makalah profesi kependidikan oleh : ryanto ungke (702012044)

advertisement
MAKALAH PROFESI KEPENDIDIKAN
OLEH :
RYANTO UNGKE (702012044)
MARVEL TAGHUPIA (702012045)
RIFAL DIRENO (702012090)
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Guru
dan Tenaga Kependidikan Profesional”. Adapun pembuatan makalah ini adalah sebagai tugas
kelompok yang diberikan oleh dosen dalam mata kuliah Profesi Kependidikan. Dengan
selesainya makalah ini, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kemajuan dalam hal Penyusunan Makalah di kemudian hari. Akhir kata,kami
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
makalah ini dari awal sampai akhir. Tidak lupa juga saya ucapkan terima kasih banyak kepada
dosen yang sudah memberikan tugas makalah ini kepada kami.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan adalah hal mutlak yang ada dalam kehidupan. Tanpa pendidikan maka
masyarakat dan individu akan terus terbelenggu dalam kebodohan dan kevakuman sehingga
sulit untuk berbuat sesuatu yang berguna demi meningkatkan kualitas diri. Pendidikan bisa
dilakukan oleh lembaga formal dan informal. Lembaga formal penyelenggara pendidikan
meliputi lembaga-lembaga pendidikan yang terdaftar. Lembaga informal dimulai dri
pendidikan orang tua dan lainnya diluar pendidikan formal. Pendidikan formal akan sangat
berperan penting dalam membentuk kepribadian dan kualitas individu. Seorang tenaga
pendidik yang melatih dan mendidik individu harus benar-benar terlatih. Dengan kata lain
seorang pendidik harus profesional.
Guru sebagai profesi menjadi tenaga pendidik yang diharuskan memiliki kompetensikompetensi tertentu seperti kompetensi paedagogik, kompetensi profesional, kompetensi
personal dan kompetensi sosial. Semua kompetensi itu berkaitan dengan upaya peningkatan
kualitas dan keprofesionalan guru.
Mendidik bukanlah hal yang mudah terutama dilembaga formal. Perlu cara khusus untuk
menangani masing-masing perbedaan karakteristik setiap peserta didik. Oleh karena itu.,
perlu dilakukan upaya untuk peningkatan mutu tenaga kependidikan, karena pendidikan
disuatu negara akan menentukan kualiatas dari negara tersebut. Di Indonesia sendiri banyak
melakukan program Diklat bagi tenaga kependidikan untuk menunjang keberhasilan dalam
mendidik peserta didik. Dan hal mutlak yang harus dipikirkan adalah bahwasanya tenaga
pendidik harus mendapat perlindungan dan jaminan hukum dari pemerintah yang pada
teorinya sudah terdapat dalam UU tentang guru dan dosen, terlepas dari realisasinya yang
masih diragukan.
BAB II PEMBAHASAN
2. 1 Guru dan Tenaga Kependidikan Profesional
Secara definisi kata “guru” bermakna sebagai pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai,dan mengevaluasi peserta
didik pada jalur pendidikan formal. Tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat
profesionalitas tertentu yang tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau
keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu. Definisi guru tidak termuat
dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), di mana di
dalam UU ini profesi guru dimasukkan ke dalam runpum pendidik.
Sesungguhnya guru dan pendidik merupakan dua hal yang bisa berbeda maknanya. Kata
pendidik (Bahasa Indonesia) merupakan pedanan dari kata educator (Bahasa Inggris). Di dalam
Kamus Webster kata educator berarti educationist atau educationlist yang padanannya dalam
Bahasa Indonesia adalah pendidik, spesialis di bidang pendidikan, atau ahli pendidikan. Kata
guru (Bahasa Indonesia) merupakan padanan dari kata teacher (Bahasa Inggris). Di dalam
Kamus Webster, kata teacher bermakna sebagai “the person who teach, especially in school”
atau guru adalah seseorang yang mengajar, khususnya di sekolah.
Kini, penyandang profesi guru telah mengalami perluaan perspektif dan pemaknaannya.
Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, sebutan guru mencakup:
(1) guru itu sendiri, baik guru kelas, guru bidang studi, maupun guru bimbingan dan konseling
atau guru bimbingan karir; (2) guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah; dan (3) guru
dalam bidang jabatan pengawas. Sebagai perbandingan atas “cakupan” sebutan guru ini, di
Filipina, seperti tertuang dalam Republic Act 7784, kata guru (teacher) dalam makna luas adalah
semua tenaga kependidikan yang menyelenggarakan tugas-tugas pembelajaran di kelas untuk
beberapa mata pelajaran, termasuk praktik atau seni vokasional pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah (elementary and secondary level). Istilah guru juga mencakup individu-individu
yang melakukan tugas bimbingan dan konseling, supervisi pembelajaran di institusi pendidikan
atau sekolah-sekolah negeri dan swasta, teknisi sekolah, administrator sekolah, dan tenaga
layanan bantu sekolah (supporting staf) untul urusan-urusan administratif. Guru juga bermakna
lulusan pendidikan yang telah lulus ujian negara (government examination) untuk menjadi guru,
meskipun belum secara aktual bekerja sebagai guru.
Sebelum lahir PP No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, kepala sekolah dan pengawas masuk
kelompok tenaga kependidikan, sedangkan guru masuk kelompok pendidik. Dengan adanya PP
No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, idealnya pengelolaan kepala sekolah dan pengawas berada
pada “satu alur” dengan pengelolaan guru. Dengan demikian, diharapkan terjadi sinergi di dalam
pengembangan profesi dan karirnya.
Kembali ke uraian semula, secara formal untuk menjadi profesional guru, kepala sekolah,
pengawas, dan beberapa jenis tenaga kependidikan lainnya dipersyaratkan memenuhi kualifikasi
akademik minimum dan bersertifikasi pendidik atau sertifikat lainnya yang relevan. Guru-guru
yang memenuhi kriteria profesional yang akan mampu menjalankan fungsi utamanya secara
efektif dan efisien untuk mewujudkan proses pendidikan dan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta
menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Guru mempunyai keedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat
sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional
dimaksud berfungsi untuk meningkatkan martabat mutu pendidikan nasional.
Kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem
pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi
peserta didik agar nenjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mendiri, serta menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab. Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional itu
dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Pengakuan yang sama juga berlaku untuk semua tenaga
kependidikan lain yang berpredikat profesional, meski keharusan memiliki sertifikat tidak selalu
identik dengan sertifikat pendidik yang diwajibkan kepada guru.
Untuk memenuhi kriteria profesional itu, guru harus menjalani profesionalisasi atau proses
menuju derajat profesional yang sesungguhnya secara terus-menerus, termasuk kompetensi
mengelola kelas. Di dalam UU Nomor 74 Tahun 2008 dibedakan antara pembinaan dan
pengembangan kompetensi guru yang belum dan yang sudah berkualifikasi S-1 atau D-IV.
Pengembangan dan peningkatan kualifikasi akademik bagi guru yang belum memenuhi
kualifikasi S-1 atau D-IV dilakukan melalui pendidikan tinggi program S-1 atau program D-IV
pada perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan tenaga kependidikan
dan/atau program pendidikan nonkependidikan yang terakreditasi.
Pengembangan dan peningkatan kompetensi bagi guru yang sudah memiliki sertifikat
pendidikan dilakukan dalam rangka menjaga agar kompetensi keprofesiannya tetap sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya dan/atau olah raga.
Pengambangan dan peningkatan kompetensi dimaksud dilakukan melalui sistem pembinaan dan
pengembangan keprofesian guru berkelanjutan yang dikaitkan dengan perolehan angka kredit
jabatan fungsional.
Pembinaan dan pengembangan profesi dan karir guru (P3KG) kadang-kadang juga berlaku
bagi tenaga kependidikan lainnya, meliputi pembinaan kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian sosial, dan kompetensi profesional. P3KG, termasuk juga pengawas sekolah,
dilakukan melalui jabatan fungsional. Sementara itu, pembinaan dan pengembangan karir
meliputi penugasan, kenaikan pangkat, dan promosi. Upaya pembinaan dan pengembangan kair
guru ini harus sejalan dengan jenjang jabatan fungsional mereka. Pola pembinaan dan
pengembangan profesi dan karir guru tersebut diharapkan dapat nmenjadi acuan bagi institusi
terkait di dalam pelaksanaan pembinaan profesi dan karir guru.
Pengembangan profesi dan karir tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi dan
kinerja guru dalam rangka pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran di kelas dan di luar
kelas. Upaya peningkatan kompetensi dan profesionalitas ini tentu saja harus sejalan dengan
upaya unutk memberikan penghargaan, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan terhadap
guru.
Guru yang hebat adalah guru yang kompeten secara metotologi pembelajaran dan keilmuan.
Tautan antara keduanya tercermin dalam kinerjanya selama transformasi pembelajaran. Pada
konteks transformasi pembelajaran inilah guru harus memiliki kompentensi dalam mengelola
semua sumber daya kelas, seperti ruang kelas, fasilitas pembelajaran, suasana kelas, siswa, dan
interaksi sinergisnya. Di sinilah esensi bahwa guru harus kompeten di bidang manajemen kelas
atau lebih luas lagi disebut sebagai manajemen pembelajaran.
Manajemen kelas adalah segala usaha yang dilakukan untuk mewujudkan terciptanya suasan
belajar-mengajar yang efektif dan menyenangkan, serta dapat memotivasi siswa untuk dapat
belajar dengan baik sesuai kemempuan mereka.
Dengan manajemen kelas yang baik, maka berbagai hambatan yang dapat menghalangi
terwujudnya interaksi atau proses belajar-mengajar dapat diatasi dengan mudah. Seperti yang
diketahui bahwa proses belajar-mengajar tidak selamanya berjalan dengan mulus sesuai dengan
yang diharapkan. Dalam perjalanannya, kerap muncul beberapa persoalan, baik itu berasal dari
guru, siswa maupun perangkat-perangkat pendidikan lainnya. Itulah sebabnya, sebuah
manajemen diperlukan guna mengatasi berbagai hambatan itu.
Pada sisi lain, keberhasilan institusi pendidikan dalam mengemban misinya ini sangat
ditentukan oleh mutu keinterelasian unsur-unsur sistematik yang memberikan kontribusi
terhadap peningkatan kualitas proses tranformasi dan mutu hasil kerja institusi pendidikan,
seperti tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, biaya, anak didik, masyarakat, dan
lingkungan pendudkungnya. Dari sekian banyak subsistem yang memberikan kontribusi terhadap
kualias proses dan keluaran pendidikan, subsistem tenaga kependidikan memainkan peranan
yang paling esensial.
2.2 Pandangan Terhadap Guru
1. Guru yang diharapkan saat ini
Pengaruh globlasisasi tidak dapat dicegah lagi. Itulah tantangan bagi pendidikan
Indonesia yang makin terpuruk dan makin kompleks. Tantangan ini menuntut sistem
pendidikan kita perlu diperbaharui agar tidak ketinggalan zaman dan dapat bersaing
dengan negara lain. Guru memegang peranan kunci dalam pendidikan, tetapi perhatian
terhadap mereka masih jauh dari memuaskan. Tingkat kesejahteraan mereka rendah dan
tidak sesuai dengan beban tugasnya, sementara sistem pengembangan karier mereka pun
tidak jelas. Hal yang lebih menyedihkan lagi, mereka acapkali mendapat perlakuan yang
tidak adil dari birokrasi seperti pegawai kantoran biasa, misalnya mereka harus mengikuti
rapat, baris-berbari, mengenakan seragam yang sama dengan pegawai kantoran,
terjadinya pemotongan gaji, dan kesulitan mengurus kenaikan pangkat yang menjadi
haknya. Sejalan dengan semangat untuk memajukan pendidikan nasional, sudah
sewajarnyalah jika pemecahan terhadap masalah-maslah yang dihadapai para guru
mendapat prioritas sehingga hargat dan martabat guru meningkat. Perlu diyakini bahwa
langkah-langkah tersebut mampu mendorong peningkatan mutu pendidikan. Semua kita
telah mengetahui bahwa tantangan pendidikan saat ini sangat kompleks. Hal ini menuntut
guru-guru yang memiliki karakter dan sifat tertentu, seperti bersikap sebagai seorang
intelektual.
2. Tugas guru sebagai panggilan hidup
Pendidikan di Indonesia membutuhkan guru yang menghayati tugasnya sebagai
panggilan. Hansen (1995), menjelaskan dua unsur penting dari panggilan, yaitu (1)
pekerjaan itu membantu mengembangkan orang lain, dan (2) pekerjaan itu juga
mengembangkan dan memenuhi diri sendiri sebagai pribadi. Unsur pertama
mengungkapkan, pekerjaan disebut panggilan hidup jika pekerjaan itu mengembangkan
orang lain ke arah kesempurnaan. Ini berarti, guru pertamatama harus mengembangkan
anak didik yang dibimbing untuk berkembang menjadi sempurna baik dalam bidang
pengetahuan maupun kehidupan yang lebih menyeluruh. Guru menjalankan fungsinya
sebagai pendidik dan pengajar. Dalam istilah Driyakarya (1980), guru menjalankan
fungsinya membantu anak didik berkembang menjadi manusia yang lebih utuh. Guru
harus mampu mengusahakan agar anak didik berkembang dan berhasil. Bila ada anak
didik yang nakal dan lambat berpikir, ia harus dapat mecari jalan bagaimana dapat
membantu mereka. Sejalan dengan seorang dokter mengobati pasien, bagaimana dapat
menyembuhkan pasien bukan pertama-pertama minta upah (Suparno, 2004).
Unsur kedua adalah memenuhi kepentingan pribadi. Pekerjaan guru akhirnya
membuahkan hasil untuk guru itu sendiri. Dengan melakukan pekerjaan sebagai guru,
seorang guru berkembang menjadi lebih manusiawi dan mempunyai harga diri. Banyak
guru kurang dedikasi dalam tugasnya, sibuk mengerjakan proyek di mana-mana sehingga
tidak menyiapkan bahan ajar secara baik dan tidak sungguhsungguh memperhatikan anak
didik. Guru yang terlalu menekankan mencari uang lewat profesi keguruannya akan
sering mengalami frustasi karena gaji guru memang kecil dibandingkan dengan profesi
lain yang setingkat. Ingin menjadi kaya dengan menjadi guru adalah keliru. Kepuasan
dan kebahagiaan seorang guru terletak pada kegembiraan batin karena anak didiknya
berkembang menjadi manusia yang lebih baik dan lebih utuh.
3. Guru yang demokratis
Seiring dengan upaya bangsa Indonesia untuk hidup berdemokrasi maka melalui
pendidikan yang demokratis, anak didik dibantu untuk mengembangkan sikap demokratis
yang nantinya berguna bagi hidup mereka di masyarakat. Proses pembelajaran yang
demokratis adalah guru dan siswa saling belajar, saling membantu, dan saling
melengkapi. Berdasarkan teori konstruktivisme bahwa pengetahuan adalah bentukan
siswa, peran guru lebih ditekankan pada fasilitator yang membantu atau memfasilitasi
anak didik agar belajar sendiri membangun pengetahuan mereka (Suparno, 1997). Guru
zaman sekarang bukan lagi satusatunya sumber informasi. Anak didik bisa belajar
melalui internet, orang tua, media komunikasi, perpustakaan, dan lain-lain. Nilai
kehidupan bisa dicari dan dirumuskan bersama antara siswa dengan guru. Siswa tidak
dikekang dalam berpikir. Dengan model ini siswa akan lebih bertanggung jawab dalam
melakukan nilai itu dalam kehidupan mereka.
4. Guru yang prfesional
Masih banyak guru yang kurang kompeten dalam bidangnya. Beberapa alasan yang
mendasarai bahwa guru belum kompeten sebagai berikut.
1) Waktu belajar atau kuliah belum sungguh menguasai bahan. Mereka lulus tapi bukan
lulus yang terbaik. Mereka bukan mahasiswa yang terbaik yang masuk menjadi calon
guru. Kualitas dosen yang membimbing dan mendampingi mahasiswa calon guru
juga berpengaruh.
2) Beberapa guru mengajarkan yang bukan bidangnya. Memang maksudnya baik,
daripada tidak ada guru. Guru apapun diminta mengajar berbagai bidang.
Dari keadaan ini tampak jelas diperlukan peningkatan kompetensi agar semakin
menguasai bidang mereka. Juga diharapkan semakin banyak guru yang menguasai bidang
yang sesuai dengan keahliannya.
Selain kurang menguasai bidangnya,masih banyak guru yang kurang menguasai
model-model pembelajaran sehingga dalam mengajar hanya menggunakan model itu-itu
saja. Guru mengajar lebih dengan cara yang disenangi sendiri, dan kurang
memperhatikan yang disenangi anak didik. Menurut teori Mutiple Intlelligences Gardner
(Suparno, 2004), siswa mempunyai intelegensi dan siswa dapat belajar lebih baik apabila
bahan disajikan sesuai dengan intelegensi yang menonjol pada anak tersebut. Misalnya,
seorang anak yang menonjol intelegensi musikalnya, ia dapat mudah belajar matematika
bila matematika disajikan dengan musik atau lagu. Terkait dengan anak didik di dalam
kelas beraneka reagam intellegensinya maka secara umum guru perlu menggunakan
model mengajar yang bervariasi. Model pembelajaran quantum learning, pembelajaran
siswa aktif, pembelajaran menyenangkan dapat membantu siswa lebih baik dan cepat
memahami bahan pembelajaran.
Percobaan-percobaan untuk meningkatkan mutu pendidikan profesional guru di
lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Amerika masih terus berjalan untuk menemukan
model yang sesuai dengan masyarakatnya. Di dalam keberagaman model yang dinginkan
semua mengacu pada pedoman yang ditentukan oleh National Council for Accreditation
of Teacher Education (Tilaar, 2006). Badan independen tersebut menentukan 10 syarat
dari program pendidikan professional guru sebagai berikut.
1) Perkembangan dan desain kurikulum.
2) Perencanaan dan manajemen institusional
3) Evaluasi dan asessmen mengenai kemajuan belajar peserta didik.
4) Supervisi kelas dan manajemen tingkah laku peserta didik.
5) Penguasaan teknologi instruksionsl.
6) Perkembangan peserta didik dan cara belajarnya.
7) Kesulitan-kesulitan di dalam belajar (learner exceptionality)
8) Peraturan-peraturan pendidikan di sekolah.
9) Pendidikan multikultural dan globalisasi.ic
10) Dasar-dasar sosial, sejarah, dan filsafat pendidikan.
Dalam Kompetensi Standar Guru (Depdiknas, 2006) diungkapkan bahwa guru harus
berkepribadian utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral, disiplin, tanggung
jawab, berwawasan luas, dan lainlain. Sekarang, selain dibutuhkan guru yang
berkepribadian baik juga dibutuhkan guru yang kreatif dan terbuka terhadap segala
perubahan dan kemajuan yang ada untuk kemajuan siswa.
2.3 Pembicaraan umum tentang pengembangan tenaga kependidikan
Pembicaraan mengenai pengembangan tenaga pendidikan menyangkut dua hal pokok
yaitu : (1) Pola rekruitmen tenaga kependidikan, (2) Pengembangan kompetensi tenaga
kependidikan. Pengamatan lapangan menunjukan ada tiga pola pendekatan yang menjadi
pilihan kebijakan dalam rekruitmen tenaga kependidikan, yaitu : (1) Pendekatan yang
didasarkan pada prinsip-prinsip profesionalisme, (2) Pendekatan politik balas budi dan
hubungan baik, (3) Pendekatan geogarafis kedaerahan akibat otonomi daerah.
1. Pendekatan profesionalisme
Rekruitmen tenaga kependidikan didasarkan pada keahlian tertentu, dengan tugas dan
tanggung
jawab
yang
dilandasi
kompetensi.
Kriteria
profesionalisme
jabatan
kependidikan menurut peraturan pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 menetapkan standar
profesionalisme jabatan fungsional yang mengacu pada kriteria sebagai berikut.
1) Mempunyai metodologi, teknik analisis, dan prosedur kerja yang didasarkan atas
disiplin ilmu pengetahuan dan pelatihan teknis fungsional.
2) Memiliki etika profesi yang akan ditetapkan oleh organisasi profesi.
3) Mempunyai jenjang jabatan tertentu.
4) Pelaksanaan tugas yang bersifat mandiri.
5) Jabatan fungsional tersebut diperlukan dalam pelaksanaan tugas pokok organisasi.
2. Penedekatan politik
a. Rekruitmen tenaga kependidikan lebih terkait degan jabatan Kepala Sekolah dan
Pengawas Sekolah yang ditetapkan Kepala Daerah bedasarkan kedekatan polotik baik
melalui hubungan emosional partai politik ataupun keterlibatan sebagai anggota tim
sukses pemenangan pilkada (polotik balas budi).
b. Pendekatan geografis kedaerahan yaitu bentuk rekruitmen tenaga kependidikan
(khususnya Kepala Sekolah, Pengawas) ditandai oleh adanya ikatan emosional
kedaerahan (etnik) akibat gaung otonomi daerah yang salah kaprah.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Guru dan tenaga kependidikan dalam menjalankan kariernya dituntut mampu
menjalankan tugas pokok dengan sebaik-baiknya. Menjalankan tugas pokok yang sesuai
dengan latar belakang pendidikan diasumsikan sebagai memiliki peluang untuk
mengembangkan kemampuans yang lebih baik daripada yang tidak sesuai dengan latar
belakang pendidikannya.
Pandangan terhadap guru dan tenaga kependidikan dari segi poleksosbud sebagai
berikut. Pemerintah berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan mutu
pendidikan yang sangat membutuhkan peran guru dan tenaga kependidikan sehingga bisa
menghasilkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Keadaan ekonomi guru dan
tenaga kependidikan yang layak dapat menjamin kelancaran proses pendidikan dan
pengajaran, menghasilkan peserta didik yang terampil sehingga bisa memenuhi harapan
masyarakat serta dapat mendukung program peningkatan mutu pendidikan. Pendidik dan
tenaga kependidikan dituntut memiliki kompetensi sosial, misalnya: bisa bekerja sama,
pandai bergaul, empati, supel, dan lain sebaginya dan mengarahkan peserta didik dalam
mewujudkan kecerdasan interpersonal.
Daftar Pustaka
Danim Sudarwan, Kahiril. H, 2010. Profesi Kependidikan. Bandung : ALFABETA.
Nur Hamzah, 2009. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN. Jurnal METDEK. Volume 1,
Nomor 2.
Download