perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user BAB II

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1.
Pengertian Fisika
Fisika merupakan salah satu mata pelajaran jurusan IPA yang
terbilang sulit dipahami dan sangat membosankan. Namun pelajaran fisika
juga bisa menjadi keahlian kita ketika kita bisa belajar dengan sungguhsungguh. Pengertian fisika yaitu berasal dari kata “physic” yang artinya yaitu
alam. Jadi ilmu fisika yaitu sebuah ilmu pengetahuan dimana didalamnya
mempelajari tentang sifat dan fenomena alam atau gejala alam dan seluruh
interaksi yang terjadi didalamnya. Untuk mempelajari fenomena atau gejala
alam, fisika menggunakan proses dimulai dari pengamatan, pengukuran,
analisis dan menarik kesimpulan. Sehingga prosesnya lama dan berbuntut
panjang, namun hasilnya bisa dipastikan akurat karena fisika termasuk ilmu
eksak yang kebenarannya terbukti.
Menurut KBBI, fisika yaitu ilmu tentang zat dan energi seperti
panas, bunyi, cahaya dan sebagainya. Selain itu pengertian fisika lainnya juga
disampaikan oleh Hough D Young yang mengatakan bahwa fisika adalah
suatu ilmu yang sangat dasar dari berbagai ilmu pengetahuan lain. Menurut
ensiklopedia, fisika adalah ilmu yang didalamnya mempelajari benda dan
gerakannya serta manfaatnya bagi kehidupan manusia. Berdasarkan sejarah,
fisika adalah ilmu tertua karena ilmu ini diawali dengan kegiatan mengamati
benda-benda yang ada di langit, periodenya, bagaimana usianya dan
lintasannya. Oleh sebab itu, fisika merupakan salah satu ilmu pengetahuan
alam yang paling dasar dan banyak digunakan sebagai dasar untuk ilmu-ilmu
lain yang berkaitan.
2.
Belajar
a. Pengertian Belajar
Kata belajar sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat.
commit to user
7
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
8
1) Menurut James O, Whittker, merumuskan belajar sebagai proses di
mana tingkah laku di timbulkan atau di ubah melalui latihan atau
pengalaman.
2) Drs. Slameto merumuskan pengertian tentang belajar, menurutntya
belajar adalah suatu proses usaha yang di lakukan individu untuk
memperoleh sesuatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya.
3) Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang
sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang
pendidikan.
4) Belajar Skiner, yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya
Educational Psychology The Teaching-Learning Process, belajar
adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang
berlangsung secara progresif. Berdasarkan eksperimennya B.F Skimer
percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang
optimal apabila ia diberi penguat (reinforce).
Chaplin dalam Dictionary Of Psychology membatasi belajar
dengan dua macam Rumusan. Rumusan pertama berbunyi belajar adalah
perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat
latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya belajar adalah proses
memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
Hintzman dalam bukunya menyatakan belajar adalah suatu
perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia dan hewan)
disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku
organisme tersebut. With dalam bukunya menyatakan belajar adalah
perubahan
yang
macam/keseluruhan
relatif
tingkah
menetap
laku
yang
suatu
terjadi
organisme
dalam
sebagai
segala
hasil
pengalaman.
Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern,
to user
Dictionary Of Psychologycommit
membatasi
belajar dengan dua macam definisi.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
9
Pertama, belajar adalah proses memperoleh pengetahuan, biasanya sering
dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif. Kedua belajar adalah suatu
perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan
yang diperbuat.
Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan
perlu disoroti untuk memahami proses belajar, antara lain :
1) Relatively permanent, yang secara umum menetap
2) Response potentiality, kemampuan bereaksi
3) Reinforce, yang diperkuat
4) Practice, Praktek atau latihan
Biggs dalam Pendahuluan Teaching For Learning mendefinisikan
belajar dalam 3 macam Rumusan, yaitu Rumusan kuantitatif, Rumusan
institusional, Rumusan kualitatif.
b. Contoh Belajar
Seorang anak balita memperoleh mobil-mobilan dari ayahnya.
Lalu ia mencoba memainkan ini dengan cara memutar kuncinya dan
meletakannya pada suatu permukaan atau dataran. Perilaku “memutar” dan
“meletakan” tersebut merupakan respon atau reaksi atas rangsangan yang
timbul pada mainan itu.
Pada tahap permulaan, respon anak terhadap stimulus yang ada
pada mainan tadi biasanya tidak tepat atau setidak-tidaknya tidak teratur.
Namun, berkat latihan dan pengalaman berulang-ulang lambat laun ia
menguasai dan akhirnya dapat memainkan mobil-mobilan dengan baik dan
sempurna.
Sehubungan dengan contoh itu belajar dapat dipahami sebagai
proses, yang dengan proses itu sebuah tingkah laku ditimbulkan atau
diperbaiki serentetan reaksi atas situasi atau rangsangan yang ada.
Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian jiwa
raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
commit
to user
menyangkut kognitif, afektif,
dan psikomotor.
perpustakaan.uns.ac.id
3.
digilib.uns.ac.id
10
Pembelajaran
Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan
belajar, di mana pihak yang mengajar adalah guru dan yang belajar adalah
siswa yang berorientasi pada kegiatan mengajarkan materi yang berorientasi
pada pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa sebagai
sasaran pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan mencakup berbagai
komponen lainnya, seperti media, kurikulum, dan fasilitas pembelajaran.
Darsono (2002: 24-25) secara umum menjelaskan pengertian
pembelajaran sebagai “suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian
rupa sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik”.
Sedangkan secara khusus pembelajaran dapat diartikan sebagai berikut : Teori
Behavioristik, mendefinisikan pembelajaran sebagai usaha guru membentuk
tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan (stimulus).
Agar terjadi hubungan stimulus dan respon (tingkah laku yang diinginkan)
perlu latihan, dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah dan atau
reinforcement
(penguatan).
Teori
Kognitif,
menjelaskan
pengertian
pembelajaran sebagai cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berfikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.
Teori Gestalt, menguraikan bahwa pembelajaran merupakan usaha
guru untuk memberikan materi pembelajaran sedemikian rupa, sehingga
siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengaturnya) menjadi suatu gestalt
(pola bermakna). Teori Humanistik, menjelaskan bahwa pembelajaran adalah
memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara
mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Arikunto (1993: 12) mengemukakan “pembelajaran adalah suatu
kegiatan yang mengandung terjadinya proses penguasaan pengetahuan,
keterampilan dan sikap oleh subjek yang sedang belajar”. Lebih lanjut
Arikunto (1993: 4) mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah bantuan
pendidikan kepada anak didik agar mencapai kedewasaan di bidang
commit
to user
pengetahuan, keterampilan dan
sikap”.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
11
Sedangkan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa “pembelajaran adalah proses
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar”.
Dari berbagai pendapat pengertian pembelajaran di atas, maka dapat
ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses
kegiatan yang memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat
menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh guru secara sistematik dan
saling mempengaruhi dalam kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan
yang diinginkan pada suatu lingkungan belajar.
Proses pembelajaran merupakan proses komunikasi, yaitu proses
penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu ke
penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/ media dan penerima pesan
adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses
yang akan
dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam
kurikulum, sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis
buku dan media.
Demikian pula kunci pokok pembelajaran ada pada guru (pengajar),
tetapi bukan berarti dalam proses pembelajaran hanya guru yang aktif sedang
siswa pasif. Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang samasama menjadi subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh
keaktifan guru sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan
itu hanya disebut mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa
yang aktif tanpa melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik
dan terarah, maka hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa
pembelajaran menuntut keaktifan guru dan siswa.
4.
Kemampuan Matematika
a. Hakikat Kemampuan
Kemampuan seseorang dikatakan terampil apabila kegiatan yang
to user untuk menghasilkan sesuatu
dilakukan ditandai oleh commit
kemampuannya
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
12
dengan kualitas yang tinggi (cepat atau cermat) dengan tingkat keajegan
yang relatif tepat, pembelajaran yang efektif bila dilakukan secara
berulang-ulang maka keterampilan baru akan dapat diperoleh. Seseorang
dikatakan mampu apabila kegiatan yang dilakukan ditandai oleh
kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu dengan kualitas yang tinggi
(cepat atau cermat) dengan tingkat kestabilan yang relatif tepat.
Kemampuan merupakan kesanggupan, kecakapan, kekuatan kita
berusaha dengan diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Berdasarkan
penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah suatu
proses perbuatan atau cara meningkatkan usaha dengan didasari
kesanggupan,
kekuatan
untuk
melakukan
sesuatu
potensi
yang
dimilikinya. kemampuan adalah suatu penambahan atau perkembangan
keterampilan kearah yang baik dimana penambahan atau perkembangan
keterampilan tersebut diperoleh dari metode latihan yang terstruktur dan
bertahap.
Berdasarkan kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
kemampuan adalah suatu metode terstruktur dan bertahap yang disertai
dengan kesanggupan, kekuatan, untuk mengembangkan potensi yang
dilakukan secara kontinu.
b. Pengertian Matematika
Istilah matematika dalam kehidupan sehari-hari sering diartikan
sebagai berhitung, karena pada umumnya matematika dipahami sebagai
suatu cabang pendahulu Matematika yang mempelajari operasi dasar
bilangan dalam bentuk angka. Pengertian matematika sebagai ilmu hitung
diperkuat oleh pendapat Webster New Third International Dictionary yang
menyatakan bahwa matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang
sifat dan hubungan antara bilangan-bilangan nyata beserta operasi
perhitungannya (Suatini, 2002: 102). Pendapat lain menurut Naga (1980)
bahwa matematika atau berhitung merupakan suatu cabang Matematika
yang mempelajari sifat hubungan-hubungan bilangan nyata beserta operasi
to user pengurangan, perkalian, dan
perhitungannya, meliputicommit
penjumlahan,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
13
pembagian, (Abdurrahman, 2003: 253). Perhitungan dalam matematika
dilakukan berdasarkan suatu aturan operasi matematika yang mana lebih
dulu dilakukan.
Kecermatan dan ketelitian seseorang dapat diukur dengan
matematika. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutanto (2009) yang
menyatakan bahwa ”Matematika dipakai untuk mengungkap, mengukur
dan
mengevaluasi
kemampuan
intelektual
seseorang,
terutama
kemampuan penalaran berhitung dan berpikir secara logis” (hal. 87).
Berdasarkan
pendapat
tersebut
dapat
disimpulkan
bahwa
matematika atau berhitung merupakan pengetahuan tentang bilangan yang
meliputi sifat dan pengoperasian sejumlah bilangan dalam bentuk angka,
adapun operasi perhitungannya meliputi penjumlahan, pengurangan,
perkalian, pembagian dan sebagainya. Matematika atau berhitung
merupakan salah satu keterampilan dasar yang harus dikuasai oleh peserta
didik, karena sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, dan berperan
dengan perkembangan ilmu lain yang lebih kompleks.
c. Hakikat Kemampuan Matematika
Kemampuan matematika atau kemampuan berhitung merupakan
salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, di mana
semua aktivitas kehidupan manusia memerlukan kemampuan ini, oleh
karena itu, kemampuan matematika merupakan keterampilan dasar yang
harus dikuasai oleh peserta didik. Kemampuan matematika selain sebagai
cabang pendahulu Matematika juga memiliki peranan yang sangat penting
terhadap perkembangan ilmu lain, seperti Fisika. Hal ini sesuai dengan
pendapat Druxes, Born dan Siemsen (1991, 83) dengan mengartikan Fisika
sebagai
ilmu
pengetahuan
yang
tidak
lepas
kaitannya
dengan
”menghitung”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penguasaan
konsep-konsep dasar matematika sangat berguna untuk dapat memahami
ilmu-ilmu lain yang semakin kompleks di jenjang yang lebih tinggi.
Definisi kemampuan menurut Depdikbud (1996, 623) dalam
to user
Kamus Besar Bahasa commit
Indonesia
Edisi Kedua menyatakan bahwa
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
14
kemampuan merupakan suatu kesanggupan atau kecakapan berusaha yang
dilakukan oleh diri sendiri. Pengertian matematika sebagai ilmu hitung
menurut Hollands (1984, 50) dalam Kamus Matematika menyatakan
bahwa matematika atau ilmu hitung merupakan suatu ilmu tentang
bilangan yang digunakan untuk menghitung bilangan-bilangan dengan
operasi hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan
sebagainya. Berdasarkan pendapat di atas, kemampuan matematika dapat
disimpulkan sebagai suatu kecakapan seseorang dalam melakukan
perhitungan bilangan yang berbentuk angka dengan operasi hitung
penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan sebagainya.
5.
Kemampuan Berpikir Logis
a. Hakikat Berpikir
Definisi berfikir yang paling umum adalah berkembangnya ide
dan konsep didalam diri seseorang. Penkembangan ide dan konsep ini
berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian
informasi yang tersimpan dalam diri seseorang yang berupa pengertianpengertian “ berfikir” mencakup banyak aktivitas mental. Menurut
Poespoprojo dan Gilarso, (1985, 4) berpikir adalah suatu kegiatan akal
yang terarah untuk ”mengolah” pengetahuan yang telah diterima melalui
panca indera, dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran di dalam
batin. Dengan kata lain, berpikir adalah suatu kegiatan berbicara dengan
diri sendiri.
Berfikir adalah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubunganhubungan sesuatu yang menjadi ia tahu atau ssuatu kegiatan yang
melibatkan otak kita bekerja. Simbol-simbol yang digunakan dalam
berfikir pada umumnya adalah menggunakan kata-kata, bayangan atau
gambaran dan bahasa. Namun, sebagian besar dalam berfikir orang
kebanyakan lebih sering menggunakan bahasa atau verbal kenapa, karena
bahasa merupakan alat penting dalam berfikir.
Berpikir secara logis adalah suatu proses berpikir dengan
commit
to masuk
user akal. Secara etimologis logika
menggunakan logika, rasional
dan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
15
berasal dari kata logos yang mempunyai dua arti 1) pemikiran 2) kata-kata.
Jadi logika adalah ilmu yang mengkaji pemikiran. Karena pemikiran selalu
diekspresikan dalam kata-kata, maka logika juga berkaitan dengan “kata
sebagai ekspresi dari pemikiran”.
b. Hakikat Logika
Secara etimologi, logika diturunkan dari kata sifat logike, bahasa
Yunani, yang berhubungan dengan kata logos,yang artinya pikiran atau
perkatan sebagai pernyataan dari pikiran. Sumber lain mengatakan logika
berasal dari kata logos yang berarti perkataan atau sabda. Istilah lainnya
adalah mantiq, kata Arab yang diambil dari kata kerja nataqa yang berarti
berkata atau berucap. Selanjutnya Poespoprojo dan Gilarso (1985, 5)
mengartikan logika selain sebagai cabang ilmu, juga merupakan pokok
dari keberadaan ilmu yang mendasari seseorang untuk berpikir secara tepat
dan benar.
Secara leksikal, Oxford Dictionary mendefinisikan logika
sebagai “science of reasoning, proof, thinking, or inference; particular
scheme of or treatise on this; chain of reasoning, correct or incorrect use
of argument, ability in argument, arguments.” Meriam Webster’s Desk
Dictionary menjelaskan bahwa logika adalah “a science that deals with
the rules and tests of sound thinking and proof by reasoning.” Kamus
Oxford juga menyebutkan bahwa aslinya istilah lengkap untuk logika
adalah logike tekhne, yang artinya seni atau keterampilan berpikir.
Pengertian
etimologis
maupun
leksikal
mengenai
logika
sebagaimana dikemukakan di atas menegaskan dua hal sekaligus yang
menjadi inti pengertian logika. Pertama, logika sebagai ilmu; logika adalah
elemen dasar setiap ilmu pengetahuan. Kedua, logika sebagai seni atau
keterampilan, yakni seni atau asas-asas pemikiran yang tepat, lurus, dan
semestinya. Sebagai keterampilan, logika adalah seni dan kecakapan
menerapkan hukum-hukum atau asas-asas pemikiran itu agar bernalar
user demikian, dapatlah dikatakan
dengan tepat, teliti, dan commit
teratur. toDengan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
16
bahwa logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan
lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.
c. Hakikat Berpikir Logis
Suatu jalan pikiran yang tepat dan sesuai dengan patokan-patokan
seperti yang dikemukakan dalam logika disebut logis. Seseorang yang
memiliki jalan pikiran yang tepat sesuai dengan aturan logika berarti ia
memiliki pemikiran yang logis. Berpikir secara logis ialah berpikir tepat
dan benar yang memerlukan kerja otak dan akal sesuai dengan ilmu-ilmu
logika. Dengan demikian berpikir secara logis sangat dibutuhkan dalam
belajar IPA. Menurut Panjaitan (2006, 1) dalam penelitiannya yang
berjudul “Hubungan Strategi Pembelajaran Induktif dan Kemampuan
Berpikir Logis Dengan Hasil Belajar Fisika” menyimpulkan bahwa siswa
terhadap kemampuan berpikir logis tinggi memiliki hasil belajar Fisika
yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa terhadap kemampuan
berpikir logis rendah.
Berpikir logis merupakan kegiatan berpikir menurut aturan atau
pola tertentu untuk menarik suatu kesimpulan, atau dengan kata lain,
berpikir logis adalah berpikir yang didasari oleh aturan-aturan berpikir
dengan tolok ukur penilaiannya berupa asas-asas logika dan hukum
penalaran. Menurut Sobur (2011) ”Penalaran yang betul merupakan unsur
yang amat penting dalam kegiatan berpikir, dan dapat menunjang kegiatan
berpikir yang benar” (hal. 209). Berdasarkan pendapat tersebut, dapat
disimpulkan bahwa berpikir logis merupakan suatu kegiatan berpikir
secara sistematis dalam membentuk kecakapan dengan mengacu pada
pemahaman pengertian, kemampuan aplikasi, kemampuan analisis,
kemampuan sintesis, bahkan kemampuan evaluasi.
6.
Kemampuan Kognitif
Kemampuan kognitif bisa diartikan sebagai kemampuan individu
untuk menggunakan pengetahuan yang dimiliki secara optimal untuk
commit to user
pemecahan masalah yang berhubungan
dengan diri dan lingkungan sekitar.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
17
Tanpa kemampuan kognitif, mustahil siswa dapat memahami faedah dan
menangkap pesan-pesan moral yang terkandung dalam materi pelajaran yang
diikuti. Itulah sebabnya pendidikan dan pembelajaran perlu diupayakan agar
kemampuan kognitif para siswa dapat berfungsi secara positif dan
bertanggung jawab.
Dalam pembelajaran, evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui
sejauh mana kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
Seorang pengajar harus memperhatikan beberapa ketentuan bila ia hendak
menentukan tujuan pengajaran, sejauh mana ia boleh menuntut sesuatu dari
murid-muridnya, serta seberapa besar kemampuan yang ada dalam diri
murid-muridnya. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah tingkat
kemampuan berfikir siswa. ”Pengajar perlu memperhitungkan tingkat
kemampuan berfikir murid sesuai dengan hasil proses belajar yang pernah
mereka alami” (Rooijakkers, 1993: 109).
Untuk mengetahui jenis latihan dan macam tugas yang dapat
mendorong siswa melakukan kerja pikir sampai taraf tertentu,
pengajar perlu mengetahui macam–macam taraf berfikir yang ada.
Para psikolog menyusun suatu sistem klasifikasi yang disebut
taksonomi, untuk menjelaskan
taraf–taraf berfikir yang ada.
(Rooijakkers,1993: 111).
Berdasarkan pendapat Bloom taksonomi untuk menjelaskan taraftaraf berfikir tersebut dapat dibedakan menjadi tiga domain, yaitu kognitif,
afektif, dan psikomotor. Domain kognitif meliputi tujuan yang berhubungan
dengan berfikir, mengetahui, dan memecahkan masalah. Domain afektif
mencakup tujuan-tujuan yang berkaitan dengan sikap, nilai, minat, dan
apresiasi. Domain psikomotor meliputi tujuan-tujuan yang berhubungan
dengan keterampilan manual dan motorik. Rumusan tujuan belajar dalam
domain kognitif menurut Bloom adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan
Pengetahuan mencakup ingatan tentang hal-hal yang khusus atau
hal-hal yang umum, tentang metode-metode, proses-proses, struktur atau
setting. Ciri pokok tahap commit
ini adalah
ingatan. Dalam rangka penilaian, tes
to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
18
ingatan hampir tidak lebih mencakup mengingat kembali suatu bahan
tertentu.
b. Pemahaman
Pemahaman mencakup bentuk pengertian yang paling rendah.
Taraf ini berhubungan dengan jenis pemahaman yang menunjukan bahwa
siswa mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan dan dapat
menggunakan bahan pengetahuan atau ide tertentu tanpa perlu
menghubungkannya dengan bahan lain atau tanpa perlu melihat seluruh
implikasinya.
c. Aplikasi
Aplikasi mencakup digunakannya abstraksi dalam situasi yang
khusus atau konkret. Abstraksi yang diterapkan dapat berbentuk prosedur,
gagasan umum, atau metode yang digeneralisasikan. Dapat juga berupa
ide-ide, prinsip-prinsip, teknis, atau teori-teori yang harus diingat atau
diterapkan.
d. Analisis
Analisis mencakup penggunaan suatu ide ke dalam unsur-unsur
pokoknya sedemikian rupa sehingga hierarkinya menjadi jelas atau untuk
menunjukan bagaimana ide-ide disusun. Di samping itu, juga dimaksudkan
untuk
menunjukan
caranya
menimbulkan
efek
maupun
dasar
penggolongannya.
e. Sintesis
Sintesis mencakup kemampuam menyatukan unsur-unsur dan
bagian-bagian
sehingga
merupakan
suatu
kesatuan.
Sintesis
ini
menyangkut kegiatan menghubungkan potongan-potongan, bagian-bagian,
unsur-unsur dan sebagainya kemudian menyusunnya sedemikian rupa
sehingga terbentuklah pola atau struktur yang sebelumnya.
f. Evaluasi
Evaluasi menyangkut penilaian bahan dan metode untuk
mencapai tujuan tertentu. Penilaian kuantitatif dan kualitatif diadakan
to userdan metode memenuhi kriteria
untuk melihat sejauh manacommit
bahan-bahan
perpustakaan.uns.ac.id
7.
digilib.uns.ac.id
19
Hakikat Fisika
Untuk mengetahui hakikat Fisika, terlebih dahulu harus mengetahui
definisi tentang IPA. ”IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam
secara sistematis dan bukan hanya kumpulan pengetahuan yang berupa faktafakta, konsep-konsep saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan”.
(Depdiknas, 2006: 377). IPA atau sains dipandang sebagai faktor yang dapat
mengubah sikap dan pandangan manusia terhadap alam semesta dari sudut
pandang mitologi menjadi sudut pandang ilmiah.
Fisika menjadi bagian dari ilmu yang mempelajari tentang gejalagejala alam IPA. IPA adalah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun
secara sistematis tentang gejala alam. Pengertian IPA meliputi tiga hal yaitu
produk, proses dan sikap ilmiah yang ketiganya saling berhubungan.
a. Produk IPA, adalah semua pengetahuan tentang gejala alam yang telah
dikumpulkan melalui pengamatan/observasi. Produk IPA berupa fakta,
konsep, prinsip, hukum dan teori.
b. Proses IPA, sering disebut juga proses ilmiah/metode ilmiah. Yang disebut
dengan metode ilmiah adalah gabungan antara penataran dan pengujian
secara empiris. Adapun langkah-langkah metode ilmiah adalah identifikasi
masalah,
perumusan
masalah,
penyusunan
hipotesis,
melakukan
eksperimen, pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan.
c. Nilai dan sikap ilmiah. Selama melakukan metode ilmiah melalui proses
observasi, eksperimen dan berfikir logis harus digunakan sikap jujur,
obyektif dan komunikatif agar dapat mencapai hasil IPA yang benar.
Pendapat dari beberapa ahli tentang Fisika antara lain: Brockhaus
menyatakan bahwa: “Fisika adalah pelajaran tentang kejadian alam, yang
memungkinkan penelitian dengan percobaan, pengukuran apa yang didapat,
pengujian secara sistematis dan berdasarkan peraturan-peraturan umum”
(Herbert Druxes, 1986: 3). Sejalan dengan itu Gerthsen menyatakan bahwa,
”Fisika adalah suatu teori yang menerangkan gejala-gejala alam yang
sederhana dan berusaha menemukan hubungan antara kenyataan-kenyataan,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
20
prasyarat dasar untuk pemecahan persoalan serta mengamati gejala alam
tersebut” (Herbert Druxes, 1986: 3).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Fisika adalah ilmu
yang mempelajari tentang kejadian alam yang berkembang didasarkan atas
penelitian, percobaan, pengamatan dan pengukuran serta penyajian konsep,
teori secara matematis dengan memperlihatkan konsep-konsep ilmu yang
mempengaruhinya.
B. Kerangka Berpikir
Dalam mempelajari Fisika, sering ditemukan siswa yang kesulitan dalam
memahami materi dan penggunaan rumus. Banyak siswa yang menguasai konsep
namun kesulitan dalam mengerjakan soal hitungan, begitu pula sebaliknya, siswa
yang pandai dalam mengerjakan soal hitungan, tetapi lemah dalam pemahaman
konsep. Hal ini karena Fisika merupakan suatu cabang Ilmu Pengetahuan Alam
yang erat kaitannya dengan berhitung dan berpikir logis. Kombinasi yang baik
antara kemampuan berpikir logis dapat mempermudah siswa dalam mengerjakan
soal Fisika.
Berdasarkan nilai akhir Matematika dan Fisika kelas X SMK Kesehatan
Citra Medika Sukoharjo ditemukan siswa dengan nilai Matematika tinggi
memiliki nilai Fisika rendah, dan ada siswa dengan nilai Matematika rendah
memiliki nilai Fisika tinggi.
Menurut Sutanto (2009, 87) kemampuan berhitung dapat digunakan
dalam mengungkap, mengukur, dan mengevaluasi kemampuan intelektual
seseorang, terutama kemampuan penalaran berhitung dan berpikir secara logis,
sedangkan menurut Poespoprojo dan Gilarso, (1985, 4) berpikir adalah suatu
kegiatan akal yang terarah untuk ”mengolah” pengetahuan yang telah diterima
melalui panca indera, dan ditujukan untuk mencapai suatu kebenaran.
Pengetahuan tersebut dapat berupa informasi, bukti, atau fakta yang diperoleh dari
kejadian-kejadian alam maupun percobaan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
21
Kemampuan matematika dan berpikir logis memiliki peran yang penting
dalam keberhasilan belajar siswa. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa
siswa yang memiliki kemampuan matematika tinggi akan memiliki kemampuan
kognitif Fisika yang tinggi. Siswa yang memiliki kemampuan berpikir logis tinggi
juga akan memiliki kemampuan kognitif Fisika yang tinggi. Oleh karena itu,
siswa yang memiliki kemampuan matematika dan berpikir logis tinggi,
dimungkinkan akan memiliki kemampuan kognitif Fisika yang tinggi pula.
C. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir di atas, maka dapat dirumuskan hipotetis
alternatif sebagai berikut:
1.
Ada pengaruh perbedaan antara kemampuan matematika siswa kategori
tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa SMK pada mata
pelajaran Fisika.
2.
Ada pengaruh perbedaan antara kemampuan berpikir logis siswa kategori
tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa SMK pada mata
pelajaran Fisika.
3.
Ada interaksi antara kemampuan matematika dan kemampuan berpikir logis
terhadap kemampuan kognitif siswa SMK pada mata pelajaran Fisika.
commit to user
Download