COOPERATIVE LEARNING Mata Kuliah: Strategi Pembelajaran PAI

advertisement
COOPERATIVE LEARNING
Mata Kuliah: Strategi Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu: Drs. H. Abd. Madjid, M. Ag.
Iqbal Rezza F
20100720015
Gumelar
20100720075
Rico Fitrianto
20100720029
Ayu Lestari
20100720031
Pendidikan Agama Islam
Fakultas Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
A. PENDAHULUAN
Sebagai sebuah model pengajaran, pembelajaran kooperatif mendukung pendekatan
umum. Setelah menerima pengajaran dari fasilitator, kelas-kelas diatur ke dalam
kelompok-kelompok kecil dan memberikan petunjuk yang jelas berkenaan dengan
harapan-harapan tentang hasil-hasil dan saran-saran mengenai proses-proses kelompok.
Kelompok-kelompok kecil ini kemudian bekerja melalui tugas hingga semua kelompok
berhasil memahami dan menyelesaikan tugas tersebut (Johnson & Johnson, 1989).
Pembelajaran kooperatif dapat diterapkan untuk hampir semua tugas dalam berbagai
kurikulum untuk segala usia pebelajar. Selanjutnya, untuk memberikan sebuah cara bagi
para pebelajar dalam menguasai bahan pengajaran, pembelajaran kooperatif mencoba
untuk membuat masing-masing anggota kelompok menjadi individu yang lebih kuat
dengan mengajarkan mereka keterampilan-keterampilan dalam konteks sosial. Sebagian
besar daya tarik pembelajaran kooperatif memberikan sebuah cara bagi para pebelajar
untuk mempelajari keterampilan hidup antarpribadi yang penting dan mengembangkan
kemampuan untuk bekerja secara kolaboratif perilaku-perilaku yang secara khusus
diinginkan dalam sebuah era ketika sebagian besar organisasi mendukung konsep kerja
sama. Sekolah adalah salah satu arena persaingan. Mulai dari awal masa pendidikan
formal, seorang anak belajar dalam suasana kompetisi dan harus berjuang keras
memenangkan kompetisi untuk bisa naik kelas atau lulus. Sebenarnya, kompetisi bukanlah
satu-satunya model pembelajaran yang bisa dan harus dipakai. Ada tiga pilihan model,
yaitu kompetisi, individual, dan cooperative learning.
Pelaksanaan prosedur model cooperative learning dengan benar akan memungkinkan
pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif. Sehingga esensialnya bahwa semua model
mengajar ditandai dengan adanya Struktur Tugas, Struktur Tujuan dan Struktur
Penghargaan (Reward).
1. Struktur Tugas, mengacu pada cara pembelajaran itu diorganisasikan dan jenis kegiatan
yang dilakukan siswa dalam kelas. Artinya siswa diharapkan melakukan apa selama
pengajaran (baik tuntutan akademik maupun sosial).
2. Struktur Tujuan, yaitu jumlah saling ketergantungan yang dibutuhkan siswa saat
mengerjakan tugas. Ada 3 (tiga) macam struktur tujuan yaitu:
· Individualistik: Siswa dalam pencapaian tujuan tidak memerlukan interaksi dengan orang
lain dan yakin bahwa upaya untuk mencapai tujuan tidak ada hubungan dengan upaya
siswa lain.
· Kompetitif: Siswa dalam mencapai tujuannya merupakan saingan dengan siswa lain
artinya siswa akan mencapai tujuan apabila siswa lainnya tidak mencapai tujuan tersebut.
Seperti misalnya lomba tarik tambang.
· Kooperatif: Siswa akan mencapai tujuan apabila siswa yang lain juga mencapai tujuan
tersebut artinya tujuan akan secara bersama-sama dicapai apabila dalam sejumlah siswa
sama-sama ikut andil untuk sama-sama mencapai tujuan.
3. Struktur Penghargaan, Penghargaan Individualistik diberikan pada siswa siapapun yang
tidak bergantung pada pencapaian siswa lain, penghargaan kompetitif diperoleh dari hasil
persaingan dengan siswa lainnya, sedangkan penghargaan kooperatif juga diberikan
karena usaha bersama beberapa siswa artinya penghargaan diberikan karena usaha
bersama bukan usaha satu atau dua orang akan tetapi usaha kelompok.
B. PENGERTIAN COOPERATIVE LEARNING
Cooperative Learning (CL) terdiri dari dua kata yaitu Cooperative dan Learning.
Cooperative berarti “acting together with a common purpose”. 1. Basyiruddin Usman
mendefinisikan cooperative sebagai belajar kelompok atau bekerjasama. 2. Menurut
Burton yang dikutip oleh Nasution, kooperatif atau kerjasama ialah cara individu
mengadakan relasi dan bekerjasama dengan individu lain untuk mencapai tujuan
bersama.3[3]
Sedangkan Learning adalah “the process through which experience causes permanent
change in knowledge and behavior” yakni proses melalui pengalaman yang menyebabkan
perubahan permanent dalam pengetahuan dan perilaku.4[4] Senada dengan hal itu Arthur
T.Jersild, yang dikutip Syaiful Sagala, mendefinisikan bahwa Learning adalah
“modification of behavior through experience and training” yakni pembentukan perilaku
melalui pengalaman dan latihan.5[5] Dia menambahkan bahwa learning sebagai kegiatan
memperoleh pengetahuan, perilaku dan ketrampilan dengan cara mengolah bahan ajar.6[6]
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa CL adalah usaha mengubah perilaku atau
mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan secara gotong royong atau kerjasama.
David dan Roger Johnson mendefinisikan CL adalah “a teaching strategy in which small
teams, each with students of different levels of ability, use a variety of learning activities to
improve their understanding of a subject.”7[7] (Strategi pembelajaran dalam bentuk
kelompok-kelompok kecil dimana setiap siswa memiliki tingkat kemampuan berbeda,
dengan menggunakan berbagai macam aktifitas belajar untuk meningkatkan pemahaman
terhadap materi). Asep Gojwan mendefinisikan Cooperative Learning sebagai suatu
model pembelajaran yang menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang
berbentuk kelompok kecil untuk mencapai tujuan yang sama dengan menggunakan
berbagai macam aktifitas belajar guna meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami
materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif.8[8]Cooperative Learning
mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil
saling membantu dalam belajar. Kebanyakan melibatkan siswa dalam kelompok yang
terdiri dari 4 (empat) siswa yang mempunyai kemampuan yang berbeda (Slavin, 1994),
dan ada yang menggunakan ukuran kelompok yang berbeda-beda (Cohen, 1986; Johnson
& Johnson, 1994; Kagan, 1992; Sharan & Sharan, 1992).
Khas Cooperative Learning yaitu siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok
kooperatif dan tinggal bersama dalam satu kelompok untuk beberapa minggu atau
beberapa bulan. Sebelumnya siswa tersebut diberi penjelasan atau diberi pelatihan tentang
bagaimana dapat bekerja sama yang baik dalam hal:
- Bagaimana menjadi pendengar yang baik
- Bagaimana memberi penjelasan yang baik
- Bagaimana cara mengajukan pertanyaan dengan benar dan lain-lainnya.
C. LANDASAN TEORI
1. TEORI MOTIVASI
Prespektif motivasional pada pembelajaran kooperatif terutama memfokuskan pada
penghargaan atau struktur tujuan dimana para siswa bekerja (lihat Slavin, 1993). Deutsch
(1949) mengidentifikasi tiga struktur tujuan:
1. kooperatif
2. Kompetitif
3. Individualistik
Dari prespektif motivasional (seperti yang dikemukakan Johson dkk., 1981, dan Slavin,
1983a) struktur tujuan kooperatif menciptkan sebuah situasi di mana satu-satunya cara
anggota kelompok bisa meraih tujuan pribadi mereka adalah jika kelompok mereka bisa
sukses. Oleh karena itu, untuk meraih tujuan personal mereka, anggota kelompok harus
membantu teman satu timnya untuk melakukan apapun guna membuat kelompok mereka
berhasil dan mungkin yang lebih penting, mendorong anggota satu kelompoknya untuk
melakukan usaha maksimal. Dengan kata lain, penghargaan kelompok yang didasarkan pada
kinerja kelompok (penjumlahan dari kinerja individual) menciptakan struktur penghargaan
interpersonal di mana anggota kelompok akan memberikan atau menghalangi pemicu-pemicu
sosial (seperti pujian dan dorongan) dalam merespon usaha-usaha yang berhubungan dengan
tugas kelompok (lihat Slavin, 1983a).
2. TEORI KOGNITIF
Teori kognitif dalam pembelajaran cooperative learning menekankan pada pengaruh dari
kerjasama itu sendiri (Apakah kelompok tersebut mencoba meraih tujuan kelompok maupun
tidak) .teori kognitif terbagi menjadi dua kategori utama diantaranya yaitu:
 Teori pembangunan
Asumsi dasar dari teori pembangunan adalah bahwa interaksi diantara para siswa
berkaitan dengan tugas-tugas yang sesuai meningkatkan penguasaan mereka terhadap
konsep kritik (Damon, 1984; Murray, 1982).
Vygostsky (1978,hal. 86)
mendefenisikan wilayah pembangunan paling dekat sebagai “ jarak antara level
pembangunan aktual seperti yang ditentukan oleh penyelesaian masalah secara
independen dan level pembangunan potensial seperti yang ditentukan melalui
penyelesaian masalah dengan bantuan dari orang dewasa atau dalam kolaborasi
dengan teman yang lebih mampu” (penekanan ditambahkan).
 Teori elaborasi kognitif
Teori elaborasi kognitif adalah pengaturan kembali kognitif dengan cara meringkas
atau merangkum materi. bidang psikologi kognitif telah menemukan bahwa jika
informasi ingin dipertahankan didalam memori dan berhubungan dengan informasi
yang sudah ada didalam memori, orang yang belajar harus terlibat dalam semacam
pengaturan kembali kognitif, atau elaborasi, dari materi (wiittock, 1987). Salah satu
cara elaborasi yang efektif adalah menjelaskan materinya kepada orang lain.
D. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Terdapat enam langkah utama atau tahapan didalam pelajaran yang menggunakan
pembelajaran kooperatif .
Fase
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi
siswa
Fase-2
Menyajikan informasi
Tingkah Laku Guru
Guru menyampaikan semua tujuan
pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran
tersbut dan memotivasi siswa belajar.
Guru menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.
Fase-3
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
Mengorganisasikan siswa kedalam
caranya membentuk kelompok belajar dan
kelompok kooperatif
membantu setiap kelompok agar
melakukan transisi secara efisien.
Fase-4
Guru membimbing kelompok-kelompok
Membimbing kelompok bekerja dan belajar belajar pada saat mereka mengerjakan
tugas mereka.
Fase-5
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
Evaluasi
materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil
Fase-6
Memberikan penghargaan
kerjanya.
Guru mencari-cari untuk menghargai baik
upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok.
E. BEBERAPA VARIASI DALAM MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Terdapat empat pendekatan yang merupakan bagian dari kumpulan startegi guru dalam
menerapkan model pembelajaran kooperatif yaitu: STAD, JIGSAW, Investigasi
kelompok (Teams Games Tournaments atau TGT), dan pendekatan struktural yang
meliputi Think Pair Share (TPS) dan Numbered Head Together (NHT).
1. Student Teams Achievement division (STAD)
Dalam STAD para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang
berbeda-beda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latarbelakang etniknya. Guru
menyampaikan pelajaran, lalu siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa
semua anggota tim telah menguasai pelajaran. Selanjutnya, semua siswa mengerjakan kuis
mengenai materi secara sendiri-sendiri, dimana saat itu mereka tidak diperbolehkan untuk
saling bantu.Skor kuis para siswa dibandingkan dengan rata-rata pencapaian mereka
sebelumnya, dan kepada masing-masing tim akan diberikan poin berdasarkan tingkat
kemajuan yang diraih siswa dibandingkan hasil yang mereka capai sebelumnya. Poin ini
kemudian dijumlahkan untuk memperoleh skor tim, dan tim yang berhasil memenuhi kriteria
tertentu akan akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan lainnya.
2. JIGSAW
JIGSAW II adalah adaptasi dari teknik teka-teki Elliot Aronson (1978). Dalam teknik ini,
siswa bekerja dalam anggota kelompok yang sama, yaitu empat orang, dengan latar belakang
yang berbeda seperti dalam STAD dan TGT. Para siswa ditugaskan untuk membaca bab,
buku kecil, atau materi lain. Tiap anggota tim ditugaskan secara acak untuk menjadi ‘ahli’
dalam aspek tertentu dari tugas membaca tersebut. contoh: salah satu siswa dalam masingmasing tim dipilih untuk menjadi ahli sejarah, yang lain ahli ekonomi, yang ketiga ahli
giografi dan ahli budaya. Setelah membaca materinya, para ahli dari tim berbeda bertemu
untuk mendiskusikan topik yang sedang mereka bahas, lalu mereka kembali kepada timnya
untuk mengajarkan topik mereka kapada teman satu timnya.akhirnya, akan ada kuis atau
bentuk penilaian lainnya untuk semua topik. Perhitungan skor dan rekognisi didasarkan pada
kemajuan yang dicapai seperti dalam STAD.
3. Teams games-tournament (TGT)
Metode ini menggunakan pelajaran yang sama yang disampaikan guru dan tim kerja yang
sama seperti dalam STAD, tetapi menggantikan kuis dengan turnamen mingguan, dimana
siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi
skor timnya.
4. Pendekatan struktural yang meliputi think pair share (TPS) dan Numbered Head
Together (NHT)
a. Think pair share (TPS) atau berfikir berpasangan berbagi
Merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola
interaksi siswa.prosedur yang digunakan dalam TPS dapat memberi siswa lebih
banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu.TPS ini untuk
membandingkan tanya jawab kelompok keseluruhan.langkah-langkahnya seperti
Berfikir, berpasangan, dan berbagi.
b. Numbered Head Together (NHT) atau penomoran berfikir bersama
Merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola
interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.NHT ini
untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam
suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran
tersebut.dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan
struktur empat fase sebagai sintaks NHT yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan,
berfikir bersama, menjawab.
Perbandingan empat pendekatan dalam pembelajaran kooperatif
STAD
JIGSAW
Tujuan
Kognitif
Informasi
akademik
sederhana
Informasi
akademik
sederhana
Tujuan
sosial
Kerja
kelompok dan
kerja sama
Kerja kelompok
dan kerja sama
Struktur tim
Kelompok
belajar
heterogen
dengan 4-5
orang anggota
Kelompok
belajar heterogen
dengan 5-6 orang
anggota
menggunakan
pola kelompok
“asal”
&kelompok”ahli”
Biasanya guru
Biasanya siswa
Bervariasi,berdua,
bertiga , kelompok
dengan 4-5 orang
anggota.
Siswa
mempelajari
Siswa mwngwrjakan
tugas-tugas yang
Pemilihan
Biasanya guru
topik
Tugas utama Siswa dapat
menggunakan
INVESTIGASI
KELOMPOK
Informasi
akademik
tingkat tinggi&
keterampilan
inkuiri
Kerja sama
dalam
kelompok
kompleks
Kelompok
belajar
heterogen
dengan 5-6
anggota
homogen
Siswa
menyelesaikan
PENDEKATAN
STRUKTURAL
Informasi akademik
sederhana
Keterampilan
kelompok&keterampilan
sosial
Biasanya guru
Penilaian
pengakuan
lembar
kegiatan
&saling
membantu
untuk
menuntaskan
materi
belajarnya
Tes mingguan
materi dalam
kelompok’ahli’
kemudian
membantu
anggota
kelompok asal
mempelajari
materi itu
Bervariasi dapat
berupa tes
mingguan
Lembar
pengetahuan
& publikasi
lain
Publikasi lain
inkuiri
kompleks
diberikan secara sosial
dan kognitif
Menyelesaikan
proyek dan
menulis
laporan, dapat
menggunakan
tes essay
Lembar
pengakuan dan
publikasi lain
Bervariasi
Bervariasi
F. MODEL COOPERATIF LEARNING DALAM PAI
Model cooperative learning dalam PAI ini dapat kami ketahui bahwa modelnya seperti
Kajian kelompok (Halaqoh) atau diskusi hal-hal tentang agama seperti Aqidah-Akhlak, AlQur’an dan Al-Hadits dan lain-lain.contohnya dalam materi Al-Qur’an dan Al-hadits. Proses
pembelajarannya siswa dibagi beberapa kelompok, dan satu kelompok itu terdiri dari 4-5
orang. Lalu kelompok tersebut diberi beberapa potongan ayat misalnya surat al-mu’minun
ayat 12-14. Setelah itu setiap anak disuruh memahami,membaca,mengartikan,dan mengkaji
potongan ayat didepan teman kelompoknya atau diskusi terlebih dahulu, setelah itu
dipresentasikan keteman-teman sekelas atau guru yang mengajar materi tersebut.
G. Contoh RPP
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
IDENTITAS MATA PELAJARAN
Satuan Pendidikan : SMA .....
Mata Pelajaran
: Pendidikan Agama Islam
Kelas / Semester
: x/I
Jumlah Pertemuan : satu kali (pertama)
STANDAR KOMPETENSI
1. Memahami,membaca,Mengartikan,dan
mengkaji ayat Al-Qur’an surat pilihan.
KOMPETENSI DASAR
1.1 Membaca,mengartikan,menjelaskan
arti, dan mengkaji QS Al-Baqarah, 2:30,
Al-Mu’minun, 23: 12-14.
INDIKATOR
PENCAPAIAN
KOMPETENSI
1. Dapat memahami dan membaca
ayat dengan bagus
2. Dapat mengartikan ayat
3. Dapat mengkaji isi kandungan ayat
TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta didik dapat memahami dan
membaca surat secara baik dan benar
menurut ilmu tajwid.
Mengerti isi kandungan ayat dan dapat di
terapkan dikehidupan sehari-hari.
MATERI AJAR
Fakta
: Q.S al-baqarah merupakan surah madaniyyah dan al-mu’minun merupakan
surah makkiyyah
Konsep
: Isi dari surat al-baqarah ayat 30 dan almu’minun ayat 12-14
Prinsip
: Surat al-baqarah menceritakan tentang peranan manusia sebagai khalifah.
Surat al-mu’minun membicarakan tentang kejadian manusia.
Prosedur : Surat al-baqarah ayat 30 dan al-mu’minun dibaca dimulai dari ayat 12-14
dengan ilmu tajwid
ALOKASI WAKTU
1. Tatap muka (TM)
2. Tugas Terstruktur (TT)
3. Kegiatan Mandiri Tidak Terstuktur (KMTT)
: 50 Menit
: 20 Menit
: 30 menit
METODE PEMBELAJARAN
Pendekatan
: Motivasi dan Kognitif
Model
: Pembelajaran Kelompok
Metode
: Simulasi dan latihan
KEGIATAN PEMBELAJARAN
NO
1
2
Kegiatan Pendidik
Pendahuluan ( 10 )
- Memulai belajar dengan basmalah
dengan rasa religius
- Mencek keadaan fisik dan psikis peserta
didik
- Menghubungkan materi membaca Q.S
al-baqarah dengan Q.S al-mu’minun
dengan materi sebelumnya
- Menyampaikan tujuan pembelajaran
- Menyampaikan sistem pembelajaran
dengan membaca
Kegiatan Inti ( 50 )
Kegiatan Peserta didik
-
-
-
Membaca basmalah dengan
rasa religius
Menanggapi
pernyataan
pendidik dengan menyampaikan
kondisinya.
Mendengarkan
pertanyaan
Pendidik
dan
menjawabnya
dengan tanggungjawab
Mendengarkan
keterangan
Pendidik
tentang
tujuan
pembelajaran dengan mandiri
Eksplorasi
- Pendidik mengajukan pertanyaan kepada peserta didik tentang peserta didik yang
telah mampu membaca dan mengartikan
Q.S al-baqarah dan al-mu’minun
Peserta didik mengangkat tangan
untuk
menjawab
pertanyaan
tentang membaca Q.S al-baqarah
dan al-mu’minun dengan jujur
Elaborasi
- Pendidik
meminta
peserta
didik menelaah surat al-baqarah dan almu’minun dengan penuh tanggungjawab
- Pendidik melafalkan surat al-baqarah dan al-mu’minun dengan benar mengajukan
pertanyaan kepada peserta didik tentang
peserta didik yang telah mampu membaca Q.S al-baqarah dan almu’minun dengan penuh disiplin
- Pendidik mendengarkan bacaan peserta
didik dengan penuh tanggungjawab
Peserta didik membuka surat albaqarah dan al-mu’minun dengan
jujur
Peserta didik mengikuti lafal
pendidik
dengan
rasa
tanggungjawab
Peserta didik membaca surat albaqarah dan al-mu’minun sesuai
pada teks dengan penuh rasa
tanggungjawab
Konfirmasi
- Pendidik melakukan penguatan terhadap bacaan surat al-baqarah dan almu’minun dengan rasa gemar membaca
3.
Penutup ( 10 menit )
- Pendidik menyimpulkan materi surat albaqarah dan al-mu’minun bersama
peserta didik dengan penuh rasa
tanggungjawab
- Pendidik memberikan refleksi dan arahan
dengan menghargai prestasi
- Pendidik menyampaikan perencanaan
untuk remedial dan pengayaan
- Pendidik menyampaikan materi pokok
yang akan dipelajari minggu berikutnya
dengan rasa tanggungjawab
Peserta didik mengikuti bacaan
surat al-baqarah dan al-mu’minun
dengan rasa gemar membaca
-
-
-
Peserta didik menyimpulkan dan
membuat
catatan penting
dengan jujur
Peserta didik mendengarkannya
dengan menghargai prestasi
Peserta
didik
mengikuti
perencanaan pendidik untuk
remedial secara mandiri
Peserta didik mencatat materi
selanjutnya yang akan dipelajari
secara mandiri
PENILAIAN HASIL BELAJAR
Indikator Pencapaian
Kompetensi
1. Melafalkan
baqarah
2. Membaca
baqarah
3. Melafalkan
mu’minun
4. Membaca
mu’minun
5. Menghafal
baqarah
Q.S alQ.S alQ.S alQ.S alQ.S al-
Teknik
Tes Praktik
dan mengkaji
ayat dengan
dibagi
kelompok,
satu
kelompoknya
terbagi 4-5
Bentuk
Instrumen
Contoh Instrumen /
Soal
Tes
Identifikasi
1. Bacalah surat al-Baqarah
2.
Bacalah
surat
mu’minun
al-
6. Menghafal Q.S almu’minun
orang.
Rubrik/Pedoman penilaian:
Aspek yg
dinilai
1. Kelanc
aran
2. Bacaan
surat
alLahab
dan alKafirun
3. Makhraj
dan
Mad
Indikator kemampuan
 Membaca dengan lancar
 Tidak melakukan kesalahan bacaan surat al-baqarah dan al-mu’minun
serta makhraj dan madnya
 Membaca dengan lancar
 Melakukan 1-2 kesalahan bacaan surat al-baqarah dan al-mu’minun
serta makhraj dan madnya
 Melakukan 3-4 kesalahan bacaan surat al-baqarah dan al-mu’minun
serta makhraj dan madnya
 Melakukan 5-6 kesalahan bacaan surat al-baqarah dan al-mu’minun
serta makhraj dan madnya
 Melakukan 7-8 kesalahan bacaan surat al-baqarah dan al-mu’minun
serta makhraj dan madnya
 Melakukan lebih dari 8 kesalahan bacaan surat al-baqarah dan al-mu’
serta makhraj dan madnya
Skor
100
90
80
70
60
50
Lembar Instrumen Penilaian
No
Nama
Soal/Portofolio
1.
2.
3.
4.
5.
...dst
SUMBER BELAJAR
1. Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: Toha Putra, 1989
2. Yuni Wartono, dkk., PAI untuk SD Kelas V, Surakarta: Grahadi, 2007
Mengetahui
Kepala Sekolah
.........................., ............. 2011
Guru Pendidikan Agama Islam
................................................
.............................................
Skor
NIP. .........................................
NIP. .......................................
Saran Kepala Sekolah:
…………………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………….
H. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan bahwa model pembelajan
kooperatif ini merupakan model yang sering dipakai dalam proses pembelajaran
disekolah, karena model ini dapat mengembangkan bekerja sama dan memecahkan
masalah. Sehingga Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang
sangat baik untuk di terapkan didalam kelas maupun diluar kelas khususnya PAI.
disamping itu belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antara siswa, tanggung
jawab individual dalam belajar kelompok,salin ketergantungan yang bersifat positif
antara siswa,terjadi proses kelompok. dan dalam belajar kooperatif, selain dituntut
untuk mempelajari materi yang diberikan, siswa juga dituntut untuk belajar bagaimana
berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Serta bagaimana siswa bersikap
sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut
katerampilan khusus.
Daftar Pustaka
http://www.majalahpendidikan.com/2011/10/pengertian-cooperative-learning.html
E. Slavin, Robert. cooperative learning, teori, riset, dan praktik. Bandung: Nusa Media
Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta : Kencana.
Download