1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Artritis

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Artritis reumatoid adalah salah satunya penyakit sendi yang sering terdengar.
Penyakit ini bukan merupakan penyakit rematik biasa. Rematik atau Osteoartritis
umumnya diderita orang usia lanjut dan diakibatkan oleh ausnya persendian,
sementara artritis reumatoid adalah penyakit autoimun dan disebabkan peradangan
sendi (Anna, 2012). Gejala umum yang sering dikeluhkan oleh pasien yaitu
kekakuan sendi pada pagi hari. Kekakuan ini dapat bertahan selama lebih dari satu
jam. Penyakit ini bersifat sistemik, sehingga dapat mengakibatkan berbagai macam
manifestasi ekstraartikular, termasuk kelelahan, nodul subkutan, keterlibatan pada
paru-paru, perikarditis, dan lainnya (Kasper et al., 2015).
Seperti penyakit autoimun lainnya, artritis reumatoid umumnya lebih banyak
diderita oleh wanita dibandingkan laki-laki dengan rasio 2-3:1. Terdapat bukti
bahwa kejadian artritis reumatoid telah mengalami penurunan dalam beberapa
dekade terakhir, sedangkan prevalensinya tetap sama dikarenakan individu dengan
artritis reumatoid dapat bertahan hidup lebih lama. Prevalensi kejadian penyakit ini
bervariasi tergantung letak geografis baik secara global dan antar kelompokkelompok etnik tertentu dalam suatu negara (Kasper et al., 2015). Prevalensi
penyakit rematik di Indonesia menurut hasil penelitian Zeng QY et al. mencapai
23,6% sampai 31,3%. Penyakit artritis reumatoid di Indonesia memiliki prevalensi
1
2
hanya 0,1% hingga 0,3%, sedangkan di negara-negara Barat sekitar 3%
(Nainggolan, 2009).
Menurut The National Health and Medical Research Council (2009), dengan
diagnosis dan pengelolaan artritis reumatoid sedini mungkin dapat memberi
kesempatan untuk mencegah progresivitas penyakit ini. Tujuan utama terapi artritis
reumatoid adalah untuk menginduksi remisi lengkap dari penyakit ini, meskipun
hal ini cukup sulit dicapai. Tujuan lain yaitu mengontrol aktivitas penyakit dan
nyeri pada sendi, menjaga kemampuan sendi, memperlambat perubahan sendi yang
bersifat destruktif, dan menunda kecacatan (Dipiro et al., 2014).
Pasien yang didiagnosis artritis reumatoid memulai terapi dengan DMARD
(Disease-modifying antirheumatic drugs) seperti metotreksat, sulfasalazine,
leflunomid, dan hidroksikloroquin. DMARD tidak hanya mengurangi gejala tetapi
juga memperlambat progresivitas penyakit. Seringnya dokter meresepkan DMARD
bersama dengan NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory drugs), dan/atau dengan
kortikosteroid dosis rendah untuk mengurangi pembengkakan, nyeri, serta demam
(American College of Rheumatology, 2012).
NSAID mulanya dipandang sebagai inti dari semua terapi artritis reumatoid,
namun saat ini dipertimbangkan sebagai terapi tambahan untuk manajemen gejala
yang tidak terkontrol. Meskipun hasil percobaan klinis NSAID tidak benar-benar
ekuivalen dengan efikasinya, namun berdasarkan pengalaman beberapa individu
lebih berespon dengan penggunaan NSAID tertentu. Penggunaan NSAID perlu
dibatasi karena adanya kemungkinan efek samping obat (Kasper et al., 2015).
3
Pemilihan terapi yang tepat menjadi salah satu hal yang penting dalam
pengobatan. Kesesuaian dalam pengobatan merupakan kunci dalam keberhasilan
terapi. Masalah ketidaktepatan terapi masih sering terjadi saat ini. WHO
memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari seluruh obat di dunia diresepkan,
diberikan dan dijual dengan cara yang tidak tepat dan separuh dari pasien
menggunakan obat secara tidak tepat (Kemenkes RI, 2011a).
DMARD menjadi pilihan pertama dalam terapi artritis reumatoid dan
digunakan selama tiga bulan pertama terapi. Penggunaan DMARD sejak awal dapat
memberikan hasil yang lebih baik dan menurunkan angka mortalitas. Penggunaan
DMARD membutuhkan waktu lebih lama dalam perbaikan gejala dibandingkan
dengan NSAID. Namun NSAID tidak berpengaruh terhadap progresivitas penyakit
(Dipiro et al., 2014). Pemilihan NSAID harus didasarkan pada kebutuhan spesifik
pasien dan penggunaan obat lain secara bersamaan (The Royal Australian College
of General Practitioner, 2009).
Umumnya terapi penyakit artritis reumatoid merupakan terapi jangka panjang,
karena sifanya yang kronis. Terapi jangka panjang kerap menimbulkan persoalan
terutama pada pemilihan terapi yang sesuai serta dapat menimbulkan risiko efek
samping. Seperti metotreksat, sulfasalazine, dan obat-obat golongan NSAID yang
dapat menyebabkan ganngguan gastrointestinal, seperti mual, muntah, anoreksia,
dan diare (Dipiro et al., 2014).
Dari penjabaran tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai
evaluasi kesesuaian terapi dan efek samping penggunaan DMARD dan NSAID
pada pasien artritis reumatoid. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan
4
pertimbangan dalam pemilihan terapi artritis reumatoid yang tepat dan pencegahan
efek yang tidak diinginkan, sehingga dapat diperoleh outcome terapi yang sesuai.
Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang memiliki pelayanan
khusus reumatologi di Poliklinik Penyakit Dalam dan menjadi rujukan bagi pasien
artritis reumatoid.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pola penggunaan DMARD dan NSAID pada pasien artritis
reumatoid di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta?
2.
Bagaimana kesesuaian dan luaran terapi penggunaan DMARD dan NSAID
pada pasien artritis reumatoid di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta dibandingkan dengan tatalaksana terapi artritis reumatoid yang
ditetapkan oleh Perhimpunan Reumatologi Indonesia?
3.
Bagaimana kemungkinan terjadinya efek samping pada penggunaan DMARD
dan NSAID pada pasien artritis reumatoid di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta?
C. Tujuan Penelitian
1.
Mengetahui pola penggunaan DMARD dan NSAID pada pasien artritis
reumatoid di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
2.
Mengetahui kesesuaian dan luaran terapi penggunaan DMARD dan NSAID
pada pasien artritis reumatoid di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito
5
Yogyakarta dibandingkan dengan tatalaksana terapi artritis reumatoid yang
ditetapkan oleh Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
3.
Mengetahui kemungkinan terjadinya efek samping pada penggunaan DMARD
dan NSAID pada pasien artritis reumatoid di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta.
D. Manfaat Penelitian
1.
Farmasis
Dapat memberikan gambaran mengenai kesesuaian terapi, luaran terapi dan
efek samping dalam pengobatan pada pasien artritis reumatoid terutama untuk
penggunaan obat DMARD dan NSAID, sehingga dapat memotivasi farmasis
untuk meningkatkan perannya dalam pelayanan kesehatan.
2.
Instalasi Rumah Sakit dan Profesi Kesehatan lainnya
Sebagai sumber informasi bagi rumah sakit mengenai kesesuaian terapi, luaran
terapi, dan efek samping penggunaan DMARD dan NSAID dalam pengobatan
pada pasien artritis reumatoid, sehingga dapat digunakan sebagai masukan
dalam menyusun strategi tatalaksana terapi artritis reumatoid di rumah sakit,
selain itu sebagai motivasi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi
pasien artritis reumatoid.
3.
Peneliti
Meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengalaman penelitian tentang
pelayanan kesehatan khususnya pada penyakit artritis reumatoid serta sebagai
pembanding, pendukung, dan pelengkap bagi penelitian selanjutnya.
6
E. Tinjauan Pustaka
1. Artritis Reumatoid
a. Definisi
Kata artritis memiliki arti inflamasi pada sendi (“arthr” berarti sendi dan
“itis” berarti inflamasi). Inflamasi dalam istilah2 medis menggambarkan tentang
rasa sakit, kekakuan, kemerahan, dan pembengkakan. Artritis reumatoid adalah
tipe artritis inflamasi dan penyakit autoimun, dimana sistem imun menjadi
bingung dan menyerang jaringan tubuh. Pada artritis reumatoid, target dari
sistem imun adalah jaringan yang melapisi sendi. Hal ini menyebabkan
pembengkakan, peradangan, dan kerusakan sendi (The Artritis Society, 2011).
Artritis reumatoid adalah penyakit sistemik yang ditandai dengan
peradangan sendi simetris dan dapat melibatkan sistem organ lain atau
manifestasi ekstraartikular, seperti nodul reumatoid, vaskulitis, radang mata,
disfungsi
neurologis,
penyakit
cardiopulmonary,
limfadenopati,
dan
splenomegali. Meskipun penyakit ini termasuk penyakit kronis, beberapa pasien
akan memasuki masa remisi secara spontan (Dipiro et al., 2014).
b. Etiologi
Penyebab artritis reumatoid masih belum diketahui, walaupun banyak hal
mengenai patogenesisnya telah terungkap. Banyak penelitian yang menunjukkan
adanya campuran faktor lingkungan dan genetik juga ikut bertanggung jawab,
namun keduanya tidak cukup untuk menunjukkan ekspresi keseluruhan dari
penyakit ini (Freinstein, 2005). Diperkirakaan artritis reumatoid merupakan
menifestasi dari suatu infeksi. Faktor Risiko yang dapat menyebabkan seseorang
menderita artritis reumatoid, yaitu:
7
1) Faktor Genetik
Kajian atas keluarga mengisyaratkan adanya predisposisi genetik. Sekitar
10% pasien artritis reumatoid memiliki seorang anggota keluarga tingkat
pertama yang sakit serupa. Peran pengaruh genetik dipastikan oleh
pembuktian adanya asosiasi dengan produk gen MHC kelas II HLA-DR4.
Asosiasi dengan HLA-DR4 telah terbukti pada banyak populasi, termasuk
ras kulit putih Amerika Utara dan Eropa. Namun diperkirakan gen lain
diluar kompleks HLA juga berperan (Harrison, 1995).
2) Infeksi
Adanya kemungkinan artritis reumatoid merupakan manifestasi respon
terhadap suatu agen infeksi. Sejumlah agen penyebab telah diperkirakan,
yaitu Mycoplasma, virus Epstein-Barr, sitomegalovirus, parvovirus, dan
virus rubela, tetapi bukti yang meyakinkan apakah agen tersebut atau infeksi
lain yang menyebabkan artritis reumatoid belum ada. Proses bagaimana
suatu agen infeksi menimbulkan peradangan kronik artritis juga masih
dipertentangkan (Harrison, 1995).
3) Jenis Kelamin
Artritis reumatoid merupakan penyakit autoimun yang predominan pada
wanita. Rasio penderita wanita dan laki-laki yaitu 2-3:1. Adanya peran
estrogen telah dieksplorasi dengan berbagai metode. Estrogen memicu
adanya autoantibodi yang berperan pada sistem imun (Freinstein, 2005).
8
4) Lingkungan
Faktor lingkungan juga berperan dalam etiologi penyakit ini.
Hal ini
ditekankan pada kajian epidemiologi di Afrika yang mengisyaratkan bahwa
cuaca dan urbanisasi berdampak besar terhadap insidensi dan keparahan
artritis reumatoid dalam kelompok yang memiliki latar belakang genetik
serupa (Harisson, 1995). Merokok dan penyakit paru dapat meningkatkan
faktor risiko artritis reumatoid (Dipiro et al., 2014)
c. Patofisiologi
Artritis reumatoid merupakan akibat disregulasi kompnen humoral dan
dimediasi sel sistem imun. Kebanyakan pasien artritis reumatoid menghasilkan
antibodi yang disebut faktor reumatoid (RF). Pasien dengan RF seropositif
cenderung memiliki perjalanan penyakit yang lebih agresif dari pasien dengan
seronegatif. Imunoglobulin mengaktivasi sistem komplemen, yang melipat
gandakan respon imun dengan meningkatkan kemotaksis, fagositosis, dan
pelepasan limfokin oleh sel mononuklear. Antigen dikenali oleh protein major
histocompatibility complex (MHC) pada permukaan limfosit, yang berakibat
pada aktivitas sel T dan B. Sel T yang teraktivasi menghasilkan sitokin yang
menstimulasi aktivitas lebih lanjut proses inflamasi dan menarik sel-sel ke
daerah inflamasi. Makrofag terstimulasi melepaskan prostaglandin dan
sitotoksin. Sel B yang teraktivasi menghasilkan sel plasma yang membentuk
antibodi. Kombinasi dengan komplemen mengakibatkan akumulasi leukosit
polimorfonuklear yang melepaskan sitotoksin, radikal bebas oksigen, radikal
hidroksil dan menyebabkan kerusakan pada sinovium dan tulang.
9
Substansi vasoaktif (hitasmin, kinin, prostaglandin) dilepaskan pada
daerah inflamasi, meningkatkan aliran darah dan permeabilitas pembuluh darah,
sehingga menyebabkan edema, rasa hangat, eritema, rasa sakit. Ini membuat
granulosit lebih mudah untuk keluar dari pembuluh darah menuju daerah
inflamasi. Inflamasi atau peradangan kronis pada lapisan jaringan sinovial
kapsul sendi menghasilkan proliferasi dari jaringan (pannus). Pannus menyerang
kartilago dan permukaan tulang, menghasilkan erosi tulang dan kartilago,
sehingga menyebabkan destruksi atau kerusakan sendi. Faktor yang memicu
proses inflamasi tersebut tidak diketahui (Dipiro et al., 2014).
d. Diagnosa
Diagnosis mudah ditegakkan pada orang yang memperlihatkan penyakit
khas. Diagnosis artritis reumatoid sebaiknya dilakukan pada tahap sedini
mungkin. Menurut European League Against Rheumatism, pada tiap pasien
yang berada pada tahap awal artritis, memiliki faktor prediksi persisten dan
penyakit erosif yang harus diukur, yaitu:
1) Laju Endap Darah (LED) dan C-Reactive Protein (CRP)
LED dan CRP dapat digunakan untuk mengindikasikan proses inflamasi
namun memiliki spesifitas yang rendah. Marker ini biasanya mengalami
kenaikan pada artritis reumatoid tetapi mungkin juga normal. Tes ini dapat
berguna untuk memonitor aktivitas penyakit dan respon dari terapi (The
National Health and Medical Research Council, 2009).
10
2) Faktor Reumatoid (RF)
Tes ini tidak konklusif dan dapat mengindikasikan penyakit inflamasi kronis
yang lain (positif palsu). Pasien artritis reumatoid 60-70% memiliki RF
positif. RF ketika dikombinasi dengan faktor lain (terutama anti-CCP) dapat
mengindikasikan tingkat keparahan penyakit ini (The National Health and
Medical Research Council, 2009).
3) Anti-CCP (Cyclic Citrullinated Peptide)
Tes ini relatif baru dan sangat berguna untuk mendiagnosis artritis
reumatoid secara dini. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tes ini
memiliki sensitivitas yang mirip dengan tes RF, akan tetapi spesifisitasnya
jauh lebih tinggi dan merupakan prediktor yang kuat terhadap
perkembangan penyakit yang erosif (The National Health and Medical
Research Council, 2009).
4) Sinar X
Tes dengan sinar X pada tangan dan kaki berguna untuk mengidentifikasi
erosi, namun erosi tidak selalu muncul jika durasi penyakit kurang dari tiga
bulan. Tes ini dapat mengetahui progresivitas penyakit (The National
Health and Medical Research Council, 2009).
5) ANA (Antinuclear Antibodi)
Tes ini berguna untuk membedakan antara artritis reumatoid dan lupus. Pada
beberapa pasien artritis reumatoid dengan penyakit yang parah memiliki
nilai positif pada tes ini (The National Health and Medical Research
Council, 2009).
11
6) Cairan Sinovial
Cairan sinovial normal bersifat jernih, berwarna kuning muda dengan hitung
sel darah putih <200/mm3. Pada artritis reumatoid cairan ini kehilangan
viskositasnya dan hitung sel darah putih meningkat mencapai 15.00020.000/mm3, sehingga cairan menjadi tidak jernih. Cairan semacam ini
dapat membeku, tetapi bekuannya biasanya tidak kuat dan mudah pecah
(Prince dan Wilson, 1994).
7) Normocytic normochromic anemia
Artritis reumatoid dapat menyebabkan anemia normositik normokromik
melalui pengaruhnya pada sumsum tulang. Anemia ini tidak berespon
terhadap pengobatan anemia yang biasa. Seringkali juga terdapat anemia
kekurangan besi sebagai akibat pengobatan penyakit ini. Anemia semacam
ini dapat berespon terhadap pemberian besi (Prince dan Wilson, 1994).
8) MRI
MRI dapat mendeteksi adanya erosi lebih dini jika dibandingkan dengan XRay (Shiel, 2011).
9) USG
USG dapat digunakan untuk memeriksa dan mendeteksi adanya cairan
abnormal di jaringan lunak sekitar sendi (Shiel, 2011).
10) Scan tulang
Tes ini dapat mendeteksi adanya inflamasi pada tulang (Shiel, 2011).
12
11) Densitometri
Tes ini dapat mendeteksi adanya perubahan kepadatan tulang yang
mengindikasikan terjadinya osteoporosis. Osetoporosis terjadi lebih sering
pada pasien artritis reumatoid (Shiel, 2011).
e. Prognosis
Salah satu perjalanan klinis artritis reumatoid adalah eksaserbasi dan masa
remisi. Beberapa pasien menunjukkan progresi yang nampak seperti penyakit
yang akan sembuh dengan sendirinya, sedangkan pasien lain mungkin
menunjukkan progresi yang berbeda. Prognosis yang buruk dapat dilihat dari
hasil tes, seperti adanya cedera tulang pada tes radiologi awal, adanya anemia
persisten yang kronis, naiknya kadar komponen C1q pada komplemen, adanya
antibodi anti-CCP. Pasien dengan RF positif juga memiliki prognosis yang
buruk. Namun tidak adanya RF tidak selalu mengindikasikan prognosis yang
baik. Atritis reumatoid yang aktif terus-menerus selama lebih dari satu tahun
cenderung menyebabkan deformitas sendi serta kecacatan. Periode aktivitas
yang hanya berlangsung pada beberapa minggu atau beberapa bulan dan diikuti
remisi spontan menandakan prognosis yang baik (Temprano, 2011).
f. Komplikasi
Atritis reumatoid bukanlah penyakit yang fatal, tetapi komplikasinya dapat
mempersingkat usia hidup pasien dan dapat mempengaruhi organ yang lain
(Simon, 2013). Komplikasi yang mungkin terjadi pada pasien atritis reumatoid,
yaitu:
13
1) Nodul Reumatoid
Dialami sekitar 20% pasien atritis reumatoid. Nodul ini paling sering terlihat
pada permukaan ekstensor pada siku, lengan, dan tangan, namun dapat juga
terlihat pada kaki dan titik-titik tekan lainnya. Nodul ini dapat berkembang
di paru-paru atau lapisan pleura. Nodul ini bersifat asimptomatik dan tidak
membutuhkan intervensi khusus (Dipiro et al., 2014).
2) Vaskulitis
Vaskulitis melibatkan kelainan pembuluh darah kecil yang dapat
mempengaruhi banyak organ didalam tubuh. Manifestasi vaskulitis
termasuk sariawan, gangguan saraf, perburukan paru-paru yang cepat,
peradangan arteri koroner, dan peradangan arteri yang memasok darah ke
usus (Simon, 2013).
3) Komplikasi pada Paru-paru
Atritis reumatoid dapat mempengaruhi pleura di paru-paru, dan dapat
menyebabkan efusi pleura. Selain itu dapat menyebabkan fibrosis paru.
Merokok dapat meningkatkan risiko komplikasi ini (Dipiro et al., 2014).
4) Manifestasi pada Mata
Manifestasi ini melibatkan keratoconjuctivis sicca dan peradangan pada
sklera, episklera, dan kornea. Atropi pada saluran lakrimal dapat membuat
berkurangnya pembentukan air mata, menyebabkan mata menjadi kering
dan gatal, hal ini disebut keratoconjuctivis sicca. Kejadian ini berhubungan
dengan Sjögren’s syndrome. Pada Sjögren’s syndrome kelenjar ludah dapat
14
terganggu dan menyebabkan mulut kering atau disebut xerostomia (Dipiro
et al., 2014).
5) Komplikasi pada Jantung
Atritis reumatoid berasosiasi dengan peningkatan risiko mortalitas
kardiovaskuler, terutama pada penderita dengan peradangan yang lebih
aktif. Pericarditis dapat terjadi dan menyebabkan akumulasi cairan.
Abnormalitas konduksi jantung dan inkompetensi katup aorta yang
disebabkan oleh dilatasi dapat terjadi. Miokarditis merupakan komplikasi
yang jarang terjadi (Dipiro et al., 2014).
6) Sindrom Felty
Atritis reumatoid yang berasosiasi dengan splenomegali dan neutropenia
disebut juga Felty’s syndrome. Pasien dengan sindrom ini dan leukopenia
parah lebih rentan terhadap infeksi, dimana berkurangnya granulosit
tampaknya dimediasi oleh sistem imun (Dipiro et al., 2014).
7) Komplikasi Lain
Limfadenopati dapat terjadi pada pasien artritis reumatoid. Ginjal jarang
terlibat, namun dapat dikaitkan dengan pengobatan artritis reumatoid,
seperti penggunaan NSAID, garam emas, dan penicillamine. Amiloidosis
merupakan komplikasi yang jarang terjadi (Dipiro et al., 2014).
g. Terapi
1) Tujuan Terapi
Tujuan utama terapi artritis reumatoid yaitu (Prince dan Wilson, 1994):
a) Menghilangkan nyeri dan perdangan
15
b) Mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal pasien
c) Mencegah dan/atau memperbaiki deformitas yang terjadi pada sendi
2) Strategi Terapi
Terapi atritis reumatoid memiliki dua komponen utama, yaitu (Shiel, 2011):
a) Mereduksi inflamasi dan mecegah kerusakan serta kecacatan sendi.
b) Menghilangkan gejala, terutama rasa nyeri.
3) Tatalaksana Terapi
Artritis reumatoid tidak dapat disembuhkan, tetapi terapi dapat membantu
untuk mengurangi progresivitas penyakit dan mengontrol gejala. Terapi
artritis reumatoid dapat mencakup perubahan gaya hidup, obat-obatan,
terapi suportif, dan pembedahan.
a) Terapi Non-Farmakologi
(1) Istirahat
Istirahat dapat menghilangkan stress pada sendi yang meradang,
mencegah kerusakan sendi, dan meringankan rasa nyeri. Namun,
terlalu banyak beristirahat dapat menyebabkan penurunan rentang
gerakan dan menyebabkan atrofi otot (Dipiro et al., 2014).
(2) Latihan-latihan fisik
Latihan fisik dapat mencakup gerakan aktif dan pasif pada semua
sendi yang sakit, sedikitnya dua kali sehari. Latihan ini dapat
mempertahankan fungsi sendi. Namun latihan yang berlebihan dapat
merusak struktur penunjang sendi yang memang sudah lemah karena
adanya penyakit (Prince dan Wilson, 1994).
16
(3) Penurunan Berat Badan
Penurunan berat badan membantu untuk meringankan stres sendi
yang mengalami peradangan (Dipiro et al., 2014). Selain itu dapat
mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler dan mengontrol penyakit
(The National Health and Medical Research Council, 2009).
(4) Pembedahan
Tindakan pembedahan perlu dipertimbangkan pada pasien yang
tetap mengalami refrakter terhadap pengobatan, serta pasien yang
mengalami keterbatasan gerak akibat kerusakan sendi atau
deformitas (Perhimpunan Reumatologi Indonesia, 2014a).
b) Terapi Farmakologis
Terapi
farmakologis
artritis
reumatoid
bertujuan
untuk
menghilangkan gejala dan memodifikasi proses penyakit, sehingga
progresivitas penyakit dapat diperlambat atau dihentikan (Royal College
of Physicians, 2009).
(1) Disease Modifiying Antirheumatics Drug (DMARD)
DMARD berfungsi untuk memodifikasi proses penyakit dan
mencegah atau mengurangi kerusakan sendi (Burns et al., 2008).
DMARD dikategorikan menjadi dua macam, yaitu DMARD
nonbiologik dan DMARD biologik. DMARD sebaiknya dimulai
selama 3 bulan pertama ketika diagnosis ditegakkan. Kombinasi
DMARD dengan NSAID dan/atau kortikosteroid dapat mengurangi
gejala. Terapi dengan DMARD sejak dini dapat mengurangi angka
17
mortalitas. DMARD yang paling
banyak digunakan adalah
Metotreksat, Hidroksiklorokuin, Sulfasalazin, dan Leflunomid
(Dipiro et al., 2014).
(a) DMARD Nonbiologik
 Metotreksat
Metotreksat saat ini menjadi lini pertama dalam terapi artritis
reumatoid.
Obat
ini
menghambat
produksi
sitokin,
biosintesis purin, dan menstimulasi pelepasan adenosin,
dimana ketiga hal tersebut mengarah kesifat antiinflamasi.
Obat ini memiliki onset yang cepat, hasilnya dapat terlihat
setelah 2-3 minggu terapi. Metotreksat dikontraindikasikan
pada ibu hamil, ibu menyusui, pasien dengan gangguan hati
kronis, immunodefisiensi, leukopenia, trombositopenia, dan
pasien dengan gangguan ginjal. Efek samping yang sering
terjadi adalah diare, mual, dan muntah (Dipiro et al, 2014).
 Hidroksiklorokuin
Hidroksiklorokuin
biasanya
digunakan
pada
artritis
reumatoid ringan atau sebagai adjuvan pada kombinasi
DMARD untuk penyakit yang lebih progresif. Mekanisme
aksi obat ini masih belum diketahui. Onset aksi obat ini dapat
mengalami penundaan hingga 6 minggu. Jika selama 6 bulan
tidak menunjukkan respon, terapi ini dipertimbangkan
18
mengalami kegagalan. Efek samping jangka pendek yaitu
mual, muntah, dan diare (Dipiro et al., 2014).
 Sulfasalazin
Sulfasalazin merupakan suatu prodrug yang diubah menjadi
obat oleh bakteri didalam kolon, dimana sulfasalazin dan
metabolitnya diekskresikan lewat urin. Efek antireumatik
muncul dalam 2 bulan. Penggunaan obat ini dibatasi oleh
efek sampingnya, seperti mual, muntah, diare, dan anorexia
(Dipiro et al., 2014).
 DMARD nonbiologik lain
Garam emas, azatioprin, D-penisilinamid, siklosporin, dan
siklofosfasmid dapat digunakan untuk terapi artritis
reumatoid. Namun obat-obat tersebut lebih jarang digunakan
karena adanya toksisitas, dan keuntungannya kurang untuk
digunakan dalam jangka panjang (Dipiro et al., 2014).
(b) DMARD Biologik
Agen biologik merupakan molekul protein yang didesain secara
genetik
untuk
(infliximab,
memblok
etanercept,
proinflamasi
adalimumab,
sitokin
TNF-α
golimumab,
dan
certolizumab), IL-1 (anakrina), dan IL-6 (tocilizumab), deplesi
sel B perifer (rituximab), atau mengikat CD89/86 pada sel T
untuk
mencegah
kostimulasi
yang
diperlukan
untuk
mengaktifkan sel T (abatacept). Obat ini efektif ketika DMARD
19
nonbiologik gagal untuk mencapai respon yang adekuat, namun
harganya lebih mahal (Dipiro et al., 2014).
(2) Nonsteroidal Antiinflamatory Drugs (NSAID)
NSAID atau obat antiinflamasi nonsteroid, pada terapi artritis
reumatoid berfungsi untuk mengontrol gejala atau proses
peradangan lokal. Obat ini cepat mengatasi gejala, tetapi hanya
sedikit berpengaruh terhadap perkembangan penyakit. Karena
fungsinya dalam menghambat enzim siklooksigenase, sehingga
dapat menghambat pembentukan prostaglandin, prostasiklin, dan
tromboksan, maka NSAID memiliki sifat analgesik, antiinflamasi,
dan antipiretik (Harisson,1995). Beberapa NSAID yang sering
digunakan dalam terapi artitis reumatoid antara lain: aspirin,
meloksikam, dan diklofenak.
(a) Aspirin
Aspirin secara irreversibel menghambat COX platelet sehingga
aspirin memiliki durasi efek antiplatelet selama 8-10 hari. Pada
jaringan lain, sintesis COX yang baru akan menggantikan enzim
yang inaktif dengan durasi aksi kira-kira 6-12 jam. Penggunaan
aspirin dosis rendah dalam jangka waktu lama dapat
meningkatkan kejadian kanker kolon yang mungkin disebabkan
karena penghambatan efek COX. Efek samping aspirin yang
paling sering adalah intoleransi gastrik, ulcer pada gastrik dan
duodenal (Wagner, 2007).
20
(b) Diklofenak
Merupakan derivat asam fenilasetat, dan merupakan nonselektif
inhibitor COX. Diklofenak memiliki waktu paruh 1,1 jam
dengan dosis yang disarankan 50-75 mg untuk empat kali sehari.
Kejadian ulcerasi tidak sesering beberapa NSAID lainnya
(Wagner, 2007).
(c) Meloksikam
Merupakan enolkarboksamida yang berkaitan dengan piroxikam
dan terbukti lebih menghambat COX-2 dari pada COX-1,
khususnya pada dosis rendah yakni 7,5 mg/hari. Meloksikam
menyebabkan lebih sedikit gejala dan komplikasi pada saluran
cerna (Wagner, 2007).
(3) Kortikosteroid
Kortikosteroid digunakan pada artritis reumatoid karena
sifatnya yang antinflamasi dan imunosupresif. Kortikosteroid
sebaiknya tidak digunakan sebagai monoterapi, namun dalam dosis
rendah dapat digunakan sebagai terapi tambahan ketika DMARD
tidak dapat mengontrol penyakit secara adekuat. Namun sebaiknya
menghindari penggunaan kortikosteroid yang kronis untuk
mencegah terjadinya efek samping. Keterbatasan penggunaan
kortikosteroid adalah adanya efek samping, seperti Cushing’s
Syndrome, osteoporosis, miopati, glaukoma, hipertensi, gastritis,
dana lainnya. Untuk meminimalkan efek yang tidak diinginkan
21
maka digunakan kortikosteroid dengan dosis rendah, dan mebatasi
durasi pemakaian (Dipiro et al., 2014).
Prognosis
buruk?
Methotrexate,
leflunomid,
sulfasalazine,
kombinasi
DMARD
rendah
tinggi
Aktivitas
penyakit
Hidroksiklorokui
n atau minosiklin
Prognosis
buruk?
Kombinasi
DMARD atau
TNF inhibitor
dengan atau
tanpa MTX
Methotrexate,
leflunomid,
sulfasalazine,
atau
kombinasi
DMARD
Gambar 1. Algoritma terapi awal artritis reumatoid < 6 bulan (Dipiro et al., 2014)
Nonbiologis
DMARD
rendah
Respon buruk
Kombinasi
DMARD
nonbiologis
atau anti-TNF
Aktivitas
Penyakit
Prognosis
buruk?
tinggi
Ya
Tidak
Metotreksat,
leflunomide,
kombinasi
nonbiologis
atau anti-TNF
DMARD
nonbiologis
Respon buruk
Anti-TNF,
rituximab, atau
abatacept
Anti-TNF atau
kombinasi
nonbilogik
Gambar 2. Algoritma terapi artritis reumatoid > 6 bulan (Dipiro et al., 2014)
4) Monitoring
Evaluasi outcome terapi didasarkan pada perbaikan tanda-tanda klinis
dan gejala artritis reumatoid. Perbaikan tanda klinis misalnya adalah
22
berkurangnya pembengkakan, panas, dan nyeri saat sendi dipalpasi.
Pengurangan gejala misalnya adalah berkurangnya nyeri dan kekakuan pada
pagi hari, onset munculnya kelelahan pada sore hari yang lebih lama, dan
peningkatan kemampuan untuk beraktivitas sehari-hari. Radiografi dan
pemeriksaan laboratorium mungkin diperlukan untuk memantau hasil terapi
(Dipiro et al., 2014).
2. Kesesuaian Terapi
Menilai kesesuaian terapi dapat dilihat dari indikasi obat, ketepatan
pemilihan obat, kontraindikasi obat, penyesuaian dosis obat, risiko interaksi
obat, dan lainnya. Ketepatan terapi berhubungan dengan penggunaan obat yang
rasional. Menurut WHO (1985), penggunaan obat dikatakan rasional apabila
pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu
yang adekuat dan dengan harga yang paling murah untuk pasien dan masyarakat.
WHO memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari seluruh obat di dunia
diresepkan, diberikan dan dijual dengan cara yang tidak tepat dan separuh dari
pasien menggunakan obat secara tidak tepat (Kemenkes RI, 2011a).
Tujuan penggunaan obat rasional adalah untuk menjamin pasien
mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode
waktu yang adekuat dengan harga yang terjangkau. Kriteria penggunaan obat
yang rasional, yaitu:
a.
Tepat indikasi – bahwa peresepan obat sesuai dengan pertimbangan medis
yang dialami pasien.
23
b.
Tepat Obat – obat yang diberikan mempertimbangkan efikasi, keamanan,
kenyamanan pasien, serta biaya.
c.
Tepat dosis – berhubungan dengan cara pemberian atau pemakaian obat dan
durasi penggunaan obat.
d.
Tepat Pasien – bahwa tidak ada kontraindikasi, dan kemungkinan efek
samping yang minimal.
e.
Peracikan yang benar, termasuk informasi yang tepat untuk pasien tentang
obat yang diresepkan.
f.
Kepatuhan pasien.
Kepatuhan pasien dapat diukur menggunakan alat pengukur kepatuhan.
Salah satu instrumen yang dapat digunakan yaitu kuesioner Modified
Morisky Adherence Scale (MMAS-8) yang terdiri dari 8 pertanyaan dengan
rentang nilai 0-8.
Data laboratorium dapat digunakan bersama dengan informasi status klinik
pasien, riwayat pengobatan, pengobatan saat ini dan riwayat alergi obat untuk
menilai ketepatan terapi obat (Kemenkes RI, 2011b).
3. Luaran Terapi
Luaran terapi artritis reumatoid digunakan untuk mengevaluasi tindakan
yang dilakukan dalam penanganan artritis reumatoid. Evaluasi luaran terapi
artritis reumatoid dapat dilakukan dengan mengvaluasi ciri-ciri klinis perbaikan
meliputi reduksi pembengkakan sendi, pengurangan rasa sakit pada sendi yang
aktif, dan penurunan urat sampai ke palpasi sendi. Pengukuran luaran terapi
24
dapat menggunakan Disease Activity Score (DAS/DAS28) dan Health
Assessment Questionaire (HAQ) untuk mengukur kualitas hidup penderita
artritis reumatoid (Riel dan Gestel, 2000).
Selain pengukuran kualitas hidup, luaran terapi juga dapat dievaluasi
menggunakan radiograf sendi untuk memperkirakan progresivitas penyakit.
Pengamatan laboratorium juga dapat digunakan untuk mengetahui respon terapi.
Pengamatan laboratorium juga penting untuk mendeteksi dan mencegah efek
samping obat (Sukandar et al., 2008).
4. Efek Samping
Efek samping obat merupakan pengaruh obat yang tidak dikehendaki yang
merugikan atau membahayakan pasien, dan terjadi pada dosis lazim untuk
pencegahan, diagnosis, ataupun pengobatan penyakit. Setiap obat mempunyai
kemungkinan menimbulkan efek samping mulai dari derajat yang paling ringan
misalnya efek ikutan dari efek terapetik utamanya, sampai derajat yang berat dan
serius yang dapat membahayakan kehidupan. Berdasarkan hubungan dengan
efek farmakologi, diajukan pembagian menjadi dua tipe efek samping obat,
sebagai berikut (Suryawati, 1995):
a.
Efek samping tipe A
Efek samping ini sebenarnya merupakan efek farmakologi tetapi terjadi
dalam tingkat yang ekstrim atau berat. Kemungkinan kejadiannya dapat
diramalkan berdasarkan efek farmakologi yang lazim dari masing-masing
obat. Umunya efek samping tipe ini tergantung dosis (dose dependent), atau
25
lebih tepatnya tergantung pada kadar obat dalm darah. Contoh efek samping
tipe A, yaitu hipoglikemia karena obat antidiabetes, hipokalemia karena
diuretika.
b.
Efek samping tipe B
Efek samping tipe ini sama sekali tidak berkaitan dengan efek farmakologi
maupun meknisme farmakologi yang lazim dari obat. Kemungkinan
kejadiannya tidak dapat diramalkan berdasarkan mekanisme farmakologi
obat. Umunya efek samping tipe B tidak tergantung dosis dan kejadiannya
relatif jarang, kecuali untuk efek samping tertentu seperti reaksi alergi.
Derajat efek samping ini umunya berat dan hanya mengenai individu
tertentu. Contoh efek samping tipe B, yaitu hipertermia maligna karena obat
anestesi tertentu, reaksi imunologi termasuk reaksi anafilaksis
Umumnya DMARD memiliki efek samping pada saluran gastrointestinal.
Seperti metotreksat, klorokuin, dan sulfasalazin yang memiliki efek samping
diare, mual, dan muntah. DMARD juga dapat mengganggu kemampuan sistem
kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Begitu pula dengan NSAID yang juga
dapat mengiritasi lambung serta dapat menyebabkan kerusakan ginjal sebagai
efek sampingnya (The Clevel and Clinic, 2014).
Algoritma Naranjo merupakan instrumen yang paling diterima secara luas
untuk mengukur efek samping obat karena kemudahan dalam penggunaannya.
Instrumen ini telah diuji validitasnya dan reliabilitasnya. Instrumen ini memiliki
10 pertanyaan dengan 4 kategori skor, yaitu definitely (pasti), probable (lebih
mungkin), possible (mungkin), dan doubtful (meragukan) (Naranjo, 1981).
26
5. Rumah Sakit
Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan inap, rawat jalan, gawat darurat. Rumah Sakit memiliki
fungsi (Depkes RI, 2009):
1) Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
dengan standar pelayanan rumah sakit;
2) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis;
3) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam
rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan;
4) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan;
RSUP Dr. Sardjito didirikan dengan SK MenKes No.126/Ka/B.VII/74
tanggal 13 Juni 1974 sebagai Rumah Sakit Umum Tipe B Pendidikan yang
langsung berada di bawah dan bertanggung jawab kepada DepKes RI melalui
DirJenYanMed. Tugas utamanya adalah melakukan pelayanan kesehatan
masyarakat dan melaksanakan sistem rujukan bagi Daerah Istimewa Yogyakarta
dan Jawa Tengah bagian selatan serta dimanfaatkan guna kepentingan
pendidikan calon dokter dan dokter ahli Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah
Mada.
27
F. Keterangan Empirik
DMARD dan NSAID adalah obat lini petama dalam terapi artritis
reumatoid. Kombinasi antireumatoid, terutama kombinasi DMARD efektif
menurunkan keparahan penyakit. Penyakit artritis reumatoid membutuhkan terapi
dalam jangka waktu yang lama. Adanya kesesuaian terapi dapat memberikan luaran
terapi yang baik. Penggunaan DMARD atau NSAID dalam jangka panjang dapat
menimbulkan masalah ketidaksesuaian terapi dan efek samping. Hal ini
berpengaruh pada luaran terapi. Efek samping yang umumnya muncul karena
penggunaan DMARD dan NSAID berupa gangguan pada saluran gastrointestinal,
seperti mual, dispepsia, anorexia, dan efek samping lainnya. Penelitian ini
dilakukan untuk mengevaluasi kesesuaian terapi, luaran terapi, dan kemungkinan
terjadinya efek samping dari penggunaan DMARD dan NSAID pada pasien artritis
reumatoid di Instalasi Rawat Jalan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta periode MaretApril 2016.
Download