1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang "Aku

advertisement
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
"Aku merasa Tuhan duduk di dalam pikiran di keningku. Kemudian aku tidak
merasakan apapun. Aku hanya bergerak. Badanku menjadi ringan seperti bulu burung.
Aku merasa demikian cantik dan penonton terpesona."
( Ni Ketut Reneng)
Kesenian Bali khusunya seni tari hingga kini masih tetap menarik di mata dunia.
Sementara itu di Bali sendiri seni tari masih tetap dipentaskan sesuai dengan fungsinya,
baik secara tari wali yaitu tari-tarian Bali yang dipentaskan untuk keperluan upacara, tari
Bebali yaitu tari-tarian sakral yang dapat menjadi tarian pertunjukan, dan tari balihbalihan yaitu tari-tarian yang dipentaskan di luar Pura.
Keberadaan seni tari Bali yang diwarisi hingga sekarang secara sederhana dapat
dikatakan
selalu
seiring
dengan
perkembangan
masyarakat
pendukungnya.
Perkembangan ini dapat digolongkan menjadi empat yaitu : Zaman Pra-sejarah, Bali
kuno, Bali Hindu dan Zaman Bali baru (moder). Zaman Pra-sejarah, yang diperkirakan
berlangsung dari abad I hingga abad VIII, telah mewariskan bentuk-bentuk seni
pertunjukan yang bersifat ritual magis yang dipengaruhi oleh unsur-unsur kepercayaan
animisme. Zaman Bali kuno dari abad IX sampai abad XV, melahirkan bentuk seni
pertunjukan upacara keagamaan (Hindu dan Budha) dan seni tontonan isatana.
Kemudian Zaman Bali Klasik, berlangsung dari abad XVI hingga abad XIX,
mewariskan bentuk-bentuk kesenian klasik yang dipengaruhi oleh tradisi jawa ( Jawa
2
Timur). Kemudian Zaman Bali Baru mewarisakan bentuk-bentuk seni pertunjukan baru
dan termasuk diantaranya yang dipengaruhi oleh budaya barat atau asing. Dalam kurun
waktu yang cukup panjang ini seni pertunjukan tersebut diatas membawa dampak pula
bagi pola pikir dan perilaku masyarakat pendukung dan pencipta budaya itu sendiri. Hal
ini disebabkan pengaruh sosial budaya dan keagamaan dari masyarakatnya. Adapun
dampak bagi pola pikir dan perilaku masyarakat pendukung dan pencipta seni terhadap
seni pertunjukan dapat terlihat pada Barong, Kecak, Legong Kraton, Oleg
Tambulilingan aslinya merupakan bagian dari upacara yang sangat sakral atau suci,
dipergunakan sebagi sumber garapan tontonan yang provan.
Menyadari agar seni pertunjukan tetap eksis, para seniman dan praktisi seni
pertunjukan Bali telah mengupayakan secara terus menerus memasukan ide ide baru dan
berkreativitas ke dalam keseniannya. Serta sudah menyalah gunakan arti dari tarian itu,
seperti mengubah beberapa gerakan, pengolahan musik agar lebih terlihat modern dan
lebih bisa diterima di zaman sekarang ini. Bahkan bukannya tidak mungkin, akan terjadi
pula salah persepsi dalam menyimakan hasil karya seni pertunjukan apabila si pencipta
dan pelaku seni kurang dalam memberikan informasi singkat kepada penikmat seni atau
penonton.
Melihat keadaan seni pertunjukan Tari Bali yang sangat mengkhawatirkan ini,
maka pada kesempatan ini sudah sepantasnya jika membuat sebuah gebrakan, yang
sifatnya adalah mengingatkan kembali bahwa seni pertujukan Tari Bali ini bukan hanya
sekedar sebuah pertunjukan yang komersil tetapi sebuah kesakralan yang harus dihargai.
Ini dapat diwujudkan dengan dibuatnya sebuah buku yang memberikan referensi yang
sangat detail terhadap seni pertunjukan Tari Bali, yaitu adalah Tari Oleg Tambulilingan.
3
Tari Oleg Tambulilingan ini sendiri adalah sebuah kisah tari yang
mengungkapkan tentang jiwa percintaan dua insan. Oleg dapat berarti gerakan yang
lemah gemulai, sedangkan Tambulilingan berarti kumbang pengisap madu bunga. Tari
Oleg Tambulilingan melukiskan gerak-gerik seekor kumbang, yang sedang bermainmain dan bermesra-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman. Tarian ini sangat
indah dan sakral. Dengan keindahan dan keistimewaan Tari Oleg Tambulilingan ini ada
harapan - harapan besar untuk menarik perhatian dan membuka pikiran masyarakat
bahwa sebuah tarian akan nampak sangat indah ketika didasari oleh sebuah keotentikan
dan kesakralan, bukan hanya sekedar mengikuti perkembangan zaman secara komersil.
1.2 Lingkup proyek Tugas Akhir
Berdasarkan penjelasan latar belakang tersebut, dalam kaitannya dengan bidang
Desain Komunikasi Visual (DKV) maka lingkup proyek Tugas Akhir dibatasi pada halhal yang dapat ditangani atau diselesaikan melalui pendekatan disiplin ilmu Desain
Komunikasi Visual, yaitu merancang lay out buku referensi yang dapat memberikan
informasi detail tentang seni pertunjukan Tari Oleg Tambulilingan baik dalam bentuk
verbal maupun visual ilustratif. Oleh karena itu konsep dasar, penyampaian materi serta
pembuatan buku ini akan dibahas dan di telaah melalui sudut pandang dan ruang lingkup
komunikasi visual.
Download