BAB II
PENDIDIKAN GURU DAN KREATIFITAS INOVASI MANAJEMEN
PEMBELAJARAN MADRASAH
A. Pendidikan Guru
1. Pengertian Pendidikan Guru
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat bangsa, dan negara. 1
Dalam persepektif pendidikan Islam, pendidik bertanggung jawab terhadap
perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh
potensi peserta didik baik potensi afektif (sikap), kognitif (pengetahuan),
maupun psikomotorik (perilaku).2
Guru atau pendidik merupakan orang dewasa yang mempunyai
tanggung jawab dengan pendidikan yang ia berikan kepada orang lain dan
pendidikan bagi dirinya. Pendidik dalam lingkungan keluarga adalah orang
tua, karena secara alami anak-anak pada masa awal kehidupannya berada di
tengah-tengah keluarga, sedangkan pendidik di lembaga persekolahan
1
UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Semarang: Aneka
Ilmu, 2003), hlm. 4.
2
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosda Karya,
1994), hlm. 75.
23
24
disebut dengan guru, yang meliputi guru madrasah atau sekolah tingkat TK
sampai dosen di perguruan tinggi.3
Berdasarkan kelembagaannya, dalam pengertian yang sederhana,
guru adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu,
tidak harus di lembaga pendidikan formal, namun bisa di masjid, surat atau
musola, di rumah dan sebagainya.4
Jadi, guru adalah orang yang harurs bertanggung jawab atas segala
sikap, tingkah laku dan perilakunya dalam rangka membina jiwa dan watak
anak didik. Guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan pendidikan dengan mengupayakan perkembangan peserta didik
baik perkembangan sikap, pengetahuan dan perilakunya.
Moh. Uzer Usman menjelaskan, bahwa guru merupakan profesi atau
jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.
Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian
untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Orang yang pandai
berbicara dalam bidang-bidang tertentu belum tentu dapat disebut sebagai
guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai
guru yang profesional yang harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan
dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu
dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau pendidikan
pra jabatan.5
3
Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2000), hlm. 31.
4
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2003), hlm. 31.
5
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional (Bandung: PT. Rosda Karya, 2005), hlm. 5.
25
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa pendidikan guru adalah
tingkat pendidikan yang dicapai oleh guru dalma rangka membekali dirinya
untuk menjadi tenaga profesional yang dapat menjadikan murid-muridnya
mampu merencanakan, menganalisis, dan menyimpulkan masalah yang
dihadapi, berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan
membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah
maupun di luar sekolah.
2. Jalur Pendidikan Guru
Berdasarkan pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Nomor 20 Tahun 2003 mengemukakan bahwa jalur pendidikan terdiri atas
pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi
dan memperkaya.
a. Pendidikan formal
Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.6 Untuk kualifikasi tenaga
profesional guru, ia harus menempuh pendidikan formal sesuai dengan
kualifikasi minimum dan sertifikat mengajar sesuai dengan jenjangnya.
Adapun pendidikan formal guru yaitu pendidikan tinggi yang
memiliki jurusan ilmu pendidikan, misalnya PGTK, PGSD, PGMI dan
pendidikan lainnya, serta mengeluarkan sertifikat kewenangan mengajar
(Akta Mengajar), baik akta II untuk Diploma Dua maupun akta IV untuk
Sarjana Strata Satu.
6
DEPAG RI, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam UU Sisdiknas,
(Jakarta: DEPAG RI, 2003), h. 41.
26
b. Pendidikan non formal
Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus,
lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat
dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Untuk tenaga
profesional guru pendidikan non formal terutama pada lembaga
pelatihan.7
Adapun pendidikan non formal yang dapat ditempuh oleh tenaga
profesional guru misalnya pendidikan di lembaga kursus dan pelatihanpelatihan yang diselenggarakan oleh dinas atau lembaga pendidikan
terkait. Pelaksanaan pendidikan dan latihan untuk guru dilakukan
berdasarkan keputusan lembaga administrasi negara (LAN) dalam Surat
Edarana Nomor 157/Seklan/6/7, tanggal 1 Juni 1997.8
c. Pendidikan informal
Kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan
lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.9 Adapun
pendidikan informal ini dapat ditempuh dalam pendidikan di Madrasah
Diniyah Awaliyah (MDA), pondok pesantren dan taman pendidikan AlQur’an (TPQ).10
7
Ibid., hlm. 45.
Soebagio Atmodiwirio, Manajemen Training Pedoman Praktis Bagi Penyelenggara
Training (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), hlm. 11.
9
DEPAG RI, Op.Cit., hlm. 45.
10
Depag RI, Op.Cit., hlm. 45.
8
27
3. Syarat Menjadi Guru
Mengingat bahwa guru merupakan profesi atau pekerjaan yang
memerlukan keahlian khusus, maka diperlukan syarat-syarat khusus bagi
profesi guru, yaitu antara lain:
a. Menuntut adanya ketrampilan yang berdasarkan konsep dan teori Ilmu
pengetahuan yang mendalam.
b. Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan
bidang profesinya.
c. Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai.
d. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang
dilaksanakannya.
e. Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
f. Memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas-tugas dan
fungsinya.
g. Memiliki klien atau objek layanan yang tetap seperti dokter dan
pasiennya, guru dan muridnya.
h. Diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di
masyarakat.10
Menurut Zakiah Darajat, dkk, syarat-syarat bagi seorang guru
adalah:
a. Taqwa kepada Allah Swt
b. Berilmu
10
28
c. Sehat Jasmani
d. Berkelakuan baik.11
4. Tujuan dan Fungsi Guru
Tugas dan fungsi guru sebagaimana dikemukakan oleh Ramayulis
yaitu:
a. Sebagai pengajar (intruksional) yang bertugas merencanakan program
pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun, dan penilaian
serta program itu dilaksanakan.
b. Sebagai pendidika (educator) yang mengarahkan siswa pada tingkat
kedewasaan dan kepribadian yang mantap dan sempurna.
c. Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin dan mengendalikan
diri sendiri, siswa dan masyarakat yang terkait, menyakut upaya
pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, partisipasi
atau program yang dilakukan itu.12
Ketiga tugas dan fungsi guru di atas merupakan satu kesatuan yang
tak terpisah, sehingga ketiga tugas itu harus dilakukan dengan baik dan
secara berkesesuaian satu dengan lainnya.
5. Kompetensi yang Harus Dimiliki Guru
a. Kompetensi Mengajar Guru
Kompetensi mengajar guru atau kompetensi guru sebagaimana
dijelaskan dalam UU RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
pasal 10 menyebutkan bahwa kompetensi guru sebagaimana dimaksud
11
12
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, hlm. 15.
Ramayulis, Op.Cit., hlm. 63.
29
dalam pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial dan kompetensi profesional, yang diperoleh melalui
pendidikan
profesi.
Keempat,
kompetensi
guru
yang
meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi
profesional merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap
guru.13 kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan
personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spiritual yang secara kaffah
membentuk
kompetensi
standar
profesi
guru
yang
mencakup
penguasaan materi, pemahaman peserta didik, pembelajaran yang
mendidik, pengembangan pribadi dan pengembangan profesionalisme.
Keempat standar kompetensi tersebut akan dipaparkan pada penjabaran
berikut ini:
1) Kompetensi Pedagogik
Kompetensi
pedagogik
adalah kemampuan
mengelola
pembelajaran peserta didik.14 Pengelolaan ini berkaitan dengan
kemampuan guru dalam menguasai dasar-dasar ilmu mendidik atau
teori-teori pendidikan. Menurut E. Mulyasa kemampuan pedagogik
adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang
meliputi: pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan, dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan
13
14
Farida Sarimaya, Lampiran UU RI Nomor 14 Tahun 2005, hlm. 119.
Farida Sarimaya, Lampiran UU RI Nomor 14 Tahun 2005, hlm. 157.
30
Peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang
dimilikinya.15
Hal-hal yang meliputi kompetensi pedagogik menurut E.
Mulyasa, yaitu:
a) Kemampuan mengelola pembelajaran
b) Pemahaman terhadap peserta didik
c) Perancangan pembelajaran
d) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
e) Pemanfaatan teknologi pembelajaran
f) Evaluasi hasil belajar
g) Pengembangan peserta didik.16
Moh. Uzer Usman dalam bukunya Menjadi Guru Profesional
menyebuatkan beberapa kompetensi pedagogik yang harus dimiliki
oleh seorang guru, antara lain:
a) Mengenal tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional, ini dilakukan melalui upaya:
-
Kajian terhadap tujuan pendidikan nasional.
-
Kajian terhadap tujuan pendidikan dasar dan menengah.
-
Penelitian yang berkaitan antara tujuan pendidikan dasar dan
menengah dengan tujuan pendidikan nasional.17
15
E. Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2008), hlm. 75.
16
Ibid., hlm. 75.
17
Moh. Uzer Usman, Op.Cit., hlm. 16-19.
31
-
Kajian
terhadap
kegiatan-kegiatan
pengajaran
yang
menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional.
b) Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat, kompetensi ini
dilakukan dengan perbuatan:
-
Kajian terhadap peranan sekolah sebagia pusat pendidikan
dan kebudayaan.
-
Kajian terhadap peristiwa yang mencerminkan sekolah
sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.
-
Pengelolaan kegiatan sekolah yang mencerminkan sekolah
sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan.
c) Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat
dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar, untuk itu perlu
melakukan:
-
Kajian
terhadap
jenis
perbuatan
untuk
memperoleh
pengetahuan, keterampilan dan sikap.
-
Kajian terhadap prinsip-prinsip belajar.
-
Terapan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan belajar
mengajar.
2) Kompetensi Kepribadian
Kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif
dan berwibawa, serta menjadi teladan peserta didik.18 Guru sering
ditanggap sebagai sosok yang memiliki kepribadian yang ideal, oleh
18
Farida Sarimaya, Lampiran UU RI Nomor 14 Tahun 2005, hlm. 157.
32
karena itu, pribadi guru yang sering dianggap sebagai model atau
panutan (yang harus digugu dan ditiru).
Kepriabdian adalah unsur yang menentukan keakraban
hubungan guru dan anak didik. Kepribadian dapat dilihat dari
perilaku guru dalam kehidupan sehari-hari. Sedikit saja guru berbuat
yang tidak atau kurang baik akan mengurangi kewibawaannya dan
kharisma pun secara perlahan lebur dari jati diri berdasarkan
panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan karena tuntutan belaka,
yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas dinding
sekolah.19
Seorang guru harus memiliki beberapa kepribadian yang
nantinya dapat dilihat oleh siswanya dalam perbuatan selama
mengajar. Menurut E. Mulyasa, kepribadian yang dimiliki oleh
seorang guru, yaitu:
a) Kepribadian yang mantap, stabil dan dewasa
Dengan adanya kepribadian yang mantap maka guru
dapat menjaga kestabilan emosionya sehingga kemarahan guru
dalam kelas tidak begitu saja diledakkan. Kestabilan emosi ini
merupakan bentuk ke ewasaan seseorang dalam memahami
sesuatu.20
19
20
Syaiful Bahri Djamarah, Op.Cit., hlm. 42.
E. Mulyasa, Op.Cit., hlm. 121-131.
33
b) Disiplin, arif dan berwibawa
Kedisiplinan merupakan sesuatu yang harus diajarkan
kepada siswanya, agar dalam kehidupannya ia berperilaku dan
berbuat sesuatu dengan norma-norma yang berlaku. Dalam hal
ini
kedisiplina
harus
dimulai
dari
gurunya
dan
guru
mengajarkannya kepada siswanya. Kedisiplinan yang tinggi akan
membawa kewibawaan kepada seorang guru, sehingga siswa
menyeganinya.
c) Menjadi teladan bagi siswanya
Sebagai orang dewasa yang menjadi orang tua di sekolah
maka secara otomatis siswa akan meniru segala perkataan,
perbuatan gurunya. Oleh karen aitu, guru harus dapat
memberikan kesan yang baik terhadap siswanya sehingga siswa
terseut dapat meniru kebaikan-kebaikan gurunya.
d) Berakhlak mulia
Guru harus berakhlak mulia, karena ia adalah seorang
penasehat bagi pserta didik atau siswanya.21
3) Kompetensi Sosial
Kemampuan guru untuk berkomuknikasi dan berinteraksi
secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang
tua dan wali peserta didik dan masyarakat sekitar.22 Seorang guru
21
22
Ibid., hlm. 117-131.
Farida Sarimaya, Lampiran UU RI Nomor 14 Tahun 2005, hlm. 157.
34
tidak dapat melepaskan dirinya dari bidang kehidupan masyarakat,
karena ia hidup juga sebagai anggota masyarakat.
Kompetensi-kompetensi sosial yang sekurang-kurangnya
dimiliki guru dalam kehidupan sosialnya yaitu:23
a) Berkomunikasi secara lisan, tulisan dan isyarat.
b) Penggunaan
teknologi
komunikasi
dan
informasi
secara
fungsional.
c) Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik,
tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan
d) Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Menurut Uzer Usman, yang termasuk dalam kompetensi
sosial yaitu:24
a) Berinteraksi
dengan teman sejawat
untuk
meningkatkan
kemampuan profesional, hal ini dilakukan dengan cara:
-
Kajian terhadap ajaran struktur organisasi Depdikbud.
-
Kajian terhadap hubungan kerja profesional.
-
Berlatih menerima dan memberikan balikan.
-
Pembiasaan diri dalam mengikuti perkembangan profesi.
b) Berinteraksi
dengan
masyarakat
untuk
penunaian
misi
pendidikan, yang dilakukan melalui:
-
Kajian terhadap berbagai lembaga kemasyarakatan yang
berkaitan dengan pendidikan.
23
24
E. Mulyasa, Op.Cit., hlm. 173.
Moh. Uzer Usman, Op.Cit., hlm. 16-17.
35
-
Berlatih menyelenggarakan kegiatan kemasyarakatan yang
menunjang usaha pendidikan.
4) Kompetensi Profesional
Kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan
mendalam.25 Kompetensi profesional yang bersifat khusus untuk
guru di antaranya meliputi hal-hal sebagai berikut:
a) Memahami standar nasional pendidikan
b) Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan
c) Menguasai materi standar
d) Mengelola program pembelajaran
e) Mengelola kelas
f) Menggunakan media dan sumber pembelajaran
g) Menguasai landasan-landasan kependidikan
h) Memahami dan melaksanakan pengembangan peserta didik
i) Memahami dan menyelenggarakan administrasi sekolah
j) Memahami penelitian dalam pembelajaran
k) Menampilkan
keteladanan
dan
kepemimpinan
dalam
pembelajaran
l) Mengembangkan teori dan konsep dasar kependidikan
m) Memahami dan melaksanakan kosnep pembelajaran individual.
Menurut Uzer Usman, kompetensi profesional ini meliputi:
a) Menguasai bahan pengajaran, yang meliputi:
25
Farida Sarimaya, Lampiran UU RI Nomor 14 Tahun 2005, hlm. 157.
36
-
Penguasaan bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar
dan menengah.
-
Kajian terhadap kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
-
Telaah tentang buku teks pendidikan dasar dan menengah.
-
Telaah tentang buku-buku pedoman khusus bidang studi.
-
Pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dinyatakan dalam buku
teks dan buku pedoman khusus.
b) Menguasai bahan pengayaan, dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
-
Kajian terhadap bahan penunjang yang relevan dengan bahan
bidang studi atau mata pelajaran.
-
Kajian terhadap bahan penunjang yang relevan dengan
profesi guru.
c) Melaksanakan program pengajaran yang meliputi:
-
Ciptaan terhadap iklim belajar mengajar yang tepat.
-
Kajian terhadap faktotr-faktor pengelolaan kelas.
-
Kajian terhadap prinsip-prinsip pengelolaan kelas.
-
Ciptaan terhadap suasan abelajar mengajar yang baik.
-
Penanganan masalah pengajaran dan pengelolaan.
d) Mengatur ruangan belajar dengan berpedoman pada:
-
Kajian terahdap berbagai tata ruang belajar.
-
Kajian terhadap kegunaan sarana dan prasarana kelas
-
Aturan tentang ruang belajar yang tepat.
37
e) Mengelola interaksi belajar-mengajar, pengelolaan ini dilakukan
dengan cara:
-
Kajian terhadap cara-cara mengamati kegiatan belajarmengajar.
-
Dapat mengamati kegiatan belajar-mengajar.
-
Dapat mengatu rmurid dalam kegiatan belajar-mengajar.26
B. Kreativitas Inovasi Manajemen Pembelajaran
1. Pengertian Kreativitas Inovasi Manajemen Pembelajaran
Kreativitas adalah proses yang dilakukan oleh seseorang yang
menyebabkan ia menciptakan yang baru baginya. Keberadaan guru untuk
menciptakan sesuatu yang baru bagi dirinya diwujudkannya dalam bentuk
kreatifitas.27
Sedangkan inovasi adalah usaha untuk menemukan benda yang baru
dengan jalan melakukan kegiatan (usaha). Ibrahim juga mengatakan bahwa
inovasi adalah penemuan yang berupa suatu ide, barang, kejadian, metode,
yang diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau kelompok
orang (masyarakat).28
Pada hakikatnya baik kreatifitas maupun inovasi memiliki tujuan
yang sama yaitu menghasilkan hal yang baru. Perbedaannya apabila
26
Moh. Uzer Usman, Op.Cit., hlm. 18-19.
Hasan Langgulung, Kreativitas dan Pendidikan Islam: Analisis Psikologis dan Falsafah
(Jakarta: Radar Jaya Offset, 2001), hlm. 236.
28
Subandijah, Pengembangan dan Inovasi Kurikulum (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
2003), hlm. 80.
27
38
kreativitas lebih pada proses mencipta sedangkan inovasi pada proses
penemuan.
Adapun pengertian manajemen, mengutip Giegold, bahwa proses
manajemen adalah aktivitas yang melingkar, mulai dari perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan sampai pada pengawasan, kemudian kembali
lagi pada perencanaan, pengorgnaisasian dan seterusnya dengan tidak
pernah berhenti.29 Selanjutnya manajemen akan menghasilkan kegiatankegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dengan keberhasilan yang
telah ditentukan.
Sedangkan Scalan dan Key mendefinisikan bahwa manajemen
sebagia proses pengoordinasian dan pengintegrasian semua sumber baik
manusia, fasilitas maupun sumber daya teknikal lain untuk mencapai
berbagai tujuan khusus yang ditetapkan. Sedangkan Terry mendefinsiikan
manajemen dari sudut pandang fungsi organiknya, bahwa manajemen
adalah proses perencanaan, pengorganisasian, aktuasi, pengawasan baik
sebagai lmu maupun seni untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya.30
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsurunsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, prosedur yang saling
mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.31
29
Musfirotun Yusuf, Manajemen Pendidikan: Sebuah Pengantar (Pekalongan: STAIN
Pekalongan, 2008), hlm. 4.
30
Konsep Dasar Manajemen dan Manajemen Kelas, hlm. 164.
31
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 57.
39
Sebagaimana dikutip oleh Ramayulis pembelajaran menurut Corey
adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja untuk
memungkikan ia turut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus untuk
menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.32
Berdasarkan pada pengertian di atas, maka kreatifitas inovasi
manajemen pembelajaran adalah kemampuan guru dalam menciptakan dan
menemukan hal baru dalam melakukan perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengevaluasian terhadap proses perubahan tingkah laku
pada siswa.
2. Prinsip dan Ruang Lingkup Manajemen Pembelajaran
Berdasarkan pada pengertian di atas, maka prinsip dan ruang lingkup
yang terkandung dalam manajemen pembelajaran meliputi proses
perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), aktuasi (actuating)
dan pengawasan (controling) yang dilakukan dalam proses pembelajaran.
Prinsip ini biasa dikenal dengan istilah POAC. Dalam manajemen
pembelajaran maka ruang lingkupnya akan dijabarkan sebagai berikut:
a. Perencanaan pembelajaran
Perencanaan pembelajaran dapat didefinisikan suatu proses dan
cara berpikir mengenai suatu hal yang dilakukan dengan tujuan agar diri
seseorang dapat berubah.33 Menurut Rosyada sebagaimana dikutip oleh
Suwardi menyebutkan bahwa perencanaan pembelajaran meliputi:
32
33
Ramayulis, Op.Cit., hlm. 239.
Suwardi, Op.Cit., hlm. 30.
40
rumusan tentang apa yang akan diajarkan, cara mengajar, dan tingkat
penguasaan siswa terhadap bahan yang akan diajarkan.34
Perangkat dari perencanaan pembelajaran meliputi: silabi dan
rencana pembelajaran.
1) Silabi atau silabus
Silabus
merupakan
hasil
atau
produk
kegiatan
pengembangan desain pembelajaran. Silabus dapat didefinisikan
sebagai garis besar ringkasan, iktisar, atau pokok-pokok ini atau
materi pelajaran.35 Istilah silabus sering digunakan untuk menyebut
produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut
dari standar kompetensi, kompetensi dasar, serta uraian pokokpokok materi. Dengan demikian maka komponen-komponen dari
silabus adalah sebagai berikut:
a) Standar kompetensi
b) Kompetensi dasar
c) Materi pokok
d) Strategi pembelajaran
e) Alokasi waktu
f) Sumber bahan
2) Rencana pembelajaran
Rencana
pembelajaran
atau
rencana
pelaksanaan
pembelajaran yang sering disebut dengan RPP. RPP adalah
34
Ibid., hlm. 30.
Masnur Muslich, KTSP: Dasar Pemahaman dan Pengembangan (Jakarta: Bumi Aksara,
2007), hlm. 23..
35
41
rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang diterapkan
guru dalam pembelajaran di kelas.36 Formt RPP pada setiap lembaga
beragam, namun secara garis besarnya RPP harus memuat aspekaspek sebagai berikut:
a) Pokok bahasan
b) Subpokok bahasan
c) Tujuan umum (kompetensi/standar kompetensi)
d) Tujuan khusus (indikator kompetensi/kompetensi dasar)
e) Prosedur dan materi
Menurut Suwardi, secara umum RPP di Indonesia biasanya
memuat aspek-aspek sebagai berikut:37
a) Identitas mata pelajaran yang meliputi:
-
Mata pelajaran
-
Pokok bahasan
-
Sub pokok bahasan
-
Kelas
-
Semester
-
Waktu
b) Tujuan (standar kompetensi dan kompetensi dasar)
c) Materi
d) Metode
e) Media/alat
36
37
Ibid., hlm. 45.
Suwardi, Op.Cit., hlm. 42.
42
f) Evaluasi
g) Sumber bahan
Adanya perencanaan ini sebagaimana dikutip dari Yusuf
Enoch, merupakan proess mempersiapkan hal-hal yang akan
dikerjakan pada waktu yang akan datang untuk mencapai suatu
tujuan yang telah ditetapkan lebih dahulu.38 Dengan demikian
perencanaan pembelajaran dimaksudkan untuk mempersiapkan
proses pembelajaran secara sistematis untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.
b. Pengoganisasian Pembelajaran
Menurut Terry sebagaimana dikutip oleh Musfirotun Yusuf
mengemukakan bahwa pengorganisasian meliputi: pembuatan struktur
dengan bagian-bagian yang diintegrasikan sehingga hubungan mereka
dalam organisasi satu sama lain dipengaruhi oleh hubungan mereka
secara
keseluruhan
dalam
sistem.39
Dengan
demikian
maka
pengorganisasian pembelajaran adalah pembuatan bagian-bagian yang
diintegrasikan yang kesemuanya saling berpengaruh dan berkaitan
dalam
sistem
pembelajaran.
Pengorganisasian
pembelajaran
ini
meliputi: pengorganisasian materi pembelajaran, metode pembelajaran,
dan media pembelajaran.
38
Ahmad Muthohar, Urgensi Perencanaan Strategi dan Taktis Dalam Pendidikan,
Dinamika Ilmu Jurnal pendidikan, vol. VII, No. 1, Juni 2007, h. 114.
39
Musfirotun Yusuf, Op.Cit., hlm. 40.
43
1) Pengorganisasi materi pembelajaran
Kurikulum dan silabus di dalamnya berisi tentang pokokpokok materi yang harus disampaikan oleh guru kepada siswa.
Pokok-pokok materi yang harus disampaikan kadang membuat guru
mengalami kesulitan agar pokok-pokok tersebut dapat disampaikan
kepada siswa secara sistematis dan terarah. Tugas ini dapat
dilakukan oleh guru jika ia memiliki kompetensi yang baik dalam
memilih dan mengorganisasikan materi pembelajaran.40 Untuk dapat
mengorganisasikan materi pembelajaran dengan baik diperlukan
sumber materi yang harus dijaidkan pedoman bagi guru. sumber
materi ini adalah bahan rujukan, referensi atau literatur yang
digunakan guru dalam mengkaji dan mengembangkan pokok-pokok
materi pembelajaran yang harus disampaikan.
Pengembangan pokok-pokok materi pembelajaran harus
disesuaikan dengan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang
berlaku, dalam hal ini pengembangan KTSP. Prinsip-prinsip
pengembangan KTSP harus memperhatikan hal-hal berikut:
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
40
Peningkatan iman dan taqwa
Peningkatan akhlak mulia
Peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik
Keragaman potensi daerah dan lingkungan
Tuntutan pembanguann daerah dan nasional
Tuntutan dunia kerja
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Agama
Dinamika perkembangan global.
Suwardi, Op.Cit., hlm. 44.
44
j) Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.41
Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
mengorganisasikan materi pembelajaran meliputi: pemilihan materi
dan penyusuna materi.
Pemilihan materi pembelajaran kadangkala membuat guru
merasa kesulitan, hal ini karena disebabkan oleh faktor banyak dan
sedikitnya materi pembelajaran yang tersedia, perubahan ilmu
pengetahuan yang begitu cepat seiring dengan perkembangan
teknologi, perbedaan karakteristik siswa serta perubahan standarisasi
sistem penilaian.
Oleh karena itu, agar guru dapat dengan mudah memilih
materi maka guru perlu melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Mengidentifikasi dan menenukan pokok bahasan yang relevan
dengan tujuan pembelajaran.
b) Memerinci pokok bahasan tersebut menjadi sub pokok bahasan
atau topik.
c) Mencari berbagai sumber untuk mendapatkan materi yang
relevan dengan masing-masing sub pokok bahasan atau topik.
d) Mengidentifikasi dan menentukan materi yang benar-benar
relevan dengan masing-masing sub pokok bahasan atau topik
yang disampaikan dalam proses pembelajaran.42
41
42
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003.
Suwardi, Op.Cit., hlm. 58.
45
Setelah dilakukan pemilihan materi kemudian dilanjtukan
dengan
penyusunan
materi
pembelajaran,
sehingga
materi
pembelajaran tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dengan
urutan yang logis. Oleh sebab itu, dalam penyusunan materi perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Materi pembelajaran disusun dari materi yang sederhana ke
materi yang kompleks.
b) Materi pembelajaran disusun dari materi yang dianggap sulit.
c) Penyusunan materi sebaiknya diawali dari materi yang termasuk
konsep.43
Adanya pengorganisasi materi pembelajaran yang dilakukan
ditujukan untuk memudahkan trnasfer of knowledge kepada siswa
agar dapat diterima dengan mudah.
2) Pengorganisasian metode pembelajaran.
Secara literal metode berasal dari bahasa Greek yang terdiri
dari dua kata, yaitu meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti
jalan. Jadi metode berarti jalan yang dilalui.44
Secara istilah, Ramayulis menyebutkan metode adalah
seperangkat cara, jalan dan teknik yang digunakan oleh guru dalam
proses pembelajaran agar siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran
atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan dengan silabi
43
44
hlm. 65.
Ibid., hlm. 59.
Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filfasat Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2005),
46
mata pelajaran.45 Dengan demikian maka metode pembelajaran
adalah jalan atau cara yang digunakan oleh guru untuk
menyampaikan materi ajar untuk memudahkan siswa dalam
menyerap materi ajar sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.
Penggunaan dan pengambilan metode dilakukan agar proses
belaja rmengajar dapat berjalan efektif, sehingga siswa dapat
mengerti, memahami dan mengaplikasikan materi ajar yang
diberikan oleh pengajar dalam kehidupannya. Untuk itu diperlukan
prinsip-prinsip yang diperlukan dalam memilih metode mengajar
agar tujuan pembelajaran dapat tercapai yaitu:
a) Metode tersebut harus memanfaatkan teori kegiatan
mandiri. Pada dasarnya belajar itu berwujud melalui
pengalaman, memberi rekasi, dan melakukan. Menurut
prinsip ini seseorang belajar melalui reaksi atau melalui
kegiatan mandiri yang merupakan landasan dari semua
pembelajaran.
b) Metode
tersebut
harus
memanfaatkan
hukum
pembelajaran. Hukum-hukum dasar pembelajaran
menyangkut kesiapan, latihan dan akibt, harus
dipertimbangkan dengan baik dalam segala jenis
pembelajaran. Pembelajaran yang baik memberi
kesempatan terbentuknya motivasi, latihan dan
peninjauan kembali, penelitian dan evaluasi.
c) Metode terseut harus berawal dari apa yang sudah
diketahui peserta didik. Memanfaatkan pengalaman masa
lampau peserta didik yang mengandung unsur-unsur
materi pembalajran yang dipelajari akan melancarkan
pembelajaran.
d) Metode tersebut harus didasarkan atas teori dan praktik
yang terpadu dengan baik yang bertujuan menyatukan
kegiatan pembelajaran.
e) Metode tersebut harus memperhatikan perbedaan
individual dan mengenakan prosedur yang sesuai dengan
ciri-ciri pribadi.
45
Ramayulis, Op.Cit., hlm. 185.
47
f) Metode harus merangsang kemampuan berpikir dan nalar
para peserta didik. Prinsip kegiatan mandiri sangat
penting dalam mengajar peserta didik untuk bernalar.
g) Metode tersebut harus disesuaikan dengan kemajuan
peserta diik dalam hal ketrampilan, kebiasaan,
pengetahuan, gagasan, dan sikap peserta didik, karena
semua ini merupakan dasar dalam psikologi
perkembangan.
h) Metode tersebut harus menyediakan bagi peserta didik
pengalaman-pengalaman belajar melalui kegiatan belajar
yang banyak dan bervariasi.
i) Metode tersebut harus menantang dan memotivasi
peserta didik ke arah kegiatan-kegiatan yang menyangkut
proses diferensiasi dan integrasi.
j) Metode harus memberi peluang bagi peserta didik untuk
bertanya dan menjawab pertanyaan.
k) Kelebihan suatu metode dapat menyempurnakan
kekurangan atau kelemahan metode lain.
l) Satu metode dapat dipergunakan untuk b erbagai jenis
materi atau mata pelajaran satu materi atau mata
pelajaran memerlukan banyak metode.
m) Metode harus menggunakan prinsip fleksibel dan
dinamis.46
Metode pembelajaran yang digunakan haruslah disesuaikan
dengan materi yang akan disampaikan. Karakter siswa serta
perkembangan ilmu pengetahuan yang ada. Metode pembelajaran
yang bervariasi dan dapat mengaktifkan siswa dianggap sebagai
salah satu metode yang efektif dan efisien dalam memberikan
pengalaman belajar kepada siswa.
3) Pengorganisasian media pembelajaran
Suwardi mengemukakan bahwa media berasal dari bahsaa
Latihn, medium yang berarti tengah, perancara atau pengantar.
Menurut Assosiation of Education Communicatiion Technology,
46
Ibid., hlm. 189-190.
48
media berarti segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk
menyampaikan pesan atau informasi.47 Sementara itu, sebagaimana
disebutkan oleh Ramayulis.
Zakiah Daradjat menyebutkan pengertian alat pendidikan
sama dengan media pendidikan, sarana pendidikan. Menurut
Tokoh lain Gagne, media adalah berbagai jenis komponen
dalam lingkungan siswwa yang dapat merangsangnya untuk
belajar. Dengan demikian maka media pembelajaran
mengacu pada penggunaan alat yang berupa benda untuk
membantu penyampaian pesan.48
Menurut
Gagfur
sebagaimana
dikutip
oleh
Suwardi
mengemukakan bahwa pemilihan media harus melalui beberapa
langkah di bawah ini:49
a) Menentukan tujuan penggunaan media, apakah media itu untuk
penerangan atau untuk pengajaran.
b) Menentukan transmisi atau saluran untuk menyapaikan pesan.
c) Menentukan
karakteristik
pembelajaran.
Hal
ini
perlu
disesuaikan dengan media yang akan digunakan.
d) Mengklasifikasikan media untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangannya.
c. Pelaksanaan pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran di kelas diawali dengan persiapan dan
membuka pelajaran dan pelaksanaan pembelajaran.
47
Suwardi, Op.Cit., hlm. 75.
Ramayulis, Op.Cit., hlm. 203.
49
Suwardi, Op.Cit., hlm. 82.
48
49
1) Persiapan dan membuka pembelajaran
Sebelum
membuka
pelajaran
guru
perlu
melakukan
persiapan di kelas dengan baik. Agar persiapan dapat berjalan
dengan baik, maka guru harus bersiap terlebih dahulu sebelum
pembelajaran dimulai. Misalnya guru datang lebih awal dari jadwal
pembelajaran agar guru dapat menyiapkan pembelajaran dengan
baik. Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam pembelajaran
mencakup bahan pengajaran, media pengajarna dan peralatan
pengajaran.50
Setelah persiapan dianggap cukup maka langkah selanjutnya
kegiatan membuka pelajaran. Kegiatan membuka plajaran ini
meliputi: mengucapkan slaam pembuka, memimpin doa, mengabsen
siswa, menyampaikan informasi dan memotivasi siswa.
2) Pelaksanaan pembelajaran
Menurut
Hunt
sebagaimana
dikutip
oleh
Suwadi
menyebutkan bahwa pelaksanaan pembelajaran di kelas meliputi:
lima tahap yang disebut teori ROPES. Kata ROPEs merupakan
singkatan dari review, overview, prsentasi, exercise dan summary.51
a) Review
Review merupakan awal dari pelaksanaan pembelajaran,
waktu dalam yang diperlukan oleh seorang guru mereview
materi pembelajaran berkisar antara 5-10 menit. Tahap ini
50
51
Ibid., hlm. 124.
Ibid., hlm. 130.
50
dilakukan untuk menjajaki kemampuan siswa dalam mengingat
materi yang sebelumnya. Hal ini perlu dijadikan dasar dalam
melaksanakan
proses
pebelajaran.
Dengan
mengetahui
kemampuan awal dan karakteristik siswa akan mempermudah
guru dalam pencapaian materi pembelajaran.52
b) Overview
Overview adalah tahap kedua dalam pelaksanaan
pembelajaran. Dalam tahap ini guru menjelaskan garis besar isi
yang akan digunakan. Setelah guru menjelaskan, siswa diminta
mengajukan saran dan usul atas materi yang akan dijadikan
strategi pembelajaran yang akan dilaksanakan.
c) Presentasi
Presentasi
adalah
tahap
menyampaikan
materi
pembelajaran. Secara sederahana dalam penyampaian materi,
guru perlu berpegangan pada tiga aktivitas yang meliputi: telling
(bercerita), showing (menunjukkan) dan doing (berbuat).53
Telling maksudnya guru menjelaskan secara lisan. Showing
maksudnya guru menunjukkan pada media yang terkait dengan
materi yang dijelaskan. Doing maksudnya setelah guru
menjelaskan dan menunjukkan, siswa diminta untuk melakukan
tindakan.
52
53
Ibid., hlm. 130.
Ibid., hlm. 131.
51
d) Exercise
Exercise merupakan tahap untuk memberi kesempatan
kepada
peserta
didik
melakukan
latihan-latihan
untuk
menerapkan materi dengan melakukan sesuatu. Oleh karena itu,
dalam
melakukan
praktik
maka
pembelajaran
harus
direncanakan secara jelas dan tersistematis.
e) Summary
Summary merupakan tahap akhir dari pelaksanaan
pembelajaran. Dalam tahap ini guru menyimpulkan dari materimateri yang telah dipelajari pada hari itu.
3) Pengawasan atau kontrol pembelajaran
Pengawasan menurut Anthony, Dearden, dan Bedford
sebagaimana dikutip oleh Syaiful Sagala mengemukakan bahwa
pengawasan
dimaksdukan
untuk
organsiasil
melaksanakan
apa
memastikan
yang
agar
anggota
dikehendaki
dengan
mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi serta
memanfaatkannya untuk mengendalikan organisasi.54 Organisasi
dalam pembahasan ini adalah kegiatan belajar mengajar. Dengan
demikian maka pengawasan ini adalah pemastian agar pembelajaran
dapat berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki dengan
mengumpulkan, menganalisis, dan mengevaluasi setiap pelaksanaan
54
Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat: Strategi Memenangkan
Persaingan Mutu (Jakarta; Nimas Multina, 2004), hlm. 26.
52
pembelajaran sehingga pembelajaran tersebut dapat dikendalikan
dengan baik.
Pengawasan pembelajaran ini bertujuan untuk mengawasi
aktifitas
yang
dilakukan
oleh
guru
dalam
merencanakan,
mengorgansiasikan, dan melaksanakan pembelajaran.
Tahapan pengawasan dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Menetapkan standar-standar pelaksanaan
Penetapan standar biasanya dilakukan pada proses
perencanaan.55 Standar pelaksanaan dalam pembelajaran adalah
tujuan pembelajaran yang harus dicapai pada saat itu. Tujuan
pembelajaran yang akan dicapai dituangkan dalam bentuk
penulisan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
perencanaan pembelajaran. Kompetensi dasar yang harus dicapai
oleh peserta didik adalah standar-standar pelaksanaan dalam
pembelajaran.
b. Pengukuran hasil pembelajaran
Pengukuran
dalam
pembelajaran
dilakukan
untuk
mengetahui sejauh mana peseta didik menyerap materi
pembelajaran yang harus dipenuhi sesuai dengan capaian standar
kompetensinya. Pengukurna hasil pembelajaran ini terkait
55
Musfirotun Yusuf, Op.Cit., hlm. 89.
53
dengan masalah penilaian dan pengevaluasian. Untuk lebih
jelasnya berikut pegnertian dan istilah masing-masing tersebut.
-
Pengukuran
Pengukurang berarti kegiatan yang sistematik untuk
menentukan angka pada objek atau gejala.56 Sedangkan
Suharsimi
mengemukakan
bahwa
mengukur
adalah
membandingkan sesuatu dengan satu ukuran.57
-
Penilaian
Penilaian atau kegiatan menilai adalah mengambil
suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik
buruk.58
-
Evaluasi
Menurut Norman E. Gronlud sebagaimana dikutip
oleh M. Ngalim Purwanto, evaluasi adalah suatu proses
sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan
sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai
oleh siswa.59
Keterkaitan ketiga istilah di atas merupakan satu
rangkaian yang digunakan untuk mengukur hasil pembelajaran
peserta
56
57
didik.
Melalui
pengukuran
ini
bertujuan
untuk
Suwardi, Op.Cit., hlm. 86.
Suharsimi Arikunto, Dsaar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2004),
hlm. 3.
58
59
hlm. 3.
Ibid., hlm. 3.
M. Ngalim Purwanto, Evaluasi Pengajaran (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002),
54
mengetahui hasil pembelajaran apakah peserta didik telah
mencapai tujuan pembelajaran yang akan dicapai serta dapat
mengkategorikan kemampuan penyerapan materi pembelajaran
setiap peserta didik. Dengan demikian maka dalam pembahasan
pengukuran hasil pembelajaran ini digunakan pengertian dari
pengukuran, penilaian, dan pengevaluasian, karena adanya
integralisasi maksud dari masing-masing istilah.
Standar-standar pelaksanaan dalam pembelajaran juga
harus disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku. Menrutu
Mansur Muslich disebutkan bahwa penilaian berbasis kelas
inilah yang diterapkan dalam pembelajaran yang berdasarkan
KTSP.60 Penilaian berbasis kelas memberi otoritas yang sangat
besar kepada guru dan sekolah dalam menentukan keberhasilan
pembelajaran yang dicapai oleh siswanya.
Penilaian ini lebih berorientasi pada proses bukan pada
hasil. Sehingga bukan hanya hasil belajar saja yang dinilai tetapi
juga proses pembelajaran yang dilakukan siswa. selain penilaian
berbasis kelas dilakukan pula penilaian ujian.
Penilaian berbasis kelas bertujuan untuk menganalisis
kemampuan siswa sedangkan penilaian ujian dilakukan untuk
mengkategorikan siswa dalam kriteria tertentu.
60
Masnur Muslich, Op.Cit., hlm. 78.
55
c. Menentukan deviasi atau penyimpangan dan mengadakan
perbaikan.
Dengan adanya laporan perkembangan dan penilaian
siswa secara individual melalui penilaian berbasis kelas, maka
akan diketahui bagaimana penyimpangan (belum tercapainya
tujuan pembelajaran oleh siswa) sehingga dapat dilakukan
perbaikan.
3. Tujuan Manajemen Pembelajaran
Manajemen pembelajaran ini dilaksanakan dengan tujuan untuk
mendesain pembelajaran yang baik, sehingga peserta didik secara aktif
terlibat dalam pembelajaran.61 Keaktifan siswa dalam pembelajaran akan
membuat siswa merasakan pengalaman belajar yang efisien bagi dirinya
dan dapat ia manfaatkan bagi dirinya dalam kehidupannya.
C. Madrasah
1. Pengertian Madrasah
Kata “madrasah” berasal dari bahasa Arab yaitu merupakan isim
makan dari kata “darasa” ( ‫ ) درس‬artinya tempat untuk belajar. Istilah
madrasah kini lebih menyatu dengan istilah sekolah atau perguruan
(terutama perguruan Islam).62 Madrasah mengandung arti tempat atau
wahana anak mengenyam proses pembelajaran. Maksudnya, di madrasah
anak menjalani proses belajar secara terarah, terpimpin dan terkendali.
61
Suwardi, Op.Cit., hlm. 2.
Muhaimin, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofis dan Kerangka dan
Operasionalnya (Bandung: Trigenda Karya, 2003), hlm. 305.
62
56
Dengan demikian secara teknis madrasah menggambarkan proses
pembelajaran secara formal yang tidak berbeda dengan sekolah. Hanya saja
dalam lingkungan cultural, madrasah memiliki konotasi spesifik yaitu
adanya pembelajaran hal ihwal atau seluk beluk agama dan keagamaan,
sehingga lebih dikenal sebagai sekolah agama.
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa yang
dimaksud madrasah adalah yang dalam jenjangnya terdiri dari pendidikan
dasar dan pendidikan menengah. Pendidikan dasar sebagaimana dirumuskan
dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada pasal 17 ayat (1) merupakan jenajng pendidikan menengah.
Mengenai bentuknya dalam ayat (2) dinyatakan bahwa pendidikan dasar
berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyyah (MI) atau bentuk
lain yang sederajat, Sekolah Menengah Pertama (SMP atau Madrasah
Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.
Adapun pendidikan menengah pada pasal 18 ayat (1) dan (2)
merupakan lanjutan pendidikan dasar yang terdiri atas pendidikan
menengah umum dan menengah kejujuran. Bentuk pendidikan menengah,
dalam ayat (3) disebutkan bahwa pendidikan menengah berbentuk Sekolah
Menengah Umum (SMU), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah
Kejuuran (SMk), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan bentuk lain
yang sederajat.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan dasar yang berbentuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah
57
Tsanawiyah (MTs) dan pendidikan menengah yang terdiri dari kejuruan
berbentuk Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK). Berikut ini pengertian
masing-masing madrasah tersebut.
a. Madrasah Ibtdaiyyah yang selanjutnya disebut MI adalah salahs
atu bentuk madrasah formal yang menyelenggarakan pendidikan
umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan
dasar di dalam binaan Meteri Agama.
b. Madrasah Tsanawiyah yang selanjutnya disebut MTs, adalah
salah satu bentuk madradah formal yang menyelenggarakan
pendidikan umum kekhasan agama Islam pada jenjang
pendidikan dasar sebagai lanjutan dari SD, MI, atau bentuk lain
yang sederajat di dalam binaan Menteri Agama.
c. Madrasah Aliyah kejuruan yang selanjutnya disebut MAK,
adalah salah satu bentuk madrasah formal yang
menyelenggarakan pendidikan kejuruan dengan kekhasan agama
Islam pada jenjang pendidikan menengah sebagai lanjutan dari
SMP, MTs, atau bentuk lain yang sederajat di dalam binaan
Menteri Agama.63
2. Perkembangan Madrasah
Pada awalnya, pendirian madrasah di beberapa wilayah Islam untuk
mendalami bidang studi Fiqih. Dari 39 nama madrasah yang dihimpun oleh
Richard W. Bulliet, kebanyakan mengajarkan fiqh. Umumnya, madrasah
didirikan untuk mendalami satu madzab fiqih, namun ada juga yang
mempelajari lebih dari satu madzab. Mengenai tingkatan madzab. Philip K.
Hitti menggolongkannya ke dalam institution of higher education, setarap
dengan akademi. Chartes Michael Stanton mengelompokkan madrasah
sebagai lembaga pendidikan tingkat college (jika dibandingkan dengan
lembaga pendidikan sekarang).64
63
Tim Bina Mitra, Pemberdayaan Madrasah (BMPM) III, Profil Madrasah Masa Depan
(Jakarta: DEPAG RI, 2005), hlm. 7-8.
64
Ibid., hlm. 100-101.
58
Kehadfiran madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam menurut
Muhaimin mempunyai empat latar belakang, yaitu:
a. Sebagai manifestasi dan realisasi pembaharuan sistem pendidikan Islam.
b. Usaha penyempurnaan terhadap sistem pesantren ke arah suatu sistem
pendidikan yang sama dengan sekolah umum, misalnya masalah
kesamaan kesempatan kerja dan perolehan ijasah.
c. Adanya sikap mental pada sementara golongan umat Islam, khususnya
santri yang terpukau pada barat sebagai sistem pendidikan mereka.
d. Sebagai upaya untuk menjembatani antara sistem pendidikan trdisional
yang dilakukan oleh pesantren dan sistem pendidikan modern dari
akulturasi.
Kehadiran madrasah di Indonesia apabila dilihat dari aspek
sejarahnya, keberadaan madrasah sekarang ini merupakan akumulasi
berbagai macam budaya dan tradisi pendidikan yang berkembang di
Indonesia.65 Baik budaya pra-sejarah, Hindu-Budha, tradisi Islam, dan
tradisi modern. Keberadaannya secara fungsional menunjukkan fenomena
modern dalam sistem pendidikan Islam Indonesia. Istilah “madrasah” ini
diadopsi untuk memenuhi kebutuhan modernisasi pendidikan Islam, sedang
mengintrodusir sistem klasikal, penjenjangan, penggunaan bangku, bahkan
memasukkan
pengetahuan
umum
sebagai
bagian
kurikulumnya.
Nampaknya penggunaan istilah “madrasah” di Indonesia adalah untuk
65
Ananiah, “Problem Lembaga Pendidikan Madrasah dan Strategi Pengembangannya”,
Dinamika Ilmu Jurnal Pendidikan, Vol. VI No. 2, Desember 2006), hlm. 137.
59
membedakan antara lembaga pendidikan Islam modern dengan lembaga
pendidikan Islam tradisional dan sistem pendidikan Belanda yang sekuler.
Adapun mengenai madrasah yang pertama kali didirikan di
Indonesia, tim penyusun dari Departemen Agama RI telah menetapkan
bahwa madrasah yang pertama kali didirikan adalah madrasah adabiyah di
Padang (Sumatra Barat) didirikan oleh Syeikh Abdullah Ahmad pada tahun
1909. Nama Resminya Adabiyah School, tahun 1915 dirubah menjadi HIT
Adabiyah.
Pada permulaan perkembangannya, madrasah merupakan lembaga
madrasah yang mandiri, tanpa bimbingan dan bantuan pemerintah kolonial
Belanda. Setelah indonesia merdeka, pemerintah memberikan perhatian
kepada madrasah dan ditetapkan sebagai model dan sumber pendidikan
nasional yang berdasarkan UUD 1945.
Sebagaimana
tercantum
dalam
UU
pokok
pendidikan
dan
pengajaran nomor 4 tahun 1950, pada pasal 10 ayat (2) dinyatakan bahwa
belajar di sekolah-sekolah agama yang telah mendapat pengakuan dari
Menteri Agama dianggap sebagai memenuhi kewajiban pengakuan.
Selanjutnya pada tahun 1975, dikeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB)
tiga menteri, yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam
Negeri, dan Menteri Agama tentang peningkatan mutu pendidikan pada
madrasah. Melalui SKB ini, madrasah diharapkan memperoleh posisi yang
sama dengan sekolah-sekolah umum dalam sistem pendidikan nasional
60
sehingga lulus dari madrasah dapat melanjutkan atau pindah ke sekolahsekolah umum dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi.66
3. Dasar Hukum Madrasah
Dasar hukum yang jelas mengenai kedudukan madrasah di
lingkungan pendidikan di Indonesia dimulai dari adanya SKB 3 Menteri
tahun 1975. Berdasarkan SKB Menteri Agama, Menteri Dikbud, dan
Menteri Dalam Negeri, kurikulum madrasah yang baku dari Departemen
Agama perbandingan mata pelajaran umum dan pelajaran agama 70 % : 30
%. Disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan madrasah ialah lembaga
pendidikan yang menjadikan mata pelajaran agama Islam, sebagai mata
pelajaran dasar yang diberikan sekurang-kurangnya 30 % di samping mata
pelajaran umum.67
SKB Tiga Menteri ini dapat dipandang sebagai pengakuan yang
lebih nyata terhadap eksistensi madrasah dan sekaligus merupakan langkah
strategi menuju tahapn integrasi madrasah ke dalam sistem Pendidikan
Nasional yang tuntas. Dengan SKB tersebut, madrasah memperoleh
definisinya yang semakin jelas sebagai lembaga pendidikan setara dengan
sekolah sekalipun pengelolaannya tetap berada pada Departemen Agama.
Dalam hal ini, madrasah tidak lagi hanya dipandang sebagai lembaga
pendidikan keagamaan atau lembaga penyelenggara kewajiban belajar,
tetapi sudah merupakan “lembaga pendidikan yang menjadikan mata
66
Hanun, Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 2009),
hlm. 193-199.
67
Marwan Saridjo, Bunga Rampai Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Depag RI, 2006),
hlm. 43.
61
pelajaran agama Islam sebagai pelajaran dasar yang sekurang-kurangnya 30
%, disamping mata pelajaran umum. Adanya SKB 3 Menteri ini
memperkuat kedudukan madrasah yang tadinya belum jelas posisi dari
lulusannya.68
68
Hanun, Asrohah, Op.Cit., hlm. 93.
Download

BAB II PENDIDIKAN GURU DAN KREATIFITAS INOVASI