AFIKSASI PEMBENTUK VERBA DALAM TEKS BERITA SISWA

advertisement
AFIKSASI PEMBENTUK VERBA DALAM TEKS BERITA
SISWA KELAS VIII DI SMP DARUL MUTTAQIEN
JAKARTA TAHUN PELAJARAN 2013/2014
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
oleh
Anggraini Prastikasari
1110013000112
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
AFIKSASI PEMBENTUK VBRBA DALAM TEKS BERITA
SISWA KELAS,VTII DT SMP DARUL MUTTAQIEN JAKARTA
IAHUN PELAJARAN
2013/2014
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas limu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu
Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Anggraini Prastikasari
NrM. 1110013000112
Di Bawah Bimbingan,
trry
Dioko Kentiono, MA
JURUS$I PENDIDIKAI\I BAHASA DA}t SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBTYAII DAN KEGURUAN
UNTYERSITAS TSLAM NEGERI SYARIF IIIDAYATT]LLAH
JAKARTA
2015
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi berjudul "Afiksasi Pembentuk Verba dalam Teks Berita Siswa Kelas VIII di SMp
Darul Muttaqien Jakarta Tahun Pelajaran 201312014" disusun oleh A,ggraini prastikasari,
NIM 1110013000112, diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasah pada 07 April 2015
di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana SI (S.pd)
dalam bidang PendiCikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Jakarta, 16
Panitian Ujian Munaqasah
Ketua Panitia (PLT Ketua Jurusan/Prodi)
Tanggal
lG
Dra. Hindun. M.Pd
NIP. 19701 215 200912 2 001
An,:l
Av\h
I
Sekretaris (Sekretaris Jurusan/Prodi)
lb h,i t aos
Dona Aii Kanrnia p. N{.A
NiP.
1
984A4092A1 101 10 i 5
Penguji I
Dona
Aii Karunia
NIP. 1984040920n
Penguji
p"
It knl aou
M.A
01 101s
II
IC
Dra. Hindun. l\l.Pd
NrP. 19701 215 200912 2 001
Mengetahui,
Dekan Fak
Ilmu Tarbiyah da
NiP. 195504
98203 1 007
April
2015
SURAT PERI{YATAAN KARYA SENDIRI
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama
: Anggraini Prastikasari
Tempat, Tanggal Lahir
: Jakartq'12 Agustus 1992
NIM
:1110013000112
Fakultas
: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurusan
: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Semester
:fX
Judul Skripsi
:
Afilcsasi Pembentuk Verba Dalam Telcs Berita Siswa
Kelas VIII di SllP Darul Muttaqien Jakarta
Tahun Pelajoran
Dosen Pembimbing
:
20 I 3/201 4
Djoko Kentionq, MA
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri
dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Jakart4 19 Maret 2015
Anggraini Piastikasari
NIM 1110013000112
ABSTRAK
Anggraini Prastikasari, NIM : 1110013000112, 2015, “Afiksasi Pembentuk
Verba dalam Teks Berita Siswa Kelas VIII di SMP Darul Muttaqien Jakarta
Tahun Pelajaran 2013/2014”, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta. Pembimbing: Djoko Kentjono, MA.
Penelitian ini menganalisis penggunaan afiksasi pembentuk verba pada
teks berita siswa kelas VIII di SMP Darul Muttaqien Jakarta. Pembelajaran bahasa
Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk
berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan
maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra Indonesia.
Menulis berita termasuk keterampilan menulis yang ada dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas VIII SMP. Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan penggunaan afiksasi pembentuk verba dalam teks berita siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan afiksasi pembentuk verba dalam
teks berita siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini,
yaitu observasi. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan tes kepada siswa.
Data yang terkumpul sebanyak 30 data, tetapi hanya 12 data yang dianalisis
berdasarkan pertimbangan banyaknya penggunaan afiksasi verba di dalam data
tersebut. Data tersebut dianalisis menggunakan teori afiksasi pembentuk verba.
Afiksasi verba yang digunakan siswa cukup beragam,
mencakup 10 jenis afiks, yaitu prefiks me-, prefiks ber-, prefiks di-,
prefiks ke-, sufiks –kan, sufiks -i, konfiks ber-an, konfiks ke-an dan
an. Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
memahami penggunaan afiksasi verba.
Kata kunci: Afiksasi verba, teks berita.
i
diantaranya
prefiks ter-,
klofiks bersiswa telah
ABSTRACT
AnggrainiPrastikasari, 1110013000112, 2014, "Verbalizer Affixes in News Item
of 8th Grade Student in SMP DarulMuttaqien, Jakarta 2013/2014", majoring
Indonesia Language and Literature Education, Faculty of Education, Islamic State
University SyarifHidayatullah, Jakarta.
Advisor: DjokoKentjono, MA.
This research analyses verbalizer affixes in the news item written by 8th
grade students of SMP DarulMuttaqien, Jakarta. Learning Bahasa Indonesia aims
to increase students' communicating skill in Bahasa Indonesia both written and
spoken, and also to enhance appreciation toward Indonesians literature. Writing
news item is the skill that should be learnt based on the lesson plan for 8th grade
students. This research aims to describe the use of verbalizer affixes in students’
news item.
This research uses qualitative approach. The purpose of this research is to
describe the use of verbalizer affixes in students’ news item. The researcher
collects the data by using observation methodology. She conducted this research
by giving a task to students. There are 30 samples collected, but only 12 samples
that have been analyzed by considering the number of verbalizer affixes in those
samples. Later, those samples are analyzed by using verbalizer affixes theory.
Verbalizer affixes which are used by students were various, consist of ten
kinds of affixes: prefix me-, prefix ber-, prefix di-, prefix ter-, prefix ke-, suffix –
kan, suffix –i, circumfix ber-an, circumfix ke-an, klofix ber-an. By seeing those
samples, the result of this research shows that students have understood the usage
of verbalizer affixes.
Keyword: verbalizer affixes, news item.
ii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan nikmat
sehat serta kekuatan-Nya kepada penulis sehingga diberikan kemudahan untuk
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Afiksasi Pembentuk Verba dalam
Teks Berita Siswa Kelas VIII di SMP Darul Muttaqien Jakarta Tahun Pelajaran
2013/2014”.
Penulis menyusun skripsi ini untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Terselesaikannya skripsi ini merupakan hasil kerja penulis yang tidak terlepas
dari dukungan banyak pihak, baik dukungan berupa doa, semangat, maupun
bahan-bahan yang dibutuhkan bagi penyempurnaan skripsi ini. Maka pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA., selaku Dekan FITK UIN Jakarta yang telah
mempermudah dan melancarkan penyelesaian skripsi ini;
2. Ibu Dra. Hindun, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia yang telah melancarkan penyelesaian skripsi ini;
3. Bapak Djoko Kentjono, MA., selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan ilmu dan bimbingan yang sangat berharga bagi penulis selama
ini;
4. Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, yang selama ini telah membekali penulis dengan ilmu yang tak
ternilai harganya;
5. Segenap staf perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan serta staf
perpustakaan utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
iii
6. Ibu Dra. Hj. Siti Nuraisyah. Selaku Kepala Sekolah SMP Darul Muttaqien
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan
penelitian skripsi ini;
7. Ibunda tercinta yang selalu memberikan dukungan maksimalnya dalam hal
lahir dan batin yang begitu tulusnya;
8. Penyemangat yang selalu memberi semangat serta doa yang begitu tulusnya;
9. Sahabat-sahabat penulis, Naila Sa’adah, Nurfayerni, Nurfitria Harnia, Ihda
Auliaunnisa, Nissa Kurniasih dan Eva Aulia, yang selalu setia memberi
dukungan, movitasi, dan doa;
10. Teman-teman seperjuangan, mahasiswa PBSI angkatan 2010, khususnya kelas
C, terima kasih atas informasi serta semangat, canda, dan tawa yang diberikan
selama kuliah.
Semoga semua bantuan, dukungan serta doa yang diberikan kepada penulis
senantiasa mendapat balasan pahala dari Allah SWT. Aamiin.
Akhirnya, penulis berharap, semoga skripsi ini dapat memberikan kontribusi
wawasan bagi cakrawala ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang pendidikan
dan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia.
Jakarta, 19 Maret 2015
Penulis
iv
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN
SURAT PERNYATAAN
ABSTRAK ............................................................................................................i
ABSTRACT ...........................................................................................................ii
KATA PENGANTAR ........................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................... v
DAFTAR TABEL.................................................................................. viii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...........................................................................1
B. Identifikasi Masalah .................................................................................4
C. Batasan dan Rumusan Masalah ................................................................4
D. Tujuan Penelitian .....................................................................................5
E. Manfaat Penelitian ...................................................................................5
BAB II LANDASAN TEORI
A. Kata ..........................................................................................................6
1. Hakikat Kata.............................................................................................6
2. Hakikat Kata Berimbuhan (Afiksasi) .......................................................7
v
3. Jenis Imbuhan (Afiks) ..............................................................................8
a. Awalan atau Prefiks ...........................................................................9
b. Imbuhan Terbagi atau Klofiks ...........................................................10
c. Sisispan atau Infiks ............................................................................12
d. Akhiran atau Sufiks ............................................................................12
B. Kata Kerja (Verba) ...................................................................................13
C. Afiksasi Pembentuk Kata Kerja (verba) ..................................................15
1. Prefiks ber- ...............................................................................................15
2. Prefiks per- ..............................................................................................17
3. Prefiks me- ..............................................................................................18
4. Prefiks di- ................................................................................................21
5. Prefiks ter- ...............................................................................................21
6. Prefiks ke- ................................................................................................23
7. Konfiks dan Klofiks ber-an ....................................................................23
8. Klofiks ber-kan .......................................................................................24
9. Konfiks per-kan ......................................................................................24
10. Konfiks per-i ...........................................................................................25
11. Konfiks ke-an ..........................................................................................25
12. Sufiks –kan ..............................................................................................26
13. Sufiks –i ..................................................................................................26
D. Berita .............................................................................................................28
1. Hakikat Berita .........................................................................................28
2. Menulis Berita ..........................................................................................29
E. Penelitian yang Relevan ................................................................................30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................................33
B. Pendekatan .....................................................................................................33
vi
C. Data dan Sumber Data ...................................................................................34
D. Korpus Data ..................................................................................................34
E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................34
F. Teknik Analisis Data ......................................................................................35
BAB IV ANALISIS
A. Profil Sekolah .................................................................................................36
B. Deskripsi Data Secara Umum .......................................................................44
C. Analisis ..........................................................................................................44
BAB V PENUTUP
A. Simpulan .......................................................................................................104
B. Saran ...............................................................................................................105
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................107
LAMPIRAN - LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Proses Afiksasi Awalan atau Prefiks ................................................... 10
Tabel 2.2 Proses Afiksasi Imbuhan Terbagi atau Konfiks ................................... 11
Tabel 2.3 Proses Afiksasi Imbuhan Gabungan atau Klofiks ................................ 11
Tabel 2.4 Proses Afiksasi Sisipan atau Infiks ...................................................... 12
Tabel 2.5 Proses Afiksasi Akhiran atau Sufiks .................................................... 12
Tabel 4.1 Jumlah Personal di SMP Darul Muttaqien .......................................... 42
Tabel 4.2 Jumlah Siswa di SMP Darul Muttaqien ............................................... 43
Tabel 4.3 Analisis Afiksasi Verba Data 1 ............................................................ 53
Tabel 4.4 Analisis Afiksasi Verba Data 2 ............................................................ 57
Tabel 4.5 Analisis Afiksasi Verba Data 3 ............................................................ 61
Tabel 4.6 Analisis Afiksasi Verba Data 4 ............................................................ 66
Tabel 4.7 Analisis Afiksasi Verba Data 5 ............................................................. 70
Tabel 4.8 Analisis Afiksasi Verba Data 6 ............................................................. 74
Tabel 4.9 Analisis Afiksasi Verba Data 7 ............................................................ 77
Tabel 4.10 Analisis Afiksasi Verba Data 8 .......................................................... 82
Tabel 4.11 Analisis Afiksasi Verba Data 9 ........................................................... 86
Tabel 4.12 Analisis Afiksasi Verba Data 10 ........................................................ 89
Tabel 4.13 Analisis Afiksasi Verba Data 11 ........................................................ 96
Tabel 4.14 Analisis Afiksasi Verba Data 12 ......................................................... 98
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
: Lembar Uji Referensi
Lampiran 2
: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Lampiran 3
: Teks Berita Siswa
Lampiran 4
: Surat Bimbingan Skripsi
Lampiran 5
: Surat Permohonan Izin Penelitian dari Ketua Jurusan PBSI
Lampiran 6
: Surat Keterangan Mengadakan Penelitian dari SMP Darul
Muttaqien Jakarta
Lampiran 7
: Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian dari SMP Darul
Muttaqien Jakarta
Lampiran 8
: Foto–foto saat Mengadakan Penelitian
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat, berupa
lambang bunyi-suara, yang dihasilkan oleh alat-ucap manusia.1 Bahasa menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, “sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang
digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan
mengidentifikasikan diri”.2 Dari dua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
bahasa adalah sistem yang teratur berupa lambang bunyi yang digunakan untuk
mengekspresikan perasaan dan pikiran; bahasa juga merupakan alat untuk
berkomunikasi satu sama lain.
Bahasa memang sangat dibutuhkan dalam berkomunikasi. Sebagai alat
komunikasi dalam kehidupan, pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia
harus semakin ditingkatkan. Hal itu dapat dilakukan pada semua bidang bahasa
yang dianggap tepat dan dapat menunjang kesempurnaan bahasa Indonesia. Pada
bidang morfologi misalnya, pembinaan dan pengembangan biasanya diarahkan
pada proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dapat dilakukan
dengan cara pembubuhan afiks atau afiksasi, pemajemukan, dan pengulangan atau
reduplikasi.
Proses pembentukan kata melalui afiksasi atau pembubuhan afiks (imbuhan),
pada umumnya sangat berpotensi mengubah makna dan bentuk kata. Sebagai
contoh: dapat dilihat pada kata kerja (verba) seperti baca, makan, dan jalan.
Pembubuhan afiks pada kata-kata itu akan menghasilkan kata membaca,
1
Gorys Keraf, Tata Bahasa Indonesia, (Jakarta: Nusa Indah, 1969), h. 16.
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), Edisi
IV, Cet. I, h. 116.
2
1
2
memakan dan berjalan. Jadi, proses pembubuhan afiks atau afiksasi sangat
penting dan memerlukan ketelitian karena jika salah maka makna dan bentuknya
akan menjadi tidak komunikatif. Kata-kata yang dapat dibubuhi imbuhan tidak
hanya kata kerja (verba), tetapi juga kata benda (nomina), kata sifat (adjektiva),
kata keterangan (adverbia), dan kata bilangan (numeralia). Akan tetapi untuk
membatasi pembahasan penelitian ini hanya dititikberatkan pada afiksasi dalam
kata kerja (verba).
Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses morfologis yang mengubah sebuah
leksem menjadi kata setelah mendapat afiks, yang dalam bahasa kita cukup
banyak jumlahnya.3 Dalam bukunya Ramlan, kata kerja (verba) adalah kata yang
menyatakan tindakan. Dalam bukunya Alwi, ciri-ciri kata kerja (verba) dapat
diketahui dengan mengamati perilaku semantis, perilaku sintakstis, dan bentuk
morfologisnya.4 Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, penulis akan lebih
terperinci memaparkan afiksasi verba di dalam pembahasan.
Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang
perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Tidak heran apabila mata pelajaran
ini kemudian diberikan sejak di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan
benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil
karya sastra Indonesia. Penggunaan afiksasi sangat penting dalam membentuk
kata-kata sehingga memiliki arti yang dapat dimengerti. Atas dasar itulah penulis
bertujuan untuk menelaah hasil tulisan siswa di SMP Darul Muttaqien dalam
bentuk teks berita yang dibuat oleh siswa kelas VIII.
3
E. Zaenal Arifin dan Junaiyah, Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi, (Jakarta: PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia. 2009), Cet. III, h. 10.
4
Ida Bagus Putrayasa, Analisis Kalimat (fungsi, kategori, peran), (Bandung: PT. Refika Aditama.
2007), Cet. I, h. 76.
3
Menulis berita termasuk keterampilan menulis yang ada dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas VIII SMP. Berita adalah cerita atau
keterangan mengenai kejadian ataupun peristiwa yang sedang hangat. 5 Banyak
informasi penting yang terkandung di dalam berita. Berita utama biasanya
terkandung di awal isi berita. Unsur-unsur dalam sebuah berita adalah 5W+1H
(what, who, why, when, where, dan how). Teknik menulis berita pada dasarnya
sama dengan menulis atau mengarang pada umumnya. Perbedaannya hanyalah
terletak pada sumber tulisan. Jika kita menulis cerita sumbernya adalah imajinasi,
tetapi jika kita menulis berita sumbernya adalah peristiwa atau hal-hal nyata yang
benar-benar terjadi.
Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menulis berita adalah
sebagai berikut.6 Pertama, menentukan peristiwa sebagai objek berita; kedua,
mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut; ketiga,
menyusun kerangka penulisan; keempat, mengembangkan kerangka penulisan
dalam bentuk berita; kelima, menyunting atau mengedit berita hasil penulisan;
keenam, mempublikasikan tulisan melalui majalah dinding atau media massa.
Dalam menulis berita perlu diketahui hal-hal berikut:7 pertama, judul berita sesuai
dengan keseluruhan isi berita dan menarik sehingga dapat menimbulkan minat
pembaca untuk mengetahui isi berita, isi berita singkat, padat dan mudah
dipahami; kedua, isi berita hendaknya meliputi 5W dan 1H. Dari pembahasan di
atas, diharapkan siswa dapat mengekspresikan kemampuan menulisnya ke dalam
teks berita.
Dalam pemaparan di atas, penulis akan mengkaji kata kerja (verba) yang
mengandung imbuhan. Kata-kata berimbuhan (berafiks) dapat dibagi atas katakata yang mengandung prefiks, infiks, sufiks, konfiks, dan klofiks. Sebagaimana
5
Tim penulis. TAKTIS Strategi Akurat dan Praktis Bahasa Indonesia untuk SMP, (Solo: Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, 2009), h. 1.
6
Sri Ety Muchtinah, dkk. Bahan Ajar Smart Bahasa Indonesia, (Jakarta: t.p., t.t.), h. 40.
7
Ibid.
4
yang telah diuraikan di atas kata-kata yang mengandung afiks tidak hanya kata
kerja (verba), tetapi juga kata benda (nomina), kata sifat (adjektiva), kata
keterangan (adverbia), dan kata bilangan (numeralia). Akan tetapi agar uraian ini
lebih menyempit, maka yang dititikberatkan adalah afiksasi pembentuk verba
(kata kerja) dalam teks berita siswa kelas VIII di SMP Darul Muttaqien Jakarta.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah-masalah yang dapat
timbul adalah sebagai berikut:
1
Kurangnya pemahaman siswa dalam penggunaan afiks pembentuk verba.
2
Rendahnya minat siswa dalam menulis.
3
Kurang tepatnya metode dan media pembelajaran yang digunakan oleh
guru.
C. Batasan dan Rumusan Masalah
1. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah masalah afiksasi. Agar
penelitian yang dilakukan lebih terarah dan terperinci, penulis membatasi
ruang lingkup penelitian pada aspek afiks yang membentuk verba dalam
teks berita siswa kelas VIII di SMP Darul Muttaqien Jakarta.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penggunaan
afiksasi pembentuk verba dalam teks berita siswa kelas VIII di SMP Darul
Muttaqien Jakarta tahun pelajaran 2013/2014?. Peneliti akan melihat
kemampuan siswa menggunakan afiksasi verba dalam teks berita yang
dibuatnya.
5
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan afiksasi pembentuk
verba dalam teks berita siswa.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi guru Bahasa Indonesia, penelitian ini dapat memberikan gambaran
terhadap
kemampuan
dan
pemahaman
siswa
terhadap
afiksasi
pembentukan verba.
2. Bagi peneliti, penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi pengetahuan
dalam bidang linguistik, khususnya pemakaian afiksasi pembentuk verba.
3. Bagi mahasiswa, penelitian ini dapat dijadikan sumber penelitian lebih
lanjut khususnya mengenai pemakaian afiksasi pembentuk verba juga
sebagai bahan ajar ketika ia menjadi guru di masa yang akan datang.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kata
1. Hakikat Kata
Istilah kata memang sering kita dengar bahkan kita gunakan dalam
berbagai kesempatan dan untuk segala keperluan. Tetapi kata kata ini
merupakan satu masalah yang sering dihadapi oleh para linguis dalam
linguistik. Para linguis hingga dewasa ini, belum pernah mempunyai
kesamaan pendapat mengenai konsep apa yang disebut kata. Kata adalah
unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan
kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.1 Lain
halnya dengan pengertian kata menurut Leonard Bloomfield, kata adalah satu
bentuk yang dapat diujarkan tersendiri dan bermakna, tetapi bentuk itu tidak
dapat dipisahkan atas bagian-bagian yang satu di antaranya (mungkin juga
semua) tidak dapat diujarkan tersendiri (bermakna).2 Linguis lainnya
mengungkapkan bahwa kata adalah satuan ujaran bebas terkecil yang
bermakna.3
Dalam bahasa ada bentuk (seperti kata) yang dapat “dipotong-potong”
menjadi bagian yang lebih kecil, yang kemudian dapat dipotong lagi
menjadi bagian yang lebih kecil lagi sampai ke bentuk yang, jika
dipotong lagi, tidak mempunyai makna.4
Kata mempercepat misalnya, dapat kita potong sebagai berikut:
mem-percepat
per-cepat
1
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), Edisi
IV, Cet. I, h. 633.
2
Jos Daniel Parera, Morfologi Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007), h. 2.
3
Masnur Muslich, Tata Bentuk Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), Cet. I, h. 5.
4
Hasan Alwi, dkk., Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), h. 28.
6
7
Jika kata cepat dipotong lagi, maka ce- dan –pat masing-masing tidak
mempunyai makna. Bentuk mem-, per-, dan cepat disebut morfem. Morfem
adalah kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata dan yang dapat
dibedakan artinya.5
Para tata bahasawan tradisional biasanya memberi pengertian terhadap
kata berdasarkan arti dan ortografi. Menurut mereka kata adalah satuan bahasa
yang memiliki satu pengertian; atau kata adalah deretan huruf yang diapit oleh
dua buah spasi, dan mempunyai satu arti.6 Kata mendapatkan tempat yang
penting dalam analisis bahasa dan kata adalah satu kesatuan sintaksis dalam
tutur atau kalimat. Kata dapat merupakan satu kesatuan penuh dan komplet
dalam ujar sebuah bahasa, kecuali partikel. Kata dapat ditersendirikan atau
dapat dipisahkan dari yang lain dan dipindahkan pula.7
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa dengan adanya proses
morfologis maka akan terbentuk kata. Proses morfologis ialah cara
pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan
morfem yang lain.8 Dari pengertian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa
proses morfologis ialah peristiwa pembentukan kata dari morfem. Suatu kata
yang sudah terbentuk belum tentu dapat dikatakan jadi atau siap pakai.
Artinya, pemakaian kata dasar saja tidak cukup dalam suatu kalimat, tetapi
memerlukan kata-kata yang berbentuk lain, dalam hal ini misalnya kata
berimbuhan (berafiks).
2. Hakikat Kata Berimbuhan (Afiksasi)
Berkomunikasi merupakan kebutuhan menyampaikan pesan atau
informasi kepada orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Kelancaran
5
Gorys Keraf, Tata Bahasa Indonesia, (Jakarta: Nusa Indah, 1969), h. 52.
Abdul Chaer, Linguistik Umum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), Cet. III, h. 162.
7
Jos Daniel Parera, Morfologi Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007), h. 4.
8
Samsuri, Analisis Bahasa, (memahami bahasa secara ilmiah), (Jakarta: Erlangga, 1978), h. 188.
6
8
komunikasi sangat dibutuhkan semua orang, oleh karena itu susunan-susunan
kata yang digunakan harus baik dan benar. Maka, jika pesan disampaikan
dengan baik dan benar, pastilah komunikasi yang terjadi berjalan dengan
lancar, sesuai yang diharapkan. Agar dapat berkomunikasi dengan lancar,
maka kita perlu mengetahui susunan-susunan bahasa yang sesuai dengan
kaidah bahasa Indonesia, salah satunya pembubuhan afiks.
Afiks ialah suatu satuan gramatikal terikat yang di dalam suatu kata
merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki
kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau
bentuk kata baru.9 Dalam buku Francis Katamba menulis “an affix is a
morpheme which only occurs when attached to some other morpheme or
morphemes such as a root or stem or base.”10 Menurutnya afiks adalah
morfem yang muncul hanya jika menempel pada satu morfem lain atau lebih.
Lebih lanjut Rochelle Lieber dalam bukunya mengungkapkan “linguists
define a morpheme as the smallest unit of language that has its own
meaning.”11 Ia mendeskripsikan morfem sebagai bentuk terkecil dari bahasa.
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa imbuhan (afiks)
sangat diperlukan dalam pembentukan kata-kata baru yang akan mengalami
proses morfologis. Kata berimbuhan (berafiks) dapat dibagi atas kata-kata
yang mengandung prefiks, konfiks, klofiks, infiks, dan sufiks. Penulis akan
menguraikan kata-kata berimbuhan (berafiks) pembentuk verba, yaitu mulamula prefiks, konfiks, klofiks, kemudian infiks, dan akhirnya sufiks.
9
M. Ramlan, Ilmu Bahasa Indonesia MORFOLOGI Suatu Tinjauan Deskriptif , (Yogyakarta: C.V.
Karyono, 2009), Cet. 13, h. 55.
10
Francis Katamba, Modern Linguistics: Morphology, (London: The Macmillan Press LTD, 1993),
h. 44.
11
Rochelle Lieber, Introducing Morphology, (New York: Cambridge University Press, 2010), h. 3.
9
3. Jenis Imbuhan (Afiks)
Kata berimbuhan adalah kata yang telah mengalami proses pengimbuhan
(afiksasi). Imbuhan atau afiks adalah morfem terikat yang digunakan dalam
bentuk dasar untuk pembentukan kata.12 Berkenaan dengan jenis afiksnya,
proses afiksasi itu dibedakan atas prefiksasi, yaitu proses pembubuhan prefiks
(awalan), konfiksasi yaitu proses pembubuhan konfiks (imbuhan terbagi),
infiksasi (sisipan) yaitu proses pembubuhan yang dilekatkan di tengah dasar,
dan sufiksasi yaitu proses pembubuhan sufiks (akhiran). Imbuhan (afiks)
menurut posisinya terbagi atas empat bentuk.
a. Awalan atau Prefiks
Awalan atau prefiks adalah suatu unsur yang secara struktural diikatkan
di depan sebuah kata dasar atau bentuk dasar.13 Jenisnya adalah sebagai
berikut: ber-, me-, pe-, per-, di-, ke-, ter-, dan se-. Awalan (prefiks) memiliki
variasi yang berbeda-beda sesuai dengan fonem awal bentuk dasar yang
dibubuhinya. Bentuk semacam itu disebut alomorf. Alomorf yaitu anggota
morfem yang sama, yang variasi bentuknya disebabkan pengaruh lingkungan
yang dimasukinya, misalnya morfem ber- mempunyai alomorf ber-, be-, dan
bel.14
Awalan me- memiliki alomorf mem-, men-, me-, meny-, meng-, menge-;
awalan ber- memiliki alomorf ber-, be-, dan bel-. Selanjutnya awalan perjuga memiliki alomorf awalan pe-, dan pel-. Selanjutnya awalan pe- juga
memiliki alomorf peng-, pem-, peny-, pen-, pe-, penge-. Berikutnya awalan
yang memiliki alomorf adalah awalan ter- yaitu te-, dan tel-.
12
Achmad HP, Linguistik Umum, (Jakarta: Depdikbud, 1996), cet. 1, h. 68.
Gorys Keraf, Tata Bahasa Indonesia, (Jakarta: Nusa Indah, 1969), h. 94.
14
Depdiknas, Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, (Bandung: Pustaka
Setia, 1992), Cet. X, h. 43.
13
10
Contoh:
Tabel 2.1
No
Bentuk Dasar
Imbuhan (prefiks)
Kata berimbuhan
1.
cair
me-
mencair
2.
jalan
ber-
berjalan
3.
lihat
di-
dilihat
4.
kaya
ter-
terkaya
5.
tari
pe-
penari
6.
ajar
per-
pelajar
7.
tahun
se-
setahun
8.
tua
ke-
ketua
b. Imbuhan Terbagi atau Konfiks
Konfiks adalah gabungan dari dua macam imbuhan atau lebih yang
bersama-sama membentuk satu arti.15 Konfiks yang terdapat dalam Bahasa
Indonesia adalah me-kan, ke-an, memper-kan, diper-kan, ber-an, pe-an, peran, di-i, di-kan, dan se-nya.16 Dalam buku Abdul Chaer Morfologi Bahasa
Indonesia (Pendekatan proses) selain konfiks ada pula klofiks. Klofiks yaitu
gabungan imbuhan yang tidak diimbuhkan secara bersamaan pada sebuah
dasar. Adapun klofiks tersebut adalah: ber-an, dan ber-kan.
Contoh Konfiks:
Tabel 2.2
No
1.
15
16
Bentuk Dasar
main
Keraf, op. cit., h. 115.
Depdiknas, op. cit., h. 106-109.
Imbuhan (konfiks)
me-kan
Kata berimbuhan
memainkan
11
2.
ada
ke-an
keadaan
3.
soal
memper- kan
mempersoalkan
4.
malu
diper-kan
dipermalukan
5.
gugur
ber-an
berguguran
6.
kirim
pe-an
pengiriman
7.
istirahat
per-an
peristirahatan
8.
sayang
di-i
disayangi
9.
bawa
di-kan
dibawakan
10.
pintar
se-nya
sepintar-pintarnya
Contoh Klofiks:
Tabel 2.3
No
Bentuk Dasar
1.
Kata berimbuhan
ber-an
pakai
2.
Imbuhan (klofiks)
istri
-an
pakai + an = pakaian
ber-
ber + pakaian = berpakaian
ber-kan
ber-
ber + istri = beristri
kan-
beristri + kan = beristrikan
c. Sisipan atau Infiks
Sisipan atau infiks adalah semacam morfem terikat yang disisipkan pada
sebuah kata antara konsonan pertama dan vokal pertama.17 Pemakaian infiks
17
Keraf, op. cit., h. 118.
12
terbatas pada beberapa kata saja. Infiks yang ada dalam bahasa Indonesia
hanyalah: -el-, -er-, dan –em-.18
Contoh :
Tabel 2.4
No
Bentuk Dasar
Imbuhan (infiks)
Kata berimbuhan
1.
tunjuk
-el-
telunjuk
2.
gigi
-er-
gerigi
3.
gertak
-em-
gemertak
d. Akhiran atau Sufiks
Akhiran atau sufiks adalah semacam morfem terikat yang diletakkan di
belakang suatu morfem dasar.19 Macam-macam sufiks yang terdapat dalam
bahasa Indonesia adalah: -an, -i, -kan, -nya, -man, -wan, -wati, sufiks asing
seperti -isme, -is, -er, -if, -ir, -wi, -iah, -ni, -il (akhiran –il menurut Pedoman
EYD lebih baik diganti dengan -al), -nda atau –anda.20
Contoh :
Tabel 2.5
No
18
Bentuk Dasar
Kata berimbuhan
1.
bulan
-an
bulanan
2.
masuk
-i
masuki
3.
bicara
-kan
bicarakan
4.
luas
-nya
luasnya
5.
seni
-man
seniman
Depdiknas, op. cit., h. 103.
Keraf, op. cit., h. 110.
20
Ibid., h. 110-115.
19
Imbuhan (sufiks)
13
6.
usaha
-wan
usahawan
7.
peraga
-wati
peragawati
8.
ego
-isme
egoisme
9.
agama
-is
agamais
10.
produk
-if
produktif
11.
ayah
-nda / -anda
ayahanda
B. Kata Kerja (verba)
Kata kerja (verba) adalah kata yang menyatakan tindakan. Ciri-ciri kata kerja
(verba) dapat diketahui dengan mengamati (1) perilaku semantik, (2) perilaku
sintaksis, dan (3) bentuk morfologisnya.21 Secara umum verba dapat diidentifikasi
dan dibedakan berdasarkan kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva karena
ciri-ciri berikut :
Pertama, verba memiliki fungsi utama sebagai predikat dalam kalimat
walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain. Kedua, verba mengandung makna
inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
Ketiga, verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks teryang berarti „paling‟. Verba, seperti mati atau suka, misalnya tidak dapat diubah
menjadi termati atau tersuka. Keempat, pada umumnya, verba tidak dapat
digabung dengan kata-kata yang menyatakan kesangatan. Tidak ada bentuk
seperti agak belajar, sangat pergi, dan bekerja sekali, meskipun ada bentuk
seperti sangat berbahaya, agak mengecewakan, dan mengharapkan sekali.22
Dari segi sintaksisnya, ketransitifan verba ditentukan oleh dua faktor, yaitu
(1) adanya nomina yang berdiri di belakang verba yang berfungsi sebagai objek
21
Ida Bagus Putrayasa, Analisis Kalimat (fungsi, kategori, peran), (Bandung: PT. Refika Aditama.
2007), Cet. I. h. 76.
22
Ibid., h. 76-77.
14
dalam kalimat aktif dan (2) kemungkinan objek itu berfungsi sebagai subjek
dalam kalimat pasif. Dengan demikian, pada dasarnya verba terdiri atas verba
transitif dan verba taktransitif (intransitif).23 Verba transitif adalah verba yang
memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat
berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Verba taktransitif adalah verba
yang tidak memerlukan nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai
subjek dalam kalimat pasif.
Pada dasarnya, bahasa Indonesia mempunyai dua bentuk verba, yakni (1)
verba asal adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks
sintaksis, dan (2) verba turunan adalah verba yang harus atau dapat memakai afiks
bergantung pada tingkat keformalan / dan atau pada posisi sintaksisnya.
Selanjutnya, verba turunan dibagi menjadi tiga subkelompok, yakni (a) verba
yang dasarnya adalah dasar bebas (misalnya, darat), tetapi memerlukan afiks
supaya dapat berfungsi sebagai verba (mendarat), (b) verba yang dasarnya adalah
bebas (misalnya, baca) yang dapat pula memiliki afiks (membaca), dan (c) verba
yang dasarnya adalah dasar terikat (misalnya, temu) yang memerlukan afiks
(bertemu).24
C. Afiksasi Pembentuk Kata Kerja (verba)
Kata berimbuhan ialah bentuk kata jadian dengan menambahkan imbuhan
(afiks) terhadap kata dasar.25 Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan, afiksasi
pembentuk verba adalah pembubuhan morfem terikat yang berupa afiks kepada
morfem dasar untuk membentuk verba. Dalam bahasa Indonesia, verba
merupakan kata yang pada umumnya mempunyai ciri bentuk berawalan me-, di-,
23
Ibid., h. 78.
Ibid., h. 79-80.
25
Abdullah Ambary, Intisari Tatabahasa Indonesia, (Jakarta: DJATNIKA Bandung, 1979), h. 52.
24
15
ber-, ter-, per-, dan ada pula yang berbentuk ke-an.26 Menurut Abdul Chaer, ada
13 afiks pembentuk verba, yaitu sebagai berikut:
1. Prefiks berBentuk dasar dalam pembentukan verba dengan prefiks ber- dapat
berupa: (1) morfem dasar terikat, misalnya (pada kata bertempur, berkelahi),
(2) morfem dasar bebas, misalnya (pada kata bekerja, bernyanyi), (3) bentuk
turunan berafiks, misalnya (berpakaian, beraturan), (4) bentuk turunan
reduplikasi, misalnya (berlari-lari, berkeluh-kesah), (5) bentuk turunan hasil
komposisi, misalnya, (pada kata berjual beli, bertemu muka).27
Makna gramatikal verba berprefiks ber- yang dapat dicatat, antara lain
yang menyatakan:28 „mempunyai (dasar)‟ atau „ada (dasar) nya‟, apabila
bentuk dasarnya mempunyai komponen makna ( + benda), ( + umum), ( +
milik) dan atau ( + bagian). Contoh: berayah „mempunyai ayah‟,
berkewajiban „mempunyai kewajiban‟, beristri „mempunyai istri‟, berjendela
„ada jendelanya‟. Makna gramatikal „memakai‟ atau „mengenakan‟ apabila
bentuk dasarnya mempunyai komponen makna ( + pakaian) atau ( +
perhiasan). Contoh: bertopeng „memakai topeng‟,berkalung „memakai
kalung‟, bersepatu „memakai sepatu‟.
Selanjutnya, mempunyai makna gramatikal „mengendarai‟, „menumpang‟
atau „naik‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( +
kendaraan). Contoh: bermobil „naik mobil‟, berkereta „menumpang kereta‟,
berkuda „naik kuda‟. Makna gramatikal „berisi‟ atau „mengandung‟ apabila
bentuk dasarmya memiliki komponen makna ( + benda), ( + dalaman), atau (
26
Dendy Sugono dan Titik Indiyastini, Verba dan Komplementasinya, (Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa, 1994), h. 16.
27
Abdul Chaer, Morfologi Bahasa Indonesia (pendekatan proses), (Jakarta: PT. Rineka Cipta,
2008), Cet. I. h. 106-107.
28
Ibid., h. 107.
16
+
kandungan).
Contoh:
beracun
„mengandung
racun‟,
berkuman
„mengandung kuman‟, berair „berisi air‟. Makna „mengandung‟ atau „berisi‟,
bisa juga bermakna „mempunyai‟ atau „ada (dasar)nya‟. Makna gramatikal
„mengeluarkan‟ atau „menghasilkan‟ apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna ( + benda), ( + hasil) atau ( + keluar). Contoh: bertelur
„mengeluarkan telur‟, berproduksi „menghasilkan produk‟. Makna gramatikal
„mengusahakan‟ atau „mengupayakan‟ apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna ( + bidang usaha). Contoh: bersawah „mengerjakan sawah‟,
bercocok tanam „mengusahakan cocok tanam‟.
Berikutnya, mempunyai makna gramatikal „melakukan kegiatan‟ apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + benda) dan ( + kegiatan).
Contoh: berdiskusi „melakukan diskusi‟, berekreasi „melakukan rekreasi‟.
Makna gramatikal „mengalami‟ atau „berada dalam keadaan‟ apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna ( + perasaan batin). Contoh: bergembira
„dalam keadaan gembira‟, bersedih „dalam keadaan sedih‟. Makna gramatikal
„menyebut‟ atau „menyapa‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna ( + kerabat) dan ( + sapaan). Contoh: berkakak „menyebut kakak‟,
bertuan „memanggil tuan‟. Berkakak dan yang lainnya dapat juga bermakna
gramatikal „mempunyai‟. Maka dalam hal ini konteks kalimat sangat
menentukan makna gramatikalnya itu.
Makna gramatikal „kumpulan‟ atau „kelompok‟ apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna ( + jumlah) atau ( + hitungan). Contoh: bertujuh
„kumpulan dari tujuh (orang)‟, bertiga „kumpulan dari tiga (orang)‟. Makna
gramatikal „memberi‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( +
benda) dan ( + berian). Contoh: bersedekah „memberi sedekah‟, berceramah
„memberi ceramah‟.
17
Ada sejumlah kata berprefiks ber- yang tidak bermakna gramatikal,
melainkan bermakna idiomatikal. Misalnya: berpulang dengan makna
„meninggal‟, bersalin dengan makna „melahirkan‟.29
2. Prefiks perVerba berprefiks per- adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam
pembentukan verba inflektif. Verba berprefiks per- dapat digunakan dalam:
(1) kalimat imperatif, (2) kalimat pasif yang berpola: (aspek) + pelaku +
verba, (3) keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang +
aspek + pelaku + verba.30
Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal, yaitu:31 Makna
gramatikal „jadikan lebih‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna ( + keadaan) atau ( + situasi). Contoh: percepat, artinya „jadikan lebih
cepat‟, perluas, artinya „jadikan lebih luas‟, dan sebagainya. Makna
gramatikal „anggap sebagai‟ atau „jadikan‟ apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna ( + sifat khas). Contoh: peristri, artinya „jadikan istri‟,
perteman, artinya „jadikan teman‟, dan sebagainya. Makna gramatikal „bagi‟
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + jumlah) atau ( +
bilangan). Contoh: perlima, artinya „bagi lima‟, perseribu, artinya „bagi
seribu‟.
Verba berprefiks per- dapat menjadi pangkal dalam pembentukan verba
inflektif dalam bentuk verba berklofiks memper-, diper- atau terper-, di
samping prefiks per- adapula partikel per yang memiliki makna „tiap-tiap …‟
atau „mulai …‟. Contoh: per 1 April, artinya „mulai 1 April‟.
29
Ibid., h. 112.
Ibid., h. 124.
31
Ibid., h. 124-126.
30
18
3. Prefiks meVerba berprefiks me- dapat berbentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-,
dan menge-. Bentuk atau alomorf me- digunakan apabila bentuk dasarnya
dimulai dengan fonem | r, l, w, y, m, n, ny dan ng |.32 Contoh: merawat,
melekat, mewarisi, meyakini, memerah, melompati, menyala, menganga.
Bentuk atau alomorf mem- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan
fonem | b, p, f, dan v |. Dengan catatan fonem | b, f, dan v | tetap terwujud,
sedangkan fonem | p | tidak diwujudkan, melainkan disenyawakan dengan
bunyi nasal dari prefiks itu.33 Contoh: membawa, memfitnah, memutuskan.
Namun, perlu dicatat dalam kenyataan bahasa ada sejumlah kata, terutama
yang berasal dari bahasa asing, yang meskipun diawali dengan fonem | p |,
fonem itu tidak diluluhkan. Contoh: mempunyai, memprotes, mempengaruhi.
Bentuk men- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem |
d dan t |. Dengan catatan fonem | d | tetap diwujudkan sedangkan fonem | t |
tidak diwujudkan melainkan disenyawakan dengan bunyi nasal yang ada pada
prefiks tersebut.34 Contoh: menduda, mendengar, menulis, menerobos.
Namun, ada sejumlah kata berprefiks me-, tetapi fonem | t | pada awal bentuk
dasarnya tidak diluluhkan atau disenyawakan, seperti mentradisi, mentraktor.
Bentuk meny- digunakan apabila fonem awal bentuk dasarnya adalah
fonem | c, j dan s |. Bunyi | ny | pada prefiks diganti atau dituliskan dengan
huruf n pada dasar yang dengan fonem | c dan j|, sedangkan yang mulai
dengan fonem | s |, fonem s-nya diluluhkan.35 Contoh: mencuri (lafalnya:
menycuri), mencicil (lafalnya: menycicil), menjual (lafalnya: menyjual),
menyikat, menyusul.
32
Ibid., h. 130.
Ibid.,
34
Ibid., h. 131.
35
Ibid., h. 132.
33
19
Dalam bahasa keseharian, terutama kata serapan dari bahasa asing, fonem
/ s / pada bentuk dasarnya tidak diluluhkan. Contoh: mensukseskan,
menstandarkan, mensosialisasikan.
Bentuk meng- digunakan apabila bentuk dasarnya mulai dengan fonem |k,
g, h, kh, a, i, u, e, dan o |. Fonem | k | tidak diwujudkan, melainkan
disenyawakan dengan nasal yang ada pada prefiks itu, sedangkan fonemfonem yang lain tetap diwujudkan.36 Contoh: mengirim, menggali, mengiris,
mengumpulkan.
Bentuk menge- digunakan apabila bentuk dasarnya terdiri dari sebuah
suku kata. Contoh: mengebom, mengecat, mengetes.
Perlu dibedakan adanya dua macam prefiks me-, yaitu prefiks me-inflektif
dan prefiks me- derivatif. Beda keduanya prefiks me- inflektif secara
gramatikal dapat diganti dengan prefiks di- inflektif atau prefiks ter- inflektif.
Prefiks me- derivatif tidak dapat diganti dengan prefiks di- maupun prefiks
ter-.37
Bentuk dasar verba berprefiks me- inflektif memiliki komponen makna (
+ tindakan) dan ( + sasaran). Jadi, bentuk dasar dalam pembentukan verba
inflektif, selain berbentuk morfem dasar atau akar juga termasuk verba
bersufiks –kan, bersufiks –i, berprefiks per-, berkonfiks per-kan, dan
berkonfiks per-i. Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal
„melakukan (dasar)‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( +
tindakan) dan ( + sasaran). Contoh: menulis, artinya, „melakukan tulis‟. Verba
berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal „melakukan kerja dengan
alat‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + tindakan) dan ( +
36
37
Ibid.,
Ibid., h. 134.
20
alat). Contoh: memahat, artinya „melakukan kerja dengan alat pahat‟,
mengunci „melakukan kerja dengan alat kunci‟.
Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal „melakukan
kerja dengan bahan‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( +
tindakan) dan ( + bahan). Contoh: mengecat, artinya, „melakukan kerja
dengan bahan cat‟, menyemen, artinya „melakukan kerja dengan bahan
semen‟. Selanjutnya, verba berprefiks me- inflektif memiliki makna
gramatikal „membuat dasar‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna ( +tindakan) dan ( + benda hasil). Contoh: mematung, artinya,
„membuat patung‟, menggambar, artinya, „membuat gambar‟.
Selain verba berprefiks me- inflektif ada juga verba berprefiks mederivatif yaitu verba yang memiliki makna gramatikal „makan, minum,
mengisap‟ bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + makanan) atau ( +
minuman) atau ( + isapan). Contoh: menyate, artinya „makan sate‟ dan
merokok, artinya „mengisap rokok‟. Makna gramatikal menyoto dan menyate
bisa menjadi „membuat‟ tergantung pada konteks kalimatnya.
Verba berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal „mengeluarkan
(dasar)‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + bunyi) atau (
+ suara). Contoh: mengeong, artinya, „mengeluarkan bunyi ngeong‟ dan
mencicit, artinya „mengeluarkan bunyi cicit‟. Verba berprefiks me- derivatif
memiliki makna gramatikal „menjadi (dasar)‟ apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna ( + keadaan (warna, bentuk, situasi)). Contoh:
menua, artinya„menjadi tua‟, memerah, artinya „menjadi meah‟. Verba
berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal „menjadi seperti‟ apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + sifat khas). Contoh: membatu,
artinya „menjadi seperti batu‟, mengapur, artinya, „menjadi seperti kapur‟.
21
Verba berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal „menuju‟
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + arah). Contoh:
mengudara, artinya „menuju udara‟, menepi, artinya „menuju tepi‟.
Selanjutnya, verba berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal
„memperingati‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( +
bilangan), ( + hari) atau ( + bulan). Contoh: menujuh bulan, artinya
„memperingati bulan ketujuh (kehamilan)‟, menyeratus hari, artinya
„memperingari hari keseratus (kematian)‟.
4.
Prefiks diAda dua macam verba berprefiks di-, yaitu verba berprefiks di-inflektif
dan verba berprefiks di- derivatif. Verba berprefiks di- inflektif adalah verba
pasif. Makna gramatikalnya adalah kebalikan dari bentuk aktif verba
berprefiks me- inflektif. Selanjutnya, pada verba berprefiks di- derivatif sejauh
data yang diperoleh hanya ada kata dimaksud, yang lain tidak ada.38
5.
Prefiks terAda dua macam verba berprefik ter- yaitu verba berprefiks ter- inflektif
dan verba berprefiks ter- derivatif. Verba berprefiks ter- inflektif adalah
verba pasif keadaan dari verba berprefiks me- inflektif.39 Makna gramatikal
verba berprefiks ter- inflektif, selain sebagai kebalikan pasif keadaan dari
verba berprefiks me- inflektif, juga memiliki makna gramatikal.
Verba berprefiks ter- inflektif memiliki makna gramatikal „dapat/
sanggup‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + tindakan)
dan ( + sasaran). Contoh: terbawa, artinya „dapat dibawa‟, terangkut, artinya
„dapat diangkut‟. Selanjutnya verba ini juga memiliki makna gramatikal „tidak
38
39
Ibid., h. 138-139.
Ibid., h. 139-141.
22
sengaja‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + tindakan)
dan ( + sasaran). Contoh: terlihat, artinya „tidak sengaja dapat dilihat‟,
terbaca, artinya „tidak sengaja dibaca‟.
Selain itu, verba ini juga memiliki makna gramatikal „sudah terjadi‟
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + tindakan) dan ( +
keadaan). Contoh: terjepit, artinya „sudah terjadi (jepit)‟, tertabrak, artinya
„sudah terjadi (tabrak)‟, dan sebagainya. Verba ini juga memiliki makna
gramatikal „yang di (dasar)‟ apabila digunakan sebagai istilah bidang hukum.
Contoh: tertuduh, artinya „yang dituduh‟, terdakwa, artinya „yang didakwa‟.
Seperti yang telah dipaparkan di atas, selain verba berprefiks terinflektif, verba berprefiks ter- derivatif juga memiliki makna gramatikal, yaitu
makna gramatikal „paling‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ keadaan). Contoh: terbaik, artinya „paling baik‟. Selain itu, verba
ini juga memiliki makna gramatikal „dalam keadaan‟ apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna ( + keadaan) dan ( + kejadian). Contoh:
terpasang, artinya „dalam keadaan pasang‟, terdampar, artinya „dalam
keadaan dampar‟. Makna gramatikal yang lain yaitu makna gramatikal „terjadi
dengan tiba-tiba‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( +
kejadian). Contoh: terpeluk, artinya „tiba-tiba memeluk‟, teringat, artinya
„tiba-tiba ingat‟.
6.
Prefiks keVerba ini digunakan dalam bahasa ragam tidak baku. Fungsi dan makna
gramatikalnya sepadan dengan verba berprefik ter-.40 Contoh: kebaca sepadan
dengan terbaca, kebawa sepadan dengan terbawa.
40
Ibid., h. 141-142.
23
7.
Konfiks dan Klofiks ber-an
Verba ini memiliki dua macam proses pembentukan. Pertama, yang
berupa konfiks, artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu diimbuhkan secara
bersamaan sekaligus pada sebuah bentuk dasar. Kedua, yang berupa klofiks
artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu tidak diimbuhkan secara bersamaan
pada sebuah dasar.
Ber-an sebagai konfiks memiliki satu makna, sedangkan ber-an sebagai
klofiks memiliki makna yang terpisah. Makna gramatikal verba berkonfiks
ber-an adalah: „banyak serta tidak teratur‟ apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna ( + tindakan), ( + sasaran) dan ( + gerak). Contohnya:
berlompatan „banyak yang lompat dan tidak teratur‟. Makna gramatikal
„saling‟ atau „berbalasan‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna
( + tindakan), ( + sasaran) dan ( + gerak). Contohnya: bermusuhan „saling
memusuhi‟.41
Selanjutnya, yang memiliki makna gramatikal „saling berada di‟. Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + benda), ( + letak) dan ( +
tempat). Contohnya: berseberangan „saling berada di seberang‟, dan
berhadapan „saling berada di hadapan‟. Bentuk ber-an pada sebuah verba
mungkin bisa berupa konfiks mungkin juga berupa klofiks, tergantung pada
konteks kalimatnya. Contoh klofik ber-an misalnya pada kata berpakaian.
Imbuhan ber-an pada kata berpakaian dapat diimbuhkan terpisah, misalnya :
pakai + an = pakaian, selanjutnya kata pakaian dibubuhi prefiks ber- menjadi
berpakaian. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa klofiks ber-an
memiliki makna yang berbeda-beda. Kata pakaian memiliki makna “baju
atau kain yang menutupi tubuh” namun kata pakaian jika dibubuhi prefiks
41
Ibid., h. 112-115.
24
ber- maka akan membentuk kata berpakaian, kata berpakaian memiliki
makna “menggunakan baju atau menggunakan bahan yg menutupi tubuh”.
8.
Klofiks ber-kan
Verba berklofiks ber-kan dibentuk dengan proses, mula-mula kepada
bentuk dasar diimbuhkan prefiks ber-, lalu diimbuhkan pula sufiks –kan.
Contoh: pada kata dasar senjata diimbuhkan prefiks ber- menjadi bersenjata,
lalu pada bersenjata diimbuhkan pula sufiks –kan sehingga menjadi
bersenjatakan.42 Verba berklofiks ber-kan juga tidak banyak, contohnya:
bermodalkan, berselimutkan, berdasarkan.
9.
Konfiks per-kan
Verba berkonfiks per-kan adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam
pembentukan verba inflektif (berprefiks me-, berprefiks di- atau berprefiks
ter-).43 Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal „jadikan bahan
per-an‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + kegiatan ).
Contohnya: pertanyakan, artinya „jadikan bahan pertanyaan‟. Selanjutnya,
memiliki makna gramatikal ‟lakukan supaya (dasar)‟ apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna ( + keadaan). Contohnya: perbedakan, artinya
„lakukan supaya beda‟.
Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal „jadikan me-‟
apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + tindakan). Contoh:
perdengarkan, artinya „jadikan (orang lain) mendengar‟. Selanjutnya,
memiliki makna gramatikal „jadikan ber-‟ apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna ( + kejadian). Contoh: pertemukan, artinya „jadikan
bertemu‟.
42
43
Ibid., h. 115-116.
Ibid., h. 126-128.
25
10. Konfiks per-i
Verba berkonfiks per-i adalah verba yang dapat menjadi pangkal dalam
pembentukan verba inflektif (berprefiks me- inflektif, di- inflektif, atau terinflektif).44 Verba berkonfiks per-i memiliki makna gramatikal „lakukan
supaya jadi‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( +
keadaan). Contoh: perbarui, artinya „lakukan supaya jadi baru‟, perbaiki,
artinya „lakukan supaya jadi baik‟. Selanjutnya, memiliki makna gramatikal
„lakukan (dasar) pada objeknya‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna ( + tindakan) dan ( + lokasi). Contoh: persetujui, artinya „lakukan
setuju pada objeknya‟.
11. Konfiks ke-an
Ada dua macam konfiks ke-an, yaitu konfiks ke-an yang membentuk
verba dan konfiks ke-an yang membentuk nomina.45 Verba berkonfiks ke-an
termasuk verba pasif, yang tidak dapat dikembalikan ke dalam verba aktif,
seperti verba pasif di- dan verba pasif ter-. Verba berkonfiks ke-an memiliki
makna gramatikal „terkena, menderita, mengalami (dasar)‟ apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna ( + peristiwa alam) atau ( + hal yang
tidak enak). Contoh: kebanjiran, artinya „terkena banjir‟, kedinginan, artinya
„menderita dingin‟.
Selanjutnya, verba berkonfiks ke-an memilik makna gramatikal „agak
(dasar)‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + warna).
Contoh: kebiruan, artinya „agak biru‟, kekuningan, artinya „agak kuning‟.
44
45
Ibid., h. 128-129.
Ibid., h. 142-143.
26
12. Sufiks –kan
Dalam prosesnya, sufiks –kan, bila diimbuhkan pada dasar yang memiliki
komponen makna ( + tindakan) dan ( + sasaran) akan membentuk verba
bitransitif, yaitu verba yang berobjek dua. Verba bersufiks –kan memiliki
makna gramatikal „jadikan‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna ( + keadaan) atau ( + sifat khas). Contoh: tenangkan, artinya „jadikan
tenang‟, satukan, artinya „jadikan satu‟.46
Selanjutnya, memiliki makna gramatikal „jadikan berada di‟ apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna ( + tempat) atau ( + arah).
Contoh: daratkan, artinya „jadikan berada di darat‟, tempatkan, artinya
„jadikan berada di tempat‟, dan sebagainya. Memiliki makna gramatikal
„lakukan untuk orang lain‟ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna ( + tindakan) dan ( + sasaran). Contoh: bacakan, artinya „lakukan baca
untuk (orang lain)‟, bawakan, artinya „lakukan bawa untuk (orang lain)‟.
Memiliki makna gramatikal „lakukan akan‟ apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna ( + tindakan) dan ( + sasaran). Contoh: kabulkan, artinya
„lakukan kabul akan‟, hapuskan, artinya „lakukan hapus akan‟. Selanjutnya,
memiliki makna gramatikal „bawa masuk ke‟ apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna ( + ruang). Contoh: asramakan, artinya „bawa
masuk ke asrama‟, gudangkan, artinya „bawa masuk ke gudang‟.
13. Sufiks –i
Verba bersufiks –i adalah verba transitif, yang berlaku juga sebagai
pangkal (stem) dalam pembentukan verba inflektif.47 Bahasa inflektif adalah
bahasa yg menggunakan perubahan bentuk kata (dl bahasa fleksi) yg
menunjukkan berbagai
46
47
Ibid., h. 116-119.
Ibid., h. 119-124.
hubungan
gramatikal
(spt deklinasi
nomina,
27
pronomina, adjektiva, dan konjugasi verba).48 Verba bersufiks –i memiliki
makna gramatikal „berulang kali‟ apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna ( + tindakan) dan ( + sasaran). Contoh: lempari, artinya
„pekerjaan lempar dilakukan berulang kali‟, potongi, artinya „pekerjaan
potong dilakukan berulang kali‟, dan sebagainya. Makna gramatikal „tempat‟
apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna ( + tempat). Contoh:
lewati, artinya „lakukan lewat di …‟, jalani, artinya „lakukan jalan di …‟.
Makna gramatikal „merasa sesuatu pada‟ apabila bentuk dasarnya mempunyai
komponen makna ( + sikap batin) atau ( + emosi). Contoh: kasihi, artinya
„merasa kasih pada‟, sukai, artinya „merasa suka pada‟.
Memiliki makna gramatikal „memberi‟ atau „membubuhi‟ apabila bentuk
dasarnya mempunyai komponen makna ( + bahan berian). Contoh: nasihati,
artinya „beri nasihat pada‟, gulai, artinya „beri gula pada‟. Makna gramatikal
„jadikan‟ atau „sebabkan‟ apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen
makna ( + keadaan) atau ( +sifat). Contoh: dekati, artinya „jadikan dekat‟,
kurangi, artinya „jadikan kurang‟. Makna gramatikal „lakukan pada‟ apabila
bentuk dasarnya mempunyai komponen makna ( + tindakan) dan ( + tempat).
Contoh: siasati, artinya „lakukan siasat pada‟, tulisi, artinya „lakukan tulis
pada‟.
Sufiks –i tidak dapat diimbuhkan pada bentuk dasar yang diakhiri dengan
vokal –i atau diftong ai. Contoh bentuk „mandii‟, „belii‟, tidak berterima.
48
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), Cet. I,
h. 535.
28
D. Berita
1. Hakikat Berita
Menurut KBBI ada beberapa pengertian berita, yaitu cerita atau
keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Berita juga
diartikan sebagai kabar, laporan dan pemberitahuan, atau pengumuman.49
Berita menurut Pers Timur dan Pers Barat. Menurut Pers Timur berita
adalah suatu „proses‟, proses yang ditentukan arahnya. Berita tidak didasarkan
pada maksud untuk memuaskan nafsu „ingin tahu‟ segala sesuatu yang „luar
biasa‟ dan „menakjubkan‟, melainkan pada keharusan ikut berusaha
„mengorganisasikan pembangunan dan pemeliharaan Negara sosialis‟.
Berbeda dengan Pers Timur, Pers Barat memandang berita itu sebagai
„komoditi‟, sebagai „barang dagangan‟ yang dapat diperjual belikan.50
Dari pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan berita adalah sebuah
peristiwa atau laporan mengenai fakta atau opini yang baru saja terjadi dan
penting untuk diketahui oleh khalayak.
Ada dua jenis berita, pertama, berita yang terpusat pada peristiwa yang
khas menyajikan peristiwa hangat yang baru terjadi, dan umumnya tidak
diinterpretasikan, dengan konteks yang minimal, tidak dihubungkan dengan
situasi dan peristiwa yang lain. Kedua, berita yang berdasarkan pada proses
yang disajikan dengan interpretasi tentang kondisi dan situasi dalam
masyarakat yang dihubungkan dalam konteks yang luas dan melampaui
waktu. Berita semacam ini muncul di halaman opini berupa editorial, artikel,
49
Suhaimi dan Rulli Nasrullah, Bahasa Jurnalistik, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009), h. 27.
50
Hikmat Kusumaningrat, Jurnalistik Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2005), h. 32-33.
29
dan surat pembaca, sedangkan di halaman lain berupa komentar, laporan
khusus, atau tulisan feature.51
2. Menulis Berita
Dalam menulis berita, struktur penulisan berita mengikuti pola yang
disebut sebagai piramida terbalik. Manfaat dari pola piramida terbalik ini
antara lain: pertama, nilai sebuah berita dapat ditulis dengan langsung tanpa
penjelasan yang lebih panjang atau detail sehingga publik dapat memahami
apa maksud dari isi berita tersebut dalam waktu singkat tanpa harus membaca
keseluruhan berita tersebut; kedua, keterbatasan kolom atau ruang di surat
kabar atau tabloid menyebabkan berita yang ditulis dalam pola piramida
terbalik
ini
memudahkan
redaktur
atau
editor
untuk
melakukan
penyederhanaan panjang tulisan berita dan biasanya pertama kali kalimat yang
akan dihilangkan/ dipendekkan adalah kalimat atau paragraf yang berada di
kerucut bawah dalam pola piramida terbalik ini.52
Dalam pola piramida terbalik ini jurnalis mempertaruhkan beritanya di
dalam lead atau teras berita. Ini dianggap penting, karena lead merupakan
paragraf pembuka yang mengantarkan khalayak pembaca untuk masuk ke
dalam penjelasan berita. Apabila lead tidak ditulis dengan menarik, maka
jangan berharap jika berita akan dibaca.53
Cara menulis berita juga berbeda-beda. Berita langsung biasanya ditulis
dengan gaya piramida terbalik, di mana semua yang dianggap paling penting
diletakkan pada lead atau intro. Karena itu, lead mencakup semua unsur berita
51
Luwi Ishwara, Catatan-catatan Jurnalisme Dasar, (Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
2007), Cet. 3. h. 51-52.
52
Suhaimi dan Rulli Nasrullah, Bahasa Jurnalistik, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta,
2009), h. 30.
53
Ibid., h. 31
30
yang lazim disebut 5 W + 1 H, yaitu54 what (apa peristiwa yang terjadi); who
(siapa yang terlibat dalam peristiwa); where (di mana peristiwa terjadi); when
(kapan peristiwa terjadi); why (mengapa terjadi); how (bagaimana
peristiwanya).
Gaya penulisan yang biasanya menarik perhatian ialah tulisan yang
mampu menjelaskan masalah yang pelik dengan cara sederhana dan mudah
dipahami. Agar berita itu mudah dimengerti oleh khalayak, selain logis juga
harus dihindari penggunaan istilah-istilah yang tidak lazim bagi khalayak.
Selain itu penggunaan kata-kata haruslah ekonomis. Kata-kata yang tidak
perlu sebaiknya dibuang, dan kata-kata yang digunakan hendaknya yang
sedikit suku katanya. Kata-kata yang terdiri banyak suku katanya sebaiknya
dihindari.55 Jadi, dapat ditarik kesimpulan, berita yang berkualitas yaitu berita
yang menggunakan kalimat yang baik. Kalimat yang baik ialah kalimat yang
tidak lebih dari 20 kata, tetapi juga tidak terlalu pendek. Selain itu, kalimat
yang digunakan juga harus efektif sehingga dimengerti oleh khalayak.
E. Penelitian yang Relevan
Siti Merkhamah (2012) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Afiksasi
Pembentukan Nomina dalam Induk Opini Surat Kabar Pos Kota Sebagai Sumber
Belajar”, membahas bentuk afiksasi pembentukan nomina. Data yang diambil
yaitu dari surat kabar Pos Kota. Adapun data yaitu berupa kata untuk analisis
afiksasi. Penelitian ini difokuskan pada analisis morfologi kata bahasa Indonesia
pada surat kabar Pos Kota khususnya pada proses afiksasi nomina. Peneliti juga
memfokuskan bahwa media massa bisa dijadikan sumber belajar.
Ani Nurhayati (2011) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Kata
Berimbuhan Dalam Karangan Deskripsi Siswa Kelas X SMK Nusantara, Legoso,
54
55
Sudirman Tebba, Jurnalistik Baru. (Jakarta: Kalam Indonesia. 2005), h. 56-57
Ibid., h. 61-62
31
Ciputat, Tangerang Tahun Pelajaran 2011/2012”, membahas bentuk kata
berimbuhan dalam karangan deskripsi siswa kelas X SMK Nusantara, Legoso,
Ciputat, Tangerang tahun pelajaran 2011/2012. Data yang diambil yaitu dari
karangan deskripsi siswa kelas X SMK Nusantara. Dalam penelitian ini, peneliti
mengumpulkan karangan yang telah ditulis oleh siswa. Karangan siswa itulah
yang akan dijadikan data penelitian.
Droe Iswatiningsih (2000) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis
Kesalahan Berbahasa Indonesia pada Karya Tulis Mahasiswa Jurusan Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 1999/2000 Universitas Muhammadiyah
Malang”, menguraikan pentingnya bahasa dalam berkomunikasi baik bahasa lisan
maupun tulis, penggunaan bahasa dalam berkomunikasi harus cermat dan teliti.
Droe Iswatiningsih mengkaji secara keseluruhan kesalahan berbahasa dalam
sebuah karya tulis mahasiswa tidak hanya kesalahan dalam bidang morfologi
(pembentukan kata berimbuhan „afiksasi‟), tetapi juga kesalahan dalam ejaan,
sintaksis, dan kata mubazir. Sementara penulis skripsi ini membatasi kajian hanya
pada analisis bidang morfologi saja, juga penulis lebih sempit lagi membatasi
kajiannya, yakni kesalahan pembentukan kata berimbuhan (afiksasi).
Sinta Dewi (2010) meneliti “Struktur Afiksasi meN- pada Kata Dasar
Berfonem awal k/, p/, s/, t/ dan Implementasinya terhadap Masyarakat Pengguna
Bahasa”. Hasil penelitian yang ditemukan Sinta Dewi adalah bentuk-bentuk
bersaing kata berimbuhan meN- dengan kata dasar berfonem awal /p, t, k, s/ baik
di artikel koran, tayangan berita di televisi, maupun di masyarakat umum.
Ermanto (2007) meneliti “Hierarki Afiksasi pada Verba Bahasa Indonesia
dari Perspektif Morfologi Derivasi dan Infleksi”. Penulis menguraikan afiksasi
yang terjadi pada verba B1 yang dijelaskan dari perspektif morfologi derivasi dan
infleksi. Sumber data yang diperoleh peneliti yaitu dari tajuk rencana surat kabar
Kompas, majalah Tempo, majalah Intisari, jurnal Linguistik Indonesia.
32
Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas, dapat penulis simpulkan
bahwa penelitian yang akan dilakukan oleh penulis tidaklah sama dengan apa
yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti yang terdahulu.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini bertempat di SMP Darul Muttaqien yang beralamat di Jl.
Haji Gaim Gg. Kasan Misin, Petukangan Utara – Jakarta Selatan.
Kegiatan pengambilan data dilakukan di ruang pembelajaran.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Februari - Maret 2014. Pengambilan data
dilakukan saat pembelajaran berlangsung.
B. Pendekatan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif
adalah pendekatan yang penting untuk memahami suatu fenomena sosial dan
perspektif individu yang diteliti.1 Tujuan pokoknya dalah menggambarkan,
mempelajari, dan menjelaskan fenomena itu. Pemahaman fenomena ini dapat
diperoleh dengan cara mendeskripsikan dan mengeksplorasikannya dalam sebuah
narasi.2 Dalam penelitian ini yang dijadikan objek penelitian yaitu teks berita
siswa kelas VIII di SMP Darul Muttaqien Jakarta. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mendeskripsikan penggunaan afiksasi pembentuk verba dalam teks
berita siswa.
1
Syamsuddin AR, dan Vismaia S. Damaianti, Metode Penelitian Pendidikan Bahasa, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2007), Cet. II, h. 74.
2
Ibid.,
33
34
C. Data dan Sumber Data
Data adalah keterangan atau bahan nyata yg dapat dijadikan dasar kajian
(analisis atau kesimpulan).3 Analisis data kualitatif adalah analisis yang dilakukan
terhadap data non angka, seperti hasil wawancara, laporan bacaan dari buku-buku,
artikel, foto, gambar, film, dan sebagainya.4 Data yang dipakai dalam penelitian
ini adalah sumber data primer. Data primer yang dipakai penulis dalam penelitian
ini adalah teks berita siswa kelas VIII di SMP Darul Muttaqien. Selain sumber
data primer, penulis juga menggunakan sumber data sekunder. Data sekunder
yang dipakai penulis dalam penelitian ini adalah beberapa buku kajian morfologi.
D. Korpus Data
Korpus data dalam penelitian ini adalah seluruh temuan berupa kata yang
mengandung afiks pembentuk verba di teks berita siswa.
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
analisis dokumen yang berupa kajian morfologis dengan teknik catat, yaitu
mencatat dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah dan tujuan
penelitian.
Langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan yaitu sebagai berikut:
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu observasi.
Melalui observasi, peneliti dapat mengamati kegiatan pembelajaran yang sedang
berlangsung di salah satu kelas VIII Darul Muttaqien Jakarta. Selain mengambil
3
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, (Jakarta: PT. Gramedia, 2008), Edisi
ke-IV. Cet. I, h. 544.
4
Abdul Halim Hanafi, Metode Penelitian Bahasa Untuk Penelitian, Tesis, dan Disertasi, (Jakarta,
Diadit Media Press, 2011), Cet. I, h. 144.
35
data yang berbentuk teks berita siswa untuk diteliti lebih lanjut, peneliti juga
mengambil data tentang profil sekolah SMP Darul Muttaqien Jakarta.
Teknik pengumpulan data selanjutnya yaitu dengan memberikan tes kepada
siswa untuk menulis teks berita dengan tema dan judul yang tidak ditentukan.
Setelah data terkumpul, peneliti membaca hasil tulisan siswa yang berbentuk teks
berita tersebut, kemudian peneliti mencatat dan menggolongkan kata yang
berbentuk afiksasi verba berdasarkan jenis afiksnya untuk dijadikan data
penelitian.
F. Teknik Analisis Data
Penelitian ini dilakukan dengan memberikan tes kepada siswa. Data yang
terkumpul sebanyak 30 data, tetapi peneliti hanya mengambil 12 data untuk
dianalisis berdasarkan pertimbangan banyaknya penggunaan afiksasi verba di
dalam data tersebut. Data tersebut dianalisis menggunakan teori afiksasi
pembentuk verba. Hal ini dilakukan karena data yang diperoleh berupa karangan
yang berbentuk teks berita dengan tema yang tidak ditentukan. Peneliti
mengklasifikasikan data; menganalisis data, dan menarik kesimpulan sesuai hasil
analisis yang telah dilakukan.
BAB IV
ANALISIS
Bab ini menyajikan temuan afiks pembentuk verba dalam teks berita yang ditulis
oleh siswa kelas VIII di SMP Darul Muttaqien. Dalam data penelitian ditemukan
banyak ketidaktepatan dalam menggunaan EYD dan tanda baca, tetapi dalam
penelitian ini penulis hanya menganalisis ketidaktepatan afiks pembentuk verba saja.
Proses pembentukan afiks pembentuk verba dibahas guna memudahkan penulis
dalam menganalisis ketepatan pembentukkan kata apakah memenuhi kriteria bahasa
Indonesia yang baku.
Dengan demikian, penulis bisa menyimpulkan apakah siswa sudah tepat dalam
menggunakan afiks pembentuk verba dalam teks berita. Bab ini mengemukakan
temuan penelitian yang merupakan hasil akhir penelitian dan pembahasan yang
berlandaskan pada teori-teori yang dipakai.
Pada bagian deskripsi data ini, penulis akan menguraikan hasil pembahasan
temuan yang ada. Temuan yang muncul dianalisis serta dibahas berdasarkan teori
yang terkait. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel-tabel disertai keterangan
yang menjelaskan temuan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar hasil penelitian lebih
mudah untuk dideskripsikan.
A. Profil Sekolah
1. Identitas Sekolah
Nama Sekolah
: SMP DARUL MUTTAQIEN
Alamat
: Jalan H. Kasan Misin No.126
Desa
: Petukangan Utara
Kecamatan
: Pesanggrahan
Kab./Kodya
: Jakarta Selatan
NNS/NSM/NDS
: 202016305296/A04052021
36
37
Jenjang Akreditasi
: DIAKUI
Tahun Pendirian
: 1986
Tahun Beroperasi
: 1986
KepemilikanTanah
: Milik Yayasan
Status Tanah
: Sertifikat H.M
Luas Tanah
: 3.000 M2
Status Bangunan
: Milik Pribadi
2. Visi, Misi, dan Tujuan
Visi sekolah
SMP DARUL MUTTAQIEN MENCETAK PESERTA DIDIK
UNTUK MENJADI INSAN YANG “CERDAS, TERAMPIL,
BERIMTAQ DAN BERBUDI PEKERTI LUHUR”
Misi Sekolah
a. Menumbuh kembangkan nilai-nilai ajaran Islam dan mengamalkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
b. Menanamkan nilai-nilai Agama kepada siswa siswi agar memiliki
akhlakul karimah.
c. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif guna
menciptakan pengetahuan dan keterampilan, serta mengenali potensi
siswa sehingga dapat dikembangkan secara optimal.
d. Menumbuhkan semangat disiplin dalam lingkungan sekolah dan
masyarakat.
e. Mempersiapkan dan mengarahkan siswa/i untuk dapat melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
38
Tujuan Sekolah
a. Sekolah mampu memenuhi standar pendidik meliputi semua guru
berkualifikasi S1, semua mengajar sesuai dengan bidangnya dan
semua mampu mengoperasikan komputer.
b. Sekolah mampu memenuhi standar tenaga kependidikan meliputi
kepala TU, tenaga administrasi keuangan dan tenaga administrasi
Sarpras telah mengikuti penataran yang relevan dan mampu
mengoperasikan komputer.
c. Sekolah mampu memenuhi standar tenaga kependidikan meliputi
tenaga tata usaha sudah memenuhi Standar Nasional Pendidikan.
d. Sekolah mampu memenuhi standar tenaga pustakawan, laboran, dan
teknisi komputer yang sudah memenuhi Standar Nasional Pendidikan.
e. Sekolah mampu menyiapkan guru yang kompeten.
f. Sekolah mampu menyiapkan pegawai Tata Usaha yang kompeten.
g. Sekolah mampu memenuhi standar kelulusan.
h. Sekolah mampu menghasilkan perangkat kurikulum yang lengkap
mutakhir dan berwawasan ke depan.
i. Sekolah
mampu
menghasilkan
perangkat
silabus
yang telah
dikembangkan untuk kelas 7, 8, dan 9 semua mata pelajaran.
j. Sekolah mampu menghasilkan RPP yang berkarakter untuk kelas 7,8
dan 9 semua mata pelajaran dan semua guru.
k. Sekolah mampu menghasilkan perangkat program perbaikan dan
pengayaan untuk semua guru mata pelajaran.
l. Sekolah mampu melaksanakan pembelajaran CTL.
m. Sekolah mampu menyelenggarakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan.
n. Sekolah mampu melaksanakan strategi pembelajaran yang efektif.
39
o. Sekolah mampu menghasilkan bahan dan sumber pembelajaran yang
relevan.
p. Sekolah mampu mencapai nilai ujian nasional rata-rata 7,00.
q. Sekolah mampu menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia dan
memperkuat iman dan taqwa.
r. Sekolah mampu menyediakan bahan dan sumber pembelajaran yang
relevan.
s. Sekolah mampu menyediakan media pembelajaran yang relevan.
t. Sekolah mampu menyediakan sarana dan prasarana yang memadai.
Sekolah mampu menyediakan fasilitas sekolah yang relevan, mutakhir
dan berwawasan ke depan.
u. Sekolah mampu menata lingkungan sebagai pusat komunikasi belajar.
v. Sekolah mampu menjadi sekolah yang sehat.
w. Sekolah mampu menjadi sekolah yang inovatif.
3. Sarana dan Prasarana
Sarana dan Prasarana yang ada di SMPI Darul Muttaqien, yaitu:
a. Ruang Kelas
b. Perpustakaan
c. Lab. IPA
d. Lapangan Olah Raga
e. Musholla
f. Kantin
g. Toilet
Di SMPI Darul Muttaqien terdapat 15 Ruang Kelas, 1 Ruang Guru, 1
Ruang Kepala Sekolah. Di sekolah ini terdapat 20 unit komputer dan alatalat praktikum IPA sudah lengkap, misalnya mikroskop, dan gelas piala.
Sarana lain misalnya, toilet guru dan siswa berbeda. Siswa mempunyai
40
toilet sendiri sedangkan toilet guru masih bersatu dengan toilet kepala
sekolah.
Alat perlengkapan pendidikan yang berhubungan langsung dengan
proses belajar mengajar, seperti papan tulis, 300 pasang meja dan kursi,
buku-buku yang dimiliki oleh sekolah untuk menunjang proses belajar
mengajar sudah lengkap, karena pemerintah sudah menunjang semua
kebutuhan sekolah. Alat olah raga yang tersedia, seperti tenis meja, bola
basket, voli, bulu tangkis, dan futsal. Alat keseniannya, seperti marawis,
kosidah, dan band.
Alat pendidikan yang secara tidak langsung berhubungan dengan
proses belajar mengajar seperti jumlah meja dan kursi siswa maksimal 20
pasang perkelas, meja dan kursi guru berjumlah 33 pasang dan peralatan
lain seperti papan absen, lemari, buku agenda dan absensi tersedia.
4. Kurikulum yang Digunakan
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu
lembaga penyelenggara pendidikan, yang berisi rancangan pelajaran yang
akan diberikan kepada peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan.
Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan
kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan
tersebut.
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud
dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini
dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan
yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. SMP
41
Darul Muttaqien pada tahun ajaran ini telah menerapkan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) untuk kelas VII, VIII, dan kelas IX.
Konsep dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang lebih
mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi,
esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan
tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah
subject matter), yaitu:
1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual
maupun klasikal.
2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode
yang bervariasi.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang
memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya
penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Sejauh ini, hasil yang telah dicapai oleh sekolah tersebut sebagian telah
sesuai dengan tujuan digunakannya kurikulum tersebut. Dari kurikulum yang
diterapkan tersebut terdapat kekurangan-kekurangan yang salah satunya, yaitu
terlalu banyaknya materi yang harus dipelajari oleh para peserta didik. Hal ini
mengakibatkan banyaknya konsep atau materi yang tidak bisa dipahami oleh
siswa, serta dapat membingungkan siswa untuk menyerap seluruh materi
pelajaran yang diberikan, khususnya di SMPI Darul Muttaqien. Keunggulan
dari kurikulum tersebut akan dapat dirasakan apabila siswa memiliki
kemampuan lebih dalam menyerap materi yang diberikan, dan tentunya
pengetahuan mereka akan lebih bertambah.
42
5. Data Keadaan Guru, Tenaga Kependidikan dan Siswa
Jumlah Personal di SMPI Darul Muttaqien.
Tabel 4.1
JUMLAH
NO
PERSONAL
1.
Kepala Sekolah
2.
Guru PNS
0
3.
Guru PNS lainnya
0
4.
Guru kontrak / bantuan / honda
0
5.
Guru tetap sekolah
17
12
29
6.
Guru honor / tidak tetap
2
2
4
7.
Administrasi (TU)
1
2
3
8.
Pustakawan
2
2
9.
Petugas BP / BK
3
3
10.
Laboran
1
1
2
11.
Tenaga keterampilan
1
2
3
12.
Personal lainnya
Total
Lk
Pr
Total
1
1
0
22
25
47
Tenaga struktural mempunyai tugas menyelenggarakan administrasi di
suatu unit organisasi. Pengembangan dan pembinaan karier kelompok tenaga
struktural tergantung pada beban tugas pokok dan fungsi unit organisasi
43
tempat mereka bekerja. Tenaga fungsional dalam kariernya tergantung pada
kemampuan profesi mereka yang lebih spesifik.
Dalam hal ini kesempatan ada pada kemampuan dalam mengembangkan
dirinya secara luas tanpa terikat dan terbatas pada stuktur organisasi di mana
mereka betugas. Sampai saat ini setiap pegawai atau personal di SMPI Darul
Muttaqien sudah berjalan dengan baik sesuai dengan tugas, hak dan
kewajibannya masing-masing. Dalam pengelolaan bidang administrasi
ketenagaan ini setiap personal fungsinya adalah mencari, mengevaluasi,
mengadakan persetujuan, menempatkan, mengorientasikannya pada posisi
tugas yang dibutuhkan dalam unit organisasi sekolah.
Jumlah siswa di SMPI Darul Muttaqien dapat dilihat dan dihitung dari
jumlah kelasnya.
Tabel 4.2
Tahun
Jumlah
Pelajaran
Pendaftar
Kelas VII
Kelas VIII
Kelas IX
Jumlah
Calon
Jml
Jml
Jml
Jml
Siswa
siswa
rombel
siswa
rombel siswa
rombel siswa
rombel
190
5
208
5
212
5
610
15
232
6
187
5
192
5
607
15
280
7
221
6
170
4
671
17
364
9
274
7
208
5
846
21
Jml
Jml
Jml
Jml
Baru
Th 2009- 630
2010
Th 2010- 615
2011
Th 2011- 692
2012
Th 2012- 860
44
2013
Th 2013- 1020
280
7
375
9
360
9
1015
2014
B. Deskripsi Data Secara Umum
Data penelitian mencakup 10 jenis temuan, yaitu prefiks me-, prefiks ber-,
prefiks di-, prefiks ter-, prefiks ke-, sufiks –kan, sufiks -i, konfiks ber-an, konfiks
ke-an, dan klofiks ber-an.
C. Analisis
Subbab ini membahas hasil analisis penggunaan afiks pembentuk verba
dalam teks berita siswa kelas VIII di SMP Darul Muttaqien Jakarta Selatan. Datadata yang telah diperoleh, yaitu berupa teks berita siswa. Siswa yang dijadikan
subjek penelitian sebanyak 30, tetapi yang dianalisis hanya 12 teks berita siswa.
Berikut ini peneliti akan melampirkan data-data teks berita siswa, data
dilampirkan sesuai dengan yang ditulis oleh siswa tanpa melebihi dan mengurangi
bentuk aslinya.
Data 4.1
Bencana Gunung Meletus
Sejumlah Warga dibukit tinggi terpaksa harus mengungsi di pengusian. Gunung
merapi kembali menyemburkan hawa panas. banyak warga yang terluka-luka akibat
semburan api dan banyak warga yang meninggal dunia. kini polisi sedang menyari
korban yang meninggal dan terluka.
25
45
Menurut kepala desa gunung itu sudah tidak aman lagi, dan kepala desa
memberitahukan kepada warga bahwa harus waspada, banyak sekolah yang rubuh
akibat gunung meletus.
Di pengungsian warga sangat membutuhkan pakaian yang layak di gunakan,
seperti obat-obatan, makanan, susu untuk bayi, dan Selimut. Sampai Saat ini warga
masih waspada pada gunung meletus dan sebagian warga masih bertahan di
pengungsian tersebut.
Data 4.2
Bencana Banjir
Diwilayah jawa terendam banjir cukup dalam, dan disana cukup mengenaskan.
lebih dari 1 meter rumah-rumah kemasukan air. Beberapa orang yang masih bertahan
dirumah mereka masing-masing.
Saat ini, warga sementara mengungsi di pertendaan yang sudah di pasang oleh
petugas kesehatan. Namun, dipertendaan itu sebenarnya tidak layak untuk anak-anak
maupun balita yang masih kecil. dan disana sangat kekurang air bersih. Dan mereka
juga kekurangan bahan-bahan makanan.
Sejumlah warga sangat kebingun memikirkan anak-anak mereka yang
memerlukan bahan makanan yang akan untuk anak-anaknya.
Dari sejumlah warga lain menyumbangkan sedikit bahan-bahan makanan yang
mereka butuhkan, dan baju-baju yang untuk mereka gunakan selama di pengungsian
sementara. Tapi ada juga warga yang nekat untuk pulang kerumah untuk melihat
kondisi rumah mereka saat ini.
46
Data 4.3
Pencurian Motor
Telah terjadi pencurian sebuah motor diwilayah Jakarta Barat (Ciledug, Jl.
Gotong Royong 07 rt 03 rw 01). Sebuah motor bermerek Mio. Sabtu (3/11), sang
pemilik motor meningglkn motornya diluar rumah dgn keadaan tdk dimatikn. Karena,
sang pemilik ingin mengambil dompet didlm rumah dan beberapa menit kemudian
sang pemilik kembali kedepan rumah karna curiga dgn adanya seseorang diluar.
Ketika kembali keluar ditemukan motornya hilang. Dan sang pencuri kabur dgn
motor itu. Alhasil sang pencuri tertangkap dan digebukin oleh orang2 disekitar itu.
Dan pencuri itu dibawa kekantor polisi untuk diperiksa. Sebut saja inisialnya D. D
pun diamankan oleh polisi.
D mengaku nekat mencuri motor itu karena kekurangan biaya untuk menghidupi
ke-tiga anaknya dan seorang istri. Sang pemilik motor sangat marah dan ingin sekali
sang pencuri di penjara.
Setelah diperiksa oleh polisi dan mendapatkan bukti bukti, akhirnya Si pencuri
terpaksa dikurung di penjara selama tiga tahun lebih. Motor pun kembali kepada
Sang pemilik.
Data 4.4
Bencana Banjir.
Sejumlah warga terkena musibah banjir. Di wilayah selatan sering di sebut
(Cipulir). Sudah lama dia mengungsi di petukangan dari hari selasa.11,12,2013 s/d
sekarang belum surut juga banjir di Cipulir. Sampai sodara saya mendatangi korban
47
banjir, dia bernama, Dr.sutimin, dia berbicara kepada korban banjir. Dan sayapun
tidak tau apa yg di bicarakan kepada korban banjir.
Dan dahulu juga sering terkena banjir sampai dua bulan belum surut surut juga
sampai Rumah Pak RT (jono) kehanyut arus banjirnya dari cipulir. dan dua orang
tewas kebawa arus banjir. dan sampai kini belum ketemu mayat orangnya itu. Sampai
orang tuanya menangis nangis kejer, sampe warga kampunya terharu dengar
ceritanya itu.
Dan banyak yg bilang air banjirnya itu datang dari bogor sampai sini. dan
Makannya di sini sering terkena banjir. Setahun 3 kali berturut-turut sampai
Perbatasan banjir sudah di tutup tetapi masih bisa kebobol karena terkena arus banjir
dari air kali bogor.
Dan sampai kini warga cipulir sudah pada pindah karena Menahan air banjir dari
bogor itu. Dan sekarang warga yg tinggal disitu sudah aman. dan sering anak anak
bermain layangan, Bola. Dan selamat lah warga cipulir sekarang yg masih disitu.
warganya tentram, sopansantun, dan sering bergotong royong.
Data 4.5
Banjir di beberapa wilayah Dki Jakarta
Sejumlah Penduduk Dki Jakarta mengalami bencana Banjir. ketinggian air sudah
mencapai 3 meter. warga mengungsi di beberapa tempat yang aman dari genangan
Banjir. kejadian banjir itu terjadi pada Rabu, 3 januari 2013. hingga saat ini banjir
masih menggenang di beberapa wilayah Dki Jakarta.
Akibat banjir warga terpaksa harus Pindah ke Tempat yang lebih aman dan
terjadi kemacetan. Selain itu Banjir juga mengakibatkan beberapa penyakit, antara
lain yaitu: gatal-gatal, Tbc, Masuk angin, gangguan Pencernaan dll.
48
Peristiwa itu terjadi karena hujan yang sangat lebat dan menggenangi Wilayah
Dki Jakarta karna selokan air mampet, warga membuang sampah ke kali /
sembarangan. Akibat dari bencana itu Dinas Dki Jakarta menghimbau agar tidak
membuang sampah sembarangan.
Data 4.6
Bencana Banjir
Banjir melanda di kota Jakarta pada tgl 11 juli 2013. akibat hujan deras yg turun
trus menerus hgga mengakibatkan banjir di kota Jakarta.
ketinggian banjr kurang lebih sepinggang orang dwasa kira” antara 1 meter
hingga 2 mter
akibat banjir smua orang khilang harta benda termasuk orang yg di cintai*
kbanyakan warga khilangan anggota keluarganya ada yg hilang karena hanyut
dan ada yg jga meninggal karna hanyut terbawa arus deras banjir
Data 4.7
Banjir di sejumlah daerah dijakarta
Banjir yg menggenangi diberbagai daerah dijakarta, mengganggu aktivitas warga
yang Rumahnya terkena banjir. banjir Terjadi di berbagai Daerah, salah satunya
kampung Pilo. banjir yg menggenangi kampung pulo membuat warga harus
mengungsi ke sejumlah posko pengungsian. dikarenakan air sudah mencapai
ketinggian 3 meter atau sesampai leher orang dewasa.
49
banjir Dikarenan curah hujan yang Tinggi. Sampah yg menyumbat sejumlah kanal
dan penebangan Liar di Sejumlah daerah Jakarta. banjir juga menggenangi jalan2
protokol seperti jalan Jendral Sudirman. jalan gatot Subroto dan Bundara Hotel
Indonesia. gubernur DKI Jakarta Jokowi mendatang keberbagai posko pengungsian
Dan memberikan sejumlah bantuan kepada pengungsi.
Para selebritis Juga mendatangi Posko Pengungsian di berbagai Daerah dan
memberikan sejumlah bantuan kepada pengungsi.
Data 4.8
Bencana Banjir
Sejumlah warga di Ibu kota Jakarta terpaksa mengungsi disejumlah tokoh-tokoh
dan warung yang sudah tutup. dikarenakan banjir memasuki rumah mereka.
ketinggiannya mencapai 1 meter. sejak pagi hingga siang ini hujan masih mengguyuri
wilayah Jakarta salah satunya dijalan patra, kebon jeruk, Jakarta Barat banyak motor
yang mogok
Sampai dini hari banjir masih mengenangi jalanan dan banjir hingga saat ini
ketinggian mencapai 2 meter banyak korban yang sakit sakit flu, batuk, demam, diare
dan gatel-gatel. dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa banjir adalah
peristiwa terjadi ketika air naik yang berlebihan merendam daratan akibatnya mampu
merendam dan merusak jalanan
Data 4.9
Sejumlah peristiwa pembunuhan di Tangerang, Pada saat itu warga menemukan
Rabu (28/01 Jenajah bapak Reyhan Polisi segera menyelidiki tempat Ke jadian. Polisi
50
menemukan barang bukti cerulit, polisi menyelidiki lebih dalam lagi dan warga
korban mengetahui cerulit yang berumulan darah itu, yang tidak lain adalah teman
dekat korban sendiri.
Polisi segera mencari teman dekatnya yang telah di ketahui namanya yaitu bapak
Erwin Polisi Segera dateng kerumah Erwin. ternyata ada di toilet rumahnya polisi
segera menyelidiki lebih dalam lagi. dan ternyata kejadiannya perebutan lahan.
Data 4.10
Bencana banjir di Jakarta
Sejumlah warga di Jakarta terpaksa mengungsi ke pos keamanan di dekat
daerahnya. Di karenakan Hujan yg terus mengguyur daerah Jakarta ini akan
menambah naik. Di waspadakan kepada warga Jakarta untuk berhati2x dan tetap
sabar.
Gubernur DKI Jakarta; Joko widodo, Rabu (11-01-2014) mengungkapkan bahwa
kejadian itu di karenakan warga DKI Jakarta telah sering membuang sampah
sembarangan dan menjadi menyumbat selokan.
Saat ini, warga DKI Jakarta dan Tim sar berupaya untuk mengevakuasi warga
untuk mengungsi di Pos keamanan, warga ada juga yg menjaga rumahnya dan
barang-barangnya walaupun ketinggihan Banjir itu sudah lebih dari 1 Meter.
warga jakarta saat ini sangat membutuhkan pangan dan selimut seperti =
makanan sehat, minuman, susu, selimut, dan lain-lain. Gubernur DKI Jakarta
berupaya membersihkan kali2x atau selokan yg tersumbat untuk di ambil dan di
buang tepat pada limbah pembuangan sampah.
51
Data 4.11
Bencana Banjir
Banjir melandang Jakarta pd tgl : 10 Januari 2014. akibatnya hujan yang sangat
delas sekali dan tdk berhenti terus karena cuaca kemarau.
ketinggian banjir bisampai 2 meter karena air kali meluap warga Jakarta
membuang sampah sembarangan karena warga Jakarta malas memBuang sampah
pada tempatnya.
kehilangan harta benda dan kehilang barang2x yang berharga. warga menangis
karena rumah terendam banjir dan keluarga sangat khawatir takut Banjir susulan dari
manasaja dan Juga yang harus diselamatkan adalah surat2x seperti surat tanah, ijazah,
dan lainlainnya, karena sangat penting.
Data 4.12
bencana gunung meletus
sejumlah warga di kota bogor terpaksa mengungsi karna gunung sinabung terus
keluarkan awan panas bahkan sejumlah ladang dan perkebunan yang berada didesa
sekitar gunung sinabung sudah rawan.
didesa itu semakin rawan karna gunung sinabung mengeluarkan lava. maka
warga disekitar gunung sinabung segera diungsikan ketenda pengungsian. semua
warga dikota bogor harus mengungsi di sekitar’a
semenjak warga diungsi ketenda pengungsian anak-anak maupun orang tua
berdesak-desakan, karna semua warga mengungsi di tenda tersebut Jadi semakin
berdesak-desakan.
112
Berdasarkan uraian diatas, peneliti menemukan kesalahan pembentuk afiksasi
verba dalam teks berita siswa, misalnya pada data I dan VIII berupa kesalahan
penggunaan prefiks me-. Dapat dilihat pada data I paragraf 1 – kalimat 4, kata dasar
cari jika dibubuhi prefiks me- maka akan membentuk kata mencari bukan menyari.
Selanjutnya dapat dilihat pada data VIII paragraf 2 – kalimat 1, kata dasar genang
jika dibubuhi prefiks me- maka akan membentuk kata menggenang bukan
mengenang.
Pada data II, IV, VI, dan XI terdapat kesalahan penggunaan prefiks ke-.
Penggunaan prefiks ke- pada kata dasar kurang, bingung, bobol, dan hilang tidak
tepat dan tidak memiliki makna dalam tata bahasa Indonesia. Kata-kata tersebut
seharusnya menggunakan konfiks ke-an agar sesuai dan memiliki arti dalam tata
bahasa Indonesia.
Pada data II paragraf 2 – kalimat 3 dan paragraf 3 – kalimat 1 terdapat kesalahan
proses afiksasi verba, kata dasar kurang dan kata dasar bingung jika dibubuhi konfiks
ke-an maka akan membentuk kata kekurangan dan kata kebingungan. Pada data IV
paragraf 3 - kalimat 3 terdapat kesalahan proses afiksasi verba, kata dasar bobol jika
dibubuhi konfiks ke-an akan membentuk kata kebobolan. Pada data VI dan XI
paragraf 3 - kalimat 1 terdapat kesalahan proses afiksasi verba, kata dasar hilang jika
dibubuhi konfiks ke-an maka akan membentuk kata kehilangan.
Pada data IV terdapat kesalahan penggunaan prefiks ke-. Penggunaan prefiks kepada kata dasar hanyut yang terdapat dalam paragraf 2 – kalimat 1 membentuk kata
kehanyut. Kata kehanyut tidak sesuai dalam pembentukan kata afiksasi verba. Kata
hanyut sebaiknya dibubuhi prefiks ter- yang akan membentuk kata terhanyut.
Selanjutnya, dapat dilihat pada data III paragraf 2 – kalimat 3 terdapat kesalahan
penggunaan sufiks –i. Penggunaan sufiks –i pada kata dasar gebuk membentuk kata
gebuki bukan gebukin. Kemudian, dapat dilihat pula data XII paragraf 3 – kalimat 1
terdapat ketidaktepatan pada kata diungsi, kata diungsi akan lebih tepat jika dibubuhi
113
sufiks –kan yang akan membentuk kata diungsikan. Dapat dilihat pula data VII
paragraf 2 – kalimat 1 terdapat kesalahan proses pembentukan afiksasi verba pada
kata dikarenan, kata dasar karena jika dibubuhi prefiks di- dan sufiks –kan akan
membentuk kata dikarenakan.
Kesalahan yang terjadi dalam teks berita siswa tersebut, tidak hanya kesalahan
dalam pembentukan afiksasi verba saja, tetapi ada pula kesalahan dalam penggunaan
kata dasar, kesalahan ejaan, serta kesalahan pemakaian afiksasi di dalam kalimat.
Dalam hal ini, kesalahan dalam penggunaan kata dasar, kesalahan ejaan, serta
kesalahan pemakaian afiksasi di dalam kalimat tidak termasuk dalam analisis
penelitian.
BAB V
PENUTUP
Berdasarkan kajian teoretis dan hasil penelitian mengenai afiksasi verba pada
teks berita siswa kelas VIII semester I di SMP Darul Muttaqien Jakarta, penulis dapat
mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran.
A. SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, peneliti dapat mengemukakan
simpulan, yaitu penggunaan afiksasi verba pada teks berita siswa kelas VIII semester
I di SMP Darul Muttaqien Jakarta tahun pelajaran 2013/2014 mencakup 10 jenis,
yaitu prefiks me-, prefiks ber-, prefiks di-, prefiks ter-, prefiks ke-, sufiks –kan, sufiks
-i, konfiks ber-an, konfiks ke-an dan klofiks ber-an.
Afiksasi pembentuk verba yang digunakan siswa sudah cukup beragam. Hal ini
menunjukkan bahwa siswa telah memahami penggunaan afiksasi verba tersebut.
Afiksasi verba yang digunakan siswa misalnya:
1. Pembubuhan prefiks me- pada kata dasar cari akan membentuk kata mencari.
Prefiks me- dibubuhkan pada kata dasar buang akan membentuk kata
membuang, kata dasar rendam jika dibubuhi prefiks me- akan membentuk
kata merendam. Selanjutnya, kata dasar ungsi jika dibubuhi prefiks me- akan
membentuk kata mengungsi, kata selidiki jika dibubuhi prefiks me- akan
membentuk kata menyelidiki, kemudian kata ketahui jika dibubuhi prefiks
me- akan membentuk kata mengetahui.
2. Pembubuhan prefiks ber- pada kata dasar tahan akan membentuk kata
bertahan.
114
115
3. Pembubuhan prefiks di- pada kata dasar pasang akan membentuk kata
dipasang.
4. Pembubuhan prefiks ter- pada kata dasar paksa akan membentuk kata
terpaksa.
5. Pembubuhan prefiks ke- pada kata dasar bawa akan membentuk kata kebawa.
6. Pembubuhan sufiks -kan pada kata dasar tinggal akan membentuk kata
tinggalkan.
7. Pembubuhan sufiks –i pada kata dasar selidik akan membentuk kata selidiki.
8. Pembubuhan konfiks ber-an pada kata dasar lumur akan membentuk kata
berlumuran.
9. Pembubuhan konfiks ke-an pada kata dasar masuk akan membentuk kata
kemasukan.
10. Pembubuhan klofiks ber-an pada kata dasar desak-desak akan membentuk
kata berdesak-desakan.
Penggunaan prefiks me-, prefiks ber-, prefiks di-, prefiks ter-, prefiks ke-, sufiks
–kan, sufiks -i, konfiks ber-an, konfiks ke-an, dan klofiks ber-an tersebut sesuai
dengan kaidah afiksasi bahasa Indonesia.
B.
SARAN
Berdasarkan simpulan di atas, maka peneliti menyampaikan beberapa saran
kepada guru Bahasa dan Sastra Indonesia dan para peneliti :
1. Guru bahasa dan sastra Indonesia diharapkan memberikan perhatian terhadap
siswa dalam menulis, khususnya dalam penggunaan afiksasi pembentuk
verba, sehingga afiksasi pembentuk verba dikuasai oleh siswa dan diharapkan
tidak ada lagi kesalahan dalam penggunaannya. Pentingnya pembelajaran
menulis, sehingga guru hendaknya menekankan perhatiannya terhadap siswa
116
dengan memberikan
latihan membuat karangan baik berupa teks berita
ataupun karangan lainnya, dari hasil tulisan siswa tersebut sehingga dapat
dilihat kemampuan siswa dalam menggunakan afiksasi verba secara tepat.
2. Para peneliti, selanjutnya diharapkan untuk mengembangkan penelitian ini
dalam penelitian-penelitian selanjutnya dengan menggunakan objek yang
berbeda. Bila penelitian ini difokuskan pada afiksasi pembentuk verba pada
teks berita siswa, maka peneliti lain bisa meneliti afiksasi pembentuk verba,
nomina, maupun adjektiva dalam karangan siswa yang lainnya. Hal ini
bertujuan agar informasi analisis afiksasi dalam pembelajaran bahasa dan
sastra Indonesia dapat diperkaya.
117
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan dkk. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2003.
Ambary, Abdullah. Intisari Tatabahasa Indonesia. Jakarta: DJATNIKA Bandung,
1979.
AR, Syamsudin dan Vismaia S. Damaianti. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Arifin, E. Zaenal dan Junaiyah. Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia, Cet. III, 2009.
Chaer, Abdul. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta, Cet. III, 2007.
-------. Morfologi Bahasa Indonesia (pendekatan proses). Jakarta: PT. Rineka Cipta,
Cet. I, 2008.
Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia,
Edisi IV, Cet. I, 2008.
-------. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Bandung:
Pustaka Setia, Cet. X, 1992.
Hanafi, Abdul Halim. Metode Penelitian Bahasa Untuk Penelitian, Tesis, dan
Disertasi, (Jakarta, Diadit Media Press, Cet. I, 2011.
HP, Achmad. Linguistik Umum. Jakarta: Depdikbud, Cet. I, 1996.
118
Ishwara, Luwi. Catatan-catatan Jurnalisme Dasar. Jakarta: PT. Kompas Media
Nusantara, Cet. III, 2007.
Katamba, Francis. Modern Linguistics: Morphology. London: The Macmillan Press
LTD, 1993.
Keraf, Gorys. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah, 1969.
Kusumaningrat, Hikmat. Jurnalistik Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005.
Lieber, Rochelle. Introducing Morphology. New York: Cambridge University Press,
2010.
Muchtinah, Sri Ety dkk. Bahan Ajar Smart Bahasa Indonesia. Jakarta: t.p., t.t.
Muslich, Masnur. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Bumi Aksara, Cet. I,
2008.
Parera, Jos Daniel. Morfologi Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007.
Putrayasa, Ida Bagus. Analisis Kalimat (fungsi, kategori, peran). Bandung: PT.
Refika Aditama, Cet. I, 2007.
Ramlan, M. Ilmu Bahasa Indonesia MORFOLOGI Suatu Tinjauan Deskriptif.
Yogyakarta: C.V. Karyono, Cet. 13, 2009.
Samsuri. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga, 1987.
Sugono, Dendy dan Titik Indiyastini. Verba dan Komplementasinya. Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994.
Suhaimi dan Rulli Nasrullah. Bahasa Jurnalistik. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN
Jakarta, 2009.
119
Tim penulis. TAKTIS Strategi Akurat dan Praktis Bahasa Indonesia untuk SMP.
Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2009.
Tebba, Sudirman. Jurnalistik Baru. Jakarta: Kalam Indonesia. 2005.
UJI REr.ERENSI
Nama
Anggraini Prastikasari
NIM
11
Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
JudulSkripsi
Afiksasi Pembentuk Verba Dalam Tel<s Berita Siswa Kelas
100130001 12
YIII di SMP Darul Muttaqien Jakorta Tahun Pelojaran
2013/2014
Dosen Pembimbing
Djoko Kentjono, MA
REFERENSI
NO.
I
Alwi, Hasan dl,,k. Tata Bahqsa Balat Bahqsa Indonesia.
J
2.
aka*a: Balai Pustaka, 2003 .
Ambary, Abdullah. Intis ari Tqtabahas a Indone s ia. Jakarta:
DJATNIKA Bandung,
J.
4.
5.
PARAF
197 9.
AR, Syamsudin dan Vismaia S. Damaianti. Metode
Penelitian Pendidiknn Bahasa. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarva 2007.
Arifin, E. Zaenal dan Junaiyah. Morfologi: Bentuk, Malcna,
dan Fungsi. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia,
Cet.III, 2009.
Chaer, Abdul. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta, Cet.
ril,2447.
6.
Morfolo gi Bahasa Indone sia (pendekotan prose
s)
.
Iakarta: PT. Rineka Cipta, Cet. I,2008.
7.
Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bohasa.
dk
d*
d,lL
t/<
{*
lk
//(..
Jakarta: PT. Gramedia, Cet. I, 2008.
Pedaman Umum Ejaan Bahaso Indonesia yang
8.
9.
10.
Disempurnakan. Bandung: Pustaka Setia. Cet. X. 1992.
Hanafi, Abdul Halim. Metode Penelitian Bahasa Untuk
Penelitian, Tesis, dan Disertisi, {Jakarta, Diadit Media
Press, Cet. I, 201I.
FIP, Achmad. Linguistik Umum. Jakarta: Depdikbud, Cet. I,
Ishwara, Luwi. Catatqn-cotatan Jurnalisme Dosar. Jakata:
PT. Kompas MediaNusantara, Cet.
III, 2007.
t2.
Katamba, Francis. Modern Linguistics: Morphologt.
13.
London: The Macmillan Press LTD,1993.
Keral Gorys. Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Nusa Indah,
1969.
14.
Lieber, Rochelle. Introducing Morphologt New York:
Cambridge University Press, 2010.
16.
Muslich, Masnur. Tata Bentuk Bahqsa Indonesia. Jakarta:
PT. Bumi Aksara, Cet. I,2008.
18.
Parera, Jos Daniel. Morfologi Bahqso. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2007.
19.
d*
dr&
dlt
dk
lL
dk
Putrayas4 Ida Bagus. Analisis Kalimat (fungsi, kategori,
peran). Bandung: PT. Refika Aditama, Cet. I, 2007.
20.
lrk
Muchtinah, Sri Ety dkk. Bahan Ajar Smart Bahasa
Indonesia. Jakarta: t.p., t.t.
17.
lk
Kusumaningrat, Hikmat. Jurnalistik Teori dan Proktek.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.
15.
JK
ak
1996.
II
ek-
Ramlan, M. Ilmu Bahasa Indonesia MORFOLOGI Suatu
Tinjauon Deslviptif. Yogyakarta: C.V. Karyono, Cet. 13,
d/{
t*
2009.
21.
dlL
22.
Sugono, Dendy
dan Titik Indiyastini. Verba
Komplementasinya. Jakarta:
dan
Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, 1994.
23.
Suhaimi dan Rulli Nasrullah. Bahasa Jurnalistik Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009.
24.
'l/k
lrL
Tim penulis. TAKTIS Strategi Alatrat don Prahis Bshasa
Indonesia untuk SMP. Solo: Tiga Serangkai Pustaka
//L
Mandiri,2009.
25.
Tebba Sudirman. Jurnalistik Baru. Jakarta: Kalam
Indonesia. 2005.
dlL
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
Oleh:
Anggraini Prastikasari 1110013000112
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah
: SMP Darul Muttaqien Jakarta
Mata Pelajaran
: Bahasa dan Sastra Indonesia
Kelas/ Semester
: VIII/II
Alokasi Waktu
: 2 x 45 Menit
Standar Kompetensi : Mengungkap informasi dalam bentuk rangkuman, teks berita,
slogan/poster.
Kompetensi Dasar
: Menulis teks berita secara singkat, padat dan jelas.
Indikator
:
Sebagai indikator yang menunjukkan bahwa siswa telah mampu menguasai
kompetensi dasar dengan baik, mereka dapat:
1. Menyimak isi berita yang dibacakan/ dari radio/televisi
2. Mencatat pokok-pokok isi berita yang disampaikan menyangkut unsur
5W+1H
3. Menulis teks berita sesuai dengan unsur 5W+1H
Tujuan Pembelajaran
1. Siswa mampu menyimak dan memahami isi berita yang dibacakan/ dari
radio/televisi
2. Siswa mampu mencatat pokok-pokok isi berita yang disampaikan
menyangkut unsur 5W+1H
3. Siswa mampu menulis teks berita sesuai dengan unsur 5W+1H
Materi Ajar (Materi Pokok)
(Lampiran)
Metode Pembelajaran
Tanya jawab, ceramah, diskusi, inquiri, penugasan.
Sumber Belajar (Media Pembelajaran)
a) Pemilihan Media Pembelajaran
Analisis Tujuan
Aktivitas Siswa
Pembelajaran
Menyimak dan
Kognitif
memahami isi
berita
Kognitif
Sifat Pengadaan
yang Dipilih
Psikomotorik dan
Kognitif
Jenis Media
Mencatat
Multimedia
Rancangan individu:
Langkah-langkah:
pokok-
-Perencanaan:
pokok isi berita
menentukan materi,
Menulis teks berita
pencarian bahan
sesuai dengan unsur
-Pelaksanaan:
5W+1H
pembuatan powerpoint
dan rpp
-Evaluasi hasil
pembuatan media
b) Isi Program Media
Tema
Indikator
Pesan Multimedia
Skenario Pemanfaatan
keberhasilan Melalui
Media
Berita
Menyimak dan
Menemukan
memahami isi berita
informasi dari isi
berita
Mencatat pokok-
Mampu mencatat
pokok isi berita yang
pokok-pokok isi
disampaikan
berita yang
disampaikan
Menulis teks berita
Mampu menulis
sesuai dengan unsur
teks berita sesuai
5W+1H
dengan unsur
5W+1H
Langkah-langkah Pembelajaran
No. Kegiatan
1.
Pendahuluan

Waktu
Nilai Karakter
10 menit
Tanya Jawab
Guru mengucapkan salam
pembuka
Nilai Religius
“Assalamualaikum wr. Wb?”

Guru menanyakan keadaan
siswa pada hari itu (menyiapkan
psikis dan fisik siswa untuk
Metode
Nilai Sosial
belajar)
“Selamat pagi anak-anak?
Bagaimana kabarnya? Sudah
siap untuk belajar hari ini?”

Guru bertanya kepada siswa
tentang materi berita (membuka
schemata siswa)
“ Hari ini kita akan membahas
berita! Ada yang mengetahui
berita itu apa? Apakah kalian
sudah pernah mendengarkan
orang membaca berita? Atau
kalian sendiri pernah
melakukannya?”
2.
Kegiatan Inti

70 menit
Ceramah,
Diskusi,
Guru menjelaskan materi berita
dengan bantuan media
powepoint (untuk menyamakan
presepsi siswa)

Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk
Nilai Psikologi
menanyakan apa yang tidak
mereka pahami

Siswa menyimak dan
memahami isi berita.

Inquiri
Siswa mencatat pokok-pokok
isi berita yang disampaikan.
Penugasan

Guru menugaskan siswa untuk
menulis teks berita secara
individu dengan tema yang
tidak ditentukan, isi berita harus
sesuai dengan unsur 5W+1H.
Kegiatan Penutup
3.

10 menit
Guru bersama dengan siswa
mengadakan refleksi terhadap
proses dan hasil belajar dengan
cara mengulas kembali materi
berita yang telah dipelajari.

Nilai Religius
Guru menutup pertemuan
dengan salam penutup.
“ Baik, pelajaran kita sampai
disini, kita lanjutkan lagi pada
pertemuan selanjutnya! Semoga
apa yang telah kita pelajari
dapat
bermanfaat
semua!
Penilaian Hasil Belajar
Jenis tagihan
 Tugas individu
 Ulangan
kita
Wassalamualaikum
wr.wb”

bagi

Bentuk instrumen
 Uraian Bebas
 Jawaban Singkat
Nilai Kriteria:
(10-9) A
( 8-7 ) C
( 9-8 ) B
( 7-6 ) D
( 6-5 ) E
Jakarta, 3 Maret 2014
Mengetahui,
Kepala SMP Darul Muttaqien Jakarta
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
Dra. Hj. Siti Nuraisyah
Anggraini Prastikasari
NIP
NIM. 1110013000112
Lampiran Materi
Menulis Teks Berita
Teknik menulis berita pada dasarnya sama dengan menulis atau mengarang pada
umumnya. Perbedaannya hanyalah terletak sumber tulisan. Jika kita mengarang cerita
sumbernya adalah imajinasi, sedangkan menulis berita sumbernya adalah peristiwa
atau hal-hal nyata yang benar-benar terjadi.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menulis berita adalah sebagai
berikut:
1. Menentukan peristiwa sebagai objek berita
2. Mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan peristiwa tersebut
3. Menyusun kerangka penulisan
4. Mengembangkan kerangka penulisan dalam bentuk berita
5. Menyunting atau mengedit berita hasil penulisan
6. Mempublikasikan tulisan melalui majalah dinding atau media massa.
Perlu diketahui dalam menulis berita:
1. Judul berita
a. Sesuai dengan keseluruhan isi berita.
b. Menarik, menimbulkan minat pembaca untuk mengetahui isi berita
c. Singkat, padat, mudah dipahami
2. Isi berita
Isi berita hendaknya meliputi 5W dan 1H, yaitu What (apa yang terjadi dalam
peristiwa tersebut?), When (kapan terjadinya peristiwa tersebut?), Who (siapa
yang terlibat dalam peristiwa tersebut?), Where (di mana terjadinya peristiwa
tersebut?), Why (kenapa dapat terjadi peritiwa tersebut?), dan How
(bagaimana kejadiannya?).
^&
KEMENTERIAN AGAMA
UlN JAKARTA
FITK
Lry-mw.5"1
Jl. lr. H. Juanda No 95 Cipulat 15412 lndanesia
r-N,.-..)N-i
No Dokumen
FORM (FR)
:
Tgl.
Terbit :
No.
Revisi:
:
FITK-FR-AKD-081
1 Maret
2010
01
1t1
Hal
SURAT BIMBINGAN SKRIPS!
Nomor ; Un.01/F. 1/KM.O 1.3i....... ....12012
Larnp. :Hal :Bimbingan Skripsi
Jakarta,3 Desember 20
I3
Kepada Yth.
Djoko Kentjono, M.A.
Pembimbing Skripsi
Fakultas llmu Tarbiyah dan Keguruan
UN Syarif Hidayatullah
'
Jakarta.
As
s
alamu' alaikum wr.wb.
Dengan
ini
diharapkan kesediaan Saudara untuk menjadi pernbimbing
l/ll
(materi/teknis) penulisan skripsi mahasiswa:
: Anggraini Prastikasari
Nama
:1110013000112
NIM
: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan
Semester :7
Judul Skripsi :Afiksasi Pembentuk Verba dalam Tajuk
Rencana Harian Kompas
Sebagai Sumber Belajar
Judul lerscbu'" teleh disotu.jul oleh Jurusan 3,ang bersangk'-rtan pada tangga! 3 Desen-rtrcr
2013, abstraksiloutline terlampir. Saudara dapat melakukan perubahan redaksional pada
judul tersebut. Apabila perubahan substansial dianggap perlu, mohon pembimbing
menghubungi Jurusan terlebih dahulu.
Bimbingan skripsi
ini
diharapkan selesai dalam waktu
6
(enam) bulan, dan dapat
diperpanjang selama 6 (enam) bulan berikutnya tanpa surat perpanjangan.
Atas perhatian dan kerja sama Saudara, kami ucapkan terima kasih.
14/as s
al amu' al ai kum wrw b.
a.n. Dekan
Kajur Pend. Bahasa dan Sas]ra Indonesia
Dra. Mahm
NIP. 19640
Tembusan:
Dekan FITK
Mahasisrva ybs.
1.
2.
Fitriyah ZA, M.Pd
199103 2 001
KEMENTERIAN AGAMA
UIN JAKARTA
FITK
Jt. lr. H- Juaftda l,lo
1gt2
95 Clpidlat
No.
Dokumen
:
FITK-FR-AKD-082
FORM (FR)
tndr,n$ia
SURAT PERMOHONAN IZIN PENELITIAN
Nomor : Un.01 /F. 1/KM.01
.9t ........t2CI1
Jakarta, 22Maret 2A14
1
Lamp. : Outline/Proposat
Hal : Permohonan lzin penelitian
Kepada Yth"
Kepala Sekolah SMP DarulMuttaqien
di
Tempat
Assalamu' a la iku m wr.wb.
Dengan hormat kami sampaikan bahwa,
Nama
Anggraini Prastikasari
NIM
11
Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra lndonesia
Semester
vilr
Judul Skripsi
100130001 12
Afiksasi Pembentuk Verba Dalam Teks Berita Siswa Kelas Vlil di
SMP DarulMuttaqien Jakarta Tahun Pelajaran 2O13f2814
adalah benar mahasiswa/i Fakultas llmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Jakarta yang
sedang menyusun skripsi, dan akan mengadakan penelitian (riseti
instansi/sekolah/madrasah yang Saudara pimpin.
Untuk
itu kami mohon Saudara dapat
melaksanakan penelitian dimaksud.
mengizinkan mahasiswa tersebut
Atas perhatian dan kerja sama saudara, kamiucapkan terima kasih.
Wassalamu' a laiku m wr.wb.
a.n. Dekan
Kajur Pend. Bahasa dan
1.
2.
3,
Dekan FITK
Pembantu Dekan Bidang Akademik
Mahasiswa yang bersangkutan
NIP.
Indonesia
Fitriyah ZA,MP1,
Dra.
Tembusan:
di
1
t2
199703 2 001
\''
'
"{f}ARtj
'
t::. .:
,;
'.;'.
'
:'
:'
ffi&trF
ffiT.Y
XffiTq*{
#x&*iiri: I*.iirffi x.s e ffii.l\rfl *in
.;r:
Fes*rtggrah*lt
.$a$tac-ta -
sIrqAT KE*X&ANGAN
No. F. 622
Yang bertanda tangan di bar,r'a ini
1
SMP.DM I Ifi I :0 i4
:
Nam*
Sra. tr{j.'$iti 1 xr*irsy,*h
Jabatan
K*paia Seir*l*h
Alamat
JI. H" Kssan Misi* N*;' t?6 Petuka*snn
_ -G-'--- titara
- ----"'
Pesang grahan, Jakarta Selatan
Menyatakan
bahw'a
:
Narlta
A}ifi SRAII{I FR,4STII{ASAfr,!
NIM
]
Prodi
Pendidikafi Eahasa dax $a*tra Indonesia
r,rssl3flr]*1i2
Narnatersebut adalah Mahnsiswa Fskults$ Iknu Tarhiyah da* Kegrma* UIN Syarit }tidayatullah
Jakartn diizinknn untuk mengadakan Shservasi/Penelitian di SMp Darul hduttaqien dengan_iudul
skripsi 'X*cl&r*4li&sari Vefha dalam T**s Eerits.Sisr+s Ketarr VIII di SMp Dawl $dxfr*qter.
Tthun ?r;lajas*n ZfiI 3*2& I { ""
Sernikian $urat K*tera*gan ini dihuat
dengan
m*sti*y*.
A.tas perhatinmya kartri
agar dap*t digunaknn sebagai*ra*a
l
umpkm trrjrlrs
iss$ifu.
s,lvx p
&ffiNs$,l
$URAH.,S$TSR*3{S&S[
No. F"6'?3 / $F-.{P.'}M I Iff 12014
Yang krt*nde taugnn din bawah
i*i :
lrixrn*
Xlm" IXJ, Siti l{rxraiey*b
,I*t**ra*
K*pcla sek*lah
Alarnat
$"
fi.
K.cse&
Mixin N*.
il$
Pe,t*kang,a* Utara
Ferurng*Ifrh*$* Jakarta S*lsteft
&fenyatakan bahwa
:
Nanra
A}{SG*ATHI TRASTIKA$&ITX
hiIM
I I r00130001 1:
Peu*Jidihar:' &ah,e$* dare Saxxa k*drulesia
l*lama temebrf adal*h Mahgsiswa Fakultas trknu Tarbiyah dsn Keguru*n
Hidayatutlah Jeksrta yang telah selesai rnelakukan peneiitian di
judui sl*ipsi ti4nmi*Jr Yerba dst&tt Y*k #€rit&
fuhxn fu{a!*ru* 3#l
Sist*,n JFefsr
UIN
$h{f l}arul Muttaqien
Wll dt,$ifP
$yarif
d*ngar:
"Srad il{*trg,glen
3-20 I 4*,
Demikian Surat Keterangan ini dibuat dengan sebenarnya agar dapat digunaka* sebagaimana
mestinya At*s prhatiarnya kami *capkan t*rima kasih.
PENELITIAN DI SMP DARUL MUTTAQIEN JAKARTA
BIODATA PENULIS
Anggraini Prastikasari, lahir di Jakarta, 12 Agustus 1992.
Ay, panggilan sehari-harinya, anak tunggal, dari orangtua
bernama Heru Prasetyo dan Nurlaila. Saat ini, ia tinggal di
Jl. H. Gaim Rt. 10 Rw. 002 No. 68 Petukangan Utara,
Jakarta Selatan. Mendengarkan musik dan jalan-jalan
adalah hobinya. Gadis ini tamat sekolah dasar di SD Islam
Darul Muttaqien pada 2004,
sekolah menengah pertama di SMP Negeri 153 Jakarta pada 2007, dan sekolah
menengah kejuruan di SMK Negeri 6 Jakarta pada 2010.
Pada 2010, ia kuliah di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, program studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia. Selama kuliah banyak pelajaran yang didapatkannya, mulai dari
ilmu yang diberikan oleh dosen, pengalaman mengajar di lembaga pendidikan
LP3i, sampai sahabat-sahabat yang luar biasa. Wanita ini juga memiliki lembaga
pendidikan pribadi yang diberi nama “Smart House” yang berdiri sejak 2013
hingga saat ini.
Download