawab segala perbuatan itu.
B. Pesan Propaganda Politik Tentang Islam dalam Film 3 Alif Lam Mim
Bagian ini mengungkapkan makna-makna pesan dalam teknik-teknik
propaganda yang diterapkan pada film 3.
1. Makna pesan propaganda politik dalam teknik Name Calling
Ditemukan dialog dalam film 3 yang mengandung teknik name calling (julukan)
yaitu ketika kalimat yang di ucapkan oleh seorang waiters saat meminta dua orang
Muslim yang berada dalam café karena dua orang Muslim itu berpakaian aneh.
Kalimat yang diucapkan oleh waiters yaitu “iya, lebih baik kalian pergi saja dari
café karena pakaian kalian aneh” (durasi ke 34:01).
Propaganda dilakukan dengan menggunakan teknik name calling (julukan).
Teknik ini muncul karena ucapan dugaan masyarakat yang menganggap bahwa
orang-orang Islam yang mengenakan pakaian jubbah dan gamis dapat menyebabkan
terjadinya kekecauan. Selain itu, masyarakat juga mengidentikan orang yang
menggunakan pakaian seperti ini dapat melakukan kekerasan bahkan sampai
melakukan pengeboman yang dapat menyebabkan seseorang meninggal. Karena
dugaan seperti itu, maka muncullah teknik name calling (julukan) yang diberikan
masyarakat kepada orang-orang Islam dengan menyebutnya sebagai seorang teroris.
Tidak hanya itu, masyarakat menganggap orang-orang Islam sebagai seorang teroris
99
karena pengaruh yang ditanamkan kedalam pikiran masyarakat oleh seorang
penguasa sehingga terciptalah anggapan yang seperti itu.
Dalam Film 3 ini, terdapat beberapa adegan yang mengandung pesan
propaganda politik yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki kekuasaan politik
dalam negara yaitu Kolonel Mason. Pesan propaganda yang terdapat yaitu bahwa
orang yang beragama Islam sebagai teroris, orang-orang yang menganut agama Islam
adalah orang yang fanatik, elit-elit politik yang berkuasa saat itu berusaha
mempengaruhi pikiran masyarakat agar menganggap bahwa Islam sebagai pengacau
di negara kita.
2. Makna pesan propaganda dalam teknik Card Stacking
Ditemukan dialog yang mengatakan botol parfum sebagai barang bukti yang
menyebabkan terjadinya ledakan , kalimat yang diucapkan oleh Kolonel Mason:
“kamu lihat ini lif, bukti-bukti yang saya dapatkan melalui media massa, bahwa
ditemukannya sebuah botol yang berisi parfum yang berasal dari pondok pesantren
Al-ikhlas”(durasi 52:19). Gambar botol parfum terdapat pada (durasi 37:13). Dari
bukti palsu yang ditunjukkan oleh Kolonel Mason kepada masyarakat membuat
anggapan negatif terhadap orang-orang yang berada di dalam pesantren.
Propaganda politik juga dilakukan dilakukan oleh elit politik melalui media
massa sebenarnya upaya yang dilakukan untuk mengemas isu, tujuan, pengaruh, dan
kekuasaan politik untuk memanipulasi psikologi khalayak.10 Seperti yang terdapat
10
Gungun, Heryanto, Propaganda Politik Melalui Media Massa: Analisa Dari Perspektif
Teori Agenda Setting, Jurnal Dakwah UIN Jakarta, Volume IX No. 1, Edisi Juni 2007, h. 7
100
pada data 2, propaganda politik yang dilakukan oleh seorang Kolonel melalui media
massa dengan memberikan pernyataan-pernyataan bohong semata-mata hal itu
dilakukan agar masyarakat percaya.
Terdapat juga teknik propaganda Card Satcking (memberikan fakta-fakta dan
kebohongan) dalam menyampaikan pesan propaganda yang dilakukan oleh Kolonel
Mason. Pesan propaganda yang diberikan yaitu menyebarluaskan isu dengan
menganggap bahwa Berbagai kejadian pengeboman dan kekerasan yang terjadi di
Jakarta sebagai ulah orang-orang Islam. Seperti halnya, kasus pengeboman yang
terjadi di Candi café. Kolonel Mason menunjukkan berbagai bukti-bukti kejadian
yang didapatnya semata-mata agar masyarakat menyalahkan orang-orang Islam
sebagai pelaku pengeboman tersebut.
Propaganda yang terdapat dalam Film 3 ini yaitu propaganda politik yang
dilakukan oleh seorang Kolonel Mason dengan menyampaikan isu-isu negatif kepada
masyarakat. selain itu juga, model propaganda yang dilakukan yaitu model
propaganda hitam dengan memberikan fakta-fakta palsu mengenai kejadian
pengeboman yang terjadi di Candi café hal itu dilakukan untuk menciptkan citra
buruk tentang agama Islam di mata masyarakat.
3. Makna pesan propaganda dalam teknik Frustration or Spacegot
101
Ditemukan dialog yang diucapkan oleh Kolonel Mason kepada Alif sehingga
membuat Alif percaya terhadap ucapan Kolonel Mason. Kalimat yang diucapkan oleh
Kolonel Mason: “kamu tahu siapa yang melakukan pengeboman di Candie café?.
Alif: “siapa yang sudah melakukan itu pak?”, Kolonel Mason:” orang-orang yang
ada di pondok pesantren Al-Ikhlas yang dipimpin oleh temanmu Mim” (durasi 52:54)
Berbagai cara yang dilakukan oleh Kolonel Mason semata-mata untuk
menciptakan citra buruk kepada agama Islam. Teknik propaganda yang digunakan
yaitu Frustration or Spacegot (menimbulkan kebencian) dalam menyampaikan pesan
propaganda kepada Alif dan masyarakat. Teknik ini juga terdapat pada data 4,
Kolonel Mason menggunakan teknik propaganda ini agar menimbulkan kebencian
pada diri masyarakat terhadap orang-orang Islam. Kolonel berusaha memfitnah
agama Islam dengan menjadikan orang-orang Islam sebagai dalang dari kasus
pengeboman yang terjadi di Candi cafe. Sehingga dengan begitu, akan menimbulkan
rasa benci pada diri masyarakat terhadap orang-orang Islam dengan menganggap
bahwa dalang dari pengeboman ini adalah orang-orang Islam.
Pesan propaganda yang disampaikan oleh Kolonel Mason mengandung
bujukan atau rayuan sehingga masyarakat mau mengikuti apa yang diinginkan oleh
seorang propagandis. Pesan propaganda yang disampaikan oleh pemimpin politik
masih mengandung kenyataan yang semu atau kebohongan.
102
4. Makna pesan propaganda dalam teknik propaganda positif
Ditemukan dialog yang diucapkan oleh Kolonel Mason saat dirinya mengakui
kepada Alif bahwa dirinya yag telah melakukan tindakan itu dengan mengadu
domba Ali, Lam, Mim serta masyarakat. Kolonel: “memang saya yang menyuruh
melakukan pengeboman tapi bukan saya melakukannya”.(durasi 01:19:10)
Dari dialog yang diucapkan oleh Kolonel Mason kepada Alif menjelaskan
bahwa umat Muslim tidak melakukan tindakan kejahatan seperti yang dituduhkan
masyarakat kepada orang-orang. Tindakan kejahatan yang terjadi selama ini
melainkan ulah para pemimpin politik yang secara sengaja menjadikan orang-orang
Islam sebagai dalang dari segala kejahatan yang terjadi saat itu.
Propaganda ratio (positif) dilakukan untuk menciptakan nama baik terhadap
suatu perkara atau masalah yang terjadi. Propaganda positif yang terdapat dalam Film
3 ini yaitu ketika Alif, Lam, dan Mim mengungkapkan kejahatan yang dilakukan oleh
Kolonel Mason kepada Kyai dan umat Muslim. Mereka bertiga berusaha mencari
bukti-bukti untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa bukan orang-orang Islam
yang melakukan tindakan kejahatan itu.
Propaganda sebagai sebuah usaha yang dilakukan oleh sekelompok orang atau
sebuah organisasi untuk mempengaruhi manusia. Terkadang propaganda dilakukan
untuk merubah pemikiran seseorang dengan tujuan untuk kepentingan sendiri karena
propaganda dapat merubah kepercayaan dan opini. Propaganda yang terdapat dalam
film yaitu dilakukan oleh seorang Kolonel. Tujuannya melakukan propaganda untuk
mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.
103
Dari penjelasan diatas beberapa teknik propaganda yang digunakan oleh
Kolonel Mason untuk menyapaikan pesan propaganda kepada masyarakat.
Propaganda lain yang dilakukan oleh Kolonel Mason yaitu dengan menyerbarluaskan
isu-isu yang bohong kepada masyarakat untuk merubah kepercayaan masyarakat
terhadap agama Islam. Berbagai pesan yang disampaikan oleh pemimpin politik
untuk mempengaruhi pemikiran masyarakat, hal itu bertujuan agar masyarakat
membenci agama Islam sehingga tujuan yang diinginkan oleh pemimpin politik
tercapai.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil analisis penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka peneliti
menarik kesimpulan mengenai makna semiotik (denotasi, konotasi, dan mitos) dan
propaganda politik.
Makna
denotasi
yang
ditemukan
pada
beberapa
adegan
tersebut
menggambarkan tentang pakaian jubbah, gamis, dan sorban yang dikenakan oleh
orang-orang Islam. Pakaian yang diangggap aneh oleh sebagaian orang. Kemudian
makna konotasi yang terdapat pada beberapa adegan tersebut adalah bagaimana
masyarakat menggambarkan pakaian jubbah, gamis, dan sorban. Masyarakat
menganggap pakaian yang digunakan oleh seorang teroris. Bahkan, terdapat dugaan
yang menganggap bahwa orang-orang yang menggunakan pakaian seperti ini dapat
melakukan kekacauan dan kekerasan. Bahkan sampai melakukan pengeboman
sehingga mereka dijuluki seorang teroris. Sedangkan mitos yang terdapat dalam
beberapa adegan film ini adalah bahwa pakaian jubbah yang dikenakan oleh seorang
Kyai dan orang-orang Islam dalam kehidupan masyarakat masing dianggap asing dan
aneh. Namun, dalam bangsa Arab pakaian seperti ini sudah membudaya dikalangan
masyarakat Arab. karena di negara Arab Saudi umat Muslim mengenakan pakaian ini
sebagai pakaian sehari-hari mereka dalam menjalankan aktivitasnya.
103
Sementara
104
untuk sebagaian orang yang belum memahami pakaian orang-orang Muslim ini
dianggap pakaian yang digunakan oleh seorang teroris. Selain itu, banyak kalangan
masyarakat yang sering mengidentikan seorang Kyai sebagai pimpinan teroris.
Masyarakat beranggapan bahwa Kyai yang menyuruh seorang teroris untuk
melakukan kekacauan. Anggapan itu muncul karena fitnah yang diberikan seorang
pemimpin ke dalam pikiran masyarakat yang dilakukan secara terus menerus.
Pesan propaganda politik yang terdapat dalam beberapa adegan Film 3
dengan menggunakan beberapa teknik propaganda seperti name calling, card
stacking, dan frustration or spacegot, Berbagai cara dilakukan oleh seorang
pemimpin politik agar mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi. Para pemimpin
politik sebagai propagandis yang memberikan informasi bohong kepada masyarakat
berusaha menebarkan benih-benih kebencian terhadap Islam. Tergambar juga
kecurangan yang dilakukan oleh pemimpin politik beserta bawahannya kepada umat
Muslim dengan mengadu domba masyarakat dan orang-orang Islam. Dengan begitu
masyarakat akan percaya terhadap ucapan seorang propagandis karena bukti-bukti
palsu (card stacking) yang ditunjukkan kepada masyarakat, sementara masyarakat
akan membenci orang-orang Islam. Citra Islam yang terus-menerus diperburuk,
kemudian Islam yang memiliki makna baik, menjadi sangat menakutkan di mata
masyarakat sehingga secara langsung akan menimbulkan kebencian (frustration or
spacegot). Islam yang saat itu dijuluki (name calling) sebagai teroris oleh masyarakat.
bahkan Kyai dalam sebuah pesantren dianggap sebagai dalang dari kasus
pengeboman tersebut. Hal itu tercipta karena pengaruh yang diberikan oleh seorang
pemimpin kepada masyarakat
105
B. Saran
Dari hasil penelitian serta kesimpulan yang telah diperoleh peneliti, maka
peneliti dapat memberikan saran:
Pertama, kepada tim produksi film agar membuat film yang lebih bagus lagi
tidak hanya menceritakan tentang agama Islam saja tetapi juga mengangkat dan
menceritakan tentang hal lainnya. Selain itu juga, pembuat film juga harus berhatihati dalam membuat film terutama ide cerita yang ditulis oleh penulis apalagi film
yang dibuat menceritakan suatu agama. Film juga harus memberikan porsi yang
seimbang ketika menceritakan tentang dua pihak. Jika nanti akan dibuat film
futuristic seperti ini lagi harus lebih menonjolkan sisi utama yang ingin diceritakan
oleh sutradara.
Kedua, para pemimpin politik agar tidak menjadikan masyarakat sebagai alat
utama untuk memperoleh kekuasaan. Pemimpin politik agar tidak mempengaruhi
masyarakat dalam menjalankan misinya. Dengan begitu masyarakat tidak akan
mudah terpengaruh. Terkadang seorang pemimpin tega mempengaruhi masyarakat
agar tujuan yang diinginkan tercapai seperti menggunakan teknik-teknik propaganda.
Ketiga, kepada pembaca dan masyarakat luas, diharapkan penelitian ini dapat
menjadikan rujukan dan referensi pengetahuan bagaimana suatu film futuristik yang
pertama ditayangkan terutama di dalamnya terdapat tujuan-tujuan tertentu demi
tercapainya tujuan politik yang diinginkan oleh seorang pemimpin politik dengan
menggunakan teknik-teknik propaganda.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Anwar, Komunikasi Politik, Jakarta: Balai Pustaka, 2003.
Adityawan, Arief S, Propaganda Pemimpin Politik Indonesia, Jakarta: Pustaka
LP3ES Indonesia, 2008.
Barthes, Roland, Mitologi, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2009.
Bignell, Jonathan, Media Semiotic: An Introduction, Manchester and New York:
Menchester University Press, 1997.
Danesi, Marcel, Pengantar Memahami Semiotik Media, Yogyakarta: Jalasutra,2010.
, Pesan, Tanda, dan Makna, Yogyakarta: Jalasutra, 2012.
Effendy, Onong Uchayana, Dimensi-dimensi Komunikasi, Bandung: Alumni, 1981.
Irawanto, Budi, Film, Ideologi, dan Militer, Hegemoni Militer dalam Sinema
Indonesia, Yogyakarta: Media Perssindo, 1999.
Irwansyah, Ade, Seandainya Saya Kritikus Film, Yogyakarta: Homerian Pustaka,
2009.
Junus, Umar, Mitos dan Komunikasi, Jakarta: Sinar Harapan, 1981.
Mahyudi, Alfian Alfan M., Menjadi Pemimpin Politik, Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2009.
Moleong, Lexy J, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006.
Muhtadi, Saeful Asep, Komunikasi Dakwah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2012.
Nimmo, Dan, Komunikasi Politik (Komunikator, Pesan, dan Media), Bandung:
Remadja Karya, 1989.
Nurudin, Komunikasi Propaganda, Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 2008.
106
107
Pawito, Penelitian Komunikasi Kualitatif, Yogyakarta: PT. LKS Pelangi Aksara
Yogyakarta, 2007.
Rakhmat, Jalaludin, Metodelogi penelitian Komunikasi, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2007.
Roudhonah, Ilmu Komunikasi, Jakarta: Atma Kencana Publishing, 2013.
Shoelhi, Mohammad, Propaganda dalam Komunikasi Internasional, Bandung:
Simbiosa Rekatama Media, 2012.
Sobur, Alex, Semiotika Komunikasi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009.
, Analisis Teks Media; Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, dan Analisis Framing, Bandung: PT Remadja Rosdakarya, 2004.
Sudikin, Bosrowi, Metode Penelitian Kualitatif Prespektif Mikro, Surabaya:
Insancendikia, 2002.
Trianto, Teguh, Film Sebagai Media Belajar, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013.
Wibowo, Wahyu, S. Indiawan, Semiotika Komunikas: Aplikasi Praktisi bagi
Penelitian dan Skripsi Komunikasi, Jakarta: Mitra Wacana Media, 2013.
INTERNET
Review Film Alim Lam Mim (3) “Dakwah Anggy Umbara Melalui Film Alif
Lam Mim” http://www.kompasiana.com/mahesojenar12/review-film-alimlam-mim-3-dakwah-anggy-umbara-melalui-film-alif-lammim_561aa83f357b61370d8b4569. di akses tanggal 7 maret 2016 pukul
12.30
REVIEW : 3 (ALIF LAM MIM) http://cinetariz.blogspot.co.id/2015/10/review-3-aliflam-mim.html. di akses tanggal 7 Maret 2016 pukul 12.45
3 : ALIF LAM MIM (2015) REVIEW : Tatkala Problematika Sosial Berdampak
Pada Kehancuran http://arulfittron.blogspot.co.id/2015/10/3-alif-lam-mim2015-review-tatkala.html. Diakses pada 25 februari 2016.
Film '3' Bisa Memicu Kontroversi? Ini Jawaban Cornelio Sunny
http://www.kapanlagi.com/showbiz/film/indonesia/film-3-bisa-memicu-
108
kontroversi-ini-jawaban-cornelio-sunny-652f54.html. diakses pada 20
februari 2016 pukul 10:15
3 (Alif lam mim) film komunis http://michaelfinery.blogspot.co.id/2015/10/3-aliflam-mim-film-komunis.html. diakses pada 20 februari 2016 pukul 11:45
http://movie.co.id/3
http://sinopsisfilm.com/
JURNAL
Heryanto, Heryanto, Propaganda Politik Melalui Media Massa: Analisa Dari
Perspektif Teori Agenda Setting, Jurnal Dakwah UIN Jakarta, Volume IX
No. 1, Edisi Juni 2007, h. 7
Moeryanto, Munthe, Ginting, Propaganda dan Ilmu Komunikasi, Jurnal IISIP, Vol.
IV, No. 1, Edisi Juni 2012, h. 49.
Wawancara dengan Anggy Umbara (Sutradara dan Penulis) Film 3 (Alif Lam
Mim) di Senayan City
Kamis, tanggal 26 Mei 2016
Pukul 12:15 WIB.
1. Peneliti : Bang Anggy, apa konsep yang diambil dari Film 3 (Alif Lam Mim) ini?
Anggy : Konsep yang gua ambil tentang tentang fitnah akhir zaman
2. Peneliti : Kenapa lebih memilih menggambarkan sudut kota Jakarta, disbanding
kota-kota lain?
Anggy Umbara : Karena gua paling deket sama Jakarta lebih personal karena
ruang lingkupnya di Jakarta dan tingkat kepedulian gua terhadap kota Jakarta.
3. Peneliti : Terus, apa yang membedakan Film 3 ini sama film-film lainnya yang
udah lebih dulu bermunculan di bioskop-bioskop?
Anggy Umbara : Yang ngebedain Film 3 sama film lainnya, Semuanya sih
berbeda mulai dari karakter, tokoh dan konsep dan sinematografi dan genre yang
gua tampilkan dalam film ini, genre yang gua tampilkan dalam film ini juga genre
pertama kali yang ada di Indonesia.
4. Peneliti : Untuk ide penulisan skenarionya itu pure dari abang, atau ada ikut
campur dari yang lain juga?
Anggy Umbara : Kalo Idenya sih dari mimpi gua, tentang tiga karakter alif lam
mim dan pengembangannya dari semua crew yang ikut campur buat ngembangin
jadi film.
5. Peneliti : Kesulitan Apa yang bang Anggy temui selama proses syuting Film 3?
Anggy Umbara : Kesulitannya sih pada waktu preparenya pendek banget dan
serba buru-buru terlalu terbatas jadi engga bisa punya ruang lebih. Pas hari ke-11,
gua mengalami kecelakaan dan selama proses syuting, gua lakuin itu sambil
tiduran di dalam ambulan. Dan menurut gua, ini syuting paling cepet karena Cuma
26 hari aja dalam proses syutingnya.
6. Peneliti : Denger-dengan kabar Film 3 ini, juga dapat beberapa penghargaan yang
bang?
Anggy Umbara : Iya, dan film ini juga ditayangin regular itu di Jepang sama
Malaysia. Dan kalau untuk ajang festival kita ikuti seperti, di Los Angels, Osaka
Asian Festival. Film 3 juga diadakan nonton bareng di German. Film 3 juga
menang di Vris Code di Florida dan menang di Best Editing. Film 3 juga ada di
beberapa festival lainnya. Meskipun Film 3 ditayangin di Luar Negari tapi Film 3
tetap ada di jalur Indonesia.
7. Peneliti : bagaimana antusian penonton terhadap Film 3?
Anggy Umbara : Justru masyarakat antusias terhadap film ini dan masyarakat
yang belum sempet nonton di bioskop malah mereka mengadakan nonton bareng.
Bahkan sampai sekarang masih ada. Dan penonton malah engga suka karena
banyak beberapa adegan yang di potong. Sebenernya tayangan yang sudah ada
dibioskop sudah di potong dari beberapa adegan bahkan sampe 25 menit, sayang
banget beberapa adegan itu di potong padahal itu adegan-adegan yang serunya.
8. Peneliti : Apa benar bang, ada beberapa kota yang menolak Film 3 ditayangkan di
Bioskop?
Anggy Umbara : Masa sih, mungkin ada beberapa kota-kota yang masih belum
bisa menerima. Dan ketika lu nonton film ini harus full karena kalo lu engga
sampe selesai itu bisa menimbulkan salah paham.
9. Peneliti : Sebenernya Film 3 ini tentang apa?
Anggy Umbara : Sebenernya Film 3 ini, tentang 3 karakter yaitu Alif Lam Mim,
contohnya si Alif itu sebagai aparat negara yang taa sama peraturan yang ada, Alif
lebih memiliki karakter yang berapi-api dan huruf Alif itu kan lurus. Sedangkan
Lam itu sebagai jurnalis, Lam memiliki karakter melengkung dan fleksibel dan
lebih mengikut arus yang ada. Kalau si Mim itu seperti air selalu mengikuti yang
terendah dan setiap kali dia fighting selalu diadakan di dalam air.
10. Peneliti : Kenapa diberi Judul 3 bang?
Anggy Umbara : Sebenarnya sudah tiga kali ganti judul yang pertama Alif Lam
Mim, namun karena kita kerja sama dengan Multivision sehingga mereka tidak
setuju dengan judul itu karena terlalu ke arab-araban, sempat ganti lagi juga
dengan 3 fighters namun terlalu ke Barat-baratan. sehingga diganti lagi dengan
judul 3 ini akan tetapi judul 3 ini sempat ambigu karena banyak orang yang tidak
mengetahui 3 ini. mungkin ini juga kesalahan tim marketing dan produser kami
ketika menentukan judul. Sehingga banyak orang yang belum mengetahui Film 3
ini.
11. Peneliti : Kenapa lebih pilih menggambarkan tentang teroris dalam Film 3?
Anggy Umbara : Karena sekarang adanya kaya gitu dalam menggambarkan
terorisme, engga cuma di Indonesia tetapi dimana-mana juga terutama di negara
Barat sana kan Islam selalu di identikan dengan pakaian yang seperti itu mengenai
islamphobia makanya kita tidak boleh langsung mengjudge seseorang contohnya
saja seorang yang memakai baju gamis dan sorban itu seorang teroris dan
contohnya juga di orang-orang Islam yang ada di LA mereka merasakan
dampaknya karena judge yang dilakukan orang-orang Barat terhadap orang Islam.
Pada dasarnya ini tentang Islamphobia yang diciptakan oleh orang-orang Barat
kepada manusia.
12. Peneliti : Pesan apa yang bisa didapatkan oleh penonton?
Anggy Umbara : Pesan yang terkandung sih banyak, terutama mengenai sesuatu
yang jangan mudah terprovokasi oleh seseorang karena jaman sekarang sulit untuk
membedakan mana yang benar dan tidak benar dan tidak mudah menjugde
seseorang sehingga manusia lebih paham lagi.
13. Peneliti : Apa harapan bang Anggy sebagai sutradara?
Anggy Umbara : Harapannya bisa lebih menerima dan paham lagi terhadap
semuanya engga cuma tentang Islam saja akan tetapi sama Tuhan dan Rasul-Nya.
Sehingga ketika mereka nonton film ini lebih paham dalam memahami agama
mereka masing masing.
14. Peneliti : Kenapa menggambarkan Indonesia dengan paham Liberalis?
Anggy Umbara : Paham Liberalis saat ini memang lagi banyak banget dianut oleh
kalangan-kalangan politik. Banyak orang yang bersembunyi dibalik-balik paham
Liberal ini, engga cuma para politik akan tetapi juga agama apalagi sekarang ismeisme yang bermunculan dan dalam memahaminya pun berbeda beda, akan tetapi
paham Liberal yang kami jelaskan disini terlalu berlebihan karena Indonesia
sendiri bukan yang menganut paham Liberal tetapi pancasila. Sebenarnya dalam
film ini terdapat lambang Garuda yang dijadikan catursila, namun dalam lambang
Garuda tersebut tidak terdapat lambang bintang dalam lambang Garuda tersebut.
Sehingga dalam adegan tersebut di cut oleh pihak Bioskop karena takut
bersinggungan sama negara sebenarnya hal itu penting karena pada saat ini sudah
terjadi, masyarakat bebas dalam menentukan agama mereka masing-masing dan
memang hak asasi manusia penting tapi seolah-olah mereka tidak memperdulikan
lagi tentang pancasila itu.
Dokumentasi Bersama Anggy Umbara
Download