Dinamika Persaingan Pada Industri Chip Microprocessor

advertisement
Dinamika Persaingan Pada
Industri Chip Microprocessor
Kasus:
Versus
Ditulis untuk memenuhi persyaratan kelulusan
Mata Kuliah Seminar on Competitive Dynamics
Dosen: Prof. Dr. Hendrawan Supratikno
Oleh:
Mas Wigrantoro Roes Setiyadi
NIM: 8605210299
UNIVERSITAS INDONESIA
FAKULTAS EKONOMI
SEKOLAH PASCA SARJANA
PROGRAM STUDI ILMU MANAJEMEN
PROGRAM DOKTOR STRATEGIC MANAGEMENT
Jakarta, Juni 2006
Daftar Isi
1. Pendahuluan
1.1. Perkembangan Industri Semikonduktor
1.2. Lisensi sebagai Awal Persaingan
2. Kerangka Teori
2.1. Pasar Oligopoli
2.2. Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantage)
2.3. Keunggulan Perusahaan Berbasis Sumberdaya
2.3.1. Mekanisme Isolasi (Isolating Mechanism)
2.3.2. Kendala Terhadap Imitasi (Barriers to Imitation)
2.4. Keunggulan Pelaku Pertama (Early Mover Advantage)
3. Persaingan Antara Intel Versus AMD
3.1. Intel
3.2. AMD
4. Analisis
4.1. Perspektif Dinamika Persaingan
4.2. Anomali Oligopoli
4.3. Memenangi Persaingan
5. Kesimpulan dan Saran
6. Lampiran
7. Daftar Pustaka
2
1. Pendahuluan
Pergulatan untuk mempertahankan posisi dominan di pasar, sampai pada
kondisi tertentu seringkali membutuhkan tidak hanya keunggulan teknologi,
kehandalan
jajaran
manajemen,
namun
juga
kepiawaian
merancang
dan
melaksanakan strategi bisnis serta kemahiran dalam berperkara di pengadilan.
Suasana seperti ini tergambar dalam persaingan antara Advanced Micro Devices
(AMD) dan Intel, keduanya merupakan produsen chip microprocessor, suatu
perangkat utama dalam komputer. Bagi Intel yang lebih dahulu eksis dan menguasai
hampir 60% pangsa pasar, persaingan dengan AMD merupakan upaya agar selalu
waspada bahwa ada “orang lain” yang dapat menggerogoti kue bisnisnya. Sementara
itu, bagi AMD, pertarungannya dengan Intel merupakan pertaruhan untuk merebut
kehormatan dan kelangsungan hidup.
1.1.
Perkembangan Industri Semikonduktor
Akhir 60-an hingga awal 70-an merupakan kurun waktu yang menandai
diawalinya produk Teknologi Informasi, beberapa di antaranya adalah mini-computer,
modulator-demodulator (Modem), integrated circuits (IC), hingga teknologi yang
memungkinkan pesawat ruang angkasa Apollo mendarat di Bulan. Semua inovasi dan
karya besar ini dimungkinkan setelah ditemukannya bahan Silicon yang selanjutnya
digunakan sebagai komponen utama bahan semi penghantar listrik (semiconductor).
Pertengahan 70-an mulai menunjukkan adanya peningkatan permintaan
terhadap microprocessor dan core memory, ketika banyak perusahaan elektronika
mulai menyadari banyak aplikasi menggunakan semikonduktor dapat diterapkan pada
produk konsumer maupun bisnis. Barang – barang elektronik, seperti radio, televisi,
amplifier, jam tangan, kalkulator, telepon, facsimili, dan masih banyak lagi
merupakan produk elektronika yang memanfaatkan semikonduktor dalam wujud
transistor, atau IC. Kemampuan komputer melakukan kerja komputasi juga semaikn
meningkat dengan penggunaan semikonduktor menggantikan tabung hampa udara
(vacuum tubes).
Jika semula, dengan teknologi transistor komputer main frame
merupakan produk unggul dengan kemampuan time-sharing, dengan ditemukannya
IC, penggunaan komputer tidak lagi bergantung pada ketersambungan kepada main
3
frame, namun individu dapat menggunakan komputer pribadi di mejanya (desktop
personal computer / PC).
Awal 80-an ditandai dengan mulai menanjaknya penggunaan PC, tidak saja di
kantor namun juga mulai dipakai di rumah, dan mengubah tata cara berkomunikasi,
bekerja, dan pemrosesan informasi. Tahun 1986 terjadi penurunan tajam permintaan
terhadap PC yang berdampak pada pengurangan permintaan terhadap chip
microprocessor. Intel dan AMD di satu sisi dan dan pelanggan mereka, yang notabene
adalah perusahaan – perusahaan produsen PC berjuang untuk menemukan keunggulan
kompetitif baru terutama didorong oleh makin sulitnya lingkungan bisnis. Pada
pertengahan hingga akhir dekade 80-an, dengan microprocessor i386 dan i486 Intel
berhasil mendominasi pasar microprocessor untuk PC, sehingga produsen PC hanya
memiliki satu sumber. Kondisi ini berubah ketika tahun 1991 AMD mulai berhasil
membuat processor yang dapat bersaing dengan produk Intel.
Di pihak lain, awal 90-an komunikasi selular mulai tumbuh, demikian pula
Internet mulai memasuki tahap komersial setelah beberapa tahun sebelumnya dilepas
oleh Pemerintah Amerika Serikat dari penggunaan khusus untuk militer agar dapat
digunakan oleh masyarakat awam. Komunikasi data dan mobile computing mulai
merebak, integrasi antara telekomunikasi dan teknologi informasi tidak terelakkan.
Pertengahan hingga akhir dekade 90-an produsen dan masyarakat pengguna PC mulai
menikmati buah kompetisi baru di industri microprocessor. Di sisi lain, fenomena ini
menunjukkan bahwa sementara kemajuan teknologi bergerak sangat cepat, menjadi
jelas bahwa perusahaan penghasil teknologi perlu bekerja sama untuk memberikan
teknologi yang dibutuhkan pelanggan, dari pada melakukan inovasi hanya untuk
memenuhi kepentingannya sendiri.
Memasuki abad milenium yang ditandai dengan hiruk pikuk produk teknologi
informasi, muncul peningkatan permintaan terhadap PC yang dilengkapi dengan
sarana akses Internet dan komunikasi nirkabel (internet-ready and wireless
comunication devices). PC yang tidak dilengkapi kedua perangkat ini menjadi tidak
laku di pasaran. Awal milenium juga ditandai dengan melejitnya bisnis dotcom yang
meski relatif sebentar namun dapat menghidupkan kembali gairah industri Teknologi
Informasi (TI). Ketika bisnis dotcom tidak mewujudkan janjinya, industri TI secara
umum, termasuk semiconductor, mengalami penurunan kinerja. Kondisi ini juga
ditunjang oleh evolusi strategi produsen PC yang semula memfokuskan pada
4
perluasan produk kepada penggantian komponen dan peningkatan kapasitas komputer
dengan peralatan tambahan (peripherals).
Meski dihadapkan pada tuntutan untuk membangun perusahaan agar lebih
ramping, namun pada awal 2001 permintaan terhadap TI, khususnya kompuer yang
Internet-ready masih tetap kuat. Namun demikian peristiwa penghancuran gedung
World Trade Center di New York pada tanggal 11 September 2001 mengubah
segalanya. Kinerja industri semikonduktor mengalami penurunan paling tajam dalam
sejarah, sementara perusahaan dituntut untuk selalu kompetitif. Awal tahun 2002
menunjukkan gejala perbaikan. Penjualan consumer electronics meningkat, didorong
oleh penjualan DVD, perekam-suara digital, dan kamera digital. Tahun 2003 industri
TI kembali menancapkan kakinya, permintaan kembali menguat, dan hal ini
mendorong peningkatan harga saham perusahaan - perusahaan TI. Penjualan PC
tumbuh dengan mantap, wireless computing memperoleh momentumnya, dan
komputasi 64-bit memasuki arus utama.
1.2.
Lisensi sebagai Awal Persaingan
Lembah Silicon (Silicon Valey) di California melahirkan teknologi khususnya
Teknologi Informasi (TI) yang setelah diimplementasikan di pasar mengubah tatanan
industri, masyarakat, dan bahkan tata hubungan dunia. Komputer salah satunya.
Ditemukannya bahan silikon yang memiliki sifat semi-penghantar listrik (semiconductor) mengilhami dibuatnya transistor yang selanjutnya digunakan sebagai
pengganti tabung hampa udara (vacuum tube) yang sebelumnya digunakan sebagai
komponen inti perangkat elektronika. Perubahan besar terjadi setelah digunakannya
transistor. Ukuran fisik komputer yang semula besar sekali berangsur mengecil,
demikian pula kapasitas pengolahan data melonjak cukup besar dibandingkan dengan
ketika masih menggunakan tabung hampa udara. Lihat Gambar 1.
Perkembangan teknologi terus bergulir, transistor yang semula ukurannya
sudah seper-sekian dari tabung hampa udara, dengan ditemukannya teknologi mikro
elektronik dapat dibuat semakin kecil dan dirangkai dalam sebuah integrated circuit
(IC). Awalnya, dalam satu IC yang berdimensi 0.5 x 3 x 1cm (tebal x panjang x
lebar), terdapat setidaknya 1000 transistor. Awal tahun 2006, dengan kemampuan
yang makin berkembang, IC dengan dimensi sama dapat terdiri dari 100.000
transistor. Akibat peningkatan kemampuan untuk memperkecil ukuran IC, perangkat
5
elektronik digital berukuran makin kecil sementara kemampuannya (features) makin
banyak bahkan hampir tidak terbatas.
Intel muncul di masa komputer digital baru diperkenalkan. Pembuat IC
terbesar pada masa itu adalah Fairchild yang mengoperasikan pabrik di banyak negara
termasuk Indonesia. Pendiri Intel – Bob Noyce dan Gordon Moore – meninggalkan
Fairchild setelah keduanya melihat peluang yang sangat besar apabila mereka
membangun bisnis sendiri. Intel semula menekuni bisnis pembuatan chip IC yang
digunakan sebagai Random Access Memory (RAM). Dalam perjalanan waktu, dan
sebagai reaksi atas munculnya pemain baru dari Jepang (NEC, Fujitsu, Toshiba,
Sharp, dll.) maupun dari dalam negeri (USA), Intel akhirnya menghentikan produksi
RAM dan fokus hanya pada memroduksi microprocessor.
Tidak lama setelah Intel berdiri, tepatnya pada tanggal 1 Mei 1969 Jerry
Sander – mantan pegawai Fairchild – mendirikan Adanced Micro Devices (AMD)
yang produknya sebagian besar sama dengan yang dibuat oleh Intel. Berdirinya AMD
menambah pemasok IC dan tentu saja mengubah situasi industri IC yang semula
dikuasai oleh Fairchild, Motorola, Texas Instrument, Zilog, dan Intel. Dalam
perjalanan waktu Fairchild perlahan – lahan mengurangi perhatian pada produksi IC,
sementara Motorola mulai fokus pada perangkat telekomunikasi, sehingga praktis
pada industri microprocessor pemain utamanya tinggal Intel dan AMD.
Persaingan Intel versus AMD diawali pada tahun 1975 ketika Intel memberi
lisensi kepada AMD untuk membangun microprocessor-nya sendiri menggunakan
rancangan microprocessor 8080A karya Intel. Berangkat dari lisensi Intel inilah,
AMD membangun kompetensi barunya di industri microprocessor. Perjalanan waktu
membuktikan, pertarungan dua perusahaan ini dalam memengaruhi standar komputer,
agar produsen komputer menggunakan processor hasil produksinya, tidak saja
merupakan pergulatan membangun teknologi baru, tetapi juga melibatkan kegiatan
mata – mata (industrial spionage), perjuangan di pengadilan, serta melibatkan politisi
dan pejabat pemerintah di berbagai negara di mana kedua perusahaan ini eksis.
6
2.
Kerangka Teori
Industri elektronika dunia, khususnya chip microprocessor tergolong industri
yang oligopoli karena dikuasasi oleh segelintir pemain. Dua pemain besar yang saling
bersaing sejak akhir tahun 60-an: Intel dan Advanced Micro Devices (AMD)
menguasai tak kurang dari 90% pangsa pasar, 10% sisanya harus dibagi untuk pemain
lainnya seperti Zilog, Motorola, NEC, National Semiconductor, Texas Instrument,
dan lain – lain. Berbeda dengan industri komputer yang merupakan hilir dari industri
chip micropocessor dan struktur pasarnya beranjak dari monopoli, oligopoli dan
akhirnya menjadi persaingan sempurna (Baye, 2006), dalam industri microprocessor
struktur pasarnya relatif stabil.
2.1.
Pasar Oligopoli
Oligopoli terjadi ketika hanya ada sejumlah kecil pengusaha dalam suatu
industri tertentu di mana keputusan masing – masing saling berpengaruh. (Pindyck &
Rubinfeld, 1998).
Perusahaan membedakan produk yang dihasilkan dari produk
pesaingnya secara substantial melalui kombinasi rancangan produk, promosi, dan
distribusi (Douglas, 1995). Dalam pasar oligopoli manajer dituntut tidak hanya
membuat strategi persaingan yang istimewa, namun juga dituntut untuk selalu
memerhatikan reaksi pesaing terhadap setiap strategi yang diluncurkan perusahaan.
Sebagai contoh, ketika pesaing menurunkan harga, manajer dihadapkan pada banyak
pilihan untuk menjawab strategi pesaing tersebut, apakah ikut menurunkan harga, atau
tidak terpengaruh, atau bahkan menaikkan kualitas produk dan sekaligus menaikkan
harga. Kerterkaitan strategi antar-pelaku bisnis menjadi ciri khas pasar oligopoli.
Penjual berperan sebagai pembuat harga (price makers), sedangkan pembeli hanya
dapat menyepakati harga (price taker) yang dibuat oleh pengusaha. Setiap pengusaha
memiliki peran strategis. Sementara itu, entry ke pasar industri yang berstruktur
oligopoli relatif terbuka namun sulit untuk dimasuki oleh pemain baru.
Dua perusahaan dengan produk yang hampir identik dalam suatu industri
secara bersama – sama menghadang masuknya pemain baru. Perilaku seperti ini
menghasilkan marginal cost yang konstan. Apabila kondisi seperti ini terus
berlangsung akan menjurus pada pembentukan kartel. Namun demikian pembentukan
kartel secara penuh di mana perusahaan secara bersama mengatur harga menjadi sulit
7
dilakukan karena adanya peluang untuk mengingkari kesepakatan. Keseimbangan
antara di antara pelaku oligopoli terjadi pada perpotongan kurva reaksi. Setiap
perusahaan memilih strategi terbaik, yang selanjutnya dapat berpengaruh kepada
strategi perusahaan lainnya. Namun demikian jika semua pelaku oligopli dapat
konsisten dengan komitmennya untuk tidak melakukan pengingkaran, maka oligopoli
menjadi bentuk pasar yang dapat merugikan konsumen.
Dalam industri chip microprocessor, model yang tepat untuk menggambarkan
persaingan adalah Bertrand Oligopoli (Baye, 2006; halaman 336), hal ini karena
memenuhi persayaratan:
1. ada sedikit perusahaan yang melayani banyak pelanggan;
2. perusahaan yang bersaing menghasilkan produk yang identik dengan biaya
marginal yang konstan;
3. perusahaan memilih terlibat dalam persaingan harga dan bereaksi secara optimal
terhadap perubahan harga yang dilakukan kompetitor;
4. konsumen memiliki informasi yang mencukupi dan tidak ada biaya transaksi; dan
5. terdapat barrier to exist.
2.2.
Keunggulan Kompetitif (Competitive Advantage)
Perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif memiliki peluang lebih
besar untuk tetap eksis di industri yang digelutinya (Day & Reibstein, 1997).
Perusahaan memiliki keunggulan kompetitif manakala aksinya dalam industri atau
pasar tertentu menciptakan nilai ekonomi dan beberapa perusahaan lain sejenis
mengikutinya (Barney, 2002, halaman 9). Pemahaman terhadap pentingnya
perusahaan memiliki keunggulan kompetitif menjadikannya sebagai tujuan. Padahal,
keunggulan kompetitif sejatinya merupakan alat manajemen (management tools) yang
setelah dimiliki kemudian dioperasionalkan sehingga perusahaan mencapai posisi
terbaik yang diinginkan. Iika tidak cermat dalam merancang strategi, perusahaan
dapat terjebak pada fokus terlalu besar meraih keunggulan kompetitif, namun setelah
itu tidak dapat menjaga keunggulan tersebut agar tetap terbaik dalam industri yang
digelutinya.
Dari perspektif teori, tantangan yang harus dijawab antara lain bagaimana
sebuah perusahaan menjadi unggul di industri yang dipilihnya dan bagaimana agar
mampu mempertahankan keunggulan yang sudah diraih. Menjawab pertanyaan ini,
ada beberapa hal yang memengaruhi tetap dimilikinya keunggulan kompetitif (Collis
8
& Montgomery, 2005). Pertama, adanya ancaman peniruan (imitation) yakni pesaing
membuat produk atau jasa serupa dengan yang dimiliki perusahaan. Kedua, masuknya
pendatang baru (new entry), walaupun penentuan harga dari monopolistic competition
lebih besar dari marginal cost, namun hal ini tidak menjamin bahwa keuntungan yang
diperolehnya akan langgeng. Pendatang baru dengan sedikit diferensiasi akan
menggerogoti pangsa pasar. Ketiga, adanya produk yang menguasai celah pasar
tertentu (distinct niche products) sehingga perusahan tidak dapat memasuki pasar
tersebut.
Keunggulan kompetitif dapat dibangun dengan menggunakan pendekatan
sistem terintegrasi di mana setiap elemen strategi saling diselaraskan (Collis &
Montgomery, 2005). Sumberdaya perusahaan dievaluasi untuk melihat apakah dapat
memenuhi faktor – faktor penentu sukses, sehingga dapat menjadi pertimbangan
(justification) apakah akan tetap di bisnis yang sekarang atau masuk ke bisnis baru.
Selanjutnya, bisnis tersebut dipantau dan dikendalikan dengan mengandalkan
infrastruktur organisasi. Jika manajemen puncak tidak mampu mengendalikan
bisnisnya secara indenpenden, maka besar kemungkinan keunggulan kompetitif yang
diharapkan tidak pernah tercapai.
Selain membutuhkan kemampuan pengawasan dan pengendalian, guna
mencapai keunggulan kompetitif juga diperlukan hubungan yang kuat (coherence) di
antara berbagai elemen organisasi bisnis. Hal ini dapat dilakukan melalui rancangan
struktur, sistem dan proses yang memungkinkan perusahaan secara efektif
memanfaatkan sumber dayanya. Struktur perlu dirancang agar mampu memberi
dukungan terhadap setiap sumberdaya dengan intervensi minimal. Sedangkan sistem
dan proses yang sesuai dengan karakter perusahaan dipilih untuk mendukung
ketrampilan sumberdaya manusia, dan koordinasi berbagai macam aktivitas.
2.3.
Keunggulan Perusahaan Berbasis Sumberdaya
Perusahaan harus mampu menciptakan value yang lebih tinggi dari pesaing.
Penciptaan value tersebut memerlukan ketersediaan sumber daya dan kemampuan
mengelolanya (disctinctive capabilities). Semua perusahaan mempunyai sumberdaya
dan kemampuan (capabilities), yang membedakan adalah kelangkaan (scarcity) and
imperfect mobile. Kelangkaan dimaksudkan bahwa hanya sedikit yang memiliki
sumberdaya dan kemampuan seperti yang dipunyai perusahaan. Meski demikian,
kelangkaan tidak menjamin bahwa tidak ada perusahaan lain yang dapat memiliki
9
sumber daya serupa atau sumber daya substitusi. Sumberdaya langka yang telah
dimiliki dapat dengan mudah beralih ke tangan pesaing, kecuali bila sumberdaya
tersebut dilengkapi dengan imperfectly mobile. Umpamanya, sumber daya tersebut
tidak dapat dengan mudah menjual dirinya sendiri ke pesaing. Contoh, supplier KMart hanya bisa menjual ke K-mart. Beberapa sumberdaya merupakan imperfectly
mobile; umpamanya teknologi atau ketrampilan yang didapat dari beberapa tahun
pengalaman, reputasi, hak cipta, keterikatan akan geography dan lain sebagainya.
Sebaliknya, bila sumberdaya langka yang dimiliki berwujud pegawai ahli, informasi,
teknologi dan rumus yang bisa di-copy maka akan dengan mudah sumberdaya
tersebut menjadi mobile.
2.3.1. Mekanisme Isolasi
Kepemilikan sumberdaya langka dan yang bersifat sulit untuk ditiru tidak
cukup untuk menjamin perusahaan tetap memiliki keunggulan kompetitif. Xerox
produsen mesin photo copy mendapat perlawanan dari Canon dengan produk yang
kualitasnya baik dan jarang rusak, sehingga menumpulkan sustainable competitive
advantage-nya Xerox. Isolating mechanism mencegah perusahaan lain mengambil
sebagian atau seluruh keuntungan perusahaan. Mekanisme isolasi guna melindungi
produk atau jasa dilakukan dengan mencegah duplikasi (impediment to imitation)
produk unggulan. Sebagai contoh, Cisco dengan produk routers, penghubung jaringan
yang dibangun berdasarkan konsep yang berbeda dari peralatan sejenis yang sudah
ada sebelumnya berhasil mendominasi pasar perangkat jaringan dan memberikan
kontribusi keuntungan yang sangat besar melebihi dari apa yang telah dicapai oleh
Coca Cola, Intel dan Microsoft.
2.3.2. Kendala Terhadap Imitasi
Selain upaya menghambat imitasi secara nyata (tangible barriers to imitation),
ada teknik lain yang dapat digunakan yakni secara tidak nyata (intangible barriers).
Hambatan tidak nyata dapat tercipta secara tidak langsung, ketika perusahaan berhasil
menciptakan kemampuan unik (distinctive organizational capabilities). Adapun
hambatan – hambatan tersebut berupa causal ambiguity, dependence on historical
circumstances, dan social complexity.
10
Causal Ambiguity.
Merujuk pendapat Richard Rumelt, Causal Ambiguity adalah situasi dimana
perusahaan dengan kemampuan yang tidak mudah didefinisikan (obscure) dan hanya
dapat dimengerti secara tidak sempurna namun masih dapat menciptakan nilai bagi
stakeholders. Pengetahuan dan ketrampilan (knowledge and knowhow) yang dimiliki
merupakan tacit knowledge, yaitu kemampuan yang sudah menjadi satu dengan
pemiliknya, namun sulit diartikulasikan ke dalam bentuk formula, algoritma atau
peranturan.
Pengetahuan tersebut biasanya didapat dari uji coba dan diperhalus
melalui praktek dan pengalaman, jarang ditulis datau dikodifikasi ke dalam buku
petunjuk, dan hanya bisa dibuktikan bila dipraktekkan secara langsung. Di pihak lain,
causal ambiguity juga mempunyai dampak negatif yakni perusahaan tidak mampu
mem-transplantasi-kan kesuksesan di suatu pabrik ke pabrik lain walaupun dari
perusahaan yang sama.
Dependence on Historical Circumstances.
Perusahaan mungkin juga tidak dapat mereplikasi kemampuan pesaing karena
sejarah dan pengalamannya. Ketergatungan kepada masa lalu (historical dependence)
membatasi kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dari kebutuhan operasional
baru. Historical dependence hanya dapat digunakan untuk masa yang pendek.
Contohnya People Express mendapatkan keuntungan dari adanya perubahan regulasi
dengan pemanfaatan tenaga buruh yang rendah di mana perusahaan besar masih
terkunci dengan serikat buruhnya, namun setelah perusahaan besar tersebut telah
berhasil merenegosiasikan kontrak dengan buruhnya, People Express mendapatkan
kesulitan untuk mempertahankan keunggulannya.
Social Complexity
Hubungan yang baik dari manajer perusahaan terhadap pemasok dan
konsumen termasuk yang sulit ditirukan. Salah satu penyebab sukses Toyota adalah
kepercayaan yang diperoleh dari para pemasoknya. Ketergantungan perusahaan
didalam mempertahankan keunggulan bersaing dari causal ambiguity, history dan
social complexity menyebabkan perusahaan yang melakukan perubahan organisasi
secara besar-besaran dan melupakan aspek di atas berakibat kehancuran perusahaan.
11
2.4.
Keunggulan Pelaku Pertama
Konsep pelaku pertama (first mover) dipengaruhi oleh karya ekonom terkenal
Joseph Schumpeter yang beragumen: perusahaan mencapai keunggulan kompetitif
dengan jalan inovasi (Hoskisson, Hitt & Ireland, 2004). Perusahaan dikatakan sebagai
pelaku pertama bila mengambil langkah kompetitif awal (terlebih dahulu sebelum
pesaing melakukanya) guna membangun atau mempertahankan posisi atau
meningkatkan keunggulan yang sudah diraihnya. Pada umumnya first mover
mengalokasikan dana yang cukup besar yang akan digunakan untuk membiayai
inovasi dan pengembangan produk, kampanye pemasaran, serta kegiatan penelitian
dan pengembangan.
Menjadi first mover memiliki peluang untuk meraih manfaat yang substansial,
khususnya dalam pasar yang siklusnya relatif cepat di mana periode pengenalan
produk – produk baru terjadi dalam waktu singkat, sehingga menjadi sulit bagi
perusahaan untuk tetap mempertahankan keunggulan kompetitif bila tetap
mempertahankan produk produk lama. Oleh karena itu, meski keuntungan yang
diraihnya tidak pernah absolut, namun demikian dalam lingkungan industri yang
perubahannya sangat cepat akibat pengembangan teknologi, menjadi first mover
merupakan pilihan strategi yang mendukung kenunggulan kompetitif.
Selain dapat memperoleh tingkat keuntungan di atas rata – rata, sampai
dengan pesaing mampu merespon langkah suksesnya, sebagai first mover dapat
memetik manfaat dari: kesetiaan pelanggan yang tetap memilih produk pertama
karena kualitas maupun ketersediannya; dan pangsa pasar yang telah dibangun
sementara belum ada pesaing. Di samping itu, ada keuntungan lain yang dapat
diterima oleh first mover, yakni: kurva pembelajaran (learning curve), reputasi dan
ketidak-pastian pembeli (reputation and buyer uncertainty), biaya pengalihan yang
dialami pembeli (buyer switching-cost), dan efek jaringan (network effects).
Perusahaan yang mampu menjual produknya lebih awal akan mendapatkan
kurva pembelajaran dan menghasilkan biaya yang lebih rendah daripada pesaing.
Semakin rendah struktur biaya akan mampu memotong pesaing, seterusnya
meningkatkan penjualan dan mendapatkan kurva pembelajaran lagi. Perusahaan yang
mempunyai reputasi kualitas produk yang baik, memiliki peluang untuk mendapatkan
tingkat keuntungan yang besar. Hal ini salah satunya disebabkan oleh karena pembeli
cenderung ragu untuk pindah ke produk lain yang belum dikenal. Contoh; penjualan
obat aspirin. Perusahaan pioneer menjualnya dengan harga US$ 2.5. Setelah beberapa
12
lama, pendatang baru tidak bisa menjual dengan harga yang sama, karena pembeli
cenderung untuk tidak berganti produk kepada yang telah diyakini kualitasnya.
Sehingga dalam memasuki pasar, pendatang baru mau tidak mau harus menjualnya
dengan harga yang lebih murah. Disini first mover menikmati harga premiumnya,
ditambah dengan kepercayaan pembeli yang semakin banyak.
Ada beberapa limitasi dari dampak reputasi yang perlu mendapat perhatian.
Perusahaan mungkin sangat percaya terhadap produknya dan mengeksploitasinya
secara berlebihan. Perubahan demography dan perubahan selera mungkin akan
menggerogoti nilai dari merek yang telah terbentuk. Teknologi akan memperpendek
jarak antara merek terkenal dengan merek yang kurang terkenal.
Pembeli mengeluarkan biaya pengalihan (swithcing costs) untuk berganti
pemasok. Contohnya; pengguna Microsoft Word harus mengeluarkan investasi baru
untuk membeli software dan biaya pelatihan ketika hendak beralih ke produk
WordPerfect. Switching cost dapat sangat berguna untuk menghalangi pesaing baru,
namun juga mempunyai keterbatasan. Terjadi peningkatan biaya untuk menjaga
loyalitas pelanggan. Sistim garansi meningkatkan biaya service. Membuat produk
komplemen juga menciptakan pembeli kedalam satu niche; yang apabila terdapat
perubahan selera, konsumen akan berganti produk secara keseluruhan. Ekonom,
menyebutkan perusahaan yang sudah mapan tidak tertarik untuk berkompetisi
menggunakan instrumen harga untuk mendapatkan pembeli baru., karena akan
mengurangi profit margin dari pelanggan lama. Sebaliknya pendatang baru cenderung
menyerang dari sisi harga.
Besaran efek jaringan tergantung dari semakin banyak produk menggunakan
prosuk sejenis, atau semakin banyak pelanggan menggunakan produk dan atau jasa
yang dihasilkan perusahaan. Contohnya adalah pengguna jasa telephone. Jika
seseorang di suatu kota ingin menghubungi keluarganya yang ada di desa, namun
saudaranya tidak mempunyai pesawat telephone, maka manfaat jaringan telepon
menjadi berkurang. Semakin banyak actual network saling berkomunikasi, semakin
meningkat nilainya. Untuk virtual network, sesama pelanggan tidak saling bertemu.
Contoh dari virtual network adalah computer operating systems, video gaming,
personal digital assistant, dan lain - lain. Bila jumlah anggota virtual network
bertambah, maka permintaan untuk produk – produk komplementer akan meningkat.
13
Efek jaringan memberi peluang kepada perusahaan first mover untuk meraih
pelanggan baru sebanyak – banyaknya dan membentuk pasar yang baru (competing
for the market). Microsoft misalnya, dengan produk Operating System yang
dihasilkannya (Windows O/S) berhasil mengubah pasar dan memenangkan
persaingan membentuk pasar sistem operasi personal computer yang sebelumnya
dikuasai oleh proprietary software.
14
3.
Persaingan Antara Intel Versus AMD
3.1.
Intel
Intel didirikan oleh Bob Noyce dan Gordon Moore pada tahun 1968, setelah
keduanya meninggalkan Fairchild, sebuah perusahaan elektronik produsen integrated
circuit (IC). Semula perusahaan yang didirikan Noyce dan Moore diberi nama NM
Electronics, kependekan dari nama kedua orang tersebut. Setahun setelah mendirikan
NM Electronics mereka menggunakan nama perusahaan Intel setelah membeli
perusahaan kecil Intelco. Keduanya kemudian mendapat dukungan dari Arthur Rock
yang menanamkan modalnya sebesar US$ 2.5 juta dan kemudian Arthur menjalani
jabatan sebagai Chairman pertama Intel. Tahun 1969 Intel mulai mengenalkan logo
perusahaan yang kemudian menjadi terkenal di dunia. Pada tahun yang sama Intel
meluncurkan produk pertamanya IC3101 yakni Schottky Bipolar Random Acess
Memory (RAM), suatu bagian penting dari komputer. Masih di tahun 1969 Intel juga
memperkenalkan suatu jenis produk baru IC1101 sebuah Metal Oxide Semiconductor
Static RAM
yang pada waktu itu langsung mengungguli bipolar transistor
konvensional.
Beberapa kondisi dapat ditunjuk sebagai sukses faktor Intel dalam bisnis
DRAM, antara lain: karakteristik individu eksekutif pada umumnya sangat percaya
diri dan pengambil resiko; bisnis DRAM merupakan industri yang unik; Intel
merupakan pihak yang pertama kali membuat chip memory dengan peralatan terbaru;
memiliki keunggulan dalam desain dan teknologi produksi; dan menerapkan strategi
pengembangan produk yang berupaya agar selalu menjadi pemimpin pasar.
Sementara itu, setelah beralih fokus ke produk chip microprocessor, Intel berupaya
membangun keunggulan bersaing dengan menerapkan kebijakan inovatif untuk
membuat desain central processing unit (CPU) semikonduktor inovatif yang
kemudian digunakan secara luas sebagai komponen utama komputer mikro.
Pada tahun 1971 Intel meluncurkan microprocessor 4004 sebagai CPU
semikonduktor pertama di dunia. Keberhasilan ini diikuti dengan peluncuran
microprocessor 8-bit 8008 pada bulan April 1972. Dua tahun kemudian Intel berhasil
memasarkan microprocessor seri 8080 yang dalam perjalanan selanjutnya dilisensikan
kepada AMD. Pada tahun 1979, menyusul keberhasilan membuat microprocessor
8088, Intel memenangkan proyek dari IBM untuk membuat Personal Computer (PC)
15
generasi pertama. Proyek ini menandai dimulainya arsitektur komputer yang bersifat
terbuka baik untuk hardware dan software, berbeda dengan desain komputer
sebelumnya yang bersifat tertutup (proprietary).
Pesaing utama Intel pada masa awal berdirinya adalah Motorola dan Fairchild.
Untuk mengalahkan pamor kedua pesaingnya yang telah lebih dahulu eksis di industri
semikonduktor, Intel menerapkan strategi pemasaran yang sangat agresif di berbagai
lini
terutama
dimaksudkan
untuk
mengalahkan
Motorola.
Mengantisipasi
kecenderungan ke masa depan, berkat sukses bisnis bersama IBM, Intel membuat
kebijakan drastis menghentikan produksi DRAM yang semula menjadi lini bisnis
utamanya dan fokus hanya pada microprocessor. Budaya entrepreneurship dan
independensi
manajer
menengah
dalam
menentukan
arah
strategik
dan
dikombinasikan dengan perencanaan srategik menghasilkan pertumbuhan dan
menjaga keunggulan. Selain itu, Intel menerapkan strategi outsourcing dengan
menerbitkan lisensi kepada 12 perusahaan untuk memroduksi chip, keberhasilan
strategi ini menobatkan Intel sebagai pemasok utama processor 80386 bagi semua
produsen PC kecuali IBM. Untuk mengantisipasi pertumbuhan industri PC, Intel
mengubah proses internalnya dengan membangun beberapa pabrik.
Tahun 1971 mulai membuat microprocessor pertama di dunia. Pada akhir
tahun 2005, dengan jumlah pegawai mendekati 100 ribu yang tersebar di 200
kantornya di seluruh dunia, selain memroduksi microprocessor, Intel juga sebagai
produsen komputer, networking, dan perangkat komunikasi. Pendapatan (revenue)
tahun 2005 mencapai US$ 38.8 milyar, menempati posisi 50 dalam ranking Fortune
500. Intel saat ini dipimpin oleh Paul Otellini sebagai President & CEO dan Craig R
Barrett sebagai Chairman of The Board. Berusaha selalu di depan (Leap Ahead),
Solusi, Inovasi, Kepemimpinan Dalam Industri (Industry Leadership), dan Corporate
Citizenship merupakan serangkaian strategi yang dijadikan bekal bagi membawa Intel
sebagai pemain utama dalam industri chip di dunia.
Dalam mengantisipasi pertumbuhan permintaan dari indsutri PC, Intel
mengubah proses internalnya dengan mengembangkan berbagai sumber internal,
beberapa pabrik dan proses pembuatan chip secara simultan. Hal ini dilakukan karena
Intel percaya bahwa inovasi dan teknologi yang diberikan kepada pelanggan akan
membawa keuntunggan tinggi. Keyakinan ini terbukti ketika Intel sukses menjalin
bisnis dengan IBM, yang ketika itu berperan sebagai pembeli utama untuk
microprocessor-nya. Selain itu, Intel juga menunjukkan kekuatannya dalam
16
mendukung Compaq sebagai pemain baru dalam industri PC. Dengan mendukung
Compaq pada dasarnya Intel membuka pasar baru bagi produk microprocessor-nya
dan membuat IBM menyadari bahwa sudah ada pesaing kuat di industri PC.
Munculnya Microsoft membuka peluang baru bagi Intel, sebagai mitra strategis untuk
kerja sama bisnis yang lebih luas. Dengan semua keberhasilan tersebut, Intel
menunjukkan
dirinya
sebagai
perusahaan
Amerika
Serikat
yang
sukses
mentransformasikan pasar komputer dari semula berorientasi vertikal menjadi
horisontal dengan standar terbuka, yang pada gilirannya menawarkan kepada industri
perilaku yang cost-efective.
Dalam mengelola sumber daya untuk mencapai ketangguhan, Intel melakukan
berbagai aksi yang mendukung strategi persaingan. Dalam menghadapi persaingan
seiring munculnya standar Reduced Instruction System of Computing (RISC) Intel
melakukannya dengan mendengarkan masukan dari pelanggan
dan akhirnya
membuat keputusan untuk tetap memroduksi microprocessor 80486, hal ini didukung
oleh kenyataan pelanggan enggan menggunakan standard RISC dan ingin tetap
menggunakan standard Complex Instruction System of Computing (CISC) yang
menjadi konsep keunggulan Intel.
Dalam menghadapi produk – produk tiruan (cloning products) Intel
mengembangkan strategi khusus yang dimaksudkan untuk menunjukkan kepada
pelanggan dan pengguna komputer bahwa produk original – karya Intel – masih lebih
unggul dari pada produk tiruan. Strategi ini dilakukan dengan investasi pada sumber
daya manusia dan teknologi manufaktur. Intel menerapkan kampanye “Intel Inside”
guna menjaga hubungan baik dengan pengguna komputer. Dengan kampanye ini
diharapkan semua PC menggunakan processor Intel di dalamnya. Selain itu, dalam
menyikapi makin pendeknya daur hidup microprocessor, Intel menetapkan harga
premium untuk produk yang baru diluncurkan guna membatasi permintaan, hal ini
tentu saja menciptakan peluang bagi Intel untuk menghasilkan lebih banyak
keuntungan pada awal sebuah produk baru. Ketika kompetitor sudah mulai
memasarkan produk sejenis, dan kompetisinya sudah mulai sengit, secara bertahap
Intel menurunkan harganya, sehingga menekan tingkat keuntungan pesaing. Di
samping menerapkan strategi harga, Intel juga mengalokasikan produknya untuk
Original Equipment Manufacturers (OEM) sehingga ada keseimbangan antara supply
dan permintaan, dengan memerhatikan perilaku pembelian pelanggannya guna
menentukan persediaan.
17
Dalam hal berhubungan dengan pemasok, pada awalnya Intel menerapkan
kebijakan standarisasi, namun ketika menyadari kebijakan ini menuai banyak
permasalahan, manajemen mengubah kebijakan tersebut menjadi dual-sourcing
khususnya untuk bahan baku yang kritikal.
Kinerja keuangan Intel tahun 2005 menunjukkan kenaikan yang cukup
signifikan dibanding tahun – tahun sebelumnya. Hal ini merupakan hasil dari
perubahan strategi bisnis, pengembangan teknologi dan proses manufaktur, serta
strategi produk yang semakin luas.
18
3.2.
AMD
Tanggal 1 Mei 1969 menandai berdirinya Advanced Micro Devices (AMD)
oleh Jerry Sander bersama tujuh orang temannya di rumah salah satu dari tujuh teman
Jerry tersebut. Sama dengan Noyce dan Moore, Sander yang mengawali karier
sebagai engineer, sebelumnya juga bekerja di Fairchild Semiconductor sebagai
Direktur Marketing Internasional. Dengan filosofi bisnis mengutamakan sumber daya
manusia, karena sesudah itu produk dan profit akan diperoleh, Sander berupaya
mendahulukan kepentingan dan kepuasan pelanggan. Hal ini terutama didorong oleh
kondisi Lembah Silicon pada masa itu bersamaan munculnya berbagai perusahaan
semi-conductor serupa AMD, persaingan memerebutkan pelanggan besar seperti
IBM, Honeywell, HP, Prime, Bourough, dan lain – lain menjadi tak terelakkan.
Sebagian besar pelanggan AMD adalah perusahaan komputer yang
membutuhkan pasokan komponen dan suku cadang komputer secara stabil dengan
kualitas produk yang prima. Menyadari hal ini, AMD memanfaatkan teknologi
produksi yang mampu menghasilkan produk dalam tempo cepat serta efisien.
Bersamaan dengan itu, dicanangkan pula standar kualitas tinggi dengan menerapkan
uji laboratorium untuk semua produk menggunakan standar produk militer. Respon
pelanggan cukup memuaskan, pada akhir tahun 1974 AMD memiliki 1500 karyawan
dengan membuat 200 jenis produk – sebagian besar proprietary – dan menghasilkan
penjualan senilai US$ 26.5 juta.
Tahun 1975 AMD mulai membuat chip memory dalam bentuk Random
Access Memory (RAM) – Am9102. Pada tahun yang sama, dengan lisensi dari Intel,
AMD berhasil mengembangkan microprocessor dengan melakukan reverse
engineering terhadap processor 8080A yang dibuat oleh Intel. Keberhasilan ini
menjadi awal bagi AMD memasuki pasar microprocessor. Pada tahun yang sama
AMD juga memperkenalkan keluarga produk Am2900 sebuah seri processor
menggunakan teknologi bit-slice, yang memungkinkan pengguna memperoleh
keuntungan dari kemampuan komputer untuk mengolah data dengan jalur yang lebih
lebar, dengan disipasi panas rendah, dan kecepatan pengolahan data lebih tinggi.
Am2900
juga
menyediakan
fleksibilitas
bagi
perancang
software
untuk
mengembangkan instruksi pemrograman menggunakan bahasa mereka sendiri,
independen dari set instruksi microprocessor. Periode pertengahan 1970-an ditandai
pula dengan pengembangan lokasi pabrik dari Sunnyvale di California ke Austin di
Texas, Manila di Philippina, dan Penang di Malaysia. Kinerja tahun 1975 ditutup
19
dengan meraih penjualan senilai US$168 juta, kenaikan gabungan sebesar 60% dari
sejak perusahaan berdiri.
Pada akhir 1981 angka penjualan mencapai dua kali lipat dari penjualan tahun
1979. Hal ini tercapai berkat dukungan strategi perluasan pabrik di San Antonio dan
Austin texas. Hampir bersamaan dengan itu AMD mengeluarkan investasi yang
cukup besar untuk membiayai kegiatan riset dan pengembangan, yang pada akhirnya
menghasilkan INT.STD.1000 sebuah standar kualitas pabrikasi tertinggi pada masa
itu. Pertengahan hingga akhir 80-an merupakan periode yang sangat menantang bagi
pelanggan AMD, ketika mereka dihadapkan pada tuntutan perubahan strategi bisnis.
Tahun 1986 AMD meluncurkan satu-juta-bit EPROM (erasable programmable readonly memory) suatu peningkatan kapasitas dan fleksibilitas bagi komponen PC yang
sangat kritikal. Dengan EPROM ini produsen PC dapat mengembangkan peluang
produk baru dengan cara diferensiasi produk. Setahun sesudah itu AMD berhasil
membangun kolaborasi dengan Sony sehingga memiliki akses kepada teknologi
pembuatan
microprocessor
berbasis
CMOS
(complementary
metal
oxide
semiconductor).
Akhir 80-an dan awal 90-an menandai titik balik bagi AMD setelah selama 8
tahun melakukan upaya hukum melawan Intel sebagai pelaku dominan, untuk
menegakkan perjanjian cross-licensing yang mengizinkan AMD (dan perusahaan
lain) untuk berkompetisi dan menyediakan alternatif dalam pasar microprocessor.
Proses yang sulit ini telah memperluas perspektif majemen AMD ke dalam suasana
yang disebut lingkungan pengaruh (Spheres of Influence). Dengan perspektif ini
AMD bermaksud memperluas cakupan produknya, sehingga tidak hanya memroduksi
microprocessor namun juga programmable logic device (PLC), memori berkinerja
tinggi, chips elektronik untuk networking dan telekomunikasi. Tahun 1991 AMD
meluncurkan Am386® yang dimaksukan untuk bersaing langsung dengan Intel 80386
yang diluncurkan pertama kali Oktober 1985. Demikian juga ketika tahun 1993 AMD
meluncurkan Am486® untuk mendampingi Intel 486 yang diluncurkan 4 tahun
sebelumnya (April 1989). Tahun 1993 ditandai juga dengan joint venture dengan
Fujitsu mewujudkan Fujitsu AMD Semiconductor yang menghasilkan Flash memory..
Tahun 1997 AMD menerbitkan AMD-K6® yang head to head bersaing
dengan Intel Pentium yang dibuat 1993. Kemudian disusul dengan peluncuran AMDK6-2 pada tahun 1998 guna menyaingi Pentium Pro yang diluncurkan tahun 1995.
Tahun 2000 AMD membuat AMD Athlon dan Mobile AMD-K6®-2 yang didukung
20
oleh teknologi AMD PowerNow!. Di bulan Oktober 2000 AMD mengumumkan
produk chipset AMD-760 yang memiliki teknologi memori Double Data Rate (DDR).
Processor AMD yang berikutnya diperkenalkan ke pasar adalah AMD Athlon XP,
AMD Alchemy™, Au1100™, AMD Opteron™, AMD Athlon™ 64 FX, dan AMD
Sempron™
Pada saat ini AMD menghadapi tantangan dinamika pasar dan para pesaing
yang menggairahkan (invigorated). Selain itu, persaingan antara AMD dan Intel telah
sampai pada tahap peperangan menyeluruh pada setiap front. Menghadapi semua ini,
manajemen AMD telah menyiapkan strategi bisnis ke depan komprehensif yang
meliputi peluncuran produk – produk baru, inisiatif pemasaran dan akuisisi.
Khusus di dalam menghadapi persaingan dengan Intel, AMD menyiapkan
produk microporcessor dan IC pendukung Personal Computer. Makin maraknya
penggunaan notebook juga disikapi AMD dengan menyiapkan produk yang dirancang
khusus mendukung desktop PC. Selain itu, sejalan dengan kampanye hemat energi
dan conta lingkungan, AMD mulai memroduksi karya rintisan berupa microprocessor
yang hemat energi dan ramah lingkungan. Perubahan dalam gaya hidup yang ditandai
dengan penggunaan mobile computing, juga disikapi AMD dengan membuat
microprocessor yang dapat digunakan untuk mendukung mobile PC maupun Personal
Digital Asistant (PDA).
Investasi di fasilitas perangkat lunak ditingkatkan. Sebagai elemen utama
dalam industri microprocessor, perangkat lunak yang berfungsi untuk memberi
instruksi dasar bagi bekerjanya sebuah microprocessor menempati posisi yang sangat
strategis. Keunggulan software instruksi microprocessor (firm-wired software) akan
menentukan bagi suksesnya kinerja microprocessor. Selain software tersebut, proses
dan kapasitas pabrikasi juga mempengaruhi kinerja perusahaan secara kesuluruhan.
Menyadari hal ini, AMD mengubah proses pabrikasi yang telah berlangsung selama
ini dengan proses baru yang sekaligus dapat meingkatkan kapasitas produksi.
Aliansi strategis dengan produsen komputer menjadi salah satu kunci sukses
yang diperkirakan menjadi pendukung keberhasilan AMD. Kerja sama dengan HPCompaq, IBM, Dell, Toshiba, Sony, Acer, dan banyak lagi produsen komputer
domestik untuk memasok microprocesor sebagai alternatif dari Intel sudah mulai
berjalan. Dalam banyak kasus, pembeli PC lebih suka menggunakan AMD dari pada
Intel, karena harganya yang relatif lebih murah, sementara kinerjanya tidak jauh
berbeda.
21
4.
Analisis
4.1.
Perspektif Dinamika Persaingan
Perbedaan karakter pasar antara DRAM dan microprocessor dapat dilihat dari
hal – hal sebagai berikut: Teknologi pembuatan DRAM sudah tersebar (diffused) dan
banyak yang menguasainya, kondisi semacam ini mengakibatkan patent bukan
merupakan upaya menghalangi masuknya pemain baru (isolating mechanism) yang
efektif. Di sisi lain, meskipun semua perusahan pembuat semikonduktor berangkat
dari teknologi yang hampir sama, microprocessor memiliki keunikan dan dilindungi
oleh undang – undang perlindungan hak cipta intelektual. Hal inilah yang menjadi
awal kasus dinamika persaingan antara Intel dan AMD.
Pada umumnya perusahaan – perusahaan Amerika mendominasi bisnis
microprocessor dibandingkan dengan perusahaan dari negara lain yang menghasilkan
produk serupa, hal ini diduga disebabkan oleh beberapa hal:
a. Teknologi elektronika termasuk semi-conductor, komputer dan Internet diciptakan
di USA, oleh sebab itu majoritas standar industri komputer berasal dari Amerika
Serikat dari pada negara – negara lain seperti Jepang, dan Eropa;
b. Sebagian besar perusahaan elektronik AS mengalokasikan anggaran yang cukup
besar bagi membiayai kegiatan penelitian dan pengembangan;
c. Adanya pasar domestik yang sangat besar bagi produk – produk elektronika yang
di dalamnya menggunakan microprocessor sebagai komponen utamanya;
d. Kelompok industri elektronik dan semi-conductor membentuk cluster industri
komputer di Silican Valey;
e. Riset Porter et all (2000) menunjukkan bahwa Jepang sebagai negara produsen
elektronik kedua terbesar di dunia cenderung memroduksi perangkat elektronik
yang tidak membutuhkan microprocessor berkemampuan unggul, hal ini berakibat
pada ketergantungan produsen PC Jepang seperti NEC, Sony, Fujitsu, Toshiba
kepada produsen microprocessor Amerika seperti Intel dan AMD.
f. IBM, dan HP-Compaq sebagai lokomotif industri menerapkan strategi
outsourcing yang membuka peluang bisnis bagi pemasok komponen komputer
seperti Intel, Motorola, Fairchild, dan lain – lain.
Tanpa persaingan yang bebas dan terbuka, inovasi sulit muncul. Konsumen
mengalami kerugian karena adanya keterbatasan pilihan, harga yang relatif tinggi, dan
pertumbuhan yang lambat. Munculnya AMD dengan kemampuan membuat
22
microprocessor yang setara dengan produk Intel, mendorong terjadinya dinamika
persaingan.
Intel berulang kali mengumumkan akan melakukan tuntutan hukum bila ada
pihak yang melanggar hak cipta dan paten atas produk microprocessor-nya. Hal ini
dibuktikan ketika Intel menuntut AMD dengan tuduhan telah melanggar paten dan
hak cipta. Langkah Intel merupakan sinyal yang dimaksudkan untuk mengecilkan hati
(discourage) pesaing utamanya untuk tidak coba – coba meniru produknya. Selain
menggunakan sinyal untuk mengurungkan niat pesaing, Intel juga membuat
komitmen yang dimaksudkan sebagai senjata strategik mengalahkan pesaing.
Jika manajer mampu menjalani komitmen atas strategi tertentu, pesaing akan
memerhatikan hal ini ketika menentukan aksi terbaik mereka (Day et all, 1997,
halaman 295). Manajer dengan kemampuan melihat ke depan dapat memilih strategi
dan sumber daya yang dapat memengaruhi keputusan pesaing. Komitmen dapat
dibuat dengan cara tegas maupun lembut berdasarkan pada pengaruhnya terhadap
profit yang diperoleh pesaing. Menambah kapasitas produksi yang dapat berdampak
pada pengurangan profit pesaing tergolong komitmen tegas (tough), sedangkan
membuat perjanjian dengan pelanggan dapat digolongkan sebagai komitmen lunak.
Baik komitmen tegas maupun komitmen lunak akan mendatangkan respon yang
berbeda dari para pesaing. Komitmen tegas bersifat lebih mengancam dan oleh
karenanya dapat pula menimbulkan reaksi agresif dari pesaing, namun demikian
komitmen tegas dapat digunakan dengan cara yang dapat menimbulkan respon yang
bersifat akomodatif dari pesaing.
Komitmen tegas memiliki dua bentuk, capacity pre-emption dan komitmen
kepada merek dan iklan. Dalam industri semikonduktor perusahaan melakukan
komitmen tegas dengan membangun terlebih dahulu (sebelum pesaing mengerjakan
serupa) fasilitas pabrikasi (fabs) guna meningkatkan kapasitas sehingga terjadi
kelebihan kapasitas, yang pada akhirnya memberi sinyal kepada pesaing untuk tidak
melakukan hal serupa bila tidak ingin merugi. Strategi ini telah mendukung Intel
untuk tetap berada pada posisi dominan pembuat microprocessor. Membangun fabs
sebelum pesaing melakukannya memberi Intel peluang untuk mendahului persaingan
dan menurunkan profit pesaing.
Dalam kasus dinamika persaingan tertentu, undang – undang antirust dapat
digunakan sebagai strategi persaingan yang ampuh. Kasus gugatan antitrust sering
berakhir dengan perubahan mendasar: merger dapat dicegah, pabrik didivestasi,
23
pemberian lisensi diamanatkan, dan berbagai upaya penguasaan pasar secara tidak fair
digagalkan. Namun demikian pengaruh tidak langsung dari gugatan antitrust juga
perlu
mendapat
perhatian:
terjadi
ketidak-pastian
pada
lingkungan
bisnis,
penangguhan eksekusi strategi, gangguan terhadap citra perusahaan, dan perhatian
manajemen menjadi teralihkan. Jika objek penuntutan dimaksudkan untuk mengubah
perilaku pasar dari tergugat, keputusan pengadilan diharapkan berpengaruh pada daya
tarik dari berbagai opsi strategi yang tersedia bagi penuntut. Dalam kasus persaingan
antara AMD versus Intel, AMD harus memutuskan apakah akan meng-copy
microcode milik Intel (dari pada menciptakannya sendiri), dan keputusan ini dibuat
ketika litigasi atas hak hukum AMD menggunakan microcode tersebut masih
berlangsung. Jika AMD meng-copy microcode Intel dan kemudian kalah dalam
gugatannya, pengadilan dapat mencegah penjualan microprocessor AMD yang
menggunakan microcode tersebut. Dalam kasus seperti ini, strategi kompetisi dan
strategi legal bertautan.
Intel merupakan perusahaan yang menggunakan pendekatan opsi (options
approach) dalam berbagai strategi aliansi, khususnya dengan perusahaan –
perusahaan yang terlibat dalam pengembangan teknologi Internet (Day &
Schoemaker, 2000). Intel beranggapan teknologi Internet tertentu memiliki potensi
yang tinggi, sebagaimana juga mengandung potensi ancaman karena teknologi
Internet tersebut menginjinkan pengguna individual untuk tersambung kepada
aplikasi, data dan pemrosesannya melalui perangkat komputer yang relatif sederhana
dan murah. Teknologi ini dapat menghancurkan bisnis Intel. Untuk melindungi diri
dari resiko semacam ini Intel melakukan investasi lebih dari $500 juta dalam venture
capital, memiliki opsi untuk membeli saham – saham perusahaan perusahaan yang
terlibat dalam pengembangan teknologi Internet.
4.2.
Anomali Oligopoli
Jika kajian dibatasi hanya pada perilaku persaingan antara Intel dan AMD,
maka dapat dilihat terdapat anomali dari sifat pasar yang oligopolis. Intel dan AMD
tidak memiliki minat untuk membentuk kartel yang berfungsi menguasai pasar secara
bersama – sama dengan mengatur harga. Meski dikatakan bahwa model yang tepat
untuk menggambarkan persaingan di industri chip microprocessor adalah Bertrand
Oligopoli dengan sifat – sifatnya, tetapi dalam kasus Intel versus AMD masih ada
parameter yang belum termasuk dalam model Bertrand tersebut. Industri
24
microporcessor mirip industri jasa telekomunikasi, dimana pada level infrastruktur
para perusahaan dapat saling bekerja sama, namun di tataran produk akhir masing –
masing saling berkompetisi. Intel memberikan lisensi kepada AMD untuk
menggunakan teknologinya agar dapat dikembangkan secara rekayasa terbalik
(reverse engineering). Demikian juga dengan microcodes yang merupakan firmware
dari sebuah microporcessor, Intel sebagai pemain dominan memberikan lisensi
kepada AMD untuk menggunakan microcode produk tertentu. Hal ini merupakan
wujud kerjasama pada level infrastruktur.
Persaingan sangat terasa dan menonjol terlihat di tataran produk. Masing –
masing berupaya agar produknya menjadi pemimpin pasar dan selalu menjadi
pemenang. Strategi inovasi yang dilakukan secara terus-menerus dengan dukungan
aktivitas riset dan pengembangan menjadikan Intel sebagai pemenang dan AMD
menjadi follower. Dalam perkembangannya, persaingan yang sengit menjurus pada
perilaku bisnis yang melewati koridor hukum sehingga kedua perusahaan saling
berperkara di pengadilan. Suatu kondisi yang relatif jarang terjadi di pasar oligopoli
yang cenderung saling bekerja sama pada setiap level bisnis.
4.3.
Memenangi Persaingan
Setelah hampir empat dekade kedua perusahaan eksis, masing-masing
memiliki keunggulan kompetitif yang berbeda. Intel mengandalkan kecepatan masuk
ke pasar (time to market) sebelum AMD atau produk lain sejenis diluncurkan. Strategi
ini dapat pula dianggap sebagai sinyal agar para pesaingnya mulai merasa bahwa
produknya sudah ketinggalan jaman. Selain itu, meluncurkan produk baru dalam
siklus produk yang semakin cepat juga merupakan upaya isolasi untuk menjamin
perusahaan tetap memiliki keunggulan kompetitif. Citra sebagai perusahaan yang
selalu terdepan dalam menghasilkan produk TI dapat dijaga dengan strategi time to
market. Intel meraih keuntungan besar dari strategi ini.
Di sisi lain, Intel sulit mencegah terjadinya imitasi atas produk – produk yang
dihasilkannya. Pada umumnya pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh dari
keterbukaan informasi menjadikan teknik membuat microprocessor sudah tidak dapat
dikategorikan sebagai tacit knowledge karena semuanya tersusun dalam suatu
dokumentasi yang terinci sehingga siapa saja termasuk pesaing dapat memelajarinya.
Makin berkembangnya penggunaan Internet sebagai jaringan terbuka memudahkan
pihak – pihak yang memiliki kepentingan terhadap industri microprocessor
25
mendapatkan
informasi
tentang
bagaimana
membuat
microprocessor
yang
berkualitas, reliable, dan murah.
Dibanding AMD, Intel tergolong first mover, dan oleh karenanya layak
memperoleh benefit yang lebih baik dari AMD. Di pihak lain, melalui strategi aliansi
dengan banyak produsen komputer, agar makin banyak komputer yang spesifikasi
standard-nya menggunakan microprocessor AMD; serta aliansi strategik dengan
pembuat teknologi lain seperti Sony untuk menghasilkan processor dengan teknologi
CMOS, atau dengan Fujitsu untuk menghasilkan Flash memory, dan penetrasi ke
pasar China untuk membangun kerja sama dengan Lenovo, Founder, Thunis<
dawning, IBM, HP dan SUN telah berhasil menempatkan AMD pada posisi yang
sejajar dengan Intel.
Meski sedang saling tuntut di pengadilan untuk memperkuat posisi
persaingan, kedua perusahaan selama lima tahun terakhir selalau meraih keuntungan.
Hal ini membuktikan bahwa strategi persaingan yang selalu dikendalikan dengan
baik, dapat mengatasi berbagai persoalan yang menghadang laju tumbuhnya
perusahaan. Artinya, secara finansial kedua perusahaan tidak ada yang kalah. Dari sisi
penguasaan pasar Intel masih lebih dominan dibanding AMD. Hal ini menunjukkan
industri microprocessor masih terus tumbuh, walaupun persaingan di dalamnya sangat
sengit. Pertumbuhan ini diduga disebabkan oleh kuatnya permintaan terhadap PC, dan
dipengaruhi pula oleh inovasi perangkat lunak yang dihasilkan oleh pemain dominan
di sektor piranti lunak, yang selalu menerbitkan versi baru sebelum pesaing berhasil
menyamainya. Kemajuan teknologi perangkat lunak, pada gilirannya menuntut
peningkatan kemampuan dan kapasitas microporcessor. Dengan demikian aliansi
strategis antara produsen microprocessor dengan produsen sistem operasi dan piranti
lunak lainnya, serta dengan produsen PC menjadi faktor kunci suksesnya bisnis
microprocessor.
Dari aspek dukungan industri terkait, Intel memperoleh dukungan dari cluster
industri semikonduktor yang berlokasi di wilayah California yang sering disebut
Lembah Silicon. Di wilayah ini, beroperasi ratusan bahkan ribuan perusahaan TI yang
saling bekerja sama melahirkan karya inovatif. Sebaliknya, AMD memilih strategi
yang berbeda. Dengan lokasi pabrik tersebar di berbagai negara, AMD mengharapkan
makin mendekati konsumen di samping biaya produksi relatif lebih rendah dibanding
bila diproduksi di Amerika.
26
5. Kesimpulan dan Saran
5.1.
Kesimpulan
Kebutuhan terhadap microprocessor berkorelasi positif dengan pertumbuhan
permintaan terhadap PC. Hal ini dapat dipahami karena pada dasarnya microprocessor
merupakan mesin utama dari PC. Sementara teknik pembuatan komputer semakin
mudah karena dukungan modularisasi, dan hal ini menghilangkan entry barrier bagi
pendatang baru untuk memasuki bisnis perakitan komputer, di pihak lain teknologi
pembuatan chip microprocessor semakin kompleks, membutuhkan investasi tinggi
dan pada akhirnya hanya sedikit pemain yang dapat bertahan. Dengan demikian
struktur pasar yang terbentuk merupakan pasar kompetisi sempurna di hilir (produksi
PC), dan oligopoli di hulu (produksi microprocessor).
Saling ketergantungan (inter-dependensi) terjadi antara produsen PC dan
microprocessor. Hal inilah yang menjadi latar belakang terjadinya strategi aliansi
antara Intel di satu pihak dengan para produsen PC di pihak lain. Intel mengawali
strategi ini pada tahun 1980 ketika melakukan lock-in dengan IBM mengalahkan
Motorola sebagai pesaing terkuatnya pada waktu itu. Strategi ini dimaksudkan untuk
memperluas pangsa pasar secepat mungkin. Selain itu, upaya menciptakan standar
baru dalam teknologi PC juga diluncurkan Intel untuk menjawab kondisi pasar yang
masih terbelah (fragmented). Standar dimaksud adalah arsitektur terbuka (open
architecture) di mana PC dapat menggunakan software dan komponen yang dapat
dibeli dari berbagai sumber.
Strategi aliansi terus dikembangkan dengan produsen PC lain seperti Compaq,
Dell, Acer, Toshiba, dan lain sebagainya. Motto yang digunakan untuk sekaligus
menutup peluang masuknya pesaing adalah Intel Inside. Suatu upaya kompetisi
monopolistik yang sangat berhasil. Selain dengan produsen PC, Intel juga menjalin
kerjasama dengan Microsoft guna membuka peluang bisnis baru.
Menyusul kemenangan dalam membuat standar baru PC, Intel melakukan
kampanye pemasaran yang agresif untuk mengalahkan Motorola, pesaing utamanya.
Pada periode ini, produk AMD belum dikenal luas dan oleh karenanya belum
dianggap sebagai pesaing kuat. Ketika sukses mulai diraih, Intel justru membuat
keputusan strategik meninggalkan produksi DRAM dan fokus hanya pada membuat
microprocessor. Keputusan ini bukan merupakan arahan strategik dari manajemen
27
senior tetapi merupakan kebulatan tekad para manajer tingkat menengah (Collis &
Pisano, 2002).
Keunggulan Intel, didukung pula oleh strategi operasional berupa komitmen
untuk melayani semua kebutuhan industri PC. Intel mengubah proses internal dengan
mengoperasikan semua fabs secara simultan, dan memanfaatkan kerja sama dengan
pemasok dalam suatu industrial cluster. Produktivitas dan efisiensi menjadi sasaran
yang berhasil dicapai dengan strategi ini. Pergulatan menghadapi berbagai tantangan
membawa Intel berhasil melakukan tranformasi pasar komputer dari vertical
alignment yang berbasis teknologi proprietary menjadi horizontal alignment dengan
standar terbuka.
Di pihak lain, AMD sebagai pendatang baru perlahan tapi pasti beranjak dari
posisi tidak dikenal berubah menjadi pesaing kuat yang diperhitungkan eksistensinya.
AMD lebih dikenal sebagai follower dan bahkan sementara pihak mengatakan produk
AMD sebagai tiruan (clone) dari produk Intel. Peran AMD dalam evolusi bisnis
microprocessor sungguh penting. Selain menjadi alternatif bagi produk Intel, sehingga
dominasi Intel menjadi berkurang, AMD juga menjadi contoh keberhasilan dapat
diraih dengan keteguhan mewujudkan visi, ketekunan melahirkan inovasi, dan
kedisplinan melaksanakan strategi.
5.2.
Saran
Studi mengenai dinamika persaingan dalam pasar oligopoli sudah banyak
dilakukan. Berbagai strategi untuk memenangkan persaingan dalam persaingan
semacam ini juga sudah diajukan bahkan diterapkan. Sebagai bidang bisnis yang baru
berumur hampir lima dekade, dinamika persaingan industri microprocessor cukup
menarik untuk diamati.Terkait dengan kondisi Indonesia sebagai pengguna komputer,
masih banyak peluang riset yang dapat dikembangkan dari topik ini misalnya
bagaimana dampak persaingan antara Intel dan AMD terhadap industri PC nasional.
Atau adakah industri elektronika (non-kompuer) nasional yang menggunakan
microprocessor dari kedua produsen ini, dan bagaimana kinerja industri ini.
Terlepas dari tujuan utama penulisan artikel ini, mudah – mudahan substansi
yang berhasil disusun dapat bermanfaat bagi pembaca.
28
Lampiran
Ukuran
Besar
Kapasitas
Fisik
Kecil
waktu
Gambar 1. Grafik Perubahan Fisik dan Kapasitas Komputer
Chip
Public Debut
4004
11/71
8008
4/72
8080
4/74
8086
6/78
8088
6/79
i286
2/82
i386
10/85
i486
4/89
Pentium
3/93
Pentium Pro
3/95
Pentium II
5/97
Pentium III
2/99
Pentium 4
11/2000
I286
2011
MIPS: Micro Instruction Per Second
Jumlah
Transistor
Initial
MIPS*
2,300
3,500
6,000
29,000
29,000
134,000
275,000
1.2 juta
3.1 juta
5.5 juta
7.5 juta
9.5 juta
12 juta
1 milyard
Sumber: www.intel.com
0.06
0.06
0.6
0.3
0.3
0.9
5
20
100
300
266*
500*
1,500*
100,000
Initial Cost
$200
$300
$300
$360
$360
$360
$299
$950
$878
$974
$775
$696
$819
na
Tabel 1. Evolusi Intel Microporcessor
29
Daftar Pustaka
1. Barney, Jay, 2002, Gaining and Sustaining Competitive Advantage, 2nd
Edition, Prentice Hall.
2. Baye, Michael, 2006, Managerial Economics and Business Strategy, McGraw
Hill.
3. Collis, David J & Montgomery, Cynthia A, 2005, Corporate Strategy, A
Resource-Based Approach, McGraw-Hill
4. Collis, David J, & Pisano, Gary, 2002, Intel Corporation: 1968-1997, Harvard
Business School.
5. Day, George S, & Reibstein, David J, 1997, Wharton on Dynamic Competitive
Strategy, John Wiley & Son.
6. Day, George S & Schoemaker, Paul J.H., 2000, Wharton on Managing
Emerging Technologies, John Wiley & Son.
7. Douglas, Evan J, 1995, Managerial Economics, Analysys And Strategy, Fourth
Edition, Prentice Hall.
8. Hoskisson, Hitt & Ireland, 2004, Competing for Advantage, Thomson
9. Pindyck, Robert S & Rubinfeld, Daniel L, 1998, Microeconomic, Prentice
Hall.
10. Porter, Michael; Hirotaka Takeuchi; Mariko Sakakibara (2000), Can Japan
Compete?, MacMillan Press Ltd.
11. www.intel.com
12. www.amd.com
13. http://iram.cs.berkeley.edu/papers/iccd.pdf#search=%22market%2Bshare%2B
microprocessor%2Bindustry%20pdf%22
14. www.ocw.mit.edu/.../15-912Spring-2005/163D6F92-8636-4B61-9F3B724B2E8EC8C8/0/intel_stne_ch_ma.pdf
15. www.ibm.com/investor/viewpoint/features/2005/pdf/08-06-05-1.pdf
16. http://arstechnica.com/articles
17. www.ex.ac.uk/~trkaplan/micro.html
30
Download